Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

SUMBER DAYA ALAM

PROSES PENGOLAHAN EMAS MENGGUNAKAN


SIANIDA DENGAN METODE HEAP LEACHING

DOSEN PENGAMPU : Juliananda, S.T, M.Sc

Oleh:
Reyhan Ammar (165061100111003)

TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

2017

1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Tuhan sehingga kami bisa menyelesaikan makalah


dengan judul Proses Pengolahan Emas dengan Sianida Menggunakan Metode
Heap Leaching. Makalah ini kami tulis untuk memenuhi tugas mata kuliah
Sumber Daya Alam sesuai dengan petunjuk dan bimbingan yang diberikan oleh
dosen kami.

Kami mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu dan sejumlah


pihak yang turut membantu proses penyusunan makalah yang kami buat. Saran dan
kritik yang membangun akan sangat kami harapkan untuk perbaikan ke depan.
Kami berharap agar makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya.

Malang, 31 Juli 2017

2
DAFTAR ISI

BAB I: PENDAHULUAN 4
BAB II: PEMBAHASAN 6
2.1. Pengertian Ekstraksi dan Leaching 6
2.2. Metode Pengolahan Emas 7
2.3. Proses Pengolahan Emas Menggunakan Sianida
Menggunakan Metode Heap Leaching 11
2.3.1. Crushing&Milling 12
2.3.2. Sianidasi dengan Metode Heap Leaching 13
2.3.3. Carbon Adsorption (CIP Method) 16
2.3.4. Acid Washing&Elusi 18
2.3.5. Electrowinning 19
2.3.6. Kalsinasi, Smelting, dan Refining 21
BAB 3 PENUTUP 22
DAFTAR PUSTAKA 23

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang

Emas adalah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Au
dan nomor atom 79. Emas merupakan logam transisi yang banyak terdapat di
nugget emas atau serbuk di bebatuan. Emas merupakan logam yang bersifat lunak
dan mudah ditempa, kekerasannya berkisar antara 2.5 3 (skala Mohs), serta berat
jenisnya tergantung pada jenis dan kandungan logam lain yang berpadu dengannya.
Mineral pembawa emas biasanya berasosiasi dengan gangue minerals seperti
kuarsa, karbonat, dan sejumlah kecil mineral non logam.

Emas tergolong sebagai salah satu logam paling berharga dan paling mahal
nilainya dibandingkan dengan jenis-jenis logam lainnya. Selain digunakan sebagai
perhiasan dan barang elektronik, dalam skala yang lebih luas emas juga digunakan
sebagai standar keuangan di banyak negara dan diperhitungkan dalam dunia
moneter. Penggunaan emas dalam bidang moneter dan keuangan berdasarkan nilai
moneter absolut dari emas itu sendiri terhadap berbgai mata uang di seluruh dunia.
Bentuk penggunaan emas dalam bidang moneter umumnya dalam bentuk bulion
atau batangan emas dalam berbagai satuan berat gram sampai kilogram.

Dengan mengetahui keutamaan logam emas dalam dunia moneter dan


kehidupan bernegara, maka sangat penting untuk dilakukan proses pengolahan
emas yang tepat sehingga diproduksi batangan emas dengan kualitas yang terbaik.
Proses pengolahan emas memiliki metode yang bermacam-macam dan yang akan
dibahas di sini adalah menggunakan metode sianidasi. Metode sianidasi sendiri
memiliki tahapan leaching yang dapat diklasifikasikan berdasarkan tempat
dilakukannya proses leaching tersebut, dan yang dibahas di sini adalah
menggunakan metode heap leaching. Setelah proses leaching dilakukan, ada dua
pilihan metode untuk proses gold recovery, yaitu metode carbon adsorption
(adsorpsi karbon) dan metode zinc precipitation (pengendapan zinc). Pada

4
pembahasan kali ini metode yang akan dibahas adalah carbon adsorption dan jenis
dari carbon adsorption itu sendiri masih terbagi 3, yaitu carbon in pulp (CIP),
carbon in leach (CIL) dan carbon in liquid (CIL). Metode yang akan diterangkan
pada pembahasan kali ini adalah metode yang pertama yaitu carbon in pulp (CIP).

