Anda di halaman 1dari 21

1

BAB I
IDENTITAS PASIEN

Nama : Tn. HN
JenisKelamin : Laki-laki
Usia : 33Tahun
Agama : Islam
Alamat : Ciguha, cigugur
Pekerjaan : petani
TanggalMasuk RS : 23 November 2017

ANAMNESIS
KELUHAN UTAMA
Nyeri kepala sebelah kiri sejak 2 minggu SMRS.

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG


Pasien datang ke RSUD Banjar rujukan dari RSUD Banjar
Patroman. Os datang dengan keluhan nyeri kepala sejak 2 minggu
SMRS. Sakit kepala dirasakan hilang timbul tidak berkurang
dengan menggunakan analgesik dan nyeri kepala semakin berat
dalam 1 minggu terakhir. Os juga mengelukan mual muntah sejak
3 hari SMRS, dan sulit menelan. Keluarga mengatan os pernah
mengalami trauma yaitu jatuh dari kendaraan 2 tahun yang lalu.
Tidakditemukan gangguan lemah anggotagerak, kejang, demam,
tinnitus serta pengelihatan ganda.

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU


 Riwayat hipertensi (+)
 Riwayat DM (-)
 Riwayat stroke (-)
 Riwayat jantung (-)
2

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA


Tidak ada anggota keluarga pasien yang mengalami hal
yang sama dengan pasien, begitupun riwayat hipertensi, diabetes
melitus maupun penyakit jantung pada keluarga disangkal.

RIWAYAT PENGOBATAN
Sebelumnya os dirawat di RS Banjar Patroman

RIWAYAT ALERGI
Alergi obat dan makanan disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
KeadaanUmum : Nampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis

Pemeriksaan Umun
Tekanan Darah : 110/70 mmHg
Nadi : 80x/menit
Frekuensi Nafas : 20x/menit
Suhu : 35.9℃

Status Generalis
Kepala dan Leher
- Kepala : Normochepal
- Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik(-/-)
- Hidung :Sekret (-/-), epistaksis (-/-). Hipertrofi konka (-/-), polip (-/-)
Palpasi : fraktur os nasal (-/-)
- Telinga : Normotia, serumen (-/-), sekret (-/-), darah (-/-).
- Mulut : mukosa bibir lembab (+), sianosis (-), lidah kotor (-).
3

- Leher : Pembesaran KGB (-), tiroid (-), peningkatan JVP (-)

Thorax dan Abdomen


Rongga Dada Rongga Abdomen
Inspeksi : Simetris Fusiformis Simetris
Perkusi : Dalam batas normal Timpani
Palpasi : Dalam batas normal Supel
Auskultasi : Vesikuler (-/-) Ronkhi (-/-) Bising usus(+)

X. RESUME PEMERIKSAAN
Pasien datang ke RSUD Banjar rujukan dari RS Banjar Patrioman dengan
keluhan nyeri kepala sebelah sejak 2 minggu SMRS. Sakit kepala
dirasakan hilang timbul, tidak hilang dengan mengkonsumsi analgesic dan
semakin berat dalam 1 minggu terakhir. Os juga mengeluhkan mual
muntah sejak 3 hari SMRS, dan sulit menelan. Os pernah mengalami
trauma jatuh dari motor 2 tahun yang lalu. Gangguan lemah anggota gerak,
kejang, demam, tinnitus serta penglihatan ganda disangkal.

Kesadaran : Composmentis
Tekanan darah : 110/70 mmHg
Status Generalis : DBN
Rangsang meningeal : (-)
Saraf kranial: DBN
Motorik : 5 5
5 5
Refleks fisiologis: DBN
Refleks patologis: (-)
4

D. HASIL PEMERIKSAAN PENUNJANG


Laboratorium
Pemeriksaan Hasil Pemeriksaan Hasil

Hemoglobin 15,3 g/dL LDL 60

Leukosit 11,200/μL Kolestrol 124

Hematokrit 48,6 % HDL 48

Eritrosit 5,85 juta/μL Trigliserida 82

Trombosit 474.000/μL

Ureum 78,4 mg/dL

Kreatinin 0.94 mg/dL

E. RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


 CT scan kepala
5

Hasil CT Scan kepala (22 november 2017)

Bayangan hiperdens daerah CVA kanan


Kesan : SOL CVA kanan, meningioma?

