Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN PRAKTIKUM

DIAGNOSA KLINIK VETERINER


Demodicosis dan FLUTD (Feline Low Urinary Tract Disease)

Kelompok : A3
Rizka Putri I.E

115130100111012

Evris Hikmat S.

115130100111014

Oman Setiyanto

115130100111015

Gede Eko Darmono

115130100111016

Veronika Julie V.

115130100111020

Siti Nur Hidayati

115130100111023

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER HEWAN


PROGRAM KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diagnosa klinik merupakan ilmu yang mempelajari teknik diagnosis standard
dari suatu penyakit berdasarkan pada pemahaman terhadap normal atau
abnormalnya parameter patofisiologi yang dapat diidentifikasi dari tubuh dengan
menggunakan teknik-teknik diagnosa standard. Dalam menerapkan ilmu
Diagnosa Klinik Veteriner, dokter hewan yang praktik dihadapkan dengan
keadaan di lapangan dengan berbagai kegiatan pelayanan jasa medik veteriner
yang menerapkan tahapan ilmu diagnosa klinik.
Teknik-teknik diagnosis standard haruslah dipahami secara benar agar
mahasiswa dapat menetapkan diagnosis secara akurat dari suatu penyakit
berdasarkan

perubahan-perubahan

parameter

patofisiologis

yang

dapat

diidentifikasi melalui teknik-teknik diagnosis standard secara holostik dan


terintegrasi.
Penentuan diagnosa klinik yang akurat pada hewan kesayangan tidak seratus
persen dapat ditegakkan dengan diagnosa klinik tetapi memerlukan bantuan
teknik pemeriksaan atau uji kesehatan lain, seperti pemeriksaan nekropsi,
pemeriksaan serologi dan sebagainya. Metode pemeriksaan diagnosa klinis ada
empat cara yaitu melihat (inspeksi), meraba (palpasi), mengetuk (perkusi), dan
mendengar (auskultasi). Pada hewan kesayangan dikatakan sakit bila organ tubuh
ataupun fungsinya mengalami kelainan dari keadaan normal, kelainan tersebut
dapat diketahui melalui pemeriksaan dengan alat indra secara langsung atau
menggunakan alat alat bantu contohnya terlihat adanya kemerahan dan eksudat
kental pada matanya, terlihat lepuh lepuh pada lidahnya, diare pada saat
defekasi dan sebagianya. Tanda tanda yang terlihat atau yang ditemui pada
hewan kesayangan yang menderita dinamakan sebagai gejala sakit atau symptom
atau sering dinamakan gejala klinis.

Pada praktikum diagnosa klinik kali ini, mahasiswa dapat belajar bagaimana
melakukan prosedur pemeriksaan hewan dan pemberian terapi yang tepat di
Klinik Pendidikan Dokter Hewan Universitas Brawijaya.
1.2 Tujuan
Tujuan dari praktikum Diagnosa Klinik Veteriner yaitu :
1. Dapat melakukan teknik diagnosis standart terhadap kasus di klinik hewan.
2. Dapat mendiagnosa dengan teknik diagnosis standart (diagnosa klinik)
terhadap kasus di Klinik Hewan.
3. Dapat mengerti, memahami dan menjelaskan kasus yang ditemui saat
praktikum di Klinik Hewan.
1.3 Manfaat
Manfaat yang didapatkan dari praktikum Diagnosa Klinik Veteriner di Klinik
Hewan yaitu Mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dengan
keadaan di lapangan/Klinik Hewan sehingga memberikan gambaran dan
wawasan bagaimana bekerja di masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease) adalah suatu kondisi dimana
terdapatnya bentukan crystal yang menyumbat saluran urinasi bagian bawah seperti
vesica urinaria, bladder sphincter, dan uretra, sehingga kucing mengalami kesulitan
urinasi. Kondisi ini sering terjadi pada kucing muda, bisa jantan ataupun betina,
namun lebih sering terjadi pada kucing jantan. Beberapa factor berkontribusi untuk
penyakit ini termasuk infeksi bacterial dan viral, trauma, adanya kristal di urine, batu
di vesica urine, tumor pada saluran urinaria, dan abnormiltas congenital. Factor yang
berkontribusi terhadap perkembangan FLUTD antara lain:
a. FLUTD dapat disebabkan uretra yang tersumbat oleh semacam pasta,
komposisi material batu atau pasir dan kristal struvite (magnesium
ammonium fosfat), yang berhubungan dengan jumlah garam. Meskipun
Kristal struvit merupakan penyebab utama sumbatan, namun jenis Kristal
lain dapat ditemui. Beberapa sumbatan menyebabkan terbentuknya mucus,
darah, dan sel darah putih.
b. FLUTD dapat dihubungkan dengan kristal-uroith atau batu yang
ditemukan di saluran urinaria. Tipe urolith ervariasi, tergantung dari diet
dan factor pH urine. Dua tipe yang sangat sering ditemukan adalah
struvite

