Anda di halaman 1dari 9

POLA KONSUMSI DAN KEBIASAAN

MAKAN SUKU ACEH, KARO, DAN


BANJAR
ditujukan untuk tugas kuliah Sosio antropologi
dosen pembimbing Putra Apriadi Siregar, SKM, M.KES

Disusun
Oleh:
FINKA ANANDA PUTRI
KHAIRUNNISA
REFLYANSYAH PUTRI
SAFIRA NURULITA

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUMATERA UTARA
MEDAN
2018
KATA PENGANTAR

‫ـــــم‬
ِ ‫الر ِح ْي‬
َّ ‫الرحْ َم ِن‬
َّ ‫هللا‬
ِ ‫ــــــــــــــم‬
ِ ‫س‬ْ ‫ِب‬

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat serta
hidayah-Nya kepada penulis sehingga kami dapat menyelesaikan sebuah makalah Sosio
Antropolgi, yang membahas tentang “Pola Konsumsi dan Kebiasaan Makan suku Aceh, Karo,
Dan Banjar”. Tidak lupa juga saya mengucapkan terima kasih pada dosen pembimbing mata
kuliah Sosio Antropolgi, serta teman - teman yang telah memberikan bimbingan dan
dukungannya pada kami untuk membantu kelancaran dalam penyelesaian makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam pembuatan makalah ini, oleh karena
itu penulis mengharapkan sumbangan saran serta kritik yang membangun. Semoga makalah ini
dapat bermanfaat bagi kita semua, dan menjadikan kita lebih baik untuk dimasa yang akan
datang. Akhir kata kami ucapkan terima kasih.

Medan, 25 Mei 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI............................................................................................................. ii

BAB 1 PENDAHULUAN ........................................................................................

1.1 Latar Belakang ....................................................................................... 1


1.2 Rumusan Masalah .................................................................................. 1

BAB 2 PEMBAHASAN

A. Pola Konsumsi Makan ……………………….......................................... 2

1. Suku Aceh ............................................................................................ 2

2. Suku Karo ............................................................................................. 2

3. Suku Banjar ........................................................................................... 3

B. Kebiasaan Makan ..................................................................................... 3

1. Suku Aceh ............................................................................................. 3

2. Suku Karo ............................................................................................. 3

3. Suku Banjar ........................................................................................... 4

BAB 3 PENUTUP

3.1 Kesimpulan .............................................................................................. 5

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 6


BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pola konsumsi utama makanan suku Aceh adalah nasi. Orang aceh memiliki budaya
jika saat jam makan tiba mereka harus makan nasi. Pola konsumsi suku Karo adalah
mereka gemar mengonsumsi masakan menggunakan andaliman sebagai rempah utama.
Karena itulah Andaliman kadang dijuluki sebagai “merica batak”. Kebanyakan hidangan
Batak tidak dibatasi oleh aturan halal. Pola konsumsi suku Banjar adalah Pada umumnya
masyarakat Banjar mengkonsusmis nasi untuk makan sehari-hari. Kebiasaan makan suku
Aceh adalah dalam sehari-hari adalah, mereka tebiasa makan bersama sama seluruh
keluarga di meja makan atau di atas teleten. Masyarakat karo mempunyai kebiasaan
makan dengan tangan kanan. Dipengaruhi oleh kepercayaan, dimana para penganut
agama mengajarkan makan dengan menggunakan tangan yang baik atau tangan kanan.
Jangan menggunakan tangan kiri. Kebiasaan suku Banjar adalah dalam pembuatan
makanan diperlukan system teknologi yang digunakan untuk membuat makanan tersebut
mempunyai nilai lebih.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimanakah Pola konsumsi suku Aceh, Karo, Dan Banjar?


2. Apa saja kebiasaan makan suku Aceh, Karo, Dan Banjar?
BAB 2

PEMBAHASAN

A. Pola Konsumsi Makan

1. Suku Aceh

Ciri utama makanan pokok masyarakat Aceh adalah nasi. Orang aceh memiliki budaya
jika saat jam makan tiba mereka harus makan nasi. Budaya ini sudah tertanam di setiap individu
di aceh, bahwa mereka baru terhitung makan apabila mereka telah makan nasi. Masakan Aceh
terkenal banyak menggunakan kombinasi rempah-rempah sebagaimana yang biasa terdapat pada
masakan india dan arab, yaitu jahe, merica, ketumbar, jintan, cengkeh, kayu manis, kapulaga dan
adas. Di Aceh biasanya seseorang makan tidak hanya di temani satu jenis lauk saja, tetapi bias
sampai dua atau tiga macam lauk. Lauk-lauk utama masyarakat Aceh dapat berupa ikan, daging
(kambing/sapi). Berbagai macam makanan aceh dimasak dengan bumbu gulai atau kari serta
santan, yang umumnya dikombinasikan dengan daging. Beberapa resep tertentu secara
tradisional ada yang memakai ganja sebagai bumbu racikan penyedap. Sedangkan dalam tradisi
minum, masyarakat Aceh adalah kopi. Mereka selalu makan dan ditemani dengan kopi.

