Anda di halaman 1dari 32

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).

1-33

ISSN: ......- ......

KARAKTERISTIK INDIVIDUAL AUDITOR PADA PERILAKU AUDIT


MELALUI TEKANAN ANGGARAN WAKTU AUDIT
Dwi Haryadi Nugraha1
I Wayan Ramantha2
I Gusti Ayu Nyoman Budiasih3
1

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia


e-mail: dwiharyadinugraha@yahoo.com / telp +62 81 999 139 333
2
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
3
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana (Unud), Bali, Indonesia
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan menguji perilaku audit dengan mengintegrasikan
karakteristik individual auditor (locus of control dan komitmen organisasi) dengan tekanan
anggaran waktu audit. Perilaku audit yang diuji adalah perilaku reduksi kualitas audit.
Penelitian menggunakan metode survei dengan menyebarkan kuesioner kepada auditor
yang bekerja di KAP di Bali. Penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling,
yang berjumlah 35 auditor. Analisis data dilakukan dengan model analisis jalur. Hasil
penelitian menunjukkan locus of control eksternal berpengaruh positif pada tekanan
anggaran waktu audit dan perilaku reduksi kualitas audit. Komitmen organisasi
berpengaruh negatif pada tekanan anggaran waktu audit dan perilaku reduksi kualitas audit.
Tekanan anggaran waktu audit berpengaruh positif pada perilaku reduksi kualitas audit.
Tekanan anggaran waktu audit memediasi pengaruh locus of control pada perilaku reduksi
kualitas audit. Hasil lainnya, tekanan anggaran waktu audit tidak memediasi pengaruh
komitmen organisasi pada perilaku reduksi kualitas audit.
Kata Kunci: Perilaku Audit, Tekanan Anggaran Waktu Audit, Locus of Control, Komitmen
Organisasi.

ABSTRACT
This study exams audit behaviors by relating auditors individual characteristic
(locus of control and organizational commitment) and audit time budget pressure. The
audit behaviors examined are audit quality reduction behaviors. This study use survey
method with distributing questionnaires to auditors working at audit firms in Bali. The
sampling method is purposive sampling, amount 35 auditors. Data analysis is done by path
analysis model. The result of this study suggest external locus of control has positive
influence on audit time budget pressure and audit quality reduction behaviors.
Organizational commitment has negative influence on audit time budget pressure and audit
quality reduction behaviors. The audit time budget pressure has positive influence on audit
quality reduction behaviors. The audit time budget pressure mediating influence of locus of
control on audit quality reduction behaviors. Other result, audit time budget pressure does
not mediate the influence of organizational commitment on audit quality reduction
behaviors.
Keywords: Audit Behaviors, Audit Time
Organizational Commitment.

Budget

Pressure,

Locus

of

Control,

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

PENDAHULUAN
Pada umumnya, akuntan publik mengaudit laporan keuangan memiliki
tujuan untuk memberikan pendapat tentang kewajarannya (Silaban, 2009).
Pemberian pendapat tersebut berasal dari evaluasi terhadap bukti audit yang
dikumpulkan secara cukup dan tepat melalui pelaksanaan prosedur-prosedur audit.
Sesuai dengan Standar Audit (SA 500 tentang Bukti Audit) menjelaskan bahwa
prosedur audit untuk memperoleh bukti audit dapat mencakup inspeksi,
observasi, konfirmasi, penghitungan kembali, pelaksanaan ulang (reformance),
dan prosedur analitis, serta sering kali memadukan beberapa prosedur sebagai
tambahan atas prosedur permintaan keterangan dari manajemen (IAPI, 2013).
Kantor akuntan publik (KAP) sebelum melaksanaan audit program audit
harus disusun terlebih dahulu beserta anggaran waktunya untuk mendapatkan
bukti audit kompeten dan cukup. Program audit adalah rangkaian dari prosedurprosedur audit yang wajib dijalankan saat pengauditan berlangsung. Anggaran
waktu audit adalah perkiraan kebutuhan waktu untuk menjalankan setiap prosedur
audit (Fleming, 1980; Otley dan Pierce, 1996). Program audit dan anggaran waktu
audit menjadi suatu kewajiban yang harus disusun dan dijalankan, sebagai wujud
kepatuhan KAP atas Standar Audit (SA 300 tentang Perencanaan Suatu Audit Atas
Laporan Keuangan), yang mensyaratkan auditor harus merencanakan audit agar
audit tersebut dapat dilaksanakan dengan efektif (IAPI, 2013).
Prosedur audit yang dirancang dan dilaksanakan dengan baik akan
menghasilkan suatu audit yang berkualitas. KAP yang mampu menghasilkan suatu
audit yang berkualitas akan meningkatkan kepercayaan pemakai terhadap profesi
akuntan publik. Audit yang berkualitas tercermin dari kemampuan auditor untuk

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

menemukan dan melaporkan terjadinya kekeliruan maupun ketidakwajaran dalam


laporan keuangan (DeAngelo, 1981). Auditor dapat atau tidaknya menemukan
kekeliruan maupun ketidakwajaran dipengaruhi oleh kemampuan auditor (tingkat
pendidikan, profesionalisme, dan pengalaman), sikap independen, serta perilaku
auditor saat melaksanakan program audit (DeAngelo, 1981; Raghunathan, 1991).
Perilaku auditor saat melaksanakan program audit memiliki peranan
cukup vital untuk dapat menghasilkan suatu audit yang kualitas (Kelley dan
Margheim, 1990; Raghunathan, 1991; Malone dan Robert, 1996). Kecermatan dan
keseksamaan ketika melaksanakan setiap prosedur audit, akan membantu
menghasilkan suatu audit yang berkualitas (McDaniel, 1990; Malone dan Robert,
1996). Namun, penelitian sebelumnya menemukan bahwa ancaman atas
penurunan kualitas audit dapat timbul karena adanya perilaku audit disfungsional
oleh auditor saat melaksanakan pengauditan (Alderman dan Deitrick, 1982;
Kelley dan Seiler, 1982; Kelley dan Margheim, 1990; Otley dan Pierce, 1996;
Herrbach, 2001; Coram et al., 2003; Pierce dan Sweeney, 2004).
Perilaku audit disfungsional didefinisikan sebagai perilaku auditor yang
bermaksud menurunkan secara langsung maupun tidak langsung kualitas audit
yang dihasilkan. Perilaku yang bermaksud menurunkan secara langsung tersebut
dikatakan sebagai perilaku reduksi kualitas audit (audit quality reduction
behaviors). Sebaliknya, penurunan secara tidak langsung dikatakan sebagai
perilaku underreporting of time (Kelley dan Margheim, 1990; Otley dan Pierce,
1996).
Auditor mereduksi kualitas audit dengan tidak mengumpulkan buktibukti audit secara efektif selama melaksanakan pengauditan sampai dengan
(Kelley dan Margheim, 1990; Malone dan Robert, 1996, Pierce dan Sweeney,

