Anda di halaman 1dari 45

Laporan Praktek Kerja Lapangan

PROSESSING SEMEN BEKU DI UPTD-IB PUCAK, DINAS


PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SULAWESI
SELATAN

Oleh:

EKADARA LARASATI
I111 12 276

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

PROSESSING SEMEN BEKU DI UPTD-IB PUCAK, DINAS


PETERNAKAN DAN KESEHATAN HEWAN PROVINSI SULAWESI
SELATAN

Oleh :

EKADARA LARASATI
I111 12 276

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

ii

HALAMAN PENGESAHAN

Nama

: Ekadara Larasati

No. Stambuk

: I111 12 276

Program Studi

: Peternakan

Jurusan

: Peternakan

Judul Praktek Kerja Lapang

: Prosessing Semen Beku di UPTD-IB Pucak, Dinas


Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi
Selatan

Makassar,

Maret 2016

Telah Disetujui

Pembimbing Utama
Praktek Kerja Lapang

Pembimbing Lapangan
Praktek Kerja Lapang

Prof. Dr. Ir. H. Herry Sonjaya, DEA, DES


NIP. 19570129 198003 1 001

Adrianus Mario, S.Pt., M.Si


NIP. 19760515 200112 1 006

Mengetahui,

Dekan Fakultas Peternakan

Ketua Prodi Ilmu Peternakan

Prof. Dr. Ir. H. Sudirman Baco, M.Sc


NIP. 19641231 198903 1 025

Prof. Dr. drh. Ratmawati Malaka, M.Sc.


NIP. 19640712 198911 2 002

iii

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
bimbingan dan Rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah laporan
Praktek Kerja Lapang (PKL) yang berjudul Prosessing Semen Beku. Penulis dengan
rendah hati mengucapakan terima kasih kepada :
1. Prof. Dr. Ir. H. Herry Sonjaya, DEA, DES sebagai pembimbing utama dan Adrianus
Mario, S.Pt., M.Si selaku pembimbing lapangan yang telah banyak meluangkan
waktunya untuk membimbing, mengarahkan dan memberikan nasihat serta motivasi
dalam penyusunan laporan ini.
2.

Kedua orang tua dan saudari serta keluarga yang tel ah memberikan doa, bantuan
dan dukungan sehingga laporan ini dapat terselesaikan tepat waktu.

3.

Teman-teman partner PKL yang telah banyak meluangkan waktu untuk berbagi
ilmu, pengalaman dan telah banyak membantu saat pelaksanaan PKL juga Solkars
yang telah memberikan banyak bantuan.

4.

Kepala UPTD-IB dan staf pegawai Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan
Provinsi Sulawesi Selatan yang telah membimbing sehingga kegiatan PKL ini dapat
terlaksana.
Penulis menyadari bahwa penyusunan laporan ini masih jauh dari kesempurnaan.

Saran dan kritik yang membangun dari pembaca akan membantu kesempurnaan dan
kemajuan ilmu pengetahuan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi pembaca terutama bagi
saya sendiri. Amin.
Makassar,

Maret 2016

Ekadara Larasati

iv

DAFTAR ISI
Halaman

HALAMAN SAMPUL ..............................................................................

HALAMAN JUDUL .................................................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN ...................................................................

iii

KATA PENGANTAR ...............................................................................

iv

DAFTAR ISI .............................................................................................

DAFTAR TABEL .....................................................................................

vi

DAFTAR GAMBAR.................................................................................

vii

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................

viii

I.

PENDAHULUAN
Latar Belakang ....................................................................................
Maksud dan Tujuan.............................................................................

1
2

II. PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG


Waktu dan Tempat Pelaksanaan ..........................................................
Aspek yang Dikaji ..............................................................................
Teknik Pengumpulan Data ..................................................................

4
4
4

III. PEMBAHASAN
Keadaan Umum UPTD-IB ..................................................................
Keadaan Khusus (aspek yang dikerjakan) ...........................................
A. Penampungan Semen...............................................................
B. Pemeriksaan Semen Segar .......................................................
C. Printing Straw .........................................................................
D. Filling and Sealing ..................................................................
E. Proses Equilibrasi ....................................................................
F. Proses Pre-Freezing .................................................................
G. Freezing ..................................................................................
H. Penyimpanan dan Handling Semen..........................................
I. Post Thawing Motility (PTM) .................................................

5
8
8
13
21
22
24
24
25
27
28

IV. PENUTUP
Kesimpulan........................................................................................
Saran .................................................................................................

31
31

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

32

LAMPIRAN ..............................................................................................

34

DAFTAR TABEL

No.

1. Data hasil pemeriksaan semen secara makroskopis ...........................


2. Data hasil pemeriksaan semen segar secara mikroskopis ...................
3. Data hasil pemeriksaan PTM.............................................................

Halaman

15
19
29

vi

DAFTAR GAMBAR

No.

Halaman

1. Struktur Organisasi UPTD IB Pucak Maros .........................................


2. Peralatan yang dipakai dalam penampungan semen dan sterilisasi alat .
3. Vagina Buatan .....................................................................................
4. Persiapan Bull Teaser...........................................................................
5. Persiapan petugas dan peralatan penampungan.....................................
6. Penyimpanan pengencer dalam inkubator.............................................
7. Pemeriksaan semen secara makroskopis...............................................
8. Pemeriksaan semen secara mikroskopis ...............................................
9. Gumpalan sperma yang mati pada semen segar ....................................
10. Pemeriksaan gerak massa sperma pada semen segar.............................
11. Mesin Printing Straw ...........................................................................
12. Mesin filling and sealing ......................................................................
13. Proses pengaturan straw pada rak straw................................................
14. Proses equilibrasi .................................................................................
15. Proses pre-freezing dalam box .............................................................
16. Proses freezing dalam container bibit ...................................................
17. Proses penambahan N2 cair dalam container bibit ................................
18. Diagram alir proses produksi semen beku di UPTD Pucak Maros ........
19. Proses Post Thawing Motility (PTM) ...................................................
20. Pemeriksaan motilitas semen beku .......................................................

7
8
10
11
12
14
15
18
20
21
21
23
24
24
25
26
27
28
29
30

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Teks

Kegiatan Sanitasi Kandang di UPTD IB Pucak Maros ................................


