Anda di halaman 1dari 24

HASIL SMALL GROUP DISCUSSION

MOBILISASI DAN IMOBILISASI

KELOMPOK II SGD
1. Ni Komang Atika Adi Wulandari
2. Komang Noviantari
3. Ni Putu Intan Parama Asti
4. Ni Kadek Amara Dewi
5. Ni Putu Juliadewi Eka Gunawati
6. G. A. Devi Maswiningrum
7. Ni Luh Diah Pradnya Kerthiari
8. I Ketut Dian Lanang Triana
9. I Gusti Ayu Angga Sukmaniti
10. Ni Pande Made Wahyu Diantari
11. Dewa Ayu Lydia Citra Dewi

(1302105005)
(1302105006)
(1302105007)
(1302105008)
(1302105033)
(1302105035)
(1302105036)
(1302105074)
(1302105081)
(1302105082)
(1302105089)

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS UDAYANA

2014
HASIL DISKUSI
TOPIK : MOBILISASI DAN IMOBILISASI
RABU, 15 JANUARI 2014

1. Jelaskan pengertian mobilisasi dalam konteks kesehatan!


Jawaban :
a. Mobilisasi adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal
dan sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan
kesejajaran tubuh selama mengankat, membungkuk, bergerak dan
melakukan aktifitas sehari-hari. (potter &perry)
b. Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk bergerak secara bebas
mudah teratur dan mempunyai tujuan dalam rangka pemenuhan kebutuhan
hidup sehat dan untuk kemandirian. (Barbara, 1991)
c. Mobilisasi adalah suatu kondisi dimana seseorang dapat bergerak dengan
bebas dan mobilitas dibagi menjadi dua bagian yaitu mobilitas aktif dan
pasif.
2. Sebutkan tujuan mobilisasi!
Jawaban :
Beberapa tujuan dari mobilisasi menurut Susan J. Garrison (2004),
antara lain :
a.

Mempertahankan fungsi tubuh

b.

Memperlancar

peredaran

darah

sehingga

mempercepat

penyembuhan luka
c.

Membantu pernafasan menjadi lebih baik

d.

Mempertahankan tonus otot

e.

Memperlancar eliminasi Alvi dan Urin

f.

Mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali


normal dan atau dapat memenuhi kebutuhan gerak harian.

g.

Memberi kesempatan perawat dan pasien untuk berinteraksi atau


berkomunikasi

Tujuan mobilisasi yang lainnya antara lain :


a.

Memenuhi kebutuhan dasar manusia

b.

Mencegah terjadinya trauma

c.

Mempertahankan tingkat kesehatan

d.

Mempertahankan interaksi sosial dan peran sehari - hari

e.

Mencegah hilangnya kemampuan fungsi tubuh

3. Sebutkan dan uraikan sistem tubuh yang berperan dalam proses


mobilisasi!
Jawaban :
Koordinasi gerakan tubuh merupakan fungsi yang terintegrasi dari
sistem skeletal, otot skelet, dan sistem saraf :
a. Sistem skeletal
Skelet adalah rangka pendukung tubuh yang terdiri dari empat tipe tulang
yaitu tulang panjang, tulang pendek, tulang pipih dan tulang ireguler.
Selain itu, dalam sistem skeletal juga terdapat sendi, ligamen, tendon, dan
kartilago. Sendi merupakan hubungan di antara tulang dimana ada yang
dapat terjadi gerakan dan tidak terjadi gerakan sama sekali. Ligamen
adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih, mengilat, fleksibel
mengikat sendi menjadi satu dan menghubungkan tulang dengan kartilago.
Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih, mengilat, yang
menghubungkan otot dengan tulang. Kartilago adlah jaringan penyambung
yang tidak mempunyai vaskuler, yang terletak biasanya di sendi dan
toraks, trakhea, laring, hidung dan telinga.
Skelet merupakan tempat melekatnya otot dan ligamen. Katan ini
menyebabkan gerakan dari bagian skelet seperti membuka dan menutup
atau melurusakan lengan atau kaki.
b. Otot skelet
Gerakan tulang dan sendi merupakan proses aktif yang harus terintegrasi
secara hati-hati untuk mencapai koordinasi. Karena kemampuannya untuk
berkontraksi dan berelaksasi, otot skelet merupakan elemen kerja dari
pergerakan. Elemen kontraktil otot skelet dicapai oleh struktur anatomis
dan ikatannya pada skelet. Otot yang penting dalam pergerakan melekat di
regio skelet tempat pergerakan itu ditimbulkan oleh pengungkitan. Otot
yang penting dalam membentuk postur/kesejajaran tubuh berbentuk
pendek, menyerupai kulit karena membungkus tendon dengan arah miring
dan berkumpul secara yidak lansung pada tendon.

