Anda di halaman 1dari 30

BAB I PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang Islam diturunkan sebagai rahmatan lil alamin. Untuk mengenalkan Islam

ini diutus Rasulullah SAW. Tujuan utamanya adalah memperbaiki manusia untuk kembali kepada Allah SWT. Oleh karena itu selam kurang lebih 23 tahun Rasulullah SAW membina dan memperbaiki manusia melalui pendidikan. Pendidikanlah yang mengantarkan manusia pada derajat yang tinggi, yaitu orangorang yang berilmu. Ilmu yang dipandu dengan keimanan inilah yang mampu melanjutkan warisan berharga berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Manusia mendapat kehormatan menjadi khalifah di muka bumi untuk mengolah alam beserta isinya. Hanya dengan ilmu dan iman sajalah tugas kekhalifahan dapat ditunaikan menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seluruh makhluk-Nya. Tanpa iman akal akan berjalan sendirian sehingga akan muncul kerusakan di muka bumi dan itu akan membahayakan manusia. Demikian pula sebaliknya iman tanpa didasari dengan ilmu akan mudah terpedaya dan tidak mengerti bagaimana mengolahnya menjadi keberkahan dan manfaat bagi alam dan seisinya. Allah Swt. mengutus para Nabi dan Rasul sebagai pembawa risalah dan sebagai penerang serta washilah untuk menunjukan manusia kepada jalan yang lurus, jalan yang keridhoan dan jalan yang akan menyelamatkan manusia dalam setiap dimensi kehidupan, tidak hanya duniawi yang dikejar akan tetapi keabadian akhirat sebagai tujuan utama dalam mengarungi kehidupan ini. Allah menurunkan Kitab-Kitab kepada para Nabi dan Rasul-Nya sebagai bukti atas kebesaran-Nya dan juga sebagai ujian bagi manusia, apakah manusia akan berimana pada kitab-kitab tersebut ataukan ia akan menjadi golongan pembangkang yang mendapatkan murka Allah Swt. Pada ayat-ayat berikut penyusun akan mencoba memaparkan beberapa penafsiran tentang ayat-ayat yang terdapat dalam Al-Quran yang mengandung pelajaran dan mengabarkan bahwa Allah Swt. mengutus Nabi dan Rasul dengan

Mambawa Kitab yang harus dijadikan landasan dalam gerak kehidupan dan ayatayat ini menerangkah tentang risalah nubuwah atau risalah tentang kenabian beserta Kitab yang dibawa besertanya. 1.2. Rumusan Masalah 1.3. Tujuan Penulisan

BAB II PEMBAHASAN

Risalah berasal dari bahasa arab yaitu arsala, yursilu, risalah yang artinya Utus. Dalam konteks ini, yang mengutus adalah Allah SWT dan utusannya adalah Nabi Muhammad. Beliau ditugaskan untuk menyebarkan ajaran yang hanya menyembah satu Tuhan, yaitu Allah. Bentuk ajarannya adalah Islam yang selalu diartikan dengan selamat, karena berasal dari kata salamah. 2.1. Surat An-Nahl Ayat 36 a. Teks Ayat Surat An-Nahl : 36

b. Terjemah Mufodat


Tiap-tiap

pada


Kami mengutus telah


Dan sungguh

Umat/bangsa


(penyembahan) thagut: berhala2/syetan


Dan jauhilah


Allah


Seorang Rasul


Ada orang yang telah pasti (diazali)


Dan diantara mereka


Allah memberi petunjuk padanya

(yang memerintahkan kalian) sembahah


Maka diantara mereka

(ada) orang yang


Muka bumi

di


Maka berjalanlah kalian


kesesatan


atasnya


Orang-orang yang mendustakan para Rasul


kesudahan


jadinya


bagaimana


Lalu kalian perhatikanlah

c. Terjemah Ayat Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya , Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). d. Pengertian Global Dalam Surat An-Nahl Ayat 36, ayat ini menghibur nabi muhammad SAW, dalam menghadapi para pembangkang dari kaum beliau, seakan-akan ayat ini menyatakan: Allah pun telah mengutusmu, maka ada diantara umatmu yang menerima baik ajakanmu dan ada juga yang membangkang.

) thaghut terambil dari kata ( )thagha yang pada Kata (


mulanya berarti melampaui batas. Ia biasa juga dipahami dalam arti berhalaberhala, karana penyembahan berhala adalah sesuatau yang sangat buruk dan melampui batas. Dalam arti yang lebih umum, kata tersebut mencakup segala sikap dan perbuatan yang melampaui batas, seperti kekufuran kepada Tuhan, pelanggaran, dan sewenang-wenangan terhadap manusia. Allah mengabarkan kepada kita untuk meneliti sejarah umat terdahulu, baik umat yang memperoleh dan mendapat petunjuk dari Allah Swt. ataupun ummat yang membangkang karena didalamnya terdapat pelajaran yang berharga bagi manusia dan menjadi bekal agar manusia tidak terjerumus kedalam lubang yang sama untuk kesekian kalinya. e. Tafsir Ayat Kemudian daripada itu Allah SWT menjelaskan bahwa para Rasul itu diutus sesuai dengan Sunatullah, yang berlaku pada umat sebelumnya. Mereka itu adalah pembimbing manusia ke jalan yang lurus. Bimbingan Rasul-rasul itu

