Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN STUDI LAPANGAN

PRAKTIKUM EKOLOGI

ANALISIS VEGETASI
HUTAN WANAGAMA

Oleh:
Roni Ardyantoro

13308141044

Nur Tsani Rahmawati

13308141050

Hana Widiyanti

13308144006

Salma Nadiyah

13308144013

Kelompok V

PRODI STUDI BIOLOGI


JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2014

BAB 1
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Pembahasan ekologi tidak lepas dari pembahasan ekosistem dengan berbagai
komponen penyusunnya, yaitu faktor abiotik dan biotik. Faktor abiotik antara lain
suhu, air, kelembaban, cahaya, dan topografi, sedangkan faktor biotik adalah makhluk
hidup yang terdiri dari manusia, hewan, tumbuhan, dan mikroba. Ekologi juga
berhubungan erat dengan tingkatan-tingkatan organisasi makhluk hidup, yaitu
populasi, komunitas, dan ekosistem yang saling memengaruhi dan merupakan suatu
sistem yang menunjukkan kesatuan (Ansari Fuad. 1975).
Populasi adalah keseluruhan objek yang akan/ingin diteliti. Populasi ini sering
juga disebut Universe. Anggota populasi dapat berupa benda hidup maupun benda
mati, dimana sifat-sifat yang ada padanya dapat diukur atau diamati. Populasi yang
tidak pernah diketahui dengan pasti jumlahnya disebut "Populasi Infinit" atau tak
terbatas, dan populasi yang jumlahnya diketahui dengan pasti (populasi yang dapat
diberi nomor identifikasi), misalnya murid sekolah, jumlah karyawan tetap pabrik, dll
disebut "Populasi Finit". Suatu kelompok objek yang berkembang terus (melakukan
proses sebagai akibat kehidupan atau suatu proses kejadian) adalah Populasi Infinitif
(Duncan Robert et al. 1988).
Vegetasi merupakan kumpulan tumbuh-tumbuhan, biasanya terdiri dari
beberapa jenis yang hidup bersama-sama pada suatu tempat. Dalam mekanisme
kehidupan bersama tersebut terdapat interaksi yang erat, baik diantara sesama
individu penyusun vegetasi itu sendiri maupun dengan organisme lainnya
sehingga merupakan suatu sistem yang hidup dan tumbuh serta dinam is. Dalam
ilmu vegetasi telah dikembangkan berbagai metode untuk menganalisis suatu vegetasi
yang sangat membantu dalam mendekripsikan suatu vegetasi sesuai dengan
tujuannya. Dalam hal ini suatu metodologi sangat berkembang dengan pesat seiring
dengan kemajuan dalam bidang-bidang pengetahuan lainnya, tetapi tetap harus
diperhitungkan berbagai kendala yang ada (Syafei, 1990).
Analisis vegetasi merupakan cara yang dilakukan untuk mengetahui seberapa
besar sebaran berbagai spesies dalam suatu area melaui pengamatan langsung.

Dilakukan dengan membuat plot dan mengamati morfologi serta identifikasi vegetasi
yang ada.
Kehadiran vegetasi pada suatu landscape akan memberikan dampak positif
bagi keseimbangan ekosistem dalam skala yang lebih luas. Secara umum peranan
vegetasi dalam suatu ekosistem terkait dengan pengaturan keseimbangan karbon
dioksida dan oksigen dalam udara, perbaikan sifat fisik, kimia dan biologis tanah,
pengaturan tata air tanah dan lain-lain. Meskipun secara umum kehadiran vegetasi
pada suatu area memberikan dampak positif, tetapi pengaruhnya bervariasi tergantung
pada struktur dan komposisi vegetasi yang tumbuh pada daerah itu. Sebagai contoh
vegetasi secara umum akan mengurangi laju erosi tanah, tetapi besarnya tergantung
struktur dan komposisi tumbuhan yang menyusun formasi vegetasi daerah tersebut.
(Hadisubroto, 1989)

B. TUJUAN
Mempelajari struktur vegetasi dan membuat interpretasi fungsi komunitas tumbuhan
tumbuhan pada tegakan yang dipelajari

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Vegetasi
Vegetasi merupakan unsur yang dominan yang mampu berfungsi sebagai
pembentuk ruang, pengendalian suhu udara, memperbaiki kondisi tanah dan
sebagainya. Vegetasi dapat menghadirkan estetika tertentu yang alamiah dari garis,
bentuk, warna, dan tekstur yang ada dari tajuk, daun, batang, cabang, kulit batang,
akar, bunga, buah maupun aroma yang ditimbulkan dari daun, bunga maupun
buahnya (Rochman, 2005).
Kimball

(2005)

menyatakan

bahwa

hutan

hujan

tropis

mencapai

perkembangan sepenuhnya pada bagian belahan bumi sebelah barat dan mencapai
perkembangan sepenuhnya di bagian tengah dan selatan,sangat beragam spesiesnya.
Disana,

jarang

dijumpai

dua

pohon

dari

spesies

yang

sama

tumbuh

berdekatan.vegetasinya sedemikian rapat sehingga cahaya sangat sedikit yang sampai


ke dasar hutan.
Wilayah hutan hujan tropis mencakup 30% dari luas permukaan bumi dan
terdapat mulai dari Amerika Selatan, bagian tengah dari benua Afrika, sebagian anak
benua India, sebagian besar wilayah Asia Selatan dan wilayah Asia Tenggra, gugusan
kepulauan di samudra Pasifik, dan sebagian kecil wilayah Australia. Pada umumnya
wilayah hutan hujan tropis dicirikan oleh adanya 2 musim dengan perbedaan yang
jelas, yaitu musim penghujan dan musim kemarau. Ciri lainnya adalah suhu dan
kelembaban udara yang tinggi, demikian juga dengan curah hujan, sedangkan hujan
merata sepanjang tahun (Ewusie, 1980).
Menurut Soedjiran et all (1993) hutan hujan tropis (tropical rain forest)
terdapat di daerah tropis yang basah dengan curah hujan yang tinggi dan tersebar
sepanjang tahun, seperti di Amerika tengah dan selatan, Asia tenggara, Indonesia dan
Australia timur laut. Dalam hutan ini pohon-pohonnya tinggi dan pada umumnya
berdaun lebar dan selalu hijau, jumlah jenis besar. Sering terdapat paku-paku pohon,
tanaman merambat berkayu liana yang sering dapat mencapai puncak pohon-pohon
yang tinggi dan epifit. Hutan ini kaya akan jenis-jenis hewan invertebrata dan
vertebrata.
Analisis vegetasi hutan merupakan studi untuk mengetahui komposisi dan
struktur hutan. Kegiatan analisis vegetasi pada dasarnya ada dua macam, yaitu metode