1.2.Rumusan Masalah
1. Apakah metode yang digunakan dalam proses pengolahan emas?
2. Bagaimana proses pengolahan emas menggunakan sianida dengan metode
heap leaching?

1.3.Tujuan

Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut:

1. Mengetahui metode yang digunakan dalam proses pengolahan emas


2. Mengetahui proses pengolahan emas menggunakan sianida dengan metode
heap leaching

1.4.Manfaat

Manfaat yang dapat diambil agar pembaca mampu mengenal proses pengolahan
emas yang efektif sampai menghasilkan bulion (batangan emas) dengan disertai
pertimbangan-pertimbangan dalam pemilihan metodenya.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Ekstraksi dan Leaching


Untuk memisahkan satu atau lebih komponen dalam campuran, campuran harus
dikontakkan dengan fase lain, yang dikenal dengan proses ekstraksi. Ekstraksi
adalah pemisahan satu/beberapa bahan dari suatu padatan/cairan dengan bantuan
suatu pelarut (solvent). Proses ekstraksi sendiri dibedakan menjadi 2 macam, yaitu
(1) ekstraksi cair-cair dan (2) ekstraksi padat-cair (leaching).

1. Ekstraksi cair-cair/ekstraksi pelarut digunakan sebagai alternatif untuk


melakukan pemisahan selain dengan distilasi / evaporasi. Pada ekstraksi
cair-cair, satu komponen bahan/lebih dari suatu campuran dipisahkan
dengan bantuan pelarut. Ekstraksi cair-cair biasa digunakan jika
pemisahan dengan distilasi tidak memungkinkan (misalnya karena
terbentuk azeotrop, kurang ekonomis, dll).

2. Ekstraksi padat-cair (leaching). Untuk memisahkan suatu zat yang


diinginkan maupun yang tidak diinginkan dari suatu solid, maka solid
dikontakkan dengan fase liquid/cair. Kedua fase tersebut akan
mengalami kontak dan solut (zat yang ingin diekstrak) aka berdifusi dari
solid menuju fase liquid sehingga solut yang tadinya dari fase solid
dapat dipisahkan. Proses pemisahan inilah yang disebut dengan
leaching.

Leaching banyak dipakai dalam dunia industri termasuk dalam pemrosesan


logam. Biasanya logam yang bermanfaat berada dalam campuran dengan jumlah
konstituen tak diinginkan yang cukup besar. Leaching dipakai untuk memisahkan
logam sebagai garam yang terlarut.

Pada proses leaching, mekanismenya adalah solvent ditransfer menuju


permukaan solid, kemudian solven berdifusi atau masuk ke dalam solid. Lalu solut

6
yang ada dalam solid berdifusi ke solven. Sulut yang sudah terlarut dalam solven
berdifusi menuju permukaan lalu ditrasnfer ke pelarut. Umumnya mekanisme
proses ekstraksi dibagi menjadi 3 bagian:

Perubahan fase solut untuk larut ke dalam pelarut, misalnya dari


padat menjadi cairan
Difusi melalui pelarut di dalam pori-pori untuk selanjutnya keluar
dari partikel
Akhirnya perpindahan solut ini dari sekitar partikel ke dalam larutan
keseluruhannya

Jadi proses leaching dapat dilakukan dalam 3 macam:

1. Pelarutan solute
2. Pemisahan larutan terhadap ampas padat
3. Pencucian ampas padat.

2.2. Metode Pengolahan Emas


Seperti yang telah dijelaskan pada bab 1, ada beberapa alternatif pemilihan
metode yang dapat digunakan untuk melakukan pengolahan emas. Metode-
metode tersebut antara lain sebagai berikut:

1. Amalgamation (with Mercury)


2. Gravity Concentration (using jogs, tables, spirals, Reichert cone, dll.)
3. Flotation (as free particle or contained in base metal sulfide concentrates)
4. Pyrometallurgy (in the smelting and refining of base metal ores and
concentrates)
5. Hydrometallurgy (direct cyanidation, cyanidation with carbon adsorbion,
heap-leach and chlorination-leach)
6. Refractory ore processing (Eugene&Mujumdar, 2009).

