Anda di halaman 1dari 6

Bordetella

http://mikrobia.files.wordpress.com/2008/05/bo
rdetella_pertussis_r.jpg

Gambar 2. Bardetella pertusis dengan pewarnaan Gram


1. Morfologi
Berbentuk kokobasil (gram negatif basil)
Bentuk kuman biasanya uniform, tetapi setelah subkultur dapat bersifat
pleomorfik
Tidak berflagel
Ukuran sel : 1 - 2 m
Koloni bersifat smooth, cembung, mengkilap dan tembus cahaya.
2. Patogenesis
Setelah menghisap droplet yang terinfeksi, kuman akan berkembang biak di
dalam saluran pernafasan, gejala sakit hampir selalu timbul dalam 10 hari setelah
kontak, meskipun masa inkubasi bervariasi antara 5-21 hari. Penyakit ini terbagi
dalam 3 stadium.
a. Stadium prodromal (kataral) berlangsung selama 1-2 minggu. Selama stadium
ini penderita hanya menunjukkan gejala-gejala infeksi saluran pernafasan
bagian atas yang ringan seperti bersin, keluarnya cairan dari hidung, batuk dan
kadang-kadang konjuntivitas. Pemeriksaan fisik tidak memberikan hasil yang
menentukan. Masa ini merupakan masa perkembangbiakan kuman didalam
epitel pernafasan.
b. Stadium kedua biasanya berlangsung selama 1-6 minggu dan ditandai dengan
peningkatan batuk paroxysmal. Suatu batukparoxysmal yang khas adalah
dimana dalam jangka waktu 15-20 detik terjadi 5-20 batuk beruntun biasanya
diakhiri dengan keluarnya lendir/ muntah serta tidak ada kesempatan untuk

bernafas di anatraa batuk-batuk tersebut. Tarikan nafas setelah batuk berakhir


menimbulkan bunyi yang khas.
c. Stadium ketiga berupa stadium konvalesen. Batuk dapat berlangsung sampai
beberapa bulan setelah permulaan sakit. Beratnya penyakit bervariasi.
Sindrom respiratorik ringan yang disebabkan oleh B. pertussis tidak mungkin
dikenal atas dasar diperkirakan sebagai penyakit-penyakit atipik dan
penderita-penderita ini berbahaya bagi orang lain.
3. Virulensi
Endotoksin yang sifatnya termostabil dan terdapat dalam dinding sel kuman.
Sifat endotoskin yang dihasilkan ini mirip dengan sifat endotoksin-endotoksin

yang dihasilkan oleh kuman-kuman negatif Gram lainnya.


Protein yang bersifat termolabil dan dermonekrotik. Toksin ini dibentuk di
dalam proto plasma dan dapat dilepaskan dari sel degan jalan memecah sel
tersebut, atau dengan jalan ekstraksi memakai NaCl.
Baik endotoksin maupun toksin yang termolabil tersbeut tidak dapat

memancing timbulnya proteksi terhadap infeksi B. pertussis. Peranan yang pasti


daripada kedua toksin ini dalam potogenesis pertusis belum diketahui.
4. Pemeriksaan Laboratorium
Diagnosis yang pasti tergantung pada diasingkannya B. pertusssisatau B.
parapestussis/ B. brochiseptica (lebih jarang) dari penderita. Hasil isolasi tertinggi
diperoleh pada stadium kataral, dan kuman pertusis biasanya tidak dapat ditemukan
lagi setelah 4 minggu pertama sakit. Bahan pemeriksaan berupa usapan nasofaring
penderita atau dengan menampung batuk secara langsung pada perbenihan. IsolasiB.
Pertussis dari bahan klinik sangat tergantung pada transportasi dan pengolahan bahan
tersebut.
Bila diperlukan lebih dari 2 jam sebelum bahan tersebut sampai di
lanoratorium, sebaiknya bahan pemeriksaan tadi ditanam pada perbenihan Stuart
(dimodifkasikan). Penambahan penisilin 0,25-0,5 unit/ ml didalam perbenihan kedua
adalah berguna unutk menghambat pertumbuhan kuman positif Gram saluran
pernafasan, tanpa mengurangi pertumbuhan kuman pertussis.
Selain reaksi-rekasi biokimia, identifikasi B. pertusssis secara serologic akan
memastikan isolasi tersebut. Pewarnaan antibodi fluoresensi (AF) telah dipakai untuk
mengidentifikasi B. pertussis pada preparat langsung hapusan nasofaring, dan untuk
mengidentifikasi kuman-kuman yang tumbuh pada perbenihan Bordet-Gengou. Cara

