Anda di halaman 1dari 22

TUGAS MANAJEMEN PERPAJAKAN

Tax Planning Dalam Pemanfaatan Tax Incentives

Disusun Oleh Kelompok 7 :


Elvis Rinto Serong
14/375299/EE/06862
Gabriella Ara Adventana
14/375309/EE/06872
Lucia Ira Yuliastari
14/375330/EE/06892
Nasta Aulia Listi
14/375349/EE/06911
Windi Noor Ferdiyanto
14/375387/EE/06949

Dosen : Dr. Eko Suwardi, M.Sc., Ak

Pendidikan Profesi Akuntansi


Fakultas Ekonomika dan Bisnis
Universitas Gadjah Mada Yogyakarta
2015

Tax Planning Dalam Pemanfaatan Tax Incentives


Tax Incentives adalah pengurangan, pengecualian, atau pembebasan dari kewajiban pajak, yang
ditawarkan pemerintah sebagai daya tarik untuk terlibat dalam kegiatan tertentu (seperti investasi barang
modal) untuk jangka waktu tertentu. Jenis insentif pajak secara umum sebagai berikut ini.
1) Tax Holiday dan Tax Allowance
Tax Holiday dapat diartikan sebagai periode pembebasan pajak penghasilan untuk industriindustri baru, yang diberikan oleh negara-negara berkembang dalam rangka untuk mengembangkan atau
diversifikasi industri. Sedangkan Tax allowance diterjemahkan sebagai keringanan/pengurangan pajak.
Keuntungan insentif pajak berupa tax holiday antara lain adalah keuntungan dari segi
kesederhanaan, karena dengan tidak adanya pajak yang harus dibayar pada masaholiday maka baik bagi
kantor pajak maupun wajib pajak tidak perlu melakukan filing dan audit pajak serta tidak ada biaya
administrasi. Kelemahan dari tax holiday, yaitu:
The cost of tax holiday, dalam arti penerimaan pajak yang hilang bagi host country yang tidak
dapat diperkirakan didepan dengan tingkat akurasi yang cukup.
Tax holiday sering dimanfaatkan oleh investor yang cenderung mobile dengan memindahkan
usahanya ke negara lain untuk mendapatkan tax holiday yang baru jika masa manfaat tax
holiday di
suatu
negara
sudah
habis. Dengan
praktek
tersebut,
negara host
country kehilangan benefit dari adanya investor tersebut.
Tax holiday menciptakan kesempatan untuk penghindaran pajak atau manipulasi pajak.
2) Tax Sparing Credit
Tax sparing credit merupakan suatu kredit pajak semu yang disepakati oleh negara asal investor
dimana negara asal investor memperbolehkan investor mengakui adanya kredit pajak di luar negeri dalam
penghitungan pajak global di negara asal investor (the country of resident) walaupun dalam kenyataannya
tidak ada pajak yang dibayar di negara sumber karena negara sumber memberikan insentif pajak ( tax
holiday). Insentif pajak berupa tax holiday yang diberikan oleh negara sumber tidak akan efektif jika di
negara asalnya, investor harus membayar pajak atas keseluruhan penghasilan yang diterima dari seluruh
dunia (world wide income). Hal ini pernah terjadi di Indonesia pada periode pemberlakuan tax
holiday pada periode waktu tahun 1967 sampai dengan 1983.
3) Investment Allowances dan Tax Credits
Investment allowances and tax credits pada umumnya diterapkan pada investasi baru yang
dibuat. Investment allowances and tax credits adalah bentuk insentif pajak yang didasarkan pada besarnya
investasi. Tax allowance berarti mengurangi penghasilan kena pajak perusahaan. Sedangkan tax
credit secara langsung mengurangi jumlah pajak yang harus dibayar. Faktor-faktor yang harus
diperhatikan dalam mendesain investment allowance adalah:
Investasi yang memenuhi syarat (eligible investment), yaitu bahwa invsetment
allowance diterapkan atas semua bentuk investasi modal atau dapat pula atas kategori khusus
saja, seperti mesin atau peralatan berteknologi canggih.
Jumlah allowance, yang pada umumnya dalam bentuk persentase dari investasi tertentu. Di
Indonesia, besarnya allowance adalah 30% dari investasi yang memenuhi syarat.

Jangka waktu (duration) dan batasan lainnya, yaitu batas waktu dimana investment
allowance dapat diklaim. Untuk Indonesia jangka waktunya adalah 6 tahun.

Permasalahan utama berkenaan dengan insentif jenis ini adalah dalam mendefinisikan pengeluaran
yang memenuhi syarat, pilihan tarif dari allowance atau kredit pajak, dan perlakuan dari jumlah insentif
yang tidak dapat dipergunakan dalam tahun tersebut dalam hal penghasilan kena pajak tidak mencukupi.
Sedangkan kelebihan jenis insentif ini dibandingkan dengan tax holiday dilihat dalam perspektif host
country adalah biaya maksimal yang muncul dapat ditentukan dengan mudah; biaya tersebut berhubungan
secara langsung dengan jumlah investasi yang diberikan allowance; serta insentif tersebut tidak
membatasi khusus kepada investor baru tapi juga kepada investor lama yang meningkatkan investasinya.
4) Accelerated Depreciation (Timing Difference)
Perbedaan waktu dapat terjadi dalam hal pembebanan biaya yang dipercepat atau penangguhan
pengakuan penghasilan. Bentuk umum dari pembebanan biaya yang dipercepat adalah penyusutan, yaitu
penyusutan dibebankan dalam periode waktu yang lebih pendek dari umur ekonomis aktiva tersebut atau
melalui pembebanan khusus di periode tahun pertama. Maksud dari insentif tipe ini adalah untuk
membantu perusahaan memperoleh pengembalian modalnya (return on investment) lebih cepat. Namun,
insentif ini secara keseluruhan tidak mempengaruhi jumlah pajak yang seharusnya dibayar ke negara,
tetapi hanya menggeser beban pajak ke belakang.
5) Tax Rate Reductions
Pengurangan tarif pajak secara umum diterapkan atas penghasilan dari sumber tertentu atau
kepada perusahaan yang memenuhi kriteria tertentu. Misalnya, kepada perusahaan kecil di bidang
manufaktur atau pertanian. Pengurangan tarif ini berbeda dengan tax holiday sebab kewajiban pajak dari
perusahaan tidak dibebaskan secara keseluruhan, dan insentif ini dapat diperluas pada perusahaan baru
termasuk penghasilan dari kegiatan yang telah ada serta tidak dibatasi pada periode waktu tertentu.
Persoalan utama dalam menerapkan insentif tipe ini adalah dalam mengidentifikasi penghasilan yang
memenuhi syarat dan kriteria perusahaan tertentu. Seringkali dalam membuat definisi atas penghasilan
dan perusahaan tertentu yang berhak mendapatkan insentif menimbulkan peluang untuk dimanipulasi.
Untuk mencegah dimanipulasi, biasanya dibuat aturan hukum yang ketat sehingga justru mengurangi
efektifitas dari insentif tersebut.

A. Fasilitas PPh atas Industri Tertentu dan Wilayah Tertentu


1. Fasilitas PPh atas Industri Tertentu dan Wilayah Tertentu
Pemerintah memberikan fasilitas pembebasan/pengurangan pajak (Tax Holiday) dengan
menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.011/2011 tanggal 15 Agustus 2011 tentang
Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan. Pengakuan pemberian
fasilitas tax holiday dari Indonesia dalam penghitungan PPh di negara domisili sebesar fasilitas yang
diberikan disebut dengan tax sparing.

