Anda di halaman 1dari 15

c  

   


  ! "#$


%$ #& '() 

Pengertian asas hukum menurut:

1. p Paul Scholten : Pikiran-pikiran dasar, yang terdapat id dalam dan di belakang sistem
hukum masing-masing dirumuskan dalam aturan-aturan perundang-undangan dan
putusan-putusan hakim, yang berkenaan dengan adanya ketentuan-ketentuan dan
keputusan-keputusan individual dapat dipandang sebagai penjabarannya.
2. p Karl Larenz : gagasan yang membimbing dalam pengaturan hukum (yang mungkin ada
atau yang sudah ada), yang dirinya sendiri bukan merupakan aturan yang dapat
diterapkan, tetapi yang dapat diubah menjadi demikian.
3. p Robert Alexy : ͞Optimierungsgebote͟ yang berarti aturan yang mengharuskan bahwa
sesuatu berdasarkan kemungkinan-kemungkinan yuridis dan faktual seoptimal
mungkin direalisasikan.

^&* *# +* ,-&*.) 

  # +* 


 c*! Bersifat umum Bersifat khusus
Bahwa asas hukum Bahwa asas hukum memiliki
memiliki wilayah wilayah penerapannya yang
penerapan yang lebih luas lebih sempit ketimbang asas
ketimbang kaidah hukum. Norma/kaidah hukum
perilaku. Asas hukum timbul dari aturan hukum
hanya memberikan suatu yang dirumuskan lebih
ukuran nilai yang dalam konkret, memberikan
penerapannya harus pedoman yang lebih jelass
dikhususkan dengan bagi perbuatan. Dan 1
mengarahkannya pada norma/kaidah hukum untuk 1
situasi faktual. Dan tidak perbuatan. Tidak boleh 1
hanya berlaku pada satu norma/kaidah hukum untuk
bidang tetapi beberapa seluruh jenis kegiatan.
bidang.
^ /! Tidak dapat diterapkan Dapat diterapkan secara
secara langsung. langsung.
Sebab asas hukum Sebab aturan hukum memiliki
menjalankan pengaruh isi yang jauh lebih konkret.
pada interpretasi
terhadap aturan hukum.
0 c( Lebih lama. Keberlakuan norma
Sebab mengikuti tergantung pada undang-
perkembangan teori. undang. Jika undang-undang
tersebut dicabut maka tidak
berlaku.
‰ ! & Tidak berkarakter ͞alles of Berkarakter ͞alles of niets͟
 niets͟ (semua atau tidak (semua atau tidak sama
sama sekali). sekali).
Bahwa terhadap kejadian Bahwa norma/kaidah hukum
yang sama dapat tidak membuka kemungkinan
diterapkan berbagai asas bahwa pada waktu yang
hukum, yang semuanya berrsamaan terdapat suatu
memainkan peranan pada aturan hukum lain yang dapat
interpretasi aturan-aturan diterapkan terhadap kejadian
yang dapat diterapkan. itu.

-  Tidak dapat kehilangan Dapat kehilangan


& keberlakuannya. keberlakuannya.
Sebab asas hukum tidak Sebab norma/kaidah hukum
langsung bertumpu para bertumpu pada kewibawaan
pengemban kewenangan dari pembentuk undang-
hukum undang atau dari hakim.
(rechtsautoriteiten).

0  c &*     * # +*   ,&
* . * & 1   &1 *  (
&*&"##() 

Bruggink berpendapat bahwa asas hukum itu di satu pihak memiliki suatu sifat yang
berbeda dari kaidah perilaku, karena sebagai kaidah penilaian berada pada landasan
kaidah-kaidah perilaku dan dalam interpretasi aturan-aturan hukum turut menentukan
wilayah penerapan aturan-aturan. Di lain pihak asas hukum itu sama seperti kaidah
perilaku karena secara tidak langsung juga memberikan arah pada perilaku yang
diinginkan. Sebagai contoh perbedaannya dalam cara penerapan. Asas hukum tidak
memiliki cara penerapan yang sama sekali berbeda dari kaidah perilaku, tetapi hanya
lebih tidak langsung. Asas legalitas sebagai asas hukum dalam hukum pidana tidak
dapat diterapkan secara langsung. Sehingga asas legalitas itu harus diinterpretasikan
dalam norma/kaidah hukum yang tertuang dalam pasal 1 KUHP (Kitab Undang-undang
Hukum Pidana). Sehingga asas legalitas ini dapat diterapkan secara langsung.