(magnesium

fosfat)

dan

kalsium

oksalat.

Factor

yang

mempengaruhi pembentukan urolit pada kucing termasuk infeksi bakteri


yang bersamaan; jarang urinasi akibat litter box yang kotor; kurangnya
aktifitas fisik; dan kurang minum atau kualitas minum yang buruk atau
tidak tersedianya air, dan bisa juga karena selalu diberi pakan kering
(dryfood).
c. Urine kucing normalnya sedikit asam. Factor yang menyebabkan urin
alkalis yaitu jenis pakan, adanya bakteri di saluran urinaria. Urin yang
bersifat asam memiliki property antibacterial. Namun ada beberpa kasus
dumana FUS memiliki urine yang asam. Kucing tersebut mungkin
menderita akibat yrolith kalsium oksalat. Jika urolith terjadi di urethra,

maka obstruksi dapat mengancam kehidupan karena sangat sulit


disembuhkan.
d. Cystitis bacterial dan urethritis (radang pada urethra) juga dapat menjadi
penyebab dasar FUS. Cystitis bacterial mungkin dapat menjadi penyebab
yang penting dari serangan yang berulang. Infeksi bakteri tersebut
memiliki potensi untuk peningkatan infeksi dengan sumbatan. Infeksi
berulang dapat menyebabkan resistensi antibiotik.
e. Intake diet dan air minum. Kucing yang memakan pakan kering akan
mendapat sedikit air dari pakan mereka, selain itu didukung pula dengan
kurangnya minum. Pakan kering akan menyebabkan urin lebih
terkonsentrasi dan jumlah sedimen yang lebih besar.
Demodex adalah penyakit kulit anjing yang disebabkan oleh protozoa
Demodek follicularumvar canis atau Demodex canis. Tungau / kutu jantan berukuran
lebih dari 0,25 mm, sedangkan betina 0,3 mm. Tungau / kutu ini terdapat pada akar
bulu dan terkadang dikelenjar lemak, hampir seluruh siklus hidup tungau / kutu ini
berada dikulit. Tungau / kutu dewasa yang keluar dipermukaan kulit, mengakibatkan
penularan pada anjing anjing lain. Berdasarkan penelitian dari beberapa literatur,
hampir semua jenis anjing ditemukan Demodex canis. Pada anjing yang mengalami
penurunan kekebalan, tungau / kutu ini dapat mengakibatkan radang kulit. Apabila
berlangsung dalam jangka waktu lama dapat mengakibatkan kematian pada anjing
yang terserang kutu tersebut. Serangan diawali dengan timbulnya rasa gatal pada
daerah seputar mata dan juga pada bagian lipatan telinga serta kaki bagian depan dan
belakang. Selanjutnya bulu bulu pada daerah tersebut akan terjadi rontok. Rasa gatal
yang hebat membuat anjing menjadi gelisah dan menggaruk kulitnya, akibat garukan
anjing tersebut maka terjadilah pengelupasan kulit dan bahkan mengakibatkan
timbulnya luka yang berair, nanah , dan juga berbau busuk.
Bila penyakit ini tidak segera ditangani dengan pengobatan yang tepat, maka
akan timbul infeksi sekunder. Infeksi sekunder ini dapat mengakibatkan jamur atau
bakteri masuk kedalam tubuh lewat luka tersebut sehingga semakin sulit untuk

