Anda di halaman 1dari 8

Ringkasan dan Reading Log Hermeneutik/Stuart & Fee

Victor Christianto, email: victorchristianto@gmail.com

Judul buku : Hermeneutik: Menafsirkan Firman Tuhan dengan tepat (edisi Revisi)

Penulis : Douglas Stuart & Gordon D. Fee

Penerbit : Penerbit Gandum Mas

Tahun Terbit : 2011

A. Reading Log
Note: Saya membaca bukan dari bab 3, tapi mulai dari halaman 1, karena buku ini
sangat bagus untuk memperdalam pemahaman tentang hermeneutik.

Tanggal Waktu Hal


22-01 16.20-17.40 1-19
23-01 10.45-11.28 20-25
24-01 11.44-13.05 26-39
24-01 16.00-16.35 40-50
24-01 19.45-21.05 51-60
25-01 12.10-12.20 61-63
25-01 17.58-19.51 64-76
26-01 11.09-11.32 77-79
26-01 14.28-14.48 80-83
26-01 17.24-18.05 84-93
26-01 20.15-21.23 95-107
27-01 9.58-10.16 108-112
27-01 10.20-11.43 113-117
27-01 19.00-19.45 118-124
27-01 19.57-20.35 125-132
28-01 11.30-12.40 133-146
28-01 21.16-22.13 147-163
29-01 22.45-23.29 165-172

1
B. Ringkasan

a. Bab 3: Surat-surat Kiriman: Belajar Berpikir secara Kontekstual


Bentuk surat-surat kiriman umumnya terdiri dari 6 bagian:
1. Nama penulis
2. Nama penerima
3. Salam
4. Doa harapan atau ucapan syukur
5. Tubuh
6. Salam penutup
Satu-satunya unsur yang tak tetap dari daftar di atas adalah nomor 4.
Tampaknya Surat-surat Kiriman Perjanjian Baru yang tidak memiliki unsur-
unsur formal 1-3 atau 6 tidak termasuk Surat-surat yang benar, walaupun
bentuknya sebagian bersifat Surat Kiriman, contohnya: Surat Ibrani dan
Surat Pertama Yohanes.
Sifat tak berkala dari surat-surat itu seharusnya diperhatikan sungguh-
sungguh. Sifat tak berkala Surat-surat Kiriman itu juga berarti bahwa surat-
surat itu bukanlah pertama-tama risalah teologis, juga bukanlag ringkasan
teologi Petrus atau Paulus. Ada teologi yang tersirat di dalam Surat-surat itu,
tetapi itu selalu merupakan “teologi tugas”.
Hal pertama yang harus dilakukan dengan setiap surat Kiriman ialah
membentuk suatu rekonstruksi yang sementara namun arif dari situasi yang
sedang dihadapi oleh penulis.
Perlu ditekankan mengenai betapa pentingnya untuk belajar berpikir secara
paragraf.
Beberapa garis pedoman:
1. Dalam banyak kasus, alasan mengapa berbagai teks Alkitab begitu sukar
bagi kita ialah karena teks-teks itu tidak ditulis bagi kita.
2. Kita perlu belajar menanyakan hal yang dapat dikatakan secara pasti
tentang suatu teks dan hal yang mungkin tetapi tidak pasti.
3. Walaupun seandainya kita tidak yakin seluruhnya mengenai beberapa
seluk-beluk, sering kali maksud seluruh bagian masih dapat kita
mengerti.

