Anda di halaman 1dari 19

MAKALAH

ETIKA DAN HUMANIORA

KASUS PELANGGARAN HAK ASASI MANUSIA

DISUSUN OLEH:
Ingka Tisya Garnisa (260110160002)
Wahyu Eka Saputri (260110160006)
Adenita Esa (260110160010)
Nisrina Hasna M (260110160013)
Erlin Elisabeth (260110160016)
Savira Permatasari (260110160022)
Sarah Rahmatia (260110160028)
Maratul Mahdiyyah (260110160034)
Hilallya Maurizka (260110160039)
Idzni Rusydina (260110160040)

KELAS A
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS PADJADJARAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya kami dapat menyelesaikan
makalah tentang Pelecehan Seksual di Angkutan Umum.Kami sangat berharap
makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan
serta mewaspadai tentang pelecehan seksual ini. Kami juga menyadari
sepenuhnya bahwa di dalam makalah ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata
sempurna. Oleh sebab itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi
perbaikan makalah yang telah kami buat di masa yang akan datang, mengingat
tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.
Semoga makalah sederhana ini dapat dipahami bagi siapapun yang
membacanya. Sekiranya laporan yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami
sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf apabila
terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan kami memohon kritik dan
saran yang membangun demi perbaikan makalah ini di waktu yang akan datang.

Jatinangor, 6 November 2016

Penyusun

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.2
DAFTAR ISI3
BAB I PENDAHULUAN.4-5
1.1. Latar Belakang..4
1.2. Rumusan Masalah..4-5
1.3. Tujuan...5
1.4. Manfaat.5
BAB II PEMBAHASAN6-17
2.1. Hak Asasi Manusia dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia6-8
2.2. Pelecehan Seksual9-14
2.3. Kasus Pelanggaran HAM di bidang Gender..14-17
BAB III PENUTUP...18
3.1. Kesimpulan.18
3.2. Saran18
DAFTAR PUSTAKA19

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Negara Republik Indonesia adalah negara yang berasaskan nilai nilai
Hak Asasi Manusia (HAM). Sebagaimana yang tercantum dalam Undang
Undang No.39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbunyi
Negara Republik Indonesia mengakui dan menjunjung tinggi hak asasi manusia
dan kebebasan dasar manusia sebagai hak yang secara kodrati melekat dan tidak
terpisahkan dari manusia, yang harus dilindungi, dihormati, dan ditegakkan demi
peningkatan martabat kemanusiaan, kesejahteraan, kebahagiaan, dan kecerdasan
serta keadilan. Namun realisasi dari undang undang ini tidak seluruhnya
terpenuhi, seperti masih adanya penyimpangan penyimpangan sosial yang
terjadi di tengah masyarakat yang ditunjukkan dengan masih terlihatnya
penghinaan terhadap orang lain serta sikap memandang rendah seseorang. Kedua
contoh tersebut dapat dikategorikan sebagai pelecehan. Pelecehan dapat dilakukan
secara implisit maupun melalui kontak fisik. Salah satu pelecehan yang merujuk
pada kontak fisik adalah pelecehan seksual.
Pelecehan seksual umumnya disebabkan karena kecenderungan untuk
bertindak seksual yang biasanya bersifat intimidasi nonfisik (kata kata, bahasa,
gambar) atau fisik (gerakan kasat mata dengan memegang, menyentuh, meraba,
mencium) yang dilakukan laki laki atau kelompoknya terhadap perempuan atau
kelompoknya. Hal inilah yang kemudian meresahkan masyarakat luas.
Generasi penerus diharapkan mampu mengatasi masalah pelecehan
seksual, bukan malah terlibat didalamnya sebagai pelaku maupun korban.

1.2. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan pelecehan seksual?


2. Mengapa pelecehan seksual dapat terjadi?
3. Bagaimana cara meminimalisir terjadinya pelecehan seksual?
4. Kapan dan dimana tempat biasanya pelecehan seksual sering terjadi?

4
5. Apa dampak yang ditimbulkan dari pelecehan seksual?
6. Apa yang menjadi dasar hukum perlindungan individu dari pelecehan
seksual?

