Anda di halaman 1dari 100

KEPERAWATAN GERONTIK

Asuhan Keperawatan Gerontik dengan Stroke, Hipertensi dan Jatuh pada Lansia

Dosen pengampu: Ns. Sang Ayu M, S.kep Sp.Kep kom

Endang Dwi S 1610711055 Januarita Akhrina 1610711057


Ismi Zakiah 1610711056 Fina Alfya S 1610711058
Amelia Diah Wardani 1610711065 Purwandari Nurfaizah 1610711059
Gustina Rahmiandini P 1610711071 Amastia Ikayuwandari 1610711060
An’nisaa Eka Rahmawati 1610711072 Assyfa Siti R 1610711061
Leni Marlia 1610711073 Adinda Zein Nur 1610711062
Hannisa Rizki Riansyah 1610711079 Putri Zalfa 1610711064
Diah Ayu K 1610711067 Farah Nabilah 1610711068
Cintya Veronica 1610711069 Tessya Deant E 1610711070
Erliana Mandasari 1610711074 Asya Shalbiah M 1610711075
Anggryta Putry 1610711082 Nessa Ishmah M 1610711083
Ardhita Qory 1610711063

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL "VETERAN" JAKARTA

TAHUN 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena atas berkat rahmat dan
hidayah-Nya kami dapat menyusun dan menyelesaikan makalah “Asuhan Keperawatan
Gerontik dengan Stroke” ini tepat pada waktu yang telah ditentukan. Makalah ini diajukan
guna memenuhi tugas yang diberikan dosen pada mata kuliah Keperawatan Gerontik.

Pada kesempatan ini juga kami berterima kasih atas bimbingan dan masukan dari
semua pihak yang telah memberi kami bantuan wawasan untuk dapat menyelesaikan makalah
ini, baik itu secara langsung maupun tidak langsung. 

Kami menyadari isi makalah ini masih jauh dari kategori sempurna, baik dari segi
kalimat, isi, maupun dalam penyusunan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun
dari dosen mata kuliah yang bersangkutan dan rekan-rekan semuanya, sangat kami harapkan
demi kesempurnaan makalah ini dan makalah-makalah selanjutnya.

Depok, April 2019

Kelompok

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ii

DAFTAR ISIiii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………………………1

I.1 Latar Belakang………………………………………………………………………..1

I.2 Rumusan Masalah…………………………………………………………………….2

I.3 Tujuan Penulisan……………………………………………………………………...2

BAB II TINJAUAN TEORI…………………………………………………………………3

II.1 Pengertian Stroke, Hipertensi, dan Jatuh…………………………………………….3


II.2.Prevalensi Stroke, Hipertensi, dan Jatuh……………………………………………..8
II.3.Barther Index………………………………………………………………………..10
II.4 Katz Index…………………………………………………………………………..21
II.5 Etika dan Peran Perawat…………………………………………………………….25
II.6 Pencegahan Jatuh Pada Lansia……………………………………………………...31
II.7 Terapi Modalitas……………………………………………………………………35
II.8 Teknik Komunikasi Pada Lansia…………………………………………………...39
II.9 Teori Penuaan……………………………………………………………………….45
II.10 Perawatan Lansia dengan Stroke, Hipertensi, dan Jatuh…………………………47
II.11 Perubahan Fungsi Kardiovaskular………………………………………………...59

BAB III PROSES KEPERAWATAN……………………………………………………..60

III.1 Kasus……………………………………………………………………………….60

III.2 Pengkajian………………………………………………………………………….61

III.3 Analisa Data dan Diagnosa………………………………………………………...63

III.4 Intervensi Keperawatan…………………………………………………………..65

iii
BAB IV PENUTUP…………………………………………………………………………72

IV.1 Kesimpulan………………………………………………………………………...72

IV.2 Saran……………………………………………………………………………….72

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………….73

iv
BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang

Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan


olehgangguan pembuluh darah otak, terjadi secara mendadak dan menimbulkan
gejalaatau tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu (Bustan, 2007).
Menurut WHO, Stroke adalah tanda tanda klinis yang berkebang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal atau global karena adanya sumbatan atau pecahan
pembuluh darah di otak dengan gejala gejalan yang berlangsung selama 24 jam atau
lebih.
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Commitee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih
tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya,
mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.
Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90 % dari semua kasus)
atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, sering
kali dapat diperbaiki.
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120
mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80 mmHg. Hipertensi sering menyebabkan
perubahan pada pembuluhdarah yang dapat mengakibatkan semakin tingginya
tekanandarah (ArifMuttaqin, 2009).
Menurut Bruner danSuddarth (2001) hipertensi dapat didefinisikan sebagai
tekanan darah persisten dimana tekanan sistoliknya di atas 140 mmHg
dantekanandiastoliknya di atas 90 mmHg.Pada populasi manula, hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik di atas 160 mmHg dan tekanan diastolik di atas
90 mmHg.
Jatuh adalah kejadian secara tiba-tiba dan tidak disengaja yang mengakibatkan
seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai (Maryam, 2008).
Jatuh merupakan masalah fisik yang sering terjadi pada lansia, dengan
bertambahnya usia kondisi fisik, mental, dan fungsi tubuh pun menurun. Jatuh dan
kecelakaan pada lansia merupakan penyebab kecacatan yang utama.

1
I.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian stroke, hipertensi dan jatuh?


2. Bagaimana prevalensi stroke,hipertensi, dan jatuh?
3. Bagaimana Barther indexnya?
4. Bagaimana katz indexnnya?
5. Apa peran dan etika perawat?
6. Bagaimana mencegah jatuh?
7. Bagaimana terapi modalitas?
8. Bagaimana teori penuaan?
9. Bagaimana perawatan pada lansia stroke,hipertensi dan jatuh?
10. Bagaimana teknik komunikasi pada lansia?
11. Apa diagnosa yang ditegakkan pada kasus?
12. Bagaimana intervensinya?

I.3 Tujuan Penelitian

1. Mengetahui stroke, hipertensi dan jatuh.


2. Mengetahui prevalensi stroke,hipertensi, dan jatuh.
3. Mengetahui Barther indexnya.
4. Mengetahui katz indexnnya
5. Mengetahui peran dan etika perawat
6. Mengetahui mencegah jatuh
7. Mengetahui terapi modalitas
8. Mengetahui teori penuaan
9. Mengetahui perawatan pada lansia stroke,hipertensi dan jatuh
10. Mengetahui teknik komunikasi pada lansia
11. Mengetahui diagnose yang ditegakkan
12. Megetahui intervensi yang digunakan

2
BAB II

TINJAUAN TEORI

II.1 Definisi, Penyebab dan Komplikasi padaStroke, Hipertensi dan Jatuh

1. Stroke
Stroke adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan
neurologi yang disebabkan adanya gangguan suplai darah ke bagian otak.(black edisi
8 buku 3).
Stroke adalah suatu penyakit defisit neurologis akut yang disebabkan
olehgangguan pembuluh darah otak, terjadi secara mendadak dan menimbulkan
gejalaatau tanda yang sesuai dengan daerah otak yang terganggu (Bustan, 2007).
Menurut WHO, Stroke adalah tanda tanda klinis yang berkebang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal atau global karena adanya sumbatan atau pecahan
pembuluh darah di otak dengan gejala gejalan yang berlangsung selama 24 jam atau
lebih.
Kesimpulannya stroke adalah defisiensi neurologis yang terjadi akibat
terhintinya suplai darah ke otak yang dapat berakibat kerusakan dan kematian sel sel
di otak yang menyebabkan kelumpuhan wajah , anggota badan dan gangguan
sensifititas.
Penyebab dari stroke adalah sebagai berikut:
a. Trombosis serebral
Trombosis (penggumpalan) ini terjadi pada pembuluh darah yang mengalami
oklusi sehingga menyebabkan iskemia jaringan otak yang dapat menimbulkan
edema dan kongesti di sekitarnya.Trombosis dapat terjadi akibat aterosklerosis,
hiperkoagulasi pada polisitemia, arteristis (radang pada arteri) dan emboli.
b. Hemoragi (perdarahan)
Pendarahan intrakraminal atau intraserebral temasuk perdarahan dalam ruang
subaraknoid atau kedalam jaringan otak sendiri sebagai akibat dari pecahnya
pembuluh darah.Pecahnya pembuluh darah diakibatkan oleh adanya aterosklerosis
dan hipertensi. Pecahnya pembuluh darah otak yang dapat mengakibatkan
penekanan, pergeseran, dan pemisahan jaringan otak yang berdekatan, sehingga

3
otak akan membengkak, jaringan otak tertekan, sehingga terjadi infark otak, edema
dan mungkin herniasi otak.
c. Hipoksia umum
Hipoksia umum disebabkan oleh hipertensi yang parah, henti jantung paru,
dan curah jantung turun akibat aritmia yang mengakibatkan aliran darah ke otak
terganggu.
d. Hipoksia setempat
Hipoksia setempat diakibatkan oleh spasme arteri serebral akibat iritasi
sehingga mengurangiperfusike area otak, yang disertai perdarahan subaraknoid dan
vasokonstriksi arteri otak.
Menurut ESO excecutive committe and ESO writing committe (2008) dan
Stroke National clinical guideline for diagnosis and initial management of acute
stroke and transite ischemic attack (2014), daerah-daerah (domain) neurologis yang
mengalami gangguan akibat stroke dapat dikelompokkan yaitu:
a. Motorik
Gangguan motorik adalah yang paling prevalen dari semua kelainan yang
disebabkan oleh stroke dan pada umumnya meliputi muka, lengan, dan kaki
maupun dalam bentuk gabungan atau seluruh tubuh. Biasanya manifestasi stroke
seperti hemiplegia, hemiparesis (kelemahan salah satu sisi tubuh), hilang atau
menurunnya refleks tendon. Hemiparesis adalah kekuatan otot yang berkurang
pada sebagian tubuh dimana lengan dan tungkai sisi lumpuh sama beratnya
ataupun dimana lengan sisi lebih lumpuh dari tungkai atau sebaliknya sedangkan
hemiplegia adalah kekuatan otot yang hilang.
b. Sensori
Defisit sensorik berkisar antara kehilangan sensasi primer sampai kehilangan
persepsi yang sifatnya lebih kompleks. Penderita mungkin menyatakannya sebagai
perasaan kesemutan, rasa baal, atau gangguan sensitivitas.
c. Penglihatan
Stroke dapat menyebabkan hilangnya visus secara monokuler, hemianopsia
homonim, atau kebutaan kortikal.
d. Bicara dan bahasa
Disfasia mungkin tampak sebagai gangguan komprehensi, lupa akan nama-nama,
adanya repetisi, dan gangguan membaca dan menulis. Kira-kira 30% penderita
stroke menunjukkan gangguan bicara. Kelainan bicara dan bahasa dapat

4
mengganggu kemampuan penderita untuk kembali ke kehidupan mandiri seperti
sebelum sakit.
e. Kognitif
Kelainan ini berupa adanya gangguan memori, atensi, orientasi, dan hilangnya
kemampuan menghitung. Sekitar 15-25% penderita stroke menunjukkan
gangguaun kognitif yang nyata setelah mengalami serangan akut iskemik.
f. Afektif
Gangguan afeksi berupa depresi adalah yang paling sering menyertai stroke.
Depresi cenderung terjadi beberapa bulan setelah serangan dan jarang pada saat
akut.
2. Afasia
Afasia merupakan kehilangan kemampuan untuk bicara atau untuk memahami
sebagaian atau keseluruhan dari yang diucapkan oleh orang lain, yang diakibatkan
karena adanya gangguan pada otak (Wood).
Afasia adalah gangguan pada perolehan bahasa yang disebabkan karena
kerusakan otak yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam memformulasikan
pemahaman bahasa dan penggunaan bahasa (Wiig dan Semel).
Afasia dapat timbul akibat cedera otak atau proses patologik pada area lobus
frontal, temporal atau parietal yang mengatur kemampuan berbahasa, yaitu Area Broa,
Area Wernicke, dan jalur yang menghubungkan antara keduanya. Kedua area ini
biasanya terletak di hemisfer kiri otak dan pada kebanyakan orang, bagian hemisfer
kiri merupakan tempat kemampuan berbahasa diatur.
Cedera atau kerusakan pada otak mungkin terjadi karena beberapa sebab
berikut:
a. Stroke
Stroke menyebabkan darah tidak mampu mencapai bagian tertentu otak yang
antara lain dipicu oleh kematian sel otak karena tidak mendapatkan cukup
oksigen.
b. Benturan pada kepala
c. Infeksi dan tumor pada otak
d. Penyakit degeneratif seperti demensia
3. Hipertensi
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Commitee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih

5
tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya,
mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.
Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90 % dari semua kasus)
atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, sering
kali dapat diperbaiki.
Hipertensi merupakan keadaan ketika tekanan darah sistolik lebih dari 120
mmHg dan tekanan diastolik lebih dari 80
mmHg. Hipertensiseringmenyebabkanperubahanpadapembuluhdarah yang
dapatmengakibatkansemakintingginyatekanandarah (ArifMuttaqin, 2009).
Menurut Bruner danSuddarth (2001)
hipertensidapatdidefinisikansebagaitekanandarahpersistendimanatekanansistoliknya
di atas 140 mmHg dantekanandiastoliknya di atas 90 mmHg.Padapopulasimanula,
hipertensididefinisikansebagaitekanansistolik di atas 160 mmHg dantekanandiastolik
di atas 90 mmHg.
Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia adalah terjadinya
perubahan-perubahan pada:
a. Elastisitas dinding aorta menurun
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun, sesudah berumur
20 tahun kemampuan jantung memompa darah menurun menyebabkan
menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembukuh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektivitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Umumnya, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ yang umum ditemui pada
pasien hipertensi adalah:
a. Jantung
 hipertrofi ventrikel kiri
 angina atau infark miokardium
 gagal jantung

6
b. Otak
 stroke atau transient ishemic attack
c. Penyakit ginjal kronis
d. Penyakit arteri perifer
e. Retinopati

4. Jatuh
Jatuh adalah kejadian secara tiba-tiba dan tidak disengaja yang mengakibatkan
seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai (Maryam, 2008).
Jatuh merupakan masalah fisik yang sering terjadi pada lansia, dengan
bertambahnya usia kondisi fisik, mental, dan fungsi tubuh pun menurun. Jatuh dan
kecelakaan pada lansia merupakan penyebab kecacatan yang utama.
Penyebab jatuh dan beberapa faktor yang menyebabkan jatuh pada lansia
adalah:
a. Penyakit yang sedang diderita, seperti hipertensi, stroke, sakit kepala, pusing,
nyeri sendi, reumatik, dan diabetes.
b. Perubahan- perubahan akibat proses penuaan seperti penurunan pendengaran,
penglihatan, statusmental, lambatnya pergerakan, hidup sendiri, kelemahan
otot kaki bawah, gangguan keseimbangan dan gaya berjalan.
c. Faktor lingkungan, seperti penerangan yang kurang, benda-benda di lantai,
tersandung, tangga tanpa pagar, lantai yang licin, serta alat bantu yang tidak
tepat.(Darmojo, 2013)
Menurut Kane (1994), yang dikutip Darmojo (2004), komplikasi-komplikasi
jatuh adalah :
a. Luka (injury)
Injury mengakibatkan rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa
robek atau tertariknya jaringan otot, robeknya arteri/vena, patah tulang atau
fraktur misalnya fraktur pelvis, femur, humerus, lengan bawah, tungkai atas.
b. Disabilitas
Mengakibatkan penurunan mobilitas yang berhubungan dengan perlukaan fisik
dan kehilangan kepercayaan diri dan pembatasan gerak.
d. Kematian

7
II.2 Prevalensi Stroke, Hipertensi dan Jatuh

1. Prevalensi Stroke

2. Prevalensi Hipertensi

8
3. Prevalensi Jatuh pada lansia

Menurut data World Health Organization (WHO) 2007, mereka yang mengalami
penuaan masuk rumah sakit di usia 60 ke atas di Australia, Kanada, dan Inggris karena
keseimbangan yang buruk dan terjatuh dengan prevalensi 1,6 sampai 3 per 10.000 penduduk.
Di Asia Tenggara yaitu di Cina prevalensi lansia jatuh sebesar 6-13% dan di Jepang sebesar
20%. Di India kejadian jatuh lebih dari 30% untuk usia 65 tahun ke atas dan lebih dari 50%
untuk usia 85 tahun, sedangkan pada 6 bulan terakhir tercatat 14% dari sepuluh kota di India
lansia mengalami jatuh (Dhebar, 2014). Di Indonesia dari penelitian yang dilaksanakan
Suhartati dan Asnindari (2013) prevalensi jatuh pada lansia sebesar 47,6%.
Lansia yang hidup di lingkungan masyarakat mengalami jatuh setidaknya satu kali per
tahun dan pada lansia yang hidup di panti jompo tiga kali lebih berisiko, lebih lanjut Gusi, et
al (2012) menyatakan, bahwa keseimbangan pada lansia yang dibiarkan akan meningkatkan
risiko jatuh dengan prevalensi 30 - 35%. Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan
peneliti pada 27 Januari 2017 ditemukan 40 lansia sehat dari komunitas lanjut usia di
Kabupaten Trenggalek dengan rentang usia 60 - 90 tahun yang berkumpul di alun-alun
Trenggalek, 20 lansia di antaranya mengalami penurunan keseimbangan

9
II.3 Barther Index

INDEX BARTHEL (Sebelumnya Indeks Cacat Maryland)


(Florence I. Mahoney dan Dorothea W. Barthel; digunakan sejak 1955, pertama kali
diterbitkan oleh pencetusnya pada tahun 1958)
1. Tujuan
Indeks Barthel mengukur kebebasan fungsional dalam perawatan dan mobilitas
pribadi;  itu dikembangkan untuk memantau kinerja pada pasien rumah sakit jangka
panjang sebelum dan setelah perawatan dan untuk menunjukkan jumlah perawatan yang
dibutuhkan. Ini dimaksudkan untuk pasien dengan kondisi yang menyebabkan
kelumpuhan dan telah digunakan dengan pasien yang tidak stabil untuk meningkatkan
masa inap, prognosis esterat dan tambahan cischarge - comcs, dan juga digunakan
sebagai eva uative in-sirumen.
2. Dasar Konseptual
Item dipilih untuk menunjukkan tingkat asuhan keperawatan yang dibutuhkan
oleh pasien.  Sistem penimbangan untuk item mencerminkan kepentingan relatif mereka
dalam hal tingkat penerimaan sosial dan perawatan yang diperlukan (1, p606).  Granger
telah menempatkan Indeks Barthel secara konseptual bersama WHO dalam kerangka
penurunan, disabilitas, dan cacat fisik.
3. Deskripsi
Indeks Barthel adalah skala penilaian yang diselesaikan oleh profesional
kesehatan dari catatan medis atau dari pengamatan langsung.  Diperlukan dua hingga
lima menit untuk menyelesaikan (4, p62), atau dapat diatur sendiri dalam waktu sekitar
sepuluh menit (5, p125) Ada dua versi utama: formulir sepuluh item asli dan versi 15
item diperluas yang diajukan oleh  Granger (3; 6; 7). Sepuluh kegiatan asli mencakup
perawatan pribadi dan mobilitas. Setiap item dinilai dalam hal apakah pasien dapat
melakukan tugas secara mandiri, dengan beberapa bantuan, atau tergantung pada
bantuan. Peringkat dimaksudkan untuk menyarankan jumlah bantuan yang dibutuhkan
pasien dan waktu yang dibutuhkan (8, hal 61).  Skor barang ditambahkan untuk
membentuk skor keseluruhan yang berkisar dari 0 hingga 100, dalam langkah lima,
dengan skor yang lebih tinggi menunjukkan kemandirian yang lebih besar. Item dan
sistem penilaian ditunjukkan pada Tampilan 3.3; pedoman pemeringkatan ditunjukkan
pada Tampilan 3.4. Kategori "dengan bantuan" digunakan jika tingkat pengawasan atau

10
bantuan apa pun diperlukan.  Wylie and White juga menerbitkan instruksi penilaian
terperinci.
Berbagai modifikasi telah dilakukan pada skala Barthel 10-item, termasuk versi
yang diperlihatkan dalam Tampilan 3.5 yang diusulkan oleh Collin dan Wade di Inggris.
Ini menata ulang asal-usul, memperjelas instruksi peringkat dan memodifikasi skor untuk
item cache. Skor total berkisar dari 0 hingga 20. Versi ini juga bergerak dari orientasi
kapasitas asli pada peringkat kinerja, menunjukkan apa yang sebenarnya dilakukan
pasien, dan bukan apa yang bisa dilakukannya.  Dalam varian lain, Shah et al.
mempertahankan item asli, tetapi masing-masing dinilai pada skala lima poin untuk
meningkatkan sensitivitas dalam mendeteksi perubahan. Saat ini, ada konsensus kecil
yang harus dilihat sebagai versi definitif jika skala sepuluh item dipilih. Granger
memperluas Indeks Barthel untuk mencakup 15 topik, dalam suatu instrumen yang
kadang-kadang disebut Modifikasi Barthe Index.  Ada dua versi: varian 979 yang
mencakup makan dan minum sebagai item terpisah dan bentuk 1981 yang
menggabungkan makan dan minum dan menambahkan item pada pakaian setelah
menggunakan toilet (7, Tabel 1). Versi terakhir direkomendasikan; ia menggunakan
empat titik skala respons untuk sebagian besar item, dengan skor keseluruhan berkisar
dari 0 hingga 100 (6, Tabel 12-2; 7, Tabel 1). Berbagai versi panduan untuk penilaian
tersedia di internet (Www.neuro.mcg.edu/mcgstrok/Indices/Mod Barthel Ind.htm) tetapi
tidak jelas seberapa lengkap ini telah diuji.
Beberapa penulis telah mengusulkan pedoman untuk menafsirkan skor Barthel.
Untuk versi sepuluh atau 15 item yang menggunakan skala 100 poin, Shah et al.
menyarankan bahwa skor 0-20 mengindikasikan ketergantungan total, 21-60
mengindikasikan ketergantungan parah 61-90 ketergantungan sedang, dan 91-99
mengindikasikan sedikit ketergantungan (10, p704).  Lazar et al. mengusulkan
interpretasi berikut untuk skor 15-item: 0-19: dependen;  20-59: perawatan mandiri
dibantu; 60-79: bantuan kursi roda; 80-89: kursi roda independen;  90-99: rawat jalan
sebagai sisted, sedangkan 100 menunjukkan independensi (11, p820). Untuk versi 15-
item, Granger et al menganggap skor 60 atau lebih rendah sebagai ambang batas lama
untuk ketergantungan yang ditandai.  Skor 40 atau lebih rendah mengindikasikan
ketergantungan yang parah, dengan kemungkinan yang sangat berkurang untuk hidup di
masyarakat (2, h48). Dua puluh atau lebih rendah mencerminkan total ketergantungan
pada perawatan diri dan mobilitas (3, p152).  Studi selanjutnya terus menerapkan 6061

11
cutting point, dengan pengakuan bahwa Barthel Inx tidak boleh digunakan sendiri untuk
memprediksi hasilnya (13, p102; 14, p508)

Tabel 1.1
Indeks Barthel
Catatan : Skor nol diberikan ketika pasien tidak dapat memenuhi krteria yang ditentukan

With Help Independent


1. Memberi makan (jika makanan perlu dipotong) 5 10
2. Bergerak dari kursi roda ke tempat tidur kembali 5-10 15
(termasuk duduk di tempat tidur)
3.Toilet pribadi (mencuci muka, menyisir rambut, 0 5
mencukur, memberisihkan gigi)
4. Masuk dan keluar toilet (menangani pakaian, 5 10
menyeka, menyiram)
5. Mandi sendiri 0 5
6. Berjalan di permukaan yang rata (atau jika tidak bisa 10 15
berjalan, dorong kursi roda) *skor hanya jika tidak bisa *0 *5
berjalan
7. Naik dan turun tangga 5 10
8. Berpakaian (termasuk mengikat 5 10
sepatu,mengencangkan ikatan)
9. Mengontrol usus 5 10
10. Mengontrol Kandung kemih 5 10

Petunjuk pengisian Indeks Barthel


Catatan : Skor nol diberikan ketika pasien tidak memenuhi kriteria yang diperlukan
1) Memberi makan
a. 10 = Independen
Pasien dapat makan sendiri dari nampan atau meja ketika somcone
menempatkan makanan dalam jangkauannya. Dia harus memakai alat bantu jika
ini diperlukan, memotong makanan, menggunakan garam dan merica,
menyebar, tetapi lakukan ini dalam waktu yang wajar.
b. 5 = Beberapa bantuan diperlukan (ketika mengeluarkan makanan, dll, seperti
yang tercantum di atas)
2) Bergerak dari kursi roda ke tempat tidur kembali (termasuk duduk di tempat tidur)