‰    *  #    c  &  #   
* ** 2) 

Apabila norma hukum tidak mendasarkan pada asas hukum maka ketika kekosongan
hukum, norma hukum tersebut tidak dapat berlaku pada peristiwa hukum tersebut.
Sebab telah terjadi kekosongan hukum. Jika terjadi kekosongan hukum maka langkah
yang dilakukan adalah mencari asas hukumnya. Asas hukum itu digunakan sebagai
pikiran-pikiran dasar. Tetapi karena tidak didasarkan pada asas hukumnya maka norma
hukum itu tidak dapat diterapkan untuk peristiwa hukum tersebut.

· 3  &*     * 1#  , 04 c.  /
"##  *   * 5* ( * 
&)

Saya akan memberikan satu contoh untuk asas hukum materiil dan asas hukum formil.

üp Asas hukum materiil


Salah satu asas hukum materiil adalah asas keadilan. Pasal 53 ayat (2) UU no. 9 tahun
2004 Tentang Perubahan Atas UU no. 5 tahun 1986 tentang Peradilan Tata Usaha
Negara, berbunyi: ͞Alasan-alasan yang dapat digunakan dalam gugatan sebagaimana
dimaksud pada ayat (1) adalah:
a. p Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku;
b. p Keputusan Tata Usaha Negara yang digugat itu bertentangan dengan asas-asas
umum pemerintahan yang baik.͟

Dari ketentuan pasal tersebut maka terlihat bahwa penguasa ingin melindungi
rakyatnya dari kesewenang-wenangan dan ingin memberikan keadilan bagi
rakyatnya.

üp Asas hukum formil


Salah satu asas hukum formal adalah asas kepastian. Pasal 3 ayat (2) UU no. 5 tahun
1986 tentang Peradilan Tata Usaha Negara, berbunyi: ͞Jika suatu Badan atau Pejabat
tata Usaha negara tidak mengeluarkan keputusan yang dimohonkan, sedangkan
jangka waktu sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan
dimaksud telah lewat waktu maka Badan atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut
dianggap telah menolak mengeluarkan keputusan yang dimasud͟. Pasal ini
menimbulkan kepastian pada masyarakat. Jika telah lewat waktu dari jangka waktu
sebagaimana ditentukan dalam peraturan perundang-undangan, maka masyarakat
tidak perlu bingung dan ragu. Sebab kepatian yang diberikan pasal ini adalah Badan
atau Pejabat Tata Usaha Negara tersebut dianggap telah menolak mengeluarkan
keputusan yang dimaksud.

 
c!   6$!  

p

&*2 2*
2*&"##()

üp „    : hak berdasarkan hukum. Menurut Paton, hak yang diakui dan
dilindungi oleh hukum. Ketika hak ini dilanggar atau tidak terpenuhi maka dapat
menggunakan lembaga formal untuk memperoleh haknya tersebut. Sebagai contoh
hak waris bagi para keluarga sedarah. Apabila seorang anak dari ahli waris tidak
mendapatkan bagiannya maka dia dapat mengajukan gugatan melalui Pengadilan,
selaku lembaga formal.
üp    : hak yang timbul dari norma lain. Hak ini tidak dilindungi oleh hukum.
Ketika hak ini dilanggar atau tidak terpenuhi maka tidak ada satu lembaga pun yang
dapat memaksa terpenuhinya hak tersebut. Sebagai contoh ͚͛͛͛

^  *" #      *"  *( 2  *
&"##()

Hukum diciptakan karena adanya hak. Pandangan hak diciptakan oleh hukum kurang
tepat. Sebab secara etimologis, antara hak dan adalah sama. Hak merupakan sesuatu
yang melekat pada manusia secara kodrati dan karena adanya hak inilah diperlukan
hukum untuk menjaga kelangsungan eksistensi hak dalam pola kehidupan
bermasyarakat. Hukum sebagai produk budaya mengemas, memberi bentuk, dan
menghaluskan apa yang melekat pada manusia yang secara substansial terdapat dalam
hidup bermasyarakat. Hak bukan apa yang dirumuskan melainkan nilai yang mendasari
perumusan itu.