diterima oleh orang-orang yang dikehendaki oleh Allah dan menyampaikan mereka kepada kesejahteraan dunia dan kebahagiaan akhirat, akan tetapi orangorang yang bergelimang dalam kemusyrikan dan jiwanya dikotori oleh noda noda kemaksiatan tidaklah mau menerima bimbingan Rasul itu. Allah SWT menjelaskan bahwa Dia telah mengutus beberapa utusan kepada tiap-tiap umat yang terdahulu, seperti halnya Dia mengutus Nabi Muhammad saw kepada umat manusia seluruhnya. Oleh sebab itu manusia hendaklah mengikuti seruannya, yaitu beribadat hanya kepada Allah SWT yang tidak mempunyai serikat dan larangan mengingkari seruannya, yaitu tidak boleh mengikuti tipu daya setan yang selalu-menghalang-halangi manusia mengikuti jalan yang benar. Setan-setan itu selalu mencari-cari kesempatan untuk menyesatkan manusia. Allah SWT berfirman Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang Rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku. (Q.S Al Anbiya': 25) Dan firman Nya lagi Artinya: Dan tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: "Adakah Kami menentukun Tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah Yang Maha Pemurah?". (Q.S Az Zukhruf: 45) Dari uraian tersebut dapatlah dipahami bahwa secara yuridis Allah tidak menghendaki hamba Nya menjadi kafir, karena Allah SWT telah melarang mereka itu mengingkari Allah. Larangan itu telah disampaikan melalui RasulNya. Akan tetapi apabila ditinjau dari tabiatnya, maka di antara hamba Nya mungkin saja mengingkari Allah, karena manusia telah diberi pikiran dan diberi kebebasan memilih sesuai dengan kehendaknya. Maka takdir Allah berlaku menurut pilihan mereka itu. Maka apabila ada di antara hamba Nya yang tetap bergelimang dalam kekafiran dan dimasukkan ke neraka Jahanam bersama sama dengan setan-setan mereka, maka tidak ada alasan bagi mereka untuk membantah, karena Allah telah cukup memberikan akal pikiran serta memberikan pula kebebasan untuk memilih dan menentukan sikap jalan mana yang harus mereka

tempuh. Sedang Allah sendiri tidak menghendaki apabila hamba Nya itu menjadi orang-orang yang kafir. Kemudian Allah SWT menjelaskan bahwa Allah telah memperingatkan sikap hamba Nya yang mendustakan kebenaran Rasul. Dengan mengancam mereka akan memberikan hukuman di dunia apabila setelah datang peringatan dari Rasul, mereka tidak mau mengubah pendiriannya. Allah SWT menjelaskan bahwa setelah mereka kedatangan Rasul ada yang diberi petunjuk oleh Allah dan diberi taufik karena mereka telah mempercayai Rasul, menerima petunjukpetunjuk yang dibawanya serta suka mengamalkan petunjuk-petunjuk itu. Mereka inilah orang-orang yang berbahagia dan selamat dari siksaan Allah. Akan tetapi di antara mereka ada pula yang benar-benar menyimpang tidak mau mengikuti petunjuk Rasul Nya, dan mengikuti tipu daya setan-setan, maka Allah membinasakan mereka dengan hukuman Nya yang sangat pedih. Dan Allah menurunkan pula berbagai macam bencana yang tidak dapat mereka hindari lagi. Sesudah itu Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar berkelana di muka bumi serta menyaksikan negeri-negeri yang didiami oleh orang-orang zalim. Kemudian mereka disuruh melihat bagaimana akhir kehidupan orang-orang yang mendustakan agama Allah. Di dalam ayat ini Allah SWT menyuruh manusia agar mengadakan penelitian terhadap sejarah bangsa yang lain dan membandingkan di antara bangsa-bangsa yang menaati Rasul dengan bangsa-bangsa yang mengingkari seruan Rasul agar mereka dapat membuktikan bagaimana akibat dari bangsa-bangsa itu. Hal ini tiada lain hanyalah karena Allah menginginkan agar mereka itu mau mengikuti seruan Rasul dan melaksanakan seruannya. 2.2. Surat Al-Baqarah Ayat 121

Artinya : Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya.

Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (Q.S Al-Baqarah :121) Ayat ini masih berkaitan erat dengan ayat sebelumnya dan masih membicarakan keingkaran Bani Israil yaitu kaum Yahudi dan Nasrani. Mereka adalah kaum yang tidak akan merasa puas sebelum orang orang muslim menjadi murtad, keluar dari agama Islam dan keimanan, atau paling tidak berpaling kepada milah agama mereka. Sebenarnya yang menjadi penyebab ketersesatan kaum Yahudi dan Nasrani adalah pendeta dan rahib rahib mereka sendiri, karena merekalah yang mempelajari dan mengkaji kitab suci yang diturunkan kepada mereka, adapun para pengikutnya adalah ummi dan taklid kepada para rahib dan pendeta tersebut. Seandainya saja para rahib dan pendeta itu mempelajari dan mengkaji dengan benar kitab suci mereka, niscaya mereka akan menemukan nubuwah Rasulullah di dalamnya, dan mereka tentunya akan mengimani kenabian Rasulullah Muhammad Saw. Namun mereka telah dikuasai hawa nafsu dan kesombongan, sehingga mereka merubah dan memalsukan kitab yang diturunkan kepada mereka, dan juga menyesatkan para pengikut mereka dengan ajaran yang sudah melenceng dari ajaran yang sebenarnya. Sehingga mereka mengkufuri kenabian Rasulullah. Orang orang yang kufur seperti inilah yang dikatakan kepada Allah sebagi orang yang merugi di dunia dan akhirat. Allah menegur mereka, jangankah kamu menjadi orang yang pertama-tama kufur. Kenapa? karena mereka adalah pembaca kitab yang pertama sebagai rahib dan pendeta, sedangkan para pengikut mereka hanya taklid Sebagai umat muslim, kita menerima al Quran sebagai petunjuk menuju kebenaran, tetapi jika keimanan kita hanya berhenti pada menerima al Quran itu saja, tanpa kita mempelajarinya, mengimani, meyakini, dan mengamalkan isinya, karena suatu kesombongan atau karena kita taklid kepada seseorang (kiai/ pemimpin) sehingga ketika al Quran itu dibacakan kepada kita, dan karena isinya bertentangan dengan paham yang dianut oleh kiai, atau pemimpin atau adat setempat, lalu Al quran itu kita tolak, niscaya kita sama saja dengan kaum yahudi dan nasrani seperti yang dijabarkan di atas. Dan kita termasuk ke dalam golongan

orang orang yang merugi. Maka kita harus menjadi golonga yang membuka hati, sehingga ketika Al Quran itu dibacakan kepada kita maka bertambah tambahlah keimanan kita. 2.3. Surat al-Baqarah (2): 136

