Anda di halaman 1dari 120

BAB I

PRNDAHULUAN

1. Latar Belakang

Pajak merupakan salah satu sumber penerimaan negara yang

berlaku,baik di Timur Leste maupun di Indonesia. Peranan pajak pada

dasarnya berbeda antara satu negara dengan lainnya. Hal ini dipengaruhi

serta jumlah penduduk yang berdomisili dalam negara tersebut.

Dalam konteks Timur Lesta dan Indonesia, untuk menemukan benang

merahnya perbedaan sistem termaksud, tentunya harus melalui suatu studi

perbandingan. Ruang lingkup studi perbandingan yang dimaksudkan adalah

perbandingan sistem pajak penghasilan antara Timor Leste dan Indonesia.

Studi ini berawal dari analisis terhadap Undang-Undang Pajak Penghasilan

masing-masing Negara dan sejarah sebelum Timor Leste merdeka. Oleh

karena melalui pendekatan sejarah, selanjutnya bisa sistem pajak penghasilan

yang dianut oleh masing- masing negara. Seperti telah diketahui bahwa selama 24

tahun Timor Leste menjadi propinsi yang ke 27 negara Kesatuan Republik

Indonesia (NKRI). Sejarah masuknya Timor Leste ke Indonesia melalui proses

Integrasi.

Namun proses integrasi itu menimbulkan penafsiran yang

berdampak pada konflik berkepanjangan antara satu kelompok dengan

kelompok lain pada negara bekas jajahan Portugues tersebut. Untuk

mengakhiri konflik perang saudara itu adalah melalui proses jajak

pendapat (referendum) yang dimediasi oleh Misi Perserikatan Bangsa-


Bangsa (PBB) pada tanggal 30 Agustus 1999, yang mana 78,5% dari

masyarakat Timor Leste memilih merdeka, dan 21,5 %, memilih

bergabung dengan Indonesia. Dalam kurun waktu 24 tahun tersebut,

secara otomatis Timor Leste telah menjalankan program tax reform yang

pertama tahun 1983 dan taxreform kedua tahun 1994.

Secara umum reformasi pajak menurut Gunadi (dalam Abdul

Rahman, hal 207) menyatakan bahwa : pajak itu mengikuti fenomena

kehidupan sosial ekonomi masyarakat. Di setiap perubahan kehidupan

sosial perekonomian masyarakat maka sudah sepantasnya pajak harus

mengadakan reformasi.

Di Indonesia, reformasi perpajakan berawal dari tahun 1980-an,

yang merupakan saat dimana terjadi guncangan dalam anggaran negara.

Penyebabnya adalah terjadi penurunan drastis harga minyak bumi dan gas

alam di pasar internasional. Oleh karena penerimaan dari minyak bumi dan

gas alam, sebagai sumber utama penerimaan negara saat itu sangat sulit

diprediksi untuk pengamanan penerimaan dan berkesinambungannya.

Dari aspek anggaran, bila penerimaan andalan dari migas tetap

dipertahankan saat itu, maka akan merusak tatanan dan struktur

penerimaan negara pada Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN).

Untuk itu pemerintah segera mengambil kebijakan dengan

melakukan reposisi andalan bagi penerimaan negara dari minyak bumi dan

gas alam (migas) menjadi dari pajak. Untuk mendukung reposisi

penerimaan andalan ini, agar berjalan dengan baik, maka dilakukan


berbagai langkah perubahan pada sektor perpajakan terutama yang bersifat

fundamental. Dalam rangka membangun fondasi perpajakan yang baik

sebagai sumber penerimaan negara yang layak dan dapat diandalkan, maka

pijakannya adalah melakukan pembaruan sistem perpajakan nasional

melalui reformasi perpajakan.

Kaitannya dengan kebijakan pemerintah di atas maka dapat

dipastikan, bahwa peran pajak bagi tiap negara pada dasarnya berbeda

antara satu negara dengan negara lainnya, yang mana dipengaruhi oleh

sistem perpajakan yang dianut, kemajuan, perekonomian, politik, dan

pemerintahan dari negara yang menerapkannya. Seiring dengan uraian di

atas, dapat digaris bawahi bahwa dari sisi sejarah, Timor Leste

mengadopsi sistem pajak penghasilan yang dianut oleh Indonesia, namun

di lain sisi, dapat disesuaikan pula dengan perkembangan kemajuan

perekonomian, kebijakan politik, dan sistem pemrintahan yang ada. Hal

ini menyebabkan pengimplementasian sistem pajak penghasilan, yang

dianut oleh Timor Leste pun, banyak yang sama, tetapi pasti ada juga

perbedaannya.

Dengan pijakan dua sisi tersebut di atas, maka penulis termotivasi

untuk memilih judul” Perbandingan sistem pajak Penghasilan antara

Timor Leste dan Indonesia. Persamaan dalam sistem pajak penghasilan

dapat dilihat pada Pasal 165 UUD Republik Demokratika Timor Leste

(RDTL), yang menyebutkan bahwa : “Undang-undang dan peraturan-

peraturan yang berlaku di Timor Leste sebelumnya, akan tetap berlaku


berkaitan dengan semua hal kecuali bila bertentangan dengan UUD atau

asas-asas yang terkandung di dalamnya”. Artinya ada landasan resmi bagi

pemerintah Timor Leste untuk menggunakan hukum Pajak Penghasilan

Indonesia guna mengisi ke vacuman hukum pajak di Timor Leste, untuk

melakukan pemungutan pajak, sepanjang masih tidak bertentangan

dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku di Timor Leste, atau

sepanjang Timor Leste belum memiliki UU PPh secara lengkap sesuai

dengan kebutuhan.

Disadari bahwa pada area Perpajakan Timor Leste, peraturan

perundang-undangan yang dirancang bangun belum cukup untuk

dipergunakan dalam pemungutan pajak beserta aktivitas lain yang

berkaitan. Keterbatasan ini memberi peluang kepada wajib pajak untuk

melakukan penghindaran, terhadap pemenuhan kewajibannya.

Untuk mempertegas alasan memilih judul ini, berawal dari sumber

segala sumber hukum yaitu berlandaskan pada Pasal-pasal yang mengatur

tentang perpajakan di Indonesia dan Timor Leste, yang tertuang dalam

UUD 1945 dan UUD Republik Demokratik Timor Leste (RDTL). Di

Timor Leste di atur dalam Pasal 144 UUD RDTL, yang menyebutkan : 1)

negara harus menetapkan suatu sistem perpajakan yang bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan keuangan negara serta pembagian penghasilan dan

kekayaan negara secara adil; 2) Sistem Perpajakan akan ditetapkan

dengan undang-undang yang menentukan kewajiban membayar pajak,

keuntungan yang di dapat dari pajak dan jaminan bagi para wajib pajak.
Pada ayat (2) ini, memberikan amanat bahwa sistem perpajakan yang

dipergunakan harus ditetapkan dengan undang-undang, agar bisa

menjamin pelaksanaan hak dan kewajiban wajib pajak maupun fiskus.

Sedangkan di Indonesia di atur dalam pasal 23A UUD 1945

menyebutkan bahwa : “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa

untuk keperluan Negara di atur dengan undang-undang”.

Berdasarkan Pasal-pasal dalam Undang-Undang Dasar (UUD) di

atas, maka lahirlah undang-undang perpajakan, yang dapat disesuaikan

dengan kebutuhan dan kondisi real pada masing-masing negara.

Selanjutnya dalam undang-undang tersebut akan ditentukan sistem pajak

penghasilan yang akan diberlakukan. Berpijak pada itu yang dapat

diangkat sebagai isu utama dalam penelitian ini adalah, melakukan

perbandingan sistem pajak penghasilan.

Sistem adalah suatu rangkaian bagian-bagian atau sub sistem yang

saling berhubungan dan bergantung sedemikian rupa sehingga interaksi

dan saling pengaruh dari satu bagian akan mempengaruhi keseluruhan.

Sedangkan sebagai bahan perbandingannya adalah terfokus pada

apa yang menjadi perbedaan dan persamaan terhadap sub- subsistem pajak

penghasilan antara Timor Leste dan Indonesia, beserta kelebihan dan

kekurangan yang terkandung di dalamnya. Adapun sub-subsistem tersebur

antara lain; 1) Tata cara pemungutan pajak; 2) wajib pajak; 3) fungsi pajak;

4) Tarif pajak; 6) Timbul dan hapusnya utang pajak; 7) Metode

penyusutan; 8) penghasilan tidak kena pajak.


Melalui perubahan UU PPh maka dapat memodernisasikan

perpajakan, perubahan pengelolaan pajak sangat penting dan konstruktif

untuk memenuhi tuntutan berbagai pihak sebagai pemangku kepentingan.

Modernisasi perpajakan yang dilakukan dalam rangka melaksanakan good

governance, clean governance dan pelayanan prima kepada masyarakat

sebagai wajib pajak di dalam pemenuhan kewajibannya,

yang lebih adil dan transparan.

Untuk membangun fondasi perpajakan yang baik sebagai sumber

penerimaan negara yang layak dan dapat di andalkan, maka sudah menjadi

keharusan pemerintah melalui pembaruan sistem perpajakan nasional

seperti yang dilakukan oleh Indonesia yaitu dimulai dengan reformasi

perpajakan (tax reform). Adapun perubahan UU PPh tersebut, adalah : (1)

Undang-undang No. 7 Th. 1983 tentang pajak penghasilan; (2) Undang-

undang No. 10 Th. 1994 tentang Pajak penghasilan; (3) Undang-undang

No. 17 Th. 2000 tentang pajak penghasilan; dan (4) Undang- undang No.

36 Th. 2008 tentang Pajak penghasilan. Penjelasannya sebagai berikut :

1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1983

tentang Pajak penghasilan

Pembaruan Undang-undang pajak penghasilan ini dapat dilakukan,

karena undang-undang sebelumnya dipandang sudah tidak

akomodatif lagi, dan tidak sesuai terhadap perkembangan

perekonomian nasional Indonesia. Dilakukan perubahan atas sistem


perpajakan untuk penetapan dan pemungutan pajak, yakni dari

official assessment ke self assessment yang dalam implementasinya

dilaksanakan bersama-sama dengan withholding system. Official

assessment system adalah suatu sistem pemungutan pajak di mana

besarnya pajak yang harus dilunasi atau pajak yang terutang oleh

wajib pajak ditentukan oleh fiscus (dalam hal ini wajib pajak bersifat

pasif). Sedangkan self assessment system adalah suatu sistem

pemungutan pajak di mana wewenang sepenuhnya untuk

menghitung besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak

diserahkan oleh fiscus kepada wajib pajak yang bersangkutan,

sehingga dengan sistem baru ini wajib pajak harus aktif untuk

menghitung, menyetor, dan melaporkan kepada kantor pelayanan

pajak. Sementara withholding system adalah suatu cara pemungutan

pajak yang memberikan wewenang kepada pihak ketiga untuk

memungut/memotong besarnya pajak yang terutang (wajib pajak

dan fiscus bersifat pasif). Dengan ulasan di atas dapat terlihat ada

pergeseran fungsi dan tugas dari fiscus yang sebelumnya aktif

menjadi pasif. Artinya pada self assessment system ini fiscus hanya

melakukan pengawasan terhadap segala aktivitas wajib pajak yang

kaitannya dengan kewajiban pemenuhan membayar pajak.

Adapun beberapa hal penting pada bagian

menimbang undang-undang ini seperti berikut :


a. Sistem perpajakan yang merupakan dasar pelaksanaan

pemungutan pajak tidak sesuai lagi dengan tingkat

pertumbuhan ekonomi dan kehidupan sosial masyarakat

Indonesia, baik dalam kegotongroyongan nasional

maupun dalam menunjang pembiayaan pembangunan.

Ini sejalan dengan pasal 33 ayat (1) UUD 1945, yang

disebutkan bahwa : perekonomian disusun sebagai usaha

bersama berdasarkan atas asas kekeluargaan. Asas ini di

landasi dengan upaya perberdayaan perekonomian

nasional yang diselenggarakan berdasar atas demokrasi

ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi

berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan

kemandirian, keseimbangan kemajuan dan kesatuan

ekonomi nasional untuk kesejahteraan seluruh rakyat

Indonesia.

b. Undang-undang tersebut harus perbaharui dan

disesuaikan dengan Pancasila dan Undang- Undang

Dasar 1945. Dapat dimaknai bahwa sebelum

direformasi, UU perpajakan Indonesia, merupakan

peninggalan dari penjajah yang tentunya tidak sesuai

dengan jiwa bangsa Indonesia. Dengan demikian harus

disesuaikan, terutama dengan Pancasila sebagai falsafah

bangsa dan sekaligus sebagai falsafah pajak. Karena


negara Indonesia mempunyai falsafah negara yang

disebut Pancasila, maka dengan sendirinya falsafah

pajak bersandar pada Pancasila dan tidak boleh

bertentangan dengan Pancasila, bahkan Pancasila harus

dijabarkan dalam peraturan perpajakan. Pancasila dalam

sila kelima menyebutkan : Keadilan sosial bagi seluruh

rakyat Indonesia. Melalui falsafah hidup seluruh rakyat

Indonesia ini, masyarakat diharapkan semakin lancar

dalam membayar pajak. Karena yang mereka lakukan

adalah untuk kepentingan seluruh lapisan masyarakat

Indonesia. Artinya pajak hanya ada dalam masyarakat,

dan pajak sudah ada sejak masyarakat ada, dengan

demikian masyarakat mempunyai tujuan yang sama,

yaitu untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

c. Undang-undang ini belum sepenuhnya dapat

menggerakkan peran serta semua lapisan subyek pajak

dalam peningkatan penerimaan Negara yang sangat

diperlukan guna mewujudkan kelangsungan dan

peningkatan pembangunan dalam rangka memperkokoh

ketahanan nasional. Subyek PPh di atur dalam pasal 2

dan 3 UU PPh. Yang menjadi subyek pajak :1) orang

pribadi dan warisan yang belum terbagi sebagai satu

kesatuan mengganti yang berhak; 2) Badan; 3) Bentuk


Usaha Tetap. Subyek pajak dapat dikategorikan menjadi

subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar negeri.

Subyek pajak dalam negeri adalah; a) orang pribadi yang

bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari, dalam

jangka waktun12 bulan, atau pribadi yang berniat untuk

bertempat tinggal di Indonesia; b) badan yang didirikan

atau bertempat kedudukan di indonesia; c) Warisan yang

belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang

berhak. Sedang subyek pajak luar negeri adalah ; a)

orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia tidak

lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12 bulan, dan

badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat

kedudukan di Indonesia yang menjalankan usaha melalui

bentuk usaha tetap di Indonesia; b) orang pribadi yang

tidak betempat tinggal di Indonesia atau berada di

Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu

12 bulan, dan badan yang tidak didirikan dan tidak

bertempat kedudukan di Indonesia yang dapat menerima

atau memperoleh penghasilan dari Indonesia bukan dari

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui

bentuk usaha tetap di Indonesia.

d. Pada umumnya pajak perseroan, pajak pendapatan, dan

pajak atas bunga, dividen dan royalty yang berlaku, perlu


diperbaharui dan disesuaikan sehingga lebih

memberikan kepastian, sederhana, mudah

pelaksanaannya, serta lebih adil dan merata. Apabila

dilihat dari sejarah perkembangannya, PPh merupakan

hasil penyederhanaan terhadap berbagai jenis pajak

sejenis yang telah ada pada sebelum tahun 1984, seperti

disebutkan di atas. Kemudian digabungkan ke dalam

pajak penghasilan pada saat reformasi pertama UU

perpajakan Indonesia. UU ini menyederhanakan struktur

pajak, seperti jenis-jenis pajak, tarif dan cara pemenuhan

kewajiban pajak. Tarif pajak ditetapkan secara wajar

berdasarkan prinsip-prinsip pemerataan dalam

pemungutan pajak dan keadilan dalam pembebanan

pajak. Tujuan dari penyederhanaan ini adalah untuk

mempermudah masyarakat mempelajari, memahami dan

mematuhinya. Struktur tarif disederhanakan dan bersifat

progresif, artinya semakin tinggi penghasilan semakin

tinggi persentase tarif pajak. Kebaikan- kebaikan tarif

progresif ini adalah; a) Sederhana artinya bagi wajib

pajak mudah untuk menghitung. Tidak ada lagi

perbedaan tarif dengan wajib pajak badan; b) Keadilan

dan pemerataan beban, yaitu pemberlakuan tarif yang


sama terhadap penghasilan yang sama dari manapun

diperoleh.

