Anda di halaman 1dari 6

LEARNING JOURNAL

Program Pelatihan : Pelatihan Dasar CPNS Golongan III


Angkatan : 1
Agenda : Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu,
Anti Korupsi
Nama Peserta : drg. Iradatul Hasanah
Nomor Daftar Hadir : 20
Lembaga Penyelenggara BBPK Jakarta
Pelatihan :

A. Pokok Pikiran : Akuntabilitas


Konsep Akuntabilitas: Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap individu, kelompok
atau institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya. Akuntabilitas
berbeda dengan responsibilitas. Akuntabilitas dapat maknai dengan kewajiban
pertanggungjawaban yang harus di capai, sedangkan responsibitas diartikan kewajiban
untuk bertanggung jawab.
Dalam akuntabilitas terdapat lima aspek akuntabilitas, yaitu:
1. Akuntabilitas adalah sebuah hubungan: Hubungan dua pihak antara individu/
kelompok/ institusi dengan negara dan masyarakat
2. Akuntabilitas berorientasi pada hasil: Hasil yang diharapkan dalam akuntabilitas
yaitu aparat pemerintah yang bertanggung jawab, adil, inovatif, hasil maksimal
3. Akuntabilitas membutuhkan sebuah laporan: laporan kinerja adalah wujud
akuntabilitas. Individu dapat berupa kontrak kerja, sedangkan untuk institusi
berupa LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja Laporan Pemerintah).
4. Akuntabilitas memerlukan konsekuensi: konsekuensi tersebut dapat berupa
sanksi atau penghargaan.
5. Akuntabilitas memperbaiki kinerja: memperbaiki kinerja PNS dalam memberikan
pelayanan kepada masyarakat.
Akuntabilitas publik memiliki fungsi utama yaitu:
1. Peran demoktaris: untuk menyediakan kontrol demokratis
2. Peran konstitusioal: untuk mencegah korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan
3. Peran belajar: untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu: akuntabilitas vertikal (vertical
accountability), dan akuntabilitas horizontal (horizontal accountability). Akuntabilitas
vertikal adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih
tinggi, dan Akuntabilitas horzontal adalah pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda digambarkan dalam piramida limas
segitiga yang digambarkan dari bawah ke atas yaitu:
1. Akuntabilitas personal : Nilai-nilai yang ada pada diri seseorang seperti kejujuran,
integritas, moral dan etika
2. Akuntabilitas individu: Hubungan antara individu dan lingkungan kerjanya, yaitu
antara PNS dengan instansinya sebagai pemberi kewenangan.
3. Akuntabilitas kelompok: Kinerja sebuah institusi biasanya dilakukan atas
kerjasama kelompok
4. Akuntabilitas organisasi: Hasil pelaporan kinerja yang telah dicapai
5. Akuntabilitas stakeholder: Tanggungjawab organisasi pemerintah untuk
mewujudkan pelayanan dan kinerja yang adil, responsif dan bermartabat.
Mekanisme akuntabilitas: terdapat empat dimensi dalam akuntabilitas, yaitu :
1. Akuntabilitas kejujuran dan hukum
2. Akuntabilitas proses
3. Akuntabilitas program
4. Akuntabilitas kebijakan
Mekanisme akuntabilitas birokrasi di indonesia antara lain: Perencanaan Strategis (RPJP,
RPJM, RKP, Renstra, SKP), Kontrak kinerja dan LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja
Laporan Pemerintah).
Langkah-langkah yang harus dilakukan untuk menciptakan framework akuntabilitas:
1. Tentukan tujuan dan tanggung jawab
2. Rencanakan apa yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan
3. Lakukan implementasi monitoring kemajuan
4. Berikan laporan secara lengkap
5. Berikan evaluasi dan masukan perbaikan
Akuntabilitas dalam konteks: akuntabilitas dalam suatu organisasi dapat diwujudkan
berupa:
1. Transparansi dan Akses Informasi: Perwujudan transparansi tata kelola keterbukaan
informasi publik dengan terbitnya payung regulasi yakni UU Nomor 14 Tahun 2008
tentang Keterbukaan Informasi Publik.
2. Praktek Kecurangan (Fraud) dan Perilaku Korup: Penyalahgunaan kewenangan akan
berdampak pada praktik kecurangan (fraud) yang diartikan sebagai sekumpulan
tindakan yang tidak diizinkan dan melanggar hukum yang ditandai dengan adanya
unsur kecurangan yang disengaja (IIA).
3. Penggunaan Sumber Daya Milik Negara: Setiap PNS harus memastikan bahwa:
Penggunaannya diatur sesuai dengan prosedur yang berlaku; Penggunaannya
dilakukan secara bertanggung jawab dan efisien; Pemeliharaan fasilitas secara benar
dan bertanggung jawab.
4. Penyimpanan dan Penggunaan Data dan Informasi Pemerintah: bagaimana
pemerintah atau aparatur dapat menjelaskan semua aktifitasnya dengan memberikan
data dan informasi yang akurat terhadap apa yang telah mereka laksanakan, sedang
laksanakan dan akan dilaksanakan.
5. Konflik Kepentingan: situasi yang timbul di mana tugas publik anda dan kepentingan
