Anda di halaman 1dari 19

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Kentang merupakan tanaman dikotil yang bersifat semusim karena hanya
satu kali berproduksi setelah itu mati, berumur pendek antara 90-180 hari dan
berbentuk semak/herba. Batangnya yang berada di atas permukaan tanah ada yang
berwarna hijau, kemerah-merahan, atau ungu tua. Akan tetapi, warna batang ini
juga dipengaruhi oleh umur tanaman dan keadaan lingkungan. Pada kesuburan
tanah yang lebih baik atau lebih kering, biasanya warna batang tanaman yang
lebih tua akan lebih menyolok. Bagian bawah batangnya bisa berkayu. Sedangkan
batang tanaman muda tidak berkayu sehingga tidak terlalu kuat dan mudah roboh.
(Komang dkk, 2013).
Kentang (Solanum tuberosum L.) merupakan salah satu komoditas
sayuran yang mendapat prioritas dalam proses produksinya karena dapat
mendatangkan keuntungan bagi petani, memiliki peluang dalam pemasaran dan
ekspor, tidak mudah rusak seperti pada sayuran lainnya dan juga memiliki kadar
kalori, protein dan vitamin yang tinggi.Rendahnya produktivitas kentang di
Indonesia disebabkan oleh beberapa hal antara lain rendahnya mutu benih yang
digunakan petani, tingginya biaya produksi bibit, pengetahuan kultur teknis masih
kurang, menanam kentang secara terus menerus, umur panen yang kurang tepat,
penyimpanan yang kurang baik, permodalan yang terbatas dan yang paling utama
adalah faktor kehilangan hasil akibat serangan hama dan penyakit (Kurnia, 2012).
Komoditi sayuran ini dikenal sebagai tanaman yang memiliki
produktivitas yang tinggi dibandingkan dengan gandum, padi maupun jagung,
asalkan ditanam pada lokasi yang cocok dan dipelihara dengan baik. Masalahnya,
2

apabila kentang sampai diserang penyakit, apalagi diserang penyakit yang
membahayakan dan serangannya sudah berat, maka umbi kentang yang
diharapkan sulit diperoleh karena dapat menyebabkan umbinya membusuk. Jika
pun umbinya ada yang bisa dipanen, hasilnya akan mengecewakan
(Muchdat, 2010).
Keberadaan penyakit tanaman selalu dianggap merugikan sehingga
manusia berusaha menghilangkannya dengan cara apapun. Semula cara untuk
menghilangkan hama dan penyakit dilakukan secara sederhana, yaitu secara fisik
dan mekanik menggunakan alat sederhana seperti dengan alat pemukul. Semakin
luasnya daerah pertanian membuat cara-cara sederhana tersebut tidak mampu lagi
membendung peningkatan populasi hama dan penyakit. Seiring dengan
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi para pakar hama dan penyakit
menemukan dan mengembangkan banyak metode dan teknik pengendalian hama
yang lebih efektif, seperti dengan menggunakan pestisida. Namun seiring
berjalannya waktu, karena pestisida tidak digunakan secara bijaksana, maka
sekarang lebih banyak digunakan pengendalian hayati, pengendalian secara
budidaya, pengendalian secara kultur teknis, pengendalian fisik dan mekanik,
serta pengendalian dengan varietas tahan (Lilie, 2013).
Pseudomonas solanacearum merupakan bakteri patogen tular tanah yang
menjadi faktor pembatas utama dalam produksi berbagai jenis tanaman di dunia.
Bakteri ini tersebar luas di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa daerah hangat
lainnya. Spesies ini juga memiliki kisaran inang luas dan dapat menginfeksi
ratusan spesies pada banyak famili tanaman yang mempunyai arti penting
ekonomi (Hardiyanti, 2013).
3

