Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH DASAR TERNAK PERAH DAN POTONG

SISTEM REPRODUKSI TERNAK RUMINANSIA

Disusun oleh :
KELOMPOK 04
ARIANSYAH WIDIARTO

D0A013004

DENDI DWI KURNIAWAN

D0A013010

INDRA ARI .S

D0A013013

SYARIFUDIN P.

D0A013000

EIS NAELY RIFAH

D0A013021

RINA SURYANI

D0A013029

LUTFI ATUR R.

D0A013099

HERU PURWANTO

D0A013046

FAKHRI NOVAL

D0A013050

RATIH CHURIATUL MALA

D0A013053

FEBRIYANTO

D0A013058

KEMENTRIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS PETERNAKAN
PURWOKERTO
2013

DAFTAR ISI

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang.
.
1.2 Tujuan....

1
2

BAB 2. PEMBAHASAN
2.1 Organ reproduksi jantan.

2.1.1 Organ Reproduksi Primer..

2.1.1.1 Testis...

2.1.2 Organ Reproduksi Sekunder.

2.1.2.1 Epididimis......

2.1.2.2 Vas Deferens...

2.1.2.3 Penis....

2.1.2.4 Kelenjar asesoris.

2.2. Organ reproduksi betina

2.2.1 Organ Reproduksi Primer..

2.2.1.1 Ovarium.
2.2.2 Organ Reproduksi Sekunder.
2.2.2.1 Oviduk...
2.2.2.2 Uterus.
2.2.2.3 Servik.
2.2.2.5 Vagina
2.2.2.6 Vulva..

6
6
7
8
9
9
10

BAB 3. KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN
2

11

1.1 Latar Belakang


Permasalahan yang dihadapi dunia peternakan Indonesia antara lain adalah masih rendahnya
produktifitas dan mutu genetik ternak. Keadaan ini terjadi karena sebagian besar peternakan di
Indonesia masih merupakan peternakan konvensional. Rendahnya produktifitas ternak sapi dari
aspek reproduksi antara lain, panjangnya jarak beranak (calving interval) sapi betina produktif
yang rata-rata diatas 18 bulan serta angka kelahiran (calving rate) yang masih dibawah 60 % dari
sapi betina produktif yang akan berdampak terhadap rendahnya perkembangan populasi sapi per
tahun dan rendahnya pendapatan petani dari usaha ternak sapi. Salah satu yang menjadi kendala
perkembangan ternak sapi adalah masalah reproduksi.
Reproduksi merupakan proses fisiologis pada makhluk hidup untuk menghasilkan keturunan.
Hewan tingkat tinggi, termasuk ternak sapi, bereproduksi secara seksual dan proses
reproduksinya meliputi beberapa tingkatan fisiologik yang meliputi fungsi-fungsi yang sangat
komplek dan terintegrasi antara proses yang satu dengan yang lainnya. Tingkatan-tingkatan
fisiologik tersebut meliputi pembentukan sel-sel kelamin (gamet), pelepasan sel-sel gamet yang
telah berdiferensiasi secara fungsional, perkawinan untuk mempertemukan gamet jantan dan
gamet betina, fertilisasi, fusi antara kedua pronuklei, pertumbuhan, diferensiasi dan
perkembangan zigote sampai kelahiran normal. Sehingga menjadi kebutuhan yang esensial untuk
selalu memperhatikan organ tersebut, terutama pemahaman masing-masing bagian dan
fungsinya.
Dalam makalah ini akan dijelaskan sedikit pengetahuan dasar tentang ternak ruminansia
yaitu mengenai sistem reproduksi ternak ruminansia.

1.1.

Tujuan
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu :
3

1. Untuk mengetahui bagian-bagian system reproduksi ternak jantan


2. Untuk mengetahui bagian-bagian system reproduksi ternak betina
3. Mengetahui fungsi atau guna system reproduksi ternak ruminansia
4.Mengetahui letak dari system reproduksi ternak ruminansia

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Organ Reproduksi Jantan

Organ reproduksi jantan dibagi atas organ reproduksi primer, sekunder dan asesoris.
Organ reproduksi primer atau utama terdiri dari testis dan tubullus seminiferous. Organ
reproduksi sekunder terdiri atas epididimis, vas deferens, ampula, dan penis. Organ reproduksi
asesoris yaitu kelenjar aksesoris yang terdiri atas kelenjar prostat, kelenjar cowper, dan kelenjar
vesicula seminalis. Hal ini sesuai dengan pendapat Hardjopranjoto (1995) yang menyatakan
bahwa alat kelamin jantan umumnya mempunyai bentuk yang hampir bersamaan yaitu terdiri
dari testis yang terletak didalam skrotum, saluran-saluran kelamin, penis dan kelenjar asesoris.
Akoso (2008) menambahkan

bahwa alat kelamin jantan terdiri atas dua buah testis yang

terbungkus oleh skrotum, saluran deferens, vesicula seminalis, kelenjar prostata, penis dan
uretra.
2.1.1