12
a. 15 = Independen dalam semua fase kegiatan ini.  Parient dapat dengan aman
mendekati tempat tidur di kursi rodanya, rem kunci, mengangkat pijakan kaki,
beranjak dari kursi roda, naik dan kembalikan ke tempat tidur dengan aman.  ,
berbaring, datang ke posisi duduk di sisi tempat tidur, ubah posisi kursi roda,
jika perlu, untuk memindahkan kembali ke tempat itu dengan aman, dan
kembali ke rantai roda dari satu atau lebih bagian dari kegiatan ini.
b. 10 = Diperlukan sedikit bantuan dalam beberapa langkah kegiatan ini atau
pasien perlu diingatkan atau diawasi untuk keselamatan.
c. 5 = Pasien dapat datang ke  posisi duduk tanpa bantuan orang kedua tetapi perlu
diangkat dari tempat tidur, atau jika ia pindah, dengan banyak bantuan.
3) Melakukan toilet pribadi
5 = Pasien dapat mencuci tangan dan wajah, menyisir rambut, membersihkan
gigi, dan bercukur.  Dia dapat menggunakan segala jenis pisau cukur tetapi
harus memasukkan pisau atau menyambungkan pisau cukur tanpa bantuan serta
mendapatkannya dari laci atau kabinet.  Pasien wanita harus memakai make-up
sendiri, jika digunakan, tetapi tidak perlu menjalin atau menata rambut
4) Masuk dan keluar toilet
a. 10 = Pasien dapat naik dan turun toilet, kencangkan dan buka pakaian, cegah
kekotoran pakaian, dan  gunakan kertas toilet dengan bantuan kami. Dia dapat
menggunakan baror dinding untuk mendukung objek stabil lainnya jika
diperlukan.  Jika perlu menggunakan wajan alih-alih toilet, ia harus dapat
meletakkannya di kursi, mengosongkannya, dan membersihkannya.
b. 5 = Pasien membutuhkan bantuan karena ketidakseimbangan atau dalam
menangani pakaian atau menggunakan kertas toilet.
5) Mandi sendiri
5 = Pasien dapat menggunakan bathtub, shower, atau mandi spons lengkap.  Dia
harus dapat melakukan semua langkah yang terlibat dalam metode apa pun yang
digunakan tanpa kehadiran orang lain.
6) Berjalan di permukaan yang datar
a. 15 = Pasien dapat berjalan setidaknya 50 meter tanpa bantuan atau pengawasan.
Ia mungkin memakai kawat gigi atau prostesis dan menggunakan tongkat
ketiak, tongkat atau alat bantu jalan tetapi tidak menggunakan alat bantu jalan.
Dia harus dapat mengunci dan membuka kunci kawat gigi jika ued, mengambil
posisi berdiri dan duduk, mendapatkan alat bantu mekanis yang diperlukan

13
untuk digunakan, dan membuangnya ketika hests (memakai dan melepas kawat
gigi dicetak di bawah balutan.)
b. 10 = Pasien membutuhkan bantuan atau pengawasan di atas tetapi dapat
berjalan setidaknya 50 meter dengan bantuan
6a. Mendorong kursi roda
5 = Pasien tidak dapat ambulasi tetapi dapat mendorong kursi roda secara mandiri.
Dia harus bisa berkeliling sudut, memutar-mutar manuver kursi ke meja, tempat
tidur, toilet, ee.  Dia harus bisa mendorong kursi setidaknya 50 yard. Jangan
memberi skor pada item ini jika pasien mendapat skor untuk berjalan.
7) Naik dan turun tangga
a. 10 = Pasien dapat naik turun tangga dengan aman tanpa bantuan atau
pengawasan.  Dia mungkin dan harus menggunakan tongkat pegangan tangan,
atau tongkat ketiak saat dibutuhkan.  Dia harus bisa membawa tongkat atau
tongkat saat dia naik atau turun tangga.
b. 5 = Pasien perlu bantuan atau pengawasan salah satu dari item di atas,
8) Berpakaian dan membuka pakaian
a. 10 = Pasien dapat mengenakan dan melepas dan mengencangkan semua
pakaian, dan mengikat tali sepatu (kecuali jika perlu menggunakan adaptasi
untuk ini).  Kegiatan ini termasuk mengenakan dan melepas dan mengikat
korset atau kawat gigi ketika ini ditentukan. Pakaian khusus seperti suspender,
sepatu loater, gaun yang terbuka di bagian depan dapat digunakan bila perlu.
b. 5 = Pasien perlu bantuan dalam mengenakan dan melepas atau mengencangkan
pakaian apa pun.  Dia harus melakukan setidaknya setengah dari pekerjaannya.
Dia menyelesaikan ini dalam waktu yang wajar. Wanita tidak perlu dinilai
menggunakan bra atau korset kecuali ini adalah pakaian yang ditentukan.
9) Mengontrol Usus
a. 10 = Pasien mampu mengendalikan isi perutnya dan tidak mengalami
kecelakaan.  Ia dapat menggunakan supositoria atau mengambil nema bila
diperlukan (seperti untuk pasien cedera tulang belakang yang telah menjalani
pelatihan usus)
b. 5 = Pasien perlu bantuan dalam menggunakan supositoria atau mengambil
enema atau mengalami kecelakaan sesekali.
10) Mengontrol kandung kemih

14
a. 10 = Pasien dapat mengendalikan nya  kandung kemih siang dan malam, pasien
cedera sumsum tulang belakang yang memakai perangkat eksternal dan kaki
bayg harus memakainya secara mandiri, bersih dan kosong, dan tetap kering
siang dan malam.
b. 5 = Pasien kadang-kadang mengalami kecelakaan atau tidak bisa menunggu
tempat tidur atau sampai ke tempat tidur.  toilet dalam waktu atau butuh bantuan
dengan perangkat eksternal

4. Keandalan
a. TEN-ITEM VERSI.
Shah et a melaporkan koefisien konsistensi internal alpha 0,87-0,92 (saat
masuk dan keluar) untuk sistem penilaian asli, dan 0,90 hingga 0,93 untuk metode
penilaiannya yang direvisi (10, p706).  Wartski dan Green menguji ulang 41 pasien
setelah tiga minggu keterlambatan. Untuk 35 dari 41, sces jatuh dalam 10 poin; dari
6 kasus dengan skor yang paling berbeda, 2 dapat dijelaskan (15, pp357-358).
Collin et al.  mempelajari kesepakatan di antara empatcara pemberian skala:
laporan diri, penilaian oleh perawat berdasarkan kesan klinis, pengujian oleh
perawat, dan pengujian oleh fisioterapis.  Koefisien kesesuaian Kendall di antara
empat metode penilaian adalah 0,93 (4, p61). Namun angka ini agaknya
menunjukkan tingkat pertentangan. Ada kesepakatan untuk 60% pasien dan
perbedaan pendapat pada satu peringkat untuk 28%;  12% memiliki lebih dari satu
perbedaan (16, p357). Laporan diri sesuai dengan metode lainnya; kesepakatan
paling rendah atau cenderung pada pemindahan, pemberian makan, berpakaian,
perawatan, dan toit. Roy et al. menemukan korelasi antar penilai 0,99, sedangkan
korelasi antara peringkat dan laporan diri pasien adalah 0,88 (17, Tabel 2).
Hachisuka et a. melaporkan persetujuan di antara tiga versi dari Barthel yang
melaporkan sendiri; versi laporan diri berkorelasi 0,99 dengan versi peringkat, dan
koefisien alpha adalah 0,84 (18; 19)
Penilaian Collin dan Wade dan Pedoman untuk 10-tem Modifikasi Barthel Index
General
Indeks harus digunakan sebagai catatan tentang apa yang dilakukan pasien, bukan
sebagai catatan tentang apa yang bisa dilakukan pasien.  Tujuan utamanya adalah
untuk menetapkan tingkat kemandirian dari segala bantuan, baik fisik maupun
verbal, betapapun kecil dan untuk alasan apa pun.  Kebutuhan akan pengawasan

15
membuat pasien tidak mandiri. Kinerja seorang pasien harus ditetapkan dengan
menggunakan bukti yang ada. Meminta pasien, teman kerabat, dan perawat menjadi
sumber yang biasa, tetapi pengamatan langsung dan akal sehat juga penting.
Namun, pengujian langsung tidak diperlukan. Biasanya kinerja selama 24-48 jam
sebelumnya adalah penting, tetapi kadang-kadang periode yang lebih lama akan
relevan. Pasien yang tidak sadar harus mencetak "0" seluruh, bahkan jika belum
inkontinensia. Kategori tengah menyiratkan persediaan pasien atau 50% dari upaya.
Penggunaan alat bantu untuk mandiri adalah  bolehkan.
1) Isi perut (minggu sebelumnya)
a) 0 = Inkontinen (atau perlu diberi musuh)
b) 1 = kecelakaan sesekali (sekali / minggu)
c) 2 = Kontinen
Jika perlu enema dari perawat, maka kencing.  
Sesekali : sekali seminggu
2) Kandung kemih (minggu sebelumnya)
a) 0 = inkontinensia, atau dikateterisasi dan tidak dapat menangani
b) 1 = Kecelakaan sesekali (maks. Sekali per 24 jam)
c) 2 = Kontinensia (selama lebih dari 7 hari)
Kadang-kadang kurang dari sekali sehari.
Pasien yang dikateterisasi yang dapat sepenuhnya  mengelola kateter sendiri
terdaftar sebagai “kontinensia”.
3) Perawatan diri (sebelumnya 24-48 jam)
a) 0 = Perlu bantuan dengan perawatan pribadi
b) 1 = Independen wajah/ rambut / gigi / alat cukur (alat disediakan)
Mengacu pada kebersihan pribadi: melakukan gigi, memasang gigi palsu,
melakukan rambut, bercukur, mencuci muka.  Implements dapat disediakan
oleh penolong
4) Penggunaan Toilet
a) 0 = dependen
b) 1 = perlu bantuan, tetapi dapat melakukan sesuatu sendiri
c) 2 = independen (on dan off, berpakaian, menyeka). Harus dapat mencapai
toilet / toilet, membuka pakaian sendiri, berpakaian, dan pergi.
Dengan bantuan : dapat membersihkan diri, dan melakukan hal-hal lain di
atas.

16
5) Memberi makan
a) 0 = tidak dapat
b) 1 = membutuhkan bantuan memotong, menyebarkan mentega, dll.
c) 2 = independen (makanan disediakan dalam jangkauan)  . Mampu makan
makanan normal apa saja (tidak hanya makanan lunak). Makanan dimasak
dan disajikan oleh orang lain. Tapi tidak memotong.
Bantuan : memotong makanan, memberi makan pasien sendiri.
6) Transfer (dari tempat tidur ke kursi dan punggung)
a) 0 = tidak dapat duduk
b) 1 = bantuan besar (satu atau dua orang, fisik), dapat duduk
c) 2 = bantuan kecil (verbal atau fisik)
d) 3 = Independent
Dependent  : tidak ada keseimbangan duduk (tidak bisa duduk); dua orang
untuk diangkat.
Bantuan utama : satu kuat / terampil, atau dua orang normal, bisa duduk.
Bantuan kecil : satu orang dengan mudah, atau membutuhkan pengawasan
untuk keselamatan
7) Mobilitas
a) 0 = imobile
b) 1 = kursi roda independen termasuk sudut dll.
c) 2 = berjalan dengan bantuan satu orang (verbal atau fisik)
d) 3 = independen (tetapi dapat menggunakan bantuan apa pun, misalnya,
tongkat)
Mengacu pada mobilitas tentang rumah atau bangsal,  dalam ruangan.
Dapat menggunakan bantuan. Jika di kursi roda, harus merundingkan sudut
/ pintu tanpa bantuan.
Bantuan : Oleh satu orang yang tidak terlatih, termasuk pengawasan /
dukungan moral.
8) Berpakaian
a) 0 = Dependen
b) 1 = Membutuhkan bantuan, tetapi dapat melakukan sekitar setengah tanpa
bantuan
c) 2 = independen (termasuk kancing, ritsleting, tali, dll.)

17
Harus dapat memilih dan mengenakan semua pakaian, yang dapat
disesuaikan.  
Setengah bantuan dengan kancing, ritsleting, dll. ( Periksa). Tetapi dapat
mengenakan beberapa pakaian saja.
9) Naik turun tangga
a) 0 = Tidak bisa
b) 1 = Membutuhkan bantuan (verbal, fisik, alat bantu)
c) 2 = independen ke atas dan ke bawah Harus membawa alat bantu berjalan
yang dulu independen  .
10) Mandi
a) 0 = Dependent
b) 1 = Independent (atau di kamar mandi)
Biasanya kegiatan yang paling sulit Harus masuk dan keluar tanpa
pengawasan, dan mencuci sendiri Independen di pancuran independen "jika
tidak diawasi / tanpa bantuan.
Total (0-20)

b. VERSI LIMA BELAS-ITEM.


Granger et al. melaporkan reliabilitas tes-tes ulang 0,89 dengan orang dewasa
yang cacat; perjanjian antar penilai melebihi 0,95 (3, p150).  Shinar et al.
memperoleh perjanjian antara 0,99, dan alpha Cronbach 0,98 untuk 18 pasien (20,
pp724, 726). Mereka juga membandingkan administrasi melalui telepon dalam
wawancara dan dengan observasi untuk 72 pasien rawat jalan. Total skor
berkorelasi 0,97, dan korelasi Spearman melebihi 0,85 untuk semua kecuali satu
item (20, Tabel 3)
5. Validitas
a. TEN-ITEM VERSION.
Wade dan Hewer melaporkan informasi validitas untuk versi sepuluh item
yang direvisi yang ditunjukkan dalam Tampilan 3.5.  Korelasi antara 0,73 dan 0,77
diperoleh dengan indeks kemampuan motorik untuk 976 pasien stroke (21, p178).
Analisis faktor mengidentifikasi dua faktor, yang mendekati mobilitas dan
pengelompokan perawatan pribadi dari item tersebut. Wade dan Hewer
jugamemberikan bukti untuk struktur hierarkis dalam skala dalam hal urutan
pemulihan fungsi (21, Tabel 4).

18
Beberapa penelitian telah menilai prediksi validitas. Dalam studi pasien
stroke, persentase mereka yang meninggal dalam waktu enam bulan penerimaan
turun secara signifikan (p <0,001) ketika skor Barthel saat masuk meningkat (9,
p836; 12, p557; 22, p799; 23. Di antara  selamat, skor masuk juga meramalkan lama
tinggal dan kemajuan selanjutnya seperti yang dinilai oleh dokter.77 persen dari
mereka yang mencetak 60 hingga 100 poin pada misi iklan kemudian dinilai telah
meningkat, dibandingkan dengan 36% dari mereka yang mencetak 0 hingga 15 (22,
p800; 24, p894). Sebagian besar perbedaan antara skor perubahan dan tekanan
dokter terhadap perbaikan terjadi karena kelalaian bicara dan fungsi mental dari
indeks (9, p836).
Jalan lintas yang menarik antara sepuluh item Indeks Barthel dan indeks
utilitas kesehatan EuroQol EQ-5D didasarkan pada penelitian di Belanda terhadap
598 pasien stroke (25).menjelaskan 54 hingga 59% dari varians dalam skor EQ pada
berbagai tahap dalam perjalanan penyakit;  mengamati skor EQ berkorelasi dengan
korelasi intraclass 0,70) dengan yang diprediksi dari Barthel (25, Tabel 3 dan 4).
Dengan menggunakan sistem skor 0 hingga 20, skor Barthel nol sama dengan skor
-0,25 pada EQ-5D (mis., Dianggap sebagai keadaan yang lebih buruk daripada
kematian); Skor Barthel dari 5 setara dengan skor utilitas nol, sedangkan skor 20
terkait dengan skor EQ-5D 0,75, yang dekat dengan norma populasi (25, pp429-430)

b. VERSI LIMA BELAS-ITEM.


Fortinsky et a. melaporkan korelasi antara skor Barthel dan kinerja aktual dari
72 tugas. Korelasi keseluruhan adalah 0,91; perjanjian terdekat adalah untuk tugas-
tugas perawatan pribadi (7, p492). Skor Barthel juga terkait dengan usia, masalah
psikologis, dan kinerja peran (7, p495).  
Korelasi antara Barthel dan PULSES Profile berkisar dari -0,74 hingga -0,80
(3, p146), hingga -0,83 (2, p48), dan -0,90 (12, p556)(p <0,001; tanda negatif hasil
dari penilaian dalam skala timbangan). Dalam sebuah studi pada 45 pasien yang
lebih tua, skor Barthel berkorelasi 0,84 dengan Functional Independence Measure
(FIM), 0,78 dengan Indeks Katz dari ADL dan 0,52 dengan Indeks Kualitas Hidup
Spitzer (26, Tabel 2). Granger et a. menemukan bahwa empat item yaitu kontrol
usus dan kandung kemih, perawatan, makan) menawarkan prediksi kembali ke
komunitas independen yang hidup setelah enam bulan yang sebanding dengan

19
prediksi berdasarkan seluruh skala (13, p103). Dalam studi pemulihan pasien stroke,
Barthel dan komponen motor FIM terbukti sama responsif terhadap perubahan

6. Bentuk Alternatif
Ada Banyak varian dari indeks Barthel. Di antara kurang luas digunakan adalah
versi 12-item Granger er al. (13; 14), versi 14-item (28), versi 16-item versi (29) , dan
versi 17-item. Chino et al. mengusulkan sistem penilaian untuk versi 15 item yang
sedikit berbeda dari yang disajikan dalam pameran 3,6 (30). Karena dari versi yang
berbeda, kehati-hatian diperlukan ketika membandingkan hasil melalui studi.Koordinasi
diperlukan dalam pengembangan lebih lanjut dari skala Barthel, dan kami
merekomendasikan para pengguna memilih apakah versi Collin dari sepuluh-item skala
atau versi 15-item yang diusulkan oleh Fortin-sky et al, tahun 1981 (7).Varian lainnya
tampaknya memegang sedikit keuntungan.Indeks Barthel Tersedia dalam banyak
Bahasa; pencarian internet dapat menemukan banyak tentang ini, meskipun tidak ada
koordinasi dalam perkembangan terjemahan.Versi Bahasa Jepang telah relatif secara luas
diuji (18; 19; 30).Versi diperpanjang dari indeks Barthel difungsi kognitif (31). Sebuah
studi Barthel di Pakistan menunjukkan bagaimana perbedaan di bea cukai dan arsitektur
berarti bahwa tanggapan tidak sebanding antara pedesaan dan pengaturan urban (32).

7. Komentar
Digunakan selama beberapa dekade, Indeks Barthel terus diterapkan dan dievaluasi
secara luas; ini adalah skala ADL yang disegani.Ini juga menempati tempat penting
dalam pengembangan bidang ini dan telah dimasukkan ke dalam instrumen evaluasi
selanjutnya seperti Sistem Evaluasi Jangka Panjang yang dikembangkan oleh Granger et
al. (6; 30; 33). Baru-baru ini, yang terakhir telah digantikan oleh Sistem Data Seragam
untuk Rehabilitasi Medis, yang juga menggabungkan item Barthel bersama dengan
FIRM (dijelaskan kemudian dalam bab ini), Data validitas pada Barthel lebih luas
daripada kebanyakan ADL lainnya. skala, dan hasilnya tampak lebih unggul dari yang
lain yang kami ulas.
Beberapa kritik telah dibuat dari Indeks Barthel, terutama mengenai pendekatan
penilaiannya.Memang, kritik terhadap skor merangsang perkembangan banyak versi
yang lebih baru.Collin dan Wade mengomentari kesulitan menafsirkan kategori tengah
skala dan mengusulkan pedoman mereka yang lebih rinci (4). Shah et al, mencatat
ketidakpekaan skema peringkat asli dan juga mengembangkan kategori menengah yang

20
lebih rinci (101. Pendekatan Collin dan Wade atau Shah meningkatkan yang asli, tetapi
masih diperlukan pendekatan penilaian skor. Pengembangan lebih lanjut harus
dikoordinasikan dan tidak kami berdasarkan usia, jenis kelamin, dan kondisi medis yang
diinginkan. Indeks Barthel biasanya diterapkan sebagai skala peringkat, laporan diri
dapat memberikan hasil yang berbeda dari peringkat terapis (4; 5; 17; 20), Arah
perbedaan, namun tidak konsisten dan dalam kebanyakan kasus kecil.Mencerminkan
asal-usulnya sebagai ukuran untuk pasien yang sakit parah, Indeks Barthel dalam lingkup
sempit dan mungkin tidak mendeteksi tingkat kecacatan yang rendah.Dengan demikian,
meskipun skor 100 menunjukkan independensi dalam semua sepuluh bidang, bantuan
mungkin masih diperlukan, misalnya dengan memasak atau membersihkan
rumah.Timbangan IADL mengatasi masalah ini, dan skala seperti Profil PULSFS telah
mencapai cakupan cakupan yang lebih luas dengan memasukkan topik seperti faktor
komunikasi, psikososial, dan situasional.

II.4 Katz Index

Indeks Katz (Indeks Kemandirian dalam Aktivitas Kehidupan Sehari-hari, atau Indeks ADL)

(Sidney Katz, 1959, direvisi 1976)

1. Tujuan
IndeksKatz dikembangkan untuk mengukur fungsi fisik pasien usia lanjut dan
pasien yang sakit kronis. Seringkali, telah digunakan untuk menunjukkan keparahan
penyakit kronis dan untuk mengevaluasi efektivitas pengobatan; digunakan juga
untuk memberikan informasi prediksi tentang perjalanan penyakit tertentu .
2. Dasar Konseptual
Dalam studi empiris penuaan, Katzmencatat bahwa hilangnya keterampilan
fungsional terjadi pada urutan tertentu, fungsi paling kompleks hilang terlebih dahulu.
Secara empiris, enam kegiatan yang termasuk dalam indeks ditemukan dalam urutan
hierarkis dari jenis ini sedangkan item lain (mis., Mobilitas, berjalan, memanjat
tangga) tidak sesuai dengan pola dan dikeluarkan . Mereka menyimpulkan bahwa
Indeks ADL tampaknya mencerminkan "fungsi biologis dan psikososial primer"
3. Deskripsi
Indeks Katz awalnya dikembangkan untuk pasien usia lanjut dan sakit kronis
yang menderita stroke atau pinggul retak. Ini menilai kemandirian dalam enam

21
kegiatan: mandi, berpakaian, menggunakan toilet, berpindah,kontinen, dan makan.
Melalui observasi dan wawancara, terapis menilai setiap aktivitas pada skala tiga poin
independensi.Tingkat kinerja yang paling tergantung selama periode dua minggu
dicatat.
Definisi penuh dari keenam item diberikan oleh Katz et al. (S, pp22-24).Tahap
pertama dalam penilaian melibatkan menerjemahkan skala tiga poin ke dalam
dikotomi dependen atau independen.Makan, berpakaian, dan mandi.

Untuk setiap area fungsi yang tercantum di bawah ini, periksa deskripsi yang berlaku.
(Kata "bantuan" berarti pengawasan, pegarahan, atau bantuan pribadi.)

 Mandi- mandi dengan spons, bathtub, atau shower


a) Tidak menerima bantuan (masuk dan keluar dari bak mandi sendiri jika bak mandi
merupakan sarana mandi biasa)
b) Menerima bantuan hanya dengan memandikan satu bagian tubuh (seperti punggung
atau kaki)
c) Menerima bantuan dalam memandikan lebih dari satu bagian tubuh (atau tidak mandi)

 Berpakaian- mendapatkan pakaian dari lemari dan laci, termasuk pakaian dalam,
pakaian luar dan menggunakan ikat pinggang.
a) Mendapatkan pakaian dan berpakaian lengkap tanpa bantuan
b) Mendapatkan pakaian dan berpakaian tanpa bantuan kecuali untuk bantuan mengikat
sepatu
c) Menerima bantuan dalam mendapatkan pakaian atau berpakaian
 Pergi ke "kamar toilet" untuk buang air besar dan buang air kecil; membersihkan diri
setelah eliminasi dan mengatur pakaian

 Pergi ke "kamar toilet," membersihkan diri, dan mengatur pakaian tanpa bantuan
(dapat menggunakan tongkat, pejalan kaki, atau kursi roda dan dapat mengelola
pispot)
 Menerima bantuan untuk pergi ke "kamar toilet" atau membersihkan diri atau
mengatur pakaian setelah dieliminasi atau dalam penggunaan bedpan atau toilet
 Tidak pergi ke kamar yang disebut "toilet" untuk proses eliminasi

22
 Berpindah
a) Bergerak masuk dan keluar dari tempat tidur serta masuk dan keluar dari kursi tanpa
bantuan (mungkin menggunakan tongkat atau alat bantu jalan)
b) Bergerak masuk dan keluar dari tempat tidur atau kursi dengan bantuan
c) Tidak keluar dari tempat tidur

 Kontinen
a) Mengontrol buang air kecil dan buang air besar sepenuhnya sendiri
b) Sesekali mengalami "kecelakaan"
c) Pengawas membantu menjaga kontrol urin dan buang air besar; kateter digunakan,
atau mengompol

 Makanan
a) Memberi makan diri sendiri tanpa bantuan
b) Memberi makan sendiri kecuali untuk mendapatkan bantuan dalam memotong daging
atau roti mentega
c) Menerima bantuan dalam pemberian makan atau diberi makan sebagian atau
seluruhnya dengan menggunakan tabung atau cairan intravena

Indeks Kemandirian dalam Kehidupan Sehari-hari berdasarkan pada evaluasi kemandirian


fungsional atau ketergantungan pasien dalam mandi, berpakaian, pergi ke toilet, pindah,
kontinensi, dan makan. Definisi spesifik tentang independensi dan ketergantungan fungsional
muncul di bawah indeks.

A - Independen dalam memberi makan, kontinen, transfering, pergi ke toilet, berpakaian dan
mandi.

B-Independen di semua kecuali satu dari fungsi-fungsi ini.

C- Independen di semua kecuali mandi dan satu fungsi tambahan.

D- Independen di semua kecuali mandi, berpakaian, dan satu fungsi tambahan.


 

23
E- Independen dalam semua hal kecuali mandi, berpakaian, pergi ke toilet, dan satu fungsi
tambahan.

F-Independen di semua kecuali mandi, berpakaian, pergi ke toliet, mentransfer, dan satu
fungsi tambahan.

 G-Dependent dalam semua enam fungsi.

Lainnya — Bergantung pada setidaknya dua fungsi, tetapi tidak dapat diklasifikasikan
sebagai C, D, E atau F.

