Anda di halaman 1dari 74

MATA KULIAH : Dasar Kesehatan Gizi Masyarakat

NAMA DOSEN : Prof. dr. Nova H. Kapantouw, DAN, MSc, SpGK,


dr. Nancy S.H. Malonda, MPH
dr. Shirley E.S. Kawengian, DAN, MSi
Mauren Irinne Punuh, SKM, Msi
Yulianti Sanggelorang

“PEMERIKSAAN KLINIS, BIOKIMIA DAN BIOFISIK”

KELOMPOK 1 / 2-C

NAMA NIM
CHLARA ELYANA MELATUNAN 17111101185
NUR AFNI HUSAIN 17111101221
GRACIA STEFANI MOTO 17111101184
PUTRI NURAFIAH LENDA 17111101215
SWEETA PONGANTUNG 17111101198
VICTORIA I. KONDOJ 17111101220

UNIVERSITAS SAM RATULANGI MANADO


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
TAHUN 2018

1
PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas segala rahmat

dan karunia-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Pemeriksaan

Klinis, Biokimia, dan Biofisik”.

Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan

serta pengetahuan kita tentang pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik.

Kami juga menyadari bahwa didalam makalah ini terdapat kekurangan oleh sebab itu,

kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan makalah yang telah kami buat,

mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Sebelumnya kami mohon maaf apabila dalam penulisan ini terdapat kesalahan kata-kata

yang kurang berkenan dan kami memohon kritik serta saran yang membangun dari anda demi

perbaikan makalah ini kedepan.

Semoga makalah yang sederhana ini dapat berguna bagi kami maupun orang yang

membacanya.

Manado, 07 Maret 2018

Kelompok 2

2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………. i

DAFTAR ISI …………………………………………………………………………. ii

BAB I PENDAHULUAN …………………………………………………………... 1

1.1. LATAR BELAKANG ………………………………………………………… 1

1.2. RUMUSAN MASALAH …………………………………………………….. 1

1.3. TUJUAN PENULISAN ……………………………………………………… 1

1.4. MANFAAT PENULISAN …………………………………………………… 2

BAB II PEMBAHASAN ……………………………………………………………… 3

2.1 DEFINISI PEMERIKSAAN KLINIS, BIOKIMIA DAN BIOFISIK ………. 3

2.1.1 DEFINISI PEMERIKSAAN KLINIS ………………………………… 3

2.1.2 DEFINISI PEMERIKSAAN BIOKIMIA …………………………….. 3

2.1.3 DEFINISI PEMERIKSAAN BIOFISIK ………………………………. 4

2.2 CARA PEMERIKSAAN KLINIS …………………………………………….. 4

2.3 CARA PEMERIKSAAN BIOKIMIA ………………………………………… 32

3.3 CARA PEMERIKSAAN BIOFISIK …………………………………………. 67

BAB III PENUTUP ………………………………………………………………….. 70

3.1 KESIMPULAN ………………………………………………………………... 70

3.2 SARAN ………………………………………………………………………… 70

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………………… 71

3
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Status gizi merupakan keadaan tubuh sebagai akibat konsumsi makanan dan penggunaan

zat gizi. Dibedakan atas status gizi buruk, gizi kurang, dan gizi lebih (Almatsier, 2006 yang

dikutip oleh Simarmata, 2009).

Penilaian status gizi pada dasarnya merupakan proses pemeriksaan keadaan gizi

seseorang dengan cara mengumpulkan data penting, baik yang bersifat objektif maupun

subjektif, untuk kemudian dibandingkan dengan baku yang tersedia. Pada prinsipnya,

penilaian status gizi anak serupa dengan penilaian status gizi pada periode kehidupan yang

lain. Penilaian status gizi dapat dilakukan dengan 2 cara, yaitu langsung dan tidak langsung.

Penilaian status gizi secara langsung meliputi (1) Antropometri, (2) Klinis, (3) Biokimia, (4)

Biofisik. Sedangkan penilaian status gizi secara tidak langsung meliputi (1) Survei konsumsi

makanan, (2) Statistik vital, (3) Faktor ekologi.

1.2 Rumusan Masalah

1) Apa yang dimaksud dengan pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik ?

2) Apa saja jenis pemeriksaan kinis ?

1.3 Tujuan Penulisan

1) Mengetahui definisi pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik

2) Mengetahui jenis pemeriksaan klinis

4
1.4 Manfaat Penulisan

1) Dapat memahami definisi pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik

2) Dapat memahami jenis pemeriksaan klinis

5
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 DEFINISI PEMERIKSAAN KLINIS, BIOKIMIA DAN BIOFISIK

2.1.1 Pemeriksaan Klinis

Pemeriksaan klinis adalah metode yang sangat penting untuk menilai status

masyarakat. Metode ini didasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi yang

dihubungkan dengan ketidakcukupan zat gizi. Hal ini dapat dilihat pada jaringan

epitel (supervicial epithelial tissues) seperti kulit, mata, rambut dan mukosa oral atau

pada organ-organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.

Penggunaan metode ini umumnya untuk survey klinis secara tepat (rapid clinical

surveys). Survey ini dirancang untuk mendeteksi secara tepat tanda-tanda klinis uum

dari kekurangan salah satu atau lebih zat gizi. Disamping itu digunakan untuk

mengetahui tingkat status gizi seseorang dengan melakukan pemeriksaan fisik yaiatu

tanda (sign) dan gejala (symptom) atau riwayat penyakit.

2.1.2 Pemeriksaan Biokimia

Pemeriksaan biokimia disebut juga cara laboratorium. Penilaian status gizi dengan

biokimia adalah pemeriksaan specimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan

pada berbagai macam jaringan tubuh. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain:

darah, urine, tinja dan juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.

Metode ini digunakan untuk suatu peringatan bahwa kemungkinan akan terjadi

keadaan malnutrisi yang lebih parah lagi. Banyak gejala klinis yang kurang spesifik,

maka penentuan kimia faali dapat lebih banyak menolong untuk menentukan

kekurangan gizi yang spesifik.

6
2.1.3 Pemeriksaan Biofisik

Penentuan status gizi secara biofisik ada metode penentuan status gizi dengan

melihat kemampuan fungsi (khususnya jaringan) dan melihat perubahan struktur dari

jaringan.

Penggunaan dapat digunakan dalam situasi tertentu seperti kejadian buta senja

epidemic (epidemic of night blindness). Cara yang digunakan adalah tes adaptasi

gelap.

2.2 JENIS PEMERIKSAAN KLINIS

Tanda-tanda klinis malnutrition (gizi kurang) tidak spesifik, hal itu karena ada beberapa

penyakit yang mempunyai gejala yang sama, tetapi penyebabnya berbeda. Oleh karena itu

pemeriksaan klinis ini harus dipadukan dengan pemeriksaan lain, seperti antropometri,

laboratorium, dan survey konsumsi makanan, sehingga kesimpulan dalam penilaian status

gizi dapat lebih tepat dan lebih baik.

Pemeriksaan klinis (assessment clinic) secara umum terdiri dari dua bagian, yaitu :

1. Medical history (riwayat medis) yaitu catatan mengenai perkembangan penyakit

2. Pemeriksaan fisik, yaitu melihat dan mengamati gejala gangguan gizi baik sign

(gejala yang dapat diamati) dan symptom (gejala yang tidak dapat diamati, tetapi

dirasakan oleh penderita gangguan gizi).

2.2.1 RIWAYAT MEDIS (MEDICAL HISTORY)

Dalam riwayat medis, kita mencatat semua kejadian-kejadian yang berhubungan dengan

gejala yang timbul pada penderita beserta faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya

penyakit tersebut. Catatan itu meliputi :

7
1. Identitas penderita : umur, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan, suku, dan sebagainya.

2. Lingkungan fisik dan sosial budaya yang berkaitan dengan timbulnya penyakit tersebut

(malnutrisi), antara lain lingkungan fisik (keadaan kesuburan tanah dan kandungan

mineral tanah) dan lingkungan sosial dan budaya (adat-istiadat, kepercayaan, dan

kebiasaan-kebiasaan, serta pola kehidupan masyaralat sekitarnya).

3. Sejarah timbulnya gejala penyakit. Beberapa hal yang perlu diketahui adalah: kapan berat

badan mulai turun, kapan ada gejala anoreksia atau nafsu makanan menurun, kapan ada

gejala muntah, apakah ada mencret atau tidak, kalau ada kapan mulai terjadi.

4. Data-data tambahan yang juga perlu diketahui antara lain :

- Apakah penderita juga menderita anemia

- Apakah penderita juga pernah operasi usus

- Apakah penderita pernah menderita penyakit infeksi

- Apakah penderita pernah menderita penyakit kronis, seperti

a. Luka pada lambung (ulcus gaster)

b. Luka pada duodenum

- Apakah ada kelainan bawaan (genetik)

- Apakah ada alergi makanan

- Apa macam diet dan obat-obatan yang sebelumnya dipakai

Data-data tersebut dapat dikumpulkan dengan cara wawancara dengan penderita dan

keluarganya, atau dengan observasi langsung pada rumah dan lingkungan penderita. Semua

informasi tersebut perlu dikumpulkan untuk mengetahui lebih lanjut apakah gizi kurang

disebabkan oleh penyebab primer, yaitu konsumsi makanan atau sebab lain seperti penyakit

menahun, obat-obatan yang lama, keturunan (dalam hal ini mungkin disebabkan tidak

terbentuknya enzim pencernaan) sehingga menyebabkan terganggunya proses pencernaan

makanan.

8
2.2.2 PEMERIKSAAN FISIK

Pada pemeriksaan fisik kita melakukan pengamatan terhadap perubahan fisik, yaitu

semua perubahan yang ada kaitannya dengan kekurangan gizi. Perubahan-perubahan tersebut

dapat dilihat pada kulit atau jaringan epitel, yaitu jaringan yang membungkus permukaan

tubuh kita seperti rambut, mata, muka, mulut, lidah, gigi dan lain-lain serta kelenjar tiroid.

Komisi ahli WHO yang dikutip oleh Jelliffe (1966) dan Jelliffe (1989), menggelompokkan

tanda-tanda klinis menjadi tiga kelompok besar, yaitu :

a. Kelompok 1 : Tanda-tanda (sign) yang memang benar berhubungan dengan kurang

gizi bisa karena kekurangan salah satu zat gizi atau kebih yang

dibutuhkan tubuh.

b. Kelompok 2 : Tanda-tanda (sign) yang membutuhkan investigasi (penyelidikan) lebih

lanjut. Tanda-tanda ini mungkin karena gizi salah atau mungkin oleh

faktor lain seperti kehidupan di bawah standar (miskin), buta huruf,

dan lain-lain.

c. Kelompok 3 : Tanda-tanda (sign) yang tidak berkaitan dengan gizi salah walaupun

hampir mirip. Tanda-tanda ini dalam diagnosis untuk membedakannya

memerlukan keahlian khusus.

Daftar Gambaran dan Pengelompokkan Tanda Klinis

Rambut

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Kurang bercahaya (lack of clustee) : rambut kusam dan kering

2. Rambut tipis dan jarang (thinness and aparseness)

3. Rambut kurang kuat/mudah putus (straightness)

9
4. Kekurangan pigmen rambut (dispigmentation) : berkilat terang, terang pada ujung.

Mengalami perubahan warna : coklat gelap/terang, coklat merah/pirang dan kelabu.

5. Tanda bendera (flag sign) dikarakteristikkan dengan pita selang-seling dari

terang/gelapnya warna sepanjang rambut dan mencerminkan epidose selang-seling dari

KEP serta pengobatan yang telah diberikan. Mudah rontok (easy pluckability) : dengan

kekuatan sedang dan tidak sakit bila dicabut dan selalu diiringi oleh perubahan rambut

lainnya.

Wajah

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Penurunan pigmentasi (defuse depigmentation) yang tersebar secara berlebih apabila

disertai anemia

2. Wajah seperti bulan (moon face), wajah menonjol ke luar, lipatan naso labial

3. Pengeringan selaput mata (conjunctival xerosis). WHO memberi kode X1A dan selalu

terjadi pada bagian mata bilateral yang ditandai dengan kekeringan. Tedapat pula

kekurangan cahaya dan transparansi dari bulbal conjunctiva, khususnya pada sebagian

besar yang tampak pada bola mata.

4. Bintik Bitot (Bitot’s spot). WHO memberi kode X1B yaitu, gumpalan kecil putih pada

permukaan mata,kering kelabu, keperakan/plak berbusa putih kapur, sering berbentuk

putaran yang tidak teratur, lebih sering membatasi daerah lateral pada kornea.

5. Pengeringan kornea (cornea xerosis). WHO memberi kode X2, yaitu keadaan kornea

kering, kasar, menyerupai batu kecil.

Kelompok 2. Kemungkinan berhubungan dengan Kekurangan Gizi.

1. Perinasal veins : suatu keadaaan yang mungkin disebabkaan konsumsi alcohol berlebihan.

10
Mata

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Selaput mata pucat (pale conjunctiva). Tanda-tandanya: muka pucat. Hal tersebut dapat

dilakukan dengan menggunakan perbandingan warna.

