Anda di halaman 1dari 78

TUGAS MATA KULIAH

Teknik Penyediaan Air Minum


(Materi 1)
Muhammad Dimas Mahardika – 17/415215/TK/46504
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Komponen Utama dari
Jaringan Perpipaan Air Minum

• Bagian utama jaringan perpipaan air minum adalah sebagai berikut[1]:


Komponen Utama dari
Jaringan Perpipaan Air Minum
• Unit air baku adalah sarana dan prasarana pengambilan dan/atau penyedia air baku, meliputi
bangunan penampungan air, bangunan pengambilan/penyadapan, alat pengukuran, dan
peralatan pemantauan, sistem pemompaan, dan/atau bangunan sarana pembawa serta
perlengkapannya[1].
• Unit produksi adalah adalah sarana dan prasarana yang dapat digunakan untuk mengolah air
baku menjadi air minum melalui proses fisik, kimiawi dan/atau biologi, meliputi bangunan
pengolahan dan perlengkapannya, perangkat operasional, alat pengukuran dan peralatan
pemantauan, serta bangunan penampungan air minum[1]
• Unit distribusi adalah sarana untuk mengalirkan air minum dari pipa transmisi air minum sampai
unit pelayanan [1]. Komponen-komponen unit distribusi sendiri terdiri dari:
• Pipa, termasuk sambungan pipa (lurus, belokan, sambungan T)
• Katup-katup (pengatur debit, pengatur tekanan, penguras sedimen, penguras udara/air valve, reduksi water hammer,
dll)
• Pompa (hanya diperlukan jika energi sumber air kurang)
• Unit pelayanan adalah sarana untuk mengambil air minum langsung oleh masyarakat yang terdiri
dari sambungan rumah, hidran umum, dan hidran kebakaran[1]
Komponen Utama dari
Jaringan Perpipaan Air Minum

Unit Air Baku (kiri: Intake building PT Aetra Air Jakarta, kanan: Reservoir di East Sussex, Inggris)

Unit Produksi (kiri: Instalasi Pengolahan Air di Los Angeles, AS, kanan: Instalasi Pengolahan Air di Surabaya)
Komponen Utama dari
Jaringan Perpipaan Air Minum

Unit Distribusi (kiri: pipa PDAM di Pekalongan, tengah: sambungan dan belokan pada pipa, kanan: pumping station di Belanda)

Unit Pelayanan (kiri: contoh unit hidran, kanan: sambungan dan belokan pada pipa, kanan: contoh sambungan PDAM di rumah)
Komponen Utama dari
Jaringan Perpipaan Air Minum

Jaringan perpipaan air minum (kiri: jaringan bercabang; kanan: jaringan loop) [2]
Sejarah Hidraulika
• Hidraulika dalam pipa didahului dengan praktek [2]. Sebelum
masyarakat tahu atau mengerti tentang mengapa dan bagaimana
air mengalir dalam pipa, mereka telah lebih dahulu mengerti dan
mengaplikasikannya dalam kehidupan. Hidraulika, atau ilmu
penggunaan air dan tenaganya, telah ada sekitar 2000 tahun [3].

• Perkembangan Hidraulika di Abad Pertengahan dan Zaman


Klasik
• Romawi dan Yunani Kuno -> Pada masa Kekaisaran Romawi,
dibangun banyak infrastruktur hidraulik, mulai dari akuaduk
untuk infrastruktur air minum hingga ke kincir air untuk
pertanian [4]
• Masa Keemasan Arab dan Islam -> Kincir industri bertenaga
air digunakan mulai dari daerah Al-Andalus di Spanyol
hingga ke daerah Asia Tengah. Insinyur-insinyur muslim juga
mulai menggunakan turbin air dan bendungan sebagai
sumber energi. Energi dari gelombang laut juga mulai
digunakan [5]. Atas: Infrastruktur akaduk peninggalan Romawi, bawah: Bangunan
watermill bersejarah di Hama, Suriah
Sejarah Hidraulika
• Perkembangan Hidraulika di Masa Modern
• Pada tahun 1619, Benedetto Castelli, mempublikasikan
buku “Della Misura dell’Acque Correnti” (Topik Pengukuran
Aliran Air). [6]
• Blaise Pascal (1623-1662) mulai mempelajari hidrodinamika
dan hidrostatika, lalu berhasil menjadi penemu hydraulic
press dan Hukum Pascal yang menyatakan bahwa tekanan
pada zat cair akan diteruskan ke segala arah dengan sama
besar [7].
• Daniel Bernoulli (1700-1783) menemukan Prinsip Bernoulli
yang menyatakan bahwa pada suatu aliran fluida,
penambahan tekanan akan menambah kecepatan aliran [8].
• Jean Poiseuille (1797-1869) menemukan persamaan Hagen- Daniel Bernoulli (1700-1783) Henry Darcy (1700-1783)
Poiseuille yang mendeskripsikan aliran laminar lewat pipa
seragam (yang dia turunkan secara eksperimental lewat
observasi aliran di pembuluh darah) [9].
• Henry Darcy (1803-1858) dan Julius Weisbach (1806-1871)
menemukan Persamaan Darcy-Weisbach yang
mendeskripsikan kehilangan tekanan diakibatkan friksi
terhadap kecepatan rerata fluida[10].
Sejarah Hidraulika

• Perkembangan Hidraulika di Masa Modern


• Pada tahun 1936, Hardy Cross mempublikasikan makalah
berjudul “Analysis of flow in networks of conduits or
conductors” yang isinya kelak terkenal dengan nama Hardy-
Cross Method yang berguna untuk menentukan aliran di
dalam jaringan pipa melalui iterasi[3].
• Pada tahun 1944, Lewis Moody (1880-1953) berhasil
memplot factor friksi Darcy-Weisbach terhadap angka
Reynolds (Re) untuk berbagai nilai kekasaran relatif ε / D[3]
• Pada tahun 1950, komputer pertama kali digunakan dalam
melakukan analisis jaringan pipa[3]