c. Sistem saraf
Pergerakan dan postur tubuh diatur oleh sistem saraf. Area motorik
volunter utama berada di korteks serebral yaitu di girus prasetral atau jalur
motorik. Umumnya serabut motorik turun dari jalur motorik dan
bersilangan pada tingkat medula. Sehingga serabut motorik dari jalur
motorik kanan mengawali gerakan volunter untuk tubuh bagian kiri dan
serabut motorik dari jalur kiri mengawali gerakan volunter untuk tubuh
bagian kanan. Selama gerakan volunter impuls turun dari jalur motorik ke
medula spinalis. Impuls keluar dari medula spinalis melalui saraf motorik
eferen dan berjalan melalui saraf ke otot sehingga terjadi gerakan.
Sistem tubuh yang berperan dalam mobilitas adalah sistem
musculoskeletal, yang terdiri dari sendi, otot, system syaraf, tendon,
kartilago, bursa, propriosepsi.
1) Sendi
Sendi merupakan hubungan antartulang, dimana sendi tersebut
mempunyai struktur, fungsi dan tingkat mobilisasi yang berbeda-beda.
Berdasarkan strukturnya sendi diklasifikan menjadi 4 sendi,
yaitu:
-

Sendi Sinostotik yaitu sendi yang mengacu pada ikatan tulang


dengan tulang, namun tidak ada pergerakan dan jaringan tulang
yang dibentuk di antara tulang mendukung kekuatan dan stabilitas.
Misalnya, sacrum pada sendi vertebra.

Sendi Kartilaginus disebut juga sendi sinkondrodial, yaitu sendi


yang permukaannya disatukan dengan kartilago dan memiliki
sedikit pergerakan serta elastis. Misalnya, sendi kostosternal antara
sternum dan iga.

Sendi fibrosa disebut juga sendi sindesmodial, yaitu sendi yang


permukaaan tulang disatukan dengan ligamet atau membran.Serat
atau ligamennya fleksibel dan dapat diregangkan, dan dapat
bergerak dengan jumlah terbatas. Misalnya,
bawah yaitu tibia dan fibula.

tulang pada kaki

Sendi synovial atau sendi yang sebenarnya adalah sendiyang dapat


digerakkan secara bebas karena permukaan tulang yang berdekatan
dilapisi oleh kartilago artikular dan dihubungkan oleh ligament
sejajar dengan membrane synovial.Misalnya, sendi yang terapat
pada humerus yang dihubungkan dengan radius dan ulna
dihubugkan oleh kartilago dan ligamen menbentuk sendi putar.

Sedangkan, berdasarkan fungsinya sendi diklasifikasikan ke


dalam 3 bagian, yaitu :
-

Sendi Sinartrosis. Sendi Sinartosis merupakan sendi mati, dimana


sendi

ini

dibungkus

dengan

jaringan

ikat

fibrosa atau

kartilago.Sendi Sinartrosis terdiri atas:

Sutura yaitu sendi yang dihubungkan dengan jaringan ikat


fibrosa rapat yang hanya ditemukan pada tulang tengkorak.
Misalnya, sutura sagital dan parietal.

Sinkondrosis yaitu sendi yang tulang-tulangnya dihubungkan


dengan kartilago hialin. Misalnya, lempeng epifisissementara
antara epifisis dan diafisis pada tulang panjang anak.

Sendi

Amfiartosis.

Sendi

Amfiartosis

adalah

sendi yang

memungkinkan terjadinya gerakan terbatas sebagai respon terhadap


torsi dan kompresi. Yang terdiri atas :

Simfisis yaitu sendi yang kedua tulangnya dihubungkan


dengan diskus kartilago,

yang

menjadi

bantalan

sendidan memungkinkan terjadi sedikit gerakan.


Misalnya, simpisis pubisb.

Sindesmosis yaitu sendi yang terbentuk saat tulang-tulang yang


berdekatandihubungkan dengan serat-seratjaringan ikat
kolagen.

Misalnya,

ditemukan pada tulang yang bersisihan,

seperti radius dan ulna, serta tibia dan fibula.

Gomposis yaitu sendi dimana tulang berbentuk kerucut masuk


dengan tepat di dalam kantong tulang, seperti pada gigi yang
tertanam pada tulang rahang.