Salah satu penyakit yang perlu diwaspadai adalah penyakit "Layu Bakteri"
atau "Bacterial Wilt" yang disebabkan oleh bakteri Pseudomonas solanacearum
atau yang dikenal pula sebagai bakteri Ralstonia solanacearum. Bakteri ini tidak
cuma menyerang kentang, tetapi dapat juga merusak tanaman lain seperti tomat,
tembakau, kacang tanah, terung, cabai dan beberapa jenis gulma dan terung-
terungan. Jenis-jenis tanaman ini lah merupakan tanaman inang bakteri tersebut
yang dapat menularkan penyakit pada tanaman kentang yang sedang kita tanam
(Muchdat, 2010).
Berdasarkan kisaran inangnya, R. solanacearum dikelompokkan menjadi 5
ras. Ras 1 menyerang tanaman tembakau, tomat dan famili solanaceae lainnya, ras
2 menyerang tanaman pisang, ras 3 menyerang tanaman kentang, ras 4
menyerang tanaman jahe, dan ras 5 menyerang tanaman mulberry
(Hardiyanti, 2013).
Tujuan Percobaan
Adapun tujuan dari penulisan laporan ini adalah mengetahui penyakit
yang disebabkan oleh bakteri dan mengetahu penyakit layu bakteri
(Pseudomonas solanacearum) pada tanaman kentang (Solanum tuberosum L.)
Kegunaan penulisan
Adapun kegunaan dari penulisan laporan ini adalah sebagai salah satu
syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di Laboratorium Dasar Perlindungan
Tanaman Sub-Penyakit Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian
Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai bahan informasi bagi pihak yang
membutuhkan.

4

TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)
Dalam dunia tumbuhan, kentang diklasifikasikan sebagai berikut,
Kingdom: Plantae; Divisi : Spermatophyta; Subdivisi: Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae; Famili : Solanaceae; Genus : Solanum; Species : Solanum
tuberosum L. (Plantamor.com)
Tanaman kentang umumnya berdaun rimbun. Daunnya terletak berselang-
seling pada batang tanaman. Daun berbentuk oval agak bulat dan meruncing, dan
bertulang daun menyirip seperti duri ikan. Daun berkerut-kerut dan permukaan
bagian bawah daun berbulu. Warna daun hijau muda sampai hijau tua hingga
kelabu. Ukuran daun sedang dengan tangkai pendek (Simamora, 2012).
Batang kentang umumnya lemah sehingga mudah roboh bila kena angin
kencang, warna batang umumnya hijau tua dengan pigmen ungu. Batang tanaman
bercabang-cabang dan setiap cabang ditumbuhi daun-daun yang rimbun dan letak
daun berselang seling mengelilingi batang tanaman (Setiadi, 2009).
Tanaman kentang yang berasal dari biji memiliki sistem perakaran akar
tunggang yang dapat menembus tanah sampai sedalam 45 cm dan mempunyai
banyak akar cabang yang tumbuh menyebar, akar berwarna keputih putihan dan
berstruktur halus (Simamora, 2012).
Tanaman kentang ada yang berbunga dan ada juga yang tidak ber-
bunga,tergantung varietasnya. Warna bunga bervariasi, kuning atau ungu.
Kentang varietas Desiree berbunga ungu, varietas Cipanas, Segunung, dan
Cosima bunga dan be-nang sarinya berwarna kuning sedangkan putiknya
5