Artinya : Katakanlah (hai orang-orang mukmin): "Kami beriman kepada Allah dan apa yang diturunkan kepada Kami, dan apa yang diturunkan kepada Ibrahim, Isma'il, Ishaq, Ya'qub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa serta apa yang diberikan kepada nabi-nabi dari Tuhannya. Kami tidak membeda-bedakan seorangpun diantara mereka dan Kami hanya tunduk patuh kepada-Nya".(Q.S Al-Baqarah :136) Ayat di atas mengandung perintah kepada manusia untuk beriman kepada para nabi. Iman pada utusan Allah dan atas apa yang diberikan Allah kepada mereka dan nabi-nabi sebelunnya adalah satu. Meskipun terdapat beberapa perbedaan di alam syariatnya, akan tetapi sejatinya masih sama-sama dari Allah. Syariat-syariat nabi sebelum Nabi Muhammad masih ada yang tetap dipertahankan dan dijalankan umat islam masa ini. Al-Quran adalah kitab penyempuna, dan para umat yang telah menganut syariat Nabi-nabi atau Rasul sebelumnya wajib berganti dan beralih menjadikan al-Quran sebagai sumber syarat utama bagi mereka. Allah telah menetapkan bahwa syariat yang dibawa Nabi Muhammad sejak diturunkannya al-Quran hingga akhir zaman, sebagai satu syariat yang berlaku dan dijadikan pedoman. Allah telah mengutus Nabi Muhammad untuk menyempurnakan syariatsyariat nabi-nabi dan rasul-rasul terdahulu. Dalam menyampaikan risalahnya Nabi Muhammad menemui banyak rintangan dan hambatan dari berbagai Suku dan

Penguasa Quraisy pada waktu itu. Hal ini sama dengan apa yang di alami oleh nabi-nabi dan rasul-rasul sebelumnya. Para nabi dan para rasul tersebut diutus Allah SWT dengan membawa risalah-risalah masing-masing, yang pada hakikatnya risalah tersebut adalah sama, yaitu berasal dari Allah yang segala syariatnya berasal dari Allah. Walaupun apabila di lihat secara syariatnya berbeda-beda tetapi pada hakikatnya adalah satu yaitu Tauhid. Dalam ayat-ayat alQuran banyak ayat yang menjelaskan tentang risalahrisalah yang di bawa oleh para rasul dan nabi-nabi terdahulu, dalam dalam Surat al-Baqarah ayat 213, dan Surat al-Maidah ayat 48 mempunyai korelasi makna yang dikandungnya. Ayat-ayat ini menjelaskan tentang kebenaran al-Quran sebagai penyempurna kitab-kitab Allah yang telah diturunkan kepada rosul-rasul sebelumnya serta fungsi dan kedudukan al-Quran sebagai pedoman utama umat zaman ini. Kemudian pada Surat al-Saba ayat 34 dan Surat al-Asyura ayat 51-52 dikatakan bahwa para rasul diutus Allah sebagai pembawa kabar gembira sekaligus membiri peringatan kepada orang-orang kafir yang membangkang dan tidak mau menerima kebenaran kitab-kitab Allah khususnya pembangkangan terhaap al-Quran. Sesunguhnya fungsi diturunkan al-Quran yang telah Allah turunkan kepada Nabi Muhammad adalah membenarkan dan menyempurnakan apa yang diturunkan pada kitab-kitab sebelumnya ( Taurat, Zabur, Injil) sebagaimana yang disebutkan pada ayat 136 Surat al-Baqoroh. Allahpun telah menetapkan bahwa kitab yang dibawa Nabi Muhammad itu sejak diturunkannya hingga akhir zaman nanti, sebagai syariat yang satu yang berlaku dan di jadikan pedoman.

2.4. Surat al-Baqorah (2): 213

Artinya : Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), Maka Allah mengutus Para Nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. tidaklah berselisih tentang kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, Yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. ".(Q.S Al-Baqarah :213) Allah menjadikan manusia sebagai umat yang satu dan menganut kebenaran yang sama sejak nabi Adam hingga nabi Nuh tetapi karena berbagai hal, mereka kemudian berselisih diantara sesama. Oleh karena itu Allah mengutus para rasul untuk membawa kabar gembira untuk orang-orang yang beriman dan ancaman untuk orang-orang yang mendutakan kebenaran risalah para rasul. Meskipun allah menjadikan manusia sebagai umat yang satu yang terikat yang saling membutuhkan satu sama lain dalam mencari penghidupan. Namun tidak mungkin dalam persatuan ini mereka selalu sepakat dalm semua hal. Allah menjadikan akal manusia tidak sama dan berbeda-beda fitrohnya sehingga terkadang terjadi perbedaan pendapat dalam memahami risalah ini.

10

Allah mengutus kepada para nabi untuk memberikan peringatan kepada kaumnya masing-masing, tentang apa yang mereka abaikan. Dengan menyandarkan hukumhukum Allah kepada kitab-kitab-Nya sebagai sumber utama. Serta menguatkan kenabian dengan dalil-dalil yang tegas. Apa yang mereka sampaikan semata-mata adalah dari Allah Yang Maha Kuasa memberi pahala dan mendatangkan siksa. Serta Maha Mengetahui terhadap segala sesuatu. 2.5. Surat al-Baqorah (2): 214

Artinya : Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, pada-hal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh mala-petaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, Bilakah datangnya pertolongan Allah? Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. (Al-Baqarah: 214) Allah SWT mengabarkan bahwasanya Dia sudah pasti akan menguji hamba-hambaNya dengan malapetaka, kesengsaraan dan kesulitan sebagaimana yang Dia lakukan terhadap orang-orang yang sebelumnya, karena itu adalah sunnahNya yang berjalan yang tidak berganti dan tidak berubah. Barangsiapa yang menegakkan agama dan syariatNya, ia pasti akan diuji, apabila dia bersabar dalam perintah Allah dan tidak mem-pedulikan kesulitan yang menghadang dihadapannya, maka dia adalah orang yang benar yang mendapatkan kebahagiaan yang sempurna dan jalan kepemimpinan, dan barangsiapa yang men-jadikan fitnah (ujian) manusia seperti siksa dari Allah yaitu bahwa dia terhalang oleh segala kesulitan dari tujuan yang ditempuhnya, dan dia dibelokkan oleh cobaan-cobaan dari maksud dan sasarannya, maka dia adalah
11

pembohong dalam pengakuan keimanannya, karena keimanan itu bukanlah dengan kekaguman, angan-angan dan seba-tas pengakuan, hingga perbuatan yang akan membenarkan atau mendustainya, sesungguhnya telah terjadi pada umatumat ter-dahulu apa yang diceritakan oleh Allah tentang mereka, Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan yaitu kemiskinan dan penyakit pada tubuh mereka, macam cobaan) dengan berbagai serta digoncangkan (dengan bermacammacam ketakutan seperti ancaman

