Anda di halaman 1dari 42

MODUL KEGAWAT DARURATAN

1. PENERAPAN FILOSOFI , KONSEP, HOLSTIK DAN PROSES KEPERAWATAN


KEGAWAT DARURATAN

PERAN DAN FUNGSI PERAWAT GAWAT DARURAT


A. Peran Perawat
Menurut konsorsium ilmu kesehatan tahun 1989 peran perawat terdiri dari :
1. Sebagai pemberi asuhan keperawatan
Peran ini dapat dilakukan perawat dengan memperhatikan keadaan kebutuhan dasar manusia
yang dibutuhkan melalui pemberian pelayanan keperawatan. Pemberian asuhan keperawatan ini
dilakukan dari yang sederhana sampai dengan kompleks.
2. Sebagai advokat klien
Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & kelg dalam menginterpretasikan berbagai
informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas tindakan
keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak pasien
meliputi :
- Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
- Hak atas informasi tentang penyakitnya
- Hak atas privacy
- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
- Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
3. Sebagai educator
Peran ini dilakukan dengan membantu klien dalam meningkatkan tingkat pengetahuan
kesehatan, gejala penyakit bahkan tindakan yang diberikan sehingga terjadi perubahan perilaku
dari klien setelah dilakukan pendidikan kesehatan.
4. Sebagai koordinator
Peran ini dilaksanakan dengan mengarahkan, merencanakan serta mengorganisasi pelayanan
kesehatan dari tim kesehatan sehingga pemberi pelayanan kesehatan dapat terarah serta sesuai
dengan kebutuhan klien.
5. Sebagai kolaborator
Peran ini dilakukan karena perawat bekerja melalui tim kesehatan yang terdiri dari dokter,
fisioterapi, ahli gizi dll dengan berupaya mengidentifikasi pelayanan keperawatan yang
diperlukan.
6. Sebagai konsultan
Perawat berperan sebagai tempat konsultasi dengan mengadakan perencanaan, kerjasama,
perubahan yang sistematis & terarah sesuai dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
7. Sebagai pembaharu
Perawat mengadakan perencanaan, kerjasama, perubahan yang sistematis & terarah sesuai
dengan metode pemberian pelayanan keperawatan
B. Fungsi Perawat
1. Fungsi Independen
Merupakan fungsi mandiri & tidak tergantung pada orang lain, dimana perawat dalam
melaksanakan tugasnya dilakukan secara sendiri dengan keputusan sendiri dalam melakukan
tindakan untuk memenuhi KDM.
2. Fungsi Dependen
Merupakan fungsi perawat dalam melaksanakan kegiatannya atas pesan atau instruksi dari
perawat lain sebagai tindakan pelimpahan tugas yang diberikan. Biasanya dilakukan oleh
perawat spesialis kepada perawat umum, atau dari perawat primer ke perawat pelaksana.
3. Fungsi Interdependen
Fungsi ini dilakukan dalam kelompok tim yang bersifat saling ketergantungan diantara tim satu
dengan yang lainnya. Fungsi ini dapat terjadi apabila bentuk pelayanan membutuhkan kerjasama
tim dalam pemebrian pelayanan. Keadaan ini tidak dapat diatasi dengan tim perawat saja
melainkan juga dari dokter ataupun lainnya.
Keperawatan adalah bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari
pelayanan kesehatan didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan, berbentuk pelayanan bio-psiko
– sosial dan spiritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, kelompok dan masyarakat
baik sehat maupun sakit yang mencakup seluruh daur kehidupan manusia.
Keperawatan merupakan ilmu terapan yang menggunakan keterampilan intelektual, keterampilan
teknikal dan keterampilan interpersonal serta menggunakan proses keperawatan dalam
membantu klien untuk mencapai tingkat kesehatan optimal.
Kiat keperawatan (nursing arts) lebih difokuskan pada kemampuan perawat untuk memberikan
asuhan keperawatan secara komprehensif dengan sentuhan seni dalam arti menggunakan kiat –
kiat tertentu dalam upaya memberikan kenyaman dan kepuasan pada klien. Kiat – kiat itu adalah
1. Caring , menurut Watson (1979) ada sepuluh faktor dalam unsur – unsur karatif yaitu : nilai –
nilai humanistic – altruistik, menanamkan semangat dan harapan, menumbuhkan kepekaan
terhadap diri dan orang lain, mengembangkan ikap saling tolong menolong, mendorong dan
menerima pengalaman ataupun perasaan baik atau buruk, mampu memecahkan masalah dan
mandiri dalam pengambilan keputusan, prinsip belajar – mengajar, mendorong melindungi dan
memperbaiki kondisi baik fisik, mental , sosiokultural dan spiritual, memenuhi kebutuhan dasr
manusia, dan tanggap dalam menghadapi setiap perubahan yang terjadi.
2. Sharing artinya perawat senantiasa berbagi pengalaman dan ilmu atau berdiskusi dengan
kliennya.
3. Laughing, artinya senyum menjadi modal utama bagi seorang perawat untuk meningkatkan
rasa nyaman klien.
4. Crying artinya perawat dapat menerima respon emosional diri dan kliennya.
5. Touching artinya sentuhan yang bersifat fisik maupun psikologis merupakan komunikasi
simpatis yang memiliki makna (Barbara, 1994)
6. Helping artinya perawat siap membantu dengan asuhan keperawatannya
7. Believing in others artinya perawat meyakini bahwa orang lain memiliki hasrat dan
kemampuan untuk selalu meningkatkan derajat kesehatannya.
8. Learning artinya perawat selalu belajar dan mengembangkan diri dan keterampilannya.
9. Respecting artinya memperlihatkan rasa hormat dan penghargaan terhadap orang lain dengan
menjaga kerahasiaan klien kepada yang tidak berhak mengetahuinya.
10. Listening artinya mau mendengar keluhan kliennya
11. Feeling artinya perawat dapat menerima, merasakan, dan memahami perasaan duka , senang,
frustasi dan rasa puas klien.
13. Accepting artinya perawat harus dapat menerima dirinya sendiri sebelum menerima orang
lain
Sebagai suatu profesi , keperawatan memiliki unsur – unsur penting yang bertujuan
mengarahkan kegiatan keperawatan yang dilakukan yaitu respon manusia sebagai fokus
telaahan, kebutuhan dasar manusia sebagai lingkup garapan keperawatan dan kurang perawatan
diri merupakan basis intervensi keperawatan baik akibat tuntutan akan kemandirian atau
kurangnya kemampuan.
Keperawatan juga merupakan serangkaian kegiatan yang bersifat terapeutik atau kegiatan praktik
keperawatan yang memiliki efek penyembuhan terhadap kesehatan (Susan, 1994 : 80).
Aspek Legal Penanganan Penderita Gawat Darurat Gawat Darurat
o Kewajiban
o KODEKI
o KUHP
o KUHAP
o KUHPerdata
o UU Kesehatan
o Permenkes
o Hak
o Surat edar
o Sanksi
o Pidana,perdata,adm
Perawat
o Etika keperawatan
o PP 32/1996 2:2
o Tenaga keperawatan : perawat & bidan
o Munas VI PPNI No. 09/Munas/PPNI/2000
o Kode Etik Keperawatan Indonesia:
o hubungan perawat dan klien
o hubungan perawat dan masyarakat
o Lafal sumpah/janji perawat :
o sarjana keperawatan,
o Ahli madya keperawatan,
o bidan
o Kode Etik Bidan ??
o Perawat lain ??
Isu Etika dan Hukum dalam Kegawatdaruratan Medik
o Diagnosis keadaan gawat darurat
o Standar Operating Procedure
o Kualifikasi tenaga medis
o Hak otonomi pasien : informed consent (dewasa, anak)
o Kewajiban untuk mencegah cedera atau bahaya pada pasien
o Kewajiban untuk memberikan kebaikan pada pasien (rasa sakit, menyelamatkan)
o Kewajiban untuk merahasiakan (etika >< hukum)
Isu Etika dan Hukum dalam Kegawatdaruratan Medik (lanjutan)
o Prinsip keadilan dan fairness
o Kelalaian
o Malpraktek :
 salah diagnosis
 tulisan yang buruk
 Kesalahan terapi : salah obat, salah dosis
o Diagnosis kematian
o Surat Keterangan Kematian
o Penyidikan medikolegal :
 Forensik klinik : kejahatan susila, child abuse, aborsi,
 Kerahasiaan
Pencegahan
o Standar Operating Procedure
o Pencatatan :
 Mencatat segala tindakan
 Mencatat segala instruksi
 Mencatat serah terima
Peran Perawat Dalam Pelayanan Ke gawat Daruratan .
Misi UGD : Secara pasti memberikan perawatan yang berkualitas terhadap pasien dengan cara
penggunaan sistem yang efektif serta menyeluruh dan terkoordinasi dalam :
a. Perawatan pasien gawat darurat.
b. Pencegahan cedera.
c. Kesiagaan menghadapi bencana.
Menanggulangi pasien dengan cara aman dan terpercaya :
a. Evaluasi pasien secara cepat dan tepat.
b. Resusitasi dan stabilisasi sesuai prioritas.
c. Menentukan apakah kebutuhan penderita melebihi kemampuan fasilitas.
d. Mengatur sebaik mungkin rujukan antar RS (apa, siapa, kapan, bagaimana).
e. Menjamin penanggulangan maksimum sudah diberikan sesuai kebutuhan pasien.
Petugas medis harus mengetahui :
a. Konsep dan prinsip penilaian awal serta penilaian setelah resusitasi.
b. Menentukan prioritas pengelolaan penderita.
c. Memulai tindakan dalam periode emas.
d. Pengelolaan ABCDE.
2. Unit Pelayanan Intensif :
Filosofi : Intensive Medical Care (IMC) mendapatkan legitimasi bukan karena kompleksitas
peralatan dan pemantauan pasien, tapi karena pasien sakit kritis selalu berakhir pada suatu final
common pathway dari kegagalan sistem organ, sehingga dibutuhkan bantuan terhadap organ
vital baik tersendiri mauun terkombinasi.
Aplikasi tidak terkoordinasi dari multi disipliner tidak hanya merugikan pasien, tetapi personil
perawat dan tenaga profesi medis lainnya juga akan merasa sangat sulit untuk bekerja dengan
baik dalam suatu unit yang tidak mempunyai arah dan filosofi yang tegas.
3. Komponen Pembiayaan (sub sistem pembiayaan).
Sumber bisa berasal dari pemerintah atau masyarakat :
a. Pemerintah pusat / daerah.
b. Jasa marga, askes, jasa raharja, astek.
c. DUKM.
d. Perusahaan berisiko terjadinya kecelakaan.
2. MELAKUKAN SIMULASI ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KASUS
KEGAWATAN, KEDARUATAN DAN KEGAWAT DARURATAN TERKAIT
GANGGUAN BERBAGAI SISTEM PADA INDIVIDU DENGAN
MEMPERHATIKAN ASPEK LEGAL DAN ETIS