Testis
Testis merupakan bagian paling dalam dari organ reproduksi jantan yang terletak didalam

skrotum. Testis berfungsi untuk menghasilkan sperma dan penghasil hormon testosteron,
didalam testis terdapat organ yang berperan dalam pembentukan sperma yaitu tubullus
seminiferous. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakely dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa
testis terletak didalam skrotum, testis berfungsi memproduksi sperma didalam tubulus konvolusi
atau saluran berkelok yang sangat kecil yang membentuk keseluruhan struktur testis. Sel-sel
5

interstisial yang terletak diruang antara tubulus seminuferous didalam testes yang menghasilkan
hormon jantan yang disebut testosteron. Menurut Akoso (2008) testis berjumlah satu pasang
yang tersusun oleh bentukan menyerupai cacing yang disebut epididimis yang merupakan wadah
sperma.
2.1.2. Epididimis
Epididimis merupakan saluran eksternal pertama dari testis, yang menyatu secara
longitudinal pada permukaan testis dan terbungkus dalam tunika vaginalis bersama dengan testis.
Caput (kepala) dari epididimis adalah daerah datar di puncak testis, dimana 12 sampai 15 saluran
(duktus) kecil, vasa efferentia, menyatu menjadi satu ductus. Corpus (badan) memanjang
sepanjang sumbu longitudinal dari testis dan satu saluran tunggal yang terhubung sampai pada
cauda (ekor). Menurut Blakley dan Bade (1994) epididimis mempunyai empat fungsi, yaitu
pengangkutan (transportasi), penyimpanan (storage), pemasakan (maturasi), dan pengentalan
(konsentrasi) sperma. Toelihere (1983) menambahkan bahwa epididimis mempunyai panjang
sekitar 40 meter berperan untuk menyalurkan sperma dari testes ke kelenjar kelamin aksesoris.

2.1.3. Vas Deferens


Vas deferens adalah sepasang saluran dari ujung distal cauda masing-masing epididimis
yang ujungnya didukung oleh lipatan peritoneum, melewati sepanjang korda spermatika, melalui
kanalis inguinalis ke daerah panggul, dimana kemudian menyatu dengan uretra. Ujung vas
deferens yang membesar dekat uretra adalah ampula. Vas deferens memiliki lapisan tebal otot
polos di dinding dan memiliki fungsi tunggal trasportasi spermatozoa. Vas deferens mempunyai
fungsi sebagai pengangkut sperma ke uretra. Menurut Blakley dan Bade (1994) yang
menyatakan bahwa vas deferens berfungsi untuk menyalurkan semen yang telah masak dari
epididimis menjauhi kelenjar aksesoris. Hal ini ditambahkan dengan pendapat dari Akoso (2008)
yang menyatakan bahwa saluran deferens merupakan pipa berdinding tebal yang mengangkut
sperma keluar dari testis.
2.1.4. Penis

Penis adalah organ kopulasi jantan, membentuk secara dorsal di sekitar uretra dari titik
uretra dibagian pelvis, dengan lubang uretra eksternal pada ujung bebas dari penis. Sapi memiliki
sigmoid flexure, sebuah lengkungan berbentuk S pada penis yang memungkinkan untuk ditarik
kembali sepenuhnya ke dalam tubuh, memiliki otot penis retractor, sepasang otot polos yang
relaks yang memudahkan perpanjangan penis dan kontraksi untuk menarik penis kembali ke
dalam tubuh. Otot retractor penis ini dari vertebra di daerah ekor dan menyatu ke ventral penis
pada anterior ke fleksura sigmoid. Glan penis, yang merupakan ujung bebas dari penis, disuplai
dengan saraf sensorik yang merupakan homolog dari klitoris betina. Penis merupakan organ
reproduksi jantan yang paling luar. Penis terletak setelah gland penis dan berfungsi sebagai alat
kopulasi. Hal ini sesuai dengan pendapat Toelihere (1983) menambahkan bahwa

penis

mempunyai fungsi ganda yaitu pengeluaran urine dan perletakan semen ke dalam saluran
reproduksi hewan betina. Akoso (2008)

menambahkan bahwa organ seksual jantan yang

dibungkus oleh kulit yang disebut kalup (prepusium), lapisan dalam kulip disuplai dengan
kelenjar keringat yang mengeluarkan smegma.