1.3. Tujuan
1 Mengetahui definisi pelecehan seksual
2 Mengetahui penyebab terjadinya pelecehan seksual
3 Mengetahui cara meminimalisir pelecehan seksual
4 Mengetahui waktu dan tempat yang rawan terjadi pelecehan seksual
5 Mengetahui dampak yang ditimbulkan dari pelecehan seksual
6 Mengetahui dasar hukum perlindungan individu dari pelecehan seksual

1.4. Manfaat

Memberikan pengetahuan mengenai definisi, penyebab, dampak, dasar


hukum, cara meminimalisir serta waktu & tempat yang rawan pelecehan seksual.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Hak Asasi Manusia dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia


Hak Asasi Manusia atau HAM adalah hak-hak yang sudah dipunyai oleh
seseorang sejak ia masih dalam kandungan. Hak asasi manusia dapat berlaku
secara universal. HAM di Indonesia bersumber dan bermuara pada Pancasila,
yang artinya bahwa HAM adalah menjadi jaminan filsafat yang kuat dari filsafat
bangsa. Beberapa instrument HAM yang ada di Indonesia antara lain yaitu
Undang - Undang Dasar 1945, Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang
Hak Asasi Manusia, Undang Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi
Manusia dan instrumennya yaitu Komisi Nasional Hak Asasi Manusia atau
Komnas HAM. Dasar-dasar HAM yang tertuang dalam deklarasi kemerdekaan
Amerika Serikat atau Declaration of Independence of USA serta yang tercantum
dalam UUD 1945 Republik Indonesia, seperti yang terdapat pada pasal 27 ayat 1,
pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 31 ayat 1, serta pasal 30 ayat 1.
HAM dapat meliputi Hak hak asasi pribadi (personal rights) yang
meliputi kebebasan menyatakan pendapat, kebebasan memeluk agama, dan
kebebasan bergerak. Hak hak asasi ekonomi (property rights) yang meliputi hak
untuk memiliki sesuatu, hak untuk membeli dan menjual serta memanfaatkannya.
Hak hak asasi politik (political rights) yaitu hak untuk ikut serta dalam
pemerintahan, hak pilih (dipilih dan memilih dalam pemilu) dan hak untuk
mendirikan partai politik. Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama
dalam hukum dan pemerintahan ( rights of legal equality). Hak hak asasi sosial
dan kebudayaan ( social and culture rights). Misalnya hak untuk memilih
pendidikan dan hak untuk mengembangkan kebudayaan. Dan hak asasi untuk
mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan (procedural rights).
Misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan, penggeledahan, dan
peradilan.
Namun seperti kita ketahui bersama, pelaksanaannya masih sangat jauh
dari apa yang diharapkan oleh semua rakyat Indonesia, masih banyak terjadi

