Anda di halaman 1dari 92

RESPIROLOGI

Dr. Dhian Endarwati, Sp.A


SMF / Lab. Ilmu Kesehatan Anak
RSUD Prof. Dr. Margono Soekarjo
PURWOKERTO
1. DISTRES RESPIRASI
– Semua penyakit yang ditandai oleh gejala
gangguan nafas (sbg kompensasi atas kekurangan
O2)
–  sesak nafas, nafas cepat, nafas tak teratur
– Penyebab :
1. Peny saluran nafas
2. Peny sekitar paru/dlm rongga dada
3. Peny sistemik/pusat pernafasan
1.Penyakit Saluran Nafas a.l :
1.Laringitis/croup 10. atelektasis
2.Laringomalasia 11. edema paru
3 Asma bronkiale 12. tumor paru
4.Bronkiektasis 13 dsb
5.Bronkopnemonia
6.Bronkiolitis
7.Aspirasi pnemonia
8 Pnemonia lobaris/lobularis
9.Peny membran hyalin (pd bayi)
2. Penyakit sekitar paru/dalam rongga dada:
a. Peny Jantung bawaan (PJB)
 VSD, PDA, ASD, ToF, dsb
b. Pneumothorax
c. Efusi pleura/hydrothorax/empyema,dst
d. Pleuritis, dsb
3. Penyakit sistemik/pusat pernafasan
a. Sepsis
b. Uremia
c. Ensefalitis
d. Asidosis metabolik
e. Ensefalitis
f. Tumor otak
g. dsb
Infeksi Saluran Pernafasan Akut

(ISPA)
• ISPA : merupakan penyebab kematian bayi dan
balita di Indonesia
• Dibagi 2 : ISPA atas dan ISPA bawah
• ISPA atas : selesma, radang tenggorok, sinusitis
(relatif tidak berbahaya)
• ISPA bawah : bronkiolitis dan pneumonia (sangat
berbahaya menyebabkan kematian)
• WHO : kematian karena pnemonia 4 juta balita
per tahun di dunia
• Penyebab ISPA : virus, bakteri
• ISPA berlangsung sekitar 3-5 hari
• Keluhan utama : batuk, pilek
ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut)
ISPA Atas :
Diatas laring :
 OMA
 Sinusitis
 Rinitis
 Faringitis
ISPA Bawah :
Laring ke bawah :
 Laringitis
 Croup
 Bronkitis
 Bronkiolitis
 Bronkopneumonia/ pneumoni batuk / dan sesak
KLASIFIKASI ISPA DEPKES
(BATUK DAN KESUKARAN BERNAPAS)

•2 BULAN- 5 TAHUN :
• Batuk Bukan Pneumonia
• batuk,pilek
• Pneumonia
• napas cepat :--> (Ab.Cotrimoksazole) .
• RR > 50x/menit ( 2-12 bl)
• RR > 40x/menit ( 1- 5 th)
• Pneumonia Berat --> rujuk
• tarikan dinding dada bawah kedalam
•0- 2 bulan:
- Batuk Bukan Pneumonia
• batuk,pilek

- Pneumonia Berat :
• tarikan dinding dada bagian bawah kedalam
yang kuat
• RR > 60x/menit
• --> Rujuk ke RS/Puskesmas Rawat
DIAGNOSIS BANDING
PNEUMONIA BERAT
( UMUR 2 BULAN - 5 TAHUN)
• Pneumonia
• Malaria
• Anemia Berat
• Gagal jantung kongestif
• Kelainan Jantung kongenital
• Tuberkulosis
• Pertusis
• Benda Asing
• Empyema
• Pneumotoraks
• Pneumosistis pneumonia
Umur 0 - 2 bulan

• RDS (HMD)
• Sepsis
• Meningitis
• Tetanus Neonatorum
DIAGNOSIS BANDING
Anak dengan Wheezing

