Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

Keperawatan adalah suatu bentuk pelayanan professional yang merupakan bagian integral
dari pelayanan kesehatan yang didasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang berbentuk
pelayanan bio-psiko-sosio-spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu
keluarga masyarakat baik sakit maupun sehat yang mencangkup seluruh siklus kehidupan
manusia. Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan,
pencegahan penyakit, penyembuhan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan serta
pemeliharaan kesehatan khususnya pada klien (Perry, Potter. 2005)

Filariasis atau yang dikenal dengan penyakit kaki gajah mulai ramai diberitakan sejak
akhir tahun 2009, akibat terjadinya kematian pada beberapa orang. Sebenarnya penyakit
ini sudah mulai dikenal sejak 1500 tahun oleh masyarakat, dan mulai diselidik lebih
mendalam ditahun 1800 untuk mengetahui penyebaran, gejala serta upaya mengatasinya.
Baru ditahun 1970, obat yang lebih tepat untuk mengobati filarial ditemukan. Rubrik ini
berusaha menjelaskan mengapa hal tersebut dapat terjadi dan mengapa penanggulangan
Penyakit Kaki Gajah harus segera dilaksanakan. Penyakit filaria yang disebabkan oleh
cacing khusus cukup banyak ditemui di negeri ini dan cacing yang paling ganas ialah
Wuchereria bancrofti, Brugia, malayi, Brugia timori, Penelitian di Indonesia menemukan
bahwa cacing jenis Brugia dan Wuchereria merupakan jenis terbanyak yang ditemukan di
Indonesia, sementara cacing jenis Brugia timori hanya didapatkan di Nusa Tenggara
Timur, khususnya di pulau Timor.
Di dunia, penyakit ini diperkirakan mengenai sekitar 115 juta manusia, terutama di Asia
Pasifik, Afrika, Amerika Selatan dan kepulauan Karibia. Penularan cacing Filaria terjadi
melalui nyamuk dengan periodisitas subperiodik (kapan saja terdapat di darah tepi)
ditemukan di Indonesia sebagian besar lainnya memiliki periodisitas nokturnal dengan
nyamuk Culex, nyamuk Aedes dan pada jenis nyamuk Anopheles. Nyamuk Culex juga
biasanya ditemukan di daerah-daerah urban, sedangkan Nyamuk Aedes dan Anopheles
dapat ditemukan di daerah-daerah rural. (riyanto,harun.2010)
Filariasis merupakan penyakit menular (penyakit kaki gajah) yang disebabkan oleh cacing
filaria yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk.penyakit ini bersifat menahun, Dan bila
tidak dapat pengobatan daapt menimbulakan cacat menetap berupa pembesaran kaki,
lengan, dan alat kelamin, baik perempuan maupun laki-laki. Akibatnya penderita tidak
dapat bekerja secara optimal bahkan hidupnya tergantung kepada orang lain
sehinggamenjadi beban keluarga. Berdasarkan laporan dari hasil survey pada tahun 2000
yang lalu tercatat sebanyak 1553 desa di 647 puskesmas tersebar di 231 kabupaten sebagai
lokasi endemis, dengan jumlah kasus kronis 6233 orang. Hasil survay laboratorium,
melalui pemeriksaan darah jari, rata-rata mikrofilaria rate (Mf Rate) 3,1%berarti sekitar 6
juta orang sudah terinfeksi cacing filaria dan sekitar 100 juta orang memepunyai resiko
tinggi untuk ketularan karena nyamuk penularannya tersebar luas.
Untuk memberantas penyakit ini sampai tuntas. (chairufatah,alex.2009)
WHO sudah menetapkan kesepakatan global (The Global Goal of Elimination of lympatic
filariasis as a public Health Problem by the year 2020). Program eliminasi dilaksanakan
melalui pengobatan misal dengan DEC dan albendazol setahun sekali selama 5 tahun di
lokasi yang endemis dan perawatan kasus klinis baik yang akut maupun kronis untuk
mencegah kecacatan dan mengurangi penderitanya. Indonesia akan melaksanakan
eliminasi penyakit gajah secara berthap dimulai pada tahun 2002 di 5 kabupaten
percontohan. Perluasan wilayah akan dilaksanakan 5 tahun.

Dari uraian diatas dapat kita simpulkan penyakit filariasis adalah penyakit endemis yang
apa tidak ditangani secara cepat akan memperluas penyebaran dan penularannya kepada
manusia. Oleh karena itu kita perlu mengetahui apa itu filariasis, serta hal-hal yang terkait
dengannya. Berdasarkan paparan dari fakta inilah maka kami selaku penulis tertarik untuk
membahas kasus mengenai penyakit filariasis ini dan sebagai pemenuhan tugas pada blok
sistem imun dan hematologi. (riyanto, harun.2005)

B. RUMUSAN MASALAH

Adapun rumusan masalah yang diangkat pada makalah ini adalah bagaimana pelaksanaan
asuhan keperawatan pada pasien dengan filariasis.

C. TUJUAN

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu memahami konsep dan melaksanakan Asuhan Keperawatan pada


Pasien dengan Penyakit Filariasis.

2. Tujuan Khusus

a. Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan penyakit filariasis.


b. Mahasiswa mampu menganalisa data sesuai dengan pengkajian pada pasien dengan
penyakit filariasis.
c. Mahasiswa mampu membuat diagnosa keperawatan pada pasien dengan penyakit
filariasis.
d. Mahasiswa mampu membuat rencana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan
penyakit filariasis.
e. Mahasiswa mampu melakukan Implementasi Asuhan Keperawatan pada pasien dengan
penyakit filariasis.

f. Mahasiswa mampu mengevaluasi intervensi keperawatan yang telah dilakukan pada


pasien dengan penyakit filariasis.

D. MANFAAT

1. Bagi Mahasiswa
Sebagai referensi awal dalam melaksanakan asuhan keperawatan dengan kasus filariasis.

2. Bagi Akademik
a. Sebagai referensi tambahan dalam proses pembelajaran khususnya blok imun dan
hematologi.
b. Sebagai motivasi awal untuk melakukan penelitian khususnya dalam sistem imun dan
hematologi
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI SISTEM IMUN DAN HEMATOLOGI

1. Anatomi Sistem Imun dan Hematologi

a. Timus

Kelenjar timus terletak di belakang tulang dada. Pada masa anak-anak bentuknya sangat
besar dan akan mengkerut menjadi seperempatnya dari bentuk aslinya pada masa puber.
Kelenjar ini mengatur daya tahan tubuh terhadap penyakit. Pada orang dewasa sel T
dibentuk dalam sumsum tulang akan tetapi proliferasi dan diferensiasi terjadi dalam
kelenjar timus. 90-95% dari seluruh sel timus akan mati dan hanya 5-10% menjadi matang
dan meninggalkan timus masuk kedalam sirkulasi darah. Hormon timosin dapat ditemukan
dalam peredaran darah dan dapt berperan terhadap diferensiasi sel T di perifer.
(radji,maksum.2010)
Menurut pengamatan biologis, timus tampak seperti organ biasa tanpa suatu fungsi khusus.
Namun demikian, jika dikaji secara rinci, pekerjaannya sangatlah menakjubkan. Di dalam
timuslah limfosit mendapat semacam pelatihan.

Pelatihan berupa transfer informasi, yang dapat dilaksanakan terhadap makhluk hidup
yang memiliki tingkat kecerdasan tertentu. Jadi ada suatu poin penting yang perlu
disebutkan di sini. Yang memberikan pelatihan adalah segumpal daging, yaitu timus, dan
yang menerimanya adalah suatu sel yang amat kecil. Menurut analisis terakhir, keduanya
adalah makhluk hidup yang tidak memiliki kesadaran akan hal ini. .(yahya,harun.2011)
Di akhir, limfosit dilengkapi dengan kumpulan informasi yang sangat penting. Mereka
mempelajari cara mengenali karakteristik khusus sel tubuh. Dapat dikatakan bahwa
limfosit diajarkan mengenai identitas sel-sel di dalam tubuh. Terakhir, sel-sel limfosit
meninggalkan timus dengan bermuatan informasi. Dengan demikian, ketika limfosit
bekerja dalam tubuh, mereka tidak menyerang sel-sel yang identitasnya pernah diajarkan,
melainkan hanya menyerang dan membinasakan sel-sel lainnya yang bersifat asing. .
(yahya,harun.2011)
Selama bertahun-tahun timus dianggap sebagai organ vestigial atau organ yang belum
berkembang sempurna dan oleh para ilmuwan evolusionis dimanfaatkan sebagai bukti
evolusi. Namun demikian, pada tahun-tahun belakangan ini, telah terungkap bahwa organ
ini merupakan sumber dari sistem pertahanan kita. Setelah hal ini dipahami, para
evolusionis itu beralih mengemukakan teori yang sangat berlawanan mengenai organ yang
sama. Mereka mengklaim bahwa timus tidak eksis sebelumnya, dan berasal dari evolusi
yang bertahap. Mereka masih tetap mengatakan bahwa timus terbentuk melalui periode
evolusi yang lebih panjang dibanding banyak organ lainnya. Akan tetapi, tanpa timus, atau
tanpa timus yang telah tumbuh dan berkembang sempurna, sel-sel T tidak akan pernah
belajar mengenali musuh, dan sistem pertahanan tidak akan berfungsi. Seseorang tanpa
sistem pertahanan tidak akan hidup.(yahya,harun.2011)

b. Sumsum tulang

Didalam sumsum tulang semua sel darah berasal dari satu jenis sel yang disebut sel induk.
Jika sel induk membelah yang pertama kali dibentuk adalah sel darah merah yang belun
matang dan sel darah putih atau sel yang membentuk trombosit.. kemudian jika sel imatur
membelah akan menjadi matang dan pada akhirnya menjadi sel darh merah, sel darah
putih atau trombosit.(radji,maksum.2010)

Kecepatan pembentukan sel darah dikendalikan sesuai dengan kebutuhan tubuh. Jjika
kandungan oksigen dalam jaringan tubuh atau jumlah sel darah merah berkurang ginjal
akan menghasilkan dan melepaskan eritropoetin. Sumsum tulang memebentuk dan
melepaskan lebih banyak sel darah putih sebagai respon terhadap infeksi dan lebih banyak
sel darah merah, secara normal sumsum tulang akan memberikan respon dengan
membentuk lebih banyak retikulosit.(radji,maksum.2010)

c. Limpa

Unsur menakjubkan lainnya dari sistem pertahanan kita adalah limpa. Limpa terdiri dari
dua bagian: pulp merah dan pulp putih. Limfosit yang baru dibuat di pulp putih mula-mula
dipindahkan ke pulp merah, lalu mengikuti aliran darah. Kajian saksama mengenai tugas
yang dilaksanakan organ berwarna merah tua di bagian atas abdomen ini menying-kapkan
gambaran luar biasa. Fungsinya yang sangat sulit dan rumitlah yang membuatnya sangat
menakjubkan.
Limpa mengandung sejumlah besar makrofag (sel pembersih). Makrofag menelan dan
mencernakan sel darah merah dan sel darah lainnya yang rusak dan tua, serta bahan-bahan
lain yang dibawa darah ke limpa. Ada satu sistem daur ulang kimiawi yang sangat penting
di sini. Sel makrofag di dalam limpa mengubah protein hemoglobin, yang ditemu-kan
dalam komposisi sel darah merah yang ditelannya, menjadi bilirubin, yaitu pigmen
empedu. Kemudian bilirubin ini dikeluarkan ke sirkulasi vena dan dikirim ke hati. Dalam
bentuk ini ia dapat saja dikeluarkan dari tubuh bersama-sama empedu. Akan tetapi,
molekul besi dalam bilirubin yang akan dibuang ini merupakan bahan langka yang sangat
berharga untuk tubuh. Oleh karena itu zat besi ini diserap kembali di bagian tertentu usus
halus. Dari sana, zat besi ini mula-mula menuju ke hati lalu ke sumsum tulang. Di sini,
tujuannya adalah untuk membuang bilirubin yang merupakan bahan berbahaya, sekaligus
untuk memperoleh kembali zat besi.(yahya,harun.2011)
Keterampilan limpa tidak hanya itu. Limpa menyimpan sejumlah tertentu sel darah (sel
darah merah dan trombosit). Kata "menyimpan" mungkin menimbulkan kesan seakan ada
ruang terpisah dalam limpa yang dapat dijadikan tempat penyimpanan. Padahal limpa
adalah organ kecil yang tak memiliki tempat untuk sebuah gudang. Dalam kasus ini limpa
mengembang supaya ada tempat tersedia untuk sel darah merah dan trombosit. Limpa
yang mengembang disebabkan oleh suatu penyakit juga memungkinkan memiliki ruang
penyimpanan yang lebih besar.