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

2004). Tidak hanya cara tersebut, perilaku reduksi kualitas audit dapat terjadi
dengan cara menghentikan prosedur audit secara prematur, pemeriksaan yang
tidak detail, tidak memeriksa kesesuaian kebijakan akuntansi yang diterapkan
klien, menerima penjelasan tidak memadai dari klien, mengurangi pekerjaan audit
dari seharusnya, serta tidak memperluas ruang lingkup pengauditan ketika
terdeteksi suatu transaksi atau pos yang diragukan (Kelley dan Margheim, 1990;
Malone dan Robert, 1996; Otley dan Pierce, 1996; Pierce dan Sweeney, 2004).
Perilaku reduksi kualitas audit menjadi ancaman serius saat
menghasilkan audit yang berkualitas karena tidak cukupnya dan tidak
kompetennya bukti-bukti audit yang dikumpulkan sebagai dasar memadai dalam
memberikan pendapatnya (Otley dan Pierce, 1996; Herrbach, 2001). Perilaku
semacam ini tidaklah etis bagi seorang auditor yang memiliki kewajiban melayani
publik. Perilaku tidak etis seseorang di dalam organisasi disebabkan oleh
karakteristik personal yang dimiliki, faktor situasional, serta interaksi antara
faktor-faktor tersebut (Trevino, 1986). Telaah empiris pengambilan keputusan etis
oleh Ford dan Rhichardson (1994) menjelaskan bahwa karakteristik individu
pembuat keputusan menjadi salah satu faktor penting untuk mengambil keputusan
etis. Berdasarkah hal tersebut, auditor yang cenderung melakukan tindakan
mereduksi kualitas audit dapat dipengaruhi karakteristik individual auditor
(Silaban, 2009).
Karakteristik personal auditor (faktor internal) yang diuji dalam
penelitian ini adalah locus of control. Karakteristik ini mencerminkan sejauh mana
seseorang yakin dapat mengontrol faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan
atau kegagalan yang diraihnya (Rotter, 1966). Mereka yang beranggapan bahwa

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

keberhasilan atau kegagalan yang diraihnya berasal kemampuannya sendiri


dikatakan seseorang tersebut ber-locus of control internal, sebaliknya yang di luar
kemampuannya dikatakan ber-locus of control eksternal (Lefcourt, 1982).
Penelitian sebelumnya, Nadirsyah dan Zuhra (2009); Wijayanti (2009);
dan Tanjung (2013) menunjukkan pengaruh positif locus of control pada perilaku
audit disfungsional. Penelitian Kurnia (2009); Silaban (2009); Hartati (2012);
Gustati (2012); Triono dkk. (2012); Hidayat (2012); Sudirjo (2013), menunjukkan
locus of control eksternal memengaruhi penerimaan perilaku tersebut. Penelitian
berbeda, oleh Andani dan Mertha (2014) menunjukkan adanya pengaruh negatif
locus of control pada penghentian prematur prosedur audit. Penelitian lainnya,
Aisyah dkk. (2014) menunjukkan tidak adanya pengaruh locus of control
eksternal pada perilaku audit disfungsional.
Karakteristik personal lainnya adalah komitmen organisasi yang dimiliki
auditor. Komitmen organisasi merupakan tingkat dimana seseorang pekerja
mengidentifikasi sebuah organisasi, tujuan, dan harapannya untuk tetap menjadi
anggota (Robbins dan Timothy, 2015). Auditor yang berkomitmen terhadap
organisasi lebih loyal dan lebih bersedia menerima penambahan kuantitas
pekerjaan melebihi yang seharusnya (Irawati dkk., 2005).
Penelitian sebelumnya, Wijayanti (2009); Triono dkk. (2012); Aisyah
dkk. (2014) menunjukkan terdapat pengaruh negatif komitmen organisasi pada
penerimaan perilaku audit disfungsional. Tingginya komitmen organisasi dalam
diri akan mengurangi keinginan untuk berpindah kerja, yang selanjutnya
memengaruhi rendahnya penerimaan perilaku audit disfungsioanal. Berbeda
dengan Harini dkk. (2010) yang menyebutkan bahwa komitmen organisasi tidak
ada hubungan langsung dengan perilaku audit disfungsional.

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Kendala anggaran waktu audit merupakan salah satu faktor situasional.


Kendala anggaran waktu menjadi faktor pendorong auditor untuk berperilaku
audit disfungsional (Kelley dan Margheim, 1990; Otley dan Pierce, 1996; Pierce
dan Sweeney, 2004). Kendala dimaksud, misalnya auditor merasakan adanya
keterbatasan waktu yang ditentukan oleh KAP dalam penyelesaian prosedurprosedur audit. (Fleming, 1980; McNair, 1991).
Keterbatasan waktu menjadi kendala

tersendiri

dalam

kondisi

berkompetisi satu dengan yang lain. Semakin tingginya kompetisi dalam


pemberian jasa audit, menuntut KAP untuk lebih efisien dalam mengendalikan
pengeluaran keperluan audit. Cara yang sering ditempuh KAP untuk
meningkatkan efisiensi salah satunya adalah menganggarkan waktu yang sempit
(McNair, 1991; Arens dan Loebecke, 2002).
Sempitnya anggaran waktu yang disusun akan memunculkan tekanan
yang dirasakan pada diri auditor dalam melaksanakan pengauditan, karena waktu
yang dibutuhkan dengan seharusnya tidak seimbang. Kondisi ini mengakibatkan
auditor berperilaku audit disfungsional (Kelley dan Seiler, 1982; Cook dan Kelley,
1988). Biasanya auditor beranggapan bila mampu menyelesaikan setiap prosedur
dalam program audit tidak lebih dari batas anggaran waktu yang ditetapkan, maka
akan

dapat

memaksimalkan

keuntungan

dari

perikatan

audit

serta

keberlangsungan karirnya di KAP (Kelley dan Seiler, 1982; Lightner et al., 1982).
Penelitian sebelumnya oleh Simanjuntak (2008); Nadirsyah dan Zuhra
(2009); Kurnia (2009); Manullang (2010); Tanjung (2013); dan Kholidiah dan
Murni (2014) menunjukkan tekanan anggaran waktu audit memengaruhi perilaku
disfungsional. Auditor yang merasakan tekanan karena sempitnya anggaran

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

waktu, maka mendorong untuk berperilaku audit disfungsional (Kelley dan Seiler,
1982; Lightner et al., 1982; Otley dan Pierce, 1996; Pierce dan Sweeney, 2004).
Tekanan anggaran waktu audit menjadi variabel mediasi dalam penelitian
ini, yang memediasi karakteristik personal auditor (locus of control dan komitmen
organisasi) pada perilaku audit. Penelitian sebelumnya yang menggunakan
tekanan anggaran waktu audit sebagai variabel mediasi dalam pengaruh
karakteristik personal auditor pada perilaku audit adalah Silaban (2009) dan
Sudirjo (2013). Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa terdapat pengaruh tidak
langsung locus of control pada perilaku reduksi kualitas audit melalui tekanan
anggaran waktu audit. Sedangkan penelitian yang menguji pengaruh tidak
langsung komitmen organisasi terhadap perilaku reduksi kualitas audit melalui
tekanan anggaran waktu audit belum ditemukan.
Subjek penelitian ini adalah auditor KAP di Bali, yang pemilihannya
dimotivasi karena belum ditemukan penelitian serupa sebelumnya yang subjek
penelitiannya adalah auditor KAP di Bali. Subjek penelitian Silaban (2009) adalah
auditor KAP di Jakarta, Medan, dan Surabaya; Hartati (2012) adalah auditor KAP
di Jawa Tengah; Triono dkk. (2012) dan Sudirjo (2013) adalah auditor KAP di
Semarang; Tanjung (2013) adalah auditor KAP di Kota Padang dan Pekanbaru;
Kholidiah dan Murni (2014) adalah auditor KAP di Jawa Timur. Pemilihan lokasi
yang berbeda, akan dapat memunculkan karakteristik yang berbeda pula karena
setiap daerah memiliki budaya organisasi yang berbeda-beda. Budaya organisasi
akan memengaruhi karakteristik individual seseorang (Susanti dan Subroto,
2015).
Berdasarkan latar belakang penelitian tersebut, maka yang diuji adalah
pengaruh locus of control dan komitmen organisasi pada perilaku audit oleh