Wajib Pajak yang Dapat Menggunakan Fasilitas Tax Holiday


Fasilitas tax holiday ini diberikan kepada Wajib Pajak badan baru yang memenuhi kriteria:
a. merupakan Industri Pionir;
b. mempunyai rencana penanaman modal baru yang telah mendapatkan pengesahan dari instansi
yang berwenang paling sedikit sebesar Rp1.000.000.000.000,00 (satu triliun rupiah);
c. menempatkan dana di perbankan di Indonesia minimal 10% dari total rencana penanaman modal
sebagaimana dimaksud pada huruf angka 2 di atas, dan tidak boleh ditarik sebelum saat
dimulainya pelaksanaan realisasi penanaman modal; dan
d. harus berstatus sebagai badan hukum Indonesia yang pengesahannya ditetapkan maksimal 12
bulan sebelum Peraturan Menteri Keuangan ini mulai berlaku atau pengesahannya ditetapkan
sejak atau setelah berlakunya Peraturan Menteri Keuangan ini. Untuk diketahui bahwa Peraturan
Menteri Keuangan ini berlaku mulai 15 Agustus 2011.
Industri Pionir yang dimaksud dalam Peraturan Menteri Keuangan ini mencakup:
a. Industri Logam Dasar;
b. Industri pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organic yang bersumber dari minyak
bumi dan gas alam;
c. Industri permesinan;
d. Industri di bidang suberdaya terbarukan; dan/atau
e. Industri peralatan komunikasi.
Syarat bagi Wajib Pajak yang Memenuhi Kriteria Untuk Memanfaatkan Fasilitas Tax Holiday
Fasilitas Tax Holiday ini dapat dimanfaatkan oleh Wajib Pajak yang memenuhi kriteria sepanjang
memenuhi persyaratan:
a. telah merealisasikan seluruh penanaman modalnya; dan
b. telah berproduksi secara komersial. Saat dimulainya berproduksi secara komersial ini akan diatur
dengan Peraturan Direktur Jenderal Pajak.
Tata Cara Untuk Memperoleh Fasilitas Tax Holiday
Wajib Pajak harus menyampaikan permohonan kepada Menteri Perindustrian atau Kepala Badan
Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Dalam rangka pemberian fasilitas Tax Holiday, Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM setelah
berkoordinasi dengan menteri terkain, menyampaikan usulan kepada Menteri Keuangan, dengan
melampirkan fotokopi:
Penyampaian usulan ini harus disertai dengan uraian penelitian mengenai:
(i)
kartu NPWP;
(ii)
surat persetujuan penanaman modal baru dari Kepala BKPM beserta rinciannya; dan
(iii)
Bukti penempatann dana di perbankan di Indonesia.
(iv)
ketersediaan infrastruktur di lokasi investasi;
(v)
penyerapan tenaga kerja domestic;
(vi)
kajian mengenai pemenuhan kriteria sebagai industry pionir;
(vii)
rencana tahapan alih teknologi secara rinci; dan
(viii)
adanya ketentuan mengenai tax sparing di negara domisili.

Persetujuan Menteri Keuangan


Atas usulan pemberian tax holiday oleh Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM, Menteri
Keuangan menugaskan komite verifikasi pemberian fasilitas tax holiday (yang dibentuk oleh
Menteri Keuangan) untuk membantu melakukan penelitian dan verifikasi dengan
mempertimbangkan dampak strategis Wajib Pajak bagi perekonomian nasional.
Dalam melaksanakan tugasnya komite verifikasi pemberian fasilitas tax holiday berkonsultasi
dengan Menteri Koordinator Perekonomian.
Atas hasil penelitian dan verifikasi, komite verifikasi menyampaikan kepada Menteri Keuangan
yang disertai dengan pertimbangan dan rekomendasi, serta rekomendasi jangka waktu pemberian
fasilitas.
Berdasarkan hasil rekomendasi ini, Menteri Keuangan memutuskan pemberian fasilitas setelah
berkonsultasi dengan Presiden Republik Indonesia. Apabila Menteri Keuangan menyetujui
pemberian fasilitas tax holiday ini, maka diterbitkan Surat Keputusan. Namun apabila Menteri
Keuangan menolak, maka penolakan disampaikan melalui pemberitahuan secara tertulis kepada
Wajib Pajak dengan tembusan kepada Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM.
Kewajiban
Bagi
Wajib
Pajak
yang
Telah
Memperoleh
Fasilitas Tax
Holiday
Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas Tax Holiday harus menyampaikan laporan secara berkala
kepada Direktur Jenderal Pajak dan komite verifikasi mengenai:
a. laporan penggunaan dana yang ditempatkan di perbankan di Indonesia; dan
b. laporan realisasi penanaman modal yang telah diaudit.
Sanksi Pencabutan Fasilitas Tax Holiday
Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas tax holiday ini dapat dicabut, apabila:
a. tidak memenuhi ketentuan kriteria sebagai Wajib Pajak yang dapat diberikan fasilitas dan
persyaratan telah merealisasikan seluruh penanaman modal yang telah disahkan oleh instansi
yang berwenang; dan/atau
b. tidak memenuhi ketentuan penyampaian laporan.
Fasilitas Pembebasan Pajak yang Diperoleh oleh Wajib Pajak
Jangka waktu pemberian fasilitas tax holiday sebagaimana disebutkan di atas dapat melebihi jangka
waktu sebagaimana yang telah ditetapkan tersebut berdasarkan pertimbangan dari Menteri Keuangan.
Wajib Pajak yang mendapatkan persetujuan untuk memperoleh fasilitas tax holiday, mendapatkan fasilitas
pembebasan pajak berupa:
a. pembebasan atau pengurangan PPh badan dalam jangka waktu maksimal 10 tahun dan minimal 5
tahun, terhitung sejak Tahun Pajak dimulainya produksi komersial.
b. setelah berakhirnya pemberian fasilitas tax holiday, Wajib Pajak diberikan pengurangan PPh
badan sebesar 50% dari PPh terutang selama 2 Tahun Pajak.
c. atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak dari kegiatan usaha yang memperoleh
fasilitas tax holiday, tidak dilakukan pemotongan dan pemungutan pajak selama periode
pemberian fasilitas tax holiday.

Kewajiban Perpajakan yang Masih Tetap Berlaku Bagi Wajib Pajak yang Dapat Fasilitas Tax
Holiday
Bagi Wajib Pajak yang memperoleh fasilitas tax holiday masih berlaku ketentuan:
a. atas penghasilan yang diterima atau diperoleh Wajib Pajak di luar kegiatan usaha yang
memperoleh fasilitas tax holiday, tetap dilakukan pemotongan dan pemungutan pajak sesuai
ketentuan perpajakan yang berlaku.
b. tetap melaksanakan kewajiban pemotongan dan pemungutan pajak kepada pihak lain sesuai
ketentuan perpajakan yang berlaku.
Ketentuan Memperoleh Fasilitas PPh
a. Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas PPh sesuai Pasal 31A UU PPh, tidak dapat
memperoleh fasilitas tax holiday berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan ini.
b. Wajib Pajak yang telah memperoleh fasilitas PPh sesuai Peraturan Menteri Keuangan ini, tidak
dapat memperoleh fasilitas tax holiday berdasarkan Pasal 31A UU PPh.
Saat Pengajuan Usulan Pemberian Fasilitas Tax Holiday
Usulan untuk memberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan PPh badan berdasarkan Peraturan
Menteri Keuangan ini, harus diajukan oleh Menteri Perindustrian atau Kepala BKPM dalam jangka waktu
selama 3 tahun terhitung sejak diundangkannya Peraturan Menteri Keuangan ini.