0*!#$7$#3$63#*) 

1. p Paton : esensi hak bukanlah kekuasaan yang dijamin oleh hukum, melainkan
kekuasaan yang dijamin oleh hukum untuk merealisasi suatu kepentingan.
2. p Meijers : hak sebagai suatu kewenangan seseorang yang diakui oleh hukum untuk
menunaikan kepentingannya.
3. p Houwing : hak sebagai suatu kepentingan yang dilindungi oleh hukum dengan cara
tertentu.
4. p Dworkin : hak paling tepat dipahami sebagai nilai yang paling tinggi atas justifikasi
latar belakang bagi keputusan politis yang menyatakan suatu tujuan bagi masyarakat
secara keseluruhan.
5. p Ihering : hak sebagai kepentingan-kepentingan yang dilindungi oleh hukum.

‰  #5#    


#*
#(* #1  * *
 )
üp Teori kehendak
Teori ini dianut oleh mereka yang berpandangan bahwa tujuan hukum memberikan
sebanyak mungkin kepada individu kebebasan apa yang dikendakinya. Teori ini
memandang bahwa pemegang hak dapat berbuat apa saja atas haknya. Diskresi
individu merupakan ciri khas paling menonjol dari konsep hak. 
üp Teori kepentingan atau kemanfaatan
Teori ini dianut oleh mereka yang berpandangan bahwa tujuan hukum bukanlah
melindungi kehendak individu, melainkan melidungi kepentingan-kepentingan
tertentu. Kepentingan-kepentingan ini bukan diciptakan oleh negara karena
kepentingan itu telah ada dalam kehidupan bermasyarakat dan negara hanya
memilihnya mana yang harus dilindungi.

- * ^ ,*. #  $ ( # && 7 * # && 
*#&*5( &()

üp Teori berbasis tujuan adalah teori-teori dibangun untuk memberikan justifikasi


terhadap diutamakannya kepentingan masyarakat secara keseluruhan dalan
kehidupan bernegara. Produk teori tersebut adalah ekonomi berencana. Teori ini
dilatarbelakangi oleh para pemikir yang berbasis Marxisme yang dianut oleh Uni
Soviet dan pemerintahan sosialistis negara-negara Eropa Timur.
üp Teori berbasis hak memberikan justifikasi terhadap diutamakannya kepentingan
pribadi daripada kepentingan masyarakat. Produk teori ini yang klasik adalah 

 . Hukum dirancang untuk sebanyak mungkin melindungi kepentingan individu.
Landasan pemikiran adalah utilitarianisme yang dikemukakan oleh Jeremy Bentham.

4   ( * * * & 8 "+ & * *#
,!(.*&"##()

Misbruik van Recht/Abus de droit (Penyalahgunaan hak) adalah penggunaan hak yang
merugikan orang lain atau menggunakan hak kita untuk tujuan tidak baik. Sebagai
contoh adalah si A menerima hibah sebuah rumah dari si B. Si A dengan senang hati
menerimanya dan ingin segera menempati rumah tersebut. Ternyata rumah tersebut
masih disewa oleh si C sampai tahun depan. Jika si A mengusir si C dari rumah itu maka
si A telah melakukan penyalahgunaan hak. Sebab tindakan yang dilakukan si A tidak
melanggar hukum.

9  " 5 "   *7 *      *$ 
   *  * & *    * 
*& ()