dengan petak dan tanpa petak. Salah satu metode dengan petak yang banyak
digunakan adalah kombinasi antara metode jalur (untuk risalah pohon) dengan metode
garis petak (untuk risalah permudaan) dalam kegiatan-kegiatan penelitian di bidang
ekologi hutan seperti halnya pada bidang-bidang ilmu lainnya yang bersangkut paut
dengan Sumber Daya Alam (Latifah, 2005).

B. Struktur Vegetasi
Struktur vegetasi merupakan susunan anggota komunitas vegetasi pada suatu
area yang dapat dinilai dari tingkat densitas (kerapatan) individu dan diversitas
(keanekaragaman) jenis. Komposisi dan struktur suatu vegetasi merupakan fungsi dari
beberapa faktor seperti : flora setempat, habitat, (iklim,tanah dan lain-lain), waktu dan
kesempatan. Komposisi dan struktur vegetasi tumbuhan tidak dapat dilepaskan dari
pentingnya mengetahui air tanah dan ketersediaan air tanah bagi tumbuhan di
sekitarnya. Ketersediaan air dalam tanah ditentukan oleh kemampuan partikel tanah
memegang air. Air tanah adalah air yang bergerak dalam tanah yang terdapat dalam
ruang-ruang antar butir tanah yang membentuknya. Air tanah dapat dibedakan
menjadi dua yaitu air tanah dangkal dan air tanah dalam. Air tanah dangkal terdapat
pada bidang tanah yang mempunyai pengaruh besar terhadap proses pembentukan
tanaman. Melalui profil, kedalaman air dapat diduga berdasarkan tinggi, maka air
tanah yang selalu mengalami periode naik turun sesuai dengan keadaan musim atau
faktor lingkungan luar lainnya. Kedalaman muka air tanah yang dimaksud adalah
kedalaman muka priotik yaitu kedalaman muka air tanah sumur-sumur gali yang ada
(Kusumawati, 2008).
Penyelamatan fungsi hutan dan perlindunganya sudah saatnya menjadi
tumpuan harapan bagi kelangsungan jasa produksi ataupun lingkungan untuk
menjawab kebutuhan mahkluk hidup Mengingat tinggi dan pentingya nilai hutan,
maka upaya pelestarian hutan wajib dilakukan apapapun konsekuensi yang harus
dihadapi, karena sebetulnya peningkatan produktivitas dan pelestarian serta
perlindungan hutan sebenarnya mempunyai tujuan jangka panjang. Produktivitas
tegakan ataupun ekosistem hutan Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai
mata rantai pemeliharaan (Marsono, 2004).
Perlindungan dan aspek kesehatan hutan sebagai mata rantai pemeliharaan
atau pembinaan hutan harus merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam satu
kesatuan pengelolaan hutan dalam rangka melindungi hutan berikut komponen yang

ada didalamnya dari berbagai macam faktor penyebab kerusakan. Hutan jika ditinjau
dari aspek kesehatannya terbagi atas tiga komponen yakni dari sisi pemanfaatan yakni
pada tegakkan hutan, lingkungan yakni terhadap sebuah komunitas dan kesehatan
ekosistem yang lebih menjurus pada landscape (Marsono, 2004).
C. Hutan Wanagama
Kawasan Hutan Wanagama yang luasnya hampir mencapai 600 hektar
merupakan tumpuan harapan bagi banyak orang yang bermukim di Daerah Istimewa
Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya untuk kepentingan ekonomis ataupun kebutuhan
akan jasa lingkungan sebagai paruparu kota dan sebagai media pembelajaran alamiah
ataupun oleh pemerintah daerah sebagai salah satu aset wisata alam bagi daerah
Istimewa Yogyakarta (DIY). Mengingat banyaknya manfaat yang dapat diperoleh
lewat kehadiran kawasan Hutan wanagama ini, maka upaya untuk mempertahankan
fungsi dan peran kawasan ini harus terus dilakukan (Irwanto, 2006).
Bahwa hutan yang sehat terbentuk apabila faktor-faktor biotik dan abiotik
dalam hutan tersebut tidak menjadi faktor pembatas dalam pencapaian tujuan
pengelolaan hutan saat ini maupun masa akan datang. Kondisi hutan sehat ditandai
oleh adanya pohon-pohon yang tumbuh subur dan produktif, akumulasi biomasa dan
siklus hara cepat, tidak terjadi kerusakan signifikan oleh organisme pengganggu
tumbuhan, serta membentuk ekosistem yang khas (Kimmins, 1987).
Ekosistem hutan yang sehat terbentuk setelah hutan mencapai tingkat
perkembangan klimaks, yang ditandai oleh tajuk berlapis, pohon-pohon penyusun
terdiri atas berbagai tingkat umur, didominasi oleh pohon-pohon besar, serta adanya
rimpang yang terbentuk karena matinya pohon. Ekosistem hutan yang sehat tercapai
bila tempat tumbuhnya dapat mendukung ekosistem untuk memperbaharui dirinya
sendiri secara alami, mempertahankan diversitas penutupan vegetasi, menjamin
stabilitas habitat untuk flora dan fauna, serta terbentuknya hubungan fungsional di
antara komunitas tumbuhan, hewan dan lingkungan (Widyastuti, 2004).
Kesehatan hutan dan kesehatan ekosistem tersebut menunjukkan bahwa
keduanya merupakan tingkatan-tingkatan integrasi biologis. Konsekuensinya ialah
antara keduanya mempunyai karakteristik yang sama, namun demikian terdapat
perbedaan yang fundamental. Aspek kesehatan ekosistem lebih berhubungan dengan
pola penutupan vegetasi dalam kisaran kondisi-kondisi ekologi yang luas, sedangkan
kesehatan hutan lebih menekankan pada kondisi untuk memperoleh manfaatnya
(Sumardi,2004).

