Anda di halaman 1dari 59

MAKALAH

PENGANTAR STANDAR AKUNTANSI KEUANGAN


(PSAK)

Disusun Oleh Kelompok 1 :

Dini Cahyaning Tyas (111710748)

Elvina Oktaviani (111710448)


Fatikhatul Mukhsinah (111710552)
Suhendar (111710544)
Ulfiatun Khasanah (111710493)

Kelas : MA.17.D6
Mata Kuliah : Pengantar Akuntansi
Dosen : Yuki Dwi Dharma, S.E, M.M

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PELITA BANGSA


Jl. Inspeksi Kalimalang Tegal Danas Arah Deltamas, Cikarang Pusat,
Kabupaten Bekasi
KATA PENGANTAR

Dengan mengucap puji syukur ke hadirat Allah SWT, atas semua rahmat, nikmat serta
hidayah-Nya yang telah di limpahkan. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini
dalam bentuk dan isinya yang sangat sederhana tepat pada waktunya yang berjudul “PSAK 1-
5”.

Makalah ini berisi tentang informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan
Akuntansi. Diharapkan makalah ini dapat memberikan informasi kepada kita semua, dan
pengetahuan lebih mengenai Akuntansi.

Kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung
terselesaikannya makalah ini. Semoga makalah ini dapat diterima dan laporan yang akan
datang akan lebih baik.

Cikarang, September 2018

Tim penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .........................................................................

DAFTAR ISI ........................................................................................

BAB I

PSAK 1 - PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN ............................................


4

BAB II

PSAK 2 - LAPORAN ARUS KAS ......................................................................


14

BAB III

PSAK 3 - LAPORAN KEUANGAN INTERIM ................................................


33

BAB IV

PSAK 4 – LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI .....................................


39

BAB V

PSAK 5 – SEGMEN OPERASI ..........................................................................


45

KESIMPULAN ....................................................................................................
57

3
BAB I

PSAK 1 - PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN


SUHENDAR

Pengertian

PSAK adalah standar yang digunakan untuk pelaporan keuangan di Indonesia. PSAK
digunakan sebagai pedoman akuntan untuk membuat laporan keuangan.

PENDAHULUAN

Tujuan

01. Pernyataan ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum
(general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar
dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan
laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan
keuangan, struktur laporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan.

Ruang Lingkup

02. Entitas menerapkan Pernyataan ini dalam penyusunan dan penyajian laporan keuangan
bertujuan umum sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Pernyataan ini tidak berlaku
bagi penyusunan dan penyajian laporan keuangan entitas syariah.

03. PSAK lainnya mengatur persyaratan pengakuan, pengukuran, dan pengungkapan


transaksi tertentu dan peristiwa lainnya.

4
04. Pernyataan ini tidak diterapkan bagi struktur dan isi laporan keuangan interim ringkas
yang disusun sesuai dengan PSAK 3: Laporan Keuangan Interim. Namun, paragraf 13- 33
diterapkan bagi laporan keuangan interim tersebut. Pernyataan ini berlaku bagi seluruh
entitas, termasuk entitas yang menyajikan laporan keuangan konsolidasian dan laporan
keuangan terpisah sebagaimana diatur dalam PSAK 4: Laporan Keuangan Konsolidasi.

Definisi

05. Berikut adalah istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini :

Laporan keuangan bertujuan umum (selanjutnya disebut sebagai ’laporan keuangan’) adalah
laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pengguna laporan.

Ketidakpraktisan. Penerapan suatu persyaratan dianggap tidak praktis jika entitas tidak dapat
menerapkannya setelah melakukan usaha yang memadai.

Standar Akuntansi Keuangan (SAK) adalah Pernyataan dan Interpretasi yang disusun oleh
Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan Indonesia, yang terdiri dari:

(a) Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK);

(b) Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK).

Material. Kelalaian dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat pos-pos laporan
keuangan adalah material jika, baik secara sendiri-sendiri maupun bersamasama, dapat
memengaruhi keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan.

Catatan atas laporan keuangan. Catatan atas laporan keuangan berisi informasi tambahan atas
apa yang disajikan dalam laporan posisi keuangan, laporan pendaptan komprehensif, laporan
laba rugi terpisah (jika disajikan), laporan perubahan ekuitas dan laporan arus kas.

Catatan atas laporan keuangan memberikan penjelasan atau rincian dari pos-pos yang
disajikan dalam laporan keuangan tersebut dan informasi mengenai pospos yang tidak
memenuhi kriteria pengakuan dalam laporan keuangan.

Pendapatan komprehensif lain berisi pos-pos pendapatan dan beban (termasuk penyesuaian
reklasifikasi) yang tidak diakui dalam laba rugi dari laporan pendapatan komprehensif
sebagaimana dipersyaratkan oleh SAK lainnya.

5
Pemilik adalah pemegang instrumen yang diklasifikasikan sebagai ekuitas.

Laba rugi adalah total pendapatan dikurangi beban, tidak termasuk komponen-komponen
pendapatan komprehensif lain.

Penyesuaian reklasifikasi adalah jumlah yang direklasifikasi ke bagian laba rugi periode
berjalan yang sebelumnya diakui dalam pendapatan komprehensif lain pada periode berjalan
atau periode sebelumnya.

Total laba rugi komprehensif adalah perubahan ekuitas selama satu periode yang dihasilkan
dari transaksi dan peristiwa lainnya, selain perubahan yang dihasilkan dari transaksi dengan
pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik

Komponen pendapatan komprehensif lain meliputi:

(a) perubahan dalam surplus revaluasi (lihat PSAK 16: Aset Tetap dan PSAK 19: Aset
Tidak Berwujud);
(b) keuntungan dan kerugian aktuarial atas program manfaat pasti yang diakui sesuai dengan
paragraf 94 PSAK 24: Imbalan Kerja;
(c) keuntungan dan kerugian yang timbul dari penjabaran laporan keuangan dari entitas
asing (lihat PSAK 11: Penjabaran Laporan Keuangan dalam Mata Uang Asing);
(d) keuntungan dan kerugian dari pengukuran kembali asset keuangan yang dikategorikan
sebagai ’tersedia untuk dijual’ (lihat PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan
danPengukuran);
(e) Bagian efektif dari keuntungan dan kerugian instrument lindung nilai dalam rangka
lindung nilai arus kas (lihat PSAK 55: Instrumen Keuangan: Pengakuan dan
Pengukuran)

Tujuan Laporan Keuangan

07. Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Dalam rangka mencapai
tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:

a) aset;
b) laibilitas;

6
c) ekuitas;
d) pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian;
e) kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik; dan
f) arus kas. Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas
laporan keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan
dan, khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

Komponen Laporan Keuangan Lengkap

08. Laporan keuangan yang lengkap terdiri dari komponen-komponen berikut ini:

(a) laporan posisi keuangan pada akhir periode


(b) laporan laba rugi komprehensif selama periode
(c) laporan perubahan ekuitas selama periode
(d) laporan arus kas selama periode
(e) catatan atas laporan keuangan, berisi ringkasan kebijakan akuntansi penting dan
informasi penjelasan lainnya; dan
(f) laporan posisi keuangan pada awal periode komparatif yang disajikan ketika entitas
menerapkan suatu kebijakan akuntansi secara retrospektif atau membuat penyajian
kembali pos-pos laporankeuangan, atau ketika entitas mereklasifikasi pos-pos dalam
laporan keuangannya. Entitas diperkenankan menggunakan judul laporan selain yang
digunakan dalam Pernyataan ini

Karakteristik Umum

Penyajian Secara Wajar dan Kepatuhan terhadap SAK

13. Laporan keuangan menyajikan secara wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus
kas suatu entitas. Penyajian yang wajar mensyaratkan penyajian secara jujur dampak dari
transaksi,peristiwa dan kondisi lain sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan aset,
laibilitas, pendapatan dan beban yang diatur dalam Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan.

14. Entitas yang laporan keuangannya telah patuh terhadap SAK membuat pernyataan secara
eksplisit dan tanpa kecuali tentang kepatuhan terhadap SAK tersebut dalam catatan atas
laporan keuangan. Entitas tidak boleh menyebutkan bahwa laporan keuangan telah patuh

7
terhadap SAK kecuali laporan keuangan tersebut telah patuh terhadap semua yang
dipersyaratkan dalam SAK.

Dasar Akrual

25. Entitas menyusun laporan keuangan atas dasar akrual, kecuali laporan arus kas.

26. Ketika akuntansi berbasis akrual digunakan, entitas mengakui pos-pos sebagai aset,
laibilitas, ekuitas, pendapatan dan beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika pos-pos
tersebut memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk unsurunsur tersebut dalam
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan.

Materialitas dan Agregasi

27. Entitas menyajikan secara terpisah kelompok pos sejenis yang material. Entitas
menyajikan secara terpisah pos yang mempunyai sifat atau fungsi berbeda kecuali pos
tersebut tidak material.

28. Laporan keuangan merupakan hasil dari pemrosesan sejumlah transaksi atau peristiwa
lain yang diklasifikasikan sesuai sifat atau fungsinya. Tahap akhir dari proses penggabungan
dan pengklasifikasian adalah penyajian dalam laporan keuangan.

Saling Hapus

30. Entitas tidak boleh melakukan saling hapus atas aset dan laibilitas atau pendapatan dan
beban, kecuali disyaratkan atau diijinkan oleh suatu PSAK

Frekuensi Pelaporan

34. Entitas menyajikan laporan keuangan lengkap (termasuk informasi komparatif)


setidaknya secara

tahunan. Jika akhir periode pelaporan entitas berubah dan laporan keuangan tahunan
disajikan untuk periode yang lebih panjang atau lebih pendek dari periode satu tahun, sebagai
tambahan terhadap periode cakupan laporan keuangan, maka entitas mengungkapkan:

(a) alasan penggunaan periode pelaporan yang lebih panjang atau lebih pendek; dan

(b) fakta bahwa jumlah yang disajikan dalam laporan keuangan tidak dapat diperbandingkan
secara keseluruhan

8
Informasi Komparatif

36. Informasi kuantitatif diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya untuk
seluruh jumlah yang dilaporkan dalam laporan keuangan periode berjalan, kecuali dinyatakan
lain oleh SAK. Informasi komparatif yang bersifat naratif dan deskriptif dari laporan ke
uangan periode sebelumnya diungkapkan kembali jika relevan untuk pemahaman laporan
keuangan periode berjalan.

Konsistensi Penyajian

43. Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsisten
kecuali:

(a) setelah terjadi perubahan yang signifikan terhadap sifat operasi entitas atau review
atas laporan keuangan, terlihat secara jelas bahwa penyajian atau pengklasifikasian
yang lain akan lebih tepat untuk digunakan dengan mempertimbangkan kriteria untuk
penentuan dan penerapan kebijakan akuntansi dalam PSAK 25; atau
(b) perubahan tersebut diperkenankan oleh suatu PSAK

STRUKTUR DAN ISI

Pendahuluan

45. Pernyataan ini mensyaratkan pengungkapan khusus dalam laporan posisi keuangan atau
laporan laba rugi komprehensif, laporan laba rugi terpisah (jika disajikan), atau laporan
perubahan ekuitas dan mensyaratkan pengungkapan dari pos-pos lainnya pada laporan
keuangan tersebut atau catatan atas laporan keuangan. PSAK 2: Laporan Arus Kas mengatur
persyaratan untuk penyajian informasi arus kas.

46. Pernyataan ini terkadang menggunakan istilah “pengungkapan” dalam arti luas, meliputi
pos-pos yang disajikan di dalam laporan keuangan. Pengungkapan juga dipersyaratkan oleh
SAK lain. Kecuali dinyatakan lain dalam Pernyataan ini atau SAK lainnya, pengungkapan
tersebut dapat dilakukan dalam laporan keuangan.

Identifikasi Laporan Keuangan

47. Entitas mengidentifikasikan laporan keuangan secara jelas dan membedakannya dari
informasi lain dalam dokumen publikasi yang sama.

9
49. Entitas mengidentifikasi secara jelas setiap laporan keuangan dan catatan atas laporan
keuangan. Di samping itu, entitas menyajikan informasi berikut ini secara jelas, dan
mengulangnya jika dibutuhkan sehingga dapat dipahami:

(a) nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap perubahan
informasi dari akhir periode laporan sebelumnya;
(b) apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas;
(c) tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan
atau catatan atas laporan keuangan;
(d) mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52; dan
(e) pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan.

Catatan atas Laporan Keuangan

Struktur

110. Catatan atas laporan keuangan:

(a) menyajikan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan
akuntansi tertentu yang digunakan sesuai dengan paragraf 115 – 122;
(b) mengungkapkan informasi yang disyaratkan SAK yang tidak disajikan di bagian
manapun dalam laporan keuangan; dan
(c) memberikan informasi yang tidak disajikan di bagian manapun dalam laporan
keuangan, tetapi informasi tersebut relevan untuk memahami laporan keuangan.

Sumber Estimasi Ketidakpastian

123. Entitas mengungkapkan informasi tentang asumsi yang dibuat mengenai masa depan,
dan sumber utama dari estimasi ketidakpastian lainnya pada akhir periode pelaporan, yang
memiliki risiko signifikan yang mengakibatkan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat
aset dan laibilitas dalam periode pelaporan berikutnya. Berkaitan dengan aset dan laibilitas
tersebut, catatan atas laporan keuangan memasukkan rincian atas:
(a) sifat; dan
(b) jumlah tercatat pada akhir periode pelaporan.

Modal

10
132. Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan
untuk mengevaluasi tujuan, kebijakan dan proses entitas dalam mengelola permodalannya.

Instrumen Keuangan Puttable yang Diklasifikasikan sebagai Ekuitas

134A. Instrumen keuangan yang memberi hak kepada pemegangnya untuk menjual
instrumen itu

kembali pada penerbitnya baik secara kas atau dengan aset keuangan lainnya (puttable
financial instrument) yang diklasifikasi sebagai instrumen ekuitas diungkapkan (jika tidak
diungkapkan dimanapun):

(a) ikhtisar data kuantitatif mengenai jumlah yang diklasifikasikan sebagai ekuitas;

(b) tujuan, kebijakan dan proses pengelolaan kewajiban untuk membeli kembali atau menarik
instrument tersebut jika dipersyaratkan oleh pemegang instrumen, termasuk setiap perubahan
dari periode sebelumnya.

Pengungkapan Lain

135. Entitas mengungkapkan di dalam catatan atas laporan keuangan:

(a) jumlah dividen yang diusulkan atau diumumkan sebelum tanggal penyelesaian
laporan keuangan tetapi tidak diakui sebagai distribusi kepada pemilik selama periode
serta jumlah dividen per lembar sahamnya; dan
(b) jumlah dividen preferen kumulatif yang tidak diakui.