Saat terjadi infeksi yang disebabkan oleh mikroba atau ada penyakit lainnya, maka tubuh
menyiapkan serangan bela diri dari musuh, men-dorong sel-sel prajurit untuk
menggandakan diri. Pada saat-saat seperti ini limpa menambah produksi limfosit dan
makrofag. Jadi, limpa juga berpartisipasi dalam "operasi darurat" yang dilancarkan saat
penyakit akan membahayakan tubuh. (yahya,harun.2011)

d. Nodus getah bening : limfa


Dalam tubuh manusia ada semacam angkatan kepolisian dan organisasi intel kepolisian
yang tersebar di seluruh tubuh. Pada sistem ini terdapat juga kantor-kantor polisi dengan
polisi penjaga, yang juga dapat menyiapkan polisi baru jika diperlukan. Sistem ini adalah
sistem limfatik dan kantor-kantor polisi adalah nodus limfa. Polisi dalam sistem ini adalah
limfosit.
Sistem limfatik ini merupakan suatu keajaiban yang bekerja untuk kemanfaatan bagi umat
manusia. Sistem ini terdiri atas pembuluh limfa-tik yang terdifusi di seluruh tubuh, nodus
limfa yang terdapat di beberapa tempat tertentu pada pembuluh limfatik, limfosit yang
diproduksi oleh nodus limfa dan berpatroli di sepanjang pembuluh limfatik, serta cairan
getah bening tempat limfosit berenang di dalamnya, yang bersirkulasi dalam pembuluh
limfatik.(yahya,harun.2011)
Cara kerja sistem ini adalah sebagai berikut: Cairan getah bening dalam pembuluh limfatik
menyebar di seluruh tubuh dan berkontak dengan jaringan yang berada di sekitar
pembuluh limfatik kapiler. Cairan getah bening yang kembali ke pembuluh limfatik sesaat
setelah melaku-kan kontak ini membawa serta informasi mengenai jaringan tadi. Infor-
masi ini diteruskan ke nodus limfatik terdekat pada pembuluh limfatik. Jika pada jaringan
mulai merebak permusuhan, pengetahuan ini akan diteruskan ke nodus limfa melalui
cairan getah bening. (yahya,harun.2011)

Sistem limfatik tersusun atas serangkaian pembuluh yang menyebar keseluruh tubuh.
Pembuluh tersebut bermula dari kapiler limfa yang mengalirkan plasma tak terabsorbsi
dari rongga jaringan . kemudian bergabung menjadi pembuluh limfa, yang pada gilirannya
melintasi nodus limfa dan akhirnya mengosongkan diri ke duktus torasikus besar dan
bergabung dengan vena jugularis disisi kiri leher. Limf adalah cairan yang terdapat dalam
pembuluh limfaaliran limfa tergantung pada kontraksi intrinsik pembuluh limfa, kontraksi
otot, gerakan respirasi dan gravitasi. (smeltzer,bare,2000)
Kelenjar limfe berbentuk bulat lonjong dengan ukuran kira-kira 10-15 mm. Kelenjar limfe
yang disebut juga getah bening merupakan cairan dengan susunan lisis hampir sama
dengan plasma darah dan cairan jaringan. Perbedaannya adalah dalam cairan limfe banyak
mengandung sel limfosit, tidak mengandung CO2, mengandung sedikit O2. cairan limfe
ini berasal dari cairan jaringan yang masuk melalui proses filtrasi ke dalam saluran kapiler
limfe dan seterusnya akan masuk kedalam sistem peredaran darah melalui vena. Fungsi
kelenjar limfe adalah menaring cairan limfe dari bahan-bahan asing, pembentukan
limfosit, membentuk antibodi dan menghancurkan mikro-organisme. (radji,maksum.2010)

e. Pembuluh limfe

Darah yang meninggalkan jantung melalui arteri dan dikembalikan melalui vena dan
sebagian meninggalkan sirkulasi dikembalikan melalui saluran limfe ke dalam ruang-ruang
jarinagn. Susunan pembuluh limfe disebut juag susunan tengah karena merupakan saluran
antara darah dan jaringan dimana terdapat zat-zat koloid.
Garam elektrolit tidak dapat masuk kedalam kapiler darah akan tetapi masuk melalui
kapiler-kapiler saluran limfe. Struktur limfe serupa dengan vena kecil akan tetapi lebih
banyak katup. Pembuluh kapiler limfe yang terkecil,lebih besar daripada pembuluh kapiler
darah dan terdiri dari selapis endotelium. (radji,maksum.2010)
Pembuluh limfe mempunyai dua batang saluran yang sama yaitu :

1. Duktus torasikus atau duktus limfatikus sinistra. Duktus torasikus ini merupakan
kumpulan pembuluh limfe yang berasal dari kepala kiri, leher kiri, dada sebelah kiri,
bagian perut anggota gerak bagian bawah dan alat-alat dalam rongga perut.
2. Duktus limfatikus dekstra, menerima limfe dari pembuluh limfe yang berasal dari
kepala kanan, leher kanan, dada kanan dan lengan sebelah kanan yang bermuara pada vena
kava subklavia dektra.Fungsi pembuluh limfe adalah mengembalikan cairan dan protein
dari jaringan ke dalam sirkulasi darah. Menyaring dan menghancurkan
mikroorganismedan menghasilkan antibodi.( radji,maksum.2010)

2. Fisiologi Sistem Imun dan Hematologi

a. Gambaran Umum

Imunitas adalah kekebalan terhadap penyakit, terutama penyakit infeksi. Imun sistem
adalah semua hal yang berperan dalam proses imun seperti sel, protein, antibodi dan
sitokin/kemokin.Fungsi utama sistem imun adalah pertahanan terhadap infeksi mikroba,
walaupun substansi non infeksious juga dapat meningkatkan kerja sistem imun. Respon
imun adalah proses pertahanan tubuh terhadap semua bahan asing, yang terdiri dari sistem
imun non spesifik dan spesifik.
b. Imunitas Non Spesifik

Imunitas non spesifik merupakan respon awal terhadap mikroba untuk


mencegah,mengontrol dan mengeliminasi terjadinya infeksi pada host, merangsang
terjadinya imunitas spesifik untuk mengoptimalkan efektifitas kerja dan Hanya bereaksi
terhadap mikroba ,bahan bahan akibat kerusakan sel (heat shock protein) dan memberikan
respon yang sama untuk infeksi yang berulang.

c. Komponen-komponen yang Berperan dalam Sistem Imun

1) Komponen Sistem Imun Spesifik

Barier Sel Epitel


Sel epitel yang utuh merupakan barier fisik terhadap mikroba dari lingkungan dan
menghasilkan peptida yang berfungsi sebagai antibodi natural. Didalam sel epitel barier
juga terdapat sel limfosit T dan B, tetapi diversitasnya lebih rendah daripada limfosit T dan
B pada sistem imun spesifik. Sel T limfosit intraepitel akan menghasilkan sitokin,
mengaktifkan fagositosis dan selanjutnya melisiskan mikroorganisme. Sedangkan sel B
limfosit intraepitel akan menghasilkan IGM.(urrahman,zhiya.2010)
2) Neutrofil dan Makrofag
Ketika terdapat mikroba dalam tubuh, komponen pertama yang bekerja adalah neutrofil
dan makrofag dengan cara ingesti dan penghancuran terhadap mikroba tersebut. Hal ini di
karenakan makrofag dan neutrofil mempunyai reseptor di permukaannya yang bisa
mengenali bahan intraselular (DNA), endotoxin dan lipopolisakarida pada mikroba yang
selanjutnya mengaktifkan aktifitas antimikroba dan sekresi sitokin.
3) NK Sel
NK sel mampu mengenali virus dan komponel internal mikroba. NK sel di aktifasi oleh
adanya antibodi yang melingkupi sel yang terinfeksi virus, bahan intrasel mikroba dan
segala jenis sel yang tidak mempunyai MCH class I. Selanjutnya NK sel akan
menghasilkan porifrin dan granenzim untuk merangsang tterjadinya apoptosis. .
(urrahman,zhiya.2010)

B. FILARIASIS

1. Definisi
Filariasis adalah suatu penyakit yang sering pada daerah subtropik dan tropik, disebabkan
oleh parasit nematoda pada pembuluh limfe. (Witagama,dedi.2009)
Filariasis (penyakit kaki gajah) adalah penyakit menular kronik yang disebabkan sumbatan
cacing filaria di kelenjar / saluran getah bening, menimbulkan gejala klinis akut berupa
demam berulang, radang kelenjar / saluran getah bening, edema dan gejala kronik berupa
elefantiasis.
Filariasis ialah penyakit menular menahun yang disebabkan oleh infeksi cacing filaria
yang ditularkan oleh berbagai jenis nyamuk pada kelenjar getah bening, Penyakit ini
bersifat menahun (kronis) dan bila tidak mendapatkan pengobatan dapat menimbulkan
cacat menetap berupa pembesaran kaki, lengan dan alat kelamin baik perempuan maupun
laki-laki. (Witagama,dedi.2009)

2. Klasifikasi
Limfedema pada filariasis bancrofti biasanya mengenai seluruh tungkai. Limfedema
tungkai ini dapat dibagi menjadi 4 tingkat, yaitu:
a. Tingkat 1. Edema pitting pada tungkai yang dapat kembali normal (reversibel) bila
tungkai diangkat.
b. Tingkat 2. Pitting/ non pitting edema yang tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila
tungkai diangkat.
c. Tingkat 3. Edema non pitting, tidak dapat kembali normal (irreversibel) bila tungkai
diangkat, kulit menjadi tebal.
d. Tingkat 4. Edema non pitting dengan jaringan fibrosis dan verukosa pada kulit
(elephantiasis). (T.Pohan,Herdiman,2009)