1. Teknik Sampling Kuadrat (Quadrat Sampling Technique)


Teknik sampling kuadrat ini merupakan suatu teknik survey vegetasi yang
sering digunakan dalam semua tipe komunitas tumbuhan. Petak contoh yang dibuat
dalam teknik sampling ini bisa berupa petak tunggal atau beberapa petak. Petak
tunggal mungkin akan memberikan infoanasi yang baik bila komunitas vegetasi yang
diteliti bersifat homogen. Adapun petakpetak contoh yang dibuat dapat diletakkan
secara random atau beraturan sesuai dengan prinsip-prinsip teknik sampling yang
telah
Untuk memudahkan perisalahan vegetasi dan pengukuran parametemya, petak
contoh biasanya dibagi-bagi ke dalam kuadrat-kuadrat berukuran lebih kecil. Ukuran
kuadrat-kuadrat tersebut disesuaikan dengan bentuk morfologis jenis dan lapisan
distribusi vegetasi secara vertikal (stratifikasi). Dalam hal ini Oosting (1956)
menyarankan penggunaan kuadrat berukuran 10 x 10 m untuk lapisan pohon, 4 x 4 m
untuk lapisan vegetasi berkayu tingkat bawah (undergrowth) sampai tinggi 3 m, dan 1
x 1 m untuk vegetasi bawah/lapisan herba. Tetapi, umtmmya para peneliti di bidang
ekologi hutan membedakan potion ke dalam beberapa tingkat pertumbuhan, yaitu:
semai (permudaan tingkat kecambah sampai setinggi < 1,5 m), pancang (permudaan
dengan > 1,5 m sampai pohon muda yang berdiame[er < 10 cm), tiang (pohon muda
berdiameter 10 s/d 20 cm), dan pohon dewasa (diameter > 20 cm). Untuk
memudahkan

pelaksanaannya

ukuran

kuadrat

disesuaikan

dengan

tingkat

perttunbuhan tersebut, yaitu umumnya 20 x 20 m (pohon dewasa), 10 x 10 m (tiang),


5 x 5 m (pancang), dan lxl m atau 2 x 2 m (semai dan tumbuhan bawah).
2. Metode Titik Pusat Kuadran (Point Centered Quartered Method)
Berdasarkan hasil penelitian Cottam dan Curtis (1956), metode ini merupakan
metode sampling tanpa petak contoh yang paling efisien karena pelaksanaannya di
lapangan memerlukan waktu yang lebih sedikit, mudah, dan tidak memerlukan faktor
koreksi dalam menduga kerapatan individu tumbuhan. Tetapi, dalam pelaksanaanya
metode ini mempunyai dua macam keterbatasan, yaitu (I) setiap kuadran harus
terdapat paling sedikit satu individu tumbuhan dan (2) setiap individu (seperti halnya
pada random pair method) tidak boleh terhitung lebih dari satu kali. Prosedur metode
ini dalam pelaksanaan di lapangan adalah:

Peletakan sejumlah titik contoh secara acak dalam komunitas tumbuhan.


Berdasarkan pengalaman di lapangan, sebaiknya dibuat suatu seri garis arah
kompas (garis rintis) dalam komunitas tumbuhan yang akan diteliti, kemudian
sejumlah titik contoh dipilih secara acak atau secara teratur sepanjang garis rintis
tersebut. Cottam dan Curtis (1956) menyarankan paling sedikit 20 titik contoh
harus dipilih untuk meningkatkan ketelitian sampling dengan teknik ini.

Pembagian areal sekitar titik contoh menjadi empat kuadran yang berukuran sama
(Gambar 6.10). Hal ini dapat dilakukan dengan kompas atau bila suatu seri garis
rintis digunakan kuadran-kuadran tersebut dapat dibentuk dengan menggunakan
garis rintis itu sendiri dan suatu garis yang tegak lurus terhadap gads rintis
tersebut melatui titik
contoh.
Di dalam metode ini di setiap titik pengukuran dibuat garis absis dan
ordinat khayalan, sehingga di setiap titik pengukuran terdapat empat buah
quadran. Pilih saw pohon di setiap quadran yang letaknya paling dekat dengan
titik pengukuran dan ukurjarak dari masing-masing pohon tersebut ke titik
pengukuran. Pengukuran dimensi pohon hanya dilakukan terhadap keempat
pohon yang terpilih.

Gambar. Desain point centered quarter method di lapangan

BAB 3
ALAT DAN BAHAN
A.

ALAT DAN BAHAN


1.

2.

QUADRAT SAMPLING TECHNIQUES


a.

Patok

(40 batang)

b.

Tali (plastic terpilin lebih baik)

(3 ball raksasa)

c.

Meteran panjang (roll meter)

(30 meter)

d.

Pisau tajam

(1 buah)

e.

Kantong plastic tipis (1 kg)

(100 biji)

f.

Steples kecil dengan isinya

(1 buah)

g.

Kertas label

(100 lembar)

h.

Spidol permanen kecil

(1 buah)

i.

Kamera

( 1 buah)

POINT QUARTER TECHNIQUES


a.

Patok

20 buah)

b.

Meteran panjang / roll meter

(1 buah)

c.

Alat-alat untuk data abiotik:

Thermometer

(1 buah)

Hygrometer

(1 buah)

Roll meter pendek / metlin

(1 buah)

B.

LANGKAH KERJA
1. QUADRAT SAMPLING TECHNIQUES
Menyiapkan alat dan baham yang dibutuhkan.

Memilih lokasi pengamatan dan batas-batasnya.

Membuat plot seluas 4x4 m. Kemudian mencatat dan menghitung jumlah spesies yang ada.