2. Fasilitas PPh Untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di


Daerah-Daerah Tertentu
Pada tanggal 6 April Tahun 2015, pemerintah menerbitkan revisi regulasi fasilitas PPh melalui
Peraturan Pemerintah Nomor 18 Tahun 2015 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal
di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu yang secara efektif akan berlaku
mulai tanggal 6 Mei 2015. Tujuannya adalah untuk mendorong peningkatan investasi langsung guna
mendorong pertumbuhan ekonomi dalam rangka pemerataan pembangunan.
Peraturan Pemerintah ini mencabut dan menggantikan Peraturan Pemerintah Nomor 52 Tahun
2011 yang mengatur tentang fasilitas Pajak Penghasilan di bidang-bidang usaha tertentu dan/atau di
daerah-daerah tertentu. Kebijakan umum dalam fasilitas Tax Allowance (Peraturan Pemerintah Nomor 18
Tahun 2015), yaitu:
a. Menciptakan efek pengganda yang besar dalam upaya mendorong pertumbuhan ekonomi dan
memperbaiki neraca pembayaran;
b. Memenuhi kebutuhan dalam negeri sejalan dengan peningkatan pertumbuhan ekonomi;
c. Mengisi pohon industri yang kosong guna mendorong kemandirian nasional;
d. Tidak mengganggu pertumbuhan industri yang ada dalam rangka menjaga iklim usaha yang
kondusif;
e. Tidak saling menghapuskan dengan kebijakan lain sejalan dengan konsistensi kebijakan pemerintah;
f. Lebih ramah terhadap investor, seperti penyederhanan proses pengurusan fasilitas;
g. Lebih terbuka dari peraturan sebelumnya dengan persyaratan yang tidak bersifat kumulatif.
Wajib Pajak yang dapat diberikan fasilitas Tax Allowance adalah Wajib Pajak badan dalam negeri
yang melakukan penanaman modal baru maupun perluasan dari usaha yang telah ada. Terdapat

setidaknya 66 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) di dalamLampiran I dan 77 KBLI di
dalamLampiran II. Dari total 143 KBLI tersebut sebagian besar didominasi oleh sektor industri makanan,
industri petrokimia, industri tekstil, industri produk dari batu bara dan pengilangan minyak bumi, industri
logam dasar, industri pembangkit listrik dengan menggunakan energi baru dan terbarukan, industri
farmasi, produk obat kimia dan obat tradisional. Terdapat juga dalam PP ini industri untuk sektor
pertanian, kelautan perikanan, peternakan, kehutanan, dan kawasan pariwisata juga diberikan fasilitas,
termasuk bidang-bidang usaha yang dapat mendorong sektor kemaritiman, sepertiga langan kapal dan
kepelabuhanan yang meliputi industri kapal dan perahu, industri peralatan, perlengkapan dan bagian
kapal, dan industri penanganan kargo. Bentuk fasilitas Tax Allowance yang diberikan meliputi:
a. Pengurangan penghasilan neto sebesar 30% (tiga puluh persen) yang dibebankan selama 6 (enam)
tahun masing-masing sebesar 5% (lima persen),
b. Penyusutan dan amortisasi dipercepat,
c. Pengenaan PPh sebesar 10% (sepuluh persen) atas dividen yang dibayarkan kepada Wajib Pajak luar
negeri atau tarif yang lebih rendah apabila terdapat Tax Treaty, dan
d. Kompensasi kerugian yang lebih lama dari 5 (lima) tahun tetapi tidak lebih dari 10 (sepuluh) tahun.
e. Khusus untuk tambahan kompensasi kerugian, Pemerintah akan memberikan reward berupa
tambahan kompensasi kerugian selama 2 (dua) tahun kepada Wajib Pajak yang melakukan perluasan
dari usaha yang telah ada yang sebagian sumber pembiayaannya berasal dari laba setelah pajak
(earning after tax) dan tambahan 2 (dua) tahun lagi kepada Wajib Pajak dalam negeri di bidang
usaha tertentu di luar kawasan berikat yang melakukan ekspor paling sedikit 30% (tiga puluh persen)
dari nilai total penjualan.
Bentuk relaksasi dalam PP ini meliputi:
a. Persyaratan umum Wajib Pajak yang dapat mengajukan fasilitas Tax Allowance:
(i)
Wajib Pajak badan dalam negeri dengan tidak dibatasi hanya pada Perseroan Terbatas dan
Koperasi
(ii)
Tidak lagi mensyaratkan jangka waktu penerbitan Izin Prinsip, sepanjang belum berproduksi
secara komersial
b. Lebih memberikan relaksasi pada kriteria dan persyaratan pengajuan fasilitas Tax Allowance
(besaran investasi, ekspor, tenaga kerja, dan TKDN tidak bersifat kumulatif)
c. Wajib Pajak dapat bersamaan mengajukan permohonan Tax Holiday dan Tax Allowance. Dalam hal
permohonan Tax Holidaynya ditolak, akan diberikan fasilitas Tax Allowance.
d. Jangka waktu penyelesaian yang lebih cepat dan proses pengajuan yang lebih mudah:
(i)
Penguatan fungsi Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pusat di BKPM,
(ii)
Simplifikasi dokumen persyaratan dengan tujuan tidak memberatkan Wajib Pajak,
(iii)
Lebih memberikan kepastian jangka waktu penyelesaian pemberian fasilitas, yaitu paling lama
28 hari kerja.

B. Beragam Fasilitas PPN dan Bea Masuk


1. Fasilitas PPN

Pajak Pertmbahan Nilai (PPN) dikenakan atas pertambahan nilai !ang terjadiatas suatu barang
atau jasa. Untuk tujuan tujuan tertentu, PPN ini tidak dikenakan terhadap sector-sektor usaha tertentu.
Inilah yang disebut dengan fasilitas.
Ada 4 (empat) jenis fasilitas PPN di Indonesia yaitu : Fasilitas PPN Tidak Dikenakan, PPN
Dibebaskan, PPN Tidak Dipungut dan PPN 0% (Nol Persen). Pengertian keempat fasilitas tersebut adalah
sama-sama tidak dibebani PPN. Tetapi, ada beberapa perbedaan mendasar di antara keempat fasilitas
tersebut.
PPN Tidak Dikenakan
o

BKP/J o
KP dikecualikan dari
objek PPN.
o
Apabila
tidak ada usaha lain,
maka wajib pajak
tidak wajib untuk
dikukuhkan
sebagai
PKP.
Pajak
Masukan
atas o
perolehan
Barang
dan/atau Jasa Kena
Pajak tidak dapat
dikreditkan.

PPN Dibebaskan
Ada

PPN Tidak Dipungut


Ada

PPN
0%
Persen)

Ada

Objek PPN.

Objek PPN.

Wajib
o
Pajak
harus
minta
dikukuhkan
sebagai
PKP
dan
wajib
membuat Faktur Pajak
kecuali ada peraturan
yang menyatakan tidak
diperlukan.
Pajak
o
Masukan atas perolehan
Barang dan/atau Jasa
Kena Pajak tidak dapat
dikreditkan.

Wajib
o
Pajak harus minta
dikukuhkan sebagai
PKP
dan
wajib
membuat Faktur Pajak
kecuali ada peraturan o
yang
menyatakan
tidak diperlukan.
Pajak
Masukan
atas
perolehan
Barang
Kena Pajak dapat
dikreditkan.

(Nol

Objek PPN.
Waji
harus

b Pajak
minta
dikukuhkan
sebagai PKP.
Paja
k Masukan atas
perolehan BKP
dapat dikreditkan.

a) PPN Tidak Dikenakan


Berdasarkan Pasal 4A UU PPN 1984 dan Perubahannya, diatur bahwa atas keleompok barang dan
jasa tertentu tidak dikenakan PPN, yaitu:
Kelompok Barang:
i.
barang hasil pertambangan atau hasil pengeboran yang diambil langsung dari sumbernya,
ii.
barang-barang kebutuhan pokok yang sangat dibutuhkan oleh rakyat banyak,
iii.
makanan dan minuman yang disajikan di hotel, restoran, rumah makan, warung, dan sejenisnya,
dan
iv.
uang, emas batangan, dan surat-surat berharga.
Kelompok Jasa:
i.
Jasa di bidang pelayanan kesehatan medik;
ii.
Jasa di bidang pelayanan sosial;
iii.
Jasa di bidang pengiriman surat dengan perangko;
iv.
Jasa di bidang perbankan, asuransi, dan sewa guna usaha dengan hak opsi;
v.
Jasa di bidang keagamaan;
vi.
Jasa di bidang pendidikan;
vii.
Jasa di bidang kesenian dan hiburan yang telah dikenakan Pajak Tontonan;

viii.
ix.
x.
xi.
xii.