Tampilan aplikasi WaterNet, aplikasi computer untuk simulasi


jaringan pipa[2]
Timeline perkembangan
hidraulika[2]
Konsep Aliran Turbulen dalam Pipa
• Tipe aliran turbulen dikarakteristikan oleh aliran dengan
kecepatan yang fluktuatif dan pergerakan yang tidak teratur.
• Wilayah fluktuasi aliran secara cepat dan acak disebut dengan
eddies. Fluktuasi tersebut menyediakan mekanisme tambahan
untuk transfer momentum dan energi.
• Fluktuasi partikel aliran secara acak memiliki fungsi yang dominan
dalam pressure drop, dan pergerakan acak tersebut harus
diperhitungkan dalam analisis bersamaan dengan kecepatan
rerata[11].
• Ketika sedang dilakukan analisis, variabel-variabel aliran seperti
kecepatan (v) diperhitungkan sebagai:

• Pada aliran turbulen, kekasaran dinding dan gesekan pipa lebih


besar peranannya dibanding viskositas.
• Kehilangan energi pada aliran turbulen lebih banyak dipengaruhi
Ilustrasi aliran laminar dan turbulen [11] oleh kekasaran pipa[11].
Konsep Aliran Turbulen dalam Pipa
• Persamaan Kecepatan Turbulen
• Untuk memodelkan aliran partikel pada fluida turbulen,
dapat digunakan persamaan momentum sebagai berikut:

Aliran turbulen di dalam pipa[11]

• Profil Kecepatan Turbulen


• Tidak seperti aliran laminer, pernyataan matematis untuk
aliran turbulen bersifat semi-empiris dan dibuat
berdasarkan data analisis dan pengukuran langsung (dengan
konstanta yang diambil dari data eksperimental). • Kemudian, persamaan di atas dapat diubah menjadi
persamaan kecepatan dengan mengubah bentuknya sebagai
• Aliran turbulen pada penampang dapat dianggap berikut:
mempunyai empat zona: a) viscous sublayer; b) buffer layer;
c) overlap layer; d) turbulent layer
• Sifat aliran ternyata sangat berbeda-beda pada setiap zona,
sehingga untuk mencari hubungan analitis untuk seluruh
penampang seperti pada aliran laminar menjadi tidak
bisa[11].
Tegangan Geser dalam Aliran Turbulen
• Untuk aliran turbulen, dalam perhitungan tegangan geser total akan terdapat dua komponen, yaitu
komponen tegangan geser laminar yang berlaku di sekitar dinding penampang (tangential stress in viscous
sublayer) dan komponen tegangan geser turbulen yang berada jauh dari dinding penampang:

• Untuk menentukan tegangan geser turbulen, akan digunakan persamaan Navier-Stokes yang termodifikasi
sebagai berikut:

Persamaan tersebut menyatakan bahwa tegangan geser pada aliran turbulen dipengaruhi oleh viskositas
eddy (νt ) dan fluktuasi kecepatan pada segala arah[11].
Tegangan Geser dalam Aliran Turbulen

Perbandingan kecepatan dan tegangan geser pada aliran laminar (kiri) dan turbulen (kanan) [12]

• Tegangan geser pada aliran turbulen biasanya akan lebih besar daripada tegangan geser pada
aliran laminar[13]
• Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan pada aliran yang turbulen, gradien kecepatan antara
tengah penampang serta dindingnya akan lebih curam (du/dy lebih besar) sehingga
menyebabkan tegangan geser yang lebih besar [13].
Jenis-Jenis Fluida
• Fluida
  Ideal
• Fluida ideal adalah fluida yang mempunyai viskositas bernilai nol (μ = 0). Pergerakan dari
fluida ideal disebut sebagai aliran ideal, atau inviscid flow. Dalam aliran ideal, tidak ada gaya
melintang (shear force) yang bekerja dikarenakan viskositas yang tidak ada.

• Pada kenyataannya, semua fluida mempunyai viskositas (μ > 0), sehingga aliran fluida yang
nyata disebut sebagai aliran viskos.
• Walaupun begitu, analisis dengan asumsi aliran fluida ideal dapat dilakukan pada beberapa
situasi tertentu, seperti aliran fluida viskos dengan kecepatan sangat tinggi.
Jenis-Jenis Fluida
• Fluida
  Newtonian
• Fluida Newtonian adalah suatu jenis fluida yang memiliki kurva shear stress dan gradien
kecepatan yang linier[14].

Dimana:
= tegangan geser pada fluida; = viskositas fluida; du/dy = gradien kec. fluida
• Fluida Newtonian akan terus menerus mengalir sekalipun terdapat gaya yang bekerja pada
fluida, karena viskositas fluida ini tidak berubah ketika terdapat gaya yang bekerja pada
fluida.
• Contoh fluida Newtonian: air, udara, etanol, benzene, dan sebagainya.
Jenis-Jenis Fluida
•  Fluida Non-Newtonian
• Fluida Non-Newtonian adalah suatu jenis fluida yang tidak tahan terhadap tegangan geser
(shear stress), gradien kecepatan, dan temperatur (tidak mengikuti hukum Newton tentang
aliran).
• Dengan kata lain, kekentalan (viscosity) merupakan fungsi daripada waktu[14].
• Persamaan Ostwald-de Waele menjelaskan hubungan antara tegangan geser () dengan
gradien kecepatan (du/dy) yang dipengaruhi oleh konstanta perilaku aliran (n)

• Contoh dari fluida Non-Newtonian: cat, minyak pelumas, lumpur, darah, obat-obatan cair,
dan sebagainya
Jenis-Jenis Fluida
Jenis-jenis fluida dan contohnya [15]

Jenis Fluida Karakteristik Contoh


Peningkatan viskositas
Larutan gula,
terlihat dengan jelas dengan
Dilatant suspensi pati
Fluida dengan adanya peningkatan gaya
jagung
viskositas geser
time- Pengurangan viskositas
independent terlihat dengan jelas dengan Darah, kecap,
Pseudoplastic
adanya peningkatan gaya krim, susu
geser

