Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH FIQH MUAMALAH II

“SUJUD SAHWI, SUJUD TILAWAH, SUJUD SYUKUR, SHALAT


BERJAMAAH, SHALAT QASHAR DAN JAMAK, SHALAT ORANG
SAKIT”
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk
Memenuhi tugas kelompok Fiqh Ibadah
Semester II Hukum Ekonomi Syariah
Dosen : Elfa Robi, Lc.

Disusun oleh Kelompok IV :


Azmi Zukhruf Firdaus
Malik Abdul Jabbar
Sutono

SEKOLAH TINGGI ILMU SYARIAH HUSNUL KHOTIMAH (STIS-HK)


2018
Jl. Raya Maniskidul Desa Maniskidul Kec. Jalaksana Kab. Kuningan, Jawa Barat - 45554
Telp. 0232-613808 Fax.0232-613809, HP.081324001600, 081313123710
Website : www.stishusnulkhotimah.ac.id
KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Puji syukur penulis ucapkan atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
rahmat, taufik, serta hidayah, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini.
Makalah yang berjudul Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, Sujud Syukur, Shalat
Berjamaah, Shalat Qasar dan Jamak, Shalat Orang Sakit dimaksudkan untuk
menambah pengetahuan dan wawasan serta memenuhi tugas mata kuliah Fiqh
Ibadah yang dibimbing oleh Ustadz Elfa Robi, Lc. Pada program studi Hukum
Ekonomi Syariah Sekolah Tinggi Ilmu syariah Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa
Barat.

Dalam pembuatan penulisan makalah ini tidak akan selesai apabila tidak
ada bantuan dari beberapa pihak, Oleh karena itu penulis mengucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang berpartisipasi langsung
maupun tidak langsung dari mulai pencarian, pembuatan sampai selesainya
makalah ini.

Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan masih jauh dari


kesempurnaan, oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang
bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini. Penulis berharap makalah
ini berguna dan bermanfaat bagi para pembaca.

Akhirnya dengan segala keikhlasan dan kerendahan hati, penulis


mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada semua pihak atas segala
bantuan dan dukungannya dalam menyelesaikan makalah ini. Semoga apa yang
telah diberikan mendapat balasan yang setimpal dari Allah swt. Amin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Kuningan, Februari 2018
Penyusun,

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1
A. Latar Belakang ......................................................................... 1
B. Rumusan Masalah..................................................................... 1
C. Tujuan....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN................................................................................. 3
A. Sujud Sahwi .............................................................................. 3
B. Sujud Tilawah .......................................................................... 4
C. Sujud Syukur.............................................................................. 5
D. Shalat Berjamaah ...................................................................... 7
E. Shalat Jamak .............................................................................. 8
F. Shalat Qashar ............................................................................. 9
G. Shalat Orang yang Sakit............................................................. 10

BAB III PENUTUP......................................................................................... 13


A. Kesimpulan................................................................................ 13
B. Saran........................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ibadah merupakan suatu kewajiban bagi setiap umat manusia dengan


tuhannya dan dengan ibadah manusia akan mendapatkan ketenangan dan
kebahagiaan didunia dan diakhirat. Allah Swt menciptakan manusia supaya
mereka beribadah kepadaNya. Akan tetapi ibadah manusia itu tidak akan
membawa manfaat apapun bagiNya. Kepatuhan manusia tidak akan menambah
besar kemulianNya dan kedurhakaan mereka pun tidak akan mengurangi
kerajaanNya. Allah tidak memerintahkan manusia kecuali dengan hal-hal yang
membawa kebajikan bagi diri manusia sendiri. Mereka yang patuh akan diberi
ganjaran yang baik disurga, dengan berbagai nikmat yang tiada taranya. Dan
begitu pula sebaliknya bagi mereka yang ingkar terhadap Allah Swt.
Dengan melakukan shalat manusia akan tahu dan sadar betapa hina dan
lemah dirinya berhadapan dengan kuasa Allah, Sehingga ia benar-benar
menyadari akan kedudukannya sebagi hamba Allah Swt. Terlebih lagi, Shalat
merupakan amalan yang pertama kali akan di hisab oleh Allah pada hari akhir
nantinya. Jika baik shalat kita maka baiklah segala amalan kita di hadapan Allah
Swt.
Shalat merupakan salah satu kewajiban bagi kaum muslimin  yang sudah baligh
berakal, dan harus dikerjakan bagi seorang mukmin dalam keadaan
bagaimanapun. Namun terkadang kita sebagai umat muslim  sering kali kita tidak
mengetahui kewajiban kita untuk menunaikan shalat maupun ibadah lainnya,
terkadang kita malas atau terkadang kita tau tapi tidak mengerti terhadap apa yang
dilakukan.

B. Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, dan Sujud Syukur ?
2. Apa yang dimaksud dengan Shalat Berjamaah ?

1
3. Apa yang dimaksud dengan Shalat Qasar dan Jamak ?
4. Apa yang dimaksud dengan Shalat Orang yang Sakit ?
C. Tujuan
Berangkat dari latar belakang tersebut, makalah ini mencoba membahas
beberapa permasalahan mengenai Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, Sujud Syukur,
Shalat Berjamaah, Shalat Jamak dan Qashar, Shalat Orang Sakit. Jika dijabarkan,
permasalahan yang akan kami bahas dalam makalah ini di antaranya adalah :
1. Dapat mengetahui pemabahasan seputar Sujud Sahwi, Sujud Tilawah, Sujud
Syukur.
2. Dapat mengetahui pemabahasan seputar Shalat Berjamaah.
3. Dapat mengetahui pemabahasan seputar Shalat Jamak dan Qashar.
4. Dapat mengetahui pemabahasan seputar Shalat Orang yang Sakit.
5.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Sujud Sahwi
Sujud sahwi adalah suatu istilah untuk dua sujud yang dikerjakan oleh
orang yang shalat, fungsinya untuk menambah celah-celah yang kurang
dalam shalatnya karena lupa.
Faktor-faktor yang menyebabkan seseorang harus mengerjakan sujud sahwi
ada tiga macam : penambahan, pengurangan dan ragu-ragu.
1. Jika terdapat kekurangan pada shalat seperti kekurangan tasyahud awwal, ini
berarti kekurangan tadi butuh ditambal, maka menutupinya tentu saja dengan
sujud sahwi sebelum salam untuk menyempurnakan shalat. Karena jika
seseorang sudah mengucapkan salam, berarti ia sudah selesai dari shalat.
2. Jika terdapat kelebihan dalam shalat seperti terdapat penambahan satu
raka’aat, maka hendaklah sujud sahwi dilakukan sesudah salam. Karena sujud
sahwi ketika itu untuk menghinakan setan.
3. Jika terdapat keragu-raguan dalam shalat, lalu tidak nampak baginya keadaan
yang yakin. Semisal ia ragu apakah shalatnya empat atau lima raka’at. Jika
ternyata shalatnya benar lima raka’at, maka tambahan sujud tadi untuk
menggenapkan shalatnya tersebut. Jadi seakan-akan ia shalat enam raka’at,
bukan lima raka’at. Pada saat ini sujud sahwinya adalah sebelum salam
karena shalatnya ketika itu seakan-akan perlu ditambal disebabkan masih ada
yang kurang yaitu yang belum ia yakini.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam beberapa hadits bahwa sujud sahwi
dilakukan dengan dua kali sujud di akhir shalat sebelum atau sesudah salam.
Ketika ingin sujud disyariatkan untuk mengucapkan takbir “Allahu akbar”,
begitu pula ketika ingin bangkit dari sujud disyariatkan untuk bertakbir.
Contoh cara melakukan sujud sahwi sebelum salam dijelaskan dalam hadits
‘Abdullah bin Buhainah.
‫َّر فِي ُكلِّ َسجْ َد ٍة َوهُ َو َجالِسٌ قَب َْل أَ ْن يُ َسلِّ َم‬dَ ‫صاَل تَهُ َس َج َد َسجْ َدتَ ْي ِن فَ َكب‬
َ ‫فَلَ َّما أَتَ َّم‬