pembunuhan dan pengusiran, harta mereka diambil, pembunuhan orang-orang yang dicintai, dan macam-macam hal yang berbahaya hingga kondisi mereka memuncak dan goncangan itu membuat mereka menduga bahwa kelambatan pertolongan Allah itu lambat padahal mereka yakin akan kedatangan-nya. Akan tetapi karena situasi yang dahsyat dan kesulitannya itu hingga berkata, Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya, Bilakah datangnya pertolongan Allah? Dan ketika datang pertolongan Allah pada kesusahan, dan setiap kali perkara telah terasa sulit kemudian menjadi lapang, Allah ber-firman, Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat. Demikianlah setiap orang yang menegakkan kebenaran itu pasti akan diuji, dan ketika persoalannya semakin sulit dan susah lalu dia bersabar dan tegar menghadapinya niscaya ujian tersebut akan berubah menjadi anugerah untuknya, dan segala kesulitan itu menjadi ketenangan, lalu Allah menyusulkan semua itu dengan kemenangannya atas musuh-musuhnya serta mengobati penyakit yang ada dalam hatinya. Ayat ini sejalan dengan firman Allah SWT, Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu dan belum nyata orang-orang yang sabar. (Ali Imran: 142) Dan firmanNya yang lain, Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiar-kan (saja) mengatakan, Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan se-sungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Al-Ankabut: 1-3).

12

2.6. Surat Al Hadid Ayat 25 a. Teks Ayat

b.

Terjemah Mufrodat


Dan kami turunkan


Rasul-rasul kami


Kami telah mengutus


sungguh

manusia

Dengan bukytibukti nyata/mukjizat


Dan neraca/keadilan


Kitab

Agar berlaku


Kekuatan


besi


Dan kami turunkan

Bersama mereka


Siapa yang

(yang) padanya (terdapat)


Dengan adil

Dan agar Allah mengetahuia


Untuk manusia


yang sangat


Maha Kuat

Dan beberapa manfaat


Dia menolong agama-Nya

Sesuangguhnya Allah

Dalam keadaan tidak terlihat orang lain

Dan Rasulrasul-Nya


Maha Perkasa

c. Terjemah Ayat Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa buktibukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi

13

manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama) Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. d. Pengertian Global Pada Ayat ke-25 Surat Al-Hadid yang berarti Besi ini Allah Swt. mengabarkan kepada kita semua bahwa Allah Swt. telah mengutus beberapa Rasul untuk menyampaikan Risalahnya dengan berbagai kemampuan dan bukti nyata (Mukjizat) yang membuktikan bahwa para Rasul adalah manusia yang dipilih Allah untuk menyebarkan risalah-Nya. dalam hal ini Allah Swt. menjelaskan telah menjadikan besi bagi kemanfaatna manusia dan dijadikan sebagai bukti bahwa Allah Swt. yang bekehendaka atas segala sesuatu dan segala hal. Allah Swt. mengutus para Rasul disertai dengan Kitab dimana didalamnya terdapat tentang ajaran-ajaran yang harus disampaikan oleh para Rasul kepada Ummatnya, dinatara kitab-kitab itu adalah Zabur, Taurat, Injil dan Al-Quran sebagai penyempurna dari kitab-kitab sebelumnya dan menjadi dasar untuk menegakan neraca keadilan atau sebagai dasar dalam setiap pengambilan keputusan atas berbagai permasalahan. Pada akhir ayat tersebut Allah Swt. memberikan penjelasan tentang adanya manfaat dari besi dan kehebatan yang luar biasa sebagai bukti ke Maha Agungan dan ke Maha Besar-an Allah Swt. Karen memang telah kita ketahui bersama dengan adanya besi ini kita dapat merasakan kehidupan yang lebih baik dan paling penting dalpat mengubah peradaban manusia menuju lebih baik dengan dibuktikan semakin pesatnya perkembangan tekhnologi dan informasi yang merupakan salah satu manfaat dari besi yang telah digambarkan oleh Allah pada ayat tersebut. e. Tafsir Ayat Allah SWT menerangkan bahwa Dia telah mengutus para Rasul kepada umat-umat Nya dengan membawa bukti-bukti yang kuat untuk membuktikan kebenaran risalah Nya. Di antara bukti-bukti itu, ialah mukjizat-mukjizat yang diberikan kepada para Rasul itu, seperti tidak terbakar oleh api sebagai mukjizat

14

Nabi Ibrahim as, mimpi yang benar sebagai mukjizat Nabi Yusuf as, Tongkat sebagai mukjizat Nabi Musa as. Alquran sebagai mukjizat Nabi Muhammad saw dan sebagainya. Dalam pada itu setiap Rasul yang diutus itu bertugas menyampaikan agama Allah kepada umatnya. Ajaran agama itu adakalanya tertulis dalam sahifah-sahifah dan adakalanya termuat dalam suatu kitab, seperti Taurat, Zabur, Injil dan Alquran. Ajaran agama itu berupa petunjuk bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebagai dasar mengatur dan membina masyarakat, maka setiap agama yang dibawa oleh para Rasul itu mempunyai asas "keadilan". Keadilan ini wajib ditegakkan oleh para Rasul dan pengikut-pengikutnya dalam masyarakat, yaitu keadilan penguasa terhadap rakyatnya, keadilan suami sebagai kepala rumah tangga, keadilan pemimpin atas yang dipimpinnya dan sebagainya, sehingga seluruh anggota masyarakat sama kedudukannya dalam hukum, sikap dan perlakuan. Di samping itu Allah SWT menganugerahkan kepada manusia "besi" suatu karunia yang tidak terhingga nilai dan manfaatnya. Dengan besi dapat dibuat berbagai macam keperluan manusia, sejak dari yang besar sampai kepada yang kecil, seperti berbagai macam kendaraan di darat, di laut dan di udara, keperluan rumah tangga dan sebagainya. Dengan besi pula manusia dapat membina kekuatan bangsa dan negaranya, karena dari besi dibuat segala macam alat perlengkapan pertahanan dan keamanan negeri, seperti senapan, kendaraan perang dan sebagainya. Tentu saja semuanya itu hanya diizinkan Allah menggunakannya untuk menegakkan agama Nya, menegakkan keadilan dan menjaga keamanan negeri. Allah SWT menerangkan bahwa Dia melakukan yang demikian itu agar Dia mengetahui siapa di antara hamba-hamba Nya yang mengikuti dan menolong agama yang disampaikan para Rasul yang diutus Nya dan siapa yang mengingkarinya. Dengan anugerah itu Allah SWT ingin menguji manusia dan mengetahui sikap manusia terhadap nikmat Nya itu. Manusia yang taat dan tunduk kepada Allah akan melakukan semua yang disampaikan para Rasul itu,