Kegiatan Pemotongan Kuku Sapi Pejantan di UPTD IB Pucak Maros .........
Pemeriksaan Kebuntingan pada Sapi Dara di UPTD HMT Pucak Maros.....
Kegiatan Pemotongan Kuku Kambing di UPTD IB Pucak Maros ...............
Penerimaan Semen Segar di UPTD IB Pucak Maros ...................................
Proses Evaluasi Semen Segar (Makroskopis dan Mikroskopis) di UPTD IB
Pucak Maros ...............................................................................................
Kegiatan Prosessing Semen Beku di UPTD IB Pucak Maros ......................
Kegiatan Post Thawing Motility di UPTD IB Pucak Maros.........................

Halaman

34
34
34
35
35
35
36
36

viii

BAB I
PENDAHULUAN

Latar Belakang
Inseminasi buatan (IB) adalah suatu proses mengawinkan ternak dengan
cara buatan atau beternak secara modern yang sudah diterapkan dalam sejumlah
usaha peternakan, yang sangat efisien untuk meningkatkan produktifitas ternak.
Pada perkawinan secara alami pejantan hanya bisa mengawini satu ekor betina
dalam satu kali kawin, berbeda dengan perkawinan secara IB dimana semen atau
sperma yang dihasilkan oleh seekor pejantan dalam satu kali ejakulasi
(pemancaran sperma) dapat digunakan untuk melayani lebih banyak betina setelah
semen tersebut sudah diproses dan dalam bentuk straw. Inseminasi buatan di
Indonesia pertama kali pada permulaan tahun 1950, namun baru pada permulaan
tahun 1973 untuk pertama kali semen beku di impor ke Indonesia atas kerjasama
pemerintah Indonesia dengan pemerintah Inggris dan Selandia Baru. Sejak saat itu
semen beku yang diperoleh dalam bentuk straw telah dipakai pada hampir semua
program IB pada sapi (Toelihere dan Taurin, 1979)
Semen segar merupakan sekresi organ kelamin jantan yang diejakulasikan
dan dapat dikoleksi kemudian dibekukan untuk keperluan IB (Suzanna, 2008).
Sebelum dibekukan kualitas semen segar harus dievaluasi terlebih dahulu.
Penerapan manajemen kualitas semen beku di UPTD IB Pucak dimulai dari tahap
praproduksi, proses produksi, dan pascaproduksi. Pada tahap praproduksi
dilakukan evaluasi kualitas semen segar secara makroskopis (volume, warna,
kekentalan, dan pH), dan evaluasi spermatozoa secara mikroskopis (gerak massa,
motilitas, dan konsentrasi), tahap proses produksi dilakukan pengolahan semen

segar menjadi semen beku, sedangkan pada tahap pascaproduksi dilakukan


pengemasan dan penyimpanan semen beku agar sesuai dengan standar yang
ditetapkan (Wahyu, 2008). Tujuan pembekuan adalah agar semen dapat disimpan
lama, sehingga semen dapat dimanfaatkan pada saat diperlukan melalui
Inseminasi Buatan (IB). Di samping itu, keuntungan menggunakan semen beku
ialah dapat mengatasi hambatan waktu dan jarak, sehingga dapat disediakan kapan
dan di mana saja. Namun, rendahnya kualitas semen dan tidak optimalnya teknik
penanganan semen beku yang digunakan, kondisi reproduksi sapi betina, serta
manajemen ternak dan ketrampilan inseminator merupakan faktor yang
menghambat keberhasilan IB (Herdis, 1998).
Pejantan yang akan diambil semennya untuk dikoleksi haruslah pejantan
yang unggul, dalam artian memiliki penampilan fisik yang bagus dan prilaku yang
menunjukkan bahwasanya pejantan itu adalah pejantan yang baik. Untuk
mengetahui keunggulan seekor pejantan bisa dilakukan dengan melalui
pengamatan langsung dilapangan. Seleksi pejantan dilaksanakan agar nantinya
didapatkan keturunan yang unggul dari hasil IB yang dilakukan dengan
menggunakan semen dari pejantan itu. Jika tidak dilakukan seleksi dikhawatirkan
nantinya keturunan yang dihasilkan tidak sesuai dengan yang diinginkan, atau
inseminasi yang dilakukan tidak berhasil karena semen yang dipakai bukan semen
dari pejantan yang unggul (Abdullah, 2014).

Maksud dan Tujuan


Maksud dari kegiatan Praktek Kerja Lapangan (PKL) adalah mendapatkan
gambaran

seputar

proses

pengambilan

semen,

proses

evaluasi

semen,

pengenceran, proses pengisian semen dalam straw, dan penyimpanan semen di

Unit Pelaksana Teknis Dinas Inseminasi Buatan (UPTD-IB) Pucak, Dinas


Peternakan dan Kesehatan Ternak Provinsi Sulawesi Selatan.
Tujuan dari kegiatan PKL adalah untuk mengetahui kegiatan-kegiatan
yang berkaitan dengan proses pengambilan semen dan prosessing semen beku di
Unit Pelaksana Teknis Dinas Inseminasi Buatan (UPTD-IB) Pucak, Dinas
Peternakan dan Kesehatan Ternak Provinsi Sulawesi Selatan.

BAB II
PELAKSANAAN PRAKTEK KERJA LAPANG

Waktu dan Tempat Pelaksanaan


Praktek Kerja Lapangan mengenai Prosessing Semen Beku dilaksanakan
tanggal 01 November sampai tanggal 01 Desember 2015 bertempat di UPTD IB
Pucak, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan.

Aspek yang Dikaji


Metode yang digunakan dalam pelaksanaan PKL ini adalah learning by
doing (bekerja secara langsung), melakukan pengamatan terhadap kegiatankegiatan yang berkenaan dengan tata cara pemeliharaan ternak pejantan, proses
pengambilan semen, evaluasi semen, pengisian straw dan penyimpanan semen
(straw).
Kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan di Unit Pelaksana Teknis Dinas
Inseminasi Buatan (UPTD-IB) sebagai tempat PKL adalah mengamati dan
melihat secara

langsung kegiatan

yang

berkenaan

dengan

manajemen

pemeliharaan ternak pejantan, melakukan pemberian pakan pada ternak pejantan,


melakukan pemeriksaan kesehatan dan sanitasi kandang, proses pengambilan
semen, evaluasi semen, proses pengisian straw, penyimpanan semen (straw),
distribusi dan pemasaran semen.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

Keadaan Umum UPTD-IB


1. Sejarah
Unit Pelaksana Teknis Dinas Inseminasi Buatan (UPTD-IB) didirikan
pada tahun 2001, dimana dengan berlakunya otonomi daerah sesuai dengan UU
No. 22/1999 dan PP No. 25/2000 tentang Kewenangan Pusat dan daerah maka
ditempuh

kebijaksanaan

mengembangkan

Balai

desentralisasi
Inseminasi

IB

Buatan

dimana
dengan

setiap
tujuan

daerah

dapat

untuk

lebih

mendekatkan pelayanan IB kepada masyarakat (peternak).


Kebijakan

Pemerintah

Provinsi

Sulawesi

Selatan

dalam

rangka

desentralisasi IB telah ditindaklanjuti dengan Pembentukan UPTD-IB Dinas


Peternakan berdasarkan Keputusan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 132 tahun
2001. UPTD-IB ini dibentuk sebagai penjabaran Peraturan Daerah Provinsi
Sulawesi Selatan Nomor 10 Tahun 2001. Dengan adanya UPTD-IB diharapkan
pelaksanaan Program IB dapat lebih fokus sehingga produksi dan produktivitas
ternak Sapi di Sulawesi Selatan dapat lebih ditingkatkan.
Saat ini luas keseluruhan lahan UPTD-IB 4,5 Ha dengan luas bangunan,
kandang, dan fasilitas lain 1 Ha serta luas kebun rumput 3,5Ha.
2. Tugas Pokok
Melaksanakan sebagian tugas dinas dalam menyelenggarakan produksi,
pengujian, standarisasi dan sertifikasi semen.

3. Fungsi
Memelihara ternak unggul
Produksi dan penyimpanan semen beku
Pencatatan dan pemantauan penggunaan semen beku serta pengawasan
mutu semen
Member saran teknik produksi semen beku benih unggul
Member pelayanan teknik kegiatan produksi semen beku
Pemberian informasi dan dokumentasi hasil kegiatan inseminasi buatan
Distribusi dan pemasaran semen beku unggul
Urusan tata usaha dan rumah tangga UPTD
4. Motto
Dengan Mani Membangun Sulawesi Selatan
5. Janji Layanan
Janji layanan UPTD-IB adalah PRIMA
Priority

: yang utama adalah kepuasan pelanggan

Ready

: Produk tersedia setiap waktu

Inovative

: selalu berkreasi dan berinovasi

Marketable : produk sesuai kebutuhan


Accurate

: tepat (jumlah, jenis, mutu dan waktu)

6. Visi
Menjadi produsen semen beku terdepan di Indonesia Timur pada tahun
2016 yang berkualitas nasional dab berprestasi serta turut mengembangkan
teknologi inseminasi buatan.

7. Misi
Melaksanakan produksi, penyimpanan dan distribusi serta pemasaran
semen beku dalam rangka pelayanan prima kepada masyarakat.
Menggali potensi Penerimaan daerah Bukan Pajak (PDBP) melalui
optimalisasi pemanfaatn asset dalam menunjang tugas pokok dan fungsi
Unit Pelaksana Teknis Daerah.
Menyelenggarakan dan menggerakkan penyempurnaan teknik dan metode
untuk pengembangan inseminasi buatan.
Mendorong terciptanya peluang dan kesempatan kerja mandiri untuk
peningkatan kesejahteraan peternak.
8. Struktur Organisasi
Struktur Organisasi UPTD Inseminasi Buatan Provinsi Sulawesi Selatan
sesuai Peraturan Gubernur Nomor 77 tahun 2009, tentang Organisasi dan Tata
Kerja Unit Pelaksana Teknis Daerah Dinas (UPTD) Inseminasi Buatan (IB) pada
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan.

KEPALA UPTD

Ka. SUB BAG. TATA


USAHA

Ka. Sie.
PEMELIHARAAN
TERNAK

Ka. Sie. PRODUKSI


SEMEN
KELOMPOK
FUNGSIONAL

Gambar 1. Struktur Organisasi UPTD IB Pucak Maros

Keadaan Khusus (aspek yang dikerjakan)


Proses Produksi Semen Beku UPTD IB Dinas Peternakan dan Kesehatan
Hewan Desa Pucak Kecamatan Tompobulu Kabupaten Maros Provinsi Sulawesi
Selatan. Produksi semen baku adalah proses pembuatan semen beku sejak dari
penampungan semen agar sampai dengan semen beku siap untuk digunakan
dalam kegiatan Inseminasi Buatan.

A. Penampungan Semen
Sebelum melakukan penampungan semen di UPTD IB Pucak Maros
dilakukan beberapa persiapan seperti persiapan alat yang akan digunakan dalam
penampungan dan petugas yang akan menampung. Persiapan yang dilakukan di
UPTD IB Pucak Maros adalah:
1. Peralatan
Dalam penampungan semen di UPTD IB Pucak Maros dibutuhkan
beberapa alat yang digunakan untuk menampung semen serta mesin untuk
mensterilkan alat. Peralatan yang dipakai untuk penampungan semen dan
mesin sterilisasi alat di UPTD IB Pucak Maros dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Peralatan yang dipakai dalam penampungan semen dan sterilisasi alat

Peralatan yang disiapkan dalam penampungan semen adalah handuk


bersih, lap tangan, kapas, vaselin kertas label, stick glass, thermometer,
alcohol 70 % vagina buatan (AV), beserta innerliner, glove, preputium
waashing machine diberi air hangat/NaCl 0,9 %, tabung sperma, corong AV,
pompa AV, pelindung tabung sperma (protective tube), sikat pembersih AV,
tali pengikat ekor, karpet penampungan, segel tambang, brongsong,
biosecurity

dan

kandang

kawin

pejantan.

Peralatan

harus

dijaga

kebersihannya, seperti vagina buatan, tabung sperma, perlu dibersihkan


dengan sterilisasi (dimasukkan ke dalam oven/alat sterilisasi)
2. Persiapan Vagina Buatan
Sebelum penampungan semen pejantan (bull) dilakukan persiapan
seperti persiapan vagina buatan (AV) di UPTD IB Pucak Maros. Tahapan
yang dilakukan dalam persiapan vagina buatan adalah:
a. Buka penutup pengisi pada vagina buatan
b. Isi air panas dengan suhu 400C-500C secukupnya.
c. Mengisi udara melalui lubang vagina buatan dengan cara memompa atau
meniup

serta

diatur

kekenyalannya

sedemikian

rupa

sehingga

menyerupai alat kelamin betina.


d. Tutup kembali lubang pengisi air
e. Vagina yang telah siap dengan perlengkapannya (cone dan tutup tabung
vagina ) disimpan di inkubator yang suhunya dipertahankan antara 400C420C.
f. Bila vagina hendak digunakan beri pelicin terlebih dahulu dengan
menggunakan vaselin yang dioleskan kedalam liang vagina buatan

dengan menggunakan stick glass (1/3 panjang vagina).


g. Satu set vagina buatan untuk satu ekor pejantan.
h. Memasang corong karet pada badan (selongsong tabung vagina buatan)
dan posisi lubang udara pada corong karet harus sejajar dengan kran
vagina buatan, kemudian ikat dengan tali pita atau karet agar pada saat
pelaksanaan penampungan, corong tidak terlepas dari tabung.
i. Memasang tabung sperma pada ujung corong vagina buatan, lalu ikat
dengan tali pita atau karet kemudian ditempel dengan label kertas sesuai
dengan kode pejantan yang ditampung. Pemberian label dimaksudkan
untuk mengetahui hasil penampungan dari pejantan yang bersangkutan.
j. Memasang pelindung sperma dengan tujuan agar sperma tidak langsung
tekena sinar matahari dan melindungi pencahayaan tabun sperma dari
benturan benda lain.
k. Memasang pelindung sehingga corong maupun tabung sperma tetap
terlindungi dari kotoran dan tidak akan terlepas dari badan vagina buatan.
l. Mengecek kembali temperatur vagina buatan sebelum digunakan untuk
penampungan catatan penampungan dan papan data penampungan.
Vagina buatan yang dipakai untuk penampungan semen di UPTD IB
Pucak Maros dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Vagina buatan

10

3. Pejantan
Dalam penampungan persiapan bull teaser (pemancing) dilakukan
terlebih dahulu. Persiapan bull teaser (pemancing) di UPTD IB Pucak Maros
dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Persiapan Bull teaser


Tahapan yang dilakukan dalam persiapan pejantan dan bull teaser di
UPTD IB Pucak Maros adalah:
a. Sebelum penampungan semen pejantan dan tease (pemancingan) harus
dalam keadaan bersih terutama pada bagian prepitium pejantan sehingga
akan memperoleh sperma yang baik.
b. Pencucian preputium dapat dilakukan dengan menggunakan air hangat
dan bila ada rambut prepitium yang terlalu panjang harus di gunting, alat
pencuci harus diganti bila digunakanuntuk pejanran lain.
c. Memasukkan teaser atau pemancingan kedalam kandang kawin yang
disediakan kemudian leher teaser dijepit agar teaser tidak terlepas dan
ekor teaser diikat, sebaliknya diikat ke leher pejantan bukan pada tiang
sehingga terlihat seakan menutup vulva vagina.
d. Mendekatkan pejantan dengan teaser dan diusahakan pejantan tersebut

11

mendekat dan menaiki teaser beberapa kali sampai libidonya tinggi/


memuncak pada saat menaiki teaser dan penisnya keluar dan
penampungan (collector) mengarahkan penis pejantan tersebut dengan
memegang pangkal prepitium keposisi samping / ke arah kolektor dengan
tangan kiri. Perlakuan tersebut diusahakan 3-4 kali menaiki teaser.
e. Tempat penampungan harus selalu dalam keadaan tenang dan alas tempat
penampungan diberikan lapisan serbuk gergaji/karpet penampungan agar
pada saat turun dari teaser hentakan kaki pejantan tidak terlalu keras dan
akan mengurangi rasa sakit pada kuku pejantan.

4. Petugas
Petugas yang bertugas untuk menampung semen harus sudah siap
dengan pakaian, sepatu boot dan vagina buatan (AV) yang akan digunakan
untuk menamung semen. Petugas yang bertugas untuk menampung semen
dinamakan collector. Persiapan petugas dan peralatan yang dipakai untuk
penampungan dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Persiapan petugas dan peralatan penampungan


Pada Gambar 5 dapat dilihat persiapan petugas (collector) dan peralatan
yang dipakai untuk menampung semen. Tahapan yang dilakukan petugas

12

(collector) sebelum penampungan sampai setelah penampungan adalah:


a. Sebelum melaksanakan penampungan semen petugas sudah siap dengan
kelengkapan pakaian dan sepatunya.
b. Pada saat menampung collector harus dalam keadaan siap dengan kaki
kiri sejajar dengan kaki kanan yang telah menggunakan sepatu khusus.
c. Pada saat pejantan menaiki teaser, penisnya keluar dan libidonya telah
memuncak, maka collector memgang bagian prepitium dan mengarahkan
penis ke vagina buatan yang telah dipersiapkan. Setelah dilepaskan dan
pejantan tersebut akan menekan penis ke dalam vagina buatan karena
gesekan tersebut maka terjadilah ejakulasi.
d. Semen yang telah ditampung segera di bawa dan diserahkan ke
laboratorium untuk di evaluasi.
e. Hasil evaluasi semen dicatat oleh petugas.
f. Mengembalikan pejantan dan teasernya ke kandang masing-masing.
g. Mencuci dan menyimpan alat serta mensterilkan semua peralatan
penampungan.
B. Pemeriksaan Semen Segar
Semen adalah sekresi kelamin pejantan yang secara normal diejakulasi
kedalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi, tetapi dapat pula ditampung
untuk keperluan IB.
Dalam pemeriksaan segar ada dua yaitu pemeriksaan makroskopis dan
mikroskopis tetapi sebelum lanjut dalam pemeriksaan tersebut perlu kita
melakukan atau menyiapkan pengencer sperma.

13

1. Pengencer Sperma
Bahan pengencer adalah suatu bahan dengan syarat-syarat tertentu yang
ditambahkan kedalam semen segar dengan perbandingan tertentu, sehingga
volume semen bertambah. Bahan pengencer yang digunakan adalah andromed
dan aquabides dengan perbandingan 1 : 4 pengencer yang telah dibuat
disimpan dengan inkubator bersuhu 360C- 370C. Tahapan yang dilakukan
adalah:

Perhitungan volume pengencer

Vol.Pengencer (ml): vol.sperma (ml) x Motilitas (%) x Konsentrasi (10-6) x 0,25


25.106

Proses Pengenceran
Pengenceran yang telah dibuat dalam gelas ukur dan disimpan dalam

inkubator. Suhu dalam inkubator diatur sesuai dengan suhu vagina betina
dengan suhu 370C. Selanjutnya pengencer yang telah dibuat dicampur dengan
sperma segar dengan menggunakan pipet tetes dan disimpan di objek glass lalu
diuji secara mikroskopis. Penyimpanan pengencer yang disimpan dalam
inkubator dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Penyimpanan pengencer dalam inkubator


2. Pemeriksaan secara makroskopis.
Pemeriksaan secara makroskopis meliputi keadaan umum semen seperti
volume semen, warna, bau, dan pH ini perlu dalam menentukan kualitas semen

14

dan daya reproduksi pejantan dan lebih khusus lagi untuk menentukan kadar
pengenceran.
Data dari hasil pemeriksaan semen secara makroskopis di UPTD IB
Pucak Maros disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Data hasil pemeriksaan semen secara makroskopis
Volume
Tanggal
Nama Bull
Bau
pH
Konsistensi
(ml)
19 February
Kahu
7
Khas
6
Encer
2016
Bento
2
Khas
6
Sedang
TB (Sanrego)
1,5
Khas
6
Sedang
Gowa
4
Khas
6
Sedang
Kabere
5
Khas
6
Sedang
23 February
Bento
3
Khas
6
Sedang
2016
Kahu
8
Khas
6
Encer
TB (Sanrego)
0,5
Khas
6
Sedang
Leang
6,5
Khas
6
Sedang
Kaero
1
Khas
6
Sedang
26 February
Kahu
9
Khas
6
Encer
2016
Bento
7
Khas
6
Sedang
TB (Sanrego)
1,5
Khas
6
Sedang
Leang
8
Khas
6
Sedang
1 Maret 2016 Leang
8,5
Khas
6
Encer
Bento
2
Khas
6
Sedang
Kahu
7,5
Khas
6
Encer
TB (Sanrego)
1
Khas
6
Kental
Kaero
1
Khas
6
Sedang
Kabere
8
Khas
6
Sedang
Lapakkanna
3
Khas
6
Sedang
Sumber : Data Penampungan UPTD IB Pucak Maros, 2016.

Warna
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Kekuningan
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem
Krem

Pemeriksaan semen secara makroskopis di UPTD IB Pucak Maros


dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Pemeriksaan semen secara makroskopis


15

Volume
Tabel 1 menunjukkan bahwa volume semen segar dari beberapa

pejantan yang diambil semennya sangat beragam. Volume semen pejantan


yang rendah yaitu 0,5 4 karena pakan pejantan (bull) di UPTD IB masih
dalam proses perbaikan setelah mengalami kekeringan tahun lalu. Adapun
faktor lain yaitu pejantan jarang ditampung semennya sehingga dapat
mengakibatkan rendahnya volume semen pada saat ditampung. Semen segar
sapi pejantan memiliki standar volume sekitar 4-8 ml per ejakulasi. Menurut
Hunter (1982), jumlah volume semen yang baik pada masing-masing
pejantan harus mencapai 210 ml. Volume semen per ejakulasi berbeda
menurut bangsa, umur, ukuran badan, tingkatan makanan, frekuensi
penampungan dan berbagai faktor lain (Feradis, 2010).

Konsistensi
Tabel 1 menunjukkan bahwa konsistensi (kekentalan) dari semen

pejantan beragam. Konsistensi semen berhubungan dengan warna semen


yaitu semakin encer semen maka warna semen akan semakin pucat.
Menurut Mardiyah dkk. (2001), konsistensi semen memiliki hubungan
dengan konsentrasi semen dan warna semen. Semakin encer semen berarti
konsentrasi spermatozoa semakin rendah, dan warna semen semakin pucat.
Konsistensi semen dari seekor pejantan dipengaruhi oleh banyak
faktor antara lain kondisi masing-masing individu, seperti kualitas organ
reproduksi, umur dan kondisi manajemen peternakan (Gordon, 2004).
Feradis (2010), menyatakan bahwa semen yang baik derajat
kekentalannya hampir sama atau sedikit lebih kental dari susu sapi kira-kira

16

berwarna krem keputih-putihan, maka dari kekeruhannya dapat ditarik


kesimpulan bahwa semen itu kental. Konsentrasi dapat diperiksa dengan
cara menggetar-getarkan tabung yang berisi semen.

Bau
Tabel 1 menunjukkan bahwa bau dari semen pejantan adalah berbau

khas semen. Bau semen yang normal memiliki bau yang khas dan tidak
pesing atau tecampur dengan urine. Menurut Jumiatin dkk. (2012), bahwa
semen yang normal memiliki aroma khas semen. Jika berbau pesing maka
semen tersebut telah tercampur dengan urine.

Warna
Tabel 1 menunjukkan bahwa warna semen pejantan memiliki warna

krem dan adapula yang berwarna kekuningan. Warna semen yang normal
adalah krem sedangkan warna semen yang kekuningan adalah semen yang
tercampur dengan urine. Menurut Feradis (2010), bahwa semen sapi normal
berwarna seperti susu atau krem keputih keputihan dan keruh.
Namun pada kenyataannya memungkinkan juga ditemukan warna
kemerahan pada semen yang didapatkan menunjukkan bahwa semen telah
terkontaminasi oleh darah, sedangkan apabila warnanya berubah coklat
menunjukkan bahwa semen yang telah terkontaminasi darah mengalami
dekomposisi pada darahnya. Warna semen kehijauan merupakan indikasi
adanya bakteri pembusuk (Jumiatin dkk, 2012).

pH
Tabel 1 menunjukkan bahwa pH dari semen segar adalah 6.

Umumnya semen segar memiliki pH normal yaitu 6 7. Menurut Jumiatin

17

(2012), umumnya, semen normal memiliki pH antara 6,2 - 6,8. Menurut


Toelihere (1985), sperma yang sangat aktif dan tahan hidup lama pada pH
sekitar 7,0. Motilitas partial dapat dipertahankan pada pH 5-10.
3. Pemeriksaaan secara mikroskopis
Pemeriksaan semen segar secara mikroskopis dilakukan untuk
mengamati tingkat motilitas atau persentase hidup sperma dan gerak individu
dari semen tersebut sehingga dapat ditentukan semen tersebut layak untuk
dijadikan semen beku atau tidak. Pemeriksaan semen secara mikroskopis di
UPTD IB Pucak Maros dapat dilihat pada Gambar 8.

Gambar 8. Pemeriksaan semen secara mikroskopis


Data dari hasil pemeriksaan semen secara mikroskopis di UPTD IB
Pucak Maros disajikan pada Tabel 2.

18

Tabel 2. Data hasil pemeriksaan semen segar secara mikroskopis


Tanggal
Nama Bull
Gerak Massa
Motilitas (%)
19 February 2016 Kahu
+
30
Bento
+
20
TB (Sanrego)
+
20
Gowa
+
30
Kabere
+
30
23 February 2016 Bento
+
30
Kahu
+
20
TB (Sanrego)
+
10
Leang
+
20
Kaero
+
10
26 February 2016 Kahu
+
40
Bento
+
30
TB (Sanrego)
+
20
Leang
+
50
1 Maret 2016
Leang
+
50
Bento
+
30
Kahu
+
40
TB (Sanrego)
+
20
Kaero
+
40
Kabere
+
20
Lapakkanna
+
20
Sumber : Data Penampungan UPTD IB Pucak Maros, 2016
a. Motilitas
Tabel 2 menunjukkan bahwa motilitas sperma pejantan di UPTD IB
Pucak Maros sangat beragam. Motilitas sperma 10 - 69% masih belum
layak untuk dijadikan semen beku. Syarat motilitas sperma yang dapat
dijadikan semen beku adalah 70 100%. Dan pada tabel 2 dapat dilihat
bahwa motilitas sperma pejantan masih belum memenuhi syarat untuk
dijadikan semen beku. Marlene (2003) menyatakan bahwa, semen yang
layak untuk diproses untuk preservasi (produk semen cair) maupun
kriopreservasi (produksi semen beku) adalah semen dengan motilitas 70%.
Gumpalan sperma yang mati pada semen segar dapat dilihat pada
Gambar 9.

19

Gambar 9. Gumpalan sperma yang mati pada semen segar


b. Gerak massa
Tabel 2 menunjukkan bahwa gerak massa sperma pejantan di UPTD
IB Pucak Maros adalah lumayan (+). Kualitas gerak massa yang dapat
dijadikan semen beku harus memiliki kualitas sangat baik (+++). Menurut
Salisbury dan VanDermark (1985), tipe gerak normal spermatozoa secara
individual bervariasi dari gerakan maju yang sangat cepat pada spermatozoa
yang baru diejakulasikan, ke gerakan maju yang lebih pelan (gerakan kepala
menyerupai baling-baling pada sumbu longitudinal) di dalam cairan, sampai
gerakan minimum yang ditandai dengan gerakan sangat lemah dan
terkadang tampak ayunan ekor tanpa berpindah tempat. Menurut Pane
(1993), daya gerak spermatozoa sangat penting karena diperlukan untuk
bergerak maju dalam saluran kelamin betina yang selanjutnya membuahi
ovum.
Berdasarkan penilaian gerakan massa. kualitas semen dapat ditentukan
sebagai (Layea dan Aminah, 2002):
1. Sangat baik (+++), yakni terlihat gelombang sangat besar. banyak.
gelap. tebal clan aktif.
2. Baik (++), yakni bila terlihat gelombang kecil. tipis. jarang. kurang
jelas clan bergerak lamban

20

3. Lumayan (+), jika tidak terlihat gelombang melainkan hanya gerakan


individu aktif progresif.
4. Buruk, bila hanya sedikit atau tidak ada gerakan individu.
Pemeriksaan gerak massa pada semen segar di UPTD IB Pucak Maros
dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Pemeriksaan gerak massa sperma pada semen segar

C. Printing Straw
Printing straw merupakan salah satu tahap dari prosessing semen karena
proses ini adalah tahap awal sebelum membuat semen beku. Mesin printing straw
berfungsi untuk memberikan label pada straw yang akan digunakan untuk
prosessing semen beku. Mesin printing straw yang digunakan di UPTD IB Pucak
Maros dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11. Mesin Printing Straw

21

Langkah kerja printing straw adalah:


Pengecekan pejantan sesuai warna straw.

Limousine

: pink

Simental

: putih bening

Brahman

: biru muda

Bali

: merah

Kerbau

: ungu

Kambing

: kuning

Nyalakan mesin printing monitor, masukkan bangsa bull, nama bull, kode
bull, kode batch, jumlah straw yang akan di printing.
Mengecek hasil printing.

D. Filling and Sealing


Filling and sealing adalah proses pengisian mini straw 0,25 ml semen yang
telah diencerkan setelah itu menyumbat ujung straw dengan alat yang bekerja
secara otomatis. Proses filling and sealing dilakukan dalam cool top yang bersuhu
40C, hal ini bertujuan untuk mempertahankan moilitas sperma. Menurut
Toelihere (1981), menyatakan bahwa jumlah semen dalam straw adalah 0,25
sedangkan untuk mini straw 0,25 ml, dimana konsentrasi sperma harus jauh lebih
tinggi dan tetap mengandung minimal 12 juta sel sperma untuk setiap straw.
Mesin filling and sealing yang digunakan di UPTD IB Pucak Maros dapat dilihat
pada Gambar 12.

22

Gambar 12. Mesin filling and sealing


Proses filling and sealing yang bekerja secara otomatis, cara kerjanya
sebagai berikut:
a. Memasang jarum pengisap dan corong tempat semen, dan jarum pengisi
pada tempatnya
b. Menyalakan mesin dan mengatur letak straw
c. Mengatur jarum agar dapat masuk ke dalam straw dan memasukkan semen
ke dalam corong semen
d. Menyalakan vacuum pengisap dan mesin Bronson
e. Mesin filling dan sealing dinyalakan dan mengawasi straw yang sedang di
isi, kemudian menghitung straw dengan menggunakan rak saat pengisian
semen untuk setiap straw adalah 0,18 detik.
f. Setelah itu mengambil satu sampai tiga straw sebagai sampel dalam
melakukan evaluasi untuk mengetahui motilitas spermatozoa.
Pengaturan straw pada rak straw dapat memudahkan straw untuk dihitung
dengan cara mengatur straw dengan rapi (1 rak straw dapat memuat 100 straw).
Proses pengaturan straw pada rak straw dapat dilihat pada Gambar 13.

23

Gambar 13. Proses pengaturan straw pada rak straw

E. Proses Equilibrasi
Proses equilibrasi dilakukan agar semen yang telah dimasukkan dalam
straw tidak mengalami cold shock. Setelah straw diisi, selanjutnya diatur dalam
rak straw dan dimasukkan dalam kulkas selama 4 jam pada suhu 3-40C (proses
equilibrasi). Setelah 4 jam dilakukan evaluasi untuk mengetahui motilitas
spermatozoa, sebaiknya penurunan motilitas tidak terlalu drastis (maksimal 5%).
Proses equilibrasi dapat dilihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Proses equilibrasi

F. Proses Pre-Freezing
Setelah proses equilibrasi selama 4 jam, straw tersebut dipindahkan ke
dalam box cerofon yang berisi nitrogen cair (N2 cair) yang memiliki suhu -1100C,
agar semen tidak mengalami cold shock atau kejutan dingin yang membunuh
sperma. Tahap free freezing proses penurunan suhu dari 40C menjadi -1100C

24

sampai -1200C, dengan cara straw yang berada di atas rak dipindahkan ke dalam
box cerofon yang berisi N2 cair yang di tempatkan 8 cm diatas permukaan N2
cair dengan suhu -1100C sampai -1200C selama 15 menit. Proses pre-freezing di
dalam box cerofon dapat dilihat pada Gambar 15.

Gambar 15. Proses pre-freezing dalam box


Proses pre-freezing adalah meletakkan straw yang telah tersusun di rak
straw diatas N2 cair dengan jarak antara permukaan N2 cair dengan straw kurang
lebih sekitar 2 cm diatas permukaan cairan selama 9-10 menit dan suhu straw
mencapai -1400C. hal ini bertujuan sebagai proses adaptasi semen untuk tahap
selanjutnya, agar tidak terjadi temperatur shock, yang dapat meyebabkan
abnormalitas atau kematian spermatozoa di dalam semen beku (Jumiatin dkk,
2012).

G. Freezing
Setelah Pre-Freezing selanjutnya adalah tahap freezing. Freezing
merupakan proses penurunan suhu semen menjadi -1960C, straw dipindahkan ke
dalam goblet kemudian demasukkan ke canister dan direndam dalam nitrogen cair
yang suhunya -1960C di dalam container bibit. Penurunan suhu secara perlahanlahan dari mulai -400C sebelum dibekukan dan diproses pra-pembekuan -1100C
sampai -1200C serta proses pembekuan atau freezing dengan suhu -1960C,
bertujuan untuk mengatasi problema cold shock terhadap spermatozoa.

25

Freezing berfungsi untuk menghentikan kegiatan hidup sel tanpa


mematikan fungsi sel dan proses hidup dapat berlanjut setelah pembekuan
dihentikan. Proses freesing dilakukan di dalam storage container yang telah berisi
N2 cair dengan suhu -1960C. N2 cair digunakan dalam penyimpanan karena dapat
membekukan pada suhu paling rendah dan dapat menyimpan semen dalam waktu
yang lama. Setelah proses freezing, straw yang ada dalam goblet dimasukkan ke
dalam canester. Kemudian canester tersebut dimasukkan ke dalam container.
Diambil dua sampel secara acak untuk dilakukan pengujian Post Thawing
Motility. Hal yang perlu diperhatikan selama proses freezing adalah dengan
mengecek kembali nama serta kode dari pejantan di tiap rak sebelum dimasukkan
ke dalam canester (Jumiatin dkk,2012).
Proses freezing dalam container bibit di UPTD IB Pucak Maros dapat
dilihat pada Gambar 16.

Gambar 16. Proses freezing dalam container bibit


Lemma (2011), menyatakan ada dua rentang suhu yang rentan terhadap
kerusakan sperma selama pembekuan yaitu periode pendinginan (00C sampai 50C) dan pembentukan Kristal es (-60C sampai -150C). Hal ini juga telah
disampaikan sebelumnya oleh Moore dkk. (2005), bahwa kerusakan pertama pada

26

membrane sperma terjadi pada proses pembekuan dan thawing antara suhu -150C
sampai -600C tetapi tidak terjadi selama penyimpanan di nitrogen cair.

H. Penyimpanan dan Handling Semen


Setelah freezing maka straw disimpan dalam Devo yang berisi N2 cair,
satu canister terdapat 2 goblet dimana satu goblet 200 straw maka jumlah dalam
satu canister yaitu 400 straw. untuk memindahakan straw ke Devo yang lain maka
canister tidak boleh melebihi atau diatas leher devo dan dilakukan secepat
mungkin, hal ini untuk menjaga motilitas spermatozoa. Di dalam container harus
diperhatikan kondisi N2 cair dimana kita melakukan perhatian dengan mengecek
kembali N2 cair dua kali dalam seminggu jika N2 cair berkurang maka di
tambahkan N2 cair sampai 35 cm dari dasar Devo dengan menggunakan tongkat
ukur N2 cair. Handling semen dilakukan secara berkala agar semen beku yang
disimpan dapat terjaga kualitasnya. Proses handling penambahan N2 cair ke
dalam container bibit di UPTD IB Pucak Maros dapat dilihat pada Gambar 17.

Gambar 17. Proses penambahan N2 cair dalam container bibit


Diagram alir proses produksi semen beku di UPTD IB Pucak Maros dapat
dilihat pada Gambar 18

27

Gambar 18.

Diagram alir proses produksi semen beku di UPTD Pucak Maros


Kandang Untuk Pejantan (Kandang Jepit)

Penampungan Semen
Segar
Pemeriksaan Semen Segar Makroskopis dan Mikroskopis

Pengenceran Semen

Printing Straw

Filling and Sealing

Proses Equilibrasi

Proses Pre-Freezing

Freezing

Penyimpanan dan Handling Semen

I. Post Thawing Motility (PTM)


Post thawing motility ini dilakukan untuk melihat tingkat motilitas sperma
yang telah melalui tahap freezing. Untuk melakukan PTM ini disiapkan alat
seperti baskom, pinset, gunting, pipet tetes, mikroskop, deglass dan cover glass.

28

Untuk bahannya adalah semen beku (straw), air hangat dan pengencer (andromed
dan aquabides). Langkah yang dilakukan adalah :
1. Pertama-tama mengambil semen beku (straw) yang sudah melalui tahap
freezing di dalam canister dengan menggunakan pinset.
2. Straw tersebut lalu direndam di dalam baskom yang berisi air hangat
selama 30 detik 1 menit.
3. Kemudian ujung straw digunting dan sperma di dalam straw dituangkan
pada deglass lalu diberi pengencer dan dilapisi cover glass untuk melihat
pegerakan sperma dibawah mikroskop.
Proses post thawing motility yang dilakukan di UPTD IB Pucak Maros
dapat dilihat pada Gambar 19

Gambar 19. Proses Post Thawing Motility (PTM)


Data dari hasil pemeriksaan post thawing motility secara mikroskopis di
UPTD IB Pucak Maros disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Data hasil pemeriksaan PTM
Nama Bull
Motilitas Awal
Motilitas Akhir (PTM)
Leang
100%
70%
Sumber : Data Produksi Semen Beku UPTD IB Pucak Maros, 2016
Tabel 3 menunjukkan bahwa motilitas sperma pada semen beku turun
sebanyak 30%. Hal ini dapat disebabkan karena suhu air hangat pada saat thawing

29

dan proses thawing yang terlalu lama yaitu kisaran 30 detik - 1 menit. Hal ini
didukung oleh pendapat Soepriondho (1985), bahwa suhu yang tinggi dalam
media thawing akan menyebabkan proses metabolisme spermatozoa meninggi
sehingga memerlukan energi yang tinggi pula. Kondisi demikian menyebabkan
spermatozoa akan cepat kehilangan energi sehingga berakibat kematian pada
spermatozoa. Suhu yang rendah akan mempenggaruhi metabolisme spermatozoa.
Pemeriksaan motilitas semen beku di UPTD IB Pucak Maros dapat dilihat
pada Gambar 20.

Gambar 20. Pemeriksaan motilitas semen beku

30

BAB IV
PENUTUP

IV.1. Kesimpulan
Berdasarkan kegiatan Praktek Kerja lapang (PKL) di UPTD-IB Pucak,
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sulawesi Selatan memiliki
prosedur penampungan dan proses produksi semen beku yang memenuhi standar
SNI 01-4869.1: 2008 .

IV.2. Saran
Diperlukan perbaikan manajemen pemeliharaan ternak Di UPTD-IB Pucak
khususnya pada pemberian pakan pada musim kemarau sehingga ternak tidak
mengalami kekurangan pakan dan terjangkit penyakit serta akan mempengaruhi
kualitas semen unggul yang akan dijadikan bibit.

31

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Apriansyah. 2014. Laporan Praktikum IB. http://apriansyaabdullah.


blogspot.co.id, Diakses pada 2 Maret 2016.
Feradis, 2010. Bioteknologi Reproduksi pada Ternak. Alphabeta, Bandung.
Gordon, I. 2004. Artificial Insemination. In: Reproductive Technologies in Farm
Animals. CABI publishing, Wallingford.
Herdis. 1998. Metode Pemberian Gliserol dan Lama Ekuilibrasi pada Proses
Pembekuan Semen Kerbau Lumpur. Tesis. Program Pascasarjana Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Hunter, R. H. F. 1982. Reproduction of Farm Animal. School of Agriculture
Univ. of Edinburgh. Longman, London and New York.
Jumiatin, E., L. Chandra, M. D. Susan dan Nufriyanti. 2012. Analisa Semen
Segar. http://uinkuuuu.blogspot.co.id, Diakses pada 1 Maret 2016.
Layea, Z. dan S. Aminah. 2002. Uji Kualitas Sperma dan Penghitungan Jumlah
Pengencer dalam Upaya Menentukan Keberhasilan Inseminasi Buatan.
Balai Penelitian Ternak, Bogor.
Mardiyah, E., I. Suarida, I K. Pustaka dan R. Hernawati. 2001. Penampungan dan
Evaluasi Mutu Semen Sapi dengan Vagina Buatan. Balai Penelitian
Ternak, Bogor.
Marlene, W. N. 2003. Kajian Biologi Reproduksi dan Penerapan IB pada Rusa
Timor. Disertasi Doktor Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Moore AI, Squires EL, Graham JK. 2005. Adding cholesterol to the stallion sperm
plasma membrane improves cryosurvival. Cryobiol. 51:241-249.
Pane, P. 1993. Pemuliabiakan Ternak Sapi. PT. Gramedia Pustaka, Jakarta.
Salisbury, G. W. dan Vandermark, N. L. 1985. Fisiologi Reproduksi dan
Inseminasi Buatan Pada Sapi. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Soepriondho, Y. 1985 . Pengaruh Waktu dan Suhu Thawing Semen Beku
terhadap Angka Konsepsi pada Ternak Kerbau. Tesis. Fakultas
Pascasarjana Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Suzanna, Erlin. 2008. Kaji Banding Kualitas Semen Beku Sapi Potong yang Telah
Didistribusikan ke Lapangan. Skripsi. IPB, Bogor.
Toelihere, M. R. 1981. Ilmu Kemajiran pada Ternak. FKH. IPB, Bogor.

32

Toelihere, M. R. 1985. Inseminasi Buatan pada Ternak. Edisi ke-2. Angkasa,


Bandung. 292 hal.
Toelihere, M.R. dan M.B. Taurin. 1979. Semen Beku edisi ketiga. Departemen
Reproduksi Institute Pertanian Bogor, Bogor.
Wahyu, Jemi. 2008. Manajemen Mutu Semen Beku Sapi di Balai Inseminasi
Buatan (BIB) Lembang Bandung (Semen Beku Sapi Ongole dan Frisian
Holstein). Skripsi. IPB, Bogor.

33

LAMPIRAN

Kegiatan Sanitasi Kandang di UPTD IB Pucak Maros

Kegiatan Pemotongan Kuku Sapi Pejantan di UPTD IB Pucak Maros

Pemeriksaan Kebuntingan pada Sapi Dara di UPTD HMT Pucak Maros

34

Kegiatan Pemotongan Kuku Kambing di UPTD IB Pucak Maros

Penerimaan Semen Segar di UPTD IB Pucak Maros

Proses Evaluasi Semen Segar (Makroskopis dan Mikroskopis) di UPTD IB


Pucak Maros

35

Kegiatan Prosessing Semen Beku di UPTD IB Pucak Maros

Kegiatan Post Thawing Motility di UPTD IB Pucak Maros

36