SYOK

Patofisiologi

Syok merupakan kondisi terganggunya perfusi jaringan. Terdapat beebrapa faktor yan
mempengaruhi perfusi jaringan, yaitu
 Cardial : Cardiac Output -> volume darah yang dipompakan oleh jantung baik
ventrikel kiri maupun ventrikel kanan dalam interval 1 menit. Cardiac Output dapat
dihitung dengan rumus Stroke Volume x Heart rate. Sehingga cardiac output dipengaruhi
oleh stroke volume dan denyut jantung (Heart Rate )dalam satu menit. Perfusi jaringan
dipengaruhi oleh cardiac output, sebagai contoh apabila Cardiac output menurun yang
disebabkan oleh aritmia, atau AMI (Acute Myocard Infact) maka volume darah yang
dipompa menuju seluruh tubuh pun akan menurun sehingga jaringan di seluruh tubuh pun
mengalami hipoperfusi.
 Vascular : Perubahan Resistensi Vaskular. Tonus vaskular diregulasi oleh :
 Aktivitas tonus simpatis
 Kotekolamin sistemik -> berperan dalam sistem saraf simpatis
 Myogenic faktor -> berperan dalam menjaga aliran darah agar tetap konstan
ketika terjadi berbagai macam faktor yang mempengaruhi perfusi
 Substansi yang berperan sebagai vasodilator
 Endothelial NO
 Humoral : renin, vasopressin, prostaglandin, kinin, atrial natriuretic factor. Faktor -
faktor yang mempengaruhi dalam mikrosirkulasi yaitu
 Adanya adhesi platelet dan leukosit pada lesi intravaskuler.
 Koagulasi intravaskuler
 Adanya konstriksi pada pembuluh darah prekapiler dan post kapiler
 Hipoksia -> vasodilatasi artriola -> venokonstriksi -> Kehilangan cairan
intravaskuler
 meingkatnya permeabilitas intrakapiler -> edema jaringan
Patogenesis dari syok => biasanya terjadi akibat penurunan Cardiac Output / Cardic
Output yang tidak adekuat. Penurunan cardiac output disebabkan oleh adanya
anormalitas pada jantung sendiri maupun akibat menurunnya venous return.
Abnormalitas yang terjadi pada jantung akan menyebabkan menurunnya kemampuan
jantung untuk memompa darah secara adekuat.Beberapa abnormalitas jantung
diantaranya MI, aritmia, dll. Sedangkan beberapa penyebab menurunnya venous
return diantaranya, menurunya volume darah, menurunnya tonus vasomotor, terjadi
obstruksi pada beberapa tempat pada sirkulasi.
Tahapan Patofisiologi
terdapat 4 stage perkembangan shock yang berlangsung secara progresif dan
berkelanjutan, yaitu
1. inisial
2. kompensatori
3. progresif
4. refraktori
 Inisial
Selama tahap ini, terjadi keadaan hipoperfusi yang menyebabkan kurangnya/ tidak
cukupnya oksigen untuk memberikan suplai terhadap kebutuhan metabolisme seluler.
Keadaan hipoksia ini menyebabkan, terjadinya fermentasi asam laktat pada sel. Hal ini
terjadi karena ketika tidak adanya oksigen, maka proses masuknya piruvat pada siklus
kreb menjadi menurun, sehingga terjadi penimbunan piruvat. Piruvat tersebut akan
diubah menjadi laktat oleh laktat dehidrogenase sehingga terjadi penimbunan laktat yang
menyebabkan keadaan asidosis laktat.
 Kompensatori
Pada tahap ini tubuh menjalani mekanisme fisiologis untuk mengembalikan
kepada kondisi normal, meliputi neural, humoral, dan bio kimia. Asidosis yang terjadi
dalam tubuh dikompensasi dengan keadaan hiperventilasi dengan tujuan untuk
mengeluarkan CO2 dari dalam tubuh, karena secara tidak langsung CO2 berperan dalam
keseimbangan asam basa dengan cara mengasamkan ata menurunkan pH dalam darah.
Dengan demikian ketika CO2 dikeluarkan melalui hiperventilasi dapat menaikkan pH
darah didalam tubuh sehingga mengkompensasi asidosis yang terjadi.
Pada syok juga terjadi hipotensi yang kemudian pada ambang batas tertentu
dideteksi oleh barosreseptor yang kemudian tubuh merespon dengan menghasilkan
norepinefrin dan epnefrin. Norepinefrin berperan dalam vasokonstriksi pembuluh darah
namun memberikan efek yang ringan pada peningkatan denyut jantung. Sedangkan
epinefrin memberikan efek secara dominan pada peningkatan denyut jantung dan
memberikan efek yang ringan terhadap asokonstriksi pembuluh darah. Dengan demikian
kombinasi efek keduanya dapat berdampak terhadap peningkatan tekanan darah. Selain
dilepaskan norepinefrin dan epinefrin, RAA (renin angiotensi aldosteron) juga teraktivasi
dan terjadi juga pelepasan hormon vasopressor atau ADH (anti diuretic hormon) yang
berperan untuk meningkatkan tekanan darah dan mempertahankan cairan didalam tubuh
dengan cara menurunkan urine output.
 Progresif
Ketika shock tidak berhasil ditangani dengan baik, maka syok akan mengalami
tahap progresif dan mekanisme kompensasi mulai mengalai kegagalan. Pada stadium ini,
Asidosis metabolik semakin prah, otot polos pada pembuluh darah mengalami relaksasi
sehingga terjadi penimbunan darah dalam pembuluh darah. Ha ini mengakibatkan
peningkatan tekanan hidrostatik dikombinasikan dengan lepas nya histamin yang
mengakibatkan bocornya cairan ke dalam jaringan sekitar. Hal ini mengakibatkan
konsentrasi dan viscositas darah menjadi meningkat dan dapat terjadi penyumbatan dala
aliran darah sehingga berakibat terjadinya kematian banyak jaringan. Jika organ
pencernaan juga mengalami nekrosis, dapat menyebabkan masuknya bakteri kedalam
aliran darah yang kemudian dapat memperparah komplikasi yaitu syok endotoxic.
 Refraktori
Pada stadium ini terjadi kegagalan organ untuk berfungsi dan shock menjadi
ireversibel. Kematian otak dan seluler pun berlangsung. Syok menjadi irevesibel karena
ATP sudah banyak didegradasi menjadi adenosin ketika terjadi kekurangan oksigen
dalam sel. Adenosin yang terbentuk mudah keluar dari sel dan menyebabkan vasodilatasi
kapiler. Adenosin selanjutnya di transformasi menjadi asam urat yang kemudian di
eksresi ginjal. Pada tahap ini, pemberian oksigen menjadi sia- sia karena sudah tidak ada
adenosin yang dapat difosforilasi menjadi ATP.

FARMAKOLOGI

Terapi Farmakologi

Obat inotropik dan vasopresor biasanya tidak diindikasikan sebagai terapi utama syok
hipovolemik (perkiraan terapi cairan cukup), respon tubuh yang normal akan meningkatkan
curah jantung dan memperkecil saluran pembuluh darah untuk menjaga BP. Meskipun, sesekali
harus insufisiensi sirkulasi telah dihentikan atau ditangani dan cairan telah dioptimasi, medikasi
tetap diperlukan pada penderita dengan tanda dan gejala dari perfusi jaringan tidak mencukupi.
Obat peningkat tekanan darah seperti norepinefrin dan dosis tinggi dopamin sebaiknya
dihindari karena dapat meningkatkan BP pada iskemia jaringan. Penderita dengan BP yang tidak
stabil serta penempatan cairan kembali dan meningkatnya akumulasi cairan interstitial, obat
inotropik seperti dobutamin lebih dipilih jika Bpnya cukup (SBP ≥ 90 mmHg) karena obat ini
tidak menyebabkan vasokonstriksi. Karena tekanan tidak dapat ditangani oleh inotropik atau
inotropik dengan vasodilator tidak dapat digunakan (terfokus pada tidak sesuainya BP) maka
pressor dibutuhkan sebagai pilihan terapi.

 Pilihan vasopresor atau obat inotropik pada syok septik sebaiknya dibuat berdasarkan
kebutuhan penderitanya. Prosedur penggunaan obat ini dalam septik syok ditunjukkan
Gambar 2. Pendekatan secara tradisional dimulai dengan dopamin, kemudian
norepinefrin; penambahan dobutamin untuk curah jantung yang lemah, dan epinefrin,
serta fenilefrin digunakan jika dibutuhkan. Meskipun observasi saat ini memberikan hasil
yang lebih baik dengan norepinefrin dan penurunan perfusi secara regional dengan
dopamin masih dipertanyakan kembali dopamin sebagai obat tahap pertama.
 Selektivitas reseptor dari vasopresor dan inotrop diberikan pada Tabel 2. Secara umum
obat ini bereaksi cepat dengan durasi yang pendek dan diberikan sebagai infus yang
berkelanjutan. Vasokonstriksi yang poten seperti norepinefrin dan fenilefrin sebaiknya
diberikan melalui vena utama karena kemungkinan ekstravasasi dan kerusakan jaringan
melalui pemberian perifer. Pengawasan seksama dan kalkulasi laju infus disarankan
karena perubahan dosis sering terjadi dan variasi konsentrasi digunakan pada penderita
dengan volum yang terbatas.

