Anda di halaman 1dari 20

LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA

ABSORPSI PERKUTAT OBAT SECARA IN VITRO

Disusun Oleh :
Dila Triarini 260110140050
Ayu Apriliani 260110140078
Putri Raraswati 260110140079
Ummi Habibah 260110140080
Ayyu Widyazmara 260110140081
Anggia Diani Amaliah 260110140082
Siti Nurrohmah 260110140083
Ai Siti Rika Fauziah 260110140084
Nisa Maulani Nuraliyah 260110140085
Tiffany Sabilla Ramadhani 260110140086
Nurmalia Saraswati 260110140087

FAKULTAS FARMASI

UNIVERSITAS PADJADJARAN

JATINANGOR

2017
I. Tujuan
Untuk mengetahui absorpsi obat secara perkutat

II. Prinsip
1. Difusi pasif
Difusi pasif adalah pergerakan molekul obat dari daerah berkonsentrasi
yang lebih tinggi (hipertonis) menuju daerah berkonsentrasi lebih rendah
(hipotonis) melalui membrane plasma hingga dicapainya distribusi molekul
yang homogen (Sumardjo, 2008). Pergerakan ini tidak memerlukan energi
dan didorong oleh sisten entropi, dimana kecepatannya tergantung
permeabilitas sel membran (Graydon, 2014).
2. Absorpsi perkutan
Absorpsi perkutan adalah masuknya suatu obat dari luar kulit
menuju ke dalam jaringan kulit melalui membran pembatas yaitu stratum
corneum. Dapat terjadi melalui proses difusi dengan mekanisme
transepidermal atau transappendage (Trommer, 2008). Absorpsi senyawa
perkutan berbanding terbalik dengan ketebalan stratum corneum dan
berbanding lurus dengan derajat hidrasi kulit (Behrman, 1999)

III. Teori dasar


Difusi merupakan suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat
yang dibawa oleh gerakan molekukar secara acak dan berhubungan dengan
adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas.
Perjalanan zat melalui suatu batas misal melalui membran polimer dapat
teradi melalui suatu proses permeasi molekul sederhana atau pun melalui
gerakan partikel melalui lubang/saluran/pori (Martin et al., 1993).
Difusi masa tunak. Hukum Fick Pertama: sejumlah M benda yang
mengalir melalui satu satuan penampang melintang, S, dari suatu pembatas
dalam satu satuan waktu t dikenal sebagai aliran dengan symbol, J.

J=
.
Sebaliknya, aliran berbanding lurus dengan perbedaan konsentrasi dC/dx:

J = -D (Martin et al., 1993).

Salep merupakan sediaan semi solid yang mudah dioleskan dan


digunakan sebagai obat luar. Bahan obatnya larut atau terdispersi homogen
dalam dasar salep yang cocok (Dirjen POM, 1995). Dasar salep yang
digunakan sebagai pembawa dibagi dalam empat kelompok yaitu dasar
salep senyawa hidrokarbon, dasar salep serap, dasar salep yang dapat dicuci
dengan air, dasar salep larut dalam air. Setiap salep obat menggunakan salah
satu dasar salep tersebut (Dirjen POM, 1995).
Kulit merupakan bagian dari sistem integumen, merupakan organ
tubuh yang paling luar dan paling luas pada manusia serta menutupi seluruh
permukaan tubuh. Luas permukaan kulit manusia dewasa adalah 2 m2. Kulit
terdiri dari dua lapisan yang berbeda, lapisan luar adalah epidermis yang
merupakan lapisan epitel dan lapisan dalam yaitu dermis yang merupakan
suatu lapisan jaringan ikat (Martini, 2001).
a. Epidermis
Epidermis merupakan lapisan terluar kulit yang terdiri dari epitel
berlapis bertanduk, mengandung sel malonosit, Langerhans dan merkel.
Tebal epidermis berbeda-beda pada berbagai tempat di tubuh, paling tebal
terdapat pada telapak tangan dan kaki. Ketebalan epidermis hanya sekitar
5% dari seluruh ketebalan kulit. Epidermis terdiri atas lima lapisan (dari
lapisan yang paling atas sampai yang terdalam) yaitu stratum korneum,
stratum lusidum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale
(stratum germinatum) (Perdanakusuma, 2007).
b. Dermis
Dermis tersusun oleh sel-sel dalam berbagai bentuk dan keadaan,
dermis terutama terdiri dari serabut kolagen dan elastin. Serabut-serabut
kolagen menebal dan sintesa kolagen akan berkurang seiring dengan
bertambahnya usia. Sedangkan serabut elastin terus meningkat dan
menebal, kandungan elastin kulit manusia meningkat kira-kira 5 kali dari
fetus sampai dewasa. Pada usia lanjut kolagen akan saling bersilang dalam
jumlah yang besar dan serabut elastin akan berkurang mengakibatkan kulit
terjadi kehilangan kelenturanannya dan tampak berkeriput
(Perdanakusuma, 2007).
c. Lapisan Subkutan
Lapisan subkutan merupakan lapisan dibawah dermis yang terdiri
dari lapisan lemak. Lapisan ini terdapat jaringan ikat yang menghubungkan
kulit secara longgar dengan jaringan di bawahnya. Jumlah dan ukurannya
berbeda-beda menurut daerah tubuh dan keadaan nutrisi individu. Berfungsi
menunjang suplai darah ke dermis untuk regenerasi (Perdanakusuma,
2007).
Absorpsi perkutan adalah absorpsi bahan dari luar kulit ke posisi di
bawah kulit tercakup masuk ke dalam aliran darah (Ansel, 1989). Faktor-
faktor penting yang mempengaruhi penetrasi dari suatu obat ke dalam kulit
adalah:
Konsentrasi obat terlarut, karena laju penetrasi sebanding dengan
konsentrasi
koefisien partisi antara kulit dan pembawa, yang merupakan ukuran afinitas
relatif dari obat tersebut untuk kulit dan pembawa
koefisien difusi yang menggambarkan tahanan pergerakan obat melalui
molekul obat melalui barier pembawa dan pembatas kulit (Martin, dkk,
1993).