Memperluas plot sebesar dua kali lipat dari luas sebelumya dan kembali mencatat serta
menghitung jumlah spesiesyang ada. Teerus melakukan hal ini hingga tidak ditemukan
spesies baru pada plot tersebut.

Mengolah data yang diperoleh untuk mendapatkan grafik untuk menentukan luas minimal
plot.

Setelah luas miimal plot diketahui, membuat plot seluas plot minimal sebanyak beberapa kali.
Mencatat dan menghitung jumlah spesies yang ada.

Mengolah data yang diperolek untuk mendapatkan grafik penentuan jumlah minimal plot.

Melakukan pengamatan pada masing-masing spesies pada setiap plot

Melakukan perhitungan terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan nilai penting pada
setiap tegakan, dan selanjutnya menetapkan kedudukan (rank) masing-masing spesies

Menginterpretasikan hasil yang diproleh.

2. POINT QUARTER TECHNIQUES


Menentukan lokasi studi dan menentukan batas-batasnya.

Membuat arah garis pertama yang arahnya disesuaikan dengan arah kompas (compass line).

Menentukan jarak antartitik (point) sepanjang garis pertama.

Membuat garis kedua yang arahnya tegak lurus dengan garis pertama sehinnga saling
berpotongan membagi daerah masing-masing menjadi 4 quarter.

Menetukan / memilih point / titik yang diprioritaskan untuk diamati terlebih dahulu. Jumlah
point yang dibutuhkan disesuaikan dngan jumlah minimal plot yang dibutuhkan dalam teknik
kuadrat.

Mengukur jarak pohon yang memiliki diameter 1 cm atau lebih, yag terdekat dengan point
center, pada setiap quarter pada masing-masing point dengan point center.

Mencatat nama spesies dan mengukur diameter pohon yang dipilih dan mengukur luas
penutupan tajuk.

Melakukan perhitungan terhadap data yang diperoleh untuk mendapatkan nilai penting pada
tiap tegakan, dan selanjutnya menetapkan kedudukan (rank) masing-masing spesies

Menginterpretasikan hasil yang diproleh.

BAB 4
DATA DAN PEMBAHASAN

A. DATA HASIL PENGAMATAN

Penentuan luas minimal plot


25

jumlah spesies

20
14

15

14

12

10

data pengamatan

10 persen
sejajar

0
0

50

100

150

luas plot dalam

200

250

300

m2

Luas minimal plot 64 m2 atau 8x8

penentuan luas minimal plot


25

20

19.6

jumlah speseis

18.2
4, 14

15

5, 14

3, 12

10

1, 8

data pengamatan

2, 9

10 persen
sejajar

5
1.4
0

0
0

jumlah plot

Jumlah plot minimal 3

ANALISIS DATA

Untuk menghitung niali penting setiap spesies pada masing-masing tegakan, perlu dihitung :
a. Densitas absolut =

Luas areal = jumlah luas seluruh


plot yang digunakan

b. Densitas relatif =

X 100 %

c. Dominansi absolut =

d. Dominansi relatif =

X 100 %

e. Frekuensi Absolut =

f. Frekuensi ralatif =

X 100 %

g. Nilai penting = densitas relatif + Dominansi relatif + Frekuensi relatif


Tabel penentuan luas dan banyak plot

No Plot

Luas plot

Jumlah spesies

16 m2

32 m2

64 m2

12

128 m2

14

256 m2

14

Kuadrat 1
4m x 4m

Kuadrat II
4m x 8m

Kuadrat III
8m x 8m

Kuarat IV
8 mx 16 m

Kuadrat V
16 m x16m

1. DATA QUADRAT SAMPLING TECHNIQUES


N0

Plot

Jenis Tumbuhan

Jumlah

Podocarpus macrophyllus

52

Glerecidae sepium

24

Hoplismenus bourmanii

Maclura coccinensis

Mimosa sp

Barleria prionitis

Pasifora

Mitragina specioca

Glerecidae sepium

16

10

Swietenia macropilla

11

Podocarpus macrophyllus

12

Pasifora

12

13

Maclura coccinensis

14

Barleria prionitis

15

Flacourtia indica

16

Mitragina specioca

Swietenia macropilla

18

Podocarpus macrophyllus

17

19

Glerecidae sepium

13

20

Pasifora

21

Ingu

17

II

III

PERHITUNGAN DATA
Luas minimal plot = 64 m2
Jumlah minimal plot = 3

Sepesies
Podocarpus macrophyllus
Glerecidae sepium
Hoplismenus bourmanii
Maclura coccinensis
Mimosa sp
Barleria prionitis
Pasifora
Mitragina specioca
Swietenia macropilla
Flacourtia indica
Ingu

Jumlah individu dalam plot


Plot I Plot II
Plot III
52
4
17
24
16
13
2
0
0
1
2
0
3
0
0
1
1
0
7
12
1
2
2
0
0
16
1
0
2
0
0
0
5

