Anda di halaman 1dari 37

PERBEDAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERTIF

TIPE JIGSAW DAN MODELPEMBELAJARAN LANGSUNG


( DIRECT INSTRUCTION )
TERHADAP HASIL BELAJAR MATEMATIKA
DI SMP DUTA BANGSA JAKARTA BARAT

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat mencapai gelar Sarjana Pendidikan
Jurusan Matematika

Disusun oleh :
SUMIATY
NPM : 20108300012

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA


SEKOLAH TINGGI DAN ILMU PENDIDIKAN (STKIP)
KUSUMA NEGARA
JAKARTA
2013
KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang senantiasa
telah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada penulis, sehingga penyusunan
proposal skripsi yang berjudul meningkatkan hasil belajar ini dapat terselesaikan.
Proposal skripsi yang berjudul Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif
Tipe Jigsaw Dan Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction) terhadap
hasil belajar matematika kelas VII pada Standar Kompetensi segitiga di SMP Duta
Bangsa Jakarta Barat ini ditulis guna memenuhi tugas sebagai syarat melakukan
penelitian dan penyusunan skripsi di STKIP KUSUMA NEGARA JAKARTA.
Pada kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan kepada penulis dalam
menyelesaikan proposal skripsi ini, terutama kepada :
1. Dr. H. Sugiharto, selaku Ketua STKIP Kusuma Negara Jakarta.
2. Dr. Hj. Sri Rahayu Pudjiastuti, M.Pd., sebagai Pembantu Ketua I STKIP
Kusuma Negara Jakarta.
3. Drs. Suharto, M.Pd., sebagai Ketua Jurusan Matematika STKIP Kusuma
Negara Jakarta.
4. Ir. Sutan Deni Johan, MM., sebagai pembimbing yang telah memberikan
motivasi dan membimbing dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
5. Seluruh dosen dan staf STKIP Kusuma Negara Jakarta yang telah banyak
memberikan dukungan dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.
6. Saudara dan temanku yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi
dalam menyelesaikan proposal skripsi ini.

Semoga bantuan yang telah diberikan kepada penulis mendapatkan imbalan


dari Allah SWT. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan proposal skripsi ini
masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi kesempurnaan penulis dimasa yang akan datang.

Akhirnya penulis berharap mudah-mudahan


ii
proposal skripsi ini dapat
memberikan banyak manfaat bagi penulis khususnya dan bagi dunia pendidikan
pada umumnya.
Jakarta, September 2013
Penulis

iii
DAFTAR ISI

ABSTRAK ...
LEMBAR PENGESAHN
KATA PENGANTAR ...................................................................................... i
DAFTAR ISI .................................................................................................... ii
DAFTAR TABEL
DAFTAR GAMBAR
DAFTAR LAMPIRAN
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ................................................................................. 2
C. Pembatasan Masalah ................................................................................. 3
D. Perumusan Masalah .................................................................................. 3
E. Manfaat Penelitian .................................................................................... 4

BAB II LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESA


PENELITIAN
A. Deskripi Teori ........................................................................................... 5
1. Hakikat Hasil Belajar .......................................................................... 5
2. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Jigsaw ......................................... 9
3. Hakikat Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction )............ 11
4. Materi / Matematika ........................................................................... 14
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar mengajar .............. 15
6. Materi yang terkait dengan penelitian ................................................ 17
B. Kerangka Berfikir ..................................................................................... 18
C. Hipotesis Tindakan ................................................................................... 18

BAB III METODOLOGI PENELITIAN


A. Tujuan Penelitian ................................................................................. 19
B. Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................. 19
C. Metode Penelitian ................................................................................ 19
D. Desain Penelitian ................................................................................. 20
E. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel ............................ 20
1. Populasi ........................................................................................... 20
2. Sampel Penelitian ............................................................................ 21
3. Teknik Pengambilan Sampel ........................................................... 21
F. Instrumen Penelitian ............................................................................ 21
1. Instrumen .........................................................................................
iv 21
2. Pengujian Instrumen ........................................................................ 21
G. Teknik Analisis Data ............................................................................ 24
H. Hipotesis Statistik ................................................................................ 29
I.

