Anda di halaman 1dari 27

MATA DAN KACA PEMBESAR

SEDERHANA
MAKALAH
(Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas terstruktur mata kuliah Optik)
Dosen Pengampu : Diah Mulhayatiah, M.Pd.
Pina Pitriana, M.Si.

disusun oleh :
1142070004 Agus Firman Muhidin
1142070014 Ayuna Hermawan
1142070024 Eis Nurzakiah
1142070034 Hesti Nurfiqriah
Kelompok/Semester/Kelas: 4/VI/A

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA JURUSAN P.MIPA


FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI
BANDUNG
2017

1
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah Subhanahu Wataala yang telah

memberikan rahmat, hidayah, serta inayah-Nya kepada kita semua. Sholawat dan

salam tercurah kepada Nabi Agung Muhammad Shollallahu Alaihi Wasallam

sehingga kami mampu membuat/menyelesaikan makalah yang berjudul, Mata

dan Kaca Pembesar Sederhana.

Pada kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada pihak-

pihak yang telah membantu kami baik secara langsung maupun tidak langsung

dalam penyusunan makalah ini.

Tak ada gading yang tak retak inilah sebuah peribahasa yang dapat

kami sampaikan dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari juga bahwa

dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan terdapat kesalahan

dalam penyusunannya. Maka dari itu kritik dan saran membangun kami nantikan

untuk perbaikan di kemudian hari.


Akhirnya dengan segala kekuatan dan kemampuan kami serahkan

kembali kepada Allah Subhanahu Wataala. Mudah-mudahan makalah ini dapat

bermanfaat bagi kita semua. Aamiin.

Bandung, Maret 2017

Penyusun

1
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang 1
B. Rumusan Masalah 1
C. Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN 3
A. Mata 3
1. Bagian-bagian Mata 3
2. Pembentukan Bayangan pada Mata 9
3. Cacat pada Mata 11
B. Loop 16
1. Sejarah Penemuan Loop 17
2. Perbesaran pada Loop 17
3. Pembentukan Bayangan pada Loop 19

BAB III PENUTUP 22

A. Simpulan 22
B. Saran 23

DAFTAR PUSTAKA

2
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan YME dan sebagai wakil Tuhan
di bumi yang menerima amanat-Nya untuk mengelola kekayaan alam.
Sebagai hamba Tuhan yang mempunyai kewajiban untuk beribadah dan
menyembah Tuhan Sang Pencipta dengan tulus. Salah satu bentuk syukur kita
kepada-Nya adalah dengan menuntut ilmu supaya kita dapat menjadi seorang
khalifah yang benar-benar melaksanakan tugasnya. Salah satu bentuk ilmu
yang patut kita pelajari adalah Fisika.
Fisika adalah ilmu yang mempelajari mengenai seluruh gejala atau
fenomena yang terjadi di alam. Tak heran, ilmu fisika ini seringkali dijumpai
dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu cabang dari ilmu fisika adalah optik.
Menurut perkembangan era globalisasi bidang optik pun ikut
berkembang. Alat-alat optik sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari,
seperti dalam bidang pendidikan dan kesehatan. Jenis-jenis alat optik pun
beraneka ragam menurut bentuk dan kegunaannya. Misalnya mata digunakan
untuk melihat dan loop digunakan sebagai kaca pembesar. Walaupun menjadi
sesuatu yang urgent dalam kehidupan, kerapkali seorang individu dewasa ini
kuran mengetahui mengenai seluk beluk mata sehingga lalai untuk
merawatnya. Selain itu karena ketidaktahuan jugalah yang menyebabkan kita
kurang dapat mengembangkan loop. Maka dari itu kami disini akan
menguraikan mengenai segala hal tentang alat optik yaitu mata dan loop.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini, yaitu :
1. Apa saja bagian-bagian dari mata?
2. Bagaimana cara kerja mata?
3. Apa saja cacat yang terjadi pada mata?
4. Bagaimana proses pembentukan bayangan pada loop?
5. Bagaimana menghitung pembesaran bayangan pada loop?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari penyusunan makalah ini, yaitu untuk :
1. Mengetahui bagian-bagian dari mata.
2. Memahami cara kerja mata.
3. Menyelidiki cacat yang terjadi pada mata.
4. Memahami proses pembentukan bayangan pada loop.