Jumlah
Densitas absolut
Podocarpus macrophyllus

= 0,3803

Glerecidae sepium

= 0,2760

Hoplismenus bourmanii

= 0,0104

Maclura coccinensis

= 0,0156

Mimosa sp

= 0,0156

Barleria prionitis

= 0,0104

Pasifora

= 0,1041

Mitragina specioca

= 0,0208

Swietenia macropilla

= 0,0885

Flacourtia indica

= 0,0104

Ingu

= 0,0260

Jumlah

0,9919

Total
73
53
2
3
3
2
20
4
17
2
5

Luas
penutupan
9
0
0
0
2
0
0
0
10
0
0
21

Densitas relatif
Podocarpus macrophyllus

X 100% = 38,33%

Glerecidae sepium

X 100% = 27,82%

Hoplismenus bourmanii

X 100% = 1,05%

Maclura coccinensis

X 100% = 1,57%

Mimosa sp

X 100% = 1,57%

Barleria prionitis

X 100% = 1,05%

Pasifora

X 100% = 10,49

Mitragina specioca

X 100% = 2,09%

Swietenia macropilla

X 100% = 8,92%

Flacourtia indica

X 100% = 1,05%

Ingu

X 100% = 2,26%

Jumlah

96,56%

Frekuensi absolut
Podocarpus macrophyllus

=1

Glerecidae sepium

=1

Hoplismenus bourmanii

= 0,33

Maclura coccinensis

= 0,67

Mimosa sp

= 0,33

Barleria prionitis

= 0,67

Pasifora

=1

Mitragina specioca

= 0,67

Swietenia macropilla

= 0,67

Flacourtia indica

= 0,33

Ingu

= 0,33

Jumlah

Frekuensi relatif
Podocarpus macrophyllus

x 100%

= 14,28 %

Glerecidae sepium

x 100%

= 14,28 %

Hoplismenus bourmanii

x 100%

= 4,71%

Maclura coccinensis

x 100%

= 9,57%

Mimosa sp

x 100%

= 4,71%

Barleria prionitis

x 100%

= 9,57%

Pasifora

x 100%

= 14,28 %

Mitragina specioca

x 100%

= 9,57%

Swietenia macropilla

x 100%

= 9,57%

Flacourtia indica

x 100%

= 4,71%

Ingu

x 100%

= 4,71%

Jumlah

99,96%

Dominansi absolut
Podocarpus macrophyllus

= 0,75

Swietenia macropilla

= 0,48

Mimosa sp

= 0,095

Jumlah

1,325

Dominansi relatif
Podocarpus macrophyllus

x 100% = 56,6%

Swietenia macropilla

x 100% = 36,22%

Mimosa sp

x 100% = 12,58%

No Spesies

Nilai penting

Ranking

109,21

Podocarpus macrophyllus

Glerecidae sepium

42,1

Hoplismenus bourmanii

5,76

10

Maclura coccinensis

11,14

Mimosa sp

18,86

Barleria prionitis

10,62

Pasifora

24,77

Mitragina specioca

11,66

Swietenia macropilla

54,71

10

Flacourtia indica

5,76

10

11

Ingu

7,33

2. DATA ABIOTIK
komponen abiotik
Mikroklimat

Edafik

Suhu
Kelembaban
Keceptan angin
Intensitas cahaya
Stuktur
Tekstur
Ph
Kelembaban

Plot
I
II
35
34,5
65 cd
65 cd
0
0
103
85
Liat
Liat
Remah Remah
6,9
7
100
100

II
39,5
65 cd
0
64
Liat
Remah
6,8
100

3. DATA POIN QUARTER TECNIQUES


No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Poin
I

III

III

Jumlah

Quarter
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
12

Spesies
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Mimosa sp
Swietenia macropilla
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Glerecidae sepium
Podocarpus macrophyllus
Podocarpus macrophyllus

Jarak
pohon
46
54
220

Diameter
batang
4,45
1,90
4,13

Basal
area
15,56
2,84
13,40

118
15
208
284
297
10
22
300
350
1924

2,23
7,95
3,18
12,09
2,54
4,77
6,36
7,95
11,77

3,90
49,66
7,94
114,85
5,07
17,87
31,78
49,66
108,84

PERHITUNGAN DATA
Jarak rata-rata antar pohon (D) =

= 1,6 m

Densitas absolut seluruh spesies (jumlah pohon seluruh spesies setiap 100 m2 =
Densitas absolut tiap spesies
Spesies
Jumlah pohon tiap
quarter
Glerecidae sepium
8/12 = 0,67
Mimosa sp
1/12 = 0,08
Swietenia macropilla
1/12 = 0,08
Podocarpus macrophyllus 2/12 = 0,17
Jumlah
Basal area
No
Glerecidae
sepium
1
15,56
2
2,84
3
49,66
4
7,94
5
114,85
6
5,07
7
17,87
8
31,78
Jumlah
244,77
Rata-rata 30,60

= 39,06

Densitas absolut spesies ybs = jumlah


pohon spesies ybs tiap 100 m2
0,67 x 39,06 = 26,18
0,08 x 39,06 = 3,12
0,08 x 39,06 = 3,12
0,17 x 39,06 = 6,64
39,06

Mimosa sp

Swietenia macropilla Podocarpus macrophyllus

13,40

3,90

49,66
108,84

13,40
13,40

3,90
3,90

158,5
79,25

Dominasi absolut tiap spesies tiap area 100 m2 (dasar basal area)
Glerecidae sepium
= 30,60 x 26,18
= 801,11 cm 2 tiap area 100 m2
Mimosa sp
= 13,40 x 3,12
= 41,80 cm 2 tiap area 100 m2
Swietenia macropilla
= 3,90 x 3,12
= 12,16 cm 2 tiap area 100 m2
Podocarpus macrophyllus = 79,25 x 6,64
= 526,22 cm 2 tiap area 100 m2
Jumlah
1381,29 cm 2 tiap area 100 m2
Frekuensi absolut tiap spesies
Glerecidae sepium

= x 100 % = 100 %

tiap area 100 m2

Mimosa sp

= x 100 % = 33,33 %

tiap area 100 m2

Swietenia macropilla

= x 100 % = 33,33 %

tiap area 100 m2

Podocarpus macrophyllus

= x 100 % = 33,33 %

tiap area 100 m2

199,99 %

tiap area 100 m2

Jumlah
Densitas relatif tiap spesies
Glerecidae sepium

x100%

= 67,02 %

Mimosa sp

x100%

= 7,99 %

Swietenia macropil

x100%

= 7,99 %

Podocarpus macrophyllus

x100%

= 17,00 %

Jumlah

100 %

Dominansi relatif tiap spesies (berdasar basal area )


Glerecidae sepium

x100%

= 57,99 %

Mimosa sp

x100%

= 3,03 %

Swietenia macropil

x100%

= 0,88 %

Podocarpus macrophyllus

x100%

= 38,09 %

Jumlah

99,99 %

Frekuensi relatif tiap spesies


Glerecidae sepium

x100%

= 50 %

Mimosa sp

x100%

= 16,66 %

Swietenia macropil

x100%

= 16,66 %

Podocarpus macrophyllus

x100%

= 16,66 %

Jumlah

99,98 %

Nilai penting tiap spesies (dengan menggunakan harga dominansi, yang didasarkan atas luas
penutupan)
Rank
catatan
Glerecidae sepium = 67,02 + 57,99 + 50 =175,01
1
pohon
Mimosa sp