6
pelanggaran - pelanggaran HAM yang terjadi di negeri kita ini baik itu atas nama
negara atau institusi tertentu .Namun apakah disengaja ataupun tidak , negara
(dalam hal ini yaitu Komnas HAM) sepertinya sangat lamban untuk mengungkap
dan mengupas secara detail kasus kasus pelanggaran HAM yang terjadi baik itu
kasus yang disorot media ataupun yang tidak terlalu disorot . Apalago disaat Orde
baru berkuasa , terlalu banyak kasus kasus pelanggaran HAM yang belum bisa
terungkap dan tertutupi awal tebal oleh konspirasi pihak elite kekuasaan pada saat
itu dan diterusakan saat ini . Dimulai sejak Soeharto menjabat sebagai presiden
sampai Soeharto lengser dalam peristiwa Mei 1998 oleh para Mahasiswa banyak
sekali peristiwa peristiwa atau kasus kasus dilakukan pemerintah yang sangat
melanggar HAM, beberapa contoh peristiwa atau kejadian dari pelanggaran HAM
yang dilakukan yaitu pada tahun 1965 dimana Penculikan dan pembunuhan
terhadap tujuh jendral Angkatan Darat dan Penangkapan, penahanan dan
pembantaian massa pendukung dan mereka yang diduga sebagai pendukung
Partai Komunis Indonesia. Lalu dilanjutkan pada tahun 1966, pada tahun ini
terjadi penangkapan dan pembunuhan tanpa pengadilan terhadap anggota
anggota PKI yang masih terus berlagsung .
Hal ini sangat melanggar HAM, namun mengapa pemerintah seperti tidak
tahu - menahu tentang hal tersebut, munkin pada saat itu ada konfrontasi besar
yang ingin dilakukan oleh Soeharto untuk mempertahankan kekuasaannya,
terbukti dengan konfrontasi itu Soeharto dapat memimpin Indonesia selama 36
tahun lamanya, mungkin bila ada pemilihan siapa politikus paling pintar di
Indonesia atau bahkan di Asia, Soeharto lah orangnya, karena dia seolah
memimpin Indonesia tanpa cacat di mata dunia. Benar memang asa hukum
retroaktif tidak dapat diterapkan, namun ini menyangkut kemashlahatan
masyarakat kita sendiri, terlebih untuk keluarga keluarga atau keturunan dari
korban korban dari pelanggaran HAM tersebut agar supaya mereka
mendapatkan haknya yang direnngut pemerintah kembali.
Kembali ke masalah HAM di Indonesia, mengapa pelanggaran HAM di
Indonesia masih saja terjadi dari tahun ke tahun dan juga sampai saat ini masih
sering terjadi pelanggaran HAM itu, apakah pemerintah terlalu tegas menindak

7
oknum atau institusi yang menentang kekuasaannya ataukah memang masyarakat
kita yang terlalu anarkis sehingga pemerintah terpaksa melakukan tindakan
progresif untuk mengendalikannya. Mungkin semua itu dapat kita kendalikan jika
tidak ada tindakan tindakan atau kebijakan kebijakan dari pemerintah yang
memberatkan rakyat, karena biasanya rakyat bertindak dikarenakan hal tersebut.
Tidak akan ada suatu masyarakat menyerang atau menuntut ke pemerintahannya
jika tidak ada hal dasar yang melatarbelakanginya.
Dalam hal ini kasus pelanggran HAM yang akan dibahas berkaitan dengan
kasus pelanggaran HAM ringan yaitu kasus kekerasan gender. Di indonesia
sendiri kakus kekerasan gender dibagi dalam lima kelompok diantaranya
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), pencabulan atau pelecehan seksual,
kekerasan dalam pekerjaan, pemerkosaan.

Diagram Kasus Kekerasan gender di Indonesia


Dalam makalah ini akan dibahas mengenai kasus tentang pencabulan atau
pelecehan seksual yang terjadi di indonesia, seperti yang tertera dalam diagram
diatas kasus mengenai pelecehan seksual merupakan kasus dengan angka
presentase pelaksanaan terbanyak kedua setelah KDRT. Tingkat kekerasan
terhadap perempuan, menurut laporan yayasan pemberdayaan perempuan PBB
hingga hari ini masih tetap tinggi. Sudah saatnya kini untuk memerangi
diskriminasi gender. Komentar Grahame Lucas.

8
2.2. Pelecehan Seksual
Pelecehan seksual adalah segala tindakan seksual yang tidak diinginkan,
permintaan untuk melakukan perbuatan seksual, tindakan lisan atau fisik atau
isyarat yang bersifat seksual, atau perilaku lain apapun yang bersifat seksual, yang
membuat seseorang merasa tersinggung, dipermalukan dan/atau terintimidasi
dimana reaksi seperti itu adalah masuk akal dalam situasi dan kondisi yang ada,
dan tindakan tersebut mengganggu kerja, dijadikan persyaratan kerja atau
menciptakan lingkungan kerja yang mengintimidasi, bermusuhan atau tidak sopan.