1
5. Memahami cara menghitung pembesaran bayangan pada loop.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Mata
Mata adalah alat indra manusia yang digunakan untuk melihat. Di
bawah ini kita akan uraikan mengenai bagian-bagian mata, cara kerja mata,
serta bentuk-bentuk cacat mata.
1. Bagian-bagian Mata
Menurut ilmu anatomi mata manusia terbagi menjadi dua bagian yaitu:
bagian luar dan bagian dalam.
a. Bagian Luar

Gambar 1 Bagian Luar Mata

Bagian luar mata terdiri dari :


1) Bulu Mata
Bulu mata yaitu rambut-rambut halus yang terdapat ditepi kelopak
mata.1 Bulu mata berfungsi untuk melindungi mata dari benda
asing seperti debu dan lainnya.
2) Alis Mata (Supersilium)
Alis yaitu rambut-rambut halus yang terdapat diatas mata. Alis
berfungsi mencegah masuknya air atau keringat dari dahi ke mata.
3) Kelopak Mata (Palpebra)
Kelopak mata merupakan 2 buah lipatan atas dan bawah kulit
yang terletak di depan bulbus okuli. Kelopak mata terdiri atas
kelopak atas dan kelopak bawah. Bagian ini untuk membuka dan
menutup mata. Kelopak mata berfungsi untuk melindungi bola
mata bagian depan dari benda-benda asing dari luar. Seperti debu,
asap, dan goresan. Kelopak mata juga berfungsi untuk menyapu
1 Syaifuddin, Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan,
(Jakarta: Buku Kedokteran EGC Edisi 3, 2003), hlm. 326

3
permukaan bola mata dengan cairan. Selain itu juga untuk
mengatur intensitas cahaya yang masuk ke mata.
4) Kelenjar Air Mata
Kelenjar air mata terletak dibagian dalam kelopak mata. Kelenjar
air mata berfungsi untuk menghasilkan cairan yang disebut air
mata. Air Mata berguna untuk menjaga bola mata agar tetap basah.
Selain itu air mata berguna untukmembersihkan mata dari benda
asing yang masuk kemata sehingga mata tetap bersih serta berguna
untuk membunuuh bibit penyakit yang masuk ke daam mata.
Contoh benda asing adalah debu, asap, uap, bawang merah, dan
zat-zat yang berbahaya bagi mata. Oleh karena itu, jika mata
terkena benda-benda asing tersebut, maka akan basah oleh air
mata.
5) Kelenjar Meibom

b. Bagian dalam

Gambar 2 Anatomi Bagian Dalam Mata

4
Bagian dalam mata terdiri dari :
a. Konjungtiva
Konjungtiva adalah membran tipis bening yang melapisi
permukaan bagian dalam kelopak mata dan dan menutupi bagian
depan sklera (bagian putih mata), kecuali kornea.Konjungtiva
mengandung banyak sekali pembuluh darah.2 Konjungtiva
merupakan selaput transparan yang melapisi kornea & di bagian
dalam kelopak mata. Selaput ini peka terhadap iritasi. Konjungtiva
penuh dengan pembuluh darah & serabut saraf.radang pada
konjungtiva di sebut konjungtivitis. Untuk mencegah kekeringan
konjungtiva di basahi dengan cairan yang keluar dari kelenjar
mata/ kelenjar lakrimal yang terdapat di bawah alis.
b. Sklera
Sklera merupakan selaput jaringan ikat yang kuat dan berada pada
lapisan terluar mata yang berwarna putih serta melengkung. Sklera
berfungsi membantu melindungi bagian-bagian dalam dan
mempertahan kan kekakuan bola mata.
c. Kornea
Bagian depan sklera membentuk struktur tembus cahaya yang
disebut kornea .Kornea dilindungi oleh suatu selaput yang di sebut
konjungtiva. Pada kornea tidak di temukan pembuluh darah
seperti hal nya pada aqueus humor,vitreous humor,dan lensa
mata..Kornea merupakan selaput yang tembus cahaya, melalui
kornea kita dapat melihat membran pupil dan iris.
d. Koroid
Koroid adalah selaput tipis dan lembab merupakan bagian
belakang tunika vaskulosa ( lapisan tengah dan sangat peka oleh
rangsangan).3 Selaput ini dari dalam dilapisi oleh selaput jala yang
mengandung sel-sel indra yang amat rentan terhadap cahaya yang
semua nya berguna untuk indra penglitah dalam arti khusus.pada

2 Bruce James dkk, Lecture Notes Oftamologi, terj: Asri Dwi


Rachmawati, (Semarang: Erlangga, Edisi Ke IX, 2005) h.