3. Etiologi
Penyakit ini disebabkan oleh 3 spesies cacing filarial : Wuchereria Bancrofti, Brugia
Malayi, Brugia Timori. cacing ini menyerupai benang dan hidup dalam tubuh manusia
terutama dalam kelenjar getah bening dan darah. infeksi cacing ini menyerang jaringan
viscera, parasit ini termasuk kedalam superfamili Filaroidea, family onchorcercidae.
Cacing ini dapat hidup dalam kelenjar getah bening manusia selama 4 - 6 tahun dan dalam
tubuh manusia cacing dewasa betina menghasilkan jutaan anak cacing (microfilaria) yang
beredar dalam darah terutama malam hari.
Penyebarannya diseluruh Indonesia baik di pedesaan maupun diperkotaan. Nyamuk
merupakan vektor filariasis Di Indonesia ada 23 spesies nyamuk yang diketahui bertindak
sebagai vektor dari genus: mansonia, culex, anopheles, aedes dan armigeres.•
- W. bancrofti perkotaan vektornya culex quinquefasciatus
- W. bancrofti pedesaan: anopheles, aedes dan armigeres
- B. malayi : mansonia spp, an.barbirostris.
- B. timori : an. barbirostris.
Mikrofilaria mempunyai periodisitas tertentu tergantung dari spesies dan tipenya.Di
Indonesia semuanya nokturna kecuali type non periodic Secara umum daur hidup ketiga
spesies sama Tersebar luas di seluruh Indonesia sesuai dengan keadaan lingkungan
habitatnya. ( Got, sawah, rawa, hutan )

ciri-ciri cacing dewasa atau makrofilaria :


- Berbentuk silindris, halus seperti benang, putih dan hidup di dalam sisitem limfe.
- Ukuran 55 – 100 mm x 0,16 mm
- Cacing jantan lebih kecil: 55 mm x 0,09 mm
- Berkembang secara ovovivipar
Mikrofilaria :
- Merupakan larva dari makrofilaria sekali keluar jumlahnya puluhan ribu
- Mempunyai sarung. 200 – 600 X 8 um
Faktor yang mempengaruhi :
- Lingkungan fisik :Iklim, Geografis, Air dan lainnnya,
- Lingkungan biologik: lingkungan Hayati yang mempengaruhi penularan; hutan,
reservoir, vector
- lingkungan social – ekonomi budaya : Pengetahuan, sikap dan perilaku, adat
Istiadat, Kebiasaan dsb,
Ekonomi: Cara Bertani, Mencari Rotan, Getah Dsb
(Witagama,dedi.2009)

a. Daur hidup filariasis


Penularan dapat terjadi apabila ada 5 unsur yaitu sumber penular (manusia dan hewan),
Parasit , Vektor, Manusia yang rentan, Lingkungan (fisik, biologik dan sosial
ekonomibudaya)
Didalam tubuh nyamuk mikrofilaria yang diisap nyamuk akan berkembang dalam otot
nyamuk.Setelah 3 hari menjadi larva L1, 6 hari menjadi larva L2, 8-10 hari untuk brugia
atau 10 – 14 hari untuk wuchereria akan menjadi larva L3. Larva L3 sangat aktif dan
merupakan larva infektif.ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk (tetapi tidak
seperti malaria). Manusia merupakan hospes definitive Hampir semua dapat tertular
terutama pendatang dari daerah non-endemik Beberapa hewan dapat bertindak sebagai
hospes reservoir.
Larva infektif ( larva stadium 3 ) ditularkan ke tubuh manusia melalui gigitan nyamuk,
beberapa jam setelah masuk kedalam darah, larva berubah menjadi stadium 4 yang
kemudian bergerak dan menuju pembuluh dan kelenjar limfe. Sekitar 9 bulan / 1 tahun
kemudian larva ini berubah menjadi cacing dewasa jantan dan betina, cacing dewasa ini
terutama tinggal di saluran limfe aferens, terutama di saluran limfe ekstremitas bawah
( inguinal dan obturator ), ekstremitas atas ( saluran limfe aksila ), dan untuk W.bancrofti
ditambah dengan saluran limfe di daerah genital laki-laki ( epididimidis, testis, korda
spermatikus ).
Melalui kopulasi, cacing betina mengeluarkan larva stadium 1 (bentuk
embrionik/mikrofilaria ) dalam jumlah banyak, dapat lebih dari 10.000 per hari.
Mikrofilaria kemudian meninggalkan cacing induknya, menembus dinding pembuluh
limfe menuju ke pembuluh darah yang berdekatan atau terbawa oleh saluran limfe masuk
ke dalam sirkulasi darah mungkin melalui duktus thoracicus, mikrofilaremia ini terutama
sering ditemukan pada malam hari antara tengah malam sampai jam 6 pagi. Pada saat
siang hari hanya sedikit atau bahkan tidak ditemukan mikrofilaremia, pada saat tersebut
mikrofilaria berada di jaringan pembuluh darah paru. Penyebab periodisitas nokturnal ini
belum diketahui, namun diduga sebagai bentuk adaptasi ekologi lokal, saat timbul
mikrofilaremia pada malam hari, pada saat itu pula kebanyakan vektor menggigit manusia.
Diduga pula pH darah yang lebih rendah saat malam hari berperan dalam terjadinya
periodisitas nokturnal. Darah yang mengandung mikrofilaria dihisap nyamuk, dan dalam
tubuh nyamuk larva mengalami pertumbuhan menjadi larva stadium 2 dan kemudian larva
stadium 3 dalam waktu 10 – 12 hari. Cacing dewasa dapat hidup sampai 20 tahun dalam
tubuh manusia, rata-rata sekitar 5 tahun.
Penyebab utama filariasis limfatik adalah Wuchereria bancrofti, Brugia malayi dan Brugia
timori sedangkan filariasis subkutan disebabkan oleh Onchorcercia spp. Filariasis limfatik
yang disebabkan oleh W.bancrofti disebut juga sebagai Bancroftian filariasis dan yang
disebabkan oleh Brugia malayi disebut sebagai Malayan filariasis. Filariasis limfatik
ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles spp., Culex spp., Aedes spp. dan Mansonia
spp.
Filariasis limfatik merupakan penyebab utama dari kecacatan didaerah endemic sehingga
merupakan masalah kesehatan masyarakat utama
dengan penyebab utama W.bancrofti. Pada beberapa tahun belakangan terjadi peningkatan
kasus limfatik filariasis di daerah perkotaan ( urban lymphatic filariasis) yang disebabkan
oleh peningkatan populasi penderita di per-kotaan akibat urbanisasi dan tersedianya vektor
di daerah tersebut. (Witagama,dedi.2009)

Perbedaan antara W.bancrofti dan B. malayi dapat dilihat pada tabel di bawah. Perbedaan
B. timori dengan B. malayi adalah warna selubung dari B. timori adalah biru, sedangkan
B. malayi berwarna pink, selain itu terdapat pada cephalic space dimana B. timori 3:1,
sedangkan B. malayi 2:1.

4. Patofisiologi
Parasit memasuki sirkulasi saat nyamuk menghisap darah lalu parasit akan menuju
pembuluh limfa dan nodus limfa. Di pembuluh limfa terjadi perubahan dari larva stadium
3 menjadi parasit dewasa. Cacing dewasa akan menghasilkan produk – produk yang akan
menyebabkan dilaasi dari pembuluh limfa sehingga terjadi disfungsi katup yang berakibat
aliran limfa retrograde. Akibat dari aliran retrograde tersebut maka akan terbentuk
limfedema. (Witagama,dedi.2009)
Perubahan larva stadium 3 menjadi parasit dewasa menyebabkan antigen parasit
mengaktifkan sel T terutama sel Th2 sehingga melepaskan sitokin seperti IL 1, IL 6, TNF
α. Sitokin - sitokin ini akan menstimulasi sum- sum tulang sehingga terjadi eosinofilia
yang berakibat meningkatnya mediator proinflamatori dan sitokin juga akan merangsang
ekspansi sel B klonal dan meningkatkan produksi IgE. IgE yang terbentuk akan berikatan
dengan parasit sehingga melepaskan mediator inflamasi sehingga timbul demam. Adanya
eosinofilia dan meningkatnya mediator inflamasi maka akan menyebabkan reaksi
granulomatosa untuk membunuh parasit dan terjadi kematian parasit. Parasit yang mati
akan mengaktifkan reaksi inflam dan granulomatosa. Proses penyembuhan akan
meninggalkan pembuluh limfe yang dilatasi, menebalnya dinding pembuluh limfe,
fibrosis, dan kerusakan struktur. Hal ini menyebabkan terjadi ekstravasasi cairan limfa ke
interstisial yang akan menyebabkan perjalanan yang kronis. (harun,riyanto.2010)

5. Manifestasi Klinis
Manifestasi gejala klinis filariasis disebabkan oleh cacing dewasa pada sistem limfatik
dengan konsekuensi limfangitis dan limfadenitis. Selain itu, juga oleh reaksi
hipersensitivitas dengan gejala klinis yang disebut occult filariasis.
Dalam proses perjalanan penyakit, filariasis bermula dengan limfangitis dan limfadenitis
akut berulang dan berakhir dengan terjadinya obstruksi menahun dari sistem limfatik.
Perjalanan penyakit berbatas kurang jelas dari satu stadium ke stadium berikutnya, tetapi
bila diurutkan dari masa inkubasi dapat dibagi menjadi:
1. Masa prepaten
Merupakan masa antara masuknya larva infektif sampai terjadinya mikrofilaremia yang
memerlukan waktu kira-kira 3¬7 bulan. Hanya sebagian tdari penduduk di daerah endemik
yang menjadi mikrofilaremik, dan dari kelompok mikrofilaremik inipun tidak semua
kemudian menunjukkan gejala klinis. Terlihat bahwa kelompok ini termasuk kelompok
yang asimtomatik baik mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
2. Masa inkubasi
Merupakan masa antara masuknya larva infektif hingga munculnya gejala klinis yang
biasanya berkisar antara 8-16 bulan.
3. Gejala klinik akut
Gejala klinik akut menunjukkan limfadenitis dan limfangitis yang disertai panas dan
malaise. Kelenjar yang terkena biasanya unilateral. Penderita dengan gejala klinis akut
dapat mikrofilaremik ataupun amikrofilaremik.
4. Gejala menahun
Gejala menahun terjadi 10-15 tahun setelah serangan akut pertama. Mikrofilaria jarang
ditemukan pada stadium ini, sedangkan limfadenitis masih dapat terjadi. Gejala kronis ini
menyebabkan terjadinya cacat yang mengganggu aktivitas penderita serta membebani
keluarganya. (Witagama,dedi.2009)
Filariasis bancrofti
Pada filariasis yang disebabkan Wuchereria bancrofti pembuluh limfe alat kelamin laki-
laki sering terkena disusul funikulitis, epididimitis dan orchitis. Limfadenitis inguinal atau
aksila, sering bersama dengan limfangitis retrograd yang umumnya sembuh sendiri dalam
3-15 hari. Serangan biasanya terjadi beberapa kali dalam setahun.