Metode dasar yang paling umum digunakan adalah cyanidation (sianidasi),


flotation (flotasi), dan menggunakan gravity concentration (konsentrasi gravitasi).
Metode sianidasi memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan metode

7
sebelumnya yang lebih konvensional yaitu metode amalgamasi menggunakan
merkuri.

Penggunaan metode sianidasi meningkatkan recovery emas dari di bawah


70% menjadi lebih dari 90%. Hal tersebut menyebabkan metode ini lebih disukai
dari pada metode sebelumnya yang menggunakan amalgamasi. Pada metode
amalgamasi, mineral emasnya terbungkus dalam batu kapur/batuan silika yang
halus dan mempunyai grade yang rendah yang kurang ekonomis. Amalgamasi
sendiri adalah proses penyelaputan partikel emas oleh air raksa (Hg). (Diantoro,
2010).

Sianidasi adalah metode standar yang dipakai secara luas di seluruh dunia.
Cyanide adalah pelarut universal dalam pengolahan emas. Proses sianidasi terdiri
dari 2 tahapan penting, yaitu proses pelarutan dan proses pemisahan emas dari
larutannya. Pelarut yang biasa digunakan dalam proses sianidasi adalah NaCN,
KCN, Ca(CN)2, atau campuran ketiganya. Pelarut yang paling umum digunakan
adalah NaCN karena mampu melarutkan emas lebih baik dari pelarut lainnya.
(Diantoro, 2010)

Proses sianidasi dipatenkan pada tahun 1887 oleh JS McArthur. Proses ini
pertama kali digunakan pada tambang-tambang sebagai berikut:

Ekstraksi emas dengan menggunakan metode leaching sianida pada saat ini
merupakan proses yang paling utama digunakan dalam proses ekstraksi emas dalam
skala industri, hal ini disebabkan oleh metode ini menawarkan keuntungan dengan
teknologi yang lebih efektif dan efisien. (Diantoro, 2010)

8
Ada tiga jenis leaching dalam pengolahan emas, yaitu heap leaching, vat
leaching, dan agitated tank leaching. Metode yang digunakan dalam pembahasan
kali ini adalah metode menggunakan heap leaching.

Heap leaching dalam penggunaannya memiliki beberapa kelebihan dan


kekurangan. Kelebihan dari penggunaan heap leaching adalah:

1. Lebih hemat energi. Heap leaching dapat dilakukan pada batu -3/4 inchi,
sementara pada agitated leaching (konvensional) memerlukan reduksi
sampai -200 mesh yang membutuhkan grinding mills yang besar dengan
konsumsi 1 horsepower per ton per hari dari kapasitasnya.
2. Langkah pemisahan solids-liquid tidak diperlukan di heap leaching
3. Bantalan / leaching pad dapat dibiarkan saja di tempat setelah reklamasi
4. Biaya jauh lebih rendah dibandingkan agitated leaching dikarenakan tidak
membutuhkan tangki-pengaduk dan peralatan lainnya.
(Eugene&Mujumdar, 2009).

Adapun kekurangan dalam penggunaan heap leaching adalah:

1. Gold recovery yang rendah


2. Bijih yang ditumpuk harus memungkinkan supaya larutan sianida mampu
menetes melewatinya. Bijih dengan kandungan clay yang tinggi akan
menghambat aliran sianida. Masalah ini diselesaikan dengan aglomorasi
sebelum penumpukan.
3. Jika curah hujan tinggi maka akan menganggu keseimbangan pada
kandungan larutan sehingga membutuhkan perlakuan dan pembuangan air.
4. Tidak cocok pada tempat yang sangat dingin, karena pembekuan
tumpukan dapat menyebabkan gold recovery yang rendah.
5. Pencairan es dan salju dapat menyebabkan akumulasi larutan leaching
yang berlebihan. (Eugene&Mujumdar, 2009).