AF ini tidak dapat menggantikan isoloasi kuman namun dapat mengidentifikasi


kuman secara lebih cepat.
5. Pencegahan dan Pengobatan
Pada saat ini eritromisin merupakan obat pilihan. Pemberian antibiotika ini
akan menyingkirkan kuman-kuman tersebut dari nasofaring dan karenanya dapat
mempersingkat masa penularan/ penyebaran kuman.
Selain eritsomisin, tetrasiklin, kloramfenikol dan ampisilin juga bermanfaat.
Cara pencegahan terbaik terhadap pertusis adalah dengan imunisasi dan mencegah
kontak langsung dengan penderita. Proteksi bayi terhadap pertusis dengan vaksinasi
aktif adalah penting karena komlikasi-komplikasi berat serta morbiditas tertinggi
terdapat pada usia ini.
Antibodi yang masuk melalui plasenta tidak cukup memberikan proteksi.
Vaksin yang dipergunakan biasanya merupakan kombinasi toksoid difteri dan tetanus
dengan vaksin pertusis (vaksin DPT). Imunitas yang diperoleh baik karena unfeksi
alamiah maupun karena imunisasi aktif, tidak berlangsung untuk seumur hidup.

Shigella

Gambar 1. Bakteri Shigella


1. Morfologi
Kuman bentuk batang (gram negatif bacil)
Non motil
Ukuran sel: 0.5 0.7um x 2 - 3um
Tidak berflagel
Koloni cembung, bundar, transparan, tepi berbatas tegas, diameter 2 4 mm

Shigella mempunyai struktur antigen yang kompleks. Sebagian besar kuman


mempunyai antigen O yang juga dimiliki oleh kuman enterik lainnya. Antigen
somatik O Shigella adalah lipopolisakarida. Spesifikasi serologiknya bergantung pada
polisakarida itu. Terdapat lebih dari 40 serotipe.
2. Patogenesis
Shigella sangat menular. Infeksi Shigella hampir selalu terbatas pada saluran
pencernaan, invasi ke aliran darah sangat jarang.
Shigella merupakan genus basil Gram negatif yang menyebabkan disentri
basiler. Infeksi Shigella dapat terjadi melalui mulut. Disentri menyebar melalui
kontaminasi feces pada makanan dan minuman., WC, pegangan pintu, seprai dan lainlain dan juga dengan perantara lalat yang terkontaminasi dengan tinja. Disentri
merupakan peradangan akut pada kolon.
Shigellosis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh berbagai
spesiesShigella. Orang

yang

terinfeksi

dengan Shigella mengembangkan

diare,

demam dan kram perut memulai satu atau dua hari setelah mereka terkena bakteri.
Diare sering berdarah. Shigellosis biasanya sembuh dalam 5 sampai 7 hari, tetapi pada
beberapa orang, terutama anak muda dan orang tua, diare bisa begitu parah sehingga
pasien perlu dirawat di rumah sakit. Sebuah infeksi berat dengan demam tinggi juga
dapat dikaitkan dengan kejang pada anak kurang dari 2 tahun.
Bakteri Shigella menghasilkan racun yang dapat menyerang lapisan usus
besar, menyebabkan pembengkakan, luka pada dinding usus, dan diare berdarah.
Dalam kasus Shigellosis yang sangat parah, seseorang mungkin mengalami kejang
(kejang), leher kaku, sakit kepala, kelelahan ekstrim, dan kebingungan. Shigellosis
juga dapat menyebabkan dehidrasi dan dalam kasus yang jarang terjadi, komplikasi
lain, seperti arthritis, ruam kulit, dan gagal ginjal.
Gejala lain Shigellosis termasuk
abdominal cramps atau kram perut
high fever atau demam tinggi
loss of appetite atau kehilangan nafsu makan
nausea and vomiting atau mual dan muntah
painful bowel movements atau gerakan usus yang menyakitkan
3. Virulensi
Endotoksin
Pada autolisis, semua shigella melepaskan lipopolisakarida yang toksik.
Endotoksin ini kemungkinan yang berperan menimbulkan iritasi pada dinding usus.
Eksotoksin Shigella sp

