Anda di halaman 1dari 4

DINAMIKA POLITIK GLOBAL DAN KEAMANAN INTERNASIONAL

Posted on November 11, 2011 Perkembangan geopolitik internasional berlangsung sangat cepat dan kompleks serta menghadirkan fenomena global yang mempengaruhi gelombang perubahan di Abad 21st. Perubahan tersebut berimplikasi terhadap tata kehidupan masyarakat dan hubungan antarnegara yang sangat dinamis. Politik global diterminolojikan untuk menganti politik internasional karena ruang lingkup tidak sebatas pada pembahasan hubungan antarnegara tetapi juga mempertimbangkan keterlibatan aktor-aktor non-negara yang berkiprah pada level global serta memberikan implikasinya terhadap interaksi hubungan dalam politik internasional yang secara keseluruhan. seperti pula konsep masyarakat internasional yang secara substansial telah terjadi pergeseran dalam perkembangan hubungan internasional kontemporer yang menjadi masyarakat dunia/ world society. Perkembangan variatif dalam atmosfer hubungan internasional dewasa ini, mengalami masa-masa dimana telah terjadi perubahan fundamental. Dalam kerangka perubahan ini, muncul ketidakpastian mengenai dunia macam apa yang akan dihasilkan oleh transformasi global saat ini. Untuk memahami perubahan-perubahan ini dan beradaptasi dengan perubahan-perubahan itu, kita perlu mengadopsi beberapa konsep yang dapat membantu kita memahami tantangan global yang disebabkan oleh kecepatan dalam mana dunia akan berkembang dan munculnya kompleksitas global yang ekstrim. Rivalitas eksistensi paradigm internasional yang ikut mempengaruhi dinamisasi internasional memunculkan tingkat perdebatan akan harapan sebuah sistem internasional maupun interkasi tingkat global dalam membangun tingkat keseimbangan sistem saling menghormati dalam menata tata dunia yang lebih berimbang dibandingkan dengan gagasan tentang hegemonic power yang menjustifikasikan kekuatan sebagai unipolar. Secara perkembangan literatur dalam pembahasan rivalitas dasar pemahaman tentang kecenderungan paradigm internasional dalam mempresepsikan tingkat dinamika politik global yang membentuk pola ranati dalam implikasinya terhadap tata interaksi keamanan internasional. Untuk lebih memahami dinamika hubungan internasional yang lebih condong kearah unipolarisme terutama era pasca perang dingin, sebagimana dikemukakan oleh Frans Fukuyama dalam bukunya the end of history artinya bagaimana rivalitas kekuatan ideologi dunia antara Timur (Uni Soviet) dan Barat (Amerika Serikat) dimana kaum liberal atau demokrasi mnejadi kekuatan dominan dalam peta politik global pasca perang dingin. Kecenderungan perkembangan global mempengaruhi karakteristik ancaman dengan memunculkan isu-isu keamanan baru yang memerlukan penanganan dengan pendekatan yang lebih komprehensif dan integratif. Proses transisi dari unipolar moment pasca Perang Dingin merupakan alasan utama dari berhimpitnya dua karakter kontradiktif ini. Struktur politik internasional yang senantiasa mengalami penyesuaian-penyesuaian struktural global (global structural adjustments). Penyesuaian-penyesuaian ini merupakan bagian dari sebuah proses atau siklus rise and fall of great powers, yang terjadi akibat adanya perubahan atau pergeseran dalam relative distribution of power diantara kekuatan-kekuatan besar. Selama berlangsungnya proses pergeseran itu, penyesuaian struktur global dapat dikatakan berada dalam masa transisi. Untuk saat ini, masa transisi ini telah ditandai oleh terjadinya sebuah power shift (pergeseran kekuatan) yang dapat melahirkan implikasi-implikasi signifikan dan fundamental bagi konstelasi dan percaturan politik global di masa mendatang.