2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1994,


tentang Perubahan Kedua Atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan.

Pada reformasi kedua undang-undang perpajakan ini,

merupakan kelanjutan dan penyempurnaan reformasi pertama. Hal

ini dapat dicermati pada penjelasan umum UU tersebut, terutama

mengenai prinsip kepastian hukum, keadilan dan kesederhanaan,

maka arah dan tujuan penyempurnaannya sebagai berikut : a)

menuju kemandirian bangsa dalam pembiayaan pembangunan yang

sumber utamanya berasal dari penerimaan pajak; b) Lebih

memberikan kepastian hukum dan keadilan bagi masyarakat dalam

berpartisipasi, dalam pembiayaan pembangunan sesuai dengan

kemampuannya; c) menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam

rangka meningkatkan pertumbuhan, pemerataan pembangunan, dan

investasi di seluruh wilayah RI ; d) menunjang peningkatan usaha

ekspor, terutama ekspor non migas, barang hasil olahan dan jasa-

jasa dalam rangka meningkatkan perolehan devisa; e) menunjang

usaha pengembangan usaha kecil untuk mengoptimalkan

pengembangan potensinya, dalam rangka mengentaskan

kemiskinan; f) Menunjang usaha pengembangan sumber daya

manusia, ilmu pengetahuan dan teknologi, pelestarian ekosistem,

SDM dan lingkungan hidup; g) menunjang usaha terciptanya aparat


perpajakan makin mampu dan makin bersih, peningkatan pelayanan

kepada wajib pajak termasuk penyederhanaan dan kemudahan

prosedur dalam pemenuhan kewajiban perpajakan.

3) Undang-Undang Republik Indonesia No. 17 Tahun 2000


tentang Perubahan Ketiga UU Nomor 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan

Pada perubahan ketiga ini, berpegang pada prinsip-prinsip

perpajakan yang dianut secara universal yaitu keadilan,

kemudahan/efisiensi administrasi dan produktifitas penerimaan

negara dengan tetap mempertahankan self assessment system. Oleh

karena itu, arah dan tujuan penyempurnaan undang-undang pajak

penghasilan sbb ;

a. Lebih meningkatkan keadilan pengenaan pajak. Keadilan

yang dimaksudkan disini adalah dilihat dari dasar pengenaan

tarif pajak yang digunakan adalah tarif progrsif, dimana

didasarkan pada besar-kecilnya penghasilan yang diterima

wajib pajak.

b. Lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak. Artinya

wajib pajak, menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri

penghasilannya sesuai dengan penerimaan riil yang

sebenarnya. Disamping itu wajib pajak juga proaktif

memperoleh informasi yang berkaitan dengan kewajiban

membayar pajak.
c. Menunjang kebijaksanaan pemerintah dalam rangka

meningkatkan investasi langsung di Indonesia baik

penanaman modal asing maupun penanaman modal dalam

negeri di bidang-bidang usaha tertentu dan daerah-daerah

tertentu yang mendapat prioritas. Dengan meningkatkan

investasi seperti itu maka secara tidak langsung, dapat

membantu beban pemerintah mengatasi masalah

penggangurang, dan mengurangi urbanisasi yang dari waktu

ke waktu memadati kota-kota besar untuk mencari

pekerjaan.

4) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2008,


tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 7
Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan

Pada perubahan keempat ini, tujuan utamanya adalah upaya

mengamankan penerimaan negara yang semakin meningkat,

mewujudkan sistem perpajakan yang netral, sederhana, stabil, lebih

memberikan keadilan dan lebih dapat menciptakan kepastian hukum

serta transparansi. Dengan berlandaskan pada arah dan tujuan

tersebut, maka dalam penjelasan umum perubahan pajak

penghasilan ini, menguraikan hal-hal pokok meliputi:

a. Dalam rangka meningkatkan keadilan pengenaan pajak

maka dilakukan perluasan subjek dan obyek pajak dalam


hal-hal tetentu dan pembatasan pengecualian atau

pembebasan pajak dalam hal lainnya;

b. Dalam rangka meningkatkan daya saing dengan negara-

negara lain, mengedepankan prinsip keadilan dan netralitas

dalam penetapan tarif dan mendorong perkembangan usaha-

usaha kecil;

c. Untuk lebih memberikan kemudahan kepada wajib pajak,

self assessment system tetap dipertahankan dan diperbaik,

terutama pada sistem pelaporan dan prosedur pembayaran

pajak dalam tahun berjalan agar tidak menyulitkan wajib

pajak untuk lebih menyesuaikan perkiraan pajak yang akan

terutang.

Kebijakan pemerintah melakukan reposisi, yang

pada akhirnya bermuara pada perubahan undang-undang

pajak penghasilan mulai dari perubahan pertama sampai

keempat, adalah bertujuan untuk meningkatkan penghasilan

untuk kemakmuran rakyat bersama. Hal ini sejalan dengan

fungsi pajak budgeter, yakni sebagai alat utama untuk

memasukkan uang ke dalam kas negara yang sangat

diperlukan untuk membiayai pengeluaran negara.9 UU No

36 tahun 2008, tentang Pajak Penghasilan dibuat terutama

dengan maksud untuk memasukkan uang ke dalam kas

negara. Walaupun di sadari masih ada fungsi pajak lain yakni


fungsi mengatur. Tapi fungsi mengatur itu hanya sebagai

sampingan saja, yaitu sebagai instrumen bagi pemerintah,

seperti untuk menarik modal asing dan modal domestik

dalam investasi yang mendapat prioritas dalam

pembangunan.

Setelah menguraikan perubahan undang- undang

pajak penghasilan Indonesia sampai yang keempat kalinya,

maka langkah berikutnya adalah menguraikan undang-

undang pajak penghasilan Timor Leste sebagai berikut.

5) Undang-undang No. 18 Tahun 2000 tentang Sistem


Perpajakan Timor Leste
Dalam undang-undang ini, sistem pemungutan pajak yang

digunakan di Timor Leste untuk memungut pajak adalah self

assessment system, yang dalam implementasinya bersama-sama

dengan Withholding system. Secara historis sistem ini diadopsi dari

Indonesia, yang dilandaskan pada pasal 165 UUD RDTL yang

disebutkan bahwa : “Undang- undang dan peraturan-peraturan yang

berlaku di Timor Leste sebelumnya, akan tetap berlaku berkaitan

dengan semua hal kecuali bila bertentangan dengan UUD atau asas-

asas yang terkandung di dalamnya”. Oleh karena tidak ada

pertentangan yang signifikan, maka self assessment system dapat


diimplementasikan di Timor Leste, bersamaan dengan

withholding system. Dalam pelaksanaan undang-undang ini,

menggunakan tarif progresif, sehingga lebih mengarah pada

keadilan.

6) Undang-undang RDTL No. 8 tahun 2008 tentang Pajak dan


Pabean

Undang - undang ini merupakan penyempurnaan dari UU

No. 18 Tahun 2000, tentang Sistem Perpajakan Timor Leste, yang

pada prinsipnya menyangkut tiga hal pada bagian menimbang

sebagai tujuan perubahan, terutama hanya terfokus pada tarif

pajaknya, seperti berikut :

a. Berupaya memberikan keringanan beban fiscal kepada

pajak Non Migas. Maksudnya adalah dengan perubahan

tersebut, pemerintah telah mengambil kebijakan untuk

merubah ; 1) tarif dari progresif menjadi proporsional.

Ini menganut asas kesederhanaan, akan tetapi

bertentangan dengan asas keadilan; 2) menghapus bunga

bank dan dividen; 3) menurunkan tarif beberapa jenis

pajak; 4) Tarif pajak progresif berlaku untuk Migas dan

tarif pajak proporsional berlaku untuk Non migas.

b. Memprioritaskan kenetralan sistem pajak. Pada point ini,

merupakan suatu penetapan tarif sampai diberlakukan

bersifat netral pada semua wajib pajak, sesuai dengan


ketentuan undang- undang perpajakan yang sedang

berlaku, dan tidak menimbulkan diskrimanasi.

c. Terfokus pada keadilan pajak dan konsensus antara

wajib pajak dan masyarakat secara menyeluruh.

Keadilan merupakan bagian integral dari pengelolaan

pajak, yang berarti keadilan dalam bertindak. Bersikap

adil merupakan elemen yang tampak paling nyata dan

selalu menjadi tolak ukur bagi pembayar pajak dalam

penilaian kualitas dari undang-undang perpajakan itu

sendiri. Berkaitan dengan itu, proses untuk menentukan

perubahan tentunya melalui Parlemen nasional, yang

merupakan wakil rakyat. Dengan demikian keputusan

apapun yang telah ditetapkan melalui mayoritas anggota

Parlemen Nasional sudah merupakan keputusan yang

adil bagi rakyat. Hanya saja bila dicermati kembali fokus

keadilan yang dimaksud adalah baru sampai pada

perubahan tarif pajak yang sebelumnya hanya

menggunakan tarif progresif, dirubah menjadi tarif

progresif diimplementasikan pada pajak migas dan tarif

proporsional diimplementasikan untuk pajak Non Migas.

Kaitannya dengan itu, maka peran pajak dalam keuangan

negara, bagi Timor Leste saat ini, belum menitik beratkan pada

sektor pajak penghasilan sebagai sumber andalan dalam


pembangunan nasional, melainkan hanya sebagai dana pendukung

dalam pelayanan pemerintahan.

Memperhatikan uraian secara detail perubahan Undang-

undang pajak penghasilan kedua negara di atas terdapat beberapa hal

antara lain :

1) Untuk Indonesia, pertama kali, pajak dapat diandalkan

pada area minyak bumi dan gas alam, dalam mengisi

APBN setiap tahun. Akan tetapi hal ini megalami

perubahan, beralih ke pajak Non migas tahun 1983, dan

menggunakan tarif progresif. Sementara Timor Leste

juga sebelum perubahan undang-undang pajak

penghasilan hanya menerapkan tarif progresif.

2) Perubahan undang-undang pajak penghasilan Indonesia

dari waktu ke waktu lebih mengarah ke penyempurnaan

dengan tujuan untuk meningkatkan penerimaan Negara

yang kemudian memasukkan uang ke dalam kas Negara,

guna dialokasikan kembali untuk pembangunan

nasional. Sedangkan Timor Leste baru sekali ada

perubahan. Dimana perubahan dari tarif progresif

menjadi tarif ganda, yaitu tarif progresif diberlakukan

untuk pajak migas, dan tarif proporsional dapat

diberlakukan untuk pajak non migas. Dengan demikian

perubahan di Timor Leste bukan mengacu pada


penyempurnaan, melainkan mengacu pada kerumitan,

dalam pelaksanaan.

3) Bagi Indonesia peran pajak adalah sangat penting untuk

diandalkan menjadi sumber pendanaan dalam

pembangunan nasional. Sedangkan bagi Timor Leste,

untuk sementara pajak belum diandalkan sebagai sumber

pembangunan nasional, melainkan lebih mengandalkan

hasil pembagian minyak bumi dan gas alam antara Timor

Leste dan Australia.

4) Indonesia lebih mengutamakan fungsi pajak Anggaran,

sementara Timor Leste menggunakan fungsi pajak

mengatur.

5) Untuk Indonesia UU PPh adalah hukum material

dipisahkan dari hukum formal (KUP), sedangkan Timor

Leste hukum material dan formalnya dijadikan satu

dalam UU pajak penghasilan.


2. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, dapat dirumuskan

permasalahan sebagai berikut :

1. Bagaimana perbandingan sistem pajak penghasilan antara Timor Leste

dan Indonesia ?

3. Tujuan

Adapun tujuan utama yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah

sebagai berikut :

Untuk mendeskripsikan Perbedaan dan persamaan serta kekurangan

dan kelebihan sistem pajak penghasilan antara Indonesia dan Timor Leste,

yaitu meliputi landasan yuridis, tata cara pemungutan pajak, timbul dan

hapusnya utang pajak, tarif yang dipergunakan, Penghasilan Tidak Kena

Pajak (PTKP), fungsi pajak, wajib pajak, dan penyusutan yang digunakan.
BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian Pajak Dan Penghasilan

1. Pengertian Pajak

Definisi hukum pajak, menurut para Ahli mempunyai pendapat yang

berbeda-beda sesuai dengan perspektifnya masing-masing di antaranya

seperti berikut :

 P.J. A. Adriani

Pajak adalah iuran masyarakat kepada Negara (yang dapat dipaksakan)

yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-

peraturan umum (undang-undang) dengan tidak mendapat prestasi

kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk

membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugas negara

untuk menyelenggarakan pemerintahan.

 Adam Smith

Pajak memiliki dua aspek yang berbeda. Pertama, aspek

pengambilalihan; hukum pajak menyediakan instrument khusus bagi

Negara agar dapat memaksa warga negaranya untuk membayar pajak.

Kedua adalah aspek kontribusi, selaku bagian dari komunitas, maka

sesama warga negara saling berbagai pengeluaran.


 Soeparman Soemahamidjaja

Pajak adalah iuran wajib berupa uang atau barang, yang dipungut oleh

penguasa berdasarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya

produksi barang-barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai

kesejateraan umum.

 Rochmat Soemitro

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan Undang-

undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal

balik (kontra prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang

digunakan untuk membayar pengeluaran umum. Definisi tersebut

kemudian dikoreksinya yang berbunyi sebagai berikut : Pajak adalah

peralihan kekayaan dari pihak rakyat kepada kas negara untuk

membiayai pengeluaran rutin dan surplusnya digunakan untuk publik

saving yang merupakan sumber utama untuk membiayai publik

investment.

 Rismky K. Judiseno

Pajak adalah suatu kewajiban kenegaraan berupa pengabdian serta

peran aktif warga negara dan anggota masyarakat lainnya untuk

membiayai berbagai keperluan negara berupa pembangunan nasional

yang pelaksanaannya di atur dalam undang-Undang dan peraturan-

peraturan untuk tujuan kesejahteraan bangsa dan negara.


Oleh karena pajak adalah pungutan paksa yang dilakukan

pemerintah terhadap wajib pajak yang tidak ada kontraprestasi secara

langsung. Atas tidak ada kontra prestasi secara langsung, maka suatu

pajak harus memenuhi asas-asas sebagai berikut ;

a. Asas legalitas; yaitu mempunyai makna bahwa setiap pemungutan

harus di dasarkan pada undang-undang pajak penghasilan sedang

berlaku;

b. Asas kepastian hukum, artinya bahwa ketentuan perpajakan tidak

boleh menimbulkan keragu- raguan, harus jelas dan mempunyai

suatu pengertian sehingga tidak menimbulkan celah, untuk

menafsirkan makna ganda. Unsur-unsur yang perlu diperhatikan

dalam kaitannya dengan kepastian hukum adalah mengenai materi

obyek pajak, subyek pajak, tempat, waktu, pendefinisian,

penyempitan atau perluasan makna, penggunaan bahasa hukum dan

penggunaan istilah-istilah baku;

c. Asas efisien, adalah pajak dipungut dari masyarakat yang kemudian

digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan administrasi

pemerintahan dan pembangunan, Oleh karena itu suatu jenis

pungutan pajak harus efisien, artinya biaya yang digunakan dengan

pajak yang masuk minimal harus terjadi keseimbangan, bahkan

diharapkan pemasukkan harus lebih besar dari pengeluaran biaya.

d. Asas non distorsi, berarti bahwa pajak harus tidak menimbulkan

distorsi dalam masyarakat sebagai wajib pajak ;


e. Asas sederhana, bahwa aturan-aturan pajak harus sederhana

sehingga mudah di mengerti, baik oleh fiskus, maupun oleh wajib

pajak. Aturan-aturan yang kompleks disamping akan menyulitkan

bagi pelaksanaan perpajakan, juga dapat ditafsirkan ganda sehingga

dapat menimbulkan celah-celah;

f. Asas adil, terutama berarti bahwa alokasi beban pajak pada berbagai

golongan masyarakat harus mencerminkan keadilan. Ada dua

kriteria yang lazim digunakan antara lain; pertama, adalah

kemampuan membayar dari wajib pajak (ability to pay).