Filariasis brugia
Pada filariasis yang disebabkan Brugia malayi dan Brugia timori limfadenitis paling sering
mengenai kelenjar inguinal, sering terjadi setelah bekerja keras. Kadang-kadang disertai
limfangitis retrograd. Pembuluh limfe menjadi keras dan nyeri, dan sering terjadi
limfedema pada pergelangan kaki dan kaki. Penderita tidak mampu bekerja selama
beberapa hari. Serangan dapat terjadi 12 kali dalam satu tahun sampai beberapa kali
perbulan. Kelenjar limfe yang terkena dapat menjadi abses, memecah, membentuk ulkus
dan meninggalkan parut yang khas, setelah 3 minggu hingga 3 bulan.
Filariasis bancrofti
Keadaan yang sering dijumpai adalah hidrokel. Di dalam cairan hidrokel dapat ditemukan
mikrofilaria. Limfedema dan elefantiasis terjadi di seluruh tungkai atas, tungkai bawah,
skrotum, vulva atau buah dada, dengan ukuran pembesaran di tungkai dapat 3 kali dari
ukuran asalnya. Chyluria dapat terjadi tanpa keluhan, tetapi pada beberapa penderita
menyebabkan penurunan berat badan dan kelelahan. Elefantiasis terjadi di tungkai bawah
di bawah lutut dan lengan bawah. Ukuran pembesaran ektremitas umumnya tidak melebihi
2 kali ukuran asalnya. (Witagama,dedi.2009)

6. Komplikasi
a. cacat menetap pada bagian tubuh yang terkena
b. Elephantiasis tungkai
c. Limfedema : Infeksi Wuchereria mengenai kaki dan lengan, skrotum, penis,vulva vagina
dan payudara,
d. Hidrokel (40-50% kasus), adenolimfangitis pda saluran limfe testis berulang:
pecahnya tunika vaginalisHidrokel adalah penumpukan cairan yang berlebihan di
antaralapisan parietalis dan viseralis tunika vaginalis. Dalam keadaan normal, cairan yang
berada di dalam rongga itu memang adadan berada dalam keseimbangan antara produksi
dan reabsorbsi oleh sistem limfatik di sekitarnya.
e. Kiluria : kencing seperti susu
karena bocornya atau pecahnya saluran limfe oleh cacing dewasa yang menyebabkan
masuknya cairan limfe ke dalam saluran kemih. (T.Pohan,Herdiman.2009)

7. Pemeriksaan Diagnostik
a. Diagnosis Klinik
Diagnosis klinik ditegakkan melalui anamnesis dan pemeriksaan klinik. Diagnosis klinik
penting dalam menentukan angka kesakitan akut dan menahun (Acute and Chronic
Disease Rate).
Pada keadaan amikrofilaremik, gejala klinis yang mendukung dalam diagnosis filariasis
adalah gejala dan tanda limfadenitis retrograd, limfadenitis berulang dan gejala menahun.
b. Diagnosis Parasitologik
Diagnosis parasitologik ditegakkan dengan ditemukannya mikrofilaria pada pemeriksaan
darah kapiler jari pada malam hari. Pemeriksaan dapat dilakukan siang hari, 30 menit
setelah diberi DEC 100 mg. Dari mikrofilaria secara morfologis dapat ditentukan species
cacing filaria.
c. Radiodiagnosis
Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) pada skrotum dan kelenjar limfe inguinal
penderita akan memberikan gambaran cacing yang bergerak-gerak (filarial dance sign).
Pemeriksaan limfosintigrafi dengan menggunakan dekstran atau albumin yang dilabel
dengan radioaktif akan menunjukkan adanya abnormalitas sistem limfatik, sekalipun pada
penderita yang mikrofilaremia asimtomatik.
d. Diagnosis Immunologi
Pada keadaan amikrofilaremia seperti pada keadaan prepaten, inkubasi, amikrofilaremia
dengan gejala menahun, occult filariasis, maka deteksi antibodi dan/atau antigen dengan
cara immunodiagnosis diharapkan dapat menunjang diagnosis.
Adanya antibodi tidak menunjukkan korelasi positif dengan mikrofilaremia, tidak
membedakan infeksi dini dan infeksi lama. Deteksi antigen merupakan deteksi metabolit,
ekskresi dan sekresi parasit tersebut, sehingga lebih mendekati diagnosis parasitologik.
Gib 13, antibodi monoklonal terhadap O. gibsoni menunjukkan korelasi yang cukup baik
dengan mikrofilaremia W. bancrofti di Papua New Guinea. (Marty,Aileen,M.2009)

8. Penatalaksanaan
Dietilkarbamasin sitrat (DEC) merupakan obat filariasis yang ampuh, baik untuk filariasis
bancrofti maupun brugia, bersifat makrofilarisidal dan mikrofilarisidal. Obat ini ampuh,
aman dan murah, tidak ada resistensi obat, tetapi memberikan reaksi samping sistemik dan
lokal yang bersifat sementara. Reaksi sistemik dengan atau tanpa demam, berupa sakit
kepala, sakit pada berbagai bagian tubuh, persendian, pusing, anoreksia, kelemahan,
hematuria transien, alergi, muntah dan serangan asma. Reaksi lokal dengan atau tanpa
demam, berupa limfadenitis, abses, ulserasi, limfedema transien, hidrokel, funikulitis dan
epididimitis. Reaksi samping sistemik terjadi beberapa jam setelah dosis pertama, hilang
spontan setelah 2-5 hari dan lebih sering terjadi pada penderita mikrofilaremik. Reaksi
samping lokal terjadi beberapa hari setelah pemberian dosis pertama, hilang spontan
setelah beberapa hari sampai beberapa minggu dan sering ditemukan pada penderita
dengan gejala klinis. Reaksi sampingan ini dapat diatasi dengan obat simtomatik.
(Harun,riyanto.2010)

Reaksi samping ditemukan lebih berat pada pengobatan filariasis brugia, sehingga
dianjurkan untuk menurunkan dosis harian sampai dicapai dosis total standar, atau
diberikan tiap minggu atau tiap bulan. Karena reaksi samping DEC sering menyebabkan
penderita menghentikan pengobatan, maka diharapkan dapat dikembangkan penggunaan
obat lain (seperti Ivermectin) yang tidak/kurang memberi efek samping sehingga lebih
mudah diterima oleh penderita.
DEC tidak dapat dipakai untuk khemoprofilaksis.
Pengobatan diberikan peroral sesudah makan malam, diserap cepat, mencapai konsentrasi
puncak dalam darah dalam 3 jam, dan diekskresi melalui air kemih. DEC tidak diberikan
pada anak berumur kurang dari 2 tahun, ibu hamil/menyusui, dan penderita sakit berat atau
dalam keadaan lemah.
Pada filariasis bancrofti, Dietilkarbamasin diberikan selama 12 hari sebanyak 6 mg/kg
berat badan, sedangkan untuk filariasis brugia diberikan 5 mg/kg berat badan selama 10
hari. Pada occult filariasis dipakai dosis 5 mg/kg berat badan selama 2¬3 minggu.
Pengobatan sangat baik hasilnya pada penderita dengan mikrofilaremia, gejala akut,
limfedema, chyluria dan elephantiasis dini. Sering diperlukan pengobatan lebih dari 1 kali
untuk mendapatkan penyembuhan sempurna. Elephantiasis dan hidrokel memerlukan
penanganan ahli bedah.(harun,riyanto.2010)

Pengobatan nonfarmako pada filariasis adalah istirahat di tempat tidur, pengikatan di


daerah pembendungan untuk mengurangi edema, peninggian tungkai, perawatan kaki,
pencucian dengan sabun dan air, ekstremitas digerakkan secara teratur untuk melancarkan
aliran, menjaga kebersihan kuku, memakai alas kaki, mengobati luka kecil dengan krim
antiseptik atau antibiotik, dekompresi bedah, dan terapi nutrisi rendah lemak, tinggi
protein dan asupan cairan tinggi

Dalam pelaksanaan pemberantasan dengan pengobatan menggunakan DEC ada beberapa


cara yaitu dosis standard, dosis bertahap dan dosis rendah. Dianjurkan Puskesmas
menggunakan dosis rendah yang mampu menurunkan mf rate sampai < 1%. Pelaksanaan
melalui peran serta masyarakat dengan prinsip dasa wisma. Penduduk dengan usia kurang
dari 2 tahun, hamil, menyusui dan sakit berat ditunda pengobatannya. DEC diberikan
setelah makan dan dalam keadaan istirahat.
1. Dosis standar Dosis tunggal 5 mg/kg berat badan; untuk filariasis bancrofti selama 15
hari, dan untuk filariasis brugia selama 10 hari.
2. Dosis bertahap Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, dan 1/2 tablet
untuk usia kurang dari 10 tahun; disusul 5 mg/kg berat badan pada hari 5¬-12 untuk
filariasis bancrofti dan pada hari 5¬-17 untuk filariasis brugia.
3. Dosis rendah Dosis tunggal 1 tablet untuk usia lebih dari 10 tahun, 1/2 tablet untuk usia
< 10 tahun, seminggu sekali selama 40 minggu. (Marty,Aileen,M.2009)

10. Pencegahan `
Pemberantasan filariasis ditujukan pada pemutusan rantai penularan, dengan cara
pengobatan untuk menurunkan morbiditas dan mengurangi transmisi oleh vektor.
Pemberantasan filariasis di Indonesia dilaksanakan oleh Puskesmas dengan tujuan:
1. Menurunkan Acute Disease Rate (ADR) menjadi 0%
2. Menurunkan microfilarial (mf) rate menjadi < 5% 3. Mempertahankan Chronic Disease
Rate (CDR) Sasaran pemberantasan adalah daerah endemis lama yang potensial masih ada
penularan dan daerah endemis baru.
Dengan prioritas sasaran ditujukan pada:
1. Daerah endemis lama dengan mf rate > 5%
2. Daerah endemis lama dan baru yang merupakan daerah pembangunan,
transmigrasi, pariwisata dan perbatasan
Kegiatan pemberantasan meliputi pengobatan, pemberantasan nyamuk dan
penyuluhan. Pengobatan merupakan kegiatan utama dalam pemberantasan
filariasis, yang akan menurunkan ADR dan mf rate.
Di suatu daerah yang diperkirakan endemik filariasis, perlu diselenggarakan suatu
surveilans epidemiologis. Pada daerah tersebut 10% dari penduduknya perlu
diperiksa untuk menentukan Acute Disease Rate dan mf rate. Pengobatan massal
dilakukan bila ADR > 0%, dan mf rate > 5%; sedangkan pengobatan selektif
dilakukan bila ADR = 0%, dan mf rate < 5%. (Marty,Aileen,M.2009)

3. Kegiatan pemberantasan nyamuk terdiri atas:


1. Pemberantasan nyamuk dewasa
a. Anopheles : residual indoor spraying
b. Aedes : aerial spraying
2. Pemberantasan jentik nyamuk
a. Anopheles : Abate 1%
b. Culex : minyak tanah
c. Mansonia : melenyapkan tanaman air tempat perindukan, mengeringkan rawa
dan saluran air
3. Mencegah gigitan nyamuk
a. Menggunakan kawat nyamuk/kelambu
b. Menggunakan repellent
Penyuluhan tentang penyakit filariasis dan penanggulangannya perlu dilaksanakan
sehingga terbentuk sikap dan perilaku yang baik untuk menunjang penanggulangan
filariasis.
Sasaran penyuluhan adalah penderita filariasis beserta keluarga dan seluruh
penduduk daerah endemis, dengan harapan bahwa penderita dengan gejala klinik
filariasis segera memeriksakan diri ke Puskesmas, bersedia diperiksa darah kapiler
jari dan minum obat DEC secara lengkap dan teratur serta menghindarkan diri dari
gigitan nyamuk.. Evaluasi hasil pemberantasan dilakukan setelah 5 tahun, dengan
melakukan pemeriksaan vektor dan pemeriksaan darah tepi untuk deteksi
mikrofilaria. (Marty,Aileen,M.2009)