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

auditor KAP di Bali dengan tekanan anggaran waktu audit sebagai variabel
mediasi. Rumusan masalah disusun, yaitu: (1) apakah locus of control dan
komitmen organisasi memengaruhi tekanan anggaran waktu audit; (2) apakah
locus of control, komitmen organisasi, dan tekanan anggaran waktu audit
memengaruhi perilaku audit; (3) apakah locus of control dan komitmen organisasi
memengaruhi perilaku audit melalui tekanan anggaran waktu audit.
Penelitian ini menggunakan teori atribusi yang dikembangkan oleh Fritz
Heider tahun 1958. Teori ini mempelajari proses bagaimana seseorang
menjelaskan suatu peristiwa, alasan atau sebab perilakunya. Teori ini
mengargumentasikan bahwa seseorang berperilaku dipengaruhi oleh interaksi
antara kekuatan internal dan eksternal. Kekuatan internal, yaitu faktor-faktor yang
berasal dari dalam diri, dan kekuatan eksternal, yaitu faktor-faktor yang berasal
dari luar diri (Suartana, 2010).
Gordon dan Graham (2006) menjelaskan situasi di sekitar yang
memengaruhi perilaku seseorang dalam persepsi sosial disebut dengan
dispositional attributions dan situational attributions. Dispositional attributions
didefinisikan sebagai penyebab internal yang mengarah pada aspek perilaku di
dalam diri individu, misalnya persepsi diri, kepribadian, motivasi, dan
kemampuan. Situational attributions didefinisikan sebagai penyebab eksternal
yang mengarah pada lingkungan sekitar yang dapat memengaruhi perilaku,
misalnya nilai-nilai sosial, kondisi sosial, dan pandangan masyarakat.
Teori lainnya yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu teori model stres
kerja. Anggaran waktu audit yang dibatasi dapat mendorong timbulnya suatu

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

tekanan yang dirasakan auditor (stres), dan kemudian dapat memengaruhi perilaku
audit dalam melaksanakan pengauditan. Penyebab stres misalnya kondisi
lingkungan kerja yang tidak sesuai dapat menimbulkan tekanan (stres) saat
berkerja, dan kemudian memengaruhi sikap, intensi dan perilaku individu
(Silaban, 2009).
Penyebab stres

Stres

Konsekuensi

Karakteristik
Personal
Gambar 1. Model Teori Stres Kerja
Sumber: Gibson et al. (1995)

Penyebab stres bisa datang dari dalam KAP maupun dari luar. Penyebab
stres dari dalam KAP, misalnya: konflik peran, beban tugas, kondisi lingkungan
kantor, dan kendala anggaran waktu. Sedangkan penyebab stres yang berasal dari
luar KAP, misalnya: keadaan keluarga, kompetisi pada pasar audit, tuntutan dari
klien, dan tuntutan ligitasi.
Lazarus (1995) dengan teori proses transaksional menjelaskan stres yang
dirasakan

seseorang

akibat

dari

interaksi

antara

faktor-faktor

internal

(karakteristik personal) dan faktor-faktor eksternal (penyebab stres). Seseorang


dengan lingkungannya memiliki hubungan yang dinamis, karena bergantung pada
konteks personal dan kondisi tertentu. Secara khusus dinyatakan bahwa
karakteristik

personal

memengaruhi

terjadinya

stres

yang

selanjutnya

memengaruhi sikap, intensi dan perilaku individu. Dengan kata lain, karakteristik

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

personal auditor memengaruhi stres yang dirasakan dan perilaku untuk mengatasi
penyebab stres.
Perilaku audit yang diuji, yaitu perilaku reduksi kualitas audit. Perilaku
reduksi kualitas audit menjadi ancaman serius pada kualitas audit karena tidak
kompetennya dan kurangnya bukti-bukti audit yang dikumpulkan selama
melaksanakan

pengauditan

sebagai

dasar

memadai

untuk

memberikan

pendapatnya atas kewajaran laporan keuangan (Otley dan Pierce, 1996; Herrbach,
2001).
Hubungan locus of control dengan tekanan anggaran waktu audit
didasarkan pada teori model stres kerja, yang menjelaskan bahwa stres yang
dirasakan seseorang sebagai akibat dari interaksi antara karakteristik individual
seperti locus of control dan faktor situasional (penyebab stres). Auditor ber-locus
of control eksternal lebih merasakan tekanan karena sempitnya waktu yang
diberikan untuk mengaudit. Berbeda halnya auditor ber-locus of control internal
yang kurang merasakan adanya tekanan karena hal tersebut.
Penelitian sebelumnya, Silaban (2009); Sudirjo (2013); dan Wintari
(2015) menunjukkan terdapat pengaruh positif locus of control eksternal pada
tekanan anggaran waktu audit. Hasil penelitian ini menunjukkan auditor ber-locus
of control eksternal cenderung menganggap sempitnya anggaran waktu audit
sebagai tekanan. Dengan demikian, dapat dihipotesiskan sebagai berikut:
H1a:

Locus of control eksternal berpengaruh positif pada tekanan anggaran


waktu audit.
Hubungan komitmen organisasi dengan tekanan anggaran waktu audit

didasarkan pada teori model stres kerja, yang menjelaskan bahwa stres yang

10

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

dirasakan seseorang merupakan interaksi antara karakteristik individual seperti


komitmen organisasi dan faktor situasional (penyebab stres). Auditor yang
berkomitmen tinggi terhadap organisasinya cenderung berusaha bekerja dengan
sebaik-baiknya untuk pencapaian tujuan perusahaan dan mereka juga menganggap
anggaran waktu adalah sesuatu yang harus diterima karena untuk kepentingan
organisasinya.

Sedangkan

auditor

yang

berkomitmen

rendah

terhadap

organisasinya cenderung menganggap sempitnya anggaran waktu audit sebagai


tekanan. Hasil penelitian sejenis oleh Silaban (2009) dan Sudirjo (2013) yang
menggunakan variabel komitmen profesional, menunjukkan bahwa komitmen
berpengaruh negatif pada tekanan anggaran waktu audit. Dengan demikian, dapat
dihipotesiskan sebagai berikut:
H1b:

Komitmen organisasi berpengaruh negatif pada tekanan anggaran waktu


audit.
Hubungan locus of control dengan perilaku reduksi kualitas audit

didasarkan pada teori atribusi, yang menjelaskan bahwa seseorang berperilaku


ditentukan oleh interaksi antara kekuatan internal dan kekuatan eksternal. Locus
of control merupakan kekuatan internal yang memengaruhi perilaku seseorang.
Seseorang yang ber-locus of control eksternal meyakini adanya ketidakmampuan
mereka mengendalikan terjadinya suatu peristiwa dan hasil yang diperolehnya.
Seseorang yang ber-locus of control eksternal lebih banyak perilakunya
dipengaruhi faktor-faktor di luar pengendaliannya.
Penelitian sebelumnya, Silaban (2009); Gustati (2012); Triono dkk.
(2012); Sudirjo (2013); Tanjung (2013); dan Wintari (2015) menunjukkan terdapat
pengaruh positif locus of control eksternal pada perilaku audit disfungsional. Hasil

11

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

penelitian ini menunjukkan auditor yang ber-locus of control eksternal cenderung


menerima perilaku reduksi kualitas audit. Dengan demikian, dapat dihipotesiskan
sebagai berikut:
H2a:

Locus of control eksternal berpengaruh positif pada perilaku reduksi


kualitas audit.
Hubungan komitmen organisasi dengan perilaku reduksi kualitas audit

didasarkan pada teori atribusi, dimana komitmen organisasional merupakan


kekuatan internal individu yang memengaruhi bagaimana berperilaku. Komitmen
organisasi menciptakan kekuatan untuk menyeimbangkan kecenderungan
berperilaku disfungsional. Seseorang yang memiliki komitmen kuat terhadap
organisasinya

dan

bersedia

untuk

bekerja

keras

untuk

mencapai

tujuan organisasinya, akan kurang menerima perilaku disfungsional untuk


mencapai tujuan pribadi. Hal ini berbanding terbalik dengan seseorang yang
memiliki komitmen yang rendah terhadap organisasinya.
Penelitian sebelumnya, Triono dkk. (2012) menunjukkan komitmen
organisasional berpengaruh negatif pada penerimaan perilaku audit disfungsional.
Hasil penelitian ini menunjukkan auditor yang berkomitmen tinggi terhadap
organisasinya cenderung kurang menerima perilaku reduksi kualitas audit.
Dengan demikian, dapat dihipotesiskan sebagai berikut:
H2b:

Komitmen organisasi berpengaruh negatif pada perilaku reduksi kualitas


audit.
Hubungan tekanan anggaran waktu audit dengan perilaku reduksi

kualitas audit didasarkan pada teori model stres kerja. Ketatnya anggaran waktu
audit menimbulkan perasaan tertekan (stres) bagi auditor dalam melaksanakan

12

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

pekerjaannya, kemudian memengaruhi sikap, intensi dan perilaku audit dalam


pelaksanaan program audit.
Penelitian sebelumnya, Silaban (2009); Sudirjo (2013); Tanjung (2013);
dan Wintari (2015) menunjukkan terdapat pengaruh positif tekanan anggaran
waktu audit pada perilaku audit disfungsional. Hasil penelitian ini menunjukkan
bahwa sempitnya anggaran waktu audit yang dirasakan, maka meningkatkan
kecenderungan auditor berperilaku reduksi kualitas audit dalam pelaksanaan
program audit. Dengan demikian, dapat dihipotesiskan sebagai berikut:
H2c:

Tekanan anggaran waktu audit berpengaruh positif pada perilaku reduksi


kualitas audit.
Silaban (2009) dan Sudirjo (2013) dalam penelitiannya menemukan

bahwa terdapat pengaruh tidak langsung locus of control eksternal pada perilaku
reduksi kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu. Tekanan anggaran waktu
memperkuat hubungan antara karakteristik individual auditor terhadap perilaku
audit disfungsional (Silaban, 2009). Sedangkan pengaruh tidak langsung
komitmen organisasi pada perilaku reduksi kualitas audit melalui tekanan
anggaran waktu audit didasarkan pada teori model stres kerja. Dengan demikian,
dapat dihipotesiskan sebagai berikut:
H3a:

Tekanan anggaran waktu audit memediasi pengaruh locus of control


pada perilaku reduksi kualitas audit.

H3b:

Tekanan anggaran waktu audit memediasi pengaruh komitmen organisasi


pada perilaku reduksi kualitas audit.

METODE PENELITIAN

13

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Penelitian ini menggunakan desain causal explanatory untuk mengetahui


hubungan antara locus of control, komitmen organisasi, tekanan anggaran waktu
audit, dan perilaku reduksi kualitas audit. Subjek penelitian, yaitu auditor KAP
yang terdaftar di Bali merujuk pada Directory Kantor Akuntan Publik dan
Akuntan Publik yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI)
tahun 2015. Waktu penelitian adalah tahun 2015. Variabel bebas yang diuji, yaitu
locus of control serta komitmen organisasi. Variabel terikat, yaitu perilaku reduksi
kualitas audit. Tekanan anggaran waktu audit menjadi variabel mediasi. Penelitian
ini menggunakan data kualitatif, yaitu daftar pernyataan kuesioner mengenai
locus of control, komitmen organisasi, anggaran waktu audit dan persepsi perilaku
audit. Data bersumber dari jawaban responden atas pernyataan-pernyataan dalam
kuesioner penelitian.
Konsep penelitian menjelaskan hubungan antarvariabel yang diuji dalam
penelitian. Konsep penelitian sebagai berikut.

Gambar 2. Konsep Penelitian Rumusan Masalah I dan II

14

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Gambar 3. Konsep Penelitian Rumusan Masalah III

Gambar 3.2 menunjukkan terdapat lima pengaruh langsung yang diuji dalam
penelitian ini, sedangkan Gambar 3.3 menunjukkan terdapat dua pengaruh tidak
langsung.
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: satu objek/subjek
yang memiliki kualitas dan karakteristik tertentu yang ditentukan oleh peneliti
untuk dipelajari dan selanjutnya dapat ditarik suatu simpulan (Sugiyono, 2014).
Populasi penelitian yaitu auditor KAP di Bali yang berjumlah 82 orang. Sampel
adalah bagian dari populasi (Sugiyono, 2014). Teknik penentuan sampel yaitu
purposive sampling. Purposive sampling merupakan pengambilan sampel
berdasarkan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2014). Kriteria penentuan sampel
adalah auditor yang minimal menjadi ketua tim dalam penugasan audit. Auditor
yang menjadi ketua tim dalam penugasannya memiliki pemahaman dan
bertanggungawab dalam pelaksanaan program audit.
Hipotesis diuji menggunakan model analisis jalur (path analysis). Pada
model ini, pola hubungan antarvariabel dianalisis untuk mengetahui pengaruh
variabel bebas pada variabel terikat secara langsung dan tidak langsung.
Penggunaan analisis jalur karena mampu menguji hubungan berantai yang

15

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

membentuk model yang besar, seperangkap prinsip dasar, atau suatu teori secara
menyeluruh (Utama, 2014).
Analisis jalur ini dilakukan melalui beberapa tahapan (Utama, 2014),
yaitu:
1) Menyusun model berdasarkan konsep dan teori
Secara teoritis, hubungan antarvariabel dapat dibuat model statistik sebagai
berikut:

Gambar 3. Model Statistik

Berdasarkan Gambar 3 dibuat sistem persamaan struktural sebagai berikut:


a) Locus of control serta komitmen organisasi pada tekanan anggaran waktu
audit dengan persamaan sebagai berikut:
X3 = b1X1 + b2X2 + e1 ................... (1)
b) Locus of control, komitmen organisasi, serta tekanan anggaran waktu
audit pada perilaku reduksi kualitas audit dengan persamaan sebagai
berikut:
Y = b3X1 + b4X2 + b5X3 + e2 ........ (2)
Keterangan:
b1 = Koefisien jalur locus of control pada tekanan anggaran waktu audit
b2 = Koefisien jalur komitmen organisasi pada tekanan anggaran waktu audit
b3 = Koefisien jalur locus of control pada perilaku reduksi kualitas audit
b4 = Koefisien jalur komitmen organisasi pada perilaku reduksi kualitas
audit
b5 = Koefisien jalur tekanan anggaran waktu audit pada perilaku reduksi
kualitas audit
X1 = Locus of control
X2 = Komitmen organisasi
X3= Tekanan anggaran waktu audit
Y = Perilaku reduksi kualitas audit
16

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

e = Standar error
2) Memeriksa asumsi yang melandasi, yaitu: (a) antarvariabel di model
berhubungan secara linier serta aditif. Pengujian linier menggunakan curve fit
serta menerapkan prinsip parsimony; (b) model rekursif saja yang
diperkenankan, yaitu kausal ke satu arah. Kausal resiprokal tidak
diperkenankan; (c) skala ukur variabel endogen minimal interval; (d)
Instrumen diuji validitas dan reliabilitas); (e) model dispensifikasikan sesuai
teori dan konsep yang relevan.
3) Pendugaan parameter atau koefisien jalur
Analisis jalur berisi pengaruh langsung, tidak langsung dan total. Pengaruh
langsunya, yaitu koefisien beta atau koefisien jalur. Pengaruh tidak langsung
dari perkalian koefisien beta dari variabel yang dilalui. Pengaruh total
merupakan penjumlahan kedua pengaruh tersebut.
4) Memeriksa validitas suatu kesalahan model
Sahih tidaknya hasil analisis bergantung pada pemenuhan asumsi yang
melandasinya. Pada analisi jalur, validitas model memiliki dua indikator
berikut:
a) Koefisien Determinasi Total
Total keragaman data diukur dengan:
R2m = 1 P2e1P2e2P2ep .. (3)
Interprestasi R2m sama dengan interprestasi koefisien determinasi (R) pada
analisis regresi. P2ei yang adalah standard error of estimate dari model
regresi yang dihitung dengan:
P2ei = 1-R2 (4)
b) Theory Trimming
Pengujian validitas koefisien jalur untuk pengaruh langsung adalah sama
dengan pada analisis regresi, menggunakan nilai p (p-value) dari uji t,
yaitu pengujian koefisien regresi variabel yang dibakukan secara parsial.

