Anda di halaman 1dari 21

QAWA’ID FIQHIYYAH

2 “Hukum setiap perkara tergantung kepada ‫األمور بمقاصدها‬


maksudnya”. Makna yang terkandung
dalam kaidah ini, bahwasanya penetapan
hukum terhadap suatu perkara tergantung
pada maksud yang menjadi tujuan perkara
tersebut..
Asal dari kaidah ini adalah hadits Nabi:
"Bahwasanya segala amal itu tergantung
niat. Bagi seseorang itu tergantung
niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya pada
Allah dan RasulNya, maka hijrahnya
pada Allah dan Rasulnya. Barangsiapa
yang hijrahnya untuk mencari dunia atau
perempuan yang akan dinikahi maka
hijrahnya adalah pada apa yang dituju."

Maksud dari hadits ini bahwasanya setiap


perbuatan dan tingkah laku mukallaf
(hamba) baik berupa perkataan maupun
perbuatannya, disikapi dengan berbeda-
beda sesuai dengan maksud seseorang
dalam melakukan perbuatan tersebut, jika
hal itu merupakan cerminan ketaatannya
kepada Allah SWT dan Rasūlullāh saw
maka ia akan mendapat ganjaran pahala
atas perbuatan tersebut, namun jika
sebaliknya dengan tujuan bermaksiat
kepada Allah SWT dan Rasūlullāh saw
maka ia akan mendapat hukuman yang
setimpal.

Contoh kaidah:
Sebagai contoh, dalam al-Qur’ān, Allah
SWT telah mengharamkan memakan
bangkai kecuali dalam kondisi darurat, hal
itu disebutkan dalam firman-Nya yang
berbunyi: ”Diharamkan bagimu
(memakan) bangkai ...”. (QS. al-Mā’idah
(5):3).
Ayat di atas merupakan dalil adanya
pelarangan untuk memakan bangkai
kecuali dalam kondisi darurat, jika
seorang hamba tidak memakan bangkai
dengan maksud mentaati dalil di atas,
maka ia mendapat pahala atas perbuatan
tersebut, namun jika ia tidak memakan
bangkai karena sekedar tidak
menyukainya, maka tidak ada pahala
baginya.
3 “Inti akad berdasarkan maksud dan ‫العبرة فى العقود للمقاصد والمعاني ال‬
makna akad, bukan berdasarkan lafadz
dan kalimat”. ‫لأللفاظ والمباني‬
Salah satu diantara rukun jual beli adalah
adanya shighat akad, yaitu ucapan atau
tindakan atau isyarat dari penjual dan
pembeli yang menunjukkan keinginan
mereka untuk melakukan transaksi tanpa
paksaan.

Jika Shighat ini disampaikan secara lisan,


para ulama menyebutnya dengan istilah:
ijab qabul. Sementara shighat dalam jual
beli disampaikan dalam bentuk perbuatan
atau isyarat, disebut Bai’ Mu’athah.

Contoh kaidah:
dalam kerja sama Mudharabah, jika ada
ketentuan yang menyatakan bahwa pihak
yang menyediakan modal akan
memperoleh semua keutungannya, maka
akad itu tidak sidebut mudharabah, tapi
akad hutang.
4 ”Sesuatu yang meyakinkan tidak dapat ‫اليقين ال يزال بالشك‬
hilang hanya dengan keraguan”.
)‫(اليقين ال يزول بالشك‬
Kaidah ini menjelaskan adanya
kemudahan dalam syariah Islam.
Tujuannya adalah menetapkan sesuatu
yang meyakinkan dianggap sebagai hal
yang asal dan dianggap. Dan bahwa
keyakinan menghilangkan keraguan yang
sering timbul dari was-was terutama
dalam masalah kesucian dan shalat.
Keyakinan adalah ketetapan hati
berdasarkan pada dalil yang pasti,
sedangkan keraguan adalah kemungkinan
terjadinya dua hal tanpa ada kelebihan
antara keduanya.

“Bahwa suatu perkara yang diyakini telah


terjadi tidak bisa dihilangkan kecuali
dengan dalil yang pasti dan meyakinkan.
Dengan kata lain, tidak bisa dihilangkan
hanya dengan sebuah keraguan. Demikian
pula sebaliknya, suatu perkara yang
diyakini belum terjadi maka tidak bisa
dihukumi telah terjadi kecuali dengan
dalil yang meyakinkan pula.”

Contoh kaidah :
Apabila seseorang telah yakin bahwa
sebuah pakaian terkena najis, akan tetapi
dia tidak tahu dibagian mana dari pakaian
tersebut yang terkena najis maka dia harus
mencuci pakaian itu seluruhnya.
5 Hukum asal segala sesuatu adalah tetap
dalam keadaannya semula, dan keyakinan
‫األصل بقاء ما كان على ما كان‬
tidak bisa hilang karena keraguan

Contoh kaidah :
Jika seseorang melempar binatang buruan
(dengan tombak, panah atau senjata
lainnya) dengan menyebut nama Allah k
terlebih dahulu, kemudian setelah
beberapa waktu ia menemukan binatang
itu mati terkena senjatanya, namun ia lalu
ragu-ragu apakah binatang itu mati
karena lemparan senjatanya ataukah
karena sebab yang lain, maka asalnya
binatang tersebut halal untuk dikonsumsi
(bukan bangkai). Karena pada asalnya
tidak ada sebab lain yang mengakibatkan
kematian binatang tersebut, sebagaimana
hal ini telah dijelaskan dalam hadits yang
shahîh.