3 Syaifuddin, Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan,


(Jakarta: Buku Kedokteran EGC Edisi 3, 2003), hlm. 325

5
lapisan koroid banyak mengandung pembuluh darah dan pigmen
berwarna hitam.lapisan koroid dapat menyerap cahaya yang
masuk ke dalam mata. Dengan ada nya pembuluh darah pada
lapisan ini sekaligus menyuplai makanan ke lapisan retina bagian
depan lapisan koroid berubah membentuk struktur terpisah yaitu :
corpus siliaris , ligamentum suspensor, dan iris . Corpus siliaris
terletak diantara tepi depan retina dengan tepi belakang Iris.
Ligamentum suspensor berfungsi untuk mengatur proses
akomodasi lensa mata untuk mendapat kan gambar benda yang
jelas pada retina. Iris berfungsi sebagai diagfragma yang dapat
mengatur lebar sempit nya lubang cahaya ( pupil ) menyesuaikan
intensitas cahaya yang masuk. Jumlah dan sifat dari pigmen di
dalam nya menentukan warna iris, ada yang hitam, biru,
coklat,atau hijau.
e. Iris
Iris merupakan diafragma yang terletak diantara kornea dan mata.
f. Pupil
Dari kornea, cahaya akan diteruskan ke pupil. Pupil menentukan
kuantitas cahaya yang masuk ke bagian mata yang lebih dalam.
Pupil mata akan melebar jika kondisi ruangan yang gelap, dan
akan menyempit jika kondisi ruangan terang.
g. Lensa
Lensa adalah organ focus utama, yang membiaskan berkas-berkas
cahaya yang terpantul dari benda-benda yang dilihat, menjadi
bayangan yang jelas pada retina. Lensa berada dalam sebuah
kapsul yang elastic yang dikaitkan pada korpus siliare khoroid
oleh ligamentum suspensorium.4
h. Retina
Retina merupakan lapisan bagian dalam yang sangat halus dan
sangat sensitif terhadap cahaya. Pada retina terdapat
reseptor(fotoreseptor). Retina merupakan lapisan terdalam yang
tersusun oleh sel-sel reseptor batang ( bacillus ) dan sel-sel
reseptor kerucut ( konus ). Retina merupakan bagian mata yang

4 Evelyn c. pearce, Anatomi dan fisiologi untuk paramedic, (Jakarta;


gramedia, 2012),h. 318.

6
paling pekat terhadap cahaya, sel-sel yang peka ini terletak di
bagian belakang retina dan arah nya membelakangi sumber cahaya
Otot mata, ada 6 otot mata yang berfungsi memegang sklera. 4
diantara nya disebut otot reflus ( rektus inferior, rektus superior,
rektus eksternal, & rektus internal ). Otot rektus berfungsi
menggerak kan bola mata kekanan, kekiri,keatas & ke bawah. 2
lain nya adalah otot obliq atas/superior & otot obliq
bawah/inferior.
i. Aqueous humor

Gambar 3 Aqueous humor

Aquaeous humor atau cairan berair terdapat dibalik kornea.


Strukturnya sama dengan cairan sel, mengandung nutrisi bagi
kornea dan dapat melakukan difusi gas dengan udara luar melalui
kornea.
j. Vitreus humor (Badan Bening)
Badan bening ini terletak dibelakang lensa. Bentuknya berupa zat
transparan seperti jeli(agar-agar) yang jernih. Zat ini mengisi pada
mata dan membuat bola mata membulat.
k. Bintik Kuning
Bintik kuning adalah bagian retina yang paling peka terhadap
cahaya karena merupakan tempat perkumpulan sel-sel saraf yang
berbentuk kerucut dan batang

7
l. Saraf Optik

Gambar 4 Anatomi Syaraf Optik

Saraf yang memasuki sel tali dan kerucut dalam retina, untuk
menuju ke otak.
m. Otot Mata

Gambar 5 Anatomi Otot Mata

Otot-otot yang melekat pada mata :


o Muskulus levator palpebralis superior inferior, fungsinya
mengangkat kelopak mata
o Muskulus orbikularis okuli otot lingkar mata, fungsinya untuk
menutup mata
o Muskulus rektus okuli inferior (otot disekitar mata), berfungsi
menggerakkan bola mata ke bawah dan ke dalam
o Muskulus rektus okuli medial (otot disekitar mata) berfungsi
untuk menggerakkan mata dalam (bola mata)
o Muskulus obliques okuli superior, fungsinya memutar mata ke
atas, ke bawah dan ke luar.5

