Anda di halaman 1dari 19

LAPORAN PRAKTIKUM

LABORATORIUM PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI


SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2017/2018
MODUL : Reverse Osmosis

PEMBIMBING :Ir. Dwi Nirwantoro Nur,M.T

Praktikum : 5 Oktober 2017

Penyerahan (Laporan) : 9 Oktober 2017

Oleh :

Kelompok/Kelas: 3 / 3C

Nama :

1. Fani Triyatna NIM. 151411073


2. Farida Alhusna NIM. 151411074
3. Farkhiyah NIM. 151411075
4. Fauziah Dwi G. NIM 151411076

PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA

JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG

2017
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan disetiap sektor industri termasuk
pemanfaatan untuk kebutuhan energi dan pemanasan. Kebutuhan energi dan pemanasan
di industri umumnya dipenuhi dengan cara memanfaatkan steam yang dibangkitkan pada
suatu ketel (boiler). Air yang digunakan sebagai umpan boiler dapat diperoleh dari
berbagai sumber, yaitu danau, sungai, laut, maupun sumur. Seperti telah diuraikan
sebelumnya bahwa air yang tersedia selalu mengandung bermacam-macam garam,
gas, limpur dan lain-lain.
Dalam prakteknya, kesulitan utama proses generasi uap terletak justru pada
persiapan bahan baku yakni air yang akan diuapkan. Hal ini terutama disebabkan
utilitas boiler dan pipa-pipa uap harus kedap dan tahan tekanan selama proses produksi,
sehingga pembersihan atau perawatannya harus dilakukan dengan menghentikan
semua proses produksi yang tentunya membuang banyak waktu dan biaya. Bahan baku
air yang digunakan harus diusahakan sebersih mungkin dari faktor-faktor yang
mempercepat kerusakan atau pengotoran air proses.
Salah satu proses pengolahan air secara fisik adalah dengan reverse osmosis (RO),
dimana air dimurnikan dari pengotor-pengotornya menggunakan membrane
semipermiabel. Air yang dihasilkan oleh RO ini adalah air murni dan mampu
meminimalisir pengotor yang berada dalam air.
1.2 TUJUAN PRAKTIKUM
1. Mengerti proses pemisahan kation dalam air baku dengan sistem reverse osmosis ,
2. Membuat kurva hubungan antara kadar zat terlarut (solute) dialiran permeat dan
konsentrat terhdap waktu atau volume permeat,
3. Menghitung persen zat terlarut yang ditolak (% Reject) ,
4. Mengetahui pengaruh laju alir influent terhadap hasil dari proses reverse osmosis
berupa konsentrasi pada effluent.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 REVERSE OSMOSIS

Proses Osmosis adalah proses perpindahan massa pelarut (solvent) melalui pori dalam
filter atau membran semipermeabel dari larutan (solution) yang berkonsentrasi rendah ke
larutan (solution) yang berkonsentrasi tinggi. Sedangkan proses Reverse Osmosis adalah proses
perpindahan massa larutan (solution) melalui pori dalam filter atau membran semipermeabel
dengan menggunakan driving force berupa perbedaan tekanan yang melebihi tekanan
osmosisnya. Tekanan yang digunakan adalah tekanan hidrostatis. Reverse osmosis adalah
suatu proses dimana air dipisahkan dari komponen terlarut melalui selaput atau membran
semipermeable.(Setiawan : 2017)

2.2 PRINSIP KERJA REVERSE OSMOSIS


Proses Reverse Osmosis menggerakkan air dari konsentrasi kontaminan yang tinggi
(sebagai air baku) menuju penampungan air yang memiliki konsentrasi kontaminan sangat
rendah. Dengan menggunakan air bertekanan tinggi di sisi air baku, sehingga dapat
menciptakan proses yang berlawanan (reverse) dari proses alamiah osmosis. Dengan tetap
menggunakan membran semi-permeable maka hanya akan mengijinkan molekul air yang
melaluinya dan membuang bermacam-macam kontaminan yang terlarut. Proses spesifik yang
terjadi dinamakan ion eksklusi, dimana sejumlah ion pada permukaan membran sebagai sebuah
pembatas mengijinkan molekul-molekul air untuk melaluinya seiring melepas substansi-
substansi lain.