Septik syok dengan hipotensi

Pemberian cairan

Hipotensi

Kardiak output tidak Kardiak output


memadai memadai

Dopamin Norepinefrin atau fenilefrin


*Pertimbangkan epinefrin jika pasien *Jika disritmia muncul dengan
tidak memiliki sejarah gangguan dopamin atau norepinefrin, fenilefrin
jantung dan/atau masih muda mungkin pilihan yang lebih baik

Jika kardiak output masih


tidak memadai

Dobutamin
(boleh dinaikan sampai dosis vasopresor
jika TD turun ketika dobutamin
ditambahkan)

Jika hipotensi refraktori pada


vasopresor dan inotropik

Pertimbangkan dosis rendah kortikosteroid jika


terdapat absolut atau relatif insufisiensi adrenal
(hidrokortison 300 mg IV/24 jam infus)
Jika hipotensi refraktori pada vasopresor
katekolamin +/- kortikosteroid, pertimbangkan
infus IV vasopresi 0,01 – 0,04
Gambar 14.2. Pendekatan prosedur terhadap penggunaan vasopresor dan inotropik pada septik
syok. Pendekatan direncanakan untuk digunakan kombinasi disertai keputusan klinis,
pengawasan parameter hemodinamik, dan terapi akhir.

 Dopamin sering digunakan sebagai vasopresor utama pada septik syok karena obat ini
meningkatkan BP melalui peningkatan kontraktilitas miokardial dan vasokonstriksi.
Walaupun dopamin telah dilaporkan memiliki hubungan antara dosis dengan aktivitas
reseptor dopamin (Dar), β1, dan reseptor α1, hubungan respon dosis tidak dapat dipastikan
pada penderita sakit kritis. Penderita septik syok terjadi tumpang tindih efek
hemodinamik dengan dosis rendah 3 mcg/kg/menit. Dosis 5 sampai 10 mcg/kg/menit
diutamakan untuk memperbaiki tekanan arteri rata-rata (MAP). Pada septik syok, dosis
ini meningkatkan Cl dengan cara memperbaiki kontraktilitas ventrikular, denyut jantung,
tekanan arteri, dan resistensi vaskular sistemik. Penggunaan klinis dari dopamin pada
septik syok dibatasi karena dosis besar diperlukan untuk menjaga CO dan BP. Pada dosis
diatas 20 mcg/kg/menit pada kinerja jantung yang terbatas dan hemodinamik regional.
Penggunaan dopamin juga umum digunakan untuk takikardia dan takidisritmia. Efek
samping lain yang diwaspadai adalah pada penggunaan septik syok termasuk diantaranya
yaitu, peningkatan PAOP, penekanan pulmonari, dan penurunan Pao2. Dopamin
sebaiknya digunakan dengan perhatian pada penderita yang preloadnya tinggi, hal ini
akan memperburuk edema pulmonar. Dosis rendah dopamin (1 sampai 3 mcg/kg/menit)
kadang kala digunakan bagi penderita dengan septik syok yang mendapatkan vasopresor
dengan atau tanpa oliguria. Tujuan terapi ini adalah untuk mencegah atau vasokonstriksi
ginjal kembali yang disebabkan oleh presor lainnya, mencegah gagal ginjal oliguria, atau
untuk merubah menjadi gagal ginjal non-oliguria. Dopamin sering ditambahkan dalam
dosis rendah pada vasopresor lain atau inotrop (contoh, norepinefrin). Pada umumnya
dosis dopamin tidak efektif atau tidak menoleransi sehingga perlu penambahan obat lain.
Pada bagian ini dopamin ditambahkan pada dosis kecilnya. Ada indikasi yang
mendukung penggunaan dosis kecil dopamin dalam menjaga fungsi ginjal pada oliguria,
dengan atau tanpa septik syok, atau dalam terjadinya vasokonstriksi kembali yang
diinduksi vasopresor pada septik syok.
 Dobutamin merupakan selektif β1 agonis dengan β2 menengah dan aktivitas vaskular α1,
hasilnya aktivitas kuat inotropik positif tanpa ada hubungannya dengan vasokonstriksi.
Dobutamin menyebabkan peningkatan yang besar dalam CO dan kurang disritmogenik
dibandingkan dopamin. Secara klinis, meningkatnya kontraktilitas miokardial dan diikuti
oleh reduksi refleks tonus simpatetik mengarah kepada menurunnya resistensi vaskular
(SVR). Meskipun dobutamin optimal digunakan untuk menurunkan CO dengan tekanan
pengisian yang tinggi atau syok kardiogenik, vasopresor diperlukan untuk melawan
vasodilatasi arteri. Penambahan dobutamin (dengan laju konstan 5 mcg/kg/menit) ke
regimen epinefrin dapat meningkatkan perfusi mukosal yang terukur oleh pHi dan
konsentrasi laktat arteri. Dobutamin sebaiknya dimulai dengan rentang dosis 2,5 sampai 5
mcg/kg/menit. Dosis diatas 5 mcg/kg/menit memberikan keuntungan efek yang terbatas
dalam nilai transport oksigen dan hemodinamik serta dapat meningkatkan efek samping
jantung. Laju infus diberikan dengan acuan poin akhir klinis. Penurunan Pao2 dan
peningkatan Pvo2 sebagai efek samping miokardial seperti takikardi, perubahan iskemia
di ECG, takidisritmia, dan hipotensi juga terlihat.

Tabel 14.2. Farmakologi Reseptor dari Inotropik yang terpilih dan Obat vasopresor yang
Digunakan untuk Septik syok.

Agen α1 α2 β1 β2 DA
Dobutamin (500 mg/250 ml D5W atau NS)
2-10 mcg/kg/menit + 0 ++++ ++ 0
>10-20 mcg/kg/menit ++ 0 ++++ +++ 0
Dopamin (800 mg/250 ml D5W atau NS)
1-3 mcg/kg/menit 0 0 ++++
3-10 mcg/kg/menit 0/+ 0 ++++ ++ ++++
>10-20 mcg/kg/menit +++ 0 ++++ 0
Epinefrin (2 mg/250 ml D5W atau NS)
0,01-0,05 mcg/kg/menit ++ ++ ++++ +++ 0
>0,05 mcg/kg/menit ++++ ++++ +++ 0
Norepinefrin (4 mg/250 ml D5W atau NS)
0,02-3 mcg/kg/menit (2-20
+++ +++ +++ +/+ + 0
mcg/menit)
Fenilefrin (50 mg/250 ml D5W atau
NS
0,5-9 mcg/kg/menit +++ + ? 0 0
Ket : Aktivitas diukur dari tidak ada aktivitas (0) sampai aktivitas maksimal ( + + + + ) atau ?
jika aktivitas tidak diketahui, DA : dopaminergik.

 Norepinefrin dikombinasikan dengan agonis α dan β tapi menyebabkan vasokontraksi


primer kemudian meningkatkan SVR. Umumnya hal ini tidak menunjukan perubahan
atau menunjukan perubahan atau sedikit menurunkan CO. norepinefrin diinisiasi setelah
dosis vasopressor dari dopamine (4 sampai 20/mcg/kg/menit), tunggal atau
dikombinasikan dengan dobutamin (2 sampai 40 mcg/kg/menit), gagal mendapatkan
tujuan yang diharapkan. Dosis dopamine dan dobutamin dijaga agar tetap konstan atau
dihentikan semuanya, misalnya dobutamin dijaga dalam dosis kecilnya untuk
kepentingan proteksi ginjal. Noreponefrin 0,01 sampai 2 mcg/kg/menit, dengan kosisten
dan dipastikan meningkatkan parameter hemodinamin dari normal atau supranormal pada
penderita septic syok. Beberapa data menyarankan norepinefrin sebaiknya digunakan
sebagai pilihan vasopressor untuk septic syok.
 Fenilefrin merupakan obat yang agonis α1 asli dan dapat meningkatkan BP melalui
vasokonstriksi. Obat ini juga meningkatkan kontraktilitas dan CO. fenilefrin
menguntungkan dalam penggunaan untuk septic syok karena sifat selektif agonis α1 , efek
vascular, onset cepat, dan durasi yang pendek. Fenilefrin sebaiknya diberikan saat
vasokonstriksi asli diharapkan pada penderita yang tidak dapat mendapatkan atau
menolerir efek β dari dopamine atau norepinefrin dengan atau tanpa dobutamin. Obat ini
dimulai pada dosis 0,5 mcg/kg/menit dan ditambahkan dengan cepat untuk memperoleh
hasil yang diharapkan. Efek samping takikardia jarang terjadi pada penggunaan tunggal
atau dosis tinggi.
Epinefrin dikombinasikan dengan efek agonis α dan β dan secara tradisional digunakan
sebagai vasopressor dari pilihan terakhir karena adanya laporan vasokonstriksi perifer
khususnya pada bagian splanchnic, dan pembuluh darah renal. Pada laju infus yang tinggi
saat digunakan untuk septic syok, efek α adrenergic sangat dominan, dan SVR dan MAP
meningkat. Hal ini dapat diterima sabagai obat tunggal untuk septic syok karena
dikombinasi untuk vasokonstriktor dan efek intropik. Epinefrin sangat berguna saat
digunakan sejak awal untuk septic syok pada penderita yang masih muda dan tidak
adanya keabnormalan jantung. Laju infus 0,04 sampai 1 mcg/kg/menit dapat
meningkatkan hemodinamik dan variable transport oksigen menjadi tingkat supranormal
dengan efeksamping pada penderita yang tidak mengalami jantung coroner. Dosis besar
(0,05 sampai 1 mcg/kg/menit) dapat diterima saat epinefrin ditambah dengan obat lain.
Dosis yang lebih kecil (0,1 sampai 0,5 mcg/kg/menit) efektif jika infus dobutamin
dopamine konstan. Walaupun Do2 meningkat sebagai fungsi dari peningkatan yang
konsisten dari CI (variable lain yang dapat meningkatkan SVR), Vo2tidak meningkat dan
O2ER turun. Konsentrasi laktat meningkat selama beberapa jam pertama dari terapi
epinefrin tetapi terjadi normalisasi sebagai bentuk pertahanan setelah 24 jam. Perhatian
diobat harus diikuti sebelumpertimbangan pemakaian epinefrin untuk menjaga
hipoperfusi pada penderita hipodinamik disertai penyakit arteri coroner. Hal tersebut
dilakukan untuk menghindari iskemia, nyeri dada, dan infrak miokardial.