5 Syaifuddin, Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan, (Jakarta: Buku


Kedokteran EGC Edisi 3, 2003), hlm. 323

8
2. Pembentukan Bayangan pada Mata
Proses pembentukan bayangan pada mata adalah cahaya yang
masuk ke mata kemudian dibiaskan oleh lensa mata, sehingga terbentuk
bayangan pada retina. Secara sederhana sebagai alat optik, mata
membentuk bayangan nyata, terbalik, dan diperkecil pada retina.
Pemfokusan dilakukan dengan mengubah jarak fokus lensanya. Benda
akan nampak jelas jika bayangan tepat jatuh pada permukaan retina. Mata
akan dapat melihat suatu benda bila menerima cahaya.
Adapun tahap-tahap terbentuknya bayangan pada mata adalah :
cahaya masuk ke dalam mata melalui lubang pupil, pertama cahaya
menembus kornea, aqueous humor, lensa, dan viterus humor sehingga
bayangan jatuh tepat pada retina. Kemudian retina membentuk impuls
yang dijalarkan ke saraf otak II , lalu ke otak untuk di interpretasikan
sebagai penglihatan. Cahaya yang masuk ke mata difokuskan oleh lensa
mata ke bagian belakang mata yang disebut retina. Bentuk bayangan
benda yang jatuh di retina seolah-olah direkam dan disampaikan ke otak
melalui saraf optik. Bayangan inilah yang sampai ke otak dan
memberikan kesan melihat benda kepada mata. Jadi, mata dapat melihat
objek dengan jelas apabila bayangan benda (bayangan nyata) terbentuk
tepat di retina. (Salsabila, 2015)

Gambar 6 Proses pembentukan bayangan pada mata

Cahaya yang melalui pusat lensa tidak mengalami


pembiasan, maka cahaya dari setiap titik sumber cahaya terlihat
membentuk titik bayangan di sisi kanan lensa, tepat di garis yang melalui
titik sumber cahaya dan pusat lensa. Setiap benda yang terletak di depan
lensa merupakan kumpulan dari beberapa titik sumber cahaya. Titik-
titik itu mempunyai cahaya yang kuat atau lemah, dan warnanya berbeda-

9
beda. Setiap titik sumber cahaya dari benda membentuk titik fokus yang
berbeda pada sisi lain lensa yang segaris dengan pusat lensa. Bila secarik
kertas putih diletakkan pada jarak fokus lensa ini, akan terlihat bayangan
dari benda. Namun, bayangan ini mempunyai gambaran atas-bawah yang
terbalik dari benda aslinya, demikian pula sisi-sisi disampingnya. (Wati,
2015, hal. 291)
Cahaya yang datang pada mata berupa energi dalam spektrum yang
kemudian diubah oleh mata menjadi potensial aksi di nervus optikus
(saraf penglihatan). Panjang gelombang cahaya yang dapat dilihat
berkisar 397-723 nano meter. Bayangan benda yang difokuskan di retina
mencetuskan potensial aksi di dalam sel kerucut dan batang. Impuls yang
timbul di retina dihantarkan ke korteks serebrum, untuk dapat
menimbulkan kesan penglihatan. (Salsabila, 2015)
Kemampuan penglihatan manusia terbatas pada jangkauan tertentu
atau disebut jangkauan penglihatan yaitu daerah di depan mata yang
dibatasi oleh dua buah titik. Titik terjauh (punctum remotum disingkat
PR) dan titik terdekat (punctum proximum disingkat PP). PR adalah titik
terjauh didepan mata, dimana benda masih nampak dengan jelas. PP
adalah titik terdekat didepan mata, dimana benda masih nampak dengan
jelas. Objek akan nampak jelas jika objek berada pada jangkauan
penglihatan, dan objek tidak akan nampak dengan jelas jika objek ada
diluar jangkauan penglihatan (terlalu dekat dengan mata atau terlalu jauh
dari mata). (Wati, 2015)

10
3. Cacat Mata
Cacat mata terjadi karena jangkauan penglihatan berubah. Hal ini
diakibatkan oleh kemampuan daya akomodasi mata yang berubah. Daya
akomodasi adalah kemampuan lensa mata untuk mengubah jarak
fokusnya agar bayangan jatuh di retina mata. Kesalahan bias mata
menyebabkan tiga cacat yang terkenal pada penglihatan yaitu rabun jauh
(myopia), rabun dekat (hyperopia) dan astigmatisme. (Pedrotti, 1993, hal.
158)
a. Rabun Jauh (myopia)
Bila dibandingkan dengan mata normal, miopi atau mata rabun
jauh umumnya ditemukan pada jarak aksial (dari kornea ke retina)
yang lebih jauh dari biasanya, rentang diterima dari 22 mm. Sebagai
konsekuensinya, mata rabun membentuk gambar yang tajam dari
obyek yang jauh di depan retina, dan, tentu saja hal tersebut
menyebabkan gambar yang diterima retina menjadi kabur.
Cacat mata miopi terjadi jika pada penglihatan tak
berakomodasi bayangan jatuh di depan retina, hal ini terjadi karena
lensa mata tidak dapat menjadi sangat pipih (terlalu cembung).