Gambar 1. Proses Reverse Osmosis


Sumber : https://airreverseosmosis.wordpress.com/
Pada proses pemisahan menggunakan RO, membran akan mengalami perubahan karena
memampat dan menyumbat (fouling). Pemampatan atau fluks merosot itu serupa dengan
perayapan plastic atau logam ketika terkena beban tegangan kompresi. Makin besar tekanan
dan suhu biasanya membran makin mampat dan menjadi tidak reversible. Normalnya membran
bekerja pada suhu 21-35 derajat Celcius. Fouling membran dapat diakibatkan oleh zat-zat
dalam air baku seperti kerak, pengendapan koloid, oksida logam, bahan organik dan silika.
Oleh sebab itu cairan yang masuk ke proses reverse osmosis harus terbebas dari partikel-
partikel besar agar tidak merusak membran. Pada prakteknya, cairan sebelum masuk ke proses
reverse osmosis dilakukan serangkaian pengolahan terlebih dahulu, biasanya dilakukan pre-
treatment dengan koagulasi dan flokulasi yang dilanjutkan dengan adsorbsi karbon aktif dan
mikrofiltrasi.
2.3 APLIKASI PENGGUNAAN REVERSE OSMOSIS
Berapa aplikasi penggunaan reverse osmosis dalam industri : Desalinasi (desalination) air
payau (brackish) dan air laut (sea water) ;Demineralisasi untuk air umpan boiler (Boiler Feed
Water); Pemisahan protein dari whey ;Treatment khusus untuk industri kimia, makanan, tekstil
dan kertas; Pervaporasi (pervarporation), misalnya permisahan alkohol-air. (Ghozali, 2008)
2.4 PENENTUAN KOEFISIEN REJECTION
Untuk menentukan keberhasilan proses pemisahan dengan cara tersebut, maka dapat
dilakukan dengan cara menentukan koefisien rejection (R) yang menyatakan hubungan antara
konsentrasi atau kadar garam di aliran influent dan di aliran effluent (permeat) yang ditulis
sebagai berikut:
𝐶𝑚−𝐶𝑝 𝐶𝑚−𝐶𝑝
𝑅= atau %𝑅 = × 100 %
𝐶𝑚 𝐶𝑚
Dengan: Cm = konsentrasi zat terlarut di aliran influen
Cp = konsentrasi zat terlarut di aliran permeat.
Semakin besar nilai R, maka proses pemisahan semakin baik, artinya permeat semakin
murni. Efisiensi penyisihan membran RO yang tinggi menyebabkan terjadinya penyisihan
mineral-mineral alami pada air baku.
Membran RO memiliki keterbatasan dalam pengoperasiannya, di antaranya:
 Tekanan air baku antara 40 – 70 psig (800 – 1.000 psi).
 Kekeruhan air baku tidak boleh lebih dari 1 NTU.
 pH operasi berkisar antara 4 – 11.
 TDS air baku tidak boleh lebih dari 35.000 ppm. Nilai TDS yang lebih tinggi akan
menurunkan kecepatan produksi.
 Suspended Solid air baku; (dinyatakan dengan SDI, Salt Density Index), harus kurang
dari 5.
 Sisa klor air baku harus nol (0).
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
3.1 ALAT DAN BAHAN
3.1.1 Alat
 Seperangkat alat reverse osmosis ( 3 tabung filter, berisi media filter)

 Alat ukur TDS dan DHL


 Stopwatch
 Gelas Kimia
 4 buah ember (tempat penampung permeat dan konsentrat)
 Gelas ukur 2 L
3.1.2 Bahan
 Air kran
3.2 LANGKAH KERJA