Shigella sp. tipe 1 (basil shiga) menghasilkan eksotoksin yang tidak tahan panas
yang dapat mengenai usus dan sistem saraf pusat. Eksotoksin ini adalah protein yang
bersifat antigenik (merangsang produksi antitoksin) dan bersifat mematika untuk
hewan percobaan. Sebagi enterotoksin, zat ini menimbulkan diare seperti verotoksin E
coli. Pada manusia enterotoksin menghambat reabsorsi gula dan asam amino di usus
halus. Aktifitas yang bersifat toksik ini berbeda dengan sifat invasif shigella pada
disentri.
4. Pemeriksaan Laboratorium
a. Bahan : Tinja segar, lendir, dan usapan rektum untuk pembiakan. Sejumlah besar
leukosit dan darah merah sering dapat terlihat secara mikroskopik dalam tinja.
Bahan serum, bila diinginkan, harus diambil tiap 10 hari untuk menunjukan
kenaikan titer aglutinasi antibodi.
b. Biakan: Bahan digoreskan pada perbenihan diferensial (misalnya, Mac Conkey
atau agar EMB) dan pada perbenihan selektif (agar enterik Hektoen atau
agar Salmonella-Shigella), yang menekan Enterobacteriaceae lain dan organisme
gram-positif. Koloni-koloni yang tidak berwarna (laktosa negatif) diinokulasikan
ke dalam perbenihan agar triplet gula besi.
c. Serologi: Orang normal mempunyai

aglutinin

terhadap

berbagai

spesiesShigella. Tetapi, serangkaian penetapan titer antibodi dengan selang waktu


10 hari dapat menunjukkan kenaikan antibodi spesifik. Serologi tidak digunakan
untuk mendiagnosis infeksi Shigella.
5. Pencegahan dan Pengobatan
Usaha pengendalian harus diarahkan pada pembersihan bakteri dari sumbersumber dengan cara:
1) Pengendalian sanitasi air, makanan dan susu, pembuangan sampah serta
pengendalian lalat (kebersihan lingkungan).
2) Isolasi penderita, pengobatan carrier dan disinfeksi ekskreta.
3) Penemuan kasus-kasus subklinik dan pembawa bakteri, khususnya pada para
pengurus makanan.
4) Serta khlorinasi air minum.
5) Penanganan, penyimpanan, dan persiapan makanan juga dapat membantu
mencegah infeksi Shigella.
Beberapa kasus Shigellosis tidak memerlukan pengobatan, tetapi antibiotik akan
diberikan untuk memperpendek penyakit dan untuk mencegah penyebaran bakteri
kepada orang lain. Hindari pemberian obat bebas untuk muntah atau diare kecuali
dokter merekomendasikan mereka, karena mereka dapat memperpanjang penyakit.

Siprofloksasin,

ampisilin,

doksisiklin,

dan

trimetoprimsulfametoksazol

merupakan inhibitor yang paling sering untuk isolat shigella dan dapat menekan
serangan klinis disentri akut dan memperpendek durasi gejala. Obat-obat tersebut
mungkin tidak dapat membasmi oeganisme tersebut dari saluran cerna. Resistansi
terhadap banyak obat dapat ditransmisikan oleh plasmid, dan infeksi yang resistan
telah menyebar luas. Banyak kasus yang dapat sembuh sendiri. Pemberian opioid
sebaiknya dihindarkan pada disenteri shigella.

Daftar Pustaka
Anonim. 2010. Bordetella. [online]. tersedia : http://prianaliskesehatan.blogspot.co.id/
2010/08/bordetella.html
Pratiwi, Erni. 2011. Pemeriksaan Salmonella. [online]. tersedia : http://id.scribd.com/doc/
54252133/tugas-bakteri2
Nugroho, Edi dkk.1996.Mikrobiologi kedokteran.EGC:Jakarta