Anda di halaman 1dari 10

Teknologi GreenHouse

Rumah Kaca merupakan suatu media yang digunakan bagi petani untuk membudidayakan berbagai macam tanaman yang dibutuhkan sehari-hari dalam kehidupan masyarakat pada umumnya. Dalam greenhouse kita bisa mengendalikan beberapa faktor yang dibutuhkan dari tanaman itu sendiri, seperti kelembaban udara, sinar matahari, nutrisi tanaman, hujan/air, suhu udara, dll. Penggunaan greenhouse didaerah tropis dan subtropis sangatlah berbeda, tergantung dari kondisi lingkungan dari greenhouse itu sendiri, perlakuan yang diberikan didalam greenhouse yang berada didaerah tropis akan lebih sedikit dibandingkan dengan greenhouse yang berada didaerah subtropis. Seperti yang kita ketahui, jumlah musim di daerah tropis hanyalah musim kemarau dan musim penghujan, sedangkan didaerah subtropis ada 4 yaitu, musim dingin/musim salju, musim panas, musim semi, dan musim gugur. Sehingga perubahan didaerah subtropis sangatlah tinggi, oleh karena itu perlu adanya perlakuan yang lebih terhadap hal ini. Perubahan iklim yang terjadi saat ini telah membuat para petani banyak mengalami kerugian. Keadaan cuaca yang tidak menentu menyebabkan musim tanam dan panen tak menentu pula. Petani sulit untuk melakukan prediksi cuaca dalam masa tanam. Teknologi greenhouse atau rumah tanaman merupakan sebuah alternatif solusi untuk mengendalikan kondisi iklim mikro pada tanaman. Dalam buku ini herry suhardiyanto membahas bagaimana penerapan greenhouse didaerah iklim tropik seperti indonesia sebagai upaya pengendalian lingkungan mikro tanaman. Penggunaan greenhouse dalam budidaya tanaman merupakan salah satu cara untuk memberikan lingkungan yang lebih mendekati kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Greenhouse dikembangkan pertama kali dan umum digunakan dikawasan yang beriklim subtropika. Penggunaan greenhouse terutama ditujukan untuk melindungi tanaman dari suhu udara yang terlalu rendah pada musim dingin. Pada mulanya greenhouse yang dibangun dikawasan subtropika menggunakan kaca sebagai bahan penutup sehingga identik dengan glasshouse atau rumah kaca. Di Indonesia pembangunan greenhouse juga sering menggunakan kaca sebagai penutup. Saat ini penggunaan kaca sebagai penutup sudah banyak ditinggalkan, selain biayanya mahal fungsinya juga sudah tidak relefan lagi. Herry suhardyanto, guru besar fakultas teknologi pertanian IPB ysng jugs Rektor IPB merancang dan memperkenalkan greenhouse untuk kawasan iklim tropik dan menyebutnya dengan istilah rumah tanaman sebagai terjemahan dari greenhouse. Cahaya yang dibutuhkan oleh tanaman dapat masuk ke dalam greenhouse sedangkan tanaman terhindar dari kondisi lingkungan yang tidak menguntungkan yaitu, suhu udara yang terlalu rendah, curah hujan yang terlalu tinggi , dan tiupan angin yang telalu kencang. Didalam greenhouse parameter lingkungan yang berpengaruh terhadap tumbuhan yaitu cahaya matahari , suhu udara, kelambaban udara, pasokan nutrisi, kecepatan angin, dan konsentrasi karbondioksida dapat dikendalikan dengan lebih mudah. Penggunaan greenhouse memungkinkan dilakukannya modifikasi lingkungan yang tidak sesuai bagi pertumbuhan tanaman menjadi lebih mendekati kondisi optimum bagi pertumbuhan tanaman. Struktur greenhouse berinteraksi dengan parameter iklim disekitar greenhouse. Pembangunan greenhouse diindonesia yang beriklim tropik seringkali meniru tipe greenhouse dibangun di daerah subtropika. Peniruan ini menyebabkan fungsi greenhouse yang ada diindonesia tidak berjalan dengan baik. Adaptasi tipe greenhouse untuk wilayah Indonesia sangat diperlukan untuk penyesuaian dengan kondisi iklim Indonesia. Dikawasan tropika basah seperti indonesia greenhouse berfungsi sebagai bangunan perlindungan tanaman. Konsep greenhouse dengan umbrella effect sangat sesuai dengan untuk kondisi iklim indonesia. Salah satu adaptasi yang greenhouse yang dibangun diwilayah iklim tropik yaitu dengan adanya bukaan ventilasi baik alamiah maupun buatan. Ventilasi ini berfungsi sebagai penurun suhu didalam greenhouse malaysian agricultural research and development institute mengembangkan greenhouse tipe naturally ventilated tropical greenhouse structure (NVTGS). Struktur NVTGS tergolong sederhana, dengan bukaan ventilasi pada hubungan dan dinding. Dinding greenhouse tegak, sedangkan atapnya berbentuk curve. Herry suhardyanto mengembangkan greenhouse tipe modified standard peak greenhouse (MSPG) untuk wilayah Indonesia. Greenhouse ini merupakan modifikasi dari span roof atau standar peak greenhouse.