9
Secara umum metode proses pengolahan emas dapat dilihat pada bagan berikut:

Gambar 2.1. Skema metode pengolahan emas

Dari bagan di atas dapat dilihat proses pengolahan emas menggunakan


metode sianidasi heap leaching adalah sebagai berikut: crushing milling
cyanidation (heap leaching method) elution electrowinning smelting
refining. Setelah proses heap leaching terdapat dua pilihan lagi untuk proses
recovery emas, antara carbon adsorption (elution) dan zinc precipitation (Merill-
crowe process). Adapun perbandingan antara kedua metode tersebut adalah sebagai
berikut:

Pada proses carbon-in-pulp, unit operasi untuk pemisaha leached ore solids
dan liquid cenderung lebih sedikit. Untuk bijih dengan pengendapan yang lama atau
filtration rates yang lama, seperti disebabkan oleh kandungan clay yang tinggi,
maka metode countercurrent decantation (CCD) adalah yang paling tepat.
(Eugene&Mujumdar, 2009).

10
Bijih dengan kandungan perak yang tinggi, akan lebih baik jika
menggunakan metode Merrill-Crowe. Hal ini dilakukan karena karbon dengan
jumlah sangat besar akan dikeluarkan dan proses elektrowining akan dibutuhkan
untuk memproses perak dengan jumlah yang besar. (Eugene&Mujumdar, 2009).

Proses menggunakan carbon adsorption lebih umum digunakan karena


digunakan oleh 70% pabrik emas yang ada di dunia. Selain itu unit operasinya juga
lebih sedikit sehingga lebih efisien dibandingkan dengan metode zinc precipitaion
(Merrill-Crowe).

2.3. Proses Pengolahan Emas Menggunakan Sianida


dengan Metode Heap Leaching

Proses pengolahan emas menggunakan siadina secara umum dapat


dijelaskan melalui bagan berikut:

Gambar 2.2.Diagram proses pengolahan emas menggunakan sianida/heap leaching

Secara umum, ada 8 tahapan proses yang dilalui, yaitu (1) crushing, (2)
milling, (3) heap leaching, (4) carbon adsorption, (5) acid washing, (6) elution, (7)
electrowinning, dan (8) calcination, smelting, dan refining.

Tahapan proses pengolahan emas secara singkat dapat dijelaskan melalui


penjelasan sebagai berikut:

11
1. Bijih emas dicrush dalam cone crusher sampai ukurannya sebesar 12 mm.
2. Bijih yang telah dicrush kemudian digiling basah di dalam tube mills untuk
membentuk pulp yang mengandung 75% dari partikel dengan ukuran
75micron.
3. Pulp diolah dengan sodium sianida (NaCN) dengan menggunakan metode
heap leaching. NaCN ini akan melarutkan partikel emas & perak, yang
memungkinkan terjadinya reaksi berikut:

4. Larutan hasil sianidasi akan dikontakkan dengan karbon sehingga


menghasilkan ikatan antara karbon dengan emas pada serangkaian agitated
tank
5. Larutan final loaded carbon akan dicuci dengan asam dan dilajutkan dengan
elusi
6. Melalui proses electrowinning emas akan mengendap di katoda dan air akan
mengalami oksidasi membentuk oksigen di anuda
7. Perak akan dipisahkan melalui pemurnian (refining) dengan elektrolisis dan
emas murni akan diperoleh. (Chatterjee, 2007).

Adapun penjelasan mengenai masing-masing proses akan dijelaskan lebih


detail pada sub materi di bawah ini.

2.3.1. Crushing dan Milling


Proses crushing dilakukan di cone crusher sampai diperoleh ukuran bijih
emas sebesar 12 mm.

12
Gambar 2.3. Cone crusher

Setelah crusher, proses selanjutnya adalah penggilingan di tube mills yang


disebut pula aglomerasi/peletisasi.

Batuan yang banyak mengandung partikel kecil (-200 mesh) membutuhkan


persiapan sebelum menghadapi proses leaching agar berjalan efektif sebab partikel
ini akan menutupi aliran larutan sianida. Aglomerasi adalah teknik agregasi partikel
kecil untuk memperbesar ukuran partikel. Teknik aglomerasi meliputi:

1. Mencampur dan mengaduk bijih dengan semen Portland dan atau batu
kapur agar tetap dalam kondisi alkalin (basa)
2. Membasahi biji umpan dengan larutan sianida sebelum diletakkan pada
leaching pad
3. Membolak-balikkan partikel kecil (seperti pengadukan semen
menggunakan molen) sehingga ukurannya menjadi lebih besar. (Diantoro,
2010).