Dengan kata lain pelecehan seksual adalah

Penyalahgunaan perilaku seksual,


Permintaan untuk melakukan perbuatan seksual (undangan untuk
melakukan perbuatan seksual, permintaan untuk berkencan).
Pernyataan lisan atau fisik melakukan atau gerakan menggambarkan
perbuatan seksual, (pesan yang menampilkan konten seksual eksplisit
dalam bentuk cetak atau bentuk elektronik (SMS, Email, Layar, Poster,
CD, dll)
Tindakan kearah seksual yang tidak diinginkan

Perilaku fisik (seperti menyentuh, mencium, menepuk, mencubit, atau


kekerasan fisik seperti perkosaan dll)
Sikap seksual yang merendahkan (seperti melirik atau menatap bagian
tubuh seseorang).

Pelecehan seksual dapat mengakibatkan kesulitan dalam pelaksanaan tugas


yang diberikan atau menyebabkan pekerja merasa dirinya bekerja dalam iklim
perusahaan yang tidak harmonis, yang juga dapat menyebabkan risiko terhadap
kesehatan dan keselamatan.

Dalam pelecehan seksual dapat diukur tingkat kewajarannya dengan


melihat apabila perilaku tersebut mengarah kepada tindakan pelecehan seksual
sehingga mengakibatkan timbul rasa tersinggung, malu atau takut.

9
Unsur utama dalam pelecehan seksual adalah adanya rasa tidak diinginkan
oleh korban. Selain unsur tidak diinginkan tersebut, masih terdapat tindakan
yang tidak sopan yang mengarah pada pelecehan seksual dan menurut kebiasaan
di tempat kerja merupakan sesuatu yang dapat dikatakan sebagai tindakan
pelecehan seksual.

Sedangkan tindakan atau interaksi yang berlangsung atas dasar suka sama
suka bukan sesuatu yang tidak diinginkan bukan merupakan pelecehan seksual.

Pelecehan seksual memiliki berbagai jenis. Secara luas, terdapat lima


bentuk pelecehan seksual yaitu:

1. Pelecehan sik termasuk sentuhan yang tidak diinginkan mengarah ke


perbuatan seksual seperti mencium, menepuk, mencubit, melirik atau
menatap penuh nafsu.
2. Pelecehan lisan termasuk ucapan verbal/ komentar yang tidak diinginkan
tentang kehidupan pribadi atau bagian tubuh atau penampilan seseorang,
lelucon dan komentar bernada seksual
3. Pelecehan isyarat termasuk bahasa tubuh dan atau gerakan tubuh bernada
seksual, kerlingan yang dilakukan berulang-ulang, isyarat dengan jari, dan
menjilat bibir
4. Pelecehan tertulis atau gambar termasuk menampilkan bahan pornogra ,
gambar, screensaver atau poster seksual, atau pelecehan lewat email dan
moda komunikasi elektronik lainnya
5. Pelecehan psikologis/emosional terdiri atas permintaan-permintaan dan
ajakan-ajakan yang terus menerus dan tidak diinginkan, ajakan kencan
yang tidak diharapkan, penghinaan atau celaan yang bersifat seksual

Pembuktian dalam hukum pidana adalah berdasarkan Pasal 184 UU No. 8


Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana (KUHAP), menggunakan lima
macam alat bukti, yaitu:

Keterangan saksi

10
Keterangan ahli
Surat
Petunjuk
Keterangan terdakwa.

Apabila terjadi pelecehan seksual, bukti-bukti di atas dapat digunakan


sebagai alat bukti. Untuk kasus terkait percabulan atau perkosaan, biasanya
menggunakan salah satu alat bukti surat berupa Visum et repertum sebagaimana
diatur dalam Pasal 187 huruf c KUHAP dan Pasal 133 ayat 1 KUHAP.