F. DIAGNOSIS
DIAGNOSIS KLINIS : Cephalgia
6

DIAGNOSIS TOPIK : Massa pada daerah CVA kanan


DIAGNOSIS ETIOLOGIK: Space occupying lesion (SOL)
G. PENATALAKSANAAN
- IVFD asering 20 gtt/i + mecobalamin drip 1 amp.
- Inj. Citicolin 2 x 250 mg
- Inj. Ranitidin 2x1 amp
- Inj. Metilprednisolon 3x125 mg
- Inj. Ceftriaxone 1x2 gr (skintest)
7

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

SPACE OCCUPYING LESION (SOL)

Definisi

Sol dapat didefinisikan sebagai tumor yang jinak atau ganas baik bersifat
primer atau sekunder, dan juga sebagai massa inflamatorik maupun parasitik yang
berletak pada rongga kranium. Sol juga berupa hematoma, berbagai jenis kista dan
malformasi vaskuler.1

Epidemiologi
Berdasarkan penelitian terdapat 42 kasus SOL mempengaruhi rongga intracranial
dan tulang belakang. 39 kasus berasal dari otak dan selaput-selaput otak dan 3
berasal dari lumbar pinalis. Dari 39 kasus, 26 (67%) adalah akibat tumor dan
13(33%) adalah akibat infeksi, terutama tuberculosis. Dari data tersebut terdapat 6
kasus astrocytoma dan 3 kasus meningioma. Dalam kasus tersebut masing-masing
terdapat 2 kasus lagi yakni, pilocytic astrocytoma and medulloblastoma. Selain itu
juga terdapat kasus pineal tumour, craniopharyngioma, pituitary adenoma,
vestibular schwannoma dan oligodendroglioma dan 6 kasus indeterminate .Ada 3
kasus SOL yang mengenai spinal yakni arachnoiditis, subdural abscess dan
tuberculoma.2

Etiologi

1. Riwayat trauma kepala

Trauma yang berulang menyebabkan terjadinya meningioma (neoplasma


selaput otak). Pengaruh trauma pada patogenesis neoplasma susunan saraf pusat
belum diketahui gejala klinis.
8

2. Faktor genetik

Tujuan susunan saraf pusat primer merupakan komponen besar dari


beberapa gangguan yang diturunkan sebagai kondisi autosomal, dominan
termasuk sklerasis tuberose, neurofibromatosis.

3. Paparan zat kimia yang bersifat karsinogenik dan virus.

Pada binatang telah ditemukan bahwa karsinogen kimia dan virus


menyebabkan terbentuknya neoplasma primer susunan saraf pusat tetapi
hubungannya dengan tumor pada manusia masih belum jelas.

Klasifikasi

Berdasarkan jenis tumor dapat dibagi menjadi:

1. Jinak

a. Acoustic Neuroma

b. Meningioma

c. Pituitary adenoma

d. Astrocytoma (grade1)

2. Malignant

a. Astrocytoma (grade 2)

b.Oligodendroglioma

c. Apendymoma
9

Berdasarkan lokasi tumor dapat dibagi menjadi :

1. Tumor Intradural

a. Ekstramedular

b. Cleurofibroma

c. Meningioma Intramedular

d. Apendimoma

e. Astrocytoma

f. Oligodendroglioma

g. Hemangioblastoma

2. Tumor ekstradural

Merupakan metastase dari lesi primer4

Patofisiologi

Peningkatan tekanan intracranial adalah suatu mekanisme yang


diakibatkan oleh beberapa kondisi neurologi. Isi dari cranial adalah jaringan otak,
pembuluh darah dan cairan serebrospinal. Bila terjadi peningkatan satu dari isi
cranial mengakibatkan peningkatan tekanan intracranial, sebab ruang cranial
keras, tertutup tidak bisa berkembang.

