Anda di halaman 1dari 44

Analisa fungsional

Analisa fungsional

Adalah salah satu rangkaian untuk mendiagnosa


suatu maloklusi serta menentukan
perawatannya pada pasien
Analisa Fungsional
Terbagi menjadi
1. Pemeriksaan posisi postur istirahat
Contohnya :
– Freeway space = adalah jarak inter-oklusal pada saat
mandibula dalam keadaan posisi istirahat
– Path of closure adalah gerakan mandibula dari posisi
istirahat menuju oklusi sentris.
2. Pemeriksaan sendi temporomandibula
3. Pemeriksaan disfungsional orofasial
Pemeriksaan fungsional dari
masing-masing kelainan
PEMERIKSAAN POSTURAL REST POSITION
AND MAXIMUM INTERCUSPATION
Pemeriksaan postural rest position
• Metode fonetik
• Metode perintah
• Metode tanpa perintah
• Metode gabungan
Pencatatan rest position
• Roentgenocephalometric • kinesiographic
registration: dua registration:
cephalogram diperlukan, memungkinkan posisi
satu radiograf dalam istirahat mandibula
oklusi sentrik (habitual), dicatat secara tiga
satu dengan mandibula dimensi.
dalam posisi istirahat
Evaluasi dari hubungan antara rest position
dan habitual occlusion
Evaluasi dari sagital
plane: Kelas II maloklusi
– Gerakan rotasi tanpa
komponen geser
– Gerakan rotasi dengan
gerakan geser
posterior
– Gerakan rotasi dengan
gerakan geser anterior
Kelas III maloklusi
• Gerakan rotasi tanpa tindakan geser
• Gerakan rotasi dengan tindakan geser anterior
• Gerakan rotasi dengan tindakan geser
posterior
Mandibula prognatism
True forced bite- pseudo forced bite
Pada kasus mesiooclusion, tindakan geser anterior tidak
selalu merupakan gejala maloklusi kelas III fungsional.
Dengan diagnosis fungsional in, ‘true forced bite’
dengan prognosisnya yang baik, dan ‘pseudo forced
bite’ dengan prognosis yang tidak menguntungkan,
harus dibedakan menyangkut sefalometrik.
Evaluasi dari vertikal plane
Dua jenis overbite:
• true deep overbite disebabkan infraclusion dari molar.
• pseudo deep overbitememiliki freeway space yang kecil.
Molar telah sepenuhnya erupsi
Evaluasi dari transversal plane
Laterognati: pusat mandibula tidak Lateroclusion: pergeseran garis
sejajar dengan garis tengah wajah saat tengah skeletal dapat diamati saat
istirahat dan dalam oklusi. Displasia ini
posisi oklusal, pada posisi istirahat
merupakan asimetri neuromuskuler atau
postural kedua midline selaras.
asimetri anatomi
Pemeriksaan temporomandibular joint
Pemeriksaan klinis
• Tujuan utama  menilai keparahan dari
clicking, rasa sakit, dan dysfunction karena
merupakan karakteristik pathologi gejala TMJ.
• Dilakukan auscultasi dan palpasi dari TMJ,
apabila terdapat gejala klinis seperti rasa sakit
terhadap tekanan, clicking pada otot, crepitus,
dan pergerakan mandibula yang tidak
terkontrol.
Gerakan membuka dan menutup mandibula

• protrusif retrusif dan lateral exercusions


merupakan bagian dari analisis
fungsional.ukuran dan arah dari tindakan ini
dicatat sebagai pemeriksaan klinis.
Pemeriksaan radiograf
Remaja dengan maloklusi class II divisi 1 dan lip
dysfunction (lip-biting or sucking) paling sering
terkena gangguan TMJ.
Pemeriksaan orofacial dysfunctions
menelan
• Tongue-thrust • Respirations
Manfaat diketahuinya kelainan fungsional
• Dapat menghindari Sebagian besar kebingungan tentang
oklusi, hubungan sentris, dan TMD (temporomandibular
disorder)
• Menghindari Kesalahpahaman yang paling umum
menyangkut kapasitas TMJ untuk menerima pemuatan
tekan.
• Jika TMJ tidak stabil, oklusi tidak akan stabil, sehingga
merupakan risiko untuk melakukan perubahan oklusal tanpa
mengetahui kondisi TMJ.
• TMJ berada dalam kondisi stabil yang dapat dipertahankan
setiap kali ada perubahan yang dimaksudkan pada oklusi.
GAMBARAN KLINIS DARI KELAINAN
FUNGSIONAL

Okeson ed.8 hal. 243-254


Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

A. Kelainan kompleks
kondilus-disc.
• Disc Displacement With
Reduction.
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

A. Kelainan kompleks
kondilus-disc.
• Disc Displacement With
Intermittent Locking
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

A. Kelainan kompleks
kondilus-disc.
• Disc Displacement
Without Reduction.
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