v
J. BAB I
K. PENDAHULUAN
L.
A. Latar Belakang
M. Berkembangnya suatu negara sangatlah ditentukan oleh kualitas
dan kuantitas dari komponen yang ada didalamnya yaitu masyarakat,
sebagai panentu masa depan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi. Sehimgga sebagai salah satu sarana dalam memajukan dan
mencerdaskan bangsa adalah diwujudkan dengan adanya pendidikan.
Peningkatan kualitas pendidikan melalui pembelajaran tidak terlepas dari
upaya memberdayakan potensi siswa sebagai peserta didik dan sebagai
bagian dari masyarakat belajar. Proses pembelajaran disekolah saat ini
sedapat mungkin dilaksanakan dan dikembangkan berdasarkan strategi
pembelajaran yang mengaktifkan siswa. Sejalan dengan upaya tersebut
perlu penerapan strategi yang efektif dan mengaktifkan siswa,sehingga
siswa dapat menemukan hubungan antara informasi informasi yang
mereka pelajari.
N. Merosotnya kualitas pendidikan banyak mendapatkan sorotan dari
masyarakat, para pendidik serta pemerintah, sehingga pendidikan
hendaknya melihat jauh kedepan dan memikirkan apa yang akan dihadapi
peserta didik. Salah satu masalah pokok dalam pembelajaran pada
pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya
serap peserta didik dalam menerima materi pelajaran yang berpengaruh
pada prestasi siswa. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi
pembelajaran yang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh
ranah dimensi prestasi didik itu sendiri,yaitu bagaimana sebenarnya
belajar itu. Dalam arti yang substansial,bahwa proses pembelajaran hingga
dewasa ini masih memberikan dominasi guru dan kurang memberi akses
bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dan
proses berpikirnya.
O. Dalam pembelajaran umum, khususnya matematika, sangatlah di
perlukan banyak strategi pembelajaran yang tepat dan dapat melibatkan
siswa seoptimal mungkin, baik secara intelektual maupun emosional.
Sehingga siswa atau peserta didik lebih memahami jelas dan tidak terkesan
abstrak dengan apa yang dipelajari didalam kelas, karena pengajaran
Matematika menekankan 1
pada keterampilan proses juga bahwa
Matematika merupakan ilmu pasti yang moderat dan strategis yang
terletak kehidupan sehari-hari. Melalui pelajaran Matematika siswa
diharapkan dapat mengembankan pola berpikir ilmiahnya yang mencakup
sikap jujur dan obyektif terhadap fakta serta sikap ingin tau yang selalu
berkembang, yang kemudian dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-
hari dalam masyarakat.
P. Jika melihat pada pelaksanaan pembelajaran di kelas, penggunaan
pembelajaran yang bervariasi masih sangat rendah dan guru cenderung
menggunakan metode ceramah dan mengurangi ketertarikan siswa pada
setiap kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan. Hal ini mungkin
disebabkan kurangnya penguasaan terhadap model-model pembelajaran
sangatlah di perlukan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru
serta penyerapan materi pembelajaran oleh siswa. Sedangkan
pembelajaran student centered membutuhkan proses belajar dan
pembelajaran yang kreatif, inovatif, dan kurikulum yang mendukung
pembelajaran, untuk mengembangkan pembelajar yang mandiri yang
mampu memberdayakan kemampuan berpikir kritis peserta didik.
Q. Oleh karenanya peneliti ingin mengetahui apakah perbedaan suatu
pembelajaran yang diajarkan dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe jigsaw dan model pembelajaran langsung ( Direct
Instruction ) yang dapat membantu siswa untuk mendapatkan hasil belajar
seperti yang diharapkan
R. Dari permasalahan diatas maka penulis mengdakan penelitian
dengan judul:
S. Perbedaan Model Pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan Model
Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction ) terhadap hasil belajar
matematika di SMP Duta Mas Jakarta Barat.
T. 3
B. Identifikasi Masalah
U. Berdasarkan uraian dari latar belakang masalah diatas maka
beberapa masalah yang dapat diidentifikasi sebagai berikut
1. Apakah penting mempelajari pelajaran matematika ?
2. Apakah semua murid kelas VII mengalami kesulitan dalam belajar
matematika ?
3. Apakah penggunaan model pembelajaran jigsaw akan berpengaruh pada
hasil belajar siswa ?
4. Apakah model Direct Instruction mempunyai pengaruh terhadap hasil
belajar matematika ?
5. Apakah model pembelajaran Jigsaw dan Direct instruction dapat
diterapkan di semua sekolah?
6. Apakah yang dimaksud dengan model pembelajaran Jigsaw dengan model
pembelajaran Direct Instruction ?
7. Apakah keunggulan atau kelemahan dari model pembelajaran Jigsaw dan
model pembelajaran Direct Instrution ?
8. Apakah perbedaan model pembelajaran Kooperatif tipe Jigsaw dan model
pembelajaran lansung, terhadap hasil belajar matematika di kelas VII SMP
Duta Mas Jakarta Barat ?
V.
C. Pembatasan Masalah.
W. Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka permasalahan dalam
penelitian ini hanya dibatasi pada perbedaan model pembelajaran dengan
menggunakan tipe Jigsaw dan model pembelajaran langsung (Direct
Instruction ) terhadap hasil belajar matematika di kelas VII SMP Duta Mas
Jakarta Barat.
X.
D. Perumusan Masalah
Y. Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah dalm
penelitian ini adalah tentang model pembelajaran kooperatif tipe Jigsaw
dengan model pembelajaran langsung ( Direct Instruction ) terhadap hasil
belajar matematika di kelas VII SMP Duta Mas Jakarta Barat
Z.
4
AA.
AB.
AC.
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi mahasiswa penelitian ini berguna untuk memenuhi salah satu syarat
mencapai gelar sarjana pendidikan dan meningkatkan kemampuan
mahasiswa dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi saat mengajar.
2. Hasil penelitian ini juga diharapkan dapat berguna bagi guru sebagai
bahan pertimbangan dalam menerapkan strategi pembelajaran untuk
menunjang keberhasilan proses belajar mengajar.
3. Bagi masyarakat pada umumnya hasil penelitian ini dapat digunakan
sebagai bahan penelitian lebih lanjut bagi yang ingin meneliti masalah
pendidikan
AD.
AE.
AF.
AG.
AH.
AI. BAB II
AJ.LANDASAN TEORI, KERANGKA BERFIKIR DAN HIPOTESA
PENELITIAN
AK.
AL. A. Deskripsi Teori
AM. 1. Hakikat Hasil Belajar Matematika
AN. Belajar merupakan komponen ilmu pendidikan yang
berkenaan dengan tujuan dan bahan acuan interaksi, baik yang bersifat
eksplisit maupun implisit (tersembunyi). Teori yang dikembangkan dalam
komponen ini meliputi antara lain teori tentang tujuan pendidikan,
organisasi kurikulum, isi kurikulum dan modul-modul pengembangan
kurikulum. Kegiatan atau tingkah laku belajar terdiri dari kegiatan psikis
dan fisis,yang saling bekerja sama secara terpadu dan komprehensif
integral. Sejalan dengan itu belajar dapat dipahami sebagai usaha untuk
berlatih supaya mendapatkan suatu kepandaian. Dalam implementasinya,
belajar adalah kegiatan individu memperoleh pengetahuan, perilaku,dan
ketrmpilan dengan cara mengolah bahan ajar. Para ahli psikologi atau
guru-gurul pada umumnya memandang belajar kelakuan yang berubah.
Pandangan ini memisahkan pengertian yang tegas antara proses belajar
dengan kegiatan yang semata-mata bersifat hafalan.1
AO. Hal-hal pokok dalam pengertian belajar adalah belajar itu
membawa perubahan tingkah laku karena pengalaman dan
latihan,perubahan itu pada pokoknya didapatkan kecakapan baru, dan
perubahan itu terjadi karena usaha yang disengaja. Aliran psikologi
kognitif menganggap bahwa belajar pada dasarnya merupakan peristiwa
mental, bukan behavioral yang bersifat jasmaniah.
AP. Menurut Gagne (1970), mengemukakan bahwa belajar adalah
perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia yang terjadi setelah
terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.

1 Dr.H.Syaiful Sagala, konsep dan makna pembelajaran.(Jakarta : Bumi


Aksara,2000)
Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan
mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga 6
perbuatannya
(performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi
tersebut ke waktu setelah ia mengalami situasi tadi. Gagne berkeyakinan
bahwa belajar dipengaruhi oleh faktor dalam diri dan luar dimana
keduanya saling berinteraksi.2
AQ. Sedangkan menurut pendapat Carl R. Rogers (ahli psikoterapi)
menerangkan bahwa praktek belajar menitik beratkan pada segi
pengajaran, bukan pada siswa yang belajar. Praktek tersebut ditandai oleh
peran guru yang dominan dan 5siswa hanya menghafal pelajaran.
AR. Jerome s. Brunner beranggapan bahwa belajar merupakan
pengembangan kategori-kategori dan pengembangan suatu sistem
pengkodean (coding). Berbagai kategori-kategori saling berkaitan
sedemikian rupa sehingga setiap individu mempunyai model yang unik
tentang alam. A;asan pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan
dan pembelajaran adalah
1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan wajar untuk belajar, siswa tidak
harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya.
2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya.
3. Pengorganisasian bahan pengajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide
baru, sebagai bagian yang bermakna bagi siswa.
4. Belajar yang bermakna bagi masyarakat modern berarti belajar tentang proses-
proses belajar.keterbukaan belajar mengalami sesuatu, bekerja sama dengan
melakukan pengubahan diri secara terus-menerus.
5. Belajar yang optimal akan terjadi bila siswa berpartisipasi secara bertanggung
jawab dalam proses belajar.
6. Belajar mengalami (experiential learning) dapat terjadi bila siswa
mengevaluasi dirinya sendiri.