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. F DENGAN KASUS CHF


DI CEMPAKA BAWAH RSU PERSAHABATAN
JAKARTA TIMUR
A. Pengkajian
I. Identitas Klien
a. Nama : Tn. F
b. Umur : 42 Tahun
c. Jenis kelamin : Pria
d. Agama : Islam
e. Alamat : Jl. Rawa Kuning Kel. Pulo Gebang Kec. Cakung Jakarta
Timur
f. Suku : Batak
g. Pekerjaan : Buruh
h. MRS : 09 – 04 – 2012 jam 23:07
i. Pengkajian : 10 – 04 - 2012
j. Register : 001342977
k. Diagnosa medis : CHF

II. Riwayat Penyakit Sekarang


Alasan utama MRS : Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS
Keluhan Utama :
Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS, timbul terutama saat batuk dan sesak nafas
sejak 2 hari sebelum MRS, dan apabila melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak, tidak
berkurang dengan pemberian obat dari dokter( nama lupa) serta tidur menggunakan bantal lebih
dari 2. Pada tanggal 9 April 2012 klien dibawa ke IGD RSU Persahabatan dan dibawa ke ruang
Cempaka Atas

III. Riwayat Penyakit Terdahulu


Sekitar 5 tahun yang lalu klien menderita hipertensi sejak itu klien kontrol ke RSU Persahabatan
tapi tidak rutin

IV. Riwayat Penyakit Keluarga


Pada keluarga tidak ada yang menderita penyakit hipertensi,jantung atau DM
V. Pola Kegiatan Sehari-hari
a. Nutrisi
Sebelum MRS klien makan 3x Sehari dengan porsi cukup saat MRS pemenuhan nutrisi diit
jantung III dengan 1700 kal, minum 750 cc/24 jam, kesulitan menelan tidak ada, keadaan yang
mengganggu nutrisi tidak ada. Setelah MRS pasien mengatakan perut semakin membesar,
mudah kenyang, makan < 1 piring, nafsu makan baik

b. Pola Eliminasi
BAB BAK
Frekuensi : 1x/2 hari Frekuensi : 5/6 x / hari
Warna dan bau : coklat Warna dan Bau : kuning
Konsistensi : Lunak Keluhan :-
Keluhan :-

c. Pola Tidur dan Istirahat

Sebelum MRS Setelah MRS


Tidur
Frekuensi : 2x / hari Frekuensi : 2x / hari
Jam tidur siang : 4 – 5 jam / hari Jam tidur siang : 4 – 5 jm/hr Jam tidur malam: 6
– 7 jam / hari Jam tidur malam : 6 – 7 jm/hr
Keluhan : tidak ada Keluhan : sesak, mudah terbangun
d. Pola Aktivitas

Sebelum MRS Klien hanya istirahat di rumah saja, tidak ada kegiatan sehari-hari karena merasa
sesak ketika melakukan aktifitas yang agak berat. Setelah MRS klien hanya duduk dan berbaring
di ranjang.

VI. Pemeriksaan Fisik

a. Status kesehatan
Keadaan penyakit sedang, kesadaran komposmentis, suara jelas
TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC
b. Kepala
Normocephalic, simetris, nyeri kepala tidak ada
c. Wajah
Simetris, oedema (-), tidak ada sianosis
d. Mata
Kelopak mata normal, konjungtiva anemis (-), isokor, sklera ikterik
(-),reflex cahaya (+), tajam penglihatan menurun
e. Telinga
secret (-), serumen (+), membrane timpani normal, pendengaran menurun

e. Mulut dan Faring


Stomatitis (-), gigi banyak yang hilang, kelainan tidak ada
f. Leher
Simetris, kaku kuduk (-), pembesaran vena jugularis (+)
g. Thoraks
Paru
Gerakan simetris, retraksi supra renal (-), retraksi intercosta (-), perkusi resonan, ronchi +/+,
wheezing -/-, vocal fremitus kuat dan simetris

h. Jantung
Batas jantung kiri ics 2 sternal kiri dan ics 4 sternal kiri, batas kanan ics 2 sternal kanan dan ics 5
axila anterior kanan, perkusi dullness, bunyi S1 dan S2 tunggal, Gallop (-), mur-mur (-),
capillary refill 2-3 detik
i. Bising usus (+), tidak ada benjolan, nyeri tekan pada kuadran kanan bawah, pembesaran
hepar 2 jari lunak.
j. Genitalia
Tidak diperiksa
k. Ekstermitas
Akral hangat, edema (-/-), kekuatan 3/4, gerak yang tidak disadari (-)

VII. Pemeriksaan Penunjang

Laboratorium
Hb : 11,9 13 - 15
Hematokrit : 35 40 - 48
Leukosit : 6300
Trombosit : 255.000
Diff : -/-/ 2/73/24/1
AGD
1. Ph : 7.492
2. Po2 : 133,4
3. PCo2 : 23,6
4. HCO3 : 17,9
5. Sat O2 : 98,8
Na : 138
K : 5,3
Cl : 101
Ureum : 14
Kreatinin : 210
SGOT : 111,3
SGPT : 360
Albumin : 3,8
Gula Darah Puasa : 97
Ck : 771
CKMB : 100
Radiologi
Hasil/kesan : CTR > 50% (kardiomegali)
EKG
Tanggal : 11-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, ST elevasi pada V4, Q patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, HR 110x/ mnt ireguler, axis, LAD

VIII. Terapi

- Obat-obatan
IVFD : 20 tts/ mnt
Lasix : 3 x 40 mg iv
Ascardia: 1 x 80 mg
Simvatatin: 1 x 20 mg
Captopryl: 3 x 25 mg
O2: 3 liter/ mnt Nasal Kanul
-Diet
Diet jantung III ( 1700 kal ), RG

KLASIFIKASI DATA

Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS


Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS
Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak
Klien mengatakan tidur menggunakan bantal lebih dari 2
Klien mengatakan sekitar 5 tahun yang lalu klien menderita hipertensi
Klien mengatakan perut semakin membesar, mudah kenyang, makan < 1 piring setelah
MRS
Klien mengeluh sesak dan mudah terbangun pada malam hari
TTV :
TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC
tajam penglihatan menurun
telinga : serumen (+)
Mulut dan Faring: gigi banyak yang hilang
Leher: pembesaran vena jugularis (+)
Abdomen: nyeri tekan pada kuadran kanan bawah
Ekstermitas : kekuatan 3/4
Laboratorium
Hb : 11,9 13 - 15
Hematokrit : 35 40 - 48
EKG : Tanggal : 11-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, ST elevasi pada V4, Q patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, HR 110x/ mnt ireguler, axis, LAD

ANALISA DATA
DATA ETIOLOGI PROBLEM
DS Disfungsi miocard Penurunan curah jantung
Klien mengeluh sesak
nafas sejak 2 hari SMRS Kontraktilitas
Klien mengeluh nyeri dada
3 minggu sebelum MRS
Klien mengatakan ketika
melakukan aktifitas sehari-hari Gagal pompa ventrikel
bertambah sesak
DO
TTV :
TD : 140/90 mmHg, N : 100 Curah jantung ( COP)
x/menit reguler , RR : 20 x/
menit,T : 36,5 oC
Leher: pembesaran vena
jugularis (+)
Laboratorium
Hb : 11,9 13 -
15
Hematokrit : 35 40
- 48
EKG : Tanggal : 11-4-
2012
Hasil/kesan : irama
sinus, ST elevasi pada V4, Q
patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-4-
2012
Hasil/kesan : irama
sinus, HR 110x/ mnt ireguler,
axis, LAD
DATA ETIOLOGI PROBLEM

DS Suplai drh Intoleransi


Klien mengeluh sesak kejaringan Nutrisi aktifitas
nafas sejak 2 hari SMRS & O2 sel
Klien mengatakan ketika Metabolisme sel
melakukan aktifitas sehari- Lemah & letih
hari bertambah sesak
Tajam penglihatan
menurun
DO
Ekstermitas : kekuatan
3/4
Laboratorium
Hb : 11,9 13
- 15
Hematokrit : 35 40
- 48
EKG : Tanggal : 11-4-
2012
Hasil/kesan : irama
sinus, ST elevasi pada V4, Q
patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-
4-2012
Hasil/kesan : irama
sinus, HR 110x/ mnt ireguler,
axis, LAD
TTV :
TD : 140/90 mmHg, N : 100
x/menit reguler , RR : 20 x/
menit,T : 36,5 oC
DIAGNOSA KEPERAWATAN

1. Penurunan curah jantung berhubungan dengan Perubahan kontraktilitas miokardial ditandai


dengan :
DS
Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS
Klien mengeluh nyeri dada 3 minggu sebelum MRS
Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak
DO
TTV :
TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC
Leher: pembesaran vena jugularis (+)
Laboratorium
Hb : 11,9 13 - 15
Hematokrit : 35 40 - 48
EKG :
Tanggal : 11-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, ST elevasi pada V4, Q patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, HR 110x/ mnt ireguler, axis, LAD
2. Intoleransi aktifitas berhubungan dengan kelemahan dan keletihan ditandai dengan:
DS
Klien mengeluh sesak nafas sejak 2 hari SMRS
Klien mengatakan ketika melakukan aktifitas sehari-hari bertambah sesak
Tajam penglihatan menurun
DO
Ekstermitas : kekuatan 3/4
Laboratorium
Hb : 11,9 13 - 15
Hematokrit : 35 40 - 48
EKG : Tanggal : 11-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, ST elevasi pada V4, Q patologis pada v1-v3
Tanggal : 12-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, HR 110x/ mnt ireguler, axis, LAD
TTV : TD : 140/90 mmHg, N : 100 x/menit reguler , RR : 20 x/ menit,T : 36,5 oC