15

karena ia yakin bahwa semua perbuatan, sikap dan isi hatinya diketahui Allah, walaupun ia tidak melihat Allah mengawasi dirinya. Sehubungan dengan kegunaan besi ini diterangkan dalam hadis Artinya: Dari Ibnu Umar, ia berkata, "Bersabda Rasulullah saw: "Aku diutus dengan pedang (besi) sebelum kedatangan Hari Kiamat (akhir zaman), sehingga orang menyembah Allah saja, tidak ada syerikat bagi Nya dan Allah menjadikan rezekiku di bawah naungan tombakku dan menjadikan hina dan rendah orang yang menyalahi perintahku, dan barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kaum itu". (H.R. Ahmad dan Abu Daud) Pada akhir ayat ini Allah SWT menegaskan kepada manusia bahwa Dia Mahakuat, tidak ada sesuatu pun yang mengalahkan Nya, bahwa Dia Mahaperkasa dan tidak seorang pun yang dapat mengelakkan diri dari hukuman yang telah ditetapkan Nya.

2.7. Surah Saba' Ayat 28

Artinya : Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui. Pada ayat ini Allah menerangkan bahwa Nabi Muhammad saw bukan saja ia diutus kepada seluruh manusia. Ia bertugas sebagai pembawa berita gembira bagi orang-orang yang mempercayai dan mengamalkan risalah yang dibawanya itu dan sebagai pembawa peringatan kepada orang-orang yang mengingkarinya atau menolak ajaran-ajarannya. Nabi Muhammad adalah nabi penutup tidak ada lagi Nabi dan Rasul diutus Allah sesudah dia. Dengan demikian pastilah risalah yang dibawanya itu berlaku untuk seluruh manusia sampai Kiamat. dan karena risalahnya itu adalah risalah yang terakhir maka di dalam risalahnya tercapailah peraturan-peraturan dan syariat hukum-hukum yang layak dan baik untuk dijalankan setiap tempat dan setiap masa, karena risalah yang dibawanya itu
16

bersumber dari Allah Yang Maha Bijaksana dan Maha Mengetahui. Dialah yang menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada pada keduanya. Dialah yang mengatur segala apa yang ada pada keduanya. Dialah yang mengatur semuanya itu dengan peraturan yang amat teliti sehingga semuanya berjalan dengan baik dan harmonis. Allah yang demikian besar kekuasaan-Nya tidak mungkin akan menurunkan suatu risalah yang mencakup seluruh umat manusia kalau peraturan-peraturan dan syariat itu tidak mencakup 'seluruh kepentingan manusia pada setiap masa. Dengan demikian pastilah risalahnya itu risalah yang baik untuk ditrapkan kepada siapa dan umat yang manapun di dunia ini. Hal ini tidak diketahui oleh semua orang bahkan kebanyakan manusia menolak dan menantangnya. Di antara penantang-penantang itu adalah kaum Muhammad sendiri yaitu orang-orang kafir Mekah. Banyak ayat-ayat di dalam Alquran yang menegaskan bahwa Muhammad diutus kepada manusia seluruhnya di antaranya:

Artinya: Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al Furqan (Alquran) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam. (Q.S. Al Furqan: 1) Dan firman-Nya:

Artinya: Katakanlah: "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, yang menghidupkan dan mematikan, maka

17

berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya. Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia supaya kamu mendapat petunjuk". (Q.S. Al A'raf: 158) 2.8. Surat Asy Syuura 51

Artinya : Dan tidak ada bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata dengan dia kecuali dengan perantaraan wahyu atau di belakang tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. Dalam ayat ini Allah SWT menerangkan bahwa Allah tidak akan berkatakata dengan hamba-Nya kecuali dengan salah satu dari tiga cara seperti tersebut berikut ini : 1. Dengan wahyu, yakni Allah SWT menanamkan ke dalam hati sanubari seorang Nabi suatu pengertian yang tidak diragukannya bahwa yang diterimanya adalah dari Allah SWT. Seperti halnya yang terjadi dengan Nabi Muhammad saw Sabda beliau: Artinya: Sesungguhnya Ruhul Qudus telah menghembuskan ke dalam lubuk hatiku bahwasanya seseorang tidak akan meninggal dunia hingga dia menerima dan menjalin dengan sempurna rezeki dan ajalnya, maka bertakwalah kepada Allah SWT dan berusahalah dengan cara yang sebaik-baiknya. (H.R. Ibnu Hibban) 2. Di belakang tabir yakni dengan cara mendengar dan tidak melihat siapa yang berkata, tetapi perkataannya itu didengar, seperti halnya Allah berbicara dengan Nabi Musa, Firman Allah SWT:

18

Artinya: Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkata Musa: "Ya Tuhanku! Nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tak dapat melihat-Ku". (Q.S. Al A'raf: 143) 3. Mengutus seorang utusan, yakni Allah SWT mengutus seorang utusan berupa malaikat Jibril, maka utusan itu menyampaikan wahyu kepada siapa yang dikehendaki Nya, sebagai mana halnya Jibril turun kepada Nabi Muhammad saw dan kepada Nabi-nabi yang lain. Dalam hadis yang diriwayatkan Imam Bukhari dari Siti 'Aisyah ra. bahwa, Al Harits bin Hisyam bertanya kepada Nabi saw, ujarnya: "Bagaimana cara wahyu datang kepada engkau? jawab Rasulullah sa: "Kadang-kadang wahyu datang kepadaku sebagai bunyi gemerincing lonceng. Itulah yang sangat berat bagiku. Setelah ia berhenti, aku telah mengerti apa yang telah dikatakan Nya; kadang-kadang malaikat merupakan dirinya kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, maka aku mengerti apa yang dibicarakannya". Berkata Aisyah ra, sesungguhnya saya lihat Nabi ketika turun Kepadanya wahyu di hari yang sangat dingin, kemudian setelah wahyu itu terhenti terlihat dahinya bercucuran keringat. Ayat ini ditutup dengan penegasan bahwa Allah itu Maha Tinggi lagi Maha Suci dari sifat-sifat makhluk ciptaan Nya. Dia disebut menurut kebijaksanaan Nya, berbicara dengan hamba-hamba Nya, adakalanya tanpa, perantara baik berupa ilham atau berupa percakapan dari belakang tabir.