Peningkatan satu dari beberapa isi cranial biasanya disertai dengan


pertukaran timbal balik dalam satu volume yang satu dengan yang lain. Jaringan
otak tidak dapat berkembang, tanpa berpengaruh serius pada aliran dan jumlah
cairan serebrospinal dan sirkulasi serebral. Space Occupaying Lesion (SOL)
menggantikan dan merubah jaringan otak sebagai suatu peningkatan tekanan.
Peningkatan tekanan dapat secara lambat (sehari/seminggu) atau secara cepat, hal
10

ini tergantung pada penyebabnya. Pada pertama kali satu hemisphere akan
dipengaruhi.

Peningkatan tekanan intracranial dalam ruang kranial pada pertama kali


dapat dikompensasi dengan menekan vena dan pemindahan cairan serebrospinal.
Bila tekanan makin lama makin meningkat, aliran darah ke serebral akan menurun
dan perfusi menjadi tidak adekuat, maka akan meningkatkan PCO2 dan
menurunkan PO2 dan PH. Hal ini akan mnyebabkan vasodilatasi dan edema
serebri. Edema lebih lanjut akan meningkatkan tekanan intracranial yang lebih
berat dan akan meyebabkan kompresi jaringan saraf.

Pada saat tekanan melampaui kemampuan otak untuk berkompensasi,


maka untuk meringankan tekanan, otak memindahkan ke bagian kaudal atau
herniasi kebawah. Sebagian akibat dari herniasi, batang otak akan terkena pada
berbagai tingkat, yang mana penekanannya bisa mengenai pusat vasomotor, arteri
serebral posterior, saraf okulomotorik, traktus kortikospinal, dan serabut-serabut
saraf ascending reticular activating system. Akibatnya akan mengganggu
mekanisme kesadaran, pengaturan tekanan darah, denyut nadi pernafasan dan
temperature.4

Manifestasi Klinis

Nyeri kepala, edema papil dan muntah secara umum dianggap sebagai
karakteristik peninggian TIK. Demikian juga , dua pertiga pasien SOL memiliki
semua gambaran tersebut. Walau demikian, tidak satupun dari ketiganya khas
untuk peninggian tekanan, kecuali edema papil, banyak penyebab lain yang
menyebabkan masing-masing berdiri sendiri dan bila mereka timbul bersama akan
memperkuat dugaan adanya peninggian TIK.7
11

1. Gejala klinik umum timbul karena peningkatan tekanan intracranial, meliputi 5:

a. Nyeri kepala

Nyeri bersifat dalam, terus menerus, tumpul dan kadang-kadang bersifat


hebat sekali, biasanya paling hebat pada pagi hari dan diperberat saat
beraktivitas yang menyebabkan peningkatan TIK, yaitu batuk,
membungkung, dan mengejan.

b. Nausea atau muntah

muntah yang memancar (projectile voiting) biasanya menyertai


peningkatan tekanan intracranial.

c. Papil edema

titik buta dari retina merupakan ukuran dan bentuk dari papilla optic
atau discus optic.

Karena tekanan intracranial meningkat, tekanan ditransmisi ke mata


melalui cairan cerebrospinal sampai ke discus optic.

Karena meningens memberi reflex kepada seputar bola mata,


memungkinkan transmisi tekanan melalui ruang-ruang oleh cairan
cerebrospinal.

Karena discus mata membengkak retina menjadi tertekan juga. Retina


yang rusak tidak dapat mendeteksi sinar.6

2. False localizing signs dan tanda lateralisasi

False localizing signs ini melibatkan neuroaksis kecil dari lokasi tumor
yang sebenarnya. Sering disebabkan karena peningkatan tekanan intrakaranial,
peregeseran dari struktur-struktur intracranial atau iskemi. Lesi pada salah satu
kompartemen otak dapat menginduksi pergeseran dan kompresi dibagian otak
12

yang jauh dari lesi primer. Suatu tumor intra cranial dpat menimbulkan
manifestasi yang tidak sesuai dengan fungsi area yang ditempatinya. Tanda
tersebut adalah:

a. Kelumpuhan saraf otak. Karena desakan tumor, saraf dapat tertarik atau
tertekan. Desakan itu tidak harus langsung terhadap saraf otak. Saraf
yang sering terkena tidak langsung adalah saraf III dan IV

b. Refleks patologis yang positif pada kedua sisi, dapat ditemukan pada
tumor yang terdapat di dalam salah satu hemisferium saja.

c. Gangguan mental

d. Gangguan endokrin dapat juga timbul SOL di daerah hipofise.