6 Sesuatu yang sudah lama berjalan akan


ditinggalkan sebagaimana asalnya.
‫القديم يترك على قدمه‬
Artinya peraturan yang sudah berlaku
sejak lama tetap berlaku hingga nanti,
Karena kelangsungan hidup benda itu
untuk waktu yang lama membuktikan
bahwa itu didasarkan pada hak yang sah
dan hak untuk diadili atas dasar itikad baik
kepada kaum Muslimin bahwa apa yang
ditempatkan hanya dengan cara yang sah,
kecuali jika ini adalah kerugian lama,
maka tidak mempertimbangkan
argumennya dalam kelangsungan
hidupnya. Yang dimaksud dengan yang
lama di sini adalah apa yang tidak
mengenal yang pertama dan yang
pertama, karena yang dikenal sebagai
asal-usulnya belum tua
7 Kemadharatan tidak akan terjadi sejak
awal, semua yang terjadi pasti ada
‫الضرر ال يكون قديما‬
sebabnya dan ada awal mulanya.
Syariah tidak mengakui kerugian, dan
harus dikonfirmasikan sesuai dengan
peraturan yurisprudensi. Kerusakan lama,
seperti kerusakan baru pada keputusan
tersebut, tidak memperhitungkan
kerusakannya.
Dan tidak dipertimbangkan, tapi harus
dilepas, karena kerusakan kerusakan, dan
tidak ada pelajaran yang terdahulu,
karena yang lama, namun dianggap
mayoritas, anggapan bahwa itu
ditempatkan hanya dalam menghadapi
yang sah, jika itu berbahaya dan
kerusakan adalah bukti bahwa itu tidak
diletakkan.
Karena tidak dibolehkan untuk merugikan
orang lain.
8 Hukum asal adalah bebas dari
tanggungan.
‫األصل براءة الذمة‬

Contoh kaidah:
Seorang yang didakwa (mudda’a
‘alaih)melakukan suatu perbuatan
bersumpah bahwa ia tidak melakukan
perbuatan tersebut. Maka ia tidak dapat
dikenai hukuman, karena pada dasarnya
ia terbebas dari segala beban dan tanggung
jawab. Permasalahan kemudian
dikembalikan kepada yang mendakwa
(mudda’i).
9 Kondisi sifat (berupa tambahan)
dianggap tidak ada/ Asal pada suatu sifat
‫األصل فى الصفات العارضة العدم‬
berupa tambahan tidak dianggap. Atribut
untuk eksistensi dan non-eksistensi dalam
dua bagian:
Yang pertama adalah kualitas di mana
keberadaan objek adalah keadaan darurat
dan kontradiksi, dalam artian bahwa
benda itu sering tidak berlaku lagi. Ini
disebut atribut lateral, asal mula adalah
ketiadaan, dan atribut semacam itu adalah
hal lain yang ada setelah ketiadaan
seperti semua kontrak dan perbuatan.
Yang dominan adalah bahwa itu adalah
sebuah objek, dan nihil adalah kepastian,
karena ini adalah keadaan alami, dan
perubahannya terhadap eksistensi adalah
proposisi yang meragukan.
Kedua: kualitas yang ada dalam hal
dibandingkan dengan eksistensinya,
seringkali hal itu sering dimaknai, dan
disebut kualitas asli, dan asal mula
keberadaan dan kelangsungan hidup untuk
dibuktikan.
10 Sesuatu yang sudah ditetapkan pada
zamannya akan dinilai kekal selama tidak
‫وما ثبت بزمان محكم ببقائه مالم يوجد‬
ada dalil yang menentangnya. ‫دليل على خالفه‬
Keberadaan sesuatu di masa lalu
dianggap tetap dengan persetujuan kasus
ini, apakah raja terakhir dibuktikan
dengan bukti atau pengakuan terdakwa,
dan ini dianggap sebagai prinsip yang
sah, kecuali jika ada sesuatu yang
mengubahnya. Jika ada sesuatu yang
mengubahnya, keberatan terhadap yang
asli dan bukti yang menentangnya.
Aturan ini dekat dengan aturan "asal
kelangsungan hidup apa yang ada pada
apa adanya" Sampai dia membuktikan
apa yang sedang dia ubah dan hapus, dan
aturan apa yang telah terbukti
bertentangan dengan yang asli.
Penggunaan al-Qaeda berguna dalam
menstabilkan hal-hal dan
membuktikannya sampai mereka
membuktikan apa yang mengubahnya
dan menyingkirkannya.
Aplikasi
A - Jika terbukti pada zaman raja sesuatu
untuk satu, maka keputusan bahwa raja
tetap ada padanya kecuali jika tidak ada
yang bisa menghapusnya, apakah raja
terakhir dibuktikan dengan bukti atau
oleh konfirmasi terdakwa.
(Zarqa hal 121).
11 Hukum asal adalah menyandarkan hal
baru pada waktu yang terdekat.
‫األصل إضافة الحادث إلى أقرب‬
Dalam hal terjadi ketidaksesuaian pada ‫أوقاته‬
saat terjadinya suatu pesanan, hal ini
disebabkan pada waktu paling awal
sampai yang terjauh terbentuk. Jika
rasionya tetap pada waktu yang jauh, hal
itu sangat diatur karena waktu terdekat
telah disetujui oleh para pihak untuk
mengetahui adanya kecelakaan tersebut.
Semakin dekat pasti dan semakin jauh
keraguan, dan kepastiannya tidak hilang
dengan keraguan.
Jika kejadiannya disepakati, namun
selisihnya terjadi pada tanggal terjadinya,
namun jika kejadiannya tidak disepakati,
maka selisih asal terjadinya kejadian dan
dihadirkan, seolah-olah memiliki salah
satu cairan yang lain, dan
menandatangani selisih kejadian dan
kaki, Dan permintaan untuk
mengangkatnya, dan mengklaim pemilik
kaki, argumen kepada hakim kaki, dan
yang lama ditinggalkan di kakinya, jika
penggugat mendirikan bukti bukti.
Karena bukti membuktikan amanah
kekurangan, itulah bukti pertama
penggugat kaki yang memberikan bukti.
Karena penggugat kaki itu jahat, dan
berpegang teguh pada aslinya, dan
buktinya dipresentasikan pada aslinya
dan nampak.
Dan bahwa peraturan ini dibatasi untuk
tidak menyebabkan pencabutan apa yang
tetap, karena keputusan tersebut
12 Hukum asal pada suatu perkataan adalah
arti yang sebenarnya (Artinya jika ada
‫األصل فى الكالم الحقيقة‬
perkataan yang bisa diartikan secara
hakiki dan majasi, maka perkataan mesti
diartikan secara hakiki).
jika terjadi penggunaan kata yang biasa
dipakai dengan dua makna, yaitu makna
haqiqah dan makna majaz tanpa
dibarengi dengan penguat yang
menguatkan salah satu dari dua makna
yang dipunyai. Maka yang dipilih adalah
makna yang haqiqah bukan makna majaz.
Karena seperti yang diterangkan diatas
makna majaz adalah makna yang
kedudukannya dibawah makna haqiqah
maka secara otomatis makna haqiqah
lebih diunggulkan dari makna majaz.
Seperti contoh dalam ayat :
"‫” وال تنكحوا ما نكح آباؤكم من النساء‬
Lafadz nikah secara makna haqiqah
adalah seks, sedangkan secara makna
majaz adalah akad. Kedua makna lafadz
nikah itu sering digunakan. Maka jika ada
penggunaan lafadz nikah tanpa dibarengi
penguat dari salah satu dari dua makna
yang dipunyai lafadz nikah, makna yang
diunggulkan adalah makna majaz. Jadi
ayat di atas menerangkan tentang
keharaman bersetubuh dengan orang tua
itu berdasarkan nash. Sedangkan
keharaman melakukan akad dengan
orang tua itu berdasarkan ijma’.
Namun jika seandainya ditemukan
penguat yang mendukung makna majaz
maka makna yang dipilih adalah makna
majaz.
13 Tidak perlu ambil perhatian terhadap dalil
apabila ada pernyataan yang jelas.
‫ال عبرة للداللة في مقابلة التصريخ‬
Bahwa pernyataan tentang apa yang
diinginkan lebih kuat daripada penanda,
dan jika bertentangan dengan eksplisit dan
indikatif, tidak ada indikasi tentang makna
atau keabsahannya. Namun, bila tidak ada
kontradiksi, ini menunjukkan bahwa
keputusan dan kekuasaannya ada di
tempat di mana mereka diam.

