Anda di halaman 1dari 35

ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

DENGAN DIAGNOSA HIPERTENSI PADA Ny. S


Di RT 06/RW 03 PANDANWANGI
PUSKESMAS PANDANWANGI KOTA MALANG

DWI ALDILAH CHASANAH


201810461011031

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG

LEMBAR PENGESAHAN

Laporan Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan ini dibuat dan telah disetujui dalam

rangka Kepaniteraan Klinik Mahasiswa Program Pendidikan Profesi NERS Universitas

Muhammadiyah Malang, di Puskesmas Pandanwangi Kota Malang pada tanggal 20 Mei – 25

Mei 2019.

Malang, Mei 2019


Ners Muda,

Dwi Aldilah Chasanah


NIM: 201810461011031

Mengetahui

Pembimbing Institusi Pembimbing Klinik

Nur Lailatul Masruroh, S.Kep., Ns., MNS Ni Wayan Sukarni, S.Kep., Ns


NIP: 197412221998032005
NIP UMM : 11205010421
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah YME, yang telah memberikan limpahan rahmat-Nya.
Sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Laporan Pendahuluan Dan Asuhan
Keperawatan Keluarga Pada Ny. S Dengan Diabetes di Rt/Rw 07/03 Pandanwangi Kota
Malang yang disusun untuk memenuhi tugas Departemen Keperawatan Keluarga Program
Studi Profesi Ners, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Malang. Dalam
penulisan laporan analisis jurnal ini tentunya penulis berterimakasih kepada Pembimbing
Institusi & Lahan Departemen Keperawatan Keluarga yang telah membimbing, memotivasi
dan mendampingi kami dalam praktik profesi.
Penulis menyadari bahwa sepenuhnya dalam penulisan laporan analisis ini masih
terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran semua
pihak untuk menyempurnakan laporan analisis jurnal ini. Akhir kata penulis mengucapkan
terimakasih dan semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Malang, Mei 2019