• Asma
• Bronkiolitis
• Benda asing
• Pneumonia
DIAGNOSIS BANDING Anak Dengan
STRIDOR
• Croup viral
• Difteri
• Benda Asing
• Kelainan kongenital
DIAGNOSIS BANDING ANAK DENGAN
BATUK KRONIK

• TBC
• Asma
• Benda Asing
• Pertusis
• HIV
• Bronkiektasi
• Abses paru
STRIDOR

Stridor adalah suara kasar selama


inspirasi akaibat penyempitan sal napas
oropharing, subglottis atau trakea
Croup Viral
Diagnosis:
• Ringan: demam, suara kasar, batuk menggonggong, stridor
pada saat anak gelisah
• Berat: Stridor saat anak tenang, napas cepat dan retraksi.
Terapi:
Pada croup berat:
– Oksigen
– Steroid
– epinefrin inhalasi, bilefektif ulangi tiap 2 jam.
– Antibiotik
– Intubasi dan trakeostomi bila ada sumbatan jalan napas
yang berat
– Perawatan penunjang
– Pemantauan: kondisi anak, status respirasi, evaluasi
perawat tiap 3 jam, dokter 2 kali sehari
Difteri
• Dx:
– Membran keabuan di sala.napas atas atau nasopharing
melekat kuat dan mudah berdarah bila diangkat
– Kadang disertai bull neck
• Tx:
– Antibiotik: Prokain penicillin selama 7 hari
– DAT 40.000 unit IM/IV
– Oksigen
– Trakeostomi bila dijumpai adanya sumbatan jalan napas
– Perawtan penunjang
– Pemantauan:kondisi anak, status respirasi. Evaluasi
perawat tiap 3 ja, dokter 2 kali sehari
Pertusis
• Dx:
– batuk paroksismal diikuti menggonggong saat bernapas
– Perdarahan subkojungtiva
– Anak tidap mendapat imunisasi pertusis
• Tx:
– antibiotik eritromisin oral selama 10 hari
– Bila disertai demam berikan kloramfenikol oral selama 5 hari
– oksigen: pada apnoeu, sianosis, batuk paroksismal berat.
– Pengelolaan jalan napas: mencegah aspirasi, bersihkan sekret
hidung dan tenggorok bila apnoeu bersihkan jalan napas, beri
rangsangan napas manual atau ventilasi dng bag dan oksigen
– Perawatan penunjang:hidari suction, antitusif, sedatif, mukolitik,
antihismin, obati demam, lanjutkan ASI atau cairan oral
– Pemantauan: tiap 3 jam oleh perawat, dokter 1 kali sehari
Bronkitis akut
• radang bronkus akut
• umumnya disertai radang akut saluran napas
bawah lainnya
• Tidak pernah berdiri sendiri
Trakeobronkitis akut = Bronkitis
Istilah yang membingungkan
• Bronkitis kapiler (Capillary Bronchitis)
– Bronkitis
– Pneumonia interstitial
• Bronkitis asmatika
– Salah satu bentuk asma
Etiologi Bronkitis akut
• Umum : virus
• Spesifik
– Influenza
– Pertusis
– Campak (morbilli)
– Salmonella
– Difteria
– Scarlet fever
BRONKITIS

• Diagnosis
– Stadium Prodromal
 1-2 hari : demam, gejala saluran napas atas
– Stadium Trakeobronkial
 4-6 hari : demam (biasanya tdk tinggi), batuk non
produktif produktif
– Stadium Rekonvalesen
 Panas turun, batuk berkurang sembuh
 Dapat terjadi infeksi sekunder oleh bakteri
 Gejala Klinis
 Demam 37,8⁰ -39⁰ C
 Batuk nonproduktif menjadi produktif
 Sering nyeri dada waktu batuk
 Gejala rinitis sebagai menifestasi pengiring
 Faring hiperemis
 Ronki basah kasar
 Lab : tidak spesifik
Predisposisi dan faktor yang
berpengaruh