14 Tidak ada tempat untuk berijtihad jika ada


nash yang menerangkannya.
‫المساغ لالجتهاد فى مورد النص‬
Tidak ada peluang bagi ijtihad untuk
menggeser sesuatu yang bersumber dari
nash. Karena hukum syar’i itu adalah
perkara yang dihasilkan dari nash, maka
tidak memerlukan pengerahan
kemampuan dalam menghasilkannya.
Sedangkan ijtihad itu sifatnya dzanny
maka sesuatu yang dihasilkan darinya
juga merupakan perkara yang sifatnya
dzanny berbeda dengan sesuatu yang
dihasilkan dari nash itu sifatnya pasti.
Tidak mungkin sesuatu yang sifatnya
pasti ditinggalkan karena sesuatu yang
sifatnya dzanny
15 Apa yang ditetapkan oleh perbedaan pada
qiyas tidak bisa digunakan untuk qiyas
‫ما ثبت على خالف القياس فغيره ال‬
lainnya. ‫يقاس عليه‬
Qiyas: adalah membuat penilaian diukur
sebagai penilaian di dalam satu bug yang
diukur
Di dalamnya, yang merupakan argumen
para ilmuwan dan pembicara,
mengatakan :.
Karena pikiran adalah pertimbangan
konstan dari semua makna yang telah
terbukti.
Dan untuk melampirkan ke rekannya,
yang merupakan ukuran yang sama.
Persyaratan analoginya adalah bahwa
tidak ada teks dalam ukuran;
Hal ini diperlukan agar cabang
dibebaskan dari keputusan yang telah
dibuktikan kepadanya dengan cara
kutipan, jika ditemukan
Referensi untuk penilaian tidak diukur.
Alasan dalam beberapa hal oleh teks dan
pengukuran adalah bahwa lawannya
adalah
Jika teks ditantang sebagai direproduksi,
tidak berulang, atau tidak diketahui, atau
dapat diandalkan, pengukuran harus tetap
tidak berdasar, bukan karena ini adalah
bukti penilaian integritas teks banding.
Ini bukan pengukuran menurut pemikiran,
seperti yang dikatakan beberapa orang,
tapi ini adalah pendapat yang paling
mungkin dan terbesar, dan pekerjaan
mungkin merupakan tugas, namun tetap
bersamanya menabrak prospek.
16 Sebuah ijtihad tidak dapat membatalkan
ijtihad yang serupa.
‫االجتهاد ال ينقض بمثله‬
Contoh kaidah:
Apabila dalam menentukan arah kiblat,
ijtihad pertama tidak sama dengan ijtihat
ke dua, maka digunakan ijtihad ke dua.
Sedangkan ijtihad pertama tetap sah
sehingga tidak memerlukan pengulangan
pada rakaat yang dilakukan dengan
ijtihad pertama. Dengan demikian,
seseorang mungkin saja melakukan shalat
empat rakaat dengan menghadap arah
yang berbeda pada setiap rakaatnya.

Ketika seorang hakim berijtihad untuk


memutuskan hukum suatu perkara,
kemudian ijtihadnya berubah dari ijtihad
yang pertama maka ijtihad yang pertama
tetap sah (tidak rusak)
17 Suatu kesulitan akan memunculkan
kemudahan.
‫المشقة تجلب التيسير‬
mam As-Syatibi dalam Al-Muwafaqat
I/231 menyatakan: "Dalil-dalil yang
meniadakan dosa (dalam situasi darurat)
bagi umat mencapai tingkat pasti." Allah
berfirman dalam QS An-Nisa' 4:28
"Allah hendak memberikan keringanan
kepadamu ..." dan "Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak
menghendaki kesukaran bagimu" (QS Al-
Baqarah 2:185).

Nabi bersabda dan hadits Sahih Bukhari


no. 39 "Sesungguhnya agama itu mudah.
Tidaklah seseorang mempersulit
(berlebih-lebihan) dalam agama
melainkan ia akan dikalahkan. Oleh
karena itu kerjakanlah dengan
semestinya, atau mendekati semestinya
dan bergembiralah (dengan pahala Allah)
dan mohonlah pertolongan di waktu pagi,
petang dan sebagian malam"

Maksud dari kaidah ini adalah bahwa


hukum-hukum yang
menimbulkan kesulitan dalam
mengamalkannya bagi diri seorang
mukalaf atau hartanya, maka syariah
meringankan hukum itu sesuai
kemampuannya tanpa kesulitan atau dosa.

