Anda di halaman 1dari 7

RMK PERTEMUAN I

AKUNTANSI MANAJEMEN LANJUTAN


SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN
DAN AKUNTANSI MANAJEMEN

Oleh:
Kelompok IV
Dwi Haryadi Nugraha (1506325006)
I Gst Ngr Bagus Widana (1506325007)

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2016
0

BAB I
SISTEM INFORMASI AKUNTANSI KEUANGAN DAN AKUTANSI MANAJEMEN
A. Pendahuluan
Sistem informasi akuntansi manajemen menyediakan informasi yang dibutuhkan untuk
memenuhi tujuan-tujuan manajemen tertentu. Sistem informasi akuntansi manajemen
tidak terikat oleh kriteria apa pun yang mendefinisikan sifat dari proses, masukan, serta
keluarannya. Kriterianya fleksibel dan berdasarkan pada tujuan manajemen. Ada tiga
tujuan utama dalam sistem akuntansi manajemen, yaitu:
1.

Menyediakan informasi untuk penghitungan biaya jasa, produk, atau objek lainnya
yang ditentukan oleh manajemen.

2.

Menyediakan informasi untuk perencanaan, pengendalian, pengevaluasian dan


perbaikan berkelanjutan.

3.

Menyediakan informasi untuk pengambilan keputusan.

Informasi akuntansi manajemen dapat membantu mereka mengidentifikasi dan


menyelesaikan masalah, serta mengevaluasi kinerja.
B. Perbedaan Akuntansi Manajemen Dan Akuntansi Keuangan
Pada dasarnya sistem akuntansi perusahaan dapat dibagi menjadi dua bagian besar, yaitu
sistem akuntansi keuangan dan sistem akuntansi manajemen. Sistem akuntansi keuangan
merupakan sistem yang dirancang untuk menghasilkan laporan keuangan pada pihakpihak eksternal, seperti pemegang saham, kreditur, pajak, dan lain-lain. Laporan
keuangan harus disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan yang berlaku. Berbeda
halnya dengan sistem akuntansi manajemen yang menghasilkan informasi untuk pihakpihak internal, seperti manajer, eksekutif, dan pekerja. Akuntansi manajemen
mengidentifikasi, mengumpulkan, mengukur, mengklarifikasi, dan melaporkan informasi
yang bermanfaat bagi pengguna internal dalam merencanakan, mengendalikan, dan
mengambil keputusan. Perbandingan antara akuntansi manajemen dan akuntansi
keuangan dapat dilihat pada tabel berikut:

C. Tahap Pengembangan Sistem Akuntansi Perusahaan


Menurut Kaplan dan Cooper (1999), pengembangan sistem akuntansi perusahaan dapat
dilakukan dalam empat tahap, yaitu:
1.

Tahap Pertama Tahap belum sempurna, tahap ini biasanya terjadi pada perusahaanperusahaan yang baru mengembangkan sistem akuntansinya. Biasanya sistem
akuntansi yang pertama kali dikembangkan adalah sistem akuntansi kenuangan.
Tahap ini dikatakan belum sempurna karena sebagai perusahaan yang baru membuat
sistem akuntansi, maka makin banyak kesalahan yang dibuat dalam menyusun
laporan keuangan tersebut.

2.

Tahap Kedua Penekanan pada sistem informasi keuangan. Pada tahap ini
perusahaan sudah memiliki sistem informasi akuntansi keuangan yang baik, dapat
menghasilkan laporan keuangan pada pihak eksternal sesuai dengan peraturan yang
berlaku. Tahap ini perusahaan belum memiliki sistem informasi akuntansi
manajemen, sehingga informasi akuntansi manajemen dihasilkan dari sistem
informasi keuangan.

3.

Tahap Ketiga Pemisahan antara sistem akuntansi keuanga dan sistem akuntansi
manajemen. Dalam tahap ini, perusahaan memiliki sistem yang terpisah antara
akuntansi keuangan dan akuntansi menejemen.

4.

Tahap Keempat Tahap integrasi. Dalam tahap ini sistem informasi akuntansi
keuangan dan akuntansi manajemen disatukan dalam sitem akuntansi perusahaan
yang terintegrasi, sistem akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen tetap
memiliki modul yang berbeda.

D. Perbedaan Akuntansi Biaya, Manajemen Biaya, dan Akuntansi Manajemen


Pemahaman mengenai akuntansi biaya (cost accounting), manajemen biaya (cost
management), dan akuntansi manajemen (management accounting) sering kali tumpang
tindih. Ketiga konsep ini dibedakan sebagai berikut:
1.