Sendi Diartosis. Sendi Diartosis adalah sendi yang pergerakannya


bebas. Yang terdiri atas :
Sendi sferoidal terdiri dari sebuah tulang yang masuk ke dalam
rongga berbentuk cangkir pada tulang lain. Misalnya, sendi

panggul dan bahub.


Sendi engsel terdiri dari sebuah tulang yang masuk dengan pas
pada permukaan konkaf tulang kedua, sehinggamemungkinkan

gerakan kesatu arah. Misalnya, sendi lutut dan siku.


Sendi kisar yaitu tulang bentuk kerucut yang masuk tepat pada
cekungan tulang kedua dan dapat berputar kesemuaarah.

Misalnya, tulang atas, persendian bagian kepalad.


Sendi kondiloid, merupakan sendi biaksial,

yang

memungkinkan gerakan kedua arah disudut kanan setiap

tulang. Misalnya, sendi antara tulang radius dan tulang karpale.


Sendi pelana yaitu sendi dimana permukaan tulang yang
berartikulasi berbentuk konkaf disatu sisi dan konkaf pada
sisi lain,sehingga tulang akan masuk dengan pas seperti dua
pelana yang saling menyatu. Satu-satunya sendi pelana sejati
adalah persendian antara tulang karpal dan metakarpal pada ibu

jari.
Sendi peluru adalah salah satu sendi yang permukaan kedua
tulang berartikulasi berbentuk datar, sehingga memungkinkan
gerakan meluncur antara satu tulang dengan tulang yang
lainnya. Persendian semacam ini disebut sendi nonaksia.

2) Otot
Otot merupakan

yang

menimbulkan

pergerakan

pada

tubuh

manusia.Otot melekat pada rangka manusia. Kontraksi otot dirangsang


oleh impuls elektrokimia yang berjalan melalui sambungan mioneural,
yang akan menyebabkan aktin tipis yang mengandung filamen menjadi
memendek,

kemudian

otot

berkontraksi.

Adanya

stimulus

menghasilkan otot relaksasi.Kontraksi otot terdiri dari kontraksi


isotonik, dimana disini terjadi peningkatan tekanan otot yang dapat
menyebabkan

otot

memendek.Sedangkan,

kontraksi

isomerik

menyebabkan peningkatan tekanan otot atau kerja otot tetapi tidak ada

pemendekan atau gerakan aktif dari otot, misalnya, menganjurkan


klien untuk latihan kuadrisep.
3) Sistem Syaraf
Pergerakan dan sistem tubuh diatur oleh sistem saraf.Sistem saraf
merupakan jaringan kompleks saraf dan sel-sel yang membawa pesan
dari dan ke otak dan sumsum tulang belakang ke berbagai bagian
tubuh.Sistem saraf meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf perifer.
Sistem saraf pusat terdiri dari otak dan sumsum tulang belakang dan
Sistem saraf perifer terdiri dari somatik dan sistem saraf otonom.

4) Tendon
Tendon adalah jaringan ikat fibrosa berwarna putih,mengkilat, yang
menghubungkan otot dengan tulang. Tendon bersifat kuat, fleksibel,
dan tidak elastis, serta mempunyai panjang dan ketebalan yang
bervariasi.
5) Kartilago
Kartilago adalah jaringan penyambung yang tidak mempunyai
vaskuler, terutama berada di sendi dan toraks, trakhea, laring, hidung,

dan telinga.Bayi mempunyai sejumlah besar kartilago temporer.


Kartilago permanen tidak mengalami osifikasi kecuali pada usia lanjut
dan penyakit, seperti osteoarthritis.
6) Ligamen
Ligamen adalah ikatan jaringan fibrosa yang berwarna putih,
mengkilat,fleksibel, mengikat sendi menjadi satu dan menghubungkan
tulang dengan kartilago. Ligamen bersifat elastic sehingga membantu
fleksibilitas sendi dan mendukung sendi.Selain itu, beberapa ligament
memiliki