Kemandirian berarti tanpa pengawasan, arahan, atau bantuan pribadi yang aktif, kecuali
sebagaimana secara khusus disebutkan di bawah ini. Ini didasarkan pada status aktual dan
bukan pada kemampuan. Seorang pasien yang menolak untuk melakukan suatu fungsi
dianggap tidak menjalankan fungsi, meskipun ia dianggap mampu.

 Mandi (spons, shower atau bathtub)


Mandiri : bantuan hanya untuk memandikan satu bagian (seperti punggung atau cacat
ekstremitas) atau mandi sepenuhnya
Ketergantungan: bantuan hanya untuk mandi lebih dari satu bagian tubuh: bantuan untuk
masuk atau keluar dari bak mandi atau tidak mandi sendiri

 Berpakaian
Mandiri : mendapat pakaian dari lemari di laci: mengenakan pakaian, pakaian luar, kawat
gigi, mengelola pengencang; tindakan mengikat tidak termasuk sepatu
Ketergantungan: tidak berpakaian sendiri atau tetap sebagian telanjang

 Pergi ke toilet
Mandiri: sampai ke toliet; naik dan turun toilet; pakaian arang, membersihkan organ ekskresi;
(dapat mengelola pispot sendiri hanya digunakan pada malam hari dan mungkin atau
mungkin tidak menggunakan dukungan mekanik)

Ketergantungan: menggunakan pispot atau toilet atau menerima bantuan untuk masuk dan
menggunakan toilet

24
 Berpindah
Mandiri: bergerak masuk dan keluar dari tempat tidur secara mandiri dan bergerak masuk dan
keluar dari kursi secara mandiri (mungkin atau mungkin tidak menggunakan dukungan
mekanik)

Ketergantungan: bantuan untuk pindah atau keluar dari tempat tidur dan / atau kursi; tidak
melakukan satu atau lebih transter

 Kontinen
Mandiri: buang air kecil dan besar sepenuhnya dikontrol sendiri

Ketergantungan : Inkontinensia parsial atau total dalam perbaikan atau defekasi; kontrol
parsial atau total oleh enema, kateter, atau penggunaan urinal dan / atau bantalan yang diatur
secara teratur

 Makanan
Mandiri: mendapatkan makanan dari piring atau yang setara ke dalam mulut; pemotongan
daging dan persiapan makanan, seperti roti mentega, dikeluarkan dari evaluasi)

Ketergantungan : bantuan dalam tindakan memberi makan: tidak makan sama sekali atau
menyusui parenteral atau, sistem penilaian yang disederhanakan menghitung jumlah kegiatan
di mana individu bergantung, pada skala dari O sampai 6, di mana 0 = independen dalam
semua enam fungsi dan 6 = bebas dalam semua fungsi (4, p497). Metode ini menghilangkan
kebutuhan untuk kategori penilaian lain-lain, "lainnya."

II.5 Etika dan peran Perawat

A. Etik Keperawatan

1. Otonomi (Autonomi) prinsip otonomi didasarkan pada keyakinan


bahwa individu mampu berpikir logis dan mampu membuat keputusan sendiri.
Orang dewasa mampu memutuskan sesuatu dan orang lain harus
menghargainya. Otonomi merupakan hak kemandirian dan kebebasan individu

25
yang menuntut pembedaan diri. Salah satu contoh yang tidak memperhatikan
otonomi adalah Memberitahukan klien bahwa keadaanya baik,padahal
terdapat gangguanatau penyimpangan
2. Beneficence (Berbuat Baik) prinsip ini menentut perawat untuk
melakukan hal yan baik dengan begitu dapat mencegah kesalahan atau
kejahatan. Contoh perawat menasehati klien tentang program latihan untuk
memperbaiki kesehatan secara umum, tetapi perawat menasehati untuk tidak
dilakukan karena alasan resiko serangan jantung.
3. Justice (Keadilan) nilai ini direfleksikan dalam praktek professional
ketika perawat bekerja untuk terapi yang benar sesuai hukum, standar praktik
dan keyakinan yang benar untuk memperoleh kualitas pelayanan kesehatan.
Contoh ketika perawat dinas sendirian dan ketika itu ada klien baru masuk
serta ada juga klien rawat yang memerlukan bantuan perawat maka perawat
harus mempertimbangkan faktor-faktor dalam faktor tersebut kemudian
bertindak sesuai dengan asas keadilan.
4. Non-maleficence (tidak merugikan) prinsi ini berarti tidak
menimbulkan bahaya/cedera fisik dan psikologis pada klien. Contoh ketika
ada klien yang menyatakan kepada dokter secara tertulis menolak pemberian
transfuse darah dan ketika itu penyakit perdarahan (melena) membuat keadaan
klien semakin memburuk dan dokter harus mengistrusikan pemberian
transfuse darah. akhirnya transfuse darah ridak diberikan karena prinsi
beneficence walaupun pada situasi ini juga terjadi penyalahgunaan prinsi
nonmaleficince.
5. Veracity (Kejujuran) nilai ini bukan cuman dimiliki oleh perawat
namun harus dimiliki oleh seluruh pemberi layanan kesehatan untuk
menyampaikan kebenaran pada setia klien untuk meyakinkan agar klien
mengerti. Informasi yang diberikan harus akurat, komprehensif, dan objektif.
Kebenaran merupakan dasar membina hubungan saling percaya. Klie
memiliki otonomi sehingga mereka berhak mendapatkan informasi yang ia
ingin tahu. Contoh Ny. S masuk rumah sakit dengan berbagai macam fraktur
karena kecelakaan mobil, suaminya juga ada dalam kecelakaan tersebut dan
meninggal dunia. Ny. S selalu bertanya-tanya tentang keadaan suaminya.
Dokter ahli bedah berpesan kepada perawat untuk belum memberitahukan
kematian suaminya kepada klien perawat tidak mengetahui alasan tersebut

26
dari dokter dan kepala ruangan menyampaikan intruksi dokter harus diikuti.
Perawat dalam hal ini dihadapkan oleh konflik kejujuran.
6. Fidelity (Menepati janji) tanggung jawab besar seorang perawat adalah
meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, memulihkan kesehatan, dan
meminimalkan penderitaan. Untuk mencapai itu perawat harus memiliki
komitmen menepati janji dan menghargai komitmennya kepada orang lain.
7. Confidentiality (Kerahasiaan) kerahasiaan adalah informasi tentang
klien harus dijaga privasi klien. Dokumentasi tentang keadaan kesehatan klien
hanya bisa dibaca guna keperluan pengobatan dan peningkatan kesehatan
klien. Diskusi tentang klien diluar area pelayanan harus dihindari.
8. Accountability (Akuntabilitasi) akuntabilitas adalah standar yang pasti
bahwa tindakan seorang professional dapat dinilai dalam situasi yang tidak
jelas atau tanda tekecuali. Contoh perawat bertanggung jawab pada diri
sendiri, profesi, klien, sesame teman sejawat, karyawan, dan masyarakat. Jika
perawat salah memberi dosis obat kepada klien perawat dapat digugat oleh
klien yang menerima obat, dokter yang memberi tugas delegatif, dan
masyarakat yang menuntut kemampuan professional.

B. Peran Perawat Gerontologis


1. Direct-Care Provider (Penyedia Perawatan Langsung)
Dalam peran pengasuh atau penyedia perawatan, perawat gerontologis
memberikan perawatan langsung kepada orang dewasa yang lebih tua dalam
berbagai pengaturan. Orang dewasa yang lebih tua hadir dengan gejala atipikal
yang mempersulit diagnosis dan pengobatan. Selain itu, perawat sebagai
penyedia perawatan langsung harus dididik tentang proses penyakit dan
sindrom yang biasa terlihat pada populasi yang lebih tua. Ini dapat mencakup
pengetahuan tentang faktor risiko, tanda dan gejala, perawatan medis yang
biasa, rehabilitasi, dan perawatan di akhir hayat.

2. Pendidik
Bagian penting dari semua keperawatan adalah mengajar. Perawat
gerontologis memfokuskan pengajaran mereka pada faktor-faktor risiko yang
dapat dimodifikasi dan promosi kesehatan. Banyak penyakit dan kondisi
penuaan yang melemahkan dapat dicegah melalui modifikasi gaya hidup di

27
bidang diet, berhenti merokok, manajemen berat badan, aktivitas fisik, dan
manajemen stres, serta pemeriksaan kesehatan rutin. Perawat memiliki
tanggung jawab untuk mendidik populasi dewasa yang lebih tua tentang cara-
cara untuk mengurangi risiko gangguan tertentu seperti penyakit jantung,
kanker, dan stroke, penyebab utama kematian untuk kelompok usia ini.
Perawat dapat mengembangkan keahlian dalam bidang khusus dan
mengajarkan keterampilan kepada perawat lain untuk mempromosikan
perawatan berbasis bukti di antara orang dewasa yang lebih tua.

3. Leader (Pemimpin)
Perawat gerontologis bertindak sebagai pemimpin selama praktik
sehari-hari karena mereka menyeimbangkan keprihatinan pasien, keluarga,
perawatan, dan seluruh tim interprofesional. Semua perawat harus terampil
dalam kepemimpinan, manajemen waktu, membangun hubungan, komunikasi,
dan mengelola perubahan. Pemimpin perawat yang berada di posisi
manajemen dapat mengawasi tenaga keperawatan lainnya termasuk perawat
praktis berlisensi (LPN), asisten perawat bersertifikasi (CNA), teknisi,
mahasiswa keperawatan, dan tenaga pendamping tanpa izin lainnya.
4. Advokat
Sebagai advokat, perawat gerontologis bertindak atas nama orang
dewasa yang lebih tua untuk mempromosikan kepentingan terbaik mereka
dan memperkuat otonomi dan pengambilan keputusan mereka. Advokasi
dapat mengambil banyak bentuk, termasuk keterlibatan aktif di tingkat
politik atau membantu menjelaskan prosedur medis atau perawatan kepada
anggota keluarga di tingkat unit. Perawat juga dapat mengadvokasi pasien
melalui kegiatan lain seperti membantu anggota keluarga memilih panti
jompo terbaik untuk orang yang mereka cintai atau mendukung anggota
keluarga yang berada dalam peran pengasuhan. Apa pun situasinya,
perawat gerontologis harus ingat bahwa menjadi advokat tidak berarti
membuat keputusan untuk orang dewasa yang lebih tua, tetapi
memberdayakan mereka untuk tetap mandiri dan mempertahankan
martabat, bahkan dalam situasi yang sulit.

5. Evidence-Based Clinician

28
Tingkat keterlibatan yang tepat bagi perawat di tingkat sarjana muda
adalah penerapan prinsip praktik berbasis bukti (EBP). Perawat gerontologis
harus tetap mengikuti literatur penelitian saat ini, membaca dan
menerjemahkan ke dalam praktik hasil penelitian yang dapat diandalkan dan
valid. Menggunakan EBP, perawat gerontologis dapat meningkatkan kualitas
perawatan pasien di semua pengaturan. Meskipun perawat dengan gelar
sarjana mungkin terlibat dalam penelitian di beberapa fasilitas, seperti
mengajukan penyelidikan klinis atau membantu pengumpulan data, persiapan
dasar mereka terutama ditujukan untuk menggunakan penelitian dalam
praktik. Semua perawat harus membaca jurnal profesional khusus untuk
spesialisasi mereka dan melanjutkan pendidikan mereka dengan menghadiri
seminar dan lokakarya, berpartisipasi dalam organisasi profesional, mengejar
pendidikan formal tambahan atau gelar, dan memperoleh sertifikasi. Dengan
menerapkan praktik berbasis bukti, perawat gerontologis dapat meningkatkan
kualitas perawatan pasien di semua rangkaian.

6. Konselor
Perawat gerontik sebagai konselor bertugas membantu pasien
mengidentifikasi dan mengklarifikasi masalah kesehatan dan memilik
tindakan-tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah tersebut (Potter,
Perry, Stockert, & Hall, 2013).Contoh peran ini, yaitu perawat membantu
mengidentifikasi dan menyelesaikan masalah kesehatan lansia melalui
konsultasi kesehatan berkelanjutan, membantu keluarga pasien memutuskan
apakah perlu lansia dimasukkan ke panti, memberikan arahan terkait biaya
perawatan lansia yang sesuai dengan kebutuhan dan lain-lain.Seperti halnya
pada peran sebagai advokator, seorang perawat konselor tidak membuat
keputusan untuk klien namun membiarkan klien memilih keputusan
terbaiknya.

7. Kolaborator
Kolaborasi atau bekerja dalam upaya gabungan dengan semua pihak
yang terlibat dalam perawatan perlu mengembangkan rencana yang dapat
diterima  bersama demi tercapainya tujuan bersama (Potter, Perry, Stockert, &
Hall, 2013). Contoh peran ini, seperti praktisi perawat berada pada tim

29
perawatan berbasis rumah yang berkolaborasi dengan dokter untuk
memberikan layanan perawatan primer kepada pasien lansia yang berisiko
tinggi (Touhy & Jett, 2014).

8. Peneliti
Perawat peneliti adalah pemimpin dalam memperluas pengetahuan
dalam  bidang keperawatan dan disiplin perawatan kesehatan lainnya. Tugas
mereka adalah memberikan bukti praktik untuk memastikan perawat memiliki
bukti terbaik untuk mendukung praktik mereka. Selain itu perawat peneliti
juga menyelidiki masalah untuk memperluas asuhan keperawatan, mengurangi
atau memperluas cakupan  praktik keperawatan (Potter, Perry, Stockert, &
Hall, 2013). Contoh peran ini, yaitu  perawat mengembangkan penelitian
mengenai metode perawatan yang cocok untuk  pasien lansia dengan penyakit
kronik tertentu, membantu mengembangkan teori keperawatan modern yang
sesuai dengan kondisi saat ini, dan lain-lain.

9. Manajer Perawat
Perawat sebagai manajer bertanggung jawab dalam memberikan
lingkungan yang positif serta profesional di rumah sakit atau komunitas agar
terwujudnya  pelayanan yang berkualitas. Selain itu, perawat sebagai manajer
juga harus mampu memimpin dan mengelola tim klinis yang dibentuk. Mauk
(2014), mengemukakan  bahwa perawat manajer dalam keperawatan gerontik
perlu memiliki kemampuan dalam beberapa hal antara lain:
a) Membangun dan meningkatkan kemampuan serta keterampilan anggota tim
keperawatan gerontik. Dalam hal ini, seorang perawat gerontik harus memiliki
standar dalam memberikan asuhan keperawatan kepada lansia. Standar tersebut
antara lain, pengetahuan dan keterampilan untuk menjaga kesehatan lansia,
mencegah penyakit, mengelola penyakit kronis yang kompleks, penurunan fungsi
fisik dan mental, hingga perawatan paliatif (ANA, 2010 dalam Touhy & Jett,
2014). Sehingga, manajer perlu memfasilitasi pelatihan atau workshop agar
kemamuan anggota tim dapat meningkat.
b) Menentukan prioritas dan tujuan yang realistis, dapat terukur serta memiliki
batasan waktu.

30
c) Membuat keputusan dalam menyelesaikan masalah baik masalah internal antar
anggota tim dan masalah klien.
d) Mendelegasikan tugas kepada seseorang yang dianggap dapat menjalankan tugas
dengan baik.
e) Mampu memberikan dorongan, arahan yang jelas, dan harapan terhadap stafnya.

II.6 Pencegahan Jatuh

1. Defenisi
Jatuh adalah suatu kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang
melibatkan seseorang mendadak terbaring atau terduduk di lantai atau tempat yang
lebih rendah atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka (Reuben, 1996).
Jatuh sering terjadi atau dialami oleh usia lanjut. Banyak faktor berperan di dalamnya
misalnya kelemahan otot ekstremitas bawah, kekakuan sendi, sinkope dan dizzines,
serta faktor ekstrinsik seperti lantai yang licin dan tidak rata tersandung benda-benda,
penglihatan kurang terang dan sebagainya.
Tidak mengejutkan bahwa jatuh merupakan kejadian yang mempercepat patah
tulang pada orang dengan kepadatan mineral tulang (Bone Mineral Density/BMD)
rendah. Jatuh dapat dicegah sehingga akan mengurangi risiko patah tulang. Jatuh
adalah penyebab terbesar untuk patah tulang pinggul dan berkaitan dengan
meningkatnya risiko yang berarti terhadap berbagai patah tulang meliputi punggung,
pergelangan tangan, pinggul, lengan bagian atas.
Jatuh dapat disebabkan oleh banyak faktor, sehingga strategi pencegahan
harus meliputi berbagai komponen agar sukses. Aktivitas fisik meliputi pola gerakan
yang beragam seperti latihan kekuatan atau kelas aerobik dapat meningkatkan massa
tulang sehingga tulang lebih padat dan dapat menurunkan risiko jatuh.
Banyak hal yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko jatuh dan
meminimalisir dampak dari jatuh yang terjadi. Pedoman yang dikeluarkan oleh
American Geriatrics Society, British Geriatrics Society, dan American Academy of
Orthopedi Surgeons pada pencegahan jatuh meliputi beberapa rekomendasi untuk
orang tua (AGS et al, 2001).

2. Faktor – Faktor Lingkungan yang Sering Dihubungan dengan Kecelakaan pada


Lansia

31
Faktor penyebab jatuh pada lansia dapat dibagi dalam 2 golongan besar, yaitu:
a. Faktor Intrinsik
Faktor instrinsik dapat disebabkan oleh proses penuaan dan berbagai penyakit
seperti Stroke dan TIA yang mengakibatkan kelemahan tubuh, Parkinson yang
mengakibatkan kekakuan alat gerak, maupun Depresi yang menyebabkan lansia
tidak terlalu perhatian saat berjalan. Gangguan penglihatan pun seperti misalnya
katarak meningkatkan risiko jatuh pada lansia. Gangguan sistem kardiovaskuler
akan menyebabkan syncope yang sering meningkatkan risiko jatuh pada lansia.
Jatuh dapat juga disebabkan oleh dehidrasi.Dehidrasi bisa disebabkan oleh diare,
demam, asupan cairan yang kurang atau penggunaan diuretik yang berlebihan.
b. Faktor ekstrinsik
Alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua atau tergeletak di
lantai, tempat tidur tidak stabil atau kamar mandi yang rendah dan tempat
berpegangan yang tidak kuat atau tidak mudah dipegang, lantai tidak datar, licin
atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik, keset yang tebal/menekuk
pinggirnya, dan benda-benda alas lantai yang licin atau mudah tergeser, lantai
licin atau basah, penerangan yang tidak baik (kurang atau menyilaukan), alat
bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat, maupun cara penggunaannya.
3. Pencegahan Jatuh
Pencegahan dilakukan berdasarkan faktor risiko apa yang dapat menyebabkan
jatuh seperti faktor neuromuskular, muskuloskeletal, penyakit yang sedang diderita,
pengobatan yang sedang dijalani, gangguan keseimbangan dan gaya berjalan,
gangguan visual, ataupun faktor lingkungan.
Dibawah ini akan di uraikan beberapa metode pencegahan jatuh pada orang tua:
a. Latihan fisik
Latihan fisik diharapkan mengurangi resiko jatuh dengan meningkatkan kekuatan
tungkai dan tangan, memperbaiki keseimbangan, koordinasi, dan meningkatkan
reaksi terhadap bahaya lingkungan.Latihan fisik juga bisa mengurangi kebutuhan
obat-obatan sedatif.Latihan fisik yang dianjurkan yang melatih kekuatan tungkai,
tidak terlalu berat dan semampunya, salah satunya adalah berjalan kaki.
b. Managemen obat-obatan
Gunakan dosis terkecil yang efektif dan spesifik diantaranya:
1) Perhatikan terhadap efek samping dan interaksi obat
2) Gunakan alat bantu berjalan jika memang di perlukan selama pengobatan

32
3) Kurangi pemberian obat-obatan yang sifatnya untuk waktu lama terutama
sedatif dan tranquilisers
4) Hindari pemberian obat multiple (lebih dari empat macam) kecuali atas
indikasi klinis kuat
5) Menghentikan obat yang tidak terlalu diperlukan
c. Modifikasi lingkungan.
1) Atur suhu ruangan supaya tidak terlalu panas atau dingin untuk menghindari
pusing akibat suhu.
2) Taruhlah barang-barang yang memang seringkali diperlukan berada dalam
jangkauan tanpa harus berjalan dulu.
3) Gunakan karpet antislip di kamar mandi.
4) Perhatikan kualitas penerangan di rumah.
5) Jangan sampai ada kabel listrik pada lantai yang biasa untuk melintas.
6) Pasang pegangan tangan pada tangga, bila perlu pasang lampu tambahan
untuk daerah tangga.
7) Singkirkan barang-barang yang bisa membuat terpeleset dari jalan yang biasa
untuk melintas.
8) Gunakan lantai atau keramik yang tidak licin.
9) Atur letak furnitur supaya jalan untuk melintas mudah, menghindari
tersandung.
10) Pasang pegangan tangan ditempat yang di perlukan seperti misalnya di kamar
mandi.
d. Memperbaiki kebiasaan pasien lansia, misalnya:
1) Berdiri dari posisi duduk atau jangkok jangan terlalu cepat.
2) Jangan mengangkat barang yang berat sekaligus.
3) Mengambil barang dengan cara yang benar dari lantai.
4) Hindari olahraga berlebihan.
e. Alas Kaki
1) Perhatikan pada saat orang tua memakai alas kaki:
2) Hindari sepatu berhak tinggi, pakai sepatu berhak lebar
3) Jangan berjalan hanya dengan kaus kaki karena sulit untuk menjaga
keseimbangan
4) Pakai sepatu yang antislip
f. Alat Bantu Jalan

33
1) Terapi untuk pasien dengan gangguan berjalan dan keseimbangan difokuskan
untuk mengatasi atau mengeliminasi penyebabnya atau faktor yang
mendasarinya.
Penggunaan alat bantu jalan memang membantu meingkatkan keseimbangan,
namun di sisi lain menyebabkan langkah yang terputus dan kecenderungan
tubuh untuk membungkuk, terlebih jika alat bantu tidak menggunakan roda.,
karena itu penggunaan alat bantu ini haruslah direkomendasikan secara
individual.
2) Apabila pada lansia yang kasus gangguan berjalannya tidak dapat ditangani
dengan obat-obatan maupun pembedahan. Oleh karena itu, penanganannya
adalah dengan alat bantu jalan seperti cane (tongkat), crutch (tongkat ketiak)
dan walker. (Jika hanya satu ekstremitas atas yang digunakan, pasien
dianjurkan pakai cane. Pemilihan tipe cane yang digunakan, ditentukan oleh
kebutuhan dan frekuensi yang menunjang berat badan. Jika kedua ekstremitas
atas diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan dan tidak perlu
menunjang berat badan, alat yang paling cocok adalah four-wheeled walker.
Jika kedua ekstremitas atas diperlukan untuk mempertahankan keseimbangan
dan menunjang berat badan, maka pemilihan alat ditentukan oleh frekuensi
yang diperlukan dalam menunjang berat badan.
g. Periksa fungsi penglihatan dan pendengaran.
h. Hip protektor: terbukti mengurangi resiko fraktur pelvis.
i. Memelihara Kekuatan Tulang
1) Suplemen nutrisi terutama kalsium dan vitamin D terbukti meningkatkan
densitas tulang dan mengurangi resiko fraktur akibat terjatuh pada orang tua
2) Berhenti merokok
3) Hindari konsumsi alcohol
4) Latihan fisik
5) Anti-resorbsi seperti biophosphonates dan modulator reseptor estrogen
6) Suplementasi hormon estrogen / terapi hormon pengganti.