Mempelajari alat reverse osmosi yang terdiri dari 3


tabung filter yang berisi media filter

memeriksa aliran influen, permeat dan konsentrat

membuka semua valve di aliran influen

menyalakan mesin reverse osmosi

mencatat tekanan operasi pada skala 1-3 Bar

Mengukur DHL dan TDS di aliran umpan

memulai mengukur DHL, TDS dan volume air di dalam


permeat dan konsentrat dalam periode 10 menit

menampung hasil pengukuran di aliran permeat , dan


membuang hasil dari aliran konsentrat

mengukur debit aliran konsentrat sebelum memulai


percobaan
3.3 KESELAMATAN KERJA
 Menggunakan alat pelindung diri dengan lengkap
 Menggunakan sepatu tertutup
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 HASIL PRAKTIKUM
A. Grafik Hasil Data Pengamatan

1) Hubungan Konsentrasi, DHL pada Permeat dan Konsentrat selama waktu


Proses

RUN 1

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat


dan Konsentrat pada RUN 1
70
Konsentrasi, DHL (μS/cm)

60
50
40
30 Permeat
20 Konsentrat
10
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.1 Hubungan Konsentrasi, DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 1 (740 mL/menit)
RUN 2

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat


dan Konsentrat pada RUN 2
70
Konsentrasi, DHL (μS/cm)

60
50
40
30 Permeat
20
Konsentrat
10
0
0 20 40 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.2 Hubungan Konsentrasi, DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 2 (750 mL/menit)
RUN 3

Grafik DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 3
70
Konsentrasi, DHL (μS/cm)

60
50
40
30 Permeat
20 Konsentrat
10
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.3 Hubungan Konsentrasi, DHL terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 3 (760 mL/menit)

2) Hubungan Konsentrasi, TDS pada Permeat dan Konsentrat selama waktu


Proses

RUN 1

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 1
300
Konsentrasi, TDS (mg/L)

250
200
150
Permeat
100
Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.4 Hubungan Konsentrasi, TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 1 (740 mL/menit)
RUN 2

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 2
300
Konsentrasi, TDS (mg/L)
250
200
150
Permeat
100
Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.5 Hubungan Konsentrasi, TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 2 (750 mL/menit)

RUN 3

Grafik TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan


Konsentrat pada RUN 3
300
Konsentrasi, TDS (mg/L)

250
200
150
Permeat
100
Konsentrat
50
0
0 10 20 30 40 50 60
Waktu, t (menit)

Grafik 4.6 Hubungan Konsentrasi, TDS terhadap Waktu untuk Permeat dan
Konsentrat pada laju alir pada RUN 3 (760 mL/menit)
B. Efisiensi Pemisahan (% Reject)

RUN 1
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 189 0 100
20 189 0 100
30 189 0 100
40 189 0 100
50 189 0 100

RUN 2
Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 189 0 100
20 189 0 100
30 189 0 100
40 189 0 100
50 189 0 100

RUN 3

Efisiensi
Waktu TDS Influen TDS Permeat
Pemisahan
(menit) (mg/L) (mg/L)
(%)
10 189 0 100
20 189 0 100
30 189 0 100
40 189 0 100
50 189 0 100
4.2 PEMBAHASAN

Fani Triyatna (151411073)

Praktikum ini bertujuan untuk memahami proses pemisahan kation dalam air baku
dengan sistem reverse osmosis, membuat kurva hubungan antara kadar zat terlarut di aliran
permeat dan konsentrat terhadap waktu, mengetahui efisiensi pemisahan, serta mengetahui
pengaruh laju umpan terhadap hasil dari proses pemisahan dengan metode reverse osmosis.

Reverse osmosis (RO) adalah suatu metode penyaringan yang dapat menyaring zat-zat
terlarut dan ion-ion terlarut dari suatu larutan. Prinsip dari reverse osmosis kebalikan dari
osmosis yaitu perpindahan molekul pelarut dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah
dengan cara memberi tekanan pada larutan ketika larutan itu berada di salah satu sisi membran.