2 Ibid,h.17
7. Belajar mengalami menuntut keterlibatan siswa secara penuh dan sungguh-
sungguh3.
AS. perubahan tingkah laku bukan dilihat dari perubahan sifat-sifat
fisik misalnya tinggi dan berat badan, kekuatan fisik misalkan7 untuk
mengangkat. Yang terjadi sebagai satu perubahan fisiolagis dalam besar
otot atau efesiensi dari proses-proses sirkulasi dan respirasi. Perubahan ini
tidak termasuk belajar, perilaku berbicara, menulis, bergerak, dan lainnya
memberi kesempatan kepada manusia untuk mempelajari perilaku-
perilaku seperti berpikir, merasa, mengingat, memecahkan masalah,
berbuat kreatif dan lainnya, perubahan ini termasuk hasil belajar.
Sedangkan istilah pengalaman membatasi macam-macam perubahan
perilaku yang dapat dianggap mewakili belajar.
AT.Proses lain yang menghasilkan perubahan perilaku, yang tidak termasuk
belajar adalah kematangan, yaitu perubahan perilaku disebabkan oleh
pertumbuhan dan perkembangan diri dari organisma-organisma secara
fisiologis. Pemikiran belajar mengacu pada proses :
1. Belajar tidak hanya sekedar menghapal, siswa harus mengkontruksikan
pengetahuan dibenak mereka sendiri.
2. Anak belajar dan mengalami, anak mencatat sendiri pola-pola bermakna dari
pengetahuan baru, dan bukan diberi begitu saja oleh guru.
3. Para ahli sepakat bahwa pengetahuan yang dimiliki seseorang itu terorganisasi
dan mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang suatu persoalan
(subject matter)
4. Pengetahuan tidak bisa dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi
yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan.
5. Manusia mempunyai tingkatan yang berbeda dalam menyikapi situasi baru.
6. Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah menemukan sesuatu yang
berguna bagi dirinya dan bergelut dengan ide-ide.

3 Ibid,h.42
7. Proses belajar dapat mengubah struktur otak, perubahan strktur otak itu
berjalan terus seiring dengan perkembangan organisasi pengetahuan dan
keterampilan seseorang.
AU. Belajar merupakan proses terbentuknya tingkah laku baru yang
8 yang
disebabkan individu merespon lingkungannya. Melalui pengalaman pribadi
tidak termasuk kematangan. Pertumbuhan atau instink. Belajar sebagai proses
akan terarah kepada tercapainya tujuan (goal oriented) dari pihak siswa maupun
dari pihak guru. Tujuan itu dapat diidentifikasi dan bahkan dapat diarahkan sesuai
dengan maksud pendidikan.4
AV.Secara harfiah pembelajaran berarti proses, cara, perbuatan mempelajari,
dan perbuatan menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran
merupakan suatu proses atau upaya menciptakan kondisi belajar dalam
mengembangkan kemampuan minat dan bakat siswa secara optimal,
sehingga kompetensi dan tujuan belajar dapat tercapai.
AW. Kompetensi dan tujuan pembelajaran akan tercapai secara
optimal apabila pemilihan dan pendekatan metode, strategi, dan model-
model pembelajaran tepat dan disesuaikan dengan materi. Tingkat
kemampuan siswa, karakteristik siswa. Kemampuan sarana dan prasarana
dan kemampuan guru dalam menerapkan secara tepat guna pendekatan,
metode, strategi, dan model-model pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran guru dapat selektif dalam menerapkan, memilih atau
menggabungkan beberapa pendekatan, metode, strategi, dan model-model
pembelajaran.5
AX. Pembelajaran merupakan suatu proses terjadinya interaksi belajar
dan mengajar dalam suatu kondisi tertentu yang melibatkan beberapa
unsur, baik unsur ekstrinsik maupun intrinsik yang melekat pada diri siswa
dan guru termasuk lingkungan. Penjelasan ini sejalan dengan undang-

4 Ibid,h.39

5 Prof.Dr. La Iru S.H,Si dan La Ode Safiun S.Pd, M.Pd. Analisis


penerapan pendekatan,metode,strategi dan model-model
pembelajaran. DIY : Multi presindo
undang No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang
menyebutkan bahwa pembelajaran adalah proses interksi peserta didik dan
pendidik dan sumber belajar pada satu lingkungan belajar6.
AY.Kegiatan pembelajaran adalah kegiatan yang dapat menciptakan kondisi
yang memungkinkan terjadinya belajar pada peserta didik dalam suatu
kegiatan dapat perilaku pada diri peserta didik sebagai hasil dari suatu
pengalaman.7 9
AZ. Istilah matematika dari bahasa yunani mathein yang artinya
mempelajari. Matematika timbul karena adanya kebutuhan-kebutuhan
manusia yang berhubungan dengan ide, proses, penalaran. Matematika
tidak hanya berhubungan dengan secara operasinya, melainkan juga unsur
ruang sebagai suatu istilah yang disebut ilmu kuantitas. Lebih lanjut Jujun
S. Suriasumantri berpendapat matematika memungkinkan ilmu yang
mengalami perkembangan dari tahap kualitatif ketahap kuantitatif.8
BA. Sebagai pendidik atau pengajar senantiasa ingin mengetahui
apakah tujuan yang diharapkan sudah tercapai dan sejauh manakah
pelajaran atau materi yang diberikan kepada siswa dapat dipahami dengan
melihat dari hasil yang didapatkan oleh para siswa.
BB. Menurut Dimyati dan Mudjiono (1999:250), hasil belajar
merupakan hal yang dapat dipandang dari dua sisi yaitu sisi siswa dan sisi
guru. Dari sisi siswa, hasil belajar merupakan perkembangan mental yang
lebih baik bila dibandingkan pada saat sebelum belajar. Tingkat
perkembangan mental tersebut terwujud pada jenis-jenis ranah kognitif,
afektif, dan psikomotor. Sedangkan dari sisi guru, hasil belajar merupakan
saat terselesainya bahan pelajaran.