3
“Setelah beliau menyempurnakan shalatnya, beliau sujud dua kali. Ketika itu
beliau bertakbir pada setiap akan sujud dalam posisi duduk. Beliau lakukan
sujud sahwi ini sebelum salam.” (HR. Bukhari no. 1224 dan Muslim no. 570)
Contoh cara melakukan sujud sahwi sesudah salam dijelaskan dalam hadits
Abu Hurairah,
‫ع‬dَ َ‫ع ثُ َّم َكب ََّر َو َس َج َد ثُ َّم َكب ََّر َو َرف‬dَ َ‫ َر ْك َعتَي ِْن َو َسلَّ َم ثُ َّم َكب ََّر ثُ َّم َس َج َد ثُ َّم َكبَّ َر فَ َرف‬d‫صلَّى‬
َ َ‫ف‬
“Lalu beliau shalat dua rakaat lagi (yang tertinggal), kemudia beliau salam.
Sesudah itu beliau bertakbir, lalu bersujud. Kemudian bertakbir lagi, lalu
beliau bangkit. Kemudian bertakbir kembali, lalu beliau sujud kedua kalinya.
Sesudah itu bertakbir, lalu beliau bangkit.” (HR. Bukhari no. 1229 dan
Muslim no. 573)
Sujud sahwi sesudah salam ini ditutup lagi dengan salam sebagaimana
dijelaskan dalam hadits ‘Imron bin Hushain,
.‫ َر ْك َعةً ثُ َّم َسلَّ َم ثُ َّم َس َج َد َسجْ َدتَ ْي ِن ثُ َّم َسلَّ َم‬d‫صلَّى‬
َ َ‫ف‬
“Kemudian beliau pun shalat satu rakaat (menambah raka’at yang kurang
tadi). Lalu beliau salam. Setelah itu beliau melakukan sujud sahwi dengan
dua kali sujud. Kemudian beliau salam lagi.” (HR. Muslim no. 574)
B. Sujud Tilawah
Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau
mendengar ayat-ayat tertentu dari kitab suci Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut
disebut dengan ayat sajdah. Di dalam mushaf Al-Qur’an ayat-ayat sajdah ini
biasanya bisa diketahui dengan adanya tanda tertentu seperti tulisan kata as-
sajdah dengan tulisan Arab di pinggir halaman sebaris dengan ayatnya, atau
adanya gambar seperti kubah kecil di akhir ayat. Ketika ayat sajdah dibaca
orang yang membaca atau yang mendengarnya disunahkan untuk bersujud
satu kali baik dalam keadaan shalat maupun di luar shalat.
Disyariatkannya sujud tilawah ketika membaca atau mendengar ayat sajdah
didasarkan pada beberapa hadits di antaranya:
Hadis riwayat Imam Abu Dawud dari Ibnu Umar:
‫ َو َس َج َد‬،‫ فَإِ َذا َم َّر بِالسَّجْ َد ِة َكب ََّر‬، َ‫م يَ ْق َرأُ َعلَ ْينَا ْالقُرْ آن‬dَ َّ‫صلَّى هللاُ َعلَ ْي ِه َو َسل‬
َ ِ ‫َكانَ َرسُو ُل هَّللا‬
ُ‫ َم َعه‬d‫َو َس َج ْدنَا‬

