Anda di halaman 1dari 13

KEPERAWATAN TRANSKULTURAL

MAKALAH

Oleh
KELOMPOK 2

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

KONSEP ETNOSENTRISME

MAKALAH
diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Transkultural
dengan dosen: Ns. Latifa Aini S, M.Kes, Sp. Kom

Oleh
KELOMPOK 2
Ropikhotus Salamah

(NIM 122310101002)

Fikri Nur Latifatul Q

(NIM 122310101011)

Dwi Yoga Setyorini

(NIM 122310101027)

Insiyah Noriza

(NIM 122310101037)

Rizka Inna Safitri

(NIM 122310101047)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


UNVERSITAS JEMBER
2015

KONSEP ENTOSENTRISME
a. Definisi Etnocentrisme
Etnosentrisme adalah kecenderungan untuk melihat dunia hanya
melalui sudut pandang budaya sendiri. Etnosentrisme dalam hal tertentu juga
merupakan sesuatu yang positif. Tidak seperti anggapan umum yang
mengatakan bahwa etnosentrisme merupakan sesuatu yang semata-mata
buruk, etnosentrisme juga merupakan sesuatu yang fungsional karena
mendorong kelompok dalam perjuangan mencari kekuasaan dan kekayaan.
Pada saat konflik, etnosentrisme benar-benar bermanfaat. Dengan adanya
etnosentrisme, kelompok yang terlibat konflik dengan kelompok lain akan
saling dukung satu sama lain. (Matsumoto,1996)
Etnosentrisme memiliki dua tipe yang satu sama lain saling
berlawanan. Tipe pertama adalah etnosentrisme fleksibel. Seseorang yang
memiliki etnosentrisme ini dapat belajar cara-cara meletakkan etnosentrisme
dan persepsi mereka secara tepat dan bereaksi terhadap suatu realitas
didasarkan pada cara pandang budaya mereka serta menafsirkan perilaku
orang lain berdasarkan latar belakang budayanya. Tipe kedua adalah
etnosentrisme

infleksibel.

Etnosentrisme

ini

dicirikan

dengan

ketidakmampuan untuk keluar dari perspektif yang dimiliki atau hanya bisa
memahami sesuatu berdasarkan perspektif yang dimiliki dan tidak mampu
memahami perilaku orang lain berdasarkan latar belakang budayanya
b. Tujuan Etnocentrisme
1) Saling mendukung dalam satu kelompok atau untuk memperkuat
hubungan di dalam suatu kelompok. Misalnya kelompok yang terlibat
konflik dengan kelompok lain akan saling mendukung.
2) Untuk menjaga keutuhan dan kestabilan budaya,
3) Untuk mempertinggi semangat patriotism, serta
4) Untuk meningkatkan kesetiaan pada bangsa dan cinta tanah air.
c. Sasaran Etnocentrisme
Semua kelompok dapat menumbuhkan etnosentrisme, tetapi tidak semua
anggota kelompok sama etnosentris. Kecenderungan etnosentrisme berkaitan erat

dengan kemampuan belajar dan berprestasi. Orang-orang etnosentris cenderung


kurang terpelajar, kurang bergaul, dan pemeluk agama yang fanatik. Etnosentrisme
didefinisikan terutama sebagai kesetiaan yang kuat dan tanpa kritik pada kelompok
etnis atau bangsa sendiri disertai prasangka terhadap kelompok etnis dan bangsa lain.
Artinya orang yang etnosentris susah berasimilasi dengan bangsalain, bahkan dalam
proses belajar-mengajar.
d. Strategi Etnocentrisme
Etnosentrisme terjadi jika masing-masing budaya bersikukuh dengan
identitasnya, menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Etnosentrisme akan terus
marak apabila pemiliknya tidak mampu melihat human encounter sebagai peluang
untuk saling belajar dan meningkatkan kecerdasan. Ada tiga strategi ubtuk
mengurangi terjadinya etnosentris antar etnis, yaitu:
1. Pembangunan komunikasi budaya antar etnis yang bertikai. Komunikasi
budaya ini difasilitasi pemerintah. Tindakan ini dapat membentuk budaya
campuran, yang saling menguatkan budaya bangsa Indonesia tanpa dominasi
salah satu etnis, sehingga terbentuk keragaman budaya. Dalam komunikasi
budaya itu, difasilitasi terjadinya asimilasi budaya. Transfer budaya
teknologi, etos kerja dan kuliner, merupakan ajang sangat bagus bila
dilaksanakan pesta kesenian rakyat nusantara antar komunitas.
2. Membangun karakter simpati, yang merupakan budaya beradab. Karakter
simpati dapat meningkatkan kohesifitas masyarakat dengan menganalisis
nilai-nilai kearifan lokal, dan domain sosial dari masing-masing etnis. Dan
nilai-nilai tersebut harus dirancang model domain sosial yang bisa digunakan
untuk berbagai keperluan, seperti mengatasi konflik, mengatasi rawan
bencana, dan merintis kemajuan teknologi dan meningkatkan masyarakat
belajar.
3. Ketiga mengembangkan rasa empati. Syarat utama memunculkan rasa empati
adalah ketulusan dan jujur terhadap diri sendiri. Dengan kata lain, kejujuran