Modified standard peak greenhpuse banyak digunakan di Indonesia karena sesuai dengan kondisi iklim indonesia yang memiliki intensitas radiasi matahari dan curah hujan yang tinggi. Bentuk atap berundak dengan kemiringan tertentu mempercepat aliran air hujan kearah ujung bawah atap. Bentuk atap standar peak dengan kemiringan sudut 25-30 Tergolong optimal dalam mentansmisikan radiasi matahari. Ventilasi merupakan bagian tenpenting dalam rancangan greenhouse untuk wilayah iklim tropik ventilasi adalah proses pertukaran udara dari dalam keluar greenhouse dan sebaliknya untuk memindahkan panas akibat radiasi matahari, menambah konsentrasi karbondioksida diudara, dan mencegah kelembaban udara agar tidak terlalu tinggi. Terdapat dua jenis ventilasi, yaitu ventilasi alamiah dan ventilasi mekanik. Ventilasi alamiah terjadi karenaa adanya perbedaan tekanan didalam dan diluar tanaman akibat faktor angin dan termal. Ventilasi mekanik terjadi karena bantuan kipas angin. Luas ventilasi yang direkomendasikan adalah 60% dari luasan lantai. Ventilasi alamiah memiliki beberapa kelebihan dibanding dengan ventilasi mekanik. Ventilasi alamiah tidak membutuhkan energi istrik, tidak membutuhkan pemeliharaan, dan tidak mengeluarkan suara berisik, dan putaran kipas. Pengendalian laju ventilasi alamiah dapat dilakukan dengan pembukaan dan penutupan lubang lubang ventilasi. Pengaturan ventilasi alamiah agar tetap kontinyu lebih sulit dilakukan karena faktor-faktor yang mempengaruhinya sulit dikendalikan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalag perbedaan suhu udara didalam dan diluar greenhouse serta arah dan kecepatan angin. Parameter rancangan greenhouse yang mempunya pengaruh besar terhadap laju ventilasi alamiah antara lain adalah luas dan posisi bukaan ventilasi dinding dan atap serta panjang, lebar dan tinggi greenhouse. Bahan penutup untuk greenhouse tropis tidak lagi menggunakan kaca tetapi menggunakan screen. Screen bisa digunakan untuk menutup bagian ventilasi saja atau menutup seluruh struktur bangunan greenhouse. Screen yang digunkan untuk menutup seluruh bagian greenhouse memiliki ukuran mesh yang lebih kecil dibanding dengan screen ventilasi. Greenhouse yang menggunakan screen sebagai penutup disebut juga dengan screenhouse. Ketika suhu udara didalam greenhouse sangat tinggi, penurunan suhu udara dengan hanya menggunakan ventilasi saja tidak efektif. Sebagai metode tamabhan digunakan zone cooling. Zone cooling sudah dikembangkan oleh herry suhardyanto sejak tahun 1990-an sebagi alternatif pengendalian suhu udara dan kelembaban udara tinggi. Dalam zone cooling, penurunan suhu dilakukan secara terbatas dengan mengalirkan udara dingin kesekitar tanaman atau mengalirkan larutan nutrisi yang didinginkan ke daerah perakaran. Meskipun suhu udara didalam greenhouse tinggi, tetapi apabila suhu didaerah perakaran dapat dipertahankan cukup rendah, maka pertumbuhan tanaman akan cukup baik. Dari segi fungsional teknologi greenhouse ini bisa menjadi solusi pertani dalam menghadapi kondisi iklim yang tidak menentu karena dalam greenhouse lingkungan bisa dikendalikan bagaimanapun kondisinya lingkungan diluar greenhouse. Namun, dari segi keekonomisannya greenhouse belum bisa diterapkan dengan maksimal. Invetasi yang dikeluarkan untuk membangun greenhouse cukup tinggi. Selama ini tanaman yang dibudidayakan didalam greenhouse hanyalah tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi seperti paprika, tomat, bunga-bungaan. Herry suhardyanto dalam buku ini tidak menyebutkan kebutuhan investasi real dan efisiensi ekonomi penggunaan greenhouse dalam agribisnis.

