Anda di halaman 1dari 6

0

MATERIAL TESIS

Analisis Managemen Terapi Social Skills Training (SST) di Integrasikan dengan


Pendekatan Dorothy E. Jonhson Behavioral System Model dalam Meningkatkan
Ketrampilan Sosial Pada Pasien Dengan Gangguan Isolasi Sosial

Quasi Experimental Pre-Post Test with Control Group

YUNUS ADI WIJAYA


NIM. 176070300111045

Program Studi Magister Keperawatan Minatan Keperawatan Jiwa


Fakultas Kedokteran
Universitas Brawijaya
2017
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kesehatan adalah keadaan sehat fisik, mental dan sosial, tidak hanya keadaan
tanpa penyakit atau kelemahan, sehingga secara menyeluruh kesehatan jiwa
merupakan bagian dari kesehatan yang tidak dapat dipisahkan (Stuart& Laraia, 2006).
Isolasi sosial adalah keadaan dimana seorang individu mengalami penurunan atau
bahkan sama sekali tidak mampu berinteraksi dengan orang lain disekitarnya (Purba,
dkk. 2008). Klien dengan isolasi sosial seringkali diabaikan oleh keluarga dan
masyarakat. Dalam keadaan seperti ini, diperlukan peran perawat diantaranya
preventif, promotif, kuratif dan rehabilitatif (Videbeck,2008). Penatalaksanaan
masalah isolasi sosial dengan menggunakan teori yang dikembangkan oleh Dorothy
E. Johnson yakni Behavioral System Model. Model ini ditujukan agar keperawatan
lebih mengembangkan fungsi-fungsi perilaku manusia yang secara efektif dan efisien.
Jonhson dalam hal ini juga menjelaskan bahwa perilaku manusia adalah sistem yang
akan dipengaruhi oleh subsistemnya yaitu lingkungan, dan masalah kesehatan.
Subsistem lain yang juga akan memberikan pengaruh terhadap perilaku manusia yaitu
tujuan dari intervensi yang dilakukan oleh perawat dalam rangka memperoleh
kembali kestabilannya. Terapi social skills training merupakan suatu teknik
modifikasi perilaku yang telah banyak dilakukan dan diteliti tingkat keberhasilannya.
Melalui penerapan terapi tersebut, klien memperoleh proses pembelajaran perilaku
dalam meningkatkan kemampuannya dalam berinteraksi dengan orang lain agar dapat
diterima dan dihargai secara sosial ( Ramdhani.N,2002).
Menurut data WHO (2003) menjelaskan bahwa pada tahun 2001
menunjukkan paling tidak satu dari empat orang di dunia atau sekitar 450 juta orang
mengalami gangguan jiwa. Sedangkan di Indonesia sendiri berdasarkan
RisetKesehatan Dasar tahun 2007 (Depkes, 2008). Klien dengan masalah isolasi
sosial yang diberikan terapi social skills training 76,92% berusia antara antara 25
50 tahun. Menurut Erikson (1963, dalam Potter & Perry, 2005 ) bahwa usia tersebut

1
2

tergolong kedalam usia dewasa. Tahap usia dewasa merupakan masa produktif
dimana klien memiliki tuntutan aktualisasi diri baik dari diri sendiri, keluarga
maupun lingkungan. Jenis kelamin yang teridentifikasi dari 13 klien dengan isolasi
sosial menunjukkan bahwa mayoritas (92,31%) adalah laki laki. Hal ini sesuai
dengan penelitian yang dilakukan oleh Renidayati (2008) bahwa isolasi sosial banyak
dialami oleh laki laki dibanding perempuan.
Klien dengan isolasi sosial sebagian besar memiliki tingkat pendidikan rendah yaitu
SD. Menurut Potter dan Perry (2005) bahwa pendidikan lebih tinggi akan
memberikan pengetahuan yang lebih besar sehingga menghasilkan kebiasaan
mempertahankan kesehatan yang lebih baik. Karakteristik pekerjaan pada klien
isolasi sosial mayoritas tidak bekerja. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Townsend
(2005) yang menjelaskan bahwa tingkat sosial ekonomi rendah merupakan salah satu
faktor sosial yang menyebabkan tingginya angka gangguan jiwa termasuk
skizofrenia. Tujuan social skills training adalah untuk menurunkan kecemasan,
meningkatkan kontrol diri pada klen dengan fobia sosial, meningkatkan kemampuan
klien dalam aktifitas bersama, bekerja dan meningkatkan kemampuan sosial klien
skizofrenia (Van Dam Baggen & Kraaimaat, 2000 dalam Kneisl dkk, 2004). Mercer
(1997) menyatakan ada empat kelompok keterampilan sosial yang diajarkan bagi
individu yang mengalami hambatan dalam hubungan interpersonal dengan orang lain,
yakni; 1) Kemampuan berkomunikasi, yaitu; kemampuan menggunakan bahasa tubuh
yang tepat, mengucapkan salam, memperkenalkan diri, menjawab pertanyaan,
menginterupsi pertanyaan dengan baik, kemampuan bertanya dan bertanya untuk
klarifikasi; 2) Kemampuan menjalin persahabatan, yaitu; menjalin pertemanan,
mengucapkan dan menerima ucapan terima kasih, memberikan dan menerima pujian,
3) terlibat dalam aktifitas bersama, berinisiatif melakukan kegiatan dengan orang lain,
meminta dan memberikan pertolongan; 4) Kemampuan dalam menghadapi situasi
sulit, yakni; memberikan dan menerima kritik, menerima penolakan, bertahan dalam
tekanan kelompok dan minta maaf.
Salah satu upaya preventif sekunder yang saat ini banyak digunakan untuk
klien dengan isolasi sosial agar tidak mengarah ke gangguan jiwa berat adalah Social
3