136. Entitas mengungkapkan hal-hal berikut ini, jika tidak diungkapkan di bagian manapun
dalam informasi yang dipublikasikan bersama dengan laporan keuangan:

(a) domisili dan bentuk hukum, negara tempat pendirian, alamat kantor pusat entitas (atau
lokasi utama kegiatan usaha, jika berbeda dari lokasi kantor);
(b) keterangan mengenai sifat operasi dan kegiatan utama;
(c) nama entitas induk dan nama entitas induk terakhir dalam kelompok usaha.

TANGGAL EFEKTIF

137. Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahunan yang dimulai pada atau
setelah tanggal 1 Januari 2011. Penerapan lebih dini dianjurkan. Jika entitas menerapkan
Pernyataan ini untuk periode yang lebih dini, maka fakta tersebut harus diungkapkan.

11
PENARIKAN

138. Pernyataan ini menggantikan PSAK 1 (Revisi 1998):

Penyajian Laporan Keuangan


ED PSAK No. 1 (revisi 2009) Tentang Penyajian Laporan Keuangan

Eksposure Draft PSAK 1 (Revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan telah
diterbitkan. ED PSAK 1 merupakan adopsi IAS 1 Presentation Financial Statement, proses
adopsi ini merupaka salah satu program konvergensi IFRS yang sedang dilakukan oleh
Dewan Standar Akuntansi keuangan (DSAK IAI).

ED PSAK 1 ini menetapkan dasar-dasar bagi penyajian laporan keuangan bertujuan umum
(general purpose financial statements) yang selanjutnya disebut ‘laporan keuangan’ agar
dapat dibandingkan baik dengan laporan keuangan periode sebelumnya maupun dengan
laporan keuangan entitas lain. Pernyataan ini mengatur persyaratan bagi penyajian laporan
keuangan, strukturlaporan keuangan, dan persyaratan minimum isi laporan keuangan. Ada
beberapa perbedaan antara PSAK 1 (Revisi 2009) dan ED PSAK 1 (Revisi 2009).

Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) IAI pada tanggal 21 April 2009 kemarin telah
menyetujui Exposure Draft (ED) PSAK 1 (revisi 2009) tentang Penyajian Laporan Keuangan
untuk disebarluaskan dan ditanggapi oleh kalangan anggota IAI, Dewan Konsultatif SAK,
Dewan Pengurus Nasional IAI, perguruan tinggi dan individu/organisasi/lembaga lain yang
berminat.

ED PSAK 1 (Revisi 2009) : Penyajian Laporan Keuangan ini yang merupakan adopsi dari
IAS 1 : Presentation of Financial Statements merevisi PSAK 1 (1998) : Penyajian Laporan
Keuangan.

Secara umum perbedaan ED PSAK 1 (Revisi 2009) dengan PSAK 1 (Revisi 1998)
diantaranya adalah sebagai berikut :

1. ED PSAK 1 (Revisi 2009) mengadopsi IAS 1 Presentation of Financial Statements (2009)


sedangkan PSAK 1 (Revisi 1998) mengadopsi IAS 1 Disclosure of Accounting Policies
(1997).
2. Penggantian istilah “Kewajiban” pada PSAK 1 (Revisi 1998) menjadi “Liabilitas” pada
ED PSAK 1 (Revisi 2009).

12
3. Pada ED PSAK 1 (revisi 2009) terdapat definisi istilah yang digunakan, yaitu laporan
keuangan untuk tujuan umum, tidak praktis, standar akuntansi keuangan, material, catatan
atas laporan keuangan, penghasilan komprehensif lain, pemilik, laba atau rugi sedangkan
pada PSAK 1 (1998) tidak terdapat definisi istilah yang digunakan.
4. Menurut ED PSAK 1 (revisi 2009), informasi yang disajikan dalam laporan keuangan
meliputi : Aset, Liabilitas, Ekuitas, Pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan
kerugian, Kontribusi dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai
pemilik serta Arus kas sedangkan menurut PSAK 1 (1998), informasi yang disajikan
dalam laporan keuangan meliputi : Aset, Kewajiban, Ekuitas, Pendapatan dan beban serta
Arus Kas.
5. Mengenai tanggung jawab atas laporan keuangan, ED PSAK 1 (revisi 2009) tidak
mengatur mengenai pihak yang bertanggung jawab atas laporan keuangan, sedangkan
PSAK 1 (1998) mengatur bahwa manajemen bertanggung jawab atas laporan keuangan.
6. ED PSAK 1 (revisi 2009) mengatur mengenai komponen laporan keuangan yang lengkap
yaitu : (a) Laporan posisi keuangan (neraca), (b) Laporan laba rugi komprehensif, (c)
Laporan perubahan ekuitas, (d) Laporan arus kas, (e) Catatan atas laporan keuangan, (f)
Laporan posisi keuangan awal periode komparatif sajian akibat penerapan retrospektif,
penyajian kembali, atau reklasifikasi pos-pos laporan keuangan, sedangkan PSAK 1
(1998) mengatur mengenai komponen laporan keuangan yang lengkap meliputi : (a)
Neraca, (b) Laporan laba rugi, (c) Laporan perubahan ekuitas, (d) Laporan arus kas serta
(e) Catatan atas laporan keuangan.
7. Mengenai Kepatuhan terhadap SAK, ED PSAK 1 (revisi 2009) mengatur bahwa entitas
membuat pernyataan kepatuhan atas SAK dalam laporan keuangan, sedangkan PSAK 1
(1998) tidak mengatur mengenai laporan keuangan yang harus memuat pernyataan
kepatuhan entitas atas SAK.
8. ED PSAK 1 (revisi 2009) mengatur bahwa penyimpangan dari suatu PSAK diijinkan jika
kepatuhan atas PSAK tersebut bertentangan dengan tujuan laporan keuangan dalam
KDPPLK, sedangkan PSAK 1 (1998) tidak mengatur mengenai penyimpangan dari suatu
PSAK.
9. ED PSAK 1 (revisi 2009) tidak mengatur mengenai bagaiman memilih dan menerapkan
kebijakan akuntansi ketika tidak diatur dalam suatu PSAK. Hal tersebut akan diatur dalam
PSAK 25, jika PSAK 25 sudah mengadopsi IAS 8 terkini. Sedangkan PSAK 1 (1998)
mencantumkan pengaturan bagaimana memilih dan menerapkan kebijakan akuntansi
ketika tidak diatur dalam suatu PSAK.

13
10. ED PSAK 1 (revisi 2009) tidak mengatur kapan entitas sebaiknya mengeluarkan
laporan keuangan, sedangkan PSAK 1 (1998) mengatur bahwa entitas sebaiknya
mengeluarkan laporan keuangan paling lama 4 bulan setelah tanggal neraca.
11. ED PSAK 1 (revisi 2009) tidak lagi memperkenankan penggunaan istilah “Pos Luar
Biasa”, sedangkan PSAK 1 (1998) masih memperkenankan penggunaan istilah tersebut.

BAB II

PSAK 2 - LAPORAN ARUS KAS

ELVINA OKTAVIANI

PENDAHULUAN

Tujuan
Informasi tentang arus kas suatu entitas berguna bagi para pengguna laporan
keuangan sebagai dasar untuk menilai kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara
kas serta menilai kebutuhan entitas untuk menggunakan arus kas tersebut. Dalam proses
pengambilan keputusan ekonomi, para pengguna perlu melakukan evaluasi terhadap
kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas serta kepastian perolehannya.
Tujuan pernyataan ini adalah memberikan pengaturan atas informasi mengenai
perubahan historis dalam kas dan setara kas dari suatu entitas melalui laporan arus kas yang
mengklasifikasikan arus kas berdasarkan aktivitas operasi, investasi, maupun pendanaan
(financing) selama suatu periode.

Ruang Lingkup
Entitas harus menyusun lapora arus kas sesuai persyaratan dalam pernyataan ini dan
menyajikan laporan tersebut sebagai bagian tidak terpisahkan (integral) dari laporan
keuangan untuk setiap periode penyajian laporan keuangan.
Pernyataan ini menggantikan PSAK 2 (1994): Laporan arus Kas.
Para pengguna laporan berkepentingan untuk mengetahui bagaimana entitas
menghasilkan dan menggunakan kas dan setara kas. Hal tersebut bersifat umum dan tidak
bergantung pada aktivitas entitas serta apakah kas dapat dipandang sebagai produk entitas,
seperti yang berlaku di lembaga keuangan. Pada dasarnya, entitas memerlukan kas dengan
alasan yang sama meskipun terdapat perbedaan dalam aktivitas penghasil pendapatan utama
(revenue-producing activities). Entitas membutuhkan kas untuk melaksanakan usaha,

14
melunasi kewajiban, dan membagikan dividen (returns) kepada para investor. Oleh karena itu
pernyataan ini mewajibkan semua entitas menyajikan laporan arus kas.

Kegunaan Informasi Arus Kas


Jika digunakan dalam kaitannya dengan laporan keuangan lainnya, laporan arus kas
dapat memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna untuk mengevaluasi
perubahan dalam aset bersih entitas, struktur keuangan (termasuk likuiditas dan solvabilitas)
dan kemampuan mempengaruhi jumlah serta waktu arus kas dalam rangka penyesuaian
terhadap keadaan dan peluang yang berubah. Informasi arus kas berguna untuk menilai
kemampuan entitas dalam menghasilkan kas dan setara kas dan memungkinkan para
pengguna mengembangkan model untuk menilai dan membandingkan nilai sekarang dari
arus kas masa depan (future cash flows) dari berbagai entitas. Informasi tersebut juga
meningkatkan daya banding pelaporan kinerja operasi sebagai entitas karena dapat
meniadakan pengaruh penggunaan perlakuan akuntansi yang berbeda terhadap transaksi dan
peristiwa yang sama.
Informasi arus kas historis sering digunakan sebagai indikator dari jumlah, waktu, dan
kepastian arus kas masa depan. Di samping itu, informasi arus kas historis juga berguna
untuk meneliti kecermatan dari taksiran arus kas masa depan yang telah dibuat sebelumnya
dan dalam menentukan hubungan antara profitabilitas dan arus kas bersih serta dampak
perubahan harga.

Definisi
Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam pernyataan ini :
Kas terdiri atas saldo kas (cash on hand) dan rekening giro (demand deposits).
Setara kas (cash equivalent) adalah investasi yang sifatnya sangat likuid, berjangka pendek,
dan yang dengan cepat dapat dijadikan kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki
risiko perubahan nilai yag tidak signifikan.
Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas.
Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas (principal revenue-
producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas investasi dan
aktivitas pendanaan.
Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi lain
yang tidak termasuk setara kas.

15
Aktivitas pendanaan (financing) adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan dalam
jumlah serta komposisi kontribusi modal dan pinjaman entitas.

Kas dan Setara Kas


Setara kas dimiliki untuk memenuhi komitmen kas jangka pendek, bukan untuk
investasi atau tujuan lain. Untuk memenuhi persyaratan sebagai setara kas, suatu investasi
harus segera dapat diubah menjadi kas dalam jumlah yang dapat ditentukan dan memiliki
risiko perubahan nilai yang tidak signifikan. Karenanya, suatu investasi pada umumnya
memenuhi syarat sebagai setara kas hanya jika akan segera jatuh tempo dalam waktu,
misalnya tiga bulan atau kurang sejak tanggal perolehannya. Investasi dalam bentuk saham
tidak termasuk setara kas, kecuali substansi investasi saham tersebut adalah setara kas.
Sebagai contoh, saham preferen yang dibeli dan akan segera jatuh tempo serta tanggal
penebusan (redemption date) telah ditentukan.
Pinjaman bank pada umumnya termasuk aktivitas pendanaan. Namun demikian,
cerukan (bank overdraft) merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pengelolaan kas
entitas. Dalam keadaan tersebut, cerukan termasuk komponen kas dan setara kas.
Karakteristik dari pengaturan perbankan tersebut mengakibatkan saldo bank kadangkala
berfluktuasi dari saldo positif ke posisi penarikan berlebih (overdrawn).
Arus kas tidak mencakup mutasi diantara pos-pos yang termasuk dalam kas atau
setara kas, karena komponen tersebut lebih merupakan bagian dari pengelolaan kas entitas
dan bukan sebagai bagian dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.

PENJELASAN

Penyajian Laporan Arus Kas


Laporan arus kas harus melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi
menurut aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
Entitas menyajikan arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan dengan
cara yang paling sesuai dengan bisnis entitas tersebut. Klasifikasi menurut aktivitas
memberikan informasi yang memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh
aktivitas tersebut terhadap posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas.
Informasi tersebut dapat juga digunakan untuk megevaluasi hubungan diantara ketiga
aktivitas tersebut.
Suatu transaksi tunggal dapat meliput beberapa arus kas yang diklasifikasikan ke
dalam lebih dari satu aktivitas. Sebagai contoh, jika pelunasan pinjaman bank meliputi pokok

16
pinjaman dan bunga, maka unsur bunga dapat diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi dan
unsur pokok pinjaman diklasifikasikan sebagai aktivitas pendanaan.

Aktivitas Operasi
Jumlah arus kas yang berasal dari aktivitas operasi merupakan indikator utama untuk
menentukan apakah operasi entitas dapat menghasilkan arus kas yang cukup untuk melunasi
pinjaman, memelihara kemampuan operasi entitas, membayar dividen, dan melakukan
investasi baru tanpa mengandalkan sumber pendanaan dari luar. Informasi mengenai unsur
tertentu arus kas historis bersama dengan informasi lain, berguna dalam memprediksi arus
kas operasi masa depan.
Arus kas dari aktivitas operasi terutama diperoleh dari aktivitas penghasil utama
pendapatan entitas. Oleh karena itu, arus kas tersebut pada umumnya berasal dari transaksi
dan peristiwa lain yang mempengaruhi penetapan laba atau rugi bersih. Beberapa contoh arus
kas dari aktivitas operasi adalah :
a) Penerimaan kas dari penjualan barang dan pemberian jasa;
b) Penerimaan kas dari royalti, fees, komisi, dan pendapatan lain;
c) Pembayaran kas kepada pemasok barang dan jasa;
d) Pembayaran kas kepada dan untuk kepentingan karyawan;
e) Penerimaan dan pembayaran kas oleh entitas asuransi sehubungan dengan premi,
klaim, anuitas, dan manfaat polis lainnya;
f) Pembayaran kas atau penerimaan kembali (restitusi) pajak penghasilan kecuali jika
dapat diidentifikasikan secara khusus sebagai bagian dari aktivitas pendanaan dan
investasi;
g) Penerimaan dan pembayaran kas dari kontrak yang dimiliki untuk tujuan
diperdagangkan atau diperjanjikan (dealing).
Beberapa transaksi, seperti penjualan peralatan pabrik, dapat menimbulkan
keuntungan atau kerugian yang diakui dalam laporan laba rugi. Arus kas yang terkait dengan
transaksi semacam itu merupakan arus kas dari aktivitas investasi. Akan tetapi, pembayaran
kas untuk pabrikasi atau memperoleh aset yang dimiliki untuk disewakan kepada pihak lain
dan selanjutnya dimiliki untuk dijual adalah arus kas dari aktivitas operasi. Kas yang diterima
dari sewa dan penjualan atas aset setelah periode sewa, diakui sebagai arus kas dari aktivitas
operasi.
Entitas dapat memiliki surat berharga dan tagihan (securities and loans) untuk tujuan
diperdagangkan atau diperjanjikan (deadling), yang dalam hal ini dapat dipersamakan dengan

17
persediaan yang khusus dibeli untuk dijual kembali. Oleh karena itu, arus kas yang berasal
dari pembelian dan penjualan dalam transaksi perdagangan atau perjanjian surat berharga
tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi. Sama halnya dengan pemberian kredit oleh
lembaga keuangan, pada umumnya diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, karena
berkaitan dengan aktivitas penghasil utama pendapatan lembaga keuangan tersebut.