Gambar 7 Perbandingan pembentukan bayangan pada mata normal, mata miopi, dan
setelah memakai kacamata

11
Pada gambar di atas, untuk mata normal bayangan tepat jatuh
pada permukaan retina. Sedangkan pada mata miopi cahaya yang
berasal dari tempat jauh (diluar jangkauan penglihatan) oleh lensa
mata dibiaskan di depan retina sedang cahaya dari tempat dekat
(dalam jangkauan penglihatan) tepat dibiaskan di retina. Ketika
memakai kacamata, lensa negatif mengubah arah rambat cahaya
sejajar menjadi menyebar sehingga seolah-olah cahaya berasal dari
daerah jangkauan penglihatan. (Pedrotti, 1993, hal. 159)
Orang yang menderita rabun jauh atau miopi tidak mampu
melihat dengan jelas objek yang jauh tapi tetap mampu melihat
dengan jelas objek di titik dekatnya (pada jarak 25 cm). titik jauh mata
orang yang menderita rabun jauh berada pada jarak tertentu (mata
normal memiliki titik jauh tak berhingga).
Rabun jauh dapat diperbaiki dengan menggunakan lensa
divergen yang bersifat menyebarkan (memencarkan) sinar. Lensa
divergen atau lensa cekung atau lensa negatif dapat membantu lensa
mata agar dapat memfokuskan bayangan tepat di retina.

Gambar 8 Mata miopi sebelum dan sesudah memakai lensa divergen

Kekuatan atau daya lensa kacamata yang diperlukan sesuai dengan


rumus berikut :
100
PM =
PR
PM
Dengan = daya lensa untuk miopi dalam satuan dioptri dan

PR = punctum remotum (titik jauh mata) dalam satuan cm.

(Sudomo, 2015)

12
b. Rabun Dekat (hypermetropia)
Penderita rabun dekat tidak dapat melihat secara jelas objek
yang letaknya dekat dengan mata (hanya dapat melihat objek yang
letaknya jauh dari mata). Rabun dekat atau hipermetropi merupakan
cacat mata yang terjadi karena lensa mata tidak dapat mencembung
atau tidak dapat berakomodasi sebagaimana mestinya. Akibatnya,
berkas cahaya dari objek di jauh tak berhingga terfokus dan
membentuk bayangan di belakang retina (jadi benda tidak terlihat
jelas). (Pedrotti, 1993, hal. 160)
Letak titik dekat mata hipermotropi lebih jauh dibandingkan
letak titik dekat mata normal. Untuk menolong penderita rabun dekat
diperlukan kacamata berlensa cembung (+), yang bersifat
mengumpulkan berkas cahaya. Lensa ini berfungsi membentuk
bayangan maya di titik dekat mata dari objek yang berada pada jarak
baca normal.

Gambar 9 Mata hipermetropi sebelum dan sesudah memakai lensa cembung

Kekuatan lensa kacamata yang diperlukan agar mata hipermetropi


dapat melihat bayangan dengan jelas ditentukan dengan rumus berikut
:
100 100
PH =
S PP
PH
Dengan = kekuatan lensa kacamata untuk hipermetropi dalam

satuan dioptri, s = jarak benda di depan kacamata, dan PP = punctum


proximum (titik dekat mata) dalam satuan cm. (Sudomo, 2015)

c. Mata Silindris (astigmatisme)

13
Mata astigmatis menderita kelengkungan tidak merata di
permukaan elemen refacting, yang paling penting, kornea. Secara
umum jari-jari kelengkungan permukaan kornea di dua pesawat
meridional (yang mengandung sumbu optik) tidak sama. Asimetri
seperti mengarah ke kekuatan bias yang berbeda dan, akibatnya, untuk
fokus cahaya pada jarak yang berbeda dari kornea, sehingga, tentu
saja, di penglihatan kabur. (Pedrotti, 1993, hal. 162)
Astigmatisma disebabkan karena kornea mata tidak berbentuk
sferik (irisan bola), melainkan lebih melengkung pada satu bidang dari
pada bidang lainnya. Akibatnya benda yang berupa titik difokuskan
sebagai garis. Mata astigmatisma juga memfokuskan sinar-sinar pada
bidang vertikal lebih pendek dari sinar-sinar pada bidang horisontal.
Apabila penderita astigmatis melihat sekumpulan garis, maka garis-
garis vertikal akan tampak lebih jelas dan garis-garis horizontal akan
tampak kabur.
Cacat mata ini dapat diatasi dengan memakai kacamata
silindris, karena dengan menggunakan kacamata silindris berkas-
berkas sinar dari garis vertikal maupun horizontal akan difokuskan
pada satu titik di retina.