diobati. Luka-luka yang diderita oleh anjing anjing yang mengidap demodex ini,
mengakibatkan anjing anjing ini mengalami kegelisahan serta menurunnya nafsu
makan, sehingga menjadikan Stamina anjing serta nafsu makannya menurun , bahkan
Demam. Penyembuhan penyakit ini memerlukan waktu yang cukup lama dan
diperlukan kesabaran dari pemilik, apa lagi bila penyebaran penyakit demodex ini
lebih dari 50 %, pengobatan ini harus di tuntaskan sampai keakar akarnya, ketekunan
dan kesabaran sangatlah diperlukan bila menghendaki anjing kesayangan sembuh.

BAB III
HASIL PRAKTIKUM

Pemeriksaa Fisik
1. Anamnesa
Ada kerontokan dan kebotakan pada bagian kaki depa dan belakang,
kemerahan dan bercak bulat pada punggung. Nafsu makan dan minum
normal, buang air besar dan urinasi normal.
2. Signalemen Hewan
Nama
: Princces
Jenis hewan/kelamin : Anjing/betina
Ras/breed
: Golden Mix
Warna bulu/kulit
: Kuning
Umur
: 1,5 Th
Berat badan
: 28 Kg
Tanda khusus
: Moncong hitam , telinga kebawah
3. Status Present
3.1 Keadaan umum
Perawatan

: Baik, Grooming, Mandi Kutu

Habitus atau/tingkah : Jinak, Aktif, Penurut, Ceria


Gizi

: Baik Gemuk

Pertumbuhan badan

: Normal seusianya, Tidak ada ke abnormalan

Sikap berdiri

: Tegak, Kaki menapak sempurna

Suhu tubuh

: 38,50C

Frekuensi nadi

: 68 kali per menit

Frekuensi nafas

: 68 kali per menit

3.2 Adaptasi Lingkungan

: Baik, dapat beradaptasi dengan cepat, tidak


bingung dan tidak setres.