2. Keratomalasia. Keadaan permukaan halus lembut dari keseluruhan bagian tebal atau

keseluruhan kornea, terutama kebocoran {perforation} dan prolapse selaput iris (selaput

pelangi), yang biasanya mempengaruhi kedua mata. Jika kondisinya buruk, kornea

berwarna putih buram (sommer 1982)

3. Angular palpebritis. Tanda-tandanya : celahan/rekahan disebelah luas/sisi mata dan

kadang-kadang sangat erat kaitannya dengan angular stomatitis.

Kelompok 2. Kemungkinan berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Corneal vascularization. Keadaan ini akibat dari serangan pada keseluruhan sisi kornea

pada pembuluh kapiler. Penyebabnya adalah penyempitan plexus limbal normal dan

dapat berakibat peradangan yang mempengaruhi kornea.

2. Conjunctival infection and circumcorneal, yaitu infeksi pada konjuntiva.

3. Corneal arcus. Ini ditunjukkan dengan lingkaran berwarna terang mengelilingi sisi

sebelah luaar kedua selaput iris dan biasanya terjadi pada usia remaja dan pada

pengidapkolesterol darah yang tinggi.

4. Xanthomata. Ditandai dengan warna putih kekuningan sering membentuk plak pada kulit

yang kebanyakan terdapat di bawah mata (bagian bilateral).

5. Corneal scars (WHO memberi kode XS). Keadaan ini kornea yang sifatnya tebal, dalam,

atau posisinya kurang lebih ¼ bagian kornea yang harus diperhatikan. Hal ini mungkin

disebabkan oleh kekurangan gizi khusunya kekurangan vitamin A atau mungkin juga oleh

penyakit infeksi

11
Kelompok 3. Tidak Berhubungan dengan kekurangan gizi..

1. Pterygium. Luka ini disebabkan oleh sesuatu berbentuk sayap yang dihasilkan oleh

lipatan-lipatan ganda yang berdaging dari konjungtiva, tumbuh cepat dan biasanya

menyerang kornea bagian lateral. Kemungkinan penyebabnya adalah iritasi yang

berlangsung lama, terutama karena sinar matahari dan angin.

Bibir

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Angular stomatitis. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan celahan pada sudut-sudut

mulut. Celahan ini bisa dangkal atau dalam, membentuk daerah kecil pada sudut mulut

atau menyebar beberapa millimeter pada kulit di luarnya. Sedikit luka terlihat lebih

mudah dengan mulut setengah terbuka. Tanda ini harus dilihat positif jika terjadi pada

kedua sudut mulut.

2. Jaringan parut angular.. Angular stomatitis yang telah sembuh mungkin mengakibtakan

bekas luka menjadi merah muda atau memutih padaa susut-sudut mulut, tergantung pada

interval akutnya..

3. Cheilosis. Luka ini dicirikan dengan celahan vertical, yang lebih lanjut terkomplikasi

menjadi merah, membengkak, dan terjadi ulcerasi pada bibir, selain pada sudutnya.

Bagian tengah bibir bawah sering terpengaruh. Faktor iklim, seperti dingin dan angina,

dapat kadang-kadang berpengaruh

12
Kelompok 2. Kemungkinan berhubungan dengan kekurangan gizi.

Lidah

1. Gejala pada mulut yang mempengaruhi lidah atau gusi harus dipertimbangkan dalam

hubungannya dengan trauma local, seperti dari makanan pedas dan gigi palsu, serta

kekurangan gizi.

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Edema dari lidah. Ini dapat dideteksi dengan cara menekan gigi sepanjang tepi lidah.

2. Lidah mentah atau scarlet. Lidah berwarna meraah cerah, biasanya berukuan normal atau

perlahan-lahan mengalaami atrofi, denudasi/pengulitan, dan sangat nyeri.

3. Lidah magenta. Lidah berwarna merah keunguan; mungkin bisa diikuti dengan perubahan

morfologi. Uji coba telah dibuat untuk mengukur perubahan warna pada lidah dengan

perbandingan pada pelat-pelat di Reinhold colour atlas ( Friedman and Hodges, 1977).

4. Atrofi papila (papilla atrophic). Papilla filiform yang telah hilang membuat lidah tampak

halus. Penyebarannya bisa ditengah atau di tepi.

Kelompok 2. Kemungkinan berhubungan dengan kekurangan gizi

1. Papilla hiperamic dan hypertrophic. Papila ini hypertrophic dan berwarna merah atau

merah muda, dan menyebabkan lidah bergranula.

2. Fissures. Keadaan pecah-pecah pada permukaan lidah tanpa papilla pada pinggirnnya

atau permukaan bawahnya. Ini jangan sampai terkecoh dengan congenital ridging dan

penampakan yang dikenal dengan scrotal tongue yang tidak ada hubungannya dengan

keprluan nutrisi.

13
Kelompok 3. Tak berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Geographic tongue. Keadaan lidah dengan daerah bitnik yang berdistribusi tidak teratur

dari denudasi dan atrophy epitelium.

2. Pigmented tongue. Adanya daerah berbintik dengan pigmentasi berlendir biru hitam,

kadang-kadang disertai dengan bitnik yang sama pada gusi.

Gigi

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Mottled enamel. Pada gigi terdapat bitnik putih dan kecoklatan, dengan atau tanpa erosi

pada enamel, biasanya paling baik terlihat pada gigi seri atas.

2. Karies gigi. Keadaan gigi yang rusak, tanggal dan terganti (decayed, missing, fiolled)

sering digunakan sebagai petunjuk asanya karies pada suatu masyarakat.

3. Pengikisan (attrition). Pengikisan terjadi pada tepi gigi seri dan taring.

4. Hipolasia email ( enamel hypoplasia). Formasi tidak sempurna pada permukaan gigi,

terutama oada bagian tengah ketiga.

5. Erosi email (enamel erosion). Istilah ini menggambarkan area sangat terbatas, biasanya di

sekitar tepi gusi, tempat email gigi telah tererosi.

Gusi

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Spongy, bleeding gums. Bunga karang keunguan atau merah yang membengkak pada

papilla gigi bagian dalam dana tau tepi gusi, yang biasanya mudah berdarah pada tekanan

kecil.

14
Kelompok 2. Kemungkinan berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Recession of gums. Kerusakan dan atrofi gusi yang menampakkan akar-akar gigi.

Kelompok 3. Tidak berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Pyorrhoea (infeksi periodontal). Infeksi tepi gusi, yang menyebabkan merah dan pada

gusi mudah berdarah tanpa hupertrophy.

Kelenjar

Kelompok 1. Berhubungan dengan kekurangan gizi.

1. Pembesaran tiroid.

Selanjutnya menurut Gibson, S.R (1990) menyatakan bahwa untuk membedakan gejala

fisik yang diduga ada kaitan dengan malnutrisi dengan keadaan normal, dapat dilihat pada

Tabel 5-2.

Tabel 5-2. Gejala Fisik yang Diduga ada Kaitan dengan Malnutrisi

dengan Keadaan Normal.

KEADAAN NORMAL TANDA YANG BERHUBUNGAN

DENGAN MALNUTRISI

Rambut : Kehilangan sinarnya yang berkilat, kering,

15
Berkilat, tak mudah lepas tipis, tanda bendera (signoda bendera), mudah

lepas

Muka : Depigmentasi, flek hitam di bawah mata,

Warna sama, halus, tampak sehat, tidak membengkak, pembesaran kelenjar parotis,

bengkak nasolabial seboroik.

Mata : Konjungtiva pucat, injection konjungtiva,

Bercahaya, bersih, tak ada luka, kelembaban bercak bitot, palpebritis angularis, konjungtiva

tak tampak, pembuluh darah sclera kering, kornea kering, keratomalasia, jaringan

paarut kornea, injeksi di sekeliling kornea.

Bibir : Cheilosis, fisura angularis, jaringan parus

Halus, tak ada pembengkakan sekitar sudut bibir.

Lidah : Membengkak, scarlet, kasar, magenta, papilla

Halus, tidak ada pembengkakan, merah atrofi, hipertropi hiperemik

Gigi : Tanggal, erupsi, tak normal, tanda-tanda

Tidak ada lubang, tidak ada rasa nyeri, fluorosis, berlubang

bercahaya

Gusi : Mudah berdarah, penarikan gusi

Sehat, merah, tidak ada pendarahan, tidak

ada pembengkakan

Wajah : Pembesaran kelenjar gondok, kelenjar parotis

Tidak ada pembengkakan

Kulit : Kering, keratosis folikularis, membengkak,

Bersih, tidak ada pembengkakan, tidak ada gambaran dermatosis pellagra, despigmentasi,

bercak-bercak petechiae, jaringan lemak bawah kulit

berkurang/hilang

16
Kuku : Koilanika, rapuh

Kemerahan, keras

Otot dan rangka : Wasted, kraniotabes, pembesaran epipise,

Tonus otot baik, dapat lari dan jalan tanpa fontanel tetap membuka, blew-legs,

rasa sakit pendarahan muskuloskeletal, tak bisa berjalan

dengan baik

Sistem kardiovaskular : Takikardi, pembesaran jantung, ritme tidak

Ritme dan denyut jantung normal, taka da normal, kenaikan tekanan darah

murmur, tekanan darah normal

Sistem gastrointestinal : Hepatomegaly, splenomegaly

Tidak ada massa yang teraba (biasanya ada penyakit lain)

Sistem saraf : Tak teriritasi, paresesia, pada keadaan berat

Stabil, refleksi normal tidak bisa berjalan, refleksi lutut dan tumit

menurun/hilang

Sumber : Gibson SR., 1990. Principles Of Nutritional Assessment. Oxford University Press

New York hlm. 577-586.

1. Kekurangan Energi Protein (KEP)

Kekurangan Energi Protein (KEP) adalah keadaan kurang gizi yang disebabkan oleh

rendahnya konsumsi energi dan protein dalam makanan sehari-hari sehingga tidak memenuhi

angka kecukupan gizi.

Orang yang mengidap gejala klinis KEP ringan dan sedang pada pemeriksaan hanya

nampak kurus. Namun gejala klinis KEP berat secara garis besar dapat dibedakan menjadi

tiga, yaitu marasmus, kwashiorkor, atau marasmus-kwashiorkor. (Departemen Kesehatan RI,

1999).

17
a. Tanda-Tanda Klinis

Pada pemeriksaan klinis, penderita KEP akan memperlihatkan tanda-tanda sebagai

berikut :

 Marasmus

- Anak tampak sangat kurus, tinggal tulang terbungkus kulit

- Wajah seperti orang tua

- Cengeng, rewel

- Kulit keriput, jaringan lemak subkutis sangat sedikit, bahkan sampai tidak ada

- Sering disertai diare kronik atau konstipasi/susah buang air, serta penyakit kronik

- Tekanan darah, detak jantung, dan pernapasan berkurang.

18
 Kwashiorkor

- Oedem umumnya di seluruh tubuh dan terutama pada kaki (dorsum pedis)

- Wajah membulat dan sembab

- Otot-otot mengecil, lebih nyata apabila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk,

anak berbaring terus-menerus

- Perubahan status mental: cengeng, rewel, kadang apatis

- Anak sering menolak segala jenis makanan (anoreksia)

- Pembesaran hati

- Sering disetai infeksi, anemia, dan diare/mencret

- Rambut berwarna kusam dan mudah dicabut

- Gangguan kulit berupa bercak merah yang meluas dan berubah menjadi hitam

- Pandangan mata anak nampak sayu

19
 Marasmus-Kwashiorkor

- Tanda-tanda marasmus-kwashiorkor adalah gabungan dari tanda-tanda yang ada

pada marasmus dan kwashiorkor yang ada. (Depkes RI, 1999).

20
b. Metode Penentuan

Untuk mendeteksi Kurang Energi Protein (KEP), maka perlu dilakukan pemeriksaan

(inspeksi) terhadap target organ yang meliputi :

- Kulit seluruh tubuh terutama wajah, tangan dan kaki

- Otot-otot

- Rambut

- Mata

- Hati

- Muka

- Gerakan motorik

21
c. Interpretasi

Apabila dalam pemeriksaan fisik pada anak target organ banyak mengalami perubahan

sesuai dengan tanda-tanda klinis yang Kurang Energi Protein (KEP), maka ada petunjuk

bahwa anak tersebut kemungkinan besar menderita KEP. Meskipun demikian perlu

dicermati bahwa penilaian KEP masih memerlukan pengamatan lebih lanjut apakah

termasuk marasmus, kwashiorkor, atau marasmus kwashiorkor sesuai dengan tanda-tanda

yang lebih spesifik.

2. Anemia Gizi Zat Besi

Anemia adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin darah kurang daripada harga

normal.

a. Tanda-Tanda Klinis

Gejala-gejala/tanda-tanda yang dapat dilihat adalah :

- Lelah, lesu, lemah, letih, lalai (5L)

- Bibir tampak pucat

- Napas pendek

- Lidah licin

- Denyut jantung meningkat

- Susah buang air besar

- Nafsu makan berkurang

- Kadang-kadang pusing

- Mudah mengantuk

b. Metode Penentuan

Untuk mendeteksi Anemia Gizi Zat Besi maka perlu dilakukan pemeriksaan

(inspeksi) terhadap target organ yang meliputi :

22
- Mata

- Kuku

- Bibir

- Lidah

c. Interpretasi

- Apabila dalam pemeriksaan fisik pada anak target organ banyak mengalami

perubahan sesuai dengan tanda-tanda klinis anemia gizi besi, maka ada petunjuk

bahwa kemungkinan besar orang tersebut menderita Anemia Gizi Besi.