üp Segi eksistensi hak itu sendiri


Dari segi eksistensi hak itu sendiri terdapat dua macam hak, yaitu hak orisinal dan
hak derivatif. Hak orisinal adalah hak yang melekat pada manusia yang diciptakan
satu paket oleh Allah dengan manusia itu sendiri. Hak -hak orisinal berupa ahk hidup,
hak atas kebebasan, dan hak milik. Dalam hal ini hukum bukan menciptakan hak-hak
itu, melainkan mengakui hak-hak itu. Ketiga hak orisinal itu melahirkan hak-hak
derivatif. Hak-hak derivatif ini merupakan bentukan hukum, yaitu melalui undang-
undang, dipraktikan dalam hukum kebiasaan, dan dituangkan di dalam perjanjian.
üp Segi keterkaitan hak itu dalam kehidupan bernegara
Dalam kaitannya dengan kehidupan bernegara, terdapat hak-hak dasar dan hak-hak
politik. Hak-hak dasar adalah hak-hak yang dimiliki setiap orang dan dijamin bebas
dari suasana campur tangan negara. W. Duk membedakan antara hak-hak dasar
klasik dan hak-hak dasar sosial. Pada hak-hak dasar yang bersifat klasik terdapat
kewajiban pemerintah untuk tidak melakukan apa-apa untuk melindungi manusia
dan warga negara sedangkan hak-hak dasar sosial justru terdapat kewajiban
pemerintah untuk melakukan segala sesuatu dalam melindungi manusia dan
warganya. Hak-hak politik berupa hak untuk ikut serta baik secara langsung maupun
tidak langsung dalam penyelenggaraan pemerintahan. Berbeda halnya dengan hak-
hak dasar yang tidak harus dituangkan ke dalam aturan hukum karena memang
merupakan hak-hak yang bersifak orisinal, hak-hak politik harus dituangkan ke dalam
konstitusi.
üp Segi keterkaitan hak dalam kehidupan bermasyarakat
Dilihat dari segi keterkaitan antara hak itu dalam kehidupan bermasyarakat terdapat
hak-hak privat. Hak-hak privat dibedakan antara hak-hak absolut dan hak-hak relatif.
Pembedaan itu mengenai tiga hal. Pertama, hak absolut dapat diberlakukan kepada
setiap orang sedangkan hak relatif hanya berlaku untuk seseorang tertentu. Kedua,
hak-hak absolut memungkinkan pemegangnya untuk melaksanakan apa yang
menjadi substansi haknya melalui hubungan dengan orang lain. Sedangkan hak
relatif menciptakan tuntutan kepada oarng lain untuk memberikan sesuatu,
melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu. Ketiga, objek hak-hak absolut
pada umumnya benda sedangkan objek hak relatif adalah prestasi, yaitu
memberikan sesuatu, melakukan sesuatu, atau tidak melakukan sesuatu.

·   ( * * * &7   ,   .  *
*(*  #* &7 ) 

üp Peristilahan Subjek Hukum


Istilah subjek hukum merupakan terjemahan dari bahasa Belanda    . Kata
  dalan bahasa Belanda dan Inggris berasal dari bahasa Latin   yang
artinya di bawah kekuasaan orang lain (subordinasi). Dalam bahasa Inggris, dikenal
iistilah    untuk menyebut sesuatu yang mempunyai hak. Istilah    berasal
dari bahasa Latin   yang ekuivalen dengan bahasa Yunani   .
üp Pengertian Subjek Hukum
Subjek hukum atau    dalam bahsa Inggris merupakan suatu bentukan hukum
artinya keberadaannya karena diciptakan oleh hukum. Sebagaimana dikemukakan
oleh Salmond bahwa    dapat dibedakan antara manusia dan bukan manusia.
Manusia dalam literatur bahasa Inggris biasanya disebut     atau bahasa
Belanda      atau dalam bahasa Indonesia disebut orang. Sedangkan
yang bukan manusia biasanya dalam bahasa Inggris disebut sebagai     atau
dalam bahasa Belanda      dan dalam bahasa Indonesia badan hukum.
Bdan hukum dapat dibedakan antara badan hukum publik dan badan hukum privat.
üp Pendapat Salmon tentang Subjek Hukum
Salmond menyatakan bahwa baik manusia maupun bukan manusia mempunyai
kapasitas sebagai subjek hukum atau istilah Salmond    kalau dimungkinkan
oleh hukum. Manusia sekalipun pada masa perbudakan oleh hukum tidak dipandang
sebaggai subjek hukum atau    ebaliknya, bukan manusia tetapi oleh hukum
dipandang sebagai cakap untuk memegang hak dan kewajiban merupakan subjek
hukum atau   .

&*1&*1 &"##() 

üp makta biasa : fakta yang tidak diatur oleh hukum. Sebagai contoh adalah orang yang
ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Apabila setelah diperiksa orang
tersebut meninggal dunia akibat serangan jantung maka merupakan fakta biasa. Hal
ini merupakan fakta karena secara nyata orang tersebut sudah meninggal dunia.
üp makta hukum : fakta yang diatur oleh hukum. Sebagai contoh adalah orang yang
ditemukan dalam keadaan meninggal dunia. Apabila setelah diperiksa orang
tersebut meninggal akibat luka tusukan di beberapa bagian tubuhnya maka dari
fakta tersebut terdapat kemungkinan untuk menjadi fakta hukum, yaitu telah terjadi
pembunuhan.