GREAT POWER DAN RIVALITAS KEAMANAN GLOBAL Negara-negara Great Power menganggap kawasan Asia Timur sebagai kepentingan, maka tidak sedikit sumber daya yang telah dikeluarkannya demi mempertahankan eksistensinya secara ekonomi, politik dan militer di kawasan tersebut, karena dalam pandangan masingmasing Negara terutama bagi upaya memperluas pengaruh ideologi maupun keamanan di wilayah ini sangat strategis dan akan menguntungkan di kemudian hari bagi kepentingan nasional masing-masing Negara yang memiliki kepentingan dalam mepertahankan tingkat kekutan hegemoninya. Disisi lain Amerika mendorong Jepang dan Kore Selatan serta India untuk tetap memainkan peran penting dalam menjamin stabilitas keamanan regional Asia Timur dan Tenggara sebagi bentuk perimbangan kekuatan agar tidak tercipata unipolar power. Secara konsepsional bahwa balance of power berupaya untuk mengimbangi tingkat perlombaan senjata serta sumber kekuatan bagi terciptanya upaya perimbangan keamanan baik pada tingkat regional serta menjamin adanya lingkungan sumber ancaman yang berlindung dibahwa negara-negara yang membangun pola balance of power dalam menciptakan dan mengedepangkan kepentingan internasional secara keseluruhan. Dalam tingkat interaksi internasional hal tersebut menjadi senjata bagi pelaksanaan pola-pola diplomasi atau, hal tersebut telah menjadi instrument penting bagi sejumlah Negara-negara di Asia Timur, terutama Korea Utara yang memiliki ancaman secara terbuka bagi terciptanya trust building dan memiliki gaya diplomasi yang disebut dengan Nuclear Foreign Policy as part of bargaining power to push of international society. Namun, kebangkitan Cina diperkirakan akan menjadi isu yang paling signifikan bagi masa depan posisi AS dalam percaturan politik global dan regional. Tantangan strategis terbesar yang dihadapi AS adalah bagaimana merespon dan mengakomodasikan kebangkitan Cina sehingga negara ini dapat menjadi aktor dan mitra yang baik dalam menjamin stabilitas kawasan, namun pada saat yang sama, tidak. Ketidakpastian ini melahirkan strategi AS yang kerap disebut sebagai strategic hedging. Melalui strategi ini, AS bermaksud untuk membuka peluang bagi dirinya dalam mempertahankan hubungan ekonomi yang menguntungkan dengan RRC, sambil menangani ketidakpastian dan meningkatnya kerisauan di bidang keamanan yang ditimbulkan oleh kebangkitan Cina. Dengan kata lain, Washington menjalankan kebijakan yang kompetitif dan kooperatif sekaligus terhadap Cina, seraya mendorong Cina menjadi bagian dari norma, nilai dan institusi internasional yang berlaku sekarang. Peningkatan hubungan AS dengan negara-negara sekutu maupun dengan Negaranegara yang dianggap bersahabat di berbagai kawasan merupakan bagian terpenting dari strategi hedging ini. Strategi hedging ini antara lain tercermin dengan jelas oleh perkembangan dalam kebijakan AS terhadap Jepang dan India. Terhadap Jepang, AS mendorong negara itu untuk memainkan peran keamanan yang lebih besar. Kedua negara juga telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat hubungan aliansi diantara mereka. Dalam pandangan AS, India juga telah menduduki posisi strategis yang dapat membantunya dalam menjalankan strategi hedging. Melalui transformasi hubungan AS dengan Jepang, dan membaiknya hubungan AS dengan India, AS berharap dapat menciptakan sebuah kondisi yang membuat RRC untuk menjauhkan diri dari niat untuk merevisi tatanan global dan regional yang berlaku sekarang ini. Seperti yang dikatakan oleh Menlu Rice, adalah tanggungjawab kita untuk mencoba, mendorong, dan meyakinkan Cina agar mengambil sikap yang positif. Saya yakin, hubungan AS Jepang, hubungan AS-Korea Selatan, dan hubungan AS-India sangat penting dalam menciptakan sebuah lingkungan yang akan membuat Cina memainkan peranan positif ketimbang negative. Dalam konstelasi