= 7,99 + 3,03 + 16,66 =27,68

pohon

Swietenia macropil

= 7,99 + 0,88 + 16,66 = 25,53

pohon

pohon

Podocarpus macrophyllus = 17,00 + 38,09 + 16,66 = 71,75

B. PEMBAHASAN
1. Quadrat Sampling Techniques
Hal yang perlu diperhatikan dalam analisis vegetasi adalah penarikan unit
contoh atau sampel. Dalam praktikum kali ini kami mengunakan teknik ploting
dengan menggunakan Quadrat Sampling Techniques. Teknik ini merupakan suatu
teknik survey vegetasi yang sering digunakan dalam semua tipe komunitas
tumbuhan.
Langkah awal kami menentukan luas minimal plot. Kami mengambil data
dimulai dari plot 4x4 kemudian diperbesar hingga tidak ada tambahan spesies
pada pertambahan plot. Kami tidak mendapatkan penambahan spesies pada plot
ke 5 sehingga didapatkan hasil maksimal pada plot 4 dengan jumlah spesies 14
pada luas 8x16 (128 m2). Data tersebut dianalisis didapatkan luas minimal plot
8x8 m2. Kemudian kami menentukan jumlah minimal plot dengan menghitung
jumlah spesies pada setiap plot dan kami berhenti menghitung jumlah minimal
plot jika tidak mendapatkan tambahan spesies baru. Kami tidak mendapatkan
tambahan jenis spesies baru pada plot ke 5 sehingga hanya didapatkan pada plot 4
dengan jumlah spesies 14. Kemudian kami analisis didapatkan jumlah minimal 3
plot.
Dari perolehan nilai penting diperoleh ranking tumbuhan sesuai banyaknya
tumbuhan dalam areal keseluruhan plot yang menjadi sampel pengamatan kami di
Wanagama. Ranking pertama diperoleh Dari perolehan nilai penting ini, diperoleh
ranking tumbuhan sesuai banyaknya tumbuhan dalam areal keseluruhan plot yang
menjadi sampel pengamatan kami di Wanagama. Ranking pertama diperoleh oleh
Podocarpus. Ranking kedua diperoleh oleh Swietenia. Ranking ketiga diperoleh
oleh Glerecidae . Ranking keempat diperoleh oleh Pasifora. Ranking kelima
diperoleh oleh Mimosa. Ranking keenam diperoleh oleh Mitragina. Ranking
ketujuh diperoleh oleh Maclura. Ranking kedelapan diperoleh oleh Barleria.
Ranking kesembilan diperoleh oleh Ingu. Ranking kesepuluh terdiri dari dua jenis
spesies, yaitu diperoleh oleh Hoplismenus dan Flacourtia. Namun, dalam
penghitungan nilai penting ini, tidak semuanya memiliki nilai dominansi relatif,
hanya tumbuhan tumbuhan yang termasuk dalam kategori dominan saja.
Di areal pengamatan kami, Podocarpus macrophyllus

merupakan

tumbuhan yang dominan. Podocarpus macrophyllus dapat menjadi tumbuhan


dominan karena factor biotic yang mendukung pertumbuhan Podocarpus

macrophyllus . Dengan areal pengamatan kami yang bersuhu 35C, intensitas


cahaya dengan kisaran 64-103 cd, kelembaban udara 65%, dan tekstur tanah yang
remah merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan pohon Podocarpus
macrophyllus sehingga tumbuhan ini dapat tumbuh optimal. Dengan jumlah yang
paling banyak, Podocarpus macrophyllus

menaungi paling luas areal

pengamatan. Hal ini menyebabkan sedikitnya intensitas cahaya yang diperoleh


daerah sekitar Podocarpus macrophyllus . Kurangnya intensitas cahaya ini
menjadi faktor penentu tumbuhan yang ada di sekitar Podocarpus macrophyllus,
tumbuh-tumbuhan itu harus mampu hidup optimal di daerah yang ternaungi.
Dominasi Podocarpus macrophyllus ini pun mempengaruhi jumlah
tumbuhan yang lain. jumlah Podocarpus macrophyllus yang banyak memerlukan
luas areal yang banyak sehingga tumbuhan yang lain memperoleh areal yang lebih
sempit untuk hidup dan melestarikan jenisnya. Tumbuhan yang mendapatkan luas
areal yang sedikit untuk hidup tentu tidak mampu mengoptimalkan hidupnya
sehingga jumlahnya lebih sedikit dari pada Podocarpus macrophyllus. Dominasi
Podocarpus macrophyllus ini juga dapat mempengaruhi serapan hara dari dalam
tanah. Disebabkan oleh banyaknya Podocarpus macrophyllus, sebagian besar hara
diserap oleh Podocarpus macrophyllus sehingga kemungkinan tumbuhan yang
lain mendapatka unsur hara yang lebih sedikit dibandingkan Podocarpus
macrophyllus. Hal ini menyebabkan tumbuhan yang lain kurang optimal
jumlahnya. Tumbuhan yang mampu bertahan dengan kompetisi ini mampu
mempertahankan jenisnya dengan jumlah yang cukup banyak pula meski tetap
lebih sedikit dari Podocarpus macrophyllus. Kebanyakan tumbuhan yang mampu
bertahan itu adalah jenis pohon karena strukturnya yang kokoh dan akarnya yang
panjang sehingga mampu menjangkau daerah yang luas untuk mendapatkan unsur
hara yang dibutuhkan.
Tanaman Barleria, ingu, Hoplismenus dan Flacourtia merupakan
tumbuhan yang menempati ranking terakhir. Hal ini dimungkinkan karena
lingkungan abiotik yang kurang mendukung untuk optimalisasi hidupnya. Selain
itu juga dipengaruhi kompetisi antara tumbuhan yang satu dengan yang lain yang
memiliki kebutuhan yang sama, baik areal maupun unsur hara untuk
kehidupannya.