RENCANA PERAWATAN
DIAGNOSA
TUJUAN INTERVENSI RASIONAL
KEPERAWATAN
1. Penurunan curah jantung Setelah dilakukan 1. Kaji dan catat 1.
berhubungan tindakan keperawatan tekanan
dengan Perubahan kondisi klien dapat darah,sianosis,ira
kontraktilitas miokardial membaik denga kriteria: ma dan denyut
ditandai dengan : - tanda-tanda vital dalam jantung
DS batas normal;N:60-100 2. Intruksikan
Klien x/mnt,TD:100-120/80- untuk menjaga
mengeluh sesak nafas sejak 2 90 mmHg,P: 16-20 keseimbangan
hari SMRS x/mnt, intake dan output
Klien - tidak ada hipotensi 3. Jelaskan tentang
mengeluh nyeri dada 3 - AGD dalam batas penggunaan dosis
minggu sebelum MRS normal frekuensi dan
Klien - tidak ada distensi vena efek samping
mengatakan ketika melakukan jugularis obat
aktifitas sehari-hari bertambah 4. Kolaboratif:
sesak diuretic dan
DO antibiotic
TTV :
TD : 140/90 mmHg, N : 100
x/menit reguler , RR : 20 x/
menit,T : 36,5 oC
Leher:
pembesaran vena jugularis (+)
Laboratorium
Hb : 11,9 13 -
15
Hematokrit : 35 40 -
48
EKG :
Tanggal : 11-4-2012
Hasil/kesan : irama sinus, ST
elevasi pada V4, Q patologis
pada v1-v3
Tanggal : 12-4-
2012
Hasil/kesan : irama sinus, HR
110x/ mnt ireguler, axis,
LAD
2. Intoleransi aktifitas
berhubungan dengan
kelemahan dan keletihan
ditandai dengan:
DS
Klien mengeluh sesak
nafas sejak 2 hari SMRS
Klien mengatakan ketika
melakukan aktifitas sehari-
hari bertambah sesak
Tajam penglihatan
menurun 5. Kaji respon
DO emosional sosial
Ekstermitas : kekuatan 3/4 dan spiritual
Laboratorium 6. Monitor respon
Hb : 11,9 13 - 15 cardiorespiratory
Hematokrit : 35 40 - 48 Setelah dilakukan terhadap
EKG : Tanggal : 11-4-2012 tindakan keperawatan kelelahan
Hasil/kesan : diharapkan intoleransi 7. Intruksikan
irama sinus, ST elevasi pada aktifitas klien dapat teknik relaksasi
V4, Q patologis pada v1-v3 teratasi denga criteria selama aktifitas
Tanggal : 12-4- hasil: 8. Evaluasi motivasi
2012 -TTV dalam batas klien terhadap
Hasil/kesan : normal peningkatan
irama sinus, HR 110x/ mnt -klien mampu aktifitas
ireguler, axis, LAD mendemonstrasikan
TTV : TD : 140/90 mmHg, aktifitas dan self care
N : 100 x/menit reguler , RR : -keseimbangan antara
20 x/ menit,T : 36,5 oC aktifitas dan istirahat
6.

NO HARI/
JAM INTERVENSI EVALUASI KET
DX TANGGAL
1 11- 04 2012 09:00
1. mengkaji dan catat tekanan S: klien mengatakan
darah,sianosis,irama dan denyut sesak nafas dan
jantung jantung bergerak
hasil: TD: 120/90, HR: 122 x/mnt tidak teratur
regular, RR: 20 x/mnt O: TD: 120/90
09:30
2. mengintruksikan untuk menjaga mmHg,RR: 22
keseimbangan intake dan output x/mnt,N: 116 x/mnt,
hasil: reuler, EKG: irama
klien Nampak paham dengan sinus, HR: 110 x/mnt,
penjelasan yang diberikan ireguler, axis, LAD
3. menjelaskan tentang penggunaan A. masalah belum
09:50 dosis frekuensi dan efek samping teratasi
obat
hasil: P: Lanjutkan
klien Nampak paham dengan intervensi
penjelasan yang diberikan
4. mengkolaborasi pemberian
10:00 diuretic dan antibiotic
hasil: klien minum obat

NO HARI/ JAM INTERVENSI EVALUASI KET


DX TANGGAL
2 11-04-2012 09:00
5. mengkaji respon emosional dan S: klien mengatakan
spiritual klien sesak nafas dan
hasil: motivasi klien terhadap jantung bergerak
aktifitas baik tidak teratur
09:30
6. memonitor cardiorespiratory O: TD: 120/90
terhadap kelelahan mmHg,RR: 22
hasil: TTV: x/mnt,N: 116 x/mnt,
T: 120/90 mmHg reuler, EKG: irama
HR: 116 x/mnt regular sinus, HR: 110 x/mnt,
RR: 22 x/mnt ireguler, axis, LAD
09:45
7. menintruksikan teknik relaksasi B. masalah belum
selama aktifitas teratasi
hasil: klien paham dengan intruksi
yang diberikan P: Lanjutkan
09:47
8. mengevalu intervensi
si motivasi kilen terhadap
peningkatan aktifitas
hasil: klien mangatakan mudah
merasa lelah,sesak nafas, dah
jantung tidak teratur
NO HARI/
JAM INTERVENSI EVALUASI KET
DX TANGGAL
1 12- 04 2012 09:001. mengkaji dan catat tekanan S: klien mengatakan
darah,sianosis,irama dan denyut sesak nafas dan
jantung jantung bergerak
hasil: TD: 120/90, HR: 110 x/mnt tidak teratur
regular, RR: 22 x/mnt capillary O: TD: 120/90
09:30 refill 3 detik mmHg,RR: 22
2. mengintruksikan untuk menjaga x/mnt,N: 116 x/mnt,
keseimbangan intake dan output reguler, EKG: irama
hasil: sinus, HR: 110 x/mnt,
klien Nampak paham dengan ireguler, axis, LAD
penjelasan yang diberikan C. masalah belum
09:503. menjelaskan tentang penggunaan teratasi
dosis frekuensi dan efek samping
obat P: Lanjutkan
hasil: intervensi
klien Nampak paham dengan
penjelasan yang diberikan
10:004. mengkolaborasi pemberian
diuretic dan antibiotic
hasil: klien minum obat
NO HARI/ JAM 5. INTERVENSI EVALUASI KET
DX TANGGAL
2 12-04-2012 09:006. mengkaji respon emosional dan S: klien mengatakan
spiritual klien sesak nafas dan
hasil: motivasi klien terhadap jantung bergerak
aktifitas baik tidak teratur
09:307. memonitor cardiorespiratory O: TD: 120/90
terhadap kelelahan mmHg,RR: 22
hasil: TTV: x/mnt,N: 116 x/mnt,
T: 120/90 mmHg reuler, EKG: irama
HR: 110 x/mnt regular sinus, HR: 110 x/mnt,
RR: 20 x/mnt ireguler, axis, LAD
09:458. menintruksikan teknik relaksasi D. masalah belum
selama aktifitas teratasi
hasil: klien paham dengan intruksi
yang diberikan P: Lanjutkan i
09:479. mengevalu
si motivasi kilen terhadap
peningkatan aktifitas
hasil: klien mangatakan mudah
merasa lelah,sesak nafas, dah
jantung tidak teratur
3. MELAKUKAN SIMULASI PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN KASUS
KEGAWATAN, KEDARURATAN DAN KEGAWAT DARURATAN TERKAIT
MULTI SISTEM PADA INDIVIDU DENGAN BERBAGAI TINGKAT USIA
DENGAN MEMPERHATIKAN ASPEK LEGAL DAN ETIS