Green house pada prinsipnya adalah sebuah bangunan yang terdiri atau terbuat dari bahan kaca atau plastik yang sangat tebal dan menutup diseluruh pemukaan bangunan, baik atap maupun dindingnya. Didalamnya dilengkapi juga dengan peralatan pengatur temperature dan kelembaban udara serta distribusi air maupun pupuk. Bangunan ini tergolong bangunan yang sangat langka dan mahal, karena tidak semua tempat yang kita jumpai dapat ditemukan bangunan semacam ini. Green house biasanya hanya dimiliki oleh Perguruan Tinggi atau lembaga pendidikan, Balai Penelitian dan perusahaan yang bergerak dibidang bisnis perbenihan, bunga dan fresh market hortikultura. Namun di negara-negara pertanian yang sudah maju seperti USA, Australia, Jepang dan negara-negara Eropa sebagian besar tanaman hortikulturanya ditanam di rumah kaca. Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan greenhouse di mancanegara sudah umum dilakukan. Bahkan mungkin sudah berpuluh tahun sebelum negara kita mengadopsi teknologi tersebut.

Green house yang digunakan di Indonesia sebagian besar digunakan untuk penelitian percobaan budidaya, percobaan pemupukan, percobaan ketahanan tanaman terhadap hama maupun penyakit, percobaan kultur jaringan, percobaan persilangan atau pemuliaan, percobaan hidroponik dan percobaan penanaman tanaman diluar musim oleh para mahasiswa , para peneliti, para pengusaha dan praktisi disemua bidang pertanian. Green house sebagai sarana penunjang agribisnis hortikultura sangat mendukung upaya peningkatan produksi dan kontinyuitas produk. Sebenarnya ide awal untuk pembuatan bangunan green house di Indonesia dilatarbelakangi oleh kegiatan penelitian yang dilakukan lembaga penelitian maupun dunia pendidikan. Kegiatan penelitian yang dimaksud disini adalah kegiatan mencari jawaban atau mencari solusi / jalan keluar atau pemecahan terhadap suatu kasus. Sebagai contoh, bila kita ingin mencari uji ketahanan tanaman terhadap serangan hama dan penyakit tertentu. Adanya green house yang mampu menciptakan iklim yang bisa membuat tanaman mampu berproduksi tanpa kenal musim ini ternyata juga mampu menghindarkan dari serangan hama dan penyakit yang tidak diujikan. Selain itu dengan adanya green house penyebaran hama dan penyakit yang diujicoba dapat dicegah . Hal ini berbeda dengan percobaan yang dilakukan di luar green house dimana dalam waktu yang sangat singkat hama dan penyakit dapat cepat menyebar luas karena terbawa angin maupun serangga. Secara umum green house dapat didefinisikan sebagai bangunan kontruksi dengan atap tembus cahaya yang berfungsi memanipulasi kondisi lingkungan agar tanaman di dalamnya dapat berkembang optimal. Manipulasi lingkungan ini dilakukan dalam dua hal, yaitu menghindari kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki dan memunculkan kondisi lingkungan yang dikehendaki. Kondisi lingkungan yang tidak dikehendaki antara lain : a. Ekses radiasi sinar matahari seperti sinar ultra violet dan sinar infra merah. b. Suhu udara dan kelembaban yang tidak sesuai. c. Kekurangan dan kelebihan curah hujan. d. Gangguan hama dan penyakit. e. Tiupan angin yang terlalu kuat sehingga dapat merobohkan tanaman. f. Tiupan angin dan serangga yang menyebabkan kontaminasi penyerbukan. g. Ekses polutan akibat polusi udara. Sementara kondisi lingkungan yang dikehendaki antara lain : a. Kondisi cuaca yang mendukung rentang waktu tanam lebih panjang. b. Mikroklimat seperti suhu, kelembaban dan intensitas cahaya sesuai dengan kebutuhan pertumbuhan tanaman. c. Suplai air dan pupuk dapat dilakukan secara berkala dan terukur. d. Sanitasi lingkungan sehingga tidak kondusif bagi hama dan penyakit. e. Kondisi nyaman bagi terlaksananya aktivitas produksi dan pengawasan mutu. f. Bersih dari ekses lingkungan seperti polutan dan minimnya residu pestisida g. Hilangnya gangguan fisik baik oleh angin maupun hewan. Manfaat apa saja yang didapat jika menggunakan green house , hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Pengaturan jadwal produksi. Dunia pertanian kita masih demikian tergantungnya pada keadaan cuaca, bila terjadi perubahan musim, apalagi bila tidak terprediksi akan menyebabkan sulitnya menentukan jenis tanaman yang akan diproduksi. Jika musim hujan terlalu panjang akan menyebabkan banyaknya penyakit termasuk pembusukan akar. Jika musim terlalu kering akan menyebabkan tanaman kekurangan air, hama juga akan menyerang yang dapat menimbulkan kerugian. Demikian pula pada saat tertentu suatu komoditas sulit ditemui mengakibatkan