Akuntansi biaya mempelajari perhitungan biaya produksi per unit dengan tujuan
untuk memberikan nilai pada persediaan yang dimiliki perusahaan, dan sekaligus
menetapkan nilai beban pokok penjualan pada periode tersebut.

2.

Akuntansi manajemen berbicara mengenai bagaimana cara menyediakan informasi


akuntansi, serta teknik-teknik yang dapat dilakukan oleh manajemen dalam proses
perencanaan, pengendalian (termasuk penilaian kinerja), serta pengambilan
keputusan.

3.

Manajemen biaya, merupakan bagian dari akuntansi manajemen yang bertujuan


untuk memberikan informasi bagi manajemen agar dapat melakukan pengelolaan
biaya perusahaan dengan lebih baik lagi (efisiensi biaya).

E. Pembahasan Topik Dalam Akuntansi Biaya


Menurut Kaplan dan Johnson (1987), sejarah awal perancangan sistem akuntansi biaya
memang tidak mempermasalahkan keakuratan perhitungan biaya produksi per unit,
karena orang-orang tersebut mengetahui bahwa sistem tersebut memang hanya dirancang
untuk tujuan inventory costing, yaitu menentukan nilai persediaan dan beban
pokokpenjualan, agar perusahaan dapat menyusun laporan keuangan, terutama laporan
laba rugi dan posisi keuangan. Tidak perlu mempermasalahkan ketidakakuratan tersebut,
karena hanya masalah perbedaan waktu, dimana pada akhirnya setelah beberapa periode,
semua biaya produksi akan masuk dalam laporan laba rugi sebagai beban pokok
penjualan. Sehingga, sistem akuntansi biaya ini tidak cocok digunakan untuk
pengambilan keputusan. Contoh-contoh topik alokasi biaya yang tidak akurat dalam
akuntansi biaya adalah:
1.

Sistem biaya pesanan (Job Order Costing)


Job order costing merupakan sistem perhitungan biaya produksi yang digunakan
untuk

perusahaan

yang

memproduksi

barang

berdasarkan

pesanan.

Permasalahannya, biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung dapat
dibebankan secara akurat ke masing-masing pesanan, namun biaya overhead pabrik
tidak dapat dibebankan secara akurat. Total biaya yang tidak akurat tersebut tidak
memiliki kegunaan bagi manajemen.
3

2.

Sistem biaya proses (Process Costing)


Sistem perhitungan biaya ini dipergunakan untuk perusahaan yang dipergunakan
untuk memproduksi barang secara massal. Perhitungan biaya produksi akan
dilakukan per batch yang diproduksi, dimana untuk produk yang sama, hasil
produksi antara satu batch dengan batch lainnya tidak dapat dibedakan.
Permasalahannya sama yaitu alokasi biaya overhead pabrik masing-masing batch
tidak akurat. Jika dilihat dari mekanismenya, maka sistem ini memang dirancang
untuk kebutuhan inventory costing juga, yang tidak memiliki kegunaan bagi
manajemen karena ketidakakuratan dalam perhitungan biaya per unit atau biaya per
ekuivalen unitnya.

3.

Joint Costs
Joint costs adalah biaya-biaya yang dikeluarkan perusahaan untuk melakukan suatu
proses, dimana dari hasil proses tersebut akan menghasilkan beberapa jenis produk,
yang disebut dengan joint product. Nilai alokasi dari joint costs untuk kepentingan
manajemen sama sekali tidak ada. Sulit sekali untuk mengalokasikan biaya secara
akurat misalnya pada penentuan produk yang akan dijual pada titik split-off atau
setelah diproses lebih lanjut. Hasil alokasi dari joint costs sama sekali tidak dipakai
dalam menentukan keputusan. Perhitungan biaya per unit dari hasil alokasi joint cost
memang juga ditunjukkan untuk inventory costing saja.

4.

Alokasi Biaya Departemen Penunjang (Support Department Cost Allocation)


Alokasi biaya departemen penunjang memisahkan biaya produksi yang dikeluarkan
perusahaan menjadi biaya untuk masing-masing departemen. Terdapat dua jenis
departemen yang mengeluarkan biaya produksi, yaitu departemen produksi dan
departemen penunjang. Semua biaya yang dikeluarkan oleh departemen produksi
akan dibebankan ke produk, karena departemen tersebut memang langsung terlibat
dalm proses produksi, sedangkan biaya yang dikeluarkan oleh departemen
penunjang tidak bisa secara langsung ke produk, namun harus dibebankan terlebih
dahulu ke departemen produksi, baru kemudian dibebankan pada masing-masing
produk. Pembebanan biaya departemen penunjang ke departemen produksi dapat
dilakukan dengan tiga cara, yaitu: direct method, step down method, dan resiprocal
method. Alokasi dengan menggunakan ketiga cara tersebut akan menghasilkan
angka yang berbeda. Resiprocal method lebih akurat, namun metode lainnya
diperkenankan, karena pada akhirnya seluruh metode tersebut tidak ada yang akurat
ketika dibebankan ke produk. Pemasalahannya terletak pada pembebanan biaya
4

departemen produksi ke masing-masing produk dilakukan dengan dasar alokasi


tradisional.
5.