3.3 Kulit dan Rambut

Aspek rambut

: Rambut kusam, kusut

Kerontokan

: Terjadi kerontokan pada beberapa bagian

Kebotakan

: Terjadi kebotakan pada bagian kaki depan atau


belakang, juga pada beberapa bagian di punggung

Turgor kulit

: Baik, kembali sebelum dua detik

Permukaan kulit

: Ada kotoran seperti butiran-butiran pasir

Bau kulit

: Berbau tidak enak

Kepala dan leher


Inspeksi
Ekspresi wajah

: Tenang

Pertulangan kepala

: Kompak kuat

Posisi tegak telinga

: Telinga dekster dan sinister turun kebawah dan


simetris

Posis kepala

: Tegak diatas punggung

Mata dan orbita kiri


Palpebrae

: Normal, tidak ada pembengkakan, dapat membuka dan


menutup

Cilia

: Bulu mata mengarah keluar

Konjungtiva

: Warna putih tidak ada kelainan, lembab

Membrane niktitans : Dapat membuka dan menutup

Mata dan orbita kanan


Palpebra

: Normal, tidak ada pembengkakan, dapat membuka dan


menutup

Cilia

: Bulu mata mengarah keluar

Konjingtiva

: Warna putih tidak ada kelainan, lembab

Membrana niktitan

: Dapat membuka dan menutup

Bola mata kiri


Sclera

: Warna putih

Cornea

; Jernih, basah, permukaan rata

Iris

: Warna hitam, tidak ada perubahan

Limbus

: Datar dan Rata

Pupil

: Tidak ada perubahan, Refleks normal

Reflek pupil

: Mengecil saat disinar dan membesar saat normal

Vasa injeksio

: Ada vasa injeksio

Ukuran
Posisi

: Tidak ada perubahan


: Simetris kiri dan kanan

Bola mata kanan


Sclera

: Warna putih

Cornea

; Jernih, basah, permukaan rata

Iris

: Warna hitam, tidak ada perubahan

Limbus

: Datar dan Rata

Pupil

: Tidak ada perubahan, Refleks normal

Reflek pupil

: Mengecil saat disinar dan membesar saat normal

Vasa injeksio

: Ada vasa injeksio

Ukuran
Posisi

: Tidak ada perubahan


: Simetris kiri dan kanan

Hidung dan sinus


Kesimetrisan cuping hidung : Simetris kanan dan kiri
Aliran udara

: Lancar atau tidak ada hambatan

Kelembaban

: Lembab dan basah

Discharge

: Tidak ada Discharge

Mulut dan rongga mulut


Rusak/luka bibir

: Tidak ada luka pada bibir

Mukosa

: Warna kemerahan dan basa

Gigi geligi

: Gigi geligi lengkap, tidak ada karang gigi

Lidah

: Bersih dan basah

Telinga
Posisi

: Posisi turun kebawah, kanan dan kiri

Bau

: Tidak ada bau

Kebersihan

: Bersih

Permukaan daun telinga

: Tidak rata, ada seperti gumpalan ketombe

Krepitasi

: Tidak ada krepitasi

Reflek panggilan

: Ada dan baik

Leher
Perototan

: kopak dan teraba

Trachea

: Cincin trachea teraba

Esophagus

: Tidak teraba

Kelenjar pertahanan
Lymphonodus rethropharingealis
Ukuran

: Ukuran tidak ada pembesaran

Lobulasi

: Jelas berlobus-lobus

Perlekatan

: Tidak ada perlekatan

Konsistensi

: Kenyal

Suhu kulit

: Sama dengan suhu tubuh

Kesimetrisan

: Simetris kanan dan kiri

3.4 Thoraks
3.5.1 Sistem pernafasan
Inspeksi

Bentuk rongga thorax

: dinding thorax tidak ada kelainan, bulat dan


cembung

Tipe pernafasan

: Costalis

Ritme

: Cepat dan teratur

Intensitas

: Tiggi

Frekuensi

: 68 kali per menit

Trakhea

: Terdapat cincin dibagian ventral leher

Batuk

: Tidak ada batuk

Palpasi
Trakhea

: Teraba cincin di bagian ventral

Penekanan rongga thorax

: Tidak ada rasa sakit saat di tekan

Palpasi intercostals

: Teraba musculus inter costalis, tidak ada rasa


sakit

Perkusi
Lapagan paru-paru

: Rata

Gema perkusi

:-

Auskultasi
Suara pernafasan

: Vesikuler

Suara ikutan antara inspirasi dan ekspirasi


3.5.2 Sistem peredaran darah

: Tidak ada suara ikutan

Inspeksi
Ictus cordis

: Tidak terlihat Ictus cordis

Perkusi
Lapagan jantung

: Rata tidak ada benjolan

Auskultasi
Frekuensi

:-

Intensitas

:-

Ritme

:-

Suara sistolik dan diastolik

:-

Ekstrasistolik

:-

Lapangan jantung

:-

Sinkron pulsus dan jantung

:-

3.6 Abdomen dan Organ Pencernaan yang Berkaitan