fungsi

protektif.Misalnya,

ligament

antarvertebra,

ligamennonelastis, dan ligament flavum mencegah kerusakan medulla


spinalis (tulang belakang) saat punggung bergerak.
7) Propriosepsi
Propriosepsiadalah sensasi yang dicapai melalui stimulasi dari bagian
tubuh tertentu dan aktifitas otot.Proprioseptor memonitor aktifitas otot
dan posisi tubuh secara berkesinambungan. Misalnya:proprioseptor
pada telapak kakberkontribusi untuk memberi postur yang benar ketika
berdiri atau berjalan.
4. Sebutkan dan uraikan faktor-faktor yang mempengaruhi mobilisasi
klien!
Jawaban :
a. Sistem neuromuskular : yaitu kemampuan otot, tulang, dan saraf
dalam mengendalikan gerakan (mobilisasi).
b. Gaya hidup : gaya hidup seseorang dalam mobilisasi misalnya
seorang ABRI akan berjalan dengan gaya yang berbeda dengan
seorang pramugari atau orang yang sedang mabuk. Selain itu, orang
yang senang berolahraga cenderung lebih banyak melakukan
mobilisasi.
c. Ketidakmampuan : yaitu sistem sistem tubuh yang berperan dalam
mobilisasi tidak mampu dalam mengoordinasikan pergerakan.
d. Kebudayaan : kebudayaan dapat mempengaruhi pola dan sikap dalam
melakukan aktivitas. Misalnya seorang anak desa yang sehari-hari
bersekolah dengan berjalan kaki akan berbeda mobilitasnya dengan
anak kota yang bersekolah dengan mobil.

e. Tingkat energi : dalam mobilisasi setiap orang pasti memerlukan


energi. Orang yang sedang sakit tentu saja akan berbeda mobilitasnya
dengan orang biasa apalagi dengan seorang atlet.
f. Tingkat perkembangan
-

Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas


lentur dan persendian memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku
karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke depan dan tidak
seimbang sehingga mudah terjatuh.

Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang


belakang servikal dan lumbal lebih nyata.

Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan


tungkai tumbuh. Otot, ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat,
berakibat pada perkembangan postur dan peningkatan kekuatan
otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan
tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.

Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu


dibanding yang laki-laki. Pinggul membesar, lemak disimpan di
lengan atas, paha.

Perubahan

laki-laki

pada

bentuk

biasanya

menghasilkan

pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa otot.


Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit.
Perkembangan otot meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai
atas.
-

Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik.

Perubahan

normal pada tubuh dan kesegarisan tubuh pada orang dewasa


terjadi terutama pada wanita hamil.

Perubahan ini akibat dari

respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan


fetus. Pusat gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil
bersandar ke belakang dan agak berpunggung lengkung.

Dia

biasanya mengeluh sakit punggung.


-

Lansia: kehilangan progresif pada massa tulang total terjadi pada


orangtua.

g. Kondisi patologik
-

Postur abnormal:

Tortikolis: kepala miring pada satu sisi, di mana adanya


kontraktur pada otot sternoklei domanstoid.

Lordosis: kurva spinal lumbal yang terlalu cembung ke depan/


anterior.

Kifosis: peningkatan kurva spinal torakal.

Kipolordosis: kombinasi dari kifosis dan lordosis.

Skolioasis: kurva spinal yang miring ke samping, tidak


samanya tinggi hip/ pinggul dan bahu.

Kiposkoliosis: tidak normalnya kurva spinal anteroposterior


dan lateral.

Footdrop: plantar fleksi, ketidakmampuan menekuk kaki


karena kerusakan saraf peroneal

Gangguan perkembangan otot, seperti distropsi muskular, terjadi


karena gangguan yang disebabkan oleh degenerasi serat otot
skeletal

Kerusakan sistem saraf pusat

Trauma langsung pada sistem muskuloskeletal: kontusio, salah


urat, dan fraktur.

5. Kasus : Tn Adi, 47 tahun, mengalami kelumpuhan pada seluruh anggota


gerak tubuhnya pasca serangan stroke seminggu yang lalu. Sebagai
seorang perawat, uraikan tindakan yang dapat Anda lakukan untuk
mengatasi masalah fisik dan risiko yang dapat muncul pada Tn Adi!
Jawaban :
a. Kasus Tn Adi termasuk dalam mobilitas permanen, karena
kemampuan individu untuk bergerak dengan batasan yang sifatnya
menetap. Hal tersebut disebabkan oleh rusaknya system saraf yang
reversible.
b. Tindakan Untuk mengatasi maslah Tn Adi :

Pengaturan Posisi Tubuh sesuai Kebutuhan Pasien


Pengaturan posisi dalam mengatasi masalah kebutuhan mobilitas,
digunakan untuk meningkatkan kekuatan, ketahanan otot, dan
fleksibilitas sendi. Posisi-posisi tersebut, yaitu :

Posisi fowler

Posisi sim

Posisi trendelenburg

Posisi Dorsal Recumbent

Posisi lithotomi

Posisi genu pectoral

Ambulasi dini
Cara ini adalah salah satu tindakan yang dapat meningkatkan kekuatan
dan ketahanan otot serta meningkatkan fungsi kardiovaskular..
Tindakan ini bisa dilakukan dengan cara melatih posisi duduk di
tempat tidur, turun dari tempat tidur, bergerak ke kursi roda, dan lainlain.
Melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri juga dilakukan untuk
melatih kekuatan, ketahanan, kemampuan sendi agar mudah bergerak,
serta meningkatkan fungsi kardiovaskular.