17

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Untuk memperoleh model yang didukung oleh data empiris, jalur yang
nonsignifikan dihilangkan, kecuali model tertentu yang didukung oleh
konsep atau teori.
5) Pengujian variabel mediasi
Pengujian variabel mediasi menggunakan Uji Sobel (Sobel test) yang
dikembangkan oleh Sobel pada tahun 1982. Uji ini menguji kekuatan
pengaruh tidak langsung variabel bebas pada variabel terikat melalui variabel
mediasi (Utama, 2014).
a)
Jalur X1 ke X3 dengan X3 ke Y atau b1b5
Koefisien regresi tidak standar X1 ke X3 dan X3 ke Y ditulis dengan b1
dan b5, sedangkan standard error-nya ditulis dengan Sb1 dan Sb5.
Besarnya standard eror tidak langsung X1 ke X3 dan X3 ke Y yang ditulis
dengan Sb b , dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Sb b = b52Sb12 + b12Sb52 ... (5)
Signifikansi pengaruh tidak langsung diuji dengan menghitung nilai t
1

dari koefisien X1 ke X3 dan X3 ke Y yang ditulis dengan z1,


menggunakan rumus sebagai berikut:
z1 =

b1b5
Sb b
1

b)

(6)

Jalur X2 ke X3 dengan X3 ke Y atau b2b5


Koefisien regresi tidak standar X2 ke X3 dan X3 ke Y ditulis dengan b2
dan b5, sedangkan standard error-nya ditulis dengan Sb2 dan Sb5, besarnya
standard eror tidak langsung X2 ke X3 dan X3 ke Y yang ditulis dengan
Sb b , dihitung dengan rumus sebagai berikut:
Sb b = b52Sb22 + b22Sb52 ... (7)
Signifikansi pengaruh tidak langsung diuji dengan menghitung nilai t dari
2

koefisien X2 ke X3 dan X3 ke Y yang ditulis dengan z2, menggunakan


rumus sebagai berikut:
z2 =

b2b5
Sb b
2

(8)

18

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Untuk mengetahui pengambilan keputusan uji hipotesis H3a dan H3b, cara
yang dilakukan yaitu p value dan alpha (0,05) dibandingkan, dengan kriteria,
yaitu: (a) p value alpha (0,05) atau zhitung ztabel, berarti X3 tidak sebagai
variabel mediasi, dan (b) p value < alpha (0,05) atau zhitung > ztabel, berarti X3
merupakan variabel mediasi.
6) Interprestasi Hasil Analisis
Interprestasi hasil analisis merupakan langkah terakhir, dengan menentukan
jalur-jalur pengaruh yang signifikan dan kemudian diidenntifikasi jalur mana
yang pengaruhnya lebih kuat.

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan tiga puluh lima kuesioner yang disebar, kuesioner yang
digunakan adalah sebanyak tiga puluh lima kuesioner (seratus persen). Hasil
pengujian validitas menunjukkan semua butir pertanyaan kuesioner mempunyai
nilai koefisien korelasi lebih besar dari 0,3, yang artinya valid. Hasil pengujian
reliabilitas menunjukkan semua instrumen mempunyai nilai cronbachs alpha
lebih besar dari 0,6, yang artinya reliabel.
Evaluasi terhadap pemenuhan asumsi analisis jalur menunjukkan semua
asumsi terpenuhi. Hubungan antarvariabel adalah linier dan aditif. Model yang
dibuat telah kausal ke satu arah. Variabel endogen dan eksogen berskala ukur
interval. Kuesioner penelitian adalah valid dan reliabel. Model yang
dispensifikasikan sesuai teori dan konsep yang relevan.
Koefisien jalur berdasarkan hasil olahan data regresi adalah sebagai
berikut.

19

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Tabel 1.
Ringkasan Koefisien Jalur

Sumber: Data diolah, 2015

Berdasarkan Tabel 1 tentang ringkasan koefisien jalur dapat digambarkan


sebagai berikut.

Gambar 5. Koefisien Jalur Locus of Control, Komitmen Organisasi,


Tekanan Anggaran Waktu Audit dan Perilaku Reduksi Kualitas Audit

Persamaan struktural untuk model tersebut adalah:


Model persamaan 1: X3 = 0,430 X1 - 0,341 X2 + e1
Model persamaan 2: Y = 0,308 X1 - 0,276 X2 + 0,485 X3 + e1
Berdasarkan Gambar 5, hubungan langsung, tidak langsung dan total
adalah sebagai berikut.
Tabel 2.
Koefisien Hubungan Langsung, Tidak Langsung, dan Total Antarvariabel

20

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Sumber: Tabel 1

Pengaruh langsung locus of control pada perilaku reduksi kualitas audit


adalah 0,308. Pengaruh tidak langsung locus of control pada perilaku reduksi
kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu audit diperoleh dari (b 1 x b5) yaitu
(0,430 x 0,485) = 0,209. Pengaruh total locus of control pada perilaku reduksi
kualitas audit adalah (0,308 + 0,209) = 0,517.
Pengaruh langsung komitmen organisasi pada perilaku reduksi kualitas
audit adalah -0,276. Pengaruh tidak langsung komitmen organisasi pada perilaku
reduksi kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu audit diperoleh dari
(b1 x b5) yaitu (-0,341 x 0,485) = -0,165. Pengaruh total komitmen organisasi pada
perilaku reduksi kualitas audit adalah (-0,276 + -0,165) = 0,441.
Berdasarkan Tabel 1, koefisien regresi dari locus of control pada tekanan
anggaran waktu audit adalah sebesar 0,430 dengan taraf signifikansi
0,007 < 0,050. Artinya, locus of control eksternal berpengaruh positif pada
tekanan anggaran waktu audit. Hasil penelitian ini menerima hipotesis 1a. Auditor
ber-locus of control eksternal cenderung menganggap sempitnya anggaran waktu
audit sebagai tekanan. Kondisi demikian terjadi disebabkan oleh tuntutan kepada
auditor untuk menyelesaikan tugas audit dalam waktu yang sedikit. Sementara
kemampuan mereka terbatas atas pengalokasian waktu untuk melaksanakan setiap
prosedur audit.