: *1 1      (   *  
   &  *  * 37& #  *
&"##()

makta hukum adalah fakta yang diatur oleh hukum. Alasan mengapa fakta diatur oleh
hukum adalah fakta itu berkaitan dengan hak dan kewajiban subjek hukum. Maka dari
itu, setiap fakta yang terjadi perlu dibedakan apakah fakta tersebut merupakn fakta
biasa atau fakta hukum. Jika merupakan fakta biasa maka tidak masalah. Tetapi jika
merupakan fakta hukum maka akan timbul hak dan kewajiban dari suatu fakta hukum
tersebut. Sebagai contoh adalah orang yang ditemukan dalam keadaan meninggal
dunia. Apabila setelah diperiksa orang tersebut meninggal akibat luka tusukan di
beberapa bagian tubuhnya maka dari fakta tersebut terdapat kemungkinan untuk
menjadi fakta hukum, yaitu telah terjadi pembunuhan. Maka timbul hak dan kewajiban.
Seorang polisi yang menerima laporan tersebut mempunyai kewajiban untuk membuat
berita acara dan memeriksa TKP, dan jika terbukti merupakan pembunuhan maka polisi
wajib menangkap pelakunya. Polisi mempunyai hak untuk menanyai para saksi dan
mereka-ulang TKP.
*!#1 )

Menurut Paton, fakta dapat terjadi karena peristiwa dan karena tindakan manusia.
makta yang terjadi karena peristiwa adalah sesuatu yang terjadi di luar campur tangan
manusia. Sedangkan fakta karena tindakan manusia adalah fakta yang terjadi karena
dikendalikan oleh manusia.

^ 6 * ($ 3   * *&* 7* 0 ,. " 
)

Peristiwa hukum adalah peristiwa yang diatur oleh hukum. Dilihat dari segi isinya,
peristiwa hukum dapat terjadi karena:

1. p Keadaan tertentu, misalnya orang yang dalam keadaan pailit menyebabkan


Pengadilan memutuskan bahwa orang tersebut harus ditempatkan di bawah
pengampuan.
2. p Kejadian alam, misalnya terjadi banjir bandang yang menyebabkan TV sebagai objek
perjanjian musnah. Maka akan menimbulkan masalah tentang prestasi yang tidak
terpenuhi dan dapat mengakibatkan adanya wanprestasi.
3. p Kejadian fisik yang menyangkut kehidupan manusia, yaitu kelahiran, kematian, dan
usia tertentu yang menyebabkan seseoarng dianggap cakap untuk melakukan
tindakan hukum. Misalnya kematian seseorang sebagai pewaris menyebabkan
adanya hak waris bagi para ahli warisnya.

0 6 * 1 &($ &   * *&* 7* ^ ,*.$
( &   ( &1 & * &   ( &1 8
*&"##()

üp Hubungan hukum yang bersifat publik


Menurut Ulpianus hukum publik berkaitan dengan fungsi negara yang mengatur
kepentingan umum yang berkaitan dengan kebersamaan dalam hidup
bermasyarakat dan mengatur hubungan antara negara dengan warga masyarakat.
Yang melakukan perbuatan ini adalah penguasa. Contohnya hukum pidana yang
diadakan untuk mencegah terjadinya perbuatan-perbuatan yang merugikan
masyarakat.
üp Hubungan hukum yang bersifat privat
Menurut Ulpianus hukum privat berkaitan dengan kepentingan individu yang
mengatur kepentingan khusus. Dalam suatu kehidupan bermasyarakat, warga
masyarakat mempunyai kebebasan untuk mengadakan hubungan diantara sesama
individu. Yang melakukan perbuatan ini adalah individu. Contohnya adalah hukum
ketenagakerjaan yang mengatur hubungan individu dengan individu lainnya dalam
rangka mencari keuntungan. Pengusaha dengan pekerja/buruh mengadakan
perjanjian kerja.
-*73&)

üp Tanggung gugat (   ) merupakan bentuk spesifik dari
tanggung jawab. Pengertian tanggung gugat merujuk kepada posisi seseorang atau
badan hukum yang dipandang harus membayar suatu bentuk kompensasi atau ganti
rugi setelah adanya peristiwa hukum atau tindakan hukum.
üp Tanggung jawab ini erat berkaitan dengan kesalahan. Tanggung jawab melekat pada
seseorang yang normal, yaitu seseorang yang sanggup menentukan kehendaknya
dan sanggup bertindak sesuai dengan kehendak tersebut. Tindakan manusia bisa
berupa perbuatan maupun pengabaian yang didasarkan atas kesadaran manusia
untuk memilih antara melakukan atau tidak melakukan tindakan tertentu. Dengan
demikian, tindakan orang tersebut dapat dipertanggungjawabkan.