Latihan isotonik dan isometrik


Latihan ini juga dapat dilakukan untuk melatih kekuatan dan
ketahanan otot dengan cara mengangkat beban ringan, lalu beban yang
berat. Latihan isotonik (dynamic exercise) dapat dilakukan dengan
rentang gerak (ROM) secara aktif, sedangkan latihan isometrik (static
exercise) dapat dilakukan dengan meningkatkan curah jantung dan
denyut nadi.

Latihan ROM Pasif dan Aktif


Latihan ini baik ROM aktif maupun pasif merupakan tindakan
pelatihan untuk mengurangi kekakuan pada sendi dan kelemahan otot.
Latihan-latihan itu, yaitu :

Fleksi dan ekstensi pergelangan tangan

Fleksi dan ekstensi siku

Pronasi dan supinasi lengan bawah

Pronasi fleksi bahu

Abduksi dan adduksi

Rotasi bahu

Fleksi dan ekstensi jari-jari

Infersi dan efersi kaki

Fleksi dan ekstensi pergelangan kaki

Fleksi dan ekstensi lutut

Rotasi pangkal paha

Abduksi dan adduksi pangkal paha

Latihan Napas Dalam dan Batuk Efektif


Latihan ini dilakukan untuk meningkatkan fungsi respirasi sebagai
dampak terjadinya imobilitas.

Melakukan Postural Drainase


Postural drainase merupakan cara klasik untuk mengeluarkan sekret
dari paru dengan menggunakan gaya berat (gravitasi) dari sekret itu
sendiri. Postural drainase dilakukan untuk mencegah terkumpulnya
sekret dalam saluran napas tetapi juga mempercepat pengeluaran
sekret sehingga tidak terjadi atelektasis, sehingga dapat meningkatkan
fungsi respirasi. Pada penderita dengan produksi sputum yang banyak,
postural drainase lebih efektif bila diikuti dengan perkusi dan vibrasi
dada.

Melakukan komunikasi terapeutik


Cara ini dilakukan untuk memperbaiki gangguan psikologis yaitu
dengan cara berbagi perasaan dengan pasien, membantu pasien untuk
mengekspresikan kecemasannya, memberikan dukungan moril, dan
lain-lain.

c. Risiko yang mungkin terjadi pada Tn Adi :


- Adanya luka akibat nyeri tekan.
- Atrofi Otot
- Masalah psikologi contohnya rasa cemas

Masalah social menarik diri

6. Carilah 1 jurnal atau artikel ilmiah mengenai intervensi keperawatan


pada pasien dengan hambatan mobilisasi dan buatlah hasil review
kelompok terhadap content jurnal tersebut!
Jawaban :

REVIEW JURNAL
EFEKTIFITAS ROM PASIF DALAM MENGATASI KONSTIPASI PADA
PASIEN STROKE DI RUANG NEURO BADAN LAYANAN UMUM
DAERAH (BLUD) RSU DR. M.M DTJNDAKABUPATEN GORONTALO
Mira Astri Koniyo

PENDAHULUAN
Salah satu

tujuan bangsa Indonesia yang tercantum dalam Undang-

Undang Dasar (UUD) 1945 adalah mewujudkan dan memajukan kesejahteraan


umum yakni mewujudkan masyarakat makmur dan berkeadilan sosial yang
mencerminkan kesejahteraan lahir dan batin. Salah satu indikasi keberhasilan dari
hal-hal tersebut adalah bila derajat kesehatan telah tercapai secara optimal. Upaya
yang ditempuh dalam merealisasikan tujuan itu dengan kuratif (penyembuhan),
promotif (pendidikan), preventif (pencegahan), dan rehabilitative (pemulihan).
Salah satu penyakit yang membutuhkan upaya tersebut adalah stroke.
Stroke menyerang siapa saja, dari muda sampai lansia dan dari yang kaya
sampai miskin. Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak)
yang ditandai dengankematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena
berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Ini disebabkan karena adanya
sumbatan, penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah. Stroke adalah kematian
sel otak yang mendadak karena gangguan sirkulasi darah ke otak. Akibatnya
terjadi ketidaknormalan fungsi otak.