Berdasarkan kriteria ini maka alokasi beban pajak di katakan adil

apabila seseorang yang mempunyai kemampuan membayar lebih

tinggi dikenakan proporsi beban pajak yang lebih tinggi; kedua,

prinsip benefit yaitu benefit yang diperoleh wajib pajak dari jasa-

jasa publik yang diberikan oleh pemerintah. Berdasarkan kriteria ini,

maka pajak dikatakan adil apabila seseorang yang memperoleh

kenikmatan lebih besar dari jasa-jasa public yang dihasilkan oleh

pemerintah dikenakan proporsi beban yang lebih besar.

Dari pendapat para pakar di atas dapat disimpulkan bahwa

beberapa hal penting yang terdapat pada pengertian pajak tersebut,

yaitu :

a. Iuran yang dapat dipaksakan, artinya iuran yang mau tidak mau

harus di bayar oleh rakyat yang dikenakan kewajiban membayar

iuran tersebut. Kalau rakyat atau badan hukum yang oleh


pemerintah dikenakan kewajiban membayar iuran tersebut

(lazim disebut wajib pajak) tidak melaksanakan pembayaran

tersebut, maka wajib pajak yang bersangkutan dapat di kenakan

tindakan hukum oleh pemerintah berdasarkan undang-undang

berlaku;

b. Tanpa jasa kontra prestasi/imbalan langsung, yang dapat

ditunjukkan mengandung arti bahwa wajib pajak yang

membayar iuran kepada Negara tidak ditunjukkan secara

langsung imbalan apa yang diperolehnya dari pemerintah atas

pembayaran iuran tersebut.

c. Pajak dipungut oleh negara baik oleh pemerintah pusat maupun

pemerintah daerah berdasarkan atas Undang-Undang serta

peraturan pelaksanaannya.

d. Pemungutan pajak diperuntukkan bagi keperluan pembiayaan

umum pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi

pemerintahan, baik rutin maupun pembangunan.

2. Pengertian Penghasilan

Menurut Moenaf H. Regar, (dalam Achmad Tjahjono & Muh.

Fakhri Husein 2009 : 166). Menyebutkan bahwa : penghasilan

adalah tambahan kemampuan ekonomis dapat diartikan

sebagai potensi untuk menambah pemenuhan suatu

kebutuhan, termasuk kemampuan teknis, kemampuan


intelektual dan kemampuan fisik. Sementara berdasarkan

akuntansi, penghasilan adalah kenaikkan manfaat ekonomi

selama satu periode akuntansi dalam bentuk pemasukan atau

penambahan aktiva atau penurunan kewajiban yang

mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari

kontribusi penanaman modal.

Sedangkan pada pasal 4 ayat (1) UU PPh No. 36

Th. 2008, menyebutkan bahwa : penghasilan adalah setiap

tambahan yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang

berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Kaitannya dengan itu

maka pajak penghasilan merupakan pajak yang dikenakan terhadap

subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau diperolehnya

dalam tahun pajak. Pajak adalah peralihan kekayaan dari sektor

swasta ke sektor publik berdasarkan undang-undang yang

dipaksakan dan tidak mendapat imbalan secara langsung dapat

ditunjuk, yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan

dapat digunakan sebagai alat pendorong, penghambat atau pencegah

untuk mencapai tujuan yang ada diluar bidang keuangan Negara.23

Dilihat dari segi ekonomi, pajak dapat dilihat dari sisi mikro

ekonomi maupun dari sisi makro ekonomi. Seperti dikatakan oleh

Rochmat Soemitro, bahwa : Dari segi mikro ekonomi, pajak

mengurangi income individu, yakni mengurangi daya beli

seseorang, mengurangi kesejahteraan individu, dan mengubah pola


hidup wajib pajak.

Secara makro, pajak merupakan income bagi masyarakat

(negara) tanpa menimbulkan kewajiban pada negara terhadap wajib

pajak. Hal ini dapat ditegaskan bahwa pajak merupakan peralihan

uang (harta) dari sektor swasta/individu ke sektor pemerintah, yang

dapat mengurangi pendapatan seseorang dan sudah barang tentu

mengurangi daya beli individu dan akan berdampak besar pada

ekonomi keluarga, seperti merubah pola konsumsi. dan pola hidup

individu. Secara makro uang pajak yang diterima pemerintah

dikeluarkan lagi ke masyarakat untuk membiayai kepentingan

umum, seperti fasilitas jalan umum, sekolah, rumah sakit dan lain-

lain.

Pajak penghasilan merupakan refleksi,24 dari pernyataan

Pasal 1 UU No. 36 tahun 2008 yang menyebutkan bahwa : pajak

penghasilan dikenakan terhadap : (1) Tahun Pajak; (2) Subyek

Pajak; 3) Obyek Pajak (penghasilan) yang diterima atau di peroleh;

Berikut uraiannya

a. Tahun Pajak

Tahun pajak yang dipergunakan untuk menentukan pajak

pada dasarnya adalah tahun takwim,25 yaitu tahun yang dimulai

dari 1 januari sampai dengan 31 Desember. Namun demikian,

undang-undang memperbolehkan wajib pajak mempergunakan


tahun buku yang tidak sama dengan tahun takwim, sepanjang

tahun buku tersebut meliputi jangka waktu 12 bulan.

Undang-undang tersebut memperbolehkan wajib pajak

menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun

takwim. Akan tetapi terlebih dahulu harus memberitahukan

kepada Dirjen pajak untuk mendapatkan persetujuan lebih

lanjut. Ini sejalan dengan pasal 42 ayat (2) UU PPh No. 8 Th.

2008 tentang Pajak dan Pabean yang menyebutkan bahwa :

seorang wajib pajak diberi izin untuk menggunakan suatu tahun

pajak pengganti sesuai dengan permintaan secara tertulis

kepada Dirjen pajak guna merubah tahun wajib pajak menjadi

periode 12 bulan dalam satu tahun pajak. Lebih lanjut dapat

dikatakan bahwa Dirjen pajak dapat memberikan izin jika

permohonan tersebut disertai dengan alasan- alasan rasional

sesuai dengan keadaan wajib pajak tersebut.

b. Subyek Pajak

Subyek pajak diartikan, 26 sebagai orang yang dituju oleh

undang-undang untuk dikenakan pajak. Pajak penghasilan

dikenakan terhadap subyek pajak berkenaan dengan

penghasilan yang diterima atau diperolehnya dalam satu tahun.

Pengertian subyek pajak meliputi orang pribadi, badan dan

warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan dan Bentuk


Usaha Tetap. Subyek pajak dibedakan menjadi subyek pajak

dalam negeri dan subyek pajak luar negeri.

1. Subyek pajak dalam negeri, terdiri dari ;

a. Orang pribadi yang lahir di Indonesia, orang yang

bertempat tinggal di Indonesia lebih dari 183 hari dalam

waktu 12 bulan, orang berniat tinggal di Indonesia.

b. Badan terdiri dari; badan yang didirikan di Indonesia,

seperti PT, BUMN, BUMD, perseroan komanditer, dengan

nama dan dalam bentuk apapun, BUT adalah bentuk usaha

yang digunakan orang pribadi atau badan yang tidak

didirikan di Indonesia untuk menjalankan usaha, seperti,

cabang perusahaan, manajemen, pabrik, bengkel,

pemberian jasa dalam bentuk apapun oleh pegawai

sepanjang dilakukan lebih dari 60 hari dalam jangka waktu

12 bulan.

c. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan

menggantikan yang berhak. Oleh karena warisan adalah

kekayaan maka harus menarik pajak untuk kemakmuran

bersama.

2. Subyek pajak luar negeri, 27 terdiri dari; orang pribadi yang

tinggal di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka

waktu 12 bulan, badan yang tidak didirikan atau

berkedudukan di Indonesia yang menerima penghasilan dari


Indonesia. Untuk mempermudahpemahaman mengenai

subyek pajak tersebut dapat diuraikan dalam tabel berikut:

Tabel 1
Perbedaan dan Persamaan Subyek Pajak di
Timor Leste dan Indonesia

Perbedaan

Indikator Indonesia Timor Leste

Syarat kuantitatif Subjek orang pribadi Subyek pada orang

yang berada di pribadi yang berada di

Indonesia lebih dari 183 Timur Leste lebih dari

hari dalam waktu 12 180 hari dalam waktu 12

bulan. bulan, dianggap tetap

subyek pajak luar negeri

jika yang berangkutan

belum memenuhi syarat

kualintatif.

Definisi subyek pajak Diiraikan secara rinci Tidak diuraikan secara

sehingga mempersulit

fiskus & WP

Pasal yang mengatur Terinci di atur dalam Ditemukan dalam pasal

subyek pasal 2 UU PPh No.36 27 UU PPh No.8 Th

Th. 2008 2008, tapi mengenai

wajib pajak, tidak ada

penjelasannya.

Persamaan
Indikator Indonesia dan Timor Leste

Syarat kualitatif Subyek pajak yang berniat tinggal. Media yang

digunakan untuk mengukur niat tersebut adalah

kontrak kerja, Izin kerja tenaga kerja asing, kontrak

sewa rumah atau apatemen.

Subyek pajak dalam Adalah orang pribadi, badan, warisan yang belum

negeri terbagi dan BUT

Subyek pajak luar Orang pribadi yang tidak berada di Timoe Leste dan

negeri Indonesia, yang tidak melebihi syarat kuantitatif dan

badan hukum yang tidak didirikan di Timor Leste

dan Indonesia.

Kategori Subyek pajak Subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar

negeri

Memperhatikan tabel 1 diatas, semua item dalam kolom

tersebut adalah sama, terkecuali pada subyek pajak orang pribadi yang

di bertempat kedudukan di Timor Leste, kalaupun sudah lebih dari 180

hari dalam waktu 12 bulan, tetap di anggap subyek pajak luar negeri.

Efek dari aturan sedemikian berdampak pada ketidak pastian terhadap

subyek pajak yang berada di Timor Leste yang sudah lebih dari 180

hari dalam jangka waktu 12 bulan. Bahkan sangat mempengaruhi para

pengusaha asing untuk menanamkan modalnya di Timor Leste dalam

jangka waktu yang lama.


Sementara subyek pajak orang pribadi sesuai dengan aturan di

Indonesia, bagi orang pribadi berada di Indonesiayang sudah lebih dari 183

hari dalam jangka waktu 12 bulan, sudah otomatis sebagai subyek pajak

dalam negeri. Penerapan aturan seperti yang dilakukan oleh Indonesia,

adalah lebih memberikan kepastian hukum kepada wajib pajak yang

berdomisili di Indonesia, dalam menjalankan usahanya.

C ) Obyek Pajak

Obyek pajak adalah sasaran yang akan dikenakan pajak, dalam hal

ini yang menjadi obyek pajak adalah penghasilan. Dalam arti sempit

penghasilan di artikan sebagai gaji, keuntungan, honorarium, atau uang

lembur. Sedangkan dalam arti luas, penghasilan adalah setiap tambahan

kemampuan ekonomis yang diterima atau di peroleh subyek pajak, baik

yang berasal dari Indonesia maupun yang berasal dari luar Indonesia, yang

dapat dipakai untuk konsumsi atau untuk menambah kekayaan wajib pajak

yang bersangkutan, dengan nama dan dalam bentuk apapun.

Pengertian penghasilan di pandang dari segi mengalirnya tambahan

kemampuan ekonomis kepada wajib pajak, dapat diklasifikasikan menjadi

beberapa jenis obyek pajak penghasilan seperti berikut:

a. Penggantian atau imbalan berkenaan dengan pekerjaan atau jasa

Penghasilan yang diterima dalam hubungan kerja ini mencakup; gaji,

upah, komisi, tunjangan, honorarium, bonus, gratifikasi, uang pensiun atau

imbalan dalam bentuk lain. Sedangkan pemberian gaji atau upah dalam
bentuk atau kenikmatan harus ditentukan dengan undang-undang dan harus

memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) diberikan oleh wajib pajak dalam

negeri atau pemerintah; 2) wajib pajak telah di kenakan pajak yang

bersifat final; 3) wajib pajak menggunakan norma penghitungan pajak

dalam menghitung pajaknya.

b. Hadiah dari undian, pekerjaan, atau kegiatan dan penghargaan

Dalam pengertian ini mencakup pemberian hadiah yang diberikan, baik

dengan undian maupun tanpa undian. Ini kaitan dengan karyawan yang

berprestasi akan diberikan hadiah tanpa di undi. Demikian juga para atlet

olahragawan yang memperoleh hadiah uang atau dalam bentuk rumah,

kendaraan dan lainya akan dikenakan pajak.

c. Laba usaha

Ini merupakan penghasilan yang diperoleh dari melakukan kegiatan

usaha, yang harus dikenakan pajak.

d. Keuntungan karena penjualan atau pengalihan harta

Ada 5 bentuk keuntungan dari penjualan atau penghasilan harta antara

lain; 1) keuntungan karena pengalihan harta kepada perseroan, persekutuan

dan badan lain sebagai pengganti penyertaan modal; 2) keuntungan karena

pengalihan harta kepada pemegang saham, sekutu dan badan lainnya; 3)

keuntungan karena likuidasi, pengabungan, peleburan, pemekaran,

pemecahan dan pengambilalihan usaha; 4) keuntungan karena pengalihan

harta berupa hibah, bantuan atau sumbangan; dan 5) keuntungan karena


penjualan atau pengalihan keseluruhan atau sebagian hak penambangan dan

pembiayaan dalam perusahaan tambang.

e. Penerimaan kembali pembayaran pajak (restitusi)

Penerimaan kembali restitusi pajak (kelebihan pembayaran pajak) yang

telah diperhitungkan sebagai biaya pada saat menentukan PKP.

f. Bunga termasuk premium, diskonto, dan imbalan karena jaminan

pengembalian hutang.

Bunga adalah imbalan yang diterima sehubungan peminjaman uang

dan jaminan pengembalian hutang.

g. Dividen, dengan nama dan dalam bentuk apapun, termasuk dividen dari

perusahaan asuransi kepada para pemegang polis dan pembagian sisa

hasil usaha.

Termasuk dalam pengertian dividen adalah: 1) pembagian laba baik

secara langsung maupun tidak langsung, dengan nama dan dalam bentuk

apapun; 2) pembayaran kembali karena likuidasi yang melebihi jumlah

modal yang disetorkan; 3) pembayaran kembali seluruhnya atau sebagian

dari modal yang disetorkan; dan 4) pengeluaran perusahaan untuk keperluan

pribadi pemegang saham yang dibebankan sebagai biaya perusahaan.

h) Royalti atau imbalan atas penggunaan hak

Royalti adalah pembayarn, baik dilakukan secara berkala maupun

tidak, atas apapun namanya sehubungan dengan penggunaan atau

pemakaian hak. Pembayaran royalti ini ada tiga kelompok, yaitu

pembayaran atas penggunaan : 1) Hak atas harta tak berwujud, misalnya


hak pengarang, hak paten, merek dagang, formula atau rahasia perusahaan;

2) Hak atas harta berwujud, seperti hak atas alat- alat industry, komersial,

dan ilmu pengetahuan; dan 3) Jasa, yaitu pemberian informasi yang

diperlukan mengenai usaha dan investasi pada umumnya.

i) Sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta

Yang termasuk dalam sewa pada umumnya; 1) hasil sewa dari harta

yang merupakan modal harta perusahaan (sewa gudang & rumah); 2) hasil

penyewaan dari harta yang tidak merupakan modal harta perusahaan,

sehingga penghasilan itu merupakan penghasilan dari kegiatan perusahaan,

j) Penerimaanatau perolehan pembayaran secara berkala

Adalah tunjangan seumur hidup yang dibayarkan secara berkala, seperti

uang pension.

k) Keuntungan karena pembebasan hutang

Pembebasan piutang sebagai biayai, sedangkan pembebasan hutang

merupakan penghasilan bagi pihak semula berhutang

l) Keuntungan selisih kurs mata uang asing

Ini termasuk penghasilan yang menjadi obyek pajak penghasilan.