• Asap rokok
• Alergi
• Cuaca
• Keadaan umum yang jelek (Poor health)
• Infeksi kronik alat napas atas
Pemeriksaan fisis
• Panas : (-) (+) (-)
• Mukosa : - nasofaringitis
- konjungtivitis
- rhinits
virus
• Suara napas kasar
Ronki basah kasar halus
Mengi (Wheezing)
SPUTUM : Jernih beberapa hari keruh

5-10 hari

Batuk hilang jernih


Gejala dan tanda lain bronkitis akut
• Rasa tidak enak di bawah tulang dada :
Seperti terbakar sakit
• Suara napas berbunyi seperti siulan
• Sesak
• Muntah
Penanggulangan bronkitis akut
• Simptomatis
• Pengeluaran lendir/sputum :
– Posisi tidur diubah-ubah
– Jaga kelembaban udara
– Sering minum
• Kodein : hati-hati ! (sangat jarang diperlukan)
• Antihistamin : Hati-hati Atropin like effect
Bronkitis akut
• Ekspektoran : tidak perlu
• Antibiotika :
– Tidak ada gunanya
– Indikasi
• Bronkitis akut berulang
• Ada komplikasi
Komplikasi bronkitis akut
• Otitis
• Sinusitis
• Pneumonia
Terutama kalau gizi buruk
Pneumonia Pada Anak
Introduction
• Pneumonia affects 156 million children under
the age of 5 yrs every year across the globe.
• Leading cause of mortality in Under 5 yrs.
• Most of these deaths- preventable.
• Most effective intervention- Early diagnosis
and appropriate case management
Etiologi pneumonia (sering)
Virus
 Respiratory Syncytial Virus
– Influenza A atau B
– Parainfluenza 1,2 dan 3
– Adenovirus
– Rinovirus.
– Morbili
Bakteri
 Streptokok pneumoniae
– Hemofilus influenzae
– Stafilokok aureus
– Streptokok grup B
– Mikoplasma pneumonia
 Klamidia trakomatis
 Klamidia pneumoniae
Etiologi pneumonia (jarang)
Virus
• Varisela-zoster
• Coronavirus
• Paramyxovirus
• Enterovirus (coxsackie – echo)
• Cytomegalovirus
• Herpes simpleks, dll
Bakteri
 Anaerob (S mileri, peptostreptokok)
• Klebsiela pneumonae
• E.koli
• Neiseria meningitidis
• Legionela
• Pseudomonas spp
• Leptospira, dll
Fungus
• Histoplasma kapsulatum, dll
• Blastomises dermatitidis
Etiologi pneumonia
(usia < 3 bulan)

• Streptokok grup B
• Stafilokok aureus
• Klamidia trakomatis
• Bakteri Gram negatif

Neonatus
• infeksi berasal dari ibu
• berhubungan dg proses
persalinan
- aspirasi mekonium,
cairan amnion,
- dari serviks ibu
Etiologi pneumonia
( usia 3 bulan - 5 tahun )

Sering
 S. pneumoniae
 H. influenzae
Jarang
 S. aureus
 Streptokok grup A
Etiologi pneumonia
(usia > 5 tahun)

 Mikoplasma
pneumoniae
 Klamidia
pneumoniae
 S pneumoniae
 H influenzae
 dan lain-lain
INDONESIA
• Etiologi pada 698 anak dengan pneumonia tidak berat

– S. pneumoniae 67 %
– Stafilokokus epidermidis 11.9%
– Streptococcus alfa 11.9%
– Hafnia alvei 3.4%
– Stafilokokus aureus 2.8%
– Moraksela kataralis 1.1%
– Haemofilus influenzae 0.6%
– Klebsiella pneumoniae 0.6%
(Kartasamita et al. Paediatr Indones 2001;41 :292-95)
Control of Lower Respiratory Infections

WHO focuses on the reduction of mortality requiring:

• Early/adequate diagnosis
• Correct case management
• Hospitalize for danger signs
• Access to health care
• Trained health staff
• Simple treatment protocols
• Immunization
Tanda klinik sederhana pneumonia (WHO)

