Anda di halaman 1dari 45

LAPORANKASUS

LUKABAKAR

oleh :
Gabriella Nurahmani Putri 07120110071
Pembimbing:
dr. Danny, SpBP

KEPANITERAANKLINIKILMUBEDAH
RUMAHSAKITMARINIRCILANDAK
UNIVERSITASPELITAHARAPAN
2015

BAB I
Laporan Kasus
I.

Identitas Pasien

No. Rekam Medis : 35-15-41


Nama

: Ny. A

Jenis kelamin

: Perempuan

Usia

: 45 Tahun

Agama

: Islam

Status

: Menikah

Alamat

: Pancoran

Penjamin

: BPJS - Jamkesmas

Tgl Masuk

: 5 September 2015

Jam masuk

: 05:52

II. Anamnesis
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis pada tgl 5 September
2015

a. Keluhan Utama
Luka bakar pada bokong dan paha, sejak 1 jam sebelum masuk
RS.

b. Riwayat penyakit sekarang


Pasien datang dengan keluhan luka bakar pada bagian
belakang paha kiri dan bokong kiri. Pasien mendapatkan luka bakar
tersebut 1 jam sebelum masuk RS. Saat itu pasien sedang duduk di
lantai, posisi bersila, dan pada saat itu juga seseorang yang
serumah dengan pasien menjatuhkan panci berisi kuah opor yang
masih sangat panas. Kuah mengalir di lantai, mengenai bokong dan
paha pasien. Telapak tangan kiri pasien juga terkena. Bokong dan
paha

pasien

langsung

dioleskan

odol

oleh

keluarga

pasien.

Beberapa saat kemudian odol dibilas dan luka pasien kali ini
dioleskan Bioplacenton dan pasien langsung dibawa ke UGD RSMC.

Pasien mengeluh nyeri datang terus-menerus dan tidak menjalar,


disertai rasa panas terbakar. Nyeri berada di skala 8/10. Pasien tidak
bisa duduk karena nyerinya, hanya bisa tengkurap.

c. Riwayat penyakit dahulu


Pasien tidak pernah memiliki keluhan yang sama sebelumnya.
Pasien mengaku mempunyai riwayat hipertensi, namun tidak
mempunyai riwayat kencing manis.

d. Riwayat kebiasaan
Pasien adalah seorang ibu rumah tangga sehingga sehari-hari akan
terbiasa melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga. Kebiasaan
merokok dan minum alkohol disangkal.

e. Riwayat penyakit keluarga


Tidak ada anggota keluarga pasien yang memiliki keluhan
yang sama. Ayah pasien menderita hipertensi, namun anggota
keluarga lainnya tidak ada yang mengidap hipertensi ataupun
gejala-gejala lainnya seperti asma, diabetes, asam urat, dan
kolesterol tinggi.

f. Riwayat pengobatan
Selama ini pasien mengkonsumsi obat Amlodipin 10mg satu kali
sehari untuk hipertensi.

III. Pemeriksaan Fisik


Tanggal 5 September 2015
a. Status Generalis
-

Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Tingkat kesadaran

: E4M6V5 (Compos Mentis)

Tanda tanda vital

o Nadi

: 90 kali / menit

o Tekanan darah : 170/100 mmHg

o Pernapasan

: 18 kali / menit

o Suhu

: 36.6 0C

o Tinggi badan: 155cm


o Berat Badan: 60kg
b. Head to toe examination

Kepala

Normosefal, rambut berwarna hitam, wajah berbentuk oval dan tidak terdapat
kelainan bentuk, tidak terdapat luka / lesi.

Mata

Mata simetris, tidak ada edema palpebra, konjutiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
pupil isokor dengan diameter 3 mm / 3 mm, refleks cahaya langsung dan tidak
langsung (+/+)

Telinga

Bentuk telinga normal dan simetris, tidak terdapat deformitas, liang telinga tidak
terdapat sekret, nyeri tekan tidak ada, pendengaran normal

Hidung

Bentuk hidung normal dan simetris, tidak terdapat deviasi, tidak terdapat sekret atau
darah yang keluar dari hidung

Mulut dan tengggorok

Bentuk bibir simetris, bibir berwarna merah dan tidak ada tanda tanda sianosis.
Lidah berbentuk normal, lembab dan tidak ada tremor. Uvula tidak deviasi dan tidak
hiperemis. Tonsil tidak membesar (T1/T1), faring tidak hiperemis.

Leher

Trakea berada di tengah dan tidak terdapat deviasi. Tidak terdapat pembesaran KGB.

Thoraks

Inspeksi

Bentuk dan pergerakan dada simetris, tidak terdapat retraksi dinding dada, iktus
kordis tidak terlihat.

Palpasi
Ichtus cordis tidak teraba. Tactile fremitus kanan dan kiri simetris.
Perkusi
Perkusi pada lapang paru terdengar sonor di seluruh lapang paru. Perkusi batas
jantung tidak menunjukkan adanya pembesaran jantung.
Auskultasi
Jantung: suara dasar SI dan SII normal, tunggal murni, irama reguler, murmur (-),
gallop (-)
Paru : suara napas vesikuler, ronchi (-/-),wheezing (-/-)

Abdomen
o Inspeksi
Dinding perut terlihat simetris, bentuk dinding perut cembung,
tidak terdapat kelainan pada kulit, pergerakan dinding perut
sesuai dengan irama pernapasan, Tidak terlihat spider naevi,
bekas operasi, ataupun dam contour.
o Auskultasi
Bising usus (+) normal, tidak menurun atau meningkat dengan
frekuensi : 8 kali / menit. Tidak terdengar adanya suara metalik.
o Palpasi

Dinding perut cembung, tidak terdapat distensi abdomen dan


perut papan, nyeri tekan (-), massa (-) pada palpasi dalam dan
dangkal.
Pemeriksaan Hati : Tidak teraba adanya pembesaran hati.
Pemeriksaan Spleen : Tidak teraba adanya pembesaran limpa.
Pemeriksaan Balotemen: Ginjal kanan kiri tidak teraba teraba.
o Perkusi
Timpani pada seluruh regio abdomen.

Ekstremitas
Akral Hangat, tidak terlihat adanya deformitas ataupun
massa, tidak tampak edema di keempat ekstremitas,
CRT<2 detik.

Kulit
Kulit tampak sawo matang , tidak ada ruam-ruam
merah ataupun tanda-tanda petekiae.

c. Status Lokalis
Look: Pada region gluteal dan hamstring sinistra terdapat
luka bakar, luas 4.5, dasar dermis, hiperemis (-), diskolorasi
(+), darah (-), nanah (-), bullae (+) berukuran kurang lebih
2cm, eschar (-), batas tegas
Feel: Nyeri tekan (+), rasa panas
Move: ROM tungkai kiri terbatas karena nyeri

IV. Pemeriksaan Penunjang


Tidak ada pemeriksaan penunjang yang dilakukan

V. Resume
Seorang pasien wanita berinisial Ny.A, berusia 45
tahun datang dengan keluhan luka bakar pada bagian

belakang paha kiri dan bokong kiri, yang didapatkan sejak


1 jam sebelum masuk rumah sakit. Luka bakar tersebut
didapatkan karena bokong dan paha pasien terkena kuah
opor panas yang tumpah ke lantai ketika pasien sedang
duduk bersila di lantai. Nyeri yang dirasakan pasien
berskala 8/10, terus-menerus, tidak menjalar dan tidak
dapat diredakan. Pasien juga tidak bisa duduk karena nyeri.
Pasien mempunyai riwayat hipertensi, dengan riwayat
pengobatan Amlodipin 10mg tiap harinya (1x1). Pada
pemeriksaan fisik tekanan darah pasien 170/100, dan
status

lokalis

menunjukkan

pada

region

gluteal

dan

hamstring sinistra terdapat luka bakar, luas 4.5%, dasar


dermis, hiperemis (-), diskolorasi (+), darah (-), nanah (-),
bullae (+), eschar (-), batas tegas, Nyeri tekan (+), rasa
panas, dan ROM tungkai kiri terbatas karena nyeri.