4    &   *  #$ ###$ 11$ *  
 )

üp Dari segi historis


Sejarawan hukum menggunakan istilah sumber-sumber hukum dalam dua arti, yaitu
dalam arti sumber tempat orang-orang untuk mengetahui hukum dan sumber bagi
pembentuk undang-undang menggali bahan-bahan dalam penyusunan undang-
undang. Sumber dalam arti tempat orang-orang mengetahui hukum adalah semua
sumber-sumber tertulis dan sumber-sumber lainnya yang dapat diketahui sebagai
hukum pada saat, tempat, dan berlaku bagi orang-orang tertentu. Tempat-tempat
dapat diketemukannya sumber-sumber hukum berupa undang-undang, putusan-
putusan pengadilan, akta-akta, dan bahan-bahan non-hukum, seperti inskripsi dan
literatur. Sedangkan sumber bagi pembentuk undang-undang untuk menggali bahan-
bahan dalam penyusunan undang-undang berkaitan dengan penyiapan rancangan
undang-undang. Sumber tempat orang-orang untuk mengetahui hukum dapat
berupa kebiasaan-kebiasaan dan praktik-praktik dalam transaksi hidup
bermasyarakat yang telah diterima sebagai hukum. Legislator maupun hakim harus
mempertimbangkan faktor-faktor tersebut dalam mengundangkan undang-undang
dan memutus perkara.
üp Dari segi sosiologis
Sumber-sumber hukum berarti faktor-faktor yang benar-benar menyebabkan hukum
benar-benar berlaku. maktor-faktor tersebut adalah fakta-fakta dan keadaan-
keadaan yang menjadi tuntutan sosial untuk menciptakan hukum, seperti faktor-
faktor politik, ekonomi, budaya, agama, geografis, dan sosial.
üp Dari segi filsufis
Sumber hukum mempunyai arti mengenai keadilan yang merupakan esensi hukum.
Oleh karena itu, berdasarkan pengertian ini, sumber hukum menetapkan kriterium
untuk menguji apakah hukum yang berlaku sudah mencerminkan keadilan dan
 
üp Dari segi ilmu hukum
Dalam pola pikir Eropa Kontinental terdapat sumber hukum dalam arti formal karena
sumber hukum dalam arti formal inilah yang bersifat operasional artinya
berhubungan langsung dengan penerapan hukum. Hal ini berkaitan dengan proses
terjadinya hukum dan mengikat masyarakat.
Dalam pola pikir Anglo-American dibedakan antara sumber hukum dalam arti formal
dan sumber hukum dalam arti materiil. Sumber hukum dalam arti formal sebagai
sumber berasalnya kekuatan mengikat dan validitas dan merujuk kepada hukum
yang dibuat oleh negara, berupa undang-undang. Sumber hukum dalam arti materiil
adalah sumber berasalnya substansi hukum dan merujuk pada hukum yang tidak
dibuat oleh organ negara, berupa kebiasaan, perjanjian, dan lain -lain.

9  &*   &  $   $ #    *
& ( *  & "##+  7* 7 
5 )

üp Pengertian sumber hukum


Bahan-bahan yang digunakan sebagai dasar oleh pengadilan dalam memutus
perkara.
üp Pengertian asas hukum
Gagasan yang membimbing dalam pengaturan hukum (yang mungkin ada atau yang
sudah ada), yang dirinya sendiri bukan merupakan aturan yang dapat diterapkan,
tetapi yang dapat diubah menjadi demikian. 
üp Pengertian norma hukum
Arti dari suatu pernyataan aturan hukum, baik tertulis maupun tidak tertulis yag
berisi keseluruhan ciri-ciri (unsur-unsur) yang mewujudkan norma itu.
üp Contoh
Asas   , yaitu asas dimana hakim tidak boleh menolak perkara. Asas ini
kemudian dikonkritkan dalam norma hukum, yaitu ke dalam pasal 16 UU no. 4 tahun
2004 tentang Kekuasaan Kehakiman, yang berbunyi: ͞Pengadilan tidak boleh
menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus suatu perkara yang diajukan
dengan dalil bahwa hukum tidak ada atau kurang jelas, melainkan wajib untuk
memeriksa dan mengadilinya͟. Pasal 16 tersebut merupakan norma huku. Dan UU
no. 4 tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman merupakan sumber hukum sebab
merupakan bahan-bahan yang digunakan sebagai dasar oleh pengadilan dalam
memutus perkara.