2
b. Bab 4: Surat-surat Kiriman: Soal-soal hermeneutik
Ada suatu kekurangan yang besar dalam hermeneutik umum kita. Dengan
tidak disengaja, kita membawa warisan teologis kita, tradisi-tradisi gereja
kita, norma-norma kebudayaan kita, atau soal-soal eksistensial kita terhadap
Surat-surat Kiriman itu waktu kita membacanya.
Sebagai suatu peraturan dasar pertama yaitu bahwa suatu teks tidak dapat
mempunyai arti yang tidak pernah dimaksudkan oleh penulis atau para
pembacanya.
Peraturan dasar kedua adalah kapan saja kita mengalami fakta-fakta yang
sebanding (yaitu, situasi kehidupan khusus yang serupa) dengan keadaan
abad pertama, maka Firman Allah kepada kita adalah sama dengan Firman-
Nya kepada mereka. Misalnya imbauan Paulus untuk tunduk kepada etika
Yesus yang tak suka membalas dendam berlaku sampai hari ini.
Persoalan relativitas kebudayaan merupakan bagian terbesar dari kesulitan
dan perbedaan pada masa kini. Sering kali ada orang yang telah mencoba
menolak gagasan relativitas kebudayaan sama sekali, yang sedikit banyak
menyebabkan mereka mengusulkan untuk menerima seluruh kebudayaan
abad pertama sebagai norma ilahi (h. 70).
Garis-garis pedoman yang disarankan Stuart & Fee adalah sbb:
1. Kita harus lebih dahulu membedakan di antara pokok utama pesan
Alkitab dan apa yang bergantung pada pokok itu atau yang tak mengenai
pokok itu.
2. Kita harus siap untuk membedakan di antara apa yang oleh Perjanjian
Baru sendiri dianggap sebagai bersifat moral dan yang tidak bersifat
moral.
3. Kita seharusnya mencamkan secara khusus pokok-pokok itu di mana
Perjanjian Baru sendiri mempunyai kesaksian yang seragam dan tetap di
mana Perjanjian Baru memperlihatkan perbedaan-perbedaannya.
4. Pentinglah untuk dapat membedakan antara prinsip dan penerapan
khusus dalam Perjanjian Baru.
5. Mungkin juga penting, untuk menetapkan pilihan-pilihan kebudayaan
yang terbuka kepada setiap penulis Perjanjian Baru.
6. Kita harus tetap berjaga-jaga terhadap perbedaan-perbedaan
kebudayaan yang mungkin ada di antara abad pertama dan abad kedua
puluh satu yang kadang-kadang tidak segera tampak.
7. Akhirnya, kita harus mempraktekkan kemurahan hati Kristen pada saat
ini.
Mengenai teologi tugas, kita mengakui bahwa sering kali teologi seorang
penulis tercantum dalam berbagai pra-anggapan dan anjurannya maupun
dalam pernyataannya yang tegas.

3
c. Bab 5: Narasi-narasi Perjanjian Lama
Narasi adalah cerita. Cerita yang bertujuan mengisahkan kembali berbagai
peristiwa historis dari masa lampau yang dimaksudkan untuk member arti
dan petunjuk bagi orang-orang tertentu pada masa kini. Lebih dari 40% dari
Perjanjian Lama adalah narasi (h. 77).
Cerita itu sebetulnya diceritakan pada tiga tingkat. Tingkat paling atas (tiga)
sering disebut sebagai “meta-narasi”, tingkat ini berhubungan dengan
seluruh rencana Allah untuk semesta alam, yang bisa terlaksana melalui
ciptaan-Nya. Tingkat kedua adalah kisah mengenai tindakan Allah menebus
manusia demi nama-Nya. Akhirnya, ada tingkat yang pertama. Di sini
terdapat seluruh ratusan narasi tersendiri yang membentuk kedua tingkat
yang lain.
Cara-cara yang jangan dipakai untuk memahami narasi Perjanjian Lama:
1. Narasi PL bukan alegori atau cerita-cerita yang berisi makna-makna yang
tersembunyi.
2. Narasi-narasi PL yang tersendiri tidak dimaksudkan untuk mengajarkan
pengajaran moral.
3. Sekalipun narasi PL belum tentu mengajar secara langsung, narasi itu
sering menggambarkan apa yang diajarkan secara eksplisit dan pasti di
tempat lain.

Narasi Ibrani memiliki beberapa ciri khusus:

- Sang Narator
- Adegan-adegan: bentuk utama narasi dalam narasi Ibrani adalah bentuk
adegan.
- Tokoh-tokohnya
- Dialog
- Jalan cerita
- Ciri-ciri struktur
- Kata akhir

Beberapa kesalahan penafsiran yang paling lazim dilakukan:

a. Menjadikan alegori (Allegorizing)


b. Melihat terpisah dari konteks (Decontextualizing)
c. Memilih-milih (Selectivity)
d. Mengaitkan dengan moral (Moralizing)
e. Mengaitkan dengan pribadi tertentu (Personalizing)
f. Penyalahgunaan (Misappropriation)
g. Kecocokan palsu (False appropriation)
h. Penggabungan yang salah (False combination)
i. Definisi ulang

Narasi PL biasanya tidak secara langsung mengajarkan suatu doktrin (h.92).