Inspeksi
Besarnya

: Simetris kanan dan kiri, tidak ada perbesaran

Bentuknya

: Simetris kanan kiri

Legok lapar

: Tidak terlihat legok lapar

Auskultasi
Suara peristaltik lambung

:-

Palpasi
Epigastricus

:-

Mesogastricus

:-

Hipogastricus

:-

Isi usus halus

:-

Isi usus besar

:-

Auskultasi
Peristaltik usus

:-

Anus
Sekitar anus

: Bersih tidak ada sisa feses

Reflek sfinkter ani

: Ada reflek membuka dan menutup

Pembesaran kolon

: Tidak ada perbesaran kolon

Kebersihan daerah perianal

: Bersih, tidak ada kotoran disekitar perianal

Alat perkemihan dan kelamin (Urogenitalis) betina


Inspeksi
Mulosa vulva

: Warna rose, lembab

Kelenjar mammae
Besar

: Kecil

Letak

: Kanan dan kiri simetris

Bentuk

: Putting menonjol sedikit

Kesimetrisan

: Simetris antara jarak kanan dan kiri dan satu


dengan yang lain

Konsistensi kelenjar : Kenyal


Jantan
Inspeksi
Prepucium

:-

Penis

:-

Palpasi
Scrotum

:-

3.7 Alat gerak


Inspeksi
Perototan kaki depan

: Otot agak tebal, kanan dan kiri simetris

Perototan kaki belakang

: Otot agak tebal, kanan dan kiri simetris

Spasmus otot

: Tidak ada spasmus

Tremor

: Tidak ada tremor

Sudut persendian

: Terlihat sudut persendian patella

Cara bergerak-berjalan

: Bergerak dan berjalan dengan empat kaki, tidak ada


kesakitan

Cara bergerak-berlari

: Berjalan dengan empat kaki, lari normal, tidak ada


kesakitan

Kestabilan pelvis
Konformasi

: Kompak dan kuat

Kesimetrisan

: Simetris kanan dan kiri

Tuber ischii

: Tidak terlihat saat inspeksi

Tuber coxae

: Tidak terlihat saat inspeksi

Palpasi
Srtuktur pertulangan
Kaki kiri depan

: Padat Kuat, tidak ada rasa sakit

Kaki kanan depan

: Padat Kuat, tidak ada rasa sakit

Kaki kiri belakang

: Padat Kuat, tidak ada rasa sakit

Kaki kanan belakang : Padat Kuat, tidak ada rasa sakit


Konsistensi pertulangan
Reaksi saat palpasi

: Padat dan kuat

: Tidak ada rasa sakit

Panjang kaki depan kiri-kanan

: Sama kanan dan kiri

Panjang kaki belakang kiri-kanan

: Sama kanan dan kiri

Limphoglandula poplitea
Ukuran

:-

Konsistensi

:-

Lobulasi

:-

Perlekatan

:-

Suhu kulit

:-

Kesimetrisan

:-

Pemeriksaan lanjutan
Diagnosa

: Demodexosis

Diagnosa banding

: Alergi makanan dermatitis, jamur, scabiosis

Prognosa

: Fausta

Terapi

: Virbamex LA 1,1 cc
Dimedryl

Resep obat

1,2 cc

Kedua obat diberikan secara


injeksi Subkutan

: R/ Pionicy mg 33
m.f.l.a pulv da in caps dtd no X
S 2dd caps I p.c
Imboost tab No X
S dd tab I p.c

Hari

: Kamis

Tanggal

: 13 November 2014

Catatan

:-

Dokter jaga

: drh. Ahmad Fauzi

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada kasus yang didapat dari pasien anjing jenis Golden Mix bernama Princess di
dapatkan diagnosa yaitu demodekosis dan dermatitis. Langkah-langkah penetapan

diagnosa diawali dari Resgristrasi pasien, Anamnesa, Pemeriksaan Fisik, lalu


dilanjutkan dengan pemeriksaan lanjutan dan terapi. Resgistrasi ditujukan pada klien
dan pasien dengan berbagai tujuan, diantaranya :
1.
2.
3.
4.

Mengingatkan, terutama untuk pasien yang sudah pernah ditangani


Komunikasi, agar memudahkan berkomunikasi dengan klien
Pengaturan agar data lebih tertata dan mudah mencarinya
Efisiensi supaya tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui
riwayat penyakit pasien.
Registrasi untuk klien meliputi nama, alamat dan nomor telepon klien.

Registrasi untuk pasien meliputi breed (ras), sex (jenis kelamin), umur, specific
pattern atau tanda yang menciri.

Registrasi ditulis dalam selembar kertas yang

dinamakan ambulator (Lane and Coper, 2003). Pada kasus diatas didapatkan :
Nama Pemilik

: Ny. Elizabeth

Nama hewan

: Princess

Jenis/ Ras

: Anjing/ Golden Mix

Umur

: 1,5 tahun

Setelah registrasi baru dilanjutkan dengan melakukan anamnesa (Boddie, 1962).