1. Pencegahan primer
Pencegahan primer adalah intervensi biologi,sosial,atau psikologis yang bertujuan
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan atau menurunkan insiden penyakit di
masyarakat dengan mengubah faktor-faktor penyebab sebelum membahayakanseperti
penyuluhan kesehatan, pengubahan lingkungan, dukungan system social.
a. Penyuluhankesehatan
Penyuluhan kesehataan merupakan salah satu bagian dari pencegahan primer yang
mampu dilakukan.Penyuluhan kesehatan mencakup memperkuat individu dan
kelompok melalui pembentukan kompetensi. Asumsinya adalah banyak respon
maladaptive terjadi akibat kurangnya kompetensi. Hal ini meliputi kurangnya
control yang dirasakan terhadap kehidupan seseorang, rasa keefektifan diri yang
rendah, kurang efektifnya strategi koping, dan harga diri rendah yang terjadi.
Penyuluhan kesehatan mencakup empat tingkat intervensi berikut ini.
 Meningkatkan kesadaran individu atau kelompok tentang masalah dan
peristiwa yang berhubungan dengan sehat dan sakit, seperti tugas
perkembangan normal.
 Meningkatkan pemahaman seseorang tentang dimensi stressor yang
potensial, kemungkinan hasil (baik adaptif maupun maladaptif), dan
respon koping alternative.
 Meningkatkan pengetahuan seseorang tentang dimana dan bagaimana
memperoleh sumber yang diperlukan.
 Meningkatkan keterampilan penyelesaian masalah individu atau
kelompok, keterampilan interpersonal, toleransi terhadap stres dan frustasi,
motifasi, harapan, dan harga diri.
b. Pengubahan lingkungan
Intervensi preventif mungkin dilakukan untuk memodifikasi lingkungan
terdekat individu atau kelompok atau system social yang lebih besar. Intervensi
ini terutama bermanfaat apabila lingkungan menempatkan tuntutan baru kepada
pasien, tidak tanggap terhadap kebutuhan perkembangan, dan hanya memberikan
sedikit dukungan. Pengubahan lingkungan meliputi jenis berikut ini.
 Ekonomi-mengalokasikan sumber untuk bantuan financial atau
bantuan anggaran dan pengelolaan penghasilan.
 Pekerjaan-menerima tes pekerjaan, bimbingan, pendidikan, atau
pelatihan kembali yang dapat menghasilkan pekerjaan atau karir baru.
 Perumahan-pindah ketempat baru, yang berarti meninggalkan atau
kembali pada keluarga dan teman; memperbaiki rumah yang sudah
ada; mendapatkan atau kehilangan keluarga, teman atau teman
sekamar.
 Keluarga-memasukkan anak pada fasilitas perawatan, taman kanak-
kanak, sekolah dasar, atau berkemah; mendapatkan pelayanan rekreasi,
social, keagamaan, atau komunitas.
 Politik-memengaruhi struktur dan prosedur pelayanan kesehatan;
berperan serta dalam perencanaan dan pengembangan komunitas;
mengatasi masalahlegislatif.
c. Dukungan system social
Penguatan dukungan social adalah cara mengurangi atau memperkecil
pengaruh dari peristiwa yang berpotensi menimbulkan sters. Empat jenis
intervensi preventif yang mungkin adalah:
 Mengkaji lingkungan masyarakat untuk mengidentifikasi area masalah
dan kelompok resiko tinggi.
 Meningkatkan hubungan antara system dukungan masyarakat dan
pelayanan kesehatan jiwa formal.
 Menguatkan jaringan pemberian pelayanan yang ada, meliputi
kelompok gereja, organisasi masyarakat, kelompok wanita, dukungan
tempat kerja, dan lingkungan, dan self-help group.
 Membantu individu atau kelompok dalam mengembangkan,
mempertahankan, memperluas, dan menggunakan jaringan social yang
tersedia.
2. Pencegahan Sekunder
Pencegahan skunder termaksud menurunkan prevalensi ganguan.aktifitas
pencegahan skunder meliputi penemuan kasus dini, skrining dan pengobatan efektif
yang cepat.intervensi krisis adalah suatu modalitas terapi pencegahan sekunder yang
penting.
a. Krisis
Krisis adalah gangguan internal yang ditimbulkan oleh peristiwa yang
menegangkan atau ancaman yang dirasakan pada diri seseorang. Mekanisme
koping yang biasa digunakan seseorang. Mekanisme koping yang biasa digunakan
seseorang menjadi tidak efektif untuk mengatasi ancaman, dan orang tersebut
mengalami suatu ketidakseimbangan serta peningkatan ansietas. Ancaman atau
peristiwa pencetus biasanya dapat diidentifikasi. Tujuan intervensi krisis adalah
individu pada tingkat fungsi sebelum krisis. Krisis memiliki keterbatasan waktu,
dan konflik berat yang ditimbulkan dapat menstimulasi pertumbuhan personal.
Apa yang dilakukan seseorang terhadap krisis menentukan pertumbuhan atau
disorganisasi bagi orang tersebut.
b. Factor pengimbang
Dalam menguraikan resolusi krisis, beberapa factor pengimbang yang
penting perlu dipertimbangkan. Keberhasilan resolusi krisis kemungkinan besar
terjadi jika persepsi individu terhadap peristiwa adalah realististis bukan
menyimpang, jika tersedia dukungan situasional sehingga orang lain dapat
membatu menyelesaikan masalah, dan jika tersedia mekanisme koping untuk
membantu mengurangi ansietas.
c. Jenis –jenis krisis
 Krisis maturasi. Krisis maturasi merupakan masa transisi atau
perkembangan dalam kehidupan seseorang pada saat keseimbangan
psikologis terganggu, seperti pada masa remaja, menjadi orang tua,
pernikahan, atau pensiun. Krisis maturasi menuntut perubahan peran. Sifat
dan besarnya krisis maturasi dapat dipengaruhi oleh model peran, sumber
interpersonal yang memadai, dan kesiapan orang lain dalam menerima
peran baru.
 Krisis situasi. Krisis situasi terjadi ketika peristiwa eksternal tertentu
mengganggu keseimbangan psikologis individu atau keseimbangan
kelompok. Contohnya yaitu kehilangan pekerjaan, perceraian, kematian,
masalah sekolah, penyakit dan bencana.
3. Pencegahan Tersier
Pencegahan tersier adalah upaya meningkatkan angka kesembuhan, angka
survival (bertahan hidup), dan kualitas hidup dalam mengatasi penyakit. Aktivitas
pencegahan tersier mencoba untuk mengurangi beratnya gangguan dan disabilitas
yang berkaitan. Rehabilitasi adalah proses yang memungkinkan individu untuk
kembali ke tingkat fungsi setinggi mungkin.

4. MENGINTEGRASIKAN HASIL-HASIL PENELITIAN KEDALAM ASUHAN


KEPERAWATAN DALAM KEMNGATASI MASALAH YANG BERHUBUNGAN
DENGAN KEGAWATAN, KEDARURATAN DAN KEGAWAT DARURATAN
TERKAIT BERBAGAI SISTEM