Contoh kaidah :
Seorang bernama Godril yang sedang
sakit parah merasa kesulitan untuk berdiri
ketika shalat fardhu, maka ia
diperbolehkan shalat dengan duduk.
Begitu juga ketika ia merasa kesulitan
shalat dengan duduk, maka
diperbolehkan melakukan shalat dengan
tidur terlentang.

Seseorang yang karena sesuatu hal, sakit


parah misalnya, merasa kesulitan untuk
menggunakan air dalam berwudhu, maka
ia diperbolehkan bertayamum.

Pendapat Imam Syafi'i tentang


diperbolehkannya seorang wanita yang
bepergian tanpa didampingi wali untuk
menyerahkan perkaranya kepada laki-laki
lain”.
18 Jika terjadi kesempitan pada suatu perkara
maka akan diberikan kelonggaran.
‫األمر إذا ضاق إتسع‬
(‫)إذا ضاق األمر إتسع‬
Allah SWT. berfirman dalam QS. Al-
Baqarah (2): 185.
“Allah menghendaki kemudahan bagimu
dan tidak menghendaki kesukaran
bagimu.”

KERINGANAN HUKUM SYARA’


Keringanan hukum syara’ (takhfifat al-
syar'i), meliputi 7 macam, yaitu:
Takhfif Isqat, yaitu keringanan dengan
menggugurkan. Seperti menggugurkan
kewajiban menunaikan ibadah haji,
umrah dan shalat jumat karena adanya
'uzdur (halangan).
Takhfif Tanqis, yaitu keringanan dengan
mengurangi. Seperti diperbolehkannya
menqashar shalat.
Takhfif Ibdal, yaitu keringanan dengan
mengganti. Seperti mengganti wudhu dan
mandi dengan tayammum, berdiri dengan
duduk, tidur terlentang dan memberi
isyarat dalam shalat dan mengganti puasa
dengan memberi makanan.

Takhfif Taqdim, yaitu keringanan dengan


mendahulukan waktu pelaksanaan.
Seperti dalam shalat jama' taqdim,
mendahulukan zakat sebelum khaul (satu
tahun), mendahulukan zakat fitrah
sebelum akhir Ramadhan.

Takhfif Takhir, yaitu keringanan dengan


mengakhirkan waktu pelaksanaan.
Seperti dalam shalat jama' ta’khir,
mengakhirkan puasa Ramadhan bagi
yang sakit dan orang dalam perjalanan
dan mengakhirkan shalat karena
menolong orang yang tenggelam.

Takhfif Tarkhis, yaitu keringanan dengan


kemurahan Seperti diperbolehkannya
menggunakan khamr (arak) untuk
berobat.

Takhfif Taghyir, yaitu keringanan dengan


perubahan. Seperti merubah urutan shalat
dalam keadaan takut (khauf).
19 Madharat tidak dapat diselesaikan dengan
kemadharatan juga.
‫ال ضرر وال ضرار‬
Asal dari kaidah ini adalah hadits Nabi:
La Darar wa La Dirar "‫"الضرر والضرار‬.
Darar adalah menimbulkan kerusakan
pada orang lain secara mutlak.
Sedangkan dirar adalah membalas
kerusakan dengan kerusakan lain atau
menimpakan kerusakan pada orang lain
bukan karena balas dendam yang
dibolehkan.

Yang dimaksud dengan tidak adanya


dirar adalah membalas kerusakan (yang
ditimpakan) dengan kerusakan yang
sama. Kaidah ini meniadakan ide balas
dendam. Karena hal itu akan menambah
kerusakan dan memperluas cakupan
dampaknya.

Contoh kaidah:
Siapa yang merusak harta orang lain,
maka bagi yang dirusak tidak boleh
membalas dengan merusak harta benda si
perusak. Karena hal itu akan memperluas
kerusakan tanpa ada manfaatnya. Yang
benar adalah si perusak mengganti barang
atau harta benda yang dirusaknya.
20 Kemadharatan itu harus dihilangkan. ‫الضرر يزال‬
Contoh kaidah:
Diperbolehkan bagi seorang pembeli
memilih (khiyar) karena adanya 'aib
(cacat) pada barang yang dijual.
Diperbolehkannya merusak pernikahan
(faskh al-nikah) bagi laki-laki dan
perempuan karena adanya 'aib.
21 Kondisi darurat dapat membolehkan
sesuatu yang dilarang.
‫الضرورات تبيح المحظورات‬
Contoh kaidah:
Ketika dalam perjalan dari Sumatra ke
pondok pesantren An-Nawawi, ditengah-
tengah hutan Kasyfurrahman alias
Rahman dihadang oleh segerombolan
begal, semua bekal Rahman ludes
dirampas oleh mereka yang tak
berperasaan -sayangnya Rahman tidak
bisa seperti syekh Abdul Qadir al-Jailany
yang bisa menyadarkan para begal-
karenanya mereka pergi tanpa
memperdulikan nasib Rahman nantinya,
lama-kelamaan Rahman merasa kelaparan
dan dia tidak bisa membeli makanan
karena bekalnya sudah tidak ada lagi, tiba-
tiba tampak dihadapan Rahman seekor
babi dengan bergeleng-geleng dan
menggerak-gerakkan ekornya seakan-
akan mengejek si-Rahman yang sedang
kelaparan tersebut. Namun malang juga
nasib si babi hutan itu. Rahman bertindak
sigap dengan melempar babi tersebut
dengan sebatang kayu runcing yang
dipegangnya. Kemudian tanpa pikir
panjang, Rahman langsung menguliti babi
tersebut dan kemudian makan dagingnya
untuk sekedar mengobati rasa lapar.
Tindakan Rahman memakan daging babi
dalam kondisi kelaparan tersebut
diperbolehkan. Karena kondisi darurat
memperbolehkan sesuatu yang semula
dilarang.
Diperbolehkan melafazdkan kalimat kufur
karena terpaksa.