2.3.2. Sianidasi dengan Heap Leaching Method

Proses sianidasi adalah proses yang paling umum pada ekstraksi emas.
Proses ini melibatkan penguraian emas (dan juga perak yang ada dalam bentuk
larut) dari bijih yang telah digiling pada suatu larutan sianida yang encer (biasanya
NaCN atau KCN) dengan adanya kehadiran lime dan oksigen berdasarkan reaksi
berikut:

13
Dengan konsentrasi sianida yang optimum (sekitar 0.05% NaCN), partikel emas
yang bersih akan larut pada rate 3.25 mg/sq cm/hour sementara untuk perak
memiliki rate satu setengahnya. (Eugene&Mujumdar, 2009).

Dalam dunia industri, penambahan lime pada pulp sianida berguna untuk
mencegah hidrolisis dan untuk menetralisasi segala konstituen asam yang hadir
pada bijih. Keuntungan lain dengan penambahan lime ini adalah mendekomposisi
bikarbonat pada air. (Eugene&Mujumdar, 2009).

Proses sianidasi dapat dilakukan dengan metode heap leaching. Belakangan


ini Heap leaching (pelindihan tumbukan) telah dikembangkan sebagai suatu proses
pengolahan mineral logam berkadar rendah yang efisien. Dibandingkan dengan
sianidasi konvensional dengan tangki berpengaduk, heap leaching mempunyai
beberapa kelebihan, di antaranya adalah (1) desain yang lebih sederhana, (2) biaya
operasi yang murah, dan (3) investasi lebih sedikit. (Diantoro, 2010)

Recovery heap leaching berkisar 60% sampai dengan 80%. Dalam skala
besar teknologi ini pertama kali diterapkan di tambang emas Carlin, Nevada pada
tahun 1970. (Diantoro, 2010)

Fondasi pelindihan (leaching pad) bisa dibuat secara permanen


menggunakan lantai beton atau dengan pengerasan pondasi dan dilapisi geo
membrane (high density polyethylene). Pelindihan memerlukan beberapa minggu
tergantung jenis dan ukuran batuan. (Diantoro, 2010)

Heap leaching melalui tahapan proses sebagai berikut:

1. Persiapan pondasi pelindihan dengan sudut 1 sampai dengan 6 atau lebih


untuk drainase.
2. Crushing batuan menjadi ukuran sampai dengan 1 inci
3. Menempatkan batuan pada tempat pelindihan

14
4. Menyemprotkan larutan sodium cyanide (NaCN) dengan spray (umumny1
kg NaCN per ton larutan)
5. Mengumpulkan larutan untuk proses selanjutnya

Heap leaching diperkenalkan pada tahun 1970-an untuk menurunkan biaya


recovery emas secara signifikan. Proses ini digunakan oleh banyak tambang untuk
mengambil sumber geologi kelas rendah dan mengubahnya menjadi bijih yang
bernilai tinggi. (Eugene&Mujumdar, 2009)

Heap leaching dilakukan dengan cara meletakkan bijih (ore) yang telah di-crush
pada suatu tumpukan yang dibangun di atas suatu impervious liner. Larutan sianida
diberikan dengan cara di-spray pada bagian atas dari tumpukan dan larutan akan
meresap ke bawah melalui tumpukan dan akan me-leaching emas. Larutan yang
kaya emas / gold pregnant solution akan mengalir dari dasar tumpukan dan
dikumpulkan untuk proses recovery emas dengan metode carbon adsorption atau
zinc precipitation. Sementara sisanya akan di-recycle kembali ke tumpukan.
(Eugene&Mujumdar, 2009)

Proses heap leaching membutuhkan waktu 60-90 hari untuk memproses bijih.
Recovery emasnya sekitar 60-80%. Jika menggunakan proses leaching
konvensional, waktu yang dibutuhkan 24 jam saja sedangkan recovery emasnya
sebesar 85-95%. (Eugene&Mujumdar, 2009)

Sementara itu penjelasan yang lebih detail pada proses sianida menggunakan
metode heap leaching adalah sebagai berikut:

Bijih dengan kadar emas sangat rendah yang mengandung emas sekitar 0.4-0.7
gm (1 kg = 103 gm) dicampur dengan semen yang berperan sebagai binder (bahan
pengikat). Kemudian campuran akan mengalami gerakan rotasi yang lama di mana
terjadi proses peletisasi (proses dimana pembentukan/penekanan material sehingga
berbentuk pelet).