6 Undang-undang 2003 nomor 20 tahun 2003 tentang sistim


pendidikan nasional

7 Dimyati dan Mujiono Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta : Rineka


Cipta,2006). H.135

8 Jujun S. Suria Sumamtri. Filsafat Ilmu. (Jakarta : Sinar Harapan.1984).


H.143
BC. Menurut Hamalik (2006 : 30), hasil belajar adalah bila
seseorang telah belajar akan terjadi perubahan tingkah laku pada orang
tersebut, misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, dan dari tidak mengerti
menjadi mengerti. Berdasarkan teori Taksonomi Bloom hasil belajar dalam
rangka studi dicapai melalui tiga kategori ranah, dua diantaranya adalah
kognitif, dan afektif. Perinciannya adalah sebagai berikut :
1. Ranah kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual yang terdiri dari 6
aspek yaitu pengetahuan, pemahaman, penerapan, analisis, sintesis, dan
penilaian.
2. Ranah afektif berkenaan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif meliputi 5
jenjang kemampuan yaitu menerima, menjawab atau reaksi, menilai,
organisasi dan karakterisasi dengan suatu nilai atau kompleks nilai9. 10
BD. Penilaian proses pembelajaran dilakukan secara terus menerus
pada tiap pertemuan
BE. Dengan mengacu pada semua indikator yang telah ditetapkan pada
setiap kompetensi dasar (KD). Dari hasil penilaian beberapa pertemuan
pada pembelajaran kompetensi dasar (KD) akhirnya akan diperoleh suatu
gambaran pencapaian kompetensi tiap peserta didik yang mencakup semua
indikatornya.
BF.
BG. 2. Hakikat Model Pembelajaran Tipe Jigsaw
BH. Arihi,L.S (2009): pembelajaran kooperatif merupakan model
pembelajaran dalam kelompok kelompok kecil.Pembelajaran kooperatif
memiliki dua aspek Maning ((1992) mengklasifikasikan kedua aspek
tersebut yaitu :
1. Dimungkinkannya lingkungan yang kooperatif yang mendidik dan
memacu siswa untuk bersaing satu sama lain dan bukan hanya sekedar
bekerja sama

9 Juprimalino. Blogspot.com/2012.02/definisi pengertian hasil


belajar,html.12.05
2. Mengidentifikasikan bahwa belajar kooperatif bila diimplikasikan secara
umum mempunyai potensi memberikan kontribusi secara
umum,kontribusi positif kepada kemampun akademik,keterampilan
social ,dan kepercayaan diri.
BI. Roger & David ( Lie,2007 ) mengatakan tidak semua kerja kelompok bisa
dianggap cooperative learning.Untuk mencampai hasil yang maksimal,
lima unsur model pembelajaran gotong royong harus diterapkan yaitu,
saling ketergantungan positif, tanggung jawab perseorangan, tatap muka,
komunikasi antar anggota, dan evaluasi proses kelompok.10
BJ. Jigsaw adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang terdiri
dari tim tim heterogen yang beranggotakan 4-5 orang siswa, materi
pelajaran yang diberikan pada siswa dalam bentuk teks setiap anggota
bertanggung jawab untuk mempelajari bagian tersebut kepada anggota tim
lain. Jigsaw didesain untuk meningkatkan rasa tanggung jawab siswa
terhadap pembelajarnnya sendiri dan juga pembelajaran orang lain. Siswa
tidak hanya mempelajari materi yang
BK. diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan
menjabarkan materinya tersebut kepada anggota kelompoknya yang lain.11
BL. Anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama
bertemu untuk berdiskusi (antar ahli) saling membantu satu sama lain
tentang topik pelajaran yang ditugaskan kepada mereka, kemudian siswa
itu kembali pada kelompoknya masing-masing (kelompok asal) untuk
menjelaskan kepada anggota kelompoknya yang lain tentang apa yang
telah mereka pelajari sebelumnya 11

BM. (dalam pertemuan ahli).

10 Prof.Dr. La Iru S.H,Si dan La Ode Safiun S.Pd, M.Pd. Analisis penerapan
pendekatan,metode,strategi dan model-model pembelajaran. DIY : Multi
presindo h.49

11 Prof.Dr.La Iru,S.H.,M.Si.Analisis Penerapan Pendekatan Metode


Strategi DAN Model-Model Pembelajaran h.61
BN. Ilustrasi pembelajaran kelompok dalam metode jigsaw yang
dimodifikasi dalam bentuk bagan Nur (2002).
BO. Langkah-langkah Pembelajaran Jigsaw sebagai berikut.
1. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5 sampai 6
orang).
2. Materi pembelajaran diberikan kepada siswa dalam bentuk teks yang telah
dibagi-bagi menjadi beberapa subbab.
3. Setiap anggota kelompok membaca subbab yang ditugaskan dan bertanggung
jawab untuk mempelajarinya. Misalnya, jika materi yang disampaikan
mengenai sistem ekskresi. Maka seorang siswa dari satu kelompok
mempelajari tentang ginjal, siswa yang lain dari kelompok satunya
mempelajari tentang paru-paru, begitu pun siswa lainnya mempelajari kulit,
dan lainnya lagi mempelajari hati.
4. Anggota kelompok lain yang telah mempelajari subbab yang sama bertemu
dalam kelompok-kelompok ahli untuk mendiskusikannya.
5. Setiap anggota kelompok ahli setelah kembali kekelompoknya bertugas
mengajar teman-temannya.
6. Pada pertemuan dan diskusi kelompok asal, siswa-siwa dikenai tagihan berupa
kuis individu.
BP.Keuntungan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah siswa diajarkan
bagaimana bekerja sama dalam satu kelompok, selain itu siswa diajarkan agar
bisa menjelaskan/menerangkan apa yang dia ketahui pada saat diskusi
penyelesaian soal yang diberikan pada kelompok ahli kepada teman kelompok
asal serta siswa yang lemah dapat dibantu dalam menyelesaikan masalah.
BQ. Kelemahan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah ramainya
kondisi kelas. Keadaan kondisi kelas yang ramai, sehingga membuat siswa
yang bingung dan pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah pembelajaran
yang baru. Pada pembelajaran tipe jigsaw ada ketergantungan siswa pada
temannya dan siswa yang lemah memungkinkan menggantungkan pada siswa
yang pandai.
BR.
3. Hakekat Model Pembelajaran Langsung ( Direct Instruction )
BS. Pembelajaran langsung merupakan terjemahan dari Direct Instruction.
Pembelajaran langsung digunakan olehpara peneliti untuk merujuk pada pola-pola
pembelajaran di mana guru banyak menjelaskan konsep atau keterampilan kepada
sejumlah kelompok siswa.
BT. Roy Killen (1998), Direct Instruction merujuk pada teknik pembelajaran
ekspositori (pemindahan pengetahuan dari guru kepada murid secara
langsung,misalanya melalui ceramah,demonstrasi,dan tanya jawab) yang
melibatkan seluruh kelas.
BU. Tujuan utama pembelajaran langsung adalah untuk memaksimalkan
penggunaan waktu belajar siswa. Beberapa temuan dalam teori perilaku adalah
pencapaian siswa yang dihubungkan dengan waktu yang digunakan oleh siswa
dalam belajar dan kecepatan siswa untuk berhasil dlam mengerjakan tugas sangat
positif. Dengan demikian model pembelajaran langsung, dirancang untuk
menciptakan lingkungan belajar struktur dan berorientasi pada pencapaian
akademi.12
BV. Sintaks model pembelajaran langsung menurut Bruce dan Weil (1996) yaitu:
BW.
BX.
BY.
BZ.
CA.
CB. CC. Tahapan CD. Uraian
N