Dwi Aldilah Chasanah


BAB I
KONSEP DASAR
ASUHAN KEPERAWATAN GERONTIK

A. DEFINISI DAN BATASAN LANSIA


Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya secara perlahan-lahan
kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri/mengganti dan mempertahankan fungsi
normalnya sehingga tidak dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang
diderita (Constantinides, 1994).
Kelompok lanjut usia adalah kelompok penduduk yang berusia 60 tahun ke atas. Pada
lanjut usia akan terjadi proses menghilangnya kemampuan jaringan untuk memperbaiki diri
atau mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya secara perlahan-lahan sehingga tidak
dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang terjadi. Karena itu di dalam
tubuh akan menumpuk makin banyak distorsi metabolik dan struktural disebut penyakit
degeneratif yang menyebabkan lansia akan mengakhiri hidup dengan episode terminal. WHO
mengelompokkan usia lanjut sebagai berikut :
1. Middle Age : 45 – 59 tahun
2. Elderly Age : 60 – 74 tahun
3. Old : 75 – 90 tahun
4. Very Old : lebih dari 91 tahun
Penggolongan lansia menurut Depkes dikutip dari Azis (1994) menjadi tiga kelompok yakni :
a) Kelompok lansia dini (55 – 64 tahun), merupakan kelompok yang baru memasuki lansia.
b) Kelompok lansia (65 tahun ke atas).
c) Kelompok lansia resiko tinggi, yaitu lansia yang berusia lebih dari 70 tahun.
B. PERUBAHAN-PERUBAHAN YANG TERJADI PADA LANSIA
1. Perubahan Fisik
Meliputi perubahan dari tingkat sel sampai kesemua sistem organ tubuh, diantaranya
sistem pernafasan, pendengaran, penglihatan, kardiovaskuler, sistem pengaturan
tubuh, muskuloskeletal, gastrointestinal, genito urinaria, endokrin dan integumen.
a. Sistem pernafasan pada lansia.
1) Otot pernafasan kaku dan kehilangan kekuatan, sehingga volume udara inspirasi
berkurang, sehingga pernafasan cepat dan dangkal.
2) Penurunan aktivitas silia menyebabkan penurunan reaksi batuk sehingga
potensial terjadi penumpukan sekret.
3) Penurunan aktivitas paru ( mengembang & mengempisnya ) sehingga jumlah
udara pernafasan yang masuk keparu mengalami penurunan, kalau pada
pernafasan yang tenang kira kira 500 ml.
4) Alveoli semakin melebar dan jumlahnya berkurang ( luas permukaan normal
50m²), Ù menyebabkan terganggunya prose difusi.
5) Penurunan oksigen (O2) Arteri menjadi 75 mmHg menggangu prose oksigenasi
dari hemoglobin, sehingga O2 tidak terangkut semua kejaringan.
6) CO2 pada arteri tidak berganti sehingga komposisi O2 dalam arteri juga
menurun yang lama kelamaan menjadi racun pada tubuh sendiri.
7) kemampuan batuk berkurang, sehingga pengeluaran sekret & corpus alium dari
saluran nafas berkurang sehingga potensial terjadinya obstruksi.
Sistem persyarafan pada lansia.
1) Cepatnya menurunkan hubungan persyarafan.
2) Lambat dalam merespon dan waktu untuk berfikir.
3) Mengecilnya syaraf panca indera.
4)Berkurangnya penglihatan, hilangnya pendengaran, mengecilnya syaraf
pencium & perasa lebih sensitif terhadap perubahan suhu dengan rendahnya
ketahanan terhadap dingin.
Perubahan panca indera yang terjadi pada lansia.
1) Penglihatan
a) Kornea lebih berbentuk skeris.
b) Sfingter pupil timbul sklerosis dan hilangnya respon terhadap sinar.
c) Lensa lebih suram (kekeruhan pada lensa).
d) Meningkatnya ambang pengamatan sinar : daya adaptasi terhadap
kegelapan lebih lambat, susah melihat dalam cahaya gelap.
e) Hilangnya daya akomodasi.
f) Menurunnya lapang pandang & berkurangnya luas pandang.
g) Menurunnya daya membedakan warna biru atau warna hijau pada skala.
2) Pendengaran.
a) Presbiakusis (gangguan pada pendengaran) :
Hilangnya kemampuan (daya) pendengaran pada telinga dalam, terutama
terhadap bunyi suara, antara lain nada nada yang tinggi, suara yang tidak
jelas, sulit mengerti kata kata, 50 % terjadi pada usia diatas umur 65 tahun.
b) Membran timpani menjadi atropi menyebabkan otosklerosis.
c) Terjadinya pengumpulan serumen, dapat mengeras karena meningkatnya
kreatin.
3) Pengecap dan penghidu.
a) Menurunnya kemampuan pengecap.
b) Menurunnya kemampuan penghidu sehingga mengakibatkan selera makan
berkurang.
4) Peraba.
a) Kemunduran dalam merasakan sakit.
b) Kemunduran dalam merasakan tekanan, panas dan dingin.
b. Perubahan cardiovaskuler pada usia lanjut.
1) Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
2) Kemampuan jantung memompa darah menurun 1 % pertahun sesudah berumur 20
tahun. Hal ini menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
3) Kehilangan elastisitas pembuluh darah.
Kurangnya efektifitasnya pembuluh darah perifer untuk oksigenasi, perubahan posisi
dari tidur keduduk ( duduk ke berdiri ) bisa menyebabkan tekanan darah menurun
menjadi 65 mmHg ( mengakibatkan pusing mendadak ).
4) Tekanan darah meningkat akibat meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer
(normal ± 170/95 mmHg ).
c. Sistem genito urinaria.
1) Ginjal, Mengecil dan nephron menjadi atropi, aliran darah ke ginjal menurun
sampai 50 %, penyaringan diglomerulo menurun sampai 50 %, fungsi tubulus
berkurang akibatnya kurangnya kemampuan mengkonsentrasi urin, berat jenis
urin menurun proteinuria ( biasanya + 1 ) ; BUN meningkat sampai 21 mg % ;
nilai ambang ginjal terhadap glukosa meningkat.
2) Vesika urinaria / kandung kemih, Otot otot menjadi lemah, kapasitasnya menurun
sampai 200 ml atau menyebabkan frekwensi BAK meningkat, vesika urinaria
susah dikosongkan pada pria lanjut usia sehingga meningkatnya retensi urin.
3) Pembesaran prostat ± 75 % dimulai oleh pria usia diatas 65 tahun.
4) Atropi vulva.
5) Vagina, Selaput menjadi kering, elastisotas jaringan menurun juga permukaan
menjadi halus, sekresi menjadi berkurang, reaksi sifatnya lebih alkali terhadap
perubahan warna.
6) Daya sexual, Frekwensi sexsual intercouse cendrung menurun tapi kapasitas untuk
melakukan dan menikmati berjalan terus.
d. Sistem endokrin / metabolik pada lansia.
1) Produksi hampir semua hormon menurun.
2) Fungsi paratiroid dan sekesinya tak berubah.
3) Pituitary, Pertumbuhan hormon ada tetapi lebih rendah dan hanya ada di
pembuluh darah dan berkurangnya produksi dari ACTH, TSH, FSH dan LH.
4) Menurunnya aktivitas tiriod Ù BMR turun dan menurunnya daya pertukaran zat.
5) Menurunnya produksi aldosteron.
6) Menurunnya sekresi hormon bonads : progesteron, estrogen, testosteron.
7) Defisiensi hormonall dapat menyebabkan hipotirodism, depresi dari sumsum
tulang serta kurang mampu dalam mengatasi tekanan jiwa (stess).
e. Perubahan sistem pencernaan pada usia lanjut.
1) Kehilangan gigi, Penyebab utama adanya periodontal disease yang biasa terjadi
setelah umur 30 tahun, penyebab lain meliputi kesehatan gigi yang buruk dan
gizi yang buruk.
2) Indera pengecap menurun, Adanya iritasi yang kronis dari selaput lendir, atropi
indera pengecap (± 80 %), hilangnya sensitivitas dari syaraf pengecap dilidah
terutama rasa manis, asin, asam & pahit.
3) Esofagus melebar.
4) Lambung, rasa lapar menurun (sensitivitas lapar menurun ), asam lambung
menurun, waktu mengosongkan menurun.
5) Peristaltik lemah & biasanya timbul konstipasi.
6) Fungsi absorbsi melemah ( daya absorbsi terganggu ).
7) Liver ( hati ), Makin mengecil & menurunnya tempat penyimpanan, berkurangnya
aliran darah.
f. Sistem muskuloskeletal.
1) Tulang kehilangan densikusnya rapuh dan risiko terjadinya fraktur
2) kyphosis.
3) persendian besar & menjadi kaku.
4) pada wanita lansia > resiko fraktur.
5) Pada diskus intervertebralis menipis dan menjadi pendek ( tinggi badan
berkurang ).
a. Gerakan volunter Ù gerakan berlawanan.
b. Gerakan reflektonik Ù Gerakan diluar kemauan sebagai reaksi terhadap
rangsangan pada lobus.
c. Gerakan involunter Ù Gerakan diluar kemauan, tidak sebagai reaksi terhadap
suatu perangsangan terhadap lobus
d. Gerakan sekutu Ù Gerakan otot lurik yang ikut bangkit untuk menjamin
efektifitas dan ketangkasan otot volunter.
g. Perubahan sistem kulit & karingan ikat.
1). Kulit keriput akibat kehilangan jaringan lemak.
2). Kulit kering & kurang elastis karena menurunnya cairan dan hilangnya jaringan
adiposa
3). Kelenjar kelenjar keringat mulai tak bekerja dengan baik, sehingga tidak begitu
tahan terhadap panas dengan temperatur yang tinggi.
4). Kulit pucat dan terdapat bintik bintik hitam akibat menurunnya aliran darah dan
menurunnya sel sel yang meproduksi pigmen.
5). Menurunnya aliran darah dalam kulit juga menyebabkan penyembuhan luka luka
kurang baik.
6). Kuku pada jari tangan dan kaki menjadi tebal dan rapuh.
7). Pertumbuhan rambut berhenti, rambut menipis dan botak serta warna rambut
kelabu.
8). Pada wanita > 60 tahun rambut wajah meningkat kadang kadang menurun.
9). Temperatur tubuh menurun akibat kecepatan metabolisme yang menurun.
10). Keterbatasan reflek menggigil dan tidak dapat memproduksi panas yang banyak
rendahnya akitfitas otot.
h. Perubahan sistem reproduksi dan kegiatan seksual.
1) Perubahan sistem reprduksi.
a) selaput lendir vagina menurun/kering.
b) menciutnya ovarium dan uterus.
c) atropi payudara.
d) testis masih dapat memproduksi meskipun adanya penurunan secara berangsur
berangsur.
e) dorongan sex menetap sampai usia diatas 70 tahun, asal kondisi kesehatan
baik.
2) Kegiatan seksual.
Seksualitas adalah kebutuhan dasar manusia dalam manifestasi kehidupan
yang berhubungan dengan alat reproduksi. Setiap orang mempunyai kebutuhan
sexual, disini kita bisa membedakan dalam tiga sisi : 1) fisik, Secara jasmani
sikap sexual akan berfungsi secara biologis melalui organ kelamin yang
berhubungan dengan proses reproduksi, 2) rohani, Secara rohani Ù tertuju pada
orang lain sebagai manusia, dengan tujuan utama bukan untuk kebutuhan
kepuasan sexualitas melalui pola pola yang baku seperti binatang dan 3) sosial,
Secara sosial untuk kedekatan dengan suatu keadaan intim dengan orang lain
yang merupakan suatu alat yang apling diharapkan dalammenjalani sexualitas.
Seksualitas pada lansia sebenarnya tergantung dari caranya, yaitu dengan
cara yang lain dari sebelumnya, membuat pihak lain mengetahui bahwa ia
sangat berarti untuk anda. Juga sebagai pihak yang lebih tua tampa harus
berhubungan badan, msih banyak cara lain unutk dapat bermesraan dengan
pasangan anda. Pernyataan pernyataan lain yang menyatakan rasa tertarik dan
cinta lebih banyak mengambil alih fungsi hubungan seksualitas dalam
pengalaman sek.
2. Perubahan-perubahan mental/ psikologis
Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan mental adalah :
a. Pertama-tama perubahan fisik, khususnya organ perasa.
b. kesehatan umum
c. tingkat pendidikan
d. Keturunan (herediter)
e. Lingkungan
f. Gangguan saraf panca indra, timbul kebutaan dan ketulian
g. Gangguan konsep diri akibat kehilangan jabatan
h. Rangkaian dari kehilangan yaitu kehilangan hubungan dengan teman dan famili
i. Hilangnya kekuatan dan ketegapan fisik, perubahan terhadap gambaran diri dan
perubahan konsep diri
Perubahan kepribadian yang drastis keadaan ini jarang terjadi lebih sering
berupa ungkapan yang tulus dari perasaan seseorang, kekakuan mungkin oleh karena
faktor lain seperti penyakit-penyakit.
Kenangan (memory) ada dua; 1) kenangan jangka panjang, berjam-jam sampai berhari-
hari yang lalu, mencakup beberapa perubahan, 2) Kenangan jangka pendek atau
seketika (0-10 menit), kenangan buruk.
Intelegentia Quation; 1) tidakberubah dengan informasi matematika dan perkataan
verbal, 2) berkurangnya penampilan,persepsi dan keterampilan psikomotorterjadi
perubahan pada daya membayangkan, karena tekanan-tekanan dari faktro waktu.
Pengaruh proses penuaan pada fungsi psikososial.
1. perubahan fisik, sosial mengakibatkan timbulnya penurunan fungsi, kemunduran
orientasi, penglihatan, pendengaran mengakibatkan kurangnya percaya diri pada
fungsi mereka.
2. Mundurnya daya ingat, penurunan degenerasi sel sel otak.
3. Gangguan halusinasi.
4. Lebih mengambil jarak dalam berinteraksi.
5. Fungsi psikososial, seperti kemampuan berfikir dan gambaran diri.
3. Perubahan Spiritual
Agama atau kepercayaan makin terintegarsi dalam kehidupannya
(Maslow,1970). Lansia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal ini terlihat
dalam berpikir dan bertindak dalam sehari-hari. (Murray dan Zentner,1970).