pribadi bertentangan. Tipe-tipe nya yaitu: keuangan dan non keuangan.
Menjadi PNS yang akuntabel: PNS yang mampu mengambil pilihan yang tepat ketika
terjadi konflik kepentingan, tidak terlibat dalam politik praktis, melayani warga secara adil
dan konsisten dalam menjalankan tugas dan fungsinya.
B. Pokok Pikiran : Nasionalisme
Nasionalisme merupakan suatu sikap politik dari masyarakat suatu bangsa yang
mempunyai kesamaan kebudayaan, dan wilayah serta kesamaan cita-cita dan tujuan,
dengan demikian masyarakat suatu bangsa tersebut merasakan adanya kesetiaan yang
mendalam terhadap bangsa itu sendiri.
Prinsip-prinsip dalam nasionalisme adalah:
1. hasrat untuk mencapai kesatuan
2. hasrat untuk mencapai kemerdekaan
3. hasrat untuk mencapai keaslian
4. hasrat untuk mencapai kehormatan bangsa
Dalam nilai-nilai dasar PNS, ditanamkannya nilai nasionalisme dalam PNS adalah agar
PNS berwawasan kebangsaan dan memiliki nasionalisme yang kuat, sehingga PNS dapat
memahami dan memiliki kesadaran mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam
pelaksanaan tugasnya melalui 5 sila dalam pancasila yaitu: Ketuhanan Yang Maha Esa,
kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh
hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
Peran PNS dalam UU no.5 tahun 2014 adalah:
1. PNS sebagai pemersatu bangsa dan mendahulukan kepentingan bangsa dan
negara di atas kepentingan lainnya.
2. PNS sebagai pelaksana kebijakan publik yang senantiasa mementingkan
kepentingan publik.
3. PNS profesional dan melayani yang berintegritas.
C. Pokok Pikiran : Etika Publik
Etika publik merupakan refleksi tentang standar atau norma yang menentukan baik atau
buruk, benar atau salah setiap perilaku, tindakan, dan keputusan untuk mengarahkan
kebijakan publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayanan publik.
Sedangkan kode Etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku dalam suatu
kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan pada hal-hal prinsip dalam bentuk
ketentuanketentuan tertulis. Kode etik aparatur sipil negara yaitu:
1. Melaksanakan tugasnya secara Jujur, bertanggung jawab dan berintegritas tinggi;
2. Melaksanakan tugasnya secara cermat dan disiplin;
3. Melaksanakan tugas sesuai dengan peraturan peundang-undangan yang berlaku;
4. Melayani dengan sikap hormat, sopan dan tanpa tekanan;
5. Melaksanakan tugas sesuai dengan perintah atasan sejauh tidak bertentangan
dengan peraturan perundang undangan dan etika pemerintahan;
6. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan Negara;
7. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara bertanggung jawab, efekti
dan efisien;
8. Menjaga agar tidak terjadi konflik ; kepentingantingan dalam melaksanakan
tugasnya;
9. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan kepada pihak lain yang
memerlukan informasi terkait kepentingan kedinasan;
10. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status, kekuasaan, dan
jabatannya untuk mendapat atau mencari keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri
atau untuk orang lain;
11. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi dan integritas ASN;
12. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan mengenai disiplinpegawai
ASN.
Terdapat 15 nilai-nilai dasar ASN yaitu:
1. Memegang teguh Ideologi Pancasila;
2. Setia dan mempertahankan UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta
pemerintahan yang sah;
3. Mengabdi kepada negara dan rakyat Indonesia;
4. Menjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihak;
5. Membuat keputusan berdasarkan prinsip keahlian;
6. Menciptakan lingkungan kerja yang non diskriminatif;
7. Memelihara dan menjunjung tinggi standar etika luhur;
8. Mempertanggungjawabkan tindakan dan kinerjanya kepada publik;
9. Memiliki kemampuan dalam melaksanakan kebijakan dan program pemerintah;
10. Memberikan layanan kepada publik secara jujur, tanggap, cepat,tepat, akurat
berdaya guna, berhasil guna, dan santun;
11. Mengutamakan kepemimpinan berkualitas tinggi;
12. Menghargai komunikasi, konsultasi dan kerjasama;
13. Mengutamakan pencapaian hasil dan mendorong kinerja pegawai;
14. Mendorong kesetaraan dalampekerjaan; dan
15. Meningkatkan evektifitas sistem pemerintahan yang demokratis sebagai perangkat
sistem karier
Ada tiga fokus utama dalam pelayanan publik, yakni:
1. Pelayanan publik yang berkualitas dan relevan.
2. Sisi dimensi reflektif, Etika Publik berfungsi sebagaibantuan dalam menimbang
pilihan sarana kebijakan publik dan alat evaluasi.
3. Modalitas Etika, menjembatani antara norma moral dan tindakan faktual.