Dengan pemulihan secara terpadu dan sedini mungkin maka semakin besar
kemungkinan pengembalian fungsi. Komplikasi lebih lanjut terjadi setelah fase
akut

stroke

terlampaui.

Komplikasi

yang

terjadi

biasanya

imobilisasi,

inkontinensia alvi (konstipasi).


Salah satu bentuk tindakan keperawatan adalah pasien dibantu untuk
bergerak atau ROM (Range Of Motion). ROM adalah latihan gerakan sendi yang
memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot baik aktif maupun pasif.
Data yang diperoleh dari BLUD RSU DR. M.M Dunda Kab. Gorontalo
tahun 2008 pasien neuro sebanyak 138 orang. Tahun 2009 sebanyak 201 orang.
Dan bulan Januari tahun 2010 sebanyak 24 orang. Dari data pasien mayoritas
mengalami konstipasi dini yakni konstipasi. Pencegahan terhadap komplikasi ini
dengan ROM yang teratur secara tepat waktu dan sesuai kondisi pasien.
Perlu diteliti apakah efektif tindakan ROM pasif dilakukan pada pasien
stroke untuk mengatasi masalah konstipasi di Ruang Neuro BLUD RSU DR.
M.M Dunda Limboto, kabupaten Gorontalo.

TINJAUAN UMUM TENTANG STROKE

1. PENGERTIAN STROKE
Menurut Muttaqin, 2008; 234 stroke merupakan kelainan fungsi
otak yang timbul mendadak yang disebabkan terjadinya gangguan
peredaran darah otak dan bisa terjadi pada siapa saja dan kapan saja.
Menurut WHO, 1997 stroke adalah salah satu gangguan fungsional yang
terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal maupun
global yang berlangsung dengan cepat, berlangsung lebih dari 24 jam atau
berakhir dengan kematian, disebabkan oleh gangguan pembuluh darah
otak. Marilyn E. Doengoes (2A02), menyebutkan bahwa stroke/penyakit
sercbrovashtler menunjukan adanya beberapa kelainan otak baik secara

fungsional maupun struktural yang disebabkan oleh keadaan patologis dari


pembuluh darah serebral atau dari seluruh sistema perrbuluh darah otak.

2. PENYEBAB STROKE
a. Trombosis serebri
1. Aterosklerosis
2. Hiperkoagulasi pada polisitemia
3. Arteritis
b. Emboli
c. Hemoragik
1. Aneurisma
2. Malformasi artreriovena
3. Ruptur arteriol serebri
d. Hipoksio umum
1. Hiperterai yang parah
2. Henti jantung paru
3. Curah jantung turun akibat oritmia
e. Hipoksia lokal
1. Spasme arteri serebri yang disertai perdarahan subarachnoid
2. Vasokontriksi arteri otak disertai sakit kepala migren

3. KLASIFIKASI STROKE
a. Stroke Hemoragik (SH)
b. Stroke Non Hemoragik (SNH)

4. PATOFISIOLOGI
a. Stroke Hemoragik (SH)
Pembuluh darah otak yang pecah menyebabkan darah mengalir ke
substansi atau ruangan subar achnoid yang menimbulkan perubahan
komponen intracranial yang seharusnya konstan. Adanya perubahan
komponen intracranial yarg tidak dapat dikompensasi tubuh akan
menimbulkan peningkatan Tekanan Intra Kranial (fIK) yang bila
berlanjut akan menyebabkan herniasi otak sehingga timbul kematian.
b. Stroke Non Hemoragik (SNH)

Trombus umumnya terjadi karena berkembangnya aterosklerosis pada


dinding pembuluh darah, sehingga arteri menjadi tersumbat aliran
darah ke area thrombus menjadi berkurang, menyebabkan iskemia
kemuadian menjadei kompleks iskemia dan akhirnya terjadi infark
pada jaringan otak.