Mengenai masalah pelecehan seksual tersebut secara umum diatur dalam


KUHP yaitu dalam Buku Kedua tentang Kejahatan, Bab XIV tentang Kejahatan
Kesusilaan (Pasal 281 s/d 303 bis; 506), sedangkan secara khusus (yang berkaitan
dengan rumah tangga) diatur secara khusus dalam UU No. 23 tahun 2004 tentang
penghapusan kekerasan dalam rumah tangga.
Pelecehan seksual secara umum diatur di dalam KUHP Pasal 281 dan 282;
Pelecehan Seksual yang dilakukan oleh laki-laki atau perempuan yang telah kawin
(zinah) diatur dalam Pasal 284 KUHP; Perkosaan (Pasal 285 KUHP);
Menyetubuhi wanita yang sedang pingsan atau tidak berdaya (Pasal 286 KUHP);
Bersetubuh dengan wanita di bawah umur (Pasal 287 dan 288 KUHP); Berbuat
cabul (Pasal 289 KUHP); Berbuat cabul dengan orang yang pingsan, di bawah
umur (Pasal 290 KUHP); Berbuat cabul dengan sesama jenis kelamin yang masih
di bawah umur (Pasal 292 KUHP); Membujuk untuk berbuat cabul pada orang
yang masih belum dewasa (Pasal 293 KUHP); Berbuat cabul dengan anaknya,
anak tirinya, anak angkatnya, anak di bawah pengawasan yang belum dewasa
(Pasal 294 KUHP); Pegawai Negeri, Dokter, Guru, Pegawai, Pengurus, Pengawas
atau Pesuruh dalam penjara, tempat pendidikan, rumah sakit, lembaga sosial yang
melakukan perbuatan cabul dengan orang yang dimasukkan ke dalamnya (Pasal
294 KUHP); Perdagangan wanita dan perdagangan anak laki-laki yang belum
dewasa (Pasal 297 KUHP); Menarik keuntungan dari perbuatan cabul seorang
wanita dan menjadikannya sebagai pencaharian (Pasal 506 KUHP).

11
Banyak faktor yang membuat angka kejahatan seksual meningkat di Tanah
Air, diantaranya:

1. Membludaknya konten pornografi. Hingga 2016 Indonesia masih dibanjiri


konten pornografi, khususnya lewat dunia maya. Medsos menjadi sarana
penyebaran pornografi yang sulit dibendung. Bahkan Mensos Khofifah Indar
Parawansa pada tahun lalu mengatakan, Indonesia sudah masuk kategori darurat
pornografi.

2. Minuman keras dan narkoba. Dalam banyak kasus, pelaku kejahatan seksual
berada dalam pengaruh minuman keras dan juga banyak korban yang mengalami
kejahatan seksual juga setelah dicekoki minuman keras atau narkoba. Kasus di
Kediri, Bengkulu, Manado dan Garut adalah contohnya.

3. Bebasnya masyarakat dalam perilaku seksual. Hari ini banyak perempuan tidak
lagi merasa malu mempertontonkan auratnya di tempat-tempat publik. Memang,
ada sebagian kecil orang yang mencoba menyangkal pakaian minim perempuan
memicu pelecehan seksual. Namun, berbagai riset dan fakta menunjukkan bahwa
hal itu memang menjadi pemciu dorongan seksual bagi kaum pria. Memang yang
kemudian disasar menjadi korban bisa siapa saja, termasuk bisa saja perempuan
berkerudung dan berhijab. Namun, awalnya di antaranya dipicu oleh penampilan
kaum Hawa yang mengumbar aurat.

4. Pergaulan bebas antara pria dan wanita. Berita selingkuh dan seks bebas
menjadi menu media sehari-hari. Banyak penginapan/hotel menyediakan jasa
short time untuk kencan pasangan, tak peduli pasangan sah atau tidak.

5. Sanksi hukum yang tumpul dan tidak bisa memberikan efek jera. Dari berbagai
kasus kejahatan dan kekerasan seksual, pelaku sering mendapatkan sanksi yang
jauh dari keadilan. Dalam Pasal 285 KUHP, hukuman bagi pelaku pemerkosaan
paling lama dua belas tahun. Hukuman ini dianggap masih terlalu ringan. Malah
ada pelaku pemerkosaan hanya dihukum 4 tahun. Hukuman itu bisa lebih ringan

12
lagi bila pelakunya masih di bawah umur (di bawah 18 tahun), berstatus pelajar
dan berkelakuan baik selama masa tahanan.