Dengan demikian harus dilaporkan di SPT dan dikenakan pajak tersendiri

dengan tarif progresif (pasal 17 UU PPh 2008)

m) Selisih lebih karena penilaian kembali aktiva

WP dalam negerei dan BUT dapat melakukan penilaian kembali aktiva

tetap perusahaan untuk tujuan perpajakan, dengan syarat telah memnuhi


semua kewajiban pajaknya sampai dengan masa akhir sebelum dilakukan

penilaian kembali.

n) Presmi asuransi

Premi yang diterima oleh perusahaan asuransi merupakan penghasilan

yang dikenakan pajak (obyek pajak). Premi dalam asuransi jiwa, beasiswa,

kerugian, kesehatan dan kecelakaan.

o) Tambahan kekayaan neto yang berasal dari penhasilan yang belum

dikenakan pajak.

p) Imbalan bunga

Imbalan bunga yang diterima oleh wajib pajak berkenaan dengan

pengembalian kelebihan pembayaran pajak berdasarkan surat keputusan

keberatan, atau putusan banding atau penghapusan sanksi adminidtrasi

sebagai akibat adanya putusan banding.

Pengklasifikasian diatas,28 dapat digolongkan menjadi 4 golongan

besar antara lain : 1) penghasilan dari pekerjaan, baik dalam hubungan kerja

maupun atas pekerjaan bebas, seperti gaji, honorarium, penghasilan dari

praktek dokter, notaries, aktuaris, akuntan, pengacara dan sebagainya; 2)

Penghasilan dari kegiatan usaha, yakni kegiatan melalui sarana perusahaan;

3) Penghasilan dari modal, dari harta bergerak, harta tidak bergerak dan

harta yang dikerjakan sendiri, seperti bunga, royalty, dividen dan sewa; dan

4) penghasilan lain-lain, misalnya : menang lotre atau hadiah dan

pembebasan hutang.
Dengan memperhatikan uraian di atas penulis berpendapat bahwa,

peraturan mengenai pajak penghasilan yang telah diimplementasikan di

Indonesia adalah sangat lengkap dan terinci. Dengan demikian sangat

membantu fiskus dalam menjalankan tugasnya dan membatasi runag gerak

wajib pajak untuk melakukan penafsiran yang bersifat merugikan

penerimaan negara. Dan juga kemungkinan tidak ada pajak yang

terlewatkan dalam pemungutan yang dilakukan oleh para fiskus.

Sebagaimana telah diketahui, bahwa Timor Leste lebih banyak

mengadopsi sistem perpajakan yang di anut oleh Indonesia. Hal tersebut

berlandaskan pasal 165 UUD RDTL, yang menyebutkan bahwa : “Undang-

undang dan peraturan-peraturan yang berlaku sebelumnya di Timor Leste

akan tetap berlaku berkaitan dengan semua hak kecuali bila bertentangan

dengan UUD atau asas-asas yang terkandung di dalamnya”. Atas dasar itu

maka mengenai uraian tentang wajib pajak, seperti dijelaskan panjang lebar

di atas lebih banyak ada persamaannya. Akan tetap ada juga beberapa

perbedaan, yang menurut penulis hanya merupakan kekurangan atau

ketidaklengkapan yang dimiliki oleh Timor Leste dan perlu di lengkapi

sesuai dengan perkembangan kedepannya.

B. Sistem Perpajakan

Sistem Perpajakan suatu negara terdiri dari tiga unsur, yakni Tax

policy, Tax law dan tax administration. Ketiga unsur tersebut saling

menunjang satu sama lain, tak bisa dipisahkan. Disamping juga ketiga
unsur tersebut harus sama kuat dan sama stabil sehingga dapat menopang

sistem perpajakan. Ketiga unsur tersebut juga saling bergantung satu sama

lain untuk mencapai suatu sistem perpajakan yang stabil.

Sistem perpajakan dapat diartikan sebagai suatu kumpulan atau satu

kesatuan yang terdiri dari unsur tax policy, tax law dan tax administration,

yang saling berhubungan satu sama lain, bekerja sama secara harmonis

untuk mencapai tujuan atau target perolehan penerimaan pajak bagi negara

secara optimal. Ketiga unsur sistem Perpajakan itu akan penulis uraian

seperti:

1. Tax Law

Hukum pajak adalah keseluruhan peraturan yang mengatur

hubungan hukum antara pemerintah sebagai pemungut pajak dengan

rakyat sebagai wajib pajak. Menurut R. Santoso Brotodihardjo

menyatakan : Hukum Pajak adalah keseluruhan dari peraturan-

peraturan yang meliputi wewenang pemerintah untuk mengambil

kekayaan seseorang dan menyerahkannya kembali kepada masyarakat

dengan melalui kas negara, sehingga ia merupakan bagian dari hukum

publik, yang mengatur hubungan hukum antara negara dan orang atau

badan yang berkewajiban membayar pajak, yang selanjutnya disebut

wajib pajak.

Kiranya dapat dikemukakan bahwa hukum pajak mengatur

hubungan hukum antara pemerintah (fiskus) sebagai pemungut pajak

dengan rakyat sebagai wajib pajak. Hukum pajak selalu mengalami


perkembangan dan tidak terlepas dari kepentingan negara dan

kepentingan warga negara. Hukum pajak selain digunakan sebagai

dasar meningkatkan pemasukan uang ke dalam kas negara, juga dapat

difungsikan sebagai alat meningkatkan pertumbuhan perekonomian.

Secara sistematis dibedakan antara hukum pajak materil dan hukum

pajak formal. Hukum pajak material adalah hukum pajak yang memuat

ketentuan-ketentuan tentang siapa-siapa yang dikenai pajak, dan siapa-

siapa dikecualikan dari pengenaan pajak, apa saja yang dikenakan pajak

dan berapa yang harus di bayar. Dalam artian hukum pajak material ini

menyangkut membuat norma- norma yang menerangkan keadaan-

keadaan, perbuatan, peristiwa hukum yang harus dikenai pajak. Sedang

Hukum pajak formal adalah memuat ketentuan-ketentuan bagaimana

mewujudkan hukum pajak material menjadi kenyataan.

Hal ini dapat dirumuskan bahwa hukum pajak material berisi

ketentuan-ketentuan tentang siapa, apa, berapa dan bagaimana. Sedang

hukum pajak formal merupakan ketentuan-ketentuan yang mengatur

bagaimana mewujudkan hukum pajak material menjadi kenyataan.

2. Tax Policy

Membicarakan mengenai kebijakan pajak, tentunya tidak terlepas

dari kebijakan pemerintah atau lazimnya disebut kebijakan publik. Pada

dasarnya dapat dipahami ada dua jenis aliran atau pemahaman, yaitu

Kontinentalis dan Anglo Saxonis. Kontinentalis melihat bahwa

kebijakan publik adalah turunan dari hukum, bahkan kadang


mempersamakan antara kebijakan publik dan hukum, terutama

mengenai hukum publik ataupun hukum tata Negara, sehingga dapat

melihat sebagai proses interaksi. Sedangkan Anglo Saxon memahami

kebijakan publik adalah turunan dari politik- demokrasi sehingga

melihatnya sebagai sebuah produk interaksi antara negara dan publik.

Landasan berpikir mengenai kebijakan publik, oleh aliran kontinentalis

dan Anglo Saxonis, penulis berpendapat bahwa pada prinsipnya kedua

aliran tersebut lebih menyesuaikan diri pada tradisi hukum yang

dianutnya sehingga ikut mempengaruhi gaya kebijakan yang

dipergunakan oleh masing-masing negara. Sementara pada lain sisi

dapat dilihat pula bahwa kebijakan itu berangkat dari kompromi politik

demokratis kemudian di formulasikan dalam hukum. Oleh karena

dengan tertuangnya politik dalam hukum maka akan mempunyai

kekuatan mengikat secara menyeluruh terhadap masyarakat sebagai

obyeknya dalam suatu wilayah hukum tertentu.

Kaitannya dengan uraian di atas, selanjutnya ditinjau dari aspek

yuridis dan aspek ekonomi dalam kajian kebijakan publik memenuhi

unsur- unsur tujuan, perencanaan, program, keputusan, dan evaluasi

akhir, yang semuanya itu bermuara pada sebuah proses yang disebut

dengan koordinasi, integrasi, sinkronisasi dan simplikasi (KISS). Hal

itu dikemukakan karena pajak mengemban fungsi; 1) fungsi budgeter;

dan 2) fungsi Regulerend. Maka dapat disimpulkan bahwa pajak

merupakan salah satu bentuk penerimaan negara adalah aplikasi dari


kebijakan pemerintah, dan antara pajak dengan kebijakan pemerintah

tidak dapat dipisahkan. Sejalan dengan itu kebijakan perpajakan

dirumuskan oleh Laudin Marsuni, menyatakan bahwa,: 1) Suatu pilihan

atau keputusan yang diambil oleh pemerintah dalam rangka menunjang

penerimaan negara dan menciptakan kondisi ekonomi yang kondusif;

2) Suatu tindakan pemerintah dalam rangka memungut pajak, guna

memenuhi kebutuhan dana untuk keperluan negara; 3) Suat keputusan

yang diambil pemerintah dalam rangka meningkatkan penerimaan

negara dari sektor pajak untuk digunakan menyelesaikan kebutuhan

dana bagi negara.

Kebijakan perpajakan dalam rangka menunjang penerimaan negara

ditempuh dalam bentuk; 1) Perluasan dan peningkatan wajib pajak; 2)

perluasan obyek pajak; 3) penyempurnaan tarif pajak; dan 4)

penyempurnaan administrasi perpajakan

Pada uraian di atas penulis berpendapat bahwa penentuan kebijakan

perpajakan sebagai suatu proses dari suatu aktivitas politik, yaitu

sebagai suatu rangkaian kegiatan politik yang berupa: 1) Kebijakan

pemerintah mengenai perpajakan didahului dengan identifikasi

permasalahan akan kebutuban Negara, dan kondisi real masyarakat; 2)

Kebijakan perpajakan dirumuskan oleh lembaga politik yaitu lembaga

perwakilan dan pemerintah; 3) Kebijakan tersebut harus ditetapkan dan

disahkan dalam bentuk undang-undang.


3. Tax administration

Menurut Sophar Lumbantorun menyatakan bahwa: administrasi

perpajakan adalah cara-cara atau prosedur pengenaan dan

pemungutan pajak. Administrasi pajak dalam arti sebagai prosedur

dalam self assessment system meliputi tahap-tahap antara lain,

pendaftaran, penetapan dan penagihan pajak. Menurut Carlos A.

Silvani menyebutkan bahwa : administrasi perpajakan di katakan

efektif bila mampu mengatasi masalah-masalah : 1) menindak dan

mendeteksi serta memberikan sanksi kepada wajib pajak yang telah

memenuhi syarat dan tidak mendaftarkan diri; 2) Harus mengetahui

wajib pajak yang tidak melaporkan SPT tahunan; 3) harus mendeteksi

wajib pajak yang melakukan penghindaran terhadap kewajibannya; 4)

melakukan penagihan terhadap tunggakan pajak secara profisional

dan lebih efektif.

Jika dapat dikatakan administrasi perpajakan sudah memenuhi

syarat, kalau pemerintah sudah berupaya meningkatkan penerimaan

negara dengan cara mengatasi masalah-masalah di atas, sehingga

tujuan utama penerimaan negara pada sektor pajak akan meningkat.

Pelaksanaan administrasi pajak yang baik, tentunya perlu menerapkan

manajemen yang bernafas modern, yang terdiri dari; 1) pelaksanaan

perencanaan yang baik; 2) pengorganisasian yang tepat; 3)

pelaksanaan/pengimplementasian yang tepat; dan 4) pengawasan

yang berkesinambungan.
Selain itu perlu adanya kebijakan perpajakan dari pemerintah yang

tepat, peraturan pelaksanaan perpajakan jelas dan sederhana untuk

memudahkan fiskus dan wajib pajak dalam melaksanakan

kewajibannya. Pada dasarnya sasaran administrasi perpajakan adalah

meningkatkan kepatuhan wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban

perpajakan dan pelaksanaan ketentuan perpajakan secara seragam satu

persepsi antara wajib pajak dan fiskus.

Menurut Toshiyuki menyatakan bahwa: untuk mencapai hal-hal

tersbut di atas, harus memenuhi kondisi administrasi perpajakan

antara lain; 1) administrasi negara harus dapat mengamankan

penerimaan negara; 2) harus berdasarkan peraturan perundang-

undangan dan transparan; 3) dapat merealisasikan perpajakan yang

adil sesuai ketentuan yang ada; 4) memberikan sanksi yang adil

terhadap pelanggaran yang ada; 5) mampu menyelenggarakan sistem

perpajakan yang efisien dan efektif; dan 6) meningkatkan kepatuhan

pembayar pajak.

C. Amandemen Undang-Undang Perpajakan

Langkah ini merupakan hal yang penting dan fundamental dalam

membangun sistem perpajakan nasional yang baik dan kokoh. Ditinjau

dari aspek hukum tata negara, maka pajak memiliki dasar yuridis yang

cukup kuat, mendasar dan strategi. Dikatakan demikian, karena pajak di

atur langsung dalam masing-masing konstitusi, baik dalam UUD RDTL


maupun dalam UUD 1945. Dalam UUD RDTL di atur dalam pasal 144

yang menyebutkan bahwa : 1) negara harus menetapkan suatu sistem

perpajakan yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan keuangan

negara serta pembagian penghasilan dan kekayaan negara secara adil;

2) Sistem perpajakan akan ditetapkan dengan undang-undang yang

menentukan kewajiban membayar pajak, keuntungan yang di dapat dari

pajak dan jaminan bagi para wajib pajak. Berdasarkan pada pasal 144,

tersebut maka kemudian lahirlah undang- undang No. 18 tahun 2000

tentang sistem perpajakan Timor Leste, yang dikemudian diubah

menjadi undang- undang No. 8 tahun 2008 tentang Pajak dan Pabean.

Perubahan undang-undang pajak penghasilan itu mengandung tiga

hal penting sebagai dasar pemikiran antara lain : a) pemerintah berupaya

memberikan keringanan beban fiscal kepada pajak non migas, dengan

cara memberlakukan tarif yang berbeda ( Tarif proporsional untuk pajak

non migas dan tarif progresif untuk pajak migas); b) memprioritaskan

kenetralan, yaitu aturan di berlakukan secara sama atau tidak membeda-

bedakan; dan c) terfokus pada keadilan pajak dan konsensus antara

wajib pajak dan masyarakat. Konsensus dalam artian melalui

perwakilan atau Parlemen Nasional, sebagai lembaga berwenang dalam

memproduksi undang-undang. Kaitannya dengan itu, proses untuk

menentukan perubahan undang-undang perpajakan tentunya harus

melalui Parlemen Nasional.


Sedangkan dalam UUD 1945, di atur dalam pasal 23A yang

menyebutkan bahwa : Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa

untuk keperluan negara di atur dengan undang-undang. Berdasarkan

pasal yang tertuang dalam UUD 1945 itulah, maka lahirlah undang-

undang pajak penghasilan, yang kemudian diadakan beberapa kali

perubahan. Perubahan tersebut dilakukan, sebagai respon terhadap

kebutuhan anggaran negara, yang mana pada saat itu terjadi merosotnya

harga minyak bumi dan gas alam di pasar dunia internasional turun

drastis. Ini merupakan ancaman yang cukup serius terhadap mata

anggaran pemerintah dalam menjalankan aktivitas pada segala bidang

secara menyeluruh.

Atas keadaan demikian, maka langkah posetif yang ditempuh oleh

pemerintah adalah melakukan reposisi penerimaan andalan negara yang

semula dari minyak bumi dan gas alam beralih pada sektor pajak. Untuk

membangun fondasi perpajakan yang baik sebagai sumber penerimaan

negara yang layak dan dapat diandalkan, maka harus dilakukan

pembaruan sistem perpajakan nasional melalui reformasi perpajakan

(tax reform).