VI. Diagnosis Kerja


Luka Bakar derajat IIa
VII. Diagnosis Banding
Sindrom Steven-Johnson
VIII. Tatalaksana
IGD

Kompres NaCl
IVFD RL 30tpm
Injeksi Ketorolac 30mg/dl IV
Oles Sibro
Obat

untuk dibawa pulang:


Ketorolac 3x1 tab
Ciprofloxacin 2x500mg tab
Sibro gel
NaCl untuk kompres

IX. Follow up
Tanggal 8/9/2015
S: Pasien mengeluh tidak bisa tidur, nyeri makin panas dan perih,
Pasien susah BAB karena tidak bisa duduk, sedangkan BAK banyak.
Napsu makan menurun. Pasien sebelumnya sudah berobat ke
puskesmas, dimana bullae di luka pasien di sikat.
O:
Ku/Kes : SS/E4M5V5
Tanda vital:
TD : 130/70 mmHg; HR:70x/menit;
RR : 14 x/menit;

Suhu : 36.5C

Kepala : normosefali
Mata : CA -/- ; SI -/-; RC+/+
Leher : pembesaran KGB (-)
Pulmo : Vesikuler, Rh (-/-); Wz (-/-)
Cor

: S1, S2, regular; murmur(-); gallop (-)

Abd

: supel, datar, BU(-) , NT (+) di luka post op (region lumbalis sinistra)

Ext

: akral hangat, edema (-) CRT <2

Genitalia : terpasang DC ukuran 16


Status lokalis regio hamstring dan gluteus sinistra: Terdapat luka
bakar, luas 4.5%, dasar jaringan, hiperemis (+), nanah (+), nyeri
tekan (+), panas (+), eschar (-), ROM tungkai kiri terbatas
A :Luka bakar region gluteus dan hamstring sinistra, grade IIa
P:
Oles Sibro
Kompres NaCl
Ketorolac 3x1 tab
Ciprofloxacin 2x500mg tab

Pertama datang ke IGD (5 September 2015)

Follow up (8 September 2015)

BAB

III
TINJAUAN PUSTAKA
I.

Latar Belakang
Luka bakar adalah kerusakan kulit dan jaringan yang diakibatkan
oleh sumber panas (api, air panas, listrik, radiasi). Luka bakar dinilai
menurut kedalamannya dan luasnya. Kedalaman luka bakar dikategorikan
dalam derajat I, derajat II, dan derajat III. Luas luka bakar dihitung
menggunakan rumus Rule of Nine atau Lund & Browder. Luas dan
keadalaman luka bakar menentukan tatalaksana dan prognosis pasien.
Menurut

WHO,

265000

orang

meninggal

tiap

tahunnya

dikarenakan luka bakar, dan diantara mereka adalah penduduk Asia


Tenggara dan penduduk dengan ekonomi menengah kebawah. Di India,
sekitar 1.000.000 penduduk mengalami luka bakar tiap tahunnya. Di
Bangladesh, Colombia, Mesir, dan Pakistan 18% anak-anak yang
menderita luka bakar mengalami disabilitas permanen. 1
Pada tahun 2012, kejadian luka bakar di Indonesia cukup tinggi,
yaitu 27,6% di RSCM dan 26,41% (2012) di RS Dr. Soetomo. Di RSCM
rerata pasien luka bakar adalah 28 tahun, dengan rasio laki- laki :

perempuan adalah 2,7 : 1. Luka bakar api adalah etiologi terbanyak (54,9
%), diikuti air panas (29,2%), luka bakar listrik (12,8%), dan luka bakar
kimia (3,1%). Rerata luas luka bakar adalah 26% (range 1-98%). Dan
rerata lama rawatan adalah 13 hari. Angka mortalitas sebanyak 36,6% pada
pasien dengan rerata luas luka bakar 44,5%, apabila dengan luas luka
bakar > 60 % semuanya mengalami kematian.2
Ini menunjukkan bahwa luka bakar bukanlah suatu insidens yang
jarang ditemukan sehari-hari, terutama di Indonesia.

II.

Anatomi & Fisiologi Kulit3


Kulit terdiri dari lapisan epidermis, dermis, jaringan subkutan,
disertai tambahan-tambahan seperti kelenjar eccrine dan apocrine.
Lapisan epidermis kulit terbagi menjadi 5 lapisan lagi. Lapisan
paling atas adalah stratum korneum, yang terdiri dari sel-sel anukleat dan
terkornifikasi

(sel-sel

keratin).

Stratum

korneum

bertugas

untuk

melindungi lapisan-lapisan dibawahnya, dinamakan lapisan Malphigian.


Lapisan Malphigian terdiri dari stratum granulosum, stratum spinosum,
dan stratum basalis. Dibawah lapisan Malphigian adalah lapisan melanosit.
Stratum basalis (lapisan ke-4) adalah lapisan yang mengandung sel-sel
yang belum berdiferensiasi menjadi keratin di stratum korneum (Sel
Merkel, sel melanosit, dan sel keratinosit). Sel-sel tersebut akan mitosis
dan masuk ke stratum spinosum (lapisan ke-3), dimana sel keratinosit akan
berubah menjadi sel yang berduri agar sel-sel tersebut padat karena tidak
lepas dari satu sama lain. Keratinosit kemudian akan masuk ke stratum
granulosum (lapisan ke-2) dimana sel-sel tersebut akan memproduksi
granul dengan tekstur seperti lilin (waxy lamellar granules) agar kulit
tahan air. Ketika keratinosit sampai di stratum korneum (lapisan ke-1),
keratinosit sudah padat, tahan air, dan anukleat (karena sudah mati,
dinamakan sel korneosit).

Dibawah epidermis adalah lapisan dermis, yang terdiri dari


jeringan ikat fibroelastik. Jaringan ikat tersebut merupakan gabungan dari
kolagen, jaringan elastik, dan cairan kenyal yang berisi glikoprotein, air,
protein mukopolisakarida, dan garam. Lapisan dermis mengandung
banyak pembuluh darah dan saraf, maka apabila ada suatu benda yang
menembus dermis, nyerinya akan sangat hebat. Berbagai kelenjar juga ada
di lapisan dermis.
Dermis dibagi menjadi dua lapisan. Lapisan atas dinamakan pars
papillaris, dan dibawahnya pars retikularis. Pars papillaris terdiri dari
jaringan ikat longgar, dengan sedikit kolagen dan jaringan elastik.
Permukaan pars papillaris membentuk indentasi pada lapisan bawah
epidermis (indentasi berbentuk seperti papillae). Diantara papillae dermis
terdapat lapisan epidermis yang menjorok kebawah, dinamakan rete pegs

Pars retikularis mengandung lebih banyak kolagen dan jaringan


elastik. Pars retiukularis mepunyai ketebalan 1-4mm, terutama di
punggung, paha, abdomen, kulit kepala, telapak tangan, dan kelopak mata.
Dibawah dermis adalah lapisan subkutan, terdiri dari jaringan
areolar dan jaringan lemak. Ketebalan lapisan ini tergantung dari kadar sel
adipose dalam tubuh kita. Lapisan subkutan juga mengandung banyak
kelenjar dan folikula rambut. Kelenjar keringat di lapisan ini adalah
kelenjar eccrine dan apocrine.

Dapat dilihat dari gambar diatas bahwa kelenjar apocrine sekresi


keringat langsung ke dalam folikel rambut. Dari sini dapat dimengerti
bahwa kelenjar apocrine pasti berada di bagian tubuh yang banyak rambut
dan banyak mengeluarkan keringat, yakni bagian aksila dan perineal.
Kelenjar eccrine sekresi keringat ke pars papillaris dermis. Lain
dari kelenjar apocrine, kelenjar eccrine sekresi langsung ke atas kulit, tidak
melalui folikel rambut. Kelenjar eccrine dapat ditemukan di semua bagian
tubuh kecuali glans penis, bibir, dan gendang telinga.
Kelenjar minyak (kelenjar sebaseosa) ditemukan juga di lapisan
subkutan, dan banyak berada di daerah bibir, puting susu, glans penis, dan
labia minora. Seperti kelenjar apocrine, kelenjar minyak juga sekresi
langsung ke folikel rambut.
Dari penjelasan anatomi kulit diatas, dapat dimengerti bahwa tiaptiap bagian kulit membantu dalam pelaksanaan fungsi kulit yang
sebenarnya. Kulit berfungsi sebagai pertahanan tubuh pertama dari infeksi
mikroorganisme. Hal tersebut dicapai oleh lapisan epidermis yang kuat
dan tahan air. Lapisan keratin di epidermis juga membantu mencegah
evaporasi air berlebih dari tubuh. Lapisan melanosit di epidermis
membantu pigmentasi kulit yang akan melindungi kulit dari sinar
ultraviolet. Dermis yang fleksibel karena jaringan kolagen dan jaringan
elastik membantu melindungi kulit dari trauma (kulit tidak akan rapuh).
Vaskularisasi di dermis membantu mengontrol keseimbangan cairan dan

suhu tubuh dengan cara vasokonstriksi atau vasodilatasi kapiler. Salah satu
fungsi kulit adalah sebagai persepsi sentuhan, yang dilaksanakan oleh
saraf-saraf perifer. Pembuluh darah dan saraf di semua bagian tubuh dapat
dilihat di gambar berikut.