Peningkatan viskositas terlihat
Tinta komputer,
Fluida dengan Rheopectic dengan jelas seiring dengan
madu, lubrikan
viskositas lama durasi tegangan
time-
Penurunan viskositas terlihat Yogurt,
dependent
Thixotropic dengan jelas seiring dengan mentega, cat
lama durasi tegangan dinding

Grafik hubungan antara shear stress


dan shear velocity[14]
Persamaan Bernoulli
• Persamaan Bernoulli (ditemukan oleh Daniel
Bernoulli, 1700-1782) menyatakan bahwa  jumlah
(1) energi pada suatu titik di dalam suatu aliran tertutup
sama besarnya dengan jumlah energi di titik lain pada
jalur aliran yang sama.
(2)
• Dari persamaan Bernoulli diturunkan berdasarkan
hukum Newton II tentang gerak (F=Ma) dengan
anggapan-anggapan sebagai berikut [21] :
• Zat cair adalah ideal, jadi tidak mempunyai
kekentalan (kehilangan energi akibat gesekan
adalah nol).
• Zat cair adalah homogen dan tidak termampatkan
(rapat massa zat cair adalah konstan)
• Aliran adalah kontinyu dan sepanjang garis arus
• Kecepatan aliran adalah merata dalam suatu
penampang.
• Gaya yang bekerja hanya gaya berat dan tekanan
Persamaan Bernoulli

• Persamaan Bernoulli dapat digunakan untuk


menentukan garis tekanan dan tenaga. Garis
tenaga dapat ditunjukkan oleh elevasi muka air
pada tabung Pitot yang besarnya sama dengan
tinggi total dari konstanta Bernoulli [21].

• Sedangkan, garis tekanan dapat ditunjukkan oleh


elevasi muka air di dalam tabung vertical yang
disambung pada pipa. Pada aliran zat cair ideal,
garis tenaga mempunyai tinggi tetap yang
menunjukkan jumlah dari tinggi elevasi, tinggi
tekanan dan tinggi kecepatan [21]
Ilustrasi energy grade line dan hydraulic grade line
Persamaan Bernoulli
• Persamaan Bernoulli untuk Zat Cair Riil
• Untuk zat cair riil (viskos), dalam aliran zat cair akan terjadi kehilangan tenaga yang harus
diperhitungkan dalam persamaan Bernoulli [21].
• Kehilangan tenaga dapat terjadi karena adanya gesekan antara zat cair dan dinding batas
(hf) atau karena adanya perubahan tampang lintang aliran (hq). Kehilangan tenaga yang
disebabkan karena gesekan disebut dengan kehilangan tenaga primer, sedangkan karena
perubahan tampang aliran dikenal sebagai kehilangan tenaga sekunder [21].
• Untuk pipa sangat panjang, kehilangan tenaga primer jauh lebih besar dari kehilangan
tenaga sekunder.
• Kehilangan tenaga dinyatakan dalam bentuk berikut:

 , dengan (kehilangan tenaga primer)


dan (kehilangan tenaga sekunder)
Diagram Moody

• Diagram Moody (Moody chart atau Moody diagram) adalah sebuah grafik dalam bentuk non-
dimensional yang menghubungkan factor friksi Darcy-Wiesbach fD, bilangan Reynold Re, dan
kekasaran permukaan pada aliran di pipa berpenampang lingkaran.
• Diagram ini dapat digunakan untuk memprediksi penurunan tekanan (pressure drop) atau
penurunan debit (flow rate down) pada pipa.
• Selain itu juga, fungsi dari diagram tersebut adalah untuk menyediakan penyajian grafis dari
fungsi Collebrook dan White, yang menyediakan kurva transisi untuk menghubungkan zona
transisi dari pipa halus ke pipa kasar, dan area turbulensi yang tidak lengkap [22].
Diagram Moody
Diagram Moody
•• Dalam grafik Moody, ada tiga zona aliran. Paling kiri dengan angka Reynold sampai dengan 2000 adalah
 zona aliran laminer. Pada zona pertama ini koefisien kekasaran tidak tergantung pada diameter kekasaran
relatif . Pada zona ini, factor kekasaran fd ditentukan oleh rumus:

• Pada zona ke dua ada pada area angka Reynold antara 2000 hinga 4000. Pada area ini aliran tidak menentu
(transisi) antara laminar dan turbulen, sehingga koefisien kekasaran diinterpolasi antara hasil hitungan aliran
laminar dengan aliran turbulen [22].
• Zona ketiga adalah pada aliran turbulen, yaitu daerah dengan angka Reynold di atas 4000. Di daerah ini,
koefisien kekasaran merupakan fungsi angka Reynold dan diameter kekasaran relatif . Sementara, pada zona
ini, factor kekasaran fd ditentukan oleh rumus
Diagram Moody

 • Pada grafik Moody, harga yang harus diketahui adalah yang merupakan kekasaran relative pipa. Jika telah
diitentukan (harga konstan untuk berbagai macam aliran), maka dapat digambarkan garis lengkung seperti
sejajar dengan garis lengkung .

• Kecepatan dapat diperkirakan dan menghitung Re. Jika kedua harga tersebut diketahui, maka dapat ditarik
garis tegak melalui harga Re yang sesuai hingga memotong , dan dari titik pertemuan dapat ditarik garis
horizontal ke kiri memotong harga fungsi f.

• Contoh:
Tentukan faktor friksi (fD) untuk aliran fluida di pipa dengan diameter 700 mm yang mempunyai angka
Reynolds 50.000.000 dan kekasaran absolut 0,035 mm.