C. ASUHAN KEPERAWATAN FILARIASIS


1. Pengkajian
Pengkajian adalah upaya mengumpulkan data secara lengkap dan sistematis untuk dikaji
dan dianalisis sehingga masalah kesehatan dan keperawatan yang di hadapi pasien baik
fisik, mental, sosial maupun spiritual dapat ditentukan.
a. Riwayat kesehatan
Jenis infeksi sering memberikan petunjuk pertama karena sifat kelainan imun. Cacing
filariasis menginfeksi manusia melalui gigitan nyamuk infektif yang mengandung larva
stadium III. Gejala yang timbul berupa demam berulang-ulang 3-5 hari, demam ini dapat
hilang pada saat istirahat dan muncul lagi setelah bekerja berat.
b. Aktifitas / Istirahat
Gejala : Mudah lelah, intoleransi aktivitas, perubahan pola tidur.
Tanda : Kelemahan otot, menurunnya massa otot, respon fisiologi aktivitas ( Perubahan
TD, frekuensi jantung)
c. Sirkulasi
Tanda : Perubahan TD, menurunnya volume nadi perifer, perpanjangan pengisian kapiler.
d. Integritas dan Ego
Gejala : Stress berhubungan dengan perubahan fisik, mengkuatirkan penampilan, putus
asa, dan sebagainya.
Tanda : Mengingkari, cemas, depresi, takut, menarik diri, marah.
e. Integumen
Tanda : Kering, gatal, lesi, bernanah, bengkak, turgor jelek.
f. Makanan / Cairan
Gejala : Anoreksia, permeabilitas cairan
Tanda : Turgor kulit buruk, edema.
g. Hygiene
Gejala : Tidak dapat menyelesaikan AKS
Tanda : Penampilan tidak rapi, kurang perawatan diri.
h. Neurosensoris
Gejala : Pusing, perubahan status mental, kerusakan status indera peraba, kelemahan otot.
Tanda : Ansietas, refleks tidak normal.

i. Nyeri / Kenyamanan
Gejala : Nyeri umum / local, rasa terbakar, sakit kepala.
Tanda : Bengkak, penurunan rentang gerak.
j. Keamanan
Gejala : Riwayat jatuh, panas dan perih, luka, penyakit defisiensi imun, demam berulang,
berkeringat malam.
Tanda : Perubahan integritas kulit, pelebaran kelenjar limfe.
k. Seksualitas
Gejala : Menurunnya libido
Tanda : Pembengkakan daerah skrotalis
l. Interaksi Sosial
Gejala : Masalah yang ditimbulkan oleh diagnosis, isolasi, kesepian.
Tanda : Perubahan interaksi, harga diri rendah, menarik diri.
m. Pemeriksaan diagnostik
Menggunakan sediaan darah malam, diagnosis praktis juga dapat menggunakan ELISA
dan rapid test dengan teknik imunokromatografik assay. Jika pasien sudah terdeteksi kuat
telah mengalami filariasis limfatik, penggunaan USG Doppler diperlukan untuk
mendeteksi pengerakan cacing dewasa di tali sperma pria atau kelenjer mammae wanita.

2. Diagnosa keperawatan
 suatu pernyataan yang menjelaskan respon manusia (status kesehatan atau resiko
perubahan pola) dari individu atau kelompok dimana perawat secara akuntabilitas dapat
mengidentifikasi dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan
menurunkan, membatasi, mencegah dan merubah (Carpenito,2000).
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe
3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik
4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit

3.Intervensi
semua tindakan yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien beralih dari status
kesehatan saat ini kestatus kesehatan yang di uraikan dalam hasil yang di harapkan
(Gordon,1994).
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening
Suhu tubuh pasien dalam batas normal.

1. Berikan kompres pada daerah frontalis dan axial


2. Monitor vital sign, terutama suhu tubuh
3. Pantau suhu lingkungan dan modifikasi lingkungan sesuai kebutuhan, misalnya
sediakan selimut yang tipis
4. Anjurkan kien untuk banyak minum air putih
5. Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan menyerap keringat jika panas tinggi
6. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (anti piretik).
1. Mempengaruhi pusat pengaturan suhu di hipotalamus, mengurangi panas tubuh yang
mengakibatkan darah vasokonstriksi sehingga pengeluaran panas secara konduksi
2. Untuk mengetahui kemungkinan perubahan tanda-tanda vital
3. Dapat membantu dalam mempertahankan / menstabilkan suhu tubuh pasien
4. Diharapkan keseimbangan cairan tubuh dapat terpenuhi
5. Dengan pakaian tipis dan menyerap keringat maka akan mengurangi penguapan
6. Diharapkan dapat menurunkan panas dan mengurangi infeksi

2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe Nyeri hilang


1. Berikan tindakan kenyamanan (pijatan / atur posisi), ajarkan teknik relaksasi.
2. Observasi nyeri (kualitas, intensitas, durasi dan frekuensi nyeri).
3. Anjurkan pasien untuk melaporkan dengan segera apabila ada nyeri.
4. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi pengobatan (obat anelgetik).

1. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dapat meningkatkan koping.


2. Menentukan intervensi selanjutnya dalam mengatasi nyeri
3. Nyeri berat dapat menyebabkan syok dengan merangsang sistem syaraf simpatis,
mengakibatkan kerusakan lanjutan
4. Diberikan untuk menghilangkan nyeri.

3. Harga Diri Rendah berhubungan dengan perubahan fisik


- Menyatakan gambaran diri lebih nyata
- Menunjukan beberapa penerimaan diri daripada pandangan idealisme
- Mengakui diri sebagai individu yang mempunyai tanggung jawab sendiri

1. Akui kenormalan perasaan


2. Dengarkan keluhan pasien dan tanggapan – tanggapannya mengenai keadaan yang
dialami
3. Perhatikan perilaku menarik diri, menganggap diri negatif, penggunaan penolakan atau
tudak terlalu menpermasalahkan perubahan actual
4. Anjurkan kepada orang terdekat untuk memperlakukan pasien secara normal (bercerita
tentang keluarga)
5. Terima keadaan pasien, perlihatkan perhatian kepada pasien sebagai individu
6. Berikan informasi yang akurat. Diskusikan pengobatan dan prognosa dengan jujur jika
pasien sudah berada pada fase menerima
7. Kolaborasi :
Rujuk untuk berkonsultasi atau psikoterapi sesuai dengan indikasi
Pengenalan perasaan tersebut diharapkan membantu pasien untuk menerima dan
mengatasinya secara efektif.
1. Memberi petunjuk bagi pasien dalam memandang dirinya, adanya perubahan peran dan
kebutuhan, dan berguna untuk memberikan informasi pada saat tahap penerimaan
2. Mengidentifikasi tahap kehilangan / kebutuhan intervensi.
3. Melihat pasien dalam kluarga, mengurangi perasaan tidak berguna, tidak berdaya, dan
persaan terisolasi dari lingkungan dan dapat pula memberikan kesempatan pada orang
terdekat untuk meningkatkan kesejahteraan.
4. Membina suasana teraupetik pada pasien untuk memulai penerimaan diri
5. Fokus informasi harus diberikan pada kebutuhan – kebutuhan sekarang dan segera lebih
dulu, dan dimasukkan dalam tujuan rehabilitasi jangka panjang
6. Mungkin diperlukan sebagai tambahan untuk menyesuaikan pada perubahan gambaran
diri.

4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan pembengkakan pada anggota tubuh


Menunjukkan perilaku yang mampu kembali melakukan aktivita
1. Lakukan Retang Pergerakan Sendi (RPS)
2. Tingkatkan tirah baring / duduk
3. Berikan lingkungan yang tenang
4. Tingkatkan aktivitas sesuai toleransi
5. Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas

1. Meningkatkan kekuatan otot dan mencegah kekakuan sendi


2. Meningkatkan istirahat dan ketenangan, menyediakan enegi untuk penyembuhan
3. tirah baring lama dapat meningkatkan kemampuan
4. Menetapkan kemampuan / kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan intervensi
5. kelelahan dan membantu keseimbangan.
5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit
Mempertahankan keutuhan kulit, lesi pada kulit dapat hilang.
1. Ubah posisi di tempat tidur dan kursi sesering mungkin (tiap 2 jam sekali).
2. Gunakan pelindung kaki, bantalan busa/air pada waktu berada di tempat tidur dan pada
waktu duduk di kursi.
3. Periksa permukaan kulit kaki yang bengkak secara rutin.
4. Anjurkan pasien untuk melakukan rentang gerak.
5. Kolaborasi : Rujuk pada ahli kulit. Meningkatkan sirkulasi, dan mencegah terjadinya
dekubitus.
1. Mengurangi resiko abrasi kulit dan penurunan tekanan yang dapat menyebabkan
kerusakan aliran darah seluler.
2. Tingkatkan sirkulasi udara pada permukaan kulit untuk mengurangi panas/ kelembaban.
3. Kerusakan kulit dapat terjadi dengan cepat pada daerah – daerah yang beresiko
terinfeksi dan nekrotik.
4. Meningkatkan sirkulasi, dan meningkatkan partisipasi pasien.
5. Mungkin membutuhkan perawatan profesional untuk masalah kulit yang dialami.
(sumber : echasite,2010)

4.Implementasi
Merupakan inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
pelaksanaan dimulai dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada
nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Oleh karena itu
rencana tindakan yang spesifik dilaksanakan untuk memodifikasi faktor-faktor yang
mempengaruhi masalah kesehatan klien.

1.Manajemen Hipertemi:
Observasi:
-Memonitor suhu tubuh
-Memonitor haluan urine
Terapeutik:
-Memerikan cairan oral
-Menyediakan lingkungan yang dingin
-Melonggarkan atau melepaskan pakaian
Edukasi:
-Mengajurkan tirah baring
Kolaborasi
-Pemberian cairan dan elektrolit intravena,jika perlu
2.Manajemen nyeri
Observasi:
-Mengobservasi skala nyeri
Terapeutik:
-Memfasilitasi istirahat tidur
Edukasi:
-Menjelasakan strategi meredakan nyeri
3.Pemberian analgesik
4.Promosi citra tubuh
5.Dukungan Ambulasi

5.Evaluasi
Perencanaan evaluasi memuat kriteria keberhasilan proses dan keberhasilan tindakan
keperawatan.
S:Paseien mengatakan maih demam,kejang,nteri,masih sulit menggerakkan kakinya dan
merasa belum percaya diri
O:Keadaan umum pasien sedang
Kaki bengkak
Observasi TTV:
Td:140\80 mmHg
N:82X\i
P:22x\i
SB:37,9 derajat celcius
A:Masalah belum teratasi
P:Intervensi Dilanjutkan
BAB III
TINJAUAN KASUS

A. KASUS PEMICU FILARIASIS


Ibu S. Usia 39 tahun, agama islam, alamat tinggal lorong Mawar no 30 Jambi, pekerjaan
Ibu Rumah Tangga. Masuk RS pada tanggal 13/03/2011, diruang perawatan penyakit
dalam kelas III/A. dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam hilang
bila istirahat dan demam akan muncul kembali ketika bekerja berat.
Klien juga mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki kearah ujung
kaki dan klien mengatakan nyeri semakin terasa jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
Klien mengatakan kakinya yang sakit tampak lebih besar dari yang satunya.
Saat pengkajian didapat klien masih mengeluh demam sebelum masuk RS, terasa panas dan
sakit yang menjalar dari pangkal kaki keujung kaki, skala nyeri 7. Nyeri terasa berulang-
ulang, nyeri tekan (+), non piting oedema (+), klien tamapak meringis ketika berjalan. TTV
TD 130/60 mmHg, RR 24 x/i, N 110 x/i, S 38,5°C, Wajah klien tampak memerah. Dari
hasil pemeriksaan darah diperoleh data Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9500/mm3; Ht 36,80%;
trombosit 423.000/mm3. Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang 40%,
netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%. kesadaran komposmentis dengan GCS 15
(E 4, V 5, M 6). Dari pemeriksaan darah jari ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh
teratur, ujung ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

B. ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
Unit : perawatan penyakit dalam Tanggal masuk : 13 maret 2011
Ruang /kamar : III / A Tanggal pengkajian : 14 maret 2011
1. Identitasklien
a. Nama : Ibu S
b. Umur : 39 tahun
c. Jenis kelamin : perempuan
d. Agama : islam
e. Suku/bangsa : indonesia
f. Alamat : Lrg. mawar
Penanggung Jawab
a. Nama : Tn. A
b. Alamat rumah : Lrg. mawar
c. Hubungan dengan klien : suami

2. Data medik
Diagnosa Medik
Saat masuk : Filariasis
Saat pengkajian : Filariasis

3. Alasan masuk rumah sakit


Klien masuk rumah sakit dengan keluhan demam berulang-ulang selama 4 hari, demam
hilang bila istirahat dan demam akan muncul lagi ketika bekerja berat.
4. Riwayat kesehatan saat ini : (PQRST)
Klien merasakan nyeri, panas, dan sakit yang menjalar dari pangkal kaki kearah ujung kaki
dengan skala nyeri 7. Nyeri terasa berulang-ulang
5. Riwayat kesehatan masa lalu :
1. penyakit yang pernah diderita : tidak ada
2. pernah dirawat : tidak
3. pernah dioperasi : tidak
4. alergi terhadaap obat : tidak ada
6. Riwayat kesehatan keluarga
1. Genogram
2. Penyakit yang pernah diderita : tidak ada
3. Kesehatan orang tua : baik
4. Saudara kandung : baik
5. Hubungan keluarga dengan klien : baik
6. faktor resiko penyakit tertentu dalam keluarga : tidak ada
kanker hipertensi diabetes melitus
penyakit jantung epilepsi TBC

C. Kebiasaan Sehari-Hari
1. Nutrisi-Cairan
a. Keadaan sejak sakit
a). Nafsu makan : baik
b). Frekuensi makan : 3x/sehari
c). Jumlah makan yang masuk : satu piring
d). Diet : tidak ada
e). Ketaatan terhadap diet tertentu : tidak ada
f). Mual/enek : tidak ada
g). Muntah : tidak ada
h). Nyeri ulu hati : tidak ada
i). Jumlah minum/24 jam : 600 ml/24 jam
j). Jenis minum : susu formula, air putih
k). Keluhan makan dan minum : kurang selera dengan makanan yang
Disediakan pihak rumah sakit

2. Eliminasi
a. Keadaan sejak sakit
1) Frekuensi BAB/24 jam : 1x/24 jam
2) Waktu BAB : pagi
3) Warna feses : kuning
4) Konsistensi : semi solid
5) Bentuk feses : lunak
6) Penggunaaan pencahar : tidak ada
7) Keluhan BAB : tidak ada
8) Frekuensi BAK/24 jam : 4-6x/24 jam
9) Warna urine : kuning
10) Volume urine : 200-300 ml
11) Bau urine : khas
12) Melena : tidak ada
13) Konstipasi : tidak ada
14) Kolostomi : tidak ada
15) Sering menahan BAK : tidak
16) Keluhan BAK : tidak ada

3. Aktivitas
a. Keadaan sejak sakit
1) Aktivitas perawatan diri
a) Makan : 0
b) Mandi : 2
c) Berpakaian : 0
d) Kerapian : 0
e) Buang air besar : 2
f) Buang air kecil : 2
g) Mobilisasi ditempat tidur : 2
h) Ambulasi : 3

4. Tidur istirahat
a. keadaan sejak sakit
1) Tidur siang : Ya
2) Bila ya berapa jam : 1-2 jaam

3) Tidur malam : 6 jam


4) Kebisaan sebelum tidur : minum susu
5) Keluhan tidur : sering terbangun
6) Ekspresi wajah mengantuk : tidak ada
7) Banyak menguap : tidak ada
8) Palpebrae inferior : tidak ada

D. Data Psikologis
1. Persepsi tentang penyakit : tidak mengetahui penyakit
2. Suasana hati : sedih
3. Daya konsentrasi : baik
4. Koping : rendah
5. Konsep diri : rendah
6. Stressor : hospitalisasi
E. Data sosial
1. tempat tinggal : Lrg. mawar
2. hubungan dengan keluarga : baik
3. hubungan dengan klien : baik
4. hubungan dengan perawat : baik.

F. Data spritual
1. Agama yang dianut : islam
2. Apakah agama sangat penting : ya
3. Kegiatan keagamaan selama dirawat : berdoa
4. Apakah berdoa untuk kesembuhan : ya

K. Pemeriksaan fisik
1. Keaadan sakit : klien tampak sakit .................
Alasan : klien masih dapat berinteraksi dengan baik,hanya terkadang
tampak meringis saat nyeri pada kakinya kembali dirasakan.
2. Tanda tanda vital :
a. Kesadran
1) kualitatif : kompos mentis letarghic
Somnolent suporous
Semi comatous coma
2) Kuantitatif : Glaslow coma scale
Respon motorik ( M ) : 4
Respon verbal ( V ) : 5
Respon eyes ( E ) : 4
Jumlah : 13
Kesimpulan : Composmentis

b. Nadi
Frekuensi : 110 x/menit,
Irama : Teratur
c. Suhu :38,5 oC
daerah : Axila

e. Pernapasan : Sesak sedang


irama : teratur tidak teratur
kusmaul cheyness stokes jenis
jenis dada perut

3. Kepala
a. Bentuk kepala : simetris asimetris
Cephalon hematome : tidak ada
ukuran : sedang
b. Warna rambut hitam coklat
pirang perak
c. Keadaan rambut : baik
d. Kulit kepala : kotor dan bau lesi
bersih ketombe
e. Bengkak/benjolan : tidak ada
f. Nyeri/pusing : tidak ada
g. Keluhan lain : tidak ada
4. Mata/Penglihatan
a. Ketajaman penglihatan : baik
b. Alis : tebal dan lebat
c. Bulu mata
1) Warna : hitam
2) Kondisi : baik
3) Posisi : simetris
4) Peradangan : tidak ada
d. Simetris : ya
e. Sclera
putih dan jernih kebiruan
kuning/ikterik
f. Pupil
1) Bentuk : bulat
2) kesamaan ukuran : isocor
3) warna : gelap
4) reaksi terhadap cahaya : miosis
5) refleks pupil : sama besar, bulat dan
bereaksi terhadap cahaya
g. Palpebra
Edema lagopthalmus
peradangan, baik/normal
ptosis
h. Konjungtiva : an anemis
i. Bola mata : baik
j. Gerakan bola mata : baik
k. Lapang pandang : baik
l. Kornea dan iris
1) Abrasi : tidak ada
2) Kejernihn : jernih
3) Refleks kornea : baik
m. Peradangan : tidak ada
n. TIO : tidak ada
o. Keluhan penglihatan : tidak ada
p. Alat bantu penglihatan : tidak ada

5. Hidung/penciuman
a. Struktur luar
1) Ukuran : kecil
2) Bentuk : pesek
3) Kesimetrisan : simestris
b. Struktur dalam
Warna : kemerahan
c. Fungsi penciuman : baik
Perdarahan : tidak ada

6. Telinga pendengaran
a. Struktur luar
Warna : merah muda
Lesi : tidak ada
Cerumen : dalam batas normal
Membran timpani : baik
b. Fungsi pendengaran : baik
c. Nyeri : tidak ada
d. Alat bantu : tidak ada
e. Keseimbangan : baik

7. Mulut/pengecapan
a. Bibir
1) Warna : merah muda
2) Kesimetrisan : simetris
3) Kelembapan : agak kering
b. mukosa mulut
1) Warna : merah muda
2) Kelembapan : lembab
3) Lesi : tidak ada
c. gigi
1) Kebersihan : bersih
2) Caries : tidak ada
3) Kelengkapan : tidak lengkap
d. Gigi palsu : tidak ada
e. Keadaan gusi : normal
f. Keadaan lidah : normal
g. Peradangan : tidak ada
h. Fungsi pengunyah : belum sempurna
i. Fungsi mengecap : normal
j. Fungsi bicara : normal
k. Bau mulut : normal
l. Reflek menelan : baik
m.

8. leher
a. kelenjar getah bening : nyeri tekan (+)
b. kelenjar thyroid : baik
c. kelenjar sub man dibularis : baik
d. JVP : distensi
e. Kaku kuduk : tidak ada
f. Sulit menelan : tidak

9. dada/pernafasan
a. bentuk : simetris
b. suara nafas : tidak ada bunyi tambahan
c. perkusi dada : sonor
d. ekspansi paru : baik
e. batuk : tidak ada
f. sputum : tidak ada
g. nyeri dada : tidak ada
h. pergerakan ronggga dada : retraksi
i. penggunaaan otot bantu nafas tambahan : tidak ada

10. kardiovaskuler
a. Ukuran jantung : normal
b. Heart rate : 110 x/i
c. Bunyi jantung I : normal (lup)
d. Bunyi jantung II : normal (dup)
e. Bunyi jantung tambahan : : tidak ada
f. Nyeri dada : tidak ada
g. Palpitasi : tidak ada
h. Edema : tidak ada
i. Cyanosis : tidak ada
j. Jari-jari tabuh : tidak ada

11. abdomen/pencernaan
a. keadaan kulit : baik
b. bising usus : 10X/menit
c. keadaan hepar : normal
d. keadaan limfa : normal
e. nyeri tekan : tidak ada
f. benjolan-benjolan : tidak ada
g. gembung : tidak ada
h. ascietas : tidak ada

13. Muskuloskeletal
a. Kekuatan otot : 2
b. Tonus otot : buruk
c. Kaku sendi : ada
d. Atropi : tidak ada
e. Trauma/lesi : tidak ada
f. Nyeri : panas dan sakit pada bagian pangkal sampai ujung kaki
g. Kecacatan/deformitas : tidak ada
h. Eksermitas atas : baik
i. Ekstermitas bawah : kaki klien tampak besar sebelah, nyeri tekan (+), non piting edema
(+), klien mengatakan panas dan sakit yang menjalar dari pangkal hingga ujung kaki. Klien
tampak meringis ketika berjalan, nyeri bertambah saat kaki klien bergerak.

14. Keadaan neurologi


a. Tingkat kesadaran : komposmetis
b. Koordinasi : baik
c. Memory/daya ingat : baik
d. Orientasi ( tempat, orang, waktu ) : baik
e. Tremor : tidak ada
f. Gangguan motorik/ lumpuh : tidak ada
g. Kejang : tidak ada

15. Sensasi terhadap ransangan


a. Rasa Nyeri : baik
b. Rasa suhu : baik
c. Rasa raba : baik

16. Integumen kulit


a. Warna
flushing ( kemerahan ) joundice
cyanosis pallor ( pucat )
biru kemerahan
b.Tekstur
halus / licin fleksibel
lunak keriput
a. Kelembapan : kurang
b. Suhu kulit :
hangat normal
dingin
c. kelainan warna : tidak ada
d. Pucat : tidak
e. Bau kulit : khas
f. Pigmentasi :
Hipo pigmentasi normal
hiper pigmentasi
j. keadaan kuku : panjang
kebersihan kuku : baik

L. hasil laboratorium
1. pemeriksaan darah : Hb 10,8 gr/dl, , Leukosit
12.000/mm3; Ht 36,80%; trombosit 423.000/mm3. Hitung jenis: eosinofil 20%,
basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.