berwarna putih. Bunga kentang tumbuh dari ketiak daun teratas. Jumlah tandan
bunga juga bervariasi. Bunga kentang berjenis kelamin dua (Setiadi, 2009).
Proses pembentukan umbi ditandai dengan berhentinya pertumbuhan
memanjang stolon yang diikuti pembesaran stolon membentuk umbi sebagai
tempat penyimpanan gudang makanan, umbi kentang memiliki mata tunas
sebagai bahan perkembangan yang selanjutnya dapat menjadi tanaman baru
(Simamora, 2012).
Syarat Tumbuh Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.)
Tanah
Secara fisik, tanah yang baik untuk bercocok tanaman kentang adalah
yang berstruktur remah, gembur, banyak mengandung bahan organik, berdrainase
baik dan memiliki lapisan olah yang dalam. Sifat fisik tanah yang baik akan
menjamin ketersediaan oksigen di dalam tanah. Tanah yang memiliki sifat ini
adalah tanah andosol yang terbentuk di pegunungan - pegunungan. Keadaan pH
tanah yang sesuai untuk tanaman kentang bervariasi antara 5,0 - 7,0, tergantung
varietasnya (Soelarso, 1997).
Untuk produksi yang baik pH yang rendah tidak cocok ditanami kentang.
Pengapuran mutlak diberikan terhadap tanah yang memiliki nilai pH sekitar 7.
Daerah yang cocok untuk menanam kentang adalah dataran tinggi/daerah
pegunungan, dengan ketinggian antara 1.000 - 3.000 m dpl. Ketinggian idealnya
berkisar antara 1000 - 1300 m dpl. Beberapa varitas kentang dapat ditanam di
dataran menengah (300 - 700 m dpl) (Simamora, 2012).
Daerah yang berangin kencang harus dilakukan pengairan yang cukup dan
sering dilakukan pengontrolan keadaan tanah karena angin kencang yang
6

berkelanjutan berpengaruh secara langsung maupun tidak langsung terhadap
pertumbuhan tanaman dan penularan bibit penyakit ke tanaman dan ke areal
pertanaman yang lain (Putro, 2011).
Iklim
Tanaman kentang dapat tumbuh dan berproduksi dengan baik apabila
ditanam pada kondisi lingkungan yang sesuai dengan persyaratan tumbuhnya.
Tanaman kentang memerlukan temperatur udara yang relatif rendah (terutama
pada pembentukan umbi) yaitu kisaran 15,6C 17,8C. Pertumbuhan dan
produksi kentang sangat bergantung curah hujan dan penyebarannya, curah hujan
antara 200 300 mm tiap bulan atau rata-rata 1000mm selama pertumbuhan
merupakan salah satu syarat tumbuh tanaman kentang (Simamora, 2012).
Lama penyinaran juga berpengaruh terhadap waktu dan masa
perkembangan umbi. Suhu optimal untuk pertumbuhan adalah 18
o
- 21
o
C.
Pertumbuhan umbi akan terhambat apabila suhu tanah kurang dari 10
o
C dan lebih
dari 30
o
C. Kelembaban yang sesuai untuk tanaman kentang adalah 80 - 90%.
Kelembaban lingkungan yang terlalu tinggi akan menyebabkan tanaman
mudah terserang hama dan penyakit, terutama yang disebabkan oleh cendawan
(Soelarso, 1997).
Keadaan iklim yang ideal untuk tanaman kentang adalah suhu rendah
(dingin) dengan suhu ratarata harian antara 1520o C. Kelembaban udara 80-
90% cukup mendapat sinar matahari dan curah hujan antara 200 300 mm per
bulan atau ratarata 1000 mm selama pertumbuhan. Suhu tanah optimum untuk
pembentukan umbi yang normal berkisar antara 1518o C Pertumbuhan terhambat
apabila suhu tanah kurang dari 10o C dan lebih dari 30o C (Putro, 2011).
7

Bakteri Pseudomonas solanaceuarum
Biologi Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanaceuarum)
P. solanacearum diklasifikasikan sebagai berikut Kingdom : Prokaryotae;
Divisi : Gracilicutes; Subdivisi : Proteobacteria; Famili : Pseudomonadaceae;
Genus : Pseudomonas; Spesies : P. Solanacearum (Hardiyanti, 2013).
Siklus hidup P. Solanacearum dapat dimulai dari terjadinya infeksi
patogen ke dalam akar, baik secara sendiri maupun melalui luka yang dibuat oleh
nematoda peluka akar, atau akibat serangga dan alat-alat pertanian. Setelah
berhasil masuk ke dalam jaringan akar, P. solanacearum akan berkembang biak di
dalam pembuluh kayu (xylem) dalam akar dan pangkal batang, kemudian
menyebar ke seluruh bagian tanaman. Akibat tersumbatnya pembuluh kayu oleh
jutaan sel P. solanacearum, transportasi air dan mineral dari tanah terhambat
sehingga tanaman menjadi layu dan mati (Supriadi, 2011).
P. solanacearum adalah spesies yang sangat kompleks. Hal ini disebabkan
oleh variabilitas genetiknya yang luas dan kemampuannya untuk beradaptasi
dengan lingkungan setempat, sehingga di alam dijumpai berbagai strain
P. solanacearum dengan ciri yang sangat beragam. Ditinjau dari segi morfologi
dan fisiologinya, P. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk
batang dengan ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 m, berflagela, bersifat aerobik, tidak
berkapsula, serta membentuk koloni berlendir berwarna putih (Hardiyanti, 2013).
Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara dan air, serta faktor
kebugaran tanaman sangat memengaruhi perkembangan patogen.
P. solanacearum berkembang pesat pada kondisi suhu udara 24-35C, tetapi
perkembangannya menurun pada suhu di atas 35C atau di bawah 16C.
8