5. MANIFESTASI KLINIK
a. Stroke Non Hemoragik (SNH)
1. Hemiparesis
2. Kehilangan bicara
3. Parestesla satu sisitubuh
b. Stroke Hemoragik
1. Nyeri kepala hebat (di belakang leher)
2. Vertigo (pusing) I sinkape
3. Parestesla (sensasi abnormal)
4. Paralisis
5. Epistaksis
6. Perdarahanretina
c. Penemuan SecaraUmum
1. Nyerikepala
2. Muntah
3. Kejang
4. Perubahan mental
5. Demam
6. Perubahan Elektro Kardio Grafi

6. FAKTOR RESIKO STROKE


Faktor resiko yang kuat terjadi stroke yaitu hipertensi, periyakit jantung,
sudah adanya manifestasi artero sklerotik secara klinis, diabetes melitus,
kalesterol. Sedang factor resiko yang lemah terjadinya stroke antara lain
adanya kadar lemak darah yang tinggi, aneurisma pembuluh darah
cerebral, merokok, obesitas, kurang gerak atau olalraga (Lunrbantobing,
1994).

7. KOMPLIKASI

Berbagai komplikasi lanjut stroke akibat imobilisasi adalah konstipasi,


inkontinansia urine dan dekubitus

8. PENATALAKSANAAN MEDIS
a. posisi kepala dan badan atas 20-30 derajat posisi miring j ika muntah
b. Boleh dimulai mobilisasi bertahap jika hemodinamika stabil
c. Bebaskan jalan nafas dan pertahankan ventilasi yang adekuat, bila

d.
e.
f.
g.
h.

perlu diberikan oksigen sesuai kebutuhan


Tanda-tanda vital diusahakan stabil
Bedrest
Koreksi adanya hiperglikemia atau hipoglikemia
Pertahankan keseimbangan cairan dan elektuolit
Pemberian cairan intravena berupa kristaloid atau koloid dan hindari
penggunaan glukosa murni atau cairan hipotonik

TINJAUAN UMUM TENTANG KONSTIPASI


1. PENGERTIAN
Konstipasi merupakan suatu keluhan, bukan panyakit. Konstipasi sering
diartikan sebagai kurangnya frekuensi buang air besar (BAB), biasanya
kurang dari 3 kali per minggu dengan feses yang kecil-kecil dan keras,
serta kadang kala disertai kesulitan mmpri rasa sakit saat BAB.

2. PENYEBAB
Konstipasi disebabkan oleh berubahnya makanan atau berkurangnya
aktivitas fisik. Konstipasi juga disebabkan oleh obat-obatan ntertentu,
gangguan rektal/anal, kondisi metabolis, neurologis, dan lain-lain. Faktor
penyebab lainnya mencakup kelemahan, imobilitas, kecacatan, keletihan,

dan ketidakmampuan untuk meningkatkan tekanan intra-abdomen untuk


mempermudah pengeluaran feses.

3. PATOFISIOLOGI
Pada penderita dengan gangguan mobilitas fisik, seperti fraktur, stroke
ataupun penyakit lain yang menghanrskan pasien bedrest dalam jangka
waktu yang lama hal ini dapat mempengaruhi kontraksi otot abdomen,
sehingga kontaktilitas usus kurang bahan tidak ada konstipasi dapat timbul
dari adanya defek pengisian maupun pengosongan rektum. Pengisian
rektum yang tidak sempuma terjadi bila peristaltik kolon tidak efektif
(misalnya pada kasus immobilisasi).

4. DIAGNOSIS
Konstipasi menurut Holson, meliputi paling sedikit 2 dari keluhan
dibawah ini:

a.
b.
c.
d.

Konsistensi feses yang keras


Mengejan dengan keras saat BAB
Rasa tidak tuntas saat BAB
Frekuensi BAB 2 kali seminggu atau kurang.

5. INTERVENSI KEPERAWATAN
a. auskultasi bisisng usus
b. ROM Pasif
c. Berikan cairan yang cukup
d. Kolaborasi pemberian terapi

TINJAUAN UMUM TENTANG ROM PASIF

1. PENGERTIAN ROM
ROM atau biasa dikenal dengan rentang gerak adalah latihan gemkan
sendi yang memungkinkan terjadinya kontraksi dan pergerakan otot
dimana klien menggerakan masing -masing persendiannya sesuai gerakan
normal baik secara aktif ataupun pasif (Anonimity,2010)

2. TUJUAN ROM
a. Meningkatkan dan mempertahankan fleksibelitas dan kekuatan otot
b. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
c. Mencegah kontaktur dan kekakuan sendi

3. JENIS- JENIS ROM


a. ROM Aktif : pasien bergerak mandiri
b. ROM Pasif : pergerakan dibantu oleh perawat

4. JENIS GERAKAN
a. Fleksi
b. Ekstensi
c. Hiperekstensi
d. Rotasi
e. Sirkumduksi
f. Supinasi
g. Pronasi
h. Abduksi
i. Aduksi

