Anda di halaman 1dari 9

Proposal PTK Bahasa Inggris

PROPOSAL
PENELITIAN TINDAKAN KELAS (PTK)
(CLASSROOM ACTION RESEARCH)
PENGGUNAAN TEKNIK DICTOGLOSS UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MENYIMAK PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS
DI SMK NEGERI 2 MALANG
Oleh :
Iwik Pratiwi, S.Pd
NIP. 19690402 199703 2 005
DINAS PENDIDIKAN KOTA MALANG
SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 2 MALANG
2011
A. JUDUL PENELITIAN TINDAKAN KELAS
PENGGUNAAN TEKNIK DICTOGLOSS UNTUK MENINGKATKAN
KEMAMPUAN MENYIMAK PADA PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS DI
SMK NEGERI 2 MALANG
B. PENDAHULUAN
Berdasarkan hasil pemetaan Try Out Ujian Nasional yang telah dilaksanakan tiga kali selama
periode September 2010 sampai dengan Januari 2011, kemampuan menyimak siswa kelas XII
SMK Negeri 2 Malang masih rendah. Hal ini dapat dilihat dari rendahnya prosentase ketuntasan
pada soal soal menyimak yang disajikan. Rendahnya kemampuan menyimak ini disebabkan:
1) Sebagian besar guru Bahasa Inggris di SMK Negeri 2 Malang masih lebih banyak mengajar
dengan metode ceramah dan ekspository. Hal ini sangat dipahami karena masa belajar kelas XII
yang lebih pendek dari pada kelas X dan XI , sehingga sebagian besar guru mengejar target
kurikulum tanpa memperhitungkan keterserapan pembelajaran pada siswa. Selain itu, alokasi
jam pembelajaran juga banyak terkurangi karena banyaknya kegiatan akademis dan non
akademis yang berkaitan langsung maupun tidak langsung dengan proses penuntasan belajar
siswa kelas XII.
2) Terbatasnya fasilitas pembelajaran untuk mendukung kemampuan menyimak seperti
laboratorium bahasa, tape recorder, speaker dan lain lain mengakibatkan sebagian guru tidak
mendapatkan kesempatan untuk mengajar menyimak atau lebih memilih untuk mengajar
kemampuan lain, karena mengajar menyimak dianggap lebih merepotkan dan membutuhkan
banyak persiapan.
3) Rendahnya kualitas pembelajaran juga merupakan faktor penyebab rendahnya kemampuan
menyimak. Para guru yang mengajar siswa kelas XII dituntut untuk lebih banyak
mempersiapkan anak didiknya menghadapi Ujian Nasional. Namun kebijakan ini lebih banyak
diterjemahkan dengan cara menyajikan pembelajaran berbasis Ujian Nasional, dengan kata lain
penyajian pembelajaran lebih ditekankan pada pembahasan soal soal try out dan prediksi Ujian

Nasional. Akibatnya pembelajaran masih berpusat pada guru dan sebagian besar siswa
masih pasif.
Tidak mengherankan jika sampai saat ini Bahasa Inggris masih menjadi mata pelajaran yang
menakutkan dan bahkan membosankan bagi kelas XII, dan jika hal ini berlanjut, dikuatirkan
akan mempengaruhi hasil Ujian Nasional. Untuk memperbaiki kualitas pembelajaran menyimak
pada pelajaran Bahasa Inggris di SMK Negeri 2 Malang perlu diterapkan metode pembelajaran
inovatif yang memberikan peluang kepada siswa untuk mengaktualisasikan dirinya. Maka teknik
dictogloss dipilih sebagai salah satu jalan keluar permasalahan tersebut. Teknik ini dipilih karena
menonjolkan kerjasama dalam merekonstruksi bahan simakan sehingga siswa yang mempunyai
kemampuan lebih bisa membantu siswa yang kemampuannya kurang. Selainn itu, juga
didasarkan atas keunggulan yang dimiliki teknik dictogloss.
C. PERUMUSAN MASALAH
Dalam penelitian tindakan kelas ini permasalahan yang akan dicari penyelesaiannya adalah
sebagai berikut
1) Bagaimana menggunakana teknik dictogloss untuk meningkatkan kemampuan menyimak
dalam pembelajaran Bahasa Inggris kelas XII di SMK Negeri 2 Malang?
2) Bagaimana peningkatan kemampuan menyimak siswa SMK Negeri 2 Malang setelah
menggunakan teknik dictogloss?
D. PEMECAHAN MASALAH
Sebagaimana dipaparkan pada bagian pendahuluan, permasalahan utama yang menyebabkan
rendahnya kemampuan menyimak siswa kelas XII adalah karena rendahnya kualitas
pembelajaran Bahasa Inggris, dan untuk memecahkan masalah itu guru perlu menerapkan teknik
pembelajaran yang berpusat pada siswa. Teknik Dictogloss dipilih karena teknik ini lebih banyak
melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas ini menggunakan model
Kemmis dan Tagart yang terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan, obsertavasi,
serta reflkesi. Sasaran penelitian ini adalah siswa kelas kelas XII SMK Negeri 2 Malang
semester ganjil tahun pelajaran 2010/2011. Pembelajaran menyimak dengan
teknik dictogloss dilaksanakan dengan empat tahap yaitu persiapan, dikte, rekonstruksi, serta
analisis dan koreksi. Kemampuan menyimak siswa didasarkan pada nilai akhir dan ketuntasan
secara klasikal.
Secara teknis langkah langkah pembelajaran meliputi :
1) Merancang rencana pembelajaran yang berorientasi pada teknik dictogloss
2) Melakukan pemodelan oleh peneliti dan diikuti oleh guru
3) Melakukan peer teaching dimana guru mencoba menerapkan teknik bersama dengan peneliti
dan tim guru Bahasa Inggris SMK Negeri 2 Malang.
4) Memperbaiki Rencana pembelajaran agar dapat diimplementasi dengan baik.
5) Menerapkan teknik Dictogloss di kelas
6) Evaluasi dan refleksi
E. DEFINISI OPERASIONAL
1) Menyimak adalah mendengarkan dengan penuh pemahaman, perhatian, apresiasi, dengan
interpretasi untuk memperoleh informasi, mencakup ide atau pesan serta memahami makna
komunikasi yang disampaikan pembicara mulai ujaran atau bahasa lisan. Pernyataan ini

mengingatkan kita untuk memahami makna komunikasi yang disampaikan pembicara, kita harus
mendengarkan baik baik dengan penuh perhatian. Peristiwa menyimak selalu diawali dengan
mendengarkan bunyi bahasa baik secara langsung atau melalui rekaman. Bunyi bahasa yang
ditangkap oleh telinga didefinisikan bunyinya. Menurut Tarigan (1991:4) Menyimak adalah
suatu proses yang mencakup kegiatan mendengarkan bunyi bahasa, mengidentifikasi,
menginterpretasi, menilai, dan mereaksi atas makna yang terkandung didalamnya Jadi
menyimak adalah proses pemahaman informasi mulai alat pendengaran sehingga mampu
mengingat, mengidentifikasi, menginterpretasi, menilai, baik memerlukan segenap kemampuan
menyimak dari mendengar sampai dengan mereaksi bahasa simakan.
2) Dictogloss adalah kegiatan pembelajaran dengan teknik dikte; siswa mendengarkan wacana
lisan, mengidentifikasi kata kunci dan bekerja sama secara berkelompok untuk merekonstruksi
kembali wacana yang didiktekan. Teknik ini diperkenalkan pertama kali oleh Ruth Wajnryb
(1990) sebagai alternative metode pembelajaran tata bahasa atau grammar.
F. LINGKUP PENELITIAN
Penelitian ini meliputi materi Bahasa Inggris kelas XII semester ganjil dengan kompetensi
dasar :
G. TUJUAN PENELITIAN
Sesuai dengan rumusan masalah, maka penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk
meningkatkan kemampuan menyimak siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang dengan
menggunakan teknik Dictogloss.
H. MANFAAT HASIL PENELITIAN
Hasil penelitian tindakan kelas ini akan memberikan kontribusi positif bagi siswa, guru, dan
sekolah yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) Bagi siswa. Pembelajaran menyimak dengan teknik Dictogloss akan memberikan pengalaman
langsung bagi siswa untuk menyimak dan bekerja sama dalam kelompok. Hal ini akan
meningkatkan motivasi siswa untuk meningkatkan kemampuannya dalam menyimak.
2) Bagi Guru. Penerapan teknik Dictogloss ini diharapkan dapat memecahkan masalah
pembelajaran menyimak bagi guru dan dapat meningkatkan kualitas pembelajaran Bahasa
Inggris.
3) Bagi Sekolah. Terlaksananyaa penelitian tindakan kelas ini dapat digunakan sebagai acuan
lebih lanjut dalam upaya upaya peningkatan kompetensi guru dan sebagai refleksi dan masukan
pada revisi kurikulum pembelajaran Bahasa Inggris.
I. TINJAUAN PUSTAKA
1) Pembelajaran Konstruktivistik
Pembelajaran menyimak dalam kelas Bahasa Inggris yang dilakukan di SMK Negeri 2 Malang
sebagian besar didominasi kegiatan ceramah dan ekspository. Guru menyajikan wacana lisan
dalam bentuk contoh contoh soal, siswa diminta menjawab sesuai instruksi yang diberikan
sebelumnya. Jika siswa belum memahami wacana lisan yang disajikan, guru akan menyajikan
kembali wacana lisan sesuai kebutuhan siswa. Jika jawaban yang diberikan siswa benar, maka
guru hanya memberikan sedikit penjelasan mengapa jawaban tersebut benar. Jika jawaban siswa
salah maka guru akan memberikan penjelasan tentang wacana lisan yang diperdengarkan, dan

sebagian besar hanya mengenai tata bahasa dan kosa kata yang ada dalam wacana lisan tersebut.
Setelah itu guru akan menyajikan wacana lisan berikutnya untuk kemudian dibahas seperti
sebelumnya, demikian seterusnya. Dalam hal ini siswa hanya mengetahui aspek aspek
pembelajaran yang disajikan namun siswa tidak mendapatkan kesempatan untuk merefleksikan
kompetensinya. Keadaan ini terjadi karena siswa hanya diminta untuk menyelesaikan beragam
soal dan bukan berarti jika siswa dapat menyelesaikan soal maka siswa tersebut memiliki
kompetensi menyimak yang baik.
Pembentukan pengetahuan menurut konstruktivistik memandang subyek aktif menciptakan
struktur-struktur kognitif dalam interaksinya dengan lingkungan. Dengan bantuan struktur
kognitifnya ini, subyek menyusun pengertian realitasnya. Interaksi kognitif akan terjadi sejauh
realitas tersebut disusun melalui struktur kognitif yang diciptakan oleh subyek itu sendiri.
Struktur kognitif senantiasa harus diubah dan disesuaikan berdasarkan tuntutan lingkungan dan
organisme yang sedang berubah. Proses penyesuaian diri terjadi secara terus menerus melalui
proses rekonstruksi. Yang terpenting dalam teori konstruktivisme adalah bahwa dalam proses
pembelajaran, si belajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif
mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pembelajar atau orang lain. Mereka yang harus
bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Penekanan belajar siswa secara aktif ini perlu
dikembangkan. Kreativitas dan keaktifan siswa akan membantu mereka untuk berdiri sendiri
dalam kehidupan kognitif siswa.
Belajar lebih diarahkan pada experimental learning yaitu merupakan adaptasi kemanusiaan
berdasarkan pengalaman konkrit di laboratorium, diskusi dengan teman sekelas, yang kemudian
dikontemplasikan dan dijadikan ide dan pengembangan konsep baru. Karenanya aksentuasi dari
mendidik dan mengajar tidak terfokus pada si pendidik melainkan pada pebelajar. Beberapa hal
yang mendapat perhatian pembelajaran konstruktivistik, yaitu:
(1) mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam kontek yang relevan,
(2) mengutamakan proses,
(3) menanamkan pembelajran dalam konteks pengalaman social,
(4) pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman (Pranata,
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.)
Tingkatan pengetahuan atau pengetahuan berjenjang ini oleh Vygotskian disebutnya sebagai
scaffolding. Scaffolding, berarti membrikan kepada seorang individu sejumlah besar bantuan
selama tahap-tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan
memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin
besar segera setelah mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan pembelajar dapat
berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang
memungkinkan siswa dapat mandiri. Vygotsky mengemukakan tiga kategori pencapaian siswa
dalam upayanya memecahkan permasalahan, yaitu (1) siswa mencapai keberhasilan dengan baik,
(2) siswa mencapai keberhasilan dengan bantuan, (3) siswa gagal meraih keberhasilan.
Scaffolding, berarti upaya pembelajar untuk membimbing siswa dalam upayanya mencapai
keberhasilan.
Dorongan guru sangat dibutuhkan agar pencapaian siswa ke jenjang yang lebih tinggi menjadi
optimum. Konstruktivisme Vygotskian memandang bahwa pengetahuan dikonstruksi secara

kolaboratif antar individual dan keadaan tersebut dapat disesuaikan oleh setiap individu. Proses
dalam kognisi diarahkan memalui adaptasi intelektual dalam konteks social budaya. Proses
penyesuaian itu equivalent dengan pengkonstruksian pengetahuan secara intra individual yakni
melalui proses regulasi diri internal. Dalam hubungan ini, para konstruktivis Vygotskian lebih
menekankan pada penerapan teknik saling tukar gagasan antar individual.
Dua prinsip penting yang diturunkan dari teori Vygotsky adalah: (1), mengenai fungsi dan
pentingnya bahasa dalam komunikasi social yang dimulai proses pencanderaan terhadap tanda
(sign) sampai kepada tukar menukar informasi dan pengetahuan, (2) zona of proximal
development. Pembelajar sebagai mediator memiliki peran mendorong dan menjembatani siswa
dalam upayanya membangun pengetahuan, pengertian dan kompetensi.
Sumbangan penting teori Vygotsky adalah penekanan pada hakikat pembelajaran sosiakultural.
Inti teori Vygotsky adalah menekankan interaksi antara aspek internal dan eksternal dari
pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan social pembelajaran. Menurut teori Vygotsky,
funsi kognitif manusia berasal dari interaksi social masing-masing individu dalam konteks
budaya. Vygotsky juga yakin bahwa pembelajaran terjadi saat siswa bekerja menangani tugastugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas tersebut masih dalam jangkauan
kemampuannya atau tugas-tugas itu berada dalam zona of proximal development mereka. Zona
of proximal development adalah daerah antar tingkat perkembangan sesungguhnya yang
didefinisikan sebagai kemampuan memecahkan masalah secara mandiri dan tingkat
perkembangan potensial yang didefinisikan sebagai kemampuan pemecahan masalah di bawah
bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu.
Pengetahuan dan pengertian dikonstruksi bila seseorang terlibat secara social dalam dialog dan
aktif dalam percobaan-percobaan dan pengalaman. Pembentukan makna adalah dialog antar
pribadi.dalam hal ini pebelajar tidak hanya memerlukan akses pengalaman fisik tetapi juga
interaksi dengan pengalaman yang dimiliki oleh individu lain. Pembelajaran yang sifatnya
kooperatif (cooperative learning) ini muncul ketika siswa bekerja sama untuk mencapai tujuan
belajar yang diinginka oleh siswa. Pengelolaan kelas menurut cooperative learning bertujuan
membantu siswa untuk mengembangkan niat dan kiat bekerja sama dan berinteraksi dengna
siswa yang lain. Ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan kelas yaitu:
pengelompokan, semangar kooperatif dan penataan kelas. (Pranata,
http://puslit.petra.ac.id/journals/interior/.
2) Dictogloss
Kata dictogloss berasal bahasa Inggris dan terdiri dari dua kata, yaitu kata dicto atau dictate yang
artinya dikte atau imla, dan kata gloss yang artinya tafsir Dictogloss adalah kegiatan
pembelajaran dengan teknik dikte; siswa mendengarkan wacana lisan, mengidentifikasi kata
kunci dan bekerja sama secara berkelompok untuk merekonstruksi kembali wacana yang
didiktekan. Teknik ini diperkenalkan pertama kali oleh Ruth Wajnryb (1990) sebagai alternative
metode pembelajaran tata bahasa atau grammar. Wajnryb berpendapat bahwa teknik Dictogloss
memberikan pemahaman grammar yang tepat pada siswa karena pendekatannya yang interaktif
memungkinkan terjadinya negoisasi makna dan pola. Dengan bekerja sama siswa terdorong
untuk tetap aktif terlibat dalam proses pembelajaran. Through active learner involvement
students come to confront their own strengths and weaknesses in English language use. In so
doing, they find out what they do not know, then they find out what they need to know.

(Wajnryb, 1990:10). David Nunan dalam Azies dan Alwasilah, (1996:85), mengemukakan bahwa
teknik dictogloss, yaitu sebuah teknik dalam pengajaran menyimak yang tergolong komunikatif.
Dalam teknik ini guru membacakan sebuah wacana singkat kepada siswa dengan kecepatan
normal dan siswa diminta menuliskan kata sebanyak yang mereka mampu. Mereka kemudian
bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil untuk merekonstruksi wacana dengan
berdasarkan serpihan-serpihan yang telah mereka tulis. Teknik ini mirip dengan
teknik dikte tradisional, walaupun hanya bersifat superficial. Dengan teknik ini siswa dilatih
untuk mendengarkan, memahami, menginterpretasikan serta memberikan tanggapan terhadap
informasi yamg didengarkannya. Berdasarkan uraian di atas dapat dilihat bahwa di dalam teknik
dictogloss terdapat dua buah teknik yang digunakan sebagai upaya pemahaman sebuah wacana
lisan, yakni dikte dan teknik identifikasi kata kunci. Teknik dikte digunakan ketika wacana
diperdengarkan kepada siswa dengan kecepatan normal, sedangkan teknik identifikasi kata kunci
digunakan ketika siswa diminta menuliskan kata-kata kunci atau kata-kata isi sebanyak yang
mereka mampu. Djago Tarigan (1986:52), menyatakan bahwa identifikasi kata kunci adalah
memilih kata yang merupakan pokok pikiran utama dalam wacana, maka dalam teknik
dictogloss perlu adanya penemuan kata-kata yang merupakan kata kunci. Wacana lisan yang
didengarkan oleh siswa, yaitu berupa rekaman cerita dalam kaset. Rekaman cerita tersebut
merupakan salah satu media audio. Ada empat langkah dalam teknik dictogloss yang dikemukan
oleh David Nunan dalam Azies dan Alwasillah (1996:86), yaitu:
1. Persiapan. Pada tahap ini guru mempersiapkan siswa untuk menghadapi teks yang akan
mereka dengar dengan cara mengajukan pertanyaan-pertanyaan dan mendiskusikan
gambar stimulus, dengan membahas kosakata, dengan meyakinkan bahwa siswa tahu apa
yang harus dilakukan, dan dengan meyakinkan bahwa siswa ada pada kelompok yang
sesuai.
2. Dikte. Pembelajar mendengarkan dikte dua kali. Pertama mereka hanya mendengarkan
dan mendapatkan gambaran umum teks tersebut. Kedua, mereka membuat catatan,
dengan dimotivasi akan membantu mereka merekontruksikan teks. Untuk alasan
konsistensi, lebih baik siswa mendengarkan teks tersebut melalui tape recorder bukan
dari teks yang dibacakan guru.
3. Rekonstruksi. Pada akhir dikte, pembelajar mengumpulkan catatancatatan dan menyusun
kembali teks versi mereka. Selama tahap ini perlu diingat bahwa guru tidak memberikan
masukan bahasa pada siswa.
4. Analisis dan Koreksi. Ada berbagai cara untuk menangani tahap ini. Pertama, setiap teks
versi siswa bisa ditulis pada papan tulis atau ditayangkan melalui overhead projector
(OHP) atau LCD. Kedua, teks bisa diperbanyak dan dibagi-bagikan kepada semua siswa.
Ketiga, siswa bisa membandingkan versi mereka dengan teks asli, kalimat demi kalimat.
Teknik dictogloss ini bisa menjadi jembatan yang berguna antara menyimak Bottom up dan Top
down. Dalam kasus pertama, pembelajar terutama berurusan dengan bagaimana mengenali
unsur-unsur individual dalam teks (strategi bottomup). Namun, selama diskusi kelompokkelompok kecil, beberapa atau semua strategi top down mungkin disertakan. Pada strategi ini,
pembelajar akan mengintegrasikan pengetahuan dalam kepala atau background knowledge

mereka. Dengan teknik dictogloss pembelajar akan mampu: 1) membuat prediksi, 2) membuat
inferensi-inferensi hal-hal yang tidak ada dalam teks, 3) mengenali topik teks, 4) mengenali jenis
teks (apakah naratif, deskriptif, anekdot, dan sebagainya), 5) mengenali berbagai jenis hubungan
semantik di dalam teks (Azies dan Alwasilah, 1996:85-86).
J. PROSEDUR PENELITIAN
1) Rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian tindakan kelas yang mengkaji dan
merefleksikan secara mendalam beberapa aspek dalam kegiatan belajar mengajar, yaitu
partisipasi siswa, interaksi guru dan siswa, interaksi antar siswa untuk dapat menjawab
permasalahan dan kemampuan siswa dalam menyimak wacana lisan melalui teknik pembelajaran
dictogloss. Penelitian ini dibagi dalam dua siklus yang disesuaikan dengan alokasi
waktu dan pokok bahasan yang dipilih. Masing masing siklus terdiri dari empat langkah
(Kemmis dan Mc.taggart, 1988) berikut :
1. perencanaan, yaitu merumuskan masalah, menentukan tujuan dan metode penelitian serta
membuat rencana tindakan.
2. tindakan, yang dilaksanakan sebagai upaya perubahan yang dilakukan menuju arah yang
lebih baik.
3. observasi, dilakukan secara sistematis untuk mengamati hasil atau dampak tindakan
terhadap proses belajar mengajar, dan
4. refleksi, yaitu mengkaji dan mempertimbangkan hasil atau dampak tindakan yang
dilakukan.
2) Subyek Penelitian
Sasaran penelitian adalah siswa kelas XII SMK Negeri 2 Malang yang beralamat di Jl. Veteran
No. 17 Malang.
3) Pelaksanaan Penelitian
Siklus pertama
a. Perencanaan.
Dalam siklus ini peneliti menyusun perencanaan tindakan berdasarkan tujuan penelitian yakni
menyusun bahan ajar, RPP, skenario pembelajaran, handouts, quis dan lembar observasi.
b. Pelaksanaan
Siswa diberi penjelasan tentang pembelajaran teknik dictogloss
Siswa dibagi dalam kelompok kelompok berdasarkan pertimbangan kemampuan akademik
Pembelajaran dimulai dengan kegiatan apersepsi
Siswa diminta menyelesaikan soal latihan kosa kata yang berhubungan dengan pokok bahasan
pembelajaran
Guru mengamati proses penyelesaian soal latihan kosa kata dan bersama sama memecahkan
soal latihan yang sulit.
Guru menyajikan wacana lisan yang berhubungan dengan pokok bahasan pembelajaran melalui

media audio atau audio visual.


Guru memberikan pertanyaan pertanyaan global mengenai wacana lisan tersebut dan siswa
menjawab secara lisan.
Siswa menyimak lagi sambil membuat catatan beberapa kata kunci
yang diperoleh dari simakan
Siswa membandingkan hasil catatan mereka dalam kelompok dan
mengumpulkan semua informasi yang diperoleh dari simakan
Siswa menyimak sekali lagi lalu secara berkelompok merekonstruksi
hasil simakan mereka.
Setiap kelompok membacakan hasil rekonstruksi simakan.
Siswa menganalisis dan merefleksikan hasil rekonstruksi simakan
mereka dengan teks asli dari bahan simakan.
c. Pengamatan
Selama tahap pelaksanaan peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan siswa pada saat
latihan kosa kata, diskusi hasil catatan kata kunci dan rekonstruksi simakan dengan
menggunakan lembar observasi.
d. Refleksi
Analisis hasil observasi mengenai : keaktifan siswa, hasil kegiatan kelompok, hasil quis dan
kaitannya dengan hasil kegiatan kelompok, kualitas rekonstruksi simakan yang dibuat siswa
dipakai sebagai dasar untuk melakukan perencanaan ulang pada siklus berikutnya.
Analisis beberapa kekurangan / kelemahan. Indikator keberhasilan pada siklus I disajikan pada
table berikut :
Siklus Kedua
Siklus kedua dilaksanakan seperti pada siklus pertama, namun sebelumnya didahului dengan
perencanaan ulang berdasarkan hasil hasil yang diperoleh pada siklus pertama. Hal ini dilakukan
untuk mengeliminir kelemahan kelemahan yang muncul di siklus pertama. Selain itu prosedur
pelaksanaan teknik dictogloss dapat di kembangkan untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa
sehingga indikatornya meningkat di siklus kedua.
4). Instrumen Penelitian
Beberapa instrumen yang digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini adalah :
a. Lembar observasi
b. Questioner
c. Lembar penilaian hasil pencatatan
d. Lembar penilaian hasil rekonstruksi
e. Kuis atau tes prestasi belajar
5). Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi, observasi dan tes. Teknik dokumentasi
dilakukan untuk mengetahui kemampuan masing masing siswa sebagai dasar pembagian
kelompok. Teknik observasi digunakan untuk mengetahui kualitas proses belajar mengajar
dengan menggunakan lembar observasi dan kamera video, dan test digunakan untuk mengetahui
kualitas hasil belajar siswa. Semua data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dengan cara
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh pada pengumpulan data sebelumnya.

K. JADWAL PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama 3 (tiga) bulan terhitung mulai Januari 2011 hingga Maret 2011,
M. DAFTAR PUSTAKA
Tarigan, Djago. 1998. Ketrampilan Menyimak. Bandung : Angkasa
Tarigan, Henry Guntur. 1997. Menyimak sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung
Dasna, I Wayan, 2008. Penelitian TIndakan Kelas (PTK). Panitia Sertifikasi Guru,
Universitas Negeri Malang.
Lim, W.L. and Jacobs, G. M. (2001). An analysis of students dyadic interaction on a
dictogloss task. ERIC Document Reproduction Service No. ED 456 649.
Storch, N. (1998). A classroom-based study: Insights from a collaborative reconstruction
task. ELT Journal, 52 (4):
George Jacobs, 2003. Combining Dictogloss and Cooperative Learning to Promote
language learning, The Reading Matrix. Vol.3. No.1, April 2003