Ekskresi minyak dan keringat dibantu oleh kelenjar-kelenjar di


lapisan subkutan, yang akan membantu mengatur suhu tubuh dan
melindungi epidermis dari mikroorganisme. Fisiologi kulit penting
dipahami karena derajat luka bakar akan menentukan fungsi kulit apa saja
yang masih dapat dipertahankan.

III.

Etiologi & Klasifikasi4,5


Walaupun luka bakar yang paling sering terjadi disebabkan oleh kobaran
api atau air panas, masih banyak lagi sebab lainnya. Luka bakar dapat
disebabkan oleh bahan kimia, setruman listrik, radiasi, sambaran petir,
sengatan sinar matahari, air panas, dan api. Secara garis besar etiologi luka

bakar terbagi menjadi tiga kelompok besar yaitu thermal, elektrik, dan
kimiawi.
Luka bakar thermal terdiri dari luka bakar akibat api, kontak dengan benda
panas, dan air panas. Luka bakar dengan etiologi thermal merupakan luka
bakar yang paling sering ditemukan di pelayanan kesehatan dan juga
memiliki mortalitas yang sangat tinggi karena dapat menyebabkan trauma
inhalasi dan keracunan karbon monoksida.
Luka bakar yang disebabkan oleh listrik jarang ditemukan di pelayanan
kesehatan, tetapi mortalitasnya juga tinggi karena dapat menyebabkan
aritmia dan rhabdomyolysis. Maka dari itu, pemeriksaan EKG pada pasien
dengan luka bakar elektrik sangatlah penting. Pada luka bakar yang
disebabkan oleh listrik bertegangan tinggi, sindrom kompartemen dan
rhabdomiolisis bisa terjadi, maka fasiotomi harus segera dilakukan
walaupun keberadaan sindrom kompartemen masih diragukan. Komplikasi
lain dari sengatan listrik bertegangan tinggi adalah gangguan neurologis
dan gangguan penglihatan.
Luka bakar yang disebabkan oleh zat kimia juga sangat jarang namun
sangat berbahaya. Zat kimia yang sering menjadi penyebab luka bakar
adalah hydrofluoric acid karena sering sekali digunakan di pabrik sebagai
cairan pembersih kaca dan metal. Hydrofluoric acid dapat menyebabkan
hipokalsemia. Zat lainnya adalah formic acid, yang dapat menyebabkan
hemolysis dan hemoglobinuria. Zat kimia berhubungan dengan gangguan
sistemik karena zat tersebut diabsorpsi oleh kulit dan masuk ke aliran
darah.

IV.

Patofisiologi Luka Bakar 3,5,6,7


Ketika suatu sumber panas menyentuh kulit manusia, maka akan terjadi
proses pembakaran kulit sebagai hasil dari perpindahan suhu dari sumber
tersebut ke kulit manusia. Proses tersebut menimbulkan tiga zona
konsentris, yakni zona koagulasi, zona stasis, dan zona hyperemia.

Zona koagulasi dapat dilihat sebagai zona yang paling banyak tersentuh
sumber panas. Isi dari zona koagulasi adalah sel-sel kulit yang mati atau
rusak karena nekrosis koagulasi dan hilangnya aliran darah. Pada zona
tersebut kulit akan tampak keputihan atau kehitaman seperti arang
(eschar). Zona stasis disekeliling zona koagulasi biasanya tampak
hiperemis, yang menandakan bahwa aliran darah pada zona tersebut masih
baik, namun terdapat proses stasis. Biasanya setelah 24 jam aliran darah
pada zona tersebut akan berkurang. Hal ini akan terlihat setelah hari ketiga
dimana zona statis akan tampak putih karena jaringannya sudah nekrotik.

Zona hiperemis di sekeliling zona stasis berwarna merah karena aliran


darah masih lancar.

Pada hari keempat, zona hiperemis akan terlihat

sangat merah. Penyembuhan terjadi pada hari ketujuh.


Zona stasis mengalami perubahan karena adanya dermal iskemia yang
terjadi secara progresif. Iskemia dermal disebabkan oleh bradykinin,
histamine, dan prostaglandin yang menstimulasi edema pembuluh darah,
sehingga terjadi oklusi dari lumen pembuluh darah. Lama-kelamaan aliran
darah berkurang, terjadi iskemia yang apabila berkepanjangan, akan
menyebabkan nekrosis jaringan.
Apabila luka bakar yang dialami luas (>30%), maka inflamasi sistemik
akan terjadi. Pembuluh darah akan meningkatkan permeabilitasnya karena
rangsangan sel-sel inflamasi, sehingga banyak cairan yang akan
ekstravasasi

dari

pembuluh

darah,

menghasilkan

hipovolemia.

Hipovolemia akan mengaktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, yang


akan merangsang pembuluh darah untuk vasokonstriksi jadi perfusi
jaringan pun akan berkurang. Pengeluaran katekolamin juga merangsang
vasokonstriksi. Ekstravasasi cairan pada inflamasi lokal maupun sistemik
ditunjukkan dengan adanya bullae, yaitu lesi vesikel kulit yang berisi
plasma.
Pada pasien dengan luka bakar derajat ketiga, maka hemolysis dapat
terjadi sehingga pasien membutuhkan transfusi darah. Pasien dapat merasa
kesulitan bernapas karena histamine, serotonin, dan thromboxane A2 yang
dikeluarkan sebagai respons sistemik menyebabkan bronkokonstriksi.
Trauma inhalasi pada kasus luka bakar adalah suatu komplikasi pada
saluran pernapasan dimana terdapat reaksi inflamasi pada saluran
pernapasan, dimanifestasikan oleh adanya edema saluran pernapasan dan
kolaps alveoli. Walaupun begitu, trauma inhalasi tidak terjadi pada seluruh
bagian dari saluran pernapasan. Trauma inhalasi dapat terjadi hanya di
saluran pernapasan atas, di saluran napas bawah, atau di semua saluran
pernapasan. Trauma inhalasi pada saluran pernapasan atas terjadi biasanya
karena luka bakar thermal, dimana trauma dipicu oleh udara panas pada

lapisan saluran pernapasan. Disipasi panas menyebabkan penutupan laring


(refleks), disertai oleh inflamasi lidah, edema epiglottis, dan lipatan
aryeepiglotic. Hal ini terjadi dalam hitungan 24-48 jam setelah kejadian.
Trauma inhalasi pada saluran napas bawah disebabkan oleh hasil-hasil
kombustio yang terdapat pada asap api. Hal tersebut akan menimbulkan
erosi mukosa, edema, dan bronkokonstriksi reaktif- obstruksi saluran
pernapasan bawah. Trauma pada alveoli akan mengakibatkan pelepasan
prostaglandin, kemokin, sel-sel inflamasi, migrasi neutrophil, dan
peningkatan permeabilitas kapiler sehingga komplikasi pneumonia dan
ARDS rentan untuk terjadi. Proses inflamasi tersebut akan memperburuk
proses ventilasi karena obstruksi saluran pernapasan. Trauma inhalasi pada
seluruh bagian saluran pernapasan disebabkan oleh iritasi zat kimia
(contohnya, dari pembakaran karet atau plastik). Asap dari hasil
pembakaran akan merusak sel epitel dan sel endotel kapiler di saluran
pernapasan. Sel-sel yang memproduksi surfaktan juga akan rusak sehingga
alveoli akan kolaps. Asap yang masuk ke saluran pernapasan akan
merangsang pengeluaran kemotaksin yang kemudian akan membuat
saluran pernapasan penuh akan eksudat (bronkiolar edema).