Pelet akan ditumpuk dengan bentuk undakan/tingkatan di atas sebuah alas


yaitu polythene sheets (dengan tujuan untuk mencegah kebocoran larutan sianida
ke dalam tanah), lalu dialirkan dengan larutan yang mengandung 0.2% NaCN.

15
Setelah sekitar 15 hari akan diperoleh effluent yang kaya akan emas. Effluent ini
akan melewati karbon dalam larutan, sehingga dengan menjalankan proses ini maka
akan diperoleh recovery emas dengan persentase di atas 50% dari bijih yang diolah.
(Chatterjee, 2007).

Gambar 2.4. Heap Leaching

2.3.3. Carbon Adsorption (CIP Method)

Setelah dilakukan heap leaching, pregnant leach solution (PLS) yang telah
mengandung emas akan dikontakkan dengan carbon. Ada 3 metode yang umum
digunakan, yaitu:

Carbon in Pulp (CIP): Menggunakan seragkaian agitated tank yang akan


menjadi tempat terjadinya kontak antara pregnant solution (hasil leaching)
dengan karbon dan merupakan metode paling konvensional. Secara umum
biaya CIP lebih mahal dari CIL dan membutuhkan lebih dari satu agitator,
namun di sisi lain memiliki beberapa keunggulan, yaitu tingkat efisiensi
adsorbsi karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan CIL dan waktu
resensi adsorbsi yang relatif lebih cepat.
Carbon in Leach (CIL): Penggabungan proses leaching dengan carbon-in-
pulp dalam suatu agitated tank dengan ukuran yang lebih besar dari CIP.
Biasanya digunakan jika bijih emas mengandung native carbon yang dapat
menghambat proses recovery emas. Dikarenakan proses leaching dan
carbon adsorption digabung dalam suatu unit, konsentrasi karbon yang ada
menjadi sehingga kemampuan untuk gold recovery-nya tidak sebaik CIP.
Selain itu proses adsorbsi tidak berjalan efisien dan waktu resensinya lebih

16
lama. Namun biaya operasional metode CIL lebih rendah dibandingkan CIP
dan hanya membutuhkan 1 agitator pada tank tersebut.
Carbon in Column (CIC): Menggunakan serangkaian fluidized bed
column (umumnya dengan atap terbuka).Mampu mengolah pregnant
solution dengan kandungan solid 2-3%

Dengan berbagai pertimbangan tersebut maka proses carbon adsorption yang


digunakan adalah carbon-in-pulp.

Proses ini akan mengontrol pengendapan emas dari larutan sianida dengan
menggunakan arang teraktivasi (karbon). Biasanya karbon ini diperoleh dari batok
kelapa karena memiliki daya tahan yang baik an memiliki kemampuan adsorbsi
yang tinggi untuk emas dan perak sianida. (Eugene&Mujumdar, 2009)

Teknik pengerjaannya adalah dengan memberikan kontak antara leached pulp


dengan granular karbon pada serangkaian agitating tanks dengan waktu retensi
yang cukup. Karbon akan di-recycle melalui sirkuit untuk menambah muatan
sekitar 8-10% dari beratnya. Dengan alat vibrating screen yang sesuai, arang akan
dipisahkan dari pulp, karena alat ini akan membiarkan pulp untuk lolos sementara
karbon akan tertahan. Kemudian karbon akan dibawa ke stripping column untuk
diregenerasi. Teknik ini dapat digunakan pada bijih emas dengan kadar rendah.
(Eugene&Mujumdar, 2009)

Gambar 2.5. Proses Aliran Carbon in Pulp

Pada proses ini, leached pulp dan karbon akan dirtansfer menggunakan
sistem pengaturan aliran counter-currrent pada serangkaian tank (jumlah tank

17
sekitar 4-6). Pada tank terakhir, karbon segar / barren carbon akan dikontakkan
dengan larutan tailings dengan kadar emas yang rendah. Dikarenakan karbon segar
memiliki aktivitas yang tinggi maka akan mampu melepaskan sejumlah emas dari
larutan itu(pada level di bawah 0.01 mg/L Au pada larutan). (Eugene&Mujumdar,
2009)