untuk menghargai perbedaan, termasuk didalamnya dalam kerangka etos


kerja, dengan semangat kerja keras.
e. Stereotipe
Stereotipe adalah pandangan atau penilaian mengenai sifat-sifat dan watak
pribadi suatu individu atau golongan lain yang bersifat subjektif, tidak tepat dan
cenderung negative karena tidak lengkapnya informasi yang didapatkan.
Stereotipe merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh
manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam
pengambilan keputusan secara cepat. Namun dalam hal ini, stereotipe dapat
berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan
untuk melakukan tindakan diskriminatif. Sebagian orang menganggap segala
bentuk stereotipe negatif. Stereotipe jarang sekali akurat, biasanya hanya
memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang.
Berbagai disiplin ilmu memiliki pendapat yang berbeda mengenai asal mula
stereotipe: psikolog menekankan pada pengalaman dengan suatu kelompok,
pola komunikasi tentang kelompok tersebut, dan konflik-koflik yang terjadi
antarkelompok. Sosiolog menekankan pada hubungan di antara kelompok dan
posisi kelompok-kelompok dalam tatanan sosial. Para humanis berorientasi
psikoanalisis (mis. Sander Gilman) menekankan bahwa stereotipe secara
definisi tidak pernah akurat, namun merupakan penonjolan ketakutan seseorang
kepada orang lainnya, tanpa mempedulikan kenyataan yang sebenarnya.
Walaupun jarang sekali stereotipe itu sepenuhnya akurat, namun beberapa
penelitian statistik menunjukkan bahwa dalam beberapa kasus stereotipe sesuai
dengan fakta terukur.
Stereotip seksual menunjukkan bahwa setiap orang adalah gay feminin dan
maskulin. Mereka yang percaya stereotip gay mungkin juga percaya bahwa
homoseksualitas tidak bermoral. Hampir setiap kebudayaan atau ras memiliki
stereotipe, termasuk orang-orang Yahudi, orang Afrika Amerika, orang Irlandia,
dan orang-orang Polandia. Stereotip tidak hanya berpusat pada ras yang berbeda
dan latar belakang, namun juga ada stereotip jender. Misalnya, jika seseorang

mengatakan bahwa laki-laki lebih baik daripada perempuan, seseorang tersebut


stereotip semua orang dan semua wanita. Jika seseorang mengatakan bahwa
semua wanita suka memasak, berarti seseorang itu adalah perempuan stereotip.
Stereotip orientasi seksual juga umum. Stereotip ini terjadi ketika seseorang
memiliki pandangan negatif terhadap gaya lesbian, transgender dan individu.
Orang-orang yang memiliki pandangan-pandangan negatif sering dikenal
sebagai homophobic bahkan jika stereotip benar dalam beberapa kasus, selalu
menempatkan seseorang berdasarkan persepsi prasangka. Stereotip dapat
menyebabkan intimidasi membentuk usia muda. Stereotip mendorong perilaku
yang membawa anak-anak sampai dewasa. Stereotip juga dapat menyebabkan
orang untuk hidup didorong oleh kebencian, dan dapat menyebabkan para
korban tersebut didorong oleh rasa takut. Sebagai contoh, banyak kaum gay dan
lesbian yang takut untuk mengakui seksualitas mereka sehingga takut dihakimi.
f. Prejudice
Prejudice atau prasangka sosial merupakan sikap perasaan orang-orang
terhadap golongan manusia tertentu, golongan ras atau kebudayaan yang berbeda
dengan golongan orang yang berprasangka itu. Prasangka sosial memiliki kualitas
suka dan tidak suka pada obyek yang diprasangkainya, dan kondisi ini akan
mempengaruhi