4
Artinya: “Adalah nabi membacakan Al-Qur’an kepada kita, maka ketika
melewati ayat As-Sajdah beliau bertakbir dan bersujud, dan kami pun
bersujud bersamanya.”
Tata Cara Sujud Tilawah
Di luar shalat ketika seseorang membaca atau mendengar ayat sajdah
dan ia berkehendak untuk melakukan sujud tilawah maka yang mesti ia
lakukan adalah memastikan dirinya tidak berhadats dan tidak bernajis dengan
cara berwudlu dan mensucikan najis yang ada. Setelah itu menghadapkan diri
ke arah kiblat untuk kemudian bertakbiratul ihram dengan mengangkat kedua
tangan. Setelah berhenti sejenak lalu bertakbir lagi untuk turun bersujud tanpa
mengangkat kedua tangan. Setelah sujud satu kali lalu bangun untuk
kemudian duduk sejenak tanpa membaca tahiyat dan mengakhirinya dengan
membaca salam.
Sedangkan melakukan sujud tilawah dalam keadaan sedang shalat
dengan cara setelah dibacanya ayat sajdah maka bertakbir tanpa mengangkat
tangan untuk kemudian turun bersujud satu kali. Setelah itu bangun dari sujud
untuk berdiri lagi dan melanjutkan shalatnya. Bila ayat sajdah yang tadi
dibaca berada di tengah surat maka ia kembali melanjutkan bacaan suratnya
hingga selesai dan ruku’. Namun bila ayat sajdah yang tadi dibaca berada di
akhir surat maka setelah bangun dari sujud tilawah ia sejenak berdiri atau
lebih disukai membaca sedikit ayat lalu diteruskan dengan ruku’ dan
seterusnya.
Adapun bacaan yang sunah dibaca ketika sujud tilawah sebagaimana
disebutkan Imam Nawawi dalam kitab Raudlatut Thâlibîn adalah:
‫ بِ َحوْ لِ ِه َوقُ َّوتِ ِه‬،ُ‫ص َره‬ َ ‫َس َج َد َوجْ ِهي لِلَّ ِذي َخلَقَهُ َو‬
َّ ‫ َو َش‬،ُ‫ص َّو َره‬
َ َ‫ق َس ْم َعهُ َوب‬
“Sajada wajhiya lil ladzî khalaqahû wa shawwarahû wa syaqqa sam’ahû wa
basharahû bi haulihî wa quwwatihî.
C. Sujud Syukur
Menurut bahasa syukur berarti berterimakasih. Sedangkan menurut
istilah syara’ sujud syukur adalah sujud untuk berterimakasih kepada Allah
SWT. Sujud ini dilakukan saat seseorang memperoleh kenikmatan dari Allah

5
SWT, atau selamat dari suatu musibah. Hukum sujud syukur ini adalah
sunnah. Hal ini sesuai dengan Hadits Rasulullah SAW :
Artinya: “Dari Abi Bakrah ia berkata: bahwasannya Nabi Muhammad SAW
apabila mendapatkan sesuatu yang disenangi atau diberi kabar gembira,
segeralah tunduk dan sujud sebagai tanda syukur kepada Allah SWT.” (HR.
Abu Daud, Ibnu Majjah dan At-Tirmidzi).
Dari hadis tersebut jelas bahwa Rasulullah SAW menyuruh kita untuk
bersujud syukur apabila kita mendapatkan berita gembira atau sesuatu yang
kita senangi itu tercapai. Sebagai bentuk rasa terimakasih kita kepada Allah
SWT, karena Allah lah yang telah memberikan apa yang kita harapkan.
Ada beberapa sebab seseorang untuk melakukan sujud syukur yaitu:
1) Disaat seseorang mendapatkan nikmat dari Allah SWT
2) Disaat seseorang selamat dari mara bahaya
3) Disaat seseorang mendapatkan berita gembira
4) Disaat seseorang memperoleh apa yang ia harapkan
Syarat Sujud Syukur
1) Suci dari hadas dan najis
2) Menutup aurat
Rukun Sujud Syukur
1) Niat
2) Takbiratul ihram
3) Sujud satu kali
4) Salam
Tata Cara Melakukan Sujud Syukur
Cara melakukan sujud syukur ialah dimulai dengan takbir kemudian
melakukan sujud satu kali, lalu membaca doa sujud syukur kemudian
memberi salam.
Doa sujud syukur yaitu sebagai berikut:

6
Artinya: Wahai Tuhanku, ilhamkanlah aku supaya selalu mensyukuri akan
nikmat-Mu yang telah Engkau kurniakan kepadaku dan kepada ibu bapaku,
dan supaya aku tetap mengerjakan amal sholeh yang Engkau ridhai. Dengan
Rahmat-Mu masukkanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang
soleh.”(QS. An-Namlu:19)
D. Salat berjamaah
Merujuk pada aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat
ini dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam
(pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum.
Fardhu `ain
Fardhu `ain adalah wajib, Ada hadits yang mengatakan bahwa jika seorang
mendengar azan, kemudian tidak salat berjamaah maka orang itu tidak
menginginkan kebaikan maka kebaikan itu sendiri tidak menginginkannya
pula. Dengan demikian bila seorang muslim meninggalkan salat jamaah tanpa
uzur, dia berdoa namun salatnya tetap syah. Kemudian ada hadits yang
menjelaskan jika ada orang yang tidak salat berjamaah, maka nabi akan
membakar rumah-rumah orang yang tidak menghadiri salat berjamaah.

Fardhu kifayah
Yang mengatakan fardhu kifayah adalah Al Imam Asy Syafi`i dan Abu
Hanifah sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Habirah dalam kitab Al Ifshah
jilid 1 halaman 142. Demikian juga dengan jumhur (mayoritas) ulama baik
yang lampau (mutaqaddimin) maupun yang berikutnya (mutaakhkhirin).
Termasuk juga pendapat kebanyakan ulama dari kalangan mazhab Al
Hanafiyah dan Al Malikiyah. Dikatakan sebagai fardhu kifayah maksudnya
adalah bila sudah ada yang menjalankannya, maka gugurlah kewajiban yang
lain untuk melakukannya. Sebaliknya, bila tidak ada satu pun yang
menjalankan salat jamaah, maka berdosalah semua orang yang ada di situ.
Hal itu karena salat jamaah itu adalah bagian dari syiar agama Islam.
Hadits dari Malik bin Huwairits menjelaskan ia mendengar ada hadits yang
menjelaskan pentingnya mengajarkan salat kepada keluarga bila waktu salat
telah tiba, maka lantunkanlah azan dan yang tertua maka menjadi imam

7
salat.Kemudian ada penjelasan bahwa salat berjamaah lebih utama sebanyak
27 derajat dibandingkan salat sendirian.

Keutamaan Shalat Berjama’ah


1. Salat berjama'ah lebih utama daripada salat sendirian, dengan pahala 27
derajat
2. Setiap langkahnya diangkat kedudukannya 1 derajat dan dihapuskan
baginya satu dosa
3. Dido'akan oleh para malaikat
4. Terbebas dari pengaruh (penguasaan) setan
5. Memancarkan cahaya yang sempurna di hari kiamat
6. Mendapatkan balasan yang berlipat ganda
7. Sarana penyatuan hati dan fisik, saling mengenal dan saling mendukung
satu sama lain
8. Membiasakan kehidupan yang teratur dan disiplin. Pembiasaan ini dilatih
dengan mematuhi tata tertib hubungan antara imam dan ma'mum, misalnya
tidak boleh menyamai apalagi mendahului gerakan imam dan menjaga
kesempurnaan shaf-shaf salat
9. Merupakan pantulan kebaikan dan ketaqwaan.