demikian, memang masih sulit dan terlalu dini untuk memastikan bentuk akhir dari proses transformasi tata regional yang sedang terjadi sekarang ini. Meskipun struktur politik global masih didominasi oleh berkelanjutannya keutamaan AS, tantangan dan pengaruh calon adidaya baru (RRC) dan mantan adidaya (Rusia) tidak dapat diabaikan begitu saja. Struktur dan konstelasi politik global dimasa mendatang akan diwarnai oleh upaya masing-masing pihak untuk melanggengkan struktur yang ada (khususnya bagi AS) dan menciptakan keseimbangan baru (khususnya bagi RRC, Rusia dan mungkin juga India). Sementara, Jepang dan Uni Eropa akan cenderung berada dipihak AS dalam menjaga kelangsungan struktur yang berlaku ini. Dengan kata lain, konstelasi politik global di masa mendatang akan dipengaruhi oleh preferensi masing-masing kekuatan global tersebut dalam interaksi diantara mereka. Dengan kata lain, sikap kekuatan-kekuatan besar anggota tetap DK-PBB terhadap berbagai persoalan keamanan dan perdamaian internasional di DK-PBB akan dikalkukasikan dalam konteks kepentingan strategis mereka baik untuk mempertahankan dominasi di satu pihak maupun untuk mendorong keseimbangan baru di lain pihak. Posisi AS tampak cukup kokoh dengan adanya revitalisasi peran keamanan Jepang di satu pihak, dan kembalinya India sebagai aktor keamanan potensial di kawasan. Jepang mulai melakukan tinjau ulang atas posisi dan peran keamanannya dalam konstelasi strategis di Asia Timur. Jepang memiliki perhatian dan pandangan yang sama dengan AS mengenai Cina. Perubahan dalam kebijakan keamanan internasional dan pertahanan Jepang belakangan ini tidak dapat dilepaskan dari meningkatnya kekhawatiran Jepang terhadap faktor kebangkitan Cina ini. Di sisi lain, India yang kini semakin mengintegrasikan dirinya ke dalam kawasan Asia Timur, melihat kawasan ini sebagai bagian penting bagi perkembangan ekonomi dan posisi internasionalnya. Bagi India, meskipun persepsi mengenai ancaman Cina mulai menurun, kepentingan untuk mengimbangi kehadiran Cina tetap menjadi elemen penting dalam strategi India di kawasan. Namun, India berharap Beijing mau mengakui peran positif New Delhi di kawasan, dan tidak menentang kehadiran India di Samudera Hindia maupun di kawasan Asia Tenggara. Dilema Keamanan Internasional : Kecenderungan dan Strategi Kajian keamanan mengenal dua istilah penting, dilemma keamanan (security dilemma) dan dilemma pertahanan (defense dilemma). Istilah yang pertama, dilema keamanan, menggambarkan betapa upaya suatu negara untuk meningkatkan keamanannya dengan mempersenjatai diri justru, dalam suasana anarki internasional, membuatnya semakin rawan terhadap kemungkinan serangan pertama pihak lain. Istilah kedua, dilema pertahanan, menggambarkan betapa pengembangan dan penggelaran senjata baru maupun aplikasi doktrinal nasional mungkin saja justru tidak produktif atau bahkan bertentangan dengan tujuannya untuk melindungi keamanan nasional. Kecenderungan perlombaan keamanan di Asia Timur dapat memberikan dampak bagi upaya kemunduran rejim pencitaan reduksi terhadap mekanisme senjata konvensional. Kecenderungan tersebut akan menciptakan tingkat dilemma pada aspek securitization in Asia Timur khususnya dan Asia Pasifik pada umumnya. Eksistensi sejumlah Negara-negara major power yang memiliki kepentingan berbeda dalam memngupayakan hubungan politik dan keamanan di tingkat regional tersebut akan menghadapkan pada aspek pemeliharaan terhadap instrumen saling kepercayaan serta akuntabilitas dan transparancy sebagai instrumen utama dalam mereduksi tingkat ancaman tradisional di Asia Timur. Mengacu pada tingkat konstelasi rivalitas keamanan di Asia Timur serta Asia Pasifik, dalam hal eksistensi dan peranan Negara-negara yang memainkan kepentingan central dalam menciptakan kerangka