Perlakuan akuntansi untuk barang cacat (Scrap, Rework, dan Spoilage)


Jenis barang cacat dapat dibagi menjadi dua, yaitu: (a) pengerjaan ulang (rework),
(b) harga jual di bawah normal (Spoilage). Selain itu ada juga sisa-sisa produksi
(scrap). Dalam akuntansi biaya, rewok dan spoilage yang terjadi dapat dikategorikan
sebagai normal loss maupun abnormal loss. Jika itu merupakan normal loss, maka
hal tersebut akan meningkatkan biaya per unit dari produk tersebut, sedangkan jika
merupakan abnormal loss, maka tidak akan memengaruhi biaya per unit dari produk
tersebut, dan langsung dimasukkan dalam beban pokok penjualan sebagai abnormal
loss.

Kesimpulannya adalah, dari awalnya akuntansi biaya memang dirancang untuk tujuan
inventory costing, yaitu: memperkirakan nilai dari biaya produksi yang masuk dalam
persediaan barang dalam proses, persediaan barang jadi, serta beban pokok penjualan.
Karena itu dari awalnya sistem akuntansi biaya dikembangkan tanpa membutuhkan
perhitungan biaya pr unit yang akurat, dan sistem akuntansi biaya ini memang ditujukan
untuk memberikan informasi bagi manajemen dalam pengambilan keputusan.
F. Tema Baru Dalam Akuntansi Manajemen
Lingkungan ekonomi telah mensyaratkan pengembangan praktik-praktik akuntansi
manajemen yang inovatif dan relevan. Konsekuensinya, sistem akuntansi manajemen
berdasarkan aktivitas banyak dikembangkan dan diimplementasikan oleh organisasi.
Selain itu, fokus sistem akuntansi manajemen telah diperluas agar memungkinkan para
manajer melayani kebutuhan pelanggan dengan lebih baik dan mengelola rantai nilai
(value chain) perusahaan. Lebih jauh lagi, para manajer harus menekankan waktu,
kualitas, dan efisiensi untuk mengamankan dna mempertahankan keunggulan bersaing.
Selain itu, informasi akuntansi harus dibuat untuk mendukung tiga tujuan fundamental
organisasi tersebut. Akhir-akhir ini, muncul e-bisiness mensyaratkan sistem akuntansi
manajemen untuk menyediakan informasi yang memungkinkan para manajer
menghadapi lingkungan baru ini.
Sekilas Tentang Manajemen Berdasarkan Aktivitas (Activity Based Costing)
Permintaan akuntansi manajemen yang lebih akurat dan relevan telah mengarah pada
perkembangan manajemen berdasarkan aktivitas. Manajemen berdasarkan aktivitas
5

(ABM) adalah suatu pendekatan yang terintegrasi di seluruh sistem yang memfokuskan
perhatian manajemen pada berbagai aktivitas yang bertujuan meningkatkan nilai bagi
pelanggan dan laba yang dihasilkan. ABM menekankan pada perhitungan biaya
berdasarkan aktivitas (ABC) dan nilai proses. Perhitungan biaya berdasarkan aktivitas
dapat meningkatkan keakuratan pengalokasian biaya, yaitu pertama-tama dengan
menelusuri biaya berbagai aktivitas, kemudian produk atau pelanggan yang
menggunakan berbagai aktivitas tersebut. Analisis nilai proses menekankan pada analisis
aktivitas, yaitu mencoba untuk menetapkan mengapa aktivitas dilakukan dan seberapa
baik aktivitas dilakukan. Hal itu bertujuan menemukan cara melakukan aktivitas yang
diperlukan secara lebih efisien dan menghapus aktivitas yang tidak memberikan nilai
bagi pelanggan.
Sumber:
Hansen & Mowen. 2013. Akuntansi Manajerial Cetakan kedelapan. Jakarta: Salemba Empat
IAI. 2016. Modul Chartered Accountant Akuntansi Manajemen Lanjutan. Jakarta Pusat: IAI.