Penanganan tindak kriminal semestinya dilakukan dua sisi; preventif dan


kuratif. Tanpa upaya pencegahan (preventif), apapun langkah kuratif yang
dilakukan, semisal menjatuhkan sanksi hukum yang berat, tidak akan pernah
efektif. Islam sedari awal hadir dengan syariahnya yang bisa mencegah terjadinya
berbagai tindak kriminal, termasuk kejahatan seksual, diantaranya:

1. Takwa adalah pengendali pribadi yang paling efektif. Islam menanamkan setiap
individu untuk bertakwa kepada Allah SWT, merasa takut dengan azab-Nya yang
sangat pedih. Sehingga ia akan berusaha mengendalikan dirinya agar tidak
melakukan tindak kriminal dan kejahatan seksual. Bahkan ia tidak akan berzina
sekalipun ada pria/wanita yang menawari kesempatan tersebut.

2. Masyarakat akan dikondisikan untuk tidak terbawa dalam arus pergaulan yang
menciptakan rangsangan yang mengarah pada perilaku seks bebas. Seorang
muslimah yang hendak keluar rumah, mereka diwajibkan menutup aurat, tidak
bersolek berlebihan serta tidak bercampur-baur dengan kaum pria seperti keadaan
masyarakat sekarang; bercampur di perkantoran, di pasar, pesta-pesta, tempat
hiburan malam dan pulang larut malam, bahkan hidup serumah meski bukan
pasangan suami-istri.

3. Para pelajar dididik dengan kurikulum yang mengarahkan terbentuknya


kepribadian Islam (syakhsiyyah islamiyyah), yaitu memiliki pola pikir islami dan
pola sikap islami (aqliyyah wa nafsiyyah islamiyyah). Dengan begitu mereka
memiliki pola pergaulan yang terjaga antara pria dan wanita; mereka tidak
membudayakan pacaran dan perzinaan seperti yang sekarang ini justru banyak
terjadi di kalangan pelajar

4. Islam juga mengharamkan minuman keras, narkoba serta pornografi- pornoaksi.


Syariah Islam tidak akan berkompromi dengan berbagai barang haram dan

13
merusak meskipun mendatangkan keuntungan finansial bagi negara ataupun
pengusaha.

5. Islam mengancam setiap pelaku kejahatan dengan ancaman keras. Pelaku


pemerkosaan dapat terancam sanksi cambuk seratus kali bila terkategori belum
menikah (ghayru muhshan). Bila telah menikah (muhshan), pelaku zina dan
perkosaan dijatuhi sanksi rajam hingga mati. Hukuman ini bisa bertambah bila
pelaku melakukan serangkaian kejahatan lain seperti menculik, menyekap korban,
meracuni dengan miras atau narkoba, mengedarkan dan menonton konten
pornografi, dsb. Sanksi ini diberikan atas semua pelaku seandainya mereka
melakukannya secara persekongkolan. Masing-masing pelaku akan dijatuhkan
sanksi yang sama satu sama lain, sebagaimana keputusan Khalifah Umar bin
Khaththab ra. yang menjadi Ijmak Sahabat

Jelaslah, dengan syariah Islam aneka kejahatan termasuk kejahatan seksual


bisa dituntaskan. Kehormatan dan nyawa kaum perempuan akan terlindungi.
Bahkan siapapun, laki-laki dan perempuan, Muslim dan non-Muslim, akan
terlindungi dari tindak kejahatan. Syariah yang begitu memuliakan dan
melindungi perempuan dan mendatangkan rahmat itu hanya akan terasa
keagungannya jika diterapkan secara total dalam institusi Khilafah dan tidak
mungkin diterapkan dalam sistem hukum selainnya. WalLh alam bi ash-
shawb.

2.3. Kasus Pelanggaran Hak Asasi Manusia di bidang Gender

Mahasiswi UIN Syarif Hidayatullah dan Trisakti menjadi korban pelecehan seks
oleh PNS BPKP DA, ketika korban naik bus TransJakarta darishelter Cempaka
Putih menuju Harmoni. Tersangka pada awalnya mencium tangan korban saat
bus melakukan pengereman mendadak, namun melihat korban tak melawan,
tersangka melanjutkan aksinya lebihjauh hingga meraba payudara. Akibat
merasa dibiarkan, DA pun terus saja menggerayangi kedua mahasiswi tersebut.