II.7 Terapi Modalitas

A. Terapi Modalitas
Terapi modalitas adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang bagi
lansia. Terapi ini di berikan dalam upaya mengubah perilaku klien dari perilaku maladaptif

34
menjadi perilaku adaptif.Terapi modalitas mendasarkan potensi yang dimiliki pasien
(modal-modality) sebagai titik tolak terapi atau penyembuhannya.
Tujuan :
 Mengisi waktu luang bagi lansia
 Meningkatkan kesehatan lansia
 Meningkatkan produktifitas lansia
 Meningkatkan interaksi sosial antar lansia

Jenis-Jenis Dari Terapi Modalitas Pada Lansia


1. Psikodrama
Bertujuan untuk mengekspresikan perasaan lansia. Tema dapat dipilih sesuai dengan
masalah lansia.
2. Terapi Aktivitas Kelompok (TAK)
Terdiri atas 7-10 orang. Bertujuan untuk meningkatkan kebersamaan, bersosialisasi,
bertukar pengalaman, dan mengubah perilaku. Untuk terlaksananya terapi ini dibutuhkan
Leader, Co-Leader, dan fasilitator. Misalnya : cerdas cermat, tebak gambar, dan lain-
lain.
3. Terapi Musik
Bertujuan untuk mengibur para lansia seningga meningkatkan gairah hidup dan dapat
mengenang masa lalu. Misalnya : lagu-lagu kroncong, musik dengan gamelan
4. Terapi Berkebun
Bertujuan untuk melatih kesabaran, kebersamaan, dan memanfaatkan waktu luang.
Misalnya: penanaman kangkung, bayam, lombok, dll
5. Terapi dengan Binatang
Bertujuan untuk meningkatkan rasa kasih sayang dan mengisi hari-hari sepinya dengan
bermain bersama binatang. Misalnya : mempunyai peliharaan kucing, ayam, dll
6. Terapi Okupasi
Bertujuan untuk memanfaatkan waktu luang dan meningkatkan produktivitas dengan
membuat atau menghasilkan karya dari bahan yang telah disediakan. Misalnya :
membuat kipas, membuat keset, membuat sulak dari tali rafia, membuat bunga dari
bahan yang mudah di dapat (pelepah pisang, sedotan, botol bekas, biji-bijian, dll),
menjahit dari kain, merajut dari benang, kerja bakti (merapikan kamar, lemari,
membersihkan lingkungan sekitar, menjemur kasur, dll)

35
7. Terapi Kognitif
Bertujuan agar daya ingat tidak menurun. Seperti menggadakan cerdas cermat, mengisi
TTS, tebak-tebakan, puzzle, dll
8. Life Review Terapi
Bertujuan untuk meningkatkan gairah hidup dan harga diri dengan menceritakan
pengalaman hidupnya. Misalnya : bercerita di masa mudanya
9. Rekreasi
Bertujuan untuk meningkatkan sosialisasi, gairah hidup, menurunkan rasa bosan, dan
melihat pemandangan. Misalnya : mengikuti senam lansia, posyandu lansia, bersepeda,
rekreasi ke kebun raya bersama keluarga, mengunjungi saudara, dll.
10. Terapi Keagamaan
Bertujuan untuk kebersamaan, persiapan menjelang kematian, dan meningkatkan rasa
nyaman. Seperti menggadakan pengajian, kebaktian, sholat berjama’ah, dan lain-lain.
11. Terapi Keluarga
Terapi keluarga adalah terapi yang diberikan kepada seluruh anggota keluarga sebagai
unit penanganan (treatment unit). Tujuan terapi keluarga adalah agar keluarga mampu
melaksanakan fungsinya. Untuk itu sasaran utama terapi jenis ini adalah keluarga yang
mengalami disfungsi; tidak bisa melaksanakan fungsi-fungsi yang dituntut oleh
anggotanya.
Dalam terapi keluarga semua masalah keluarga yang dirasakan diidentifikasi dan
kontribusi dari masing-masing anggota keluarga terhadap munculnya masalah tersebut
digali. Dengan demikian terlebih dahulu masing-masing anggota keluarga mawas diri;
apa masalah yang terjadi di keluarga, apa kontribusi masing-masing terhadap timbulnya
masalah, untuk kemudian mencari solusi untuk mempertahankan keutuhan keluarga dan
meningkatkan atau mengembalikan fungsi keluarga seperti yang seharusnya.
B. Terapi Latihan
1) Breathing Exercise
Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yang ditujukan
untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.Tirah baring yang cukup lama
dan toleransi aktivitas yang menurun mengakibatkan penurunan metabolisme secara
umum.Hal ini dapat menurunkan kapasitas fungsional pada sistem tubuh dengan
menifestasi klinis berupa sindroma imobilisasi, salah satunya pada sistem respirasi
yang berupa penurunan kapasitas vital, penurunan ekspansi sangkar thorak,

36
penurunan ventilasi volunter, gangguan mekanisme batuk (Saleem & Vallbona,
2001).
Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepada
pasien.Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise. Deep breathing exercise
adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yang
panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untuk meningkatkan volume
paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap
mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa,
mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi
dari otot-otot pernafasan (Levenson, 1992).

2) Latihan dengan mekanisme reflek postur


Gangguan tonus otot (spastisitas) secara postural pada pasien stroke, dapat
mengakibatkan gangguan gerak. Melalui latihan dengan mekanisme reflek postur
dengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka
seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrol
spastisitas otot secara postural (Rahayu, 1992).
Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuan
gerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yang
abnormal dan mengembangkan kontrol gerakan (Rahayu, 1992).Dalam upaya
melakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan (Key
Point of Control) (Suyono, 1992). Bentuk latihannya antara lain :
a. Mobilisasi trunk
Menurut Davies (1990) salah satu latihan melalui mekanisme reflek
postural adalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk.
Latihan mobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta
akanmenghambat pola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk. Salah
satunya adalah latihan rotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak
yang sangat penting untuk menunjang fungsi tubuh (Suyono, 1992).
b. Latihan menghambat pola spastisitas anggota gerak atas dan bawah
Latihan menghambat pola spastisitas seperti latihan menghambat spastisitas
pada lengan dan tungkai serta latihan mengontrol tungkai. Latihan ini bertujuan
untuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif
hingga menuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor

37
tungkai khususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar
tidak terjadi droop foot (Davies, 1985).

3) Latihan weight bearing


Latihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalam
keadaan spastis.Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembali fungsi
pada persendian untuk menyangga. Latihan ini berupa mengenalkan kembali bentuk
permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agar kembali terbentuk
mekanisme feed back gerakan yang utuh (Rahayu, 1992 ).
Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri. Latihan weight
bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan ke belakang, depan
dan samping kanan serta kiri. Sedangkan latihan weight bearingsaat berdiri bisa
melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang.Latihan weight
bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihan berjalan agar tidak ada
keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas (Davies, 1985).

4) Latihan keseimbangan dan koordinasi


Latihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recovery
sebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisi
terlentang, duduk dan berdiri.Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dan
koordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihan
perbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuan
mempertahankan tonus ke arah normal (Pudjiastuti, 2003).Latihan keseimbangan dan
koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat dilakukan
secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahan banyaknya
repetisi.
Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri.Latihan
ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbangan equilibrium berbagai
keadaan serta merupakan komponen dasar dalam kemampuan gerak untuk menjaga
diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dalam kehidupan sehari-hari (Davies,
1985).Latihan keseimbangan dan koordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan
yang dapat menimbulkan gerak volunter (Rahayu, 1992).

5) Latihan fungsional

38
Pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggota
tubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerak
untuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal (Rahayu, 1992). Latihan
fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembali melakukan aktivitas
sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuh kepada orang lain. Latihan
fungsional berupa latihan yang berhubungan dengan kehidupan sehari-hari. Jika
latihan fungsional dilakukan berulang – ulang akan menjadikan pengalaman yang
relatif permanen atau menetap dan akhirnya akan menjadi sebuah pengalaman gerak
yang otomatis (Suyono, 1992).
Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri dan latihan
jalan.Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil dan menimbulkan
gerakan ritmis saat berjalan (Johnstone, 1987).Latihan duduk ke berdiri merupakan
latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai dan mempersiapkan latihan berdiri
(Davies, 1985).Latihan jalan merupakan komponen yang sangat penting agar pasien
dapat melakukan aktivitas berjalan dengan pola yang benar (Davies, 1985).

II.8 Teknik Komunikasi pada Lansia

A. DASAR-DASAR KOMUNIKASI
Komunikasi menghubungkan manusia dengan orang lain dan lingkungan, dan
itu adalah bagian penting dari kehidupan bagi orang-orang dari segala usia, termasuk
orang dewasa yang lebih tua. Kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain
adalah karakteristik manusia yang unik dengan kepentingan yang berlanjut hingga
usia lanjut. Manusia menggunakan komunikasi untuk memberikan dan menerima
informasi dari orang lain. Komunikasi yang sukses melibatkan penyampaian pesan
antara pengirim dan penerima. Komunikasi yang efektif adalah proses dinamis yang
mencakup pertukaran informasi yang berkelanjutan dengan umpan balik antara
pengirim dan penerima. Komunikasi sangat bergantung pada indera yang utuh, seperti
pendengaran dan penglihatan, dan proses fisik dan kognitif, yang semuanya
diperlukan untuk mengirim dan menerima pesan. Selain itu, lingkungan harus
kondusif untuk memungkinkan pengiriman pesan antara pengirim dan
penerima.Komunikasi itu kompleks, mencakup aspek verbal dan nonverbal dan
merupakan keterampilan yang dipelajari yang bergantung pada kemampuan fisik dan
kognitif serta berbagai indera. Komunikasi verbal bergantung pada pengetahuan

39
tentang bahasa yang sama serta kemampuan untuk menghasilkan kata-kata, sementara
komunikasi nonverbal mencakup nada suara dan perilaku fisik seperti bahasa tubuh
dan kontak mata. Kegagalan komunikasi terjadi ketika hambatan komunikasi ada di
komponen apa pun dari sistem interaktif ini.
Komunikasi adalah bagian integral dari perawatan kesehatan berkualitas,
seperti yang diidentifikasi dalam laporan Institute of Medicine tahun 2001 Crossing
the Quality Chasm, yang mengidentifikasi keterpusatan pasien dan komunikasi yang
berpusat pada pasien sebagai karakteristik utama dari perawatan kesehatan
berkualitas. Dimensi keterpusatan pasien meliputi penghormatan terhadap nilai-nilai
pasien, preferensi, dan kebutuhan yang diungkapkan, bersama dengan fokus pada
informasi, komunikasi, dan pendidikan pasien dalam istilah yang jelas.Komunikasi
yang konsisten dan efektif antara pasien dan dokter telah dikaitkan dengan
peningkatan kepuasan dan keamanan pasien, hasil kesehatan yang lebih baik, dan
biaya perawatan kesehatan yang lebih rendah.Sebaliknya, gangguan komunikasi telah
berimplikasi pada kesenjangan layanan kesehatan dan kesalahan medis. Standar
profesional mencakup komunikasi yang penuh hormat dan efektif sebagai faktor
kunci dalam informed consent dan hubungan saling percaya (Paget et al., 2011).
Komunikasi sangat penting untuk memberi dan menerima informasi dan
pertukaran ide, pikiran, dan perasaan. Kami berkomunikasi untuk bertukar informasi
dan untuk memenuhi kebutuhan fisik, sosial, dan emosional kami, serta untuk
memenuhi kebutuhan orang lain. Komisi Gabungan Rumah Sakit Amerika telah
mengakui dan mengamanatkan perhatian pada komunikasi yang efektif dalam
pengaturan perawatan kesehatan untuk mencegah kesalahan dan masalah keamanan
(Komisi Bersama, 2010).Interaksi sosial telah ditemukan memiliki efek perlindungan
kesehatan (Kiely, Simon, Jones, & Morris, 2000), dapat menghemat waktu dan
menjadi terapi bagi pasien, dan dapat mendorong perawatan diri dan
otonomi.Penelitian menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tua mengutip
kemampuan mereka untuk berhubungan dengan perawat sebagai prediktor utama
kepuasan dengan perawatan dan perawat yang membangun hubungan perawat-pasien
yang dekat melaporkan tingkat kepuasan kerja yang lebih tinggi (Grau, Chandler, &
Saunders, 1995; Parsons, Simmons, Penn ,& Furlough, 2002).
dijelaskan secara lebih rinci di bawah ini. Obrolan yang berpusat pada orang
mengakui orang yang lebih tua sebagai orang yang unik dan menunjukkan keinginan
untuk berinteraksi dengan orang tersebut.

40
B. KOMUNIKASI YANG BERPUSAT PADA ORANG
Komunikasi yang berpusat pada orang adalah bagian integral dari perawatan
yang berpusat pada orang dan mencerminkan fokus pada pasien dan persepsi dan
pengalaman unik mereka dengan kesehatan dan penyakit.Intervensi keperawatan
termasuk memberikan informasi untuk meningkatkan kesehatan dan penyembuhan
dan untuk melibatkan pasien dalam perawatan diri.Dengan demikian, perawatan yang
berpusat pada orang mengkonfirmasi keunikan pasien dan memungkinkan pasien
untuk berpartisipasi dalam perawatannya sendiri.
C. FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA
PASIEN LANJUT USIA
Komunikasi dengan pasien lanjut usia dapat menjadi lebih sulut dibandingkan dengan
komunikasi pada populasi biasa sebagai akibat dari gangguan sensori yang terkait usia
dan penurunan memori. Orang ketiga juga dapat menjadi bagian dari interaksi, karena
pasien lanjut usia sering kali ditemani oleh anggota keluarga yang dicintai dan aktif
terlibat pada perawatan pasien dan berpatisipasi dalam kunjungan. Ada banyak faktor
lain yang mempengaruhi efektivitas komunikasi dengan pasien lanjut usia. Pasien
lanjut usia sering hadir dengan masalah yang kompleks dan beberapa keluhan utama
yang memerlukan waktu untuk menyelesaikannya. Untuk setiap dekade kehidupan
setelah usia 40 tahun, pasien kemungkinan mengalami satu penyakut kronik baru.
Sehingga pada usia 80 tahun, orang kemungkinan memiliki paling tidak 4 penyakit
kronis (Vieder, dkk, 2002). Faktor lain adalah bahwa pasien lanjug usia umumnya
lebih sedikit bertanya dan menunggu untuk ditanya sesuai kewanangan dokter (Haug
&amp; Ory, 1987) (Greene et al, 1989). Masalah usia atau dikenal dengan istilah
ageism juga merupakan hal yang lazim dijumpai pada perawatan kesehatan dan secara
tidak sengaja berperan terhadap buruknya komunikasi dengan pasien lanjut usia(Ory,
dkk, 2003).
D. KOMUNIKASI PADA LANSIA
Dalam komunikasi dengan lansia harus diperhatikan faktor fisik, psikologi,
(lingkungan dalam situasi individu harus mengaplikasikan ketrampilan komunikasi yang
tepat disamping itu juga memerlukan pemikiran penuh serta memperhatikan waktu yang
tepat.
1. Ketrampilan komunikasi
Listening/Pendengaran yang baik yaitu :
a. Mendengarkan dengan perhatian.

41
b. Memahami dengan sepenuh hati, keikhlasan dengan hati yang jernih.
c. Memikirkan secara menyeluruh dengan pikiran jernih.
2. Teknik komunikasi dengan lansia  
a. Teknik komunikasi dengan penggunaan bahasa yang baik
Kecepatan dan tekanan suara yang tepat dengan menyesuaikan pada topik
pembicaraan dan kebutuhan lansia,berbicara dengan lansia yang dimensia dengan
pelan.Tetapi berbicara dengan lansia demensia yang kurang mendengar dengan lebih
keras hati-hati karena tekanan suara yang tidak tepat akan merubah arti
pembicaraan,pertanyaan yang tepat kurang pertanyaan yang lansia menjawab ya atau
tidak.
Berikan kesempatan orang lan untuk berbicara hindari untuk mendominasi ,pembicara
sebaiknya mendorontg lansia untuk berperan aktifMerubah topik pembicaaraan dengan
jitu menggunakan objek sekitar untuk topik pembicaraan bila lansia tidak interest lagi
Contoh : siapa yang membelikan pakaian bapak/ibu yang bagus ini?
Gunakan kata-kata yang sederhana dan konkrit.Gunakan kalimat yang simple dan
pendek satu pesan untuk satu kalimat.
b. Teknik nonverbal komunikasi 
1) Perilaku : ramah tamah, sopan dan menghormati, cegah supaya tidak acuh tak acuh,
perbedaan.
2) Kontak mata : tetap jaga kontak mata
3) Ekspresi wajah : merefleksikan perasaan yang sebenarnya.
4) Postur dan tubuh : mengangguk, gerakan tubuh yang tepat, meletakan kursi dengan
tepat.
5) Sentuhan : memegang tangan, menjabat tangan.
c. Teknik untuk meningkatkan komunikasi dengan lansia
1) Memulai kontak saling memperkenalkan nama dan berjabat tangan.
2) Bila hanya menyentuh tangannya hanya untuk mengucapaka pesan-pesan
verbal dan
merupakan metode primer yang non verbal.
3) Jelaskan tujuan dari wawancara dan hubungan dengan intervensi keperawatan
yang akan   diberikan.
4) Mulai pertanyaan tentang topik-topik yang tidak mengancam.
5) Gunakan pertanyaan terbuka dan belajar mendengar yang efektif.
6) Secara periodik mengklarifikasi pesan.

42
7) Mempertahankan kontak mata dan mendengar yang baik dan mendorong
untuk berfokus
pada informasi.
8) Jangan berespon yang menonjolkan rasa simpati.
9) Bertanya tentang keadaan mental merupakan pertanyaan yang mengancam dan
akan
mengakiri interview.
10) Minta ijin bila ingin bertanya secara formal.
d. Lingkungan wawancara
1) Posisi duduk berhadapan 
2) Jaga privasi
3) Penerangan yang cukup dan cegah latar belakang yang silam
4) Kurangi keramaian dan berisik
5) Komunikasi dengan lansia kita mencoba untuk mengerti dan menjaga kita
mengekspresikan diri kita sendiri efek dari kmunikasi adalah pengaruh timbal balik
seperti cermin.

E. TEKNIK PENDEKATAN DALAM PERAWATAN LANSIA PADA KONTEKS


KOMUNIKASI DAN PADA REAKSI PENOLAKAN
1. Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada konteks komunikasi
a. Pendekatan fisik
Mencari kesehatan tentang kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian yang di alami,
perubahan fisik organ tubuh, tingkat kesehatan yang masih bisa di capai dan di
kembangkan serta penyakit yang dapat di cegah progresifitasnya.
b. Pendekatan psikologis
Pendekatan ini bersifat abstrak dan mengarah pada perubahan perilaku, maka
umumnya membutuhkan waktu yang lebih lama.Untuk melaksanakan pendekatan ini,
perawat sebagai konselor, advokat terhadap segala sesuatu yang asing atau sebagai
penampung masalah pribadi dan sebagai sahabat yang akrab bagi klien.
c. Pendekatan social
Pendekatan ini dilaksanakan meningkatkan keterampilan berinteraksi dengan
lingkungan. Mengadakan diskusi tukar fikiran bercerita serta bermain merupakan
implementasi dari pendekatan ini agar klien dapat berinteraksi dengan sesama lansia
maupun dengan petugas kesehatan,

43
d. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan kepuasan batin dalam hubungannya dengan tuhan
atau agama yang di anutnyaterutama pada saat klien sakit atau mendekati kematian.
2. Teknik pendekatan dalam perawatan lansia pada reaksi penolakan
Penolakan adalah ungkapan ketidakmampuan sesorang untuk mengakui secara sadar
terhadap pikiran, keiinginan, perasaan atau kebutuhan pada kejadian – kejadian nyata
sesuatu yang merupakan reaksi ketidaksiapan lansia menerima perubahan yang terjadi
pada dirinya.
Ada beberapa langkah yang bisa di laksanakan untuk menghadapi klien lansia dengan
penolakan antara lain:
a. Penolakan segera reaksi penolakan klien.
Yaitu membiarkan lansia bertingkah laku dalam tenggang waktu tertentu. Langkah –
langkah yang dapat di lakukan sebagai berikut :
1) Identifikasi pikiran yang paling membahayakan dengan cara observasi klien bila
sedang mengalami puncak reaksinya.
2) Ungkapakan kenyataan yang di alami klien secara perlahan di mulai dari kenyataan
yang merisaukan.
3) Jangan menyongkong penolakan klien, akan tetapi berikan perawatan yang cocok
bagi klien dan bicarakan sesering mungkin jangan sampai menolak.
b. Orientasikan klien lansia pada pelaksanaan perawatan sendiri.
Langkah ini bertujuan mempermudah proses penerimaan klien terhadap
perawatan yang akan di lakukan serta upaya untuk memandikan klien, antara lain:
1) Libatkan klien dalam perawatan dirinya, misalnya dalam perencanaan waktu, tempat
dan macam, perawatan.
2) Puji klien lansia karena usahanya untuk merawat dirinya atau mulai mengenal
kenyataan.
3) Membantu klien lansia untuk mengungkapkan keresahaan atau perasaan sedihnya
dengan mempergunakan pertanyaan terbuka, mendengarkan dan menluangkan
waktu bersamanya.
c. Libatkan keluarga atau pihak terdekat dengan tepat.
Langkah ini bertujuan untuk membantu perawat atau petugas kesehatan
memperolah sumber informasi atau data klien dan mengefektifkan rencana atau
tindakan dapat terealisasi dengan baik dan cepat. Upaya ini dapat di laksanakan
dengan cara – cara sebagai berikut :

44
1) Melibatkan keluarga atau pihak terkait dalam membantu klien lansia menentukan
perasaannya.
2) Meluangkan waktu untuk menerangkan kepada mereka yang bersangkutan tentang
apa yang sedang terjadi pada klien lansia serta hal – hal yang dapat di lakukan dalam
rangka membantu.
3) Hendaknya pihak – pihak lain memuji usaha klien lansia untuk menerima kenyataan.
4) Menyadarkan pihak lain akan pentingnya hukuman (bukan hukuman fisik) apabila
klien lansia mempergunakan penolakan atau denial.

II.9 Teori Penuaan

1. Wear and tear : pakai usang


Karena keaadan mesin di tubuh yang mulai tidak berfungsi dengan baik, sehingga
pada lansia ini dengan riwayat post stroke dan afasia sejak 2 tahun yang lalu menjadi
sulit untuk disembuhkan yang mengakibatkan lansia mengalami kelumpuhan di
extremitas kiri, ditambah lagi riwayat jatuh pada lansia, sehingga banyak aktivitas
lansia dibantu oleh care giver. Makanan disajikan dipotong-potong kecil, lansia
mampu makan walaupun agak lambat; mandi, menggosok gigi dan berpakain dibantu,
biasanya lansia didorong dengan kursi roda ke kamar mandi.

2. Teori aktivitas
Orang tua yang tidak aktif dalam kehidupan bermasyarakat akan memiliki dampak
negatif terhadap konsep dirinya dan kualitas hidup yang akan mempercepat penuaan
dibandingkan dengan orang tua yang masih aktif dalam kegiatan social dan
bermasyarakat. Aktivitas positif lansia kurang bahkan tidak ada, care giver
mengatakan lansia tidak mau mengikuti senam ataupun kegiatan lain yang ada di
panti. Hal ini berimbas pada psikososialnya yang mudah marah dan tidak inigin
mendengar nasihat care giver.

3. Subculture and Age Stratification Theories


Teori subkultur, pertama kali dikemukakan oleh Rose di awal 1960-an,
menyatakan bahwa orang tua sebagai sebuah kelompok, memiliki norma mereka
sendiri, harapan, kepercayaan dan kebiasaan; oleh karena itu, mereka punya subkultur
mereka sendiri (Rose, 1965). Teorinya juga menyatakan bahwa orang tua kurang

45
terintegrasi dengan baik dalam masyarakat yang lebih luas dan berinteraksi lebih baik
di antara mereka sendiri, dibandingkan dengan orang-orang dari kelompok umur
lainnya.
Di sini lansia sering berkumpul dan lebih nyaman dengan kelompoknya yang
juga masih merokok.Lansia masih sering merokok jika teman-temannya ada yang
merokok, apabila dilarang lansia melempar barang yang ada di dekatnya.

4. Person-Environtment Fit Teori


Lingkungan ini berpotensi untuk memunculkan respons perilaku dari orang tersebut.
Care giver dan petugas panti sering berkomunikasi dengan nada tinggi, cepat,
berteriak, dan menggunakan kalimat yang panjang dengan posisi berdiri di samping
lansia sehingga lansia kesal. Selain itu, lingkungan yang tidak mendukung dalam hal
ini lantai licin sangat berbahaya bagi lansia, pengawasan yang kurang menyebabkan
lansia pernah jatuh dari kursi roda 3 bulan yang lalu, saat berpindah dari kursiroda ke
tempat tidur.

5. Personality Development Theory: integritas ego vs keputusaasan


Pada tahap perkembangan ini akan muncul perasaan ketidakbergunaan secara
biologis. Pada kasus, lansia memiliki keterbatasan gerak, hal ini membuat dirinya
merasa tidak berguna, ditambah lagi dengan afasia dan perilaku care giver dan
petugas panti yang sering berkomunikasi dengan nada tinggi, cepat, berteriak, dan
menggunakan kalimat yang panjang dengan posisi berdiri di samping lansia. Afasia
tersebut membuat lansia sulit berkomunikasi dan care giver tidak mengerti sehingga
lansia kesal jika petugas tidak paham apa yang diinginkan lansia.

6. Life Course Theory


Sebagian besar ahli teori sampai saat ini berfokus terutama pada masa kanak-kanak
dalam penelitian mereka.Lansia masih sering merokok jika teman-temannya ada yang
merokok, apabila dilarang lansia melempar barang yang ada di dekatnya.Hal ini
dipicu karena lansia sejak muda sudah merokok dan seorang perokok berat.

7. Theory of Gerotranscendce
Perubahan ini mencangkup aspek berikut:
a. Penurunan egoisme

46
b. Kurang perhatian pada tubuh dan materi
c. Menurunnya rasa takut akan kematian
d. Penemuan aspek tersembunyi dari diri
e. Meningkatkan altruisme (mengutamakan kepentingan dan perhatian orang lain)
f. Meningkatkan waktu yang dihabiskan dalam meditasi dan kesendirian
g. Penurunan minat dalam interaksi sosial yang berlebihan
h. Mendesak untuk meninggalkan perannya
i. Peningkatan pemahaman tentang ambiguitas moral
j. Peningkatan perasaan penyatuan kosmik dengan alam semesta
k. Meningkatkan perasaan afinitas dengan generasi masa lalu dan mendatang
l. Redefinisi persepsi seseorang tentang waktu, ruang dan objek

Pada kasus care giver mengatakan lansia tidak mau mengikuti senam ataupun
kegiatan lain yang ada di panti. Lansia masih sering merokok jika teman-temannya
ada yang merokok, apabila dilarang lansia melempar barang yang ada di dekatnya.
Lansia terpeleset karena lantai licin dan lansia gemar menggunakan sandal yang lebih
besar dari ukuran kakinya dan sol yang tipis (kurang perhatian pada tubuh).