harganya demikian tinggi, sementara pada waktu lain kebanjiran produk menyebabkan harga anjlok, sehingga kerugian segera tiba. Untuk itu perlu sekali mengurangi ketergantungan pada lingkungan luar menggantikan dengan mikroklimat yang diatur. Dengan demikian dapat dijadwalkan produksi secara mandiri dan berkesinambungan. Sehingga konsumen tidak perlu kehilangan komoditas yang dibutuhkan, juga kita tidak perlu membanjiri pasar denganb jenis komoditas yang sama yang menyebabkan harga anjlok. 2. Meningkatkan hasil produksi Pada luasan areal yang sama tingkat produksi budidaya di dalam green house lebih tinggi dibandingkan di luar green house. Karena budidaya di dalam green house kondisi lingkungan dan pemberian hara dikendalikan sesuai kebutuhan tanaman. Gejala hilangnya hara yang biasa terjadi pada areal terbuka seperti pencucian dan fiksasi, di dalam green house diminimalisir. Budidaya tanaman seperti ini dikenal sebagai hidroponik. Kondisi areal yang beratap dan lebih tertata menyebabkan pengawasan dapat lebih intensif dilakukan. Bila terjadi gangguan terhadap tanaman baik karena hama, penyakit ataupun gangguan fisiologis, dapat dengan segera diketahui untuk diatasi. Meningkatkan kualitas produksi Ekses radiasi matahari seperti sinar UV, kelebihan temperatur, air hujan, debu, polutan dan residu pestisida akan mempengaruhi penampilan visual, ukuran dan kebersihan hasil produksi. Dengan kondisi lingkungan yang terlindungi dan pemberian nutrisi akurat dan tepat waktu, maka hasil produksi tanaman akan berkwalitas. Pemasakan berlangsung lebih serentak, sehingga pada saat panen diperoleh hasil yang lebih seragam, baik ukuran maupun bentuk visual produk. Meminimalisasi pestisida Green house yang baik selain dirancang untuk memberikan kondisi mikroklimat ideal bagi tanaman, juga memberikan perlindungan tanaman terhadap hama dan penyakit. Perlindungan yang umum dilakukan adalah dengan memasang insect screen pada dinding dan bukaan ventilasi di bagian atap. Insect screen yang baik tidak dapat dilewati oleh hama seperti kutu daun. Pada beberapa green house bagian pintu masuknya tidak berhubungan langsung dengan lingkungan luar. Ada ruang kecil, semacam teras transisi yang dibuat untuk menahan hama atau patogen yang terbawa oleh manusia. Pada lantai ruang ini juga terdapat bak berisi cairan pencuci hama dan patogen. Untuk pintu dapat ditambahkan lembaran PVC sheet. Aset dan performance Saat ini sangat biasa orang membangun green house dengan sistem knock down. Dengan cara ini gren house bukanlah aset mati, manakala karena suatu hal ada perubahan kebijakan, maka struktur green house tersebut dapat dipindahkan atau mungkin dijual ke pihak lain yang memerlukan dengan harga yang proporsional. Dengan adanya green house maka kesan usaha akan terlihat lebih modern dan padat teknologi. Hal ini tentunya akan meningkatkan performance petani atau perusahaan yang menggunakannya. Sarana agrowisata Green house banyak juga digunakan sebagai ruang koleksi berbagai jenis tanaman bernilai tinggi. Di dalam green house pengunjung dapat melihat berbagai jenis tanaman yang