19

2.9. Surah Asy Syuura 52

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (al-Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (al-Quran) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan al-Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Allah SWT menerangkan bahwa sebagaimana Dia menurunkan wahyu kepada Rasul-rasul terdahulu Dia menurunkan juga wahyu kepada Nabi Muhammad berupa Alquran sebagai rahmat Nya. Selanjutnya Allah SWT menjelaskan bahwa Muhammad saw sebelum mencapai umur empat puluh tahun dan berada di tengah-tengah kaumnya, belum tahu apa Alquran itu dan apa iman itu, dan begitu juga dia belum tahu apa syariat itu secara terperinci dan pengertian tentang hal-hal yang mengenai wahyu yang diturunkannya, tetapi Allah menjadikan Alquran itu cahaya terang benderang yang dengannya Allah SWT memberi petunjuk kepada hamba-hamba yang dikehendaki Nya dan

membimbingnya kepada agama yang benar, yaitu agama Islam. Sebagaimana firman Allah SWT: Artinya: Katakanlah: "Alquran itu adalah petunjuk dan penawar hati bagi orang-orang yang beriman. Dan orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbat sedangkan Alquran itu adalah suatu kegelapan bagi mereka". (Q.S. Fussilat: 44) dan firman Nya:

20

Artinya: Sesungguhnya Alquran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus". (Q.S. Al Isra: 9) Dengan cahaya Alquran itulah, Allah SWT memberikan petunjuk kepada jalan yang lurus, agama yang benar.

3. Surat Al- Maidah Ayat 48 a. Teks Ayat Surat Al-Maidah : 48

b. Terjemah Mufrodat

.

Kitab (al-Quran)


kepadamu


Dan telah Kami turunkan

Yang membenarkan

Dengan sebenarnya


Telah Allah turunkan Dan yang menjaga (menjadi saksi)


Dari Kitab (Taurat dan Injil


dihadapannya

atasnya

Terhadap apa yang


Dengan apa (alQuran) yang


Diantara mereka (ahli kitab)

Dan jangan


Yang benar dari (al-quran)


Telah databf padamu


Dengan meninggalkan apa yang


Hawa nafsu mereka

Maka putuskanlah hukum

Engkau mengikuti


Dari jalan agama


Syariah


umat


Telah kami jadikan

Diantara kalian


Akan tetapi


Yang satu (tidak


Allah

Bagi tiap-tiap (umat)

Niscaya dia

21

ada perbedaan syariat)


(dalam)ebajikankebajikan


Dia datangkan kepada kalian

menjadikan kalian

menghendaki

Maka berlombalombalah kalian


Dia hendak menguji kalian

Terhadap apa yang


Dengan apa yang

Lalu Dia memberi tahu kalian


didalamnya

Semua(nya)


Kalian berselisih (syariat agama)

Tempat kalian kembali

Kepada Allah

Kalian dahulu

c. Terjemah Ayat Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian[421] terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat diantara kamu[422], Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikanNya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu, d. Pengertian Global Pada ayat ini Allah Swt. menjelaskan bahwa Allah Swt. telah menurunkan Al-Quran sebagai bukti kebenaran atas apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad Saw. kepada ummatnya. Dimana Al-Quran merupakan Kitab yang menyempurnakan Kitab-Kitab yang telah diturunkan kepada para Nabi dan Rasul terdahulu karena memang Kitab-Kitab terdahulu telah banyak diubah dan dimanipulasi oleh prkataan-perkataan manusia. Kemudian Allah Swt. menegaskan untuk menggunakan Al-Quran sebagai dasar untuk memutuskan setiap perkara dan menjadi dasar dalam lkehidupan manusia serta tidak terbawa oleh hawa nafsu yang akan membawa kepada

22

keburukan dan kebinasaan sebagaimana yang telah dikabarkan oleh Ahli Kitab yang mengingkari kebenaran Al-Quran. Allah Swt. menerangkan pula bahwa Allah Swt. sangat bisa untuk menjadikan ummat ini menjadi satu golongan, hanya saja Allah hendak menguji kepada manusia agar dapat membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, serta memberikan pilihan kepada kebaikan atau kepada keburukan, oleh Karena itu Allah Swt. menyuruh kepada kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan, berlomba-lomba mencari jalan yang telah diisyaratkan oleh Allah dalam setipa firman-Nya dan Allah Swt. menurunkan Kitab Al-Quran untuk menjadi penengah dan sebagai petunjuk menuju jalan yang lurus dan menghindari perselisihan diantara ummat ini. Kemudian kelak Allah Swt. akan menjelaskan mana yang benar dan mana yang salah atas pilihan manusia itu, karena semuanya berpulang dan akan kembali kepada Allah Swt. e. Tafsir Ayat Setelah Allah swt. menerangkan bahwa kitab Taurat telah diturunkan kepada Nabi Musa a.s. dan kitab Injil telah diturunkan pula kepada Nabi Isa a.s. dan agar kitab tersebut ditaati dan diamalkan oleh para penganutnya masingmasing, maka pada ayat ini diterangkan bahwa Allah swt. menurunkan kepada Nabi dan Rasul terakhir Muhammad saw. kitab suci Alquran yaitu kitab samawi terakhir yang membawa kebenaran, mencakup isi dan membenarkan kitab suci sebelumnya seperti kitab Taurat dan Injil. Alquran adalah kitab yang terpelihara dengan baik, sehingga ia tidak akan mengalami perubahan dan pemalsuan. Alquran adalah kitab suci yang menjamin syariat yang murni sebelumnya dan kitab suci satu-satunya yang berlaku sejak diturunkannya sampai hari kemudian. Oleh karena itu pantaslah, bahkan wajib menghukum dan memutuskan perkara putra manusia sesuai dengan hukum yang telah diturunkan Allah yang telah terdapat di dalamnya dan bukanlah pada tempatnya menuruti keinginan dan kemauan hawa nafsu mereka yang bertentangan dengan kebenaran yang dibawa oleh Junjungan kita Nabi Muhammad saw. Tiap-tiap umat Allah diberi syariat (peraturan-peraturan khusus) dan diwajibkan kepada mereka melaksanakannya dan juga mereka telah diberi jalan