14
Contoh kasus ini adalah bentuk kejahatan yang dikategorikan sebagai
kasus kekerasan gender. Kasus ini sering terjadi dikalangan perempuan itu sendiri
menunjukan ketidaksetaraan gender sering terjadi dimasyarakat jadi dilihat dari
prospek teori kasus gender dibagi menjadi dua yaitu Teori Fungsional Struktural
dan teori Konflik. Kasus ini bisa dimasukan kedalam dua teori diatas tetapi lebih
utama dan pas terhadap kasus pelecehan ini adalah Teori Konfik mengapa? Teori
konfik itu membahas tentang gagasan atau nilai nilai selalu dipergunakan dalam
menguasai kedudukan laki laki terhadap perempuan yang mengubah tingkatnya
bisa menilai bahwa laki laki lebih tinggi derajatnya dari perempuan. Berdasarkan
contoh kasus diatas menunjukan sikap para laki laki lebih hebat daripada
perempuan sehingga laki laki berani melakukan hal tersebut. Padahal didalam
teori konflik memang menjelaskan bagaimana kepentingan (interest) dan kekuatan
(power) yang merupakan hal terpenting dari hubungan antara laki laki dan
perempuan. Oleh sebab itu contoh kasus diatas akan menimbulkan konflik yang
berakibat mengubah posisi dan hubungan antara laki laki dan perempuan . Dua
hal besar faktor konflik :
Kepentingan (interest) : Laki laki terhadap nafsu dan syahwat untuk
melecehkan perempuan itu muncul dari perempuannya itu sendiri karena
penampilan atau style nya yang menimbulkan nafsu syahwat laki laki muncul
diantara itu juga faktor atau keadaan didalam angkutan umum yang penuh
sehingga bisa menghidupkan peluang. Disebutkan juga dalam aliran feminis
radikal dalam kelompok teori bahwa penguasaan fisik laki laki terhadap
perempuan yang melecehkan kaum perempuan adalah bentuk penindasan
terhadap perempuan tetapi menurut teori konfik hal ini adalah kepentingan atau
interest laki laki terhadap hasratnya pada perempuan yang belum terpenuhi.
Kekuatan (power) : Laki laki pada dasarnya memiliki kekuatan yang lebih
dibanding perempuan,tetapi setelah ada emansipasi wanita muncul argument
bahwa perempuan dengan laki laki derajatnya sama tetapi pada dasarnya power
yang menentukna derajat seseorang jaman sekarang, selama para laki laki
mengaggap dirinya paling kuat dan tertinggi wanita akan selalu dilecehkan seperi
yang terjadi didalam contoh diatas perempuan atau mahasiswa selalu terkena

15
kasus pelecehan seksual karena laki laki merasa memiliki power yang besar
terhadap perempuan sehingga peristiwa itu dapat terjadi apalagi terjadi di dalam
busway yang sehari hari digunakan warga Jakarta jika pergi ke kampus atau
kantor sisi padat nya menjadi tameng terhadap "power of men" itu sendiri.
Walau di banyak negara hukuman bagi pelanggaran hak-hak perempuan makin
berat, tapi nyaris tidak ada bukti bahwa perilaku pria terhadap perempuan juga
mengalami perubahan, khususnya di negara dimana lelaki dianggap lebih
berkuasa.
Data statistik yang dilansir PBB amat memprihatinkan. Lebih 35 persen
perempuan dilaporkan pernah sekali mengalami aksi kekerasan fisik atau seksual
dalam hidupnya. Bahkan di sejumlah negara, menurut PBB angkanya naik jadi 70
persen.
Kampanye PBB melawan aksi kekerasan terhadap perempuan yang digelar
setiap 25 November ditujukan kepada rakyat biasa dan komunitas lokal bertujuan
meningkatkan kepedulian pada masalah ini. Media juga harus meliput dan
memberitakan sebanyak mungkin kampanye tersebut. Perilaku harus diubah tanpa
reserve.
Perempuan harus mendapat jaminan hak yang setara, peluang yang sama
dengan lelaki dan dilindungi dari aksi kekerasan serta pelecehan. Sebab hal ini
untuk keuntungan semua pihak. Riset membuktikan, warga di negara dimana
perempuan diakui setara dengan lelaki, biasanya lebih makmur dan lebih bahagia.
Kesetaraan gender merupakan salah satu hak asasi kita sebagai manusia.
Hak untuk hidup secara terhormat, bebas dari rasa ketakutan dan bebas
menentukan pilihan hidup tidak hanya diperuntukan bagi para laki-laki,
perempuan pun mempunyai hak yang sama pada hakikatnya. Sayangnya sampai
saat ini, perempuan seringkali dianggap lemah dan hanya menjadi sosok
pelengkap. Terlebih lagi adanya pola berpikir bahwa peran perempuan hanya
sebatas bekerja di dapur, sumur, mengurus keluarga dan anak, sehingga pada
akhirnya hal di luar itu menjadi tidak penting.
Juga harus dicatat, jika aksi kampanye kesetaraan gender semacam itu
didukung oleh pemerintah dan kalangan politik, perilaku masyarakat biasanya