Jasa di bidang penyiaran yang bukan bersifat iklan;


Jasa di bidang angkutan umum di darat dan di air;
Jasa di bidang tenaga kerja;
Jasa di bidang perhotelan;
Jasa yang disediakan oleh Pemerintah dalam rangka menjalankan pemerintahan secara umum.
b) PPN Dibebaskan

Fasilitas PPN terutang dibebaskan yakni PPN yang terutang atas penyerahan Barang Kena Pajak
dan/atau Jasa Kena Pajak dibebaskan pemungutannya. Artinya, konsumen tidak perlu membayar PPN
yang terutang itu lagi dan bagi Penjualnya (PKP) tidak perlu memungut PPN terutangnya.
Berdasarkan Pasal 16B UU PPN 1984 dan Perubahannya, fasilitas berupa pembebasan PPN dapat
diberikan kepada:
i.

kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;

ii.

penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;

iii.

impor Barang Kena Pajak tertentu;

iv.

pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean;

v.

pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

Barang Kena Pajak yang atas impornya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai
adalah :
i.

Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat
angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli, dan kendaraan angkutan khusus lainnya,
serta suku cadangnya yang diimpor oleh Departemen Pertahanan, Tentara Nasional Indonesia (TNI),
Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) atau oleh pihak lain yang ditunjuk oleh Departemen
Pertahanan, TNI atau POLRI untuk melakukan impor tersebut, dan komponen atau bahan yang
belum dibuat di dalam negeri, yang diimpor oleh PT (PERSERO) PINDAD, yang digunakan dalam
pembuatan senjata dan amunisi untuk keperluan Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI;

ii.

Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);

iii.

Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;

iv.

Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan,
kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat

keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia yang diimpor dan digunakan oleh
PerusahaanPelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan
Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan PenyelenggaraJasa Angkutan Sungai,
Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya;
v.

Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan
manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diimpor dan digunakan oleh Perusahaan
Angkutan Udara Niaga Nasional, dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan
pesawat udara yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk oleh Perusahaan AngkutanUdaraNiaga
Nasional yang digunakan dalam rangka pemberian jasa perawatan atau reparasi pesawat udara
kepada Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;

vi.

Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana
yang diimpor dan digunakan oleh PT(PERSERO) Kereta Api Indonesia, dan komponen atau bahan
yang diimpor oleh pihak yang ditunjuk oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia, yang digunakan
untuk pembuatan kereta api, suku cadang, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan, serta
prasarana yang akan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia; dan

vii.

Peralatan berikut suku cadangnya yang digunakan oleh Departemen Pertahanan atau TNI untuk
penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia yang dilakukan untuk
mendukung pertahanan Nasional, yang diimpor oleh Departemen Pertahanan, TNI atau pihak yang
ditunjuk oleh Departemen Pertahanan atau TNI

Barang Kena Pajak yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak Pertambahan
Nilai adalah :
i.

Rumah sederhana, rumah sangat sederhana, rumah susun sederhana, pondok boro, asrama
mahasiswa dan pelajar serta perumahan lainnya, yang batasannya ditetapkan oleh Menteri Keuangan
setelah mendengar pertimbangan Menteri Pemukiman dan Prasarana Wilayah;

ii.

Senjata, amunisi, alat angkutan di air, alat angkutan di bawah air, alat angkutan di udara, alat
angkutan di darat, kendaraan lapis baja, kendaraan patroli dan kendaraan angkutan khusus lainnya,
serta suku cadangnya yang diserahkan kepada Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI, dan
komponen atau bahan yang diperlukan dalam pembuatan senjata dan amunisi oleh PT (PERSERO)
PINDAD untuk keperluan Departemen Pertahanan, TNI atau POLRI;

iii.

Vaksin Polio dalam rangka pelaksanaan Program Pekan Imunisasi Nasional (PIN);

iv.

Buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku pelajaran agama;

v.

Kapal laut, kapal angkutan sungai, kapal angkutan danau dan kapal angkutan penyeberangan,
kapal pandu, kapal tunda, kapal penangkap ikan, kapal tongkang, dan suku cadang serta alat
keselamatan pelayaran atau keselamatan manusia yang diserahkan kepada dan digunakan oleh

Perusahaan Pelayaran Niaga Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan Nasional, Perusahaan


Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atauPerusahaan Penyelenggara Jasa Angkutan Sungai,
Danau dan Penyeberangan Nasional, sesuai dengan kegiatan usahanya;
vi.

Pesawat udara dan suku cadang serta alat keselamatan penerbangan atau alat keselamatan
manusia, peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan yang diserahkan kepada dan digunakan oleh
Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan
pesawat udara yang diperoleh oleh pihak yang ditunjuk oleh Perusahaan
Angkutan Udara Niaga Nasional yang digunakan dalam rangka pemberian jasa perawatan atau
reparasi Pesawat Udara kepada Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional;

vii.

Kereta api dan suku cadang serta peralatan untuk perbaikan atau pemeliharaan serta prasarana
yang diserahkan kepada dan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia dan komponen
atau bahan yang diserahkan kepada pihak yang ditunjuk oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia,
yang digunakan untuk pembuatan kereta api, suku cadang, peralatan untuk perbaikan atau
pemeliharaan, serta prasarana yang akan digunakan oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia;

viii.

Peralatan berikut suku cadangnya yang digunakan untuk penyediaan data batas dan photo udara
wilayah Negara Republik Indonesia untuk mendukung pertahanan Nasional yang diserahkan kepada
Departemen Pertahanan atau TNI

Jasa Kena Pajak tertentu yang atas penyerahannya dibebaskan dari pengenaan Pajak
Pertambahan Nilai adalah :
i.

Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Laut Nasional, Perusahaan Penangkapan Ikan
Nasional, Perusahaan Penyelenggara Jasa Kepelabuhan Nasional atau Perusahaan Penyelenggara
Jasa Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan Nasional.

ii.

Jasa yang diterima oleh Perusahaan Angkutan Udara Niaga Nasional.

iii.

Jasa perawatan atau reparasi kereta api yang diterima oleh PT (PERSERO) Kereta Api Indonesia;

iv.

v.

Jasa yang diserahkan oleh kontraktor untuk pemborongan bangunan dan pembangunan tempat
yang semata-mata untuk keperluan ibadah;
Jasa persewaan rumah susun sederhana, rumah sederhana, dan rumah sangat sederhana; dan

vi.