Napas cepat (takipnu)


Laju napas

Umur (x/mnt)
< 2 bulan 60
2 - 12 bulan 50
1 - 5 tahun 40

Napas sesak
Tarikan dinding dada
(retraksi subkostal)
Klasifikasi Pneumonia (WHO)
• 1.BUKAN PNEUMONIA
- tidak ada nafas cepat,
- Tidak ada retraksi
• 2.PNEUMONIA
- Ada nafas cepat,
- Tidak ada retraksi
• 3.PNEUMONIA BERAT
Ada retraksi
• 4.PENYAKIT SANGAT BERAT
Treatment of Pneumonia
VERY SEVERE DISEASE
YES Refer to hospital
Danger signs*
Give antibiotics: IV
NO
SEVERE PNEUMONIA
Assess for chest indrawing
YES
Refer to hospital
Give antibiotics:IVPencillin
NO
Assess for fast breathing
PNEUMONIA
(RR>50/40 breaths/minute) YES Give antibiotics
NO=NO PNEUMONIA; COUGH OR COLD Home remed
* Danger signs include cyanosis, convulsions, severe malnutrition, difficult to wake, not
able to drink
Domicillary treatment of pneumonia
• Give Cotrimoxazole (trimethoprim[T] + Sulfamethozazole[S])
(5-7 mg/kg/day of T + 25-35 mg/kg/day of S) in two divided doses for 5
days
OR
• Amoxicillin (30-40 mg/Kg/day) in 2-3 divided doses for 3-5 days
• Follow-up after 2 days
Ask: Is the child breathing slower? Is there less fever? Is the child eating
better?
YES ---- complete 5 days of
COMPLETE cotrimoxazole
5 days or 3-5
of Cotrimozazole days
OR 3- of Amoxicilin
5 days

*Check for danger signs NO CONTINUE ANTI


CONTINUE ANTIBIOTICS for 5days

* Assess difficult breathing


and Chest Indrawing YES REFER
REFER FOR HOSPITILIZATION
Management of severe pneumonia in children aged > 2 month

Improvement at 48 hrs
oral cefodoxime/cefdinir/cefixime
to complete 7 days
Management of severe Pneumonia in children aged ≤ 2 months.
Management of Very-severe Pneumonia

O2 IV fluids
IV Ampicillin + Gentamicin

assess at 48 hrs

Improved No improvement

Complete IV antibiotics for 10 Third generation cephalosporin


days (Cefotaxime or Ceftriaxone) +
Cloxacillin for 7-10days

Chest X ray is to be done for all cases of very severe pneumonia to


look for empyema & pneumothorax
TATA LAKSANA

• UMUM
– Pemberian Oksigen secara kanula nasal,head
box atau masker, untuk mempertahankan
saturasi O2 diatas 92% (rekomendasi A)
– Bila memerlukan infus, jumlah cairan yang
diberikan 80% dari kebutuhan, dan monitor
elektrolit untuk SIADH (rekomendasi C)
………TATA LAKSANA

– Anti piretik dan analgesik diberikan bila


perlu
– Chest physiotherapy tidak terlihat
manfaatnya (rekomendasi B)
– Minimal handling untuk mengurangi
metabolisme dan kebutuhan oksigen
– Monitor HR,Suhu RR dan saturasi
oksigen paling tidak tiap 4 jam
(rekomendasi D)
………TATA LAKSANA

• ANTIBIOTIKA
– Pada keadaan berat dan pemberian oral tidak
memungkinkan,antibiotika diberikan
intravena
– Pilihan jenis antibiotika secara empiris untuk
kausa tersering (H.influenzae dan
S.pneumonia)
………TATA LAKSANA

• ANTIBIOTIKA
– Pada keadaan berat dan pemberian oral tidak
memungkinkan,antibiotika diberikan
intravena
– Pilihan jenis antibiotika secara empiris untuk
kausa tersering (H.influenzae dan
S.pneumonia)
………TATA LAKSANA