C. PENYAKIT YANG UMUM TERJADI PADA LANSIA

1. Osteo Artritis (OA)

OA adalah peradangan sendi yang terjadi akibat peristiwa mekanik dan biologik yang
mengakibatkan penipisan rawan sendi, tidak stabilnya sendi, dan perkapuran. OA
merupakan penyebab utama ketidakmandirian pada usia lanjut, yang dipertinggi
risikonya karena trauma, penggunaan sendi berulang dan obesitas.

2. Osteoporosis

Osteoporosis merupakan salah satu bentuk gangguan tulang dimana masa atau
kepadatan tulang berkurang. Terdapat dua jenis osteoporosis, tipe I merujuk pada
percepatan kehilangan tulang selama dua dekade pertama setelah menopause,
sedangkan tipe II adalah hilangnya masa tulang pada usia lanjut karena terganggunya
produksi vitamin D.
3. Hipertensi

Hipertensi merupakan kondisi dimana tekanan darah sistolik sama atau lebih tinggi
dari 140 mmHg dan tekanan diastolik lebih tinggi dari 90 mmHg, yang terjadi karena
menurunnya elastisitas arteri pada proses menua. Bila tidak ditangani, hipertensi dapat
memicu terjadinya stroke, kerusakan pembuluh darah (arteriosclerosis),
serangan/gagal jantung, dan gagal ginjal

4. Diabetes Mellitus

Sekitar 50% dari lansia memiliki gangguan intoleransi glukosa dimana gula darah
masih tetap normal meskipun dalam kondisi puasa. Kondisi ini dapat berkembang
menjadi diabetes melitus, dimana kadar gula darah sewaktu diatas atau sama dengan
200 mg/dl dan kadar glukosa darah saat puasa di atas 126 mg/dl. Obesitas, pola
makan yang buruk, kurang olah raga dan usia lanjut mempertinggi risiko DM.
Sebagai ilustrasi, sekitar 20% dari lansia berusia 75 tahun menderita DM. Beberapa
gejalanya adalah sering haus dan lapar, banyak berkemih, mudah lelah, berat badan
terus berkurang, gatal-gatal, mati rasa, dan luka yang lambat sembuh.

5. Dimensia

Merupakan kumpulan gejala yang berkaitan dengan kehilangan fungsi intelektual dan
daya ingat secara perlahan-lahan, sehingga mempengaruhi aktivitas kehidupan sehari-
hari. Alzheimer merupakan jenis demensia yang paling sering terjadi pada usia lanjut.
Adanya riwayat keluarga, usia lanjut, penyakit vaskular/pembuluh darah (hipertensi,
diabetes, kolesterol tinggi), trauma kepala merupakan faktor risiko terjadinya
demensia. Demensia juga kerap terjadi pada wanita dan individu dengan pendidikan
rendah.

6. Penyakit jantung koroner

Penyempitan pembuluh darah jantung sehingga aliran darah menuju jantung


terganggu. Gejala umum yang terjadi adalah nyeri dada, sesak napas, pingsan, hingga
kebingungan.

7. Kanker
Kanker merupakan sebuah keadaan dimana struktur dan fungsi sebuah sel mengalami
perubahan bahkan sampai merusak sel-sel lainnya yang masih sehat. Sel yang berubah
ini mengalami mutasi karena suatu sebab sehingga ia tidak bisa lagi menjalankan
fungsi normalnya. Biasanya perubahan sel ini mengalami beberapa tahapan, mulai
dari yang ringan sampai berubah sama sekali dari keadaan awal (kanker). Kanker
merupakan penyebab kematian nomor dua setelah penyakit jantung. Faktor resiko
yang paling utama adalah usia. Dua pertiga kasus kanker terjadi di atas usia 65 tahun.
Mulai usia 40 tahun resiko untuk timbul kanker meningkat.

PENGKAJIAN PADA LANSIA


A. Hal-hal yang mendasari timbulnya perhatian kepada lanjut usia
Meliputi :
1. Pensiunan dan masalah-masalahnya
2. Kematian mendadak karena penyakit jantung dan stroke
3. Meningkatnya jumlah lanjut usia
4. Pemerataan pelayanan kesehatan
5. Kewajiban pemerintah terhadap orang cacat dan jompo
6. Perkembangan ilmu ; Gerontologi ; Geriatri
7. Program PBB
8. Konferensi Internasional di WINA tahun 1983
9. Kurangnya jumlah tempat tidur di rumah sakit
10. Mahalnya obat-obatan
11. Tahun lanjut usia Internasional 1 Oktober 1999
B. Kegiatan Asuhan Keperawatan Dasar Bagi Lanjut Usia
Menurut Depkes (1993) dimaksudkan untuk memberikan bantuan, bimbingan,
pengawasan, perlindungan dan pertolongan kepada lanjut usia secara individu
maupun kelompok seperti lingkungan keluarga atau di rumah, Panti werdha atau
puskesmas yang diberikan oleh perawat. Untuk asuhan keperawatan yang masih dapat
dilakukan anggota keluarga atau bukan tenaga keperawatan diperlukan latihan
sebelumnya atau bimbingan langsung pada waktu tenaga keperawatan melakukan
asuhan keperawatan di rumah sakit atau panti.
Adapun asuhan keperawatan dasar yang diberikan, disesuaikan pada kelompok lanjut
usia, apakah lanjut usia aktif atau pasif, antara lain :
1. Lanjut usia aktif : asuhan keperawatan dapat berupa dukungan tentang personal
hygiene, kebersihan gigi dan mulut atau pembersihan gigi palsu, kebersihan diri
termasuk kepala, rambut, badan, kuku, mata serta telinga; kebersihan lingkungan
seperti tempat tidur, dan ruangan; maknana yang sesuai misalnya porsi kecil
bergizi, bervariaasi dan mudah dicerna dan kesegaran jasmani.
2. Untuk lanjut usia pasif; hal yang perlu diperhatikan pada dasarnya sama seperti di
atas, khususnya bagi lansia yang lumpuh perlu dicegah terjadinya dekubitus.
C. Pendekatan Perawatan Lanjut Usia
a. Pendekatan Fisik
Perawatan yang memperhatikan kesehatan obyektif, kebutuhan, kejadian-kejadian
yang dialami klien lanjut usia semasa hidupnya, perubahan fisik pada organ tubuh,
tingkat kesehatan yang masih bisa dicapai dan dikembangkan dan penyakit yang
dapat dicegah atau ditekan progesivitasnya.
Kemunduran fisik akibat proses ketuaan dapat mempengaruhi ketahanan tuubh
terhadap gangguan atau serangan infeksi dari luar.