CE. CF.Orientasi CG. 1.Kegiatan pendahuluan untuk


1 mengetahui pengetahuan yang
relavan dengan pengetahuan yang telah
dimiliki siswa
CH. 2.Mendiskusikan atau

12 Ibid,h.155
menginformasikan tujuan
pembelajaran.
CI. 3.Memberikan penjelasan atau arahan
mengenai kgiatan yang akan dilakukan
CJ. 4.menginformasikan materi /konsep
yang akan di gunakan dan kegiatan
yang akan dilakukan selama
pembelajaran
CK. 5.menginformasikan kerangka
pelajaran
CL. CM. Presentasi CN. 1.Penyajian materi dalam
2 langkah-langkah pendek
sehingga materi dapat dikuasai
siswa dalam waktu relatif
singkat
CO. 2.Memberi contoh-contoh
konsep
CP.3.Pemodelan atau peragaan
keterampilan dengan cara
demonstrasi atau dengan
penjelasan langkah-langkah
kerja
CQ. 4.Menjelaskan ulang hal-
hal yang sulit
CR. CS.Tahap latihan CT.Guru memandu siswa untuk melakukan
3 terstruktur latihan-latihan.Memberikan umpan
balik respon siswa dan memberikan
penguatan terhadap respon siswa yang
benar dan yang salah
CU. CV. Tahap CW. Guru memberikan kesempatan
4 latihan terbimbing pada siswa untuk berlatih konsep atau
keterampilan
CX. CY. Tahap CZ. Melakukan kegiatan latihan
5 latihan mandiri secara mandiri
DA.
DB.
DC. Sintaks pembelajaran langsung yang dikemukakan savin(2003)
yaitu:
DD.
DE. DF.Tahapan DG. Uraian
N

DH. DI. Menginformasikan DJ. Guru menginformasikan hal-hal yang


1 tujuan dan orientasi harus di pelajari dan kinerja siswa yang
balajar diharapkan.
DK. DL. Mereviu DM. Guru mengajukan pertanyaan
2 pengetahuan dan untuk mengungkapkan pengetahuan
keterampilan dan keterampilan yang telah dikuasai
prasyarat oleh siswa
DN. DO. Menyampai DP.Guru menyampaikan materi,dan
3 kan materi menyajikan informasi
pelajaran
DQ. DR. Melaksanak DS. Guru mengajukan pertanyaan-
4 an bimbingan pertanyaan untuk menilai tingkat
pemahaman siswa dan mengoreksi
kesalahan konsep
DT. DU. Memberi DV. Guru memberi kesempatan
5 latihan kepada siswa melatih keterampilannya
atau menggunakan informasi baru
secara individu atau kelompok
DW. DX. Menilai DY. Guru memberikan reviu
6 kinerja siswa dan terhadap hal-hal yang telah dilakukan
memberikan siswa.
umpan balik
DZ. EA. Memberika EB. Guru dapat memberikan tugas-
7 n latihan mandiri tugas mandiri kepada siswa untuk
meningkatkan pemahamannya terhadap
materi yang telah mereka pelajari
EC.
ED. Kelebiahn model pembelajaran langsung yaitu:
1. Guru dapat mengendalikan isi materi dan urutan informasi yang diterima
oleh siswa sehingga dapat mempertahankan fokus mengenai apa yang
harus dicapai oleh siswa
2. Dapat digunakan untuk memecahkan point-point penting atau kesuliatan
yang diahapi siswa
3. Dapat menjadi cara yang efektif untuk mengajarkan informasi dan
pengatahuan faktual yang sangat terstruktur
4. Merupakan satu cara efektif untuk mengajarkan keterampilan yang
eksplisit kepada siswa yang kemampuannya masih rendah
5. Dapat menjadi cara untuk menyampaikan informasi yang banyak dalm
waktu yang singkat dan dapat diakses secara setara oleh seluruh siswa
6. Merupakan cara yang bermanfaat untuk menginformasikan kepada siswa
yang tidak suka membaca atau yang tidak memiliki keterampilan dalam
menafsirkan informasi
7. Dapat diguanakn untuk membangun model pembelajaran tertentu
8. Menekankan kegiatan mendengar dan mengamati
9. Bergantung pada kemampuan refleksi guru dan dapat terus-menerus
mengevaluasi dan memperbaikinya
EE.
EF. Keterbatasan model pembelajaran langsung yaitu:
1. Bersandar pada kemampuan siswa untuk mengasimilasikan informasi
melaui kegiatan mendengar,mengamati,dan mencatat.
2. Sulit untuk mengatasi perbedaan dalam hal kemampuan,pengetahuan
awal,tingkat pembelajaran dan pemahaman,gaya belajar,atau ketertarikan
siswa.
3. Soswa memiliki sedikit kesempatan untuk terlibat secara aktif,sulit
mengembangkan keterampilan sosial,dan interpersonal mereka.
4. Guru memainkan peran pusat,kesuksesan startegi tergantung pada image
guru.
5. Memberi siswa cara pandang guru mengenai materi disusun dan disintesis
tidak selalu dapat dipahami oleh siswa.
6. Melibatkan banyak komunikasi satu arah.
EG.
EH.
EI. 4. Materi yang terkait dengan penelitian
EJ. Materi SMP Duta Mas kelas VII semester ganjil yang digunakan
untuk penelitian adalah materi bangun datar pada kompetensi dasar
menghitung keliling dan luas segitiga Contoh :
1. Pak joko mempunyai kebun berbentuk segitiga dengan panjang tiap sisi
tanah 8m,12m,14m. Pak joko ingin memberi rumput yang mengelilingi
kebunnya. Berapakah keliling kebun pak joko......?
EK. Pembahasan : K = 8 + 12 + 14 = 34 m
2. Keliling segitiga sama sisi yang panjang sisinya 9,6 cm adalah..?
EL.Pembahasan : K = 9,6 + 9,6 + 9,6 = 28,8 cm
3. Diketahui luas segitiga 385 m. Jika alas suatu segitiga 22 m, maka
tingginya adalah..?
EM. Pembahasan:
EN. Diket L = 385 m
EO. a = 22 m
EP. Ditanya t=?
1
EQ. Jawab L= *a*t
2
1
ER. 385 = * 22 * t
2
ES. 385 = 11 t
ET. 35 = t
EU.
EV. B. Ke rangka Berfikir
EW. Penelitian ini adalah penelitian eksperimen yang khusus
dirancang guna mengetahui perbedaan model pembelajaran dengan
menggunakan Jigsaw dan Direct Instruction dalam pelajaran matematika
terhadap hasil belajar siswa yang dicapai. Kiranya dengan pengunaan
model ini akan meningkatkan pola berpikir siswa dalam kegiatan belajar
mengajar didalam kelas dan berdampak pada peningkatan hasil belajar
siswa. Oleh karena itu,diperlukan suatu penyelenggaraan proses
pembelajaran yang dapat menimbulkan minat dan motivasi siswa dalam
mengikuti pelajaran. Salah satunya adalah dengan melalui penerapan dan
pemberdayaan berpikir melalui pertanyaan (BPMP) pada siswa, karena
dengan menerapkan ini pembelajaran ini siswa akan termotivasi untuk
dapat menemukan generalisasi dan memahami benar materi yang
disampaikan oleh guru. Sehingga akan membangkitkan rasa ingin tahu
untuk menemukan sendiri jawaban dari suatu soal yang diberikan. Dengan
demikian siswa akan merasa senang, termotivasi, tertarik dan bersikap
positif terhadap pembelajaran matematika. Akhirnya minat siswa untuk
mengetahui lebih dalam tentang matematika akan semakin besar dan
19
diharapkan hasil belajar akan meningkat.
EX. Berdasarkan landasan teori diatas dapat ditarik kesimpulan
bahwa dengan model pembelajaran tipe Jigsaw dan model pembelajaran
Direct Instruction pada siswa dapat mempengaruhi hasil belajar pada
pokok bahasan segitiga pada SMP Duta Mas kelas VII
EY.
EZ. C. Hipotesis Tindakan
FA. Berdasarkan kerangka berpikir diatas, maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah adanya pengaruh positif pada penerapan model pembelajaran
dengan tipe Jigsaw dan Direct Instruction akan mempengaruhi hasil belajar pada
materi segitiga, sehingga aktivitas siswa kelas VII SMP Duta Mas tahun ajaran
2013-2014 serta kinerja guru dapat ditingkatkan.
FB.
FC. BAB III
FD. METODOLOGI PENELITIAN
FE.
A. Tujuan Penelitian
FF. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah perbedaan
hasil belajar yang menggunakan metode pendekatan ekspositori dan
menggunakan metode heuristik. Sehingga dapat mencapai ketuntasan belajar
siswa dan mengetahui ada tidaknya pengaruh yang dapat meningkatkan
keterampilan siswa pada poses pembelajaran terhadap perkembangan siswa.
FG.
B. Tempat dan Waktu Penelitian
1. Tempat Penelitian
FH. Penelitian ini dilakukan di SMP Duta Mas yang beralamat di
Kecamatan Cikupa Kabupaten Tangerang.
2. Waktu Penelitian
FI.Penelitian ini dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2013 - 2014.
FJ.
C. Metode Penelitian
FK. Metode yang digunakan peneliti dalam penelitian adalah metode
kualifikasi dengan quasi eksperimen. Quasi eksperimen merupakan eksperimen
yang memiliki perlakuan (treatments), pengukuran-pengukuran dampak (outcome
measure), dan unit-unit eksperimen (experimental unit) namun tidak
menggunakan penempatan secara acak. Data hasil eksperimen dikumpulkan dan
dianalisis dengan menggunakan teknik statistik. Tujuan dari eksperimen ini adalah
untuk mengetahui apakah Perbedaan Metode Pembelajaran Dengan Menggunakan
model Jigsaw dengan model Direct Instruction Terhadap Hasil Belajar Siswa
Kelas VII Pada Pokok Bahasan segitiga di SMP Duta Mas yang dilakukan
dengan cara memberikan tes.
FL.
FM.
FN.