Jasa yang diterima oleh Departemen Pertahanan atau TNI yang dimanfaatkan dalam rangka
penyediaan data batas dan photo udara wilayah Negara Republik Indonesia untuk mendukung
pertahanan nasional

Atas impor Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis yang dibebaskan dari
pengenaan PPN adalah:
i.

barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas,
tidak termasuk suku cadang yang diperlukan secara langsung dalam proses menghasilkan Barang
Kena Pajak, oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak tersebut;

ii.

makanan ternak, unggas, dan ikan dan/atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak,
unggas, dan ikan

iii.

bibit dan/atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau
perikanan

iv.

barang hasil pertanian

Atas penyerahan Barang Kena Pajak Tertentu yang bersifat strategis berupa:
i.

barang modal berupa mesin dan peralatan pabrik, baik dalam keadaan terpasang maupun terlepas,
tidak termasuk suku cadang yang diperlukan secara langsung dalam proses menghasilkan Barang
Kena Pajak, oleh Pengusaha Kena Pajak yang menghasilkan Barang Kena Pajak tersebut;

ii.

makanan ternak, unggas, dan ikan dan/atau bahan baku untuk pembuatan makanan ternak,
unggas, dan ikan

iii.
iv.

v.
vi.

vii.

barang hasil pertanian


bibit dan/atau benih dari barang pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, penangkaran, atau
perikanan
air bersih yang dialirkan melalui pipa oleh Perusahaan Air Minum
listrik kecuali untuk perumahan dengan daya di atas 6600 (enam ribu enam ratus) watt
Rumah Susun Sederhana Milik, yang selanjutnya disebut RUSUNAMI, adalah bangunan
bertingkat yang dibangun dalam suatu lingkungan yang dipergunakan sebagai tempat hunian yang
dilengkapi dengan kamar mandi/WC dan dapur, baik bersatu dengan unit hunian maupun terpisah

dengan penggunaan komunal, yang perolehannya dibiayai melalui kredit kepemilikan rumah
bersubsidi atau tidak bersubsidi.

c) PPN Tidak Dipungut:


Fasilitas PPN terutang tidak dipungut hakikatnya juga sama, yakni PPN yang terutang dalam
penyerahan Barang Kena Pajak dan/atau Jasa Kena Pajak tidak perlu dipungut oleh penjual karena ada
fasilitas tersebut. Dalam hal ini konsumen juga tidak lagi perlu membayar PPN yang terutang tersebut.
Berdasarkan Pasal 16B UU PPN 1984 dan Perubahannya, fasilitas berupa PPN tidak dipungut dapat
diberikan kepada:
i.

kegiatan di kawasan tertentu atau tempat tertentu di dalam Daerah Pabean;

ii.

penyerahan Barang Kena Pajak tertentu atau penyerahan Jasa Kena Pajak tertentu;

iii.

impor Barang Kena Pajak tertentu;

iv.

v.

pemanfaatan Barang Kena Pajak tidak berwujud tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam
Daerah Pabean;
pemanfaatan Jasa Kena Pajak tertentu dari luar Daerah Pabean di dalam Daerah Pabean.

Kawasan Berikat Pulau Batam


Dalam rangka menunjang ekspor, Pajak Pertambahan Nilai dan/atau Pajak Penjualan atas Barang Mewah
tidak dipungut atas:

Penyerahan Barang Kena Pajak kepada Pengusaha sepanjang Barang Kena Pajak tersebut
digunakan untuk menghasilkan Barang Kena Pajak yang diekspor; dan

Impor Barang Kena Pajak yang dilakukan oleh Pengusaha sepanjang Barang Kena Pajak tersebut
digunakan untuk menghasilkan Barang Kena Pajak yang diekspor.

Penyerahan Avtur untuk Penerbangan Internasional

Penyerahan avtur kepada maskapai penerbangan untuk keperluan penerbangan internasional diberikan
fasilitas tidak dipungut Pajak Pertambahan Nilai sepanjang perjanjian pelayanan transportasi udara
mencantumkan asas timbal balik.

PPN di Kawasan Pengembangan Ekonomi Terpadu (KAPET)


Kepada Pengusaha di Kawasan Berikat, untuk selanjutnya disebut PDKB, di dalam wilayah KAPET
dapat diberikan fasilitas perpajakan berupa Pajak Pertambahan Nilai Barang dan Jasa, dan Pajak
Penjualan atas Barang Mewah tidak dipungut atas :

impor barang modal atau peralatan lain oleh PDKB yang berhubungan langsung dengan kegiatan
produksi;
impor barang dan/atau bahan untuk diolah di PDKB;
pemasukan Barang Kena Pajak dari Daerah Pabean Indonesia Lainnya, untuk selanjutnya disebut
DPIL, ke PDKB untuk diolah lebih lanjut;
pengiriman barang hasil produksi PDKB ke PDKB lainnya untuk diolah lebih lanjut;

pengeluaran barang dan atau bahan dari PDKB ke perusahaan industri di DPIL atau PDKB
lainnya dalam rangka subkontrak;

penyerahan kembali Barang Kena Pajak hasill pekerjaan subkontrak oleh Pengusaha Kena Pajak
di DPIL atau PDKB lainnya kepada Pengusaha Kena Pajak PDKB asal;

peminjaman mesin dan atau peralatan pabrik dalam rangka subkontrak dari PDKB kepada
perusahaan industri di DPIL atau PDKB lainnya dan pengembaliannya ke PDKB asal.

d) PPN 0% (Nol Persen)


Berdasarkan Pasal 7 UU PPN 1984 dan Perubahannya, atas ekspor Barang Kena Pajak dikenakan
PPN 0%.

Perbedaan fasilitas PPN Tidak Dipungut dan fasilitas PPN Dibebaskan

Terlihat pada tabel di atas bahwa dengan jumlah penyerahan dan Pajak Masukan yang sama pada
kedua jenis fasilitas akan mengakibatkan perbedaan pada jumlah PPN yang terutang. Pada fasilitas PPN
Tidak Dipungut terjadi lebih bayar sebesar Pajak Masukannya (Rp1.600.000,-), sedangkan pada fasilitas
PPN Dibebaskan terjadi PPN terutang sebesar Nihil.
Sebenarnya apakah pajak masukan sebesar Rp1.600.000,- itu? Tidak lain dan tidak bukan itu
adalah akumulasi nilai tambah (value added) dari semua mata rantai produksi dan distribusi sebelum
sampai pada PKP X .2 Berarti semua PPN yang telah dipungut atas nilai tambah yang terjadi pada semua
mata rantai sebelum PKP X dikembalikan. Hal yang berbeda terjadi pada fasilitas PPN Dibebaskan. PPN
yang telah dipungut atas nilai tambah yang terjadi pada semua mata rantai sebelum PKP X tidak
dikembalikan. Kalau begitu apa untungnya mendapat fasilitas PPN Dibebaskan? Kita akan lihat dengan
membandingkannya pada penyerahan yang tidak mendapat fasilitas, pada ilustrasi berikut:

Ilustrasi pada table diatas dengan jelas menunjukkan bahwa pada fasilitas PPN Tidak Dipungut,
seluruh PPN yang telah disetor (seluruh nilai tambah yang telah tercipta) pada mata rantai produksi dan
distribusi sebelumnya dikembalikan. Sedangkan pada fasilitas PPN Dibebaskan, hanya nilai tambah yang
dihasilkan oleh PKP X saja yang tidak disetor. Seluruh nilai tambah yang dihasilkan pada mata rantai
sebelumnya telah disetor dan terakumulasi di kas negara. Hal ini makin mudah dipahami jika kita
membandingkan antara kolom 3 dengan kolom 4 pada Tabel 2 di atas. Selisih akumulasi PPN disetor ke
kas negara - antara pada fasilitas PPN Dibebaskan dengan tanpa fasilitas - adalah sebesar Rp200.000,yaitu sebesar nilai tambah yang dihasilkan oleh PKP X. Jadi sesungguhnya keuntungan
konsumen/pembeli yang mendapat fasilitas PPN Dibebaskan tidaklah sebesar tarif dikali harga beli,
namun hanya sebesar tarif dikali nilai tambah pada mata rantai terakhir, yaitu saat pemberian fasilitas
tersebut. Konsumen tetap menanggung beban PPN sebesar tarif dikali nilai tambah pada proses produksi
dan distribusi sebelumnya (dalam ilustrasi Tabel 2 adalah sebesar 1.600.000).

Tabel dibawah ini menunjukkan apabila pemberian fasilitas dilakukan pada level sebelum sampai
dikonsumsi oleh PKP X, misalnya pada level Distributor Utama:

Ternyata akumulasi PPN disetor ke kas negara tidak berbeda antara pada penyerahan yang
diberikan fasilitas Tidak Dipungut dengan Tanpa Fasilitas. Perbedaannya hanya pada pergeseran saat
penyetoran PPN terutang, yaitu dari Distributor Utama kepada Retailer. Jumlah PPN yang dikembalikan
pada level Distributor Utama akan terakumulasi kembali dalam pemungutan PPN pada level Retailer.
Sedangkan pada fasilitas PPN Dibebaskan, akumulasi PPN disetor malah menjadi lebih besar daripada
tanpa fasilitas. Kenaikan jumlah akumulasi PPN ini - sebesar 900.000 - adalah merupakan akibat dari
terjadinya pemajakan berganda pada level Retailer.