Kaidah lain yang kandungan maknanya


sama adalah kaidah berikut:
‫ال حرام مع الضرورة وال كراهة مع الحاجة‬
Tidak ada kata haram dalam kondisi
darurat dan tidak ada kata makruh ketika
ada hajat
22 Suatu kemudhorotan dibolehkan sesuai
dengan kebutuhannya.
‫الضرورات تقدر بقدرها‬
Contoh kaidah:
Dengan melihat contoh pertama pada
kaidah sebelumnya, berarti Rahman yang
dalam kondisi darurat hanya
diperbolehkan memakan daging babi
tangkapannya itu sekira cukup untuk
menolong dirinya agar bisa terus
menghirup udara dunia. selebihnya
(melebihi kadar kecukupan dengan
ketentuan tersebut) tidak diperbolehkan.

Sulitnya shalat jumat untuk dilakukan


pada satu tempat, maka shalat jumat boleh
dilaksanakan pada dua tempat. Ketika dua
tempat sudah dianggap cukup maka tidak
diperbolehkan dilakukan pada tiga tempat
23 Sesuatu yang dibolehkan karena uzur,
maka akan batal dengan hilangnya uzur
‫ما جاز لعذر بطل بزواله‬
tersebut. Ini adalah keputusan yang
ditentukan untuk alasan tertentu Jika
alasan itu dihapus, putusannya tidak
diperbolehkan, karena pembelaannya
adalah karena alasannya, karena dia
berada di belakang asal usul yang tidak
mungkin.Jika alasan itu dihapus dan
pekerjaan dapat dilakukan secara asli,

Contoh kaidah: 1 - Tayammu membuat


tidak berlaku adanya air, karena
tayammum diperbolehkan untuk
kehilangan air, dan jika air ditemukan
sebagai penyebab tayammum.
(Al-Da'as, hal 58, al-Lujji, hal 44)
Dalam kasus Maaliki, Shaafa'i dan
Hanbali, tayammum menyalahi kehadiran
air sebelum memasuki sholat. Di keran,
tayammum menyalahi kehadiran air.
Sebelum masuk sholat atau saat shalat.
2 - Memakai sutra adalah haram untuk
laki-laki, dan Rasulullah saw.
Mengizinkannya kepada siapapun yang
mengalami gatal-gatal.
24 Apabila hilang penyebab yang melarang
sesuatu maka hal yang dilarang tersebut
‫إذا زال المانع عاد الممنوع‬
boleh dilakukan
25 Kemadharatan tidak boleh dihilangkan
dengan kemadharatan yang semisal
‫الضرر ال يزال بمثله‬
26 Mengambil kemudhorotan yang khusus
demi menolak kemudhorotan yang umum
‫يحتمل الضرر الخاص لمنع الضرر‬
‫العام‬
27 Kemadharatan yang lebih besar/ berat
dapat dihilangkan dengan Kemadharatan
‫الضرر األشد يزال بالضرر األخف‬
yang lebih ringan
28 Jika ada 2 kemudhorotan yang bersamaan,
maka yang harus diperhatikan adalah yang
‫إذا تعارض مفسدتان روعي أعظمهما‬
lebih besar mudhorotnya dan dengan ‫ضررا بارتكاب أخفهما‬
melaksanakan yang lebih ringan
mudhorotnya.

Contoh kaidah:
Diperbolehkannya membedah perut
wanita (hamil) yang mati jika bayi yang
dikandungnya diharapkan masih hidup.

Tidak perbolehkannya minum khamr dan


berjudi karena bahaya yang
ditimbulkannya lebih besar daripada
manfaat yang bisa kita ambil.

Disyariatkan hukum qishas, had dan


menbunuh begal, karena manfaatnya
(timbulnya rasa aman bagi masyarakat)
lebih besar daripada bahayanya.
Diperbolehkannya seorang yang bernama
Junaidi yang kelaparan, padahal ia tidak
memiliki cukup uang untuk membeli
makanan, untuk mengambil makanan Eko
Setello yang tidak lapar dengan sedikit
paksaan.
29 Memilih salah satu dari 2 perkara yang
lebih ringan
‫يختار أهون الشرين‬
30 Menolak
didahulukan
suatu
dari
kerusakan
pada
lebih
menarik
‫درء المفاسد أولى من جلب المنافع‬
kemaslahatan.

Contoh kaidah:
Berkumur dan mengisap air kedalam
hidung ketika berwudhu merupakan
sesuatu yang disunatkan, namun
dimakruhkan bagi orang yang berpuasa
karena untuk menjaga masuknya air yang
dapat membatalkan puasanya.

Meresapkan air kesela-sela rambut saat


membasuh kepala dalam bersuci
merupakan sesuatu yang disunatkan,
namun makruh dilakukan oleh orang yang
sedang ihram karena untuk menjaga agar
rambutnya agar tidak rontok.
31 Kemadharatan itu dapat ditolak sebisa
mungkin
‫الضرر يدفع بقدر اإلمكان‬
32 Kebutuhan sekunder (al-hājah) dapat naik
ke tingkat primer (al-darūrah). Sesutau
‫الحاجة تنزل منزلة الضرورة‬
yang tidak terlalu penting bisa menjadi
penting karena adanya suatu kebutuhan

Contoh kaidah:
Diperbolehkannya Ji'alah (sayembara
berhadiah) dan Hiwalah (pemindahan
hutang piutang) karena sudah menjadi
kebutuhan umum.
Diperbolehkan memandang wanita selain
mahram karena adanya hajat dalam
muamalah atau karena khithbah
(lamaran).
33 Sesungguhnya sesuatu yang tidak bisa
ditawar-tawar lagi tidak membatalkan hak
‫إن اإلضطرار ال يبطل حق الغير‬
bagi yang lain
34 Sesuatu yang
darinya/pengambilannya
diharamkan
maka
‫ما حرم أخذه حرم اعطاؤه‬
diharamkan juga pemberiannya.

Contoh kaidah :
Memberikan riba atau upah perbuatan
jahat kepada orang lain.
Memberikan upah hasil meramal dan
risywah kepada orang lain. Termasuk juga
upah meratapi kematian orang lain.
35 Apa yang diharamkan atas pekerjaanya
maka diharamkan pula permintaan (hasil)
‫ما حرم فعله حرم طلبه‬
daripadanya.