Kenyataan ini dimanfaatkan untuk memproduksi benih kentang bebas
P. solanacearum di dataran tinggi yang suhunya cukup dingin (Supriadi, 2011).
Gejala Serangan Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanaceuarum)
Gejala awal yang ditimbulkan pada tanaman yang terserang bakteri ini
adalah tanaman mulai layu. Kemudian menjalar ke daun bagian bawah. Gejala
yang lebih lanjut : seluruh tanaman layu, daum menguning sampai coklat
kehitam-hitaman, dan akhirnya tanaman mati. Serangan pada umbi menimbulkan
gejala dari luar tampak bercak-bercak kehitam-hitaman, terdapat lelehan putih
keruh (massa bakteri) yang keluar dari mata tunas atau ujung stolon. Adanya daun
muda pada pucuk dan daun tua tanaman akan menjadi layu, daun bagian bawah
menguning merupakan ciri khas gejala penyakit layu bakteri (Hardiyanti, 2013).
Gejala umum serangan, beberapa daun muda pada pucuk tanaman layu;
daun tua dan daun bagian bawah menguning, atau tanaman layu sebagian atau
keseluruhan dengan bagian daun yang menguning lalu mati. Gejala ini seperti
tanaman yang kekurangan air. Bila tanaman dicabut tanaman masih kokoh karena
sistem perakarannya tidak terganggu (Komang dkk, 2013).
Daun-daun layu, dimulai dari daun-daun muda(ujung). Jika batang
dipotong, terlihat berkas pembuluh berwarna cokelat. Jika bagian tersebut ditekan,
dari lingkaran berkas pembuluh keluar massa lendir berwarna kelabuan. Umbi
juga dapat terserang. Pada ujung umbi terdapat bagian yang mengendap dan
berwarna hitam. Jika umbi dipotong tampak adanya jaringan busuk berwarna
cokelat, sedang pada lingkaran berkas pembuluh umbi terdapat lendir berwarna
cokelat muda sampai kelabu. Umbi dapat menjadi busuk lunak (Lilie, 2013)
9


(Sumber, Hasna, 2012).
Faktor yang Mempengaruhi Bakteri (Pseudomonas solanaceuarum)
Penyakit berkembang ketika terdapat banyak hujan dan suhu udara tinggi.
Adanya gulma yang peka akan meningkatkan penyakit layu pada pertanaman
kentang berikutnya. Suhu tinggi dan kelembaban tinggi sangat menguntungkan
bagi bakteri sedangkan suhu yang rendah suhu yang menghambat
pertumbuhannya Penyebaran P.solanacearum mengindikasikan bahwa patogen
ini sangat mudah menyebar, baik melalui benih, air, tanah, maupun serangga,
sehingga sulit dikendalikan jika telah menjadi wabah (Lilie, 2013).
Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara dan air, serta faktor
kebugaran tanaman sangat memengaruhi perkembangan patogen.
P. solanacearum berkembang pesat pada kondisi suhu udara 24-35C, tetapi
perkembangannya menurun pada suhu di atas 35C atau di bawah 16C.
Kenyataan ini dimanfaatkan untuk memproduksi benih kentang bebas
P. solanacearum di dataran tinggi yang suhunya cukup dingin (Supriadi, 2011).
Pengendalian Penyakit Layu Bakteri (Pseudomonas solanaceuarum)
Secara kultur teknis Penyediaan Benih Sehat Karena benih merupakan
faktor pengendalian utama maka penyediaan benih dapat dilakukan baik secara
konvensional maupun inkonvensional. Untuk benih tanaman obat yang
dibudidayakan secara vegetatif, seperti temu-temuan, penyediaan benih secara
10