. CPR / RJP
Resusitasi jantung paru-paru atau CPR adalah tindakan pertolongan pertama pada orang yang
mengalami henti napas karena sebab-sebab tertentu. CPR bertujuan untuk membuka kembali
jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR sangat dibutuhkan bagi orang
tenggelam, terkena serangan jantung, sesak napas, karena syok akibat kecelakaan, terjatuh, dan
sebagainya.
Namun yang perlu diperhatikan khusus untuk korban pingsan karena kecelakaan, tidak boleh
langsung dipindahkan karena dikhawatirkan ada tulang yang patah. Biarkan di tempatnya sampai
petugas medis datang. Berbeda dengan korban orang tenggelam dan serangan jantung yang harus
segera dilakukan CPR.
Chain of survival merupakan suatu serial tindakan yang harus dilakukan pada pasien yang
mengalami henti jantung. Chain of survival terdiri dari lima unsur,yakni: pengenalan dini henti
jantung, pemberian CPR secara dini, pemberian defibrilator sesegera mungkin, penatalaksanaan
ALS (Advance Life Support), dan perawatan pasca henti jantung.
Rantai kehidupan (chain survival) terdiri dari beberapa tahap berikut ini (AHA, 2010):
1. Mengenali sedini mungkin tanda-tanda cardiac arrest dan segera mengaktifkan
2. panggilan gawat darurat (Emergency Medical Services)
3. Segera melakukan RJP dengan tindakan utama kompresi dada
4. Segera melakukan defibrilasi jika ada indikasi
5. Segera memberi bantuan hidup lanjutan (advanced life support)
6. Melakukan perawatan post cardiac arrest
b. Indikasi
1. Pasien henti nafas
Henti nafas ditandai dengan tidak adanya gerakan dada dan aliran udara pernafasan dari korban
atau pasien. Henti nafas merupakan kasus yang harus dilakukan tindakan Bantuan Hidup Dasar.
Henti nafas terjadi dalam keadaan seperti: Tenggelam atau lemas, stroke, obstruksi jalan nafas,
epiglotitis, overdosis obat-obat, tersengat listrik, infark miokard, tersambar petir, koma akibat
berbagai macam kasus.
2. Pasien henti jantung
Pada saat terjadi henti jantung, secara langsung akan terjadi henti sirkulasi. Henti sirkulasi ini
akan dengan cepat menyebabkan otak dan organ vital kekurangan oksigen. Pernafasan yang
terganggu merupakan tanda awal akan terjadinya henti jantung. Henti jantung ditandai oleh
denyut nadi besar tak teraba disertai kebiruan atau pucat, pernafasan berhenti atau satu-satu,
dilatasi pupil tak bereaksi terhadap rangsang cahaya dan pasien tidak sadar (Suharsono, T., &
Ningsih, D. K., 2008).
c. Alur Basic Life Support
1. Tahapan persiapan
Sebelum melakukan resusitasi maka harus dilakukan beberapa prosedur berikut pada pasien
(AHA, 2010):
· Memastikan kondisi lingkungan sekitar aman bagi penolong
· Memastikan kondisi kesadaran pasien
Penolong harus segera mengkaji dan menentukan apakah korban sadar/tidak. Penolong harus
menepuk atau menggoyang bahu korban sambil bertanya dengan jelas: ‘Hallo, Pak/ Bu! Apakah
anda baik-baik saja?’.Jangan menggoyang korban dengan kasar karena dapat mengakibatkan
cedera. Juga hindari gerakan leher yang tidak perlu pada kejadian cedera kepala dan leher.
· Mengaktifkan panggilan gawat darurat
Jika korban tidak berespon, segera panggil bantuan. Jika ada orang lain disekitar korban, minta
orang tersebut untuk menelpon ambulans dan ketika menelpon memberitahukan hal-hal berikut:
Ø Lokasi korban
Ø Apa yang terjadi pada korban
Ø Jumlah korban
Ø Minta ambulans segera datang
· Memastikan posisi pasien tepat
Agar resusitasi yang diberikan efektif maka korban harus berbaring pada permukaan yang datar,
keras, dan stabil. Jika korban dalam posisi tengkurap atau menyamping, maka balikkan tubuhnya
agar terlentang. Pastikan leher dan kepala tersangga dengan baik dan bergerak bersamaan selam
membalik pasien.
2. Fase-fase RJP (Resusitasi Jantung Paru) Sesuai Algoritma AHA 2010
a. Basic life support (BLS) atau tunjangan hidup dasar
Pada tahun 2010, American Heart Association (AHA) mengeluarkan panduan terbaru
penatalaksanaan CPR. Berbeda dengan panduan sebelumnya, pada panduan terbaru ini AHA
mengubah algoritma CPR dari ABC menjadi CAB.
· Circulation (C)
Mengkaji nadi/ tanda sirkulasi Ada tidaknya denyut jantung korban/pasien dapat ditentukan
dengan meraba arteri karotis di daerah leher korban/ pasien, dengan dua atau tiga jari tangan (jari
telunjuk dan tengah) penolong dapat meraba pertengahan leher sehingga teraba trakhea,
kemudian kedua jari digeser ke bagian sisi kanan atau kiri kira-kira 1–2 cm raba dengan lembut
selama 5–10 detik. Jika teraba denyutan nadi, penolong harus kembali memeriksa pernapasan
korban dengan melakukan manuver tengadah kepala topang dagu untuk menilai pernapasan
korban/ pasien. Jika tidak bernapas lakukan bantuan pernapasan, dan jika bernapas pertahankan
jalan napas.
Melakukan kompresi dada Jika telah dipastikan tidak ada denyut jantung luar,dilakukan dengan
teknik sebagai berikut :
Ø Menentukan titik kompresi (center of chest): Cari possesus xypoideus pada sternum dengan
tangan kanan, letakkan telapak tangan kiri tepat 2 jari diatas posseus xypoideus.
Ø Melakukan kompresi dada
Kaitkan kedua jari tangan pada lokasi kompresi dada, luruskan kedua siku dan pastikan mereka
terkunci pada posisinya, posisikan bahu tegak lurus diatas dada korban dan gunakan berat badan
anda untuk menekan dada korban sedalam minimal 2 inchi (5 cm), lakukan kompresi 30x dengan
kecepatan minimal 100x/menit atau sekitar 18 detik. (1 siklus terdiri dari 30 kompresi: 2
ventilasi). Lanjutkan sampai 5 siklus CPR, kemudian periksa nadi carotis, bila nadi belum ada
lanjutkan CPR 5 siklus lagi. Bila nadi teraba, lihat pernafasan (bila belum ada upaya nafas)
lakukan rescue breathing dan check nadi tiap 2 menit.
Ø Airway (A) Tindakan ini bertujuan mengetahui ada tidaknya sumbatan jalan napas oleh benda
asing. Buka jalan nafas dengan head tilt-chin lift/ jaw thrust. Jika terdapat sumbatan harus
dibersihkan dahulu, kalau sumbatan berupa cairan dapat dibersihkan dengan jari telunjuk atau
jari tengah yang dilapisi dengan sepotong kain (fingers weep), sedangkan sumbatan oleh benda
keras dapat dikorek dengan menggunakan jari telunjuk yang dibengkokkan. Mulut dapat dibuka
dengan teknik Cross Finger, dimana ibu jari diletakkan berlawanan dengan jari telunjuk pada
mulut korban.
Ø Breathing (B) Bantuan napas dapat dilakukkan melalui mulut ke mulut, mulut ke hidung atau
mulut ke stoma (lubang yang dibuat pada tenggorokan) dengan cara memberikan hembusan
napas sebanyak 2 kali hembusan, waktu yang dibutuhkan untuk tiap kali hembusan adalah 1,5–2
detik dan volume udara yang dihembuskan adalah 7000–1000ml (10ml/kg) atau sampai dada
korban/pasien terlihat mengembang. Penolong harus menarik napas dalam pada saat akan
menghembuskan napas agar tercapai volume udara yang cukup. Konsentrasi oksigen yang dapat
diberikan hanya 16 – 17%. Penolong juga harus memperhatikan respon dari korban/pasien
setelah diberikan bantuan napas.
3. Trauma dada
Trauma dada adalah trauma tajam atau tembus thoraks yang dapat menyebabkan tamponade
jantung, perdarahan, pneumothoraks, hematothoraks,hematopneumothoraks.Trauma thorax
adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau
tumpul.Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu
paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat pemompa
darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada dada, kedua organ tersebut bisa mengalami
gangguan atau bahkan kerusakan.
Dada merupakan rongga bertulang yang terbentuk dari 12 pasang tulang rusuk yang
berhubungan dengan tulang belakang di posterior dan tulang dada di anterior. Saraf dan
pembuluh darah intercostals berjalan sepanjang permukaan inferior pada setiap tulang rusuk.
Permukaan dalam rongga dada dan paru dilapisi selaput tipis, disebut pleura. Ruang antara dua
lapisan pleura normalnya hampa (ruang potensial), bila ruangan ini berisi udara akan
menimbulkan pneumothorax, bila berisi darah akan menimbulkan hemothorax. Pada orang
dewasa, ruangan potensial ini dapat menampung 3 liter cairan disetiap sisinya. Setiap paru
menempati sebelah rongga dada. Di antara 2 rongga dada terletak mediastinum, yang berisi oleh
jantung, aorta, vena kava superior dan inferior, trakea, bronkus utama dan esophagus. Medulla
spinalis dilindungi oleh columna vertebralis. Diafragma memisahkan organ-organ thorax dari
rongga abdomen. Organ perut bagian atas seperti limpa, hati, ginjal, pancreas dan lambung
dilindungi tulang rusuk bagian bawah.
Bila melakukan evaluasi korban dengan kemungkinan trauma thorax, harus selalu mengikuti
penilaian prioritas secara BTLS untuk menghindari terlewatkannya kondisi yang mengancam
jiwa. Selama survey primer BTLS, carilah cedera yang paling parah terlebih dahulu untuk
memberikan kesempatan hidup pada korban tersebut . Seperti semua penderita trauma lainnya,
mekanisme trauma penting diketahui untuk penanganan penderita trauma dada. Cedera dada
meungkin merupakan akibat dari trauma tumpul atau trauma tajam. Pada trauma tumpul energy
yang didistribusikan meliputi area yang luas dan cedera visceral dapat disebabkan karena
deselerasi, robekan, kompresi atau ledakan. Luka penetrasi biasanya berasal dari tembakan atau
tusukan, energy yang didistribusikan meliputi area yang lebih sempit. Terjangan peluru sering
sulit diperkirakan akibatnya, dan semua yang berada di dalam dada beresikoterkena. Hasil akhir
yang paling sering terjadi pada cedera dada adalah hipoksia jaringan. Hipoksia jaringan dapat
terjadi akibat :
a. Pengiriman oksigen ke jaringan yang tidak adekuat akibat sekunder dari obstruksi jalan
nafas
b. Hipovolemia akibat perdarahan
c. Ventilasi atau perfusi yang tidak sesuai akibat cedera parenkim paru
d. Perubahan tekanan pleura akibat tension pneumothorax
e. Kegagalan pompa jantung akibat cedera miokardium berat
Gejala utama cedera dada meliputi nafas pendek, nyeri dada dan distress respirasi. Tanda
yang menunjukkan trauma thorax termasuk : syok, batuk darah, sianosis, dinding dada memar,
flail chest, luka terbuka, distensi vena leher, deviasi trachea atau emfisema subkutis. Periksa
suara nafas di dada kiri dan kanan. Trauma thorax yang mengancam jiwa harus segera
diidentifikasi. Terdapat 12 keadaan gawat darurat trauma thorax. Cedera-cedera berikut ini harus
dideteksi dan diterapi selama survei primer BTLS :
1. Obstruksi jalan nafas
2. Pneumothorax terbuka
3. Tension pneumothorax
4. Hemotorax massif
5. Flail chest
6. Tamponade jantung
Cedera yang mengancam nyawa yang dapat dideteksi selama pemeriksaan detil atau evaluasi
di rumah sakit (secondary survey) adalah sebagai berikut:
1. Ruptur aorta traumatic
2. Cedera trakea atau cabang bronkus
3. Contusio miokardium
4. Robekan diafragma
5. Cedera esophagus
6. Contusio pulmonum

5. MENEJEMEN PADA KASUS KEGAWAT DARURATAN BERBAGAI SISTEM

Prinsip Manajemen Gawat Darurat


Ada beberapa hal yang terkait dengan prinsip pelayanan gawat dan darurat diantaranya yaitu :

 Bersikap tenang tapi cekatan dan berpikir sebelum bertindak (jangan panik).

 Sadar peran perawat dalam menghadapi korban dan wali ataupun saksi.

 Melakukan pengkajian yang cepat dan cermat terhadap masalah yang mengancam jiwa
(henti napas, nadi tidak teraba, perdarahan hebat, keracunan).

 Melakukan pengkajian sistematik sebelum melakukan tindakan secara menyeluruh.


Pertahankan korban pada posisi datar atau sesuai (kecuali jika ada ortopnea), lindungi
korban dari kedinginan.

 Jika korban sadar, jelaskan apa yang terjadi, berikan bantuan untuk menenangkan dan
yakinkan akan ditolong.

 Hindari mengangkat/memindahkan yang tidak perlu, memindahkan jika hanya ada


kondisi yang membahayakan.

 Jangan diberi minum jika ada trauma abdomen atau perkiraan kemungkinan tindakan
anastesi umum dalam waktu dekat.

 Jangan dipindahkan (ditransportasi) sebelum pertolongan pertama selesai dilakukan dan


terdapat alat transportasi yang memadai.

Dalam beberapa jenis macam kegawatdaruratan yang telah disepakati pimpinan masing-masing
rumah sakit dan tentunya dengan menggunakan Protap SOP gawat darurat yang telah tersedia,
maka perawat yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat dapat bertindak langsung sesuai dengan
prosedur tetap rumah sakit yang berlaku. Peran ini sangat dekat kaitannya dengan upaya
penyelamatan jiwa pasien secara langsung.
Dalam kegawatdaruratan diperlukan 3 kesiapan, yakni :

1. Siap mental, dalam arti bahwa ”emergency can not wait”. Setiap unsur yang terkait
termasuk perawat harus menghayati bahwa aritmia dapat membawa kematian dalam 1 –
2 menit. Apnea atau penyumbatan jalan napas dapat mematikan dalam 3 menit.

2. Siap pengetahuan dan ketrampilan. Perawat harus mempunyai bekal pengetahuan teoritis
dan patofisiologi berbagai penyakit organ tubuh penting. Selain itu juga keterampilan
manual untuk pertolongan pertama.

3. Siap alat dan obat. Pertolongan pasien gawat darurat tidak dapat dipisahkan dari
penyediaan/logistik peralatan dan obat-obatan darurat.

6. MELAKSANAKAN FUNGSI ADVOKASI DAN KOMUNIKASI PADA KASUS


KEGAWATAN, KEDARURATAN DAN KEGAWAT DARURATAN TERKAIT
BERBAGAI SISTEM

Sebagai advokat klien


Peran ini dilakukan perawat dalam membantu klien & keluarg dalam menginterpretasikan
berbagai informasi dari pemberi pelayanan khususnya dalam pengambilan persetujuan atas
tindakan keperawatan. Perawat juga berperan dalam mempertahankan & melindungi hak-hak
pasien meliputi :
- Hak atas pelayanan sebaik-baiknya
- Hak atas informasi tentang penyakitnya
- Hak atas privacy
- Hak untuk menentukan nasibnya sendiri
- Hak menerima ganti rugi akibat kelalaian.
7. MENDEMONSTRASIKAN INTERVENSI KEPERAWATAN PADA KEGAWAT
DARURATAN SESUAI DENGAN STANDAR YANG BERLAKU DENGAN
BERFIKIR KREATIF DAN INOVATIF SEHINGGA MENGHASILKAN
PELAYANAN YANG EFISIEN DAN EFEKTIF

SISTEM PENGKAJIAN KEGAWATDARURATAN

A. DATA UMUM PASIEN

Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, No. CM, Dx. Medis, alamat dll

B. DATA PENANGGUNG JAWAB

Nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, alamat, hubungan dengan


pasien
PRINSIP

Identifikasi Kasus

1.Trauma ?

2.Non Trauma ?

3.Identifikasi Keadaan Pasien

Kenali terlebih dahulu keadaan yang mengancam nyawa

C. Pengkajian

1. Pengkajian primer

2. Pengkajian sekunder

Pengkajian primer kasus kardiologi

1. Circulation

2. Airway

3. Breathing

4. Disability

5. Exposure

SURVEI PRIMER

1. Dalam Pikiran Sekuensial Dalam tindakan Simultan

2. 2.Dilakukan sampai keadaan Pasien Stabil pada kasus trauma :

a) Airway!

b) Breathing!

c) Circulation!

Survai Primer

A–Airway (+C Spine Control )


B –Breathing (+Ventilation )

C –Circulation (+ KontrolPerdarahan)

D –Disability ( GCS,TandaLateralisasi)

E –Exposure

CIRCULATION

a) Fokus penilaian pada sirkulasi darah

b) Penilaian dengan cepat dapat dilakukan melalui penilaian kesadaran, warna kulit, dan
nadi

AIRWAY

a) Prioritas pemeriksaan pada kelancaran jalan napas

b) Pemeriksaan adanya obstruksi jalan napas karena lidah, darah, benda asing, fraktur
tulang wajah, trauma laring, trachea dan sebab lain

JALAN NAPAS DEFINITIF

Mempertahankan jalan napas yang efektif dan dalam jangka waktu yang

panjang memerlukan suatu jalan napas definitif.

Indikasi untuk pemasangan jalan napas definitif adalah:

1. Pasien yang tidak bernapas (apnea/nonbreathing).

2. Kegagalan menjaga jalan napas dengan cara lain.

3. Meminimalkan resiko jalan napas terhadap aspirasi darah atau muntahan.

4. Kemungkinan terganggunya jalan napas karena perlukaannya sendiri seperti pada luka
bakar inhalasi, fraktur tulang wajah atau kejang.

5. Trauma capitis berat yang memerlukan hiperventilasi.

6. Kegagalan memberikan cukup oksigen melalui masker wajah.

7. Adanya bahaya sumbatan (hematoma leher,cedera laring, trakhea, dan trauma


maksillofasial berat.

1. Intubasi Orotracheal
Pada setiap penderita tidak sadar dengan trauma kepala tentukanlah perlunya intubasi. Bila
penderita dalam keadaan gagal napas, intubasi dilakukan oleh 2 orang dengan 1 petugas
melakukan imobilsasi segaris.

2. Intubasi Nasotrakheal

Intubasi nasotracheal bermanfaat pada fraktur cervical. Perlu kehati-hatian pada penderita
dengan fraktur tulang wajah yang berat atau fraktur basis cranii anterior. Perhatian akan
adanya fraktur cervical adalah sama seperti pada intubasi orotracheal.

3. Needle Krikotiroidotomi
Tindakan dilakukan dengan memakai jarum ukuran 12G atau 14G ditusukkan melalui
membrana krikotiroid, ini dapat memberikan 45 menit tambahan waktu untuk menunggu
intubasi dilakukan.

4. Surgical Krikotiroidotomi
Tindakan ini dilakukan pada penderita intubasi oral atau intubasi nasal
yang dikontraindikasikan atau tidak dapat terlaksana.

BREATHING

Fokus pemeriksaan pada kerja dinding dada, paru dan diafragma

DISABILITY

Meliputi pemeriksaan neurologis dan tingkat kesadaran

EXPOSURE

Pemeriksaan meliputi seluruh bagian tubuh disertai tindakan untuk mencegah hipotermia

Sekunder

Keluhan utama (bila nyeri = PQRST)

Alergi terhadap obat, makanan tertentu.

Medikasi/Pengobatan terakhir.

Last meal (makan terakhir)

Event of injury/penyebab injury

Pengalaman pembedahan.

Riwayat penyakit sekarang


Riwayat penyakit dahulu.

Head to toe

Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan pengkajian di atas

Intervensi dan implementasi

Dibuat sesuai smart dg tetap memperhatikan ukuran waktu

Evaluasi

Sesuai dg tujuan yg dibuat (KH)

TRIASE

Triase Adalah Proses khusus Memilah dan memilih pasien berdasarkan beratnya penyakit
menentukan prioritas perawatan gawat medik serta prioritas transportasi. artinya memilih
berdasarkan prioritas dan penyebab ancaman hidup.

Triase/Triage merupakan suatu sistem yang digunakan dalam mengidentifikasi korban


dengan cedera yang mengancam jiwa untuk kemudian diberikan prioritas untuk dirawat atau
dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

Tujuan Triase perawatan gawat darurat

1. Identifikasi cepat korban yang memerlukan stabilisasi segera, Ini lebih ke perawatan yang
dilakukan di lapangan.

2. Identifikasi korban yang hanya dapat diselamatkan dengan pembedahan

3. Untuk mengurangi jatuhnya korban jiwa dan kecacatan. Inilah tiga alasan dan tujuan
dilakukannya triase gawat darurat PPGD

Prinsip-prinsip Triase dan Tata cara melakukan Triase

Triase dilakukan berdasarkan observasi Terhadap 3 hal, yaitu :

1. Pernafasan ( respiratory)

2. Sirkulasi (perfusion)

3. Status Mental (Mental State)


Dalam pelaksanaannya biasanya dilakukan Tag label Triase (Label Berwarna) yang
dipakai oleh petugas triase untuk mengidentifikasi dan mencatat kondisi untuk tindakan
medis terhadap korban.

Pengelompokan Triase berdasarkan Tag label

1. Prioritas Nol (Hitam)

Pasien meninggal atau cedera Parah yang jelas tidak mungkin untuk
diselamatkan. pengelompokan label Triase

2. Prioritas Pertama (Merah)

Penderita Cedera berat dan memerlukan penilaian cepat dan tindakan medik atau transport
segera untuk menyelamatkan hidupnya. Misalnya penderita gagal nafas, henti jantung, Luka
bakar berat, pendarahan parah dan cedera kepala berat.

3. Prioritas kedua (kuning)

Pasien memerlukan bantuan, namun dengan cedera dan tingkat yang kurang berat dan
dipastikan tidak akan mengalami ancaman jiwa dalam waktu dekat. misalnya cedera
abdomen tanpa shok, Luka bakar ringan, Fraktur atau patah tulang tanpa Shok dan jenis-jenis
penyakit lain.

4. Prioritas Ketiga (Hijau)

Pasien dengan cedera minor dan tingkat penyakit yang tidak membutuhkan pertolongan
segera serta tidak mengancam nyawa dan tidak menimbulkan kecacatan. Nah mungkin anda
masuk dalam kategori yang ini, jadi Jangan marah-marah dan jangan heran kenapa anda tidak
langsung mendapatkan perawatan di Ruang UGD sementara mereka harus menolong pasien
lain yang lebih parah.

Klasifikasi Triase

Triase di tempat

Dilakukan Di tempat korban di temukan atau pada tempat penampungan, triase ini dilakukan
oleh tim pertolongan pertama sebelum korban dirujuk ke tempat pelayanan medik lanjutan.

Triase Medic

Dilakukan pada saat Korban memasuki Pos pelayanan medik lanjutan yang bertujuan Untuk
menentukan tingkat perawatan dan tindakan pertolongan yang di butuhkan oleh korban. atau
triase ini sering disebut dengan Triase Unit gawat darurat
Triase Evakuasi

Triase ini ditunjukkan pada korban yang dapat dipindahkan pada rumah sakit yang telah siap
menerima korban. seperti Bencana massal contohnya Saat Tsunami, Gempa bumi, atau
bencana besar lain. Next artikel Bantuan Hidup Dasar

PEMBIDAIAN

EMBIDAIAN

Pembidaian adalah Suatu cara pertolongan pertama pada cedera/ trauma sistim muskuloskeletal
untuk mengistirahatkan ( immobilisasi) bagian tubuh kita yang mengalami cedera dengan
menggunakan suatu alat

TUJUAN

1. Untuk mencegah gerakan fragmen patah tulang atau sendi yang mengalami dislokasi
2. Untuk meminimalisasi / mencegah kerusakan pada jaringan lunak sekitar tulang yang
patah
3. Untuk mengurangi perdarahan & bengkak yang timbul
4. Untuk mencegah terjadinya syok
5. Untuk mengurangi nyeri
6. Prioritas pertolongan pertama pada
multipel trauma :

 Airway
 Breathing
 Circulation (Kontrol perdarahan )
 Pembidaian

MACAM BIDAI :

1. Kaku ( Rigid Splint )


2. Bidai traksi ( Traction Splint )
3. Bidai Melingkar(Circumferential Splint )
4. Bidai Improvisasi

PROSEDUR PEMBIDAIAN

1. Proteksi diri sebelum melakukan pembidaian


2. Jangan melepaskan stabilisasi manual pada tulang yang cedera sampai pembidaian sempurna
dilakukan
3. Jangan coba-coba mereposisi atau menekan fragmen tulang yang keluar kembali ketempat
semula
4. Expose / buka pakaian yang menutupi tulang yang patah sebelum memasang bidai
5. Lakukan balut tekan pada fraktur terbuka sebelum memasang bidai
6. Bidai harus melewati sendi proksimal dan sendi distal dari tulang yang patah
7. Bila sendi yang cedera ,lakukan pembidaian pada tulang proksimal & distal
8. Bila ekstremitas sangat bengkak, cynnotik , nadi distal tak teraba ? realignment
deformitas dengan melakukan tarikan (Gentle traction) sebelum memasang bidai
9. Berikan padding ( Bantalan ) pada tulang yang menonjol
10. Lakukan penilaian nadi, sensasi & Gerakan distal
tempat yang fraktur
11. Tenangkan penderita

KOMPLIKASI

1. Dapat menekan jaringan pembuluh darah / syaraf dibawahnya bila bidai terlalu ketat
2. Bila bidai terlalu longgar à masih ada gerakan pada tulang yang patah
3. Menghambat aliran darah à iskemi jaringan àNekrosis
4. Memperlambat transportasi penderita bila terlalu lama melakukan pembidaian