Di dalam pemeriksaan klinis juga terdapat keunggulan dan keterbatasan.

1. Keunggulan Pemeriksaan

a. Pemeriksaan klinis relatif murah tidak memerlukan biatya terlalu besar

b. Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan tidak memerlukan tenaga khusus terapi,

tenaga paramedis bisa dilatih

c. Sederhana, cepat, dan mudah diinterpretasikan

d. Tidak memerlukan peralatan yang rumit

2. Keterbatasan Pemeriksaan

a. Beberapa gejala klinis tidak mudah dideteksi, sehingga perlu orang-orang yang

ahli dalam menentukan gejala klinik tersebut. Namun demikian, para tenaga medis

dapat dilatih untuk melakukan pemeriksaan klinis.

b. Gejala klinis tidak bersifat spesifik, terutama pada penderita KEP ringan dan

sedang. Hal ini dikarenakan ada gejala klinik penyakit yang disebabkan oleh

23
kekurangan gizi lebih dari satu zat gizi. Gejala klinis yang sama adakalanya

disebabkan bukan hanya disebabkan oleh satu macam zat gizi saja, contoh :

- glossitis (luka pada lidah) bisa disebabkan oleh karena kekurangan riboflavin,

niasin, asam folat, atau karena kekurangan vitamin B12.

- Nasolabial seboroik dapat disebabkan karena defisiensi Vitamin B6, B2, atau

niasin.

Beberapa gejala klinis adakalanya disebabkan bukan karena faktor gizi, seperti

bercak bitot yang dapat pula disebabkan karena udara, atau heriditer.

c. Adanya gejala klinis yang bersifat multiple. Penyakit kulit akibat defisiensi atau

macam vitamin biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian defisiensi

vitamin dan mineral serta zat gizi lainnya.

d. Gejala klinis dapat terjadi pada waktu permulaan kekurangan zat gizi dan dapat

juga terjadi pada keadaan malnutrisi awal dan terjadi juga pada masa

penyembuhannya.

e. Adanya variasi dalam gejala klinis yang timbul. Hal ini karena satu gejala klinis

bisa dipengaruhi beberapa faktor-faktor seperti genetik, lingkungan, kebiasaan,

dan lain-lain.

3. GANGGUAN AKIBAT KURANG YODIUM (GAKY)

Gangguan akibat kurang yodium tidak hanya menyebabkan pembesaran kelenjar gondok

tetapi juga berbagai macam gangguan lain. Kekurangan yodium pada ibu yang sedang

hamil dapat berakibat abortus , lahir mati, kelainan bawaan pada bayi, meningkatnya

angka kematian prenatal, melahirkan bayi kretin. Kekurangan yodium yang diderita anak-

anak menyebabkan pembesaran kelenjar gondok, gangguan fungsi mental, dan

24
perkembangan fisik. Pada orang dewasa berakibat pada pembesaran kelenjar gondok,

hipotiroid, dan gangguan mental.

Kekurangan yodium pada tingkat berat dapat mengakibatkan cacat fisik dan mental,

seperti tuli, bisu tuli, pertumbuhan badan terganggu, badan lemah, kecerdasan dan

perkembangan mrntal terganggu. Akibat yang sangat merugikan adalah lahirnya anak

kretin. Kretin adalah keadaan seseorang yang lahir di daerah endemic dan memiliki dua

atau lebih kelainan-kelainan berikut :

a. Satu perkembangan mental terlambat

b. Pendengaran terganggu dan dapat menjadi tuli

c. Perkembangan saraf penggerak terlambat, bila berjalan langkahnya khas, mata juling,

gangguan bicara sampai bisu

Istilah gondok endemic digunakan jika di suatu daerah ditemukan banyak penduduk yang

mengalami pembesaran kelenjar gondok. Karena daerah endemic menurut departemen

kesehatan adalah sebagai berikut :

Kretin endemic terdapat di daerah gondok endemic. Kelainan kretin terjadi pada waktu

bayidalam usia kandungan atau tidak lama setelah diantarkan dan terdiri atas kerusakan

pada saraf pusat dan hipotiroidisme. Kerusakan saraf pusat bermanifestasi dengan

a. Retardasi mental

b. Gangguan pendengaran sampai bisu

c. Hipotiroidi

1. Tanda-tanda Klinis

Metode inspeksi digunakan sebagai alat untuk menduga apakah ada pembesaran atau

tidak, sedangkan untuk mengkonfirmasi apakah pembesaran betul-betul pembesaran

25
kelenjar gondok, maka perlu dilakkam palpasi, sehinga palpasi, disebut juga sebagai

alat konfirmasi.

Urutan pemeriksaan kelenjar gondok adalah sebagai berikut :

a. Orang (sampel) yang diperiksa berdiri tegak atau duduk menghadap pemeriksa

b. Pemeriksa melakukan pengamatan di daerah leher depan bagian bawah terutama

pada lokasi kelenjar gondoknya

c. Amatilah apakah ada pembesaran kelenjar gondok

d. Kalau bukan, sampel disuruh menengadah dan telan ludah. Hal ini bertujuan

untuk mengetahui apakah yang ditemukan adalah kelenjar gondok atau bukan

pada gerakan menelan, kelenjar gondok akan ikut terangkat ke atas.

e. Pemeriksa berdiri dibelakang sampel dan lakukan palpasi. Pemeriksa meletakkan

dua jari telunjuk dan dua jari tengahnya pada masing-masing lobus kelenjar

gondok. Kemudian lakukan palpasi dengan meraba dengan kedua jari telunjuk dan

jari tengah tersebut.

f. Menentukan (mendiagnosa) apakah orang (sampel) menderita gondok atau tidak.

Apabila salah satu atau kedua lobus kelenjar lebih kecil dari ruas terakhir ibu jari

orang yang diperiksa , berarti orang tersebut normal. Apabila salah satu atau

kedua lobus ternyata lebih besar dari ruas terakhir ibu jari orang yang diperiksa

maka orang tersebut menderita gondok.

2. Klasifikasi

1. Grade 0: normal

Dengan inspeksi tidak terlihat, baik datar maupun tengadah maksimal, dan dengan

palpasi tidak teraba.

26
2. Grade IA

Kelenjar gondok tidak terlihat, baik datar maupun penderita tengadah maksimal,

dan palpasi teraba lebih besar dari ruas terakhir ibu jari penderita.

3. Grade IB

Kelenjar gondok dengan inspeksi datar tidak terlihat, tetapi terlihat dengan

tengadah maksimal dan dengan palpasi teraba lebih besar dari grade !A.

4. Grade II

Kelenjar gondok dengan inspeksi terlihat dalam posisi datar dan dengan palpasi

teraba lebih besar dari grade IB.

5. Grade III

Kelenjar gondok cukup besar, dapat terlihat pada jarak 6 meter atau lebih.

Dalam rangka penentuan prevalensi gondok endemic, maka diperlukan rumus

perhitungan TGR dan VGR

Grade (IA+IB+II+III)
Prevalensi Total Goiter Rate (TGR) = banyaknya yng diperiksa × 100%

Grade (IB+II+III)
Prevalensi Visible Goiter Rate (VGR) = banyaknya yng diperiksa × 100%

4. Kekurangan Vitamin

Penyakit mata yang diakibatkan kekurangan Vitamin A disebut xerophatalmia. Penyakit

ini merupakan penyebab kebutaan yang palin sering terjadi pada anak-anak di Indonesia

yang umumnya terjadi pada usia 2-3 tahun. Hal ini karena setelah disapih, anak tidak

diberikan makanan yang memenuhi syarat gizi, sementara anak itu belum bisa mengambil

makanan sendiri.

Gejala xerophatalmia terbagi dua, yaitu :

a. Keadaan yang reversibel yaitu yang dapat sembuh

27
 Buta senja (hemerolopia)

 Xerosis conjunctiva

 Xerosis kornea

 Bercak bitot

b. Keadaan yang ireversibel , yaitu keadaan yang agak sudut sembuh

 Ulserasi kornea

 Keratomalasia

Klasifikasi yang ditetapkan pada pertemuan bersama WHO, UNICEF, Helen Keller

Internasional dan IVACG di Jakarta pada tahun 1981 merupakan modifikasi klasifikasi,

yaitu :

Klasifikasi kekurangan vitamin A :

1. XN :

Buta senja (night blindness only)

2. XIA :

Konjungtiva mengering (conjunctiva xerosis).

Yaitu terdapatnya satu atau lebih bintik-bintik konjungtiva yang kering dan tidak

dapat dibasahi. Keadaan ini bisa dijelaskan sebagai munculnya segundukan pasir pada

air pasang yang kembali surut.

3. XIB :

Bercak bitot dan konjungtiva mengering (bitots spot + conjunctiva xerosis)adalah

suatu bentukan yang berwarna abu-abu kekuningan yang bentuknyaseperti busa

sabun, yaitu keadaan yang bergelembung atau seperti kejuyangteridiri dari sel-sel

epitel konjungtiva yang mengeras dan bersisikmelapisisebagian atau seluruh

permukaan yang kering, membentuk noda-noda bitot.

28
4. X2 :

Kornea mengering (cornea xerosis)

Keadaan kekurangan vitamin A yang makin parah, bintik-bintik luka menjadi

bertambah padat dan tersebar keatas dan mungkin meliputi seluruh kornea. Kornea

pada kondisi ini memiliki rupa yang kering berkabut jika di uji dengan lampu tangan .

5. X3A :

ulserasi kornea + kornea mengiring

Keadaan kekurangan vitamin A yang lebih parah lagi dari korne mengering yang

mengakibatkan kehilangan frank epithealial dan ulserasi stroma yang baik dengan

ketebalan sebagian maupun seluruhnya . Tukak yang berlubang mungkin menjadi

tersumbat dengan iris dan sembuh sebagai leukoma.

6. X3B :

Keratomalasia

Semua kornea dan konjungtifa menjadi satu menebal sehingga kadang-kadang bola

mata menjadi rusak bentuknya . Keadaan perlukan limbus to limbus cornea . Biasanya

terjadi dengan adanya gabungan kurangan protein dan vitamin A

7. XS :

Parut kornea ( cornea scars ) akibat sembuh dari luka

8. XF :

Xeroptalmia fundus

terjadinya noda-noda putih yang menyebar di seluruh fundus

Untuk mendeteksi kekurangan vitamin A kurang energi protein (KEP) maka perlu di

lakukan pemeriksaa (inspeksi) terhadap organ-organ yaitu mata.Tingkat XIA-X2 sifatnya

refersibel yang memiliki kemungkinan di obati hingga sembuh, sedangkan X3A sampai

dengan tahap selanjutnya bersifat irrefersible yang tidak dapat di obati hingga sembuh.

29
INDIKATOR KESEHATAN MASYARAKAT

Anemia Gizi Bezi

Masalah anaemia merupakan masalah gizi utama yang masih di hadapi oleh pemerintah

Indonesia hal ini terbukti dengan masih tingginya prefalensi anemia . Menurut data 1992 ,

anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat apabila melebihi prefalensi berikut :

Kelompok Prevalensi

Ibu hamil 63,5%

Anak balita 55,5%

Anak usia sekolah (6-12tahun) 24%-35%

Wanita dewasa 30%-40%

Pekerja berpenghasilan rendah 30%-40%

Pria dewasa 20%-30%

Kurang Vitamin A

Criteria kurang vitamin A sebagai masalah kesehatan masyarakat menurut IVACG adalah

sebagai berikut:

a. Bercak bitot dengan konjungtifa mengering > 0,50%

b. Kornea mengering atau ulserasi kornea atau keratomalasia > 0,01%

c. Paruh kornea > 0,05% , dari total yang deperiksa

Gangguan Akibat Kekurangan Yodium

Suatu daerah di klasifikasni sebagai daerah endemis gondok apabila memilik prevalensi total

Goitre Rate (TGR) sebagai berikut :

30
Prevalensi TGR: <5% = normal

Prevalensi TGR : 5,0-19,9% = ringan

Prevalensi TGR : 20,0-29,9% = sedang

Prevalensi TGR : > = 30% = berat

Keunggulan Dan Keterbatsan Pemeriksaan Klinis

Keunggulan Pemeriksaan

1. Pemeriksaan klinis relative murah tidak memerlukaan biaya yang terlalu besar

2. Dalam pelaksaannnya, pemeriksaan tidak memerlukaan tenaga khusus tetapi tenaga

paramedic bisa dilatih

3. Sederhana, cepat, dan mudah di interprestasikan

4. Tidak memerlukan perawatan yang rumit

Keterbatasan Pemeriksaan

1. Beberapa gejala klinis tidak mudah di deteksi, sehingga perlu orang-orang yang ahli

dalam menentukan gejala klinik tersebut.Namun demikian, para tenaga medis dapat

dilatih untuk melakukan pemerikaan klinis

2. Gejala klinis tidak bersifat spesifik, terutama pada penderita KEP ringan dan sedang.

Hal ini di karenakan ada gejala klinik penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi

lebih dari satu zat gizi. Gejala klinis yang sama ada kalanya disebabkan bukan hanya

disebabkan oleh satu macam zat gizi saja, Contohnya :

 Glossitis atau luka pada lidah bisa di sebabkan oleh karena kekurangan

riboflavin, niasin, asam folat, atau karena kekurangan vitamin B12

31
 Nasolabial seboroik dapat disebabkan karena defisiensivitamin b6 , b2 atau

niasin.