Aktivitas Investasi
Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas investasi perlu dilakukan
sebab arus kas tersebut mencerminkan pengeluaran yang telah terjadi untuk sumber daya
yang dimaksudkan menghasilkan pendapatan dan arus kas masa depan. Beberapa contoh arus
kas yang berasal dari aktivitas investasi adalah :
a) Pembayaran kas untuk membeli aset tetap, aset tidak berwujud, dan aset panjang lain,
termasuk biaya pengembangan yang dikapitalisasi dan aset tetap yang dibangun sendiri;
b) Penerimaan kas dari penjualan tanah, bangunan, dan peralatan, serta aset tidak berwujud
dan aset jangka panjang lain;
c) Pembayaran kas untuk membeli instrumen utang atau instrumen ekuitas entitas lain dan
kepeilikan dalam ventura bersama (selain pembayaran kas untk instrumen yang dianggap
setara kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjanjikan);
d) Kas yang diterima dari penjualan instrumen utang dan instrumen ekuitas entitas lain dan
kepemilikan ventura bersama (selain penerimaan kas dan instrumen yang dianggap setara
kas atau instrumen yang dimiliki untuk diperdagangkan atau diperjanjikan);
e) Uang muka dari pinjaman yang diberikan kepada pihak lain (selain uang muka dan kredit
yang diberikan oleh lembaga keuangan);
f) Penerimaan kas dari pelunasan uang muka dan pinjaman yang diberikan kepada pihak lain
(selain uang muka dan kredit yang diberikan oleh lembaga keuangan);
g) Pembayaran kas sehubungan dengan futures contrats, forward contracts, option contracts,
dan swap contracts kecuali apabila kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangan
atau diperjanjikan, atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas
pendanaan; dan
h) Pembayaran kas dari future contracts, forward contracts, option contracts, dan swap
contracts kecuali apabila kontrak tersebut dimiliki untuk tujuan diperdagangkan atau
diperjanjikan, atau apabila pembayaran tersebut diklasifikasikan sebagai aktivitas
pendanaan.

18
Jika suatu kontrak dimaksudkan untuk lindung nilai (hedge) suatu posisi yang dapat
diidentifikasi, maka arus kas dari kontrak tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama
seperti arus kas dari posisi yang dilindung nilainya.
Aktivitas Pendanaan
Pengungkapan terpisah arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan penting
dilakukan karena berguna untuk memprediksi klaim atas arus kas masa depan oleh para
penyedia modal entitas. Beberapa contoh arus kas yang berasal dari aktivitas pendanaan
adalah :
a) Penerimaan kas dari emisi saham atau instrumen modal lainnya;
b) Pembayaran kas kepada pemilik untuk menarik atau menebus saham entitas;
c) Penerimaan kas dari emisi obligasi, pinjaman, wesel, hipotek, dan pinjaman jangka pendek
dan jangka panjang lainnya;
d) Pelunasan pinjaman;
e) Pembayaran kas oleh penyewa (lessee) untuk mengurangi saldo kewajiban yang berkaitan
dengan sewa pembiayaan (finance lease).

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Operasi


Entitas melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan menggunakan salah satu
dari metode berikut :
a) Metode langsung : dengan metode ini kelompok utama dari penerimaan kas bruto dan
pengeluaran kas bruto diungkapkan; atau
b) Metode tidak langsung : dengan metode ini laba atau rugi bersih disesuaikan dengan
mengoreksi pengaruh dari transaksi bukan kas, penangguhan (deferral) atau akrual dari
penerimaan atau pembayaran kas untuk operasi di masa lalu dan masa depan, dan unsur
penghasilan atau beban yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Entitas dianjurkan untuk melaporkan arus kas dari aktivitas operasi dengan
menggunakan metode langsung. Metode ini menghasilkan informasi yang berguna dalam
mengestimasi arus kas masa depan yang tidak dapat dihasilkan dengan metode tidak
langsung. Dengan metode langsung, informasi mengenai kelompok utama penerimaan kas
bruto dan pengeluaran kas bruto dapat diperoleh baik :
a) Dari catatan akuntansi entitas; atau
b) Dengan menyesuaikan penjualan, beban pokok penjualan, dan pos-pos lain dalam
laporan laba rugi komprehensif untuk :
1. Perubahan persediaan, piutang usaha, dan utang usaha selama periode berjalan;

19
2. Pos bukan kas lainnya; dan
3. Pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi dan pendanaan.
Dalam metode tidak langsung, arus kas bersih dari aktivitas operasi ditentukan
dengan menyesuaikan laba atau rugi bersih dari pengaruh :
a) Perubahan persediaan dan piutang usaha serta utang usaha selama periode berjalan;
b) Pos bukan kas seperti penyusutan, penyisihan, pajak ditangguhkan, keuntungan dan
kerugian valuta asing yang belum direalisasi, serta laba entitas asosiasi yang belum
dibagikan; dan
c) Semua pos lain yang berkaitan dengan arus kas investasi atau pendanaan.
Sebagai alternatif, arus kas bersih dari aktivitas operasi dapat dilaporkan
berdasarkan metode tidak langsuung dengan menyajikan pendapatan dan beban yang
diungkapkan dalam laporan laba rugi komprehensif serta perubahan dalam persediaan,
piutang usaha, dan utang usaha selama periode.

Pelaporan Arus Kas dari Aktivitas Investasi dan Pendanaan


Entitas melaporkan secara terpisah kelompok utama penerimaan kas bruto dan
pengeluaran kas bruto yang berasal dari aktivitas investasi dan pendanaan, kecuali apabila
arus kas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 22 dan 24 dilaporkan atas dasar arus kas
bersih (net basis).
Pelaporan Arus Kas atas Dasar Arus Kas Bersih
Arus kas yang berasal dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan berikut ini
dapat disajikan menurut arus kas bersih :
a) Penerimaan dan pengeluaran kas untuk kepentingan para pelanggan apabila aruss kas
tersebut lebih mencerminkan aktivitas pelanggan daripada aktivitas entitas; dan
b) Penerimaan dan pengeluaran kas untuk pos-pos dengan perputaran cepat, jumlah yang
besar, dan dengan jangka waktu singkat (short maturity).
Beberapa contoh penerimaan dan pembayaran kas sebagaimana dijelaskan adalah :
a) Penerimaan dan pembayaran rekening giro;
b) Dana pelanggan yang dikelola oleh entitas investasi; dan
c) Sewa yang ditagih oleh pengelola untuk kepentingan dari, dan selanjutnya disetor kepada
pemilik properti.
Beberapa contoh penerimaan dan pengeluaran kas sebagaimana dijelaskan adalah
pembayaran dan penerimaan untuk :
a) Jumlah pokok transaksi kartu kredit para nasabah;

20
b) Pembelian dan penjualan investasi; dan
c) Pemberian dan pelunasan uang muka dan pinjaman kepala nasabah.
Arus Kas dalam Mata Uang Asing
Arus kas yang berasal dari transaksi mata uang asing harus dibukukan dalam mata
uang fungsional entitas dengan mengalikan jumlah mata uang asing tersebut dengan nilai
tukar antara mata uang fungsional dengan mata uang asing pada tanggal transaksi arus kas.
Arus kas entitas anak di luar negeri dijabarkan berdasarkan nilai tukar antara mata
uang fungsional dengan mata uang asing pada tanggal transaksi arus kas.
Arus kas dalam mata uang asing dilaporkan dengan cara yang kosisten dengan PSAK
10 : Trabsaksi dalam Mata Uang Asing. Pernyataan tersebut memperkenankan digunakannya
suatu nilai tukar yang mendekati nilai tukar aktual. Sebagai contoh, nilai tukar rata-rata untuk
periode yang bersangkutan dapat digunakan untuk membukukan transaksi dalam mata uang
asing atau penjabaran arus kas entitas anak diluar negeri. Akan tetapi, PSAK 10 tidak
mengizinkan digunakannya nilai tukar pada akhir periode pelaporan untuk menjabarkan
laporan arus kas anak entitas luar negeri.
Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi yang timbul akibat perubahan nilai
tukar mata uang asing bukan marupakan arus kas. Namun demikian, pengaruh perubahan
nilai tukar atas kas dan setara kas dalam mata uang asing dilaporkan dalam laporan arus kas
untuk merekonsiliasikan saldo awal dan akhir dari kas dan setara kas. Jumlah selisih kurs
tersebut disajikan terpisah dari arus kas aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan, dan
termasuk perbedaan, jika ada, seandainya arus kas tersebut telah dilaporkan dengan nilai
tukar pada akhir periode.
Bunga dan Dividen
Arus kas dari bunga dan dividen yang diterima dan dibayarkan, masing-masing harus
diungkapkan secara terpisah. Masing-masing harus diklasifikasi secara konsisten antar
periode sebagai salah satu dari aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan.
Jumlah bunga yang dibayar selam suatu periode diungkapkan dalam laporan arus kas
baik yang telah diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi maupun yang dikapitalisasi
sesuai PSAK No.26 : Biaya Pinjaman.
Bunga yang dibayar dan bunga serta dividen yang diterima oleh lembaga keuangan
biasanya diklasifikasikan sebagai arus kas operasi. Namun demikian, bagi entitas lainnya
belum ada kesepakatan mengenai klasifikasi arus kas ini. Bunga yang dibayarkan dan bunga
serta dividen yang diterima dapat diklasifikasi sebagai arus kas operasi karena mempengaruhi
laba atau rugi. Sebagai alternatif, bunga yang dibayar dan bunga serta dividen yang diterima

21
dapat diklasifikasi, masing-masing sebagai arus kas pendanaan dan arus kas investasi karena
merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan atau sebagai hasil investasi (return on
investments).
Dividen yang dibayar dapat diklasifikasi sebagai arus kas pendanaan karena
merupakan biaya perolehan sumber daya keuangan. Sebagai alternatif, dividen yang dibayar
dapat diklasifikasi sebagai komponen arus kas dari aktivitas operasi dengan maksud
membantu para pengguna laporan dalam menilai kemampuan entitas membayar dividen dari
arus kas operasi.
Pajak Penghasilan
Arus kas yang berkaitan dengan pajak penghasilan harus diungkapkan secara terpisah
dan diklasifikasi sebagai arus kas dari aktivitas operasi kecuali jika secara spesifik dapat
diidentifikasikan sebagai aktivitas pendanaan dan investasi.
Pajak penghasilan dikenakan atas transaksi yang menghasilkan arus kas yang
diklasifikasikan sebagai aktivitas operasi, investasi, atau pendanaan dalam laporan arus kas.
Walaupuun beban pajak penghasilan (tax expense) dapat dengan mudah diidentifikasikan
dengan aktivitas investasi atau pendanaan, arus kas yang bersangkutan sering kali tidak
mudah diidentifikasi dan dapat terjadi dalam periode yang berbeda dengan transaksi arus kas
yang mendasarinya. Oleh karena itu, pajak yang dibayar biasanya diklasifikasikan sebagai
arus kas dari aktivitas operasi. Namun demikian, jika arus kas pajak tersebut dapat
diidentifikasikan dengan transaksi individual yang menimbulkan arus kas yang bersangkutan,
maka arus kas tersebut diklasifikasi sebagai aktivitas pendanaan atau investasi, sesuai dengan
jenis aktivitas tersebut. Apabila arus kas pajak dialokasikan pada lebih dari satu jenis
aktivitas, maka jumlah keseluruhan pajak yang dibayar harus diungkapkan.

Investasi pada Entitas Anak, Entitas Asosiasi, dan Ventura Bersama


Apabila akuntansi untuk investasi pada entitas asosiasi atau entitas anak dibukukan
dengan menggunakan metode ekuitas atau metode biaya perolehan, maka investor membatasi
pelaporannya dalam laporan arus kas hanya pada arus kas yang terjadi antara investor dan
investee, misalnya jumlah dividen dan uang muka yang diterima.
Entitas yang melaporkan kepemilikannya dalam pengendalian bersama entitas (Lihat
PSAK 12 : Bagian Partisipasi Dalam Ventura Bersama) menggunakan konsolidasi
proporsional, melaporkan dalam laporan arus kas konsolidasinya bagian proporsional,
melaporkan dalam laporan arus kas konsolidasinya bagian proporsional dari arus kas atas
investasinya dalam entitas yang dikendalikan bersama. Entitas yang melaporkan

22
kepemilikannya menggnakan metode ekuitas melaporkan dalam laporan arus kas, arus kas
atas investasinya dalam enitas yang dikendalikan bersama, dan distribusi dan pembanyaran
lain atau penerimaan antara entitas da entitas yang dikndalikan bersama.

Perubahan Kepemilikan dala Entitas Anak dan Unit Bisnis lainnya.