Interpretasi laboratorium
Nilai Normal Kasus ket
Hb 12-16 g/dl 10,8 g/dl ↓
Ht 37-47 % 36,80 % ↓
Leukosit 5.000-10.000/mm3 9.500/ mm3 normal
Trombosit 150-450 x 103/ mm3 423.000/ mm3 normal

Interpretasi hasil kajian leukosit.

Diftel Nilai Normal Kasus


Eosinofil 1-3 20 ↑↑
Basofil 0-1 4 ↑
Neutrofil Batang 2-6 40 ↑↑
Neutrofil Segmen 50-70 20 ↓
Limfosit 20-40 15 ↓
Monosit 2-8 1 ↓

Dari pemeriksaan darah jari ditemukan Parasit → Mikrofilaria : inti tubuh teratur, ujung
ekor uncinng, tidak berinti, dan seluruh tubuh transparan  W. bancrofti.

ANALISA DATA
Nama : Ny. S
Umur : 39 tahun
NO DATA ETIOLOGI MASALAH
1 Ds :
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
- Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya
- Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
Do :
- Klien tampak meringis ketika berjalan.
- Skala nyeri 7
- nyeri tekan (+)
- non pitting oedema (+)
- N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg
- Suhu 38,5°c Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai Nyeri
2 Ds:
- Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari
- Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
Do :
- Suhu 38,5°c
- RR 24x/i
- N 110x/i
- TD 130/60 mmHg
- Wajah klien tampak memerah
- Kulit klien teraba hangat Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening Hipertermi
3Ds :
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki
- Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
-
Do :
- Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
- Klien tampak susah berjalan.
- Klien tampak meringis saat berjalan.
- N 110x/i
- RR 24x/i Adanya pembengkakan pada kelenjar limfe di daerah tungkai (inguinal)
Kerusakan mobilitas fisik
4 Ds :
- klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah
Do :
- Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.
- Dari pemeriksaan darah jari ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor
runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.
- kaki klien tampak besar sebelah Pemajanan penularan melalui vektor Resti penularan
penyakit

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai, yang di
tandai dengan,
Ds :
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
- Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya
- Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
Do :
- Klien tampak meringis ketika berjalan.
- Skala nyeri 7
- nyeri tekan (+)
- non pitting oedema (+)
- N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg
- Suhu 38,5°c
- Leukosit 9500/mm³

2. Hipertermi berhubungan dengan Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening di tandai
dengan :
Ds:
- Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari
- Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
Do :
- Suhu 38,5°c
- RR 24x/i
- N 110x/i
- TD 130/60 mmHg
- Wajah klien tampak memerah
- Kulit klien teraba hangat
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan Adanya pembengkakan pada kelenjar
limfe di daerah tungkai yang ditandai dengan:
Ds :
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki
- Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
Do :
- Kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
- Klien tampak susah berjalan.
- Klien tampak meringis saat berjalan.
- N 110x/i
- RR 24x/i
4. Resti penularan penyakit berhubungan dengan pemajanan penularan melalui vektor yang
ditandai dengan
Ds :
klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah
Do:
Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/mm3; Ht 36,80%; trombosit 423.000/mm3. Hitung jenis:
eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang 40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit
1%. Dari pemeriksaan darah jari ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung
ekor runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

Nama : Ny. S Tanggal : 14 maret 2011


Umur : 39 tahun

NO Diagnosa Keperawatan Tujuan Perencanaan


Intervensi Rasional
1. Nyeri berhubungan dengan Obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai, yang di
tandai dengan:
Ds :
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
- Klien mengatakan kaki nya yang sakit tampak lebih besar dari yang satu nya
- Klien mengatakan nyeri bertambah jika kaki yang sakit dibawa bergerak.
Do :
- Klien tampak meringis ketika berjalan.
- Skala nyeri 7
- nyeri tekan (+)
- non pitting oedema (+)
- N: 110 x/i, RR 24x/i, TD 130/60 mmHg
- Suhu 38,5°c
- Leukosit 9500 /mm³ Nyeri berkurang / menghilang

KH:
- Tanda tanda vitalnormal/stabil.
- Klien tampak tenang
Mandiri :

1. Kaji keluhan nyeri,perhatikan lokasi,intensitas,dan frekuensi.


2. Lakukan tindakan faliatif misalnya perubahan posisi,masase, rentang gerak pada sendi
yang sakit.
3. Berikan kompres hangat atau lembab pada daerah nyeri.
4. Ajar kan klien untuk memggunggkap kan perasaan /rasa sakit yang di rasakan

Kolaborasi :
1. Berikan analgesik sesuai indikasi.
1. Mengindikasikan kebutuhan untuk intervensi dan juga tanda tanda perkembangan
/resolusi komplikasi.
2. Meningkat kan relaksasi/menurunkan tegangan otot.
3. Dapat menghilangkan nyeri dan meningkatkan relaksasi serta menurun kan tegangan otot.
4. Dapat mengurangi ansietas dan rasa takut sehingga mengurangi persepsi akan intensitas
rasa sakit

5. Dapat mengurangi rasa nyeri.

2.Hipertermi berhubungan dengan Adanya Inflamasi pada kelenjar getah bening di tandai
dengan :
Ds:
- Klien mengatakan demam berulang selama 4 hari
- Demam hilang bila beristirahat dan muncul ketika kembali bekerja berat.
- Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke arah ujung kaki.
Do :
- Suhu 38,5°c
- RR 24x/i
- N 110x/i
- TD 130/60 mmHg
- Kaki klien tampak besar sebelah dan terdapat nyeri tekan
- Wajah klien tampak memerah
- skala nyeri 7
- Leukosit 9500/mm³
Perubahan suhu dalam batas normal
KH:
• Tidak mengalami komplikasi yangberhubungan.
• Tanda tanda vital normal.
• Leukosit normal

Mandiri :
1. Pantau suhu tubuh pasien perhatikan adanya mengiggil/diafores.
2. Pantu suhu lingkungan,batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi.
3. Berikan kompres mandi hangat hindari penggunaan alkohol. Pada daerah frontalis dan
aksila.
4. Berikan selimut pendingin.
5. Anjurkan klien memakai pakaian tipis dan mudah menyerap keringat.

Kolaborasi:
1. Berikan antipiretik, Misal nya aspirin asetaminofen

1. Suhu 38 samapi 41,1 menujukan adanya infeksius akut.


2. Suhu ruangan /jumlah selimut harus di ubah untuk mempertahankan suhu mendekati
normal.
3. Dapat membantu mengurangi demam,penggunaan air es/aklhokol mungkinmenyebabkan
kedinginan,peningkatan suhu secara actual.
4. Di gunakan untuk mengurangi demam umumnya lebih besar dari 39,5°csampai 40°c pada
waktu terjadi kerusakan /gannguan pada otak.
5. Dengan pakaian tipis dan menyerap keringat maka akan mengurangi penguapan
6. Di gunakn untuk memgurangi demam dengan aksi sentral nya kepada hipotalamus.

3.kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan obtruksi kalenjer getah bening pada daerah
tungkai, yang itandai dengan :
Ds:
• Klien mengatakan terasa panas dan sakit menjalar dari pangkal kaki ke ujung kaki

Do:
• kaki klien tampak lebih besar dari yang satunya.
• klien tampak susah berjalan.
• klien tampak meringis saat berjalan.
• N 110x/i.
• RR 24x/i
Mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang sakit
/ kompensasi.

KH :
• Kaki klien tidak lagi mengalami pembesaran
• Nadi normal
• RR normal
Mandiri :
1. Periksa kembali kemampuan dan keadaan secara kondisional pada kerusakan yang ter
jadi.
2. Atur posisi tertentu untuk menghindari kerusakan karna tekanan,ubah posisi pasien secara
teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu perubahan posisi tersebut.
3. Berikan atau bantu klien untuk melakukan latihan rentang gerak.
4. Tingkat kan aktivitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan klien .

Kolaborasi:

1. Memberikan obat sesuai dangan indikasi misalnya aspirin.

1. Mengidentifikasi kerusakan kemungkinan kerusakan secara fungsional dan mempegaruhi


pilihan intervensi yang akan dilakukan.
2. Perubahan posisi yang teratur menyebakan penyamaran terhadap berat badan dan
meningkatakan sirkulasi pada bagian tubuh.
3. Memperhatikanmobilisasi dan fungsi sendi /posisi normal ekstermitas dan menurunkan
ter jadinya vena yang statis.
4. Keterlibatan pasien dalam perencanaan dalam kegiatan adalah sangat penting dalam
meningkatkan kerjasama pasien untukkeberhasilan dari suatu program tersebut.
5. Dapat menghilangkan rasa nyeri sehingga mempermudah klien untuk melakukan aktivitas
secara mandiri

4. Resti penularan penyakit berhubungan dengan pemajanan penularan melalui vector, yang
ditandai dengan :
Ds :
- klien mengatakan kakinya yang sakit tampak besar sebelah
Do :
- Hb 10,8 gr/dl, Leukosit 9.500/ Hitung jenis: eosinofil 20%, basofil 4%, netrofil batang
40%, netrofil segmen 20%, limfosit 15%, monosit 1%.
- Dari pemeriksaan darah jari ditemukan parasit mikrofilaria inti tubuh teratur, ujung ekor
runcing dan tidak berinti dan selubung tubuh transparan.
kaki klien tampak besar sebelah Melakukan perubahan pola hidup untuk memperbaiki
Kesehatan umum dan menurunkan resiko tentang penularan penyakit Mandiri :

1. Identifikasi orang lain yang berisiko penularan contoh anggota keluarga /teman.

2. Awasi suhu lingkungan kelembapan dan


3. berikan racun serangga di sekitar lingkungan tempat tinggal klien.
4. Atur lingkungan klien sedemikian rupa sehngga membatasi rentang vektor untuk dapat
menyebarkan penyakit.
5. Berikan penkes pada keluarga dan masyarakat sekitar seputar pencegahan terhadap
filariasis.
6. Tekankan penting tidak melakukan penghentian terapi obat.
7. Berikan makanan yang seimbang dalam porsi kecil pada jumlah makanan yang besar dan
tepat.

Kolaborasi:

1. Berikan pengobatan di komunitas seperti dietilkarbamazine (dec) pengobatan di lakukan


secara berulang 1 hingga 6 bulan ( 6 sampai 8 kg/BB)
1. Orang orang yang terpajan ini perlu program terapi obat untuk mencegah penularan.
2. Suhu lingkungan yang lembab merupakan tempat perkembangbiakan nyamuk.
3. Racun serangga dapat membunuh pembawa vektor filariasis.
4. Pemodifikasian ruang/lingkungan dapat mengurangi faktor resiko penyebaran parasit
5. Untuk menambah pengetahuan masyarakat seputar filariasis
6. Penghentian terapi obat berisiko penyebaran infeksi dapat berlanjut.
7. Adanya anoreksia dapat menurunkan tahanan tubuh terhadap prosese infeksi dan
menganggu proses penyembuhan.
8. Pemberian obat dietilkarbamazine (dec) dapat membunuh parasit yang terdapat pada
kalenjar limpe dan menurunkan resiko terjadinya penularan.