Contoh kaidah:
Mengambil riba atau upah perbuatan
jahat.
Mengambil upah dari tukang ramal
risywah (suapan). Begitu pula dengan
upah orang-orang yang meratapi kematian
orang lain.
36 Adat kebiasaan dapat dijadikan hukum. ‫العادة محكمة‬
Kaidah ini berasal dari teks (nash) Al-
Quran. Kebiasaan (urf) dan tradisi (adat)
mempunyai peran besar dalam perubahan
hukum berdasarkan pada perubahan
keduanya. Allah berfirman dalam QS Al-
Baqarah 2:228 "Dan para wanita
mempunyai hak yang seimbang dengan
kewajibannya menurut cara yang ma'ruf."
Nabi bersabda: Tradisi dan cara yang
berlaku di antara kalian itu boleh
digunakan (‫( )سنتكم بينكم‬Ibnu Hajar Al-
Asqalani dalam Fathul Bari, IV/338.

Tradisi atau adat menurut ulama fiqih


adalah hal-hal yang terjadi berulang-
ulang dan masuk akal menurut akal sehat
yang dilakukan oleh sejumlah individu

Adakah perbedaan antara uruf dan adat?


Sebagian ulama berpendapat keduanya
dua kata dengan satu arti. Sebagian ulama
yang lain menganggapnya berbeda. Adat
adalah sesuatu yang meliputi kebiasaan
individu dan golongan. Sedangkan urf itu
khusus untuk kebiasaan golongan saja

Contoh kaidah:
Seseorang menjual sesuatu dengan tanpa
menyebutkan mata uang yang
dikehendaki, maka berlaku harga dan
maat uang yang umum dipakai.
Batasan sedikit, banyak dan umumnya
waktu haidh, nifas dan suci bergantung
pada kebiasaan (adapt perempuan
sendiri).
37 Jika manusia sudah sepakat dengan
sesuatu (kesepakatan umum) maka wajib
‫استعمال الناس حجة يجب العمل بها‬
dikerjakan
38 Larangan adat adalah menjadi larangan
sebenarnya (secara hakikat)
‫الممتنع عادة كالممتنع حقيقة‬
39 Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan
hukum sesuai dengan perubahan zaman.
‫ال ينكر تغير األحكام بتغير األزمان‬
Ibn Abidin berkata bahwa sebagian besar
hukum syara’ yang saling bertentangan
disebabkan karena perubahan zaman,
karena adanya perubahan kebiasaan suatu
penduduk. Jika seandainya penduduk
tersebut tetap mempergunakan hukum
yang pertama, mereka akan merasa sangat
kesulitan yang tentunya akan bertentangan
dengan kaidah-kaidah syar’iyah yang
dibangun atas dasar keringanan dan
kemudahan serta menolak datangnya
kemudaratan.

Contoh kaidah:
1. Para fuqaha’ klasik menetapkan
hukum bagi istri untuk tinggal di rumah
suaminya setelah semua maharnya lunas,
namun ulama muta’akhirin tidak
mewajibkan hal tersebut, walaupun sang
suami telah melunasi maharnya. Hal ini
disebabkan adanya perubahan kondisi
masyarakat pada zaman sekarang.
2. Kaitannya dengan pendidikan, para
ulama klasik menetapkan hukum haram
untuk mengambil upah atas ilmu agama
yang diajarkan, karena mengajarkan ilmu
agama hukumnya wajib, namun para
ulama muta’akhirin membolehkannya
demi terjaganya kelestarian pendidikan
keagamaan serta untuk pengembangan
ilmu agama itu sendiri.
40 Suatu kenyataan dapat ditinggalkan
berdasarkan adat
‫الحقيقة تترك بداللة العادة‬
41 Adat hanya diterima jika konsisten dan
diterima secara luas
‫إنما تعتبر العادة إذا اضطردت أو‬
‫غلبت‬
42 Hal yang diterima adalah kebiasaan yang
diketahui secara luas, bukan sesuatu yang
‫العبرة للغالب الشائع ال للنادر‬
asing
43 Sesuatu yang sudah diterima sebagai
kebiasaan umum, sama keberlakuannya
‫المعروف عرفا كالمشروط شرطا‬
seperti sesuatu yang disyaratkan sebagai
syarat.

Contoh kaidah:
Apabila orang bergotong royong
membangun rumah yatim piatu, maka
berdasarkan adat kebiasaan, orang-orang
yang bergotong royong itu tidak dibayar.
Jadi tidah bias menuntut bayaran. Lain
halnya apabila apabila sudah dikenal
sebagai tukang kayu atau tukang cat yang
biasa diupah, dating ke suatu rumah yang
sedang dibangun, lalu ia bekerja disitu,
maka ia harus dibayar upah seperti yang
lainnya meskipun ia tidak mensyaratkan
apa pun, sebab kebiasaan tukang kayu atau
tukang cat apabila bekerja, dia mendapat
bayaran
44 Sesuatu yang dikenal diantara pedagang
berlaku sebagai syarat di antara mereka.
‫المعروف بين التجار كالمشروط بينهم‬
Contoh kaidah:
Apabila seorang membeli barang dari
Negara asing dengan pengiriman ke
tempat tertentu dan belum menjelaskan
harga upah pengiriman maka harus
mengikuti kebiasaan yang terkenal di
kalangan pedagang dalam hal
pembayarannya
45 Penetapan secara adat seperti penetapan
secara nash (teks)
‫التعيين بالعرف كالتعيين بالنص‬
46 Apa bila bercampur suatu larangan
dengan perintah maka didahulukan
‫إذا تعارض المانع والمقتضى يقدم‬
larangan ‫المانع‬
47 Sesuatu yang terkait dengan sebuah
obyek, maka ia diakui keabsahannya/
‫التابع تابع‬
Sesuatu yang mengikut kepada suatu yang
lainnya dipandang sebagai cabangnya
48 Sesuatu yang terkait dengan sebuah obyek
tidak dihukumi secara terpisah.
‫التابع اليفرد بالحكم‬
49 Seseorang yang memiliki sesuatu maka ia
juga memiliki segala kepentingan atasnya
‫من ملك شيئا ملك ما هو من ضروراته‬
50 Apabila asal telah gugur maka gugur pula
cabangnya
‫إذا سقط األصل سقط الفرع‬
51 Sesuatu yang terputus itu tidak akan
kembali seperti sesuatu yang hilang tidak
‫الساقط ال يعود كما أن المعدوم ال يعود‬
kembali
52 Apabila sesuatu itu batal maka batallah
apa yang ada didalammnya
‫إذا بطل الشيء بطل ما فى ضمنه‬
53 Apa bila batal suatu yang dasar /asal maka
ia merubah menjadi perubahan,maka asal
‫إذا بطل األصل يصار الى البدل‬
itu menjadi berubah
54 Dimaafkan sesuatu pada cabang yang
tidak dimaafkan pada yang lainnya
‫يغتفر التوابع ماال يغتفر فى غيرها‬
55 Sesuatu yang dilarang dengan cara yang
baru, mungkin diperbolehkan dengan cara
‫يغتفر فى البقاء ما ال يغتفر فى االبتداء‬
melanjutkan.
56 Meneruskan sesuatu lebih mudah dari
pada memulainya
‫البقاء أسهل من االبتداء‬
57 Tidaklah
‘aqad tabarru’ (pemberian)
sempurna
kecuali
‫ال يتم التبرع إال بقبض‬
diberikan/diserahkan, (sebelum diminta
sudah diberi)
58 Kebijakan penguasa atas rakyat harus
berdasarkan maslahat.
‫التصرف على الرعية منوط بالمصلحة‬
Contoh kaidah:
Seorang pemimpin (imam) dilarang
membagikan zakat kepada yang berhak
(mustahiq) dengan cara membeda-
bedakan diantara orang-orang yang
tingkat kebutuhannya sama.
Seorang pemimpin pemerintahan,
sebaiknya tidak mengankat seorang fasiq
menjadi imam shalat. Karena walaupun
shalat dibelakangnya tetap sah, namun
hal ini kurang baik (makruh).