b. Pendekatan Psikis
Perawat dapat berperan segai supporter, interpreter terhadap segala sesuatu yang
asing, sebagai penampung rahasia yang pribadi dan sebagai sahabat yang akrab.
Pada dasarnya klien lanjut usia membutuhkan rasa aman dan cinta kasih dari
lingkungan. Perawat harus dapat membangkitkan semangat dan kreasi klien lanjut
usia dalam memecahkan dan mengurangi rasa putus asa, rasa rendah diri, rasa
keterbatasan sebagai akibat dari ketidakmampuan fisik dan kelainan yang
dideritanya.
Perawat harus sabar mendengarkan cerita-cerita dari masa lampau yang
membosankan. Kemunduran ingatan akan mewarnai tingkah laku mereka dan
lemunduran ingatan jangan dimanfaatkan untuk tujuan tertentu.
c. Pendekatan Sosial
Mengadakan diskusi, tukar pikiran dan bercerita merupakan salah satu upaya
perawat dalam pendekatan social. Memberi kesempatanuntuk berkumpul bersama
dengan sesame klien lanjut usia berarti menciptakan sosialisasi mereka.
d. Pendekatan Spiritual
Perawat harus bisa memberikan ketenangan dan kepuasan batin dalam
hubungannya dengan Tuhan atau agama, terutama bila klien dalam keadaan sakit
atau mendekati kematian.
D. Tujuan Asuhan Keperawatan
1. Agar lansia dapat melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri dengan :
a. Peningkatan kesehatan
b. Pencegahan penyakit
c. Pemeliharan kesehatan
2. Mempertahankan kesehatanserta kemampuan dari kereka yang usianya lebih
lanjut dengan jalan perawatan dan pencegahan
3. Membantu mempertahankan serta membesarkan daya hidup atau semangat hidup
klien lanjut usia (Life Support).
4. Menolong dan merawat klien lanjut usia yang menderita penyakit atau mengalami
gangguan tertentu (kronis maupun akut)
5. Merangsang para petugas kesehatan untuk dapat mengenal dan menegakkan
diagnose yang tepat dan dini, bila mereka menjumpai kelaiann tertentu.
6. Mencari upaya semaksimal mungkin agar para klien yang menderita suatu
penyakit/gangguan masih dapat mempertahankan kebebasan yang maksimal tanpa
perlu suatu pertolongan (melakukan kemandirian secara maksimal).
E. Fokus Asuhan Keperawatan Lanjut Usia
1. Peningkatan kesehatan
2. Pencegahan penyakit
3. Mengoptimalkan fungsi mental
4. Mengatasi gangguan kesehatan yang umum
F. Pengkajian
Tujuan :
1. Menentukan kemampuan klien untu memeihara diri sendiri
2. Melengkapi dasar-dasar rencana perawatan individu
Meliputi aspek :
1. Fisik
Wawancara :
a. Pandangan lanjut usia tentang kesehatannya
b. Kegiatan yang mampu dilakukan lanjut usia
c. Kebiasaan Lanjut usia merawat diri sendiri
d. Kekuatan fisik lanjut usia otot, sendi, penglihatan dan pendengaran
e. Kebiasaan makan, minum, istirahat/tidur, buang air besar/kecil
f. Kebiasaan gerak badan.olah raga.senam lanjut usia
g. Perubahan-perubahan fungsi tubuh yang sangat bermakna dirasakan
h. Kebiasaan lanjut usia dalam memelihara kesehatan dan kebiasaan dalam
minum obat.
i. Masalah-masalah seksual yang dirasakan
Pemeriksaan fisik
a. Pemeriksan dilakukan dengan cara inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi
untuk mengetahui perubahan system tubuh.
b. Pendekatan yang digunakan dalam melakukan pemeriksaan fisik yaitu :
 Head to toe
 Sistem tubuh
2. Psikologis
a. Apakah mengenal masalah-masalah utamanya
b. Bagaimana sikapnya terhadap proses penuaan
c. Apakah dirinya merasa dibutuhkan atau tidak
d. Apakah optimis dalam memandang suatu kehidupan
e. Bagaimana mengatasi stress yang dialami
f. Apakah mudah dalam menyesuaikan diri
g. Apakah lanjut usia sering mengalami kegagalan
h. Apakah harapan pada saat ini dan akan dating
i. Perlu dikaji juga mengenai fungsi kognitif; daya ingat, proses piker, alam
perasaan, orientasi dan kemampuan dalam menyelesaikan masalah
3. Sosial Ekonomi
a. Darimana sumber keuangan lanjut usia
b. Apa saja kesibukan lanjut usia dalam mengisi waktu luang
c. Dengan siapa dia tinggal
d. Kegiatan organisasi apa yang diikuti lanjut usia
e. Bagaimana pandangan lanjut usia terhadap lingkungannya
f. Berapa sering lanjut usia berhubungan dengan orang lain di luar rumah
g. Siapa saja yang biasa mengunjunginya
h. Seberapa besar etergantungannya
i. Apakah dapat menyalurkan hobi atau keinginan dengan fasilitas yang ada
4. Spiritual
a. Apakah secara teratur melakukan ibadah sesuai dengan keyakinan agamanya
b. Apakah secara teratur mengikuti atau terlibat aktif dalam kegiatan keagamaan,
misalnya pengajian.
c. Bagaimana cara lanjut usia menyelesaikan masalah.
d. Apakah lanjut usia terlihat sabar dan tawakal
5. Pengkajian dasar
a. Temperatur
 Mungkin serendah ± 35oC
 Lebih teliti diperiksa di sublingual
b. Pulse (denyut nadi)
 Kecepatan, irama, volume
 Apikal, radial, pedal
c. Respirasi
 Kecepatan, irama dan kedalaman
 Tidak teraturnya pernafasan
d. Tekanan darah
 Saat baring, duduk, berdiri
 Hipotensi akibat posisi tubuh
e. Berat badan
 Berat badan perlahan-lahan hilang pada tahun-tahun terakhir
f. Tingkat orientasi
g. Memory
h. Pola tidur
i. Penyesuaian psikososial
Sistem Persyarafan
1. Kesimetrisan raut wajah
2. Tingkat kesadaran adanya perubahan-perubahan dari otak
 Kebanyakan mempunyai daya ingatan yang menurun
3. Mata: pergerakan, kejelasan melihat, adanya katarak
4. Pupil : kesamaan, dilatasi
5. Ketajaman penglihatan menurun karena menua
6. Sensory deprivation (gangguan sensorik)
7. Ketajaman pendengaran
 Apakah menggunakan alat bantu dengar
8. Adanya rasa sakit atau nyeri
Sistem Kardiovaskuler
1. Sirkulasi perifer, warna dan kehangatan
2. Auskultasi denyut nadi apical
3. Periksa adanya pembengkakan vena jugularis
4. Pusing
5. Sakit
6. Edema
Sistem Gastrointestinal
1. Status gizi
2. Pemasukan diet
3. Anoreksia, tidak dicerna, mual dan muntah
4. Mengunyah dan menelan
5. Keadaan gigi, rahang dan rongga mulut
6. Auskultasi bising usus
7. Palpasi apakah perut kembung ada pelebaran kolon
8. Apakah ada konstipasi, diare, dan inkontinensia.
Sistem Genitourinarius
1. Warna dan bau urine
2. Distensi kandung kemih, inkontinensia.
3. Frekuensi, tekanan atau desakan
4. Pemasukan dan pengeluaran cairan
5. Disuria
6. Seksualitas
 Kurang minat untuk melaksanakan hubungan seks
 Adanya kecacatan sosial yang mengarah ke aktivitas seksual
Sistem Kulit
1. Kulit
 Temperatur, tingkat kelembaban
 Keutuhan luka, luka terbuka, robekan
 Turgor
 Perubahan pigmen
2. Adanya jaringan parut
3. Keadaan kuku
4. Keadaan rambut
Sistem Muskuloskeletal
1. Kontraktur
 Atrofi otot
 Ketidakadekuatan gerakan sendi
2. Tingkat Mobilisasi
 Ambulasi dengan atau tanpa bantuan/peralatan
 Keterbatasan gerak
 Kekuatan otot
 Kemampuan melangkah atau berjalan
3. Gerakan sendi
4. Paralisis
5. Kifosis
Psikososial
1. Menunjukan tanda-tanda meningkatnya ketrgantungan
2. Fokus-fokus pada diri bertambah
3. Memperlihatkan semakin sempitnya perhatian
4. Membutuhkan bukti nyata akan rasa kasih saying yang berlebihan
5.