3. Gejala klinik local

Manifestasi local terjadi pada tumor yang meneyebabkan destruksi


parenkim, infark atau edema. Juga akibat pelepasan faktor-faktor kedaerah sekitar
tumor (contohnya: peroksidase, ion hydrogen, enzim proteolitik dan sitokin),
semuanya dapat meyebabkan disfungsi fokal yang reversibel.

a. Tumor Lobus Frontal

Tumor lobus frontal menyebabkan terjadinya kejang umum yang diikuti


paralisis pos- iktal.

b. Tumor Lobus Temporalis

Gejala tumor lobus temporalis antara lain disfungsi traktus


kortikospinal kontralateral, deficit lapangan pandang homonim
perubahan kepribadian, disfungsi memori dan kejang parsial kompleks

c. Lobus Parietal

dapat menimbulkan gejala modalitas sensori, kortikal hemianoksi


homonym
13

d. Tumor Lobus Oksipital

Tumor lobus oksipital sering menyebabkan hemianopsia homonym


yang kongruen.

e. Tumor pada Ventrikel Tiga

Tumor didalam atau yang dekat dengan ventrikel tiga menghambat


ventrikel atau aquaduktus dan menyebabkan hidrosepalus.

f. Tumor Batang Otak

terutama ditandai oleh disfungsi saraf kranialis, defek lapangan


pandang, nistagmus, ataksia dan kelemahan ekstremitas

g. Tumor Serebellar

Muntah Berulang dan sakit kepala dibagian oksiput merupakan gejala


yang sering ditemukan pada tumor serebellar.

h. Tumor Hipotalamus

Gangguan perkembangan seksual pada anak-anak, gangguan cairan


cerebrospinal.

i. Tumor Fosa Posterior

Gangguan berjalan nyeri kepala dan muntah disertai dengan nistagmus.5

Diagnosis

Untuk menegakkan diagnosis pada penderita yaitu melalui anamnesis,


pemeriksaan fisik neurologik yang teliti serta pemeriksaan penunjang. Dari
anamnesis kita dapat mengetahui gejala-gejala yang dirasakan seperti ada
tidaknya nyeri kepala, muntah dan kejang. Sedangkan melalui pemeriksaan fisik
14

neurologik ditemukana adanya gejala seperti edema papil dan defisit lapangan
pandang.8

Perubahan tanda vital pada kasus SOL intrakranial meliputi:8

1. Denyut nadi
Denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari peningkatan TIK,
terutama pada anak-anak. Bradikardi merupakan mekanisme yang mungkin
terjadi untuk mensuplai darah ke otak dan mekanisme ini dikontrol oleh
tekanan pada mekanisme refleks vagal yang terdapat dimedulla.
2. Pernapasan
Pada saat kesadaran menurun, korteks serebri akan lebih tertekan daripada
batang otak pada pasien dewasa, perubahan pernapasan ini normalnya akan
diikuti dengan penurunan level dari kesadaran. Perubahan pola pernapasan
adalah hasil dari tekanan langsung pada batang otak.
3. Tekanan darah
Tekanan darah dan denyut nadi relatif stabil selama stadium awal dari
peningkatan tekanan intrakranial, terutama pada anak-anak. Dengan terjadinya
peningkatan tekanan intrakranial, tekanan darah akan meningkat sebagai
mekanisme kompensasi, sehingga terjadi penurunan dari denyut nadi disertai
dengan perubahan pola pernapasan. Apabila kondisi ini terus berlangsung,
maka tekanan darah akan mulai turun.
4. Suhu tubuh
Selama mekanisme kompensasi dari peningkatan TIK, suhu tubuh akaN
tetap stabil. Ketika mekanisme dekompensasi berubah, peningkatan suhu
tubuh akan muncul akibat dari disfungsi dari hipotalamus atau edema pada
traktus yang menghubungkannya.
5. Reaksi pupil
Serabut saraf simpatis menyebabkan otot pupil berdilatasi. Reaksi pupil
yang lebih lambat dari normalnya dapat ditemukan pada kondisi yang
menyebabkan penekanan pada nervus okulomotorius, seperti edema otak atau
lesi pada otak.
15