23

dan petunjuk yang harus melaksanakannya untuk membersihkan diri dan menyucikan batin mereka. Syariat setiap umat dan jalan yang harus ditempuhnya boleh saja berubah rubah dan bermacam-macam tetapi dasar dan landasan Agama Samawi hanyalah satu. Kitab Taurat, Injil dan Alquran, masing-masing mempunyai syariat tersendiri, di mana Allah swt. telah menentukan hukum halal dan haram, sesuai dengan kehendak-Nya untuk mengetahui siapa yang taat dan siapa yang tidak. Firman Allah swt. Artinya: Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan padanya, "Bahwasanya tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Aku" maka sembahlah Aku olehmu sekalian. (Q.S. Al-Anbiya': 25) Sekiranya Allah swt. menghendaki, tentulah Dia dapat menjadikan manusia hanya mempunyai satu syariat dan satu macam jalan pula yang akan ditempuh dan diamalkan mereka sehingga dari zaman ke zaman tidak ada peningkatan dan kemajuan seperti halnya burung dan lebah, tentunya akan terlaksana dan tidak ada kesulitan sedikitpun, karena Allah swt. kuasa atas segala sesuatu tetapi yang demikian itu tidak dikehendaki oleh-Nya. Allah swt. menghendaki manusia itu sebagai makhluk yang dapat mempergunakan akal dan pikirannya, dapat maju dan berkembang dari zaman ke zaman. Dari masa kanak-kanak ke masa remaja meningkat jadi dewasa dan seterusnya. Demikianlah Allah swt. menghendaki dan memberikan kepada tiap-tiap umat syariat tersendiri untuk menguji sampai di mana manusia itu dapat dan mampu melaksanakan perintah Allah atau menjauhi larangan-Nya. Sebagai mana yang telah ditetapkan di dalam kitab Samawi-Nya, untuk dapat diberi Pahala atau disiksa. Oleh karena itu seharusnyalah manusia berlomba-lomba berbuat kebaikan dan amal saleh, sesuai dengan syariat yang dibawa oleh Nabi penutup, Rasul terakhir Muhammad saw. Syariat yang menggantikan syariat sebelumnya. untuk kepentingan di dunia dan kebahagiaan di akhirat kelak.

24

Pada suatu waktu nanti, mau tak mau manusia akan kembali kepada Allah swt. memenuhi panggilan-Nya, ke alam Baqa. Di sanalah nanti Allah swt. akan memberitahukan segala sesuatunya tentang hakikat yang diperselisihkan mereka. Orang-orang yang benar-benar beriman akan diberi pahala, sedang orang-orang yang ingkar dan menolak kebenaran, serta menyeleweng dari-Nya tanpa alasan dan bukti akan diazab dan dimasukkan ke dalam neraka.

Surat Yunus 57

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Rabb-mu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk, serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus, 57) Tafsir Ayat Pada ayat yang ke 57 Allah berfirman dalam rangka memberi dukungan kepada manusia agar mereka menerima kitab yang mulia ini (Al Qur-an) dengan menyebutkan sifat-sifat Al Qur-an yang baik yang sangat dibutuhkan para hamba, Allah berfirman,

)
Wahai manusia, sungguh telah datang kepadamu nasihat (Al-Quran) dari tuhanmu.. Yaitu, (nasehat) yang menasihati kamu, memperingatkan kamu dari perbuatanperbuatan yang mendatangkan kemurkaan Allah, serta mengharuskan datangnya siksaan Allah. Dan (nasehat) yang menakut-nakuti kamu darinya dengan menjelaskan dampak-dampak dan keburukan-keburukan perbuatan tersebut. ( ) .. penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada

Yaitu, Al Qur-an ini adalah penyembuh (obat) bagi penyakit-penyakit yang ada dalam dada, berupa penyakit-penyakit syahwat yang menghalangi ketundukan terhadap syariat, serta penyakit-penyakit syubhat yang merusak ilmu yakin (keyakinan).

25

Karena apa-apa yang ada di dalam Al Qur-an, berupa nasehat-nasehat, motivasi, janji dan ancaman, semua ini memunculkan rasa cinta pada kebaikan dan benci kepada keburukan pada diri seorang hamba. Ketika di jumpai pada jiwa seseorang rasa cinta pada kebaikan dan benci pada keburukan, serta jiwa tumbuh di atas makna-makna ayat Al Qur-an yang diulangulang yang datang dalam Al Qur-an, ini semua membuat seorang hamba mendahulukan keinginan Allah di atas keinginan jiwanya. Begitu juga apa-apa yang ada di dalam Al Qur-an, berupa keterengan-keterangan dan dalil-dalil yang Allah edarkan dengan sebaik-baik pengedaran dan yang Allah jelaskan dengan sebak-baik penjelasan, merupakan perkara yang bisa menghilangkan syubhatsyubhat yang bisa merusak kebenaran. Dengannya hati bisa sampai kepada derajat keyakinan yang tertinggi. Firman Allah,

),
. dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman. Yang dimaksud petunjuk adalah mengetahui kebenaran dan mengamalkan atau mempraktekkan kebenaran itu. Yang dimaksud rahmat adalah apa saja yang didapat bagi seseorang yang mengambil manfaat dari kebenaran, berupa kebaikan-kebaikan, ihsan, pahala yang sekarang dan yang akan datang. Maka, petunjuk merupakan wasilah (sarana) yang paling mulia, sedangkan rahmat merupakan sesempurna-sempurnanya keinginan dan cita-cita. Akan tetapi tidak akan bisa mengambil manfaat alquran, begitu juga Al Quran tidak bisa menjadi rahmat kecuali bagi orang-orang beriman saja.