Anamnesa adalah wawancara yang dilakukan oleh seorang dokter kepada
klien/pasien yang bertujuan untuk mengumpulkan data dari pasien. Dilakukan tanya
jawab antara dokter hewan dengan klien atau pengantarnya, sehingga dokter hewan
dapat mengarahkan pemeriksaannya pada tujuan-tujuan tertentu dan data yang
diperoleh dengan anamnesa dan pemeriksaan fisik itu dapat dipergunakan sebagai
dasar yang kuat untuk membuat diagnosa yang tepat. Mengingat adanya
kemungkinan bahwa penyakit yang di derita ada hubungannyadengan penyakit yang
dahulu maka sering ditanyakan pula berbagai penyakit pada masa lalu (Prasko, 2012).
Pada kasus anjing Princess ini merupakan control ulang setelah sebelumnya
sempat diperiksa. Pada waktu control, dokter hewan menanyakan bagaimana keadaan
kandangnya, apakah punya anjing lain dirumah, bagaimana anjing ini diperlakukan di

rumah, apakah pernah kontak dengan anjing yang sakit, apakah ada perbedaan dari
awal periksa sampai sekarang, apakah sering diajak exercise di luar rumah, apakah
ada perbedaan tingkah laku. Dan dari berbagai pertanyaan yang diajukan diatas
diperoleh beberapa jawaban bahwa anjing Princess dikandangkan sendiri dengan
keadaan kandang yang bersih dan pemberian pakan yang rutin. Pemilik mempunyai
satu anjing lagi ras cihua-hua yang dipelihara di dalam rumah. Anjing cihua-hua tidak
menderita penyakit kulit dan dalam keadaan sehat, serta tidak pernah kontak langsung
dengan Princess. Princess awalnya sering diajak exercise, namun sekarang sudah
tidak pernah lagi. Pemilik sering memukulnya dengan tujuan agar dapat patuh dan
dapat dilatih. Terdapat perbedaan dari saat pertama kali datang, tanda bulat
kemerahan dikulitnya perlahan menghilang. Terjadi penurunan frekuensi menggaruk
dan penurunan nafsu makan.
Pemeriksaan fisik adalah Pemeriksaan tubuh untuk menentukan adanya
kelainan dari suatu system atau suatu organ bagian tubuh dengan cara inspeksi,
palpasi, perkusi, dan auskultasi.
menentukan

kelainan

fisik

Tujuan dari pemeriksaan fisik adalah untuk

yang

berhubungan

dengan

penyakit

pasien,

mengklarifikasi dan memastikan kelainan sesuai dengan gejala klinis dan riwayat
kesehatan pasien, mendapatkan data untuk menegakkan diagnose, mendapatkan data
fisik untuk menetukan status kesehatan pasien (Usoli,2013).
Pemeriksaan awal dilakukan pengukuran suhu, pulsus, frekuensi nafas dan
juga diukur beart badan pasien. Saat control ke dua ini, Princess mengalami
penurunan berat badan sebesar 2 kg dalm waktu 10 hari yang awalnya 30 kg menjadi
28 kg. dari sini dapat disimpulkan bahwa terjadi penurunan nafsu makan pada
Princess karena pemilik mengatakan bahwa Princess tidak pernah diajak excersice
akhir-akhir ini dan hanya berada dalam kandang.
Pada saat dilakukan inspeksi, didapati bahwa ada beberapa bagian rambut
yang mengalami kebotakan berbentuk bulat-bulat pada punggung, keempat kaki, dan