Pemeriksaan Penunjang

1. Head CT-Scan
CT-Scan merupakan merupakan alat diagnostik yang penting dalam
evaluasi pasien yang diduga menderita tumor otak. CT-Scan merupakan
pemeriksaan yang mudah, sederhana, non invasif, tidak berbahaya, dan waktu
pemeriksaan lebih singkat. Ketika kita menggunakan CT-Scan dengan
kontras, kita dapat mendeteksi tumor yang ada. CT-Scan tidak hanya dapat
mendeteksi tumor, tetapi dapat menunjukkkan jenis tumor apa, karena setiap
tumor intrakranial menunjukkan gambar yang berbeda pad CT-Scan.9
Gambaran CT-Scan pada tumor otak, umumnya tampak sebagai lesi
abnormal berupa massa yang mendorong struktur otak disekitarnya. Biasanya
tumor otak dikelilingi jaringan oedem yang terlihat jelas karena densitasnya
lebih rendah. Adanya kalsifikasi, perdarahan atau invasi mudah dibedakan
dengan jaringan sekitarnya karena sifatnya hiperdens. Beberapa jenis tumor
akan terlihat lebih nyata bila pada waktu pemeriksaan CT-Scan disertai
dengan pemberian zat kontras. Kekurangan CT-Scan adalah kurang peka
dalam mendeteksi massa tumor yang kecil, massa yang berdekatan dengan
struktur tulang kranium, maupun massa di batang otak.9
Pada subdural akut CT-Scan kepala (non kontras) tampak sebagai suatu
massa hiperdens (putih) ekstra-aksial berbentuk bulan sabit sepanjang bagian
dalam (inner table) tengkorak dan paling banyak terdapat pada konveksitas
otak didaerah parietal. Terdapat dalam jumlah yang lebih sedikit didaerah
bagian atas tentorium serebeli. Perdarahan subdural yang sedikit (small SDH)
dapat berbaur dengan gambaran tulang tengkorak dan hanya akan tampak
dengan menyesuaikan CT window width. Pegeseran garis tengah (middle shift)
akan tampak pada perdarahan subdural yang sedang atau besar volumenya.
Bila tidak ada middle shift harus dicurigai adanya massa kontralateral dan bila
middle shift hebat harus dicurigai adanya edema serebral yang mendasarinya.8
16

Pada fase akut subdural menjadi isodens terhadap jaringan otak sehingga
lebih sulit dinilai pada gambaran CT-Scan, oleh karena itu pemeriksaan CT-
Scan dengan kontras atau MRI sering dipergunakan pada kasus perdarahan
subdural dalam waktu 48-72 jam setelah trauma. Pada pemeriksaan CT
dengan kontras, vena-vena kortikal akan tampak jelas dipermukaan otak dan
membatasi subdural hematoma dan jaringan otak. Perdarahan subdural akut
sering juga berbentuk lensa (bikonveks) sehingga membingungkan dalam
membedakannya dengan epidural hematoma.8
Pada fase kronik lesi subdural pada gambaran CT-Scan tanpa kontras
menjadi hipodens dan sangat mudal dilihat. Bila pada CT-Scan kepala telah
ditemukan perdarahan subdural, sangat penting untuk memeriksa
kemungkinan adanya lesi lain yang berhubungan seperti fraktur tengkorak,
kontusio jaringan otak dan perdarahan subarakhnoid.8
Pada abses, CT-Scan dapat digunakan sebagai pemandu untuk
dilakukannya biopsi. Biopsi aspirasi abses ini dilakukan untuk keperluan
diagnostik maupun terapi.
2. MRI
MRI merupakan pemeriksaan yang paling baik terutama untuk mendeteksi
tumor yang berukuran kecil ataupun tumor yang berada dibasis kranium,
batang otak dan di fossa posterior. MRI juga lebih baik dalam memberikan
gambaran lesi perdarahan, kistik, atau, massa padat tumor intrakranial.7
3. Darah Lengkap
Pemeriksaan darah lengkap dapat dijadikan salah satu kunci untuk
menemukan kelainan dalam tubuh. kelainan sitemik biasanya jarang terjadi,
walaupun terkadang pada abses otak sedikit peningkatan leukosit.9
4. Foto Thoraks
Dilakukan untuk mengetahui apakah ada tumor dibagian tubuh lain,
terutama paru yang merupakan tempat tersering untuk terjadinya metastasis
primer paru. Pada hematoma, mendeteksi perubahan struktur tulang (fraktur),
perubahan struktur garis (perdarahan /edema), dan fragmen tulang.9
5. USG Abdomen
17