BAB II
LAPORAN PENDAHULUAN
HIPERTENSI

A. Masalah Kesehatan (Hipertensi)


1. Definisi
Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai adanya tekanan sistolik
>140 mmHg dan tekanan diastolik >90 mmHg. Pada populasi lansia, hipertensi
didefinisikan sebagai tekanan sistolik 160 mmHg dan tekanan diastolik 90 mmHg.
(Smeltzer, 2001).Menurut WHO (1978), tekanan darah ≥160/95 mmHg dinyatakan
sebagai hipertensi.
Kategori Sistolik (Atas) Diastolik (Bawah)
Normal tinggi (perbatasan ) 130-190 85-89
Stadium I Ringan 140-159 90-99
Stadium 2 Sedang 160-179 100-109
Stadium 3 Berat 180-209 110-119
Stadium 4 Sangat Berat  210  120

2. Klasifikasi
Hipertensi pada usia lanjut dibedakan atas : (Darmojo, 1999 )
Hipertensi dimana tekanan sistolik sama atau lebih besar dari 140 mmHg dan /
atau tekanan diastolik sama atau lebih besar dari 90 mmHg. Hipertensi sistolik
terisolasi dimana tekanan sistolik lebih besar dari 160 mmHg dan tekanan
diastolik lebih rendah dari 90 mmHg. Klasifikasi hipertensi berdasarkan
penyebabnya dapat dibedakan menjadi 2 golongan besar yaitu :
 Hipertensi essensial ( hipertensi primer ) yaitu hipertensi yang tidak diketahui
penyebabnya
 Hipertensi sekunder yaitu hipertensi yang di sebabkan oleh penyakit lain.
3. Etiologi

Hipertensi pada lansia dapat disebabkan oleh interaksi bermacam-macam


faktor, antara lain: Kelelahan, proses penuaan, keturunan, diet yang tidak
seimbang, stress, sosial budaya. Penyebab hipertensi pada orang dengan lanjut usia
adalah terjadinya perubahan–perubahan pada :
a. Elastisitas dinding aorta menurun.
b. Katub jantung menebal dan menjadi kaku.
c. Kemampuan jantung memompa darah menurun 1% setiap tahun sesudah
berumur 20 tahun. Kemampuan jantung memompa darah menurun
menyebabkan menurunnya kontraksi dan volumenya.
d. Kehilangan elastisitas pembuluh darah. Hal ini terjadi karena kurangnya
efektifitas pembuluh darah perifer untuk oksigenasi.
e. Meningkatnya resistensi pembuluh darah perifer.
Meskipun hipertensi primer belum diketahui dengan pasti penyebabnya, data-
data penelitian telah menemukan beberapa faktor yang sering menyebabkan
terjadinya hipertensi. Faktor tersebut adalah:
 Faktor keturunan, Menurut data dari statistik terbukti bahwa seseorang
akan memiliki kemungkinan lebih besar untuk mendapatkan hipertensi jika
orang tuanya adalah penderita hipertensi.
 Ciri perseorangan. Ciri perseorangan yang mempengaruhi timbulnya
hipertensi adalah: Umur (jika umur bertambah maka TD meningkat), Jenis
kelamin (laki-laki lebih tinggi dari perempuan), Ras (ras kulit hitam lebih
banyak dari kulit putih).
 Kebiasaan hidup. Kebiasaan hidup yang sering menyebabkan timbulnya
hipertensi adalah : Konsumsi garam yang tinggi (melebihi dari 30 gr),
Kegemukan atau makan berlebihan.
 Stress: Merokok, Minum alcohol, Minum obat-obatan (ephedrine,
prednison, epineprin)
 Sedangkan penyebab hipertensi sekunder adalah : Glomerulonefritis,
Pielonefritis, Nekrosis tubular akut, Tumor, Vascular, Aterosklerosis,
Hiperplasia, Trombosis, Aneurisma, Emboli kolestrol, Vaskulitis,
Kelainan endokrin, DM, Hipertiroidisme, Hipotiroidisme, Saraf, Stroke,
Ensepalitis, SGB, Obat–obatan, Kontrasepsi oral, Kortikosteroid.
4. Patofisiologi
Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah
terletak dipusat vasomotor, pada medulla diotak. Dari pusat vasomotor ini bermula
jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda spinalis dan keluar dari
kolumna medulla spinalis ganglia simpatis di toraks dan abdomen. Rangsangan
pusat vasomotor dihantarkan dalam bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui
system saraf simpatis ke ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion
melepaskan asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh darah, dimana dengan dilepaskannya noreepineprin mengakibatkan
konstriksi pembuluh darah. Berbagai faktor seperti kecemasan dan ketakutan dapat
mempengaruhi respon pembuluh darah terhadap rangsang vasokonstriksi. Individu
dengan hipertensi sangat sensitif terhadap norepinefrin, meskipun tidak diketahui
dengan jelas mengapa hal tersebut bisa terjadi.
Pada saat bersamaan dimana sistem saraf simpatis merangsang pembuluh
darah sebagai respons rangsang emosi, kelenjar adrenal juga terangsang,
mengakibatkan tambahan aktivitas vasokonstriksi. Medulla adrenal mensekresi
epinefrin, yang menyebabkan vasokonstriksi. Korteks adrenal mensekresi kortisol
dan steroid lainnya, yang dapat memperkuat respons vasokonstriktor pembuluh
darah. Vasokonstriksi yang mengakibatkan penurunan aliran ke ginjal,
menyebabkan pelepasan rennin. Renin merangsang pembentukan angiotensin I
yang kemudian diubah menjadi angiotensin II, suatu vasokonstriktor kuat, yang
pada gilirannya merangsang sekresi aldosteron oleh korteks adrenal. Hormon ini
menyebabkan retensi natrium dan air oleh tubulus ginjal, menyebabkan
peningkatan volume intra vaskuler. Semua faktor ini cenderung mencetuskan
keadaan hipertensi.
Sedangkan bagai pertimbangan gerontologis dimana terjadi perubahan
structural dan fungsional pada system pembuluh perifer bertanggungjawab pada
perubahan tekanan darah yang terjadi pada usia lanjut. Perubahan tersebut meliputi
aterosklerosis, hilangnya elastisitas jaringan ikat dan penurunan dalam relaksasi
otot polos pembuluh darah, yang pada gilirannya menurunkan kemampuan distensi
dan daya regang pembuluh darah. Konsekuensinya, aorta dan arteri besar
berkurang kemampuannya dalam mengakomodasi volume darah yang dipompa
oleh jantung (volume sekuncup) mengakibatkan penurunan curang jantung dan
peningkatan tahanan perifer (Smeltzer, 2001).
Pada usia lanjut perlu diperhatikan kemungkinan adanya “hipertensi palsu”
disebabkan kekakuan arteri brachialis sehingga tidak dikompresi oleh cuff
sphygmomanometer (Darmojo, 1999).

Patways
umur Jenis kelamin Gaya hidup obesitas

Elastisitas , arteriosklerosis

hipertensi

Kerusakan vaskuler pembuluh darah

Perubahan struktur

Penyumbatan pembuluh darah

vasokonstriksi

Gangguan sirkulasi

otak ginjal Pembuluh darah Retina

Resistensi Suplai O2 Vasokonstriksi sistemik koroner Spasme

pembuluh otak pembuluh darah Iskemi arteriole


Blood flow vasokonstriksi miocard
diplopia
Nyeri darah otak
Gangguan menurun ginjal
munurun
kepala pola tidur sinkop Afterload
meningkat
Nyeri dada Resti injuri

Respon RAA
Gangguan Penurunan curah
Rangsang jantung Fatique
perfusi aldosteron
Intoleransi
jaringan aktifitas

Retensi Na

Edema

5. Tanda dan gejala


Tanda dan gejala pada hipertensi dibedakan menjadi :
 Tidak ada gejala
Tidak ada gejala yang spesifik yang dapat dihubungkan dengan peningkatan
tekanan darah, selain penentuan tekanan arteri oleh dokter yang memeriksa.
Hal ini berarti hipertensi arterial tidak akan pernah terdiagnosa jika tekanan
arteri tidak terukur.
 Gejala yang lazim
Sering dikatakan bahwa gejala terlazim yang menyertai hipertensi meliputi
nyeri kepala dan kelelahan. Dalam kenyataannya ini merupakan gejala
terlazim yang mengenai kebanyakan pasien yang mencari pertolongan medis.
 Menurut Rokhaeni ( 2001 ), manifestasi klinis beberapa pasien yang menderita
hipertensi yaitu : Mengeluh sakit kepala, pusing Lemas, kelelahan, Sesak
nafas, Gelisah, Mual Muntah, Epistaksis, Kesadaran menurun.