dibawah moncong. Kulit di area kebotakan berwarna agak kemerahan namun ada
beberapa bagian yang mulai memudar. Saat dipalpasi, bagian rambut yang mengalami
kebotakan terasa kasar dan agak bersisik, namun dalam keadaan kering, tidak terdapat
leleran seperti serous ataupun darah. Sedangkan pemeriksaan pada organ tubuh yang
lain tidak menunjukkan adanya abnormalitas.
Setelah dilakukan pemeriksaan fisik, dilakukan pemeriksaan tambahan seperti
USG, ataupun Xray apabila diperlukan untuk memastikan penyebab penyakit. Pada
kasus kali ini tidak dilakukan pemeriksaan tambahan. Setelah dilakukan pemeriksaan,
barulah dilakukan diagnose yang diberikan terhadap suatu penyakit, sehingga dokter
hewan dapat memberikan resep dan membuat prognosis. Diagnosis adalah uraian dari
identitas morfologi suatu penyakit. Dari kasus ini diagnose yang ditegakkan oleh
dokter hewan adalah demodekosis/ scabiosis dan dermatitis. Diagnosa tidak menciri
karena tidak dilakukan pemeriksaan tambahan seperti kerok kulit ataupun dengan
sinar flourescens untuk melihat penyebab pasti dari penyakit. Demodekosis sendiri
adalah penyakit kulit yang disebabkan karena mite (tungau) yang sering menyerang
anjing. Menurut Triakso (2006), ada tiga spesies dalam genus Demodex pada anjing,
Demodex canis, Demodex cornei, dan Demodex injai. Namun species yang paling
sering ditemukan pada anjing adalah Demodex canis. Demodex canis terdapat dalam
jumlah yang kecil pada kulit yang tidak menunjukkan gejala klinis pada anjing sehat.
Dalam kondisi normal, parasit ini tidak membuat kerugian bagi anjing, namun bila
kondisi kekebalan anjing menurun maka demodex akan berkembang menjadi leih
banyak dan menimbukan penyakit kulit.
Gejala klinis demodekosis adalah pada kulit erjadi alopecia, berkerak,
kemerahan, disertai gatal dan sakit jika ada infeksi sekunder. Munculnya demodex
biasanya pada daerah kepala, kaki depan, hidung, ekor dan beberapa anjing ada juga
yang terserang hanya dibagian telapak kaki dan telinga saja. Pada demodekosis
general biasanya lesi terdapat hampir di seluruh tubuh dan biasanya disertai dengan
infeksi sekunder (Dunn, 2008).

Luka pada kulit anjing yang terserang Demodikosis akan dapat didiagnosa
melalui pemeriksaan mikroskopis dari kerokan kulit hewan penderita yang diduga
terserang penyakit ini, tampak parasit Demodex canis berbentuk cerutu dengan
ukuran 250-300 m x 400 m. Parasit ini tinggal di folikel rambut dan kelenjar
sebaceus dan siklus hidupnya terjadi pada tubuh induk semang20-35 hari. Hewan
penderita yang sering diserang pada usia anjing di bawah umur 1 tahun namun
demikian pada anjing di atas umur 1 tahun banyak mengalami kejadian infeksi
penyakit ini (Sardjana, 2012).
Prognosis adalah proses suatu kasus penyakit berdasarkan hasil diagnosis.
Terdiri dari tiga tingkatan, yaitu:
-

Fausta : tingakt kesembuhan lebig dari 50%


Dubius : tingkat kesembuhan 50 : 50
Infausta : tingkat kesembuhan <50%

Sedangkan prognosa dari kasus ini dapat dikatakan fausta karena tingkat kesembuhan
lebih dari 50% dengan terlihatnya kebotakan yang awalnya merah berangsur-angsur
kembali ke warna kulit normal.
Terapi yang digunakan adalah dengan pemberian Virbamec dan duradryl.
Virbamec LA berisi invermectin dengan standart kemurnian tinggi. Digunakan untuk
pengobatan ekto dan endoparasit. Ivermectin merupakan obat anti parasit
berspektrum luas. Ivermectin bekerja melepas GABA (Gamma Amino Butyric Acid)
yang mencegah neurotransmitter. Pada pengobatan tungau, ivermectin tidak dapat
membunuh telur, sehingga harus dilakukan berulang sesuai dengan interval dan dosis.
Interval terapi yang dianjurkan adalah antara 7-14 hari sampai hewan dinyatakan
sembuh dari ektoparasit (Sardjana, 2012). Meskipun memberikan hasil yang baik
terhadap pengobatan demodekosis, Ivermectin tidak boleh digunakan untuk anjing ras
Collie.
Duradryl merupakan antihistamin dalam sediaan bentuk larutan injeksi 15 ml
per ampul yang tiap ml mengandung diphenhydramin HCl 10 mg. Antihistamin
beraksi secara antagonis kompetitif untuk reseptor histamin khusus di dalam jaringan