II.10 Perawatan Pada Lansia Stroke, Hipertensi, dan Jatuh

PERAWATAN LANSIA : PANTI WERDHA

Semakin tua umur seseorang maka persentase untuk mengalami kesulitan


dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari juga meningkat. Kondisi ini akan
meningkatkan ketergantungan lansia untuk memenuhi kebutuhannya. Lansia yang
memiliki keluarga dan tinggal bersama, semua permasalahan yang terjadi akan dapat
dibantu oleh keluarga. Namun karena suatu hal lansia tidak memiliki keluarga atau
memiliki keluarga tetapi tidak mampu merawat dan memenuhi kebutuhannya, maka
lansia akan tinggal di Panti Werdha.
A. Pengertian Panti Werdha
Panti Werdha adalah unit pelaksana teknis di bidang pembinaan kesejahteraan
sosial lansia yang memberikan pelayanan kesejahteraan sosial bagi lansia berupa
pemberian
penampungan, jaminan hidup seperti pakaian, pemeliharaan kesehatan, pengisian
waktu luang termasuk rekreasi, bimbingan sosial mental serta agama sehingga mereka
dapat menkmati hari tua diliputi ketentraman lahir dan batin.

47
B. Tujuan Panti Werdha
Tercapainya kualitas hidup & kesejahteraan para lansia yang layak dalam tata
kehidupan masyarakat, bangsa dan negara berdasarkan nilai-nilai luhur budaya bangsa
sehingga mereka dapat menikmati hari tuanya dengan tenteram lahir batin.
C. Alasan Lansia di Panti Werdha
Setiap lansia memiliki alasan yang berbeda mengenai mengapa pada akhirnya
mereka tinggal di panti werdha. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan lansia
yang berada di panti werdha Hargo Dedali terdapat beberapa alasan utama yang
melatar belakangi alasan mereka tinggal di panti werdha, yaitu:
1. Tidak ingin merepotkan keluarga
Tingginya tingkat kesibukan keluarga membuat anggota keluarga lansia merasa
tidak nyaman jika harus tinggal bersama anak atau keluarganya.Perasaan tersebut
timbul karena kesehariannya yang lebih sering dihabiskan sendiri sehingga tidak
ada teman untuk berbicara.Selain itu, lansia memilih untuk tinggal di panti werdha
karena tidak ingin menimbulkan suatu permasalahan dengan tinggal bersama
keluarga menantu atau keluarga inti anaknya. Mengutip dari jurnal keperawatan
Universitas Riau tahun 2013 yang berjudul “Perbedaan Antara Konsep Diri Lansia
Yang Tinggal Di Panti Sosial Tresna Werdha Dengan Lansia Yang Tinggal Di
Tengah Keluarga”, menyatakan bahwa ada konsep diri yang dimiliki oleh lansia
yaitu konsep diri yang postif dan negatif. Adanya pemikiran – pemikiran yang
diutarakan oleh informan adalah suatu bentuk dari adanya konsep diri yang
dimiliki oleh masing – masing individu sebagai pemahaman akan dirinya yang
semakin menua, sehingga diperlukan cara untuk mempertahankan kualitas hidup
dan menjaga hubungan dengan anak yang telah dewasa.
2. Keputusan keluarga
Alasan lansia untuk tinggal di panti werdha juga tak terlepas dari adanya pengaruh
keluarga.Keluarga menilai bahwa lebih baik orang tua mereka tinggal di panti
werdha daripada harus berada dirumah yang terkadang memberi beban tersendiri.
Pengambilan keputusan tersebut akan berlangsung dengan baik jika disepakati
oleh kedua belah pihak yaitu keluarga dan lansia sebagai orang tua. Pada lansia
yang menyepakati keputusan untuk tinggal di panti werdha, maka akan memiliki
presepsi bahwa bahwa tinggal di panti werdha bukanlah hal yang buruk sehingga
dianggap menjadi salah satu solusi dari permasalahan yang dihadapi. Sebaliknya,
pada lansia yang tinggal di panti werdha karena keputusan sepihak dari keluarga,

48
akan berpikiran bahwa panti werdha merupakan tempat pengasingan bagi dirinya
yang tidak lagi diinginkan oleh keluarga. Menurut Spradley faktor – faktor yang
mempengaruhi manusia dalam melakukan adaptasi antara lain adanya presepsi
dan interpretasi pada suatu obyek yang akan mengarah pada sistem kategorisasi,
sistem kategorisasi tersebut akan digunakan untuk mengidentifikasi aspek – aspek
lingkungan yang sesuai untuk diadaptasi sehingga dapat mengantisipasi peristiwa
yang akan datang (Poerwanto 2000:172).
3. Sakit
Adanya pelayanan kesehatan dari dokter dan perawat di panti werdha oleh para
lansia dianggap sebagai nilai plus yang bisa mereka dapatkan selama menjadi
penghuni.Lansia penghuni panti werdha Hargo Dedali merasa, dengan pelayanan
kesehatan profesional yang diberkan oleh dokter dan perawat mampu
meningkatkan serta mempertahankan kualitas kesehatan mereka.
4. Tinggal sebatang kara.
Baanyak ditemui bahwa lansia tinggal tanpa keluarganya di tempat
tingglanya.Kepedulian yang ditunjukkan oleh warga disekitar tempat tinggal
lansia tersebut sangat diperlukan untuk membawa lansia tersebut ke sebuah panti
guna dirawat dan diarahkan pada kehidupan masa tua yang sejahtera.

D. Jenis Pelayanan di Panti Werdha


1. Upaya promotif
Upaya untuk menggairahkan semangat hidup dan meningkatkan derajat kesehatan
lansia agar tetap berguna, baik bagi dirinya, keluarga, maupun masyarakat.
Kegiatannya berupa:
a. Penyuluhan kesehatan dan atau pelatihan bagi petugas panti mengenai hal-hal:
Masalah gizi dan diet, perawatan dasar kesehatan, keperawatan kasus darurat,
mengenal kasus gangguan jiwa, olahraga, teknik-teknik berkomunikasi.
b. Bimbingan rohani pada lansia, kegiatannya antara lain :Sarasehan, pembinaan
mental dan ceramah keagamaan,pembinaan dan pengembangan kegemaran
pada lansia di panti werdha.
c. Rekreasi
d. Kegiatan lomba antar lansia di dalam atau antar panti werdha.
e. Penyebarluasan informasi tentang kesehatan lansia di panti maupun
masyarakat luas melalui berbagai macam media.

49
2. Upaya preventif
Upaya pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyakit-penyakit yang
disebabkan oleh proses penuaan dan komplikasinya.
Kegiatannya adalah sebagai berikut:
a. Pemeriksaan berkala yang dapat dilakukan dipanti oleh petugas kesehatan
yang datang ke panti secara periodik atau di Puskesmas dengan menggunakan
KMS lansia.
b. Penjaringan penyakit pada lansia, baik oleh petugas kesehatan di puskesmas
maupun petugas panti yang telah dilatih dalam pemeliharaan kesehatan lansia.
c. Pemantauan kesehatan oleh dirinya sendiri dengan bantuan petugas panti yang
menggunakan buku catatan pribadi.
d. Melakukan olahraga secara teratur sesuai dengan kemampuan dan kondisi
masing-masing.
e. Mengelola diet dan makanan lansia penghuni panti sesuai dengan kondisi
kesehatannya masing-masing.
f. Meningkatkan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
g. Mengembangkan kegemarannya agar dapat mengisi waktu dan tetap
produktif.
h. Melakukan orientasi realita, yaitu upaya pengenalan terhadap lingkungan
sekelilingnya agar lansia dapat lebih mampu mengadakan hubungan dan
pembatasan terhadap waktu, tempat, dan orang secara optimal.
3. Upaya kuratif
Upaya pengobatan bagi lansia oleh petugas kesehatan atau petugas panti terlatih
sesuai kebutuhan.
Kegiatan ini dapat berupa hal-hal berikut ini:
a. Pelayanan kesehatan dasar di panti oleh petugas kesehatan atau petugas panti
yang telah dilatih melalui bimbingan dan pengawasan petugas
kesehatan/puskesmas.
b. Perawatan kesehatan jiwa.
c. Perawatan kesehatan gigi dan mulut.
d. Perawatan kesehatan mata.
e. Perawatan kesehatan melalui kegiatan di Puskesmas.
f. Rujukan ke rumah sakit, dokter spesialis, atau ahli kesehatan yang diperlukan.
4. Upaya rehabilitatif

50
Upaya pemulihan untuk mempertahankan fungsi organ seoptimal
mungkin.Kegiatan ini dapat berupa rehabilitasi fisik, mental dan vokasional
(keterampilan). Kegiatan ini dilakukan oleh petugas kesehatan dan petugas panti
yang telah dilatih

E. Perawatan Lansia di Panti Werdha


Merujuk pada Peraturan Menteri Sosial No. 19 tahun 2012 tentang Pedoman
Pelayanan Sosial Lanjut Usia, pada pasal 7 tercantum bahwa pelayanan dalam panti
dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas hidup, kesejahteraan, dan
terpenuhinya kebutuhan dasar lanjut usia. Adapun jenis pelayanan yang diberikan
dalam panti, meliputi :
1. Pemberian Tempat Tinggal yang Layak
Tempat tinggal yang layak bagi lansia adalah yang bersih, sehat, aman, nyaman,
dan memiliki akses yang mudah pada fasilitas yang dibutuhkan lansia, sehingga
dengan kondisi kemampuan fisiknya yang makin menurun masih memungkinkan
dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan mudah, aman, dan tidak sangat
tergantung pada orang lain. Umumnya lanjut usia dihadapkan pada masalah
hunian sebagai berikut: lokasi kamar yang berjauhan dengan lokasi kamar mandi,
keadaan kamar mandi yang kurang mendukung, penggunaan tangga, permukaan
lantai yang tidak rata, dan alur sirkulasi hunian terhadap fasilitas lingkungan
kurang menunjang. Tempat tinggal yang layak bagi lansia adalah yang lapang atau
barrier free.Hal ini sangat bermanfaat bagi lansia, terutama dalam pergerakan atau
aksesibilitas dalam rumah, bahkan ketika mereka harus menggunakan kursi roda.
Kurniadi (2012) merinci karakterik rumah yang ramah lansia, secara garis besar,
terbebas dari tangga dan lantai yang tidak rata atau licin, pencahayaan yangbaik,
kamar mandi dekat dengan kamar dan memungkinkan kursi roda dapat masuk,
dan aman karena mereka kurang mampu melindungi dirinya terhadap bahaya. Di
negara-negara maju, pelayanan kelompok lanjut usia dilakukan dalam ruangan
khusus, bahkan rumah sakit khusus dan perkampungan khusus. Adanya fasilitas
tersebut ditujukan untuk memberi lingkungan kehidupan yang nyaman dan sesuai
bagi kelompok lanjut usia (Wijayanti, 2008). Kondisi hunian di dalam panti pun
seyogyanya memperhatikan kebutuhan lansia tersebut.
2. Jaminan Hidup berupa Makan, Pakaian, Pemeliharaan Kesehatan

51
Para lansia seyogyanya mendapatkan makanan yang sesuai dengan kondisi
kesehatannya.Oleh karena itu, makanan untuk lansia sebaiknya dikontrol atas
rekomendasi ahli gizi. Ahli gizi perlu berkerjasama dengan dokter untuk
mengetahui kondisi kesehatan lansia atau jenis penyakit yang diderita, untuk
menentukan apa yang boleh atau tidak boleh dimakan. Dengan demikian,
makanan untuk masing-masing lansia kemungkinan berbeda dengan cara
mengolah yang berbeda pula. Pakaian yang digunakan sebaiknya bersih, layak dan
nyaman dipakai.Untuk pemeliharaan kesehatan seyogyanya terdapat fasilitas
kesehatan berupa poliklinik yang buka 24 jam dan memberikan pelayanan
kegawatdaruratan yang mudah diakses.Apabila perlu dirujuk, tersedia fasilitas
ambulans yang siap setiap saat.Biasanya diperlukan pula fasilitas fisioterapi.
3. Pengisian Waktu Luang Termasuk Rekreasi
Pemanfaatan waktu luang merupakan suatu upaya untuk memberikan peluang dan
kesempatan bagi lansia untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan
atau aktivitas yang positif, bermakna, dan produktif bagi dirinya maupun orang
lain. Kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan harus sesuai dengan minat, bakat,
dan potensi yang mereka miliki (Annubawati, 2014). Tidak hanya sekedar mengisi
waktu luang tetapi sesuatu yang menyenangkan, akan lebih baik jika produktif;
sehingga dapat berfungsi sebagai terapi masalah psikososial dan emosional yang
mungkin dialami oleh lansia. Demikian juga dengan kegiatan rekreasi,
seyogyanya tidak hanya menyenangkan tetapi merupakan kesempatan untuk
berinteraksi dengan lingkungan di luar panti sehingga mereka merasa tidak
terisolasi tetapi masih terhubung dengan lingkungan di sekitarnya.
4. Bimbingan Mental, Sosial, Keterampilan daan Agama
Bimbingan mental dan agama lebih ditujukan untuk mengatasi masalah emosional
dan psikologis. Berdasarkan informasi dari Tim Kajian Bentuk Pelayanan Lanjut
Usia di Daerah Istimewa Yogyakarta, banyak lansia yang tinggal di panti werdha
yang kesepian, sedih, menarik diri dari pergaulan dan kegiatan, pasif, murung,
mengalami emosi negatif, bermusuhan dengan sesama penghuni panti, dan
sebagainya. Untuk membantu mengatasi masalah tersebut kegiatan bimbingan
mental dan keagamaan melalui kegiatan konseling dapat membantu
mereka.Sementara itu, bimbingan sosial lebih ditujukan untuk mengatasi masalah
relasi sosial dengan keluarga atau lingkungan sosialnya. Terkait dengan
pelaksanaan bimbingan sosial di panti wedha, Tim Kajian Bentuk Pelayanan

52
Lansia di DIY (2014) menemukan bahwa di panti werdha ada kecenderungan
pelayanan bimbingan sosial ini relatif sama dengan bimbingan psikologis; belum
diarahkan untuk memfasilitasi interaksi atau komunikasi antar penghuni panti
sosial maupun dengan warga masyarakat lainnya. Masalah relasi sosial seringkali
menjadi penyebab atau saling pengaruh mempengaruhi dengan masalah emosional
dan psikologis, sehingga memperbaiki relasi sosial dengan keluarga atau
lingkungan sosial lainnya akan membantu memecahkan masalah emosional dan
psikologis juga.
5. Pengurusan Pemakaman atau Sebutan Lain
Pelayanan bagi lansia dalam panti diberikan sampai dengan lansia
meninggal.Pelayanan yang diberikan merupakan perawatan jangka panjang
(Long-Term Care).Oleh karena itu, pelayanan pengurusan pemakaman pun turut
menjadi tanggungjawab panti, sesuai dengan agama yang dianutnya masing-
masing.

Oleh karena jenis-jenis pelayanan tersebut merupakan jenis pelayanan yang tercantum
dalam Pedoman Pelayanan Sosial Lanjut Usia (Permensos No. 19 tahun 2012) maka
di setiap panti werdha, terutama yang dikelola oleh pemerintah, maka tampaknya jenis
layanan yang diberikan pada lansia relatif sama, karena semua merujuk pada pedoman
tersebut. Merujuk pada konsep pelayanan sosial dalam konteks kebijakan publik
bahwa negara seyogyanya memfokuskan pada kelompok-kelompok yang lemah
(Suharto, 2007:5). Walaupun klien lanjut usia berasal dari keluarga miskin, jika masih
mandiri dan ada/tidak ada keluarganya maka mereka masih dapat dilayani dengan
model pelayanan di luar panti, yaitu home care dan community care. Dalam hal ini
tentu keluarga harus mendapatkan pelayanan peningkatan kapasitas dalam merawat
lansia. Panti yang dikelola oleh pemerintah seyogyanya diperuntukkan bagi lanjut usia
yang memang benar-benar terlantar dan tidak mandiri. Merujuk pada kebijakan
tentang layanan Long-Term Care (LTC), bahwa salah satu komponen LTC adalah
pemerintah; tugas pemerintah adalah menyediakan sistem asuransi LTC dan layanan
berbasis institusi (institutional based). Porsi layanan berbasis institusi paling kecil
dibandingkan dengan yang berbasis keluarga dan komunitas; oleh karena itu
kelompok sasaran layanan harus ditentukan lebih selektif, lebih mengutamakan pada
lansia yang tidak memungkinkan dilayani melalui rumahtangga atau komunitas.

Perawatan Lansia dengan Stroke

53
Komplikasi yang dialami keluarga dengan stroke pada hemisfer kanan :

1. Tidak mampu mengkaji kemampuan yang dibutuhkan dan yang dimiliki


2. Gangguan belajar karena lapang perhatian yang menyempit
3. Mudah terdistraksi
4. Tidak mampu mengalihkan proses belajar dari satu kondisi kekondisi yang lain
5. Tidak mampu mengambil keputusan dan beresiko cidera
6. Tidak mampu mengkaji jarak dan pergerakan orang lain atau suatu objek karena
persepsi spasial menurun
7. Kemampuan berbahasa dipertahankan bahkan mampu meyakinkan orang lain bahwa
klien dapat melakukan sesuatu yang sebenarnya tidak dapat ia lakukan
8. Mengalami defisit seperti kelemahan atau paralisis pada sisi tubuh bagian kiri

Sebaliknya, pada lansia yang mengalami stroke dengan hemisfer kiri memiliki penurunan
kemampuan yang jelas, yaitu :

1. Gangguan berbahasan dan fungsi fisik


2. Kebutuhan beradaptasi dalam ADL, dengan tangan dominan terganggu
3. Beresiko cidera
4. Melakukan perilaku berulang
5. Mengalami kelemahan atau paralisis pada sisi tubuh bagian kanan

Tujuan perawatan lansia dengan stroke pada hemisfer kiri adalah untuk memperbaiki
kemampuan fisiknya. Fisioterapi, terapi okupasional, dan terapi bicara perlu dimasukkan
dalam tindakan kolaborasi. Dalam pelaksaan terapi, fasilitasi waktu istirahat pada lansia
untuk menghindari kelelahan.

Komplikasi lain yang dialami adalah independensi hemisfer yang terkena. Lansia
tidak mampu mengambil makanan yang diletakkan disalah satu nampan atau tidak
mampu berputar menghadap pengunjung. Kondisi ini dapat diakibatkan oleh
homonymous hemianopsia ( penurunan lapang pandang pada sisi sebelah kanan atau kiri),
atau bitemporal hemianopsia (kehilangan lapang pandang pada sisi temporal atau
bitemporal). Untuk mengatasinya, berikan terapi berupa melihat “gambaran total diri” dan
lingkungan sekitar.

54
Pencegahan komplikasi adalah komponen perawatan post stroke. Setelah mengalami
stroke, lansia akan beresiko mengalami resiko infeksi (pernafasan dan urinary), jatuh, mal
nutrisi, serangan stroke berulang, dan dekondisi.

Pencegahan komplikasi pada lansia sebagai berikut:

1. Jika memungkinkan berikan imunisasi untuk pneumonia, influenza dan tetanus


2. Perhatikan keteraturan miksi
3. Observasi masukan makanan dan cairan
4. Observasi keteraturan pengobatan
5. Perhatikan kemandirian dan mobilitas seoptimal mungkin

Lansia cenderung minum dalam jumlah inadekuat. Perawat bertanggung jawab


memberikan pendidikan kesehatan terhadap klien mengenai pentingnya mengkonsumsi
air dalam jumlah 1500-2000 ml per hari. Cara yang mudah dilakukan oleh lansia untuk
memastikan jumlah konsumsi air terpenuhi adalah dengan menganjurkan lansia untuk
mengisi air sebanyak seperempat bagian botol pada pagi hari, kemudian meminumnya
sepanjang hari. Jika air dibotol habis, isi lagi botol dengan volume air yang sama secara
teratur. Pastikan lansia tidak kesulitan menelan cairan dibandingkan dengan menelan
makanan yang padat.

Nafsu makan klien bisa saja menurun terpengaruh oleh kesulitan dalam menggunakan
alat makan. Latihan menggunakan alat makan dapat dimasukkan kedalam terapi
okupasional. Lakukan modifikasi diet untuk membantu klien menurunkan berat badan
atau membantu klien mempertahankan kadar natrium atau kolesterol. Pengobatan
diperlukan untuk mengontrol hipertensi, aritmia dan bekuan darah. Umumnya, ketika
lansia merasa lebih baik, mereka menghentikan pengobatan. Pengukuran tekanan darah
sangat diperlukan. Pertahankan keseimbangan antara aktivitas dan istirahat untuk
mencegah kelelahan.

Tabel 9 -1 4 menyajikan pendekatan umum untuk merawat penderita stroke. Secara


umum, usia lanjut dianggap sebagai faktor negatif dalam pemulihan dari stroke, tetapi
faktor-faktor seperti motivasi dan harapan juga harus dipertimbangkan dalam proses
rehabilitasi. Selain itu, banyak literatur penelitian mengenai tingkat fungsional pemulihan
setelah stroke menunjukkan bahwa pengembalian fungsi memuncak dan tidak mengalami
banyak kemajuan setelah tanda 3-6 bulan pasca stroke. Namun, penelitian yang muncul

55
menunjukkan bahwa korban dapat dan terus melakukan perbaikan dalam fungsi sehari-
hari bahkan bertahun-tahun setelah stroke (Duraski et al., 2012; Easton, 2001; Hinkle,
2010). Banyak dari perbaikan ini mungkin di bidang kegiatan instrumental dari kehidupan
sehari-hari (IADL), atau kegiatan rumah yang selamat ingin melanjutkan setelah stroke.
Penelitian baru dari Cincinnati College of Medicine di Ohio menunjukkan bahwa bahkan
praktik mental mobilitas lengan atas dapat memiliki dampak yang signifikan dan positif
pada kemampuan penderita stroke untuk menggunakan ekstremitas atas yang terkena
dampak (Morris, 2006; Page, Levine, & Leonard, 2005). Banyak korban akan terus
mendapatkan manfaat dari terapi rawat jalan dalam terapi okupasi, terapi fisik, dan / atau
terapi wicara.

Tabel 9 -1 4 Pendekatan Umum Keperawatan bagi Penderita Stroke

Karakteristik Umum Yang Stroke Hemisfer Kanan Stroke Hemisfer Kiri


Terkait Dengan Stroke Dari
Salah Satu Sisi
Saat bekerja dengan pasien, Ciptakan lingkungan Berbicaralah dengan
dorong penggunaan sisi perawatan yang tenang dan perlahan dan jelas.
yang sakit untuk tidak tergesa-gesa. Gunakan kalimat sederhana
mengurangi pengabaian untuk mereka yang
untuk sisi yang sakit memiliki afasia
Ketika orang itu sendirian, Bagi tugas menjadi Dorong semua bentuk
letakkan barang-barang langkah-langkah komunikasi.
(seperti bel, tisu, dan sederhana.
barang-barang pribadi
lainnya) di sisi yang tidak
terpengaruh untuk
meningkatkan perawatan
diri dan keamanan dan
untuk menghindari isolasi.
Gunakan berbagai Perhatikan masalah Gunakan berbagai teknik
modalitas pengajaran keselamatan yang mungkin komunikasi: memberi
selama sesi pendidikan timbul dari penilaian yang isyarat, isyarat, menunjuk,
untuk mempromosikan buruk dan kurangnya menulis, papan
pembelajaran. kesadaran keselamatan. komunikasi, pertanyaan

56
Lindungi pasien dari ya / tidak (jika perlu).
cedera. Temukan apa yang paling
efektif untuk setiap orang.
Minimalkan gangguan Waspadai kemungkinan Berikan waktu bagi orang
selama sesi pendidikan. defisit yang mungkin tidak tersebut untuk menjawab
Buat item pengajaran ini terbuka. Hindari stimulasi pertanyaan.
singkat dan relevan. berlebihan.

Gunakan istilah-istilah Berikan pengajaran di


seperti sisi yang lingkungan yang tenang
terpengaruh / tidak dan terstruktur. Monitor
terpengaruh atau sisi lemah pasien untuk kesulitan
/ kuat alih-alih baik / buruk. menelan.

Gunakan clinical pathway Promosikan citra diri


atau rencana perawatan positif dengan
untuk meningkatkan memperhatikan perawatan
konsistensi perawatan, yang baik, kebersihan
tetapi ingat bahwa setiap pribadi, dan penguatan
klien adalah unik dan positif.
pastikan untuk
mengadaptasi asuhan
keperawatan yang sesuai.

Seimbangkan istirahat dan


aktivitas
Tingkatkan kesabaran.
Ingatlah bahwa stroke
melelahkan ke seluruh
tubuh.
Masukkan orang dan
keluarga dalam rencana
perawatan.
Bantu pasien dan keluarga
dalam menetapkan tujuan
yang masuk akal

57
Source: Adapted from Easton, 1999, p. 196, with permission of author.

1. Fisioterapi.
Fisioterapi adalah proses merehabilitasi seseorang agar terhindar dari cacat fisik
melalui serangkaian pencegahan, diagnosis, serta penanganan untuk menangani
gangguan fisik pada tubuh akibat cedera atau penyakit.Fisioterapiakan membantu
pasien stroke mengembalikan fungsi fisik mereka dalam berbagai aspek, mengajarkan
perawatan yang benar kepada pasien dan anggota keluarganya, dan melatih serta
mencegah komplikasi agar pasien bisa mendapatkan kemampuan mandiri terbaiknya.
2. Terapi okupasi, Terapi Okupasi adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat
atau pasien yang mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan
latihan/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi(okupasi) untuk meningkatkan
kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan
pemanfaatan waktu luang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat.Tujuan utama dari Okupasi Terapi adalah memungkinkan individu untuk
berperan serta dalam aktivitas keseharian. Okupasi terapis mencapai tujuan ini melalui
kerja sama dengan kelompok dan masyarakat untuk meningkatkan kemampuan
mereka untuk terlibat dalam aktivitas yang mereka inginkan, butuhkan, atau harapkan
untuk dikerjakan, serta dengan mengubah aktivitas atau lingkungan yang lebih baik
untuk mendukung keterlibatan dalam aktivitas.melalui program terapi yang berbeda,
memungkinkan pasien stroke untuk mendapatkan kemampuan mandiri terbaiknya
dalam berbagai aspek, seperti perawatan diri, perawatan rumah tangga, keterampilan
kejuruan, dan rekreasi.
3. Terapi wicara adalah metode yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bicara,
memahami, dan mengekspresikan bahasa. Selain bahasa yang bersifat verbal, terapi
ini juga melatih bentuk bahasa nonverbal. Jika ingin mendapatkan hasil yang optimal,
terapi wicara mengembangkan dua hal. Terapi wicara akan membantu pasien stroke
meningkatkan kemampuan menelan, berkomunikasi, dan ekspresi verbal mereka. Jika
pasien memiliki masalah psikologis dan/atau emosional, psikolog klinis bisa
memberikan bantuan yang diperlukan. Para pekerja sosial medis bisa membantu
pasien stroke dan anggota keluarganya dengan memerhatikan kebutuhan mereka yang
berkaitan dengan bantuan keuangan, perumahan, bantuan pekerjaan rumah tangga,
pengaturan kerja, dan layanan perumahan.