Jika

tumbuhan-tumbuhan

ini

tidak

mampu

kemungkinan di tahun-tahun yang akan datang dapat terseleksi.

beradaptasi

Analisis dengan teknik Quadrat Sampling ini memberikan kami


gambaran bahwa dalam lokasi pengamatan yang kami pilih di salah satu
bagian Hutan Wanagama memiliki vegetasi yang didominasi oleh Podocarpus.
Kemudian tumbuhan yang juga cukup banyak di sana setelah Podocarpus
adalah Swietenia. Kemudian disusul Pasifora, dan Glerecidae . Ketiga jenis
tumbuhan ini adalah pohon. Pohon yang juga menjadi penyusun vegetasi di
sana adalah Barleria, ingu, Hoplismenus, Flacourtia Mimmosa, Mitragina, dan
Maclura yang jumlahnya sedikit.
2. Point quarter techniques
Teknik kedua yang kami gunakan adalah teknik Point quarter techniques,
teknik ini merupakan metode sampling tanpa petak contoh yang paling efisien
karena pelaksanaannya di lapangan memerlukan waktu yang lebih sedikit, mudah,
dan tidak memerlukan faktor koreksi dalam menduga kerapatan individu
tumbuhan.
Langkah kerja yang kami lakukan adalah menentukan lokasi dan menentukan
batas-batasnya. Kemudian membuat arah garis pertama yang arahnya sesuain
dengan arah kompas (garis ini disebut sebagai compass line). Selanjutnya
menentukan jarak antar titik (poin), sepanjang garis pertama. Langkah ke-3
membuat garis kedua yang arahnya tegak lurus dengan garis pertama dan karena
perpotongan kedua garis tersebut masing-masing daerah disekitar poin terbagi
menjadi 4 quarter. Langkah selanjutnaya menentukan titik yang diprioritaskan
untuk diamati terlebih dahulu. Langkah berikutnya mengukur jarak pohon yang
memiliki diameter 1 cm atau lebih, yang terdekat dengan poin senter, pada setiap
quarter pada masing-masing poin dengan poin senter. Selanjutnya mencatat nama
spesies dan mengukur diameter pohon yang dipilih (karena terdekat dengan poin
senter) dan megukur luas penutupan tajuk. Langkah terakhir mencari nilai penting
masing-masing spesies pada setiap tegakan. Selanjutnya menentukan kedudukan
(rank) masing-masing spesies untuk menentukan struktur trofik dimana komponen
vegetasi lain (spesies lain) dalam level produsen.
data pengamatan serta perhitungan yang telah dilakukan, diperoleh hasil
bahwa rata-rata jarak antar pohon pada quarter dengan poin adalah 1,6 meter.
Densitas absolut seluruh spesies untuk setiap 100 m 2 sebesar 39,06. Sedangakan
densitas untuk setiap spesies adalah ; Glerecidae sepium sebesar 26,18, Mimosa

sp sebesar 3,12, Swietenia macropil sebesar 3,12, Podocarpus macrophyllus


sebesar 6,64.
Dari data tersebut dapat diketahui bahwa pada pengamatan poin quarter dalam
daerah seluas 100 m2 spesies Glerecidae sepium yang memiliki kerapatan paling
tinggi. Sedangkan 3 spesies lainnya memiliki kerapan yang hampir sama. Dengan
demikian spesies Glerecidae sepium yang dominan.
Selanjutnya untuk pengukuran terhadap luas basal arean diperoleh hasil ratarata luas basal area untuk spesies Glerecidae sepium adalah 30,60 cm2, Mimosa sp
adalah 13,40 cm2, Swietenia macropil adalah 30,60 cm2, Podocarpus
macrophyllus adalah 79,25 cm2. Dari data tersebut spesies Podocarpus
macrophyllus yang memiliki luas basal area terbesar. Hal tersebut menunjukan
bahwa Podocarpus macrophyllus mempunyai kemampuan untuk hidup yang
cukup tinggi dalam memanfaatkan komponen-komponen abiotik baik organik
maupun anorganik yang tersedia dalam luas wilanyah poin quarter tersebut.
Walaupun Glerecidae sepium memiliki kerapan yang tinggi dibandingkan dengan
spesies yang lain yaitu

Mimosa sp, Swietenia macropil, Podocarpus

macrophyllus. Namun Glerecidae sepium tidak dapat tumbuh dengan maksimal


karena kemampuannya dalam memanfaatkan komponen abiotik kurang maksimal
karena dalam pemanfaatan komponen abiotik didominasi oleh Podocarpus
macrophyllus.
Untuk frekuensi absolut pohon Glerecidae sepium sebesar 100 %, Mimosa sp
sebesar 33,33%, Swietenia macropil sebesar 33,33 %, Podocarpus macrophyllus
sebesar 33,33%. Dengan demikian dapat kita ketahui bahwa untuk tanaman
Glerecidae sepium memiliki kepadatan sebesar 100 %, yang menutupi seluruh
daerah pengamatan. Sedangkan pohon Mimosa sp, Swietenia macropil,
Podocarpus macrophyllus memiliki kepadatan sebesar 33,33% yang menutupi
seluruh daerah pengamatan.
Untuk densitas relatif tiap spesies adalah; Glerecidae sepium sebesar 67,02
%, Mimosa sp sebesar 7,99 %, Swietenia macropil sebesar 7,99 %, dan
Podocarpus macrophyllus sebesar 17 %. Arti dari densitas itu sendiri adalah untuk
pohon Glerecidae sepium memiliki kepadatan sebesar 67,02 % yang menutupi
seluruh daerah pengamtan. Sedangkan Mimosa sp dan Swietenia macropil
memiliki kerapatan sebesar 7,99%. Dan untuk Podocarpus macrophyllus sebesar
17 % yang menutupi daerah pengamatan tersebut.