Beberapa gejala klinis adanya kalanya disebabkan bukan karena faktor gizi, seperti

bercak bitot yang dapat pula disebabkan karena udara , atau heriditer

3. Adanya gejala klinis yang bersifat multiple. Penyakit kulit akibat defisiensi satu

macam vitamin biasanya tidak berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian defisiensi

vitamin dan mineral serta zat gizi lainnya

4. Gejala kliniz dapat terjadi pada waktu permulaan kekurangan zat gizi dan dapat juga

terjadi pada saat akan sembuh. Hepatomegali (pembesaran hati), sebagai contoh dapat

terjadi pada keadaan mal nutrisi awal dan terjadi juga pada masa penyembuhannya.

5. Adanya variasi dalam gejala klinis yang timbul. Hal ini karena satu gejala klinis bisa

di pengaruhi eberpa faktor seperti genetik, lingkungan, kebiasaan, dan lain-lain.

5. Obesitas

Batasan Obesitas adalah penimbunan jaringan lemak secara berlebihan akibat ketidak

seimbangan antara asupan energi (energy intake) dengan pemakaian energi (energy

expenditure).

Patofisiologi Obesitas terjadi karena adanya kelebihan energi yang disimpan dalam

bentuk jaringan lemak. Gangguan keseimbangan energi ini dapat disebabkan oleh faktor

eksogen (obesitas primer) sebagai akibat nutrisional (90%) dan faktor endogen (obesitas

sekunder) akibat adanya kelainan hormonal, sindrom atau defek genetik (meliputi 10%).

Pengaturan keseimbangan energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis,

yaitu :

1. pengendalian rasa lapar dan kenyang,

2. mempengaruhi laju pengeluaran energi dan regulasi sekresi hormon.

32
Proses dalam pengaturan penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen

(yang berpusat di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan

adipose, usus dan jaringan otot). Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan

rasa lapar serta menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik

(anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2 kategori, yaitu sinyal

pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek mempengaruhi porsi makan dan waktu makan,

serta berhubungan dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang

diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam peningkatan rasa lapar.

Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived hormon leptin dan insulin yang mengatur

penyimpanan dan keseimbangan energi. Apabila asupan energi melebihi dari yang

dibutuhkan, maka jaringan adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin

dalam peredaran darah. Leptin kemudian merangsang anorexigenic center di hipotalamus

agar menurunkan produksi Neuro Peptide –Y (NPY), sehingga terjadi penurunan nafsu

makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan energi lebih besar dari asupan energi,

maka jaringan adiposa berkurang dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di

hipotalamus yang menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita

obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak menyebabkan

penurunan nafsu makan.

GEJALA KLINIS

Gejala klinisberdasarkan distribusi jaringan lemak, dibedakan menjadi :

- apple shape body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian dada dan

pinggang)

33
- pear shape body/gynecoid (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian pinggul

dan paha)

Secara klinis mudah dikenali, karena mempunyai ciri-ciri yang khas, antara lain :

- wajah bulat dengan pipi tembem dan dagu rangkap

- leher relatif pendek – dada membusung dengan payudara membesar

- perut membuncit (pendulous abdomen) dan striae abdomen

- pada anak laki-laki : Burried penis, gynaecomastia

- pubertas dini

- genu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal paha bagian dalam saling

menempel dan bergesekan yang dapat menyebabkan laserasi kulit

CARA PEMERIKSAAN

1. Anamnesis

- Saat mulainya timbul obesitas : prenatal, early adiposity rebound, remaja

- Riwayat tumbuh kembang (mendukung obesitas endogenous)

- Adanya keluhan : ngorok (snoring), restless sleep, nyeri pinggul

Riwayat gaya hidup :

a. Pola makan/kebiasaan makan

b. Pola aktifitas fisik : sering menonton televisi

Riwayat keluarga dengan obesitas (faktor genetik), yang disertai dengan resiko seperti

penyakit kardiovaskuler di usia muda, hiperkolesterolemia, hipertensi dan diabetes

melitus tipe II

34
2. Pemeriksaan fisik : - Adanya gejala klinis obesitas seperti diatas

3. Pemeriksaan penunjang : analisis diet, laboratoris, radiologis, ekokardiografi dan tes

fungsi paru (jika ada tanda-tanda kelainan).

4. Pemeriksaan antropometri :

- Pengukuran berat badan (BB) dibandingkan berat badan ideal (BBI). BBI adalah berat

badan menurut tinggi badan ideal. Disebut obesitas bila BB > 120% BB Ideal.

- Pengukuran indeks massa tubuh (IMT). Obesitas bila IMT P > 95 kurva IMT

berdasarkan umur dan jenis kelamin dari CDC-WHO.

- Pengukuran lemak subkutan dengan mengukur skinfold thickness (tebal lipatan

kulit/TLK). Obesitas bila TLK Triceps P > 85.

- Pengukuran lemak secara laboratorik, misalnya densitometri, hidrometri

4.2.3 PEMERIKSAAN BIOKIMIA

Pemeriksaan biokimia dalam penilaian status gizi memberikan hasil yang lebih tepat

dan objektif dari pada menilai konsumsi pangan dan pemeriksaan lain. Pemeriksaan

biokimia yang sering digunakan adalah teknik pengukuran kandungan berbagai zat gizi

dan substansi kimia lain dalam darah dan urine. Hasil pengukuran tersebut dibandingkan

dengan standar normal yang telah ditetapkan. Adanya parasite dapat diketahui melalui

pemeriksaan feses, urine, dan darah, karena kurang gizi sering berkaitan dengan

prevalensi penyakit kerena parasit. Dalam berbagai hal, pemeriksan biokimia hanya

dapat diperoleh di ruah sakit atau pusat kesehatan. Keadaan ini, memberi gambaran

bahwa sarana yang tersedia tidak dapat dijangkau oleh penduduk yang tinggal di daerah

yang jauh dari sarana tertentu. Meskipun demikian, pemeriksaan dapat di lakukan dengan

carah memeriksa contoh darah, urine, dan feses yang dikumpulkan oleh keluarga di

35
daerah tersebut, perawat, atau petugas kesehatan lain dan dibawa ke laboratorium untuk

di analisis.

PEMERIKSAAN BIOKIMIA ZAT GIZI

Penilaian Status Zat Besi

Ada beberapa indikator laboratorium untuk menentukan status besi yaitu :

 Hemoglobin (Hb)

 Hematokrit

 Besi serum

 Ferritin serum (Sf)

 Transferrin saturation (TS)

 Free erythrocytes protophophyrin (FEP)

 Unsaturated iron-binding capacity serum

1. Hemoglobin (Hb)

Hemoglobin adalah parameter yang digunakan secara luas untuk menetapkan

prevalensi anemia. Garby et al, menyatakan bahwa penentuan status anemia yang

hanya menggunakan kadar Hb ternyata kurang lengkap, sehingga perlu ditambah

dengan pemeriksaan yang lain.

Hb merupakan senyawa pembawa oksigen pada sel darah merah. Hemoglobin dapat

diukur secara kimia dan jumlah Hb/100 ml darah dapat digunakan sebagai indeks

kapasitas pembawa oksigen pada darah. Kandungan hemoglobin yang rendah dengan

demikian mengindikasikan anemia. Bergantung pada metode yang digunakan, nilai

hemoglobin menjadi akurat sampai 2-3%. Metode yang lebih dulu dikenal adalah

metode Sahli yang menggunakan teknik kimia dengan membandingkan senyawa

36
akhir secara visual terhadap standar gelas warna. Ini memberi 2-3 kali kesalahan rata-

rata dari metode yang menggunakan spektrofotometer yang baik.

Nilai normal yang sering dinyatakan adalah 14-18 gm/100 ml untuk pria dan 12-16

gm/100 ml untuk wanita (gram/100 ml sering disingkat dengan gm% atau gm/dl).

Beberapa literature lain menunjukan nialai yang lebih rendah, terutama pada wanita,

sehingga mungkin pasien tidak di anggap menderita anemia sampai Hb kurang dari

13gm/100 ml pada pria dan 11 gm/100 ml untuk wanita.

Metode

Di antara metode yang paling sering digunakan di laboratorium dan paling

sederhana adalah metode Sahli, dab yang lebih canggih adalah matode

cyanmethemoglobin.

Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisis dengan HCL menjadi globin

ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme

yang segera bereaksi dengan ion CL membentuk Cl ferrihemechlorid yang juga

disebut hematin atau hemin yang berwarna coklat. Warna yang terbentuk ini

dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk

memudahkan perbandingan, warna standar di buat konstan, yang diubah adalah warna

hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran

sedemikan rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang

membandingka adalah mata telanjang, mata subjektivitas sangat berpengaruh.

Disamping factor mata, factor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya

dapat mempengaruhi hasil pembacaan.

Meskipun demikian untuk pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai

peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode Sahli ini masih memadai dan

bila pemeriksaannya telah terlatih hasilnya dapat diandalkan. Metode yang lebih

37
canggih adalah metode cyanmethemoglobin. Pada metode ini hemoglobin di oksidasi

oleh kalium ferrosianida menjadi methemoglobin yang kemudian bereaksi dengan ion

sianida (CN2) membentuk sian-methemoglobin yang berwarna merah. Intensitas

warna dibaca dengan fotometer dan dibandingkan dengan standar. Karena yang

membandingkan alat elektronik, maka sehingga hasilnya lebih objektif. Namun,

fotometer saat ini masih cukup mahal, sehingga belum semua laboratorium

memilikinya.

Mengingat hal diatas, percobaan dengan metode Sahli masi digunakan di samping

metode sianmethemoglobin yang lebih canggih.

a. Prosedur Pemeriksaan dengan Metode Sahli

Reagensia :

- HCL 0.1 N

- Aquadest

Alat dan Sarana :

- Pipet hemoglobin

- Alat Sahli

- Pipet pastur

- Pengaduk

Prosedur Kerja

 Masukkan HCl 0.1 N ke dalam tabung Sahli sampai angka 2

 Bersihkan ujung jari yang akan di ambil darahnya dengan larutan desinfektan

(alkohol 70%, betadin dan sebagainya), kemudian tusuk dengan lancet atau

alat lain.

38
 Isap dengan pipet hemoglobin sampai melewati batas, bersihkan ujung pipet,

kemudian teteskan darah sampai ketanda batas dengan cara menggeserkan

ujung pipet ke kertas saring atau kertas tisu.

 Masukkan pipet yang berisi darah ke dalam tabung hemoglobin, sampai ujung

pipet menempel pada dasar tabung, kemudian tiup pelan-pelan. Usahakan agar

tidak timbul gelembung udara. Bilas sisa darah yang menempel pada dinding

pipet dengan cara mengisap HCl dan meniupnya lagi sebnyak 3-4 kali.

 Campur sampai rata dan diamkan selama kurang lebih 10 menit

 Masukkan ke dalam alat pembanding, enecrkan dengan aquadest tetes demi

tetes sampai warna larutan (seteah di aduk sampai homogen) sama dengan

warna gelas dari alat pembanding. Bila sudah sama, baca kadar hemoglobin

pada skala tabung.

b. Prosedur Pemeriksaan dengan Metode sian-methemoglobin

Regenensia :

- Larutan kalium ferrosianida (K3Fe(CN)6 0.6 mmol/l

- Larutan kalium sianida (KCN) 1.0 mmol/l

Alat/Sarana:

- Pipet darah

- Tabung cuvet

- Kolorimeter

Prosedur Kerja:

 Masukkan campuran reagen sebanyak 5 ml ke dalam cuvet

 Ambil darah kapiler seperti pada metode sahli sebanyak 0,02 ml dan

masukkan kedalam cuvet diatas , kocok dan diamkan selama 3 menit.

39
 Baca dengan kolorimeter pada lambda 546.

Perhitungan:

Kadar Hb = absorpsi × 36,8 gr/dl/100 ml

atau

Kadar Hb = absorpsi × 22,8 mmol/l

2. Hematokrit (HCT)

Hematokrit adalah volume erotrosit yang dipisahkan dari plasma dengan cara

memutarnya di dalam tabung khusus yang nilainya dinyatakan dalam persen (%).

Setelah sentrifungsi, tinggi kolom sel merah diukur dan dibandingkan dengan tinggi

darah penuh yang asli. Presentase massa sel merah pada volume darah yang asli

merupakan hematokrit. Darah penuh antikoagulan disentrifugasi dalam tabung

khusus. Karena darah penuh dibentuk pada intinya oleh sel darah merah (SDM) dan

plasma setelah, sentrifungsi presentase sel-sel merah memberikan estimasi langsung

jumlah SDM/100 ml dari darh penuh (dan demikian pada gilirannya merupakan

estimasi tidak langsung jumlah hemoglobin). Hematocrit dengan demikian

bergantung sebagian besar pada jumlah SDm, tapi ada beberapa efek ( dalam hal jauh

lebih sedikit) dari ukuran rata-rata SDM. Nilai normal adalah 40-54% untuk pria dan

37-47% untuk wanita. HTC biasanya hamper 3 kali nilai hemoglobin (dengan

menganggap tidak terdapat tanda hipokromia). Kesalahan rata-rata pada prosedur

HCT yaitu kira-kira 1-2%.

Prosedur penemuan hematocrit

Penemuan hematocrit haruslah dilakukan secra duplikat dengan menggunakan darah

kapiler atau darah vena yang diantikogulasikan dengan EDTA. Pada saat

40
menggunakan proses dengan EDTA ini, akan digunakan tabung kapiler bluebanded

yang berisi antikoagulan.