Gambar 10 Mata silindris sebelum dan sesudah memakai lensa cylinder

Dari gambar diatas bisa disimpulkan bahwa fungsi lensa


cylinder adalah untuk menyatukan bayangan agar menjadi satu
bayangan saja dan tepat jatuh diretina. Dimana sebelum

14
mengenakan lensa cylinder, bayangan jatuh dibeberapa tempat
sehingga membentuk obyek gambar yang dilihat terkesan menjadi
dobel atau pecah. (Sudomo, 2015)
Selain dari ketiga gangguan yang disebutkan di atas, ada juga
beberapa bentuk cacat mata yang lain yaitu :
a. Mata Tua (Presbiopi)
Mata tua atau presbiopi banyak dialami oleh orang-orang
lanjut usia. Cacat mata presbiopi (mata tua atau rabun dekat dan rabun
jauh diakibatkan karena melemahnya daya akomodasi) terjadi karena
bayangan jatuh di belakang retina pada saat melihat dekat dan
bayangan jatuh di depan retina pada saat melihat jauh, hal ini terjadi
karena daya akomodasi lensa mata lemah.
Agar dapat melihat jelas baik benda yang dekat maupun yang
jauh maka perlu dibantu dengan menggunakan gabungan lensa
cembung (konvergen) dan cekung (divergen). Salah satu lensa
digunakan untuk melihat jauh dan lensa lainnya untuk

membaca.Untuk menentukan ukuran lensa yang digunakan, maka titik


jauh maupun titik dekat mata harus diketahui. Selanjutnya dengan
menggunakan cara sebagaimana pada cacat miopi dan cacat
hipermetropi, ukuran lensa dapat diketahui. (Sudomo, 2015, hal. 4)
b. Buta Warna
Buta warna adalah suatu kondisi dimana seseorang sama sekali
tidak dapat membedakan warna. Yang dapat dilihat hanyalah warna
hitam, abu-abu, dan putih. Buta warna biasanya merupakan penyakit
turunan. Artinya jika seseorang buta warna, hampir pasti anaknya juga
buta warna.
c. Katarak
Katarak merupakan penyakit mata yang dicirikan dengan
adanya kabut pada lensa mata. Katarak adalah suatu penyakit mata di
mana lensa mata menjadi buram karena penebalan Lensa Mata dan
terjadi pada orang lanjut usia (lansia). Katarak penanganannya harus
dilakukan pembedahan atau operasi. Lensa mata normal transparan
dan mengandung banyak air, sehingga cahaya dapat menembusnya
dengan mudah. Walaupun sel-sel baru pada lensa akan selalu
terbentuk, banyak faktor yang dapat menyebabkan daerah di dalam

15
lensa menjadi buram, keras, dan pejal. Lensa yang tidak bening
tersebut tidak akan bisa meneruskan cahaya ke retina untuk diproses
dan dikirim melalui saraf optik ke otak.Pada banyak kasus,
penyebabnya tidak diketahui.
Penyakit katarak banyak terjadi di negara-negara tropis seperti
Indonesia. Hal ini berkaitan dengan faktor penyebab katarak, yakni
sinar ultraviolet yang berasal dari sinar matahari. Penyebab lainnya
adalah kekurangan gizi yang dapat mempercepat proses
berkembangnya penyakit katarak. (Sudomo, 2015)

B. Loop
Ukuran tampak (apparent size) sebuah obyek ditentukan atas dasar
ukuran bayangannya di retina; ukuran bayangan ini, jika mata tidak memakai
alat bantu penglihatan, bergantung pada sudut yang dibentuk obyek itu pada
mata. Bila seseorang ingin melihat sebuah obyek kecil dengan teliti, ia harus
mendekatkannya ke matanya, supaya sudut yang terbentuk dan bayangan di
retina sebesar mungkin. Karena mata tidak dapat memfokus dengan tajam
pada setiap objek yang letaknya lebih dekat dari titik-dekat, suatu obyek akan
membentuk sudut maksimum yang mungkin pada mata tanpa alat bantu di
titik tersebut (kita anggap titik dekat mata kita anggap terletak 25 cm dari
mata). Dengan menempatkan lensa konvergen di depan mata, daya
akomodasi bisa bertambah karenanya. Lensa yang dipakai untuk maksud
seperti ini disebut loop atau mikroskop sederhana. Loop ini membentuk
bayangan semu (virtual image) benda, dan yang terlihat oleh mata ialah
bayangan semu ini. (Zemansky :1994)

16
1. Sejarah Penemuan Loop
Lup (kaca pembesar) adalah sebuah lensa cembung yang memilki
titik focus yang dekat dengan lensanya. Benda yang akan diperbesar
terletak di dalam titik focus lup tersebut atau jarak benda ke lensa lup
tersebut lebih kecil dibandingkan jarak titik focus lup ke lensa lup.
Bayangan yang dihasilkan oleh lup bersifat tegak, nyata dan diperbesar.
Lup ditemukan oleh Roger Bacon (1214-1294 M), beliau dikenal sebagai
Doctor Mirabilis (guru yang sangat mengagumkan). Bacon menjalani
pendidikannya di universitas-universitas di Oxford dan Paris.
Lup pertama kali ditemukan oleh Roger Bacon. Saat menemukkan lup
beliau terinspirasi oleh Ibnu Al-Haitam, seorang fisikawan Islam dan
sering disebut dengan Bapak Optik. Selain menemukan lup, Bacon juga
banyak menghasilkan penemuan-penemuan diantaranya optik, alkimiu,
pembuatan mesiu, perhitungan posis-posisi dan ukuran benda-benda
angkasa, dan mengantisipasi penemuan miksoskop, teleskop, kaca mata,
pesawat terbang, hidrolika, kapal uap.