16
berubah menjadi lebih baik dan positif. Juga kampanye butuh dukungan kaum
lelaki. Tidak ada salahnya, jika kaum lelaki juga bangga disebut sebagai feminis
dan juga bertindak selaras.

17
BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
Hak Asasi Manusia atau HAM adalah hak-hak yang sudah dipunyai oleh
seseorang sejak ia masih dalam kandungan. Hak asasi manusia dapat berlaku
secara universal. HAM di Indonesia bersumber dan bermuara pada Pancasila,
yang artinya bahwa HAM adalah menjadi jaminan filsafat yang kuat dari filsafat
bangsa. Walaupun sudah ada hitam di atas putih, masih banyak saja kejadian
pelanggaran HAM di bumi pertiwi. Contohnya kakus kekerasan gender.
Pelecehan seksual adalah segala tindakan seksual yang tidak diinginkan,
permintaan untuk melakukan perbuatan seksual, tindakan lisan atau fisik atau
isyarat yang bersifat seksual, atau perilaku lain apapun yang bersifat seksual, yang
membuat seseorang merasa tersinggung, dipermalukan atau terintimidasi. Jenis
pelecehan seksual antara lain pelecehan fisik, lisan, isyarat, tertulis atau gambar,
dan psikologis.

3.2. Saran
Banyaknya kasus HAM dan pelecehan seksual terjadi bukan berasal dari
instrument hukum yang kurang melainkan tidak adanya rasa takut dan pengaruh
lingkungan yang tidak mengajarkan bahwa tindakan tersebut merugikan diri
sendiri dan orang lain.

Perlu ditanamkannya pendidikan moral, berawal dari lingkungan keluarga


dan belajar agama. Tidak ada agama yang mengajarkan kepada hal-hal yang
merugikan, tinggal cara kita memandang dan menerapkannya dalam kehidupan
sehari-hari. Perbuatan kecil akan menghasilkan sesuatu yang besar dan
bermanfaat bagi kehidupan.

18
DAFTAR PUSTAKA

International Labor Organization (ILO) : Pedoman Pelecehan Seksual di Tempat


Kerja.

Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (Wetboek van Strafrecht, Staatsblad 1915


No.73)

Lucas, G. 2015. Hentikan Kekerasan Gender. Tersedia Online pada


http://www.dw.com/id/hentikan-kekerasan-gender/a-18084932. [Diakses
tanggal 7 November 2016]

Suryana, A. 2010. Contoh Kasus Gender. Tersedia online pada


http://www.kompasiana.com/azispratama/contoh-kasus-gender-dan
pengertian-teori-konflik_550058e5a33311a872510c45 . [Diakses tanggal
7 November 2016].
Sylviana. 1999. Hukuman Bagi Pelecehan Seksual. Tersedia online pada
http://reformata.com/news/view/519/hukuman-bagi-pelecehan-seksual.
[Diakses tanggal 7 November 2016].

Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana

19