Skills Training (SST). Latihan ketrampilan sosial atau yang sering disebut dengan
SST(Social Skill Training) merupakan salah satu teknik modifikasi perilaku yang
digunakan untuk membantu penderita yang mengalami kesulitan dalam bergaul.
Teknik ini dapat digunakan sebagai teknik tunggal maupun teknik pelengkap yang
digunakan bersama-sama dengan teknik psikoterapi lainnya. Latihan ketrampilan
sosial maksudnya adalah latihan yang bertujuan untuk mengajarkan kemampuan
berinteraksi seseorang dengan orang lain (Ramdhani, 2008). Renidayati (2008),
Dimana setelah diberikan latihan ketrampilan sosial melalui 5 (lima) sesi dan setiap
sesi diulang sebanyak 3 (tiga) kali terjadi peningkatan kemampuan kognitif dan
perilaku. Dan penelitian selanjutnya dapat menyimpulkan bahwa terapi Social Skills
Training (SST) berpengaruh terhadap peningkatan ketrampilan sosial pada klien
isolasi sosial. Upaya penerapan managemen terapi Social Skills Training (SST)
dengan mengembangkan modul Social Skills Training (SST pada klien isolasi sosial
dengan mengacu pada 4 (empat) tahapan social skills training yang dikemukakan
Stuart dan Laraia (2005) yakni melatih kemampuan klien berkomunikasi, menjalin
persahabatan dan menghadapi situasi sulit, dengan menggunakan metode modelling,
role play , performance feedback dan transfer training.

B. Rumusan Masalah
Analisis managemen terapi Social Skills Training (SST) di integrasikan
dengan pendekatan teori Dorothy E. Johnson Behavioral System Model dalam
meningkatkan ketrampilan sosial pada pasien dengan gangguan isolasi sosial.

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui analisis managemen terapi Social Skills Training (SST) di
integrasikan dengan pendekatan teori Dorothy E. Johnson Behavioral System
Model dalam meningkatkan ketrampilan sosial pada pasien dengan gangguan
isolasi sosial.
4

2. Tujuan Khusus
a. Untuk mengidentifikasi analisis managemen
b. Untuk mengidentifikasi terapi Social Skills Training (SST)
c. Untuk mengidentifikasi integrasi pendekatan teori Dorothy E. Johnson
Behavioral System Model
d. Untuk mengidentifikasi ketrampilan sosial
e. Untuk mengidentifikasi pasien gangguan isolasi sosial
f. Untuk menganalisis managemen terapi Social Skills Training (SST) di
integrasikan dengan pendekatan teori Dorothy E. Johnson Behavioral
System Model dalam meningkatkan ketrampilan sosial pada pasien
dengan gangguan isolasi sosial.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Untuk mendapatkan informasi dan perkembangan terbaru dari hasil analisis
managemen terapi Social Skills Training (SST) di integrasikan dengan
pendekatan teori Dorothy E. Johnson Behavioral System Model dalam
meningkatkan ketrampilan sosial pada pasien dengan gangguan isolasi sosial.
2. Manfaat Praktis
a. Bagi Peneliti dan Pembaca
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi dan
menambah wawasan mengenai analisis managemen terapi Social Skills
Training (SST) di integrasikan dengan pendekatan teori Dorothy E.
Johnson Behavioral System Model dalam meningkatkan ketrampilan
sosial pada pasien dengan gangguan isolasi sosial.
b. Bagi Institusi
Diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan kajian dan studi khusus dalam
ilmu keperawatan jiwa berbasis evidance based dan dalam pemberian
asuhan keperawatan kesehatan jiwa terpadu berbasis masyarakat.
5

c. Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam memilih terapi
yang efektif dan maksimal kepada semua pasien dengan gangguan jiwa.
d. Bagi Peneliti Selanjutnya
Harus selalu dilakukan penelitian lebih lanjut guna mendapatkan
penambahan sumber dan hasil yang aktual dalam pemberian terapi
ketrampilan sosial tidak hanya pada pasien dengan isolasi sosial saja.