tindakan

atau

perilaku

seseorang

yang

berprasangka

tersebut. Beberapa kasus tertentu yang berhubungan dengan tindakan seksisme


dan rasisme juga dianggap sebagai prasangka. Prasangka sosial yang pada
mulanya hanya merupakan sikap-sikap perasaan negatif, akhirnya menjadi
tindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk
golongan diprasangkai itu, tanpa terdapat alasan-alasan yang objektif pada pribadi
orang yang dikenakan tindakan-tindakan diskriminatif. Tindakan-tindakan
diskriminatif itu terbagi menjadi dua, diantaranya sebagai berikut:
1. Diskriminasi kasaraksi negatif terhadap objek prasangka rasial, etnis, atau
agamadan kriminalitas berdasarkan kebencian (hate crimes)kriminalitass
yang berdasar pada prasangka rasial, etnis, dan tipe prasangka lainnya.
Contoh: James Byrd seorang lelaki afro-amerika yang diseret dibelakang truk

hingga meninggal oleh seorang laki-laki berkulit putih dengan prasangka


tinggi.
2. Diskriminasi halus: rasisme modern (rasial implicit)rasisme berusaha
menutup-nutupi prasangka di tempat umum, tetapi mengekspresikan sikapsikap mengecam ketika hal itu aman dilakukandan tokenismecontoh di
mana individu menunjukkan tingkah laku positif yang menipu terhadap
anggota kelompok out-group kepada siapa mereka merasakan prasangka yang
kuat. Kemudian tingkah laku tokenistic ini digunakan sebagai alasan untuk
menolak melakukan aksi yang lebih menguntungkan terhadap kelompok ini.
Contoh: sebuah bank yang mempekerjakan orang dari etnis tertentu, supaya
tidak disangka melakukan diskriminasi juga mempekerjakan masyarakat
pribumi. Namun, masyarakat pribumi ini nantinya akan dipersulit untuk
kenaikan jabatan.
Prasangka ini dapat bersumber dari dorongan sosiopsikologis, proses-proses
kognitif,

dan

pengaruh

keadaan

sosiokultural

terhadap

individu

dan

kelompoknya. Oleh karena itu, apabila seseorang berupaya memahami orang


lain dengan baik maka tindakan prasangka sosial tidak perlu terjadi. Prasangka
merupakan sebuah tipe khusus dari sikap yang cenderung kearah negatif
sehingga konsekuensinya: berfungsi sebagai skema (kerangka pikir kognitif
untuk mengorganisasi, menginterpretasi dan mengambil informasi) yang
mempengaruhi cara memproses informasi. Melibatkan keyakinan dan perasaan
negatif terhadap orang yang menjadi anggota kelompok sasaran prasangka.
Prasangka juga bisa disebut sebagai evaluasi kelompok atau seseorang yang
mendasarkan diri pada keanggotaan dimana seorang tersebut menjadi
anggotanya, prasangka merupakan evaluasi negatif terhadap outgroup.
Prasangka sosial yang terdiri dari attitude-attitude sosial yang negatif terhadap
golongan lain, dan mempengaruhi tingkah lakunya terhadap golongan manusia
lain.
Ciri-Ciri Prasangka Sosial