3.

4.

5.

6.

menarik, bahkan langka, sehingga dapat menjadi daya tarik. Ada yang khusus mengkoleksi kaktus, anggrek atau berbagai jenis tanaman dengan suasana dibuat seperti di alam bebas. Di Indonesia green house seperti ini banyak ditemukan di berbagai kebun raya dan tempat agrowisata. JENIS GREEN HOUSE Yang dimaksud dengan jenis green house adalah pembedaan ragam green house berdasarkan material dominan yang digunakan. Pembedaan ini akan membawa kita pada perbedaan biaya pembangunan dan umur pakai green house. Semakin kuat dan awet material yang digunakan, akan semakin besar biayanya tetapi umur green house akan lebih lama. Untuk negara kita, green house yang biasa digunakan dapat dibagi menjadi tiga jenis, yaitu green house bambu, green house kayu dan green house besi. A. Green house bambu. Green house jenis ini umumnya dipakai sebagai green house produksi. Green house ini secara umum adalah jenis green house yang paling murah biaya pembuatannya dan banyak dipakai oleh kalangan petani kita sebagai sarana produksi.

Namun kelemahan dari green house ini adalah umurnya yang relatif pendek dan bahan materialnya dapat menjadi media timbulnya hama. Karena kekuatan struktur dan juga masalah biaya, maka green house bambu atapnya terbatas menggunakan plastik UV. B. Green house kayu Lebih baik dari green house bambu adalah gren house dengan material kayu, terutama jenis kayu yang tahan air, seperti ulin dan bengkirai. Dibanding green house bambu umur pakai green house kayu biasanya lebih panjang dan kondisi sanitasi lingkungan lebih baik.

Beberapa jenis green house kayu, bagian dinding bawah dibuat dari pasangan bata yang diplester. Jenis green house ini bahan atapnya sudah lebih bervariasi bisa plastik, polykarbonat, PVC ataupun kaca. C. Green house besi. Dari segi umur pakai dan kwalitas, maka yang terbaik adalah green house yang menggunakan struktur besi, terlebih besi yang telah di treatment hot dipped galvanis.

Struktur yang baik akan mengurangi frekuensi perawatan; sehingga tidak terjadi stagnan kegiatan., walaupun pada keadaan tertentu perlu dilakukan sanitasi, tetapi sanitasi yang terjadwal.