58
II.11 Perubahan Fungsi Kardiovaskular

I. Perubahan Yang Berkaitan DenganUmur Yang Mempengaruhi Fungsi


Kardiovaskuler

Seperti halnya banyak aspek fungsi fisiologis, sulit untuk menentukan apakah
perubahan kardiovaskular disebabkan penuaan normal atau factor lainnya.Pengetahuan
tentang berbeda usia atau perubahan terkait penyakit dalam fungsi kardiovaskular adalah
kenyataan bahwa, sampai saat ini, tidak ada teknologi untuk mendeteksi kardiovaskular
patologis tanpa gejala proses, seperti oklusi arteri koroner utama.Dengan demikian, beberapa
kesimpulan dari penelitian sebelumnya mungkin memiliki perubahan patologis yang terjadi
pada penuaan normal.Studi menggunakan teknik diagnostic menemukan bahwa 36% dan
39% pria dan wanita, masing-masing, memiliki penyakit jantung koroner subklinis dan hanya
12,6% orang berusia 85 tahun atau lebih yang tidak memilikinya penyakit klinis maupun
subklinis (Cademartiri, LaGrutta,deFeyter, &Kresstin, 2008). Saat ini, banyak penelitian
tentang usia perubahan terkait bersifat longitudinal dan termasuk subjek yang telah dengan
hati-hati disaring untuk kardiovaskular asimptomatik.

Selain itu, karena factor sosiokultural mempengaruhi kardiovaskular fungsi cular,


sulit untuk menarik kesimpulan tentang factor gaya hidup yang mempengaruhi seluruh
masyarakat. Tekanan darah sistolik, misalnya, meningkat secara bertahap pada orang dewasa
yang hidup dalam masyarakat barat tetapi tidak pada mereka yang kurang maju.Oleh karena
itu, perubahan yang telah dikaitkan dengan usia yang meningkat mungkin, pada
kenyataannya, terkait dengan gaya hidup, sosiokultural, atau kondisi patologis. Studi lintas
budaya sedang digunakan untuk mengidentifikasi efek gaya hidup dan lainnya factor social
budaya yang mempengaruhi fungsi kardiovaskular. Sebuah Fokus utama penelitian adalah
mengidentifikasi faktor-faktor risiko tersebut yang paling menerima intervensi sehingga bukti
intervensi berbasis dapat direkomendasikan.

A. Mekanisme Konduksi Miokardium danSaraf


Perubahan terkait usia miokardium termasuk deposit amiloid, akumulasi
lipofuscin, degenerasi basofilik, atrofi atau hipertrofi miokard, penebalan katup dan
pengerasan, dan peningkatan jumlah jaringan ikat. Dinding ventrikel kiri menjadi
sedikit membesar secara sehat pada orang dewasa yang lebih tua, tetapi atrofi miokard

59
signifikan yang terjadi adalah karena proses patologis. Selainitu, atrium kiri
membesar, bahkan pada orang dewasa tua yang sehat.Terkait usia lainnya perubahan
termasuk penebalan atrium endokardium, penebalan katup atrioventrikular, dan
kalsifikasi pada Setidaknya bagian dari annulus mitral katup aorta. Perubahan ini
mengganggu kemampuan jantung untuk berkontraks isepenuhnya.Dengan
kontraktilitas yang kurang efektif, diperlukan lebih banyak waktu untuk
menyelesaikan siklus pengisian diastolic dan pengosongan sistolik.Selain itu,
miokardium menjadi semakin meningkat dan kurang responsive terhadap impuls dari
system saraf simpatik.
Perubahan terkait usia dalam fisiologi jantung minimal,dan perubahan yang
terjadi hanya memengaruhi kinerja jantung dalam kondisi stres fisiologis. Bahkan di
bawah tekanan kondisi, jantung pada orang tua yang sehat dapat beradaptasi,tetapi
mekanisme adaptif mungkin berbeda dari mekanisme dewasa muda atau menjadi
sedikit kurang efisien. Yang berhubungan dengan usia perubahan yang menyebabkan
konsekuensi fungsional terutama melibatkan elektro fisiologi jantung (yaitu, neuro
konduksi sistem). Perubahan terkait usia dalam system neuro konduksi termasuk
penurunan jumlah sel alat pacu jantung, peningkatan ketidakteraturan dalam bentuk
sel alat pacu jantung, dan peningkatan timbunan lemak, kolagen, dan serat elastis di
sekitar simpul sinoatrial.

B. Pembuluh darah
Perubahan terkait usia mempengaruhi dua dari tiga lapisan pembuluh
darah,dan konsekuensi fungsional bervariasi, tergantung pada lapisan mana
terpengaruh. Sebagai contoh, perubahan dalam tunica intima, lapisan terdalam,
memiliki konsekuensi fungsional paling serius dalam pengembangan aterosklerosis,
sedangkan perubahan di media tunica, lapisan tengah, dikaitkan dengan
hipertensi.Lapisan terluar (tunica externa) tampaknya tidak terpengaruh oleh
perubahan terkait usia. Lapisan ini,terdiri dari adiposa dan jaringan ikat yang
longgar,mendukung serabut saraf dan vasa vasorum, suplai darah untuk media
tunica.Tunica intima terdiri dari satu lapisan endotel sel pada lapisan tipis jaringan
ikat.Ini mengontrol entrilipid dan zat lain dari darah ke arteri dinding. Sel-sel endotel
yang utuh memungkinkan darah mengalir bebas tanpa pembekuan; Namun, ketika
sel-sel endotel rusak,mereka berfungsi dalam proses pembekuan.Dengan
bertambahnya usia, maka tunica intima menebal karena fibrosis, proliferasi sel, dan

60
akumulasi lemak dan kalsium. Selain itu, sel-s el endotel menjadi tidak teratur dalam
ukuran dan bentuk.Perubahan ini menyebabkan arteri melebar dan memanjang.Hasil
dari,dinding arteri lebih rentan terhadap aterosklerosis.
Media tunikaterdiri dari satu atau beberapa lapisan sel otot polos dikelilingi
oleh elastin dan kolagen.Sel-sel otot polos terlibat dalam fungsi pembentukan jaringan
untuk memproduksi kolagen, proteoglikan,dan serat elastis.Karena itu memberikan
dukungan struktural,lapisan ini mengontrol ekspansi dan kontraksi arteri.Perubahan
terkait usia yang mempengaruhi media tunika termasuk peningkatan kolagen dan
penipisan dan kalsifikasi elastin serat, menghasilkan pembuluh darah yang kaku.
Perubahan ini terutama diucapkan di aorta, di mana diameternya dari peningkatan
lumen untuk mengkompensasi pengerasan arteri yang berkaitan dengan usia.
Meskipun perubahan ini dipandang sebagai usia studi terkait, longitudinal dan lintas
budaya meningkat pertanyaan tentang dampak variable gaya hidup pada arteri
kekakuan.
Perubahan terkait usia di media tunika menyebabkan peningkatan resistensi
perifer, gangguan fungsi baroreseptor, dan berkurangnya kemampuan untuk
meningkatkan aliran darah ke organ vital. Meskipun perubahan ini tidak
menimbulkan konsekuensi serius pada orang dewasa tua yang sehat, mereka
meningkatkan resistensi terhadap aliran darah dari jantung sehingga ventrikel kiri
dipaksa bekerja lebih sulit.Selain itu, baro reseptor di arteri besar menjadi kurang
efektif dalam mengendalikan tekanan darah, terutama selama perubahan postur
tubuh.Secara keseluruhan, peningkatan kekakuan pembuluh darah menyebabkan
sedikit peningkatan tekanan darah sistolik.Vena mengalami perubahan dengan
mempengaruhi arteri, tetapi pada tingkat yang lebih rendah. Vena menjadi lebih tebal,
lebih melebar, dan kurang elastis dengan bertambahnya usia. Katup besar vena kaki
menjadi kurang efisien dalam mengembalikan darah ke jantung.Sirkulasi perifer
selanjutnya dipengaruhi oleh usia pengurangan massa otot dan pengurangan
bersamaan dalam permintaan oksigen.

C. Mekanisme Baroreflex
Mekanisme baroreflex adalah proses fisiologis yang mengatur tekanan darah
dengan meningkatkan atau menurunkan denyut jantung dan resistensi vascular perifer
untuk mengkompensasi transien mengurangi atau meningkatkan tekanan arteri.
Terkait usia perubahan yang mengubah mechanism baroreflex termasuk arteri

61
menjadi kaku dan mengurangi respons kardiovaskular stimulasi adrenergik.
Perubahan ini menyebabkan tumpulnya respons kompensasi untuk hipertensi dan
hipotensi rangsangan pada orang dewasa yang lebih tua, sehingga denyut jantung
tidak meningkat atau berkurang seefisien pada orang dewasa yang lebih muda.

II. Faktor-faktor risiko yang mempengaruhi

Fungsi kardiovaskular

Banyak faktor mempengaruhi fungsi kardiovaskular dengan meningkatkan fungsinya risiko


untuk penyakit jantung, yang telah menjadi penyebab utama kematian di amerika serikat
selama hamper satu abad. Penyakit jantung atau penyakit kardiovaskular, merujuk pada
semua proses logika yang mempengaruhi sistem jantung dan sirkulasi termasuk spesifik
entitas penyakit, seperti penyakit jantung koroner (juga disebut penyakit arteri koroner),
aritmias, aterosklerosis, jantung uretra, myocardial, penyakit pembuluh darah, pembuluh
darah, pembuluh darah, dan saraf iskemia yang bersifat sementara Meskipun stroke (sebutan
lainnya penyakit serebrovaskular) dan serangan transient ischemic dianggap kardiovaskular
kondisi karena patologi mereka yang tersembunyi, mereka dianggap gangguan saraf dalam
praktek klinis karena terhadap efeknya. (merujuklah pada bab 27 untuk pembahasan
mengenai hati kegagalan; Bab ini berfokus pada kondisi yang dapat diatasi melalui intervensi
promosi kesehatan untuk mengurangi semua jenis penyakit kardiovaskular. Para peneliti,
perencana kesehatan, dan penyedia layanan kesehatan kekhawatiran tentang risiko bagi
penyakit kardiovaskular bukan hanya karena tingkat penyebarannya yang signifikan dan
tingkat kematian juga karena itu menimbulkan beban ekonomi yang berat. Yang paling
penting dari perspektif kesejahteraan, ada bukti bahwa kebanyakan penyakit kardiovaskular
dapat dicegah melalui modifikasi faktor-faktor risiko yang terdapat di osodyne, 200800.000.
Dengan demikian, ini adalah mayor fokus terhadap promosi promosi kesehatan, termasuk
pendidikan yang sabar dan motivasi untuk perubahan perilaku. penelitian telah
mengidentifikasi faktor risiko berikut sebagai faktor yang paling penting bagi penyakit
kardiovaskular: Stressnya, berat badan, lipidsb, diabetes, tekanan darah, tekanan fisik,
merokok berhenti, asupan buah dan Sayuran, dan konsumsi alkohol yang berlebihan (D
'Agostino Et al., 2008; Dennison & Hughes, 2009; Schenk-gusidisson. 2009). Kondisi ini
dapat diatasi melalui medis Perusahaan manajemen dan promosi kesehatan, seperti yang
dibahas di bab ini dan dalam film "hapters 21", berhenti merokok.dan 27 (diabetes).
Singkirkan faktor-faktor risiko, seperti age, race, genderoni, dan hereditary, tidak dapat

62
diubah, tetapi sangat penting pertimbangkan pengaruh mereka pada profil resiko keseluruhan
seseorang. Dalam dalam beberapa tahun terakhir, ada peningkatan pengakuan bahwa ras dan
jenis kelamin dapat mempengaruhi risiko terkena penyakit kardiovaskular dan kesempatan
untuk mengalami cedera.

Contoh, ada bukti kuat kesenjangan kesehatan yang berkaitan dengan peningkatan prevalensi
dan pengelolaan yang lebih rendah Penyakit jantung dan faktor risiko berhubungan dengan
wanita dan orang afrika Amerika (e.g., Spertus, Jones, Massoudi, Rumsfeld, & Krumholz,
2009; Taylor et al., 2009. Weiss, 2009). meskipun Umur, jenis kelamin, dan ras tidak dapat
diubah, itu penting untuk Kenali variasi dalam manifestasi dan manajemen penyakit
kardiovaskular yang terjadi dalam kelompok tertentu Karena itu, faktor ekonomi dan
psikotropatif juga mempengaruhi profil risiko Penyakit jantung dan faktor-faktor ini
berkaitan dengan pendekatan holistik untuk merawat orang dewasa yang lebih tua

aterosklerosis

Alaterosklerosis adalah gangguan pada media dan arteri kecil di mana terdapat
kandungan asam lipid dan penempatan osilatosis mengurangi atau menghambat aliran darah.
Hal ini terlibat dalam 75% dari semua kematian kardiovaskular di amerika serikat (Lewis,
2009).karena aterosklerosis adalah akar proses patologis yang terkait dengan penyakit
kardiovaskular paling parah, istilah penyakit kardiovaskular yang diemban adalah kadang-
kadang digunakan dalam hal ini untuk membahas tentang kondisi pathologi untuk
pergunangan. Beberapa teori mengenai pathosklerosis aterosklerosis telah diusulkan sejak
pertengahan 1970-an, dan pemahaman kita tentang aterosklerosis telah meningkat secara
signifikan pada tahun-tahun belakangan ini karena menggunakan teknik pencitraan yang
lebih canggih. Sekarang, orang yang berada di sana memahami bahwa aterosklerosis adalah
penyakit yang parah dimulai saat masa kanak-kanak dengan gejala yang tak dapat
disembuhkan tapi dapat diidentifikasika perubahan dan kemajuan melalui masa dewasa ke
titik itu hal ini ditemukan pada 80% dari 90% orang dewasa berusia 30 tahun dan lebih tua
(Lewis, 2009).

Aterosklerosis melibatkan rangkaian perubahan pada dinding arteri yang


berkembang dalam urutan berikut (Insull,
2009):

63
1. Idiottis pengembangan yang dilakukan pada masa kanak-kanak dan remaja: lipoprotein
(terbenci, terbenci, terakumulasi partikel kolesterol di intima arteri dan memulai respon
inflamasi.

2. Pada awal masa remaja dan usia 12 tahun: (a) Macrophage mengotori sel busa dan sel-sel
radang lainnya terakumulasi, (b) sejumlah tanggapan protektif dimulai tetapi puing-puing
necrotic menyebabkan peradangan yang lebih parah lagi, yaitu c) extracellular lipids
berakumulasi dan membentuk cores necrotic yang kaya yang menempati 30% sampai 50%
dari volume dinding arteri, (d) a Cap berserat, disebut plaket, membentuk lebih dari inti
necrotic di bawah endothelium

3. Pengumpulan yang kian meningkat pada usia 55 tahun ke atas: (a) topi berserat dalam
beberapa situs menjadi tipis dan melemah; (tb) : (b) yang tercapung adalah penyakit rentan
terhadap rupawan dan menyebabkan thrombosis yang mengancam jiwa; (c) disebut
fibroatheroma tidak pecah, bisa diperbesar dan lebih lanjut mengurangi lumendarah arteri; (d)
asalkan tidak ada plak lebih dari 40% dari lumen, dinding arteri dapat berkembang untuk
mengimbangi, tetapi jika plak menempati lebih arteri ruang, hasil gejala; (e) pembuluh darah
yang sakit bisa bocor di dalam dinding arteri dan memprovokasi jaringan berserat lainnya.
singkatnya, perubahan atherolerosis dimulai pada masa kanak-kanak dan dapat maju dalam
pembentukan plak. Kerusakan plak, yang bisa pecah, tetap stablek, atau terus tumbuh, adalah
penyebab utama penyakit kardiovaskular. Studi memiliki ditemukan bahwa beberapa siklus
tanpa gejala, erosi, erosi dan penyembuhan terjadi pada 60% dari kematian jantung mendadak
sebelum itu peristiwa fatal (Insull, 2009). Jadi, penting untuk mengidentifikasi dan mengatasi
faktor risiko sebelum pasien mengalami gejala. Semua faktor risiko yang berkaitan dengan
penyakit kardiovaskular, misalnya diuraikan dalam bagian ini, adalah risiko bagi
perkembangan dan perkembangan dari aterosklerosis.

Ketidakaktifan fisik

Ketidak Aktofan fisik disebut juga dekondisi fisik yang disebut fungsi cardiovaskular
adalah faktor yang tidak hanya meningkatkan risiko bagi penyakit kardiovaskular bagi semua
orang, tetapi juga mengurangi fungsi kardiovaskular dalam usia lanjut yang sehat orang
dewasa. Jadi, bahkan dengan tidak adanya proses patologis, tidak memadainya pola aktivitas
fisik akan mengganggu kemampuan orang dewasa yang lebih tua untuk menyesuaikan diri

64
dengan kardiovaskular yang berhubungan dengan usia perubahan. Menurut petunjuk
berdasarkan bukti, tingkat dari ketidakaktifan fisik yang meningkatkan risiko. Bagi
kardiovaskular penyakit adalah kurang dari 30 menit kegiatan fisik moderat setidaknya 5 hari
setiap minggu atau 20 menit kegiatan fisik yang energik sedikitnya 3 hari seminggu. Data
nasional menunjukkan bahwa 6% dan 24% orang dewasa yang lebih muda dan lebih tua,
masing-masing tidak mencapai tingkat aktivitas fisik yang memadai dan, oleh karena itu,
telah 1.5 sampai 2.4 kali relatif risiko penyakit jantung coroner (Lloyd-Jones, 2009). Kondisi
yang sering terjadi pada orang dewasa yang lebih tua dan berkontribusi pada kondisi
penurunan fisik mencakup penyakit akut, kurangnya gaya hidup, keterbatasan mobilitas,
kondisi kronis apa pun yang mengganggu kegiatan fisik, dan mempengaruhi psikososial,
seperti depresi atau kurangnya motivasi.

Merokok tembakau

Merokok adalah penyebab utama dari jantung dan tidak dapat disangkal bahwa semua
jenis tembakau menggunakan rokok dan asap, atau paparan untuk kedua tangan asap akan
meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan mortalitosis Data yang menunjukkan
bahwa penyakit kardiovaskular menjadi gejala utama selama 10 tahun sebelumnya, dan
kematian terjadi selama 13 tahun sebelumnya pada perokok saat ini dibandingkan dengan
orang yang tidak merokok (Surinach et al.,2009). Selain itu, data nasional menunjukkan
bahwa 35% dari merokok

Kematian terkait karena penyakit kardiovaskular (safety yd-jones Et al., 2009). Efek rokok
pada sistem kardiovaskular termasuk percepatan proses pengumpulan, peningkatan tekanan
darah sistolik, level LDL l, dan penurunan tingkat kolesterol lipoprotein (HDL) berkepadatan
tinggi. bahkan sedikit paparan asap meningkatkan risiko dari serangan jantung karena segera
efek samping yang merugikan jantung, darah, dan sistem pembuluh darah. Selain itu, bukan
perokok Siapa yang terkena asap rokok di rumah atau di tempat kerja 25% lebih besar risiko
terkena penyakit jantung, yang merupakan salah satu yang terbaik. Hal itu hendaknya
ditandaskan bahwa efek kardiovaskular ini selain efek nikotin pada Fungsi pernapasan (lihat
pasal 21) dan aspek-aspek lain Kesehatan (e.g., meningkatkan risiko bagi pertumbuhan
banyak kanker).

Kebiasaan diet

65
Uji coba terkontrol telah mengkonfirmasi bahwa kebiasaan diet
bisameningkatkan banyak faktor risiko penyakit kardiovaskular, termasuk masalah
berat badan, tekanan darah, kadar glukosa, lipoprotein, dan kadar trigliserida.
Sebuah tinjauan studi merangkum temuan yang berkaitan dengan kebiasaan diet
dan kardiovaskularkesehatan (Lloyd-Jones et al., 2009):

1. Total asupan lemak kurang penting dibanding jenis lemak yang terkandung
di dalamnya.Mengganti lemak jenuh dengan lemak tak jenuh ganda 
mengurangi risiko kardiovaskular sebesar 24%.

2. Setiap 2% kalori dari lemak trans berisiko 23% lebih tinggi terkena
penyakit jantung koroner.

3. Asupan 2,5 porsi setiap hari dari gandum utuh menghasilkan penyakit
kardiovaskular 21% lebih rendah biladibandingkan dengan 0,2 porsi setiap
hari.

4. Jika dibandingkan dengan sedikit atau tanpa konsumsi ikan atauminyak


ikan, konsumsi satu hingga dua porsi per mingguikan berminyak akan
membuat jantung 36% lebih rendah tingkat kematian vaskular.

5. Setiap porsi buah atau sayuran tambahan setiap hari adalah akan membuat
risiko penyakit jantung koroner 4% lebih rendahdan 5% risiko stroke lebih
rendah.

6. Memberian rendah natrium akan membuat 25%risiko penyakit


kardiovaskular yang lebih rendah setelah 10 hingga 15 tahun.

Selain penelitian jenis makanan tertentu, banyak penelitianmemandang efek


perlindungan dari pola makanan, yaitudibahas pada bagian intervensi keperawatan.

Obesitas

Obesitas, yang didefinisikan oleh indeks massa tubuh (BMI) ≥30 kg / m2,
dikaitkan dengan peningkatan risiko banyak patogenkondisi logika termasuk
stroke, diabetes, gangguan lipid,aterosklerosis, hipertensi, dan penyakit jantung
koroner. Dibeberapa tahun terakhir, perhatian yang meningkat diberikan pada

66
perutobesitas (juga disebut adipositas perut) sebagai independenfaktor risiko
penyakit kardiovaskular. Obesitas perut, didefinisikan sebagai pemilik lingkar
pinggang lebih dari 102 dan 88 cm ataurasio pinggang-pinggul 0,95 dan 0,88 untuk
pria dan wanita. Secara spektakular, dapat terjadi bahkan pada orang dengan BMI
normal. Secara signifikan menunjukkan bahwa jaringan adiposa perutberbeda
secara biologis dan metabolik dari subkutanlemak dan, pada kenyataannya,
mungkin memiliki dampak yang lebih besar pada kardiovaskularpenyakit daripada
obesitas keseluruhan (Carr & Tannock, 2009). Analisisdata dari Nurses 'Health
Study menemukan bahwa lingkar pinggang lebih besar adalah faktor risiko yang
kuat untuk kematian akibat karbo.penyakit diovaskular bahkan di antara wanita
dengan berat badan normal(Zhang, Rexrode, Van Dam, Li, & Hu, 2008).

Hipertensi

Prevalensi hipertensi pada orang dewasa Amerika berusia 65 tahundan yang lebih
tua adalah 70,8%, dengan prevalensi 63,0% dan 76,6%untuk pria dan wanita,
masing-masing (McDonald, Hartz, Unger & Lustik, 2009). Hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan darah140/90 mm Hg atau lebih tinggi, atau tekanan
darah yang mengharuskanpengobatan dengan obat antihipertensi. Hipertensi adalah
penyakit pada sistem kardiovaskular, dan pada orang dewasa yang lebih tua,itu
juga merupakan faktor risiko independen untuk kardiovaskular tambahan.penyakit
cular, termasuk penyakit arteri koroner, iskemikstroke, penyakit arteri perifer, dan
gagal jantung kongestif(Aronow, 2008). Sejak awal 2000-an, penelitian
menemukan itutekanan darah bahkan pada batas tinggi normal (mis., 130
hingga139/85 hingga 89 mg Hg) adalah faktor risiko stroke, infark miokard,
kematian jantung mendadak, penyakit jantung koroner, jantungkegagalan, penyakit
ginjal, dan semua penyebab kematian (mis., Kokuboet al., 2008). Dengan
demikian, hipertensi adalah penyakitsistem diovaskular dan faktor risiko untuk
penyakit kardiovaskular.

Sampai baru-baru ini, praktisi perawatan kesehatan melihat sistoliktekanan darah


tidak sepenting tekanan darah diastoliksebagai kriteria untuk pengobatan
hipertensi. Klinis terbaruuji coba, bagaimanapun, mendukung rekomendasi
berbasis buktiuntuk mengobati hipertensi sistolik (juga disebut sistolik

67
terisolasihipertensi) karena risiko penyakit kardiovaskular meningkat secara
proporsional seiring meningkatnya tekanan sistolik115 mm Hg (Rashidi & Wright,
2009; Williams, Lundholm,& Sever, 2008). Ini terutama berkaitan dengan orang
dewasa yang lebih tuakarena hipertensi sistolik adalah jenis yang paling
umumhipertensi pada orang tua dan sangat terkait dengankerusakan organ, dan
peningkatan risiko penyakit kardiovaskulardan mortalitas (Duprez, 2008).