2. Perbesaran pada Loop


a. Pengamatan tanpa Loop
Sebuah benda dapat dilihat dengan jelas jika benda itu berada
di titik dekat mata atau di titik jauh mata. Baik itu untuk mata normal
maupun mata yang cacat. Ketika mata mengamati benda dekat, maka
benda yang akan dilihat harus tepat di titik dekat mata. Untuk
selanjutnya perhatikan gambar di bawah ini

h

Gambar di atas menunjukan
n sudut penglihatan dari seseorang
matamengamati suatu objek. Tinggi objek yang diamati
yang sedang
adalah h danGambar 11 Ilustrasi Penglihatan
sudut penglihatan Mata tanpa
. Benda yang Loop
diamati tepat di titik
dekat mata pengamat s = n. Berdasarkan gambar di atas besarnya
sudut pengamatan dapat ditulis seperti berikut :

17
h
tan = ............................. (1)
n

b. Pengamatan Menggunakan Loop


Objek yang sama diamati menggunakan Lup. Ketika
mengamati benda dengan menggunakan Lup, maka benda yang akan
diamati harus ditempatkan di ruang I lensa Lup. Bayangan yang
dibentuk oleh lensa Lup jatuh di ruangan 4.

mata h
s
h
d
Gambar di 12 menunjukkan sproses pengamatan bayangan
atasProses
Gambar Pengamatan
Bayangan dengan Loop
x=-s+d
oleh mata dengan menggunakan lup. Mata pengamat berada pada

jarak d dari lensa dan bayangan
yang terbentuk oleh lensa berada pada
jarak s dari lensa. Letak bayangan diukur dari mata pengamat berada
pada jarak x = -s + d dimana x disebut jarak akomodasi mata. Sudut
penglihatan ketika menggunakan lup
'
h
tan=
x
Dengan x merupakan jarak akomodasi mata dan besarnya adalah x =
=s + d. Persamaan di atas dapat diganti menjadi :
h'
tan= '
s + d ......................(2)

Persamaan perbesaran lup dapat dicari dengan cara membandingkan


persamaan 1 dan persamaan 2. Perbandingan antara kedua persamaan
di atas akan menghasilkan persamaan sebagai berikut :
m=
tan h' / x
m=
tan h /n
h'n
m=
h.x
h' n
m= . '
h s +d

18
h' s '
Karena =
h s

Maka perbesaran Lup secara umum adalah :

s ' n
m= . '
s s +d

Keterangan :
m = perbesaran lup
d = jarak mata ke lup
n = titik dekat mata (n=25 cm untuk mata normal)
x = jarak akomodasi mata
s'
s = perbesaran bayangan oleh lup

n
s' +d = perbesaran oleh lensa mata

3. Pembentukan Bayangan pada Loop


Pembentukan bayangan pada lup dibagi dua, yaitu pada mata
berakomodasi maksimum dan mata tak berakomodasi.

Gambar 13 Proses Pembentukan Bayangan Lup pada Mata Berakomodasi Maksimum

Gambar di atas, menunjukkan proses pembentukan bayangan lup


pada mata berakomodasi maksimum. Mata berakomodasi maksimum
adalah cara memandang objek pada titik dekatnya atau otot siliar bekerja
maksimum untuk menekan lensa agar berbentuk secembung-cembungnya.
Penggunaan lup dengan mata berakomodasi maksimum bayangan yang

19
dibentuk lup harus berada di titik dekat mata (PP). Sehingga benda yang
diamati harus diletakkan di antara titik focus dan lensa. Kelemahan
penggunaan lup dengan mata berakomodasi maksimum adalah mata cepat
lelah, sedangkan keuntungannya adalah perbesaran bayangan bertambah.
Sifat bayangan yang dihasilkan adalah maya, tegak dan diperbesar.

Gambar 14 Proses Pembentukan Bayangan pada Mata Tak Berakomodasi

Gambar diatas menunjukkan proses pembentukan bayangan pada


mata tak berakomodasi. Mata tak berakomodasi adalah cara memandang
objek pada titi jauhnya atau otot siliar tidak bekerja / rileks dan lensa mata
berbentuk sepipih-pipihnya. Penggunaan lup pada mata tak berakomodasi,
lup harus membentuk bayangan di jauh tak hingga. Sehingga benda yang
dilihat harus diletakkan di titik focus (So = f). Kelemahan dari
penggunaan lup dengan mata tak berakomodasai adalah perbesarannya
berkurang, sedangkan keuntungannya adalah mata tak cepat lelah. Sifat
bayangan yang dihasilkan adalah maya, tegak dan diperbesar.
Proses pembentukan bayangan pada lup, jika suatu benda yang
tingginya y berada pada titik fokus suatu lensa.