Perubahan ini di mulai dari; 1)UU No. 7 Tahun 1983 tentang pajak

penghasilan; 2) UU No. 10 Tahun 1994 tentang pajak penghasiln; 3) UU

No. 17 Tahun 2000 tentang pajak penghasilan; dan 4) UU No. 36Tahun

2008 tentang pajak penghasilan.


Tujuan perubahan tersebut adalah untuk meningkatkan penghasilan,

untuk kemakmuran rakyat bersama. Untuk menyukseskan tujuan ini

maka lebih mengedepankan fungsi pajak anggaran (budgeter), yakni

sebagai instrument utama untuk memasukkan uang ke dalam kas negara,

yang kemudian dialokasikan kembali untuk keperluan negara.

Berbicara amandemen terhadap UU Perpajakan, baik yang telah

dilakukan di Timor Leste maupun yang dilakukan di Indonesia adalah

bertujuan untuk memperbaikai sistem pajak penghasilan yang ada pada

kedua negara, yang bermuara pada pengaturan terhadap pemerintah

sebagai fiskus dan masyarakat sebagai wajib pajak. Dengan demikian

dapat lihat pula dua hal penting yaitu; bagaimana peran pajak bagi

negara dan manfaat pajak bagi masyarakat.

1. Peran Pajak bagi Negara

Pajak merupakan fenomena umum sebagai sumber penerimaan

negara yang berlaku pada berbagai negara. Hampir semua negara

didunia mengenakan pajak pada warganya. Kecuali negara- negara

yang kaya akan sumber daya alam yang dijadikan sebagai sumber

penerimaan utama negara yang tidak mengenakan pajak. Hal ini di

dasarkan pada aturan dan ketentuan dalam mengenakan dan

memungut pajak di negaranya, yang umumnya mengikuti prinsip-

prinsip atau kaidah dalam perpajakan. Peranan pajak bagi tiap negara

pada dasarnya berbeda antara satu negara dengan negara lainnya.


Bagi Indonesia, penerimaan pajak sangat besar peranannya dalam

mengamankan anggaran negara dalan APBN setiap tahun. Dengan

tersedianya penerimaan pajak dalam APBN membuat tugas-tugas

pemerintahan dan pembangunan dapat berjalan baik sesuai dengan

rencana dan program pemerintah. Pada prinsipnya pajak itu,

merupakan salah satu post anggaran yang di andalkan untuk

pembangunan pada semua bidang.

Sedangkan bagi Timor Leste, seharusnya adalah sama, akan tetapi

terdapat modifikasi dalam strategi, sehingga tidak terlalu besar

menyedot anggaran dari hasil pemungutan pajak, melainkan lebih

mengutamakan hasil minyak bumi dan gas alam yang sedang di

kelolah oleh Pemerintah Australia, untuk menjalakan pembangunan

di Tmior Leste. Jadi peran pajak bagi negara dapat dilihat melalui

kebijakan politik pemerintah dalam menentukan fungsi pajak yang

digunakan. Kedua fungsi pajak ditentukan melalui amandemen

undang-undang pajak penghasilan pada masing- masing negara.

2. Manfaat pajak bagi masyarakat

Secara filosofis pajak adalah uang rakyat. Dilihat dari sisi ekonomis

akan dianggap bahwa setiap pengeluaran uang yang dilakukan

masyarakat umumnya harus diimbangi dengan diterimanya sesuatu

sebagai timbal balik, baik berupa barang atau jasa maupun fasilitas.
Akan tetapi pada bidang perpajakan ada dimensi lain dalam memandang

setiap pembayaran pajak yang dilakukan oleh masyarakat.

Karena pajak mempunyai karakteristik tersendiri, dengan jenis

pembayaran lain kepada negara. Setiap pembayaran pajak yang

dilakukan oleh masyarakat, pada dasarnya tidak mendapatkan

kontraprestasi secara langsung kepada pembayaran secara individu.

Melainkan, atas pajak yang dibayarkan, kemudian oleh pemerintah

dialokasikan untuk pembangunan, seperti jalan raya, jembatan, sekolah-

sekolah, PUSKESMAS, dan lain-lain yang akan digunakan kembali

oleh masyarakat.

Demikian juga dalam menangani dan menangulangi bencana alam,

seperti tsunami, gempa bumi, banjir, tanah longsor dan lain-lain.


BAB III

PEMBAHASAN

A. Gambaran Umum Indonesia dan Timor Leste

1. Indonesia

Indonesia adalah negara kesatuan yang berbentuk Republik dengan

sistem pemerintahan presidensil. Penduduk pada negara tersebut adalah ±

237.000.000 jiwa, dibagi dalam 33 propinsi. Sebagai Negara yang

berpenduduk besar dan luas wilayah yang berbentang dari Sabang sampai

Merauke yang terdiri dari 17.508 pulau, Indonesia memiliki banyak

potensi sumber daya alam yang dapat memberikan kesejahteraan bagi

negaranya. Potensi SDM itu hingga saat ini masih belum maksimal

dieksplorasi untuk memberikan kesejahteraan kepada warga negaranya,

bahkan sebagian di kuasai oleh perusahaan asing. Kendati demikian

sebagai negara berkembang, maka yang menjadi prioritas adalah,

mengakselerasi pembangunan pada semua lini dan bidang, melalui

program perencanaan, yang dikenal dengan rencana pembangunan, jangka

pendek, jangka menengah dan jangka panjang. Untuk menyukseskan

pembangunan tersebut tidak terlepas pula dengan strategi perencanaan

yang di sebut ”Top down planning and Bottom up planning, dengan

berpijak pada Koordinasi Integrasi Sinkronisasi dan Simplikasi (KISS)

sebagai wadah untuk mempertemukan kepentingan masyarakat dan

pemerintah. Kaitannya dengan pelaksanaannpembangunan tersebut,

tentunya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Salah satu sumber dana
yang diandalkan, tanpa membebani utang pada negara di kemudian hari

adalah penerimaan dari sektor pajak.

Hal ini, sejalan dengan teori pembangunan oleh Safri Nurmantu

menyatakan, untuk Indonesia justifikasi yang paling tepat adalah

pembangunan, yaitu pajak dipungut oleh negara untuk pembangunan.

Pembangunan merupakan pengertian tentang tujuan suatu negara, yaitu

masyarakat yang adil, makmur, sejahtera disemua bidang kehidupan.

Untuk mencapai tujuan negara tersebut, sumber keuangan negara yang

berasal dari rakyat melalui pungutan pajak dan/atau dari hasil kekayaan

alam (natural resources) yang terdapat di dalam negara tersebut

merupakan sumber keuangan negara yang paling aman posisinya bila

dibandingkan dengan sumber keuangan negara yang berasal dari pinjaman

luar negeri.

Dengan memahami lalu lintas keuangan negara, satu sisi Negara

memungut pajak, kepada rakyat dan sisi lain negara mendesain agenda

pembangunan untuk kepentingan rakyat. Uang rakyat berupa pajak tidak

hanya diperuntukkan bagi kepentingan pengeluaran pemerintah semata-

mata, tetapi juga dialokasikan dalam proyek pembangunan. Dalam

konteks ini pajak sebagai sarana demokratisasi bisa diwujudkan apabila

dimaknai sebagai sarana kontrak politik antara rakyat dan negara. Pajak

harus mendorong terciptanya kesejahteraan umum warga negara karena

misi utama pajak adalah membangun basis kesejahteraan rakyat,

pemerataan ekonomi, dan keseimbangan sosial. Sekilas gambaran di atas,


penulis kaitkan dengan pembangunan, oleh karena penerimaan dari sektor

perpajakan di Indonesia sebagian memang dialokasikan untuk

kepentingan termaksud.

2. Timor Leste

Timor Leste adalah Negara kesatuan, yang berbentuk Republik,

yang baru merdeka pada tanggal 20 Mei 2002, melalui proses referendum

pada 30 Agustus 1999. Sistem pemerintahan yang dianut adalah

parlementer. Jumlah penduduk sebanyak 1.162.000 jiwa, tersebar pada 13

kabupaten, dan luas wilayah 14.906 km². Hirarki pemerintahan di bagi

menjadi 4 region (setingkat propinsi), dibagi lagi menjadi 13 distrik,

kemudian di bagi menjadi 66 kecamatan. Sebagai Negara baru yang serba

kekurangan, maka langkah utama yang harus dilakukan adalah

mempercepat pembangunan pada semua bidang yang ada. Ini menjadi

tugas mulia bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan, terutama dalam

bidang perpajakan, sebagai salah satu sumber keuangan negara, yang dapat

diandalkan.

Konsekuensi dari kebutuhan yang urgen itu maka sangat diharapkan

partisipasi masyarakat dalam proses kebijakan perpajakan menjadi salah

satu indikator yang di kedepankan dengan dua alasan; (1) dalam

pemerintahan yang demokratis selalu terancang bangun mekanisme

konsensus dan harmoni agar bisa memberikan ruang kepada masyarakat

bagi proses kerjasama termaksud; (2) Pemerintah yang demokratis tidak


hanya memberikan ruang kepada mayoritas, melainkan juga diberi ruang

yang sama kepada yang minoritas. Konsep demokrasi yang dikonstruksi

oleh Timor Leste adalah, upaya semaksimal mungkin untuk menghindari

diskriminasi, terhadap agama, ras, suku, etnis dan lain-lainnya. Dan lebih

mengedepankan martabat manusia untuk menjalin hubungan kerjasama

dalam menciptakan ke harmonisan dan memberikan kesempatan yang

sama pada semua warga negara yang ada sesuai dengan amanat konstitusi

RDTL.

Gambaran umum diatas, menunjukkan bahwa ditinjau dari segi

hukum internasional, kedua negara mempunyai kedudukan yang sama

yaitu, disebut Negara Timor Leste dan negara Indonesia. Namun dari segi

jumlah penduduk, luas wilayah serta kekayaan alam yang dikandung oleh

kedua negara adalah sangat jauh berbeda. Perbedaan demikian itulah akan

dijadikan indikator bagi pemerintahan masing-masing negara untuk

menyusun undang-undangnya sesuai dengan tuntutan atau kebutuhan

termaksud.

Atas dasar perbedaan tersebut, maka Indonesia akan lebih bekerja

keras untuk membangun pembangunan yang tersebar, baik pembangunan

fisik maupun pembangunan non fisik. Begitupun Timor Leste, meskipun

wilayahnya kecil dan jumlah penduduk yang sedikit, tidak dalam arti harus

bersantai-santai untuk membangun agar percepatan pembangunan tersebut

dapat berjalan dengan baik sesuai dengan perkembangan yang ada saat ini.
B. Landasan Hukum

Berbicara landasan hukum, merupakan upaya untuk memberikan

warna demokrasi dalam sistem perpajakan nasional, yakni upaya

pemerintah dari waktu ke waktu melakukan perubahan terhadap UU PPh

pada kedua negara. Maksud perubahan tersebut, adalah menuju pada suatu

penyempurnaan. Oleh karena secara teoritik perpajakan merupakan lahan

yang rawan konflik secara horizontal, yaitu terdapat dua kutub

kepentingan yang berlawanan. Kutub pertama adalah kepentingan

pemerintah yang menghendaki penerimaan pajak yang sebesar- besarnya,

dan kutub kedua adalah kepentingan masyarakat pembayar pajak yang

menghendaki untuk membayar pajak yang sekecil-kecilnya.

Mencari titik sentral untuk menyatukan dua kepentingan itu, maka

bermuara pada undang-undang pajak penghasilan beserta perubahannya,

baik di Timor Leste maupun di Indonesia. Melalui landasan hukum

tersebut maka dijadikan pijakan bagi pemerintah dalam melakukan

pemungutan pajak terhadap masyarakat sebagai wajib pajak pada masing-

masing negara. Disamping itu sistem perpajakan itu didesain sesuai

dengan kebutuhan yang ada agar bisa merespon dan seirama dengan

perkembangan perekonomian nasional maupun bisa bersaing secara

mendunia. Berikut uraian UU PPh kedua negara :


1. Undang-Undang Pajak Penghasilan Indonesia

Lahirnya undang-undang pajak penghasilan ini, di dasarkan pada

pasal 23 A UUD 1945 yang menyebutkan bahwa: Pajak dan pemungutan

lain yang bersifat memaksa untuk keperluan negara di atur dengan undang-

undang. Betapa caranya rakyat sebagai bangsa akan hidup dan dari mana

di dapatnya belanja buat hidup, harus ditetapkan oleh rakyat itu sendiri

dengan perantaraan Dewan Perwakilannya. Rakyat menentukan nasibnya

sendiri, karena itu juga cara hidupnya. Oleh karena penetapan belanja

mengenai hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, maka segala

tindakan yang menempatkan beban kepada rakyat, seperti pajak dan

lainnya, harus ditetapkan dengan undang-undang dengan persetujuan

Parlemen. Menurut Tri Budiono pemungutan pajak tidak hanya di

dasarkan pada pasal 23A tersebut, melainkan lebih jauh mendasar dan

lebih bersifat filosofis dapat di mulai dari hakekat dari undang- undang itu

sendiri. Undang-undang merupakan produk lembaga legislatif bersama-

sama dengan eksekutif. Dengan adanya persetujuan dari wakil rakyat,

maka diasumsikan memberikan persetujuan terhadap apa yang di atur

dalam undang-undang tersebut. Persetujuan wakil rakyat menjadi dasar

legitimasi rakyat harus bersedia membayar pajak karena mereka telah

memberikan persetujuan terhadap pemungutan itu.

Supaya sistem pajak penghasilan, lebih mengarah pada efektifitas

dan efisiensi dalam memberi pelayanan kepada masyarakat sebagai wajib

pajak, maka diperlukan perubahan undang- undang pajak penghasilan itu


sendiri. Seperti telah di ketahui bahwa, UU PPh Indonesia telah

mengalami 4 kali perubahan, yaitu; 1) undang- undang No. 7 tahun 1983

tentang penghasilan; 2) undang-undang No. 10 Tahun 1994 tentang pajak

penghasilan; 3) undang-undang pajak penghasilan nomor 17 Tahun 2000

tentang pajak Penghasilan; 4) undang-undang No. 36 Tahun 2008 tentang

pajak penghasilan.

Tujuan utama dari pada perubahan ini adalah untuk mengamankan

penerimaan negara, memberikan pelayanan yang netral, adil dan

sederhana serta mengacu kepada penyempurnaan terhadap undang-undang

pajak penghasilan itu sendiri.

2. Undang-Undang Pajak Penghasilan Timor Leste

Aturan pengenaan pajak terhadap masyarakat sebagai wajib pajak

telah di atur dalam pasal 144 UUD RDTL, yang menyebutkan bahwa : 1)

negara harus menetapkan suatu sistem perpajakan yang bertujuan untuk

memenuhi kebutuhan keuangan negara serta pembagian penghasilan dan

kekayaan negara secara adil; 2) Sistem perpajakan akan ditetapkan dengan

undang-undang yang menentukan kewajiban membayar pajak,

keuntungan yang di dapat dari pajak dan jaminan bagi para wajib pajak.

Berpijak pada pada pasal 144 tersebut, maka lahirlah undang-undang

perpajakan yang digunakan oleh Timor Leste adalah undang-undang No.

18 Tahun 2000 tentang sistem perpajakan Timor Leste, yang telah di ubah
menjadi undang-undang No. 8 Tahun 2008 tentang pajak dan

Pabean.Tujuan utama perubahan tersebut sebagaimana tertuang dalam

bagian menimbang, menyebutkan bahwa : memberikan kenetralan,

keadilan, kesederhanaan serta lebih memberikan prioritas kepada pajak

non migas.

Pada prinsipnya perubahan undang-undang pajak penghasilan, baik

di Timor Leste maupun di Indonesia, adalah bisa di amati melalui

kebutuhan dan tuntutan, masing-masing negara. Hakekat perubahan

undang-undang pajak penghasilan di Indonesia berawal dari tahun 1983,

dimana minyak bumi dan gas alam sebagai sumber penerimaan andalan

negara harganya turun sangat drastis. Keadaan ini merupakan ancaman

serius terhadap anggaran pembangunan dan pengeluaran pemerintah yang

lainnya dalam pelayanan sektor publik.