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Hemoglobin / hematokrit
Untuk mengkaji hubungan dari sel-sel terhadap volume cairan (viskositas) dan
dapat mengindikasikan factor-factor resiko seperti hiperkoagulabilitas, anemia.
b. BUN : memberikan informasi tentang perfusi ginjal
c. Glukosa: Hiperglikemi (diabetes mellitus adalah pencetus hipertensi ) dapat
diakibatkan oleh peningkatan katekolamin ( meningkatkan hipertensi )
d. Kalium serum: Hipokalemia dapat megindikasikan adanya aldosteron utama
( penyebab ) atau menjadi efek samping terapi diuretik.
e. Kalsium serum: Peningkatan kadar kalsium serum dapat menyebabkan
hipertensi
f. Kolesterol dan trigliserid serum: Peningkatan kadar dapat mengindikasikan
pencetus untuk / adanya pembentukan plak ateromatosa ( efek kardiovaskuler )
g. Pemeriksaan tiroid: Hipertiroidisme dapat menimbulkan vasokonstriksi dan
hipertensi
h. Kadar aldosteron urin/serum: Untuk mengkaji aldosteronisme primer
( penyebab )
i. Urinalisa: Darah, protein, glukosa mengisyaratkan disfungsi ginjal dan atau
adanya diabetes.
j. Asam urat: Hiperurisemia telah menjadi implikasi faktor resiko hipertensi
k. Steroid urin: Kenaiakn dapat mengindikasikan hiperadrenalisme
l. IVP: Dapat mengidentifikasi penyebab hieprtensiseperti penyakit parenkim
ginjal, batu ginjal / ureter
m. Foto dada: Menunjukkan obstruksi kalsifikasi pada area katub, perbesaran
jantung
n. CT scan: Untuk mengkaji tumor serebral, ensefalopati
o. EKG: Dapat menunjukkan pembesaran jantung, pola regangan, gangguan
konduksi, peninggian gelombang P adalah salah satu tanda dini penyakit
jantung hipertensi.
7. Penatalaksanaan

Pengelolaan hipertensi bertujuan untuk mencegah morbiditas dan mortalitas akibat


komplikasi kardiovaskuler yang berhubungan dengan pencapaian dan
pemeliharaan tekanan darah dibawah 140/90 mmHg.
Prinsip pengelolaan penyakit hipertensi meliputi :
a. Terapi tanpa Obat: Terapi tanpa obat digunakan sebagai tindakan untuk
hipertensi ringan dan sebagai tindakan suportif pada hipertensi sedang dan
berat. Terapi tanpa obat ini meliputi :
1) Diet. Diet yang dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah :
Restriksi garam secara moderat dari 10 gr/hr menjadi 5 gr/hr, diet rendah
kolesterol dan rendah asam lemak jenuh, penurunan berat badan,
penurunan asupan etanol, menghentikan merokok
2) Latihan Fisik. Latihan fisik atau olah raga yang teratur dan terarah yang
dianjurkan untuk penderita hipertensi adalah olahraga yang mempunyai
empat prinsip yaitu :
Macam olah raga yaitu isotonis dan dinamis seperti lari, jogging,
bersepeda, berenang dan lain-lain. Intensitas olah raga yang baik antara
60-80 % dari kapasitas aerobik atau 72-87 % dari denyut nadi maksimal
yang disebut zona latihan. Lamanya latihan berkisar antara 20 – 25 menit
berada dalam zona latihan Frekuensi latihan sebaiknya 3 x perminggu dan
paling baik 5 x perminggu.
3) Edukasi Psikologis. Pemberian edukasi psikologis untuk penderita
hipertensi meliputi: Tehnik Biofeedback. Biofeedback adalah suatu tehnik
yang dipakai untuk menunjukkan pada subyek tanda-tanda mengenai
keadaan tubuh yang secara sadar oleh subyek dianggap tidak normal.
Penerapan biofeedback terutama dipakai untuk mengatasi gangguan
somatik seperti nyeri kepala dan migrain, juga untuk gangguan psikologis
seperti kecemasan dan ketegangan.
4) Tehnik relaksasi. Relaksasi adalah suatu prosedur atau tehnik yang
bertujuan untuk mengurangi ketegangan atau kecemasan, dengan cara
melatih penderita untuk dapat belajar membuat otot-otot dalam tubuh
menjadi rileks.
5) Pendidikan Kesehatan ( Penyuluhan ). Tujuan pendidikan kesehatan yaitu
untuk meningkatkan pengetahuan pasien tentang penyakit hipertensi dan
pengelolaannya sehingga pasien dapat mempertahankan hidupnya dan
mencegah komplikasi lebih lanjut.

b. Terapi dengan Obat. Tujuan pengobatan hipertensi tidak hanya menurunkan


tekanan darah saja tetapi juga mengurangi dan mencegah komplikasi akibat
hipertensi agar penderita dapat bertambah kuat. Pengobatan hipertensi umumnya
perlu dilakukan seumur hidup penderita. Pengobatan standar yang dianjurkan
oleh Komite Dokter Ahli Hipertensi (Joint National Committee On Detection,
Evaluation And Treatment Of High Blood Pressure, USA, 1988) menyimpulkan
bahwa obat diuretika, penyekat beta, antagonis kalsium, atau penghambat ACE
dapat digunakan sebagai obat tunggal pertama dengan memperhatikan keadaan
penderita dan penyakit lain yang ada pada penderita.

B. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a) Aktifitas/ istirahat
Gejala    : Kelemahan, letih, nafas pendek, gaya hidup monoton
Tanda    : Frekwensi jantung meningkat, perubahan irama jantung, takipnea
b) Sirkulasi
Gejala    : Riwayat hipertensi, penyakit jantung koroner aterosklerosis.
Tanda    : Kenaikan tekanan darah, tachycardi, disrythmia, denyutan nadi
jelas, bunyi jantung  murmur, distensi vena jugularis
c) Integritas Ego
Gejala    : Riwayat perubahan kepribadian, ansietas, depresi, euphoria, marah,
faktor stress multiple (hubungan, keuangan, pekerjaan)
Tanda    : Letupan suasana hati, gelisah, penyempitan kontinue perhatian,
tangisan yang meledak, otot muka tegang (khususnya sekitar mata),
peningkatan pola bicara
d) Eliminasi
Gejala    :Gangguan ginjal saat ini atau yang lalu ( infeksi, obstruksi, riwayat
penyakit ginjal ), obstruksi.
e) Makanan/ cairan
Gejala    :Makanan yang disukai (tinggi garam, tinggi lemak, tinggi
kolesterol), mual, muntah, perubahan berat badan (naik/ turun),
riwayat penggunaan diuretik.
Tanda    : Berat badan normal atau obesitas, adanya oedem.
f) Neurosensori
Gejala    :Keluhan pusing berdenyut, sakit kepala sub oksipital, gangguan
penglihatan.
Tanda    :Status mental: orientasi, isi bicara, proses berpikir,memori,
perubahan retina optik. Respon motorik : penurunan kekuatan
genggaman tangan.
g) Nyeri/ ketidaknyamanan
Gejala   :Angina, nyeri hilang timbul pada tungkai, nyeri abdomen/ masssa.
h) Pernafasan
Gejala  :Dyspnea yang berkaitan dengan aktifitas/ kerja, tacyhpnea, batuk
dengan/ tanpa sputum, riwayat merokok.
Tanda  :Bunyi nafas tambahan, cyanosis, distress respirasi/ penggunaan alat
bantu pernafasan.
i) Keamanan
Gejala    : Gangguan koordinasi, cara brejalan.
2. Pemeriksaan Diagnostik: Hb: untuk mengkaji anemia, jumlah sel-sel terhadap
volume cairan (viskositas), BUN: memberi informasi tentang fungsi ginjal,
glukosa: mengkaji hiperglikemi yang dapat diakibatkan oleh peningkatan kadar
katekolamin (meningkatkan hipertensi), kalsium serum, kolesterol dan
trygliserid, urin analisa, foto dada, CT Scan, EKG.
3. Kemungkinan Diagosa Keperawatan
a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b/d peningkatan tekanan
vaskuler serebral.
b. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake
nutrisi inadekuat
c. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum,
ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan O2.
d. Inefektif koping individu berhubungan dengan mekanisme koping tidak
efektif, harapan yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistic.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan dengan
kurang paparan informasi
f. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan
vasokontriksi  pembuluh darah.
g. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang
pandang, motorik atau persepsi.
4. Intervensi
a. Gangguan rasa nyaman nyeri (sakit kepala) b.d peningkatan tekanan
vaskuler serebral
Tujuan   :    Menghilangkan rasa nyeri
Kriteria hasil : Melaporkan ketidanyamanan hilang atau terkontrol,
mengikuti regimen farmakologi yang diresepkan.
Intervensi :
1) Pertahankan tirah baring selama fase akut
R/   Meminimalkan stimulasi dan meningkatkan relaksasi,
2) Berikan tindakan nonfarmakologi untuk menghilangkan sakit kepala,
misalnya kompres dingin pada dahi, pijat punggung dan leher
R/   Tindakan yang menurunkan tekanan vaskuler serebral,efektif
dalam menghilangkan sakit kepala dan komplikasinya.
3) Hilangkan/minimalkan aktifitas vasokontraksi yang dapat
meningkatkan sakit kepala, misalnya batuk panjang, mengejan saat
BAB
R/   Aktifitas yang meningkatkan vasokontraksi menyebabkan sakit
kepala pada adanya peningkatan vaskuler serebral.
4) Bantu pasien dalam ambulasi sesuai kebutuhan
R/      Meminimalkan penggunaan oksigen dan aktivitas yang
berlebihan yang memperberat kondisi klien.
5) Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat analgetik, anti
ansietas, diazepam.
R/      Analgetik menurunkan nyeri dan menurunkan rangsangan saraf
simpatis.
b. Gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuhb.d
intake nutrisi inadekuat
Tujuan   :    kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil : Klien menunjukkan peningkatan berat badan,
menunjukkan perilaku meningkatkan atau mempertahankan berat badan
ideal
Intervensi:
1) Bicarakan pentingnya menurunkan masukan lemak, garam dan gula
sesuai indikasi
R/      Kesalahan kebiasaan makan menunjang terjadinya
aterosklerosis, kelebihan masukan garam memperbanyak volume
cairan intra vaskuler dan dapat merusak ginjal yang lebih
memperburuk hipertensi.
2) Kaji ulang masukan kalori harian dan pilihan diet
R/      Mengidentifikasi kekuatan/kelemahan dalam program diit
terakhir.
3) Dorong klien untuk mempertahankan masukan makanan harian
termasuk kapan dan dimana makan dilakukan, lingkungan dan
perasaan sekitar saat makanan dimakan
R/      Memberikan data dasar tentang keadekuatan nutrisi yang
dimakan dan kondisi emosi saat makan, membantu untuk
memfokuskan perhatian pada factor mana pasien telah/dapat
mengontrol perubahan.
4) Intruksikan dan bantu memilih makanan yang tepat, hindari makanan
dengan kejenuhan lemak tinggi (mentega, keju, telur, es krim, daging
dll) dan kolesterol (daging berlemak, kuning telur, produk
kalengan,jeroan)
R/      Menghindari makanan tinggi lemak jenuh dan kolesterol penting
dalam mencegah perkembangan aterogenesis.
5) Kolaborasi dengan ahli gizi sesuai indikasi
R/      Memberikan konseling dan bantuan dengan memenuhi
kebutuhan diet individual.
c. Intoleransi aktivitas b.d kelemahan umum, ketidakseimbangan antara
suplai dan kebutuhan O2.
Tujuan   :    tidak terjadi intoleransi aktivitas
Kriteria Hasil : Klien dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang di
inginkan atau diperlukan, melaporkan peningkatan dalam toleransi
aktivitas yang dapat diukur
Intervensi:
1) Kaji toleransi pasien terhadap aktivitas dengan menggunkan
parameter : frekwensi nadi 20 x/menit diatas frekwensi istirahat, catat
peningkatan TD, dipsnea, atau nyeri dada, kelelahan berat dan
kelemahan, berkeringat, pusing atau pingsan
R/      Parameter menunjukan respon fisiologis pasien terhadap stress,
aktivitas dan indikator derajat pengaruh kelebihan kerja jantung.
2) Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh : penurunan
kelemahan/kelelahan, TD stabil, frekwensi nadi, peningkatan perhatian
pada aktivitas dan perawatan diri
R/      Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan
tingkat aktivitas individual.
3) Dorong memajukan aktivitas/toleransi perawatan diri
R/      Konsumsi oksigen miokardia selama berbagai aktivitas dapat
meningkatkan jumlah oksigen yang ada. Kemajuan aktivitas bertahap
mencegah peningkatan tiba-tiba pada kerja jantung
4) Berikan bantuan sesuai kebutuhan dan anjurkan penggunaan kursi
mandi, menyikat gigi/rambut dengan duduk dan sebagainya
R/      Teknik penghematan energi menurunkan penggunaan energi dan
sehingga membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.
5) Dorong pasien untuk berpartisipasi dalam memilih periode aktivitas
R/      Jadwal meningkatkan toleransi terhadap kemajuan aktivitas dan
mencegah kelemahan.
d. Inefektif koping individu b.d mekanisme koping tidak efektif, harapan
yang tidak terpenuhi, persepsi tidak realistik.
Tujuan   :    klien menunjukkan tidak ada tanda-tanda inefektif koping
Kriteria Hasil : Mengidentifikasi perilaku koping efektif dan
konsekuensinya, menyatakan kesadaran kemampuan koping / kekuatan
pribadi, mengidentifikasi potensial situasi stress dan mengambil langkah
untuk menghindari dan mengubahnya.
Intervensi:
1) Kaji keefektifan strategi koping dengan mengobservasi perilaku,
Misalnya : kemampuan menyatakan perasaan dan perhatian, keinginan
berpartisipasi dalam rencana pengobatan
R/      Mekanisme adaptif perlu untuk megubah pola hidup seorang,
mengatasi hipertensi kronik dan mengintegrasikan terapi yang
diharuskan kedalam kehidupan sehari-hari.
2) Catat laporan gangguan tidur, peningkatan keletihan, kerusakan
konsentrasi, peka rangsangan, penurunan toleransi sakit kepala, ketidak
mampuan untuk mengatasi/menyelesaikan masalah
R/      Manifestasi mekanisme koping maladaptif mungkin merupakan
indicator marah yang ditekan dan diketahui telah menjadi penentu
utama TD diastolic.
3) Bantu klien untuk mengidentifikasi stressor spesifik dan kemungkinan
strategi untuk mengatasinya
R/      Pengenalan terhadap stressor adalah langkah pertama dalam
mengubah respon seseorang terhadap stressor.
4) Libatkan klien dalam perencanaan perwatan dan beri dorongan
partisipasi maksimum dalam rencana pengobatan
R/      Keterlibatan memberikan klien perasaan kontrol diri yang
berkelanjutan. Memperbaiki keterampilan koping, dan dapat
menigkatkan kerjasama dalam regiment teraupetik.
5) Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mulai merencanakan
perubahan hidup yang perlu. Bantu untuk menyesuaikan ketimbang
membatalkan tujuan diri / keluarga: R/      Perubahan yang perlu harus
diprioritaskan secara realistic untuk menghindari rasa tidak menentu
dan tidak berdaya.
e. Kurang pengetahuan mengenai kondisi penyakitnya berhubungan
dengan kurangnya informasi mengenai penyakitnya.
Tujuan   :    Klien menunjukkan peningkatan pengetahuan mengenai
penyakitnya
Kriteria hasil: Menyatakan pemahaman tentang proses penyakit dan
regiment pengobatan, mengidentifikasi efek samping obat dan
kemungkinan komplikasi yang perlu diperhatikan. Mempertahankan TD
dalam parameter normal.
Intervensi:
1) Kaji tingkat pemahaman klien tentang pengertian, penyebab, tanda dan
gejala, pencegahan, pengobatan, dan akibat lanjut
R/      Mengidentifikasi tingkat pegetahuan tentang proses penyakit
hipertensi dan mempermudah dalam menentukan intervensi.
2) Bantu klien dalam mengidentifikasi faktor-faktor resiko kardivaskuler
yang dapat diubah, misalnya : obesitas, diet tinggi lemak jenuh, dan
kolesterol, pola hidup monoton, merokok, pola hidup penuh stress dan
minum alcohol (lebih dari 60 cc/hari dengan teratur)
R/      Faktor-faktor resiko ini telah menunjukan hubungan dalam
menunjang hipertensi dan penyakit kardiovaskuler serta ginjal.
3) Kaji kesiapan dan hambatan dalam belajar termasuk orang terdekat
R/      Kesalahan konsep dan menyangkal diagnosa karena perasaan
sejahtera yang sudah lama dinikmati mempengaruhi minimal
klien/orang terdekat untuk mempelajari penyakit, kemajuan dan
prognosis. Bila klien tidak menerima realitas bahwa membutuhkan
pengobatan kontinyu, maka perubahan perilaku tidak akan
dipertahankan.
4) Jelaskan pada klien tentang proses penyakit hipertensi
(pengertian,penyebab,tanda dan gejala,pencegahan, pengobatan, dan
akibat lanjut) melalui penkes
R/      Meningkatkan pemahaman dan pengetahuan klien tentang proses
penyakit hipertensi.
f. Resiko tinggi penurunan curah jantung berhubungan dengan
vasokontriksi pembuluh darah
Tujuan   :    Tidak terjadi penurunan curah jantung
Kriteria Hasil : Klien berpartisipasi dalam aktivitas yang menurunkan
tekanan darah/beban kerja jantung, mempertahankan TD dalam
rentang individu yang dapat diterima, memperlihatkan norma dan
frekwensi jantung stabil dalam rentang normal pasien.
Intervensi:
1) Observasi tekanan darah
R/      Perbandingan dari tekanan darah memberikan gambaran yang
lebih lengkap tentang keterlibatan vaskuler.
2) Catat keberadaan, kualitas denyutan sentral dan perifer
R/      Denyutan karotis, jugularis, radialis dan femoralis mungkin
teramati saat palpasi. Denyut pada tungkai mungkin menurun,
mencerminkan efek dari vasokontriksi dan kongesti vena.
3) Auskultasi tonus jantung dan bunyi napas
R/      S4 umum terdengar pada pasien hipertensi berat karena adanya
hipertropi atrium, perkembangan S3 menunjukan hipertropi ventrikel dan
kerusakan fungsi, adanya krakels, mengi dapat mengindikasikan kongesti
paru sekunder terhadap terjadinya atau gagal jantung kronik.
4) Amati warna kulit, kelembaban, suhu, dan masa pengisian kapiler
R/      Adanya pucat, dingin, kulit lembab dan masa pengisian kapiler
lambat mencerminkan dekompensasi/penurunan curah jantung.
5) Berikan lingkungan yang nyaman, tenang, kurangi aktivitas atau keributan
ligkungan, batasi jumlah pengunjung dan lamanya tinggal
R/      Membantu untuk menurunkan rangsangan simpatis,
meningkatkan relaksasi
6) Anjurkan teknik relaksasi, panduan imajinasi dan distraksi
R/      Dapat menurunkan rangsangan yang menimbulkan stress,
membuat efek tenang, sehingga akan menurunkan tekanan darah.
7) Kolaborasi dengan dokter dalam pembrian terapi anti hipertensi dan
diuretik:
R/      Menurunkan tekanan darah.
g. Resiko tinggi terhadap cedera yang berhubungan dengan defisit lapang
pandang, motorik atau persepsi.
Tujuan   :    Tidak terjadi cidera
Kriteria hasil: Mengidentifikasi faktor yang meningkatkan resiko
terhadap cedera, memperagakan tindakan keamanan untuk mencegah
cedera, meminta bantuan bila diperlukan
Intervensi:
1) Lakukan tindakan untuk mengurangi bahaya lingkungan
R/      Membantu menurunkan cedera. Bila penurunan sensitifitas taktil
menjadi masalah ajarkan klien untuk melakukan: Kaji suhu air mandi
dan bantalan pemanas sebelum digunakan, kaji ekstremitas setiap hari
terhadap cedera yang tak terdeteksi.
2) Pertahankan kaki tetap hangat dan kering serta kulit dilemaskan
dengan lotion emoltion:
R/      Kerusakan sensori pasca CVA dapat mempengaruhi persepsi
klien terhadap suhu.
3) Lakukan tindakan untuk mengurangi resiko yang berkenaan dengan
pengunaan alat bantu
R/      Penggunaan alat bantu yang tidak tepat atau tidak pas dapat
meyebabkan regangan atau jatuh
4) Anjurkan klien dan keluarga untuk memaksimalkan keamanan di
rumah
R/      Keamanan yang baik meminimalkan terjadinya cidera
Daftar pustaka