• umur < 3bulan kombinasi golongan


penisilin (ampisilin atau amoksisili)
dengan golongan aminoglikosid
• umur > 3 bulan kombinasi golongan
penisilin dengan kloramfenikol
atau antibiotika golongan sefalosporin
• lama pemberian 10-14 hari
• evaluasi pemberian antibiotika dilakukan
48-72 jam
………TATA LAKSANA

• Antibiotika oral untuk umur < 5 tahun pilihan


pertama adalah amoksisilin, alternatif yaitu
amoksiklav,sefalosporin, eritromisin,
klaritromisin,azitromisin (B)
• Makrolid bila dicurigai mikoplasma dan klamidia
(D)
• Antibiotika secara oral efektif untuk anak dengan
CAP (A)
• kombinasi kloksasilin-amoksisilin bila kuman
penyebab stafilokokus aureus (D)
• Amoxicillin 3 days, effective in non
severe pneumonia inchildren 2-59
months of age
(ISCAP study group, BMJ 2004, 328:791)
• Cilinical outcome with oral amoksisilin was
comparabel to injectable penicilin inhospitalized
children with severe pneumonia
( Yobo et al. Lancet 2004; 364:1141-48)
• Chloramphenicol was effective treatment

of children with severe pneumonia


( Duke et al.Lancet 2002; 359:478-80)

• Ampisilin + Gentamisin is better than


Chloramphenicol for very severe
pneumonia in children 2-59 months of
age

(WHO, 2005)
Pencegahan
• Hindari pencetus bahan polusi
 asap rokok
• Hidup bersih  mencuci
tangan & tidak jajan
sembarangan
• Menjaga kebersihan lingkungan
• Memberikan ASI selama 6
bulan pertama
Pencegahan
• Menjaga keseimbangan
nutrisi anak
• Pemberian vaksin
• Menjaga daya tahan tubuh
anak  cukup istirahat dan
olahraga
• Mengusahakan tempat
tinggal dengan ventilasi baik
Pencegahan

• Pemberian vaksinasi DPT,


BCG, campak, pneumokokus,
haemofilus influenza,
dan influenza
Pencegahan
Bronchiolitis
• a disorder most commonly caused in infants by viral
lower respiratory tract infection (LRTI).
• the most common lower respiratory infection in
children 1 month – 2 years of age
• characterized by
– acute inflammation
– edema and necrosis of
epithelial cells lining
small airways
– increased mucus
production
– bronchospasm
Signs and Symptoms
• rhinitis
• tachypnea
• wheezing
• cough
• Crackles
• nasal flaring
• use of accessory muscles
RSV
• Most common etiologic agent for bronchiolitis
• highest incidence of infection occurring between
December and March
• 90% of children infected within first 2 years of life
– up to 40% of them will have lower respiratory infection

• Infection with RSV does not


grant permanent or long-term
immunity
• Reinfections are common
Other Agents
Bronchiolitis

• human metapneumovirus
• influenza
• adenovirus
• parainfluenza
Post Infection
• Children who present with severe disease
– persistently increased respiratory effort
– apnea,
– need for intravenous hydration, supplemental
oxygen, or mechanical ventilation
are more likely to present with respiratory
problems as older children (recurrent
wheezing)
• DIAGNOSIS
– Umur < 2 tahun
– Sesak napas
– Mengi yang mengikuti ISPA
– Wheezing expiratoir
– Distres respirasi hari ke 1 atau 2 setelah timbul
rinitis dan batuk
– Paru :
 Suara napas menurun
 Experium diperpanjang
 Ronki basah halus menyebar
• LAB :
– Tidak khas