Seorang pemimpin tidak boleh


mendahulukan pembagian harta baitul
mal kepada seorang yang kurang
membutuhkannya dan mengakhirkan
mereka yang lebih membutuhkan.

Rasulullah SAW. bersabda :


‫كلكم راع وكلكم مسؤل عن رعيته‬
Artinya :
“Masing-masing dari kalian adalah
pemimpin dan setiap dsari kalian akan
dimintai pertanggung jawaban atas
kepemimpinan”
59 Kewenangan khusus (pribadi) lebih kuat
dari pada kewenangan umum (publik)
‫الوالية الخاصة أقوى من الوالية‬
‫العامة‬
60 Mengamalkan maksud suatu kalimat,
lebih utama dari pada mengabaikannya
‫إعمال الكالم أولى من إهماله‬
(menyia-nyiakannya)
61 Apabila maksud hakiki tidak dapat
ditangkap, maka pengertian majazi
‫إذا تعذرت الحقيقة يصار إلى المجاز‬
(metaforis) dapat dipakai
62 Apabila perkataan itu lemah dalam
pelaksanaan maka abaikan saja
‫إذا تعذر إعمال الكالم يهمل‬
63 Hubungan terhadap bagian-bagian yang
takterpisahkan dinilai seperti hubungan
‫ذكر بعض ماال يتجزأ كذكر كله‬
terhadap keseluruhan
64 Sesuatu yang mutlaq berjalan dengan
kemutlakannya selama tidak ada
‫المطلق يجري على إطالقه ما لم يقم‬
nash atau dalil yang mengikatnya. ‫دليل التقييد نصا أو دالله‬
Contoh kaidah:
Jika seseorang ditunjuk sebagai wakil
untuk melakukan penjualan sesuatu,
apabila sifat perwakilannya bersifat
mutlak, maka ia diperbolehkan untuk
menjual harta orang yang mewakilkannya
dengan harga yang dianggapnya sesuai,
baik sedikit maupun banyak. Akan tetapi
apabila orang yang mewakilkan
menentukan harga tertentu, maka bagi
orang yang ditunjuk sebagai perwakilan
untuk menjual terkait dengan harga
tersebut, sehingga tidak boleh menjual
kecuali dengan harga tersebut. Apabila ia
menjual dengan harga yang kurang tanpa
izin, maka ia harus mengganti
kekurangannya.
2. Jika seseorang mewakilkan kepada
orang lain untuk membeli suatu barang,
dan dia tidak menjelaskan harganya, maka
orang yang ditunjuk sebagai wakil
hendaknya membeli dengan harga standar
atau dengan perbedaan sedikit, dan tidak
boleh membeli dengan perbedaan yang
sangat banyak. Jika dia melakukannya,
berarti dia membeli untuk dirinya sendiri
dan bukan sebagai orang yang ditunjuk
sebagai wakil. Karena perwakilannya
sekalipun bersifat mutlak, namun juga
terikat, dengan bukti bahwa orang yang
mewakilkan tidak menginginkan rugi
yang sangat besar
65 Sifat yang tampak tidak memiliki nilai
kebenaran, maka sifat yang tidak tampak
‫الوصف فى الحاضر لغو وفى الغائب‬
dapat dipakai. ‫معتبر‬
“Mendefinisikan sesuatu yang ada di
depan mata tidak perlu, tetapi
pendefinisian diperlukan jika sesuatu itu
berada di tempat lain”.
Ruang lingkup kaidah: kaidah ini berlaku
pada sebagian akad mubadalah seperti
bai’, ijaroh, dan nikah.

Contoh kaidah:
seseorang berkata : aku menjual kuda
putih ini kepadamu sambil menunjuknya,
padahal berwarna hitam maka jual beli
tesebut menjadi sah jika pembeli
menerimanya, dan sia-sialah penyifatan
terebut. Sedangkan jika kuda tersebut tak
ada (di tempat akad) dan si penjual berkata
bahwa ia menjual kuda putihnya ,
kemudian tampak jelas bahwa kudanya
berwarna hitam, maka pembeli boleh
khiyar