Seiring dengan pergerakannya antar tank karbon maka akan memuat


konsentrasi emas yang semakin tinggi, dikarenakan ia mengalami kontak dengan
larutan dengan kadar yang lebih tinggi. Pada bagian final loaded carbon paling
tidak kandungan konsentrasi emasnya adalah sebesar 4000 sampai 8000 gram per
ton karbon; karena pada bagian itu karbon mengalami kontak dengan leached ore
segar dan pregnant leach solution (PLS) yang kaya akan kadar emas. Reaksi yang
terjadi adalah sebagai berikut:

C OH + Au(CN)2- C Au(CN)2 + OH-


C OH + Ag(CN)2- C Ag(CN)2 + OH-

2.3.4. Acid Washing & Elusi

Proses selanjutnya, The final loaded carbon akan mengalami pencucian


asam / acid washing sebelum mengalami elusi/desorpsi emas sianida pada suhu
dan pH yang tinggi. Tujuan dari proses pencucian asam adalah menghilangkan
endapan-endapan (scales) seperti karbonat pada pori-pori karbon sehingga pori-pori
mikro karbon dapat terbuka kembali dan digunakan untuk proses adsorpsi pada
siklus berikutnya. Asam yang digunakan dalam proses pencucian adalah asam
klorida (HCl), asam nitrat (HNO3). (Eugene&Mujumdar, 2009)

Setelah pencucian asam selesai, karbon dibilas dengan air selama kurang
lebih 2 jam untuk menghilangkan asam-asam sisa yang menempel pada karbon.
Larutan asam dan bilasan yang telah digunakan akan dibuang ke pengental tailing.
Proses pencucian asam dapat dilakukan dalam kolom elusi maupun di dalam tangki
yang terpisah khusus untuk pencucian asam ini.

18
Proses selanjutnya adalah elusi. Elusi adalah proses pelepasan emas dan
perak terlarut dari karbon sehingga akan terbentuk air yang kaya akan emas dan
perak. Dengan proses elusi, karbon aktif akan dapat digunakan kembali untuk
proses di carbon in pulp sehingga dapat mengurangi biaya proses pengolahan.
Proses elusi akan berjalan lebih cepat jika ditambahkan dengan 10% alkohol pada
temperatur 60-80 celcius dan ditunjang dengan penambahan tekanan.
(Eugene&Mujumdar, 2009)

Gambar 2.6. Proses Carbon Adsorption & Elusi

2.3.5. Electrowinning

Setelah proses elusi, larutan eluate yang kaya akan emas akan diteruskan
untuk proses di electrowinning cells di mana emas dan logam lain akan diendapkan
di atas katoda. (Eugene&Mujumdar, 2009)

Elektrowinning disebut pula electroextraction, yaitu elektrodeposisi logam dari


bijihnya yang telah dimasukkan ke dalam larutan/cairan. (Eugene&Mujumdar,
2009)

Pada elektrowinning, listrik dialirkan dari inert anode melewati larutan liquid
leach yang mengandung logam sehingga dengan demikian logam (emas) dapat
diekstrak pada permukaan katode. Emas akan diendapkan pada permukaan katoda
yang terbuat dari baja wool (steel wool). Anoda yang digunakan terbuat dari
stainless steel sedangkan katoda terbuat dari mild steel wool. Proses pengendapan

19
emas di katoda diikuti oleh oksidasi air di anoda sebagaimana ditunjukkan oleh
reaksi elektrokimia sebagai berikut:

Katoda : Au(CN)2- + e- Au + 2CN-


Anoda : 2H2O 4H+ + O2 + 4e-

Gambar 2.7. Electrowinning

Sesudah proses electrowinning selesai, katoda dikeluarkan dari sel; lumpur


(sludge) pada dasar sel dicuci dan dipompakan ke dalam filter bertekanan (filter
press). Filter cake kemudian dicampur dengan fluks, umumnya borax, soda ash dan
diumpankan ke dalam sebuah tanur induksi (induction furnace). Temperatur
peleburan pada tanur induksi adalah sekitar 1200oC. Dalam proses peleburan di
dalam tanur induksi ini terjadi pemisahan dore bullion dan terak (slag). Terak
kemudian dituang ke dalam pot terak (slag pot), sedangkan dore bullion dicetak
dalam bentuk ingot untuk dikirimkan ke pabrik pemurnian. (Chatterjee, 2007)