20
21

D. Desain Penelitian
FO. Adapun rancangan dan desain penelitian tersebut dinyatakan
sebagai berikut :
FP.Kelas FQ. Perlakuan FR. Hasil Tes
FS. Rx FT. M FU. X
FV.Ry FW. P FX. Y
FY. Keterangan
FZ. Rx : Kelas yang dipilih secara random (acak)
GA. Ry : Kelas pembanding yang dipilih secara random (acak)
GB. M : Kelas yang diajarkan dengan proses pembelajaran seperti biasa
GC. p : Kelas yang diajarkan dengan menerapkan PBMP pada siswa
GD. X : Hasil belajar dengan proses pembelajaran seperti biasa
GE. Y : Hasil belajar dengan menerapkan PBMP pada siswa
GF.
E. Populasi, Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel
1. Populasi
GG. Populasi merupakan sekelompok objek penelitian yang dijadikan
sebagai somber data dalam suatu penelitian balk secara kuantitatif maupun
kualitallf, daripada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang
lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat .-- sifatnya.
GH. Populasi adalah somber data atau disebut juga wilayall generallsasi
yang terdiri atas objek dan subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik
tertentu yang diterapkan oleh pendidik untuk inejnr)elqlarl dan keniudiai-, ditarik
kesimpulan.
a. Populasi Target
GI. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas VII SMP Duta
Mas tahun ajaran 2013- 2014, yaitu sebanyak 60 siswa, yang terbagi dalam 2
kelas yaitu VII (2 kelas)
b. Populasi Terjangkau
GJ. Populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas VII SMP Duta Mas
yang terdaftar pada tahun ajaran 2013-2014.
22

2. Sampel penelitian
GK. Sampel adalah sebagian dari populasi yang diteliti atau sebagian
dari jumlah objek dalam suatu penelitian. Pada penelitian ini diambil kelas VII A
dengan 30 siswa sebagai kelas kontrol dan kelas VII B dengan 30 siswa sebagai
kelas eksperimen. Jadi jumlah respon sampel dalam penelitian ini adalah 60 siswa.
3. Teknik Pengambilan Sampel
GL. Dalam penelitian ini menggunakan pengambilan sampel dengan
Random Cluster.
GM.
F. Instrumen Penelitian
1. Instrumen
GN. Untuk mendapatkan data dalam penelitian ini digunakan
instrument tes objektif. Tes objektif adalah tes yang pemeriksaanya dapat
dilakukan secara objektif.13 Tes ini bertujuan untuk mendapatkan hasil belajar
siswa dengan tipe soal pilihan ganda yang terdiri dari 30 butir soal dengan empat
pilihan jawaban yang tersedia. Skor untuk setiap soal adalah 1 untuk jawaban
yang benar dan 0 untuk jawaban yang salah. Untuk variabel hasil belajar akan
dilakukan validitas dan reliabilitas.
GO.
2. Pengujian Instrumen
a. Validitas Soal
GP. Validitas dalam instrument ini adalah validitas (content validity)
yaitu tes sebuah pengukuran tujuan khusus tertentu yang sejajar dengan materi
atau isi pelajaran yang diberikan mencari validitas instrument variabel X dan Y
dalam bentuk (tes objektif) dengan menggunakan rumus kolerasi poin biserial 14
sebagai berikut :
GQ.