Berdasarkan hasil perhitungan diatas diketahui frekuensi relatif tiap spesies


paling besar oleh pohon Glerecidae sepium sebesar 50%, kemudian untuk pohon
Mimosa sp, Swietenia macropil, dan Podocarpus macrophyllus frekuensi relatif
tiap spesiesnya sama yaitu sebesar 16,66%. Dari data tersebut dapat diketahui
bahwa dominansi pada ekosistem tersebut adalah pohon Glerecidae sepium.
Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa
untuk nilai penting tiap spesies dengan menggunakan harga dominansi yang
berdasarkan atas basal area adalah sebagai berikut: Untuk pohon Glerecidae
sepium memiliki nilai penting 175,01, untuk pohon Mimosa sp, mempunyai nilai
penting 27,68, untuk pohon Swietenia macropil memiliki nilai penting 25,53,
sedangkan untuk pohon Podocarpus macrophyllus memiliki nilai penting 71,75.
Untuk luas penutupan tidak dihitung karena pada saat pengamatan tanaman
yang kami jumpai daunnya meranggas. Soalnya pengamatan yang kami lakukan
pada saat awal musim hujan jadi tumbuhan yang disana belum banyak yang
menumbuhkan daunnya.
Jadi dapat diketahui, peringkat pertama adalah Glerecidae sepium , yang
diikuti oleh Podocarpus macrophyllus, kemudian Mimosa sp, dan yang terakhir
adalah Swietenia macropi. Sehingga dapat diketahui bahwa vegetasi pada hutan
wanagama yang diamati dengan tekhnik point quarter, vegetasi tersebut bertindak
sebagai produsen namun berdasarkan data hasil peringkat, Glerecidae sepium
menduduki peringkat pertama. Sehingga dapat diketahui Glerecidae sepium
merupakan produsen utama dalam ekosistem tersebut. Selain itu juga dapat
disimpulkan bahwa semakin tinggi nilai pentingnya maka semakin tinggi peran
atau pengaruh tanaman tersebut dalam ekosistem.
3. Komonen Abiotik
Komponen abiotik yang kami ukur diantaranya komponen mikroklimat yang
meliputi suhu, kelembabapan udara, kecepatan angin, intensitas cahaya, dan
komponen edafik yang meliputi struktur tanah, tekstur tanah, pH dan kelembaban
tanah.
Untuk masing-masing plot komponen abiotik yang terukur adalah sebagai
berikut: pada plot I suhunya sebesar 35 0C suhunya agak tinggi karena pada saat
pengamatan dilakukan pada siang hari sekitar jam 11 siang, selanjutnya
kelembapan udaranya sebesar 65 cd, intensitas cahaya sebesar 103 lux dan
kecepatan angginnya sebesar 0 karena pada saat pengamatan anginnya tidak bisa

diukur dengan alat sebab hampir tidak ada angin, struktur tanahnya liat dengan
tekstur tanah remah, pH tanah 6,9 dan kelembapan tanah 100 % karena pada saat
pengamatan dilakukan pada saat musim hujan.
Pada plot 2 juga tidak jauh berbeda dengan plot 1 yaitu suhu udaranya sebesar
34,5 0C, kelembaban udaranya 65 cd, kecepatan angin 0, intensitas cahaya 85,
sedangkan komponen edafik yang meliputi struktur tanahnya liat, dengan tekstur
renah, pH tanah netral yaitu sebesar 7, dan kelembaban tanah 100 %.
Begitu juga dengan plot 3 komponen abiotik yang diukur juga sama dengan
plot1 dan plot 2, dimana suhu udara sebesar 39,5, kelembaban udaranya 65 cd,
kecepatan angin 0, intensitas cahaya 64 dimana plot 3 terdapat pohon Swietenia
macropilla yang mempunya kanopi sehingga cahaya tidak bisa masuk secara
optimal karena terhalang oleh tajuk pohon Swietenia macropilla, komponen
edafik yang meliputi struktur tanahnya liat, dengan tekstur renah, pH tanah
mendekati netral yaitu sebesar 6,8, dan kelembaban tanah 100 %.

KESIMPULAN
Dari analisis data yang kami lakukan pada pengamatan vegetasi hutan Wanagama,
maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
1. Quadrat Sampling Techniques
Dapat diketahui bahwa vegetasi pada hutan Wanagama yang diamati dengan
Quadrat Sampling, vegetasi yang mendominasi yaitu tumbuhan Podocarpus
macrophyllus . Sehingga dapat diketahui melalui tekhnik pengamatan ini produsen
utama yaitu Podocarpus macrophyllus .
2. Point Quarter Techniques
Dapat diketahui bahwa vegetasi pada hutan Wanagama yang diamati dengan
Teknik Point Quarter, vegetasi yang bertindak sebagai produsen berdasarkan data
hasil peringkat adalah Glerecidae sepium yangmenduduki peringkat pertama.
Sehingga dapat diketahui Glerecidae sepium merupakan produsen pertama dalam
ekosistem tersebut

DAFTAR PUSTAKA
Anonim . Analisis Vegetasi Metode Kuadrat, (online), www.2dix.com/pdf/analisis-vegetasimetode-kuadrat-pdf.php diakses Senin, 22 November 2010.
Anonim.
Apa
dan
Bagaimana
Mempelajari
Analisis
Vegetasi,
(online),
www.boymarpaung.wordpress.com/apa-dan-bagaimana-mempelajari-analisis-vegetasi/
diakses Senin, 22 November 2010.
Anonim.Hutan,(online),www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/968/1/hutansiti12.pdf. diakses Senin, 22 November 2010.
Kusmana, C, 1997. Metode Survey Vegetasi. PT. Penerbit Institut Pertanian Bogor.
Bogor.
Soerianegara, I dan Indrawan, A. 1988. Ekologi Hutan Indonesia. Laboratorium Ekologi.
Fakultas Kehutanan. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Duncan Robert et al. 1988. Biostatistics For Health.New York: Wiley Medical Publication
Fuad, Ansari. 1975. Prinsip- prinsip dan Dasar Statistika dalam perencanaan Kesehatan.
Surabaya. Airlangga University Press
Hadisubroto, Tisno. 1989. Ekologi Dasar. Deptdikbud. Jakarta.
Syafei, 1990. Dinamika Populasi: Kajian Ekologi Kuantitatif. Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta.