Anda di halaman 1dari 9

MUNCULNYA LAPISAN ELIT TRADISIONAL DAN MODERN

A. TEORI ELIT
Menurut Aristoteles, elit adalah sejumlah kecil individu yang memikul semua atau
hampir semua tanggung jawab kemasyarakatan. Definisi elit yang dikemukakan oleh Aristoteles
merupakan penegasan lebih lanjut dari pernyataan Plato tentang dalil inti teori demokrasi elitis
klasik bahwa di setiap masyarakat, suatu minoritas membuat keputusan-keputusan besar. Konsep
teoritis yang dikemukakan oleh Plato dan Aristoteles kemudian diperluas kajiannya oleh dua
sosiolog politik Italias, yakni Vilpredo Pareto dan Gaetano Mosca.
Pareto menyatakan bahwa setiap masyarakat diperintah oleh sekelompok kecil orang
yang mempunyai kualitas yang diperlukan dalam kehidupan sosial dan politik. Kelompok kessil
itu disebut dengan elit, yang mampu menjangkau pusat kekuasaan. Elit adalah orang-orang
berhasil yang mampu menduduki jabatan tinggi dalam lapisan masyarakat. Pareto mempertegas
bahwa pada umumnya elit berasal dari kelas yang sama, yaitu orang-orang kaya dan pandai yang
mempunyai kelebihan dalam matematika, bidang muasik, karakter moral dan sebagainya. Teori
elite menurut ahli Menurut Pareto, mereka yang menjangkau pusat kekuasaan adalah selalu yang
terbaik. Merekalah yang dikenal sebagai elit. Elit adalah orang-orang yang berhasil, yang mampu
menduduki jabatan tinggi dalam lapisan masyarakat. Mereka terdiri dari para pengacara,
mekanik, bajingan, atau para gundik. Pareto juga percaya bahwa elit yang ada pada pekerjaan
dan lapisan masyarkat yang berbeda itu pada umumnya datang dari kelas yang sama; yaitu
orang-orang yang kaya dan pandai, mempunyai kelebihan dalam matematika, bidang musik,
karakter moral, dan sebagainya. Menurut Pareto, masyarakat terdiri dari dua kelas yaitu :
1. Lapisan atas, yaitu elit, yang terbagi ke dalam elit yang memerintah (governing elite), dan
elit yang tidak memerintah (non-governing).
2. Lapisan yang lebih rendah, yaitu non-elit. Konsep pergantian elit juga dikembangkan
oleh Pareto. Ia mengemukakan berbagai jenis pergantian elit, yaitu pergantian di antara
kelompok-kelompok elit yang memerintah itu sendiri dan di antara elit dengan penduduk
lainnya. Pergantian yang terakhir itu bisa berupa pemasukan seperti individu-individu dari
lapisan yang berbeda ke dalam kelompok elit yang sudah ada dan individu-individu dari
lapisan bawah yang membentuk kelompok elit baru dan masuk ke dalam suatu kancah
perebutan kekuasaan dengan elit yang sudah ada.
Menurut Mosca, dalam semua masyarakat, mulai dari yang paling giat mengembangkan
diri serta mencapai fajar peradaban, hingga pada masyarakt yang paling maju dan kuat selalu
muncul dua kelas, yakni kelas yang memerintah dan kelas yang diperintah. Kelas yang
memerintah, biasanya jumlahnya lebih sedikit, memegang semua fungsi politik, monopoli
kekuasaan dan menikmati keuntungankeuntungan yang didapatnya dari kekuasaan. Kelas yang
diperintah jumlahnya lebih besar, diatur dan dikontrol oleh kelas yang memerintah.

B. Karekteristik Elite Sosial


I. Pelapisan Sosial Ekonomi
Perbedaan tingkat pendidikan dan status sosial dapat menimbulkan suatu keadaan yang
heterogen. Heterogenitas tersebut dapat berlanjut dan memacu adanya persaingan, lebih-lebih
jika penduduk di kota semakin bertambah banyak dan dengan adanya sekolah-sekolah yang
beraneka ragam terjadilah berbagai spesialisasi di bidang keterampilan ataupun di bidang
jenis mata pencaharian.

II. Ciri-ciri elite sosial masyarakat kota


a. Individualisme
Perbedaan status sosial-ekonomi maupun kultural dapat menimbulkan sifat
individualisme. Sifat kegotongroyongan yang murni sudah sangat jarang dapat
dijumpai di kota. Pergaulan tatap muka secara langsung dan dalam ukuran waktu yang
lama sudah jarang terjadi, karena komunikasi lewat telepon sudah menjadi alat
penghubung yang bukan lagi merupakan suatu kemewahan. Selain itu karena tingkat
pendidikan warga kota sudah cukup tinggi, maka segala persoalan diusahakan
diselesaikan secara perorangan atau pribadi, tanpa meminta pertimbangan keluarga lain.
b. Toleransi Sosial
Kesibukan masing-masing warga kota dalam tempo yang cukup tinggi dapat
mengurangi perhatiannya kepada sesamanya. Apabila ini berlebihan maka mereka
mampu akan mempunyai sifat acuh tak acuh atau kurang mempunyai toleransi sosial. Di
kota masalah ini dapat diatasi dengan adanya lembaga atau yayasan yang berkecimpung
dalam bidang kemasyarakatan.

c. Jarak Sosial
Kepadatan penduduk di kota-kota memang pada umumnya dapat dikatakan cukup
tinggi. Biasanya sudah melebihi 10.000 orang/km2. Jadi, secara fisik di jalan, di pasar, di
toko, di bioskop dan di tempat yang lain warga kota berdekatan tetapi dari segi sosial
berjauhan, karena perbedaan kebutuhan dan kepentingan.
d. Pelapisan Sosial
Perbedaan status, kepentingan dan situasi kondisi kehidupan kota mempunyai
pengaruh terhadap sistem penilaian yang berbeda mengenai gejala-gejala yang timbul di
kota. Penilaian dapat didasarkan pada latar belakang ekonomi, pendidikan dan filsafat.
Perubahan dan variasi dapat terjadi, karena tidak ada kota yang sama persis struktur dan
keadaannya.
Suatu hal yang perlu ditambahkan sebagai penjelasan ialah pengertian mengenai
istilah neighborhood. Dalam pengertian neighborhood terkandung unsur-unsur fisis
dan sosial, karena unsur-unsur tersebut terjalin menjadi satu unit merupakan satu unit
tata kehidupan di kota. Unsur-unsurnya antara lain gedung-gedung sekolah, bangunan
pertokoan, pasar, daerah-daerah terbuka untuk rekreasi, jalan kereta api, jalan mobil dan
sebagainya. Unsur-unsur tersebut menimbulkan kegiatan dan kesibukan dalam
kehidupan sehari-hari.
Jadi, sesungguhnya neighborhood ini sudah tidak merupakan hal baru bagi kita.
Dalam kota terdapat banyak unit atau kelompok neighborhood, karena
neighborhood ini dibatasi oleh beberapa persyaratan tertentu, antara lain:
Lingkungan ini terbatas pada jarak pencapaian antara seseorang dengan toko atau
sekolah, misalnya dapat dilakukan dengan jalan kaki.
Bila seseorang terpaksa harus memakai kendaraan, maka pekerjaannya tidak perlu
melalui lalu lintas yang ramai dan padat.
Dari segi jumlah penduduk, maka satu unit neighborhood didiami oleh 5.000 sampai
6.000 orang. Untuk tempat-tempat di Indonesia angka ini tentu tidak akan sama dan
mungkin akan menunjukkan angka yang lebih besar.

Sebuah unit neighborhood dapat terbentuk kalau terjadi jalinan dan interaksi sosial
diantara warga kota sesamanya. Unit atau kelompok neighborhood ini dapat terjadi dengan
sendirinya, tetapi dapat juga terjadi dengan suatu perencanaan pembangunan kota, yaitu
dengan merencanakan daerah-daerah lingkungan kehidupan yang khusus dan memenuhi
persyaratan praktis dan menyenangkan. Bertambahnya penghuni kota baik berasal dari dari
penghuni kota maupun dari arus penduduk yang masuk dari luar kota mengakibatkan
bertambahnya perumahan-perumahan yang berarti berkurangnya daerah-daerah kosong di
dalam kota. Semakin banyaknya anak-anak kota yang menjadi semakin banyak pula
diperlukan gedung-gedung sekolah. Bertambah pelajar dan mahasiswa berarti bertambah
juga jumlah sepeda dan kendaraan bermotor roda dua. Toko-toko. Warung makan atau
restoran bertambahnya terus sehingga makin mempercepat habisnya tanah-tanah kosong di
dalam kota. Kota terpaksa harus diperluas secara bertahap menjauhi kota.

C. Peran Elite Politik Dalam Gerakan Sosial

Dalam study teoritis mengenai pergerakan sosial kita akan menemukan banyak
pergerakan paradigma, terutama periode tahun 1940-an sampai 1990-an. Tahapan pertama
ditandai oleh pandangan negatif terhadap pergerakan kemasyarakatan dan cenderung
menjelaskannya dalam sudut pandang psikologi. Sudut pandang ini lebih karena pada masa-
masa itu popularitas psikoanalis dan pengaruh dari nazisme, fasisme, stanilisme menguat.
Tahapan kedua, teori pergerakan kemasyarakatan didasarkan pada pandangan positif.
Penekanan lebih pada organisasi yang memiliki strategi rasional.

Secara definisi gerakan sosial memiliki penjelasan konseptual. Gerakan sosial dalam
definisi Gore, semua gerakan sosial yang berjuang demi perubahan melibatkan sebuah
wawasan yang baru, sebuah perspektif baru, sebuah perluasan atau redefinisi dari sebuah
sistem kepercayaan dan nilai yang telah ada .

Gerakan sosial ( social movement ) adalah aktivitas sosial berupa gerakan sejenis
tindakan sekelompok yang merupakan kelompok informal yang berbentuk organisasi,
berjumlah besar atau individuyang secara spesifik berfokus pada suatu isu-isu sosial atau
politik dengan melaksanakan, menolak, atau mengkampanyekan sebuah perubahan sosial.
( wikipedia.com ).

Golongan elite politik sendiri memiliki peranan yang penting terhadap suatu pergerakan
politik. Karena, elite politik adalah kaum minoritas yang memimpin masyarakat atau wakil
dari masyarakat, secara tidak langsung apa yang dilakukan oleh elite polotik atau
diperintahkan akan dilaksanakan oleh masyarakat. Tanpa kaum elite politik pergerakan sosial
akan sulit terjadi.

D. Peran Elite Sosial Terhadap Gerakan Sosial


Elite sosial merupakan kelompok sosial yang unggul, misalnya seperti kaum bangsawan.
Elite sosial merujuk pada kelompok-kelompok sosial di dalam masyarakat. Kaum ini
mempunyai kedudukan yang tinggi di dalam kelompok masyarakatnya, lebih menonjol dan
berpengaruh bagi masyarakat sekitarnya. Jika dibandingkan dengan elite politik, elite sosial
memiliki cakupan yang lebih sempit, yaitu hanya di dalam kelompok masyarakat. Eksistensi
kaum elite ditentukan oleh, sejauh mana mereka mampu mempertahankan posisi dan
pengaruhnya di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang terus berubah.

Jika ditanya peran elite sosial terhadap gerakan sosial ? Tentu saja elite sosial juga
memiliki peran yang penting seperti elite politik. Namun, bedanya adalah elite politik lebih
kepada pemerintahan sedangkan elite sosial lebih kepada kehidupan bermasyarakat (sosial ).
Elite sosial, biasanya memiliki peran sebagai pemimpin di dalam masyarakat atau penggerak
masyarakat. Misalnya seperti, sesepuh, kepela desa, ketua RT, dan lain-lain. Intinya, elite
politik sangat berperan juga terhadap terjadinya gerakan sosial.

E. Karakteristik Elite Tradisional Dan Elite Modern

Pada dasarnya elite sejati yang sebenarnya adalah yang menghindari kesombongan,
arogansi, merasa paling tahu, paling hebat, atau paling benar. Elite sejati mengupayakan diri
sebagai seorang yang punya nilai, punya sesuatu yang menjadikan dirinya sebagai rujukan,
tempat bernaung. Seseorang atau lembaga yang diposisikan sebagai elite belum tentu
dinyatakan sebagai orang yang bahagia, karena harapan yang digantungkan terlalu tinggi
sementara realitasnya berbeda. Contohnya kita dapat melihat lembaga keuangan, kepolisian,
kejaksaan dan lainnya merupakan lembaga yang terposisikan sebagai elite, bahkan selebriti.
Selain selalu menjadi sumber berita, lembaga itu menjadi tumpuan harapan. Lembaga yang
sangat berpengaruh terhadap pulihnya perekonomian dan penegakan keadilan (yang sebenar-
benarnya adil).

1. Elite Tradisional (yang berorientasi kosmologis/berdasarkan keturunan).


Ada dua golongan elite tradisional yaitu:
Priyai
Golongan elite yang merupakan sekelompok lapisan masyarakat yang mempunyai
kedudukan terkemuka di lingkungan kerajaan dan mempunyai martabat tinggi dalam
masyarakat. Mereka terdiri atas golongan bangsawan, tentara, rohaniawan, atau
pedagang kaya. Kaum bangsawan di Jawa dikenal sebagai bendoro, di Jawa Barat
sebagai menak, bertingkat-tingkat sesuai dengan yang menurunkannya. Kaum pegawai
di Jawa disebut sebagai priyai yang juga bertingkat-tingkat, mereka mudah dibedakan
satu dengan yang lain berdasarkan pakaian dinasnya dengan kepangkatannya pada
lengan baju atau daerah tempat tinggalnya. Jumlah tentara kerajaan dibandingkan
dengan negara modern relatif kecil, karena kekuatan pertahanan terletak di bawah para
bangsawan seperti bupati. Kaum rohaniawan yang berfungsi dalam bidang agama
memiliki kedudukan yang khas kaena karismanya. Mereka pada umumnya bertempat
tinggal di lingkungan tempat ibadah seperti dekat pura untuk yang beragama Hindu, dan
di dekat Masjid disebut kauman untuk yang beragama Islam. Dalam masyarakat Jawa
dan Bali yang pernah mengenal sistem Kasta, pedagang di tempatkan sebagai golongan
yang lebih rendah, masuk kasta Waisya, tetapi di Sumatra pedagang kaya termasuk
kaum elite, mereka memperoleh sapaan sebagai urang kayo atau rangkayo di Sumatra
Barat. Kedudukan dan martabatnya tidak kalah dengan kaum elite yang lain.
Syahbandar
Dalam sejarah lama syahbandar sebagai kepala pelabuhan memperoleh
kedudukan sebagai kaum elite. Sebagian dari mereka terdiri atas orang asing. Hal ini
disebabkan karena raja pada masa itu juga mempunyai penghasilan dari perdagangan,
sehingga pejabat yang memegang peran penting dalam perdagangan diberi kedudukan
istimewa. Pemakaian tenaga asing untuk jabatan tersebut disebabkan karena mereka
dinilai ahli dalam perdagangan termasuk kemahiran memakai bahasa asing.
Komponen-komponen kekuasaan dalam elite tradisional adalah seorang
pemimpin dalam mempertahankan kekuasaannya harus memiliki apa yang namanya
kharisma (memiliki wahyu Tuhan atau Dewa), kewibawaan, wewenang, dan kekuasaan
dalam arti khusus, serta sifat-sifat lain yang menjadi syarat penting bagi seorang
pemimpin dalam masyarakat negara yang seperti itu.
Sifat keramat atau karisma seorang raja yang akhirnya seringkali menjadikan
seorang raja harus mengisolasikan diri dari rakyatnya untuk tidak bertatap muka dan
berdialok langsung dengan raja. Bahkan hingga pada sebuah pemikiran yang memang
sengaja didoktrinkan kepada rakyat, bahwa seorang rakyat biasa tidak diperkenankan
untuk melihat atau menatap wajahnya, karena hal itu adalah merupakan tindakan yang
tidak sopan atau sangat dilarang. Hal demikian juga terjadi pada negara kuno Jepang,
dimana masyarakatnya tidak diijinkan atau dilarang untuk memandang wajah seorang
Kaisar Meiji yang berkuasa pada saat itu. Hal ini, tidak terlepas dengan indoktrinasi
yang diberikan oleh pihak kerajaan bahwa raja adalah penjelmaan dari dewa.
Untuk Indonesia dan mungkin bagi seluruh elit yang ingin menjadi dan
mempertahankan kekuasaannya, Koentjaraningrat mengatakan bahwa meskipun
kekuasaan pemimpin tradisional memiliki karisma sebagai komponen yang penting,
sehingga menjadi unsur pokok yang menjaga kontinuitas kepemimimpinannya, akan
tetapi seorang pemimpin tidak dapat mengabaikan komponen lain yakni apa yang
disebut sebagai kekuasaan dalam arti khusus, yaitu: kemampuan untuk mengerahkan
kekuatan fisik, dan untuk mengorganisir orang banyak untuk mengadakan sanksi. Selain
itu seorang pemimpin haruslah memiliki sifat yang adil, baik hati dan bijaksana. Ketiga
sifat ini pada dasarnya juga diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin baik tradisional
maupun masa kini.
2. Elite Modern
Dalam perkembangan sejarahnya dengan ditandai kemajuan dari segi budaya,
tehnologi dan logika berpikir yang lebih maju dan rasional dari masyarakat, menjadikan
konsepsi elit dalam memandang kekuasaan di masa kini (era modern) memiliki
perbedaan yang cukup mendasar dari konsepsi elit tradisional. Kalau untuk menjaga
kewibawaan seorang pemimpin terhadap rakyatnya dalam negara tradisional, ia harus
mengisolasi diri untuk tidak bertatap muka dan dialog dengan masyarakat walau dengan
dalih karena seorang raja adalah keturunan dewa yang suci dan harus menjaga kesucian
dan kekeramatannya itu, sedangkan masyarakat adalah manusia yang hina yang dapat
mencemari kesuciannya. Disini jelas bahwa ada kemajuan berfikir yang lebih dan sangat
maju antara elite tradisional dan elite modern. Terutama dalam keinginan untuk
mempunyai pendidikan agar dapat lebih baik kemasa depannya kelak.
Maka dalam masyarakat modern, seorang pemimpin dalam membangun
kewibawaan terhadap rakyatnya tidak lagi dengan menggunakan cara-cara yang
demikian, tapi lebih pada baagaimana membangun citra yang baik dihadapan
masyarakat. Ini artinya, mengharuskan seorang pemimpin untuk lebih dekat dengan
rakyatnya, karena sumber legitimasi dan wewenang seorang penguasa, terlebih dalam
negara yang telah menganut sitem politik demokrasi modern, bukan lagi para dewa dan
roh nenek moyang, bukan pula kekuatan sakti yang terhimpun dalam pusaka-pusaka
keramat, tetapi sumber kekuasaan dan wewenang seorang pemimpin ada pada
masyarakat.
Elit modern yang berorientasi kepada negara kemakmuran, berdasarkan
pendidikan. Elit modern ini jauh lebih beraneka ragam daripada elite tradisional.Secara
struktural ada disebutkan tentang administratur-administratur, pegawai-pegawai
pemerintah, teknisi-teknisi, orang-orang profesional, dan para intelektual, tetapi pada
akhirnya perbedaan utama yang dapat dibuat adalah antara elit fungsional dan elit
politik. Yang dimaksud dengan elit fungsional adalah pemimpin-pemimpin yang baik
pada masa lalumaupun masa sekarang mengabdikan diri untuk kelangsungan
berfungsinya suatu negara dan masyarakat yang modern, sedangkan elit politik adalah
orang-orang (Indonesia) yang terlibat dalam aktivitas politik untuk berbagai tujuan tapi
biasanya bertalian dengan sekedar perubahan politik. Kelompok pertama berlainan
dengan yang biasa ditafsirkan, menjalankan fungsi sosial yang lebih besar dengan
bertindak sebagai pembawa perubahan, sedangkan golongan ke dua lebih mempunyai
arti simbolis daripada praktis.

Kesimpulan perbandingan antara karakteristik elite tradisional dan elite modern:

Dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara elit tradisional, dan
elit masa kini (modern) dalam melihat kekuasaan dan kepemimpinan sebuah negara.
Perbedaannya yang mendasar ada pada cara membangun karisma dan wibawa. Di mana dalam
masyarakat tradisional memahami bahwa seorang pemimpin atau raja dalam sebuah negara
tradisional (kuno) memandang untuk menjaga wibawa dan karisma, mengharuskan seorang raja
harus memisahkan diri atau mengisolasikan dirinya dari kehidupan masyarakat. Hal ini
dilakukan dengan melalui indoktrinasi ajaran dari sebuah kepercayaan agama bahwa seorang raja
adalah titisan dewa yang suci, maka rakyat yang dianggap hina harus menjauh atau dilarang
untuk menatap dan berdialok dengan raja, karena dapat mencemari kesucian raja.

Berbeda kemudian dalam masyarakat masa kini (modern), dalam membangun karisma
dan wibawa seorang pemimpin tidak lagi mengisolasikan diri dari kehidupan rakyatnya, justru
sebaliknya seorang pemimpin harus lebih dikenal dan dekat dengan rakyat. Hal tidak lain karena
legitimasi kepemimpina seseorang dalam negara modern bukan didapat dari dewa, atau hal-hal
keramat sebagai mana dalam masyarakat kuno, tetapi legitimasi seorang pemimpin ada pada
masyarakat itu sendiri, karena masyarakat lah yang langsung memilih seseorang untuk menjadi
pemimpin mereka. Inilah yang mengharuska kewibawaan dan karisma seorang pemimpin harus
dibangun melalui popularitas.

embo satria, embosatria.blogspot.co.id/2012/01/sejarah-sosial.html,diakses 4 April 2017


repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/50013/Chapter
%20I.pdf;jsessionid=E9A76C3D311A3A3C805F2721485AD107?sequence=4, diakses 4 April
2017
bayuhebatuey.blogspot.co.id/2009/08/munculnya-elit-modern-indonesia.html, diakses 4 April
2017