20
Gambar 15 Proses Pembentukan Bayangan pada Lup

Proses pembentukan bayangan pada lup dengan posisi benda


berada pada titik fokus dari lensa lup tersebut.

Gambar 16 Proses Pembentukan Bayangan pada Loop

21
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan apa yang telah diuraikan di atas, maka ada beberapa hal
yang dapat disimpulkan yaitu :
1. Mata terdiri dari 2 bagian yaitu bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar
mata terdiri dari : bulu mata, alis mata, kelopak mata, kelenjar air mata,
dan kelenjar meibom. Sedangkan bagian dalam mata terdiri dari :
konjungtiva, sklera, kornea, koroid, iris, pupil, lensa, retina, aqueous
humor, vitrus humor, bintik kuning, saraf optik, dan otot mata.
2. Proses pembentukan bayangan pada mata adalah cahaya yang masuk ke
mata kemudian dibiaskan oleh lensa mata, sehingga terbentuk bayangan
pada retina. Secara sederhana sebagai alat optik, mata membentuk
bayangan nyata, terbalik, dan diperkecil pada retina. Pemfokusan
dilakukan dengan mengubah jarak fokus lensanya. Benda akan nampak
jelas jika bayangan tepat jatuh pada permukaan retina. Mata akan dapat
melihat suatu benda bila menerima cahaya.
3. Jenis-jenis cacat yang terjadi pada mata manusia yaitu : rabun jauh
(myopia), rabun dekat (hyperopia) dan astigmatisme. Selain itu ada juga
mata tua (presbiopi), buta warna, dan katarak.
4. Pembentukan bayangan pada lup dibagi dua, yaitu pada mata
berakomodasi maksimum dan mata tak berakomodasi. Mata
berakomodasi maksimum adalah cara memandang objek pada titik
dekatnya atau otot siliar bekerja maksimum untuk menekan lensa agar
berbentuk secembung-cembungnya. Penggunaan lup dengan mata
berakomodasi maksimum bayangan yang dibentuk lup harus berada di
titik dekat mata (PP). Sedangkan, mata tak berakomodasi adalah cara
memandang objek pada titi jauhnya atau otot siliar tidak bekerja / rileks
dan lensa mata berbentuk sepipih-pipihnya. Penggunaan lup pada mata
tak berakomodasi, lup harus membentuk bayangan di jauh tak hingga.
5. Untuk menghitung perbesaran pada lup, digunakan persamaan matematis
berikut :

22
s ' n
m= . '
s s +d

B. Saran
Adapun saran yang ingin kami ajukan kepada para pembaca khususnya,
marilah kita bersama-sama mengkaji kembali mengenai ilmu-ilmu fisika
terutama mengenai optik karena ilmu ini sangat erat dengan kehidupan kita
dan menunjang aktifitas kita sehari-hari.

23
DAFTAR PUSTAKA

Ananta, Mifta. 2013. Lup. [https://www.scribd.com/doc/191081863/Lup (diakses


pada tanggal 4 Maret 2017)].
Bruce James dkk. 2005. Lecture Notes Oftamologi. Semarang : Erlangga.
Evelyn C. Pearce. 2012. Anatomi dan fisiologi untuk paramedic. Jakarta :
Gramedia.
Pedrotti, F. L. (1993). Introduction to Optics. USA: Prentice-Hall International,
Inc.
Salsabila, A. (2015, Juni 5). Pembentukan Bayangan pada Mata Manusia.
Retrieved Maret 7, 2017, from blogspot:
http://annisaa19.blogspot.co.id/2015/06/pembentukan-bayangan-pada-
mata-manusia.html
Sears Zemansky. 1994. Fisika untuk Universitas. Bandung : Binacipta.
Sudomo, D. J. (2015, Agustus 13). Optik Mata. Retrieved Maret 7, 2017, from
staff.uny.ac.id:http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/5%2520Alat
%2520Optik_Mata.pdf
Suwarna, Iwan P. 2010. Optik. Jakarta: Duta Grafika.
Syaifuddin. 2003. Anatomi Fisiologi untuk Mahasiswa Keperawatan. Jakarta:
Buku Kedokteran EGC.
Wati, W. (2015). Analisis Fisika Terbentuknya Bayangan pada Mata. Jurnal
Ilmiah Pendidikan Fisika Al-BiRuNi , 285-297.

24