2.1.5. Kelenjar Aksesoris


Kelenjar aksesoris terbagi menjadi tiga yaitu kelenjar vesicula seminalis, kelenjar
prostata dan kelenjar cowper. Kelenjar vesicular seminalis berfungsi sebagai penghasil energi
dalam bentuk fruktosa dan memberi nutrisi untuk menghasilkan sperma. Kelenjar prostata
berfungsi untuk menyeimbangkan ion dalam tubuh agar tidak hipotonis dan hipertonis. Kelenjar
cowper berfungsi sebagai buffer (penyangga) yaitu menetralkan suasana agar tidak terlalu asam
atau terlalu basa karena sperma akan mati bila berada pada suasana asam atau basa, selain itu
kelenjar cowper berfungsi untuk membersihkan sisa urin. Hal ini sesuai dengan pendapat
Hardjopranjoto (1995) yang menyatakan bahwa kelenjar asesoris terdiri dari kelenjar-kelenjar
vesicula seminalis, prostata, bulbouretralis (coupers gland). Menurut Akoso (2008) bahwa
kelenjar prostata terletak sepanjang uretra, kelenjar ini mengeluarkan cairan yang ditumpahkan
kedalam kelenjar bulbo-uretralis untuk memungkinkan lewatnya sekresi testikular dan memberi
nutrisi cairan sperma yang berfungsi mengaktifkan dan menggerakkannya.

2.2

Organ Reproduksi Betina


7

Organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina dan vulva. Hal
ini sesuai dengan pendapat Akoso (2008) yang menyatakan bahwa alat kelamin betina terdiri dari
dua buah indung telur (ovarium), dua buah oviduk (tabung falopian), rahim (uterus), liang
senggama (vagina), dan vulva.

2.2.1. Ovarium
Ovarium merupakan alat reproduksi betina yang berfungsi untuk memproduksi sel telur
atau ovum dan penghasil hormon estrogen. Sel telur dihasilkan dari folikel. Ovarium berbentuk
menyerupai biji almond, ovarium terletak di dekat ginjal dan tidak mengalami pergeseran. Hal
ini sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa ovari yaitu
merupakan organ betina yang homolog dengan testes pada hewan jantan, berada di dalam
rongga tubuh, di dekat ginjal dan tidak mengalami pergeseran atau perubahan tempat seperti
pada testes. Ovari seekor sapi betina bentuknya menyerupai biji almond dengan berat rata- rata
10 20 gram. Akoso (2008) menambahkan bahwa ovarium berjumlah 2 buah dan berfungsi
sebagai penghasil produksi sel telur.
2.2.2. Oviduk

Oviduk terletak setelah ovarium dan berfungsi sebagai tempat fertilisasi atau bertemunya
sel sperma dan sel telur. Oviduk berbentuk menjadi dua saluran yang panjang dan
menghubungkan ovarium dan uterus. Hal ini sesuai dengan pendapat Blakley dan Bade (1994)
yang menyatakan bahwa ovari dirangsang untuk melepaskan ovum ke dalam infundibulum dari
oviduk. Peristiwa ini sebenarnya tertunda sampai 12 jam setelah akhir birahi. Pembuahan, yaitu
persatuan antara sel telur dan sperma, terjadi di sepertiga bagian atas dari oviduk. Akoso (2008)
menambahkan bahwa oviduk bertbentuk dua saluran dengan panjang yang bervariasi dan
berdiameter 3mm yang menghubungkan ovarium dan uterus. Fungsi oviduk adalah menyalurkan
telur dari indung telur ke rahim.
2.2.3. Uterus
Uterus merupakan tabung di rongga perut yang terdiri dari dua buah tanduk, sebuah
batang dan sebuah leher. Uterus berfungsi sebagai tempat perkembangan fetus menjadi embrio.
Uterus terdiri dari tanduk uterus (cornua uteri), dan badan uterus (corpus uteri). Proporsi relatif
masing-masing uterus, bentuk dan tanduk uterus bervariasi tergantung spesies. Hal ini sesuai
dengan pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa fungsi uterus itu banyak.
Sebagai contoh, sebagai jalannya sperma pada saat kopulasi dan motilitas (pergerakan sperma)
ke tuba falopii dibantu dengan kerja yang sifatnya kontraktil. Uterus juga berperan besar dalam
mendorong fetus serta membrannya pada saat kelahiran. Akoso (2008) menambahkan bahwa
uterus adalah tabung berotot tebal terletak di rongga perut terdiri atas dua buah tanduk, sebuah
batang dan sebuah leher (serviks).