Luka bakar yang disebabkan oleh sengatan listrik merupakan hasil dari

suatu tegangan listrik yang masuk pada satu titik di tubuh dan keluar pada
titik lain (entry and exit sites). Hal ini jarang terjadi tetapi jika terjadi,
sangatlah berbahaya. Listrik dapat mengalir ke seluruh tubuh, walaupun
tempat masuknya hanyalah titik kecil. Ini diperjelas dengan konsep bahwa
air merupakan salah satu konduktor listrik, dan tubuh manusia dipenuhi
oleh cairan (darah), maka listrik dapat merambat dari satu titik ke titik
lainnya, merusak jaringan yang dilewatinya. Semakin tinggi tegangan
listrik (Volt), semakin tinggi kerusakan yang dapat diperbuatnya. Derajat
kerusakan jaringan dapat dihitung menggunakan rumus 0.24x (Volt)2 x
resistansi listrik (Ohm). Kejadian luka bakar dimana aliran listrik melewati
tubuh dinamakan true high tension injuries, yang terjadi apabila tegangan
listrik minimal 1000V. Akan terjadi kerusakan jaringan, rhabdomyolysis
karena hancurnya otot, dan gagal ginjal karena rhabdomyolysis. Tipe luka
bakar listrik lainnya adalah Flash injury dimana medan listrik mengenai
kulit manusia, sehingga terjadi luka bakar superfisial. Pada flash injury
aliran listrik tidak melewati tubuh.

Pada luka bakar yang disebabkan oleh zat kimia patofisiologinya sama
seperti pada luka bakar termal. Ketiga zona dapat terlihat di kulit, dan
paling sering disebabkan oleh asam hidrofluorik.

V.

Diagnosis5, 8,9
Pada bagian diagnosis akan dijelaskan ciri-ciri dari luka bakar,
termasuk luasnya dan kedalamannya. Evaluasi untuk luka bakar akan
dijelaskan lebih lanjut di bagian tatalaksana.
Kedalaman dari luka bakar diperjelas dengan pembagian luka
bakar menjadi derajat satu, dua, dan tiga. Perbedaan derajat kedalaman
luka bakar dapat dilihat dari tabel berikut.

Luka bakar derajat satu bersifat superfisial (kedalaman hanya


mencapai epidermis), rasanya sangat nyeri tetapi tidak membentuk bullae.
Bullae adalah lesi vesikel di kulit yang berisi cairan plasma. Nyeri terjadi
pada derajat satu karena luka sudah dapat merangsang ujung-ujung saraf
dari lapisan dermis. Kulit akan tampak eritem. Luka bakar derajat satu
biasanya disebabkan oleh terbakar sinar matahari, terkena air panas, dan
karena pancaran flash dari tegangan listrik, dan dapat sembuh sendiri
dalam waktu 5-10 hari. Luka bakar flash adalah luka bakar yang
disebabkan medan listrik yang mengenai kulit.
Luka bakar derajat dua sedalam lapisan dermis, bersifat sangat
nyeri, dan memperlihatkan adanya bullae. Luka bakar derajat dua sangat
nyeri karena dermis adalah lapisan kulit yang mengandung ujung-ujung
saraf (free nerve endings). Luka bakar derajat dua terbagi lagi menjadi
derajat IIa dan derajat IIb. Luka bakar derajat IIa sedalam superfisial
dermis. Kulit akan terlihat hiperemis, terdapat bullae, dan aliran darah
kapiler terkesan lambat. Derajat IIa biasanya disebabkan oleh air panas,
api,

atau

minyak

panas.

Bedanya

dengan

derajat

IIb

adalah

penampakannya yang lebih parah. Pada luka bakar derajat IIb kulit akan
terlihat sangat merah, dengan bullae, sangat nyeri, tetapi aliran kapiler
melambat atau tidak akan teraba sama sekali. Pada derajat IIa akan terlihat
organ kulit masih sisa banyak, namun pada derajat IIb organ kulit akan
tinggal sedikit. Bullae adalah suatu lesi kulit berwujud vesikel yang berisi
cairan. Bullae adalah stratum basalis yang terangkat oleh penumpukan
cairan plasma diatas dermis.
Luka bakar derajat tiga dikenal juga sebagai full thickness burn,
karena proses pembakaran sudah merusak kulit dari epidermis sampai
lapisan subkutan, otot, bahkan tulang. Tidak akan tampak adanya bullae
karena elemen epitel sudah rusak, pigmentasi kulit sudah hilang sehingga
kulit akan terlihat keabu-abuan, tidak nyeri karena saraf sudah rusak, dan
aliran kapiler tidak akan teraba sama sekali. Luka bakar derajat tiga
biasanya disebabkan oleh air panas, api, minyak panas, zat kimia, atau
listrik tegangan tinggi.

Kedalaman luka bakar yang ditandai oleh derajat luka bakar


penting diketahui guna untuk menentukan penanganannya (dijelaskan di
bagian tatalaksana), estimasi waktu yang diperlukan sampai kulit kembali
seperti semula, dan memperkirakan komplikasi-komplikasi yang dapat
terjadi pada pasien. Luka bakar derajat I akan sembuh dalam 7 hari, derajat
IIa dalam 14 hari, derajat IIb dalam 1 bulan, dan derajat III dalam
beberapa bulan apabila dilakukan grafting kulit.

Luas dari luka bakar dapat dihitung menggunakan Rule of Nine,


diagram Lund & Browder, atau menggunakan telapak tangan pasien.

Tentunya luas luka bakar penting diketahui karena mempengaruhi


prognosis dan komplikasi yang dapat menyertainya. Rule of Nine dapat
dilihat di gambar berikut.

Total
seluruh

dari

bagian

adalah 100%. Luas luka bakar dapat dimodifikasi apabila tidak sesuai
dengan diagram. Contohnya, luka bakar hanya pada brachii dihitung
sebagai 4.5% saja, bukan 9%.
Diagram Lund dan Browder lebih dipakai secara internasional.
Diagram adalah sebagi berikut.

Dapat dilihat bahwa diagram ini cenderung lebih akurat karena


dihitung sesuai dengan umur pasien. Nilai pada setiap bagian mempunyai
satuan %.
Penghitungan luas luka bakar menggunakan telapak tangan pasien
dipraktekkan apabila luka tersebar, jauh satu dengan yang lainnya. Satu
telapak tangan pasien dihitung sebagai 1%.

VI.

Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang untuk luka bakar berupa pemeriksaan
elektrolit, darah rutin, kadar karboksihemoglobin, analisa gas darah, kadar
serum laktat, kadar prealbumin, dan foto thoraks. Pemeriksaan tersebut
terutama dilakukan apabila operasi dibutuhkan.10
Elektrolit diperiksa karena elektrolit cenderung mengalami
ketidakseimbangan pada luka bakar. Secara patofisiologis, luka bakar akan
meningkatkan permeabilitas kapiler sehingga terjadi edema. Edema
tersebut akan mengeluarkan natrium dari pembuluh darah ke jaringan
interstisial. Perpindahan natrium akan bersamaan dengan masukanya
kalium ke dalam pembuluh darah, maka terjadilah hiponatremia dan
hyperkalemia. Elektrolit juga diperiksa untuk memastikan apabila pasien
berada dalam fase gawat darurat, fase akut, atau fase remobilisasi cairan.
Pada awal luka bakar terjadi fase gawat darurat dimana edema terjadi,
kemudian terdapat fase akut dimana cairan edema kembali ke dalam
pembuluh darah. Disini kadar kalium akan menurun namun hiponatremia
relatif ada (karena berbanding dengan banyaknya cairan yang kembali ke
lumen pembuluh darah). Kemudian terjadi fase remobilisasi cairan, 24-36
jam setelah awitan, dimana aliran darah menjadi semakin lancar, tetapi
terdapat hipokalemia karena perpindahan kalium ke sel, dan hiponatremia
karena terdapat diuresis natrium di ginjal. 11
Darah rutin diperiksa untuk memeriksa apabila ada infeksi dan
untuk memeriksa derajat perburukan hipovolemia yang terjadi karena
edema.

infeksi akan meningkatkan

kadar leukosit (leukositosis).

Hipovolemia akan meningkatkan kadar hemoglobin dan hematokrit.


