Anda di halaman 1dari 17

DASAR PEMBERAT PIDANA

Surastini Fitriasih -2015


Pengertian

• Dasar/alasan yang menyebabkan pidana yang


diancamkan terhadap seseorang menjadi lebih
berat dibandingkan dengan pidana yang
diancamkan pada umumnya ( pada orang yang
lainnya)
Pembagian Dasar Pemberat Pidana
• Dalam KUHP (UU, Alasan Yuridis)
• UMUM :
- Recidive :Pengulangan tindak pidana
Ancaman pidananya + (1/3-nya) (ditambah 1/3), diatur dlm psl. 486,487 dan 488.
- Pada wkt melakukan tindak pidana menyalahgunakan kewenangan yang diperoleh
karena jabatan (abuse of power), psl. 52 KUHP
- Pada wkt melakukan tindak pidana menggunakan bendera kebangsaan, pasal 52a
KUHP (ditambahkan dalam KUHP berdasarkan UU No. 73/1958)

• KHUSUS :
- Delik-delik yg dikualifisir/diperberat.
Co. Psl 356, 349, 351 ayat (2), 365 (4) dll.
- Delik-delik tertentu yg dilakukan oleh org ttt dlm keadaan ttt, mis. Pasal 374.
…. lanjutan
Di luar KUHP (Alasan non Yuridis)

• tidak memperberat ancaman pidana


• Ancaman pidana tidak bertambah berat,
tetapi pidana yang dijatuhkan relatif berat

Misalnya:
• Pemaksimalan pidana karena dianggap
meresahkan masyarakat
• Mempersulit jalannya persidangan, memberi
keterangan yang berbelit-belit
Penyalahgunaan Kewenangan yang diperoleh
karena Jabatan (Pasal 52 KUHP)

 Pemberatan berdasarkan keadaan Jabatan dari


Kualitas/kedudukan si pembuat; yaitu sebagai pejabat
atau pegawai negeri (lihat Pasal 92 KUHP)
 Ketika melakukan tindak pidana:
- melanggar suatu kewajiban khusus dari jabatannya
- memakai kekuasaan jabatannya;
- menggunakan kesempatan karena jabatannya;
- menggunakan sarana yang diberikan karena
jabatannya
Pasal 52 KUHP
 melanggar suatu kewajiban khusus dari
jabatannya
- Seorang polisi yang ditugaskan untuk menjaga
keamanan di bank, berkomplot dengan orang
lain untuk merampok bank
 memakai kekuasaan jabatannya;
- Seorang penyidik yang mempunyai kewenangan
untuk menangkap dan menahan seseorang,
menangkap dan menahan musuh pribadinya
tanpa memperhatikan persyaratan untuk
melakukan upaya paksa
Pasal 52
 menggunakan kesempatan karena jabatannya;
- Seorang penyidik pembantu, ketika melakukan
penyitaan perhiasan mengambil kesempatan
untuk mengambil beberapa perhiasan untuk
dimilikinya sendiri
 menggunakan sarana yang diberikan karena
jabatannya
-seorang polisi yang diberi hak menguasai
senjata api, menggunakan senjata itu untuk
menembak musuh pribadinya
…….Pemberatan karena Pasal 52

• Pemberatan berdasarkan Pasal 52 berlaku umum


untuk semua tindak pidana, kecuali untuk kejahatan
jabatan yang diatur dalam Bab 28 Buku II KUHP dan
Pelanggaran Jabatan yang diatur dalam Bab 8 Buku
III KUHP
• Pemberatan : Ancaman pidana + 1/3-nya
Pasal 52 a KUHP
• Waktu melakukan kejahatan menggunakan
bendera kebangsaan Republik Indonesia
• Jadi hanya untuk tindak pidana yang merupakan
kejahatan
• Bendera dijadikan sarana untuk melakukan
kejahatan; BUKAN bendera sebagai objek
kejahatan (lihat 154a KUHP)
• Pemberatan : Ancaman pidana + 1/3-nya
PENGULANGAN T I N D A K P I D A N A
(R E C I D I V E)
• Recidive terjadi dlm hal seseorang yg telah
melakukan suatu tindak pidana dan yg telah dijatuhi
pidana dgn suatu putusan hakim yg berkekuatan
hkm tetap, kemudian melakukan suatu tindak
pidana lagi.