Setelah pengendapan, produk akan diberi larutan asam sulfat untuk


melarutkan residual zinc dan sebagian besar tembaga (jika ada). Residu kemudian
dicuci, dikeringkan, dan dilelehkan dengan fluks. Sementara itu paduan emas dan
perak (dore) akan dilanjutkan dengan proses refining (pemrunian) menggunakan
elektrolisis di mana perak dan elemen platina akan dipisahkan. (Chattejee, 2007)

20
2.3.6. Kalsinasi, Smelting, dan Refining

Sebelum katoda dari proses elctrowinning di-smelting, dilakukan proses


kalsinasi dengan tujuan untuk mengoksidasi steel wool dan impurities seperti
tembaga. Impurities oksida akan dengan mudah dilepaskan ke slag ketika proses
smelting. Jika tidak dikalsinasi, maka pada proses smelting akan membutuhkan flux
yang lebih banyak, panas yang lebih banyak dan waktu yang lebih lama. Flux
adalah material yang ditambahkan ke bahan untuk menyempurnakan proses
oksidasi impurities dan menghilangkannya dari emas. Flux umumnya berupa
borax/soda ash/silika. (Electrowinning&Smelting Resource Book, p. 10)

Setelah dicampur dengan flux, maka dilanjutkan untuk proses smelting


untuk membentuk batangan yang belum murni. Batangan ini akan dilakukan proses
refining (pemurnian) untuk memisahkan tembaga dan perak. Tujuan smelting
adalah untuk menghasilkan bullion yang mengandung paling tidak 95% emas-
perak. Keberhasilan proses smelting ditentukan dari kualitas slag (terak) yang
terbentuk. Idealnya slag tidak mengandung emas/perak sama sekali.
(Electrowinning&Smelting Resource Book, p. 11)

Setelah terbentuk bullion dari proses smelting, dilanjutkan proses


pemurnian emas untuk memisahkan komponen perak dari emas melalui proses
elektrolisis dan emas murni telah diperoleh.

21
BAB III
PENUTUP
Simpulan

Proses pengolahan emas salah satunya dapat dilakukan dengan


menggunakan sianida pada proses heap leaching. Tujuan dari penambahan sianida
tersebut agar dapat melarutkan kandungan emas pada pregnant leach solution
(PLS). Metode heap leaching adalah proses leaching yang dilakukan di suatu
leaching pad di mana bijih emas diletakkan di tumpukan yang bersusun dan dialiri
oleh sianida.

Pregnant leach solution (PLS) yang terbentuk akan dikontakkan dengan


karbon melalui proses yang disebut carbon-in-pulp (CIP) sehingga karbon akan
berikatan dengan emas dan perak. Setelah final loaded carbon dicuci dengan asam,
dilakukan proses elusi untuk melepaskan emas dan perak yang ada dari karbon
tersebut. Setelah itu eluate akan di-electrowinning untuk mengendapkan kandungan
emas pada katoda. Pada tahap terakhir, emas akan di-smelting dan dicetak dalam
bentuk bulion.

22
DAFTAR PUSTAKA

Budhikarjono, Kusno. 1996. Diktat Kuliah Alat Industri Kimia, edisi


pertama pp. 99-101, Institut Sepuluh Nopember, Surabaya.

Chatterjee, K.K. 2007. Use of Metals and Metallic Minerals. New Age
International Ltd., Publisher, New Delhi.

Diantoro, Yimi. 2010. Emas: Investasi & Pengolahannya. Jakarta: PT


Gramedia Pustaka Utama

Metalliferous Mining-Processing: Electrowinning and Smelting Resource


Book

Eugene, Wong Wai Leong dan Arun S. Mujumdar. 2009. Gold Extraction
and Recovery Processes. Minerals, Metals, and Materials Technology Centre
(M3TC) Faculty of Engineering, National University of Singapore.

Geankolpis, C.J., 2003. Transport Processes and Seperation Process


Principles (includes Unit Opeartions), 4th edition, pp 776-777, 802-806. Prentice
Hall, New Jersey.

23