4
d. Bab 6: Kisah Para Rasul: persoalan contoh historis
Walaupun Kisah Para Rasul adalah sebuah buku yang menarik untuk dibaca,
buku ini sukar untuk digunakan dalam penyelidikan Alkitab secara
berkelompok. (h. 96)
Kebanyakan saran eksegesis yang diberikan dalam bab sebelumnya berlaku
untuk Kitab Kisah Para Rasul. Yang penting di sini ialah bahwa Lukas itu
seorang bukan Yahudi. Soal maksud Lukas segera merupakan yang paling
penting dan paling sulit.
Kisah Para Rasul banyak kali dibagi berdasarkan perhatian Lukas pada
Petrus (pasal 1-12) dan Paulus (13-28), atau pada penyebaran Injil secara
geografis yang ditunjukkan dalam 1:8 (ps. 1-7, Yerusalem; 8-10, Samaria dan
Yudea; 11-28, sampai ke ujung bumi). Petunjuk lain adalah pernyataan
ringkas dalam 6:7, 9:31, 12:24, 16:4, 19:20.
Beberapa pengamatan:
1. Kunci untuk memahami Kisah Para Rasul agaknya terletak dalam
perhatian Lukas terhadap gerakan Injil ini yang diatur oleh Roh Kudus
mulai dari permulaannya yang berorientasi pad Yudaisme dan
berpangkalan di Yerusalem sampai menjadi suatu fenomena yang
didominasi kalangan bukan Yahudi dan tersebar ke seluruh dunia.
2. Perhatian terhadap gerakan ini diperkuat lagi oleh apa yang tidak
diberitahukan Lukas kepada kita.
3. Agaknya minat Lukas juga bukan kepada pembakuan segala hal,
menjadikan segala sesuatu seragam.
4. Meskipun demikian, kita percaya bahwa sebagian besar Kitab Kisah para
rasul itu dimaksudkan oleh Lukas sebagai suatu contoh.(h. 101)

5
e. Bab 7: Kitab-kitab Injil: Satu cerita, banyak dimensi
Hampir semua kesulitan yang kita hadapi dalam menafsirkan kitab-kitab Injil
berasal dari dua fakta yang nyata: 1) Yesus sendiri tidak menulis kitab Injil;
kitab-kitab itu berasal dari orang lain, bukan dari Dia. 2) Ada 4 kitab Injil.
(h.113) Untuk menggunakan ungkapan Yustinus Martyr, bapak gereja abad
kedua, kitab-kitab itu adalah “kitab kenang-kenangan para rasul”. (h.115)
Konteks historis Yesus – Untuk memahami tentang Yesus saudara harus
melibatkan diri secara mendalam di dalam Yudaisme abad pertama yang
merupakan lingkungan Yesus. (h.116) Suatu segi yang sangat penting dari
dimensi konteks historis ini, tetapi yang sering dilewati, ada hubungannya
dengan bentuk ajaran Yesus. Semua orang mengetahui bahwa Yesus sering
mengajar dengan perumpamaan. Yesus juga menggunakan amsal secara
efektif, kiasan dan metafora, puisi, pertanyaan-pertanyaan, dan ironi. (h.
117).
Berpikir secara horizontal – berarti bahwa bilamana mempelajari satu
perikop dalam salah satu Injil, kita harus mengingat paralelnya dalam kitab-
kitab Injil lain.
Dari cerita tentang mukjizat yang dibuat Yesus dengan memberi makan 5000
orang, kesimpulan-kesimpulan berikut kelihatannya tidak dapat
dihindarkan: Yohanes menunjukkan bahwa dengan jelas bahwa dalam
menceritakan cerita itu ia tidak bergantung pada yang lain.(h.121)
Berpikir secara vertical berarti bahwa bila membaca atau mempelajari suatu
narasi atau pengajaran dalam Kitab-Kitab Injil kita harus berusaha untuk
mengetahui kedua konteks historis, yaitu konteks mengenai Yesus dan
mengenai penulis kitab Injil itu.
Seseorang telah berkata bahwa dalam kekristenan, agama adalah kasih
karunia; etika adalah rasa terima kasih.
Tujuan pokok dari cerita orang muda yang kaya itu bukanlah agar semua
murid Yesus menjual segala milik mereka dan mengikut Dia. (h.129)
Pesan terakhir: orang tidak berani berpikir bahwa ia dapat menafsirkan
kitab-kitab Injil dengan tepat tanpa pengertian yang jelas mengenai konsepsi
Kerajaan Allah dalam pelayanan Yesus.
Kita harus mengetahui bahwa kerangka teologis dasar dari seluruh
Perjanjian Baru bersifat eskatologis. (h. 129)