Kadar karboksihemoglobin sangat penting untuk diperiksa karena
dapat memprediksi adanya keracunan karbon monoksida (trauma inhalasi).
Keracunan karbon monoksida dapat menyebabkan hipoksia jaringan dan
gangguan neurologis seperti sakit kepala, delirium, dan kejang. Kadar
karboksihemoglobin yang mematikan adalah lebih dari 50%-60%.12
Analisa gas darah dilakukan untuk melihat adanya asidosis

metabolik yang terjadi karena hipovolemia. Kadar serum laktat juga


diperiksa untuk memastikan adanya asidosis metabolik (ditandai dengan
peningkatan metabolism anaerobik yang akan menghasilkan laktat).
Prealbumin adalah protein yang di sintesa di hepar dan merupakan
bagian dari protein fase akut, yang berarti bahwa protein prealbumin dapat
menandakan apabila tubuh sedang mengalami infeksi atau inflamasi fase
akut, termasuk luka bakar fase akut. Pada fase akut ini kadar prealbumin
akan lebih rendah dari seharusnya.
Foto thoraks dilakukan apabila pasien dicurigai menderita trauma
inhalasi. Kelainan pada foto thoraks dapat terlihat 24-36 jam setelah
kejadian, yaitu edema pulmonal, ARDS, hiperinflasi, dan atelektasis.

VII.

Diagnosis Banding13
Luka bakar mempunyai beberapa diagnosis banding tergantung
dari keparahannya. Luka bakar derajat satu, seperti pada luka bakar akibat
sengatan matahari (sunburn), mempunyai diagnosis banding selulitis,
dermatitis kontak alergi (DKA), dan Staphylococcal Scalded Skin
Syndrome (SSSS). Selulitis adalah inflamasi dari kulit dan jaringan
subkutan akibat infeksi Staphylococcus aureus. Selulitis menjadi diagnosis
banding karena mempunyai manifestasi yang mirip dengan sunburn, yakni
eritema, nyeri, dan inflamasi. Bedanya adalah pada selulitis pasien akan
menunjukkan gejala infeksi sistemik seperti meriang, menggigil, dan
demam. Secara lokalis selulitis akan menunjukkan penyebaran limfangitik,
tampak sebagai garis-garis merah yang menjalar dari area infeksi.
Diagnosis banding lainnya untuk luka bakar derajat I (sunburn)
adalah dermatitis kontak alergi, yaitu inflamasi kulit yang disebabkan oleh
allergen tertentu. DKA menjadi diagnosis banding karena penampakannya
yang mirip dengan luka bakar derajat I, yaitu eritema, inflamasi, dan bisa
terdapat eksfoliasi. Pada DKA gejala hanya akan terlihat beberapa hari

setelah paparan terhadap allergen. Ini dapat dibandingkan dengan luka


bakar yang muncul langsung setelah paparan sumber panas. Pada DKA
juga terdapat papul dan vesikel dengan dasar eritematosa, yang tidak
terlihat pada luka bakar.
Staphylococcal Scalded Skin Syndrome (SSSS) adalah kondisi
infeksi Staphylococcus aureus, yang mengakibatkan kulit tampak seperti
terbakar. Gejala akan diawali dengan selulitis ertitematosa dan ruam yang
diikuti oleh eksfoliasi kulit. Pada pasien dengan SSSS akan ada demam,
meriang, dan iritabilitas.
Pada luka bakar derajat II dan III diagnosis bandingnya berupa
Steven-Johnson Syndrome (toxic epidermal necrolysis). Steven-Johnson
Syndrome adalah suatu reaksi alergi yang mematikan. Sindrom tersebut
termasuk diagnosis banding luka bakar karena juga mempunyai
penampakan eritema, bullae, inflamasi, dan terdapat zona sel-sel nekrosis
di tengah lesi yang mirip seperti zona koagulasi luka bakar. Namun
sindrom ini sangat mudah juga dibedakan dengan luka bakar. StevenJohnson syndrome terjadi setelah konsumsi obat tertentu (biasanya
antikonvulsan), dan ruam-ruam yang menyerupai luka bakar akan diawali
secara simetris di wajah dan abdomen. Lesi-lesi akan menyerupai sel target
dan pasien juga akan mengidap batuk, sakit kepala, meriang, dan
arthralgia. Pada sindrom ini pasien juga akan memiliki lesi yang tidak
tampak contohnya pada membrane mukosa atau konjungtiva.

VIII.

Tatalaksana 8,9,14, 15, 16, 17


Penatalaksanaan luka bakar bukanlah suatu proses yang sederhana, karena

suatu luka bakar sendiri dapat mengancam nyawa sehingga tatalaksana harus
sistematis dan cepat.
Ketika seorang pasien dengan luka bakar datang ke instalasi gawat darurat

yang pertama kali harus dilakukan adalah untuk membuka baju beserta semua
perhiasan

pasien.

Kemudian

bagian

tubuh

yang

terbakar

didinginkan

menggunakan air mengalir selama 20 menit. Setelah itu lesi ditutup dengan kasa
kering. Hipotermi dicegah dengan menyelimuti pasien. Analgesia dapat langsung
diberikan (intravena).
Pada saat yang bersamaan, petugas kesehatan dapat melakukan survey
primer, yang terdiri dari pemeriksaan saluran pernapasan (Airway), pemeriksaan
pernapasan (Breathing), sirkulasi darah (Circulation), kelainan neurologis
(Deficit),

dan

mengurangi

pemaparan

sumber

dari

pasien

(Exposure)

(Exposure/Environment).
Pada pemeriksaan saluran pernapasan, inspeksi harus dilakukan untuk
melihat apakah saluran pernapasan tampak kehitaman (menandakan adanya
trauma inhalasi), atau adanya edema atau sumbatan lainnya. Trauma inhalasi juga
dapat dicurigai apabila terdapat dyspnea, luka bakar di mulut dan hidung, batuk
berdahak kehitaman, dan batuk yang kencang. Cara efisien untuk memeriksa
airway, breathing, dan deficit adalah untuk mengajak pasien berbicara dengan cara
menanyakan sesuatu. Apabila pasien dapat menjawab secara relevan maka tidak
ada penyumbatan pada saluran pernapasan, tidak ada gangguan pernapasan, dan
tidak ada gangguan neurologis. Apabila pasien tidak dapat menjawab pertanyaan
maka saluran pernapasan dapat dibuka menggunakan teknin chin lift- jaw thrust,
dan gunakan Goedel apabila diperlukan. Apabila curiga trauma servikal (nyeri
apabila menggerakan leher) maka collar neck harus dipasang.
Pada pemeriksaan pernapasan, laju napas harus dihitung untuk identifikasi
adanya takipneu. Oksigen diberikan melalui nasal kanul, atau intubasi apabila
sudah diperlukan. Apabila tanda-tanda trauma inhalasi ada pada pasien maka
oksigen diberikan menggunakan non-rebreathing mask, 10-12L/menit. Palpasi
costae dilakukan untuk memeriksa adanya fraktur dan auskultasi paru bilateral
dilakukan. Pengembangan dada dilihat, apabila adekuat dan simetris. Keberadaan
eskar juga harus diperiksa, dan apabila mengganggu pengembangan dada maka
eskarotomi harus dilakukan secepatnya. Monitor saturasi oksigen dipasang.
Penurunan saturasi oksigen dapat terjadi karena karacunan karbon monoksida,
yang ditandai oleh kulit yang berwarna merah cherry (cherry red appearance).

Pemeriksaan sirkulasi darah dilakukan dengan cara monitor tekanan darah,


nadi, dan laju pengisian kapiler. Tatalaksana untuk menstabilisasi sirkulasi darah
dilakukan bersamaan dengan resusitasi cairan. Perdarahan aktif dihentikan dengan
cara pemberian tekanan manual. Luka bakar di ekstremitas dapat menyebabkan
edema, maka ekstremitas tersebut baiknya di elevasi dan jika terdapat eskar,
eskarotomi dapat dipertimbangkan.
Pemeriksaan disabilitas pasien adalah untuk mengetahui apabila ada
kelainan neurologis. Hal ini dapat ditinjau menggunakan pemeriksaan GCS, dan
refleks cahaya.
Pemeriksaan eksposure adalah menjauhkan pasien dari barang yang
membahayakannya, yaitu pakaiannya. Seperti sudah dijelaskan diatas, pakaian
pasien beserta perhiasannya harus dibuka semua. Pasien juga harus diselimuti agar
tidak terjadi hipotermia.
Pada pasien luka bakar ditambahkan aspek F yaitu Fluid resuscitation
(resusitasi cairan). Resusitasi cairan diperlukan karena suatu luka bakar akan
menimbulkan respon inflamasi, sehingga terjadi vasodilatasi dan kebocoran
plasma. Hal ini dilakukan apabila pasien memiliki luka bakar seluas >15%
(dewasa) dan 10% (anak-anak). Resusitasi dengan cairan kristaloid (Ringers
Lactate) dapat membantu menggantikan cairan yang hilang. Satu selang intravena
dipasang apabila luka bakar sedang, dan dua selang apabila luka bakar berat.
Jumlah cairan yang diberikan mengikuti rumus Parkland/Baxter yaitu:
3-4ml x kgBB x Luas luka bakar (yang dihitung menggunakan Rule of
Nine atau Lund & Browder).