1. Letakkan satu ujung tabung kapiler dalam setetes darah yang akan diuji, sehingga

darah ditarik masuk ke tabung dengan aksi kapilaritas. Isi tabung dengan 10 mm

pada ujung seberang. Hapus bagian luar tabung ini dengan penghapus. (catatan:

gelembung udara dalam tabung tidak akan mempengaruhi hasil).

2. Segel ujung tabung yang kosong tersebut dengan penutup kecil atau sealer dengan

menempatkan ujung kering tabung hematocrit ke dalam saluran pada posisi

vertical.

3. Tempatkan ujung yang ditutup pada tabung kapiler terhadap sisi kepala

sentrifugasu, dan tabung dalam celah radial. Catat nomor posisi dari specimen ini

4. Ulangi nomor 1 dan 3 diatas untuk setiap sampel uji.

5. Tutup erat penutup santrifugasi pada bagian atas tabung kapiler dengan aman.

Tutup bagian atasnya amankan penutupnya. Lakukan sentrifugasi selama 5 menit

dengan kecepatan 10000-15000 rpm. Catat bahwa tabung kapiler balans harus

juga dimuat ke dalam kepala sentrifugasi jika hanya satu tes yang dilakukan.

6. Buka tabung-tabung dari sentrifugasi

7. Ukur tinggi sel darah merah dengan pembaca hematocrit. Jangan memasukkan

buffy coat dalam pembacaan bila kolom eritrosit terbungkus. Jika kurang nyaman,

tegakkan tabung kapiler. Ulangi penentuan jika duplikat berbeda dengan nilai

lebih dari 1% atau jika sampel sudah rusak selama sentrifagusi.

Perhitungan hasil

Nyatakan hasil dari presentase darah penuh (panjang sel terbungkus/panjang total).

Hal ini merupakan volume sel darah terbungkus (PCV).

41
tinggi volume eritrosit yang dimampatkan
Hm = × 100% = ⋯ %
tinggi total volume darah

Contoh:

 Tinngi kolom volume eritrosit yang dimampatkan adalah 4,5 mm.

 Tinggi total kolom volume darah adalah 10 mm

Jadi:
4,5
Hm = 10 × 100 % = 45%

Interpretasinya:

a. Nilai normal

Menurut Wells Laki-laki : 42-50 %

Wanita : 40-48 %

Menurut Hepler Laki-laki : 40-54 %

Wanita : 23-34 %

b. Nilai abnormal

- kurang dari nilai normal pada anemia

- lebih dari nilai normal pada polisithademia

3. Serum Besi

Prosedur Serum Iron. Darah harus dikumpulkan menggunakan tabung tereavkuasi

bebas elemen tembusan. Hanya air terdeionisasi terdistilasi yang harus digunakan.

 Berilah label tabung uji dengan blangko, standar, referensi, pool, dan subjek

tes masing-masing.

 Tambahkan 2,5 ml reagen penyangga besi pada masing-masing tabung.

 Pada tabung berblangko tambahkan 0,5 ml standar besi. Pada referensi

tambahkan 0,5 ml bahan referensi besi serum. Pada pool tambahkan 0,5 ml

serum pada tabung yang coco.

42
 Campurkan pada masing-masing tabung uji secara merata dengan vortex

mixer.

 Pindahkan masing-masing sampel pada sebuah cuvet .

 Pasang pada panjang gelombang 560 nm.nolkan spektrofotometer pada

penyerapan nol dengan blangko reagen.

 Baca dan catat penyerapan awal sampel blangko, standar, referensi, dan

uji.kembalikan sampel-sampel itu pada tabung yangsesuai setelah dilakukan

pembacaan. Ini merupakan peneyerapan awal (Ainisial ) yang di ukur agar

dilakukan pertimbangan mengenai perbedaan-perbedaan turbiditas sampel

 Tambahkan 0,05 ml reagen warna besi pada masing-masing tabung. Campur

masing-masing tabung dan biarkan berdiri selama kira-kira 10 menit dalam air

pada 37°C.

 Pindahkan isi masing-masing tabung pada cuvet

 Baca lagi dan catat penyerapan sampel blangko, standar, referensi, pool dan

uji, menggunakan blangko untuk membuat nol penunjukan spektrofotometer.

Ini merupakan penyerapan akhir (𝐴𝑓𝑖𝑛𝑎𝑙 ).

Perhitungan hasil

Jika sandar besi berisi 500µg/dl, konsentrasi besi serum (µg/dl) dari sampel dihitung

dengan menggunakan rumus berikut.

test final – test A initial

500 x

Standar A final – standar A initial

Faktor konversi pada satuan SI (µmol/L) = ×0,179

43
4. Transferrin saturation (TS)

Penentuan kadar zat besi pada serum merupakan satu cara menentukan status besi.

Salah satu indikator lainnya adalah Total Iron Binding Capacity (TIBC) dalam serum.

Kadar TIBC ini meningkat pada penderita anemia karena kadar besi di dalam serum

menurun dan TIBC ini meningkat pada keadaan defisiensi besi pada rasio dari

keduanya (transferri saturation) lebih sensitive

Rumus tersebut adalah sebagai berikut:

𝑘adar besi dalam serum


TS = × 100%
TIBC

Apa bila TS > 16% , pembentukan sel-sel darah merah dalam sumsum tulang

berkurang dan keadaan ini di sebut defisiensi besi untuk eritropoiesis.

5. Free erythrocyte protophorphyrin (FEP)

Apabila penyediaan zat besi tidak cukup banyak untuk pembentukan sel-sel darah

merah di sumsum tulang maka sirkulasi FEP di darah menigkat walalupun belum

Nampak anemia. Dengan menggunakan fluorometic assay maka pembentukan FEP

lebih cepat digunakan. Satuan untuk FEP dalam µg/dl darah atau µg/dl darah merah.

Dalam keadaan normal kadar FEP berkisar 35± 50µg/dl RBC tetapi apabila kadar

FEP dalam darah lebih besar dari 100µg/dl RBC menunjukkan individu ini menderita

kekurangan besi.

Prosedur Free Erythrocyte Protoporphyrin

1. Tekan tombol “ON” pada hematofluormeter dan sisipkan blank glass cover slip

kedalam pemegang sampel.

44
2. Tekan tombol “ MEASURE” dab catat pembacaan pada blank glass cover slip.

Gunakan hanya blank cover slip dengan pembacaan dari 000-006.

3. Gunakan piper pasteur plastic untuk menempatkan setetes darah penuh (kira-kira

20µL) diatas blank cover slip dengan cara menyebarkaannya, sehingga

berhubunngan pada posisi lubang.

4. Tekan tombol “MEASURE” dan catat pembacaan. Jangan subtraksikan

pembacaan pada blank cover slip.

5. Ulangi (4) 10-15 detik kemudian kesampingkan glass cover slip.

6. Untuk control darah, ambil setetes darah (sekitar 35µ𝐿) di atas glass cover slip

yang bersih dengan menekan botol. Campurkan tetesan darah dengan ujung botol.

Pindahkan tutup botol..

7. Tekan tombol “MEASURE” dan catat pembacaan. Kesampingkan glass cover

slip.

8. Periksa control-kontrol darah pada permulaan dan akhir setiap jari, atau setelah 50

pengujian yang bisa ditetapkan. Nilai control rendah, medium, dan tinggi harus

ada dalam harga yang dimintakan.

Perhitungan hasil

Konsentrasi zink protoporphyrin yang dinyatakan dengan µmol/L RPC’s dapat dihitung

menggunakan dengan rumus berikut, yang dalam hal ini hematokrit dinyatakan sebaagai

fraksi volume dari paket sel darah merah.

Zn protoporphyrin dalam darah penuh (µ mol /L)

Hematokrit (vol. fraktion)

45
Konsentrasi zink protoporphyn juga dapat dinyatakan dalam µg/dL darah penuh : factor

konversi pada satuan SI (mmol/L) x0..0177.

6. Serum ferritin (SF)

Untuk menilai status besi dalam hati perlu mengukur kadar ferritin. Menurut cook (dalam

Mahdin Anwar Husain, 1989) banyaknya ferriyin yang dikeluarkan ke dalam darah secara

proporsional menggambarkan banyaknya simpanan zat besi di dalam hati. Apabila

diidapatkan serum ferritin sebesar 30 mg/dl RBC berarti di dalam hati terdapat 30 X 10

mg = 300 mg ferritin. Untuk menentukan kadar ferritin dlam darah dapat dilakukamn

dengan beberapa metode, yaitu dengan cara immunoradiometric assay (IRMA) atau

dengan cara radio immune assay (RIA) atau dengan cara enzyme-linked immunno assays

(ELISA) yang tidak menggunakan isotope, tetapi enzim. Dalam keadaan normal rata-rata

SF untuk laki-laki dewasa adalah 90 µg/l dan wanita dewasa adalah 30 µg/l.. perbedaan

kadar serum ferritin ini menggbarkan banyak perbedaan zat besi pada tubuh dengan zat

besi pada laki-laki tiga kali lebih besar dari wanita. Apabila seseorang mempunyai kadaar

SF kurang dari 12 orang yang bersangkutan dinyatakan sebagai kekurangan zat besi.

Banyak orang yang sebenarnya yang menderita kekurangan zat besi, tetapi tidak dapat

terdeteksi dengan ferritin karena kadar ferritin yang dikeluarkan dari hati menaik dalam

darah apabila yang bersangkutan menderita penyakit kronis, infeksi dan sakit hati.

Namun, apabila penyakit infeksi tidak umum terjadi di masyarakat, penemuan ferritin

merupakan pilihan yang tepat.

Prosedur Penentuan Serum Ferritin

46
Catatan: serum standar, pool, referensi dan uji semua harus di analisa secara ganda.

Biarkan tracer dab standar untuk menyelesaikan dengan temperature sebelum pengguna.

1. Berilah table pada tabung-tabung: background, blangko, 5.10, 10.0, 25.0, 100, 250,

1000, 2500, pool, reference, dan tabung-tabung untuk masing-masing subjek.

2. Tambahkan 50mL pada masing-masing serum standard pool, referensi, dan tes pada

tabung-tabung yang bersangkutan, mulai pertama kali dengan larutan paling encer.

3. Beritahukan pada pengawas laboratorium bahwa Anda siap dengan reagen

Traece/Immunobead. Ini harus dicampur dengan hati-hati dengan batang pengaduk

untuk mencegah adanya pembentukan gelermbung, prioritas untuk digunakan, untuk

menyesaikan dengan safety regukation seorang pengawas laboratorium mungkin

harus mengawasi penambahan 200µL traecer yang digunakan pada masing-masing

tabung. Kesampingkan tabung background, sampai langkah 8.

4. Kocok rak tabung-tabung agar tercampur isinya (vortex tidak perlu) inkubasi selama

30 menit pada 21-30°C (suhu ruang).

5. Tambahkan 3,0 mL salin pada semua tabung (mixing tidaklah diperlukan pada tahap

ini.

6. Sentrifugasikan tabung selama 10 menit pada kecepatan 5000 x gr/dl pada 4°C, untuk

mengendapakn padatan-padatan pada dasar tabung. Proseslah dengan cepat sampai

pada langkah berikutnya.

7. Ambillah supernatant pada masing-masing tabung dengan menggunakan peralatan

hisap khusus.

8. Sisipkan semua tabung (termasuk tabung background) kedalam counter sinar

gaumm,dengan memperhatikan urutan tabung-tabung yang sesuai dengan jumlah

counter gaumma.

9. Hitung setiap tabung sebentar dengan counter gaumma.

47
Perhitungan Hasil

1. Catat perhitungan rata-rata per menit (CPM) untuk masing-masing sampel standar,

kontrol, dan uji.

2. Subtrasksikan harga rata-rata CPM pada standar nol CPM tiap-tiap sampel standar,

kontrol, dan uji untuk menghasilkan net CPM.

3. Plotkan net CPM masing-masing standar pada Y-axis kartas semilog 4 siklus dan

konsentrasi ferritin yang bersangkutan (ng/ml) pada X-axis.

4. Baca dari kurva standar konsentrasi ferritin (ng/ml) sampel uji dan sampek kontrol

dari net CPM yang berkaitan dengan dengannya.

5. Konversi pada satuan SI (mg/L)= X 1.0

7. Serum Unsaturated Iron Binding Capacity (UIBC)

Prosedur penentuan serum unsaturatediron binding capacity :

1. Berilah label pada tabung uji dengan blangko, standar, referensi, pool, dan subjek tes

untuk masing-masing.

2. Tambahkan 2,0 ml reagen penyangga UIBC pada masing-masing tabung.

3. Pada yang blangko tambahkan 1,0 ml air bebas besi. Pada yang standar tambahkan

0,5 ml standar besi plus 0,5 ml air bebas besi. Pada yang referensi tambahkan 0,5 ml

bahan referensi serum plus 0,5 ml standar. Untuk masing-masing subjek uji,

tambahkan 0,5 ml serum pada tabung yang sesuai plus 0,5 ml standar.

4. Campurkan masing-masing tabung uji secara merata dengan vortex mixer.

5. Pindahkan masing-masing sampel pada sebuah cuver.

6. Pasang pada panjang gelombang 560nm. Nol-kan spektofotometer pada penyerapan

nol dengan blangko reagen.