Solusi: Kekasaran relatif sama dengan ε = 0.035 / 700 = 5 x 10-5. Menggunakan diagram Moody, bilangan
Reynolds 50.000.000 berpotongan dengan kurva kekasaran relatif of 5 x 10-5 dengan faktor friksi 0.011.
(Contoh penggunaan diagram ada di slide selanjutnya).
Diagram Moody
TUGAS MATA KULIAH

Teknik Penyediaan Air Minum


(Materi 2)
Muhammad Dimas Mahardika – 17/415215/TK/46504
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Perbedaan Pers. Darcy-Weisbach dan Hazen
William

𝟖 𝑳 𝑸𝟐 𝟏𝟎 , 𝟔𝟕𝟓 𝑳 𝑸
 
𝒉𝒇 =𝒇 𝟐 ( 𝟓 ) 𝒉  𝒇 = ( )
𝑫
𝟒 , 𝟖𝟕𝟎𝟒
𝑪
𝝅 𝒈 𝑫

• Persamaan Darcy-Weisbach Persamaan Hazen-Williams


memperhitungkan kekasaran hanya menggunakan faktor
internal (f), kecepatan (v), dan tanpa dimensi “C” untuk
kelandaian hidraulik (L) dalam menghitung kehilangan
menghitung kehilangan head head pada pipa.
pipa.
Perbedaan Pers. Darcy-Weisbach dan
Hazen Williams

• Berdasarkan perhitungan dari Triatmadja (2007), perbedaan


hasil antara Darcy-Weisbach dan Hazen-Williams bisa
mencapai lebih dari 40% yang terjadi jika angka Reynold
mencapai lebih dari 107
• Walaupun begitu, dalam kondisi yang lebih realistis – seperti
dalam jaringan pipa air minum – perbedaan yang dihasilkan
biasanya hanya sekitar 10%, dan hasil persamaan Darcy-
Weisbach lebih besar dari hasil persamaan Hazen Williams [2].
• Pada kasus hidraulika tersebut, persamaan Hazen William akan
memberikan hasil yang mendekati persamaan Darcy
Grafik hasil perhitungan dengan Hazen-Williams dan Weisbach[2].
Darcy-Weisbach pada kondisi pipa yang sama [2].
Perbedaan Pers. Darcy-Weisbach dan Hazen
William

• Kedua persamaan sama-sama empiris


• Persamaan Darcy-Weisbach lebih tepat dari segi dimensi, dan lebih
sering digunakan[17].
• Persamaan Hazen-Williams hanya dianggap valid pada range data
tertentu[17].
• Persamaan Hazen-Williams tidak bisa diterapkan ke fluida jenis lain
tanpa eksperimen lebih lanjut[17].
Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

• Kehilangan Energi Primer


• Kehilangan energi primer adalah kehilangan energi yang disebabkan oleh gesekan atau friksi
dengan dinding pipa[2].
• Kehilangan energi tersebut disebabkan karena cairan atau fluida mempunyai kekentalan dan
dinding pipa tidak lincin sempurna
• Pada dinding yang licin sempurna, maka secara teoritis tidak akan ada kehilangan energi[2]

  𝑳 𝑽𝟐 dengan: f = koefisien gesek (Darcy Weisbach)


𝒉𝒇 =𝒇 ( ) L = panjang pipa (m)
𝑫 𝟐𝒈 D = diameter pipa (m)
g = percepatan gravitasi bumi (m/s2)
Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

• Kehilangan Energi Primer


• Kehilangan energi primer merupakan fungsi dari sistem geometri, properti fluida, dan debit
di dalam sistem[2].
• Koefisien kehilangan energi (f) dipengaruhi oleh kekasaran serta kekentalan fluida.
• Semakin kasar suatu penampang, maka koefisien kehilangan energi semakin besar
• Semakin besar harga kekentalan fluida, koefisien kehilangan energi semakin besar.
Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

Kehilangan Energi Primer


Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

• Kehilangan Energi Sekunder


• Kehilangan energi sekunder adalah kehilangan energi ketika air berbelok dan mengalami
perubahan penampang secara mendadak [2].
• Perubahan penampang dapat terjadi ketika saluran mengalami penyempitan atau
pembesaran secara tiba-tiba, dan juga ketika melewati katup.
• Ketika terjadi hal tersebut, energi air dapat hilang dikarenakan turbulensi [2].
• Kehilangan energi sekunder dapat dinyatakan oleh persamaan berikut:

  𝑸𝟐 dengan: k = koefisien kehilangan energi minor


𝒉𝒔 =𝒌 ( 𝟐
) A = luas penampang
𝟐𝑨 𝒈 Q = debit aliran
Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

• Kehilangan Energi Sekunder


• Walaupun kehilangan energi sekunder biasa disebut kehilangan energi minor,
kehilangan di tempat-tempat tersebut bisa saja lebih besar daripada
kehilangan energi mayor [2].
• Hal tersebut dapat terjadi terutama pada kondisi pipa yang pendek, di mana
karena panjang pipa yang kurang, kehilangan energi mayor tidak sempat
untuk mencapai buildup yang cukup.
• Sebaliknya, pada kondisi pipa yang sangat panjang, kehilangan energi minor
tidak signifikan terhadap kehilangan energi primer [2].
Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

• Kehilangan Energi Sekunder


Kehilangan Energi Primer dan Sekunder

Ilustrasi aliran dalam pipa dan kehilangan energi tenaga mayor (utama) maupun minor (sekunder). Air
keluar dengan masih menyisakan energi potensial [2]
Persamaan Kontinuitas Massa dan Energi

• Persamaan Kontinuitas Massa


• Selama debit Q kontinyu, Persamaan Kontinuitas pada arah aliran satu
dimensi menyatakan bahawa aliran pada dua titik akan sama besarnya[17]:
  =

Kemudian dapat dinyatakan bahwa:

Laju aliran massa: ṁ = ρQ = ρAv


Laju aliran volume: Q = Av

Untuk aliran mantap: Laju aliran massa di (1) = Laju aliran massa di (2)
ṁ1 = ṁ2
ρAV1 = ρAV2
AV1 = AV2
Persamaan Kontinuitas Massa dan Energi

• Persamaan Kontinuitas Massa


• Kemudian, Persamaan Kontinuitas Massa yang diterapkan pada aliran yang
bercabang dapat dinyatakan lewat persamaan berikut:

  ṁ=∑ ṁ
∑ 𝑎𝑡𝑎𝑢
  ∑ ρQ=∑ ρQ
𝑖𝑛 𝑜𝑢𝑡 𝑖𝑛 𝑜𝑢𝑡

  Q=∑ Q

Lalu untuk aliran inkompresibel:
𝑖𝑛 𝑜𝑢𝑡
ṁ1 = ṁ2 + ṁ3
Persamaan Kontinuitas Massa dan Energi

• Persamaan Kontinuitas Energi


• Persamaan Kontinuitas Energi biasa dinyatakan sebagai Persamaan
Brenoulli[18]. Konservasi energi mekanik untuk aliran mantap tanpa kehilangan
energi dinyatakan dengan:

 P 𝑉2 di mana:
+ + 𝑧=𝑘𝑜𝑛𝑠𝑡𝑎𝑛
γ 2𝑔  P
=𝑣𝑒𝑙𝑜𝑐𝑖𝑡𝑦 h𝑒𝑎𝑑 (energi kinetik )
γ
 𝑉 2
= 𝑝𝑜𝑡𝑒𝑛𝑡𝑖𝑎𝑙 h𝑒𝑎𝑑 (energi potensial)
2𝑔
Persamaan Kontinuitas Massa dan Energi

• Persamaan Kontinuitas Energi


• Kemudian, jika terdapat kehilangan energi (head loss) maka persamaan
kontinuitas energi akan menjadi:

 𝑃 2 2
1 𝑉 1 𝑃 2 𝑉 2
+ + 𝑧 1= + + 𝑧 2+ h𝑓 +h 𝑠 𝑃  𝑛 =tekanan pada segmen
γ 2𝑔 γ 2𝑔
𝑉  𝑛 =kecepatan rerata fluida
di mana: 𝑧  𝑛=tinggi datum
h  𝑓 , h 𝑠=head loss , kehilangan energi   = berat jenis fluida
  = percepatan gravitasi

𝑃
  1 − 𝑃2=γ h
• Kehilangan tekanan dapat dinyatakan dengan:
Metode Hardy-Cross
• Pada jaringan pipa, ada dua persamaan yang harus dipenuhi yaitu:
• Persamaan kontinuitas massa (pada node)
• Persamaan energi (pada pipa)
• Salah satu metode penyelesaian aliran pada jaringan pipa adalah dengan Metode
Hardy-Cross, yang mencoba arah aliran dan debit aliran pada semua pipa [19].
• Jika ternyata persamaan kontinuitas dan energi belum terpenuhi maka percobaan
diulang dengan menggunakan harga baru yang telah dikoreksi.
• Hardy Cross mengembangkan dua metode untuk memecahkan permasalahan
jaringan aliran. Masing-masing metode dimulai dari diketahui kontinuitas aliran
atau potensial, lalu selanjutnya diiterasi[19]
Metode Hardy Cross
• Metode Hardy Cross juga disebut sebagai persamaan Loops.
Persamaan tersebut terdiri dari persamaan:
• Persamaan Kontinuitas:
Pada tiap node berlaku persamaan:

∑ 𝑄𝑖=𝑞𝑒𝑘𝑠𝑡𝑒𝑟𝑛𝑎𝑙
 

Pada tiap pipa berlaku persamaan energi:

𝑛
∑ 𝐾 𝑖 𝑄𝑖 =0
 
Metode Hardy Cross
Langkah-langkah perhitungan dan iterasi dengan Metode Hardy Cross[2]

Asumsikan harga Q

Hitung harga f
berdasarkan Q

Hitung harga DQ tiap loop dan


lakukan koreksi

Ketelitian energi (hf )


cukup ?
TIDAK

YA

SELESAI
Metode Hardy Cross
• Dalam kasus aliran dalam pipa, konservasi aliran berarti bahwa aliran masuk
sama dengan jumlah aliran keluar pada setiap percabangan di pipa.
• Sementara, konservasi energi mempunyai arti bahwa jumlah headloss pada
loop di system akan sama dengan nol (dengan asumsi bahwa headloss yang
melawan arah aliran adalah headgain) [20].
Metode Hardy Cross
• Methods of Balancing Flows (1)
• Metode ini dapat digunakan jika total flow rate diketahui. Tekanan atau head pada
percabangan tidak perlu diketahui.
• Pertama-tama, didefinisikan kehilangan energi mayor:

• Lalu, didefinisikan headloss searah dan berlawanan arah jarum jam:

• Karena headloss total bernilai konstan, maka:


Metode Hardy Cross
• Methods of Balancing Flows (2)
• Tinjau ulang bahwa di asumsi awal bahwa nilai-nilai yang hilang belum disetimbangkan:

• Karena DQ2 saling menghilangkan, maka DQ dapat dinyatakan sebagai:

• Karena diketahui bahwa:


Metode Hardy Cross
• Methods of Balancing Flows (3)
• Dapat dinyatakan bahwa:

• dan untuk dengan menggunakan faktor friksi Darcy Weisbach:

• DQ adalah perubahan aliran (koreksi) yang akan melakukan balance di loop. Walaupun begitu,
DQ hanyalah sebuah aproksimasi sehingga perlu dilakukan iterasi berulang kali sampai DQ
mendekati nol dan mengaproksimasi jawaban yang benar.
Metode Hardy Cross
• Methods of Balancing Flows (3)
• dan untuk faktor friksi lain dapat dipertimbangkan dari[18]:

Hazen-Williams

Darcy-Weisbach
End of Discussion
Referensi
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. "Panduan pendampingan sistem penyediaan air minum (SPAM) perpipaan berbasis
[1]

masyarakat." Direktorat Jenderal Cipta Karya, Kementerian PUPR. Jakarta (2016).