Keseluruhan arus kas yang berasal dari perolehan dan kehilangan pengendalian atas
entitas anak atau unit bisnis lainnya harus disajikan secara terpisah dan diklasifikasikan
sebagai aktivitas investasi.
Entitas harus menggunakan hal-hal berikut secara keseluruhan,sehubungan dengan
perolehan dan kehilangan pengendalian atas entitas anak dan unit bisnis lainnya selama satu
periode :
a) Jumlah harga yang dibayarkan atau diterima;
b) Bagian dari harga yang merupakan kas dan setara kas;
c) Jumlah kas dan setara kas pada entitas anak atau bisnis lainnya dimana pengendalian
diperoleh atau dilepaskan; dan
d) Jumlah aset dan laibilitas selain kas atau setara kas pada entitas anak atau bisnis
lainnya dimana pengendalian diperoleh atau dilepaskan, diikhtisarkan berdasarkan
kategori utamanya.
Penyajian tersendiri pengaruh arus kas dari perolehan dan kehilangan pengendalian
atas entitas anak dan bisnis lainnya sebagai suatu pos tunggal, bersama-sama dengan
pengungkapan tersendiri atas jumlah aset dan laibilitas yang diperoleh atau dilepaskan, akan
membantu membedakan arus kas tersebut dengan arus kas yang berasal dari aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan lainnya. Pengaruh arus kas atas kehilangan pengendalian tidak
boleh dikurangkan dari arus kas untuk memperoleh pengendalian.
Jumlah keseluruhan kas yang dibayarkan atau diterima untuk memperoleh atau atas
kehilangan pengendalian entitas anak atau bisnis lainnya dilaporkan dalam laporan arus kas,
berdasarkan kas dan setara kas bersih dari yang diperoleh atau dilepaskan sebagai bagian dari
transaksi, peristiwa atau perubahan lingkungan.
Arus kas yang timbul dar perubahan kepemilikan atas entitas anak karena kehilangan
pengendalian harus diklasifikasikan sebagai arus kas dari aktivitas pendanaan.
Perubahan kepemilikan atas entitas anak yang tidak mengakibatkan kehilangan
pengendalian, misalnya akibat pembelian atau penjualan kemudian instrumen ekuitas entitas
anak oleh entitas induk, dicatat sebagai transaksi ekuitas (lihat PSAK 4 : Laporan Keuangan
Konsolidasian dan Laporan Keuangan Tersendiri). Sejalan dengan hal tersebut, arus kas

23
yang berasal dari transaksi tersebut diklasifikasikan dengan cara yang sama sebagai transaksi
lain dengan pemilik yang telah dijelaskan.

Transaksi Nonkas
Transaksi investasi dan pendanaan yang tidak memerlukan penggunaan kas atau
setara kas tidak termasuk dalam laporan arus kas. Transaksi semacam itu harus diungkapkan
pada bagian lain dalam laporan keuangan sedemikian rupa sehingga dapat memberikan
semua informasi yang relevan mengenai aktivitas investasi dan pendanaan tersebut.
Beberapa aktivitas investasi dan pendanaan tidak memiliki pengaruh langsung
terhadap arus kas periode berjalan meskipun mempengaruhi struktur aset serta modal entitas.
Tidak dimasukkannya transaksi nonkas dalam laporan arus kas ini konsisten dengan tujuan
laporan arus kas sebab transaksi tersebut tidak mempengaruhi arus kas dalam periode
berjalan. Beberapa contoh transaksi nonkas adalah :
a) Perolehan aset secara kredit atau melalui sewa pembiayaan (finance lease);
b) Akuisisi entitas melalui emisi saham; dan
c) Konversi utang menjadi modal.

Komponen Kas dan Setara Kas


Entitas mengungkapkan komponen kas dan setara kas serta menyajikan rekonsiliasi
jumlah tersebut dalam laporan arus kas dengan pos yang sama yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan.
Oleh karena keanekaragaman praktik pengelolaan kas dan perbankan dan agar sesuai
dengan PSAK 1 : Penyajian Laporan Keuangan, entitas harus mengungkapkan kebijakan
dalam menentukan komponen kas dan setara kas.
Pengaruh setiap perubahan dalam kebijakan untuk menentukan komponen kas dan
setara kas seperti misalnya perubahan dalam klasifikasi instrumen keuangan yang
sebelumnya diperlakukan sebagai bagian dari portofolio investasi entitas, dilaporkan sesuai
dengan PSAK 25 : Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi dan Kesalahan.

Pengungkapan Lain
Entitas mengungkapkan jumlah saldo kas dan setara kas yang signifikan yang tidak
dapat digunakan oleh grup usaha, beserta komentar manajemen.
Dalam keadaan tertentu saldo kas dan setara kas yang dimiliki oleh entitas tidak dapat
digunakan oleh grup entitas. Misalnya, saldo kas dan setara kas milik entitas anak yang

24
beroperasi di suatu negara yang memberlakukan kontrol lalu lintas devisa atau pembatasan
hukum lainnya sehingga saldo kas tersebut tidak dapat digunakan oleh entitas induk atau
entitas anak lainnya.
Informasi tambahan yang relevan mungkin berguna dalam memahami posisi
keuangan dan likuiditas entitas. Pengungkapan informasi ini, bersama dengan komentar
manajemen, dianjurkan dan mencakup :
a) Jumlah fasilitas pinjaman yang belum digunakan yang mungkin tersedia untuk
aktivitas operasi masa depan dan untuk menyelesaikan komitmen modal, dengan
mengindikasikan pembatasan penggunaan fasilitas ini;
b) Jumlah keseluruhan arus kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan yang
terkait dengan kepemilikan dalam ventura bersama yang dilaporkan dengan
menggunakan metode konsolidasi proporsional;
c) Jumlah keseluruhan arus kas yang mencerminkan peningkatan kapasitas operasi yang
terpisah dari arus kas yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas operasi; dan
d) Jumlah arus kas yang timbul dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan dari
setiap segmen yang dilaporkan (lihat PSAK 5 : Pelaporan Segmen).
Pengungkapan terpisah arus kas yang mencerminkan peningkatan kapasitas operasi
dan arus kas yang diperlukan untuk mempertahankan kapasitas operasi berguna bagi
pengguna untuk menentukan apakah entitas melakukan investasi secara memadai dalam
pemeliharaan kapasitas operasinya. Entitas yang tidak berinvestasi secara memadai dalam
pemeliharaan kapasitas operasinya mungkin akan merugikan profitabilitas di masa yang akan
datang, hanya untuk mempertahankan likuiditas dan distribusi untuk pemilik pada saat ini.
Pengungkapan arus kas secara segmen memungkinkan pengguna untuk memperoleh
pemahaman yang lebih baik mengenai hubungan antara arus kas bisnis keseluruhan dan
komponennya dan ketersediaan serta keragaman arus kas secara segmen.

TANGGAL EFEKTIF
Pernyataan ini diterapkan untuk laporan keuangan yang dimulai atau setelah 1 Januari
2011.

Lampiran A
Laporan Arus Kas Untuk Entitas Bukan Lembaga Keuangan
Lampiran ini melengkapi, namun bukan bagian dari pernyataan.

25
Contoh ini hanya menampilkan jumlah periode kini. Jumlah yang sesuai untuk
periode sebelumnya harus disajikan sesuai dengan PSAK 1 : Penyajian Laporan Keuangan.
Informasi dari laporan laba rugi komprehensif dan laporan posisi keuangan disajikan
untuk memperlihatkan penyusunan laporan arus kas dengan metode langsung dan metode
tidak langsung. Laporan laba rugi komprehensif atau laporan posisi keuangan disajikan sesuai
dengan persyaratan pengungkapan dan penyajian menurut pernyataan lainnya.
Informasi tambahan berikut juga relevan untuk penyusunan laporan arus kas :
 Semua saham entitas anak diperoleh dengan harga Rp 590. Nilai wajar aset yang
diperoleh dan laibilitas diasumsikan sebagai berikut :

Persediaan Rp 100
Piutang usaha Rp 100
Kas Rp 40
Aset tetap Rp 650
Utang usaha Rp 100
Utang jangka panjang Rp 200

 Rp 250 diperoleh dari penerbitan modal saham dan Rp 250 diperoleh dari pinjaman
jangka panjang.
 Beban bunga Rp 400, dan telah dibayar sebesar Rp 170 selama periode tersebut, Rp
100 yang merupakan beban bunga periode sebelumnya juga dibayar selama periode
tersebut.
 Dividen yang dibayarkan Rp 1.200.
 Utang pajak pada awal dan akhir periode masing-masing sebesar Rp 400 dan 1000.
Selama periode disisihkan Rp 200 untuk tambahan pajak. Pajak yang terutang dari
dividen yang diterima berjumlah Rp 100.
 Selama periode, entitas memperoleh aset tetap dengan harga Rp 1.250, Rp 900
diperoleh dengan sewa. Pembayaran kas sebesar Rp 350 untuk pembelian aset tetap.
 Pabrik dengan nilai buku Rp 80 dan akumulasi penyusutan Rp 60 dijual harga Rp 20.
 Piutang usaha pada akhir 20X2 termasuk bunga piutang sebesar Rp 100.
Laporan laba rugi komprehensif konsolidasi untuk periode
yang berakhir 20X2 (a)
Pendapatan 30,650

26
Harga pokok penjualan (26,000)
Laba bruto 4,650
Penyusutan (450)
Beban administrasi dan penjualan (910)
Beban bunga (400)
Penghasilan investasi 500
Kerugian selisih kurs (40)
Laba sebelum pajak 3,350
Pajak penghasilan (300)
Laba 3,050
(a) entitas tidak mengakui setiap komponen pendapatan komprehensif
lain pada periode yang berakhir 20X2
Laporan posisi keuangan konsolidasi pada akhir tahun 20X2.
20X2 20X1
Aset
Kas dan setara kas 230 160
Piutang usaha 1,900 1,200
Persediaan 1,000 1,950
Investasi surat berharga 2,500 2,500
Aset tetap (harga perolehan) 3,730 1,910
Akumulasi penyusutan (1,450) (1,060)
Aset tetap (bersih) 2,280 850
Total aset 7,910 6,660
20X2 20X1
Laibilitas
Utang usaha 250 1,890
Utang bunga 230 100
Utang pajak penghasilan 400 1,000
Utang jangka panjang 2,300 1,040
Total kewajiban 3,180 4,030
Ekuitas
Modal saham 1,500 1,250
Saldo laba 3,230 1,380
Total ekuitas 4,730 2,630

27
Total laibilitas dan ekuitas 7,910 6,660
Metode langsung laporan arus kas (paragraf 18 (a))
20X2
Arus kas dari aktivitas operasi
Penerimaan kas dari pelanggan 30,150
Pembayaran kas kepada pemasok dan karyawan (27,600)
Kas yang dihasilkan operasi 2,550
Pembayaran bunga (270)
Pembayaran pajak penghasilan (900)
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas operasi 1,380
Arus kas untuk aktivitas investasi
Akuisisi entitas anak X dengan kas (catatan A) (550)
Pembelian Aset tetap (catatan B) (350)
Hasil dari penjualan peralatan 20
Penerimaan bunga 200
Penerimaan dividen 200
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas investasi (480)
Arus kas dari aktivitas pendanaan
Hasil dari penerbitan modal saham 250
Hasil dari pinjaman jangka panjang 250
Pembayaran utang sewa pembiayaan (90)
Pembayaran dividen(a) (1,200)
Arus kas bersih dari(untuk) aktivitas pendanaan) (790)
Kenaikan bersih kas dan setara kas 110
Kas dan setara kas pada awal periode (catatan c) 120
Kas dan setara kas pada akhir periode (catatan c) 230
(a) hal ini dapat juga dilaporkan sebagai arus kas
operasi
Metode tidak langsung pernyataan arus kas (paragraf 18
(b))
20X2
Arus kas dari aktivitas operasi
Laba sebelum pajak 3,350
Penyesuaian untuk:

28
Penyusutan 450
Kerugian selisih kurs 40
Pendapatan investasi (500)
Beban bunga 400
Kenaikan piutang usaha dan piutang lain (500)
Penurunan persediaan 1,050
Penurunan utang usaha (1,740)
Kas yang dihasilakn dari operasi 2,550
Pembayaran bunga (270)
Pembayaran pajak penghasilan (900)
Arus kas (bersih) dari aktivitas operasi) 1,380
Arus kas untuk aktivitas investasi
Akuisisi entitas anak X dengan kas (catatan A) (550)
Pembelian Aset tetap (catatan B) (350)
Hasil dari penjualan peralatan 20
Penerimaan bunga 200
Penerimaan dividen 200
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas investasi
(480)
Arus kas dari aktivitas pendanaan
Hasil dari penerbitan modal saham 250
Hasil dari pinjaman jangka panjang 250
Pembayaran utang sewa pembiayaan (90)
Pembayaran dividen(a) (1,200)
Arus kas bersih dari(untuk) aktivitas pendanaan) (790)
Kenaikan bersih kas dan setara kas 110
Kas dan setara kas pada awal periode (catatan c) 120
Kas dan setara kas pada akhir periode (catatan c) 230
(a) hal ini dapat juga dilaporkan sebagai arus
kas operasi
Catatan pada laporan arus kas (metode langsung dan metode
tidak langsung)
A. Perolehan pengendalian atas entitas anak
Selama periode ini entitas memperoleh pengendalian atas

29
entitas anak X. Nilai wajar aset yang diperoleh dan kewajiban
diasumsikan sebagai berikut:
Kas 40
Persediaan 100
Piutang usaha 100
Aset tetap 650
Utang usaha (100)
Utang jangka panjang (200)
Total harga beli 590
Dikurangi: Kas dari X (40)
Arus kas bersih untuk
Memperoleh pengendalian 550
B. Aset tetap
Selama periode ini, entitas memperoleh aset tetap dengan nilai
total Rp 1.250 dimana Rp 900 diantaranya diperoleh melalui
sewa pembiayaan. Pembayaran kas untuk perolehan ini adalah
sebesar Rp 350.
C. Kas dan setara kas
Kas dan setara kas terdiri dari kas di tangan dan saldo bank,
serta investasi dalam instrumen pasar uang. Kas dan setara kas
dalam laporan arus kas meliputi jumlah-jumlah dalam laporan
posisi keuangan berikut ini:
20X2 20X1
Kas dan bank 40 25
Investasi jangka pendek 190 135
Kas dan setara kas yang
dilaporkan sebelumnya 230 160
Pengaruh perubahan nilai tukar valuta - (40)
Kas dan setara kas dinyatakan kembali 230 120
Kas dan setara kas pada akhir periode meliputi rekening deposito
bank sebesar Rp 100 yang dipegang oleh entitas anak
dan tidak dapat digunakan dengan bebas oleh holding company
karena adanya pembatasan arus valuta.
Kelompok entitas ini mempunyai fasilitas pinjaman sebessar

30
Rp 2,000, Rp 700 diantaranya hanya dapat digunakan untuk
ekspansi dimasa depan.
D. Informasi segmen
Segmen A Segmen B Total
Arus kas dari:
Aktivitas operasi 1.520 (140) 1.380
Aktivitas investasi (640) 160 (480)
Aktivitas pendanaan (570) (220) (790)
310 (200) 110
Alternatif penyajian (metode tidak langsung)
Sebagai alternatif, dalam laporan arus kas dengan
metode tidak langsung, laba operasi sebelum
perubahan modal kerja kadang-kadang disajikan sebagai
berikut:
Pendapatan diluar
pendapatan investasi 30,650
Biaya operasi diluar penyusutan (26,910)
Laba operasional sebelum
perubahan modal kerja 3,740
Lampiran B
Laporan Arus Kas Untuk Lembaga Keuangan
Lampiran ini hanya pelengkap, namun bukan bagian dari
Pernyataan.
1. Contoh ini hanya memperlihatkan jumlah periode berjalan.
Jumlah yang menyangkut periode sebelumnya harus disajikan
sesuai dengan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan.
2. Contoh disajikan menggunakan metode langsung.
20X2
Arus Kas dari Aktivitas Operasi
Penerimaan bunga dan komisi 28,447
Pembayaran bunga (23,463)
Pembayaran piutang yang telah dihapus 237
Pembayaran kas kepada karyawan dan pemasok (997) 4,224
(Kenaikan) Penurunan dalam Aset Operasi

31
Dana jangka pendek (650)
Deposito untuk tujuan pengendalian moneter 234
Dana uang muka kepada langganan (288)
Kenaikan bersih dalam piutang kartu kredit (360)
Surat berharga jangka pendek yang diperjualbelikan (120)
(Kenaikan) Penurunan dalam Utang Obligasi:
Deposito dari pelanggan 600
Sertifi kat deposito yang diperjualbelikan (200)
Kas bersih dari aktivitas operasi sebelum pajak
Penghasilan 3,440
Pajak penghasilan (100)
Arus kas bersih (untuk) aktivitas operasi 3,340
Arus Kas dari Aktivitas Investasi
Pelepasan Entitas anak Y 50
Dividen yang diterima 200
Bunga yang diterima 300
Hasil penjualan surat berharga yang tidak diperjualbelikan 1,200
Pembelian surat berharga yang tidak diperjualbelikan (600)
Pembelian Aset tetap (500)
Arus kas bersih dari (untuk) aktivitas investasi 650

32
BAB III

PSAK 3 - LAPORAN KEUANGAN INTERIM

ULFIATUN KHASANAH

PENDAHULUAN

Umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun fiskal penuh.
Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi interim
sebagai bagian dari tahun fiskal. Laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan
pandangan yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan
periode tahunan.