Setengah dari total cairan tersebut diberikan dalam 8 jam pertama, dan
setengah sisanya diberikan 16 jam kemudian. Untuk anak-anak dapat digunakan
rumus Galveston, dimana 5% dextrose dicampur dengan Ringers Lactate
5000ml/m2 luas tubuh. Seperti rumus Baxter, setengah cairan diberikan dalam 8
jam pertama, setengah sisanya 16 jam kemudian.

Selain cairan, kateter juga dipasang untuk monitor urine output ketika
cairan sedang di resusitasi. Target urine output yang ideal adalah 30ml/jam untuk
dewasa, dan 1-1.5ml/kg/jam untuk anak-anak. Jumlah urine diperiksa tiap jam.
Apabila jumlah urin tidak sesuai ideal, maka jumlah cairan yang diberikan bisa
dimodifikasi sebanyak 1/3 jumlah cairan awal. Contohnya, jika jumlah urin
kurang dari 30ml/jam, maka jumlah cairan yang diberikan dapat ditambah 1/3
kalinya. Cairan yang dibutuhkan akan lebih dari perkiraan rumus apabila pasien
memiliki trauma inhalasi, dan hemokromogenuria, trauma elektrik, apabila
resusitasi terlambat.
Pada hari kedua pasien diberika cairan sesuai kebutuhan faal. Pada anakanak kebutuhan faalnya adalah:
<1 tahun: kgBBx100cc
1-3 tahun: kgBBx75cc
3-5 tahun: kgBBx50cc
Untuk dewasa bisa digunakan rumus Holliday-Segar, yaitu:
10kg pertama: 1000cc
10kg kedua: 500cc
Sisa kg berat badan: 20ml x kg
Transfusi darah tidak dilakukan kecuali sangat dibutuhkan secara
fisiologis. Trauma inhalasi ditangani secara suportif, seperti pemberian oksigen.
Oksigen seringkali diberikan menggunakan selang endotrakeal (terutama apabila
terdapat edema saluran pernapasan). Pasien dapat diberikan nebulisasi
bronkodilator (albuterol), atau N-acetylcysteine yang berguna sebagai antioksidan
agar toksisitas radikal bebas oksigen di saluran pernapasan dan paru-paru akan
berkurang. Apabila tersedia, pasien dapat diberikan heparin semprot (aerosol)
untuk mencegah formasi gumpalan fibrin yang dapat obstruksi saluran
pernapasan. Inhalasi nitric oksida adalah pilihan terakhir untuk pasien dengan
trauma inhalasi. Steroid tidak diberikan pada luka bakar karena akan membuat

kondisi pasien makin buruk.


Untuk penanganan luka bakar secara topikal dapat diberikan krim. Untuk
derajat I & II dangkal luka dapat dioleskan dengan Bioplacenton dan Mebo. Krim
Mebo (Moist Environment Burn Ointment) adalah suatu salep yang dapat
membantu mengurangi rasa nyeri, dapat mempercepat epitelisasi, dan dapat
menarik eksudat dari jaringan interstisial. Derajat I dan II juga dapat diberikan
krim atau cairan Mafenide Acetate, yang berfungsi sebagai antimikrobial
(profilaksis dan pengobatan). Mafenide Acetate dapat menembus eschar, dapat
mengurangi rasa nyeri, namun dapat mencetusan asidosis metabolik karena
inhibisi karbonik anhydrase. Untuk luka bakar derajat III dapat diberikan krim
Dermazin/Bunazin yang berisi silver sulfadiazine. Krim tersebut berfungsi sebagai
profilaksis infeksi pada luka bakar, dapat meringankan rasa sakit, namun dapat
pula merusak skin graft, memperlambat

epitelisasi, dan menyebabkan

neutropenia. Apabila luka bakar sudah hampir sembuh total maka dapat diberikan
krim bacitracin, neomycin, atau polymyxin B.
Pemberian nutrisi yang adekuat lebih penting untuk pasien dengan luka
bakar yang luas (>20%). Nutrisi yang cukup membantu sistem imun untuk
melawan infeksi-infeksi yang dapat terjadi, sekaligus membantu untuk menambah
massa otot yang hilang akibat kondisi hipermetabolik. Protein pada pasien luka
bakar sangat dibutuhkan karena dapat mempercepat pemulihan fungsi ekstremitas
yang terbakar. Nutrisi diberikan secara enteral, dan semakin cepat diberikan maka
ileus gaster dapat dihindari. Suplemen seperti metoclopramide dapat diberikan
untuk mempertahankan motilitas gaster. Jumlah kalori yang dibutuhkan pasien
dapat dihitung menggunakan rumus Harris Benedict atau rumus Curreri. Rumus
Harris- Benedict digunakan apabila luas luka bakar >40% dan pada luka bakar
hasilnya dikalikan dua.

Rumus Curreri mengestimasi bahwa kebutuhan kalori pada pasien luka bakar
adalah 25kcal/kg/dplus40kcal/%TBSA/d.

Pemberian insulin atau metformin menguntungkan bagi pasien luka


bakar karena dapat membantu mempertahankan massa otot dan meredakan
inflamasi.
Tindakanoperatifdibutuhkanpadalukabakarapabilaterdapateschar
yang menyebabkan sindrom kompartemen. Eschar bersifat keras sehingga
elastiitaskulitakanhilang,sementaraedemapadajaringaninterstisialsemakin
bertambah seiring waktu. Hasilnya kulit tidak bisa meregang untuk
menampungedema.Fascia,pembuluhdarah,saraf,akantertekanolehedema
dan eschar yang ada, menyebabkan sindrom kompartemen. Tandatanda
sindrom kompartemen akan dijelaskan di bagian komplikasi. Sindrom
kompartemendapatditemukanpadabagianabdomen,toraks,danesktremitas
yangmengalamilukabakarsirkumferensial.Jikasudahterjadidemikian,maka
tindakan eskarotomi dilakukan, yaitu dengan cara mengiris eskar seperti
ditunjukkanpadagambarberikut.

Eskarotomipadaekstremitasdilakukandengancarainsisipadasisilateraldan
medialekstremitas,sampaithenaratauhipothenartangan.Eskarotomipadathoraks
dilakukandengancarainsisidigarisaksilarisanterior,memanjangsecarabilateral
sampaisubcostaldansubklavikular.Apabilainsisimemanjangsampaiabdomenmaka
dinamakaneskarotomiabdomen.Setelaheskarotomi,tandatandaperfusipadapasien
harus tetap diperiksa secara berkala. Apabila perfusi pasien masih buruk maka
fasiotomidirekomendasikan.
Eksisilukabakarharusdilakukanbeberapaharisejakkejadian.Apabilaluka
bakar sangat luas, maka eksisi berkala dapat dilakukan. Eksisi berupa potongan
potongantangensialkulityangterbakar,memakaipisauWatsonatauGoulian.Eksisi
dilakukansampaiterlihatlapisandermisyangsehattampakpucatdengantitiktitik
perdarahan.Jikalukabakarsangatdalam(contohnya,derajatIII)makaeksisidapat
dilakukansampaimencapaifasia.Eksisidilakukanuntukmempercepatpenyembuhan
danepitelisasi,sekaligusmencegahinfeksi.Kekurangandaritindakaneksisiadalah
perdarahanyangbanyak.Makadariitu,sumberperdarahandapatdisemprotmemakai
fibrinogen dan thrombin (fibrinogen and thrombin spray sealant) atau cairan
epinefrin. Eksisi fascia dilakukan menggunakan kauter listrik untuk mencegah
perdarahanmasiv.
Setelaheksisidilakukanmakalukadapatditutupsampaiepitelisasi terjadi.
Penutupandilakukanmenggunakanautograftatauallograft.Autograftadalahpenutup
lukayangmerupakankulitpasiensendiri.Kulitdidapatkandaripahakarenakulit
pahagampanguntukdijangkau dantidak terlalu terlihat makadari itutidakakan
menggangguaspekestetika.Padapasienlansiaseringkaliautograftdidapatkandari
kulitpunggungyanglebihtebaldarikulitpaha.Padaanakanakautograftdidapatkan
dari kulit bokong. Autograft dibagi menjadi tiga jenis, yakni splitthickness sheet
autografts,meshedautograft,dannonmeshedsheetgrafts.