2. Suku Karo

Masyarakat suku Karo gemar mengonsumsi masakan menggunakan andaliman sebagai


rempah utama. Karena itulah Andaliman kadang dijuluki sebagai “merica batak”. Kebanyakan
hidangan Batak tidak dibatasi oleh aturan halal. Daging babi, darah, dan bahkan daging anjing
lazim dikonsumsi dalam tradisi kuliner Batak. Banyak makanan terbaik daerah itu dibuat dari
daging babi, serta makanan yang terbuat dari bahan-bahan yang tidak biasa, akan tetapi ada juga
hidangan-hidangan halal. Makanan khas orang karo adalah terites, yang dalam bahasa karo
berarti pahit, merupakan makanan budaya suku karo pedalaman. Terites biasa dimasak pada
upacara “merda merdun” yaitu upacara tanda dimulainya musim tanam padi. Bahan terites
adalah kotoran kambing atau sapi. Kotoran yang dipakai sebagai bahan baku bukanlah kotoran
yang sudah dikeluarkan, melainkan sisa makanan yang masih idalam perut. Kotoran yang
berbentuk rumput (seperti ditumbuk) diperas untuk diambil sarinya. Air sari yang berwarna hijau
berfungsi sebagai kuah, ditambah bumbu seperti asam, jahe, kunyit, serai, dan rdempah lain,
teritas dimasak dengan kikil, kaki kambing, atau kepala kambing/sapi selama 3 jam.

3. Suku Banjar

Kalau Melihat luasan lahan pertanian di banjar dan tingkat pertumbuhan penduduknya
seperti sekarang, maka produksi padi kita masih tetap bisa surplus hingga sepuluh tahun
mendatang. Pada umumnya masyarakat Banjar mengkonsusmis nasi untuk makan sehari-hari. Di
akui masyarakat Banjar kalau Cuma mengonsumsi ubi rebus, misalnya, masih belum puas jika
tidak makan nasi. Tetapi pada saat ini masyarakat Banjar sudah tidak bergantung pada nasi.
Sudah mau mengonsumsi makanan yang terbuat dari bahan non beras.

B. Kebiasaan Makan

1. Suku Aceh

Kebiasaan makan masyarakat Aceh dalam sehari-hari adalah, mereka terbiasa makan
bersama sama seluruh keluarga di meja makan atau di atas teleten, yaitu semacam lantai dari
papan yang ditinggikan kemudian diberi tikar. Makanan sehari-hari yang mereka makan terdiri
dari nasi dan lauk – pauk, sama seperti masyarakat Indonesia pada umumnya. Yang berbeda,
dipagi hari mereka terbiasa menyeruput kopi untuk menghangatkan tubuh. Kebiasaan lainnya
adalah, kegiatan memasak dilakukan oleh ibu dengan dibantu anak perempuannya. Setelah
selesai dimasak, makanan ditempatkan di beberapa piring atau mangkuk sesuai dengan jumlah
anggota keluarga. Nasi dan lauk untuk bapak disendirikan dengan milik anggota keluarga yang
lain. Hal ini berkaitan dengan status social bapak yang dianggap lebih tinggi disbanding anggota
keluarga lain sebagai kepala keluarga dan pencari nafkah. Sebelum makan dihidangkan, seluruh
anggota keluarga telah duduk di meja makan atau diatas teleten. Biasanya ibu adalah orang yang
makan paling terakhir, setelah memastikan semua anggota keluarga sudah makan, barulah ia ikut
menyantap makanan. Kebiasaan makan lainnya adalah, masyarakat muslim Aceh menjelang
Ramadhan dan Lebaran banyak daging yang diburu untuk keperluan rumah tangga.