Faktor risiko untuk pengembangan hipertensi termasukusia, etnis, faktor genetik,


kelebihan berat badan, aktivitas fisik,apnea tidur, stres psikososial, dan pendidikan
rendah danstatus sosial ekonomi. Selain itu, pola diet yang
melibatkanmeningkatkan risiko hipertensi termasuk asupan lemak yang lebih
tinggidan sodium, asupan potasium yang lebih rendah, dan alkohol yang
berlebihankonsumsi (Lloyd-Jones et al., 2009). Saat pola makanJika dibandingkan
dengan kelompok budaya yang berbeda, ada hubungan yang kuat antara konsumsi
natrium harian rata-ratadan prevalensi hipertensi (Flegel & Magner, 2009).

Komite Nasional Bersama (JNC) tentang Deteksi, Eval-uasi, dan Pengobatan


Tekanan Darah Tinggi telah diterbitkantujuh laporan, dengan yang kedelapan yang
direncanakan untuk publikasi di Indonesiaakhir 2011. Karena masing-masing
laporan merevisi klasifikasikation hipertensi, suatu pengukuran tekanan darah
itudianggap normal pada 1980 dianggap patologis di2000-an. Pertimbangan lain
adalah bahwa pada satu waktu, ataskisaran normal untuk tekanan darah sistolik
adalah "100 plus usia anda ”sehingga orang berusia 84 tahun bisa memiliki darah
sistoliktekanan 184 dan tidak didiagnosis memiliki hipertensi.Perspektif ini secara
bertahap berubah dan standar yang samauntuk menentukan hipertensi berlaku
untuk orang dewasa dari segala usia. ItuJNC merekomendasikan klasifikasi
hipertensi secara bertahapuntuk menekankan risiko setiap tingkat tekanan darah
tinggisebuah faktor dalam penyakit kardiovaskular (JNC, 2003). Untuk
memperjelas secara sederhana, Tabel 20-1 mendefinisikan beberapa kriteria yang
digunakanmenurunkan tekanan darah pada orang dewasa yang lebih tua.

68
Gangguan lipid

Gangguan lipid (juga disebut dislipidemia atau hiperlipidemia adalah istilah luas
yang mencakup semua kelainan lipoprotein, Metabolisme protein, termasuk kadar
HDL yang rendah (sering disebutsebagai "kolesterol baik") dan kadar total
meningkatterol, trigliserida, atau LDL (sering disebut sebagai "pilihan buruk
-kolesterol "). Kesadaran publik akan pentingnya pengujiangangguan lipid telah
meningkat sejak awal 1980-an, ketikakolesterol dan lemak jenuh menjadi kata-kata
rumah tangga. Tahun 1990-an, banyak penelitian mulai mengkonfirmasi hubungan
positifciation antara kadar lipoprotein dan penyakit jantung koroner,dan ada
dukungan luas untuk skrining kolesteroluntuk semua orang dewasa. Selama awal
2000-an, National Choles-rogram Pendidikan terol diterbitkan dan disebarluaskan
suatuserangkaian pedoman berbasis bukti terbaru tentang manajemen
kolesterolagement, yang disebut Adult Treatment Panel (ATP) III. Inipedoman
diperbarui pada tahun 2004 dan pembaruan berlanjut sebagaibagian dari rencana
National Heart, Paru, dan Darah Institute untukmengembangkan kriteria
pengurangan risiko kardiovaskular terintegrasi. YaituATP III dan pedoman
berbasis bukti lainnya menekankannilai skrining untuk dan mengobati gangguan
lipid pada orang dewasa.Meskipun ada banyak dukungan ilmiah untuk
mengatasigangguan lipid sebagai risiko penyakit kardiovaskular, pertanyaantelah
diangkat tentang nilai skrining kolesterol danperawatan untuk orang dewasa yang
lebih tua, terutama bagi mereka yang lebih tua dari75 tahun dan mereka yang tidak
memiliki penyakit kardiovaskular. Meurut pedoman berbasis bukti saat ini,

69
penyaringan untukkelainan lipid ini cocok untuk orang tua yang belum
pernahdievaluasi, tetapi skrining berulang kurang penting untukorang dewasa yang
lebih tua yang memiliki kadar normal karena kadar lemaknyatidak mungkin
berubah setelah usia 65 (Layanan Pencegahan A.S.Gugus Tugas, 2008). Data saat
ini juga menunjukkan bahwa orang dewasa yang lebih tuaakan mendapat manfaat
secara signifikan dari terapi penurun lipid(Ducharme & Radhamma, 2008).
Apalagi karena lebih tuaorang dewasa memiliki risiko lebih besar untuk terkena
penyakit jantung koroner.mudah, mereka cenderung mendapatkan lebih dari orang
dewasa yang lebih muda daripengobatan gangguan lipid (Tugas Layanan
Pencegahan A.S. A. Force, 2008).

SindromMetabolik
Sindrom metabolik (juga disebut sindrom resistensi insulin) mengacu pada sekelompok
kondisi yang dapat diidentifikasi secara klinis, yang meliputi gangguan lipid, hipertensi, dan
resistensi insulin, yang meningkatkan risiko pengembangan kardiovaskular penyakit atau
diabetes tipe 2. Setiap kondisi adalah risiko independen untuk penyakit, tetapi ketika mereka
terjadi bersama, mereka secara tidak proporsional meningkatkan kemungkinan komplikasi,
morbiditas, dan mortalitas terkait kardiovaskular penyakit atau diabetes tipe 2 (Mazzo, 2008).
Kriteria untuk metabolisme Sindrom telah ditetapkan oleh pedoman ATP III dan juga telah
ditetapkan oleh Internasional Yayasan Diabetes dan Organisasi Kesehatan Dunia.
Berdasarkan pedoman ATP III, American Heart Association menyatakan bahwa sindrom
metabolik didiagnosis ketika tiga atau lebih faktor risiko berikut hadir (Lloyd-Jones et al.,
2009):
● Obesitas sentral, didefinisikan sebagai lingkar pinggang sama dengan atau lebih dari 40
inci (102 cm) pada pria atau 35 inci (88 cm) pada wanita
● Tekanan darah sama dengan atau lebih tinggi dari 130/85 mm Hg
● Kolesterol HDL lebih rendah dari 40 mg / dL pada pria atau sama dengan atau lebih rendah
dari 50 mg / dL pada wanita, atau terapi obat untuk gangguan lipid
● Trigliserida sama dengan atau lebih besar dari 150 mg / dL, atau pengobatan khusus untuk
hipertrigliseridemia
● Tingkat glukosa darah puasa sama dengan atau lebih besar dari 100 mg / dL, atau terapi
obat untuk peningkatan glukosa.

70
FaktorPsikososial
Faktor psikososial yang berhubungan dengan peningkatan risiko untuk mengembangkan
penyakit kardiovaskular termasuk stres, kecemasan, depresi, isolasi sosial, dukungan sosial
yang buruk, dan kepribadian karakteristik, seperti indeks kemarahan dan permusuhan yang
lebih tinggi. Salah satu fokus penelitian saat ini adalah pada hubungan antara stres yang
berkepanjangan (juga disebut stres kronis) dan risiko untuk mengembangkan kondisi
kardiovaskular kronis, seperti aterosklerosis, hipertensi, dan gangguan lipid. Studi telah
menemukan hubungan berikut antara stres dan kardiovaskular penyakit (Larzelere & Jones,
2008;Leeetal.,2010):
● Stres psikososial sebanding dengan merokok dan hipertensi sebagai faktor risiko untuk
infark miokard.
● Situasi stres yang kronis telah dikaitkan dengan peningkatan risiko penyakit arteri koroner
dan jantung yang merugikan acara
● Stres akut telah dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular akut.
● Kemarahan, kecemasan, dan stres akibat pekerjaan telah ditemukan
untuk meningkatkan risiko kejadian koroner akut.
● Tingkat tekanan emosional yang tinggi pada pasien dengan kongestif
gagal jantung dikaitkan dengan hasil yang lebih buruk.

Studi juga menunjukkan bahwa yoga, meditasi, dan pengurangan stres lainnya
metode yang efektif untuk mengurangi tekanan darah dan mencegah penyakit kardiovaskular
(Sidani & Figueredo, 2009; Sidani & Ziegler, (2008).
Depresi belum diidentifikasi sebagai faktor risiko utama untuk penyakit
kardiovaskular, tetapi merupakan faktor risiko untuk kejadian koroner berulang dan
mortalitas terkait kardiovaskular pada orang yang memiliki infark miokard. Studi juga telah
menemukan bahwa depresi mempercepat penyakit kardiovaskular pada wanita dengan
diabetes (Evangelista & McLaughlin, 2009). Dengan demikian, ini merupakan pertimbangan
penting sehubungan dengan intervensi pencegahan sekunder. Sebuah tinjauan baru-baru ini
dari studi yang digunakan untuk mengembangkan praktik berbasis bukti menemukan bahwa
prevalensi depresi selama rawat inap awal untuk infark miokard berkisar antara 7% hingga
41% (tergantung pada metode penilaian), dengan rata-rata 20%. Ulasan penelitian yang sama
ini menemukan bahwa hingga 60% pasien melaporkan depresi 1 bulan atau lebih setelah
infark pasca-miokard (Green, Dickenson, Nease, & Campos-Outcalt, 2009). Perawat yang
merawat orang dewasa yang lebih tua bahkan berbulan-bulan setelah infark miokard perlu

71
menyadari hubungan dekat ini sehingga mereka dapat memasukkan dimensi ini dalam
pendekatan holistik untuk perawatan.

FaktorKeturunandanSosialEkonomi
Keturunan memainkan peran penting dalam risiko pengembangan penyakit kardiovaskular.
Studi berbasis populasi besar menunjukkan hubungan yang kuat antara riwayat penyakit
jantung koroner prematur dan penyakit kardiovaskular yang dilaporkan, termasuk
aterosklerosis dan infark miokard, pada keturunan (Lloyd-Jones et al., 2009). Meskipun
kondisi yang diwariskan tidak dapat diubah, orang yang sadar memiliki faktor risiko ini
mungkin lebih termotivasi untuk mengatasi risiko yang dapat dimodifikasi.
Hubungan antara status sosial ekonomi dan kardiovaskular
Penyakit telah menjadi fokus penelitian selama beberapa dekade. Sebuah survei Centers for
Disease Control and Prevention (CDC) tentang orang dewasa menemukan bahwa orang-
orang dengan tingkat pendidikan yang kurang dari sekolah dua kali lebih mungkin sebagai
lulusan perguruan tinggi untuk memiliki faktor-faktor risiko ganda untuk penyakit
kardiovaskular (Lloyd-Jones et al., 2009 ). Meskipun pendapatan dan pendidikan tidak
mudah dimodifikasi, penting untuk menyadari hal itu
kondisi ini tidak hanya mempengaruhi risiko penyakit kardiovaskular tetapi juga penggunaan
tindakan pencegahan dan intervensi. Dari perspektif holistik, perawat perlu
mempertimbangkan faktor-faktor ini ketika merencanakan intervensi pendidikan kesehatan
untuk mengatasi kebutuhan individual dari orang dewasa yang lebih tua.

Risiko untuk Penyakit Kardiovaskular dalam Kelompok Wanita dan Minoritas


Karena penyakit kardiovaskular telah lama dipandang sebagai penyakit pria paruh
baya, penelitian awal difokuskan terutama, atau secara eksklusif, pada pria. Perspektif ini
mulai berubah selama 1990-an ketika studi menunjukkan bahwa meskipun prevalensi
penyakit kardiovaskular lebih rendah pada wanita yang lebih muda dibandingkan pria yang
lebih muda, itu meningkat secara dramatis setelah usia 50 tahun pada wanita. Berikut statistik
dari nasional database adalah indikator tingkat kardiovaskular morbiditas dan mortalitas di
kalangan wanita di Amerika Serikat (McSweeney, Cleves, Zhao, Lefler, & Yang, 2010;
Weiss, 2009):
● Penyakit jantung dan stroke bersamaan menyumbang 41,3% dari semua kematian pada

72
wanita; ini setara dengan seorang wanita yang sekarat penyakit kardiovaskular setiap menit
setiap hari.
● Penyakit kardiovaskular mempengaruhi 36,6% wanita, dengan prevalensi terkait usia
meningkat dari 36,2% untuk mereka antara usia 45 dan 54 tahun hingga 68,5% untuk mereka
berusia 65 tahun ke atas.
● Meskipun banyak wanita menganggap kanker payudara sebagai kanker mereka ancaman
terbesar, penyakit kardiovaskular menewaskan 12 kali lipat banyak wanita setiap tahun
menderita kanker payudara.
● Tingkat tahunan kejadian kardiovaskular utama pertama serupa untuk pria dan wanita,
tetapi terjadi sekitar 10 tahun kemudian untuk wanita; pada usia 75 tahun, risiko seumur
hidup untuk penyakit kardiovaskular sama pada pria dan wanita.
● 38% wanita versus 25% pria meninggal dalam 1 tahun setelahnya serangan jantung
pertama.
● Wanita lebih cenderung memiliki manifestasi yang lebih halus penyakit arteri koroner
(mis., infark miokard), sehingga mereka cenderung mengejar evaluasi yang tepat atau untuk
didiagnosis secara akurat.
● Wanita dengan penyakit kardiovaskular lebih kecil kemungkinannya laki-laki untuk
diperlakukan sesuai dengan pedoman berbasis bukti, dan tingkat kelangsungan hidup mereka
lebih buruk. Seiring dengan tumbuhnya pengakuan akan aspek unik dari penyakit
kardiovaskular pada wanita, telah meningkat fokus pada beban yang tidak proporsional
terkait kardiovaskular kematian dan kecacatan di antara populasi minoritas. Nasional data
menunjukkan bahwa Afrika Amerika memiliki risiko lebih tinggi penyakit jantung dan
hipertensi yang lebih parah daripada orang kulit putih. Indian Amerika, Meksiko Amerika,
Asli Hawaii, dan beberapa orang Amerika keturunan Asia adalah kelompok lain di mana
angka itu penyakit kardiovaskular lebih tinggi dari pada kulit putih. Selain memiliki lebih
banyak faktor risiko, orang Afrika-Amerika memiliki angka kematian tertinggi yang
disesuaikan dengan usia untuk penyakit kardiovaskular, dan mereka lebih mungkin memiliki
risiko dibandingkan kelompok lain faktor-faktor, seperti diabetes, obesitas, hipertensi, dan
kelainan lipid. Satu studi tentang faktor-faktor yang terkait dengan perbedaan hasil pasien
hitam dan putih setelah serangan jantung dikaitkan perbedaan hasil pada pasien kulit hitam
memiliki risiko lebih buruk faktor, termasuk diabetes, kadar kolesterol tinggi, darah tinggi
tekanan, dan status sosial ekonomi yang lebih rendah (Spertus et al., 2009).

73
Studi lain menyimpulkan bahwa ada kebutuhan yang jelas untuk ditingkatkan metode
mengidentifikasi dan mengobati dislipidemia secara efektif di Indonesia Afrika-Amerika
(Taylor et al., 2009).
Studi juga berfokus pada variasi kardiovaskular faktor risiko dan intervensi di orang
Amerika Kepulauan Asia / Pasifik. Satu studi menemukan bahwa mungkin ada perbedaan
keduanya respons terapeutik dan efek samping dari antihipertensi obat-obatan antara orang
Asia / Kepulauan Pasifik dan Amerika putih (Watson, 2009).

KONSEKUENSI FUNGSIONAL YANG MEMPENGARUHI

KESEHATAN KARDIOVASKULER

Orang dewasa tua yang sehat tidak mengalami kardiovaskular yang signifikan efek ketika
mereka beristirahat, tetapi, ketika mereka terlibat dalam latihan, fungsi kardiovaskular
mereka kurang efisien. Namun, lansia yang memiliki faktor risiko penyakit kardiovaskular
cenderung mengalami konsekuensi fungsional negatif karena bergaul dengan proses
patologis. Bagian ini mengulas konsekuensi fungsional pada orang tua yang tidak memiliki
faktor risiko, dan bagian tentang penilaian dan intervensi keperawatanfokus pada faktor risiko
yang dapat diatasi untuk mencegah patogenproses logika yang umumnya mempengaruhi
fungsi kardiovaskular.

1. Efek pada Fungsi Jantung


Cardiac output, jumlah darah yang dipompa oleh jantung permenit, adalah ukuran
penting dari kinerja jantung menjadikarena itu mewakili kemampuan jantung untuk
memenuhi oksigen daei tubuh. Meskipun berkurangnya curah jantungumum pada
orang dewasa yang lebih tua, ini dikaitkan terutama dengan patogenlogika, daripada
terkait usia, kondisi. Dengan pengecualiandari sedikit penurunan curah jantung saat
istirahat pada wanita yang lebih tua,orang dewasa tua yang sehat tidak mengalami
penurunan jantungkeluaran.

2. Efek pada Denyut Jantung dan Tekanan Darah


Denyut nadi normal untuk orang dewasa yang sehat sedikit lebih rendahdaripada itu
untuk orang dewasa yang lebih muda, tetapi orang dewasa yang lebih tua cenderung
memilikiaritmia ventrikel dan supraventrikular tidak berbahaya karenaperubahan
terkait usia yang memengaruhi mekanisme konduksi jantung. Fibrilasi atrium —
aritmia yang lebih seriusumumnya terjadi pada orang dewasa yang lebih tua, tetapi ini
terkait dengankondisi patologis (mis., hipertensi, penyakit arteri koronermudah)
daripada dengan perubahan terkait usia. Di sebagian besar populasiDi seluruh dunia,
ada peningkatan linier terkait usiapada tekanan darah sistolik dari usia 30 hingga 40
tahun, dan iniperubahan lebih curam untuk wanita daripada pria. Ada juga penurunan
progresif dalam tekanan diastolik mulai sekitarusia 50 tahun (Williams et al., 2008).

74
3. Efek pada Respon terhadap Latihan
Konsekuensi fungsional yang burukdapat memengaruhi kardiovaskularkinerja pada
orang dewasa tua yang sehat adalah respons adaptif yang tumpul terhadap latihan
fisik. Stres fisiologis, seperti itu terkait dengan olahraga, meningkatkan tuntutan pada
sistem kardiovaskular empat hingga lima kali tingkat basal. Iturespon adaptif
melibatkan banyak aspek fungsi fisiologis, termasuk pernapasan, kardiovaskular,
muskuloskeletaltal, dan sistem saraf otonom. Denyut jantung maksimumdicapai
selama latihan sangat menurun, dan puncaknyakapasitas olahraga dan penurunan
konsumsi oksigen semakin tuaorang dewasa. Rekondisi fisik dan akun faktor risiko
lainnyauntuk beberapa penurunan ini. Demikian pula, penelitian mengkonfirmasi
bahwaserapan oksigen imum selama latihan berkurang dengan penuaantetapi
dipengaruhi secara lebih luas oleh faktor-faktor risiko, sepertilonged bedrest
(McGavock et al., 2009).

4. Efek pada Sirkulasi


Konsekuensi fungsional juga dapat mempengaruhi sirkulasi ke otak dan ekstremitas
bawah. Misalnya terkait usia perubahan mekanisme kardiovaskular dan baroreflex
dapat mengurangi aliran darah otak sampai batas tertentu pada orang dewasa tua yang
sehat dan sebagian besar pada orang dewasa yang lebih tua yang menderita diabetes,
hiperpertensi, kelainan lipid, dan penyakit jantung. Selain itu, peningkatan kerutan
dan pelebaran pembuluh darah penurunan efisiensi katup, menyebabkan gangguan
venakembali dari ekstremitas bawah. Akibatnya, orang dewasa yang lebih tua rentan
terhadap edema stasis kaki dan pergelangan kaki,dan lebih mungkin untuk stastis
vema membengkak.

KONDISI PATOLOGI YANG MEMPENGARUHI KESEHATAN KARDIOVASKULER:


ORTHOSTATIK DAN HIPOTENSI POSTPRANDIAL

Hipotensi ortostatik dan postprandial adalah kondisi yang sering mempengaruhi


fungsi kardiovaskular pada orang dewasa yang lebih tua karena kombinasi perubahan terkait
usia (mis., penurunan sensitivitas baroreflex) dan faktor risiko. Kondisi kardiovaskukar ini
tidak terlalu serius di dalam diri mereka, tetapi di bahas di bab ini karena mereka akan
memicu kearah konsekuensi yang serius. Apalagi mereka sering dilupakan dan itu jelas
berada dalam ranah keperawatan untuk mengidentifikasi hipotensi pada orang dewasa yang
lebih tua (lihat bagian Penilaian Keperawatan).

Hipotensi ortostatik (juga disebut hipotensi postural) didefinisikan sebagai


pengurangan tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik masing-masing setidaknya 20
atau 10 mm Hg, dalam 1 hingga 4 menit berdiri setelah berbaring setidaknya 5 menit. Studi

75
telah menemukan bahwa 20% dari orang dewasa yang tinggal di komunitas dan 30% hingga
50% dari mereka di panti jompo memiliki hipotensi ortostatik (Mussi et al.,2009). Meskipun
hipotensi ortostatik dapat terjadi pada lansia yang sehat, namun lebih mungkin terjadi pada
mereka yang memiliki faktor-faktor risiko, seperti kondisi patologis dan pengobatan yang
merugikan. Selain itu, risikonya bisa meningkat dengan jumlah total obat yang digunakan
secara teratur dan dengan kombinasi berbagai kondisi, seperti penyakit Parkinson dan obat
anti-Parkinson (Hiitola, 2009).

Satu studi menemukan bahwa usia, pra-hipertensi, hipertensi, dan diabetes mellitus
adalah penentu penting ortostatik hipotensi pada populasi yang tinggal di komunitas orang
dewasa (Wu, Yang, Lu, Wu, & Chang, 2008). Hipotensi ortostatik dapat tanpa gejala atau
disertai gejala seperti kelelahan, pusing, penglihatan kabur, atau kesulitan kognitif. Meskipun
tampaknya kondisi ini relatif tidak berbahaya, itu dapat mempengaruhi keamanan dan
kualitas kehidupan dan mengarah pada konsekuensi fungsional negatif yang serius. Studi
telah menemukan bahwa itu dapat menyebabkan hingga 30% dari semua kejadian dan
dikaitkan dengan peningkatan kematian secara keseluruhan
dan peningkatan risiko jatuh dan penyakit kardiovaskular (Farrell, 2009; van Hensbroek et
al., 2009; Verwoert et al., 2008). Selain itu, hipotensi adalah salah satu dari sedikit kondisi
neurologis yang dapat diobati yang berisiko jatuh (Arbogast, Alshekhlee, Hussain,
McNeeley, & Chelimsky, 2009).

Hipotensi postprandial, didefinisikan sebagai tekanan darah sistolik Pengurangan 20


mm Hg atau lebih dalam 2 jam makan, terjadi pada 34% hingga 65% orang dewasa yang
lebih tua (Jian & Zhou, 2008).

Faktor resiko Hipotensi

Risiko untuk Hipotensi Ortostatik


Proses patologis
● Hipertensi, termasuk hipertensi sistolik terisolasi
● Penyakit Parkinson
● Gangguan serebrovaskular
● Diabetes
● Anemia
● Disfungsi otonom
● Aritmia

76
● Penurunan volume (mis., Dehidrasi)
● Ketidakseimbangan elektrolit (mis., Hiponatremia, hipokalemia)

Obat-obatan
● Antihipertensi
● Antikolinergik
● Fenotiazin
● Antidepresan
● Agen Anti-Parkinson
● Vasodilator
● Diuretik
● Alkohol

Risiko untuk Postprandial Hypotension


Proses patologis
● Hipertensi sistolik
● Diabetes mellitus
● Penyakit Parkinson
● Atrofi multisistem

Obat-obatan
● Diuretik
● Obat antihipertensi yang dikonsumsi sebelum makan

Perubahan fisiologis yang dapat menyebabkan hipotensi postprandial termasuk gangguan


mekanisme baroreflex, tingkat pengosongan lambung yang lebih cepat, pelepasan hormon
gastrointestinal vasoaktif, dan gangguan regulasi otonom perfusi gastrointestinal.
Karbohidrat, dan glukosa khususnya, dapat berkontribusi pada pengembangan hipotensi
postprandial.Orang dewasa yang lebih tua yang jatuh, lemah, atau pusing harus dievaluasi
untuk hipotensi postprandial karena bisa mengakibatkan stroke dan penyakit jantung koroner
jika itu tidak dikenali dan diobati (Jian & Zhou, 2008).

77
BAB III

PROSES KEPERAWATAN

III.1 Kasus

78
Seorang lansia laki-laki ( Tn. I ) berusia 78 tahun post stroke dan afasia sejak 2 tahun
yang lalu. Lansia tinggal di panti jompo. Hasil pengkajian perawat terhadap care giver :
lanisa dibawa oleh keluarganya karena keluarganya tidak mampu untuk mengurusi beliau,
lalu tetangga yang merasa kasihan melihat lansia ini sakit dan terlantar membawanya ke panti
jompo. Selama disini lansia sering marah-marah dan melempar benda-benda di sekitarnya.
Lansia kesal jika petugas tidak paham apa yang diinginkan lansia. Care giver dan petugas
panti sering berkomunikasi dengan nada tinggi, cepat, berteriak dan menggunakan kalimat
yang panjang dengan posisi berdiri di samping lansia. Lansia mengalami kelumpuhan di
extremitas kiri, sehingga banyak aktivitas lansia dibantu oleh care giver. Makanan disajikan
dipotong-potong kecil, lansia mampu makan walaupun agak lambat; mandi, menggosok gigi
dan berpakaian dibantu, biasanya lansia di dorong dengan kursi roda ke kamar mandi, care
giver mengatakan lansia memakai diapers karena sudah tidak bisa merasakan sensasi ingin
berkemih atau BAB (Barthel Index : 5; Katz Index : 1).