48
7. Baca dan catat penyerapan awal sampel blangko, standar, referensi, dan uji coba.

Kembalikan sampel-sampel itu pada tabung yang sesuai setelah dilakukan

pembacaan. Ini merupakan penyerapan awal (Ainitial), yang diukur agar dilakukan

pertimbangan mengenai perbedaan-perbedaan dalam turbiditas sampel.

8. Tambahkan 0,05 ml reagen warna besi pada masing-masing tabung. Campur tiap-tiap

tabung dan biarkan berdiri selama kira-kira selama 10 menit dalam air pada 37°C.

9. Pindahkan isi masing-masing tabung pada cuvet.

10. Bacalah lagi dan catat penyerapan sampel blangko, standar, referensi, pool, dan uji,

menggunakan blangko untuk membuat nol pertunjukkan spektrofotometer. Ini

merupakan penyerapan akhir (Afinal). Kadang-kadang, perbedaan antara penyerapan

akhir dan penerapan awal mungkin sangat kecil karena ketidakjenuhan transferrin

dengan besi. Jika ini terjadi, sampel harus diencerkan (1 bagian serum dan 1 bagian

air bebas besi) dan tes ulang. Hasilnya, yang dihitung menggunakan persamaan di

bawah, harus kemudian dikalikan dengan 2,0.

Perhitungan hasil

Jika standar besi berisi 500 mg/dl, kapasitas pengikat besi tidak jenuh dari serum (mg/dl)

sama dengan :

500 𝑥(test 𝐴𝑓𝑖𝑛𝑎𝑙 − test 𝐴𝑖𝑛𝑡𝑖𝑛𝑎𝑙)


500 – ( )
standar A𝑓𝑖𝑛𝑎𝑙 − test A𝑖𝑛𝑡𝑖𝑛𝑎𝑙

Kapasitas pengikat besi total (TIBC) (µg/dl) = besi total pada serum (µg/dl) + kapasitas

pengikat besi tidak jenuh dari serum (µg/dl). Faktor konversi pada satuan SI (µmol/L) = x

0.179.

49
8. Kadar lemak dalam darah

Uji kolesterol atau disebut juga panel lipid atau profil lipid, mengukur kadar lemak (lipid)

dalam darah. Pemeriksaan ini memerlukan persiapan puasa mulai 12 jam sebelumnya

(tidak makan atau minum, kecuali air putih). Setelah serangan jantung, pembedahan,

infeksi, cedera atau kecelakaan, sebaiknya menunggu sedikitnya 2 bulan agar hasilnya

lebih akurat.

Kolesterol Total. Ini adalah jumlah total kandungan kolesterol darah anda. Kolesterol

diproduksi oleh tubuh sendiri dan juga datang dari asupan makanan yang kita konsumsi

(produk hewani). Kolesterol dibutuhkan tubuh untuk mempertahankan kesehatan sel-sel

tetapi level yang terlalu tinggi akan meningkatkan risiko sakit jantung. Idealnya total

kolesterol harus <200 mg/dL atau <5.2 mmol/L. Kedua ukuran tersebut setara, hanya

dinyatakan dalam satuan yang berbeda. Di Indonesia umumnya menggunakan satuan

mg/dL. Faktor genetik juga berperan sebagai penentu kadar kolesterol, selain dari

makanan yang dimakan.

Low-density lipoprotein (LDL) alias si kolesterol “jahat”. Terlalu banyak LDL dalam

darah menyebabkan akumulasi endapan lemak (plak) dalam arteri (proses aterosklerosis),

sehingga aliran darah menyempit. Plak ini kadang-kadang bisa pecah dan menimbulkan

masalah besar untuk jantung dan pembuluh darah. LDL ini adalah target utama dari

berbagai obat penurun kolesterol. Target yang ingin kita capai :

1. <70 mg/dL untuk individu yang sudah memiliki penyakit kardiovaskular atau pasien

yang berisiko sangat tinggi untuk terkena (misalnya : sindrom metabolik)

2. 100 mg/dL untuk pasien risiko tinggi (misalnya : pasien dengan beberapa faktor risiko

sekaligus)

3. <130 mg/dL untuk individu yang berisiko rendah terkena PJK

50
4. High-density lipoprotein (HDL) seringkali disebut kolesterol “baik” karena membantu

membawa pergi LDL dari aliran darah untuk disimpan sebagai cadangan di dalam sel,

menjaga pembuluh darah tetap terbuka dan lancar. Idealnya level HDL harus diatas

40 mg/dL. Umumnya wanita memiliki level yang lebih tinggi daripada pria. Olahraga

dapat membantu meningkatkan kadar HDL.

5. Trigliserida (TG). Trigliserida adalah tipe lemak lain dalam darah.Level TG yang

tinggi umumnya menunjukkan bahwa anda makan lebih banyak kalori daripada kalori

yang dibakar untuk aktivitas, karena itu level TG biasanya tinggi pada pasien yang

gemuk atau pasien diabetes. Makanan tinggi karbohidrat (gula sederhana) atau

alkohol dapat menaikkan TG secara bermakna. Idealnya level trigliserida haruslah

<150 mg/dL (1.7 mmol/L). American Heart Association (AHA) merekomendasikan

bahwa level TG untuk kesehatan jantung “optimal” adalah 100 mg/dL (1.1 mmol/L).

9. Parasit dalam feses

Feses adalah sisa hasil pencernaan dan absorbsi dari makanan yang kita makan yang

dikeluarkan lewat anus dari saluran cerna.Jumlah normal produksi 100 – 200 gram / hari.

Terdiri dari air, makanan tidak tercerna, sel epitel, debris, celulosa, bakteri dan bahan

patologis, Jenis makanan serta gerak peristaltik mempengaruhi bentuk, jumlah maupun

konsistensinya dengan frekuensi defekasi normal 3x per-hari sampai 3x per-minggu.

Pemeriksaan feses ( tinja ) adalah salah satu pemeriksaan laboratorium yang telah lama

dikenal untuk membantu klinisi menegakkan diagnosis suatu penyakit. Meskipun saat ini

telah berkembang berbagai pemeriksaan laboratorium yang modern , dalam beberapa

kasus pemeriksaan feses masih diperlukan dan tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan

lain. Pengetahuan mengenai berbagai macam penyakit yang memerlukan pemeriksaan

feses , cara pengumpulan sampel yang benar serta pemeriksan dan interpretasi yang benar

51
akan menentukan ketepatan diagnosis yang dilakukan oleh klinisi. Berdasarkan gejala

klinis dan dari pemeriksaan umum dan khusus. Dilakukan juga pemeriksaan feses dan

pemeriksaan darah untuk mendukung hasil diagnosis. Pemeriksaan feses dapat dilakukan

dengan metode natif, metode sentrifuse, metode Parfitt and Banks, atau metode

McMaster.

1. Metode Natif

Pemeriksaan feses dapat dilakukan dengan metode kualitatif dan kuantitatif. Salah

satu metode kualitatif adalah metode natif. Metode natif dipergunakan untuk

pemeriksaan secara cepat dan baik untuk infeksi berat, tetapi untuk infeksi ringan sulit

ditemukan telur-telurnya. Cara pemeriksaan ini menggunakan larutan lugol atau eosin

2%. Penggunaan eosin dimaksudkan untuk lebih jelas membedakan telur-telur cacing

dengan kotoran di sekitarnya. Kelebihan metode ini adalah mudah dan cepat dalam

pemeriksaan telur cacing semua spesies, biaya yang diperlukan sedikit, serta peralatan

yang digunakan juga sedikit. Sedangkan kekurangan metode ini adalah dilakukannya

hanya untuk infeksi berat, infeksi ringan sulit dideteksi. Metode natif dilakukan

dengan cara mencampur feses dengan sedikit air dan meletakkannya di atas gelas

obyek yang ditutup dengan deckglass dan memeriksa di bawah mikroskop.

2. Metode sentrifus

Metode sentrifus dilakukan dengan cara 2 gram feses yang akan diperiksa ditaruh

dalam mortir, dan ditambahkan sedikit air ke dalamnya kemudian diaduk sampai

larut. Larutan ini dituangkan ke dalam tabung sampai ¾ tabung dan disentrifuse

selama 5 menit. Hasil dari proses sentrifuse adalah cairan jernih dan endapan. Cairan

jernih diatas endapan tersebut dibuang dan sebagai gantinya dituangkan NaCl jenuh di

atas endapan sampai ¾ tabung. Larutan ini diaduk sampai merata dan disentrifuse lagi

52
selama 5 menit. Setelah disentrifuse tabung tersebut diletakkan diatas rak dengan

posisi tegak dan ditambahkan lagi NaCl jenuh sampai permukaan cairan menjadi

cembung, diamkan selama 3 menit. Untuk mendapatkan telur cacing, obyek gelas

diletakkan pada permukaan yang cembung dan dibalik dengan hati-hati, kemudian

ditutup dengan deckglass dan periksa dibawah mikroskop dengan perbesaran 10×10.

3. Metode Mc.Master

Penghitungan jumlah telur cacing dan oosista yang dieliminasikan per gram tinja

dilakukan dengan metode Mc.Master. Metode ini dilakukan dengan mencampurkan 1

gram tinja dengan aquadestilata sampai volumenya mencapai 15 ml dan diaduk

dengan pengaduk (magnetik stirrer) sampai merata. Sementara menunggu meratanya

campuran tadi, dobel obyek gelas disiapkan dan diisi dengan larutan gula jenuh

sebanyak 0,3 ml menggunakan spuit ukuran 1 cc. Dalam keadaan teraduk larutan tinja

diambil sebanyak 0,3 ml dan dimasukkan dalam dobel obyek gelas yang telah berisi

larutan gula jenuh tadi. Campuran tinja dan gula jenuh ini diaduk dengan jarum

sampai merata dan didiamkan selama 3 menit. Dobel obyek gelas ini diperiksa

dibawah mikroskop dengan perbesaran 10×10 dan telur cacing serta oosista yang

menempel pada obyek gelas yang terhitung dikalikan 50.

4. Metode Parfitt and Banks

Metode ini digunakan untuk mengetahui ada tidaknya telur cacing pada feses (tinja)

dengan menggunakan uji endap (sedimentasi), dengan prosedur mengambil 3 gram

feses (tinja) dan digerus dengan morir. Lalu campuran tersebut dimasukkan ke dalam

tabung reaksi sampai setinggi 1 cm dari mulut tabung dan didiamkan selama 10 menit

sampai terlihat endapan. Cairan diambil dengan pipt tetes sehingga tinggal endapan

53
saja. Kemudian ditambahkan air pada endapan tadi setinggi 1 cm dari mulut tabung

dan dikocok. Lalu didiamkan lagi selama 10 menit sampai terlihat endapan. Cairan

jernih dibuang, lalu diteteskan NaOH 10% sebanyak 3 tetes dan ditambah aquadest

setinggi 1 cm dari mulut tabung, dikocok dan didiamkan selama 10 menit sampai

terlihat endapan. Cairan jernih dibuang lagi. Kemudian diteteskan methylen blue

sebanyak 3 tetes dan diaduk. Lalu diambil endapan yang paling bawah dan diletakkan

di atas gelas objek dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop (10 x 10).

Cara pemeriksaan

1. Masukan urine dlm tabung reaksi 5cc + 5cc barium klorit 20 %

2. Campur lalu saring dengan kertas saring

3. Kertas saring dengan endapan dikeringkan

4. Tetesi endapan dengan reagen fouchet 2-3 tetes

5. Perhatikan perubahan warna

Hasil:

- Positif : ada warna hijau

- Negatif : tidak ada warna hijau

10. Pemeriksaan Urine

- Prinsip: glukosa dapat mereduksi ion cupri dalam larutan alkalis → terjadi

perubahanwarna dari hijau → merah

- Tujuan: menentukan adanya glukose dalam urine

- Persiapan px:

Dilarang minum obat vit.C, salisilat, sterptomisin → memberi hasil positif palsu

54
Alat yang digunakan:

1. Tabung reaksi

2. Pipet

3. Lampu spiritus

4. Penjepit tabung

5. Reagen

6. Fehling

7. Benedict

Cara pemeriksaan (Metode Benedict):

1. Masukan 2,5cc reagen benedict kedlm tabung reaksi

2. Tambahkan urine 4 tetes

3. Panaskan dalam air mendidih 5 menit atau dengan api spiritus 2 menit, jaga jangansampai

mendidih

4. Angkat tabung dan baca hasilnya

Hasil:

- Negatif : tetap biru atau kehijauan

- Positif +: hijau kekuningan keruh

- Positif ++: kuning keruh4.

- Positif +++: Jingga atau lumpur keruh

- Positif ++++: Merah bata keruh

55
PENILAIAN STATUS PROTEIN

Protein dalam darah mempunyai peranan fisiologis yang penting bagi tubuh antara lain:

1. Untuk mengatur tekanan air, dengan adanya tekanan osmose dari plasma protein.

2. Sebagai cadangan protein tubuh.

3. Untuk mengontrol pendarahan (terutama dari fibrinogen).

4. Sebagai transport yang penting untuk zat – zat gizi tertentu.

5. Sebagai antibodi dari berbagai penyakit terutama dari gamma globulin.

6. Didalam darah ada tiga fraksi protein yaitu:

Albumin : kadar normalnya = 3,5 – 5 gram/100 ml

Globulin : kadar normalnya = 1,5 – 3 gram/100 ml

Fibrinogen : kadar normalnya = 0,2 – 0,6 gram/100 ml

7. Pemeriksaan biokimia terhadap status protein dibagi dalam dua bagian pokok, yaitu

penilaian terhadap somatic protein dan visceral protein. Perbandingan somatic dan

visceral dalam tubuh antara 75% dan 25%. Somatic protein terdapat pada otot skeletal,

sedangkan visceral protein terdapat di dalam organ/visceral tubuh yaitu hati, ginjal,

pankreas, jantung, erytrocyt, granulocyt, dan lympocyt.