Dimensi etika publik: pada prinsipnya terdapat 3 dimensi dalam etika publik yaitu:
a. Dimensi kualitas layanan publik
b. Dimensi modalitas: akuntabel, transparan, netral.
c. Dimensi tindakan integritas publik: pejabat publik yang sesuai nilai, standar, aturan
moral yang diterima masyarakat. Integritas publik juga merupakan niat baik seorang
pejabat publik yang didukung oleh institusi sosial seperti hukum, aturan, kebiasaan,
dan sistem pengawas.
Bentuk-bentuk kode etik dan implikasinya: sumber-sumber kode etik ASN adalah
sebagai berikut.
1. PP No 11 tahun 1959 tentang sumpah jabatan pegawai negeri sipil dan anggota
angkatan perang
2. PP No 21 tahun 1975 tentang sumpah jabatan/janji pegawai negeri sipil
3. PP No 30 tahun 1980 tentang peraturan disiplin pegawai negeri sipil
4. PP No 42 tahun 2004 tentang pembinaan jiwa korps dan kode etik pegawai negeri
sipil
5. PP No 53 tahun 2010 tentang disiplin PNS
6. PP No 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

D. Pokok Pikiran : Komitmen Mutu


Aspek utama yang menjadi target stakeholders adalah layanan yang komitmen pada
mutu, melalui penyelenggaraan tugas secara efektif, efisien, dan inovatif.
Efektif: Berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai dengan target.
Efisien: Berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan mencapai hasil tanpa menimbulkan
pemborosan.
Inovasi: Penemuan sesuatu yang baru atau mengandung kebaruan.
Mutu: Merupakan ukuran baik buruk yang dipersepsi individu terhadap produk/jasa.
Manajemen mutu: dikenal dengan trilogi TQM (Total Quality Management), yang terdiri
dari quality planing (kualitas perencanaan), quality control (kualitas kontrol) dan quality
improvement (kualitas impruvisasi).
Zeithmalh, dkk (1990: 23) menyatakan bahwa terdapat sepuluh ukuran dalam menilai
mutu pelayanan, yaitu : “(1) Tangible (nyata/berwujud), (2) Reliability (keandalan), (3)
Responsiveness (Cepat tanggap), (4) Competence (kompetensi), (5) Access
(kemudahan), (6) Courtesy (keramahan), (7) Communication (komunikasi), (8) Credibility
(kepercayaan), (9) Security (keamanan), (10) Understanding the Customer (Pemahaman
pelanggan).”
Teknik/metode perbaikan mutu yang harus dilakukan dalam organisasi adalah:
a. Metode PDCA (Plan – Do – Check – Action)
b. Diagram sebab-akibat: fishbone diagram (diagram tulang ikan), problem tress
(pohon masalah).
Aktualisasi nilai-nilai dasar komitmen mutu:
1. Aktualisasi nilai dasar komitmen mutu dalam pelaksanaan tugas aparatur akan
mendorong terciptanya iklim/budaya kerja unggul yang dapat menumbuhkan
keberanian untuk menampilkan kreativitas dan inovasi. Dengan demikian,
pergeseran orientasi kerja diarahkan untuk memotivasi aparatur mengubah
mindset menuju layanan bermutu.
2. Orientasi kerja bukan pada kewajiban menjalankan rutinitas kegiatan, melainkan