2. Suku Karo
Masyarakat karo mempunyai kebiasaan makan dengan tangan kanan. Dipengaruhi oleh
kepercayaan, dimana para penganut agama mengajarkan makan dengan menggunakan tangan
yang baik atau tangan kanan. Jangan menggunakan tangan kiri. Kemudian makan harus bersama
keluarga, kebiasaan ini adalah memperkuat dan mempererat hubungan tali persaudaraan yang
menjalin kekerabatan orang karo semakin erat. Kebiasaan lainnya adalah makan tidak boleh
bersisa. Para leluhur mengajarkan bahwa makanan adalah sesuatu anugerah dari Tuhan yang
perlu dihargai karena makanan bersal dari hasil keringat dengan bekerja keras, seperti diketahui
asal mulanya masyarakat berkembang dari bercocok tanam. Kebiasaan makan beralaskan tikar
baik dirumah maupun diacara adat. Duduk bersama dalam acara makan, tidak menggunakan
kursi. Kebiasaan lainnya makan ambil berbicara. Salah satu ciri khas orang karo adalah makan
sambil bercerita, pada beberapa suku hal ini tidak baik tapi pada suku batak, hal ini adalah hal
yang diijinkan karena berkaitan erat. Kemudian kebiasaan lainnya adalah menunggu makanan
dibagi, patuh pada adat membuat orang batak selalu ikut aturan main adat istiadatnya itu sendiri.
Sehingga dalam setiap acara. Momen acara makan adalah ditunggu karena acara makan akan
dibagi sesuai dengan kapasitas undangan. Misalnya dalam acara perkawinan bahwa ada makanan
yang disajikan khusus dan haru dibagi sesuai “jambar” atau hak milik.

3. Suku Banjar

Kebiasaan suku Banjar dalam pembuatan makanan diperlukan system teknologi yang
digunakan untuk membuat makanan tersebut mempunyai nilai lebih. Bagaimana cara mengolah,
memasak dan menyajikan juga harus diperhatikan, apalagi penggunaan bumbu-bumbunya.
Masakan Banjar secara umum, atau paling lengkap ada gangan waluh, sambal acan, papuyu dan
haruan baubar, urap iwak bapais, iwak basanga. Kebiasaan suku Banjar adalah Mawarung, dalam
bahasa Indonesia dapat diartikan dengan sarapan di warung. Adalah salah satu budaya yang
secara turun temurun dari masyarakat Banjar. Mawarung ini biasanya dilakukan masyarakat pada
pagi hari, biasanya untuk sarapan atau hanya sekedar minum teh/kopi.
BAB 3

PENUTUP

A. Kesimpulan

Masakan Aceh terkenal banyak menggunakan kombinasi rempah-rempah sebagaimana yang


biasa terdapat pada masakan india dan arab, yaitu jahe, merica, ketumbar, jintan, cengkeh, kayu
manis, kapulaga dan adas. Berbagai macam makanan aceh dimasak dengan bumbu gulai atau kari
serta santan, yang umumnya dikombinasikan dengan daging. Makanan khas orang karo adalah
terites, yang dalam bahasa karo berarti pahit, merupakan makanan budaya suku karo pedalaman.
Terites biasa dimasak pada upacara “merda merdun” yaitu upacara tanda dimulainya musim
tanam padi. Di akui masyarakat Banjar kalau Cuma mengonsumsi ubi rebus, misalnya, masih
belum puas jika tidak makan nasi. Tetapi pada saat ini masyarakat Banjar sudah tidak bergantung
pada nasi. Sudah mau mengonsumsi makanan yang terbuat dari bahan non beras. Kebiasaan
makan masyarakat muslim Aceh menjelang Ramadhan dan Lebaran banyak daging yang diburu
untuk keperluan rumah tangga. Kebiasaan suku Karo adalah menunggu makanan dibagi, patuh
pada adat membuat orang batak selalu ikut aturan main adat istiadatnya itu sendiri. Kebiasaan
suku Banjar adalah Mawarung, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan dengan sarapan di
warung. Adalah salah satu budaya yang secara turun temurun dari masyarakat Banjar.
DAFTAR PUSTAKA

• https://www.google.co.id/amp/m.tribunnews.com/amp/tribunners/2016/05/15/uniknya-
budaya-makan-di-aceh
• https://www.google.co.id/amp/s/dinayuuhuu.wordpress.com/2014/08/tata-cara-makan-
dan-makanan-pantangan-masyarakat-gayo/amp/
• https://id.m.wikipedia.org/wiki/Masakan_Batak
• https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/07/24/tradisi-mawarung-salah-satu-cara-
warga-banua-menyambung-tali-persaudaraan