Konsentrasi serum protein dapat digunakan untuk mengukur status protein. Penggunaan

pengukuran status protein ini didasarkan pada asumsi bahwa penurunan serum protein

disebabkan oleh penurunan produksi dalam hati. Penentuan serum protein dalam tubuh

meliputi: albumin, transferin, prealbumin, (yang dikenal juga dengan transthyertin dan

thyroxin-binding prealbumin), retinol binding protein (RBP), Insulin-Like Grpwth Factor-1

dan fibronectin .

56
Penentuan Serum Protein

1. Ion kupri (Cu2+) dalam reagen biuret bereaksi dengan peptida (-CONH) dan

menghasilkan senyawa peptida berwarna violet. Insentitas warna secara langsung

proporsional dengan warna peptida pada pengukuran dengan kisaran yang luas. Senyawa

ini dibentuk hanya jika paling sedikit ada cua gabungan peptida (-CONH). Akibatnya

protein bereaksi dengan reagen biuret, sedangkan asam amino, ammonia, urea, dan

senyawa lain berisi nitrogen sederhana tidak bereaksi. (Peters dan Biamente, 1982).

2. Berilah label setiap tabung uji, yaitu standar, referensi, pool, dan setiap objek uji.

3. Tambah 3,0 ml reagen biuret pada setiap tabung.

4. Pada tabung standar, tambahkan 50 µll larutan standar; pada tabung referensi tambahkan

50 µL serum referensi; pada tabung pool tambahkan 50 µL serum pool; pada masing–

masing subjek tambahkan dengan 50 µL serum uji.

5. Campurkan setiap tabung secara merata, danbiarkan dalam lemari gelap pada posissi

berdiri minimal 10 menit.

6. Tempatkan spectrophotometer pada panjjang gelombang 555 nm. Aturlah pda titik nol

dengan menggunakan cuvet reagen biuret sebagai referensi kosong.

7. Pindahkan masing-masing isi tabung pada cuvet.

8. Baca dan catat penyerapan sampel standar, referensi dan pool.

Prosedur Penentu Serum Albumin

1. Albumin merupakan komponen utama dari serum protein total dalam individu yang sehat.

Serum albumin diuji dam sebagian besar laborat klinik melalui metode penguat warna

(dye-binding methode) yang menggunakan bromocesol green. (McPherson dan Everaald,

1927). Serum albumin berikatan secara spesifik dengan berocresol green untuk

membentuk senyawa BCG albumin biru yang menyerap secara maksimal pada 600 nm.

57
2. Berilah label setiap tabung uji, yaitu kosong, standar, referensi, pool, dan setiap subjek

uji.

3. Tambahkan 5,0 ml reagen celup penyangga pada masing-masing tabung.

4. Pada tabung kosong tambahkan 20 µl air destilasi terionisasi. Pada tabung standar

tambahkan 20 µL larutan standar. Pada tabung referensi tambahkan 20 µL serum

referensi. Pada tabung pool tambahkan 20 µL serum pool. Untuk masing-masing subjek

uji tambahkan 20 µL serum uji.

5. Campurkan masing-masing tabung secara merata, dan biarkan pada posisi berdiri selama

2 menit.

6. Pindahkan masing-masing isi tabung pada cuvet.

7. Tempatkan spektrofotometer pada panjang gelombang 600 nm.

8. Aturlah pada titik nol dengan menggunakan regen blank.

9. Warnaa akhir yang berkembanng menjadi stabil selama 1 jam. Sampel yang mempunyai

lebih dari 6 g/dL albumin harus dikkoreksi pada dilusi ini.

Prosedur Penentu Serum Albumin

1. Perhatikan bahwa bak penampung harus dijaga agar tidak meluap. Pelat harus diletakan

pada posisi horisontal pada tingkat permukaan dan suhu kamar meliputi seluruh prosedur

uji ini.

2. Siapkan, seoerti yang di jelaskan di bawah, tiga konsentrasi berbeda serum standar

(manusia) yang dikenal dengan konsentrasi TTR (yaitu 25 mg/dL); ini digunakan untuk

kurva standar.

3. Encerkan satu bagian serum standar tersebut dengan tiga bagian 0,9% NaCL yang yang

membuat konsentrasi menjadi 6,25 mg/dL. Campuran dengan vortex mixer.

58
4. Encerkan satu bagian serum standar tersebut dengan satu bagian 0,9% NaCL yang

membuat konsentrasi menjadi 12,5 mg/dL campurdengan vortex mixer.

5. Gunakan serum standar yang tidak diencerkan dengan konsentrasi 25 mg/dL.

6. Isikan bak 1 ke 3 dengan 5 µL masing-masing dari tiga konsentrasi serum standar dengan

menggunakan Hamilton syringe atau Eppendorf micropipet

7. Isikan bak 4 dengan 5 µL serum referensi yang tidak diencerkan.

8. Isikan bak 5 dengan 5 µL serum pool yang tidak diencerkan.

9. Isikan bak tambahan masing-masing dengan 5 µL. sampel serum uji.

10. Setelah pengisian, biarkan pelat pada posisi terbuka berdiri selama 10-20 menit, lalu tutup

pelat tersebut dengan tutup plastik agar terlindungi dari pengeringan selama inkubasi.

11. Tinggalkan pelat ini tetap berdiri pada posisi horisontal pada permukaan level, suhu

kamar, selama 48 jam. Periode inkubasi ini menyebabkan difusi untuk mencapay titik

akhir (yaitu semua antigen yang tersedia telah bergabung dengan antibodi)

12. Setelah 48 jam, ukur diameter dari cincin presipitan (sampai ketelitian 0,1 mm) yang

diillumunasikan dengan lampu sorot kecil terhadap latar belakang gelap dengan

menggunakan kaca pembesar.

PENILAIAN STATUS VITAMIN

1. Vitamin A

Deplesi vitamin A dalam tubuh merupakan proses yang berlangsung lama, dimulai

dengan habisnya persediaan vitamin A dalam hati, kemudian menurunnya kadar vitamin

A plasma, dan baru kemudian timbul disfungsi retina, disusul dengan perubahan jaringan

epitel.

Pada umumnya konsentrasi vitamin A penderita KEP rendah yaitu <15 µg/gram jaringan

hepar (Solihin Pujiadji, 1989)

59
Tabel 6-1. Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar vitamin A dalam darah

Umur (th) kurangan margin cukup

Plasma vitamin A (mg) semua umur <10 10-19>20

Metode Penentuan Serum Retinol

Prosedur:

1. Seratus mikroliter plasma dimasukan ke dalam tabung mikro ditambah 100 mikroliter

etanol yang berisi standar retinil acetat (konsentrasi setara dengan 20 µ retinil/dl) dan 200

mikroliter heksan.

2. Kemudian dikocok dengan vortex selama 1 menit.

3. Setelah disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 5 menit lapisan heksana yang

berisi ekstrak vitamin A dipipet sebanyak 150 µl..

4. Ekstrak ini kemudian di uaokan dengan pertolongan gas nitrogen sampai kering.

5. Ekstrak yang sudah kering kemudian di tambah 100 mikroliter isoprepanol, kemudian

dikocok, dan sebanyak 50 mikroliter disuntikan ke HPCL.

Catatan:

1. Semua tabung reaksi yang digunakan harus benar-benar bersih.

2. Setiap 4-5 kali penyuntikan pada HPCL kolom perlu dicuci dengan dialiri buffer tanpa

sampel selama 30 menit.

3. Bila ada dugaan kadar vitamin A dalam serum terlalu timnggi (misalnya serum orang

dewasa normal, anak yang baru saja diberi vitamin A dosis tinggi)

60
2. VITAMIN D

Kekurangan vitamin D ini dapat mengakibatkan penyakit rakhitis dan kadang-kadang

tetani. Apabila kekurangan terjadi pada masa pertumbuhan akan timbul osteomalasia.

Sangat jarang ditemukan rakitis bawaan, insiden tertinggi terdapat pada umur 18 tahun.

Kekurangan vitamin D timbul klasifikasi tulang yang tidak normal disebabkan oleh

rendahnya saturasi kalsium dan fosfor dalam cairan tubuh. Keadaan resorpsi tulang akan

melebihi pembentukannya hingga menyebabkan demineralisasi umum pada rangka yang

berakibat menjadi lunaknya tulang-tulang serta deformitas torax, tulang punggung, pelvis,

dan tulang-tulang panjang.

Beberapa zat yang berhubungan dengan aktivitas vitamin D adalah :

1. Vitamin D2 (ersokalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi ersoterol (dalam tumbuh-

tumbuhan) secara artifisial dengan sinar ultra violet.

2. Vitamin D3 (kolekalsiferol) yang dihasilkan oleh radiasi pada kulit manusia dengan

komponen ultraviolet sinar matahari dan juga terdapat secara alamiah pada sumber

makanan hewani. Kolekalsiferol dikonversi didalam hati dan mungkin usus menjadi

25 (OH) kolekalsiferol.

Pada pemerikasaan biokimia penderita rakhitis ditemukan hasil :

a. kadar kalsium serum normal atau lebih

b. kadar fosofor rendah

c. kadar fosfatase meninggi

d. kadar 25 (OH) vitamin D dibawah 4mg/ml

61
3. VITAMIN E

Defisiensi vitamin E jarang sekali ditemukan oleh sebab makanan sehari-hari

mengandung cukup E. Namun demikian kita harus tetap waspada adanya kemungkinan

subklinis, misalnya pada bayi berat badan lahir rendah dimana transfer vitamin E melalui

plasenta tidak efisien.

Gangguan yang dapat dilihat karena kekurangan vitamin E adalah hemolisis dan

mengurangnya umur hidup eritrosit penelitian pada binatang percobaan didapatkan bahwa

defiensi vitamin E menyebabkan kemandulan baik pada jantan dan betina. Gangguan lain

adalah distrofi otot dan kelainan saraf pusat (ensefalomalasia). Pada pemerikasaan

biokimia seorang anak dikatakan memiliki nilai normal, vitamin E apabila didalam serum

0,7 mg.

4. VITAMIN C

Vitamin C diperlukan pada pembentukan zat kolagen oleh fibroblast hingga merupakan

bagian dalam pembentukan zat intersel. Keadaan kekurangan vitamin C akan

mengganggu integrasi dinding kapiler. Vitamin C diperlukan juga pada proses

pematangan eritrosit dan pada pembentukan tulang dan dentin. Vitamin C mempunyai

peranan penting pada respirasi jaringan.

Pada skurvy (kekurangan vitamin C) pertumbuhan anak terganggu dan timbu pendarahan

kapiler dimana-mana, terutama di daerah periostium dekat ujung tulang panjang. Kadang-

kadang terdapat pendarahan gusi dan ekimosis di tempat lain.

Pada waktu anak dilahirkan persediaan vitamin C dalam tubuh cukup banyak, maka

kejadian infantile scurvy kebanyakan terjadi pada umur 6-12 bulan. Pada umur 1 tahun

umumnya anak sudah dapat diet yang lebih bervariasi hingga kejadian menurun.

62
Gejala-gejala yang menonjol adalah :

1. Cengeng/mudah marah,

2. Rasa nyeri pada tungkai bawah,

3. Pseudoparalisis tungkai bawah, sedangkan tungkai atas jarang terserang.

Kelainan Radiologis

Kelainan radiologis terdapat terutama pada bagian-bgian tulang yang sedang aktif

tumbuh, seperti ujung sternum tulang rusuk. Ujung distal femur, ujung proximal, humurus,

kedua ujung tibia dan fibula, dan ujung distal radius dan ulna.

Gambaran radiologis menunjukkan adanya garis epifis yang agak kabur dan tidak rata

seperti biasa, osteoporosis ringan,pembengkakkan pada ujung tulang panjang, terutama pada

ujung bawah femur disebabkan oleh pendarahan subperios.

5. TIAMIN (B1)

Kekurangan tiamin merupakan penyebab penyakit beri-beri. Bilamana diet wanita yang

sedang hamil tidak cukup mengandung vitamin B, maka anak yang dilahirkan dapat

menderita beri-beri bawaan atau gejala beri-beri dapat timbul pada anak dengan gastro-

enteritis menahun.

Gejala beri-beri pada bayi, anak dan orang dewasa pada umumnya sama. Manifestasi

penting berupa kelainan saraf, mental, dan jantung. Kadang-kadang ditemukan kasus

beri-beri bawaan dan jika ada gejala klinisnya timbul pada umur triwulan pertama.

Gejala yang terjadi adalah :

1. beri-beri infantil umumnya ditemukan dalam keadaan akut. Gejala prodomalnya

ringan saja atau tidak tampak sama sekali. Anak yang kelihatan sehat selama 1 atau 2

63
minggu tidak menunjukan kenaikan berat badan, tampak kadang-kadang gelisah,

menderita pilek atau diare. Kelainan-kelainan pada jantung .