2.2.4. Serviks
Serviks merupakan suatu struktur yang memisahkan rongga uterus dengan rongga vagina.
Serviks berfungsi untuk menutup uterus dari masuknya benda- benda asing dan menutup saat
terjadi kebuntingan. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Toelihere (1983) yang mengatakan
fungsi cervix adalah mencegah benda-benda asing atau mikroorganisme masuk ke lumen uterus.
Serviks menutup pada saat ternak mengalami kebuntingan. Hal ini sesuai dengan pendapat
Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa suatu struktur yang menyerupai sfingter
(sphincter) yang memisahkan rongga uterin dengan rongga vagina disebut serviks. Fungsi pokok
serviks adalah untuk menutup uterus guna melindungi masuknya bakteri maupun masuknya
9

bahan- bahan asing. Selama birahi dan kopulasi serviks berperan sebagai jalan masuknya
sperma. Jika kemudian terjadi kebuntingan, saluran uterin itu tertutup dengan sempurna guna
melindungi fetus.
2.2.5. Vagina
Vagina alat reproduksi paling luar yang berfungsi sebagai alat kopulasi pada organ
reproduksi betina dan tempet keluarnya fetus pada saat partus atau saat terjadinya kelahiran.
Menurut pendapat Blakley dan Bade (1994) yang menyatakan bahwa struktur reproduksi internal
yang paling bawah (paling luar) adalah vagina yang berperan sebagai organ kopulasi pada betina.
Disinilah semen ditumpahkan oleh penis pejantan. Seperti halnya serviks, vagina juga
mengembang agar fetus dan membran dapat lewat pada waktunya. Toelihere (1983) yang
mengatakan bahwa vagina berfungsi sebagai alat kopulatoris dan sebagai tempat berlalu bagi
foetus sewaktu partus.
2.2.6. Vulva
Vulva adalah lubang terluar dari alat reproduksi. Fungsi vulva adalah sebagai pelindung,
tempat keluarnya lendir dan hormon pheromon untuk menarik pejantan. Vulva berasal dari
intoderm sinus urogenitalis dan ektoderm embrional. Vulva terdiri atas labia mayora (luar) dan
labia minora (dalam). Hal tersebut sesuai dengan pendapat Toelihere (1983) yang menyatakan,
bahwa vulva terdiri dari labia majora, labia minora, commisura dorsalis, dan ventralis dan
clitoris. Vulva dan vestibulum tidak timbul dari saluran paramesonephrik primitif tetapi berasal
dari intoderm sinus urogenitalis dan ektoderm embrional. Menurut Wodzicka et al (1991) labia
vulva ditutupi oleh bulu-bulu yang jarang dan menjaga lubang luar saluran reproduksi.

BAB III
KESIMPULAN
3.1

Kesimpulan
Dari hasil diskusi tersebut dapat diambil beberapa kesimpulan yaitu :

10

1. Organ reproduksi ternak jantan terdiri atas organ reproduksi primer, sekunder dan
asesoris.
2. Organ reproduksi jantan primer terdiri atas testis dan tubullus seminiferous.
3. Organ reproduksi sekunder terdiri atas epididimis, vas deferens, ampula, dan penis.
4. Organ reproduksi asesoris yang terdiri atas kelenjar prostat, kelenjar cowper, dan kelenjar
vesicula seminalis.
5. Organ reproduksi betina terdiri dari ovarium, oviduk, uterus, serviks, vagina dan vulva.
Setiap organ reproduksi mempunyai fungsi yang spesifik dalam kelangsungan reproduksi
ternak.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso Tri B. 2008. Kesehatan Sapi. Kanisius. Yogyakarta.


Blakely, J. dan D. H. Bade. 1994. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta. (Diterjemahkan oleh B. Srigandono).
Hardjopranjoto. 1995. Ilmu Kemajiran pada ternak. Erlangga University Press, Surabaya.

11

Tolihere, M.R. 1983. Fisiologi Reproduksi pada Ternak. Angkasa, Bandung.


Wodzicka,T., Manika.1991. Reproduksi, Tingkah Laku dan Produksi Ternak Di Indonesia.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

12