Tahapan tahapan pada pemurnian air dengan metode reverse osmosis yaitu pertama
adalah tahap penyaringan padatan tersuspensi. Tahap penyaringan awal ini bertjuan agar
membran pada alat reverse osmosis tidak bekerja begitu berat. Setelah proses penyaringan
padatan tersuspensi, air dialirkan menuju membran. Pada membran ini terjadi proses
pemisahan antara padatan terlarut misalnya ion ion positif seperti Mg2+ ataupun Ca2+ atau ion-
ion terlarut lain akan tertahan pada membran dan kemudian dialirkan menuju keluaran yang
disebut dengan konsentrat. Sedangkan air yang telah tersaring melewati membran akan
memiliki nilai TDS dan DHL yang akan lebih rendah menuju keluaran yang disebut permeat.

Pada percobaan ini dilakukan 3 kali run dengan laju umpan berbeda, yaitu 740, 750,
dan 760 mL/menit. Laju umpan tersebut memberikan tekanan operasi yang relatif sama yaitu
0,7 bar. Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa nilai TDS pada aliran permeat dari ketiga laju
umpan tersebut adalah nol. Hal tersebut juga dapat dilihat dari grafik ketiga proses run yang
menunjukkan nilai nol. Hal ini menunjukkan bahwa proses pemisahan berjalan dengan baik.
Baiknya proses pemisahan juga dapat dilihat dari TDS pada aliran konsentrat. TDS pada aliran
konsentrat memiliki nilai yang berbeda-beda. Pada grafik run-1 TDS menunjukkan nilai yang
fluktuatif. Pada menit 30 TDS menunjukkan nilai yang rendah. Pada grafik run-2 nilai TDS
cenderung meningkat dan stabil. Peningkatan TDS terjadi pada menit 20. Sedangkan pada
grafik run-3 TDS pada aliran konsentrat memiliki nilai yang lebih tinggi dari dua proses
sebelumnya.

Seperti halnya seperti TDS, nilai DHL di aliran permeat pada masing-masing run
menunjukkan hasil yang berbeda-beda, namun cenderung rendah dan mendekati nol. Hal yang
berbeda dapat dilihat dari nilai DHL pada aliran konsentrat. Pada grafik run-1 terlihat nilai
DHL konstan pada nilai 50 μS/cm dan meningkat pada menit 40. Pada grafik run-2 nilai DHL
terlihat fluktuatif, jika dibandingkan dengan grafik pada run-1 nilai DHL pada run-2 lebih
tunggi. Berbeda dengan dua grafik sebelumnya, pada grafik run-3 terlihat nilai DHL cenderung
menurun.

Pengaruh laju umpan terhadap hasil proses pemisahan dapat dilihat dari nilai nilai TDS
pada aliran konsentrat. Pada aliran konsentrat nilai TDS cenderung meningkat seiring dengan
meningkatnya laju umpan. Hal ini menunjukan bahwa semakin tinggi laju umpan maka produk
pada permeat yang dihasilkan akan semakin baik. Nilai DHL pada aliran permeat lebih kecil
dibandingkan nilai yang ada pada aliran konsentrat seperti yang ditunjukkan pada grafik
hubungan antara DHL terhadap waktu pada permeat dan konsentrat. Hal ini membuktikan
bahwa ion-ion dan partikel terlarut telah tertahan oleh membran akan keluar bersama aliran
konsentrat.

Efisiensi pemisahan dapat diketahui melalui perbandingan antara selisih TDS awal
yaitu pada umpan dan TDS pada permeat terhadap nilai TDS awal umpan. Dari perhitungan
diperoleh nilai efisiensi pemisahan atau % reject dari ketiga proses run sebesar 100%. Hal ini
menunjukkan tidak terdapatnya padatan terlarut dalam produk (permeat), atau nilai TDS
permeat nol. Adapun nilai padatan terlarut awal dari umpan yaitu 189 ppm.