2. kasus menahun sering ditemukan pada anak yang lebih besar. Penderita demikian

umumnya lebih kecil dibandingkan anak sehat, gizinya kurang dan terdapat edema.

Sering-sering gejala yang menarik adanya afonia disebabkan oleh edema pita suara,

perut membuncit oleh meteorismus.

6. RIBOFLAVIN (B2)

Vitamin B, terdapat dimana-mana dalam alam. Daging, hati, ragi, keju, telur dan sayur-

mayur berupa daun merupakan sumber vitamin B2 yang baik. Kekurangan vitamin B2,

biasanya ariboflavinosis merupakan penyakit penyerta pada penyakit kekurangan lain.

Gejala yang terjadi akibat kekurangan vitamin B2 akan timbul :

1. makanan sehari-hari tidak cukup mengandung vitamin B2 b

2. penyerapan dan pengolahan makanan tidak normal,misalnya pada gastro-enteritis,

demkompensasi jantung, sirosis hati, nefritis, dan sebagainya.

3. keperluan vitamin B2 meningkat, misalnya pada pertumbuhan yang cepat, wanita

hamil yang sedang menyusui, penderita hipertiroidisme, suhu tubuh yang tinggi.

7. NIASIN

Niasin dikenal juga sebagai pellagra preventivefactor, oleh karenakekurangan niasin

dalam makanan dan menyebabkan suatu penyakit pellagra (kulit kasar). Gejala-gejala

pellagra dikenal sebagai 3D yaitu dematitis diare dimensia.

64
8. VITAMIN B6

Vitamin B6 bentuk aktifnya adalah 2 macam yaitu pyridoxal dan prydoxamine phosphat.

Beberapa substansi kimiawi yang tergolong ke dalam vitamin B6 adalah pyridoxin,

pyridoxal, dan pyridoxamin.

Fungsi Vitamin B6 :

1. Koenzim dari beberapa enzim,

2. Mempengaruhi pemasukan asam amino ke dalam sel,

3. Penting untuk fungsi normal dari susunan terdapat di berbagai tempat di kepala.

PEMERIKSAAN ZAT GIZI SPESIFIK

Pemeriksaan zat gizi spesifik bertujuan untuk menilai status gizi keempat masalah Gizi di

Indonesia yang dikaitkan dengan pemeriksaan laboratorium. Masalah gizi yang akan

dinilai secara laboratorium meliputi Kurang Energi Protein (KEP). Anemia Gizi Besi

(AGB), Kurang Vitamin A, dan Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY).

1. Kurang Energi Protein (KEP)

dalam kaitannya dengan Kurang Energi Protein, maka analisis biokimia yang banyak

diperhatikan adalah yang menyangkut nilai protein tertentu dalam darah atau hasil

metabolit dari protein yang beredar dalam darah dan yang dikeluarkan bersama-sama

urin. Jenis protein yang nilainya menggambarkan status gizi seseorang mengalami

perkembangan dari waktu ke waktu. Nilai prealbumin dalam kaitannya dengan status gizi

dilihat pada Tabel 6-6.

65
Tabel 6-6. Nilai prealbumin dalam Kaitannya Daya Status Gizi

Status Gizi Nilai Prealbumin

µg/dl

Baik *) 23,8 +/- 0,9

Gizi Sedang *) 16,5 +/- 0,8

Gizi Kurang *) Marasmus **) 12,4 +/- 1,0

Gizi Buruk *) Marasmus-Kwashiorkos *) 7,6 +/- 0,6

**) 3,3 +/- 0,2

Kwashiorkor **) 3,2 +/- 0,4

Keterangan : *) menurut klasifikasi Waterlow

**) menurut klasifikasi Welcome

Tabel 6-7. Batasan dan Interpretasi Kadar Serum Protein dan Serum Albumin

No. Senyawa & Satuan Umur (tahun) Kurang Kriteria Cukup

Margin

1 Serum Albumin (gr/100 ml) <1 - <2,5 2,5 +

1-5 - <3,0 3,0 +

6-16 - <3,5 3,5 +

16+ <2,8 2,8 - 3,4 3,5 +

Wanita hamil <3,0 3,0 – 3,4 3, 5 +

2 Serum Protein (gr/100 ml) <1 - <5,0 5,0 +

66
1-5 - <5,0 5,5 +

6-16 - <6,0 6,0 +

16+ 6,0 6,0 – 6,4 6,5 +

Wanita hamil 5,5 5,5 – 5,9 6,0 +

Dengan status gizi dapat dilihat pada tabel 6-6

Batasan dan interpretasi pemeriksaan kadar serum protein dan serum albumin dapat dilihat

pada tabel 6-7.

10. Kurang Vitamin A (KVA)

Tabel 6-8. Penentuan Masalah Kesehatan Masyarakat (KVA)

Indikator yang Digunakan Batas Prevalensi

Plasma Vitamin A > = 10 µg/dl > = 5%

Liver Vitamin A > = 5 µg/dl >=5%

2. Anemia Gizi Besi (AGB)

Anemia gizi adalah suatu keadaan dimana kadar hemoglobin (Hb) dalam darah kurang

dari normal, yang berbeda untuk setiap kelompok umur dan jenis kelamin. Anemia gizi

besi merupakan masalah gizi utama bagi semua kelompok umur dengan prevalensi paling

tinggi pada kelompok ibu hamil (sekitar 70%) dan pekerja berpenghasilan rendah (40%).

Prevalensi Anemia pada usia sekolah sekitar 30% dan pada anak balita sekitar 40%. Nilai

ambang batas (cut off point) penentuan Status Anemia menurut WHO seperti Tabel 6-9.

Batasan anemia yang dikeluarkan Departemen Kesehatan, 1995, dalam buku Pedoman

Pemberian Besi Bagi Petugas, hal 2 adalah seperti Tabel 6-10.

67
Tabel 6-9. Batasan Hemoglobin darah (Sumber: WHO, 1975)

Kelompok Batas Nilai Hb

Bayi / balita 11.0 g/dl

Usia Sekolah 12.0 g/dl

Ibu Hamil 11.0 g/dl

Pria Dewasa 13.0 g/dl

Wanita Dewasa 12.0 g/dl

Tabel 6-10. Batasan Anemia (menurut Departemen Kesehatan)

Kelompok Batas Normal

Bayi / balita 11.0 g/dl

Usia Sekolah 12.0 g/dl

Ibu Hamil 11.0 g/dl

Pria Dewasa 13.0 g/dl

Wanita Dewasa 12.0g/dl

3. Gangguan Akibat Kurang Yodium (GAKY)

Gangguan akibat kekurangan yodium adalah rangkaian kekurangan yodium pada tumbuh

kembang manusia. Spectrum seluruhnya terdiri dari gondok dalam berbagai stadium,

kretin endemic yang ditandai terutama oleh gangguan mental, ganggungan pendengaran,

gangguan pertumbuhan pada anak dan orang dewasa, sering dengan kadar hormon

rendah, angka lahir dan kematian bayi meningkat. Beberapa cara untuk mengetahui

besarnya masalah GAKY pada masyarakat cukup dilakukan survei pada usia anak

68
sekolah yaitu usia 6-12 tahun. Disamping itu ada cara lain yaitu dengan melakukan

pemeriksaan kadar tyroid stimulating hormone (TSH dalam darah) dan mengukur

ekskresi yodium dalam urine (Depkes, Petunjuk Teknis Petugas Palpasi, 1997, hal. 1).

Defisiensi iodium merupakan penyebab dominan gondok endemik. Tingkat keparahan

gondok endemik yang disebabkan defisiensi yodium diklasifikasikan menurut ekskresi

iodium dalam urine (µg/gr kreatinin) tahapan daripada keparahan tersebut adalah :

Tahap 1 : gondok endemik dengan rata-rata lebih dari 50µg/gr kreatinin di dalam urine.

Pada keadaan ini suplai hormone tyroid cukup untuk perkembangan fisik dan

mental yang normal.

Tahap 2 : gondok endemik dengan ekskresi yodium dalam urine rata-rata 25-50 µg/gr

kreatinim pada kondisi ini sekresi hormone tiroid boleh jadi tidak cukup,

sehingga menanggung risiko hipotiroidisme, tetapi tidak sampai ke

kreatinisme.

Tahap 3 : gondok endemik dengan rata-rata ekskresi yodium dalam urine kurang dari 25

mg/gr kreatinim. Pada kondisi ini populasi memiliki resiko menderita

kreatinisme (Andi Hakim Nasution, 1988)

Nilai normal hasil pemeriksaan laboratorium secara lengkap dapat dilihat pada lampiran 18.

KEUNGGULAN DAN KELEMAHAN PEMERIKSAAN BIOKIMIA

Keunggulan Pemeriksaan

 Pemeriksaan klinis relatif murah tidak memerlukan biatya terlalu besar

 Dalam pelaksanaannya, pemeriksaan tidak memerlukan tenaga khusus terapi, tenaga

paramedis bisa dilatih

 Sederhana, cepat, dan mudah diinterpretasikan

 Tidak memerlukan peralatan yang rumit

69
Keterbatasan Pemeriksaan

 Beberapa gejala klinis tidak mudah dideteksi, sehingga perlu orang-orang yang ahli

dalam menentukan gejala klinik tersebut. Namun demikian, para tenaga medis dapat

dilatih untuk melakukan pemeriksaan klinis.

 Gejala klinis tidak bersifat spesifik, terutama pada penderita KEP ringan dan sedang.

Hal ini dikarenakan ada gejala klinik penyakit yang disebabkan oleh kekurangan gizi

lebih dari satu zat gizi. Gejala klinis yang sama adakalanya disebabkan bukan hanya

disebabkan oleh satu macam zat gizi saja

4.2.4 PEMERIKSAAN BIOFISIK

Penilaian secara biofisik dapat dilakukan melalui tiga cara yaitu uji radiologi, tes

fungsi fisik, dan sitologi.

A. PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Metode ini umumnya jarang dilakukan di lapangan. Metode ini dilakukan dengan

melihat tanda-tanda fisik dan keadaankeadaan tertentu seperti riketsia,

osteomalasia, fluorosis dan beri-beri. Penggunaan metode ini adalah pada survei

yang sifatnya retrospektif dari pengukurankurang gizi seperti riketsia dan KEP

dini.

Tabel 7-1. Tanda-Tanda Khas berbagai Jenis Penyakit

Jenis Penyakit Tanda-Tanda Khas

Riketsia Pelebaran tulang lengan dan tulang pinggul

Osteomalasia Kelainan bentuk dan merapuhnya tulang, khususnya tulang pinggul

70
Sariawan (bayi) Menurunnya keadaan tulang, proses pengapuran (calcification)

terutama pada lutut

Beri-beri Pemebsaran jantung

Fluorosis Peningkatan pengerasan tulang, pengapuran, dan perubahan bentuk

tulang belakang

B. TES FUNGSI FISIK

Tujuan utama dari tes biofisik adalah untuk mengukur perubahan fungsi yang

dihubungkan dengan ketidakcukupan gizi. Metode ini tidak praktis dilakukan di

lapangan. Beberapa tes yang digunakan adalah :

 Ketajaman penglihatan

 Adaptasi mata pada suasana gelap

 Penampilan fisik

 Koordinasi otot dan lainnya.

Diantara tes tersebut di atas, yang paling sering digunakan adalah tes adaptasi pada

ruangan gelap. Tes ini untuk mengukur kelainan buta senja yang diakibatkan oleh

kekurangan vitamin A. metode ini mempunyai beberapa kelemahan sebagai berikut :

8. Tidak spesifik untuk mengukur kekurangan vitamin A, karena ada faktor lain yang ikut

mempengaruhinya

9. Sulit dilakukan

10. Tidak objektif

Metode ini akan lebih berguna apabila dilakukan di daerah epidemis kekurangan vitamin

A (buta senja)

71
C. TES SITOLOGI

Tes ini digunakan untuk menilai keadaan KEP berat. Seperti yang disarankan oleh

Sguires (1965), pemeriksaan ini dilakukan dengan melihat noda pada epitel (stained

epithelial smears) dari mukosa oral. Hasil dari penelitian pada binatang dan anak KEP

menunjukkan bahwa persentase perubahan sel meningkat pada tingkatan KEP dini.

72
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Kesimpulan yang bisa diambil dari makalah tentang “Pemeriksaan klinis, biokimia,

dan biofisik” yaitu bahwa sangat penting mengetahui tentang macam-macam pemeriksaan,

sehingga nantinya bila mengalami penyakit atau gangguan akibat kekurangan atau kelebihan

gizi, maka bisa diketahui jenis pemeriksaan mana yang harus dipakai untuk memeriksa

penyakit tersebut.

3.2 SARAN

Sebaiknya pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik bisa terus ditingkatkan lagi metode

dan cara pemeriksaannya, sehingga ke depannya bisa lebih optimal dan banyak penyakit yang

bisa diperiksa dengan menggunakan pemeriksaan klinis, biokimia, dan biofisik.

73
DAFTAR PUSTAKA

Supariasa, dkk. 2012. Penilaian Status Gizi (Edisi Revisi). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC.

Pakar Gizi Indonesia. 2016. Ilmu Gizi: Teori & Aplikasi. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran

EGC

Almatsier, 2006 yang dikutip oleh Simarmata, 2009

Departemen Kesehatan RI, 1999

Depkes, 1991, Petunjuk Pemeriksaan Laboratorium Puskesmas,Jakarta,Depkes

74