Brunner & Suddarth. 2002. Buku Ajar : Keperawatan Medikal Bedah Vol 2, Jakarta, EGC.
Dep Kes RI, 2010. Diet Rendah garam, Pozi Pusat Dep Kes RI, Jakarta
Djarwoto B. Pengobatan Hipertensi ,Bag IPD FK UGM, Yogyakarta
Doenges, Marilynn E , dkk. 2000. Rencana  Asuhan  Keperawatan.
Penerbit Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
http://www.scribd.com/doc/45725767/hipertensi-pada-lansia diakses tanggal 20 Maret 2012.
Suprajitno. (2004). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktik.
Jakarta: EGC.
Smeltzer, Suzanne; and Benda G Bare. (2001), Buku Saku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.
Edisi 8. Jakarta: EGC.
Soeparman dkk, 2007, Ilmu Penyakit dalam, Jilid 1, edisi 2. UI Press, Jakarta.

Darmojo, Boedhi,et al.2000.Beberapa masalah penyakit pada Usia Lanjut. Jakarta: Balai
Penerbit FKUI

Friedman,M. Marilyn. (2010). Keperawatan Keluarga Teori dan Praktik. Jakarta: EGC.
Jhonson & Leny. (2010). Keperawatan Keluarga. Yogyakarta: Nuha Medika
Mansjoer,Arif., et al. (2008). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI: Media
Aescullapius.
Smeltzer SC, Bare BG. (2008). Buku ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddart.
Edisi 8. Jakarta: EGC.
Suprajitno. (2010). Asuhan Keperawatan Keluarga Aplikasi Dalam Praktek. Jakarta: EGC.
Sri Rahayu dkk. 2007. Nutrisi untuk klien hipertensi . Jakarta