sel dengan mengikat reseptor sel secara tidak langsung beraksi pada sel. Ikatan
dengan sel akan menyebabkan tidak adanya efek histamin pada sel tersebut.
Diphenhydramine HCl sendiri merupakan antihistamin dari kelas ethanolamine, yang
dapat mengandung sedatif, antimuskarinik, dan antiemetika, sehingga dapat menekan
gejala batuk, serta antihistamin (H1) menekan muntah dan pruritis (Tennant, 2002).
Penggunaan secara i.m jarang menimbulkan efek samping sehingga cara ini paling
sering digunakan.
Penggunaan Dipenhydramin HCl pada kasus demodekosis adalah untuk
mengatasi rasa gatal maupun alergi yang mungkin timbul akibat serangan parasit
demodex pada folikel rambut (Sardjana,2012).

BAB V
KESIMPULAN
FLUTD (Feline Lower Urinary Tract Disease) adalah suatu kondisi dimana
terdapatnya bentukan crystal yang menyumbat saluran urinasi bagian bawah seperti
vesica urinaria, bladder sphincter, dan uretra, sehingga kucing mengalami kesulitan

urinasi. Demodex adalah penyakit kulit anjing yang disebabkan oleh protozoa
Demodek follicularumvar canis atau Demodex canis. Tungau / kutu jantan berukuran
lebih dari 0,25 mm, sedangkan betina 0,3 mm. Tungau / kutu ini terdapat pada akar
bulu dan terkadang dikelenjar lemak, hampir seluruh siklus hidup tungau / kutu ini
berada dikulit. Tungau / kutu dewasa yang keluar dipermukaan kulit, mengakibatkan
penularan pada anjing anjing lain.
Terapi pada demodeks dalah dengan pemberian Virbamec dan duradryl.
Virbamec LA berisi invermectin dengan standart kemurnian tinggi. Digunakan untuk
pengobatan ekto dan endoparasit. Ivermectin merupakan obat anti parasit
berspektrum luas. Ivermectin bekerja melepas GABA (Gamma Amino Butyric Acid)
yang mencegah neurotransmitter. Pada pengobatan tungau, ivermectin tidak dapat
membunuh telur, sehingga harus dilakukan berulang sesuai dengan interval dan dosis.
Interval terapi yang dianjurkan adalah antara 7-14 hari sampai hewan dinyatakan
sembuh dari ektoparasit (Sardjana, 2012). Meskipun memberikan hasil yang baik
terhadap pengobatan demodekosis, Ivermectin tidak boleh digunakan untuk anjing ras
Collie.

DAFTAR PUSTAKA
Boddie, Geo. 1962. Diagnostic Method in Veterinary Medicine. London: Oliver and
Boyd.
Dunn, TJ. 2008. Demodex in the Dog. http://www.vetinfo4dogs.com diakses tanggal
13 Desember 2014.

Lane, Cooper. 2003. Veterinary Nursing : Formerly Jones Animal Nursing 5th edition.
USA : Pergamon.
Prasko M. H. 2012. Pengertian Anamnesis dan Tujuan Anamnesis. http://bahankuliahmu.blogspot.com/2012/10/pengertian-anamnesis-dan-tujuan.html

diakses

tanggal 12 Desember 2014.


Sardjana, I,.K,.W. 2012. Pengobatan Demodekosis Pada Anjing di Rumah Sakit
Hewan Pendidikan Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Surabaya.
Triakoso, N. 2006. Demodicosis Up Date. Reginal Seminar Veterinary Dermatology
Up Date. Surabaya.
Usolin,

Aprian.

2013.

Definisi

dan

Tujuan

http://rajangabrielusolin.blogspot.com/2013/03/pemeriksaan-fisik.html
tanggal 12 Desember 2014.

Pemeriksaan.
diakses