E. Shalat Jamak
Rukhsah ialah satu keringanan yang diberikan oleh Allah S.W.T kepada
hambanya dalam hal-hal tertentu, shalat jamak contohnya. Apa itu shalat
jamak? Shalat jamak ialah mengerjakan 2 shalat wajib dalam satu waktu.
Contoh: shalat dzuhur dan shalat ashar, shalat maghrib dan shalat isya.
INGAT: Shalat subuh tidak boleh dijamak dan harus dikerjakan pada
waktunya. Ada dua macam shalat jamak:
1. Shalat Jamak Takdim
Jamak takdim dikerjakan pada waktu shalat yang pertama. Maksudnya,
jika anda akan menjamak shalat dzuhur dan ashar, maka anda
mengerjakannya saat waktu dzuhur. Begitupun maghrib dan isya yang
dilakukan saat waktu maghrib tiba. Urutannya, kerjakan shalat yang

8
pertama kemudian shalat kedua tanpa diselingi kegiatan apapun.
Maksudnya, setelah salam pada shalat dzuhur anda langsung berdiri
mengerjakan shalat ashar. Keduannya dikerjakan 4 rakaat tanpa dikurangi,
berikut niatnya:
Niat shalat jamak takdim dzuhur

‫ت َمجْ ُموْ عًا مع ال َعصْ ِر اَدَا ًء هللِ تَ َعالى‬ ُّ ‫ض‬


ٍ ‫ َرك َعا‬d‫الظه ِْرأربع‬ َ ُ‫أ‬
َ ْ‫صلِّي فَر‬
“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan
Ashar, fardu karena Allah Ta’aala”
Untuk shalat ashar nya, anda tidak perlu menggunakan niat shalat jamak
lagi, melainkan membaca niat shalat ashar seperti biasa.
2. Shalat Jamak Takhir
Jamak takhir adalah kebalikan dari jamak takdim, yakni mengerjakan dua
shalat fardu pada waktu shalat yang kedua (adalah waktu ashar dan isya).
Niat shalat zhuhur jamak takhir dengan ashar
‫ت َمجْ ُموْ عًا مع ال َعصْ ِر اَدَا ًء هللِ تَ َعالى‬ ُّ ‫ض‬
ٍ ‫ َرك َعا‬d‫الظه ِْرأربع‬ َ ُ‫أ‬
َ ْ‫صلِّي فَر‬
“Aku sengaja shalat fardu dhuhur empat rakaat yang dijama’ dengan
Ashar, fardu karena Allah Ta’aala”

Kedua shalat dilakukan pada waktu ashar, bisa zhuhur dulu, bisa ashar
dulu.
Niat shalat ashar jamak takhir dengan zhuhur (Kedua shalat dilakukan
pada waktu ashar)

ُّ ‫ت َمجْ ُموْ عًا مع‬


‫الظه ِْر اَدَا ًء هللِ تَ َعالى‬ َ ُ‫أ‬
َ ْ‫صلِّي فَر‬
ٍ ‫ض ال َعصْ ِر أربع َرك َعا‬
“Aku sengaja shalat fardu Ashar empat rakaat yang dijama’ dengan
dhuhur, fardu karena Allah Ta’aala”

F. Shalat Qashar
Berbeda dengan shalat jamak yang menggabungkan, shalat qasar
artinya meringkas. Rukhsah shalat qasar ialah meringkas 4 rakaat menjadi 2
rakaat. Contoh, shalat dzuhur dikerjakan 2 rakaat, begitupun shalat ashar dan

9
isya. INGAT: hanya shalat dengan jumlah 4 rakaat yang boleh di qasar. Maka
dari itu, anda tidak diperbolehkan meng qasar shalat subuh dan maghrib.
Allah berfirman dalam al Qur’an surat An Nisa ayat 101 yang artinya: “Dan
apabila kamu bepergian di muka bumi, maka tidak mengapa kamu menqashar
shalatmu, jika kamu takut diserang orang-orang kafir, sesungguhnya orang-
orang kafir itu musuh yang nyata bagimu,” Q.S.(An Nisa: 101)

ُّ ‫ض‬
‫ اَدَا ًء هَّلِل ِ تَ َعالَى‬d‫الظه ِْر َر ْك َعتَ ْي ِن قَصْ ًرا‬ َ ُ‫ا‬
َ ْ‫صلِّى فَر‬
“Niat shalat fardhu dzuhur secara qashar dua rakaat karena Allah”