Ciri-ciri prasangka sosial menurut Brigham (1991) dapat dilihat dari


kecenderungan individu untuk membuat kategori sosial (social categorization).
Kategori sosial adalah kecenderungan untuk membagii dunia sosial menjadi dua
kelompok, yaitukelompok kita ( in group ) dan kelompok mereka (out
group). In group adalah kelompok sosial dimana individu merasa dirinya dimiliki
atau memiliki (kelompok kami). Sedangkan out group adalah grup di luar grup
sendiri (kelompok mereka). Timbulnya prasangka sosial dapat dilihat dari
perasaanin group dan out group yang menguat. Ciri-ciri dari prasangka sosial
berdasarkan penguatan perasaan in group dan out group adalah:
1. Proses Generalisasi Terhadap Perbuatan Anggota Kelompok Lain.
Menurut Ancok dan Suroso (1995), jika ada salah seorang individu dari
kelompok luar berbuat negatif, maka akan digeneralisasikan pada semua
anggota kelompok luar. Sedangkan jika ada salah seorang individu yang
berbuat negatif dari kelompok sendiri, maka perbuatan negaitf tersebut tidak
akan digeneralisasikan pada anggota kelompok sendiri lainnya.
2. Kompetisi Sosial
Kompetisi sosial merupakan suatu cara yang digunakan oleh anggota
kelompok untuk meningkatkan harga dirinya dengan membandingkan
kelompoknya dengan kelompok lain dan menganggap kelompok sendiri lebih
baik daripada kelompok lain.
3. Penilaian Ekstrim Terhadap Anggota Kelompok Lain
Individu melakukan penilaian terhadap anggota kelompok lain baik penilaian
positif ataupun negatif secara berlebihan. Biasanya penilaian yang diberikan
berupa penilaian negatif.
4. Pengaruh Persepsi Selektif dan Ingatan Masa Lalu
Pengaruh persepsi selektif dan ingatan masa lalu biasanya dikaitkan dengan
stereotipe. Stereotipe adalah keyakinan (belief) yang menghubungkan
sekelompok individu dengan ciri-ciri sifat tertentu atau anggapan tentang
ciriciri yang dimiliki oleh anggota kelompok luar. Jadi, stereotipe adalah
prakonsepsi ide mengenai kelompok, suatu image yang pada umumnya sangat
sederhana, kaku, dan klise serta tidak akurat yang biasanya timbul karena

proses generalisasi. Sehingga apabila ada seorang individu memiliki


stereotype yang relevan dengan individu yang mempersepsikannya, maka
akan langsung dipersepsikan secara negatif.
5. Perasaan Frustasi (Scope Goating)
Menurut Brigham (1991), perasaan frustasi (scope goating) adalah rasa
frustasi seseorang sehingga membutuhkan pelampiasan sebagai objek atas
ketidakmampuannya menghadapi kegagalan. Kekecewaan akibat persaingan
antar masing-masing individu dan kelompok menjadikan seseorang mencari
pengganti untuk mengekspresikan frustasinya kepada objek lain. Objek lain
tersebut biasanya memiliki kekuatan yang lebih rendah dibandingkan dengan
dirinya sehingga membuat individu mudah berprasangka.
6. Agresi Antar Kelompok
Agresi biasanya timbul akibat cara berpikir yang rasialis, sehingga
menyebabkan seseorang cenderung berperilaku agresif.
7. Dogmatisme
Dogmatisme adalah sekumpulan kepercayaan yang dianut seseorang berkaitan
dengan masalah tertentu, salah satunya adalah mengenai kelompok lain.
Bentuk

dogmatisme

dapat

berupa

etnosentrisme

dan

favoritisme.

Etnosentrisme adalah paham atau kepercayaan yang menempatkan kelompo


sendiri sebagai pusat segala-galanya. Sedangkan, favoritisme adalah
pandangan atau kepercayaan individu yang menempatkan kelompok sendiri
sebagai yang terbaik, paling benar, dan paling bermoral.
g. Rasisme
Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan
bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan
pencapaian budaya atau individu bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan
memiliki hak untuk mengatur yang lainnya. Beberapa penulis menggunakan
istilah rasisme untuk merujuk pada preferensi terhadap kelompok etnis tertentu
sendiri (etnosentrisme), ketakutan terhadap orang asing (xenofobia), penolakan
terhadap hubungan antar ras (miscegenation), dan generalisasi terhadap suatu
kelompok

orang

tertentu

(stereotipe).