Dengan struktur yang kuat, maka berbagai jenis tambahan peralatan / optional dapat dipasangkan pada jenis green house besi, sehingga penggunaan green house dapat dilakukan secara optimal. TIPE GREEN HOUSE Type green house dibedakan berdasarkan bentuk bangunan atau desainnya. Bentuk atau desain ini selain berpengaruh pada kekuatan struktur juga sangat berpengaruh pada kondisi mikroklimat di dalam green house. Secara umum desain green house uintuk daerah tropis berbeda dengan desain di daerah empat musim maupun sub tropis. Kecuali desain green house yang memang dibuat khusus seperti untuk penanaman planlet, induksi akar atau pembuatan stek. Desain green house daerah tropis ditandai dengan banyaknya bukaan ventilasi. Karena problem utama dari green house di wilayah tropis adalah suhu udara yang terlalu tinggi akibat radiasi sinar infra merah. Sebaliknya pada daerah sub tropis maupun daerah empat musim desain green house lebih tertutup. Bukaan yang minimal ini dibuituhkan karena pada saat musim dingin udara hangat akibar radiasi infra merah dipertahankan tidak keluar. Jadi desain sebuah green house sangat penting untuk pertumbuhan tanaman. Bagaimana sebuah green house dapat memberikan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan tanaman terletak pada desainnya. Pada dasarnya green house dapat dibagi ke dalam 3 type, yaitu : 1. tipe tunnel 2. tipe piggy back 3 . tipe multispan Masing masing type dapat dijelaskan sebagai berikut : 1. Type Tunnel Tipe ini dari depan tampak seperti lorong setengah lingkaran. Kelebihannya adalah memiliki struktur sangat kuat. Atapnya yang berbentuk melengkung kebawah merupakan bentuk yang sangat ideal dalam menghadapi terpaan angin. Sementara struktur busur dengan kedua kaki terpendam ketanah memegang bangunan lebih kuat.

Kelemahan dari tipe ini adalah minimnya system ventilasi. Jika digunakan pada daerah tropis dibutuhkan alat tambahan berupa exhaust fan atau cooling system untuk mengalirkan dan menurunkan suhu udara di dalam green house. 2. Tipe Piggy back Green house tipe ini banyak digunakan di daerah tropis, dapat dikatakan tipe ini adalah tropical green house. Keunggulan tipe ini pada ventilasi udara yang sangat baik. Banyak memiliki struktur bukaan, sehingga memberikan lingkungan mikroklimat yang kondusif bagi pertrumbuhan tanaman.

Selain memiliki keunggulan, banyaknya struktur bukaan juga merupakan kelemahan dari tipe ini. Pada daerah dengan tiupan angin yang kuat green house tipe piggy back kurang disarankan. Karena dengan banyaknya struktur terbuka menyebabkan struktur rentan terhadap terpaan angin. Selain itu dari segi biaya dengan penggunaan material atap sama, greeen house type ini relatif lebih mahal dibanding type lain karena penggunaan material struktur lebih banyak 3. Tipe Campuran ( Single span dan Multispan ) Desain tipe ini boleh dikatakan adalah campuran antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Dari desainnya terlihat tampak, bahwa tipe ini seakan akan paduan (hybrid) antara tipe tunnel dengan tipe piggy back. Karena itu, maka tipe green house ini memeliki kelebihan dari tipe tunnel dan tipe piggy back, yaitu strukturnya kuat tetapi tetap memiliki ventilasi yang maksimal.