pada semangat pengabdian untuk memberikan layanan publik yang terbaik dan
siap menghadapi berbagai kendala (constrain).
3. Orientasi aparatur bukan dilayani melainkan melayani.
4. Fokus kinerja aparatur adalah untuk melayani publik.
5. Kewajiban aparatur adalah memberikan layanan publik yang adil dan bermutu,
untuk membangun kepercayaan masyarakat terhadap Pemerintah.
6. Setiap aparatur mesti memiliki sense of quality dan semangat belajar tinggi,
sehingga menimbulkan keberanian berpikir alternatif, berani bertanya dan bahkan
berbeda pendapat, demi untuk kebaikan dan kemajuan bangsa dan negara dalam
menghadapi globalisasi.
E. Pokok Pikiran : Anti Korupsi
• Rumus korupsi menurut Robert Klitgaard yang wajib diingat:
C=M+D–A
C = Corruption/Korupsi M = Monopoly/Monopoli
D = Discretion/Diskresi A = Accountability/Akuntabilitas
Jenis-jenis korupsi adalah:
a. Kerugian keuangan negara
b. Suap-menyuap
c. Penggelapan dalam jabatan
d. Pemerasan
e. Perbuatan curang
f. Benturan kepentingan dalam pengadaan
g. Gratifikasi
Untuk nilai-nilai dasar anti korupsi yang wajib di implementasikan adalah:
1) jujur , 2) peduli, 3) mandiri, 4) disiplin, 5) tanggung jawab, 6) kerja keras, 7)
sederhana, 8) berani, 9) adil.
Internalisasi nilai-nilai dasar anti korupsi dapat dilakukan :
1. Pendekatan inside out (dari dalam keluar)
2. Pendekatan outside in (dari luar ke dalam)
Internalisasi integritas akan maksimal ketika kita mampu menggabungkan pendekatan
inside out dan outside in. Untuk terjadinya hal tersebut maka:
1. Lingkungan yang berintegritas, misalnya perbanyak hidup dalam lingkungan yang
positif.
2. Proteksi Integritas, misalnya pastikan pengaruh lingkungan yang negatif tidak masuk
dalam pikiran (diri).
3. Perubahan Sistem Nilai, misalnya jika pengaruh sudah masuk dalam pikiran (diri)
segera lakukan teknik perubahan sistem nilai agar yang negatif dapat dihapuskan
dan diganti dengan yang positif.
F. Penerapan
Untuk mengimplementasikan nilai-nilai dasar PNS dalam kehidupan sehari-hari paling
dekat saat ini dapat di tuangkan dalam rancangan aktualisasi pada lokasi kerja. Pertama
kita menganalisa Isu yang terjadi pada instansi tempat kita bekerja, setelah ditemukan
beberapa isu kita lakukan grading menggunakan USG. Dari grading tersebut kita
menemukan satu isu untuk diangkat dalam rancangan aktualisasi. Setiap kegiatan dari
rancangan aktualisasi yang akan kita susun harus mengandung implementasi nilai-nilai
dasar PNS, ANEKA – Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika publik, Komitmen mutu dan Anti
Korupsi. Sehingga kita dapat belajar menjadi PNS yang profesional dan berkarakter dan
dengan adanya rancangan aktualisasi penerapan nilai-nilai dasar PNS tersebut,
diharapkan kita dapat memahami makna dari setiap nilai yang terkandung didalamnya
sehingga memberikan dampak positif pada lingkungan kerja.