IMPLEMENTASI DAN EVALUASI


Nama Pasien : Ny. S
Umur : 39 Tahun

Diagnosa Keperawatan Tanggal / Jam Catatan Keperawatan Tanggl / Jam Perkembangan


(evaluasi) parafI 14/03/11
(09.00 – 11.00 )
1. Kaji keluhan nyeri,perhatikan lokasi,intensitas,dan frekuensi.
Hasil : skala nyeri : 7, klien masih mengeluh nyeri, kaki tampak bengkak, klien mengatakan
panas pada kakinya masih terasa. Nyeri berulang dan bertambah saat kaki klien dibawa
bergerak,

2. Melakukan tindakan faliatif yaitu dengan melakukan perubahan posisi nyaman,rentang


gerak pada sendi yang sakit.
Hasil : klien menggerakkan kan kakinya scara perlahan-lahan dan melakukan perubahan
posisi yang nyaman.

3. Memberikan kompres hangat atau lembab pada daerah nyeri.


Hasil : klien tampak nyaman, dan tenang
4. Mengajar kan klien untuk mengungkap kan perasaan / rasa sakit yang di rasakan.
Hasil : klien menceritakan bagian yang nyeri dan rasa nyeri yang dialaminya
Kolaborasi :
5. Memberikan analgesik sesuai indikasi.
Hasil : klien tampak tidak meringis lagi dan lebih tenang 14/03/11
(16.00) S :
Klien mengatakan nyeri pada daerah kaki hingga ujung kaki sudah berkurang

O :
Klien masih tampak meringis ketika berjalan
Skala nyeri 5
Nyeri tekan (+)
N 100 x/.i

A :
Dari intervensi yang telah dilakukan,masalah nyeri belum teratasi

P :
Lanjutkan intervensi :
1,2,3,4,5

II 14/03/11
(09.00 – 11.00) 1. Memantau suhu tubuh pasien perhatikan adanya mengiggil/diafores.
Hasil : Suhu 38.3°c

2. Memantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi,yaitu


klien diberikan selimut tipis selembar.
Hasil : Lingkungan terasa lembab, klien tampak mulai berkeringat

3. Memberikan kompres mandi hangat hindari penggunaan alkohol.


Hasil :
Suhu : 37°

4. Menganjurkan klien untuk banyak minum air putih hangat


Hasil : klien minum air putih sebanyak 2 gelas.
Kolaborasi:

5. Memberikan antipiretik misalnya aspirin asetaminofen


Hasil : suhu : 38°c 14/03/11
(16.10) S :
Klien mengatakan tidak merasa demam lagi

O :
Suhu 37.80C
RR 21 x/i
N 100x/i
Wajah klien tidak tampak memerah lagi
Leukosit 9500 / mm3

A :
Masalah hipertermi teratasi sebagian

P :
Intervensi 1,2,3,4,5 tetap dilanjutkan.
III 1. Memeriksa kembali kemampuan dan keadaan secara kondisional pada kerusakan yang
ter jadi.
Hasil :
Klien dapat melakukan aktivitas ringan secara mandiri, namun aktivitas seperti berjalan dan
berpindah tempat, klien membutuhkan bantuan orang lain atau alat.

2. Mengatur posisi ter tentu untuk menghindari kerusakan karna tekanan,ubah posisi pasien
secara teratur dan buat sedikit perubahan posisi antara waktu perubahan posisi tersebut.
Hasil :
Klien merasa lebih nyaman

3. Memberikan atau bantu klien untuk melakukan latihan rentang gerak.


Hasil :
Pergerakan pada kaki klien yang sakit masih terbatas.

4. Meningkatkan aktivitas dan partisipasi dalam merawat diri sendiri sesuai kemampuan
klien .
Hasil :
Pada aktivitas kecil klien dapat melakukan secara mandiri

Kolaborasi:

5. Memberikan obat sesuai dangan indikasi.


Hasil : pemberian obat analgetik S :
Klien mengatakan dapat melakukan aktifitas ringan dengan mandiri,dan nyeri pada daerah
kaki sedikit berkurang

O :
Kaki klien masih tampak besar sebelah
Klien sudah mulai bisa berjalan walau terkadang masih tampak meringis
N 100x / i

A :
Dari intervensi yang telah di lakukan pada klien,masalah belum teratasi

P :
Lanjutkan semua intervnsi
IV 1. Mengidentifikasi orang lain yang berisiko penularan contoh anggota keluarga /teman..
Hasil :
Yang beresiko yaitu, para petugas medis, pasien lainnya, pengunjung dan keluarga.

2. Mengawasi suhu lingkungan kelembapan dan lakukan /berikan racun serangga di sekitar
lingkungan tempat tinggal dan ruang perawatan
Hasil : pemberian semprot anti nyamuk ke sekitar ruangan klien.

3. Menekan kan penting melakukan terapi obat.


Hasil :
Klien mengatakan mengerti dan patuh terhadap terapi pengobatan yang diberikan padanya.

4. Memberikan makanan yang seimbang dalam porsi kecil pada jumlah makanan yang besar
dan tepat.
Hasil :
Klien tampak makan dengan lahap.
Kolaborasi:

5. Memberikan pengobatan seperti dietilkarbamazine(dec)pengobatan di lakukan secara


berulang 1 hingga 6 bulan ( 6 sampai 8 kg/BB)
Hasil : klien patuh menjalani terapi. S:
Kliem mengatakan yang selalu ada disekitarnya adalah keluarganya.

O :
Hb 10,8 gr/dl, leukosit 9500 / mm3 , eosinofil 20% .

A :
Resiko untuk pemajanan infeksi masih ada. Masalah belum teratasi

P :
Lanjutkan semua intervensi
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Filariasis adalah kelompok penyakit yang mengenai manusia dan binatang yang
disebabkan oleh parasit kelompok nematode yang disebut filaridae., dimana cacing
dewasanya hidup dalam cairan san saluran limfe, jaringan ikat di bawah kulit dan dalam
rongga badan. Cacing dewasa betina mengeluarkan mikrofilaria yang dapat ditemukan
dalam darah, hidrokel, kulit sesuai dengan sefat masing-masing spesiesnya.
Penyakit filariasis banayak ditemukan di berbagai negara tropik dan subtropik, termasuk
Indonesia. Prevalensi tidak banyak berbeda menurut jenis kelamin, usia maupun ras.
Penyakit filariasis dapat disebabkan oleh berbagai macam spesies, sehingga gambaran
klinisnya spesifik untuk masing-masing spesies, misalnya bentuk limfatik biasnya
digunakan sebagai tanda bahwa penyakit tersebut disebabkan oleh Wuchereria bancrofti,
Brugia malayi, dan Brugia timori, dimana parasit dapat menyumbat saluran limfe dengan
manifestasi terbentuknya elefantiasis, sedangkan Loa loa ditandai dengan calabar swelling.
Onchocerca volvulus menyebabkan kebutaan dan pruritus pada kulit.
Diagnosis penyakit ini dengan ditemukannya mikrofilaria dalam darah, sedangkan bila
tidak ditemukan mikrofilaria maka diagnosis dapat berdasarkan riwayat asal penderita,
biopsi kelenjar limfe, dan pemeriksaan serologis.
Prinsip terapi ialah dengan menggunakan kemoterapi untuk membunuh filaria dewasa dan
mikrofilarianya serta mengobati secara simpotomatik terhadap reaksi tubuh yang timbul
akibat cacing yang mati. Dapat juga dilakukan pembedahan.
Pencegahan penularan penyakit ini dapat dilakukan dengan menggunakan obat-obatan
seperti DEC ataupun dengan mengontrol vektor.
Penyakit ini sangat berbahaya dan hampir diseluruh dunia dapatditemukan penyakit ini
karena mudahnya dalam penyebaran penyakit ini. Beberapa asuhan keperawatan secara
teoritis yang mungkin yang mungkin muncul pada penderita penyakit ini yaitu :
1. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan peradangan pada kelenjar getah bening
2. Nyeri berhubungan dengan pembengkakan kelenjar limfe
3. Harga diri rendah berhubungan dengan perubahan fisik
4. Mobilitas fisik terganggu berhubungan dengan oembengkakan pada anggota tubuh.
5. Kerusakan intregitas kulit berhubungan dengan bakteri, defisit imun, lesi pada kulit.
Namun pada kasus Ny. S yang dibahs kelompok, diagnosa yang dapat diangkat berupa :
1. Nyeri berhubungan dengan obstruksi kelenjar getah bening pada daerah tungkai
2. Hipertermi berhubungan dengan adanya inflamasi pada kelenjar getah bening
3. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan adanya pembengkakan pada kelenjar
limfe didaerah tungkai
4. Resiko tinggi penularan penyakit berhubungan dengan pemajanan penularan melalui
vektor
Dari kasus yang kita dapatkan diatas dapat dipastikan bahwa Ny. S mengalami fialriasis
tingkat 3 dengan diagnosa yang dapat diangkat berdasrkan kasus yang diatas adalah nyeri
yang berhubungan dengan adanya obstruksi pada saluran limfe, hipertermi yang
berhubungan dengan adanya inflamasi pada saluran pembuluh limfe. Hambatan mobilitas
fisik yang berhubungan adanya pembengkakan pada saluran getah bening pada daerah
tungkai kaki. Dan setelah dilakukan intervensi didapati keadaan klien tampak membaik,
masalah teratasi sebagian dan beberapa intervensi masih harus dilanjutkan.

B. SARAN
Demikianlah makalah pleno ini kami susun dengan penuh kerjasama. Diharapkan dengan
adanya makalah pleno ini mahasiswa dapat menambah wawasan mengenai penyakit
Filariasis. Selain itu mahasiswa juga mampu memahami secara teoritis mengenai penyakit
ini serta mampu mebuat asuhan keperawtan tentang kasus Filariasis
Semoga dengan adanya makalah ini dapat menambah referensi akademik untuk
melengkapi bahan pembelajaran dan motivasi mahasiswa untuk mengetahui lebih banyak
lagi tentang penyakit Filariasis.
Kelompok menyadari bahwa dalam makalah ini masih banyak terdapat kekurangan, saran
dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk dapat memperbaiki penulisan
makalah ini selanjutnya.
KATA PENGANTAR
Puji Syukur kami ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan
karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah ini. Ucapan terima kasih
kami sampaikan kepada dosen yang telah memberikan penugasan ini, sehingga kami dapat
memahami lebih mendalam mengenai mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah terkait
“Asuhan keperawatan pada pasien dengan diagnosa filariasis”.
Makalah ini diajukan guna memenuhi salah satu tugas Keeprawatan medikal Bedah 3.
Kami menyadari banyak sekali keterbatasan dalam penyusunan makalah ini, sehingga
kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan guna perbaikan dimasa mendatang.
Oleh karena itu kami mengharapkan pembenahan pikiran, saran, dan kritikan yang
konstruktif demi kesempurnaan penyusunan makalah selanjutnya. Semoga dengan
makalah yang sederhana ini dapat memenuhi harapan kita semua dan memberikan manfaat
sehingga dapat menambah ilmu pengetahuan.
Lhoukseumawe,11 Oktober 2022

Penyusun
DAFTAR ISI
Kata Pengantar .................................................................................................................
Daftar Isi ............................................................................................................................
Bab 1 Pendahuluan ...........................................................................................................
1.1 Latar Belakang .................................................................................................
1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................
1.3 Tujuan Umun....................................................................................................
1.4 Tujuan Khusus..................................................................................................
Bab 2 Pembahasan ............................................................................................................
2.1 Pengertian.........................................................................................................
2.2 Fdsh ..................................................................................................................
2.3 Hdfsfg...............................................................................................................
2.4 G.......................................................................................................................
2.5 Hdg...................................................................................................................
2.6 Jd ......................................................................................................................
Bab 3 Penutup ...................................................................................................................
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................
3.2 Penutup ............................................................................................................
Daftar Pustaka...................................................................................................................

Anda mungkin juga menyukai