konvensional dapat dilakukan secara kolektif dengan menerapkan sistem
hamparan blok penghasil benih sumber. Hamparan benih dikelola oleh kelompok
tani di setiap desa sentra produksi (Supriadi, 2011).
Secara Fisik/Mekanis yaitu tanaman yang sakit dicabut sampai ke akar-
akarnya beserta tanah di sekitar perakaran, masukkan ke dalam kantong plastik
kemudian dimusnahkan, misal dibakar agar tidak menjadi sumber penyebaran
penyakit. Sanitasi juga dapat dilakukan agar patogen tular tanah tidak dapat
menyebar (Muchdat, 2010).
Secara Biologis Apabila akan dikendalikan dengan cara biologis, gunakan
agens hayati seperti bakteri Pseudomonas fluorescens dengan dosis aplikasi 10
ml/liter air pada saat awal tanam dan 100 ml/liter air pada saat tanaman berumur
15 hari dengan cara disemprotkan ke seluruh permukaan bedengan tanaman
secara merata (Supriadi, 2011).
Secara Kimiawi yaitui cara ini baru dilakukan apabila cara lain sulit
dilakukan atau hasilnya tidak tidak efektif. Mengingat penyakit tersebut
disebabkan oleh bakteri, maka apabila akan dikendalikan dengan cara kimiawi,
gunakanlah bakterisida yang berbahan aktif asam oksolinik 20 % dengan dosis
yang dianjurkan. Anjuran penggunaan bakterisida tersebut bisa dibaca pada lebel
pembungkusnya. Sebab, pada kemasan atau bungkus bakterisida tersebut
umumnya sudah tertera aturan penggunaannya (Muchdat, 2010).




11

KESIMPULAN
1. Pseudomonas solanacearum merupakan bakteri patogen tular tanah tersebar
di daerah tropis, sub tropis, dan beberapa daerah hangat lainnya.
2. P. solanacearum akan berkembang biak di dalam pembuluh kayu (xylem)
dalam akar dan pangkal batang, kemudian menyebar ke seluruh bagian
tanaman.
3. P. solanacearum merupakan bakteri gram negatif, berbentuk batang dengan
ukuran 0,5-0,7 x 1,5-2,5 m, berflagela, bersifat aerobik, tidak berkapsula,
serta membentuk koloni berlendir berwarna putih.
4. Gejala serangan, daun muda pada pucuk tanaman layu; daun tua dan daun
bagian bawah menguning, lalu mati.
5. Layu bakteri tersebut menular melalui tanah (soil borne patogen) atau melalui
peralatan pertanian.
6. Faktor lingkungan seperti suhu, kelembapan udara dan air, serta faktor
kebugaran tanaman sangat memengaruhi perkembangan patogen.
7. Pengendalian peyakit layu bakteri dapat dilakukan dengan kultur teknis,
mekanis atau fisik, biologi dan kimiawi.







12

DAFTAR PUSTAKA
Hardiyanti, S. 2013. Pengendalian Rolstania Solanacearum. Fakultas Pertanian,
Universitas Andalas, Padang.

Hasna, Q. 2012. Macam-Macam Penyakit Kentang. Fakultas Pertanian,
Universitas Lampung

Komang, E., Made, A. Yohana, A., 2012. Budidaya Tanaman Kentang. Tugas
Kuliah Dasar-Dasar Budidaya Tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas
Lampung.

Kurnia, P. 2012. Pengendalian Hayati pada Tanaman Kentang. Tugas Kuliah
Pengendalian Hayati, Fakultas Pertanian, Universitas Garut.