[2] Triatmadja, R., 2009. Hidraulika Sistem Jaringan Perpipaan Air Minum. Beta Offset, Yogyakarta.
[3] Walski, T.M., 2000. Hydraulic design of water distribution storage tanks. Water distribution systems handbook, pp.10-1.
[4] Tomlinson, R.A., 1976. The perachora waterworks: Addenda. Annual of the British School at Athens, 71, pp.147-148.
[5] Lucas, A.R., 2005. Industrial milling in the ancient and medieval worlds: a survey of the evidence for an industrial revolution in medieval
Europe. Technology and culture, 46(1), pp.1-30.
[6] "The Galileo Project – Science – Benedetto Castelli". Galileo.rice.edu. [diakses 19 April 2020]
[7] “Blaise Pascal”. Wikipedia. [diakses 19 April 2020
[Anon.] (2001) "Daniel Bernoulli", Encyclopædia Britannica
[8]

[9] Pfitzner, J., 1976. Poiseuille and his law. Anaesthesia, 31(2), pp.273-275.
[10] Brown, Glenn. "The Darcy–Weisbach Equation". Oklahoma State University–Stillwater.
[11] Cengel, Y.A., 2010. Fluid mechanics. Tata McGraw-Hill Education.
[12] “4.4: Turbulent Shear Stress” Geosciences LibreText. [diakses 22 April 2020]
[13] “Which_one_offers_biggest_shear_stress_value_than_other_laminar_or_turbulent?”. Research Gate (2015). [diakses 22 April 2020]
[14] ” ”Classification of liquids, fundamental equations and boundary conditions”. Shodganga. [diakses 22 April 2020]
[15] ”Non-Newtonian Fluids”. Wikipedia. [diakses 22 April 2020]
Referensi
[16] ”Closed conduit flow”. CEE 332, School of Civil and Environmental Engineering, Cornell University. [diakses 25 April 2020]
“Continuity and Energy Equations: Continuity and mass conservation”. Fundamentals of Engineering Exam Review,
[17]

Georgia Tech, Coursera. [diakses 26 April 2020]


Continuity and Energy Equations: Energy equation:”. Fundamentals of Engineering Exam Review, Georgia Tech, Coursera.
[18] “

[diakses 26 April 2020]


[19] “ Hardy Cross method”. Wikpedia. [diakses 26 April 2020]
[20] “Hardy-Cross Method”. School of Mechanical Engineering UTM. [diakses 26 April 2020]
[21] Triatmodjo, B., 1996. Hidraulika I. Beta Offset, Yogyakarta.
[22] ”Moody Chart” Wikipedia. [diakses 5 Mei 2020]
TUGAS MATA KULIAH

Teknik Penyediaan Air Minum


(Latihan Soal)
Muhammad Dimas Mahardika – 17/415215/TK/46504
Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan
Permasalahan Sisa Tekanan
Permasalahan Sisa Tekanan
Sebuah pipa dengan diameter 0,102 m harus mengalirkan air dari reservoir ke
outlet sebesar 0,01 m3/detik. Elevasi outlet +100 m. Jika koefisien kekasaran pipa
f=0,03 dan panjang pipa 2000 m, berapa kehilangan tenaga yang perlu
dipersiapkan?

Jawab:
• Untuk menghitung kehilangan tenaga,
2 2
 8 𝑓 . 𝐿 𝑄 =8 .0,03. 2000 0,01 =44,9 𝑚
5 2
𝐷 π .𝑔 ( 0,102 )5 π 2 .9,81
Permasalahan Sisa Tekanan
Sebuah mata air berada pada ketinggian +400 m dan akan diambil airnya untuk pelayanan air
minum di daerah ketinggian +150 m. Debit rerata yang akan dialirkan sebesar 20 l/s dengan debit
puncak 35 l/s. Jarak antara kedua lokasi tersebut adalah 10.000 m. Agar pipa yang digunakan
efisien, maka direncanakan akan dibangun penyaluran hingga daerah distribusi. Pipa jaringan
transmisi direncanakan berdiamater 6” atau 15 cm. Agar memudahkan perhitungan, maka
koefisien kekasaran dinding pipa dimisalkan sebagai konstanta sebesar 0,02. Kondisi daerah
transmisi ditunjukkan pada gambar berikut
Permasalahan Sisa Tekanan
Jawab:
Kemungkinan 1:
Debit rerata (0,02 m3/s) Debit puncak (0,035 m3/s)

   

Sisa tekanan = 25-8,7 = 16,3 m Sisa tekanan = 25-26,7 = -1,17 m

Dari hasil perhitungan, pada Kemungkinan 1 (yang mana terdapat penambahan tangki pelepas tekan pada jarak
1000 m), dapat dibuat observasi bahwa:

1. Pada keadaan pipa dialiri dengan debit rerata, air mampu mengalir sempurna dan dengan sisa tekanan yang
cukup sebesar 16.3 m
2. Walaupun begitu, hal tersebut tidak berlaku apabila pipa dialiri air dengan debit puncak. Sisa tekanan
dibawah 0 sehingga ada warga dalam jumlah kecil yang tidak dapat dilayani.
Permasalahan Sisa Tekanan
Kemungkinan 2:
Debit rerata (0,02 m3/s) Debit puncak (0,035 m3/s)

   
Sisa tekanan = 100-34,80 = 65,20 m Sisa tekanan = 100-106,6 = -6,6 m

Dari hasil perhitungan, pada Kemungkinan 2 (yang mana terdapat penambahan tangki pelepas tekan pada jarak 4000
m), dapat dibuat observasi bahwa:

1. Pada keadaan pipa dialiri dengan debit rerata, air mampu mengalir sempurna dan dengan sisa tekanan yang cukup
sebesar 65.2 m
2. Walaupun begitu, hal tersebut tidak berlaku apabila pipa dialiri air dengan debit puncak. Sisa tekanan dibawah 0
sehingga ada warga dalam jumlah kecil yang tidak dapat dilayani.
3. Pemilihan lokasi bak pelepas tekan dengan kemungkinan 2 belum menunjukkan keberhasilan
Permasalahan Sisa Tekanan
Kemungkinan 3:
Debit rerata (0,02 m3/s) Debit puncak (0,035 m3/s)