IV. Alat bahan


4.1. Alat
1. Beaker Glass
2. Magnetic Stir
3. Mortir Stemper
4. Sel Difusi
5. Spatel
6. Spektrofotometer
7. Syringe
8. Vial

4.2. Bahan
1. Aquadest
2. Asam salisilat
3. Buffer
4. Kulit tikus (Membran)
5. Vaselin

4.3. Gambar Alat

Beaker Glass
Magnetic Stir

Mortir Stemper Sel Difusi

Spatel Spektrofotometer
Syringe Vial

V. Prosedur
Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan dalam percobaan kali
ini. Kulit tikus yang sudah disiapkan dalam percobaan sebelumnya adalah
membrane lipid buatan yang akan digunakan pada percobaan kali ini.
Membran Milipore dipotong bentuk lingkaran seukuran dengan besaran
lubang cincin penghubung antara kompartemen donor dan kompartemen
aseptor pada sel difusi lalu impregnasikan membrane tersebut selama lebih
kurang 15 menit dalam isopropyl miristat kemudian tempatkan membrane
tersebut pada kertas saring untuk menghisap kelebihan lipid selama lebih
kurang 5 menit.
Selanjutnya dilakukan uji difusi (berlaku untuk membrane kulit buatan
maupun kulit tikus). Rendamlah membrane pada larutan dapar fosfat untuk
proses hidrasi membrane selama 30 menit. Ambil membrane dan tempatkan
diantara kompartemen donor dan aseptor, untuk mencegah kebocoran
tempatkan ring karet atau silicon diantara kompartemen donor dan aseptor.
Pasanglah sel difusi dengan mengencangkan mur yang ada sehingga
terbentuk suatu sistem sel side by side (atau tipe vertical). Tempatkan
larutan donor asam salisilat (konsentrasi 1,5 mg/ml dalam air) pada
kompartemen donor. Jalankan magnetic stir pada kecepatan 120 rpm baik
pada sisi donor dan aseptor. Lakukan pengukuran transport obat ke
kompartemen aseptor pada rentang waktu 0, 15, 30, 45, dan 60 menit, setiap
waktu yang diukur diambil sampel dan dimasukan kedalam vial sebanyak 1
mL dan sebaga gantunya masukkan dapar sebanyak 2 mL pada sel difusi
tersbut. Setelah itu di ukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer
serta buatlah profil hubungan antara kumulatif transport terhadap waktu dan
tentukan flux berdasarkan nilai slope pada daerah linear. Gunakan
parameter farmakokinetik untuk memprediksikan profi kdar obat dalam
plasma.