Pada dasarnya, laporan keuangan interim menyediakan informasi mengenai kondisi


perusahaan kurang dari satu tahun. Laporan tersebut biasanya diterbitkan setiap tiga bulan
dan biasanya berisi informasi kumulatif dari awal tahun sampai dibuatnya laporan tersebut.
Sebelum tahun 1973, keseragaman isi dari laporan interim yang dibuat untuk para pemegang
saham sangat rendah. Ketidakseragaman dan semakin pentingnya laporan interim mendorong
dikeluarkannya APB Opinion Nomor 28 pada bulan Mei 1973.

Pengungkapan informasi segmen sebagaimana diatur dalam Statement of Financial


Accounting Standards (SFAS) Nomor 14 tentang Financial Reporting for Segments of
Business Enterprise tidak berlaku untuk pelaporan interim, kecuali jika laporan interim
tersebut berupa laporan keuangan yang dimaksudkan untuk menyajikan posisi keuangan,
hasil operasi, dan perubahan posisi keuangan sesuai dengan Prinsip Akuntansi yang
Berterima Umum (PABU) atau Generally Accepted Accounting Principles (GAAP).

A. Pengertian Laporan Keuangan Interim

Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
keuangan tahunan. Laporan keuangan interim: (1) harus dipandang sebagai bagian yang
integral dari periode tahuan; dan (2) dapat disusun secara bulanan, triwulanan, atau periode

33
lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai
standar akuntansi keuangan. Di Indonesia, laporan keuangan interim dimuat dalam
Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan
Interim yang terdapat dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK).

B. Sifat Laporan Keuangan Interim

Secara konseptual, laporan keuangan interim (interim report) menyediakan informasi yang
lebih tepat waktu, tetapi kurang lengkap dibandingkan dengan laporan keuangan tahunan
(annual report). Laporan keuangan interim menunjukkan adanya trade-off antara ketepatan
waktu dan kehandalan data-data keuangan, karena memerlukan adanya estimasi untuk
melakukan review piutang, utang dagang/usaha, persediaan, dan informasi lainnya yang
mendukung pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan tahunan. Kebutuhan
minimum pengungkapan sebagaimana diatur dalam APB Opinion Nomor 28 tidak
mewajibkan penyajian keuangan yang wajar hasil operasi dan posisi keuangan sesuai dengan
PABU.

Berdasarkan APB Opinion Nomor 28, masing-masing periode interim merupakan bagian
integral dari laporan tahunan (annual report). Hasil perhitungan periode interim harus
didasarkan pada prinsip akuntansi dan praktik yang digunakan dalam tahun terakhir
penyusunan laporan keuangan. Meskipun demikian, modifikasi tetap diperbolehkan untuk
menyesuaikan periode interim dengan periode tahunan supaya memiliki informasi yang
berarti. Sebagai contoh, laporan interim memodifikasi prosedur yang digunakan untuk
penghitungan biaya produksi dan biaya-biaya yang lain yang biasanya digunakan dalam
laporan tahunan.

C. Pandangan Sehubungan Dengan Laporan Keuangan Interim

Pada umumnya, laporan keuangan yang dikeluarkan perusahaan bisnis adalah tahun fiskal
penuh. Beberapa perusahaan mengeluarkan laporan keuangan untuk periode akuntansi
interim sebagai bagian dari tahun fiskal.

Pada dasarnya, ada dua pandangan sehubungan dengan laporan keuangan interim adalah
sebagai berikut.

34
1. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai dasar periode akuntansi dan
menyimpulkan bahwa hasil operasi tiap periode ditentukan dengan cara yang sama,
seperti pada periode tahunan.
2. Pandangan yang menganggap periode interim sebagai bagian yang integral dengan
periode tahunan.

Di Indonesia, laporan keuangan interim dikembangkan berdasarkan pandangan yang kedua


yang menganggap laporan keuangan interim sebagai bagian integral dengan periode tahunan.

D. Biaya Produk

Untuk menghitung biaya produk antara lain dapat digunakan dengan metode sebagai berikut.

1. Metode Laba Kotor. Apabila perusahaan menggunakan metode ini untuk harga sediaan
selama masa interim, pengungkapan metode dan rekonsiliasi dengan sediaan tahunan perlu
dilakukan.
2. Metode Last In First Out (LIFO). Jika sediaan LIFO dilikuidasi pada masa interim tetapi
metode tersebut akan diganti pada akhir tahun, harga pokok penjualan (cost of goods sold)
harus dimasukkan dalam biaya pergantian metode dari LIFO, sebagai konsekuensi
likuidasi interim. Sebagai contoh, sebuah perusahaan melakukan likuidasi 100 unit sediaan
yang diperhitungkan dengan LIFO pada tiga bulan pertama. Perusahaan tersebut akan
membebankan harga pokok/kos penjualan pada current cost 100 unit daripada historical
cost LIFO jika 100 unit tersebut akan digantikan pada akhirtahun. Kelebihan nilai current
cost di atas historical cost menunjukkan adanya kewajiban lancar pada neraca interim.

Dalam kasus perubahan metode sediaan LIFO, pengaruh kumulatif perubahan pada awal
periode tidak dapat dihitung. Jika perubahan tersebut dilakukan pada periode pertama, fakta
tersebut harus diungkap tetapi bukan jumlah pro forma. Jika perubahan dibuat pada periode
selanjutnya, perubahan tersebut diungkap bersamaan dengan informasi keuangan pada
periode interim sebelum perubahan.

E. Penurunan Nilai Pasar Persediaan

Penurunan nilai pasar sediaan tidak ditangguhkan selama periode interim, kecuali jika
ditentukan secara temporer tidak ada kerugian yang akan terjadi selama setahun secara
keseluruhan.

F. Sistem Biaya Standar

35
Rencana varian berdasarkan sistem biaya standar yang diharapkan akan diserap pada akhir
tahun sebaiknya ditangguhkan pada masa interim.

G. Biaya – Biaya Lain

Biaya Tahunan dalam Laporan Interim. Biaya yang dibebankan secara tahunan sebaiknya
dialokasikan ke periode interim. Prosedur alokasi harus konsisten dengan prosedur untuk
laporan tahunan. Biaya-biaya yang muncul dalam periode interim tidak ditangguhkan, kecuali
jika biaya-biaya tersebut akan ditangguhkan pada akhir tahun.

Biaya Iklan. Biaya iklan tidak ditangguhkan selama masa interim, kecuali jika manfaatnya
juga dapat dirasakan pada periode sesudahnya.

Pajak Penghasilan. Pajak penghasilan dalam laporan interim dibagi menjadi (a) pajak
penghasilan untuk penghasilan dari operasional tidak termasuk item-item yang bukan biaya
atau jarang terjadi, dan (b) pajak penghasilan untuk item yang tidak biasa, pemberhentian
operasi dan item luar biasa. Biaya pajak penghasilan untuk masa interim berdasarkan pada
estimasi tarif pajak efektif tahunan untuk pendapatan kena pajak (PKP) yang berasal dari
operasi tidak termasuk item-item luar biasa. Estimasi pajak penghasilan tahunan dikurangi
dengan pajak penghasilan yang telah diakui pada periode sebelumnya menjadi beban pajak
periode kini. Pengaruh pajak untuk item-item yang tidak biasa diperhitungkan secara terpisah
dan ditambahkan pada periode interim di mana item ini dilaporkan. Gain dan loss untuk
pemberhentian operasi dan item luar biasa dilaporkan dalam laporan tahunan.

H. Penyajian Laporan Keuangan Interim

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) Nomor 03 tentang Laporan Keuangan


Interim berlaku untuk perusahaan yang diwajibkan untuk menyajikan laporan keuangan
interim oleh peraturan perundangan yang berlaku, misalnya: pasar modal, dan lain-lain.
Untuk industri yang telah diatur dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) industri yang
bersangkutan secara khusus, misalnya perbankan, maka harus mengikuti standar khusus
tersebut.

Laporan keuangan interim meliputi: (1) neraca; (2) laporan laba/rugi; (3) saldo laba interim;
(4) laporan arus kas; dan (5) catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan interim harus
menyajikan secara komparatif dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Perhitungan

36
laba/rugi interim harus mencakup periode sejak awal tahun buku sampai dengan periode
interim terakhir yang dilaporkan (year-to-date).

Laporan keuangan interim harus menggolongkan aktiva sebagai kelompok lancar dan tidak
lancar, dan kewajiban sebagai kelompok jangka pendek dan jangka panjang sesuai laporan
keuangan tahunan. Kalau suatu aktiva dan kewajiban dapat atau harus direalisasikan dalam
jangka waktu 12 bulan dari tanggal neraca interim, maka aktiva tersebut digolongkan sebagai
lancar; atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai jangka pendek; kalau tidak aktiva
tersebut digolongkan sebagai tidak lancar atau kewajiban tersebut digolongkan sebagai
jangka panjang.

Khusus untuk perusahan tertentu, antara lain bank dan asuransi, yang mempunyai metode
khusus dalam penggolongan aktiva, maka penggolongan aktiva harus dilakukan sesuai
dengan standar akuntansi keuangan yang berlaku.

I. Pengungkapan Ringkasan Data Keuangan Interim

Apabila perusahaan melaporkan ringkasan informasi keuangan pada tanggal laporan


keuangan interim, maka data berikut merupakan data minimum yang harus dilaporkan:

1. Pendapatan atau penjualan kotor, beban, estimasi pajak penghasilan, pos luar biasa
(termasuk pengaruh terhadap pajak penghasilan yang terkait), pengaruh kumulatif
perubahan akuntansi, perubahan akuntansi, dan laba bersih.
2. Data laba bersih per saham untuk setiap periode interim yang disajikan.
3. Pendapatan dan beban musiman.
4. Perubahan yang penting dalam taksiran pajak penghasilan.
5. Pelepasan suatu segmen usaha, pos luar biasa, transaksi tidak biasa, dan tidak sering
terjadi.
6. Kewajiban kontinjen.
7. Perubahan akuntansi.
8. Perubahan yang material pada unsur laporan arus kas.

Laporan keuangan interim terakhir, misalnya laporan keuangan interim triwulan keempat,
tidak perlu disusun karena pada dasarnya laporan keuangan tersebut dapat digantikan dengan
laporan keuangan tahunan. Dalam hal laporan keuangan interim triwulan keempat hendak
diterbitkan, maka penerbitannya dilakukan bersamaan dengan penerbitan laporan keuangan
tahunan. Di samping itu, isi dari laporan keuangan interim triwulan keempat harus

37
merupakan selisih dari laporan keuangan tahunan dan laporan keuangan interim sebelumnya
tahun yang bersangkutan.

J. Kesimpulan

Dengan meningkatnya jumlah perusahaan yang menjual surat berharga di pasar modal,
laporan keuangan interim menjadi semakin diperlukan pemakai laporan keuangan
membutuhkan laporan keuangan perusahaan secepat mungkin untuk memberikan gambaran
tentang kegiatan perusahaan.

Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
keuangan tahunan.

Tuntutan pengungkapan untuk laporan interim ditemukan dalam APB Opinion Nomor 28 dan
diamandemen dalam FASB Statement Nomor 3 dan FASB Interpretation Nomor 18. Laporan
interim menyediakan informasi yang tepat waktu. Meskipun demikian, sebagian besar
informasinya didasarkan pada estimasi dan laporan yang tidak diaudit. Setiap laporan interim
merupakan bagian integral dari laporan tahunan. Laporan interim ditentukan berdasarkan
prinsip akuntansi yang digunakan dalam laporan tahunan tahun sebelumnya. Meskipun
demikian, beberapa modifikasi. mungkin diperlukan untuk menyusun laporan interim sebagai
pelengkap laporan tahunan.

38
BAB IV

PSAK 4 - LAPORAN KEUANGAN KONSOLIDASI

DINI CAHYANING TYAS

PENDAHULUAN

Tujuan
Pernyataan ini mengatur penyajian laporan keuangan konsolidasi suatu kelompok perusahaan
yang berada di bawah pengendalian suatu induk perusahaan. Laporan keuangan konsolidasi
disajikan untuk memenuhi kebutuhan informasi keuangan yang meliputi posisi keuangan,
hasil usaha dan arus kas dari suatu kelompok perusahaan, yang secara ekonomis dianggap
merupakan satu kesatuan usaha.

Ruang Lingkup

01 Pernyataan ini tidak mengatur:

a. Metode akuntansi untuk penggabungan usaha serta pengaruhnya terhadap konsolidasi,


termasuk goodwill yang timbul dalam penggabungan usaha;
b. Akuntansi untuk investasi pada perusahaan asosiasi; dan
c. Akuntansi untuk investasi pada pengendalian bersama operasi dan aktiva.

02 Pernyataan ini diberlakukan untuk semua induk perusahaan sepanjang belum ada
pengaturan khusus dalam Pernyataan tersendiri mengenai penyusunan laporan keuangan
konsolidasi .