5. SENDI YANG DIGERAKAN


a. ROM Aktif : seluruh tubuh
b. ROM Pasif : hanya pada ekstremitas yang terganggu

6. INDIKASI
a. Stroke atau penurunan tingkat kesadaran

b. Kelemahan otot
c. Fase rehabilitasi fisik
d. Klien dengan tirah baring yang lama

7. EFEKTIFITAS ROM PASIF


Sebelum intervensi, pasien stroke dilakukan pretest apakah mereka
merasakan konstipasi. Setelah itu dilakukan ROM Pasif setiap hari dan
rutin. Setelah 5 hari, dilakukan post test (wawancara).

8. CARA ROM PASIF


a. Latihan fisik anggota gerak atas
1. Menekuk dan meluruskan sendi bahu
2. Menekuk dan meluruskan siku
3. Memutar pergelangan tangan
4. Menekuk dan meluruskan pergelangan tangan
5. Memutar ibu jari
6. Menekuk dan meluruskan jari tangan
b. Latihan fisik anggota gerak bawah
Menekuk dan meluruskan pangkal paha

METODE
Jenis penelitian Quasi Eksperimen. Sebelumnya melakukan pretest
terhadap responden, selanjutnya intervensi ROM pasif setelah itu pengukuran dan
post test.
1. POPULASI
Seluruh pasien stroke di ruang neuro BLUD RSUD DR. M.M Dunda
Limboto Gorontalo. 24 pasien stroke.

2. SAMPEL
Pasien stroke di ruang neuro BLUD RSUD DR. M.M Dunda Limboto
Gorontalo yang mengalami konstipasi

3. SAMPLING
Digunakan non probability sampling dengan metode purposive sampling
dengan mempertimbangkan criteria inklusi dan eksklusi.
1. Data primer
Didapat langsung dari responden dan pengumpulan data di ruang
neuro BLUD RSUD DR. M.M Dunda Limboto Gorontalo
2. Data Sekunder
Didapat dari pengumpulan dokumen-dokumen dari medical record.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Keefektifan ROM Pasif dalam mengatasi konstipasi pada pasien Stroke Non
Hemoragik di BLUD RSU DR. M.M. Dunda Kabupaten Gorontalo
Hasil
Bisa BAB
Ada rasa ingin BAB
Jumlah

Responden
6
2
8

Persentase
75
25
100

Dari hasil penelitian terbukti bahwa tindakan ROM pasif cukup efektif mengatasi
masalah konstipasi pada pasien stroke.
SIMPULAN DAN SARAN
1. KESIMPULAN

Dari hasil penelitian dan pembahasan, peneliti menyimpulkan bahwa


didapatkan 75 % keefektifanROM Pasif dalam mengatasi konstipasi pada
pasien Stroke Non Hemoragik di BLUD RSU DR. M.M. Dunda
Kabupaten Gorontalo dengan kategori "cukup".
2. SARAN
a. Bagi keluarga
Selalu memotovasi dan membantu aktivit5as pasein
b. Bagi Rumah sakit
Penerapan ROM pasif dimaksimalkan
c. Institusi pendidikan
Memotivasi mahasiswa agar mengembangkan penelitian lagi
d. Peneliti selanjutnya
Menjadi data awal yang membantu penelitian selanjutnya

KESIMPULAN
Mobilisasi adalah suatu usaha mengoordinasikan sistem muskuloskeletal dan
sistem saraf dalam mempertahankan keseimbangan, postur dan kesejajaran tubuh
selama mengankat, membungkuk, bergerak dan melakukan aktifitas sehari-hari.
(potter &perry).
Beberapa tujuan dari mobilisasi menurut Susan J. Garrison (2004), antara
lain : Mempertahankan fungsi tubuh, memperlancar peredaran darah sehingga
mempercepat penyembuhan luka, membantu pernafasan menjadi lebih baik,
mempertahankan

tonus

otot,

memperlancar

eliminasi

Alvi

dan

Urin,

mengembalikan aktivitas tertentu sehingga pasien dapat kembali normal dan atau
dapat memenuhi kebutuhan gerak harian, memberi kesempatan perawat dan
pasien untuk berinteraksi atau berkomunikasi

DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. 2006. Fundamental Keperawatan edisi 4. Jakarta. Penerbit


Buku Kedokteran

ml.scribd.com/doc/56501234/Mobilisasi

ml.scribd.com/doc/.../23/Faktor-Faktor-Yang-Mempengaruhi-Mobilisasi