Kelebihan lain dari tipe ini adalah beberapa unit green house (Single Span) dapat disatukan menjadi satu blok green house besar (Multispan) dimana hal ini sulit dilakukan pada green house tipe tunnel. Dibandingkan tipe piggy back, selain struktur lebih kuat biaya pembuatan tipe campuran ini lebih hemat. Sehingga pada bidang kegiatan yang membutuhkan green house luas, maka type multispan adalah type yang paling sesuai. BAHAN PENUTUP GREEN HOUSE Perlu diketahui pula bahwa sebagian besar tanaman yang dibudidayakan pada green house membutuhkan cahaya dengan panjang gelombang sekitar 400 700 nanometer (Photosynthetically Active Radiation). Hampir semua bahan penutup green house mampu menampung cahaya tersebut sesuai dengan panjang gelombang yang diinginkan tanaman. Bahan yang terbuat dari Polyethylene dan fiberglass cenderung membuat cahaya menjadi tersebar, sementara bahan yang terbuat dari acrylic dan polycarbonate lebih cenderung meneruskan cahaya yang masuk secara langsung. Cahaya yang sifatnya menyebar tersebut memberikan keuntungan tersendiri bagi tanaman, dimana dia bisa mengurangi kelebihan cahaya pada daun-daun tanaman bagian atas dan memantulkannya pada daun-daun yang ada di bagian bawah sehingga penyebaran cahaya menjadi lebih merata. Sebenarnya bentuk-bentuk green house tersebut bermacam-macam mulai dari bentuk sederhana dengan bahan yang paling murah sampai bentuk komplek yang dibentuk dari bahan penutup yang mahal. Adapun bahan penutup atap dapat menggunakan kaca maupun plastik. Bahan yang terbuat dari plastik juga tidak kalah dengan kaca dimana mempunyai kelebihan antara lain : tahan pecah, bentuknya bisa disesuaikan dengan bermacam design, dan sangat mudah digunakan. Beberapa tipe plastik yang biasa digunakan sebagai penutup green house antara lain : 1. Acrylic Acrylic sangat tahan terhadap perubahan cuaca , tahan pecah serta sangat transparan. Penyerapan sinar ultra violet yang berasal dari matahari lebih tinggi dibandingkan dengan bahan yang terbuat dari kaca. Penggunaan acrylic sebanyak dua lapis mampu menghantarkan sekitar 83 % cahaya dan mengurangi kehilangan panas sekitar 20-40% dibandingkan penggunaan 1 lapis. Bahan ini tidak akan menguning walaupun digunakan dalam waktu yang lama. Namun kekurangan dari bahan acrylic adalah : mudah terbakar,sangat mahal, dan sangat mudah tergores/tidak tahan gores. 2. Polycarbonate Polycarbonate memiliki ciri-ciri : lebih tahan, lebih fleksibel, lebih tipis, serta lebih murah dibandingkan acrylic. Penggunaan dua lapis polycarbonate mampu menghantarkan cahaya sekitar 75-80 % dan mengurangi kehilangan panas sekitar 40% dibandingkan satu lapis. Namun bahan ini sangat mudah tergores, mudah memuai, gampang menguning, dan akan membuat lapisan kurang transparan dalam waktu satu tahun (meskipun kini hadir jenis baru yang tidak cepat menguning). 3. Fiberglass Reinforced Polyester Bahan ini memiliki sifat-sifat : lebih tahan lama, penampilannya menarik, harganya terjangkau dibandingkan kaca, serta FRP ini lebih tahan pengaruh perubahan cuaca. Bahan plastik ini mudah sekali dibentuk menjadi bentuk bergelombang maupun berupa lempengan. Meskipun demikian kekurangannya adalah bahan ini mudah memuai. 4. Polyethylene film Bahan ini sangat murah dibandingkan dengan bahan lainnya namun sifatnya hanya sementara (kurang tahan lama), bentuknya kurang menarik, serta membutuhkan penanganan maupun perawatan yang lebih intensif . Selain itu, bahan ini juga mudah sekali rusak oleh sengatan cahaya matahari, walaupun mampu bertahan minimal 1 2 tahun dengan perawatan