• Recidive merupakan suatu alasan/dasar untuk


memperberat pidana.
A. Recidive menurut Doktrin
Ada 2 sistem pemberatan pidana berdasarkan
recidive :

 Recidive Umum,
Setiap pengulangan tindak pidana apapun dan
dilakukan kapanpun.

 Recidive Khusus,
Pengulangan tindak pidana tertentu dan dalam
tenggang waktu tertentu pula.
B. Recidive menurut KUHP :
1. Pelanggaran (buku 3) :
Ada 14 jenis pelanggaran yg memiliki ketentuan recidive (khusus)
 Recidive khusus psl. 489, 492, 495, 501, 512
 Pelanggaran yg diulangi (yg ke 2) hrs sama dgn yg ke 1
 Antara pelanggaran ke 1 dan 2 hrs ada putusan pemidanaan yg
berkekuatan hukum tetap (BHT)
Tenggang waktu :
 Belum lewat 1 atau 2 thn (lihat msg2 pasal)
 Sejak : adanya putusan pemidanaan yg berkekuatan hukum
tetap.
Pemberatan :
 Disebutkan secara khusus dlm tiap2 pasal, jd pengaturannya
berbeda2.
 Co. denda -> kurungan (psl. 489), pidana dilipatgandakan jd 2x
(492).
…..lanjutan
2. Kejahatan (buku 2) :
a. Recidive khusus :
• Ada 11 jenis kejahatan, co: psl. 137 (2), 144 (2), 155 (2),
161 (2), dan 216 (3).
• Kejahatan yg ke-2 hrs sama dgn yg ke-1.
• Antara kejahatan ke-1 dan yg ke-2,hrs sdh ada putusan
hakim berupa pemidanaan yg tlh berkekuatan hkm tetap.
• Tenggang waktu :
– Belum lewat 2 th atau 5 thn (lihat masing2 pasal), sejak
: adanya putusan hakim yg b’kekuatan hkm tetap.
• Pemberatan : disebut secara khusus dlm pasal2nya.
…..lanjutan

b. Recidive sistem antara :


– (Tussen stelsel – psl. 486, 487 dan 488)
– Syarat recidive menurut pasal 486, 487 dan 488 :
1. Kejahatan yg ke-2 (yg diulangi) harus
termasuk dalam suatu kelompok jenis dengan
kejahatan yg ke-1 (yg terdahulu).
……….Recidive Sistem Antara
Kelompok jenis itu adalah :

1. Kelompok jenis kejahatan dlm psl. 486 adl


kejahatan thdp harta benda & pemalsuan;
2. Kelompok jenis kejahatan dlm psl. 487
merupakan kejahatan thdp nyawa dan tubuh;
3. Kelompok jenis kejahatan dlm psl. 488
merupakan kejahatan mengenai penghinaan &
yg berkaitan dgn penerbitan/percetakan.

Tetapi tetap harus diperiksa dgn seksama


apakah pasal yg dilanggar masuk dlm rumusan
Pasal 486, 487 atau 488.
2. Antara kejahatan yg ke-1 dan ke-2 hrs sdh ada
putusan hakim berupa pemidanaan yg
berkekuatan hkm tetap.

3. Pidana yg pernah dijatuhkan hakim terdahulu


hrs berupa pidana penjara.
Recidive Sistem Antara/Tussen Stelsel
4. Ketika mengulangi, tenggang waktunya:
a) Belum lewat 5 thn :
 Sejak menjalani seluruh atau sebagian pidana
penjara untuk kejahatan yg ke-1;
 Sejak pidana penjara sama sekali dihapus (mis: krn
grasi).
b) Belum lewat tenggang waktu daluwarsa
kewenangan menjalankan pidana (penjara) atas
kejahatan yg ke-1. Lihat psl 84 jo 78.

5. Pemberatannya : Ancaman pidana +(1/3-nya).