• RADIOLOGIK :
– Torak emfisematus
– Penambahan corakan bronkovaskuler
PENGOBATAN
• Pengobatan penunjang
• O2, cairan parental mencegah dehidrasi
• Posisi miring 30º - 40º, kepala dan dada sedikit tinggi
• Mengatasi asidosis, gangguan keseimbangan
elektrolit
• Antibiotik, bila terdapat pnemonia bakteri sekunder
• Kortikosteroid tidak bermanfaat
• Ventilasi gagal napas
Pediatric Asthma
Renewing Diagnosis and
Classification of Asthma in Children
UKK Respirologi PP IDAI
2015
Definisi Asma

• Asma adalah penyakit saluran respiratori dengan dasar


inflamasi kronik yang mengakibatkan obstruksi dan
hiperreaktivitas saluran respiratori dengan derajat
bervariasi
• Gejala asma adalah batuk, mengi, sesak napas, dada
tertekan yang timbul secara kronik dan atau berulang,
reversibel, cenderung memberat pada malam atau
dinihari, dan biasanya timbul jika ada pencetus.
• Chronic recurrent cough (batuk kronik berulang, BKB)
dapat menjadi petunjuk awal untuk membantu
diagnosis asma
Diagnosis

• Anamnesis
• Pemeriksaan Fisis
• Pemeriksaan Penunjang

Dasar utama diagnosis adalah anamnesis untuk


menggali manifestasi klinis dengan karakteristik
yang khas mengarah ke asma
Anamnesis (1)

Karakteristik yang mengarah ke asma adalah1:


• Episodisitas : gejala timbul episodik/berulang
• Faktor pencetus
– Iritan: asap rokok, asap bakaran sampah, asap obat nyamuk,
suhu dingin, udara kering, makanan minuman dingin, penyedap
rasa, pengawet makanan, pewarna makanan
– Alergen: debu, tungau debu rumah, rontokan hewan, serbuk sari
– Infeksi respiratori akut karena virus
– Aktivitas fisis: berlarian, berteriak, menangis, atau tertawa
berlebihan

1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
Anamnesis (2)

• Riwayat alergi pada pasien atau riwayat asma


dalam keluarga
• Variabilitas: intensitas gejala bervariasi dari
waktu ke waktu, bahkan dalam 24 jam.
Biasanya malam hari lebih berat (nokturnal)
• Reversibilitas: gejala dapat membaik secara
spontan atau pemberian obat pereda asma
Pemeriksaan Fisik

• Gejala asma:
– Tanpa gejala
– Ada gejala: batuk, sesak,
wheezing, ekspirasi Allergic shiner
memanjang
• Tanda alergi:
– Dermatitis atopik, rinitis alergi
– Allergic shiners, geographic
tongue
Geographic tongue
Pemeriksaan Penunjang (1)

• Uji fungsi paru


– Spirometri
– Peak flow meter
• Uji cukit kulit (skin prick test),
eosinofil total darah, pemeriksaan Spirometri
IgE spesifik
• Uji inflamasi respiratori: FeNO
(fractional exhaled nitric oxide),
eosinofil sputum
• Uji provokasi bronkus dengan
exercise, metakolin, hipertonik salin Peak flow meter
Pemeriksaan Penunjang (2)

Mencari diagnosis banding:


• Uji tuberkulin • Uji defisiensi imun
• Foto sinus paranasalis • CT-scan toraks
• Foto toraks • Endoskopi
• Uji refluks gastroesofagus respiratori
(rinoskopi,
• Uji keringat
laringoskopi,
• Uji gerakan silia bronkoskopi)
Kriteria Diagnosis Asma 2

Gejala Karakteristik
Wheezing , batuk ,  Biasanya lebih dari 1 gejala respiratori
sesak napas, dada  Gejala berfluktuasi intensitasnya seiring
tertekan, produksi waktu
sputum  Gejala memberat pada malam atau
dinihari
 Gejala timbul bila ada pencetus
Konfirmasi adanya limitasi aliran udara ekspirasi
Gambaran obstruksi FEV1 rendah (<80% nilai prediksi)
saluran respiratori FEV1 / FVC ≤ 90%
Uji reversibilitas
(pasca-bronkodilator) Peningkatan FEV1 >12%
Variabilitas Perbedaan PEFR harian >13%
Uji provokasi Penurunan FEV1 >20%, atau PEFR >15%
2. The Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
Alur Diagnosis Asma (1)