G. Shalat orang yang sakit

Syari’at Islam dibangun di atas dasar ilmu dan kemampuan orang yang
dibebani. Tidak ada satu pun beban syari’at yang diwajibkan kepada
seseorang di luar kemampuannya. Allah Azza wa Jalla sendiri menjelaskan
hal ini dalam firman-Nya:

‫اَل يُ َكلِّفُ هَّللا ُ نَ ْفسًا إِاَّل ُو ْس َعهَا‬


“Allah Azza wa Jalla tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan
kesanggupannya” [al-Baqarah/ 2:286]

Allah Azza wa Jalla juga memerintahkan kaum Muslimin untuk agar


bertaqwa sesuai kemampuan mereka. Allah Azza wa Jalla berfirman:

‫فَاتَّقُوا هَّللا َ َما ا ْستَطَ ْعتُ ْم‬


“Maka bertakwalah kamu kepada Allah k menurut kesanggupanmu” [at-
Taghâbun/ 64:16]
Orang yang sakit tidak sama dengan yang sehat. Masing-masing harus
berusaha melaksanakan kewajibannya menurut kemampuannya. Dari sini,
nampaklah keindahan dan kemudahan syari’at islam.
Di antara kewajiban agung yang wajib dilakukan orang yang sakit adalah
shalat. Banyak sekali kaum Muslimin yang terkadang meninggalkan shalat

10
dengan dalih sakit atau memaksakan diri melakukan shalat dengan tata cara
yang biasa dilakukan orang sehat. Akhirnya, mereka pun merasa berat dan
merasa terbebani dengan ibadah shalat. Untuk itu, solusinya adalah
mengetahui hukum-hukum dan tata cara shalat bagi orang yang sakit sesuai
petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan para ulama.

HUKUM-HUKUM BERHUBUNGAN DENGAN SHALAT ORANG


SAKIT
1. Orang yang sakit tetap wajib mengerjakan shalat pada waktunya dan
melaksanakannya menurut kemampuannya
2. Apabila melakukan shalat pada waktunya terasa berat baginya, maka
diperbolehkan menjamâ’ (menggabung) shalat , shalat Zhuhur dan Ashar,
Maghrib dan ‘Isya` baik dengan jamâ’ taqdîm atau ta’khîr [2], dengan cara
memilih yang termudah baginya. Sedangkan shalat Shubuh maka tidak
boleh dijama’ karena waktunya terpisah dari shalat sebelum dan
sesudahnya.
3. Orang yang sakit tidak boleh meninggalkan shalat wajib dalam segala
kondisi apapun selama akalnya masih baik.
4. Orang sakit yang berat shalat jama`ah di masjid atau ia khawatir akan
menambah dan atau memperlambat kesembuhannya jika shalat dimasjid,
maka dibolehkan tidak shalat berjama’ah

TATA CARA SHALAT BAGI ORANG YANG SAKIT


1. Diwajibkan bagi orang yang sakit untuk shalat dengan berdiri apabila
mampu dan tidak khawatir sakitnya bertambah parah, karena berdiri dalam
shalat wajib merupakan rukun shalat.
2. Orang sakit yang mampu berdiri namun tidak mampu ruku’ atau sujud , ia
tetap wajib berdiri. Ia harus shalat dengan berdiri dan melakukan rukuk
dengan menundukkan badannya. Bila ia tidak mampu membungkukkan
punggungnya sama sekali, maka cukup dengan menundukkan lehernya,
Kemudian duduk, lalu menundukkan badan untuk sujud dalam keadaan
duduk dengan mendekatkan wajahnya ke tanah sebisa mungkin