Dilakukan untuk mengetahui aakah ada tumor dibagian tubuh lain. Pada
orang dewasa. Tumor otak yang merupakan metastase dari tumor lain lebih
sering daripada tumor primer otak.9
6. Biopsi
Untuk tumor otak, biopsi dilakukan untuk mengetahui jenis sel tumor
tersebut, sehingga dapat membantu dokter untuk mengidentifikasi tipe dan
stadium tumor dan menentukan pengobatan yang tepat seperti apakah akan
dilakukan pengangkatan seluruh tumor ataupun dilakukan radioterapi.7
7. Lumbal Pungsi
Pemeriksaan ini hanya dilakukan untuk beberpa jenis tumor otak tertentu.
Dengan mengambil cairan serebro spinal, diharapkan dapat diketahui jenis sel
dari tumor otak tersebut. Jika tekanan intrakranial terlalu tinggi, pemeriksaan
ini kontraindikasi untuk dilakukan.7
8. Analisa Gas Darah
Untuk mendeteksi ventilasi atau masalah pernapasan jika terjadi
peningkatan tekanan intrakranial.7
9. Angiography
Angiography tidak sealu dilakukan, tetapi pemeriksaan ini perlu dilakukan
untuk beberapa jenis tumor. pemeriksaan ini membantu ahli bedah untuk
mengetahui pembuluh darah mana saja yang mensuplai area tumor, terutama
apabila terlibat embuluh darah besar. Pemeriksaan ini penting dilakukan
terutama untuk tumor yang tumbuh ke bagian sangat dalam dari otak.7

Penatalaksanaan

1. Pembedahan
Jika hasil CT-Scan didapati adanya tumor, dapat dilakukan pembedahan.
Ada pembedahan total dan parsial, hal ini tergantung jenis tumornya. Pada
kasus abses seperti loculated abscess, pembesran abses walaupun sudah diberi
antibiotik yang sesuai, ataupun terjadi impending herniation. Sedangkan pada
subdural hematoma, operasi dekompresi harus segera dilakukan jika terdapat
18

subdural hematoma akut dengan middle shift > 5 mm. Operasi juga
direkomendasikan pada subdural hematoma akut dengan ketebalan lebih dari 1
cm.7
2. Radioterapi
Ada beberapa jenis tumor yang sensitif terhadap radioterapi, seperti low
grade glioma. Selain itu radioterapi juga digunakan sebagai lanjutan terapi
dari pembedahan parsial.7
3. Kemoterapi
Terapi utama jenis limpoma adalah kemoterapi. Tetapi untuk
oligodendroglioma dan beberapa astrocytoma yang berat, kemoterapi hanya
digunakan sebagai terapi tambahan.7
4. Antikolvusan
Mengontrol kejang merupakan bagian terapi yang penting pada pasien
dengan gejala klinis kejang. Pasien SOL sering mengalami peningkatan
tekanan intrakranial, yang salah satu gejala klinis yang sering terjadi adalah
kejang.7
Phenytoin (300-400mg/kali) adalah yang paling umum digunakan. Selain
itu dapat juga digunakan carbamazepine (600-1000mg/hari), phenobarbital
(90-150mg/hari) dan asam valproat (750-1500mg/hari).7
5. Antibiotik
Jika dari hasil pemeriksaan diketahui adanya abses, maka antibiotik
merupakan salah satu terapi yang harus diberikan. Berikan antibiotik
intravena, sesuai kultur ataupun sesuai data empiris yang ada. Antibiotik
diberikan 4-6 minggu atau lebih, hal ini disesuaikan dengan hasil pencitraan,
apakah ukuran abses sudah berkurang atau belum. Carbapenem,
fluorokuinolon, aztreonam memiliki penetrasi yang bagus ke sistem saraf
pusat, tetapi harus memperhatikan dosis yang diberikan (tergantung berat
badan dan fungsi ginjal) untuk mencegah toksisitas.9
6. Kortikosteroid
Kortikosteroid mengurangi edema peritumoral dan mengurangu tekana
intrakranial. Efeknya mengurangi sakit kepala dengan cepat. Dexamethasone
19

