Anda di halaman 1dari 29

LIFE TREATENING

CONDITION IN
EXTREMITY INJURIES
Dr. Nino Nasution, SpOT
DEPARTEMEN ORTHOPAEDI DAN TRAUMATOLOGI FK USU
MEDAN
Pelvic Fracture
Pelvic Anatomy
 Memiliki struktur seperti cincin (pelvicring)
 Terdiri dari 2 hemipelvik dan sacrum
 Akhir dari pelvic ring di :
 Anterior : symphysis pubis
 Posterior : sacroiliac (SI) joints
 Keutuhan pelvic ring untuk stabilitas, seluruhnya
bergantung pada suport ligamen :
 Stabiliitas ROTASIONAL : short posterior SI,
anterior SI, sacrospinous, iliolumbar
 Stabilitas VERTIKAL : long posterior SI,
sacrotuberous, lumbosacral
PELVIC FRACTURE

ANATOMY
Pelvic Fracture
Pelvic Anatomy
Pelvic Fracture
Pelvic Anatomy
 Pelvic ring membagi pelvis menjadi 2 bagian :
 True pelvis : di bawah pelvic brim, extraperitoneal
 False pelvis : di atas pelvic brim, peritoneal dan
retroperitoneal
Pelvic Fracture

PEMERIKSAAN KLINIS
 ANAMNESA
 Mekanisme cedera
 Transportasi pasien
 PEMERIKSAAN FISIK
 Sistim ATLS (ABCD)
 Pemeriksaan Lokal
 LOOK :
 Jejas
 Hematoma (skrotal, labia, pinggang)
 Laserasi (kulit, perineum)
 Perdarahan (meatus, vaginal, rektal)
 Diskrepansi panjang tungkai
Pelvic Fracture
 FEEL:
 Nyeri tekan lokal
 Instabilitas (kompresi/stress test)
 Colok dubur/vaginal --- fragmen tulang
 Refleks bulbocavernosus dan cremaster
 MOVE :
 Nyeri gerak

 PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
 Foto X-ray polos :
 AP, inlet / outlet view
 CT scan
 MRI
Pelvic Fracture
Foto Polos (X-ray) – Proyeksi AP
Pelvic Fracture
Foto Polos (X-ray) – Proyeksi Inlet

 Menilai pergeseran SI joint ke anterior atau posterior,


sacrum atau iliac wing
 Menilai rotasi interna ilium dan cedera impaksi sacral
Pelvic Fracture
Foto Polos (X-ray) – Proyeksi Outlet

 Menilai pergeseran hemipelvis dalam bidang vertikal


 Menilai gambaran disrupsi pelvis: pelebaran SI joint,
diskontinuitas batas sacral, fraktur sacral non-displaced,
disrupsi sacral foramina
Pelvic Fracture
 Petunjuk eksternal adanya suatu pelvic fracture :
 Flank, perineal, scrotal, atau labial ecchymosis
 Tender abdomen
 Ekstremitas bawah terotasi eksterna
 Leg length discrepancy (LLD)
 Perdarahan rectal atau vaginal
 Defisit neurologis ekstremitas bawah unilateral
 Petunjuk adanya suatu cedera urethral atau bladder :
 Scrotal atau labial ecchymosis
 Darah di urethral meatus
 Cedera kompresi anteroposterior (AP) atau fraktur ramus
pubis bilateral superior atau inferior
 High-riding prostate pada RT
Pelvic Fracture
Kondisi Penyerta / Komplikasi Dini
 Kondisi yang sering menyertai fraktur pelvis :
 Perdarahan (arteri iliaka interna dan sistem vena serta
percabangannya)
→ Pemeriksaan AP-LC (anteroposterior – lateral
compression) pada instabilitas hanya boleh
diilakukan SATU KALI → “THE FIRST CLOTH IS
THE BEST CLOTH”
 Cedera genitourinaria (bladder [20%] dan urethra [14%])
 Cedera saraf (pleksus lumbo-sacral)
 Rektum dan vagina (open pelvic fractures)
 Morbiditas dan mortalitas akibat fraktur pelvis : TINGGI →
hemorrhage
Pelvic Fracture
Mechanism of Injury
 PENANGANAN
 Atasi syok ---- infus cairan / transfusi
 Atasi perdarahan interna
 Embolisasi selektif
 Laparatomi
 Stabilisasi fraktur :
 Temporer :
 Pelvic binder / sling
 MAST (Military Antishock Trauser)
 Eksternal fixasi
 Definitif : ORIF
Pelvic Fracture
Stabilisator

Pelvic binder

Military antishock trousers (MAST)


Pelvic Fracture
Hemodynamic Status

Pelvic anterior
external fixator

Pelvic C-clamp
CRUSH SYNDROME
 SEJARAH
 Pertama kali oleh Bywaters (1941)
 Banyak pasien yang terjebak dalam puing-puing
bangunan akibat bom di Blitz → meninggal akibat
gagal ginjal akut
 DEFINISI
 Manifestasi klinis yang hebat akibat penekanan
yang lama pada ekstremitas disertai kerusakan otot
yang luas
 SINONIM
 Traumatik rhabdomyolisis
CRUSH SYNDROME
PATOGENESIS

 Cedera dari sel-sel otot diikuti cedera reperfusi


 Masuknya bahan-bahan (myoglobin, potassium dan
phosphorus) yang berasal dari membran sarkolema ke
dalam sirkulasi
 Myoglobin, Urate, Fosfat → nephrotoksik
 Kalium → kardiotoksik
 Pergeseran air, kalsium dan natrium dari ruang ekstra
selular → gangguan hemodinamik
CRUSH SYNDROME
PATOGENESIS

PATOFISIOLOGI GAGAL GINJAL


 33% pasien dengan rhabdomyolisis akan
mengalami gagal ginjal akut → mortalitas 30-50%
 Mekanisme gagal ginjal :
 Berkurangnya perfusi ginjal
 Pembentukan cast disertai obstruksi tubular
 Efek toksik langsung dari myoglobin pada
tubular ginjal
CRUSH SYNDROME
PATOGENESIS
CAST FORMATION
CRUSH SYNDROME
DIAGNOSIS

PEMERIKSAAN KLINIS
 Klinis tungkai yang cedera hampir seperti normal.
 Edema ringan
 Kulit tampak mengkilat
 Tegang
 Nyeri gerak pasif
 Compartment syndrome
 Sirkulasi :
 Shok
 Arritmia
 Anuria
CRUSH SYNDROME
DIAGNOSIS

 URIN
 Warna teh pekat (dark tea-colored)
 Dipstick → positif darah (walaupun pada
pemeriksaan mikroskopis tidak tampak sel darah
merah)
 LABORATORIUM
 Hiperkalemi
 Hiperfosfatemia
 Hiperuricemia
 Metabolik asidosis
 Enzim creatine kinase (CK) > 10.000 IU/L
CRUSH SYNDROME
PENANGANAN

 Diagnosa cepat
 Penanganan multidisiplin
 Perbaiki sirkulasi
 Perbaiki fungsi ginjal
 Terapi hiperbarik
 Operasi
 Fasiotomi → compartment syndrome
 Amputasi