66 Pertanyaan itu diulangi di dalam jawaban ‫السؤال معاد فى الجواب‬


67 Perkataan tidak dapat dinisbatkan kepada
orang yang diam, tetapi diam adalah sama
‫ لكن السكوت‬،‫ال ينسب إلى ساكت قول‬
dengan pernyataan, ketika bicara ‫فى معرض الحاجة بيان‬
diperlukan. (Artinya orang yang diam
ketika berbicara itu menjadi keharusan,
maka ia dianggap membuat pernyataan
(menyetujui/menolak).
68 Bukti atas sesuatu yang tidak jelas
dikembalikan pada kedudukannya
‫دليل الشيئ فى األمور الباطنة يقوم‬
‫مقامه‬
69 Tulisan seseorang itu seperti halnya
perkataan
‫الكتاب كالخطاب‬
70 Isyarat yan dikenal karena kebisuan
seperti suatu keerangan dengan lisan
‫اإلشارات المعهودة لألخرس كالبيان‬
‫باللسان‬
71 kata terjemahan diterima secara mutlaq. ‫يقبل قول المترجم مطلقا‬
72 Tidak dipegangi sesuatu (hukum) yang
berdasarkan pada Dhon -persangkaan
‫ال عبرة للظن البين خطؤه‬
yang kuat- yang jelas salahnya.
73 Tidak di jadikan hujjah sesuatu yang
berdasarkan kemungkinan yang
‫ال حجة مع االحتمال الناشئ عن دليل‬
berlawanan dengan dalil
74 Tidak bia dijadikan patokan sesuatu yang
bimbang/was-was
‫ال عبرة للتوهم‬
75 Keputusan dengan bukti yang otentik
seperti kepastian melihat dengan mata
‫الثابت بالبرهان كالثابت بالعيان‬
kepala sendiri
76 Bukti dituntut atas orang yang
menggugat/menuduh, sedangkan sumpah
‫البينة على المدعي واليمين على من‬
atas yang menolak/ mengingkarinya ‫أنكر‬
77 Bukti adalah untuk memastikan sesuatu
yang berlawanan secara lahiriyah, sedang
‫البينة إلثبات خالف الظاهر واليمين‬
sumpah untuk memastikan sesuatu yang ‫إلبقاء األصل‬
asal
78 Bukti adalah kepastian mutlak (bagi fihak
ketiga), sedang ikrar (pengakuan)
‫البينة حجة متعدية واإلقرار حجة‬
hanyalah bukti relatif bagi yang ‫قاصرة‬
menyatakannya.
79 Seseorang itu terikat oleh pengakuannya ‫المرء مؤاخذ بإقراره‬
80 Sesuatu yang diperdebatkan tidak bisa
dijadikan hujjah, tetapi jga tidak dapat
‫ال حجة مع التناقض والكن ال يختل‬
menafikan keputusan hakim ‫معه حكم الحاكم‬
81 Sesungguhnya ditetapkannya cabang itu
tidak berarti dengan meniadakan yang
‫قد ثبت الفرع مع عدم ثبوت األصل‬
asal/pokok
82 Fihak yang dibebani oleh syarat wajib
memenuhinya ketika syarat disebutkan.
‫المعلق بالشرط يجب ثبوته عند ثبوت‬
‫الشرط‬
83 Lazimnya pemenuhan syarat itu sesuai
kemampuan yang memungkinkan
‫يلزم مراعة الشرط بقدر اإلمكان‬
84 Janji yang diiringi persyaratan adalah
lazim
‫المواعيد باكتساء صور التعاليق تكون‬
‫الزمة‬
85 Hak mendapat hasil itu sebagai ganti
kerugian (yang ditanggung)
‫الخراج بالضمان‬
86 Pendapatan/upah dengan jaminan itu tidak
datang secara bersamaan
‫األجر والضمان ال يجتمعان‬
87 Risiko itu sejalan dengan keuntungan
(yakni orang yang memperoleh manfaat
‫ ( يعني إن من ينال نفع‬- ‫الغرم بالغنم‬
atas sesuatu, pada saat yang sama ia harus ) ‫شيئ يحتمل ضرره‬
mau berkorban).
88 Kenikmatan itu setaraf
pengorbanan dan pengorbanan setaraf
dengan ‫النعمة بقدر النقمة والنقمة بقدر النعمة‬
dengan kenikmatan
89 Perbuatan itu disandarkan pada pelakunya
kecuali pada suatu kasus yang belum
‫يضاف الفعل الى الفاعل ال اآلمر مالم‬
terjabarkan ‫يكن مجبرا‬
90 Apabila terdapat dua orang terlibat suatu
perkara, yang seorang terlibat langsung
‫إذا اجتمع المباشر والمتسبب يضاف‬
dan yang lain hanya terlibat sebab- ‫الحكم الى المباشر‬
musababnya, maka hukum dibebankan
pada orang yang terlibat secara langsung
saja
91 Hal yang dibolehkan syariat tidak dapat
dijadikan beban/tanggungan
‫الجواز الشرعي ينافي الضمان‬
92 Orang yang berbuat sesuatu, meskipun
tanpa sengaja, tetap harus menanggung
‫المباشر ضامن وان لم يتعمد‬
beban
93 Tidak dikenai beban orang yang terlibat
dalam sebab suatu kejadian kecuali
‫المتسبب ال يضمن ءاال بالتعمد‬
dengan sengaja ia hendak melakukannya
94 Tidak ada beban yang terkait dengan
kecelakaan disebabkan oleh binatang atas
‫جناية العجماء جبار‬
kemauanya sendiri.
95 Perintah menggunakan atau
memanfaatkan barang milik orang lain
‫األمر بالتصرف فى ملك الغير باطل‬
adalah terlarang (bathil)
96 Tidak boleh bagi seorang pun merubah
/mengganti milik orang lain tanpa izin
‫ال يجوز ألحد أن يتصرف فى ملك‬
pemiliknya. ‫الغير بال إذنه‬
97 Tidak boleh bagi seseorang mengambil
milik orang lain tanpa sebab syar’i
‫ال يجوز ألحد أن يأخذ مال أحد بال‬
‫سبب شرعي‬
98 Perubahan sebab kepemilikan barang
adalah setara dengan perubahan pada
‫تبدل سبب الملك قائم مقام تبدل الذات‬
barang itu sendiri
99 Barang siapa yang mendahulukan sesuatu
sebelum waktunya, maka ia dibebani atas
‫من استعجل الشيئ قبل أوانه عوقب‬
larangan yang ada didalamnya ‫بحرمانه‬
100 Barang siapa berusaha menyanggah
perbuatannya sendiri, maka usahanya itu
،‫من سعى فى نقض ما تم من جهته‬
tertolak ‫فسعيه مردود عليه‬