21

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Berdasarkan Tabel 1, koefisien regresi dari komitmen organisasi pada


tekanan anggaran waktu audit adalah sebesar -0,402 dengan taraf signifikansi
0,028 < 0,050. Artinya, komitmen organisasi berpengaruh negatif pada tekanan
anggaran waktu audit. Hasil penelitian ini menerima hipotesis 1b. Auditor yang
semakin berkomitmen terhadap organisasinya, maka semakin kurang menganggap
anggaran waktu audit sebagai tekanan. Auditor yang berkomitmen tinggi terhadap
organisasinya tidak mudah merasakan stres ketika mengalami tekanan anggaran
waktu audit, yang kemudian akan menghindari untuk berperilaku menyimpang.
Mereka cenderung sejalan dengan tujuan dan nilai-nilai organisasi, karena kurang
mementingkan kepentingan pribadi.
Berdasarkan Tabel 1, koefisien regresi dari locus of control pada perilaku
reduksi kualitas audit adalah sebesar 0,192 dengan taraf signifikansi
0,019 < 0,050. Artinya, locus of control eksternal berpengaruh positif pada
perilaku reduksi kualitas audit. Hasil penelitian ini menerima hipotesis 2a. Auditor
ber-locus of control eksternal cenderung menerima perilaku reduksi kualitas audit
dalam pelaksanaan program audit. Auditor ber-locus of control eksternal
cenderung menggunakan emosi yang diwujudkan melalui tindakan mereduksi
kualitas audit untuk menghadapi kendala tersebut. Selain berfokus pada emosi,
juga kurang mempertimbangkan konsekuensi dari tindakan yang diambil.
Berdasarkan Tabel 1, koefisien regresi dari komitmen organisasi pada
perilaku reduksi kualitas audit adalah sebesar -0,549 dengan taraf signifikansi
0,027 < 0,050. Artinya, komitmen organisasi berpengaruh negatif pada perilaku
reduksi kualitas audit. Hasil penelitian ini menerima hipotesis 2b. Semakin tinggi

22

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

komitmen yang dimiliki auditor terhadap organisasinya maka semakin rendah


penerimaan perilaku reduksi kualitas audit. Auditor berkomitmen tinggi terhadap
organisasinya cenderung berusaha mengikuti semua aturan organisasi. Mereka
kurang menerima perilaku reduksi kualitas audit.
Berdasarkan Tabel 1, koefisien regresi dari tekanan anggaran waktu audit
pada perilaku reduksi kualitas audit adalah sebesar 0,819 dengan taraf signifikansi
0,001 < 0,050. Artinya, tekanan anggaran waktu audit berpengaruh positif pada
perilaku reduksi kualitas audit. Hasil penelitian ini menerima hipotesis 2c.
Sempitnya waktu yang diberikan, meningkatkan kecenderungan auditor
berperilaku reduksi kualitas audit. Biasanya, auditor merasa dituntut untuk
menyelesaikan tugas audit dalam batas waktu yang ditentukan. Ketika auditor
memandang pelaksanaan tugas audit sulit atau tidak mungkin diselesaikan dalam
batas waktu ditentukan, maka untuk memenuhinya cenderung menempuh jalan
pintas dengan mereduksi kualitas audit.
Berdasarkan Tabel 2, pengaruh tidak langsung locus of control pada
perilaku reduksi kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu audit tidak lebih
kuat dari pengaruh langsungnya. Auditor yang cenderung ber-locus of control
eksternal berdasarkan rekapan jawaban kuesioner, adalah berjumlah sepuluh
orang. Auditor yang cenderung merasakan tekanan anggaran waktu audit dan
menerima perilaku reduksi kualitas audit masing-masing adalah tigabelas orang.
Perbedaan jumlah tersebut menunjukkan terdapat tiga auditor ber-locus of control
internal merasakan adanya tekanan anggaran waktu audit dan menerima perilaku
reduksi kualitas audit. Seharusnya, ketiga auditor tersebut tidak merasakan

23

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

tekanan anggaran waktu audit dan tidak menerima perilaku reduksi kualitas audit.
Hal ini menjadi penyebab pengaruh tidak langsung locus of control pada perilaku
reduksi kualitas audit lebih kecil daripada pengaruh langsungnya.
Berdasarkan hasil pengujian variabel mediasinya, menunjukkan bahwa
zhitung 2,28 lebih besar dari 1,96, yang berarti locus of control memengaruhi
perilaku reduksi kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu audit. Hasil
penelitian ini menerima hipotesis 3a. Penyebab stres yang timbul di lingkungan
kerja dapat mengakibatkan seseorang merasakan adanya tekanan dalam
pekerjaannya, kemudian memengaruhi sikap, intensi dan perilaku individual.
Ketika auditor ber-locus of control eksternal mengahadapi tekanan anggaran
waktu audit, akan lebih rentan merasakan stres, dan selanjutnya memengaruhi
perilaku auditor untuk mereduksi kualitas audit dalam pelaksanaan program audit.
Berdasarkan Tabel 2, pengaruh tidak langsung komitmen organisasi pada
perilaku reduksi kualitas audit melalui tekanan anggaran waktu audit tidak lebih
kuat dari pengaruh langsungnya. Auditor yang cenderung memiliki komitmen
yang rendah terhadap organisasinya berdasarkan rekapan jawaban kuesioner,
adalah berjumlah delapan orang. Perbedaan jumlah tersebut dengan jumlah yang
merasakan tekanan dan menerima perilaku reduksi kualitas audit menunjukkan
terdapat lima auditor yang memiliki komitmen tinggi terhadap organisasinya
merasakan adanya tekanan anggaran waktu audit dan menerima perilaku reduksi
kualitas audit. Seharusnya, kelima auditor tersebut tidak merasakan tekanan
anggaran waktu audit dan tidak menerima perilaku reduksi kualitas audit. Hal ini

24

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

menjadi penyebab pengaruh tidak langsung komitmen organisasi pada perilaku


reduksi kualitas audit lebih kecil daripada pengaruh langsungnya.
Berdasarkan hasil pengujian variabel mediasinya, menunjukkan bahwa
zhitung 0,43 lebih kecil dari 1,96, yang berarti tekanan anggaran waktu audit tidak
memediasi pengaruh komitmen organisasi pada perilaku reduksi kualitas audit.
Hasil penelitian ini menolak hipotesis 3b. Hal ini disebabkan terdapat faktorfaktor internal dan eksternal lain di luar penelitian yang memengaruhi hubungan
variabel-variabel ini seperti yang terlihat pada karakteristik kelima auditor yang
memiliki komitmen tinggi terhadap organisasinya merasakan tekanan anggaran
waktu audit dan menerima perilaku reduksi kualitas audit. Kelima auditor tersebut
memiliki karakteristik, yaitu locus of control eksternal berjumlah dua orang,
seluruhnya junior auditor, lama bekerja diantara satu tahun sampai dengan dua
tahun sebanyask dua orang, serta jumlah penugasan audit kurang dari sepuluh kali
sebanyak empat orang. Kedudukan auditor di KAP juga dapat memengaruhi
tekanan anggaran waktu audit dan perilaku reduksi kualitas audit (Silaban, 2009).
Auditor yang menduduki posisi level bawah lebih merasakan
sempitnya anggaran waktu audit sebagai tekanan, daripada
auditor di level atas. Butt (1998) mengemukakan bahwa semakin
berpengalaman seorang auditor maka pertimbangan yang dibuat relatif lebih baik
dalam menyelesaikan pekerjaan profesionalnya, daripada auditor yang kurang
berpengalaman. Auditor yang memiliki pengalaman yang tinggi lebih dapat
menanggulangi sempitnya anggaran waktu audit dan menolak untuk melakukan
tindakan mereduksi kualitas audit.