2. Fasilitas Bea Masuk


Fasilitas fiskal dalam konteks Undang-undang Kepabeanan mengandung pengertian sebagai
bentuk-bentuk insentif perpajakan yang diberikan kepada industri, perdagangan, dan pihak-pihak tertentu.
Bentuk-bentuk fasilitas fiskal kepabeanan dapat berupa:
a) Tidak dipungut Bea Masuk, sesuai Pasal 24 Undang-undang Kepabeanan
Sesuai dengan ketentuan pasal 24 undang-undang Kepabeanan diatur bahwa barang yang
dimasukkan ke Daerah Pabean untuk diangkut terus atau diangkut lanjut ke luar Daerah Pabean tidak
dipungut Bea Masuk. Dasar pertimbangan perlakuan tidak dipungut Bea Masuk pada hakekatnya
mempertimbangkan asas-asas pemungutan pajak.
Pada dasarnya asas pemungutan Bea Masuk di Indonesia menerapkan asas domisili.
Pengertiannya bahwa pemungutan Bea Masuk dikenakan terhadap subyek yang berdomisili di
Indonesia atau obyek yang dikonsumsi di dalam wilayah pabean Indonesia. Berdasarkan pengertian
ini, maka terhadap barang yang diangkut terus atau diangkut lanjut ke luar daerah pabean, maka dari
sisi subyek maupun obyek tidak memenuhi asas domisili tersebut.
b) Pembebasan Bea Masuk, sesuai Pasal 25 Undang-undang Kepabeanan
Pasal 25 Undang-undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa pembebasan Bea
Masuk terhadap barang impor yang digunakan untuk keperluan tertentu. Antara lain sebagai bentuk
tata krama dalam pergaulan internasional berupa pembebasan terhadap barang impor yang digunakan
untuk keperluan perwakilan negara asing dan pejabat pada Badan Internasional. Disamping itu,
pembebasan Bea Masuk diberikan pula terhadap barang-barang yang digunakan untuk kepentingan
publik yang bersifat nonkomersial, kemajuan pendidikan dan ilmu pengetahuan, sosial kemanusiaan,
pertahanan dan keamanan, serta kesehatan.
Sifat pembebasan yang diatur dalam pasal 25 undang-undang Kepabeanan adalah pembebasan
mutlak. Pengertiannya bahwa bentuk pembebasan atau peniadaan terhadap pemenuhan kewajiban

pembayaran Bea Masuk yang diberikan pemerintah bersifat permanen. Dengan kata lain, selama pos
tarif dalam Buku Tarif Bea Masuk Indonesia (BTBMI) memberikan pembebananan tarif Bea Masuk
diatas 0% (nol persen) terhadap barang impor dengan fasilitas pembebasan, maka terhadap barang
impor tersebut secara permanen tidak akan dikenakan pungutan Bea Masuk. Untuk mendapatkan
skema pembebasan Bea Masuk tersebut, para pihak yang berhak menerima pembebasan wajib
memenuhi persyaratan-persyaratan yang ditentukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
c) Pembebasan atau Keringanan, sesuai Pasal 26 Undang-undang kepabeanan
Pasal 26 Undang-Undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa pembebasan
atau keringanan Bea Masuk terhadap barang impor yang digunakan untuk keperluan tertentu. Fokus
pemberian fasilitas ini terutama ditujukan terhadap sektor industri dan perdagangan. Antara lain
pembangunan dan pengembangan sektor indsutri baik dalama skema penananaman modal maupun
swasta murni. Disamping itu, fasilitas pembebasan atau keringanan Bea Masuk diberikan sebagai
insentif sektor pertanian, pencegahan pencemaran lingkungan, keperluan olah raga, kepentingan
publik yang dikelola pemerintah, proyek pembangunan yang dibiayai hibah, serta sektor industri yang
berorientasi ekspor.
Sifat pembebasan yang diatur dalam pasal 26 Undang-undang Kepabeanan adalah pembebasan
yang bersifat relatif. Pengertiannya bahwa bentuk fasilitas yang diberikan dapat berupa pembebasan
atau hanya berupa keringanan Bea Masuk saja, dan hal ini bersifat tentative (sementara), tergantung
kepada kebijakan yang akan diterapkan pemerintah pada kondisi-kondisi tertentu.
d) Pengembalian Bea Masuk, sesuai Pasal 27 Undang-undang Kepabeanan
Pasal 27 undang-undang Kepabeanan memberikan bentuk fasilitas fiskal berupa pengembalian
Bea Masuk atas bea-bea yang telah dibayar sebelumnya oleh importir. Dalam hal ini undang-undang
kepabeanan telah memberikan batasan terhadap kategori barang atau subyek mana yang dapat
menerima pengembalian Bea Masuk. Berdasar ketentuan pasal 27 tersebut, pengembalian dapat
diberikan terhadap seluruh atau sebagian Bea Masuk yang telah dibayar atas:
kelebihan pembayaran Bea Masuk yang timbul akibat penetapann tarif dan nilai pabeana
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (5), Pasal 17 ayat (3), atau karena kesalahan tata
usaha;
impor barang yang mendapat fasilitas pembebasan dan/atau keringanan Bea Masuk sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 25 dan Pasal 26;
impor barang yang oleh sebab tertentu harus diekspor kembali atau dimusnahkan di bawah
pengawasan pejabat bea dan cukai;
impor barang yang sebelum diberikan persetujuan impor untuk dipakai kedapatan jumlah yang
sebenarnya lebih kecil daripada yang telah dibayar Bea Masuknya, cacat, bukan barang yang
dipesan, atau berkualitas lebih rendah; atau
kelebihan pembayaran Bea Masuk akibat putusan Pengadilan Pajak.
e) Pembebasan atau Keringanan Bea Masuk dalam rangka Impor Sementara, sesuai pasal 10D
Undang-undang Kepabeanan (Referensi : Pasal 10D Undang-undang Kepabeanan)
Barang impor dapat dikeluarkan sebagai barang impor sementara jika pada waktu importasinya
benar-benar dimaksudkan untuk diekspor kembali paling lama 3 (tiga) tahun. Terhadap barang impor
sementara dapat diberikan pembebasan Bea Masuk atau keringanan Bea Masuk. Ketentuan
operasional yang mengatur impor sementara adalah Peraturan Menteri Keuangan nomor