Splitthickness sheet autografts adalah autograft menggunakan kulit pasien


sendiri,namunsetebalkedalamanpertengahanepidermis.Meshedautograftadalah
autograftmenggunakanmesh(lapisanjaringjaring).Inibiasanyadipakaiuntukluka
bakar yang sangat luas. Jaringjaring yang dipakai membantu drainase darah dan
cairanserosaagartidakakumulasidibawahgraft.Nonmeshedgraftsadalahautograft
yangtidakmenggunakanlapisanjaringjaring,melainkankulityanglangsungdijahit
kelukabakar.Seringkalisplitthicknesssheetautograftdilakukanbersamaandengan
meshed autograft, sedangkan nonmeshed autograft hanya diterapkan sebagai satu
kesatuan.
Selain autograft, terdapat pula allograft yang merupakan skin graft yang
berasaldarimanusialain,yaknimayat(humancadavericallograft).Allografthanya
bersifat sementara karena lamakelamaan respon imun akan menolak keberadaan
allografttersebut.
Perkembangan teknologi memungkinkan adanya kulit sintetik permanent,
contohnya INTEGRA yaitu lapisan kolagenkondroitin sulfat dengan lapisan luar

silastic.Lapisansilasticakanmembantumencegahhilangnyacairan.Lapisandalam
(kolagen kondroitin) adalah lapisan yang tervaskularisasi dan nantinya akan
membentuk neodermis sintetik. Lapisan silastic dibuka setelah 2 minggu dan
kemudian autograft tipis dapat digunakan untuk melapisi neodermis. Satu contoh
lainnya adalah ALLODERMIS yaitu dermis manusia aselular yang telah di
cryopreservasi.Allodermisdigunakanapabilaluaslukabakarsangatmasivsehingga
kulituntukdijadikangraftsangatsedikit.
Kasauntukmenutupgraftadabermacamjenis,antaralainkasatransparan,
kasahidrokoloid,kasapetrolatum, dankasasilversulfadiazine. Kasayangdipilih
merupakanhasilprioritaskenyamananpasien,controlinfeksi,danharga.
Luka bakar akibat radiasi ditangani dengan membuka pakaian pasien dan
irigasilukabakardenganairmengalir.Airmengalirtersebutharusditampungagar
tidakmengkontaminasiairlainnya.Setelahitupenanganansamasepertilukabakar
olehpenyebablainnya.
Selainterapikonservatifdaninvasif,rehabilitasimedikwajibdilakukandari
awalpasiendatangkerumahsakitsampaiselesaiterapi.Rehabilitasimedikpenting
untuk mencegah kehilangan fungsibagian tubuh yangterbakar. Pasien dianjurkan
untuklatihanbergeraksecarapasifsekurangkurangnyaduakalisehari.Jikapasien
mengalamibakardibagiankakimakapasiendianjurkanuntuklatihanberjalantanpa
bantuan tongkat atau asistensi lainnya. Ini dilakukan untuk mencegah inflamasi
berkepanjangan, desensitisasi area luka bakar, dan mencegah atrofi otot. Ketika
pasien berbaring baiknya ekstremitas bawah apabila terbakar di elevasi untuk
meminimalisirbengkak.Jikapasienbarumenjalanipemasangangraftdanbutuhdi
imobilisasi,makahasilgraftharusdievaluasidinidansecaraberkala.Ketikasudah
membaikpasienharuslangsungmobilisasi.
Salahsatumasalahyangdapattimbulpadamasapenyembuhanlukabakar
adalahlukahipertrofik.Lukahipertrofikdapatdiobatimenggunakanbahankompresif
(compression garments), kortikosteroid, dan terapi laser. Terapi laser untuk luka
hipertrofikadalahlaserCO2ablatifdanpulseddyelaser(PDL).PDLmenyebabkan
kekoagulasinekrosiskarenafototermolisishemoglobinmelaluiobliterasikapilerdi

permukaankulit.LaserCO2akanablasijaringansehinggalukaakanterlihatlebih
rata. Dengan ablasi, jaringan laser akan menstimulasi metalloproteinase untuk
reorganisasistrukturkolagensehinggahipertrofiakanhilang.

IX.

Prognosis 17, 18
Prognosis luka bakar dapat diperkirakan menggunakan Baux Score. Baux

Score adalah sebuah nilai yang dihitung melalui rumus umur pasien + luas luka
bakar. Semakin tinggi nilai Baux Score maka makin buruk prognosis pasien. Apabila
nilai Baux score melebihi 140, maka prognosis digolongkan sebagai tidak dapat
diselamatkan. Sekarang Baux Score sudah dimodifikasi karena prognosis pasien
tidak bisa hanya dihitung melalui luas luka bakar, karena luka bakar mempunyai
komorbiditas lainnya seperti trauma inhalasi. Maka dari itu untuk pasien luka bakar
dengan trauma inhalasi rumus Baux Score menjadi umur pasien + luas luka bakar +
170. Mortalitas juga dapat dipengaruhi oleh komorbiditas seperti infeksi HIV, kanker
ganas, trauma lainnya, pneumonia, penyakit liver, dan penyakit ginjal. Tabel berikut
menunjukkan betapa umur, luas luka bakar, dan trauma inhalasi sangat mempengaruhi
mortalitas pasien.

X.

Komplikasi 17, 18
Luka bakar termasuk kondisi yang gawat darurat karena komplikasi yang

dapat menyertainya. Komplikasi luka bakar berupa sindrom kompartemen yang


disebabkan oleh eschar atau resusitasi masiv, pneumonia, thrombosis (DVT),
thrombositopenia, bacteremia, dan gagal napas.
Eschar dapat terbentuk pada suatu kasus luka bakar. Eschar yang berbahaya
merupakan eschar yang terbentuk pada luka bakar sirkumferensial, karena dapat
menimbulkan efek tornikuet pada bagian tubuh yang terlibat. Contohnya, apabila
eschar terdapat di daerah brachii maka efek tourniquet akan terdapat pada regio
tersebut. Hal yang sama juga dapat terjadi di bagian thoraks dan abdomen. Efek
tornikuet tersebut terjadi karena adanya edema pada jaringan interstisial namun kulit
tidak dapat meregang untuk menampung cairan edema karena tertahan eschar yang
sangat kaku. Cairan yang terakumulasi makin lama menjadi banyak dan akan
menekan fascia, saraf, dan pembuluh darah di sekitarnya. Gejala dari sindrom
kompartemen berupa paresthesia, nyeri, perpanjangan waktu pengisian kapiler atau
bahkan hilangnya nadi di distal ekstremitas. Pada sindrom kompartemen abdomen
gejalanya berupa menurunnya jumlah urin, meningkatnya tekanan saluran pernapasan,
dan hipotensi. Pada sindrom kompartemen thoraks gejalanya hampir sama dengan
sindrom kompartemen abdomen, tetapi juga akan disertai hipoventilasi.