Farida Alhusna M. (151411074)

Reverse Osmosis (RO) adalah proses perpindahan massa larutan dari konsentrasi tinggi
ke konsentrasi rendah melalui membran dengan memberi driving force berupa perbedaan
tekanan (ΔP). Reverse Osmosis merupakan metode pemurnian air yang dapat menyaring
padatan dengan ukuran yang besar hingga seukuran ion-ion atau padatan terlarut dalam air.
Padatan-padatan terlarutnya seperti ion-ion (kation) akan tertahan pada membran. Sehingga,
hasil dari proses Reverse Osmosis adalah air yang tidak mengandung ion (kation) dengan kadar
zat terlarut total (Total Dissolve Solids/TDS) atau daya hantar listrik (DHL) yang sangat rendah
(kecil) pada aliran permeat. Pada proses Reverse Osmosis, apabila diberi tekanan yang semakin
besar, maka proses pemisahan akan semakin baik sehingga dihasilkan air (H2O) semakin murni
(kadar garam atau zat terlarut semakin kecil).

Pada praktikum, dilakukan percobaan reverse osmosis dengan tujuan untuk memahami
proses pemisahan kation dalam air baku dengan sistem osmosis; membuat kurva/grafik
hubungan antara kadar zat terlarut (solute) di aliran permeat dan konsentrat terhadap waktu
atau volume permeat; menghitung persen zat terlarut yang ditolak (% Reject); dan mengetahui
pengaruh laju alir terhadap hasil proses Reverse Osmosis berupa konsentrasi efluen. Percobaan
dilakukan dengan melakukan variasi pada laju alir umpan yaitu pada RUN 1 = 740 mL/menit;
RUN 2 = 750 mL/menit; dan RUN 3 = 760 mL/menit. Pada setiap RUN dilakukan selama 50
menit dengan dilakukan pengambilan data selama 10 menit sekali.

Berdasarkan hasil yang ditunjukkan grafik antara nilai TDS terhadap waktu untuk
permeat dan konsentrat baik pada RUN 1, 2 dan 3, dapat diketahui bahwa nilai TDS pada aliran
permeat tetap stabil dari menit ke 10 hingga menit ke 50 dengan nilainya adalah sebesar 0 mg/L
(0 ppm). Sedangkan, pada konsentrat baik pada RUN 1, 2 dan 3, nilai TDSnya jauh lebih besar
jika dibandingkan dengan permeat. Hal ini menandakan bahwa padatan terlarut dalam air
tertahan pada membrane sebagian besarnya sehingga menghasilkan air murni dengan
konsentrasi TDS bernilai 0 mg/Liter pada aliran permeat. Oleh karena itu, %Reject bernilai
100% atau zat terlarut yang ditolak adalah sebesar 100% pada skala ppm. Selain itu, pada aliran
konsentrat, nilai TDS pada RUN 1 cenderung mengalami fluktuatif, sedangkan pada RUN 2
sudah mulai mengalami kestabilan dari menit ke 20 hingga menit ke 50, sedangkan pada RUN
3 nilai TDSnya cenderung stabil baik dari menit ke 10 hingga menit ke 50. Hal ini
mengindikasikan bahwa pada laju alir yang paling besar yaitu 760 mL/menit (RUN 3),
memberikan hasil berupa nilai konsentrat yang stabil jika dibandingkan dengan laju alir yang
lebih kecil pada RUN 1 dan 2.

Pada RUN 1, 2 dan 3, nilai daya hantar listrik (DHL) pada aliran konsentrat setiap
waktunya mengalami fluktuatif. Namun, mulai pada menit ke 40, nilai DHL cenderung
mengalami penurunan. Sedangkan pada aliran permeat, nilai daya hantar listrik (DHL) setiap
waktunya cenderung stabil. Apabila dibandingkan, nilai DHL pada aliran konsentrat lebih
besar jika dibandingkan dengan nilai DHL pada aliran permeat. Hal ini juga menandakan
bahwa padatan terlarut dalam air tertahan pada membrane sebagian besarnya dan terbawa pada
aliran konsentrat.