11
3. Orang sakit yang tidak mampu berdiri, maka ia melakukan shalatnya
dengan duduk, berdasarkan hadits ‘Imrân bin Hushain dan ijma’ para
ulama. Ibnu Qudâmah rahimahullah menyatakan, “Para ulama telah
berijmâ’ bahwa orang yang tidak mampu shalat berdiri maka dibolehkan
shalat dengan duduk”
4. Orang sakit yang khawatir akan bertambah parah sakitnya atau
memperlambat kesembuhannya atau sangat susah berdiri, diperbolehkan
shalat dengan duduk
5. Orang sakit yang tidak mampu melakukan shalat berdiri dan duduk, cara
melakukannya adalah dengan berbaring, boleh dengan miring ke kanan
atau ke kiri, dengan menghadapkan wajahnya ke arah kiblat.
6. Orang sakit yang tidak mampu berbaring, boleh melakukan shalat dengan
terlentang dan menghadapkan kakinya ke arah kiblat, karena hal ini lebih
dekat kepada cara berdiri. Misalnya bila kiblatnya arah barat maka letak
kepalanya di sebelah timur dan kakinya di arah barat
7. Apabila tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada yang mengarahkan
atau membantu mengarahkannya, maka hendaklan ia shalat sesuai
keadaannya tersebut
8. Orang sakit yang tidak mampu shalat dengan terlentang maka shalatnya
sesuai keadaannya dengan dasar firman Allah Subhanahu wa Ta’ala :
‫فَاتَّقُوا هَّللا َ َما ا ْستَطَ ْعتُ ْم‬
“Maka bertakwalah kamu kepada Allah Azza wa Jalla menurut
kesanggupanmu” [at-Taghâbun/ 64:16]
9. Orang yang sakit dan tidak mampu melakukan shalat dengan semua
gerakan di atas (Ia tidak mampu menggerakkan anggota tubuhnya dan
tidak mampu juga dengan matanya), hendaknya ia melakukan shalat
dengan hatinya. Shalat tetap diwajibkan selama akal seorang masih sehat.

12
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
 Sujud sahwi adalah suatu istilah untuk dua sujud yang dikerjakan oleh orang
yang shalat, fungsinya untuk menambah celah-celah yang kurang dalam
shalatnya karena lupa.
 Sujud tilawah adalah sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar
ayat-ayat tertentu dari kitab suci Al-Qur’an. Ayat-ayat tersebut disebut dengan
ayat sajdah.
 Menurut bahasa syukur berarti berterimakasih. Sedangkan menurut istilah
syara’ sujud syukur adalah sujud untuk berterimakasih kepada Allah SWT.
 Merujuk pada aktivitas salat yang dilakukan secara bersama-sama. Salat ini
dilakukan oleh minimal dua orang dengan salah seorang menjadi imam
(pemimpin) dan yang lainnya menjadi makmum.
 Shalat jamak ialah mengerjakan 2 shalat wajib dalam satu waktu.
 Berbeda dengan shalat jamak yang menggabungkan, shalat qasar artinya
meringkas. Rukhsah shalat qasar ialah meringkas 4 rakaat menjadi 2 rakaat.
 Orang yang sakit tidak sama dengan yang sehat. Masing-masing harus
berusaha melaksanakan kewajibannya menurut kemampuannya. Dari sini,
nampaklah keindahan dan kemudahan syari’at islam.

B. Saran
Demikian Makalah yang dapat kami susun. Kami menyadari bahwa masih
terdapat banyak kekurangan, oleh sebab itu kritik dan saran yang membangun dari
para pembaca sangat kami harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi
kita semua.

13
14
DAFTAR PUSTAKA

https://muslim.or.id/tata-cara-sujud-sahwi

http://www.nu.or.id/post/read/85302/tata-cara-sujud-tilawah

http://www.akidahislam.com/2017/06/pengertian-sujud-syukur-dan-sujud.html?
m=1

https://id.m.wikipedia.org/wiki/Salat_berjamaah

http://cercahceria.com/tata-cara-shalat-jamak-qashar-jamak-qashar-lengkap/

https://almanhaj.or.id/2587-shalat-orang-yang-sakit.html