Lielie, A. 2013. Makalah Penyakit pada Tanaman Kentang. Tugas Kuliah Dasar
Pelindungan tanaman, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Muchdat, W. 2010. Layu Bakteri pada Kentang dan Upaya Pengendaliannya.
Pusat Penyuluhan Pertanian, Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM
pertanian
Putro, A, T, A, M. 2011. Budidaya Tanaman Kentang di Luar Musim Tanam.
Laporan pada Program Diploma-III. Fakultas Pertanian Universitas Sebelas
Maret.

Setiadi, D. 2009. Budidaya Tanaman Kentang. Penebar Swaday, Jakarta

Simamora, M. 2012. Budidaya Tanaman kentang. Fakultas Pertanian, Universitas
Brawijaya

Soelarso, B. P. 1997. Budidaya Kentang Bebas Penyakit. Kanisius, Yogyakarta.

Supriadi. 2011. Penyakit Layu Bakteri Dampak, Bioekologi dan Peranan
Teknologi Pengendaliannya. Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatik.
Pengembangan Inovasi Pertanian 4(4), 2011: 279-293












13

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii
PENDAHULUAN
Latar Belakang ............................................................................................ 1
Tujuan Percobaan ....................................................................................... 3
Kegunaan Penulisan ................................................................................... 3
TINJAUAN PUSTAKA
Botani Tanaman Kentang (Solanum tuberosum L.) ................................... 4
Tanah .................................................................................................... 5
Iklim ..................................................................................................... 6
Bakteri Pseudomonas solanacearum .......................................................... 7
Biologi Penyakit Layu Bakteri
(Pseudomonas solanacearum) ............................................................. 7
Gejala Serangan Penyakit Layu Bakteri
(Pseudomonas solanacearum) ............................................................. 8
Faktor yang memepengaruhi Penyakit Layu Bakteri
(Pseudomonas solanacearum) ............................................................. 9
Pengendalian Penyakit Layu Bakteri
(Pseudomonas solanacearum) ............................................................. 9

KESIMPULAN .................................................................................................... 11

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN












ii
14

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena berkat
rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan tepat pada
waktunya.
Adapun judul laporan ini adalah Penyakit Layu Bakteri
(Pseudomonas solanacearum) pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum )
yang merupakan salah satu syarat untuk dapat mengikuti praktikal test di
Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub-Gulma Program Studi
Agroekoteknologi, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara, Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
Penanggung jawab Laboratorium Dasar Perlindungan Tanaman Sub-Penyakit
yakni Bapak Ir. Mukhtar Iskandar Pinem, M. Agr., Ir. Lahmuddin Lubis, MP., dan
kepada abang dan kakak asisten yang telah membantu penulis dalam
menyelesaikan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih banyak kekurangan oleh
karena itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi
perbaikan penulisan kedepannya. Akhir kata penulis ucapkan terimakasih, semoga
laporan ini bermanfaat bagi kita semua.


Medan, Juni 2014



Penulis
i
15

PERMASALAHAN
Komunitas gulma dipengaruhi oleh faktor-faktor yang berkaitan dengan
kultur teknis. Spesies gulma yang tumbuh bergantung pada pengairan,
pemupukan, pengolahan tanah, dan cara pengendalian gulma. Gulma berinteraksi
dengan tanaman melalui persaingan untuk mendapatkan satu atau lebih faktor
tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara, dan air.
Gulma pada perkebunan tanaman tahunan (karet, kelapa sawit, kelapa,
teh, kopi, kina) berbeda dengan pertanaman semusim (tebu, jagung, tembakau
rosella) pada umumnya masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan
pertanaman yang luas, karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas,
tenaga kerja dan biaya.
Penggunaan pestisida khususnya herbisida. baik di Indonesia maupun di
negara-negara lain, bertujuan untuk mengendalikan gulma pengganggu pada
tanaman budidaya, tetapi dapat pula menimbulkan efek samping, yaitu akan
menimbulkan keracunan pada binatang ataupun manusia.
Penggunaan herbisida pada tumbuhan dapat mempengaruhi satu atau
lebih proses-proses (seperti pada proses pembelahan sel, perkembangan jaringan,
pembentukan klorofil, fotosintesis, respirasi, metabolisme nitrogen, aktivitas
enzim dan sebagainya) yang sangat diperlukan tumbuhan untuk mempertahankan
kelangsungan hidupnya.
Gulma yang dikendalikan dengan herbsida dapat mencapai tingkat
resistan atau tahan terhadap herbisida. Sehingga sulit untuk dikendalikan.
Terutama pada lahan yang luas akan sulit mengendalikan gulma yang resistan.
16