Sebagai respon positif terhadap kondisi real itu, pemerintah segera

mengambil kebijakan dengan melakukan reposisi andalan dari minyak

bumi dan gas alam menjadi dari pajak. Untuk mendukung reposisi ini

maka dilakukan berbagai langkah perubahan pada sektor pajak, terutama

melakukan reformasi perpajakan. Tujuan utama perubahan UU PPh

Indonesia adalah untuk; 1) mengamankan dan meningkatkan penerimaan

negara; 2) mewujudkan sistem perpajakan yang netral, sederhana, stabil

dan lebih memberikan keadilan dan kepastian hukum serta transparansi;3)

lebih memberikan kemudahan dan tanggung jawab kepada wajib pajak

melalui self assessment system.


Sedangkan amandemen UU pajak penghasilan di Timor Leste,

mempunyai tiga hal penting antara lain : 1) lebih mengedepankan keadilan

dan konsensus antara masyarakat sebagai wajib pajak dan pemerintah

melalui Parlemen Nasional; 2) Memberikan keringanan beban fiscal

kepada area pajak non migas, melalui penurunan tarif dan penghapusan

tarif pajak; dan 3) memprioritaskan sistem kenetralan pajak.

Jadi dapat ditegaskan bahwa pada dasarnya Indonesia sudah

sempurna menjalankan instruksi undang-undang perpajakannya dengan

baik, melalui implementasinya. Sementara Timor Leste masih terjadi

tumpang tindih antara substansi. undang-undang pajak penghasilan dan

implementasinya. Kondisi ini terjadi karena faktor kurangnya SDM di

Timor Leste yang ahli dalam bidang perpajakan. undang-undang pajak

penghasilan dan implementasinya. Kondisi ini terjadi karena faktor

kurangnya SDM di Timor Leste yang ahli dalam bidang perpajakan.

C. Tata Cara Pemungutan Pajak

Tata cara pemungutan pajak terdiri dari stelsel pajak, asas

pemungutan pajak, dan sistem pemungutan pajak.

1. Stelsel Pajak

Pemungutan pajak dapat dilakukan dengan tiga stelsel, yaitu stelsel

nyata, stelsel anggap, dan stelsel campuran.


a. Stelsel Nyata (stelsel riil)

Stelsel ini di dasarkan pada obyek yang sesungguhnya terjadi (untuk

pajak penghasilan maka obyeknya adalah penghasilan). Oleh karena itu,

pemungutan pajaknya baru dilakukan pada akhir tahun pajak, yaitu setelah

semua penghasilan sesungguhnya dalam satu tahun pajak diketahui. Dari

pengertian stelsel nyata, penulis berpendapat bahwa, pajak penghasilan

tidak hanya dapat diketahui pada akhir tahun, melainkan melalui

penghasilan setiap bulan sudah bisa di dikenakan pajak dan dikreditkan

pada akhir tahun pajak.

b. Stelsel Anggapan (fictive stelsel)

Pengenaan pajak didasarkan pada suatu anggapan yang di atur oleh

undang-undang. Misalnya pendapatan suatu tahun di anggap sama dengan

penghasilan tahun sebelumnya sehingga pajak yang terutang pada suatu

tahun juga dianggap sama dengan pajak yang terutang tahun sebelumnya.

Kelebihan stelsel ini adalah pajak dapat dibayar pada tahun berjalan, tanpa

harus menunggu sampai akhir suatu tahun pajak, misalnya pembayaran

pajak di lakukan pada saat wajib pajak memperoleh penghasilan yang

tinggi atau mungkin dapat diangsur dalam tahun berjalan. Kekurangnnya

adalah pajak yang dibayar tidak berdasarkan pada keadaan yang

sesungguhnya, sehingga penentuan pajak menjadi tidak akurat.


c. Stelsel Campuran

Pada stelsel ini pengenaan pajak di dasarkan pada kombinasi antara

stelsel nyata dan stelsel anggapan. Artinya pada awal suatu tahun pajak,

besarnya pajak dihitung berdasarkan anggapan, kemudian pada akhir

tahun besarnya pajak di hitung berdasarkan pada keadaan yang

sesungguhnya. Stelsel ini jika wajib pajak kurang bayar maka harus

membayar lagi kekurangannya (pajak terutang), akan tetapi ada lebih

bayar maka diminta restitusi atau kompensasi.

Dari uraian di atas dapat dipastikan, baik di Timor Leste maupun di

Indonesia menggunakan stelsel anggapan dan stelsel nyata. Hal ini dapat

di atur dalam UU PPh masing-masing negara. Di Timor Leste stelsel

campuran ini diatur dalam pasal 64 ayat (4) UU PPh No. 8 tahun 2008,

yang menyebutkan bahwa : “angsuran pajak penghasilan yang dibayar

seorang wajib pajak dalam suatu tahun pajak harus dikreditkan terhadap

kewajiban pajak penghasilan wajib pajak untuk tahun tersebut”. Besarnya

angsuran pajak penghasilan tersebut adalah 0.5%, dari penghasilan kotor

setiap bulan. Secara administrasi telah dibagi menjadi wajib pajak yang

penghasilan kotor pertahun US $ 1,000,000.- ke atas dikategorikan

sebagai wajib pajak besar, yang pembayaran angsurannya dilakukan

setiap tanggal 15 bulan berikutnya. Sedangkan wajib pajak yang

penghasilan kotornya pertahun dibawah US $ 1,000,000.- dikategorikan

sebagai wajib pajak kecil, yang pembayaran angsurannya diakomulasikan

setiap triwulan.
Pembayaran angsuran tersebut dapat dikalkulasikan kembali pada

akhir tahun pajak, sebagai pembetulan atau koreksi terhadap angsuran

termaksud. Jika terjadi kelebihan bayar (over payment) dapat

dikompensasikan, baik secara vertikal maupun secara horizontal. Akan

tetapi jika terjadi kekurangan bayar (under payment) maka merupakan

hutang pajak yang harus di bayar oleh wajib pajak. Untuk pajak yang

dikreditkan pada akhir tahun, ada dua cara yang digunakan oleh Timor

Leste, yang dinyatakan memiliki hak istimewa, yaitu ada kebebasan

memilih jumlah penghasilan yang lebih besar yang dilaporkan oleh wajib

pajak pada akhir tahun. Contohnya pada akhir tahun wajib pajak

melaporkan penghasilannya kepada kantor pajak, jika jumlahnya lebih

besar daripada angsuran setiap bulan, berarti wajib pajak tersebut

dimintakan untuk membayar tambahan. Jika terjadi kelebihan bayar,

tentunya kompensasi dan terjadi kerugian, maka akan di bawa ke tahun

berikutnya.

Sedang di Indonesia stelsel campuran ini salah satunya di atur dalam

pasal 25 ayat (1) yang menyebutkan besarnya angsuran pajak dalam tahun

pajak berjalan yang harus di bayar sendiri oleh wajib pajak untuk setiap

bulan adalah sebesar pajak penghasilan yang terutang menurut surat

pemberitahuan tahunan pajak penghasilan tahun pajak yang di kurangi

dengan : 1) Pajak penghasilan yang dipotong sebagaimana dimaksud

dalam pasal 21, dan pasal 23 serta pajak penghasilan yang dipungut

sebagaimana dalam pasal 22.


Artinya angsuran pembayaran yang dilakukan setiap bulan oleh

wajib pajak akan dikreditkan atau memperhitungkan kembali pada akhir

tahun. Pada stelsel ini, yang menjadi perbedaan di Timor Leste dan

Indonesia antara lain : 1) untuk stelsel anggapan di Indonesia dapat

diterapkan pada pajak PBB, sedangkan Timor Leste pajak PBB belum ada.

Sedangkan persamaanya terletak pada ; 1) angsuran setiap bulan

merupakan pajak fiktif yang dikreditkan pada akhir tahun; 2) Waktu

terakhir laporan SPT tahun pajak jatuh bulan ketiga tahun pajak berikutnya

(tanggal 31 Maret); 3) Laporan akhir tahun pajak merupakan koreksi

terhadap pembayaran di muka/angsuran setiap bulan.

Kesimpulannya adalah stelsel fiksi dikoreksi dengan stelsel riil ini,

yang kemudian diberi nama stelsel campuran. Stelsel campuran

merupakan suatu sarana yang dapat menghilangkan kelemahan dari stelsel

fiksi.

2. Asas Pengenaan Pajak

Terdapat tiga asas pengenaan pajak yaitu asas domisili, asas sumber

dan asas kebangsaan. Ketiga asas ini dapat diuraian berikut :

a. Asas Domisili (asas tempat tinggal)

Asas ini menyatakan bahwa negara berhak mengenakan atas

pajak seluruh penghasilan wajib pajak bertempat tinggal

diwilayahnya, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Setiap

wajib pajak yang berdomisili dalam negeri (wajib pajak dalam negeri)
di kenakan pajak atas seluruh penghasilan yang diperoleh dari dalam

dan luar negeri.

b. Asas sumber (Sources Income)

Pada asas ini negara berhak mengenakan pajak atas penghasilan

yang bersumber di wilayah tanpa memperhatikan tempat tinggal wajib

pajak. Setiap orang yang memperoleh penghasilan dari negara sumber

dikenakan pajak atas penghasilan yang diperolehnya.

c. Asas kebangsaan (Nasionality)


Pada asas ini yang menjadi landasan pengenaan adalah status

kewarganegaraan dari orang atau badan yang memperoleh

penghasilan. Sistem pengenaan pajak berdasarkan asas nasionalitas

dengan konsep pengenaan pajak atas worldwide income.

Di Indonesia asas domisili dan asas kebangsaan di atur dalam pasal

2 UU PPh No. 36 Th. 2008. Kriteria yang dijadikan, landasan kewenangan

negara untuk mengenakan pajak adalah status subyek yang akan

dikenakan pajak, tanpa memperhatikan yang bersangkutan berstatus

sebagai penduduk (asas domisili) atau berstatus sebagai warga negara

(asas kebangsaan). Yang penting pada kedua asas ini adalah subyek

pajaknya, baik subyek pajak dalam negeri maupun subyek pajak luar

negeri dapat dikenakan pajak (worldwide income). Sementara asas sumber

di atur dalam pasal 4 UU PPh No. 36 Th. 2008. Pada asas sumber yang

menjadi landasannya adalah61 status obyeknya, yaitu apakah obyek yang

akan dikenakan pajak bersumber dari negara itu atau tidak. Jadi asas
sumber ini ruang lingkupnya terbatas pada penghasilan yang diterima atau

diperoleh dari sumber yang ada pada negara yang bersangkutan. Negara

yang memberi/menyediakan pekerjaan yang berhak memotong dan

memungut pajak penghasilan wajib pajak.

Sedangkan di Timor Leste asas domisili dan asas kebangsaan di atur

dalam pasal 27 ayat (1) UU PPh No. 8 tahun 2008, menyebutkan yang

disebut wajib pajak adalah;1) orang perorangan; 2) warisan yang belum

terbagi; dan 3) badan. Kemudian subyek pajak, menurut domisilinya

dibedakan menjadi subyek pajak luar negeri dan subyek pajak dalam

negeri. Kriteria yang dijadikan dasar pengenaan pajak adalah status

subyek pajak, tanpa memperhatikan obyeknya. Dengan demikian maka

yang dipentingkan disini adalah subyek pajak yang menjadi titik tolak

pengenaan pajak. Asas sumber (Source income) di atur dalam pasal 28 UU

PPh No. 8 tahun 2008. Dimana akan dikenakan pajak atas suatu

penghasilan yang diterima atau diperolah, baik oleh orang perorangan

maupun oleh badan, apabila penghasilan yang akan dikenakan pajak itu

diperoleh oleh orang perorangan atau badan yang bersangkutan dari

sumber yang ada di negara itu. Misalnya para konsultan, tenaga ahli dan

tenaga kerja asing yang bekerja di Timor Leste, maka penghasilan yang

diterima di Timor Leste akan dikenakan pajak sesuai dengan peraturan

perpajakan yang berlaku.penghasilan yang diterima di Timor Leste akan

dikenakan pajak sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.


Perbedaan yang ditemukan dalam asas pengenaan pajak di Timor

Leste dan Indonesia adalah berdasarkan prinsip worldwide income.

Maksudnya di Indonesia worldwide income dalam artian wajib pajak

dalam negeri dikenakan pajak penghasilan, baik obyek pajak dalam

negeri maupun obyek pajak yang ada di luar negeri. Sedangkan Timor

Leste tidak menganut prinsip worldwide income, karena wajib pajak dalam

negeri dikenakan pajak penghasilan hanya atas hasil dari obyek yang ada

dalam negeri. Semenetara persamaan terletak pada asas sumber (source

income).

3. Sistem pengenaan pajak

Pada sub sistem ini, akan berpijak pada reformasi yang berangkat

dari perubahan official assessment ke self assessment system. Pada self

assessment system, wajib pajak mempunyai posisi ganda, yaitu sebagai

obyek pajak sekaligus sebagai subyek pajak, yang justru aktif. Ini

mengandung maksud bahwa setiap wajib pajak diberi tanggung jawab

untuk menghitung, menyetor dan melaporkan sendiri pajak terutang dalam

satu tahun pajak. Berikut uraian tiga sistem pemungutan pajak tersebut.

a) Official assessment system

Adalah suatu sistem pemungutan pajak yang memberikan wewenang

kepada pemerintah (fiscus) untuk besarnya pajak terutang oleh wajib pajak;

Ciri-cirinya antara lain : a) fiscus berwewenang untuk menentukan

besarnya utang pajak; b) wajib ajak bersifat pasif; c) utang pajak timbul

setelah dikeluarkannya surat ketetapan oleh oleh fiscus.


a. Self assessment system

Arti kata Self assessment system, adalah menghitung dan

menetapkan sendiri besarnya pajak yang terutang, dan membayar pajak

tersebut sebelum memasukkan SPT. Dengan sistem pemungutan pajak

yang wewenang kepada wajib pajak untuk menentukan sendiri besarnya

pajak yang terutang. Ciri-cirinya antara lain ; a) bahwa pemungutan pajak

merupakan pengabdian dan peran serta wajib pajak untuk secara langsung

dan bersama-sama melaksanakan kewajiban perpajakan; b) Tanggung

jawab atas pelaksanaan pemungutan pajak, sebagai pencerminan

kewajiban dibidang perpajakan berada pada anggota masyarakat wajib

pajak sendiri. Sedangkan pemerintah hanya berkewajiban melakukan

pembinaan, pelayanan dan pengawasan terhadap pemenuhan kewajiban

wajib pajak sesuai dengan peraturan yang ada; c) Wajib pajak diberi

kepercayaan untuk dapat melaksanakan kewajibannya secara aktif dengan

menghitung, memperhitungkan, membayar, dan melaporkan sendiri pajak

yang terutang secara teratur kepada kantor pajak.

Selain ciri-ciri tersebut, self assessment masih mengandung hal yang

penting, yang diharapkan dipatuhi oleh wajib pajak antara lain; 1)

Kesadaran pada wajib pajak; 2) Kejujuran wajib Pajak; 3) Wajib pajak

mempunyai hasrat untuk membayar pajak; dan 4) Disiplin wajib pajak

terhadap pelaksanaan peraturan pajak. Apabila wajib pajak sudah patuh


memenuhi 4 syarat tersebut, maka pelaksanaan kewajiban pemenuhan

pajak otomatis baik.

b. Withholding system

Sistem pemungutan ini, memberikan wewenang kepada pihak ketiga

yang ditunjuk untuk menentukan besarnya pajak yang terutang oleh wajib

pajak sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Sistem ini

bedakan menjadi dua antara lain;

1) Sistem pemotongan, yaitu suatu sistem yang diterapkan pada

pemajakan PPh63 pasal 21, PPh pasal 26 dan PPh pasal 23 UU PPh

No. 36 tahun 2008;

2) sistem pemungutan, yaitu suatu sistem yang diterapkan pada PPh pasal

22. Obyek pemungutan PPh pasal 22 adalah; Pembelian barang oleh

pemerintah pusat dan daerah;Impor barang; Pembelian barang yang

tergolong mewah.

Tujuan pengenaan PPh pasal 22 ini melalui pemerintah yaitu

pembelian APBN/APDB oleh pendaharawan dan impor barang

melalui pengawasan direktorat bea cukai. Yang berwenang memungut

pajak adalah; 1) bendahara pemerintah, baik pusat maupun daerah,

serta instansi- instansi yang ada; dan 2) badan tertentu berkenaan

dengan kegiatan impor, seperti produksi semen dan otomotif.

Pemungutan pajak dilaksanakan oleh pemungut Pajak atas

nama wajib pajak ke bank persepsi atau kantor pos dengan cara
penyetoran menggunkan formulir surat setoran pajak (SSP) yang

berlaku sebagai bukti pemungutan pajak. Manfaat withholding tax

system, antara lain:

1. Dapat meningkatkan kepatuhan secara sukarela karena pembayar

secara tidak langsung telah membayar pajaknya;

2. Pengumpulan pajak secara otomatis, bagi pemerintah tanpa

mengeluarkan biaya;

3. Merupakan penerapan prinsip convenience of tax system;

4. Meningkatkan penerimaan pajak (optimalisasikan perluasan

obyek pajak).

Setelah terjadi reformasi perpajakan nasional (tax reform), sejak

tahun 1983 merupakan moment berakhirnya masa berlakunya official

assessment system di Indonesia, karena dinilai tidak sesuai lagi dengan

perkembangan perekonomian nsaional. Sebagai gantinya adalah self

assessment system, yang dalam implementasinya dilaksanakan bersama-

sama dengan withholding system. Mengenai sistem tersebut penulis ingin

menyatakan bahwa tidak ada satu pasal pun, baik dalam UU PPh Indonesia

maupun UU PPh Timor Leste yang secara spesifik menjelaskan tentang

self assessment system tersebut. Dengan demikian untuk menjelaskan asal

muasal self assessment system dapat dilihat melalui wewenang dari fiskus

yang aktif berdasarkan official assessment system bergeser menjadi

wewenang pasif berdasarkan self assessment system. Artinya setelah

terjadi tax reform wewenang aktif sudah bergeser ke tangan wajib pajak
berdasarkan self assessment system. Berawal dari perubahan pertama UU

PPh tahun 1983 hingga saat ini Indonesia menggunakan self assessment

system.

Sementara sistem tersebut digunakan di Timor Leste, didasarkan

pada Regulasi United Nation Transition Administration East Timor

(UNTAET) No. 1 tahun 1999, yang memberikan wewenang sepenuhnya

kepada UNTAET untuk mempersiapkan segala sesuatunya menuju pada

kemerdekaan total Timor Leste. Seirama dengan rangkaian proses

tersebut, maka UNTAET dapat menerapkan asas konkordansi di Timor

Leste, pada bidang perpajakan, dengan menggunakan self assessment

system dalam pemungutan pajak.

Pada sistem pemungutan pajak itu terdapat perbedaan dan

persamaan antara Timor Leste dan Indonesia seperti dalam tabel berikut:

Tabel 2

Perbedaan dan persamaan sistem pemungutan antara Timor


Leste dan Indonesia
Persamaan

Indikator Indonesia Timor leste


Kesadaran Internal Lebih baik karena Masih butuh waktu untuk
Wajib Pajak pemahaman WP tentang membina, &
pajak cukup memadai mensosialisasikan aturan
terhadap aturan pajak. pajak kepada Wajib Pajak
UU PPh Sangat lengkap dan terinci, Sangat abstrak dan
sehingga membatasi ruang tidak rinci, sehingga
penafsiran yang cukup mengundang
bersifat merugikan penafsiran yang
penerimaan negara bersifat penghindaran
pajak.
Capacity building Lebih efektif, melalui Masih dalam tahap
pendidikan formal dan pendidikan informal
informal. (pelatihan).
Team accounting Jauh lebih handal, sehingga Perlu ditingkatkan, agar
dan hukum mudah mendeteksi, kedepan bisa memberi
pembukuan dan laporan respon yang positif pada
Wajib Pajak sistem tersebut.
Jasa Konsultan Tersedia untuk memberikan Masih sangat terbatas,
pelayanan kepada Wajib baik kualitas maupun
Pajak kuantitas.
Persamaan

Indikator Indinesia dan Timor Leste


Wewenang Wajib Mutlak ditangan wajib pajak dalam pemenuhan
pajak kewajibannya, mulai dari menghitung,
memperhitungkan, menyetor dan melaporkan pada
kantor pajak
Wewenang Fikus Membina, mengawasi, mengsosialisakan informasi yang
kaitan dengan aturan-aturan baru dan memberi
pelayanan yang lebih prima.
Sarana Melalui workshop, website, majalah, brosur, telpon,
informasi radio dan tv.
Melalui workshop, Self assessment system dan withholding system,
website, majalah, disamping official assessment system secara praktek
brosur, telpon, masih digunakan pada saat pemeriksa (auditor)
radio dan tv. melakukan pemeriksaan terhadap laporan wajib pajak
dan menentukan hasilnya sesuai dengan
hasil temuannya.
Pemungut Dilakukan oleh bendahara pemerintah,
pajak badan tertentu, BUMN dan BI
Penyetoran Melalui bank persepsi atau kantor pos, dengan
pemungutan menggunkan surat setoran pajak (SSP)
pajak
Pemenuhan Wajib pajak harus mengeluarkan uang untuk
kewajiban membayar konsultan pajak

Selain perbedaan dan persamaan itu, penulis akan menguraikan pula

kelebihan dan kekurangannya sistem tersebut antara lain :


1. kelebihannya di Indonesia yakni ; (a) memberikan wewenang penuh

kepada wajib pajak untuk melakukan pemenuhan kewajibannya; (b)

membatasi wewenang fiskus yaitu hanya pada tahap pengawasan dan

pembinaan; (c) diberikan kepercayaan oleh UU kepada pihak ketiga

(bukan wajib pajak dan bukan fiskus) untuk memotong dan memungut

pajak; (d) pemerintah tidak mengeluarkan biaya untuk melakukan

pemungutan pajak; (e) UU PPh sangat lengkap sehingga mempermudah

wajib pajak maupun fiskus dalam melaksanakan kewajibannya masing-

masing ;

2. Kelebihannya di Timor Leste adalah sama dengan point a, b, c dan d yang

diimplementasikan oleh Indonesia.

3. Kekurangannya di Indonesia adalah; (a) pengawasan kurang ketat

sehingga terjadi kolusi dan korupsi; (b) perlu lebih intensif dalam

sosialisai melalui berbagai media untuk mempermudah wajib pajak,

memahami self assessment system.

4. Kekurangannya di Timor Leste yakni ; (a) pada Negara baru self

assessment system sangat membingungkan wajib pajak; (b) wajib pajak

harus mengeluarkan biaya untuk membayar konsultan pajak; (c) tingkat

pelanggaran cukup tinggi; (d) tingkat penghindaran juga cukup banyak;

(e) UU PPh nya tidak lengkap akhirnya sulit memberikan petunjuk yang

lebih memadai kepada wajib pajak dan fiskus.


D. Timbul dan Hapusnya Hutang Pajak

Ditinjau dari segi hukum, pajak merupakan sebuah perikatan.

Perikatan pajak adalah perikatan yang timbul karena undang-undang,

yang dilingkupi oleh hukum di mana salah satu memaksa. Menurut

Rochmat Soemitro (dalam Y. Sri Pudyatmoko, 2006 : 62), menyebutkan

bahwa: utang pajak adalah utang yang timbul secara khusus, karena negara

(kreditur) terikat dan tidak memilih secara bebas siapa yang akan dijadikan

debiturnya.

Lahirnya utang pajak dikenal adanya dua ajaran, yakni ajaran formal

dan ajaran material. Menurut ajaran materil utang pajak timbul dengan

sendirinya karena pada saat yang ditentukan oleh undang-undang,

sekaligus dipenuhi syarat subyek dan syarat obyek. Timbulnya hutang

pajak itu tidak perlu campur tangan atau perbuatan dari pejabat pajak, asal

syarat-syarat yang ditentukan oleh undang-undang telah terpenuhi.

Di Timor Leste ajaran materiil di atur dalam pasal 27 ayat (2)

yakni mengenai wajib pajak. Subyek pajak adalah Orang pribadi, badan

dan warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan

yang berhak, yang memenuhi syarat-syarat subyektif. Subyek pajak

dikategorikan menjadi :

1. Subyek pajak dalam negeri. Syarat menjadi subyek pajak dalam

negeri antara lain;

a. Orang pribadi bertempat tinggal di Timor Leste;


b. Orang pribadi yang berada di Timor Leste lebih dari 180 hari

dalam 12 bulan atau berniat untuk tinggal di Timor Leste;

c. Badan yang ddirikan di Timor Leste;

d. Warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan

menggantikan yang berhak.

2. Subyek pajak luar negeri. Syarat menjadi subyek pajak luar negeri

antara lain ;

a. Orang pribadi bertempat tinggal di Timor Leste;

b. Orang pribadi yang berada di Timor Leste tidak lebih dari 180

hari dalam waktu 12 bulan;

c. Badan yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di

Timor Leste, yang melakukan kegiatan melalui BUT;

d. Badan yang tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di

Timor Leste yang dapat menerima penghasilan dari Timor Leste

tidak dari menjalankan usaha melalui BUT di Timor Leste. Jadi

subyek pajak itu berubah menjadi wajib pajak mulai saat

menerima atau memperoleh penghasilan kena pajak, dan

sebaliknya subyek pajak itu berhenti menjadi wajib pajak

apabila;

1. Tidak menerima penghasilan kena pajak;

2. Meninggal dunia;

3. Pergi meninggalkan Timor Leste untuk selamanya;

4. Badan tersebut berhenti menjalankan kegiatan usahanya.


Sedangkan subyek pajak itu memenuhi syarat obyektif adalah pada

saat menerima atau memperoleh penghasilan kena pajak (PKP), yang

berumber dari;

1. Timor Leste dan luar Timor Leste (berdasarkan asas domisili);

2. Timor Leste (berdasarkan asas source income).

Mengenai obyek pajak, di Timor Leste diatur dalam pasal 28 ayat

(1) UU PPh No. 8 tahun 2008, yakni tentang obyek pajak penghasilan yang

diperoleh melalui usaha, modal, properti, pembayaran pajak atas jasa dan

lain-lainnya seperti diatur dalam pasal 53 UU ayat (1), UU PPh No. 8 tahun

2008.

Sedangkan di Indonesia ajaran material ini di atur dalam pasal 1 UU

PPh No. 36 tahun 2008 yang menyebutkan pajak penghasilan dikenakan

terhadap subyek pajak atas penghasilan yang diterima atau

diperolehnya dalam satu tahun. Artinya subyek pajak tersebut dikenai

pajak apabila menerima atau memperoleh penghasilan, yang selanjutnya

subyek pajak tersebut disebut wajib pajak. Selanjutnya dalam pasal 4 UU

PPh No. 36 tahun 2008, yang menyebutkan bahwa yang menjadi obyek

pajak adalah penghasilan, yaitu setiap tambahan kemampuan ekonomis

yang diterima atau diperoleh wajib pajak, baik yang berasal dari dalam

maupun luar Indonesia. Dalam artian UU ini menganut prinsip pemajakan

atas penghasilan dalam pengertian yang luas yaitu lebih memperhatikan


tambahan kemampuan ekonomis yang diterima wajib pajak sebagai

ukuran terbaik.

Dari uraian di atas dapat di simpulkan bahwa ajaran materiil

mengatur tentang ;

1. Obyek Pajak;

2. Subyek pajak;

3. Dasar pengenaan pajak;

4. Tarif pajak;

5. Cara perhitungan pajak.

Sedang menurut ajaran formal, utang pajak timbul karena undang-

undang pada saat dikeluarkan surat ketetapan pajak, (perbuatan manusia).

Jadi selama belum ada surat ketetapan pajak maka belum ada utang

dan tidak akan dilakukan penagihan, walaupun syarat subyek maupun syarat

obyek telah terpenuhi bersamaan.

Di Timor Leste, ajaran formil, di atur dalam pasal 64 ayat (2), (3)

dan ayat (4) UU PPh No. 8 tahun 2008. Dapat dijelaskan bahwa pada ayat

(2) itu menentukan untuk pajak penghasilan yang diangsur, sebesar 0.5 %

dari gross income, baik omzet pertahun $ 1 juta keatas maupun omzet

pertahun di bawah $ 1 juta, di bayar setiap tanggal 15 bulan berikutnya

maupun setiap tanggal 15 pada triwulan ketiga sebagaimana di tentukan

dalam ayat (3). Pada ayat (4) menjelaskan mengenai pembayaran yang

merupakan angsuran setiap bulan dan triwulan akan dikredit pada akhir
tahun. Selain pajak anggsuran (installment tax atau minimum tax)

penagihan terhadap pajak pemotongan (withholding tax), di atur dalam

pasal 53, 54, 55 dan 56,69 UU PPh No. 8 tahun 2008, yang menyebutkan,

pajak pemotongan ini diberlakukan pada setiap orang yang membayar

suatu jumlah penghasilan sumber jasa kepada orang pribadi atau badan

harus memotong pajak sesuai ketentuan yang ada. Kemudian pembayaran

tersebut dilaksanakan pada setiap tanggal 15 bulan berikutnya. Untuk

pajak tahunan ditentukan tanggal akhir pemasukan surat pemberitahuan

tanggal 31 Maret. Jika ada terjadi sesuatu lain hal bisa minta perpanjangan

waktu, dengan catatan harus membayar terlebih dahulu sejumlah uang,

agar tidak dapat dikenakan sanksi administrasi atas permintaan

perpanjangan waktu tersebut.

Wilayah pendaftaran Kantor Pajak Pelayanan di Timor Leste ada 3

yakni Dili, Baucau dan Maliana. Tiga kantor pajak pelayanan ini

melakukan pelayanan terhadap wajib pajak di seluruh wilayah Timor

Leste. Selanjutnya menyangkut penyelesaian sengketa pajak di atur

dalam pasal 69 ayat (1)71 UU PPh No. 18 tahun 2000. Amanat pasal 69

ayat (1) dijelaskan bahwa menyelesaikan sengketa pajak terhadap

keputusan komisaris yang dirasa oleh wajib pajak tidak benar atau

bertentangan dengan aturan perpajakan perlu diselesaikan melalui

lembaga independen yang disebut kantor banding. Akan tetapi dalam

kenyataan sampai saat ini di Timor Leste hanya ada unit banding yang

tetap di bawa kendali komisaris. Hal seperti ini dalam penyelesaian


sengketa juga tidak ada peluang yang cukup pengambil keputusan dalam

unit tersebut secara independen.

Sementara di Indonesia ajaran formil diatur dalam pasal pasal 25 UU

PPh No. 36 tahun 2008. Pada ketentuan ini mengatur tentang perhitungan

besarnya angsuran bulanan yang harus dibayar oleh wajib pajak sendiri

dalam tahun berjalan. Secara garis besar ajaran formil terdiri dari ;

1. Pendaftaran;

2. Pembayaran;

3. Pelaporan;

4. Penetapan;

5. Penagihan; penyelesaian sengketa dan tindakan pidana.

Selain timbulnya hutang pajak karena undang- undang, maka hutang

pajak timbul karena perbuatan manusia, yakni setelah administrator pajak

menerbitkan surat pemberitahuan pajak. Misalnya pajak pemotongan

yang tidak dipotong oleh pihak ketiga atau pemberi kerja, jasa konstruksi,

sewa rumah dan tanah serta upah/gaji.

Selain kapan saat timbulnya hutang pajak, harus diketahui dengan baik

kapan hapusnya hutang pajak. Utang pajak dapat hapus karena hal-hal

sebagai berikut :

1. Karena telah dilakukan pembayaran. Artinya wajib pajak yang terkena

utang sudah melakukan pembayaran, pada bank yang ditunjuk oleh

pemerintah.
2. Karena kompensasi hutang. Kompensasi itu sendiri muncul karena over

payment, dan untuk melakukan kompensasi atau restitusi hanya, atas

permitaan wajib pajak. Kompensasi boleh dilakukan secara vertikal

maupun horizontal.