keamanan terutama Negara-negara great power, yaitu. Amerika Serikat, Russia dan China serta Negara yang memiliki kepentingan dalam membangun aliansi seperti India yang memiliki kekuatan sebagai pihak yang ikut memainkan peran dalam pembentukan aliansi keamanan regional diluar kerangka Rusia+China yang memiliki kerangka keamanan yang disebut dengan Shangai Cooperation Organization (SCO) atau lajimnya disebut China and Russia, are major regional collective defense arrangements, yang memiliki nilai strategi dalam menciptakan tingkat keamanan regional serta menjadi ancaman bagi eksistensi kepentingan Amerika di wilayah Asia Timur dan Pasifik serta Asia Tengah. Hal tersebut nampak dalam demostrasi ancaman senjata konvensional yang dilakukan oleh Korea Utara yang menunjukan kemunduran terhadap rejim peluncutan senjata internasional serta rejim denuklirisasi dikawasan Asia Timur pada khusunya dan Asia Pasifik pada umumnya. Korea menilai bahwa peran Shangai Cooperation Organization secara kolektifitas akan berada dibelakang kekuatan Korea Utara bilaman terjadi perang terbuka di kawasan semenanjung Korea. Sejauh menyangkut ancaman militer dari luar, tidak diragukan bahwa peningkatan kemampuan militer (modernisasi dan profesionalisasi) merupakan sa1ah satu pilihan. Namun, selain karena pertimbangan ekonomi, peningkatan kekuatan militer selalu mengundang kecurigaan pihak 1ain, terutama jika hal itu dilakukan dengan lebih banyak memberikan prioritas pada modernisasi senjata-senjata ofensif. Dalam suasana anarki dan ketidakpastian, upaya unilateral bisa menimbulkan dilema keamanan (security dilemma) terutama jika upaya unilateral itu berupa penggelaran jenis senjata- senjata ofensif baru. Pengembangan kekuatan militer yang mengarah pada non-provocative defense merupakan salah satu pilihan strategis. Selain itu, di tengah gelombang interdependensi dalam kehidupan antarbangsa, suatu negara tidak bisa mengamankan dirinya dengan mengancam orang lain. Upaya untuk membangun keamanan, oleh karenanya, bergeser dari konsep security against menjadi security with. Apa yang selama ini dikenal sebagai cooperative security, confidence building measures, dan preventive diplomacy yang dilakukan secara bilateral, regiona1, global, maupun multilateral adalah sebagian dari berbagai upaya menjawab persoalan ini. Berakhirnya perang dingin belum menjamin bagi terwujudnya keamanan dan perdamaian dunia. Konflik antar etnis/ras, terorisme, pencucian uang, penyelundupan manusia, perdagangan ilegal, narkoba adalah ancaman non-tradisional, dan merupakan ancaman terhadap keamanan domestik, regional, dan global. Sedangkan ancaman tradisional seperti senjata pemusnah masal, sengketa antar negara, dan perlombaan senjata tetap merupakan isu laten. Ancaman tradisional maupun ancaman non-tradisional tetap menimbulkan kekuatiran bagi masyarakat internasional karena merupakan bentuk ancaman terhadap perdamaian dunia yang dapat berkembang menjadi ancaman berskala besar. Kecenderungan keamanan dunia diwarnai oleh isu keamanan non-tradisional yang semakin marak, disamping isu keamanan tradisional yang belum dapat diabaikan sama sekali. Kompleksitas keamanan global semakin bertambah dengan adanya upaya mengembangkan dan mempertahankan hegemoni melalui penguatan aliansi, pengembangan kemampuan militer, keunggulan teknologi, maupun dengan mempertahankan keunggulan ekonomi. Isu-isu keamanan internasional yang akan dipengaruhi oleh konstelasi politik global dan preferensi kekuatan-kekuatan antara lain; terrorisme dan isu clash of civilization, masalah Weapon Mass Destruction (senjata pemusnah Massal) dan masalah non-traditional security issues. Realitas politik global dan regional tentunya penting bagi penentuan sikap terhadap persoalan-persoalan di atas.