VI. Data pengamatan


1. Preparasi Usus dan Kulit Tikus
No Perlakuan Hasil
1 Tikus dibius dengan eter Tikus untuk percobaan telah siap
2 Tikus untuk percobaan dibedah Usus dan kulit tikus sudah terpiash
dan diambil usus serta kulitnya
3 Perlakuan untuk Usus :
Usus yang telah diambil dari tikus Usus tikus untuk percobaan absopsi
lalu in vivo sudah siap
sepanjang 15 cm dibawah pylorus
dibuang dan 20 cm dibawahnya
dipotong untuk percobaan. Lalu
usus untuk percobaan tersebut
dipotong kembali menjadi bagian
yaitu 0 cm sama panjang, dan
dibalik menggunakan sapu lidi Usus untuk percobaan bersih dari
Usus dibilas hingga besih sisa darah
menggunakan NaCl
Bagian atas dari kedua usus
tersebut diikat lalu dimasukkan
vial dan di rendam dengan NaCl
lalu di simpan dalam kulkas
4 Perlakuan untuk Kulit
Kulit tikus yang sudah dipisahkan Kulit tikus sudah bersih dari sisa
dihilangkan dari bulunya, lalu darah
dibilas dengan NaCl
Kulit tikus yang sudah bersih lalu Kulit tikus untuk percobaa absopsi
ditepatkan dalam wadah dan perkutan sudah siap
diredam NaCl. Selanjutnya
dimasukkan kedalam kulkas

2. Pembuatan Larutan
Pembuatan larutan stok
Larutan Stok A: 0.2 M larutan NaH2PO4 100 ml
1000
0.2 = x
120 100

gr= 2, 4 gram

Larutan Stok B: 0.1 M larutan Na2HPO4


1000
0.1 = x
142 100

gr=1,42 gram

X y pH

19.0 81.0 7.4

16.0 84.0 7.5

13.0 87.0 7.6

9.5 90.5 7.7

8.5 91.5 7.8

7.0 93.0 7.9

5.3 94.7 8.0


Pembuatan larutan buffer Fosfat pH 7,4

Larutan Stok A sebanyak 19 ml dicampur dengan 81 ml larutan Stok B

Perlakuan Hasil
Ditimbang 2.4 gram NaH2PO4 Didapat 2.4 gram NaH2PO4
Dilarutkan NaH2PO4 dalam 100 ml Didapatkan larutan NaH2PO4 0.2 M
aquades bebas CO2
Ditimbang 1.42 gram Na2HPO4 Didapat 1.42 gram Na2HPO4
Dilarutkan Na2HPO4 dalam 100 ml Didapatkan larutan Na2HPO4 0.1 M
aquades bebas CO2
Dicampurkan larutan NaH2PO4 Didapat larutan buffer posfat pH 7,4
sebanyak 19 ml dengan larutan
Na2HPO4 81 ml

3. Kurva Baku
Pembuatan Larutan Stok 100 ppm
100 100 10
100 ppm = = =
1 1000 100

Perhitungan Pengenceran
Untuk 40 ppm Untuk 30 ppm

V1N1 = V2N2 V1N1 = V2N2


100V1 = 40.20 35V1 = 30.20
V1 =8 ml V1 =17,14 ml
Untuk 35 ppm Untuk 25 ppm

V1N1 = V2N2 V1N1 = V2N2


40V1 = 35.20 30V1 = 25.20
V1 = 17,5 ml V1 =16.67 ml
Untuk 20 ppm 25V1 = 20.20
V1 =16 ml
V1N1 = V2N2

Kurva Baku
0,9
0,8 y = 0,0209x - 0,0194
0,7 R = 0,9981
0,6
Axis Title

0,5
0,4 Kurva Baku
0,3
Linear (Kurva Baku)
0,2
0,1
0
0 10 20 30 40 50
Axis Title

Konsentrasi
baku (ppm) Absorbansi
20 0.402
25 0.5019
30 0.6129
35 0.702
40 0.8255
t(menit) Rata rata Absorbansi
0 0.0275
5 0.0136
10 0.0166
15 0.0119
30 0.0422
45 0.0617
60 0.0794