Care giver mengatakan lansia tidak mau mengikuti senam ataupun kegiatan lain yang
ada di panti. Lansia masih sering merokok jika teman-temannya ada yang merokok, apabila
dilarang lansia melempar barang yang ada di dekatnya. Lansia sejak muda sudah merokok
dan seorang perokok berat. Lansia pernah jatuh dari kursi roda 3 bulan yang lalu, saat
berpisah dari kursi roda ke tempat tidur. Lansia terpeleset karena lantai licin dan lansia gemar
menggunakan sandal yang lebih besar dari ukuran kakinya dan sol yang tipis. Hasil
pemeriksaan TTV : TD 180/100 mmHg; N : 89 x/mnt; S : 36,7oC; RR : 13 x/mnt.

Perawat berencana untuk memberikan terapi ROM pada lansia ( Tn. I ) karena saat
melakukan pengkajian care giver mengatakan belum pernah memberikan terapi ROM pada
lansia. Perawat juga berencana untuk memberi motivasi pada lansia agar lansia dapat lebih
aktif dalam mengikuti kegiatan yang ada di panti. Saat mulai berinteraksi dengan lansia ( Tn.
I ) sikap yang ditunjukkan lansia kepada perawat sama seperti kepada care giver dan petugas
( suka marah-marah ) tapi walaupun begitu perawat tetap bersabar dan memberikan
pelayanan terbaiknya untuk lansia ( Tn.I ), perawat juga selalu menepati janji bertemunya
tepat waktu agar kepercayaan antara lansia dan perawat semakin baik..

III.2 Pengkajian

1. Identitas diri
a. Nama : Tn. I
b. Umur : 78 tahun
79
c. Alamat : limo, depok
d. Pendidikan : SD
e. Jenis kelamin : Laki-laki
f. Suku : Betawi
g. Agama : Islam
h. Status perkawinan : Duda
i. Tanggal masuk panti : 19 Septemer 2018
j. Tanggal pengkajian : 28 April 2019

2. Status kesehatan saat ini


a. Klien mengalami afasia sejak 2 tahun lalu
b. Klien memiliki hipertensi d.d TD 180/100 mmHg
c. Klien sering marah-marah pada care giver jika care giver tidak paham keinginannya
d. Klien mengalami kelumpuhan extremitas kiri
e. Sehari-hari klien beraktivitas dengan kursi roda
f. Klien jatuh dari kursi roda 3 bulan lalu saat ingin pindah dari kursi roda ke tempat
tidurnya
g. Daily activity klien lebih banyak dibantu oleh care giver ( Barthel index : 5 =
ketergantungan berat dan katz index : 1 )

3. Riwayat kesehatan dahulu


a. Penyakit : Klien dengan post stroke dan afasia sejak 2 tahun lalu
b. Kebiasaan: Klien perokok berat sejak usia muda

4. Tinjauan sistem
a. Keadaan umum : CM (E4V5M6)
b. Integumen : kulit terlihat keriput, warna kulit sawo matang
c. Kepala : bentuk bulat, distribusi rambut merata, warna rambut hitam
keputihan
d. Mata : simetris, sklera berwarna putih, konjungtiva tidak anemis
e. Telinga : simetris, tampak bersih, pendengaran baik, tidak ada benjolan,
tidak ada cairan keluar
f. Mulut & tenggorokan : mulut bersih, gigi sudah banyak yang tanggal tersisa 8 buah,
tidak ada pembesaran kelenjar tiroid

80
g. Leher : tidak ada pembesaran vena jugularis
h. Dada : simetris, tidak ada pembengkakan
i. Sistem pernapasan : pernafasan terdapat suara rongki, N : 89 x/mnt
j. Sistem kardiovaskular : TD 180/100 mmHg
k. Sistem gastrointestinal : tidak ada masalah, terdengar suara bising usus, makan 3x
sehari, BAB 1x sehari
l. Sistem perkemihan : BAK lancar 5x sehari, tidak ada inkontinensia urin

5. Pengkajian psikososil dan spiritual


a. Psikososial
Kemampuan bersosialisasi kurang karena keterbatasan klien dalam berbicara akibat
afasia yang dialami sejak 2 tahun lalu
b. Masalah emosional
kemampuan sosial kurang, klien suka marah-marah dan melempar barang disekitarnya
pada care giver, telebih jika keinginannya tidak dipahami oleh care giver
c. Spiritual
Klien beragama islam dan melakukan sholat lima waktu di panti.

6. Pengkajian fungsional klien


a. Katz index
Klien termasuk dengan kategori F karena tidak bisa melakukan aktifitas kehidupan sehari
hari secara mandiri kecuali makan sendiri walaupun lambat ( katz indek : 1 )
b. Barthel index
Klien termasuk kategori ketergantungan berat dalam melakukan aktifitas hidup sehari-
hari ( barthel index : 5 )

III.3 Analisa Data


DATA MASALAH

DS: Hambatan Mobilitas


Fisik
 Care giver mengatakanlansiamemakai diapers
karenasudahtidakbisamerasakansensasiinginberkemihatau
BAB.
 Care giver
mengatakanlansiatidakmaumengikutisenamataupunkegiatan

81
lain yang ada di panti.
DO:

 Lansiamengalamikelumpuhan di extremitaskiri,
sehinggabanyakaktivitaslansiadibantuoleh care giver.
 Mandi, menggosok gigi dan berpakaian dibantu.
 Biasanyalansia di dorongdengankursirodakekamarmandi.
 Barthel Index : 5; Katz Index : 1
DS: Perilaku Kesehatan
Cenderung Berisiko
 Lansia sudah mulai merokok sejak muda
DO:

 Lansia seorang perokok berat


 Lansia masih sering merokok jika ada teman-temannya
yang merokok
DS: Hambatan Komunikasi
Verbal
 Riwayat post stroke dan afasia
 Lansiakesaljikapetugastidakpahamapa yang
diinginkanlansia.

DO:

 Lansiaseringmarah-marahdanmelemparbenda-
benda di sekitarnya.
 Care giver dan petugas panti sering
berkomunikasi dengan nada tinggi, cepat,
berteriak dan menggunakan kalimat yang
panjang dengan posisi berdiri di samping
lansia.

DS: Risiko Jatuh

 Lansiapernahjatuhdarikursiroda 3 bulan yang


lalu, saatberpisahdarikursirodaketempattidur.
Lansiaterpelesetkarenalantailicindanlansiagem
armenggunakan sandal yang
lebihbesardariukurankakinyadan sol yang tipis.

DO:

 Lansia menggunakan kursi roda

82
Diagnosa Keperawatan

1. Hambatan mobilitas fisik


2. Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko
3. Hambatan komunikasi verbal
4. Resiko Jatuh

83
III.4 Rencana Asuhan Keperawatan Keluarga

No. Diagnosa NOC NIC

1. Hambatan Tujuan umum : 1. Terapi latihan:


Mobilitas Fisik Setelah dilakukan tindakan ambulasi (438)
keperawatan selama 3x24 jam lansia  Terapkan/sedi
diharapkan mampu melakukan akan alat bantu
gerakan fisik secara mandiri dan (kursi roda,
terarah tongkat) untuk
ambulasi, jika
Tujuan Khusus : pasien tidak
1. Ambulasi : kursi roda (76) stabil
 Perpindahan ke dan  Instruksikan
dari kursi roda pasien/caregiv
dipertahankan pada er mengenai
sangat terganggu (1) pemindahan
dan ditingkatkan ke dan teknik
cukup terganggu (3) ambulasi yang
 Menjalankan kursi aman
roda dengan aman  Bantu pasien
dipertahankan pada untuk berdiri
sangat terganggu (1) dan ambulasi
dan ditingkatkan ke dengan jarak
sedikit terganggu (4) tertentu dan
 Menjalankan kursi dengan
roda dalam jarak sejumlah staf
dekat dipertahankan tertentu
pada sangat 2. Pengaturan posisi :
terganggu (1) dan kursi roda (307)
ditingkatkan ke  Pilih kursi
sedikit terganggu (4) roda yang
2. Kemampuan berpindah sesuai untuk
(124) pasien
 Berpindah dari  Cek posisi
tempat tidur ke kursi pasien dikursi
dipertahankan pada roda saat
sangat terganggu (1) pasien duduk
dan ditingkatkan pada bantalan
pada cukup yang dipilih
terganggu (3) dan pakai alas
 Berpindah dari kursi kaki yang
roda ke toilet sesuai
dipertahankan pada  Instruksikan
sangat terganggu (1) pasien
dan ditingkatkan ke mengenai
cukup terganggu (3) bagaimana

84
 Berpindah dari toilet cara berpindah
ke kursi roda dari tempat
dipertahankan pada tidur ke kursi
sangat terganggu (1) roda, sesuai
dan ditingkatkan ke kebutuhan
cukup terganggu (3) 3. Bantuan perawatan
3. Partisipasi dalam latihan diri (79)
(328)  Pertimbangkan
 Merencanakan usia pasien
latihan yang tepat ketika
dengan tenaga meningkatkan
kesehatan sebelum aktivitas
memulai latihan perawatan diri
dipertahankan pada  Monitor
tidak pernah kemampuan
menunjukkan (1) dan merawat diri
ditingkatkan pada secara mandiri
kadang-kadang  Berikan
menunjukkan (3) bantuan
 Mengidentifikasi sampai pasien
hambatan dalam mampu
program latihan meakukan
dipertahankan pada perawatan diri
tidak pernah mandiri
menunjukkan (1) dan  Dorong
ditingkatkan ke kemandirian
kadang-kadang pasien, tapi
menunjukkan (3) bantu ketika
 Menggunakan pasien tak
strategi untuk mampu
menghadapi melakukannya
hambatan dalam 4. Terapi aktivitas (431)
olahraga  Bantu klien
dipertahankan pada untuk tetap
tidak pernah fokus pada
menunjukkan (1) dan kekuatan,
ditingkatkan ke deiabndingkan
sering menunjukkan dengan
(4) kelemahan
4. Toleransi terhadap aktivitas  Bantu dengan
(582) aktivitas
 Kemudahan dalam secara teratur
melakukan aktivitas (ambulasi,
hidup harian (ADL) berpindah,dan
dipertahankan pada kebersihan
sangat terganggu (1) diri) sesuai
dan ditingkatkan ke dengan
cukup terganggu (3) kebutuhan

85
2. Perilaku Tujuan Umum : 1. Identifikasi risiko (115)
Kesehatan  Kaji ulang data yang
Cenderung Setelah dilakukan tindakan didapatkan dari
Berisiko keperawatan selama 3x 24 jam, pengkajian risiko
diharapkan tidak ada hambatan pada secara rutin
komunikasi verbal pasien  Instruksikan faktor
risiko dan rencana
untuk mengurangi
faktor risiko
Tujuan Khusus :  Diskusikan dan
rencanakan
1. Perilaku patuh : Aktivitas yang aktivitas-aktivitas
disarankan (hal : 474) pengurangan risiko
berkolaborasi
 Berpartisipasi dalam aktivitas dengan individu atau
fisik sehari-hari yang ditentukan kelompok
dipertahankan pada tidak
pernah menunjukkan 2. Bantuan penghentian
ditingkatkan pada sering merokok (77)
 Catat status merokok
menunjukkan (1-4)
saat ini dan riwayat
2. Kontrol risiko merokok
 Mengenali kemampuan untuk  Tentukan kesiapan
merubah perilaku pasien untuk belajar
dipertahankan pada tidak berhenti merokok
pernah menunjukkan (1) dan  Bantu pasien untuk
ditingkatkan ke sein mengidentifikasi
 Memonitor faktor risiko di aspek psikososial
lingkungan dipertahankan (misalnya perasaan
pada tidak pernah positif,dan negatif
menunjukkan (1) dan yang terkait dengan
ditingkatkan ke sering merokok) yang
menunjukkan (4) mempengaruhi
 Memodifikasi gaya hidup perilaku merokok
dipertahankan pada tidak  Bantu pasien untuk
pernah menunjukkan (1) dan mengembangkan
ditingkatkan ke sering rencana berhenti
menunjukkan merokok yang
membahas aspek
3. Orientasi kesehatan (Hal : 324) psikososial yang
 Fokus pada mmenjaga perilaku mempengaruhi
perilaku merokok
kesehatan dipertahankan pada
sangat lemah ditingkatkan pada 3. Modifikasi perilaku
kuat (1-4) (226)
 Pilah pilah perilaku
 berhenti merokok (hal : 460) menjadi bagian bagian
kecil untuk dirubah
 Mengidentifikasi konsekuensi
menjadi unit perilaku
negatif dari penggunaan rokok

86
dipertahankan pada tidak yang teruku (misalnya
pernah menunjukkan berhenti merokok)
ditingkatkan pada sering  Penggunaan periode
menunjukkan (1-4) waktu yang spesifik
saat mengukur unit
 Mengidentifikasi hambatan perilaku(misalnya
untuk berhenti merokok jumlah rokok yang
dihisap setiap hari)
dipertahankan pada tidak
 Tentukan perubahan
pernah menunjukkan perubahan perilaku
ditingkatkan pada sering dengan
menunjukkan (1-4) membandingkan
perilaku dasar
 Berhenti merokok sebelumnya
dipertahankan pada tidak dibandingkan dengan
pernah menunjukkan perilaku setelah
ditingkatkan pada sering intervensi.
menunjukkan (1-4)

3. Hambatan Tujuan Umum : 1. Mendengar aktif (hal : 223)


Komunikasi
Verbal Setelah dilakukan tindakan  Fokus penuh kepada
keperawatan selama 3x24 jam, interaksi yang terjalin
diharapkan tidak ada hambatan pada dengan menekan
komunikasi verbal pasien perasaan menghakimi,
bias, asumsi maupun
menggunakan pendapat
Tujuan Khusus : personal serta distraksi-
distraksi lainnya.
1. Komunikasi : Mengekspresikan
(Hal : 230)  Tunjukkan kesadaran dan
rasa sensitif terhadap
 Menggunakan bahasa lisan emosi yang ditunjukkan
:vokal dipertahankan pada klien.
sangat terganggu ditingkatkan
ke sedikit terganggu (1-4)  Sadari tempo suara,
volume, kecepatan,
 Kejelasan berbicara maupun tekanan suara.
dipertahankan pada sangat
terganggu ditingkatkan pada  Berespon segera
sedikit terganggu (1-4) sehingga menunjukkan
pemahaman terhadap
2. Komunikasi : Penerimaan (Hal : pesan yang diterima (dari
231) pasien)

 Interpretasi bahasa lisan  Verifikasi pemahaman


dipertahankan pada sangat mengenai pesan-pesan
terganggu ditingkatkan pada yang disampaikan

87
sedikit terganggu (1-4) dengan menggunakan
pertanyaan maupun
3. Status kenyamanan : memberikan umpan
Sosiokultural (hal : 532) balik.
 Mampu mengkomunikasikan 2. Peningkatan komunikasi :
kebutuhan dipertahankan pada Kurang bicara (hal : 335)
sangat terganggu ditingkatkan
pada sedikit terganggu (1-4)  Monitor pasien terkait
dengan perasaan frustasi,
4. Kepuasan klien : Komunikasii kemarahan, depresi, atau
(hal :175) respon-respon lain
 Staf menggunakan komunikasi disebabkan karena
yang tidak menghakimi adanya gangguan
dipertahankan pada tidak puas kemampuan berbicara.
ditingkatkan pada sangat puas  Kenali emosi dan peilaku
(1-4) fisik (pasien) sebagai
 Nilai-nilai personal bentuk komunikasi
dipertimbangkan dalam (mereka).
komunikasi dipertahankan pada  Sediakan metode
tidak puas ditingkatkan pada alternatif untuk
sangat puas (1-4) berkomunikasi dengan
5. Keseimbangan alam perasaan (hal berbicara (misalnya,
:191) menulis di meja,
menggunakan kartu,
 Menunjukkan alam persaan kedipan mata, papan
yang stabil dipertahankan pada komunikasi dengan
dipertahankan pada tidak gambar dan huruf, tanda
pernah menunjukkan dengan tangan atau
ditingkatkan pada sering postur, dan menggunakan
menunjukkan (1-4) komputer).

 Sesuaikan gaya
komunikasi untuk
memenuhi kebutuhan
klien (misalnya, berdiri I
depan pasien saat
berbicara, mendengarkan
dengan penuh perhatian,
menyampaikan satu ide
atau pemikiran pada satu
waktu, bicara pelan
untuk menghindari

88
berteriak, gunakan
komunikasi tertulis, atau
bantuan keluarga dalam
memahami pembicaraan
pasien).

 Ulangi apa yang


disampaikan pasien
untuk menjamin akurasi.

 Ungkapkan pertanyaan
dimana pasien dapat
menjawab dengan
menggunakan jawaban
sederhana ‘ya’ atau
‘tidak’, waspada akan
pasien dengan kondisi
expressive aphasia yang
mungkin memberikan
respon otomatis yang
tidak tepat.

3. Manajemen lingkungan
(hal : 191)

 Individualisasikan
rutinitas sehari-hari
untuk memenuhi
kebutuhan pasien.

4. Menghadirkan diri (hal :


223)

 Tunjukkan perilaku
menerima

 Bina rasa percaya dan


penghargaan positif

 Dengarkan apa yang


menjadi perhatian pasien

4. Risiko jatuh Tujuan Umum : 1.Pencegahan jatuh hal 274


 Identifikasi perilaku dan
Setelah dilakukan tindakan
faktor yang
keperawatan 3x24 jam diharapkan mempengaruhi resiko
jatuh
resiko jatuh pada klien tidak terjadi
 Identifikasi karakteristik

89
Tujuan Khusus : dari lngkungan yang
mungkin meningkatkan
1. Pengetahuan: Pencegahan
potensi jatuh
jatuh hal 411  Letakan benda – benda
yang mudah dijangkau
 Penggunaan alat bantu
oleh pasien
yang benar dipertahankan  Gunakan teknik yang
pada pengetahuan sedang tepat untuk
(3) dan ditingkatkan ke memindahkan pasien
pengetahuan sangat banyak dari dan ke kursi roda,
(5) tempat tidur, toilet, dll.
 Penggunaan Alas kaki 2.Manajemen Lingkungan:
yang tepat dipertahankan Keselamatan hal 193
pada pengetahuan sedang  Identifikasi hal hal yang
(3) dan ditingkatkan ke membahayakan di
pengetahuan sangat banyak lingkungan
(5)  Modifikasi lingkungan
 Latihan untuk mengurangi untuk meminimalkan hal
resiko jatuh dipertahankan yang berbahaya dan
pada pengetahuan sedang beresiko
(3) dan ditingkatkan ke  Bantu pasien saat
pengetahuan sangat banyak melakukan perpindahan
(5) ke lingkungan yang lebih
aman.
2. Ambulasi: kursi roda hal 76 3.Bantuan perawatan diri hal
 Perpindahan ke dan dari 79
kursi roda dipertahankan  Monitor kemampuan
pada banyak terganggu (2) perawatan diri secara
dan ditingkatkan tidak mandiri
terganggu (5)  Bantu pasien menerima
 Menjalankan kursi roda kebutuhan terakait
dengan aman dengan kondisi
dipertahankan pada sedikit ketergantungan pasien.
terganggu (4) dan  Dorong pasien untuk
ditingkatkan ke tidak melakukan aktivitas

90
terganggu (5) normal sehari-hari
sampai batas
3. Perilaku pencegahan jatuh kemampuan pasien.
hal 480 4. Terapi Latihan:
 Menempatkan penghalang Keseimbangan hal
untuk mencegah jatuh 438
dipertahankan pada jarang  Tentukan
menunjukkan (2) dan kemampuan
ditingkatkan ke tsering pasien untuk
menunjukkan (4) berpartisipasi
 Menggunakan prosedur dalam kegiatan
pemindahan yang aman yang
dipertahankan pada jarang membutuhkan
menunjukkan (2) dan keseimbangan
ditingkatkan ke sering  Kolaborasi dengan
menunjukkan (4) terapis fisik,
 Menggunakan alat bantu okupasional dan
dengan benar terapis rekreasi
dipertahankan pada dalam
kadang-kadang mengembangkan
menunjukkan (3) dan dan melaksanakan
ditingkatkan ke sering program latihan
menunjukkan (4) yang sesuai.
 Berikan
kesempatan untuk
mendiskusikan
faktor-faktor yang
mempengaruhi
ketakutan akan
jatuh.
 Sediakan
lingkungan yang
aman untuk

91
latihan.
5. Peningkatan latihan:
latihan kekuatan hal
339
 Lakukan skrining
kesehatan sebelum
memulai latihan
untuk
mengidentifikasi
ressiko dengan
skala kesiapan
latihan fisik
terstandar.
 Beri informasi
mengenai jenis
latihan daya tahan
otot yang bisa
dilakukan
 Modifikasi
gerakan dan
metode dalam
mengaplikasikan
resistensi untuk
pasien yang harus
tetap duduk di
kurdi maupun di
tempat tidur.
 Instruksikan untuk
melakukan sesi
latihan pada
kelompok otot
tertentu secara
berselang-seling

92
setiap harinya
untuk
memfasilitasi
adaptasi otot
terhadap latihan.

93
BAB IV

PENUTUP

V.1 Kesimpulan

Menurut WHO, Stroke adalah tanda tanda klinis yang berkebang cepat akibat
gangguan fungsi otak fokal atau global karena adanya sumbatan atau pecahan
pembuluh darah di otak dengan gejala gejalan yang berlangsung selama 24 jam atau
lebih.
Afasia adalah gangguan pada perolehan bahasa yang disebabkan karena
kerusakan otak yang mengakibatkan ketidakmampuan dalam memformulasikan
pemahaman bahasa dan penggunaan bahasa (Wiig dan Semel).
Hipertensi didefinisikan oleh Joint National Commitee on Detection,
Evaluation and Treatment of High Blood Pressure (JNC) sebagai tekanan yang lebih
tinggi dari 140/90 mmHg dan diklasifikasikan sesuai derajat keparahannya,
mempunyai rentang dari tekanan darah (TD) normal tinggi sampai hipertensi maligna.
Keadaan ini dikategorikan sebagai primer/esensial (hampir 90 % dari semua kasus)
atau sekunder, terjadi sebagai akibat dari kondisi patologi yang dapat dikenali, sering
kali dapat diperbaiki.
Jatuh merupakan masalah fisik yang sering terjadi pada lansia, dengan
bertambahnya usia kondisi fisik, mental, dan fungsi tubuh pun menurun. Jatuh dan
kecelakaan pada lansia merupakan penyebab kecacatan yang utama.

V.2 Saran

Makalah sangat jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu saya mengharapkan
kritik dan saran dari dosen pembimbing dan teman – teman sesama mahasiswa. Dan
lebih memperhatikan masalah masalah dalam keluarga.
DAFTAR PUSTAKA

Kirshner HS, Jacobs DH. eMedicine Neurology Specialties: Aphasia. 2009.


Wikipedia. The Free Encyclopedia: Aphasia. 2017.
Black, Joyce M. 2014. Keperawatan Medikal Bedah. Buku 3 edisi 8. Elsevier.
Feldman, Fabio dan Habib Chaudhury. (2008). Falls and Physical Environtment: A Review
and A New Multifactoral Falls-Risk Conceptual Framework.
Basuki, A., & Dian, S. 2009. Kegawatdaruratan Neurologi. Bandung: Ilmu Penyakit Saraf FK
UNPAD.
Bethesda Stroke Center. 2011. Faktor Risiko Stroke Terkini. Diakses tanggal 26 April 2019,
http://www.strokebethesda.com.
Darmojo RB, Martono H. 2009. Buku Ajar Geriatri (Ilmu Kesehatan Usia Lanjut) edisi 4.
Jakarta: Balai Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Craven & Hinrle. 2000. Pain perception and Management Fundamentals of nursing: Human
health and function (3rd ed.). Philadelphia: Lippincott.

Kozier & Erb. 2004. Pain Management Fundamentals of nursing: Concepts, process, and
practice (7th ed.). New Jersey: Pearson prentice hall.

Sani, P. A. 2016. Materi Kuliah: Pencegahan Jatuh pada Lansia. PSIK FK Unud.

Taylor, Lillis, & Le Mone. 1997. Comfort Fundamentals of nursing: The art & Science of
nursing care (3rd ed.). Philadelphia: Lippincott.

Maryam R. Siti, dkk. 2008. Mengenal Usia Lanjut dan Perawatannya. Jakarta: Salemba
Medika.

Dewi, Sofia Rhosma. 2014. Buku Ajar Keperawatan Gerontik. Deepublish:Yogyakarta

L. Mauk

Kholifah, Siti N. 2016. Keperawatan Gerontik. Jakarta : Kementerian Kesehatan Republik

Indonesia

Sulastri, Sri & Sahadi Humaedi. 2017. Pelayanan Lanjut Usia Terlantar Dalam Panti, No.1.,

Vol.4., ISSN : 2442-4480. Prosiding KS : Riset & PKM

95
Katz S, Ford AB, Moskowitz RW, dkk. Studi penyakit pada usia lanjut. Ihe Indeks
ADL: ukuran standar dari fungsi biologis dan psikososial. IAMA 1963: 185: 914-919.
Katz S, Ford AB, Chinn AB, dkk. Prognosis atter strokes: Il. Perjalanan jangka
panjang dari 159 pasien dengan stroke.
Kedokteran 1966; 45: 236-246.
Katz S. Ileiple kC, Downs I1), ct al. Kursus jangka panjang atau 147 paten dengan
trakture di pinggul. Surg Gynecol Obstet 1967: 124: 1219-1230.
katz S. Akpo C. Ukuran primer

96