• Outline :

• Lebih rinci pada slide selanjutnya


Alur Diagnosis Asma (2)
Alur Diagnosis Asma (3)
Diagnosis Banding (1)
Gejala klinis tidak sesuai dengan karakteristik asma sehingga
perlu dipertimbangkan kemungkinan diagnosis banding 1,2 :

Inflamasi: infeksi, alergi Obstruksi mekanis


• Rinitis, rinosinusitis • Laringomalasia, trakeomalasia
• Chronic upper airway • Hipertrofi timus
cough syndrom • Pembesaran KGB
• Infeksi respiratori • Aspirasi benda asing
berulang • Vascular ring, laryngeal web
• Bronkiolitis • Disfungsi pita suara
• Aspirasi berulang • Malforasi kongenital saluran
• Defisiensi imun respiratori
• Global
Tuberkulosis
1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
2. The Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
Diagnosis Banding (2)

Patologi bronkus Kelainan sistem organ


• Bronkopulmonari lain
displasia • Penyakit refluks gastro-
• Bronkiektasis esofagus (GERD)
• Diskinesia silia primer • Penyakit jantung
• Fibrosis kistik bawaan
• Gangguan
neuromuskular
• Batuk psikogen

1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
2. The Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
Klasifikasi (1)

Berdasarkan umur 1
• Asma bayi – baduta (bawah dua tahun)
• Asma balita
• Asma usia sekolah (5-11 tahun)
• Asma remaja (12-17 tahun)
Dalam pedoman ini hanya dibedakan
asma anak dan asma balita.

1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
Klasifikasi (2)

Berdasarkan fenotip 1,2,3


• Asma tercetus infeksi virus
• Asma tercetus aktivitas (exercise induced asthma)
• Asma tercetus alergen
• Asma terkait obesitas
• Asma dengan banyak pencetus (multiple triggered
asthma)
Dalam pedoman ini klasifikasi berdasarkan fenotip tidak
digunakan untuk kepentingan tatalaksana asma
1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
2. The Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
3. Chung KF, Wenzel SE, Brozek JL, Bush A, Castro M, et al. International European Respiratory Society (ERS)/ATS (American Thoracic Society) on Definiton,
Evaluation, and Treatment of Severe Asthma. Eur Respir J. 2014 Feb;43(2):343-73.
Klasifikasi (3)

Berdasarkan kekerapan timbulnya gejala 1,4


• Asma intermiten
• Asma persisten ringan
• Asma persisten sedang
• Asma persisten berat
Dalam pedoman ini, klasifikasi berdasarkan kekerapan gejala
dipakai sebagai dasar penilaian awal pasien. Ini berubah dari
PNAA sebelumnya yang membagi asma menjadi asma episodik
jarang, asma episodik sering, dan asma persisten.
1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
4. Hamasaki Y, Kohno Y, Ebisawa M, Kondo N, Nishima S, Nishimuta T et al. Japanese Guideline for Childhood Asthma 2014. Allergol Inter 2014; 63:335-56.
Klasifikasi (4)

Klasifikasi kekerapan dibuat pada kunjungan-kunjungan


awal dan dibuat berdasarkan anamnesis :
Kekerapan Uraian kekerapan gejala asma
Intermiten <6x/tahun atau jarak antar gejala ≥6 minggu
Persisten
>1x/bulan, <1x/minggu
ringan
Persisten >1x/minggu, namun tidak setiap hari
sedang
Persisten Gejala asma terjadi hampir tiap hari
berat

1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
4. Hamasaki Y, Kohno Y, Ebisawa M, Kondo N, Nishima S, Nishimuta T et al. Japanese Guideline for Childhood Asthma 2014. Allergol Inter 2014; 63:335-56.
Klasifikasi (5)