Dan ketika petunjuk telah didapatkan serta rahmat yang muncul dari petunjuk itupun telah turun, maka didapatkanlah; kebahagiaan,kesuksesan, keberuntungan, kemenangan dan kegembiraan. Oleh karena itu (pada ayat yang ke-58) Allah taala memerintahkan untuk bergembira dengan hal tersebut, Allah berfirman, katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah) yaitu karunia tersebut adalah Al Quran yang merupakan nikmat dan karunia terbesar, serta karunia yang

26

Allah berikan kepada para hamba Nya(dan rahmatnya), yaitu: agama, iman, beribadah kepada Allah, mencintai dan mengenal Allah (hendaknya dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari pada apa-apa yang mereka kumpulkan); baik berupa, kesenangan dunia dan kelezatannya.

Maka kenikmatan agama yang bersambung dengan kebahagiaan dunia dan akhirat, tidak bisa dibandingkan antaranya (nikmat agama) dengan apa saja yang ada di dunia yang akan sirna dan hilang dalam waktu yang dekat. Adapun mengapa Allah Taala memerintahkan untuk bergembira dengan sebab karunia dan rahmat-Nya adalah karena hal tersebutlah yang mewujudkan lapangnya jiwa, giatnya, bersyukur kepada Allah serta kuatnya jiwa, dan sangat cintanya kepada ilmu dan iman yang mengajak.

Ini adalah kegembiraan yang terpuji. Berbeda dengan kegembiraan dengan syahahwat (hawa nafsu) dunia, dan kelezatannya atau kegembiraan dengan kebatilan (kesesatan). Karena

sesungguhnya ini adalah tercela. Sebagaimana firman Allah tentang Qoum Qorun yang menasihati Qorun:

Janganlah

kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-

orang yang terlalu membanggakan diri. (QS. Al Qoshosh, 76) Begitu juga seperti firman Allah tentang orang-orang yang bergembira dengan kebatilan yang ada pada merka, yang menentang ajaran yang di bawa para Rosul, Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan. (QS. Al Mumin: 83)

27

BAB III PENUTUP 3.1.Kesimpulan Sebagaimana yang terkandung dalam surat An-Nahl (36), Al-Jumuah (2), dan Surat Al-Hadid (56) menerangkan tentang inti daripada penyampaian Risalah. Oleh karena itu, dalam pembahasan ini banyak mengandung masalah kenabian, ketuhanan, dan peribadatan terhadap Allah Swt Ilmu taubat adalah ilmu yang penting, bahkan urgen. Keperluan atas ilmu itu amat mendesak, terutama dalam zaman kita ini. Karena manusia telah banyak tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Mereka melupakan Allah SWT sehingga Allah SWT membuat mereka lupa akan diri mereka. Banyak sekali godaan untuk melakukan kejahatan, dan banyak pula penghalang manusia untuk melakukan kebaikan. Beragam cara dipergunakan untuk menghalangi manusia dari jalan Allah SWT. Beragam media setan, perangkat canggih, yang dapat dibaca, didengar (audio), dan disaksikan ( visual ) dimanfaatkan untuk tujuan itu. Semua itu dilakukan oleh setan-setan yang berada dalam negeri kita, maupun yang berada di luar. Diperkuat oleh jiwa dan nafsu ammarah bis su, yang mengajak kepada keduniawian, melupakan maut dan perhitungan akhirat, neraka dan surga, dan melenakkan diri dari mengingat Allah SWT. Sehingga mereka meninggalkan salat dan mengikuti hawa nafsu. Melanggar janji yang telah ditekan bersama Allah SWT. Melewati batasbatas yang telah digariskan oleh Allah SWT, dan menabrak hak-hak manusia. Dengan tenang mereka memakan harta manusia dengan kebatilan. Dan tidak memperdulikan lagi dari mana harta yang ia dapatkan: dari barang dan cara yang halal atau haram. Manusia amat membutuhkan orang yang memberi peringatan dan berteriak kepada mereka: Bangkitlah dari mabuk kalian, bangunlah dari tidur kalian, berjalanlah di jalan yang lurus, bertaubatlah kepada Rabb kalian, sebelum datang hari yang padanya tidak bermanfaat lagi harta dan sanak keluarga, kecuali mereka yang datang kepada Allah SWT dengan hati bersih.

28

Akhirnya, semoga Allah memberikan kekuatan kepada kita semua untuk menjadikan Allah sebagai tujuan hidup kita, Rasulullah Muhammad Saw. sebagai Panutan hidup kita, Al-Quran sebagai imam dan petunjuk hidup kita, Jihad sebagai jalan juang kita dan Mati Syahid dijalan Allah menjadi cita-cita kita tertinggi. Sembari bermunajat kepada Allah Swt. dengan penuh khusyu dan khudlu mudah-mudahan sekecil apapun perbuatan kita yang senantiasa diiringi dengan keikhlasan menjadi kendaraan menuju surga Allah Swt. dan menempatkan kita beserta para Nabi dan rasul-Nya, bersama orang-orang yang ditunjukan kebenaran atas risalah-Nya, bercengkrama bersama para Syuhada dan shalihin dan termasuk golongan orang yang dicintai-Nya. Amiin

29

DAFTAR PUSTAKA

Al-Mahali, Imam Jalaluddin dan Imam Jamaluddin As-Suyuti. 2006. Tafsir Jalalain Berikut Asbabun Nuzul. Bandung: Sina Baru Al-Gesindo. Al-Suud, Fadh bin Abdul Aziz. 2005. Al-Quranul Karim wa Tarjamatu Maaniyah ilal Lughatul Indunisiyyah. Madinah Munawwarah: Quran compleks. Al-Syeikh, Abdullah bin Muhammad bin Abdurrahman bin Ishaq. 2003. Lubaabut Tafsir Min Ibni Katsiir. Bogor : Pustaka Imam Asy-Syafii Ash-Shiddieqy, Muhammad Hasbi. 2000. Tafsir Al-Quranul Majid An-Nuur. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Quthb, Sayyid. 2004. Tafsir Fi Zilalil-Quran. Jakarta: Gema Insani. Shihab, Muhammad Quraish, Muhammad. 2007. Tafsir Al-Misbah: pesan, kesan dan keserasian Al-Quran. Jakarta: Lentera Hati.

30