Konsentrasi Konsentrasi Konsentrasi


Waktu Rata-rata yang terukur Faktor sesungguhnya sesungguhnya
(menit) Absorbansi (ppm) Pengenceran (ppm) (mg/mL)
0 0.0275 2.24 3 6.72 0.00672
5 0.0136 1.57 3 4.71 0.00471
10 0.0166 1.72 3 5.16 0.00516
15 0.0119 1.5 3 4.5 0.0045
30 0.0422 2.95 3 8.85 0.00885
45 0.0617 3.8 3 11.4 0.0114
60 0.0794 4.72 3 14.16 0.01416

y = 0.0209x - 0.0194 Untuk t: 15 menit


Untuk t: 0 menit
0.0119 = 0.0209x - 0.0194
0.0275 = 0.0209x - 0.0194 x = 1.5
x = 2.24 Untuk t: 30 menit
Untuk t: 5 menit
0.0422 = 0.0209x - 0.0194
0.0136 = 0.0209x - 0.0194 x = 2.95
x = 1.57 Untuk t: 45 menit
Untuk t: 10 menit
0.0617 = 0.0209x - 0.0194
0.0166= 0.0209x - 0.0194 x = 3.8
x = 1.72 Untuk t: 60 menit
0.0794 = 0.0209x - 0.0194 x = 4.72

Konsentrasi vs Waktu
70
60 y = 5574,7x - 20,628
R = 0,8636
50
Axis Title

40
30 Series1
20 Linear (Series1)
10
0
0 0,005 0,01 0,015
Axis Title

4. Perhitungan membrane

Diameter membrane : 2 cm
Jari-jari membrane : 1 cm
Luas membrane : . r2
= 3,14 x 1 cm x 1 cm = 3,14 cm2
Persamaan Linier : y = 5574.7x - 20.628

Fluks =
(2)
5574.7
=
3,14 2

= 1775.38
2

Jumlah Obat yang Diabsorpsi (Q)


() =
a. Waktu 0 menit (30)
(5) = 1775.38 3,14 0 = 1775.38 3,14 30
(5) = 0 . / (30)
= 167240.8 . /
b. Waktu 5 menit
(5) = 1775.38 3,14 5 f. Waktu 45 menit
(5) (45)
= 27873.47 . / = 1775.38 3,14 45
(45)
c. Waktu 10 menit = 250861.2 . /
(10)
= 1775.38 3,14 10 g. Waktu 60 menit
(10) (60)
= 55746.93 . / = 1775.38 3,14 60
(60)
d. Waktu 15 menit = 334481.6 . /
(15)
= 1775.38 3,14 15 Lag Time (y=0)
(10) Persamaan linier : y =
= 83620.4 . / 5574.7x 20.628
= 5574.7 20.628
0 = 5574.7 20.628
e. Waktu 30 menit 20.628 = 5574.7
= . /
VII. Pembahasan
Pada praktikum kali ini akan dilakukan percobaan absorbsi perkutan
obat secara in vitro. Absorbsi perkutan adalah absorbsi obat kedalam
corneum(lapisan tanduk) dan akan berlanjut menembus lapisan di
bawahnya serta akhirnya obat masuk ke dalam sirkulasi darah. Pada bagian
stratum korneum tersebut merupakan penghalang pasif yang ada pada kulit
dengan susunan sel mati yang tidak memiliki transport aktif didalamnya.
Uji pelepasan dilakukan menggunakan alat sel difusi Franz.
Petama dibuat terlebih dahulu obat yang akan diuji yaitu asam
salisilat dengan konsentrasi 4% dalam bentuk sediaan salep. Obat asam
salisilat dijadikan sebagai pendonor yang akan berdifusi secara pasif ke
bagian aseptor. Pada dasarnya pelepasan obat dari pembawanya tergantung
kepada sifat fisiko-kimia obat tersebut. Dimana partikel obat harus berada
dalam keadaan terlarut supaya dapat berdifusi dan terlepas dari
pembawanya. Semakin larut zat aktif tersebut dalam pembawa, semakin
cepat pula proses difusinya.
Selanjutnya dipersiapkan juga alat yang akan digunakan. Kulit yang
digunakan adalah kulit tikus yang telah dicukur bulunya. Kulit ini telah
disiapkan sebelumnya yang direndam dalam dapar pospat agar proses
hidrasi membrane tetap terjadi. Kulit tikus tersebut dibentuk lingkaran
dengan ukuran yang disesuaikan dengan lubang alat. Namun pada kali ini
kulit dibuat dengan ukuran yang lebih besar dari lubang alat yang bertujuan
untuk mempermudah pemasangan.
Pada bagian kompartemen donor diletakan obat asam salisilat
hingga penuh tanpa adanya celah udara. Pada bagian kompartemen aseptor
diisi dengan dapar pospat hingga penuh dan diisi dengan magnetic stearer
yang berfungsi sebagai pensirkulasi dan bergerakjketika ada tekanan dari
bawah.. Kemudian kulit yang telah dipersiapkan kemudian disatukan
dengan alat diffuse franz. Pada pemasangannya dilakukan secara hati-hati
karena permukaan licin dari kulit tikus yang dapat menyebabkan alat
meleset saat pemasangan dan pecah akibat jatuh. Sehingga pada saat
pemasangan harus seimbang antara pemasangan per-peran kanan dan
sebelah kiri. Pada kompartemen aseptor yang berperan sebagai plasma
darah dengan PH 7,4 (dapar pospat) yang dijaga suhunya pada 37 0,5C
sebgai pengkondisian sama dengan suhu tubuh. Penjagaan suhu 37 0,5C
ini dilakukan pada beaker glas dengan air yang dipanaskan. Uji pelepasan
zat aktif asam salisilat ini dilakukan menggunakan alat sel Franz tipe
horizontal. Tipe horizontal ini digunakan untuk sediaan transdermal.
Sedangkan pada tipe vertikal digunakan untuk sediaan topikal. Prinsip kerja
dari sel difusi Franz adalah dengan meletakkan membran semi permeabel
(yakni kulit tikus) di antara kompartemen donor dan aseptor. Kemudian
senyawa-senyawa yang masuk ke dalam cairan aseptor diukur kadarnya
menggunakan instrument spektro UV.