Keterangan untuk membuat klasifikasi kekerapan:


1. Klasifikasi berdasarkan kekerapan gejala dibuat setelah
dibuat diagnosis kerja asma dan dilakukan tatalaksana
umum (penghindaran pencetus) selama 6 minggu
2. Jika sudah yakin diagnosis asma dan klasifikasi sejak
kunjungan awal, tatalaksana dapat dilakukan sesuai
klasifikasi
3. Klasifikasi kekerapan ditujukan sebagai acuan awal
penetapan jenjang tatalaksana jangka panjang
4. Jika ada keraguan dalam menentukan klasifikasi
kekerapan, masukkan ke dalam klasifikasi lebih berat.
1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
4. Hamasaki Y, Kohno Y, Ebisawa M, Kondo N, Nishima S, Nishimuta T et al. Japanese Guideline for Childhood Asthma 2014. Allergol Inter 2014; 63:335-56.
Klasifikasi (6)

Kesetaraan klasifikasi PNAA 2004 dengan PNAA 2015


adalah:
PNAA 2004 PNAA 2015
Episodik Jarang Intermiten
Episodik Sering Persisten Ringan
Persisten Sedang
Persisten
Persisten Berat
Klasifikasi (7)

Berdasarkan derajat beratnya serangan2,4


• Asma serangan ringan-sedang
• Asma serangan berat
• Serangan asma dengan ancaman henti napas

Dalam pedoman ini klasifikasi derajat serangan


digunakan sebagai dasar penentuan tatalaksana.

2. The Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
4. Hamasaki Y, Kohno Y, Ebisawa M, Kondo N, Nishima S, Nishimuta T et al. Japanese Guideline for Childhood Asthma 2014. Allergol Inter 2014; 63:335-56.
Klasifikasi (8)
Berdasarkan derajat kendali 1,2,4
• Asma terkendali penuh (well controlled)
– Tanpa obat pengendali : pada asma intermiten
– Dengan obat pengendali : pada asma persisten
(ringan/sedang/berat)
• Asma terkendali sebagian (partly controlled)
• Asma tidak terkendali (uncontrolled)
Dalam pedoman ini, klasifikasi derajat kendali dipakai untuk menilai
keberhasilan tatalaksana yang tengah dijalankan dan untuk penentuan
naik jenjang (step-up), pemeliharaan (maintenance) atau
turun jenjang (step-down) tatalaksana yang akan diberikan.
1. Papadopoulus NG, Arakawa H, Carlsen KH, Custovic A, Gern J, Lemanske R et al. International consensus on (ICON) pediatric asthma. Allergy 2012.
2. The Global Initiative for Asthma (GINA). Global strategy for asthma management and prevention 2014. Available from: www.ginasthma.org
4. Hamasaki Y, Kohno Y, Ebisawa M, Kondo N, Nishima S, Nishimuta T et al. Japanese Guideline for Childhood Asthma 2014. Allergol Inter 2014; 63:335-56.
Klasifikasi (9)
Berdasarkan keadaan saat ini:
• Tanpa gejala
• Ada gejala
• Serangan ringan-sedang
• Serangan berat
• Ancaman gagal napas
Serangan asma adalah episode perburukan yang progresif
akut dari gejala-gejala batuk, sesak nafas, mengi, rasa dada
tertekan, atau berbagai kombinasi dari gejala-gejala
tersebut.
Tahapan Penegakan Diagnosis Asma

1. Diagnosis kerja : Asma


– Dibuat sesuai alur diagnosis asma anak
– Tatalaksana umum : penghindaran pencetus, pereda,
dan tatalaksana penyakit penyulit
2. Diagnosis klasifikasi kekerapan
– Dibuat dalam waktu 6 minggu, dapat kurang dari 6
minggu bila informasi klinis sudah kuat
3. Diagnosis derajat kendali
– Dibuat setelah 6 minggu menjalani tatalaksana jangka
panjang awal sesuai klasifikasi kekerapan
terima kasih