25

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

SIMPULAN DAN SARAN


Locus of control eksternal berpengaruh positif pada tekanan anggaran
waktu audit sedangkan komitmen organisasi berpengaruh negatif pada tekanan
anggaran waktu audit. Hal ini menunjukkan bahwa auditor ber-locus of control
eksternal lebih menganggap anggaran waktu audit sebagai tekanan. Serta, semakin
tinggi komitmen yang dimiliki auditor terhadap organisasinya maka semakin
rendah tekanan anggaran waktu audit.
Locus of control eksternal dan tekanan anggaran waktu audit
berpengaruh positif pada perilaku reduksi kualitas audit sedangkan komitmen
organisasi berpengaruh negatif pada perilaku reduksi kualitas audit. Hal ini
menunjukkan auditor ber-locus of control eksternal cenderung menerima perilaku
reduksi kualitas audit; semakin tinggi komitmen yang dimiliki auditor terhadap
organisasinya maka semakin rendah penerimaan perilaku reduksi kualitas audit;
serta semakin tinggi tekanan anggaran waktu audit maka semakin tinggi
penerimaan perilaku reduksi kualitas audit.
Tekanan anggaran waktu audit memediasi pengaruh locus of control
eksternal pada perilaku reduksi kualitas audit. Hasil berbeda, tekanan anggaran
waktu audit tidak memediasi pengaruh komitmen organisasi pada perilaku reduksi
kualitas audit.
Penelitian ini masih menarik untuk dilakukan kembali untuk mengetahui
interaksi antara karakteristik individual auditor dengan faktor-faktor situasional
pada perilaku reduksi kualitas audit. Karakteristik individual auditor lainnya yang
kemungkinan dapat memengaruhi perilaku reduksi kualitas audit seperti
kesadaran etis individu auditor. Sedangkan faktor-faktor situasional lainnya dapat
menggunakan gaya kepemimpinan (Kelley dan Margheim, 1990; Pierce dan

26

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Sweeney, 2004) dan efektivitas kontrol mutu di KAP (Malone dan Robert, 1996).
Penelitian berikutnya juga dapat meneliti kembali hipotesis yang ditolak, yaitu
hubungan komitmen organisasi dengan perilaku reduksi kualitas audit melalui
tekanan anggaran waktu audit.
REFERENSI
Aisyah, R. N., Sukirman., dan Suryandini, D. 2014. Faktor-Faktor yang
Mempengaruhi Perilaku Disfungsional Audit: Penerimaan Auditor BPK RI
Jateng. Accounting Analysis Journal, 3 (1) (2014).
Akers, M. D., and Eaton, T. V. 2003. Underreporting of Chargeable Time: The
Impact of Gender and Characteristic of Underreporters. Journal of Managerial
Issues, Vol. XV. No. 1. p.82-89.
Alderman, C.W., and Deitrick, J.W. 1982. Auditors Perceptions of Time Budget
Pressure and Premature Sign-0ffs: A Replication and Extension. Auditing:
A Journal of Practice and Theory. Vol. 1 No. 2, p.54-58.
Allen, Donald R., Guy, RebeccPPa F., Edgley, Charles K. 1980. Social
Psychology as Social Process. In: Ahmadi, H. Abu. 2009. Psikologi Sosial.
Cetakan ke 3 (Edisi Revisi). Jakarta: Rineka Cipta. p.163.
Andani, Ni Made S., dan Mertha, I Made. 2014. Pengaruh Time Pressure, Audit
Risk, Professional Commitment Dan Locus of Control Pada Penghentian
Prematur Prosedur Audit. E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana, 6.2 (2014),
p.185-196.
Arens, A., A., and Loebbecke, J. K., 2002. Auditing and Integrated Approach.
Eight Edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Butt J. L. 1988. Frequency Judgment in an Auditing related task. Journal of
Accounting Research. Vol. 26, p. 315-330.
Cook, E. and Kelley, T. 1988. Auditor Stress and Time Budgets. The CPA Journal,
Vol. 58, No. 7, p.83-86.
Cooper, D and Schindler. 2006. Metode Riset Bisnis Volume 1. Edisi ke-9.
(Budjanto, Djunaedi, D., dan Sihombing, D., (Pentj). Jakarta: PT Media Global
Edukasi.

27

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Coram, P., Juliana, Ng, J., and Woodliff, D. 2003. A Survey of Time Budget
Pressure and Reduced Audit Quality Among Australian Auditors. Australian
Accounting Review, Vol. 13 No. 1, p.38-45.
DeAngelo, L. E. 1981. Auditor Size and Auditor Quality. Journal of Accounting
and Economics, Vol. 3, No. 3, p.183-199.
Donnely, P. D., Quirin J. J., and OBryan D. 2003. Auditor Acceptance of
Dysfunctional Audit Behavior: An Explanatory Model Using Auditors Personal
Caracteristics. Behavioral Research In Accounting, Vol. 15, p.87-110.
Fahmi, Irham. 2014. Perilaku Organisasi (Teori, Aplikasi, dan Kasus). Cetakan
kedua Juli 2014. Bandung: Alfabeta.
Ford, Robert C. and Rhicardson D. 1994. Ethical Decision Making: A Review of
The Empirical Literature. Journal of Business Ethics, Vol. 13. pp. 205-221.
Fleming, M.K. 1980. Budgeting Practices in Large CPA Firms. The Journal of
Accountancy, May, p.55-62.
Gibson, J., L., Ivancevich, J.M., and Donnelly, J. H. 1995. Organizations. Eight
Edition, Richrad D. Irwin.
Gordon, L. M., Graham, S. 2006. Attribution theory, The Encyclopedia of Human
Development. Thousand Oaks: Sage Publications, 1, p.142-144.

Gustati. 2012. Persepsi Auditor Tentang Pengaruh Locus of Control Terhadap


Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit (Survey pada Auditor BPKP Perwakilan
Provinsi Sumatera Barat). Jurnal Akuntansi & Manajemen, Vol. 7
No. 2
Desember 2012 ISSN 1858-3687, p.46-68.
Harini. D., Wahyudin, A., Anisykurlillah., I. 2010. Analisis Penerimaan Auditor
Atas Dysfunctional Audit Behavior: Sebuah Pendekatan Karakteristik Personal
Auditor. Simposium Nasional Akuntansi (SNA) XIII Purwokerto.
Hartati, Nian L. 2012. Pengaruh Karakteristik Internal dan Eksternal Auditor
Terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional Atas Prosedur Audit. Accounting
Analysis Journal 1 (2) (2012).
Herrbach, O. 2001. Audit Quality, Auditor Behaviour and the Psychological
Contract. European Accounting Review, Vol. 10 No. 4, p.787-802.
Hidayat, Widi. 2012. ESQ dan Locus of Control Sebagai Anteseden Hubungan
Kinerja Pegawai dan Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit pada Badan

28

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Pengawas Daerah (BAWASDA) Jawa Timur. Jurnal Mitra Ekonomi dan


Manajemen Bisnis, Vol. 3, No. 1, April 2012, p.50-74.
Ikatan Akuntan Publik Indonesia (IAPI). 2015. Directory Kantor Akuntan Publik
dan Akuntan Publik 2015. Jakarta.
________. 2013. Standar Audit (SA 300) Perencanaan Suatu Audit Atas Laporan
Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.
________. 2013. Standar Audit (SA 500) Bukti Audit. Jakarta: Salemba Empat.
Irawati, Y., Petrolina, A. T., dan Mukhlasin. 2005. Hubungan Karakteristik
Personal Auditor Terhadap Tingkat Penerimaan Penyimpangan Perilaku Dalam
Audit. Simposium Nasional Akuntansi VIII Solo.
Kelley, T. and Margheim, L. 1990. The Impact of Time Budget Pressure,
Personality and Leadership Variabel on Dysfunctional Behavior. Auditing:
A Journal of Practice and Theory, Vol. 9. No. 2, p21-41.
_________ and Seiler, R. E. 1982. Auditor Stress and Time Budget. The CPA
Journal, December, p.24-34.
Kholidiah dan Murni, S. A. 2014. Analisis Faktor-Faktor Yang Berpengaruh
Terhadap Terjadinya Penghentian Prematur (Prematur Sign Off) Atas Prosedur
Audit (Studi Kasus Pada Kantor Akuntan Publik Di Jawa Timur). Simposium
Nasional Akuntansi XVII Lombok.
Kreitner dan Kinicki. 2005. Perilaku Organisasi, Buku 1 dan 2. Jakarta: Salemba
Empat.
Kurnia. 2009. Pengaruh Tekanan Waktu Audit dan Locus of Control Terhadap
Tindakan yang Menurunkan Kualitas Audit. Ekuitas, Vol. 15 No. 4 Desember
2011 ISSN 1411-0393, p.456 476.
Lazarus, R. S. 1995. Psycological Stress in the Work Place. In: Crandall, R and
Perrewe, P.L., editors. Occupational Stress: A Handbook. Washington, DC: Taylor
& Francis, p.3-14.
Lefcourt, H. 1982. Locus of Control: Current Trends in Theory and Research.
Second Edition. Hillsdale: Lawrence Erlbaum.
Lightner, S.S., Adams, S, and Lightner, K. 1982. The Influence of Situasional,
Ethical and Expentancy Theory Variables on Accountants Underreporting
Behavior. Auditing: Journal of Practice and Theory, Vol. 2, p.1-12.