Rasisme

telah

menjadi

faktor

pendorong diskriminasi sosial,

segregasi

dan

kekerasan

rasial,

termasuk genosida. Politisi sering menggunakan isu rasial untuk memenangkan


suara. Istilah rasis telah digunakan dengan konotasi buruk paling tidak
sejak 1940-an, dan identifikasi suatu kelompok atau orang sebagai rasis sering
bersifat kontroversial.
h. Faktor penyebab munculnya konflik antarbudaya antara lain:
a. Kesalahpahaman akibat komunikasi dengan bahasa daerah masing-masing
b. Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi dengan baik
c. Ketidakcocokan antar karakter yang menghubungkan kedua etnis dalam
kelompok
d. Ketidakadilan pada satu kelompok etnis
i. Syok Budaya
Syok budaya atau culture shock adalah gangguan yang terjadi sebagai respon
terhadap transisi dari stu situasi budaya ke situasi budaya lainnya. Misalnya
kejadian ini dapat terjadi pada saat seseorang berpindah dari suatu lokasi
geografis tertentu ke tempat lainnya atau ketika seseorang masuk ke suatu
rumah sakit dan harus beradaptasi dengan lingkungan asing.Ekspresi syok
budaya beragam dari rentang bingung dan cemas, diam dan tidak bergerak,
sampai gelisah dan marah

Daftar Pustaka
Matsumoto, D. (1996). Culture and psychology. Padific Grove: Brooks/Cole
Publishing Company
https://www.google.co.id/url?
sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=2&cad=rja&uact=8&ved=0CCQQF
jAB&url=http%3A%2F%2Fnilam.staff.gunadarma.ac.id%2FDownloads
%2Ffiles%2F31885%2FBAB%2B13.%2BPRASANGKA.pdf&ei=PUOVeHaNIWIuATUooDwAQ&usg=AFQjCNFxoGIzTJXDv_IG5O_PI2KU0Mdgw&sig2=7xrAMFeBDg5VeF_yBTNs0w&bvm=bv.
88528373,d.c2E (diakses pada tanggal 22 Maret 2015)
https://www.scribd.com/doc/95146176/Etnosentrisme (diakses pada tanggal 22 Maret
2015 pukul 14:41)
http://www.biokimiaedu.com/index.php/artikel/38-artikel-1998 (diakses pada tanggal
22 Maret 2015 pukul 15.05)

SOAL
1) Di bawah ini yang termasuk tipe etnocentrisme adalah....
a. etnosentrisme fleksibel dan etnosentrisme plural
b. etnosentrisme universal dan etnosentrisme disfungsional
c. etnosentrisme fleksibel dan etnosentrisme infleksibel
d. etnosentrisme infleksibel dan etnosentrisme universal
e. etnosentrisme konstruktif dan etnosentrisme struktif
2) Yang merupakan contoh etnosentris adalah
1) Di Papua terdapat banyak suku yang memiliki bahasa, nilai, norma,
ukuran, agama, dan cara hidup yang berbeda. Sehingga memicu
konflik antarsuku.
2) Membangun komunikasi antar etnis dan membentuk budaya campuran.

3) Etnis TiongHoa merupakan etnis minoritas nomor satu di Indonesia.


Namun adakalanya etnis ini tidak bisa diterima oleh bangsa pribumi
karena adanya kesalah pahaman.
4) Membangun karakter simpatis dan mengembangkan rasa empati terhadap
suku lain
a. 1, 2, 3
d. 4 saja
b. 1,3
e. benar semua
c. 2,4
3). Stereotip yang berorientasi seksual juga umum. Stereotip ini terjadi ketika
seseorang memiliki pandangan negatif terhadap gaya lesbian, transgender dan
individu. Orang-orang yang memiliki pandangan-pandangan negatif sering
dikenal sebagai apa?
a. Homophobic
b. Homolesian
c. Transgender
d. Gender
e. Phobic
4). Yang bukan merupakan faktor penyebab munculnya konflik antarbudaya
adalah
a. Kesalahpahaman akibat komunikasi dengan bahasa daerah masingmasing
b. Kebutuhan dasar yang tidak terpenuhi dengan baik
c. Ketidakcocokan antar karakter yang menghubungkan kedua etnis dalam
kelompok
d. Ketidakadilan pada satu kelompok etnis
e. Saling menghormati perbedaan kelompok etnis tertentu
5). Yang menjadi faktor pendorong diskriminasi sosial adalah
a. Rasisme
b. Ethnosentrisme
c. Xenophobia
d. Miscegenation
e. Stereotipe