Adanya nilai DHL yang terukur pada aliran permeat sedangkan nilai TDS pada aliran
permeat terukur 0 mg/Liter, hal tersebut mengindikasikan bahwa pada aliran permeat masih
terdapat padatan terlarut (khususnya padatan yang menghantarkan lisrik, membentuk ion
dalam air) dalam jumlah yang sangat kecil sehingga tidak terbaca oleh alat pengukur TDS
dengan satuan mg/Liter.
Apabila dibandingkan antara hasil percobaan yang telah dilakukan setiap RUNnya,
diketahui bahwa pada aliran konsentrat rata-rata nilai TDS semakin besar dengan semakin
besarnya laju alir umpan yang diberikan. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin besarnya
laju alir maka hasil dari proses reverse osmosis semakin baik sebab lebih banyak padatan
terlarut yang tertahan oleh membran. Dengan adanya penambahan besarnya laju alir umpan,
maka akan memperbesar driving force berupa perbedaan tekanan yang semakin besar.

Hasil terbaik dari percobaan reverse osmosis yang telah dilakukan adalah pada laju alir
umpan sebesar 760 mL/menit dengan rata-rata nilai TDS yang paling besar pada aliran
konsentrat dan nilainya cenderung stabil/konstan.

Farkhiyah 151411075

Reverse osmosis (RO) merupakan proses perpindahan massa larutan yang mempunyai
konsentrasi larutan tinggi ke larutan yang konsentrasinya rendah melalui membrane
semipermiabel dengan menggunakan driving force berupa perbedaan tekanan yang melebihi
tekanan osmosisnya. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengerti proses pemisahan kation
dalam air baku dengan sistem reverse osmosis, membuat kurva hubungan antara kadar zat
terlarut di aliran permeat dan konsentrat terhadap waktu, mengetahui efisiensi pemisahan, serta
mengetahui pengaruh laju alir influen terhadap hasil dari proses pemisahan dengan metode
reverse osmosis.

Prinsip keja dari mesin reverse osmosis yaitu air baku dihisap dengan pompa dan
dialirkan ke membran semipermiabel , air yang masih mengandung pengotor akan tertahan dan
dibuang di aliran keluaran, air ini disebut dengan konsentrat. Hasil dari reverse osmosis disebut
dengan permeat adalah air yang tidak mengandung ion (kation) merupakan air dengan kadar
zat terlarut total (TDS) dan daya hantar listrik (DHL) relative sangat rendah. Membran reverse
osmosis dapat menurunkan TDS karena mempunyai ukuran yang sangat kecil , ukurannya lebih
kecil daripada ukuran virus, bakteri dan ion ion.
Praktikum dilakukan dengan memvariasikan laju alir influen yaitu 740, 750, dan 760
mL/menit, masing masing dilakukan dalam 50 menit dan dilakukan pengambilan data setiap
10 menit sekali , dilakukan pengukuran DHL dan TDS di aliran konsentrat dan permeat.
Tekanan yang terukur pada setiap laju alir ±0,7 𝑘𝑔/𝑐𝑚2. Tekanan hidrostatik yang diberikan
melebihi tekanan osmosis larutan sehingga pelarut dapat berpindah dari konsentrasi tinggi ke
konsentrasi rendah.

Pada aliran konsentrat, semakin tinggi lajur alir maka semakin besar nilai TDS yang
terukur, hal ini menunjukan bahwa pengotor yang tertahan semakin banyak, maka semakin
besar laju alir umpan membuat proses pemisahan semakin baik. Pada aliran permeat , nilai
TDS yang terukur adalah nol. Pada dasarnya, masih ada zat terlarut yang berada dalam air,
namun karena nilainya sangat kecil, sehingga tidak terukur oleh alat dan menunjukan nilai TDS
yang terukur nol. Nilai nol yang terukur ini menunjukan bahwa pada aliran permeat sudah zat
terlarut dalam air sangat rendah. Nilai TDS pada aliran konsentrat cenderung meningkat
dengan bertambahnya waktu. Semakin lama proses pemisahan maka semakin banyak pengotor
yang tertahan oleh membrane. Adapun di aliran permeat bernilai nol dari awal pemisahan.