6
f. Bab 8: Perumpamaan: Apakah Saudara mengerti maksudnya?
Ketika ditanya mengenai maksud perumpamaan-perumpamaan itu,
tampaknya Yesus mengemukakan bahwa perumpamaan-perumpamaan itu
mengandung rahasia bagi orang-orang kalangan dalam, sementara
perumpamaan itu mengeraskan hati orang-orang kalangan luar. (h. 133)
Hal pertama yang harus kita perhatikan ialah bahwa tidak semua pernyataan
yang kita golongkan sebagai perumpamaan adalah sejenis.
Petunjuk-petunjuk yang terbaik mengenai apa artinya perumpamaan
terdapat dalam fungsi dari perumpamaan-perumpamaan itu. Perumpamaan
berfungsi sebagai sarana untuk membangkitkan tanggapan dari pihak
pendengar.
Juga penting untuk menetapkan siapa pendengarnya, sebab arti
perumpamaan itu berhubungan dengan bagaimana perumpamaan itu mula-
mula didengar (hal. 138).
Misalnya tentang perumpamaan Anak yang Hilang. Konteksnya adalah
keluhan orang Farisi karena Yesus menerima dan makan bersama-sama
dengan orang-orang berdosa.

7
g. Bab 9: Taurat: Syarat-syarat Perjanjian bagi Israel
Kita mulai dengan melihat bahwa orang Kristen tidak diharapkan untuk
menyatakan kesetiaan mereka kepada Allah dengan cara menaati hukum
Perjanjian Lama.
Enam garis pedoman awal untuk mengerti hubungan orang Kristen dengan
Taurat PL:
1. Taurat PL adalah suatu perjanjian (covenant)
2. PL bukanlah wasiat kita
3. Jelaslah, ada beberapa ketetapan dalam perjanjian yang lama yang
tidak dibaharui dalam perjanjian yang baru.
4. Sebagian perjanjian yang lama dibaharui dalam perjanjian yang
baru.
5. Semua hukum Perjanjian Lama tetap merupakan Firman Allah bagi
kita walaupun hukum itu tidak lagi merupakan perintah Allah
kepada kita.
6. Hanyalah bagian yang dengan tegas dibaharui dari Taurat PL dapat
dianggap sebagai bagian dari hukum Kristus di PB.
Kita keliru apabila menyimpulkan bahwa Taurat tidak lagi merupakan bagian
yang bermanfaat dalam Alkitab. Justru sebaliknya. Taurat bukan saja
berfungsi dalam sejarah penyelamatan untuk membawa kita kepada Kristus
sebagaimana dikatakan Paulus, tetapi tanpa Taurat kita tidak akan bisa
memahami apa artinya menjadi umat Allah bagi Israel.
Garis pedoman hermeneutik:
a. Lihatlah Taurat PL sebagai firman Allah yang diilhamkan sepenuhnya
bagi saudara. Janganlah memandang Taurat PL sebagai perintah langsung
Allah kepada saudara.
b. Janganlah memandang taurat PL sebagai hal yang mengikat orang Kristen
dalam perjanjian yang baru, kecuali yang khusus dibaharui.
c. Lihatlah keadilan, kasih serta norma-norma yang tinggi dari Allah yang
dinyatakan dalam taurat PL.
d. Janganlah memandang taurat PL sebagai suatu paradigm yang member
contoh-contoh untuk seluruh perilaku yang diharapkan.
e. Ingatlah bahwa inti taurat (sepuluh perintah dan 2 hukum yang utama)
diulang dalam kitab nabi-nabi dan dibaharui dalam PB.
f. Pandanglah taurat PL sebagai suatu karunia yang dermawan kepada
orang Israel, yang membawa banyak berkat jika ditaati.

C. Pernyataan
Di hadapan Allah, saya sudah membaca buku ini + 70%.

Versi 1.0: 30 Januari 2014

VC, email: victorchristianto@gmail.com