adalah kortikosteroid yang dipilh karena aktivitas mineralkortikoid yang


minimal. Dosisnya dapat diberikan mulai dari 16mg/hari, tetapi dosisnya
dapat ditambahkan maupun dikurangi untuk mencapai dosis yang dibutuhkan
untuk mengontrol gejala neurologik.6
7. Head up 30-45˚
Berfungsi untuk mengoptimalkan venous return dari kepala, sehingga akan
membantu mengurangi TIK.7
8. Menghindari Terjadinya Hiperkapnia
PaCO2 harus dipertahankan dibawah 40 mmHg, karena hiperkapnia dapat
menyebabkan terjadinya peningkatan aliran darah ke otak sehingga terjadi
peningkatan TIK, dengan cara hiperventilasi ringan disertai dengan analisa gas
darah untuk menghindari global iskemia pada otak.7
9. Diuretika Osmosis
Manitol 20% dengan dosis 0,25-1 gr/kgBB diberikan cepat dalam 30-60
menit untuk membantu mengurangi peningakatan TIK dan dapat mencegah
edema serebri.7

Komplikasi

1. Gangguan fungsi neurologis


2. Gangguan kognitif
3. Gangguan tidur dan mood
4. Gangguan disfungsi seksual.8
20
21

DAFTAR PUSTAKA

1. Ejaz M, Saeed A, Naseer A, Chaudrhy, Qureshi G.R, 2005. Intra-cranial


Space Occupying Lesions A Morphological Analysis. Department of
Pathology, Postgraduate Medical Institute, Lahore – Pakistan. Biomedica
Vol. 21
2. Kaptigau, W. Matui ,Ke Liu. Space-occupying lesions in Papua New
Guinea – the CT era. Port Moresby General Hospital, Papua New Guinea
and Chongqing Emergency Medical Centre, Chongqing City, China.PNG
Med J 2007 Mar-Jun;50(1-2):33-43
3. Wulandari, A., 2012. Space Occupaying Lesion (SOL). Available
from:http://www.scribd.com/doc/181664046/Sol[Last accessed 23rdMay
2016]
4. Ningrum, F.Y., 2013. Space Occupaying Lesion( SOL). Available
from:http://www.scribd.com/doc/123949291/referat-SOL[Last accessed
23rdMay 2016]
5. Widyalaksono, A., 2012. SOL Space Occupayimg Lesion. Available
from:http://www.scribd.com/doc/129372631/CR-SOL[Last accessed
23rdMay 2016]
6. Lombardo MC. 2006. Cedera Sistem Saraf Pusat. Dalam: Price SA,
Wilson LM, eds. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.
Edisi 6. Volume 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
7. Wilkinson, Iain. 2005. Brain Tumour. Essential Neurology, 4th Edition.
Page 50-52.
8. Meagher, R.J., & Lutsep, H.L. 2013. Subdural Hematoma. Dipetik
Desember 10, 2013, dari http://emedicine.medscape.com/article/113720.
[Last accessed 23ddMay 2016]
9. Japardi, I. 2004 Cedera Kepala: Memahami Aspek-Aspek Penting dalam
Pengelolaan Penderita Cedera Kepala. Jakarta Barat: Bhuana Ilmu
Populer.