Pada aliran konsentrat, variasi laju alir terhadap nilai DHL di aliran konsentrat
cenderung meningkat. Pada laju alir yang tinggi nilai DHL nya lebih tinggi, laju alir yang tinggi
mengandung lebih banyak volume sehingga mengandung lebih banyak ion ion dalam air
tersebut. Nilai DHL di aliran permeat lebih kecil dibandingkan nilai DHL yang ada di aliran
konsentrat, menunjukan bahwa ion ion sebagian telah tertahan oleh membrane. Adapun nilai
DHL yang terukur terhadap waktu cenderung fluktuatif.

Untuk menentukan keberhasilan proses pemisahan, maka dapat dilakukan dengan cara
menentukan koefisien rejection (R). Nilai R menunjukan nilai zat terlarut yang ditolak, dari
hasil praktikum zat terlarut yang ditolak mencapai 100%, menunjukan bahwa proses
pemisahan berlangsung dengan sangat baik karena nilai zat terlarut di aliran permeat nol.
DAFTAR PUSTAKA

Ananto, Ilham. 2013. MEMBRAN FILTRASI REVERSE OSMOSIS. Banjarbaru : Fakultas


Pertanian Universitas Lambung Mangkurat

Ariyanti, Dessy. 2009. Pengendalian Scaling Pada Sistem Membran Reverse Osmosis:
Universitas Diponegoro

Ghozali, Ir. Mukhtar. 2008. Praktikum PLI. Bandung : Politeknik Negeri Bandung.

Muchtadi, Tien R. 2010. Membrane Technology. . http://www.bali-water.com/2012/05/tentang-


reverse-osmosis.html (diakses pada tanggal 7 Oktober 2017)
Setiawan, Candra. 2017. “Recycle Membran Reverse Osmosis dengan Metode Sirkulasi
Pencucian menggunakan Media NaOH.” Jakarta : Universitas Mercubuana
LAMPIRAN
A. Data Pengamatan

Umpan
- Laju Alir = 74, 75, dan 76 mL/menit
Konsentrasi
- TDS = 189 mg/L
- DHL = μS/cm

RUN 1

Tabel 4.1. Data Pengamatan pada Laju Alir 740 mL/menit

Konsentrasi di Aliran
Tekanan
Waktu, t Permeat Konsentrat
Operasi
(menit) TDS DHL TDS DHL
(Bar)
(mg/L) (μS/cm) (mg/L) (μS/cm)
10 0 3.16 245 51.1
20 0 1.43 244 50.9
30 0 2.47 228 51.6 0.7
40 0 2.82 255 61.5
50 0 2.28 267 53.9

RUN 2

Tabel 4.2. Data Pengamatan pada Laju Alir 750 mL/menit

Konsentrasi di Aliran
Tekanan
Waktu, t Permeat Konsentrat
Operasi
(menit) TDS DHL TDS DHL
(Bar)
(mg/L) (μS/cm) (mg/L) (μS/cm)
10 0 1.79 202 63.4
20 0 1.73 260 59.4
30 0 2.70 265 61.3 0.7
40 0 1.69 267 62.8
50 0 1.84 260 60.2
RUN 3

Tabel 4.3. Data Pengamatan pada Laju Alir 750 mL/menit

Konsentrasi di Aliran
Tekanan
Waktu, t Permeat Konsentrat
Operasi
(menit) TDS DHL TDS DHL
(Bar)
(mg/L) (μS/cm) (mg/L) (μS/cm)
10 0 2.00 269 58.1
20 0 2.22 269 59.4
30 0 2.62 269 61.3 0.7
40 0 1.79 266 58.4
50 0 2.07 272 55.2

B. Menghitung Efisiensi

𝐶𝑚 − 𝐶𝑝
%𝑅 = × 100 %
𝐶𝑚
Contoh perhitungan
RUN 1 pada waktu 10 menit :

𝑚𝑔
189 − 0𝑚𝑔/𝐿
%𝑅 = 𝐿 × 100 %
𝑚𝑔
189
𝐿

%𝑅 = 100 %