13 Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Dasar dasar Evaluasi Pendidikan


(Jakarta Bumi Aksara), h 164

14 Ibid. h 79
GR. Y pbi =
MpMt
St p
q
23

GS.
GT.
GU. Keterangan
GV. Ypbi: Koefisien kolerasi point biserial
GW. Mp : Rata rata skor total yang menjawab benar pada butir
soal
GX. Mt : Rata rata skor total
GY. St : Standar deviasi skor total
GZ. p : Proporsi siswa yang menjawab benar pada butir
soal
HA. q : proporsi siswa yang menjawab salah pada setup
butir soal
HB. Kriteria : jika Ypbi > y table, maka soal valid
HC.
b. Relibilitas Soal
HD. Relibilitas yang berarti sejauh mana hasil pengukuran dapat
dipercaya yang berhubungan dengan koefisien tes. Instrument yang baik adalah
instrument yang dapat memberikan data yang sesuai dengan kenyataan. Karena
instrument yang digunakan dalam bentuk tes, maka koefisien reliabilitas dapat
dihitung dengan menggunakan rumus Kader dan Richardson (KR-20)15 sebagai
berikut :
HE.

HF. n
( n1
r 11 = )( SS pq )
HG.
HH. Keterangan :
HI. r11: Relibilitas tes secara keseluruhan
HJ. n: Banyaknya item

15 Ibid. h 100
HK. p: Proporsi subjek yang menjawab item benar
HL. q: Proporsi subjek yang menjawab item salah
HM. Ypq : Jumlah hasil perkalian antara p dan q
HN. S: Standar deviasi dari tes (standar deviasi adalah akar varians, jadi
S2 disebut varians)
HO.
24
HP. Klasifikasi koefisien reliabilitas (R) adalah sebagai berikut :
HQ. r11 = 0,800 1,00 : sangat tinggi
HR. r11 = 0,600 0,800 : tinggi
HS. r11 = 0,400 0,600 : cukup
HT. r11 = 0,200 0,400 : rendah
HU. r11 = 0,000 0,200 : sangat rendah
HV.
c. Taraf Kesukaran
HW. Bilangan yang menunjukkan sukar dan mudahnya sesuatu soal
disebut Indeks kesukaran (difficulty index)16. Besamva indeks kesukaran antara
0,00 sampai dengan 1,00. Indeks kesukaran ini menunjukan taraf kesukaran soal.
Soal dengan indeks kesukaran :
HX. 0,00 = Soal itu terlalu sukar
HY. 1,00 = Soal itu terlalu mudah
HZ. Dalam indeks kesukaran ini diberi symbol P (proporsi). Dengan
demikian maka soal dengan P = 0,70 lebih mudah jika dibandingkan dengan P =
0,20. Sebaliknya soal dengan P = 0,30 lebih sukar daripada soal dengan P = 80.
IA. Rumus mencari P :17
B
IB. P=
JS
IC.
ID. Dimana:
IE. P= indeks kesukaran

16 Ibid h 207

17 Ibid. h 208
IF. B = banyaknya siswa yang menjawab jawab soal itu dengan
benar
IG. JS = jumlah seluruh siswa peserta tes
IH.
d. Daya Pembeda
II. Daya pembeda soal adalah kemampuan semua soal untuk
membedakan antara siswa yang pandai (berkemampuan tinggi) dengan siswa yang
bodoh (berkemampuan rendah).18
IJ. Angka yang menunjukan besarnya daya pembeda disebut indeks
diskriminasi disingkat D. Ada 3 (tiga) titik pada daya pembeda yaitu :
IK. -1,00 0,00 1,00 25
IL. Daya pembeda negative daya pembeda rendah daya pembeda
tinggi
IM. Cara menentukan daya pembeda dengan cara membagi kelompok
menjadi 2 kelompok yaitu:
1) Kelompok atas (upper group)
2) Kelompok bawah (lower group)
IN. Jika seluruh kelompok diatas dapat menjawab soal tersebut dengan benar,
sedangkan kelompok bawah menjawab dengan salah, maka soal tersebut
mempunya D paling besar, yaitu 1,00. Sebaliknya jika semua kelompok
atas menjawab dengan salah, tapi semua kelompok bawah menjawab
dengan benar, maka nilai D yaitu 1,00. Tetapi sebaliknya jika siswa
kelompok atas dan siswa kelompok bawah sama-sama menjawab salah,
maka soal tersebut mempunyai nilai D yaitu 0,00. Karena tidak
mernpunyai daya pembeda sama sekali.
IO. Rumus mencari D :
IP.
Ba Bb
IQ. D= =PaPb
Ja Jb
IR.

18 IIbid. h 211
IS. Dimana :
IT. J = jumlah peserta tes
IU. Ja = banyaknya peserta kelompok atas
IV. Ja = banyaknya peserta kelompok bawah
IW. Bb = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab
soal itu dengan benar
IX. Jb = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal
itu dengan benar
IY. Pa = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar
IZ. Pb = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar
JA.
G. Teknik Analisis Data
26
JB. Data yang terkumpul dari hasil tes akan disusun dan diolah untuk
mendapatkan perbedaan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran
tematik dan hasil belajar siswa yang diajarkan dengan pembelajaran ekspositori.
JC. Data disusun dari nilai terkecil hingga nilai terbesar dalam sebuah
data kelompok menjadi table frekuensi dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Penyajian Data
a. Menentukan rentangan (R)
JD. Rentangan = data terbesar data terkecil
b. Menentukan banyak kelas interval dengan aturan strurges (K)
JE. Banyak kelas = 1 + 3,3 log n
c. Menentukan panjang kelas ( P )
R
JF. P=
K
JG. Dimana :
JH. P = panjang kelas
JI. R = Range
JJ. K = banyak kelas
JK.
d. Pengelolaan Data
JL. Data yang telah disajikan dalam bentuk tabel frekuensi
dikembangkan menjadi ukuran penyebaran data dan ukuran pemusatan data
dengan rumus statistik sebagai berikut :
a. Mean
JM. Untuk memperoleh mean dapat diperoleh dengan menggunakan
rumus:
fiXi
JN. X=
fi
JO. Dimana :
JP. X = mean atau nilai rata-rata
JQ. Xi = nilai tengah tiap interval
JR. fi = frekuensi yang sesuai dengan kelas Xi
b. Median (Me)
JS.Untuk memperoleh median dapat diperoleh dengan menggunakan rumus:
27
1
JT.
Me=b+ p
2
(
N Fio
F me )
JU. Dimana :
JV. b = tepi bawah kelas median
JW. p = panjang interval
JX. N = jumlah frekuensi
JY. Fio = jumlah frekuensi sebelum kelas median
JZ. F me = frekuensi kelas median
KA.
c. Modus (Mo)
KB. Untuk memperoleh modus dapat diperoleh dengan menggunakan
rumus :
KC.
d1
KD. Mo=b+ p ( d 1+d 2)
KE.
KF. Dimana :
KG. b = tepi bawah kelas modus
KH. d I= selisih frekwensi kelas dengan frekwensi sebelum kelas
modus
KI. d2 = selisih frekwensi kelas dengan frekwensi sesudah kelas
modus
KJ. p = panjang interval kelas
KK.
d. Standar Varians
KL. Untuk memperoleh varian dapat dicari dengan rumus sebagai berikut :
KM.
2
2 n Fixi2( fixi )
KN. S =
n ( n1 )
KO.
KP. Keterangan :
KQ. S2 = Varians
KR. fi = Jumlah frekuensi yang sesuai dengan kelas
28
KS. Xi = nilai tengah tiap interval
KT. x = mean atau nilai rata-rata
KU. n = banyaknya subjek pengikut tes
e. Standar deviasi
KV. Untuk memperoleh standar deviasi dapat dicari dengan rumus sebagai
berikut:
KW.