   
Sisa tekanan = 7000-60,9 = 114,1 m Sisa tekanan = 175-186,6 = -11,6 m

Dari hasil perhitungan, pada Kemungkinan 3 (yang mana terdapat penambahan tangki pelepas tekan pada jarak 7000 m),
dapat dibuat observasi bahwa:

1. Pada keadaan pipa dialiri dengan debit rerata, air mampu mengalir sempurna dan dengan sisa tekanan yang cukup
sebesar 16.3 m
2. Walaupun begitu, hal tersebut tidak berlaku apabila pipa dialiri air dengan debit puncak. Sisa tekanan dibawah 0
sehingga ada warga dalam jumlah kecil yang tidak dapat dilayani.
3. Pemilihan lokasi bak pelepas tekan dengan kemungkinan 3 belum menunjukkan keberhasilan
4. Dari semua alternatif, tidak ada satu pun lokasi yang menimbulkan sisa teknana positif
Permasalahan Sisa Tekanan
Kesimpulan:
• Dari ketiga alternatif yang ada, belum ada hasil yang tepat, serta perubahan letak tangka juga masih belum
memberikan hasil yang diinginkan
• Walaupun begitu, jika diameter pipa diperbesar menjadi 0,16 m, maka dapat dihasilkan sisa tekanan yang nilainya
disajikan di tabel berikut (bersama dengan scenario pertama)

Sisa Tekanan (m)


Dimensi Minimal Jika pipa diperbesar -> 0,16 m
Saat Debit Saat Debit Saat Debit Saat Debit
Kemungkinan
Rerata Puncak Rerata Puncak
Kemungkinan 1 0,122 0,152 18,7 5,7
Kemungkinan 2 0,122 0,152 74,8 22,8
Kemungkinan 3 0,122 0,152 130,9 33,9

• Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem jaringan pipa ini membutuhkan perubahan dimensi pipa, alih-alih
perubahan lokasi bak tekan
Katup Pengatur dan Pembagi Aliran
Katup Pengatur dan Pembagi Aliran

Elevasi muka air pada reservoir adalah + 200 m. Elevasi di titik pengambilan 2,4,6, dan 7 adalah 160 m,
120 m, 80 m, dan 40 m. Panjang dan diameter semua pipa sama, yakni panjang = 200 m, dan diameter =
0.1 m. Jika f dianggap konstan = 0.01, bagaimana caranya agar dapat membagi air masing-masing di titik
2,4,6, dan 7 sama rata yaitu 10 liter per detik?
Katup Pengatur dan Pembagi Aliran
•• Diasumsikan
  friksi (f) = 0.01, dan pada elevasi +160 m, panjang pipa = 400 m
• Kemudian, dapat dihitung headloss sebagai:

hf = 200-160 = 40
hf = + = 40. untuk mencari kecepatan,
= hf ( = 40 ( ) = 19.14  v = 4.375 m/s

• Sehingga didapatkan debit:


Q = A. = π. =  34.375 l
Katup Pengatur dan Pembagi Aliran
• Ditentukan bahwa debit target (Q target) = 10 l/s. Berdasarkan hal tersebut, maka
kecepatan (v) harus diubah menjadi1.27 m/s. Diperlukan kehilangan energi sekunder
untuk mengecilkan nilai kecepatan.
• Dengan pipa yang mempunyai panjang > 200 m, hs (kehilangan energi sekunder) tidak
lagi signifikan. Agar dapat memberikan hs (kehilangan energi sekunder) yang signifikan,
harus diberikan katup pada pasangan pipa.

• Kemudian, dapat diperhatikan energi-energi sekunder sebagai berikut:


Koefisien kehilangan energi pada inlet = 0.5
Koefisien kehilangan energi pada outlet = 1
Koefisien kehilangan energi akibat sambungan = 0.01
Katup Pengatur dan Pembagi Aliran
•• Diasumsikan
  bahwa panjang dari setiap pipa 4 m, sehingga terdapat sambungan
sebanyak 99 buah.
• Maka, koefisien kehilangan energi sambungan adalah
99 x 0.01 = 0.99 ≈ 1.
• Kemudian, koefisien kehilangan energi total adalah
1 + 1.5 = 2.5.
• Lalu, kehilangan energi dapat dihitung selanjutnya dengan Persamaan Darcy-Weisbach:

hf = ( +(Kk + 2.5)
• Didapatkan bahwa dengan:
v = 1,27 m/s
hf = 40 m

Didapatkan koefisien kehilangan energi akibat katup (Kk) sebesar 441.92


• Dengan cara yang sama, dilakukan perhitungan pada masing-masing
titik dan didapatkan hasil seperti berikut :
Elevasi (m) Panjang Pipa (m) Kk
120 600 905.59
80 800 1369.9
40 800 1854.4

 Semakin rendah titik acuan dari elevasi reservoir, diperlukan kehilangan energi akibat katup yang
semakin besar.
Permasalahan Jaringan Loop Pipa
Permasalahan Hardy-Cross
Sebuah jaringan pipa dengan harga f yang dianggap sama untuk setiap pipa (f=0,02) dan
dengan diameter dan panjang seragam (berturut-turut sebesar 200 meter dan 0,1 meter)
mempunyai pengaliran debit masuk dan keluar seperti di gambar. Jika elevasi semua node
sama dan tekanan di node nomor 1 adalah 20 meter, berapa tekanan di setiap titik lainya?
Permasalahan Hardy-Cross
Jawab:
• Bagian dari jaringan tersebut yang merupakan loop adalah rangkaian pipa 2,5,3, dan
3,6,4, atau 2,5,3, dan 2,5,6,4. Dikarenakan hal tersebut, pipa 1 dan pipa 7 dapat dihitung
secara langsung (tidak memerlukan metode Hardy Cross)
• Untuk Pipa 1:

hf = 3,31 meter (dibulatkan ke atas)