140/PMK.04/2007 tentang Impor Sementara . Kategori barang impor sementara yang mendapat
pembebasan Bea Masuk diatur dalam Pasal 3 ayat 2 PMK.
Pemberian keringanan Bea Masuk diperlakukan terhadap barang impor berupa mesin dan
peralatan untuk kepentingan produksi atau pengerjaan proyek infrastruktur. Atas kegiatan impor
sementara terhadap barang tersebut, importir akan dikenakan pungutan berupa :
Bea Masuk sebesar 2% untuk setiap bulan atau bagian dari bulan dari jumlah Bea Masuk yang
seharusnya dipungut.
Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dan Pajak Penjualan Barang Mewah (PPn.BM) secara penuh
(100%). Akan tetapi, kewajiban membayar PPN atau PPn.BM tidak berlaku, apabila importir
mendapatkan skema fasilitas perpajakan berdasarkan peraturan perpajakan yang berlaku.
Selain kewajiban membayar Bea Masuk, PPN dan PPn BM, Importir diwajibkan
mempertaruhkan jaminan sebesar selisih antara Bea Masuk yang seharusnya dibayar dengan yang
telah dibayar ditambah dengan Pajak Penghasilan Pasal 22.
f) Penangguhan Bea Masuk terhadap tempat penimbunan berikat, sesuai pasal 44 Undangundang Kepabeanan (Referansi: pasal 44, Undang-undang Kepabeanan)
Bentuk insentif yang diterima oleh pihak yang menyelenggarakan Tempat Penimbunan Berikat
(TPB) berupa penangguhan Bea Masuk dan tidak dipungut pajak-pajak dalam rangka impor maupun
pajak-pajak dalam negeri. Fasilitas tempat penimbunan berikat merupakan bentuk fasilitas yang
bersifat institusional terhadap subyek pajak. Pengertiannya bahwa perlakuan insentif perpajakan
melekat terhadap institusi atau subyek pajak tertentu dan bukan terhadap obyek pajaknya. Secara
prinsip barang-barang impor yang ditimbun di dalam TPB masih terutang Bea Masuk dan apabila
dikeluarkan dari TPB selain untuk diekspor maka wajib dipungut Bea Masuk dan PDRI.
Pada prinsipnya tujuan pengadaan Tempat Penimbunan Berikat adalah untuk memberikan insentif
berupa penangguhan pembayaran Bea Masuk, atas kegiatan menyimpan, menimbun, memamerkan,
menjual, mengemas dan mengolah barang yang berasal dari impor di dalam tempat penimbunan
berikat. Pelaksanaannya, TPB dibagi menjadi beberapa jenis yaitu Kawasan Berikat, Gudang Berikat,
Entrepot Tujuan Pameran, Toko Bebas Bea, Tempat Pelelangan Berikat dan Tempat Daur Ulang
Berikat.
Tujuan fasilitas bea masuk ini untuk memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi
pertumbuhan ekonomi nasional dan juga bentuk perlakuan yang lazim terhadap tata pergaulan
internasional. Untuk kepentingan industri dan perdagangan, pemerintah memberikan insentif terhadap
industri yang sedang membangun atau melakukan pengembangan. Berkaitan dengan tata pergaulan
internasional, pemerintah memberikan perlakuan pembebasan terhadap barang impor yang akan
digunakan oleh perwakilan negara asing atau pejabat pada Badan internasional. Demikian pula erhadap
barang-barang yang digunakan untuk kepentingan publik yang tidak berorientasi pada hal-hal yang
bersifat komersial, diberikan perlakuan pembebasan terhadap Bea Masuk.

C. Strategi memanfaatkan seluruh fasilitas perpajakan yang ada


1) Wajib Pajak harus mengerti peraturan perpajakan yang terkait. Akan sangat sulit dapat melakukan
pemanfaatan fasilitas perpajakan untuk tax planning yang baik dan tidak melanggar undang
undang bila dirancang tidak dalam koridor undang undang perpajakan yang berlaku. Pemanfaatan

fasilitas perpajakan yang melanggar undang undang akan berakibat fatal dan bahkan dapat
mengancam keberhasilan Tax Planning.
Apabila suatu perencanaan pajak ingin dipaksakan dengan melanggar ketentuan
perpajakan, bagi wajib pajak merupakan resiko yang berbahaya dan mengancam keberhasilan
perencanaan pajak. Karena itu, sebaiknya wajib pajak menghindari hal tersebut karena dapat sangat
merugikan wajib pajak sendiri
2) Menentukan tujuan yang ingin dicapai dengan memanfaatkan fasilitas perpajakan dalam tax
planning. Tax planning paling tidak memiliki dua tujuan utama yakni :
menarik investor lokal maupun asing untuk menanamkan modalnya
mengurangi beban perusahaan (tergantung pada sektornya)
3) Dalam memanfaatkan fasilitas perpajakan yang ada, perusahaan harus memahami karakter usaha
Wajib Pajak. Hal ini dikarenakan hampir setiap industri memiliki perbedaan perbedaan dalam
kebijakan maupun perilaku dan kebiasaan kebiasannya. Dengan memahami secara mendalam
seluk beluk usaha akan sangat membantu dalam melakukan pemanfaatan fasilitas perpajakan.
4) Memahami tingkat kewajaran atas transaksi transaksi yang diatur dalam tax planning. Hal ini
dikarenakan apabila dalam pelaksanaan tax planning untuk memanfaatkan fasilitas perpajakan jika
mengabaikan kewajaran sudah tentu akan menimbulkan kesulitan kesulitan karena adanya
kecurigaan fiskus dan ini dapat berimplikasi dengan pemeriksaan, karena bisa diindikasikan adanya
kecurangan pajak.

Sumber:
Amali,
Muhammad
Naim.
2015.
Beragam
Insentif
Pajak
(http://catatannaim.blogspot.com/2015/02/beragam-insentif-pajak.html)
Dampak Diberlakukannya Tax Incentive dan Tax Holiday Bagi Dunia Usaha. 2014
(http://liafatrathohir.blogspot.com/2014/10/dampak-diberlakukannya-tax-incentive.html)

Fasilitas PPN. 2011 (http://pajakppn.blogspot.com/2011/06/fasilitas-ppn.html)


Fasilitas
PPN
Terutang
Dibebaskan
dan
Tidak
Dipungut.
2010
(http://taxexploring.blogspot.com/2010/02/fasilitas-ppn-terutang-dibebaskan-dan.html)
http://www.bcsoetta.net/v2/page/impor-fasilitas-pembebasan-bea-masuk
Pemberian
Fasilitas
Pembebasan
Atau
Pengurangan
PPh
Badan
(http://www.binafiscal.co.id/index.php/articles-update/88-pemberian-fasilitas-pembebasan-ataupengurangan-pph-badan-.html)
Poin-Poin Penting Dalam PP No 18 Tahun 2015 Tentang Fasilitas Pajak Penghasilan Untuk Penanaman
Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu. 2015
(http://www.ekon.go.id/press/view/poin-poin-penting-dalam-pp-no.1447.html#.VV5W0Y6qqko)
Sinaga, Suhut Tumpal. Apa Perbedaan Hakikat Fasilitas PPN Tidak Dipungut dari PPN Dibebaskan. 2013
(http://www.bppk.depkeu.go.id/publikasi/artikel/167-artikel-pajak/12570-apa-perbedaan-hakikatdari-fasilitas-ppn-tidak-dipungut-dan-fasilitas-ppn-dibebaskan)
Strategi Perencanaan Bagian I. 2013 (http://padyangantaxcenter.blogspot.com/2013/05/perencanaanpajak_3.html#.VV5U_46qqko)
Widia,
I
Nyoman.
Fasilitas
Pajak
Pertambahan
Nilai.
2009
(https://inwdahsyat.wordpress.com/2009/06/04/fasilitas-pajak-pertambahan-nilai/)