Pemeriksaan kadar sampel hasil cuplikan pada uji absorbsi perkutan


dilakukan dalam rentang waktu ke 0, 5, 10, 15, 30, 45, dan menit ke-60.
Masing-masing cuplikan (1 mL) ditambahkan 2 mL larutan dapar untuk
menambah volum saat dimasukkan ke dalam kuvet. Pemeriksaan pada
menit 0, 5, 10, 15 menunjukkan hasil yang fluktuatif. Pada pemeriksaan
menit pertama secara teori jumlah obat yang terabsorbsi melalui kulit lebih
kecil karena obat yang diaplikasikan belum berpenetrasi ke dalam lapisan
kulit. Kadar yang tinggi pada menit awal diperoleh asam salisilat
berpenentrasi sebanyak 2.24 ppm, hal ini dapat disebabkan karena
perbedaan volum pengambilan cuplikan. Volume cuplikan pertama
diketahui lebih sedikit dibandingkan dengan cuplikan lain hal itu
berpengaruh pada kepekatan cuplikan sehingga absorbansi menjadi lebih
besar dibandingkan cuplikan pada menit ke-5. Cuplikan menit ke-10 dan 15
menunjukan obat sudah berpenetrasi melalui kulit dan meningkat (1.57
ppm dan 1.72 ppm) seiring dengan waktu kontak sediaan dan kulit. Pada
menit ke-15 terjadi penurunan kadar obat (asam salisilat) dalam cuplikan
(1.5 ppm). Faktor-faktor yang mempengaruhinya antara lain banyaknya
volume cuplikan yang diambil, penambahan larutan dapar yang tidak akurat
dan obat belum tercampur secara merata di seluruh permukaan medium.
Selanjutnya pada interval waktu 30 menit diambil kembali larutan
dari kompartemen aseptor sebanyak 1 ml dan diisi kembali dengan larutan
dapar sebanyak 1 ml, hasil larutan dari kompartemen aseptor ditambahkan
dengan dapar fosfat sebanyak 2 ml kemudian dilakukan running di
spektrofotometri dengan panjang gelombang maksimal 303 nm dan
diperoleh hasil absorbansi sebesar 0,0422. Absorbansi adalah
rasiologaritmik dari radiasi yang dipaparkan ke suatu bahan terhadap radiasi
yang ditransmisikan menembus bahan sehingga kadar sampel Asam salisilat
dari sediaan salep 4% yang berdifusi dapat dihitung dengan cara
memasukan nilai absorbansi terhadap nilai persamaan linear yang diperoleh
dari kurva baku yaitu y = 0.0209x - 0.0194 maka diperolehlah kadar sebesar
2,95.
Pada waktu ke 45 menit diambil kembali larutan dari kompartemen
aseptor sama persis seperti interval waktu sebelumnya kemudian di running
pada spektrofotometer. Hasil running menunjukan bahwa nilai absorbansi
di waktu 45 menit adalah 0.0617 sehingga kadarnya diperoleh sebesar 3.8
sedangkan pada waktu ke 60 menit diperoleh nilai absorbansi sebesar
0.0794 dengan nilai kadar sebesar 4.72.
Dari hasil kadar diatas jika diurutkan dari interval waktu 0, 5, 10,
15, 30, 45 dan 60 menit diperoleh jumlah kadar sampel dalam cairan aseptor
atau jumlah kadar Asam salisilat yang berdifusi sebesar 2.24, 1.57, 1.72,
1.5, 2.95, 3.8, 4.72. Semakin bertambahnya waktu dapat kita ketahui bahwa
terjadi pula peningkatan jumlah obat yang berdifusi, ini dibuktikan hasil
percobaan, namun pada menit ke 0, 5, 10 dan 15 terjadi peningkatan dan
penurunan kadar obat yang berdifusi, ini dapat saja terjadi akibat kurang
teliti dalam pengambilan larutan dalam kompartemen aseptor sehingga yang
tertarik kebanyakannya adalah larutan dapar bukan larutan sampel obat.
Untuk mengetahui jumlah obat yang yang diabsoprsi, dapat
ditentukan dengan menggunakan rumus Q =
. Untuk mengetahui nilai fluks dapat
diperoleh dengan menghitung luas membran, adapun diameter membran
yang digunakan adalah 2 cm dengan jari jari membran 1 cm, sehingga
didapatkan luas membran menggunakan rumus luas lingkaran yaitu 3,14