29

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

Lincoln, J. And Kalleberg, A. 1990. Culture, Control, and Commitment.


Cambridge: Cambridge University Press.
Malone, C.F, dan R.W Robberts. 1996. Factors Assosiated With The Incidence of
Reduced Audit Quality Behaviors. Auditing: A Journal Practice and Theory, Vol.
15. No 2, p.49-64.
Manullang, Asna. 2010. Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu dan Resiko
Kesalahan Terhadap Penurunan Kualitas Audit (The Influence of Time Budget
Pressure and Risk of Error to Reduced Audit Quality). Fokus Ekonomi, Vol. 5 No.
1 Juni 2010, p.81 94.
McDaniel, L. S. 1990. The Effect of Time Pressure and Audit Program Structure
on Audit Performance. Journal of Accountancy Research, Vol. 28, p267- 285.
McNair, C.J. 1991. Proper Compromises: The Management Control Dilemma in
Public Accounting and Its Impact on Auditor Behavior. Accounting,
Organizations and Society, Vol. 16 No. 7, p.635-653.
Nadirsyah dan Zuhra I. M. 2009. Locus of Control, Time Budget Pressure dan
Penyimpangan Perilaku Dalam Audit. Jurnal Telaah & Riset Akuntansi, Vol. 2 No.
2 Juli 2009, p.104-116.
Noor, Juliansyah. 2015. Metodologi Penelitian Skripsi, Tesis, Disertasi, dan
Karya Ilmiah. Cetakan ke-5. Jakarta: Prenada Group.
Nouri, H. and Parker, R. J. 1996. The Effect of Organizational Commitment on
the Relation Between Budgetary Participation and Budgetary Slack. Behavioral
Research in Accounting. Vol. 8. p.74-90.
Otley, D. T., and Pierce, B. J. 1996. Audit Time Budget Pressure: Consequence
and Antecendents. Accounting, Auditing and Accountability Journal, Vol. 9 No. 1,
p.31-58.
Pierce, B, and Sweeney, B. 2004. Cost-Quality Conflict in Audit Firms: An
Empirical Investigation. Europan Accounting Review. Vol. 13. No. 1, p.412-441.
Raghunathan, B. 1991. Premature Signing-Off of Auditor Procedure an Analysis.
Accounting Horizon, Vol. 5. No. 2, p.71-79.
Robbins, S. P. dan Timothy, A. J. 2015. Perilaku Organisasi. Edisi 16. (Ratna
Saraswati dan Febriella Sirait, Pentj). Jakarta: Salemba Empat.
Rotter, J. B. 1966. Generalized Expectancies For Internal Versus External Control
of Reinforcement. Psychological Monographs, Vol. 80, p.1-28.

30

E-Jurnal Akuntansi Universitas Udayana 16.1 (2016).1-33

ISSN: ......- ......

Ruslan, Rosady. 2003. Metode Penelitian Public Relationship dan Komunikasi.


Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Silaban, Adanan. 2009. Perilaku Disfungsional Auditor Dalam Pelaksanaan
Program Audit (Studi Empiris di Kantor Akuntan Publik) (disertasi). Semarang:
Universitas Diponegoro.
Simanjuntak, Piter. 2008. Pengaruh Time Budget Pressure dan Resiko Kesalahan
Terhadap Penurunan Kualitas Audit (Reduced Audit Quality) (Studi Empiris pada
Auditor KAP di Jakarta (tesis). Semarang: Universitas Diponegoro.
Suartana, I Wayan. 2010. Akuntansi Keperilakuan, Teori dan Implementasi.
Denpasar: Andi Yogyakarta.
Sudirjo, Frans. 2013. Perilaku Auditor Dalam Pelaksanaan Program Audit (Studi
Empiris pada Kantor Akuntan Publik di Semarang). Serat AcityaJurnal Ilmiah.
(UNTAG) Semarang.
Sugiyono. 2014. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D. Cetakan ke21 Desember 2014. Bandung: CV Alfabeta.
Suparman. 2007. Analisis Pengaruh Peran Kepemimpinan, Motivasi dan
Komitmen Organisasi Terhadap Kepuasan Kerja Dalam Meningkatkan Kinerja
Pegawai (Studi pada Pegawai di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten
Sukamara di Propinsi Kalimantan Tengah) (tesis). Semarang: Universitas
Diponegoro.
Susanti, M. dan Subroto, B. 2015. Penerimaan Auditor Terhadap Penyimpangan
Perilaku Audit Melalui Pendekatan Karateristik Personal Auditor. JIMFEB. (serial
online), [diunduh 11 Nopember 2015 jam 22.40]. Available from: URL:
http://jimfeb.ub.ac.id/index.php/jimfeb/article/view/1844.
Tanjung, Roni. 2013. Pengaruh Karakteristik Personal Auditor dan Time Budget
Pressure Terhadap Perilaku Disfungsional Auditor (Studi Empiris pada KAP di
Kota Padang dan Pekanbaru) (artikel). Padang: Universitas Negeri Padang.
Tosi, H. L. 1971. Organizational Stress as a Moderator of The Relationship
Between Inference and Role Response. Academic of Management Journal, 14,
p.7-12.
Trevino, L. K., 1986. Ethical Decision Making in Organizations: A Person
Situation Interactionist Model. Academy of Management Review, Vol. 11 No. 3,
p.601-617.
Triono, H., Anton, dan Setiawan. D. 2012. Pengaruh Locus of Control, Komitmen
Organisasional, dan Posisi Terhadap Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit

31

Dwi Haryadi N., I Wyn. Ramantha, dan I G. A. Nym. Budiasih, Pengaruh karakteristik.....

(Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik di Kota Semarang). Prosiding Seminar
Nasional Forum Bisnis & Keuangan I, ISBN: 978-602-17225-0-3, p.152-165.
Wijayanti, Provita. 2009. Pengaruh Karakteristik Personal Auditor Terhadap
Penerimaan Perilaku Disfungsional Audit (Studi Empiris pada Auditor Pemerintah
Yang bekerja di BPKP Perwakilan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa
Yogyakarta). JAI, Vol.5, No.2, Juli 2009, p.251-271.
Utama, Suyana. 2014. Aplikasi Analisis Kuantitatif (Edisi Keempat). Modul
Statistika Bisnis (Materi 8 s/d 14). Denpasar: Universitas Udayana.
Wijono, Sutarto. 2012. Psikologi Industri & Organisasi. Dalam Suatu Bidang
Gerak Psikologi Sumber daya Manusia. Cetakan ke-3. Jakarta: Kencana Prenada
Media Group.
Wintari, Intan. 2015. Pengaruh Tekanan Anggaran Waktu, Locus of Control, dan
Komitmen Profesional Pada Perilaku Penurunan Kualitas Audit (tesis) Denpasar:
Universitas Udayana.
Wirawan. 2013. Kepemimpinan (Teori, Psikologi, Perilaku Organisasi, Aplikasi,
dan Penelitian). Cetakan kesatu Juni 2013. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
p.713.

32