Definisi
03 Berikut adalah pengertian istilah yang digunakan dalam Pernyataan ini:

Pengendalian (Control) adalah kemampuan untuk mengatur kebijakan finansial dan


operasional dari suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan perusahaan
tersebut. Anak perusahaan (Subsidiary) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh

39
perusahaan lain (yang disebut induk perusahaan). Induk perusahaan (Parent company) adalah
perusahaan yang memiliki satu atau lebih anak perusahaan. Kelompok (group) perusahaan
adalah kumpulan induk perusahaan dan seluruh anak perusahaannya. Laporan keuangan
konsolidasi adalah suatu laporan keuangan dari suatu group perusahaan yang disajikan
sebagai satu kesatuan ekonomi . Hak minoritas adalah bagian hasil usaha dan bagian aktiva
neto dari anak perusahaan yang tidak dimiliki baik secara langsung maupun tidak langsung
oleh induk perusahaan.

PENJELASAN

04 Para pengguna laporan keuangan pada umumnya ingin mengetahui dan mendapatkan
informasi tentang posisi keuangan, hasil usaha dan arus kas dari suatu kelompok perusahaan
secara keseluruhan. Kebutuhan tersebut dapat dipenuhi melalui penyajian laporan keuangan
konsolidasi yang menyajikan informasi keuangan dari suatu kelompok perusahaan sebagai
satu kesatuan ekonomi meskipun masing- masing perusahaan dalam kelompok tersebut
merupakan suatu entitas hukum yang terpisah satu sama lain.

Kriteria Penyusunan Laporan Keuangan Konsolidasi

05 Laporan keuangan konsolidasi menggabungkan seluruh perusahaan yang dikendalikan


oleh induk perusahaan, kecuali anak perusahaan sebagaimana dimaksud dalam paragraf 6.
Pengendalian (control) dianggap ada apabila induk perusahaan memiliki baik secara langsung
atau tidak langsung (melalui anak perusahaan), Iebih dari 50% hak suara pada suatu
perusahaan. Walaupun suatu perusahaan memiliki hak suara 50% atau kurang, pengendalian
tetap dianggap ada

apabila dapat dibuktikan adanya salah satu kondisi berikut:

a. Mempunyai hak suara yang lebih dari 50% berdasarkan suatu perjanjian dengan investor
lainnya;
b. Mempunyai hak untuk mengatur dan menentukan kebijakan finansial dan operasional
perusahaan berdasarkan anggaran dasar atau perjanjian;
c. Mampu menunjuk atau memberhentikan mayoritas pengurus perusahaan;
d. Mampu menguasai suara mayoritas dalam rapat pengurus.

06 Anak perusahaan tidak dikonsolidasikan apabila:

40
a. Pengendalian dimaksudkan, untuk sementara karena saham anak perusahaan dibeli
dengan tujuan untuk dijual atau dialihkan dalam jangka pendek.
b. Anak perusahaan dibatasi oleh suatu restriksi jangka panjang sehingga mempengaruhi
secara signifikan kemampuannya dalam mentransfer dana kepada induk perusahaan.
Anak perusahaan yang tidak dikonsolidasikan tersebut harus dipertanggungjawabkan
oleh induk perusahaan sebagaimana anak perusahaan lainnya, sesuai dengan Pernyataan
Standar Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi untuk Investasi.

07 Anak perusahaan yang mempunyai kegiatan usaha yang berbeda dengan kegiatan
perusahaan lainnya dalam kelompok perusahaan tersebut, harus tetap dikonsolidasikan.
Dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi harus diungkapkan kegiatan usaha khusus
dari anak perusahaan tersebut.

Prosedur Konsolidasi
08 Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, laporan keuangan induk perusahaan dan
anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan menjumlahkan unsur-unsur yang sejenis
dari aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan beban. Agar laporan keuangan konsolidasi
dapat menyajikan informasi keuangan dari kelompok perusahaan tersebut sebagai satu
kesatuan ekonomi, maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut:

a. Saldo nilai tercatat (carrying amount) penyertaan induk perusahaan padamasing- masing
anak perusahaan dieliminasi dengan ekuitas anak perusahaanyang menjadi bagian induk
perusahaan.
b. Saldo antar perusahaan dan transaksi antar perusahaan dalam kelompok perusahaan
tersebut, termasuk penjualan, beban dan dividen harus dieliminasi seluruhnya.
c. Keuntungan dan kerugian yang belum direalisasi (unrealized profits) yang berasal dari
transaksi antar perusahaan harus dieliminasi.
d. Hak minoritas dalam laba bersih disajikan sebagai pengurang dari laba bersih konsolidasi
untuk mendapatkan jumlah laba bersih yang menjadi hak pemegang saham induk
perusahaan.
e. Hak minoritas dalam aktiva bersih disajikan tersendiri dalam neraca konsolidasi, di antara
ekuitas dan kewajiban. Hak minoritas dalam aktiva bersih terdiri dari:

i. Suatu jumlah pada saat terjadinya penggabungan usaha, yang dihitung dengan cara yang
ditentukan dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan No. 22 tentang Akuntansi
Penggabungan Usaha;dan

41
ii. Bagian pemegang saham minoritas atas perubahan ekuitas yang terjadi setelah tanggal
penggabungan usaha.

09 Laporan keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan yang digunakan dalam
penyusunan laporan keuangan konsolidasi lazimnya adalah laporan keuangan dengan tanggal
pelaporan yang sama. Apabila ternyata tanggal pelaporannya berbeda, anak perusahaan
biasanya menyusun laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang sama dengan induk
perusahaan. Apabila penyesuaian tanggal tersebut tidak dapat dilakukan, laporan keuangan
dengan tanggal pelaporan yang berbeda tersebut dapat juga digunakan untuk tujuan
konsolidasi sepanjang perbedaan tanggal pelaporan tersebut tidak lebih dari 3 (tiga) bulan.
Sesuai dengan asas konsistensi, baik jangka waktu periode laporan maupun perbedaan dalam
tanggal pelaporan harus selalu sama dari waktu ke waktu.

10 Apabila laporan keuangan dengan tanggal pelaporan yang berbeda digunakan untuk tujuan
konsolidasi, maka penyesuaian yang diperlukan harus dilakukan untuk pengaruh yang
material dari setiap peristiwa atau transaksi antar perusahaan, yang terjadi antara tanggal
pelaporan yang berbeda tersebut dengan tanggal pelaporan laporan keuangan konsolidasi.

11 Laporan keuangan konsolidasi disusun dengan menggunakan kebijakan akuntansi yang


sama untuk peristiwa dan transaksi sejenis dalam kondisi yang sama. Apabila suatu
perusahaan dalam kelompok tersebut menggunakan kebijakan akuntansi yang berbeda dari
kebijakan akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan konsolidasi, maka dilakukan
penyesuaian yang diperlukan terhadap laporankeuangan perusahaan tersebut. Apabila
penyesuaian yang diperlukan tersebut tidak dapat dihitung, maka fakta tersebut harus
diungkapkan dalam catatan atas laporan keuangan konsolidasi, beserta proporsi unsur
tersebut terhadap unsur sejenis dalam laporan keuangan konsolidasi .

12 Bila akuisisi dilakukan dalam tahun berjalan, maka hasil usaha anak perusahaan yang
disajikan dalam laporan keuangan konsolidasi adalah hasil usaha yang terhitung sejak tanggal
akuisisi, yaitu sejak pengendalian secara efektif terjadi. Apabila dilakukan
pengalihan/penjualan penyertaan atau pengurangan penyertaan pada anak perusahaan yang
menyebabkan induk perusahaan kehilangan kendali terhadap anak perusahaan, maka hasil
usaha anak perusahaan yang dikonsolidasikan adalah hasil usaha sampai dengan tanggal
penjualan/pengalihan penyertaan tersebut. Selisih antara saldo penyertaan induk perusahaan
dan saldo aktiva dan kewajiban anak perusahaan pada saat pengalihan/penjualan diakui
sebagai keuntungan atau kerugian pada laporan keuangan konsolidasi. Untuk menjamin daya

42
banding laporan keuangan antar periode, maka dalam informasi tambahan diungkapkan
mengenai pengaruh dari akuisisi anak perusahaan dan pengalihan penyertaan terhadap posisi
keuangan dan hasil usaha periode berjalan dan periode sebelumnya.

13 Terhitung sejak suatu perusahaan tidak memenuhi syarat sebagai anak perusahaan dan
juga tidak merupakan perusahaan asosiasi sebagaimana diatur pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 15 tentang Akuntansi Untuk Investasi Dalam Perusahaan Asosiasi,
maka perlakuan akuntansi atas investasi tersebut harusmengacu pada Pernyataan Standar
Akuntansi Keuangan No. 13 tentang Akuntansi Untuk Investasi.

14 Kerugian yang menjadi bagian dari pemegang saham minoritas pada suatu
anakperusahaan dapat melebihi bagiannya dalam modal disetor. Kelebihan tersebut dan
kerugian lebih lanjut yang menJadi bagian pemegang saham minoritas, harus dibebankan
pada pemegang saham mayoritas, kecuali terdapat kewajiban yang mengikat pemegang
saham minoritas untuk menutupi kerugian tersebut dan pemegang saham minoritas mampu
memenuhi kewajibannya. Apabila pada periode selanjutnya, anak perusahaan melaporkan
laba, maka laba tersebut harus terlebih dahulu dialokasikan kepada pemegang saham
mayoritas sampai seluruh bagian kerugian pemegang saham minoritas yang dibebankan pada
pemegang saham mayoritas dapat ditutup.

15 Apabila anak perusahaan mengeluarkan saham preferen kumulatif yang dimiliki oleh
pemegang saham di luar group, maka induk perusahaan menghitung bagiannya atas laba atau
rugi anak perusahaan setelah dilakukan penyesuaian terhadap dividen preferen, walaupun
dividen tersebut belum dideklarasikan.

Penyajian Tersendiri Laporan Keuangan Induk Perusahaan


16 Apabila dipenuhi kriteria konsolidasi maka laporan keuangan konsolidasi wajib disusun.
Untuk tujuan pelaporan keuangan, induk perusahaan yang memenuhi kriteria konsolidasi
tidak boleh menyajikan tersendiri laporan keuangannya (tanpa konsolidasi) karena hanya ada
satu laporan keuangan yang berlaku umum (general purpose financial statement) yaitu
laporan keuangan konsolidasi. Akan tetapi laporankeuangan tersendiri boleh disajikan apabila
bertujuan untuk memberikan informasi tambahan bagi pengguna laporan keuangan
konsolidasi. Dalam laporan keuangan induk perusahaan yang disajikan tersendiri tersebut,
penyertaan pada anak perusahaan harus dipertanggungjawabkan dengan menggunakan
metode ekuitas.

43
Pengungkapan (Disclosure)
17 Agar para pengguna laporan keuangan konsolidasi dapat memahami hubungan antara
perusahaan-perusahaan dalam suatu group, maka pengungkapan atas hal-hal berikut harus
dilakukan:

a. Daftar anak perusahaan (yang signifikan) yang antara lain mencakup: nama,tempat
kedudukan, persentase pemilikan dan persentase hak suara (apabila berbeda dengan
persentase pemilikan).
b. Alasan untuk tidak mengkonsolidasikan suatu anak perusahaan.
c. Sifat hubungan antara induk perusahaan dan anak perusahaan yang menyebabkan induk
perusahaan dapat melakukan pengendalian terhadap anak perusahaan meskipun hak
suara induk perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, 50% atau kurang.

18 Apabila laporan keuangan induk perusahaan disajikan tersendiri dengan tujuan untuk
memberikan informasi tambahan (bukan sebagai laporan keuangan pokok), metode yang
digunakan untuk mempertanggungjawabkan penyertaan pada anak perusahaan, harus
diungkapkan.

44
BAB V

PSAK 5 - SEGMEN OPERASI (REVISI 2009)

FATIKHATUL MUKHSINAH

SEGMEN OPERASI

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan 5 (revisi 2009): Segmen Operasi terdiri dari
paragraf 1-37 dan Lampiran dan Pedoman Aplikasi. Seluruh paragraf tersebut memiliki
kekuatan mengatur yang sama. Paragraf yang dicetak dengan huruf tebal mengatur prinsip-
prinsip utama. PSAK 5 (revisi 2009) harus dibaca dalam konteks prinsip-prinsip utama dan
Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan. Pernyataan ini tidak wajib
diterapkan untuk unsur-unsur yang tidak material. PSAK Kebijakan Akuntansi, Perubahan
Estimasi Akuntansi dan Kesalahan memberikan dasar untuk memilih dan menerapkan
kebijakan akuntansi ketika tidak ada panduan yang eksplisit.

PENDAHULUAN

Prinsip Utama

01. Entitas mengungkapkan informasi yang memungkinkan pengguna laporan keuangan


untuk mengevaluasi sifat dan dampak keuangan dari aktivitas bisnis yang mana entitas
terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi.

Ruang Lingkup

02. Pernyataan ini diterapkan atas:

(a) laporan keuangan tersendiri atau laporan keuangan individual dari entitas:

45
(i) yang instrumen utang atau instrumen ekuitasnya diperdagangkan di pasar publik (pasar
modal domestik atau luar negeri atau over-the-counter, termasuk pasar modal lokal dan
regional), atau
(ii) yang telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran, pada regulator pasar modal atau regulator lainnya untuk tujuan
menerbitkan semua jenis instrumen di pasar publik; dan

(b) laporan keuangan konsolidasian kelompok usaha dengan entitas induk:

(i) yang instrumen utang atau instrumen ekuitasnya di mperdagangkan di pasar publik
(pasar modal domestik atau luar negeri atau over-the-counter, termasuk pasar modal
lokal dan regional), atau

(ii) yang telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran, pada regulator pasar modal atau regulator lainnya untuk tujuan
penerbitan semua kelas instrumen di pasar publik.

03. Jika suatu entitas yang tidak disyaratkan untuk menerapkan Pernyataan ini memilih
untuk mengungkapkan informasi tentang segmen yang tidak mematuhi Pernyataanini, maka
entitas tersebut tidak menjelaskan informasi tersebut sebagai informasi segmen.

04. Jika laporan keuangan terdiri atas laporan keuangan konsolidasian atau laporan
keuangan tersendiri dari entitas induk dalam ruang lingkup Pernyataan ini, maka informasi
segmen hanya disyaratkan pada laporan keuangan konsolidasian.

05. Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas:

(a) yang terlibat dalam aktivitas bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan
menimbulkan beban (termasuk pendapatan dan beban terkait dengan transaksi dengan
komponen lain dari entitas yang sama);

(b) hasil operasinya dikaji ulang secara reguler oleh pengambil keputusan operasional
untuk membuat keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan
menilai kinerjanya; dan

(c) tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan. Segmen operasi dapat terlibat
dalam aktivitas bisnis yang belum menghasilkan pendapatan, misalnya operasi permulaan
dapat menjadi segmen operasi sebelum memperoleh pendapatan.

46
06. Tidak setiap bagian dari entitas perlu menjadi suatu segmen operasi atau bagian dari
segmen operasi. Misalnya, kantor pusat atau beberapa bagian fungsional mungkin tidak
menghasilkan pendapatan atau menghasilkan pendapatan yang hanya insidental atas aktivitas
entitas dan tidak menjadi segmen operasi. Untuk tujuan Pernyataan ini, program imbalan
pascakerja bukan merupakan segmen operasi.