2
cm kemudian diperoleh nilai fluks sebesar 1775.38
2 . Jumlah obat
yang di absoprsi (Q) di waktu 0 menit, 5 menit, 10 menit, 15 menit, 30
menit, 45 menit dan 60 menit mengalami peningkatan, dimana dengan hal
ini semakin bertambahnya waktu terjadi pula peningkatan jumlah obat yang
diabsorpsi.
Tetapan kecepatan absorpsi menggambarkan kecepatan absorpsi,
yaitu masuknya obat ke dalam sirkulasi sistemik dari absorpsinya. Nilai ini
merupakan jumlah dari kecepatan disolusi obat dari bentuk sediaannya dari
pelarutannya dalam lingkungan tempat absorpsi, proses absorpsi itu sendiri,
dan proses lebih jauh yang mungkin telah berlangsung, yakni distribusi dan
eliminasi. Bila terjadi hambatan dalam proses absorpsi, akan didapatkan
nilai Ka yang lebih kecil. Satuan dari parameter ini adalah fraksi persatuan
waktu (jam-1 atau menit-1). Selain Ka, gambaran kecepatan disolusi juga
bisa diperoleh dari nilai Tlag (lag-time), yakni tenggang waktu antara saat
pemberian obat dengan munculnya kadar obat di sirkulasi sistemik
(darah/serum/plasma). Didapatkan nilai lag-time yaitu 270,25.

VIII. Simpulan
Penentuan Absorbsi obat secara perkutan menggunakan sel difusi
franz dengan zat aktif berupa asam salisilat, didapatkan kadar dimana
semakin bertambahnya waktu terjadi pula peningkatan jumlah obat yang
berdifusi.
IX. Daftar pustaka

Behrman, R.E., R.M. Kliegman, Dan A.M. Arvin. 1999. Ilmu Kesehatan
Anak Edisi 15. Jakarta: EGC.
Graydon, C.W., J. Zhang, N.W. Oesch, A.A. Sousa, R.D. Leapman, And
J.S. Diamond. 2014. Passive Diffusion As A Mechanism Underlying
Ribbon Synapse Vesicle Release And Resupply. J Neuroscience.
34(27): 8948-8962.
Sumardjo, D. 2008. Pengantar Kimia: Buku Panduan Kuliah Mahasiswa
Kedokteran Dan Program Strata I Fakultas Bioeksakta. Jakarta:
EGC.
Trommer, H And R.H.H. Neubert. 2008. Overcoming The Stratum
Corneum: The Modulation Of Skin Penetration. Skin Pharmacol
Physiol. 19: 106-121.
Ansel, H. C. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi. Terjemahan :
Farida. Ibrahim. Edisi Keempat. Jakarta: Universitas Indonesia
Press.
Martin, A., Bustamante, P., & Chun, A.H.C. 1993. Physical Pharmacy:
Physical Chemical Principles In The Pharmaceutical Sciences,
Fourth Edition. Philadelphia: Lea & Febiger.
Martini, F. H. 2001. Fundamentals Of Anatomy & Phisiology 5th Ed. New
Jersey: Prentice Hall.
Perdanakusuma, D.S. 2007. Anatomi Fisiologi Kulit Dan Penyembuhan
Luka. Surabaya: Airlangga University School Of Medicine Dr.
Soetomo General Hospital.
Sharma S. 2008. Topical Drug Delivery System: A Review. Pharmaceutcal.
Rev.;6:1-29.