· &5 &  /8


3 ( )

1. p Peraturan perundang-undangan
Peraturan perundang-undangan mempunyai dua karakteristik, yaitu berlaku umum
dan isinya mengikat keluar, serta terdapat adanya hierarki dan asas preferensi.
Hierarki merujuk kepada tata urutan peraturan perundang-undangan dan dalam hal
ini isi peraturan perundang-undangan yang berada pada urutan yang lebih rendah
tidak boleh bertentangan dengan isi peraturan perundang-undangan yang berada
pada urutan lebih tinggi. Sedangkan asas preferensi merujuk kepada dua peraturan
yang berada dalam urutan yang sama dan mengenai hal yang sama terapi tanggal
pengundangannya berbeda dan dua peraturan yang berada dalam dalam urutan
yang sama dan mengenai hal yang sama tetapi yang satu lebih bersifat khusus dan
yang lain bersifat umum. Sehingga jika terjadi konflik norma menggunakan adagium
„              „              dan  „ 
       . Konstitusi merupakan urutan tertinggi dalam hierarki
peraturan perundang-undangan. Kemudian undang-undang. Undang-undang
merupakan produk parlemen dalam melaksanakan fungsi legislatif. Perlemen
dianggap menyuarakan kehendak rakyat. Undang-undang perlu dilaksanakan
dengan aturan pelaksanaan yang dibuat oleh kekuasaan eksekutif dalam
melaksanakan tugas pemerintahan.
2. p Kebiasaan-kebiasaan
Yang menjadi sumber hukum bukanlah kebiasaan, melainkan hukum kebiasaan.
Agar kebiasaan menjadi hukum kebiasaan diperlukan dua hal, yaitu tindakan itu
dilakukan secara berulang-ulang dan adanya unsur psikologis mengenai pengakuan
bahwa apa yang dilakukan secara terus-menerus dan berulang-ulang itu aturan
hukum.
3. p Yurisprudensi
Yurisprudensi adalah putusan pengadilan yang dijatuhkan setelah terjadi peristiwa
konkret yang merupakan hasil dari sesuainya antara fakta dengan aturan, yaitu
fakta dari perkara konkret dengan satu atau lebih aturan hukum. Di negara-negara
  yurisprudensi tidak membuat hakim serta-merta terikat pada asas
preseden. Apabila dalam suatu putusan yang baru hakim menerapkan aturan yang
pernah diterapkan oleh hakim sebelumnya, hal itu bukanlah karena putusan
sebelumnya mempunyai kekuatan mengikat, melainkan karena hakim yang
kemudian menganggap bahwa putusan sebelumnya itu memang tepat dan layak
untuk diteladani.

p p
c 6; ; ;



 * ^ ,*. #*    $    * #*
 +  +#     * *
#*&)

üp Interpretasi hukum
Interpretasi atau penafsiran merupakan salah satu metode penemuan hukum yang
memberi penjelasan yang gamblang mengenai teks undang-undang agar ruang
lingkup kaedah dapat ditetapkan sehubungan dengan peristiwa tertentu.
Interpretasi digunakan manakala peraturannya ada tetapi tidak jelas untuk dapat
diterapkan pada peristiwanya. Pembenarannya terletak pada kegunaannya untuk
melaksanakan ketentuan yang konkrit dan bukan untuk kepentingan metode itu
sendiri.
üp Metode argumentasi/penalaran hukum/konstruksi hukum
Metode argumentasi merupakan salah satu metode penemuan hukum yang terjadi
jika hakim harus memeriksa dan mengadili perkara yang tidak ada peraturannya
yang khusus. Di sini hakim menghadapi kekosongan atau ketidaklengkapan undang-
undang yang harus di isi atau dilengkapi, sebab hakim tidak boleh menolak
memeriksa dan mengadili perkara dengan dalih tidak ada hukumnya atau tidak
lengkap hukumnya.

^ * && "     (   *
*  (2)

Dalam penemuan hukum tidak ada prioritas pada salah satu metode interpretasi.
Metode-metode interpretasi itu sering digunakan secara bersama-sama atau campur
aduk, sehingga batasannya tidak dapat ditarik secara tajam. Tetapi yang paling sering
digunakan adalah interpretasi gramatikal sebab merupakan cara penafsiran yang
paling sederhana untuk mengetahui makna ketentuan undang-undang, dengan
menguraikannya menurut bahsa, susun kata, atau bunyinya. Di sini arti atau makna
ketentuan undang-undang dijelaskan menurut bahasa sehari-hari yang umum.

0  &*   1 *     * &
"##()

üp Interpretasi restriktif
Interpretasi restriktif adalah penjelasan atau penafsiran yang bersifat membatasi.
Untuk menjelaskan suatu ketentuan Undang-Undang ruang lingkup ketentuan itu
dibatasi. Menurut interpretasi gramatikal ͞mendidik͟ dalam pasal 45 ayat (1) UU
Nomor 1 Tahun 1974 dapat diartikan memberikan pendidikan formal dan pendidikan
non-formal. Kalau mendidik ditafsirkan tidak termasuk pendidikan non-formal,
hanya pendidikan formal, ini merupakan interpretasi restriktif.

üp    
Peraturan perundang-undangan terkadang ruang lingkupnya terlalu umum atau luas,
maka perlu dipersempit untuk dapat diterapkan terhadap suatu peristiwa tertentu
(penyempitan hukum,     ). Dalam penyempitan hukum dibentuklah
pengecualian-pengecualian atau penyimpangan-penyimpangan baru dari peraturan-
peraturan yang bersifat umum. Disini peraturan yang sifatnya umum diterapkan
terhadap peristiwa atau hubungan hukum yang khusus dengan penje lasan atau
konstruksi dengan memberi ciri-ciri. Dalam pasal 1243 BW terdapat kata lalai. Kata
lalai mempunyai ruang lingkup yang luas sehingga perlu dipersempit


‰&*1*#) 

Interpretasi ekstensif titik tolaknya adalah undang-undang, dengan memperluas arti


suatu aturan hukum dengan bertitik tolak pada artinya menurut bahasa sehingga
dapat menjangkau dinamika masyarakat. Sedangkan analogi titik tolaknya adalah case,
yaitu adanya peristiwa yang serupa, sejenis, atau mirip dengan yang diatur dalam
undang-undang diperlakukan sama. Caranya dengan menggali asas yang ada dalam
peraturan khusus kemudian menerapkannya ke dalam peristiwa yang khusus.

p p

 6

6 !c   

,ccc .
p

 ÷2 2         ,# .  &* "  
  * #  "    #1 * # #1 * 
%&*&"## *73& *) 

üp Hukum positif ialah keseluruhan kaidah dan nilai yang dibuat oleh penguasa lewat
proses legislasi oleh (       ) yang berlaku (berpengaruh) dalam
suatu masyarakat. Misalnya KUHP.
üp Moral positif ialah keseluruhan kaidah dan nilai yang berkenaan d engan ikhwal baik
atau perbuatan baik manusia yang berlaku (berpengaruh) dalam suatu masyarakat
tertentu. Misalnya orang tidak boleh mencuri.

^ a
 2     $ ( * <# *    *
&3   *  &  *1$     
**"###) 

Berdasar dari madzab ini ialah mriedrich Carl von Sauigny dan Puchta. Pandangan Von
Savigny berpangkal kepada bahwa di dunia ini terdapat bermacam-macam bangsa yang
pada tiap-tiap bangsa tersebut mempunyai suatu Volmgeist (jiwa rakyat). Hukum sangat
tergantung atau bersumber kepada jiwa rakyat tadi dan yang menjadi isi dan pada
hukum itu ditentukan oleh pergaulan hidup manusia dari masa ke masa (sejarah). Hukum
menurut pendapatnya berkembang dari suatu masyarakat yang sederhana yang
pencerminannya nampak dalam tingkah laku semua individu kepada masyarakat yang
modern dan kompleks dimana kesadaran hukum masyarakat itu nampak pada apa yang
diucapkan oleh para ahli hukumnya. Sehingga dalam menjalankan tugas pembentukan
undang-undang yang dibutuhkan adalah ahli hukum dimana hanya ahli hukum yang bisa
menggali jiwa rakyat tersebut pada masyarakat. Bukan legal drafter yang dalam
pembentukan undang-undang tidak menggali jiwa rakyat sehingga produk hukum yang
dihasilkan akan bertentangan degan kehendak rakyat.

0 ! &   ,2 2  


 . * *    (  
*   ( &  * ( *" c  *
a
 2      ,<# 8(. *  &+&   (
*#   2 2 2)

Pandangan a         (Von Savigny) terhadap pembaharuan/perubahan


hukum tidak membutuhkan         Sebab legal drafter yang dalam
pembentukan undang-undang tidak menggali jiwa rakyat sehingga produk hukum yang
dihasilkan akan bertentangan degan kehendak rakyat. Pembaharuan/perubahan hukum
seharusnya dilakukan oleh seorang ahli hukum, yang tetap berlandaskan jiwa rakyat
dalam bangsa tersebut.