2
nn Fixi 2( fixi )
KX. S=
n ( n1 )
KY.
KZ. Dimana :
LA. S = standar deviasi
LB. fi = jumlah frekuensi yang sesuai dengan kelas xi
LC. Xi = nilai tengah tiap interval
LD. x = mean atau nilai rata-rata
LE. n = banyaknya subjek pengikut tes
LF.
3. Teknik Analisis llensvaratan Data
a. Uji Normalitas
LG. Uji normalitas dilakukan untuk mengetahui apakah sampel yang
dipilih berdistribusi normal atau tidak. Pengujian normalitas dengan uji lilifors
statistik, dengan rumus sebagai berikut :
xix
LH. Z=
s
LI. Dimana:
LJ. Z = nilai baku
LK. Xi = skor
LL. x = rata-rata skor dari kelompok
LM. s = standar deviasi
LN.
LO. Hipotesis yang digunakan dalam uji normalitas adalah sebagai
berikut:
LP. Lo : data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal
29
LQ. Li : data sampel tidak berasal dari populasi yang berdistribusi normal
LR. Kriteria pengujian : Tolak Ho, jika Lo > L tabel, selain itu Ho diterima
LS.
b. Uji Homogenitas
LT. Uji homogenitas adalah melakukan pengujian terhadap kesamaan
beberapa sampel, yaitu seragam atau tidaknya varians sampel-sampel yang
diambil dari populasi yang sama. Populasi-populasi dari varians yang sama besar
dinamakan populasi dengan varians yang homogeny. Dalam hal lainnya disebut
populasi dengan varians yang heterogen.
LU. Hipotesis uji homogenitas sebagai berikut :
LV.
LW. H 0 : a21=a 22
LX. H 1=a12 a
LY.
LZ. Keterangan :
MA. H0 = Hipotesis nol
MB. H1 = Hipotesis Tandingannya
MC.
MD. #Menentukan nilai F hitung menggunakan Fisher
varians sampel terbesar
ME. F=
varians sampel terkecil
MF. #kriteria penm ian adal A
MG. Terima hipotesis Ho jika
MH. F( 1a) (n 11) < F< F 1 /2 a (n 11,n 21)
MI. Untuk taraf nyata a, dimana F c(m,n) didapat dari daftar distribusi F
dengan peluang C,dk pembilang =n dan dk penyebut =m.
MJ. Dalam hal lainnya Ho ditolak jika
1
MK. FF a (v1 , v2 )
2
1
ML. Dengan F a ( v1 , v 2 ) didapat daftar distribusi F dengan peluang
2

1
a sedangkan derajat kebebasan v1 dan v2 masing-masing sesuai dengan dk
2
30
pembilang dan penyebut seperti biasa a = taraf nyata.
MM.
MN.
H. Hipotesis Statistik
MO. Untuk dapat mengetahui adanya perbedaan hasil belajar
matematika antara kelas eksperimen dengan kelas control atau pembanding maka
digunakan rumus sebagai berikut :
MP.
x 1x 2
t=
MQ.
sgab
1
+
1
n1 n 2
MR.
MS. Dimana
MT.

MV.
MU. Sgab=

( n11 ) S 21 + ( n21 ) S22
( n1 +n2 ) 2

MW. Nilai t dapat dilihat pada table distribusi t dengan derajat infinitive
(inf=(x)). Dengan hipotesis sebagai berikut :
MX.
MY. H 0 : x = y
MZ. H 1: x y
NA.
NB. Dimana :
NC. H0 = hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang
yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran tematik sama dengan
hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang dengan
menggunakan pembelajaran ekspositori.
ND.
NE. H1 = hasil belajar keliling dan luas persegi dan persegi panjang
siswa yang diajarkan dengan menggunakan pembelajaran tematik lebih
31 belajar
tinggi dan berbeda secara signifikan jika dibandingkan basil
keliling dan luas persegi dan persegi panjang siswa dengan menggunakan
pembelajaran ekspositori.
NF. x = rata-rata nilai tes matematika kelas eksperimen (menggunakan
pembelajaran tematik )
NG. y = rata-rata nilai tes matematika kelas control/pembanding
(menggunakan pembelajaran ekspositori )
NH.
NI. Kriteria pengujian :
1 1 1
NJ. Terima H0 jika t 1 a< t<t 1 a , dimana t1 a didapat dari
2 2 2

daftar distribusi t dengan dk = (n 1 + n2 2 ) dan peluang (1 12 a) .

Untuk harga-harga t lainnya H0 ditolak.


NK.
NL. DAFTAR PUSTAKA
NM.
NN. Arikunto Suharsimi. 2005. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta :
Bumi Aksara.
NO.
NP. Mudjiono Dimyati. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta : Rineka
Cipta.
NQ.
NR. La Iru, La Ode Safiun. 2012. Analisis Penerapan Pendekatan, Metode,
Strategi dan Model-Model Pembelajaran. DIY : Multi Presindo.
NS.
NT. Jujun S. Suriasumantri. 1984. Filsafat Ilmu. Jakarta : Sinar Harapan.
NU.
NV. Hasan Alwi. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka.
NW.
NX. Undang-Undang 2003. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
NY.
NZ. Matematika Tim. 2006. Pedoman Penulisan Skripsi. Jakarta : STKIP
Kusuma Negara Jakarta.
OA.
OB.

vi