Jadi tekanan di node 2 (node nomor 2) adalah:
P2 = 20-3,31 = 16,69 meter
Permasalahan Hardy-Cross
• Tekanan pada node 6 belum dapat dihitung karena tergantung pada node 5. Oleh
karenanya tekanan P6 dihitung setelah semua node yang lain diperoleh tekanannya.
• Dikarenakan hukum kontinuitas telah terpenuhi (air yang masuk 10 l/s dan yang keluar
juga 10 l/s).
• Untuk memulai hitungan, semua debit pipa pada jaringan loop dimisalkan (Karena pada
dasarnya Metode Hardy Cross adalah metode iterasi dengan trial dan error)
Permasalahan Hardy-Cross
• Trial Pertama:

• Pada tiap node, hukum kontinuitas wajib dipenuhi (yaitu jumlah debit yang masuk sama
dengan jumlah debit yang keluar).
• Pada asumsi percobaan pertama, arah aliran dimisalkan seperti ditunjukkan oleh arah
anak panah. Arah aliran nantinya mempengaruhi tanda kehilangan tenaga saat
melakukan koreksi.
Permasalahan Hardy-Cross
• Dengan asumsi di atas maka diperoleh:

• Untuk pipa yang lain, hf = 0 karena diasumsikan tidak ada aliran


• Jika aliran bergerak dari node 2 ke node 2 lagi dapat dipastikan tidak akan ada energi
yang hilang (karena tidak ada penggal pipa yang harus dilewati)
Permasalahan Hardy-Cross
• Jika aliran bergerak dari node 2 ke node 5 kemudian ke node 4 dan akhirnya Kembali ke
node 2, maka jumlah kehilangan energi dari semua pipa yang dilewati juga harus nol.
Maka dapat ditulis persamaan:

• Namun dari asumsi di atas diperoleh:

Sehinga harus ada koreksi terhadap asumsi debit dahulu.


Permasalahan Hardy-Cross
• Untuk mengoreksi debit, maka diperlukan koreksi debit yang persamaannya ialah
sebagai:

• Dalam penyelesaian, selanjutnya digunakan Persamaan Darcy Weisbach (n=2). Dalam


metoda Hardy Cross, kehilangan energi hf negative jika arah aliran berkebalikan arah
jarum jam (counterclockwise) dan positif jika searah dengan putaran jarum jam
(clockwise):
Permasalahan Hardy-Cross
• Untuk loop 1 pada permasalahan tersebut didapatkan:

• Jika DQ tersebut diaplikasikan pada jaringan sebagai koreksi, diperoleh asumsi baru
• DQ sebesar -2l/s telah diapliasikan pada pipa 4 dan 6 dengan arah berturut-turut dari node 2 ke 4
dan dari node 4 ke node 6. Selain itu juga, koreksi juga dilakukan pada pipa 3 sehingga debit
berkurang menjadi 2.0 l/s. Hal ini diasumsikan karena dalam loop 2, aliran searah jarum jam
sehingga karena ditemukan DQ negative, koreksi tersebut berlawanan arah dengan jarum jam
Tahap 1
Loop 1 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 2 200 0,1 0,02 0,004 33050,7 0,52881 132,203
Pipa 5 200 0,1 0,02 0 33050,7 0
Pipa 3 200 0,1 0,02 -0,004 33050,7 -0,5288 132,203
0 264,406 0

Loop 2 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 3 200 0,1 0,02 0,004 33050,7 0,52881 132,203
Pipa 6 200 0,1 0,02 0 33050,7 0
Pipa 4 200 0,1 0,02 0 33050,7 0 0
0,52881 132,203 -0,002

Pipa 3, ada dua koreksi dari Loop 1 dari Loop 2 total = -0,002

Tahap 2
Loop 1 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 2 200 0,1 0,02 0,004 33050,7 0,52881 132,203
• Kemudian, hitungan dimulai lagi untuk percobaan 2,
Pipa 5 200 0,1 0,02 0 33050,7 0
Pipa 3 200 0,1 0,02 -0,002 33050,7 -0,1322 66,1015 3, dan seterusnya.
0,39661 198,304 -0,001

Loop 2 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 3 200 0,1 0,02 0,002 33050,7 0,1322 66,1015
Pipa 6 200 0,1 0,02 -0,002 33050,7 -0,1322
Pipa 4 200 0,1 0,02 -0,002 33050,7 -0,1322 0
-0,1322 66,1015 0,00033

Pipa 3, ada dua koreksi dari Loop 1 dari Loop 2 total = -1,33E-03
Tahap 3
Loop 1 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 2 200 0,1 0,02 0,003 33050,7 0,29746 99,1522
Pipa 5 200 0,1 0,02 -0,001 33050,7 -0,0331
Pipa 3 200 0,1 0,02 -0,0033 33050,7 -0,3672 110,169
-0,1028 209,321 0,00021

Loop 2 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 3 200 0,1 0,02 0,00333 33050,7 0,36723 110,169
Pipa 6 200 0,1 0,02 -0,0017 33050,7 -0,0918 55,0846
Pipa 4 200 0,1 0,02 -0,0017 33050,7 -0,0918 55,0846 • Dikarenakan hitungan koreksi sudah mendekati nol,
0,18362 220,338 -0,00042
maka dapat dihentikan. Hasilnya disaijkan dalam
Pipa 3, ada dua koreksi dari Loop 1 dari Loop 2 total = 6,29E-04 table terakhir dan gambar di bawah ini:

Tahap 4
Loop 1 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 2 200 0,1 0,02 0,00321 33050,7 0,34101 106,163
Pipa 5 200 0,1 0,02 -0,0008 33050,7 -0,0205
Pipa 3 200 0,1 0,02 -0,00270 33050,7 -0,2418 89,3872
0,07874 195,55 -0,000178

Loop 2 L D f Q K hf hf/Q DQ
Pipa 3 200 0,1 0,02 0,00270 33050,7 0,24175 89,3872
Pipa 6 200 0,1 0,02 -0,0021 33050,7 -0,1434
Pipa 4 200 0,1 0,02 -0,0021 33050,7 -0,1434 0
-0,0451 89,3872 9,93995E-05

Pipa 3, ada dua koreksi dari Loop 1 dari Loop 2 total = -7,83E-05