Anda di halaman 1dari 3

Teori Kesiapan Belajar

Tiga teori sangat berbeda yang menjelaskan kesiapan telah memengaruhi pemikiran kita
tentang kesiapan. Tiga teori besar yang biasanya menjelaskan kesiapan adalah teori
maturationalist, behaviorist, dan constructivist.
1. Teori Maturasional G. Stanley Hall (1844-1929) dan Arnold Gessel (1880-1961)
mengemukakan teori formal maturasional. Teori maturasional beranggapan bahwa
pertumbuhan bergerak maju lewat serangkaian tahap yang tidak berubah, setiap tahap dicirikan
oleh struktur organism yang berbeda secara kualitatif dan pola interaksi yang berbeda secara
kuantitatif antara organism dan lingkungannya. Pertumbuhan dan pembelajaran, menurut teori
kematangan, dikarenakan adanya mekanisme fisiologi internal dan pertumbuhan mereka yang
teratur dan berurutan ketimbang faktor lingkungan.
Teori maturasional bisa menghasilkan praktik kesiapan yang melakukan hal-hal berikut :
• Memakai patok duga yang kaku mengenai pertumbuhan dan perkembangan normal
untuk menentukan apakah anak-anak siap.
• Mengacaukan antara apa yang dilakuka anak-abnak dan hasil akhir pendidikan. Patok
duga perkembangan manusia dijadikan kurikulum.
• Memeberi pesan pasif kepada para guru.
• Mengabaikan peran lingkuangan dan pembinaan pada pertumbuhan, perkembangan,
dan pembelajaran manusia. Sebaliknya, teori maturasional bisa sangat berguna untuk
memahami kesiapan karena hal-hal berikut:
• Menerima pandangan bahwa belajar merupakan kegiatan biologis yang normal. Anak-
anak tidak perlu dipujuk, diajak, dipaksa, dimanipulasi, atau diakali supaya mereka belajar. •
Anak-anak sesungguhnya bertumbuh lewat cara yang dapat diramalkan. Kendati demikian, ada
variasi lluas dlam pertumbuhan dan perkembangan anak, hal-hal yang universal dari
perkembangan manusia tidak bisa diingkari.
• Pengetahuan tentang pertumbuhan dan perkembangan member pedoman mengenai
praktik. Praktik kurikulum yang tidak berdasarkan pengetahuan tentang kematangan bisa gagal.

2. Teori Behaviorisme Berbagai teori behaviorisme tentang kesiapan dan pembelajaran


bertentangan secara diametris dengan teori maturasional. Jika teori maturasional beranggapan
bahwa kesiapan dan pembelajaran itu terbentuk lebih dahulu di dalam diri individu, maka teori
behaviorisme menganut pendapat bahwa kesiapan dan pembelajaran itu diletakkan pada
individu dari luar. Teori behaviorisme percaya bahwa semua pengetahuan berasal dari kesan
indra, baik sebagai salinan langsung dari kesan indra (gagasan sederhana) atau sebagai

1
kombinasi dari beberapa gagasan sederhana atau rumit. Manusia, seperti halnya semua
mamalia, memiliki struktur netral bagi pembentukan asosiasi antara masukan (input) dan
keluaran (output) indra. Ini berate bahwa semua manusia mempunyai kemampuan
memperoleh hubungan stimulus-respons atau kebiasaan, dan perkembangan mental serta
pembelajaran yang terlibat bergerak maju dalam bentuk teratur, hierakis, atau progesif.
Teori behaviorisme menekankan peran aktif kekuatan eksternal dalam pertumbuhan,
perkembangan dan pembelajaran anak. Setidaknya, teori ini bisa membawa praktik-praktik
kesiapan mengenai hal-hal berikut :
• Turunkan kesiapan menjadi serangkaian keterampilan terpisah yang diajarkan lewat
latihan berulang dan praktk yang disertai penguatan kembali yang sesuai.
• Latihan kesiapan sebagai proses yang berurutan, garis lurus, bertingkat-tingkat, akan
mengabaikan konteks budaya di tempat anak-anak belajar.
• Manipulasi atau kendalikan anak-anak lewat jadwal penguatan eksternal, dengan
mengajarkan mereka agar menaruh kepercayaan kepada orang lain yang akan membuat
keputusan bagi mereka.
Pada puncaknya, teori behaviorisme tentang perkembangan bisa membawa praktik
kesiapan mengalami hal-hal berikut:
• Efektif. Karena teori-teori itu meminta para guru membuat spesifikasi apa yang harus
dipelajari anak-anak dan bagaimana memperlajarinya, maka teori itu sering membawa
keberhasilan belajar (Gersten & Georg, 1990).
• Menyebabkan guru mampu mengungkapkan apa sasaran bagi anak-anak dan
bagaimana mereka mencapai sasaran itu.
• Mengetahui peran penting lingkungan dan penguat eksternal bagi pembelajaran dan
kesiapan anak-anak.

3. Teori Konstruktivis Teori kognitif dari konstruktivis yang menyatakan perkembangan


pikiran bukanlah hasil penguatan kematangan maupun penguatan eksternal dari lingkungan,
melainkan berlangsung melalui rangkaian panjang pertukaran antara individu dan lingkungan,
dianggap lebih berhasil dalam menjelaskan kesiapan belajar.
Teori-teori konstruktivitas tentang pembelajaran dan kesiapan belajar menempatkan
tanggung jawab baik pada lingkungan maupun pada kematangan dan interaksi antara keduanya.
Setidaknya, teori ini bisa membawa praktik kesiapan belajar yang melakukan hal-hal berikut:
• Menuntun orang sehingga memusatkan perhatian hanya pada pertumbuhan akal,
dengan mengabaikan pertumbuhan fisik dan emosi.

2
• Menjadikan kesiapan tidak pasti atau tidak terencana.
• Beranggapan bahwa semua anak sama-sama tertarik dan termotivasi untuk
membangun struktur bernalar baru. Keadaan terbaiknya, teori konstruktivitaas tentang
perkembangan menyebabkan praktik-praktik kesiapan belajar melakukan hal-hal berikut:
• Praktik kesiapan belajar berdasar pada pemahama tentang cara penyusunan pikiran
anak-anak diwaktu tertentu.
• Menuntun para guru mendasarkan kesiapan belajar bukan pada apa yang bisa
dilakukan anak-anak melainkan pada apa yang dapat dilakukan anak lewat bimbingan (Craig,
2003). • Menghormati insan pembelajar.

PENDIDIKAN ANAK PRASEKOLAH


Definisi Pendidikan Anak Prasekolah Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional berkaitan dengan Pendidikan Anak Usia Dini yang tertulis
pada pasal 28 ayat 1 yang berbunyi “Pendidikan Anak Usia Dini diselenggarakan bagi anak sejak
lahir sampai dengan enam tahun dan bukan merupakan prasyarat untuk mengikuti pendidikan
dasar”. Pendidikan anak usia dini adalah suatu upaya pembinaan yang ditunjukkan kepada anak
sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan
pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak
memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Pendidikan anak usia dini
merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada
peletakkan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan
kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual),
sosioemosional (sikap, perilaku dan beragama), bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan
dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.