07. Istilah “pengambil keputusan operasional” mengidentifikasi suatu fungsi, tidak perlu
seorang manajer dengan jabatan tertentu. Fungsi tersebut adalah mengalokasikan sumber
daya dan menilai kinerja segmen operasi entitas. Sering kali pengambil keputusan
operasional entitas adalah chief executive officer atau chief operating officer tetapi, misalnya,
bisa direktur eksekutif kelompok usaha atau lainnya.

08. Untuk banyak entitas, tiga karakteristik segmen operasi yang dijelaskan pada paragraf
5 secara jelas mengidentifikasi segmen operasi. Namun, entitas dapat membuat laporan
tentang aktivitas bisnisnya yang disajikan dalam beragam cara. Jika pengambil keputusan
operasional menggunakan lebih dari satu bentuk informasi segmen, maka faktor lain dapat
mengidentifikasi suatu bentuk komponen tunggal sebagai segmen operasi, termasuk sifat
aktivitas bisnis dari setiap komponen, keberadaan manajer yang bertanggungjawab atas hal
tersebut, dan informasi yang disajikan pada dewan direksi.

09. Secara umum, segmen operasi memiliki seorang manajer segmen yang bertanggung
jawab secara langsung pada dan memelihara hubungan secara reguler dengan pengambil
keputusan operasional untuk mendiskusikan aktivitas operasi, hasil keuangan, perkiraan, atau
rencana atas segmen tersebut. Istilah “manajer segmen” mengidentifikasikan suatu fungsi,
tidak perlu seorang manajer dengan jabatan tertentu. Pengambil keputusan operasional juga
dapat menjadi manajer segmen untuk beberapa segmen operasi. Jika karakteristik dalam
paragraf 5 diterapkan pada lebih dari satu bentuk komponen organisasi tetapi hanya ada satu
komponen yang menjadi tanggung jawab manajer segmen, maka komponen tersebut
merupakan segmen operasi.

10. Karakteristik dalam paragraf 5 dapat diterapkan pada dua atau lebih komponen yang
tumpang tindih yang mana para manajer bertanggung jawab. Struktur tersebut terkadang
mengacu pada bentuk organisasi matriks. Misalnya, pada sejumlah entitas, sejumlah manajer
bertanggung jawab atas produk dan jasa yang berbeda dan lintas negara, yang mana manajer
lain bertanggung jawab atas wilayah geografis tertentu. Pengambil keputusan operasional
secara regular mengkaji ulang hasil operasi atas kedua komponen tersebut, dan informasi

47
keuangan tersedia untuk keduanya. Dalam situasi demikian, entitas menentukan mana
komponen yang merupakan segmen operasi dengan mengacu pada prinsip utama.

SEGMEN DILAPORKAN

11. Entitas melaporkan informasi secara terpisah tentang setiap segmen operasi yang:

(a) telah teridentifikasi sesuai dengan paragraf 5-10 atau hasil dari agregasi dua atau lebih
segmen sesuai dengan paragraf 12, dan
(b) melebihi ambang batas kuantitatif pada paragraf 13. Paragraf 14-19 mengatur situasi
lain dimana informasi terpisah tentang segmen operasi dilaporkan.

Kriteria Agregasi

12. Segmen operasi seringkali memperlihatkan kinerja keuangan jangka panjang serupa
jika mereka memiliki karakteristik ekonomi serupa. Misalnya, rerata margin bruto jangka
panjang untuk dua segmen operasi diperkirakan serupa jika karakteristik ekonominya serupa.
Dua atau lebih segmen operasi dapat diagregasikan dalam suatu segmen operasi tunggal jika
agregasi tersebut konsisten dengan prinsip utama Pernyataan ini, segmen tersebut memiliki
karakteristik ekonomi serupa, dan segmen tersebut serupa dalam setiap hal berikut ini:

(a) sifat produk dan jasa;


(b) sifat proses produksi;
(c) jenis atau kelompok pelanggan untuk produk dan jasanya;
(d) metode yang digunakan untuk mendistribusikan produk dan penyediaan jasanya; dan
(e) jika dapat diterapkan, sifat lingkungan pengaturan, misalnya, perbankan, asuransi
atau utilitas publik.

Ambang Batas Kuantitatif

13. Entitas secara terpisah melaporkan informasi tentang suatu segmen operasi yang
memenuhi ambang batas kuantitatif berikut:

(a) Pendapatan yang dilaporkannya dari segmen, termasuk penjualan ke pelanggan


eksternal dan penjualan atau transfer antar segmen, adalah 10% atau lebih dari gabung-an
pendapatan internal dan eksternal dari semua segmen operasi.

(b) Jumlah absolut dari laba atau rugi yang dilaporkan dari segmen adalah 10% atau lebih
dari jumlah yang lebih besar dari, dalam jumlah absolut,

48
(i) gabungan laba yang dilaporkan dari seluruh segmen operasi yang tidak melaporkan
kerugian, dengan

(ii) gabungan kerugian yang dilaporkan dari seluruh segmen operasi yang melaporkan
kerugian.

(c) Memiliki aset 10% atau lebih dari gabungan aset seluruh segmen operasi. Segmen
operasi yang tidak memenuhi ambang batas kuantitatif dapat pertimbangkan sebagai
dilaporkan dan diungkapkan secara terpisah, jika manajemen percaya bahwa informasi
tentang segmen tersebut akan berguna bagi para pengguna laporan keuangan.

14. Entitas dapat menggabungkan informasi tentang segmen operasi-segmen operasi


yang tidak memenuhi ambang batas kuantitatif dengan informasi tentang segmen operasi
lainnya hanya jika segmen operasi tersebut memiliki karakteristik ekonomi serupa dan
berbagai mayoritas kriteria agregasi pada paragraf 12.

15. Jika total pendapatan eksternal yang dilaporkan oleh segmen operasi kurang dari 75%
dari pendapatan entitas, maka tambahan segmen operasi diidentifikasi sebagai segmen
dilaporkan (bahkan jika segmen operasi tidak memenuhi kriteria pada paragraf 13) hingga
sedikitnya 75% dari pendapatan entitas tercakup dalam segmen dilaporkan.

16. Informasi tentang aktivitas bisnis dan segmen operasi lain yang tidak dilaporkan
digabungan dan diungkapkan dalam kategori ‘semua segmen lain’ secara terpisah dari unsur-
unsur rekonsiliasi dalam rekonsiliasi yang disyaratkan oleh paragraf 28. Sumber pendapatan
yang termasuk dalam kategori ‘semua segmen lain’ dijelaskan.

17. Jika manajemen berpendapat bahwa segmen operasi yang diidentifikasi sebagai
segmen dilaporkan pada periode sebelumnya akan berlanjut secara signifikan, maka
informasi tentang segmen tersebut terus dilaporkan secara terpisah pada periode kini bahkan
jika segmen tersebut tidak lagi memenuhi kriteria untuk pelaporan pada paragaraf 13.

18. Jika segmen operasi diidentifikasi sebagai segmen dilaporkan pada periode kini sesuai
dengan ambang batas kuantitatif, maka data segmen sajian periode lalu untuk tujuan
perbandingan disajikan kembali untuk mencerminkan segmen dilaporkan yang baru sebagai
suatu segmen terpisah, bahkan jika segmen tersebut tidak memenuhi kriteria untuk
pelaporan pada paragraf 13 di periode lalu, kecuali informasi yang diperlukan tidak tersedia
dan biaya untuk mengembangkannya akan jauh lebih besar.

49
19. Dimungkinkan adanya suatu batas praktis untuk jumlah segmen dilaporkan yang
diungkapkan secara terpisah oleh entitas bilamana pelaporan informasi segmen menjadi
terlalu rinci. Meskipun tidak ada batasan persis yang telah ditentukan, pada saat jumlah
segmen yang dilaporkan sesuai dengan paragraf 13-18 meningkat melebihi 10, maka entitas
mempertimbangkan apakah batasan praktis telah dicapai.

PENGUNGKAPAN

20. Entitas mengungkapkan informasi untuk memungkinkan para pengguna laporan


keuangan mengevaluasi sifat dan dampak keuangan atas aktivitas bisnis yang mana entitas
terlibat dan lingkungan ekonomi dimana entitas beroperasi.

21. Untuk memberikan dampak terhadap prinsip pada paragraf 20, entitas
mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap periode laporan laba rugi komprehensif
disajikan:

(a) informasi umum sebagaimana dijelaskan pada paragraph 22;


(b) informasi tentang laba atau rugi segmen dilaporkan, termasuk pendapatan dan beban
tertentu yang termasuk dalam laba atau rugi segmen dilaporkan, aset segmen
kewajiban segmen, dan dasar pengukuran, sebagaimana dijelaskan pada paragraf 23-
27; dan
(c) rekonsiliasi dari total pendapatan segmen, laba atau rugi segmen dilaporkan, aset
segmen, kewajiban segmen, dan unsur material segmen lainnya terhadap jumlahnyang
terkait dalam entitas sebagaimana dijelaskan pada paragraf 28. Rekonsiliasi jumlah
dalam laporan posisi keuangan untuk segmen dilaporkan terhadap jumlah dalam
laporan posisi keuangan entitas disyaratkan untuk setiap tanggal dimana
laporan posisi keuangan disajikan. Informasi untuk periode lalu disajikan kembali
sebagaimana dijelaskan pada paragraf 29 dan 30.

Informasi Umum

22. Entitas mengungkapkan informasi umum berikutini:

(a) faktor-faktor yang digunakan untuk mengidentifikasi segmen yang dapat dilaporkan
dari entitas, termasuk dasar organisasi (misalnya, apakah manajemen telah memilih
untuk mengatur entitas diantara perbedaan dalam produk dan jasa, wilayah geografis,

50
lingkungan peraturan, atau gabungan dari faktor-faktor tersebut dan apakah segmen
operasi telah diagregasikan), dan
(b) jenis produk dan jasa yang menghasilkan pendapatan untuk dari setiap segmen
dilaporkan.

Informasi tentang Laba atau Rugi, Aset dan Kewajiban

23. Entitas melaporkan suatu ukuran atas laba atau rugi dan total untuk atas setiap segmen
yang dilaporkan. Entitas melaporkan suatu ukuran kewajiban untuk setiap segmen
dilaporkan jika jumlah tersebut secara regular disediakan kepada pengambil keputusan
operasional. Entitas juga mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap segmen dilaporkan jika
jumlah tertentu termasuk dalam ukuran laba atau rugi segmen yang dikaji oleh pengambil
keputusan operasional, atau secara teratur disediakan untuk pengambil keputusan
operasional, bahkan jika tidak termasuk dalam mengukur laba atau rugi segmen:

(a) pendapatan dari pelanggan eksternal;


(b) pendapatan dari transaksi dengan segmen operasi lain dalam entitas yang sama;
(c) pendapatan bunga;
(d) beban bunga;
(e) penyusutan dan amortisasi;
(f) unsur-unsur material dari penghasilan dan beban yang diungkapkan sesuai dengan
paragraf 97 pada PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan;
(g) bagian entitas atas laba atau rugi entitas asosiasi dan ventura bersama yang dicatat
dengan metode ekuitas
(h) beban atau pendapatan pajak penghasilan; dan
(i) unsur-unsur material nonkas selain penyusutan dan amortisasi.

Entitas melaporkan pendapatan bunga secara terpisah dari beban bunga untuk setiap
segmen dilaporkan, kecuali mayoritas pendapatan segmen berasal dari bunga dan
pengambil keputusan operasional menggunakan pendapatan bunga neto sebagai dasar utama
dalam menilai kinerja dan membuat keputusan tentang sumber daya untuk dialokasikan
kepada segmen tersebut. Dalam situasi tersebut, entitas dapat melaporkan pendapatan bunga
segmen secara neto setelah beban bunga dan mengungkapkan hal tersebut.

24. Entitas mengungkapkan hal-hal berikut untuk setiap segmen jika jumlah tertentu
yang dimasukkan dalam mengukur aset segmen yang dikaji ulang oleh pengambil keputusan

51
operasional atau sebaliknya secara regular disediakan kepada pengambil keputusan
operasional, bahkan jika tidak termasuk dalam mengukur aset segmen:

(a) jumlah investasi pada entitas asosiasi dan joint venture yang dicatat dengan metode
ekuitas, dan
(b) jumlah tambahan pada aset tidak lancar* selain instrument keuangan, aset pajak
tangguhan, aset imbalan pascakerja (lihat paragraf PSAK 24: Imbalan Kerja paragraf
54-59), dan hak yang timbul dalam kontrak asuransi.

PENGUKURAN

25. Jumlah setiap unsur segmen dilaporkan merupakan ukuran yang dilaporkan kepada
pengambil keputusan operasional untuk tujuan pengambilan keputusan untuk
mengalokasikan sumber daya kepada segmen dan menilai kinerjanya. Penyesuaian dan
eliminasi yang dibuat dalam penyusunan laporan keuangan entitas dan pengalokasian
pendapatan, beban, dan keuntungan atau kerugian termasuk dalam menentukan laba atau rugi
segmen yang dilaporkan hanya jika hal tersebut termasuk dalam pengukuran laba atau rugi
segmen yang digunakan oleh pengambil keputusan operasional. Hal yang sama, hanya aset
dan kewajiban yang termasuk dalam pengukuran aset dan kewajiban segmen yang digunakan
oleh pengambil keputusan operasional harus dilaporkan untuk segmen tersebut. Jika jumlah
tersebut dialokasikan ke laba atau rugi, aset atau kewajiban segmen, maka seluruh jumlah
tersebut dialokasikan dengan dasar yang wajar.

26. Jika pengambil keputusan operasional hanya menggunakan satu ukuran atas laba atau
rugi, aset atau kewajiban segmen operasi dalam menilai kinerja dan memutuskan bagaimana
alokasi sumber daya, maka laba atau rugi, asset dan kewajiban segmen dilaporkan atas
ukuran tersebut. Jika pengambil keputusan operasional menggunakan lebih dari satu ukuran
laba atau rugi, aset atau kewajiban segmen operasi, maka ukuran yang dilaporkan adalah
ukuran yang dipercayai manajemen ditentukan sesuai dengan dasar pengukuran yang paling
konsisten dengan yang digunakan dalam mengukur jumlah yang terkait dalam laporan
keuangan entitas.

27. Entitas menyampaikan penjelasan pengukuran laba atau rugi, aset dan kewajiban
segmen untuk setiap segmen dilaporkan. Paling tidak, entitas mengungkapkan sebagai
berikut:

(a) Dasar akuntansi untuk transaksi di antara segmen dilaporkan.