Sindrom kompartemen juga dapat terjadi karena resusitasi masiv pada pasien
luka bakar. Ini disebabkan karena cairan yang hilang karena permeabilitas kapiler
yang meningkat, akan akumulasi karena isi dari kapiler akan ditambahakan cairan
resusitasi. Maka dari itu edema akan bertambah seiring waktu dan menimbulkan
sindrom kompartemen.
Pneumonia pada pasien luka bakar seringkali disebabkan oleh mesin ventilator
atau karena trauma inhalasi. Mesin ventilator jika tidak bersih akan sangat rentan
terhadap kolonisasi bakteri, yang kemudian akan mencapai paru-paru dan
mengakibatkan pneumonia. Pada trauma inhalasi, terdapat bronkokonstriksi dan
edema dari saluran pernapasan, sehingga banyak lendir yang akan berada di saluran
secara statis. Bakteri akan dengan sangat mudah berkembang pada lingkungan saluran
seperti itu, dan jika bakteri dapat menginvasi jauh mencapai paru-paru, dapat
mengakibatkan pneumonia. Beberapa cara untuk mencegah hal ini adalah untuk
elevasi kepala pasien, untuk membersihkan ventilator dan daerah orofaring pasien.
Thrombosis (DVT) juga dapat ditemukan pada pasien luka bakar, walaupun
sangat jarang. Ini terjadi karena pasien imobilisasi terus pasca terbakar. Faktor
predisposisi DVT pada pasien luka bakar adalah jenis kelamin (pria), perokok, usia
tua, alkoholik, permukaan tubuh yang terbakar termasuk luas, dan adanya transfusi
darah. Faktor predisposisi tersebut meningkatkan insidens koagulasi darah, kerusakan
endotel, dan stasis darah yang berperan besar pada pembentukan DVT. Pencegahan
DVT dapat dilakukan dengan cara pemberian heparin. Namun heparin juga dapat
menimbulkan trombositopenia sehingga perdarahan dapat terjadi.
Pada pasien luka bakar dapat juga terjadi infeksi pada kateter intravena. Hal
ini dapat menyebabkan bakteremia, dan apabila tidak segera ditangani, berkembang
menjadi sepsis.

Berikut adalah hasil survey komplikasi pasien luka bakar di


Amerika. Dapat dilihat bahwa komplikasi yang paling sering berupa
pneumonia, selulitis, infeksi saluran kemih, dan gagal napas.

XI.

Pembahasan Kasus
Pasien datang dengan luka bakar di bagian belakang paha kiri dan
bokong kiri. Menurut Rule of Nine, terhitung bahwa luas luka bakar pasien
adalah 4.5%. Menurut diagram Lund & Browder seperti yang
diperlihatkan diatas, maka luas luka bakarnya adalah 7 %. Dari
penampakan luka bakar pasien, terlihat bahwa terdapat diskolorasi (kulit
menjadi pink tua), dengan bullae dan rasa nyeri yang hebat. Menurut
deskripsi tersebut, dapat digolongkan bahwa luka bakar pasien termasuk
dalam derajat IIa. Adanya bullae sudah menunjukkan bahwa luka bakar
sudah masuk dalma derajat II, namun masih harus dibedakan IIa atau IIb.
Pasien tergolong IIa karena pada derajat IIb kulit akan terlihat sangat
merah dan aliran kapiler melambat. Pasien tidak tergolong derajat III
karena pasien masih bisa merasakan nyeri, pigmentasi kulit yang terbakar
tidak menjadi keabuan, dan terdapat bullae. Menurut tabel keadalaman

luka bakar diatas, dapat disimpulkan bahwa dalamnya luka bakar pasien
adalah di mid-dermis karena diskolorasi menjadi pink tua dan adanya
bullae. Tidak ada pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien.
Dari penampakan kondisi pasien, tidak ada pemeriksaan penunjang yang
wajib dilakukan. Pasien memiliki tanda-tanda vital yang stabil.
Pemeriksaan penunjang seperti darah rutin boleh dilakukan namun tidak
wajib. Pemeriksaan lainnya yang dijelaskan di tinjauan pustaka hanya
wajib dilakukan apabila operasi akan dilakukan. Tatalaksana yang
diberikan kepada pasien adalah ketorolac IV, IVFD RL 30tpm, kompres
NaCl, dan oles Sibro. Ringer Laktat diperlukan untuk menjaga
hemodinamika pasien, sekaligus juga sebagai pengatur suhu agar tidak
terjadi hipotermia. Rumus Baxter/Parkland tidak harus diterapkan karena
luas hanya 4.5%. Ketorolac IV dapat diberikan untuk mengurangi nyeri,
dan juga salep Sibro untuk mempercepat epitelisasi, menarik eksudat ke
jaringan interstisial, dan mengurangi nyeri. Kompres NaCl diberikan untuk
sterilisasi luka bakar, mencegah penambahan bullae, dan memperbaiki
bagian integritas kulit yang rusak. Pasien langsung lanjut rawat jalan, dan
untuk di rumah pasien diberikan Ketorolac 3x1 sebagai analgesik,
Ciprofloxacin 2x500mg sebagai profilaksis infeksi (antibiotik spectrum
luas), salep Sibro, dan NaCl untuk kompres. Sayangnya bullae luka bakar
pasien disikat di puskesmas, sedangkan hal tersebut sama sekali tidak
boleh dilakukan karena akan meningkatkan jumlah eksudat dan
menghambat epitelisasi. Bullae hanya boleh digunting dasarnya apabila
lebih dari 2cm, namun dibiarkan saja apabila kurang dari 1cm. Pada kasus
pasien ukuran bullae bervariasi. Walaupun begitu, penyikatan bullae pasien
melukai kulit pasien yang sudah mulai epitelisasi. Maka dari itu
pengobatan masih dilanjutkan.

XII.

Daftar Pustaka

Who.int. WHO | Burns [Internet]. 2015 [cited 1 October 2015]. Tersedia di:
http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs365/en/
2

Martina N, Wardhana A. Mortality Analysis of Adult Burn Patients. JPRJournal. 2015;2(2):96100.


3

Edlich R. Thermal Burns: Overview, Pathophysiology, Quantifying Burn Severity [Internet].


Emedicine.medscape.com. 2015 [cited 29 September 2015]. Tersedia di:
http://emedicine.medscape.com/article/1278244-overview#a2
4

Hospitals.unm.edu. Burn Classification [Internet]. 2015 [cited 7 September 2015]. Tersedia di:
http://hospitals.unm.edu/burn/classification.shtml
5

Clarke J. Burns. British Medical Bulletin. 2015;55(4):885-894.

Hettiaratchy S. Pathophysiology and types of burns. BMJ. 2004;328(7453):1427-1429.

DeSanti L. Pathophysiology and Current Management of Burn Injury. Advances in Skin & Wound
Care. 2005;18(6):323-332.
8

Connolly S. Clinical Practice Guidelines: Burn Patient Management ACI Statewide Burn Injury
Service [Internet]. 2nd ed. NSW: AGENCY FOR CLINICAL INNOVATION; 2015 [cited 8
September 2015]. Tersedia di:
http://www.aci.health.nsw.gov.au/__data/assets/pdf_file/0009/250020/Burn_Patient_Management__Clinical_Practice_Guidelines.pdf
9

Management of Burns and Scalds in Primary Care [Internet]. 1st ed. Wellington: ACC; 2015 [cited
5 September 2015]. Tersedia di:
http://www.acc.co.nz/PRD_EXT_CSMP/groups/external_communications/documents/guide/dis_ctr
b094691.pdf
10

Fabia R. Surgical Treatment of Burns Workup: Laboratory Studies, Imaging Studies, Diagnostic
Procedures [Internet]. Reference.medscape.com. 2015 [cited 6 September 2015]. Tersedia di:
http://reference.medscape.com/article/934173-workup
11

Williams N. Fluid Shifting and Electrolyte Shifting in Burn Injuries, Study Guide [Internet].
Scribd. 2015 [cited 7 September 2015]. Tersedia di: https://www.scribd.com/doc/94920354/FluidShifting-and-Electrolyte-Shifting-in-Burn-Injuries-Study-Guide
12

16. Bordow R, Ries A, Morris T. Manual of clinical problems in pulmonary medicine.

13

Harr T. Toxic epidermal necrolysis and Stevens-Johnson syndrome. Orphanet Journal of Rare
Diseases. 2010;5(39):1-11.
14

Rch.org.au. Clinical Practice Guidelines : Burns [Internet]. 2015 [cited 12 September 2015].
Tersedia di: http://www.rch.org.au/clinicalguide/guideline_index/Burns/
15

Saffle J. Practice Guidelines for Burn Care [Internet]. American Burn Association. 2015 [cited 11
September 2015]. Tersedia di: http://www.ameriburn.org/PracticeGuidelines2001.pdf

16

Alharbi Z, Piatkowski A, Dembinski R, Reckort S, Grieb G, Kauczok J et al. Treatment of burns


in the first 24 hours: simple and practical guide by answering 10 questions in a step-by-step form.
World J Emerg Surg. 2012;7(1):13.
17

Schwartz S, Brunicardi F. Schwartz's principles of surgery. New York: McGraw-Hill Medical;


2011.
18

National Burn Repository [Internet]. 8th ed. Chicago: American Burn Association; 2015 [cited 8
September 2015]. Tersedia di: http://www.ameriburn.org/2012NBRAnnualReport.pdf