Para pengembang herbisida berusaha menemukan cara untuk mengendalikan
gulma yang tahan akan herbisida.
Pengaplikasian herbisida yang keliru karena tidak mengetahui jenis
gulma dan yang tidak sesuai waktu dapat menyebabkan gagalnya pengendalian
gulma. Gulma yang gagal dikendalikan akan tetap tumbuh dan melakukan
persaingan dengan tanaman utama. Ini menyebabkan kurang efektifnya
pengendalian dan habisnya biaya.
Banyak petani yang belum paham mengenai herbisida. Herbisida juga
memiliki jenis-jenis dan penggolongannya. Petani yang tidak mengetahui jenis
herbisida yang digunakan akan menyebabkan kesalahann dalam penggunaan
herbisida. Kesalahan dalam penggunaan herbisida banyak menimbulkan kerugian
berupa tanaman rusak, habis biaya dan waktu.
Dalam pengaplikasian herbisida pada gulma yang tidak memperhatikan
faktor selektif herbisida fisik akan menimbulkan ketidak efektifan dan gagalnya
aplikasi herbisida. Faktor selektif biologi akan menimbulkan rusaknya jaringan
dan sel yang ada pada tanaman utama yang tidak tahan terhadap pengaplikasian
herbisida.







17

PEMBAHASAN
Gulma berinteraksi dengan tanaman melalui persaingan untuk
mendapatkan satu atau lebih faktor tumbuh yang terbatas, seperti cahaya, hara,
dan air. Untuk mengatasi hal ini maka gulma harus dikendalikan dengan berbagai
pengendalian seperti, pengendalian preventif, mnekanis, kimia dan sebagainya.
Hal ini sesuai literatur Sofnie dkk (2000) yang menyatakan bahwa Pengendalian
gulma dapat dilakukan dengan cara manual, mekanis dan kimiawi.
Masalah gulma lebih dirasakan pada perkebunan dengan pertanaman yang
luas, karena ada kaitannya dengan faktor waktu yang terbatas, tenaga kerja dan
biaya. Untuk mengatasi hal ini maka harus di gunakan pengendalian secara
kimiawi (herbisida) yang sesuai dengan gulma tahunan, biasanya gulma yang ada
pada lahan perkebunan sulit dikendalikan dengan cara pengendalian mekanis atau
lainnya. Hal ini sesuia literatur Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa Herbisida
adalah bahan kimia yang digunakan untuk membunuh gulma. Herbisida telah
banyak digunakan dalam bidang pertanian.
Penggunaan pestisida khususnya herbisida dapat pula menimbulkan efek
samping, yaitu akan menimbulkan keracunan pada binatang ataupun manusia.
Untuk mengatasi hal ini penggunaan harus dibatasi dengan tepat dosis tepat
sasaran dan tepat waktu hal ini sesuai dengan literatur Riadi dkk (2011) yang
menyatakan bahwa Herbisida yang diaplikasikan dengan dosis tinggi akan
mematikan seluruh bagian yang dan jenis tumbuhan. Pada dosis yang lebih
rendah, herbisida akan membunuh tumbuhan dan tidak merusak tumbuhan yang
lainnya.
18

Penggunaan herbisida pada tumbuhan dapat mempengaruhi satu atau lebih
proses-proses (pembelahan sel, perkembangan jaringan, pembentukan klorofil,
fotosintesis, respirasi, metabolisme) yang diperlukan tumbuhan untuk
mempertahankan hidupnya. Untuk mengatasi hal ini dalam pengaplikasian
herbisida harus sesuai dengan sasaran gulma yang dikendalikan dengan jenis
herbisida yang digunakan agar metabolisme dan anabolisme tanaman tidak
terganggu. Hal ini sesuai dengan literatur Riadi dkk (2011) selektivitas herbisida
berkaitan dengan sifat morfologi, fisiologi, dan metabolisme tumbuhan. Herbisida
yang telah masuk dalam sel, sebagian ada yang tidak mobil dan yang lainnya
dapat ditranslokasikan ke sel-sel lainnya.
Gulma yang dikendalikan dengan herbsida dapat mencapai tingkat resistan
atau tahan terhadap herbisida, sehingga sulit untuk dikendalikan. Untuk mengatasi
hal ini maka dikembangakan berbagai cara pengaplikasian herbisida dengan
mencampurkan bahan lain serta menggunakan bahan aktiv yang sesuai dengan
jenis gulma. Hal ini sesuai literatur Supriadi dkk (2012) yang menyatakan bahwa
Salah satu upaya untuk mengurangi tekanan terhadap munculnya gulma yang
tahan adalah dengan menggunakan jenis herbisida berlainan silih berganti atau
mencampurkan dua atau lebih jenis herbisida berbeda jenis.
Pengaplikasian herbisida yang keliru dan yang tidak sesuai waktu dapat
menyebabkan gagalnya pengendalian gulma. Untuk mengatasi halini maka kita
harus mengetahui dan mengenal herbisida yang digolongkan berdasarkan waktu
aplikasi. Hal ini sesuai dengan literatur Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa
Klasifikasi herbisida berdasarkan waktu aplikasi: Herbisida pra tumbuh. Herbisida
19

ini diaplikasikan pada tanah sebelum gulma tumbuh. Herbisida pasca tumbuh
Herbisida ini diaplikasikan saat gulma sudah tumbuh.
Petani yang tidak mengetahui jenis herbisida yang digunakan akan
menyebabkan kesalahann dalam penggunaan herbisida. Kesalahan dalam
penggunaan herbisida banyak menimbulkan kerugian. Untuk mengatasi hal ini
maka petani harus mengenal dan mengatahui golongan herbisida yang di gunakan
oleh petani seperti herbisida sistemik dan kontak. Hal ini sesuai dengan literatur
Nurafni (2012) yang menyatakan bahwa Herbisida kontak. Herbisida ini hanya
mampu membasmi gulma yang terkena semprotan saja, terutama bagian yang
berhijau daun dan aktif berfotosintesis. Contoh herbisida kontak adalah paraquat.
Herbisida Sistemik. Cara kerja herbisida ini di alirkan ke dalam jaringan tanaman
gulma dan mematikan jaringan sasarannya seperti daun, titik tumbuh, tunas
sampai ke perakarannya. Contoh herbisida sistemik adalah glifosat, sulfosat.
pengaplikasian herbisida yang tidak memperhatikan faktor selektif
herbisida fisik akan menimbulkan ketidak efektifan dan gagalnya aplikasi
herbisida. Faktor biologi akan menimbulkan rusaknya jaringan dan sel yang ada
pada tanaman utama yang tidak tahan terhadap pengaplikasian herbisida. Untuk
mengatasai hal ini maka harus mengenal dan mengetahui faktor selektif dari
herbisida. Hal ini sesuai dengan literatur Riadi (2012) yang menyatakan
Klasifikasi herbisida berdasarkan selektif: Faktor fisik yang dapat mempengaruhi
kontak antara herbisida yang diaplikasikan dengan permukaan gulma. Supaya
efektif maka herbisida yang diaplikasikan harus tetap kontak atau melekat atau
berada pada tumbuhan sasaran Faktor biologi yang menentukan selektivitas
herbisida berkaitan dengan sifat morfologi, fisiologi, dan metabolisme tumbuhan.