52
(b) Sifat dari setiap perbedaan antara pengukuran laba atau rugi segmen yang dilaporkan
dengan laba atau rugi entitas sebelum beban atau pendapatan pajak penghasilan dan
operasi dihentikan (jika tidak terlihat dalam rekonsiliasi yang dijelaskan pada paragraf
28). Perbedaan tersebut dapat termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan untuk
alokasi biaya yang terjadi secara terpusat yang diperlukan untuk memahami informasi
segmen yang dilaporkan.
(c) Sifat dari setiap perbedaan antara pengukuran atas asset segmen dilaporkan dan aset
entitas (jika tidak terlihat dalam rekonsiliasi yang dijelaskan pada paragraf 28).
Perbedaan tersebut dapat termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan untuk alokasi
aset yang digunakan bersama yang diperlukan untuk memahami informasi segmen
dilaporkan.
(d) Sifat dari setiap perbedaan antara pengukuran atas kewajiban segmen dilaporkan
dan kewajiban entitas (jika tidak terlihat dalam rekonsiliasi yang dijelaskan pada
paragraf 28). Perbedaan tersebut dapat termasuk kebijakan akuntansi dan kebijakan
alokasi kewajiban yang digunakan bersama yang diperlukan untuk memahami
informasi segmen dilaporkan.
(e) Sifat dari setiap perubahan dari periode lalu dalam metode pengukuran yang
digunakan untuk menentukan laba atau rugi segmen dilaporkan dan dampak dari
perubahan tersebut dalam mengukur laba atau rugi segmen jika ada.
(f) Sifat dan dampak dari alokasi yang tidak simetris kepada segmen dilaporkan.
Misalnya, entitas mungkin mengalokasikan beban penyusutan kepada suatu segmen
tanpa mengalokasikan aset terkait yang dapat disusutkan ke segmen tersebut.

Rekonsiliasi

28. Entitas melakukan rekonsiliasi atas semua hal sebagai berikut:

(a) Total pendapatan segmen dilaporkan terhadap pendapatan entitas.


(b) Total ukuran laba atau rugi segmen dilaporkan terhadaplaba atau rugi entitas sebelum
beban pajak (pendapatan pajak) dan operasi dihentikan. Namun, jika entitas
mengalokasikan unsur seperti beban pajak (pendapatan pajak) kepada segmen
dilaporkan, maka entitas merekonsiliasi total ukuran laba atau rugi segmen terhadap
laba atau rugi entitas setelah semua unsur tersebut
(c) Total aset segmen dilaporkan terhadap aset entitas.

53
(d) Total kewajiban segmen dilaporkan terhadap kewajiban entitas jika segmen kewajiban
dilaporkan sesuai dengan paragraf 23.
(e) Total jumlah dalam segmen dilaporkan untuk setiap informasi unsur material yang
diungkapkan terhadap jumlah terkait dalam entitas. Seluruh unsur-unsur material yang
direkonsiliasikan harus diidentifikasi dan dijelaskan secara terpisah. Misalnya, jumlah
untuk setiap penyesuaian material yang diperlukan untuk merekonsiliasi laba atau rugi
segmen dilaporkan terhadap laba atau rugi entitas yang timbul dari perbedaan
kebijakan akuntansi harus diidentifikasi dan dijelaskan secara terpisah.

Penyajian Kembali Informasi yang Dilaporkan Sebelumnya

29. Jika entitas mengubah struktur organisasi internal yang menyebabkan komposisi
segmen dilaporkan berubah, maka informasi yang terkait untuk periode sebelumnya
(termasuk periode interim) disajikan kembali, kecuali infomasi tersebut tidak tersedia dan
biaya untuk mengembangkannya akan jauh lebih besar. Penentuan apakah informasi tidak
tersedia dan biaya untuk mengembangkannya akan jauh lebih besar dilakukan untuk setiap
unsur individual pengungkapan. Setelah perubahan dalam komposisi segmen dilaporkan,
entitas mengungkapkan apakah entitas menyajikan kembali unsur-unsur informasi segmen
yang terkait untuk periode lebih awal.

30. Jika entitas telah mengubah struktur organisasi internal yang menyebabkan komposisi
segmen dilaporkan berubah dan informasi segmen untuk periode yang lebih awal (termasuk
periode interim) tidak disajikan kembali untuk mencerminkan perubahan tersebut, maka
entitas mengungkapkan pada tahun dimana perubahan tersebut mengakibatkan informasi
segmen untuk periode kini dengan segmentasi dasar baru dan dasar lama, kecuali informasi
yang diperlukan tidak tersedia dan biaya untuk mengembangkannya akan jauh lebih besar.

PENGUNGKAPAN PADA LEVEL ENTITAS

31. Paragraf 32-34 diterapkan pada seluruh entitas yang tunduk pada Pernyataan ini
termasuk entitas yang memiliki satu segmen dilaporkan. Beberapa aktivitas bisnis entitas
tidak diatur berdasarkan perbedaan yang terkait dengan produk dan jasa atau operasi wilayah
geografis. Segmen dilaporkan entitas tersebut dapat melaporkan pendapatan dari suatu jajaran
produk dan jasa yang berbeda secara esensial, atau lebih dari satu dari segmen dilaporkan
dapat menyediakan produk dan jasa yang sama secara esensial. Hal yang serupa, segmen

54
dilaporkan entitas dapat memiliki aset diwilayah geografis yang berbeda dan melaporkan
pendapatan dari pelanggan di wilayah geografis yang berbeda, atau lebih dari satu dari
segmen dilaporkan dapat beroperasi dalam wilayah geografis yang sama. Informasi yang
diatur pada paragraf 32-34 disediakan hanya jika hal tersebut tidak disediakan sebagai bagian
dari informasi segmen dilaporkan yang disyaratkan dalam Pernyataan ini. Informasi tentang
Produk dan Jasa

32. Entitas melaporkan pendapatan dari pelanggan eksternal untuk setiap produk dan jasa,
atau setiap kelompok produk dan jasa yang serupa, kecuali informasi yang diperlukan tidak
tersedia dan biaya untuk mengembangkanakan jauh lebih besar, dalam hal demikian fakta
tersebut diungkapkan. Jumlah pendapatan yang dilaporkan berdasarkan pada informasi
keuangan yang digunakan untuk menghasilkan laporan keuangan entitas.

Informasi tentang Wilayah Geografis

33. Entitas melaporkan informasi geografis berikut, kecuali jika informasi yang
diperlukan tidak tersedia dan biaya untuk mengembangkan akan jauh lebih besar:

(a) Pendapatan dari pelanggan eksternal (i) yang diatribusikan kepada negara domisili
entitas dan (ii) yang diatribusikan kepada semua negara asing secara total dimana entitas
memperoleh pendapatan. Jika pendapatan dari pelanggan eksternal yang diatribusikan ke
suatu negara asing secara individual adalah material, maka pendapatan tersebut diungkapkan
secara terpisah. Entitas mengungkapkan dasar pengatribusian pendapatan dari pelanggan
eksternal kepada negara-negara secara individual.

(b) Aset tidak lancar selain instrumen keuangan, aset pajak yang ditangguhkan, aset
imbalan pascakerja, dan hak yang timbul akibat kontrak asuransi (i) yang berlokasi di negara
domisili entitas dan (ii) berlokasi di semua negara asing secara total dimana entitas memiliki
aset tersebut.

Jika aset di suatu negara asing adalah material, maka aset tersebut diungkapkan secara
terpisah. Jumlah yang dilaporkan berdasarkan pada informasi keuangan yang digunakan
untuk menghasilkan laporan keuangan entitas. Jika informasi yang diperlukan tidak tersedia
dan biaya untuk mengembangkan akan jauh lebih besar, maka fakta tersebut diungkapkan.
Entitas dapat menyampaikan informasi lain selain yang diatur oleh paragraf ini, subtotal dari
informasi geografis tentang kelompok negara.

55
Informasi tentang Pelanggan Utama

34. Entitas memberikan informasi tentang sejauh mana entitas menyandarkan pada
pelanggan utamanya. Jika pendapatan dari transaksi dengan pelanggan eksternal tunggal
mencapai jumlah 10% atau lebih dari pendapatan entitas, maka entitas harus mengungkapkan
fakta tersebut, total jumlah pendapatan dari setiap pelanggan, dan identitas segmen yang
melaporkan pendapatan tersebut. Entitas tidak perlu mengungkapkan identitas pelanggan
utama atau jumlah pendapatan yang setiap segmen dilaporkan dari pelanggan tersebut. Untuk
tujuan Pernyataan ini, kelompok entitas yang merupakan sepengendali dengan entitas pelapor
dianggap sebagai suatu pelanggan tunggal, sertapemerintah (nasional, provinsi, lokal atau
asing) dan entitas di bawah kendali pemerintah dianggap sebagai suatu pelanggan tunggal.

TANGGAL EFEKTIF

35. Entitas menerapkan Pernyataan ini untuk periode tahunan untuk periode yang dimulai
pada atau setelah 1 Januari 2011. Penerapan dini diperkenankan. Jika entitas menerapkan
Pernyataan ini untuk periode tahunan yang dimulai sebelum 1 Januari 2011, maka entitas
mengungkapkan fakta itu.

KETENTUAN TRANSISI

36. Informasi segmen untuk tahun-tahun lalu yang dilaporkan sebagai informasi
komparatif untuk awal tahun penerapan disajikan kembali sesuai dengan persyaratan dari
Pernyataan ini, kecuali jika informasi yang diperlukan tidak tersedia dan biaya untuk
pengembangannya akan jauh lebih besar.

PENARIKAN

37. Pernyataan ini menggantikan PSAK 5 (revisi 2000): Pelaporan Segmen

56
KESIMPULAN

Pengertian PSAK adalah standar yang digunakan untuk pelaporan keuangan di Indonesia.
PSAK digunakan sebagai pedoman akuntan untuk membuat laporan keuangan.

 PSAK 1 tentang Penyajian Laporan Keuangan


Laporan keuangan adalah suatu penyajian terstruktur dari posisi keuangan dan kinerja
keuangan suatu entitas. Tujuan laporan keuangan adalah memberikan informasi mengenai
posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang bermanfaat bagi sebagian besar
kalangan pengguna laporan dalam pembuatan keputusan ekonomi. Dalam rangka mencapai
tujuan tersebut, laporan keuangan menyajikan informasi mengenai entitas yang meliputi:
aset; laibilitas; ekuitas; pendapatan dan beban termasuk keuntungan dan kerugian; kontribusi
dari dan distribusi kepada pemilik dalam kapasitasnya sebagai pemilik; dan arus kas.
Informasi tersebut, beserta informasi lainnya yang terdapat dalam catatan atas laporan
keuangan, membantu pengguna laporan dalam memprediksi arus kas masa depan dan,
khususnya, dalam hal waktu dan kepastian diperolehnya kas dan setara kas.

 PSAK 2 tentang Laporan Arus Kas


Arus kas adalah arus masuk dan arus keluar kas atau setara kas. Laporan arus kas harus
melaporkan arus kas selama periode tertentu dan diklasifikasi menurut aktivitas operasi,
investasi, dan pendanaan. Klasifikasi menurut aktivitas memberikan informasi yang
memungkinkan para pengguna laporan untuk menilai pengaruh aktivitas tersebut terhadap
posisi keuangan entitas serta terhadap jumlah kas dan setara kas. Informasi tersebut dapat
juga digunakan untuk megevaluasi hubungan diantara ketiga aktivitas tersebut
o Aktivitas operasi adalah aktivitas penghasil utama pendapatan entitas (principal
revenue-producing activities) dan aktivitas lain yang bukan merupakan aktivitas
investasi dan aktivitas pendanaan.
o Aktivitas investasi adalah perolehan dan pelepasan aset jangka panjang serta investasi
lain yang tidak termasuk setara kas.

57
o Aktivitas pendanaan (financing) adalah aktivitas yang mengakibatkan perubahan
dalam jumlah serta komposisi kontribusi modal dan pinjaman entitas.
 PSAK 3 tentang Laporan Keuangan Interim
Laporan keuangan interim adalah laporan keuangan yang diterbitkan di antara dua laporan
keuangan tahunan. Laporan keuangan interim: (1) harus dipandang sebagai bagian yang
integral dari periode tahuan; dan (2) dapat disusun secara bulanan, triwulanan, atau periode
lain yang kurang dari setahun dan mencakupi seluruh komponen laporan keuangan sesuai
standar akuntansi keuangan. Secara konseptual, laporan keuangan interim (interim report)
menyediakan informasi yang lebih tepat waktu, tetapi kurang lengkap dibandingkan dengan
laporan keuangan tahunan (annual report). Laporan keuangan interim menunjukkan adanya
trade-off antara ketepatan waktu dan kehandalan data-data keuangan, karena memerlukan
adanya estimasi untuk melakukan review piutang, utang dagang/usaha, persediaan, dan
informasi lainnya yang mendukung pengukuran yang disajikan dalam laporan keuangan
tahunan.

 PSAK 4 tentang Keuangan Konsolidasi


Pengendalian (Control) adalah kemampuan untuk mengatur kebijakan finansial dan
operasional dari suatu perusahaan untuk mendapatkan manfaat dari kegiatan perusahaan
tersebut. Anak perusahaan (Subsidiary) adalah perusahaan yang dikendalikan oleh
perusahaan lain (yang disebut induk perusahaan). Laporan keuangan konsolidasi adalah suatu
laporan keuangan dari suatu group perusahaan yang disajikan sebagai satu kesatuan ekonomi
meskipun masing- masing perusahaan dalam kelompok tersebut merupakan suatu entitas
hukum yang terpisah satu sama lain. Dalam menyusun laporan keuangan konsolidasi, laporan
keuangan induk perusahaan dan anak perusahaan digabungkan satu persatu dengan
menjumlahkan unsur-unsur yang sejenis dari aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan dan
beban.

 PSAK 5 tentang Segmen Operasi


Segmen operasi adalah suatu komponen dari entitas: (a) yang terlibat dalam aktivitas
bisnis yang mana memperoleh pendapatan dan menimbulkan beban (termasuk pendapatan
dan beban terkait dengan transaksi dengan komponen lain dari entitas yang sama); (b) hasil
operasinya dikaji ulang secara reguler oleh pengambil keputusan operasional untuk membuat
keputusan tentang sumber daya yang dialokasikan pada segmen tersebut dan menilai
kinerjanya; dan c) tersedia informasi keuangan yang dapat dipisahkan. Segmen operasi dapat

58
terlibat dalam aktivitas bisnis yang belum menghasilkan pendapatan, misalnya operasi
permulaan dapat menjadi segmen operasi sebelum memperoleh pendapatan.

Tidak setiap bagian dari entitas perlu menjadi suatu segmen operasi atau bagian dari segmen
operasi. Misalnya, kantor pusat atau beberapa bagian fungsional mungkin tidak menghasilkan
pendapatan atau menghasilkan pendapatan yang hanya insidental atas aktivitas entitas dan
tidak menjadi segmen operasi.

59