B. Kelainan struktur
permukaan artikular
• Kelainan bentuk
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

B. Kelainan struktur
permukaan artikular
• Adhesi
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

B. Kelainan struktur
permukaan artikular
• Subluksasi
• Luksasi (open lock)
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

C.Gangguan Peradangan
Sendi
• Sinovitis atau Capsulitis
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

C.Gangguan Peradangan
Sendi
• Retrodisitis
Gambaran Klinis dari Kelainan Fungsional

C.Gangguan Peradangan
Sendi
• Osteoartritis dan
Osteoarthrosis
KAITAN KELAINAN FUNGSIONAL DENGAN TUMBUH
KEMBANG

Okeson ed.8 hal. 254


Kelainan fungsional dapat dipengaruhi oleh tumbuh kembang
seperti gangguan pertumbuhan tulang :
• Agenesis (tidak adanya pertumbuhan)
• Hipoplasia (pertumbuhan tidak mencukupi)
• Hiperplasia (berlebihnya pertumbuhan)
• Neoplasia (pertumbuhan destruktif tidak terkendali).
Gangguan pertumbuhan otot yang umum :
• Hipotropi (Otot melemah)
• Hipertrofi (ukuran dan kekuatan otot meningkat)
• Neoplasia (pertumbuhan destruktif yang tidak terkontrol).
Kelainan dalam pertumbuhan juga dapat terjadi akibat trauma
dan faktor genetik. Gangguan terjadi secara lambat dan dapat
menyebabkan maloklusi, gangguan TMJ yang disebabkan
neoplastik jarang ditemukan, namun jika dibiarkan dan tidak
terdiagnosis bisa menjadi agresif.
KAITANNYA KELAINAN FUNGSIONAL TERHADAP
KELAINAN SISTEM STOMATOGNATI
Komponen yang mempengaruhi posisi
istirahat
• Pengaruh jangka • Pengaruh jangka
pendek panjang
 Ketidakkonsistenan  Atrisi gigi
dalam tonisitas otot  Prematur loss gigi
 Pernafasan  Kelainan pada sistem
 Postur tubuh neuromuskuler
 Situasi stres
 Disfungsi dari TMJ
Kelainan fungsional mempengaruhi sistem
stogmatognati:
1. TMDs (temporomandibular disorder) Dikarenakan
adanya relasi antar disharmoni oklusal pada pola
oklusal yang mempengaruhi pergerakan dari
mulutOtot-
2. otot mastikasi Otot-otot
pengunyahan yang berkaitan dengan parafungsi dari
mandibula, seperti bruxism
3. Pseudo forced bite/ true forced bite
KAITANNYA KELAINAN FUNGSIONAL TERHADAP
GANGGUAN OKLUSI
• peran oklusal sebagai faktor etiologi dari TMD
berbeda-beda pada setiap pasien. Sekali lagi
penting untuk diingat bahwa oklusal bukan
satu-satunya faktor etiologi yang berkontribusi
pada TMD.
Hubungan fungsional yang dinamis antara
oklusi dan gangguan Temporomandibular

dalam mempertimbangkan hubungan fungsional


dinamis antara mandibula dan kranium, tampak bahwa
kondisi oklusal dapat berdampak beberapa TMD
setidaknya dalam dua cara:
1. berhubungan dengan bagaimana kondisi oklusal
mempengaruhi stabilitas ortopedi mandibula
karena beban terhadap kranium.
2. bagaimana perubahan akut dalam kondisi oklusal
dapat mempengaruhi fungsi mandibula, sehingga
menyebabkan gejala TMD.
Jadi secara sederhana, masalah oklusi gigi akan
direspon oleh otot. Namun begitu gigi dalam
oklusi, masalah dengan struktur pengunyahan
akan direspon oleh sendi. Sebagai contoh, jika
mengalami kaku otot pada pagi hari dan sakit,
maka bruxism harus dicurigai menjadi penyebab.
Namun jika pasien mengeluh nyeri terjadi ketika
terjadi oklusi dan sering terjadi, maka faktor
oklusal dicurigai sebagai etiologi potensial
PERAWATAN KELAINAN TMJ
Ditujukan langsung utk
Definitive mengurangi atau mengubah
factor etiologi yg berperan

Perawatan
kelainan
fungsional TMJ

Ditujukan langsung utk


mengatasi gejala yg dialami
Supportive pasien.
Tidak memiliki pengaruh thd
etiologi dari kelainan
Perawatan definitive
reversibel
Faktor oklusal
irreversible
Stress
emosional

Perawatan
Trauma
definitive

Deep pain
input

Aktivitas
parafungsiona
l
Perawat Farmakologik Analgesik

an Analgesik
kombinasi
Anti-inflammatory
suportif drugs
Muscle relaxant
Anxiolytic agent
Antidepressant
Obat Topikal

Non- Terapi fisik thermotherapy


Coolant therapy
farmakologik Ultrasound therapy
phonophoresis
Iontophoresis
Teknik manual Mobilisasi j. lunak
Mobilisasi sendi
Pengondisian otot