Insentif untuk jenis Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menurut Tait (1988) dalam bentuk tax
exemption atau pembebasan pajak, dan zero rating atau pengenaan tarif nol persen. Exemption dalam PPN
berarti pengusaha yang mendapatkan fasilitas pembebasan atas penyerahan barang atau jasanya, tidak
dapat mengkreditkan PPN yang telah dibayar pada waktu pembelian barang atau jasa sebagai pajak
masukan. Sedangkan zero rate berarti pengusaha secara penuh dapat mengkreditkan PPN yang telah
dibayar, sehingga secara murni bebas dari PPN. Karakteristik dasar dalam sistem pembebasan PPN adalah

tidak adanya pembebasan secara penuh dari pengenaan PPN. Pembebasan PPN hanya diterapkan pada
saat pengusaha yang mendapatkan fasilitas pembebasan melakukan penjualan atau penyerahan barang
dan atau jasa. Sedangkan semua pembelian yang dilakukan oleh pengusaha tersebut, termasuk barang
modal dikenakan pajak. Oleh karena itu, jika petani dibebaskan dari pengenaan PPN, maka petani
tersebut tidak harus berhubungan dengan petugas pajak, tetapi petani tersebut harus membayar semua
pajak masukannya pada waktu melakukan pembelian pupuk, benih dan semua barang modal yang
dipergunakan seperti mesin pertanian. Pembebasan PPN membantu menyederhanakan administrasi
perpajakan karena pengusaha atau pedagang yang bebas PPN tidak perlu melakukan registrasi dan
pencatatan untuk PPN. Namun, pembebasan PPN dapat menimbulkan distorsi. Hal tersebut dapat terjadi
misalnya pengusaha yang bebas PPN melakukan penjualan atau penyerahan barang kepada pihak lain
selain konsumen akhir. Pengusaha yang bebas PPN akan menambahkan PPN atas pembelian barang yang
tidak dapat dikreditkan pada harga jual barang yang diserahkan kepada pengusaha lainnya yang tidak
bebas PPN. Bagi pengusaha yang tidak bebas PPN tersebut tentunya akan memperhitungkan harga
pembelian yang didalamnya terdapat PPN tersebut sebagai bagian dari harga pokok penjualan, sehingga
atas penyerahan barang tersebut akan terjadi pengenaan PPN atas PPN. Hal ini disebut sebagai cascading
efect atau efek pajak yang kumulatif yang menimbulkan distorsi dalam pertumbuhan perekonomian
karena pajak berganda tersebut akan menyebabkan tingginya harga yang harus dibayar oleh konsumen.
Oleh karena itu, menurut Tait sebaiknya pembebasan PPN hanya diterapkan pada kondisi tertentu dan
terbatas saja serta yang paling dekat dengan konsumen akhir.
Kerugian dalam memberikan insentif pajak untuk tujuan menarik investasi adalah hilangnya
potensi pajak yang seharusnya diterima oleh negara. Kerugian tersebut dapat dikurangi apabila insentif
tersebut diterapkan pada sektor yang tepat, yaitu sektor yang menarik investor hanya jika sektor tersebut
diberikan insentif. Pemerintah telah mengembangkan berbagai teknik untuk mencapai target yang lebih
baik dalam membuat kebijakan pemberian insentif pajak. Tehnik tersebut antara lain dengan mengkaitkan
pemberian insentif dengan pengembangan wilayah yang pertumbuhan ekonominya masih rendah dan
untuk tujuan tertentu, seperti penciptaan lapangan kerja, transfer teknologi dan peningkatan ekspor.
a) Pengembangan Wilayah. Kebijakan pemberian insentif pajak untuk tujuan pengembangan suatu wilayah
biasanya berbentuk tax holiday, investment allowanceatau penyusutan yang dipercepat. Wilayah yang
menjadi target pemberian insentif pajak biasanya daerah yang terpencil dan tingkat penganggurannya
tinggi.
b) Penciptaan lapangan kerja. Insentif pajak dapat diarahkan untuk merangsang pendirian perusahaan di
bidang industri yang mampu menyerap banyak tenaga kerja. Industri manufaktur merupakan contoh
industri padat karya yang sering menjadi target pemberian insentif.
c) Transfer Teknologi. Banyak negara memformulasikan kebijakan pemberian insentif pajak dengan tujuan
untuk menarik investasi yang membawa teknologi yang lebih modern. Namun, kebijakan tersebut sulit
diterapkan karena kantor pajak mengalami kesulitan dalam menentukan kriteria suatu teknologi yang
canggih atau advanced. Di samping itu, sangat jarang perusahaan asing yang membawa teknologi canggih
bersedia mengalihkan atau mentransfer teknologi tersebut kepada host country.
d) Pengembangan ekspor. Kebijakan pemberian insentif pajak untuk menarik investasi yang berorientasi
ekspor cenderung lebih efektif dibandingkan dengan pemberian insentif pajak untuk tujuan lain.
Perusahaan berorientasi ekspor tertentu yang sensitif terhadap adanya insentif pajak adalah perusahaan
yang bergerak di bidang industri textile dan elektronika. Alasannya, industri tersebut tidak bergantung
pada bahan baku lokal dan pasar dari produknya sebagian besar di luar negeri. Industri tersebut dikenal
sebagai footloose yang sangat tertarik dengan lingkungan yang mempunyai biaya rendah. Komponen

biaya paling besar adalah tenaga kerja dan pajak yang harus dibayar, sehingga dengan adanya insentif
pajak maka industri tersebut akan tertarik untuk berinvestasi. Musgrave dan Musgrave (1989)
berpendapat bahwa insentif perpajakan sangat berguna bagi kegiatan ekspor. Insentif untuk kegiatan
ekspor adalah kebijakan yang populer untuk membangun pasar internasional dan memperkuat
keseimbangan neraca pembayaran. Jenis insentif pajak penghasilan yang biasa diberikan pada jenis
industri yang berorientasi ekspor adalah tax holidaydan tunjangan investasi khusus. Tax holiday diberikan
dalam bentuk pembebasan pajak atas bagian dari keuntungan yang berhubungan dengan ekspor atau dapat
pula berupa pembebanan biaya secara maksimal atas biaya untuk tujuan ekspor, seperti biaya promosi
ekspor.
e) Daerah perdagangan bebas atau export processing zones. Export processing zones berhubungan dekat
dengan pengembangan investasi yang berorientasi ekspor. Zona ini juga disebut sebagai customs-free
zones, duty-free zones, free trade zones, bonded zones atau special economic zones. Insentif jenis ini
sudah diterapkan lebih dari 50 negara di seluruh dunia dan telah berlangsung selama lebih dari 30 tahun
(Thuronyi, 1998). Ciri yang membedakan kawasan khusus tersebut adalah adanya daerah terbatas atau
kawasan terbatas yang terikat dengan ketentuan tertentu dimana perusahaan yang berada di kawasan
tersebut baik lokal maupun asing dapat melakukan impor mesin, komponen dan bahan baku tanpa harus
membayar bea masuk dan pajak lainnya sepanjang barang tersebut sebagai sarana untuk merakit,
mengolah atau diolah menjadi barang untuk tujuan ekspor. Apabila barang tersebut dijual di pasar
domestik, maka atas penjualan tersebut diperlakukan sebagai impor sehingga dikenakan pajak dan bea
masuk seperti impor. Maksud dari negara yang mendirikan export processing zone pada umumnya adalah
untuk mendapatkan devisa dari penjualan ekspor. Disamping itu juga untuk menciptakan lapangan kerja,
menarik teknologi dari luar negeri atau mendorong perkembangan wilayah tertentu.
Insentif pajak yang diberikan pada kawasan khusus tersebut terutama adalah pembebasan bea masuk
dan PPN. Pembebasan tersebut diterapkan atas bahan baku dan komponen yang diimpor yang kemudian
diekspor. Pembebasan juga berlaku atas barang modal yang digunakan untuk proses produksi untuk
tujuan ekspor tersebut. Dengan adanya insentif berupa pembebasan atas impor barang tersebut diharapkan
investor asing akan tertarik untuk menanamkan modalnya karena insentif tersebut langsung berdampak
pada rendahnya harga pokok barang sehingga barang yang diproduksi mempunyai daya saing yang tinggi.
Pembebasan PPN atas kegiatan impor di kawasan khusus untuk tujuan ekspor disertai dengan
penerapan zero rateatas kegiatan ekspor. Dengan tarif 0% atas ekspor, berarti PPN yang masih melekat
dalam harga barang dapat dieliminasi sehingga barang tersebut dapat bersaing di pasar internasional. Hal
ini sesuai dengan prinsip destinasi dari PPN, yaitu bahwa PPN dikenakan di tempat barang tersebut
dikonsumsi. Dengan adanya pembebasan bea masuk dan PPN atas impor barang untuk tujuan ekspor,
perusahaan akan diuntungkan dari segi cash flow karena tidak harus membayar pajak terlebih dahulu.