lebih intensif. Dikarenakan bahan ini berupa lembaran lebar sehingga tidak membutuhkan kerangka yang lebih banyak dan bisa menghantarkan cahaya paling besar. 5. Polyvinyl cholride film Bahan ini mempunyai sifat penghantar emisi yang sangat besar untuk cahaya dengan panjang gelombang yang besar, dimana bahan ini mampu menciptakan temperatur udara yang cukup tinggi pada malam hari dan bisa berfungsi sebagai penghalang sinar ultra violet. Bahan ini lebih mahal dibandingkan polyethylene film dan cenderung mudah kotor, yang mana harus terus dilakukan pembersihan agar didapatkan penghantaran cahaya yang lebih baik. Untuk model atap ada yang berbentuk melengkung dan ada yang berbentuk lancip. Tinggi dinding yang baik mencapai 6 sampai 9 meter, tergantung crop yang akan diproduksi atau tergantung pada tujuannya. Bahan dinding beserta atapnya dapat dari kaca maupun plastik yang tebal yang tidak mudah sobek dan cara pemasanganya dimulai dari atapnya dulu, kalau sudah selesai baru dinding. Pintu dari green house harus dibuat serapat mungkin sehingga tidak memberikan kesempatan bagi udara luar untuk masuk kedalam green house. Setelah dinding dan atap terpasang kaca atau plastik, kita dapat memasang sistem irigasi dengan menggunakan pipa secara sistematis yang dapat kita kendalikan, serta diberi bak pengontrol untuk mengontrol masuk dan keluarnya air dari dalam dan keluar dari green house. Untuk bagian dalam green house ada 2 jenis, yaitu diplester dengan semen, ini hanya untuk green house yang penanamannya menggunakan media pot atau plastik polybag atau percobaan hydroponik tetapi ada juga yang dalamnya berupa tanah seperti yang ada dilahan persawahan, hal ini bertujuan untuk budidaya sayuran, buah-buahan dan bunga yang akan dibuat petakan atau bedengan. Bahkan bedengan ini ada juga yang diberi mulsa sama seperti tehnik budidaya tanaman pada umumnya. Tetapi dengan green house pengawasan terhadap tanaman baik temperature, kelembaban, kebutuhan air, kebutuhan hara bahkan pengendalian hama dan penyakitnya dapat dikontrol dengan sebaik-baiknya. Untuk jangka panjang pembudidayaan tanaman dengan green house sangat menguntungkan khususnya untuk bisnis fresh market hortikultura karena kita mampu berproduksi sepanjang masa tidak tergantung pada cuaca atau musim bahkan kualitas produk yang dihasilkan dapat terjamin atau lebih baik dari tehnik budidaya dialam bebas. Beberapa unsur lokasi yang perlu diperhatikan dalam pembangunan rumah plastik adalah 1.Luas Areal Luas lahan hendaknya cukup besar untuk mengantisipasi perkembangan usaha dimasa yang akan datang. Untuk usaha komersial faktor ini sangat penting. Disamping itu perlu diperhitungkan juga lahan untuk bangunan penunjang usaha seperti jalan, gudang dan lainlain. 2.Topografi Lokasi pembangun rumah plastik harus sedatar mungkin untuk menekan biaya, karena jika dibangun pada lokasi yang miring maka diperlukan biaya tambahan untuk pembuatan rumah plastik bertingkat. Lokasi yang datar juga memudahkan dalam otomasisasi pada rangkai rumah plastik yang besar sekalipun. Lahan tersebut juga harus mempunyai sifat drainase yang baik. 3.Iklim Iklim lokasi yang dipilih diperhitungkan berdasarkan kebutuhan tanaman yang akan diusahakan. Area yang seringkali berkabut atau bercuaca buruk umumnya kurang baik bagi kebanyakann tanaman. Tanamam yang menyukai intensitas cahaya yang tinggi akan lebih baik diusahakan di lokasi yang ketinggiannya cukup tinggi dengan intensitas cahaya yang baik. Adanya bukit atau barisan pepohonan yang berlaku sebagai penghalang, penting untuk area-area yang anginnya cukup kencang.

3.Ketersediaan air Air adalah salah satu faktor utama yang sangat dibutuhkan tanamam. Karena itu dalam menentukan lokasi rumah plastik, ketersediaan air di lokasi yang dipilih baik kualitas maupun kuantitasnya harus cukup tersedia. Kontinuitas suplai air harus bisa mencukupi untuk jangka waktu yang panjang. Begitupun kualitas air yang tersedia harus diperiksa untuk menentukan kandungaan mineral dan mendekteksi unsur-unsur yang kurang baik bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Mengetahui kandungan mineral cukup penting terutama untuk daerah-daerah dekat pantai dan muara sungai, biasanya mengandung ion sodium dan klorida yang kurang baik bagi tanaman. 4.Arah/orientasi Arah/orientasi akan mempengaruhi penerimaan/transmisi cahaya. Transmisi cahaya dapat terhalangi oleh kerangka rumah plastik dan juga ditentukan oleh musim akibat perubahan sudut penyinaran matahari, terutama untuk daerah-daerah yang berada pada lintang tinggi.

Sumber :

http://inspirasitabloid.wordpress.com/2011/07/11/greenhouse-solusi-untuk-menghadapiperubahan-iklim-dalam-budidaya-pertanian/
http://bangdolfi.blogspot.com/2012/03/deskripsi-green-house-dan-shading-house.html http://shafwandi08.blogspot.com/2011/06/greenhouse.html