3. Karena daluarsa. Daluarsa adalah hapusnya,73 suatu hak untuk dapat

dimintakan pemenuhan prestasinya oleh kreditur atau kewajiban debitur

untuk menunaikan suatu prestasi karena lampaunya suatu waktu, yaitu

setelah 10 tahun.

4. Karena peniadaan hutang pajak. Ini mengakibatkan kreditur dibebaskan

dari kewajiban untuk membayar pajak. Peniadaan hutang pajak

menjadi sah hanya dapat didasarkan pada surat keputusan administrator

perpajakan, didasarkan antara lain :

a. Dasar penetapan pajak tidak benar;

b. Karena penghapusan;

c. Karena penghapusan sebagian;

d. Karena pembebasan hutang pajak, karena musnahnya obyek pajak;

dan karena bencana alam.

Hutang pajak itu timbul oleh karena undang- undang di tambah

perbuatan manusia. Dua cara tersebut selanjutnya melahirkan ajaran

timbulnya hutang pajak yang masing-masing mempunyai kelebihan dan

kekurangan. Perbedaan dan persamaan ajaran Material dan Formil tentang

timbul dan hapusnya hutang pajak di Timor Leste dan Indonesia seperti

tabel berikut :
Tabel 3

Perbedaan dan persamaan Timbul dan hapusnya hutang pajak


menurut ajaran Material dan formil

Perbedaan

Indikator Indonesia Timor Leste


Ajaran resmi
Syarat wajib pajak Subyek pajak yang Subyek pajak yang
dalam negeri berada di indonesia berada di Timor Leste
lebih dari 183 dalam lebih dari 180 hari
jangka waktu 12 bulan dalam jangka waktu 12
bulan
Obyek pajak Pusat dan daerah pusat
Tax kredit Sudah diberlakukan Belum berlaku
TPKP Dirinci Tidak dirinci
Ajaran Formil
Tempat Pendaftaran Lebih banyak Hanya 3 KPP
Penyelesaian Lewat pengadilan pajak Masih pada bagian
sengketa keberatan
Penagihan pajak dengan Pencegahan dan Belum ada
surat paksa penyanderaan
Pengembalian Kompensasi dan Hanya kompensasi
over pyament restitusi
Penggunaan bahasa Harus mendapat izin Diperbolehkan
asing dalam terlebih dahulu dari menggunakan 4
pembukuan menteri keuangan bahasa (UUD RDTL
psl 159)
Persamaan
Indikator
Ajaran Materil Indonesia & Timor Leste
Subyek pajak Pada prinsipnya sama, dalam pelaksanaan
Dasar pengenaan dikenakan pada netto dan bruto penghasilan yang
pajak diterima atau diperoleh oleh wajib pajak.
Ajaran formil
Syarat pendaftaran Memenuhi syata obyektif dan subyektif untuk
memperoleh NPWP
Pembayaran pajak Bisa menggunakan cek. Tunai, giro dan transfer
lewat eletronik.
Dasar timbulnya Sengketa antara wajib pajak dan pejabat yang
sengketa berwenang mengeluarkan keputusan.
Hapusnya hutang pajak Juga sama, setelah melewati beberapa langkah
penyelesaian.

Kelebihan dan kekurangan yang terkandung di dalam kedua ajaran

seperti berikut:

Ajaran materil kekurangannya adalah bahwa pada saat utang pajak

itu timbul tidak diketahui dengan pasti, atau belum diketahui dengan

pasti, berapa besarnya utang, karena kebanyakan wajib pajak tidak

menguasai ketentuan undang-undang pajak, sehingga kurang mampu

menerapkannya. Sementara kelebihannya adalah manusia tidak ikut

campur tangan dalam menetapkan utang tidak ada rekayasa terhadap

besarnya hutang bagi wajib pajak.

Ajaran Formil, kelebihannya adalah pada saat hutang pajak timbul,

sekaligus dapat diketahui dengan pasti berapa besarnya utang pajak,

karena yang menentukan adalah fiskus. Dengan demikian langsung

memberikan tahukan hutang pajak tersebut kepada wajib pajak.


Sedangkan kekurangannya adalah besar kemungkinan utang pajak

ditetapkan tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya.

E. Tarif Pajak

Pemungutan pajak tidak terlepas dari keadilan. Dengan keadilan

dapat menciptakan keseimbangan sosial yang sangat penting untuk

kesejahteraan masyarakat. Hal ini dapat dilihat melalui tarif pajak yang

diterapkan oleh pemerintah. Tarif pajak adalah tarif untuk menghitung

besarnya pajak terutang (pajak yang harus dibayar), yang dinyatakan

dalam persentase. Secara garis besar tarif dapat dibedakan menjadi tiga.

Untuk menentukan masalah tarif pajak, kebijakan pemerintah

memegang peranan yang sangat penting. Sudah barang tentu pajak adalah

alat utama untuk memasukkan uang ke dalam kas negara yang sangat

diperlukan untuk membiayai pengeluaran negara. selain tujuan fungsi

budgeter tersebut, ada pula tujuan untuk mengatur roda perekonomian,

dengan menggunakan tarif sebagai senjata pemungkas, baik menaikkan,

menurunkan maupun menghapuskannya sama sekali. Berikut penjelasan

macam-macam tarif termaksud :

1. Tarif Tetap

Adalah tarif yang besarnya merupakan jumlah tetap, tidak berubah,

jika jumlah yang dijadikan dasar perhitungan perubah. Contoh tarif

tetap, yaitu meterai umum untuk tanda yang memuat perjanjian atau

kontrak, dan ini tidak tergantung kepada besarnya jumlah uang yang

diterima. Untuk tarif tetap ini, yang dipersoalkan bukan masalah adil
dan tidak adil melainkan menyangkut legalitas pada dokumen-dokumen

tertentu yang harus menggunakan meterai yang sejenis, yang dapat

dibedakan dengan dokumen lainnya. Dan ini sudah menjadi ketentuan

pihak yang berwenang, tanpa mengkaitkan dengan kaya atau miskin,

ekonomi lemah atau kuat.

2. Tarif Proporsional

Tarif proporsional atau tarif sepadan adalah tarif yang berupa Suatu

persentase tetap yang tidak berubah-ubah. Tetapi jika jumlah yang

dijadikan dasar perhitungan berubah, maka jumlah uang yang harus di

bayar berubah juga. Tarif ini kurang memperhatikan sisi keadilan,

karena semua orang dikenakan pajak dengan tarif yang sama, tanpa

memperhatikan kenyataan keadaan dan kemampuan orang yang satu

dengan yang lain, yang mempunyai pendapatan dan tanggungan yang

berbeda.

3. Tarif Progresif

Tarif ini berupa persentase yang meningkat, seiring dengan


meningkatnya jumlah yang dikenai pajak. Penerapan suatu tarif
progresif yang tinggi untuk tujuan peningkatan penerimaan di satu
pihak dan pertimbangan keadilan di lain pihak, mungkin sekali
berakibat kemunduran yang berarti dalam tingkat tabungan, investasi
dan pertumbuhana ekonomi serta dapat pula berakibat administrasi
dan pelaksanaan yang rumit, sehingga meninggalkan sisi
kesederhanaan, akan tetapi lebih meningkatkan penerimaan Negara.
Jadi tarif pajak jenis ini terdiri dari beberapa persentase dan bukan
persentase tunggal. Tarif ini dinilai paling adil bagi semua wajib pajak,
karena sudah disesuaikan dengan besar- kecilnya penghasilan yang
diterima oleh wajib pajak.

Tabel 4
Perbedaan dan Persamaan Tarif Pajak
Perbedaan

Indikator Indonesia Timor Leste

Tarif Progresif Proporsional dan

progresif

PTKP Keadilan Keadilan dan

Kesederhanaan

Tarif pajak 20 % dari gross 10 % dari gross

untuk non resident income income

Withholding tax 15% 10%

Bunga bank dan 15% Dihapus

dividen

Wajib pajak go publik 23-25 % Timor Leste belum ada

Persamaan

Indikator Indonesia & Timor Leste

Tarif Secara teori Indonesia menggunakan tarif

progresif, tapi dalam pelaksanaan masih

mengimplementasikan tarif proporsional

terutama terhadap withholding tax, Sedangkan

Timor Leste menggunakan tarif proporsional dan

progresif.
Tabel 4 di atas adalah gambaran perbedaan dan persamaan tarif

pajak pada kedua negara. Sekilas diperhatikan dalam kolom di atas,

bahwa, Timor Leste menerapkan tarif pajak lebih rendah di bandingkan

Indonesia. Ini merupakan strategi kebijakan pada masing-masing negara

dalam perekonomian dalam negeri. Dari gambarkan tersebut akan

menguraikan kelebihan dan kekurangannya antara lain :

a. Kelebihan Indonesia mengimplementasi tarif progresif yaitu ; (a)

memasukan uang sebanyak mungkin ke dalam kas negara; (b) sistem

manajemen perpajakan dan SDM sudah memadai; (c) kaya sumber

daya alamnya; (d) menciptakan keadilan di antara wajib pajak.

b. Kelebihan Timor Leste mengimplementasi tarif proporsional dan

tarif progresif antara lain; (a) menjaga keseimbangan asas keadilan

dan kesederhanaan; (b) Tarif proporsional murni diterapkan pada

area non migas (asas sederhana), sedangkan tarif progresif

diterapkan pada area migas (asas keadilan); (c) lebih

memprioritaskan wajib pajak dalam negeri.

c. Kekurangan tarif pajak di Indonesia yaitu; (a) mengabaikan asas

kesederhanaan, yang seharusnya adalah tepat diterapkan dalam self

assessment system pada negara berkembang; (b) implementasi tarif

progresif cukup rumit sehingga wajib pajak kecil harus

mengeluarkan biaya untuk konsultasi ke public accounting.

d. Kekurangan tarif pajak di Timor Leste yaitu ; (a) untuk tarif pajak

proporsional pada area domestik menimbulkan ketidakadilan di


antara wajib pajak, karena tidak disesuaikan dengan besar-kecilnya

penghasilan yang diterima atau diperoleh; (b) tidak memasukan

uang ke dalam kas negara; (c) lebih menguntungkan wajib pajak

tertentu.

F. Penghasilan Tidak Kena Pajak

Khusus wajib Pajak orang pribadi,78 untuk menghitung jumlah

penghasilan kena pajak, penghasilan netonya terlebih dahulu harus

dikurangi dengan penghasilan tidak kena pajak (PTKP). Pada penghasilan

tidak kena pajak (PTKP) ini, terdapat perbedaan tarif yang diterapkan di

Timor Leste dan Indonesia. Hal ini disebabkan Timor Leste menggunakan

Tarif ganda yaitu tarif progresif dan tarif proporsional, sementara

Indonesia menggunkan tarif progresif. Secara mendetailnya akan penulis

menguraikan terlebih dahulu tarif yang digunakan oleh Indonesia

sebagaimana di atur dalam pasal 7 UU No. 36 Th. 2008 tentang pajak

penghasilan seperti berikut :

Tabel 5
Penghasilan Tidak Kena Pajak wajib pajak orang pribadi yang
berlaku di Indonesia
Status Wajib Pajak Besarnya PTKP
Pertahun Perbulan
Diri Wajib Pajak Rp. 15.840.000 Rp. 1.320.000
Tambahan untuk wajib
Pajak yg menikah Rp. 1.320.000 Rp.110.000

Tambahan untk setiap Rp. 1.320.000 Rp. 110.000


anggota keluarga (max
3org )
Pada tabel 8 di atas, menguraikan mengenai besarnya penghasilan

tidak kena pajak (PTKP). Sementara tambahan untuk setiap anggota

keluarga yang sesuai dengan undang-undang adalah maksimal 3 orang.

Yang dapat diperboleh adalah anggota keluarga sedarah dan semenda

dalam garis keturunan lurus yang menjadi tanggungan sepenuhnya

adalah :

1. Anggota keluarga sedarah dalam garis keturunan lurus,

misalnya:ayah kandung, ibu kandung, anak kandung, kakek,

nenek dan cucu;

2. Anggota keluarga semenda dalam garis keturunan lurus,

misalnya mertua anak tiri;

3. Anggota keluarga yang menjadi tanggungan sepenuhnya adalah

anggota keluarga yang tidak mempunyai penghasilan dan

seluruh biaya hidupnya ditanggung oleh wajib pajak.

Adapun ketentuan lain mengatur mengenai penghasilan tidak kena

pajak;

1. Untuk karyawati kawin, PTKP dikurangkan adalah hanya untuk

diri sendiri. Sedang belum kawin pengurangan PTKP selain

untuk diri sendiri di tambah dengan PTKP keluarga yang

menjadi tanggungan sepenuhnya;

2. Bagi karyawati yang mendapat surat keterangan dari pejabat

paling rendah kecamatan, bahwa suaminya tidak kerja maka

diberi tambahan PTKP sebesar Rp. 1.320.000/tahun dan RP.


110.000/bulan, ditambah lagi dengan keluarganya maksimal 3

orang.

Memperhatikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) yang

diberlakukan di Indonesia, berikutnya ini akan menguraikan pula

penghasilan tidak kena pajak (PTKP), yang diberlakukan di Timor

Leste, berdasarkan pasal 20 ayat (2) UU No. 8 Th. 2008 tentang Pajak

dan Pabean sebagai berikut :

Tabel 6

Penghasilan Tidak Kena Pajak yang berlaku di Timor Leste

Jenis Pajak Besarnya PTKP

Pertahun Perbulan

PPh Upah pd area non Migas $ 6,000 $ 500

PPh Upah pd area Migas untuk $ 1,200 $ 100

resident

PPh Upah pada area Migas non $ 1,200 $ 100

resident

PPh wajib pajak orang pribadi $ 6,000 $ 500

Memperhatikan PTKP pada tabel 6 ini, dapat dijelaskan, bahwa

pemerintah Timor Leste mengambil kebijakan dengan berlandaskan pada

sisi keadilan, dengan memainkan tarif pada penghasilan tidak kena pajak.

Maksudnya adalah dengan cara sedemikian menimal tercipta suatu

keseimbangan antara wajib pajak yang bekerja pada area migas dan non

migas. Asumsinya adalah wajib pajak yang bekerja pada area migas,
tentunya menerima atau memperoleh upah atau gaji yang cukup tinggi,

seirama dengan kemampuan yang dipunyai.

Sementara wajib pajak yang bekerja pada area non migas, gajinya

mayoritas rendah, sesuai dengan skill yang dimiliki. Ini terlihat bahwa

skill wajib pajak merupakan salah satu, titik tolak pemikiran dalam

menentukan penghasilan tidak kena pajak, disamping faktor

perekonomian dalam negeri dalam pemenuhan kebutuhan, maka secara

rasional untuk mendukung kebijakan pemerintah itu, bukan hanya cukup

pada menaikkan PTKP upah dan PTKP wajib pajak orang pribadi sebesar

$ 500/bulan, melainkan yang lebih penting adalah menentukan upah

minimum untuk wajib pajak pada area migas

Penjelasan penghasilan tidak kena pajak di Timor Leste dan

Indonesia diatas, merupakan hasil kebijakan yang diambil oleh masing-

masing pemerintah, sesuai dengan pertimbangan dan sudut pandang

yang berbeda. Perbedaan dan persamaan tersebut secara singkat

digambar pada tabel berikut :


Tabel 7
Perbedaan dan persamaan Penghasilan Tidak Kena Pajak di
Timor Leste dan Indonesia

Perbedaan PTKP
Indikator Indonesia Timor Leste
PTKP untuk upah Dirinci mulai diri WP Tidak dirinci (hanya
Rp. 1.320.000,-/bulan, membedakan PTKP
Wajib pajak menikah migas $ 100 dan non
Rp. 110.000/bulan dan migas $ 500/bulan
tanggungan sampai
dengan 3 orang,
masing-masing
Rp. 110.000/bulan
Persamaan PTKP
Indikator Timor Leste dan Indonesia
Cara pemotongan Dilakukan oleh pihak ketiga atau
penyedia/pemberi kerja, kemudian disetorkan
pada bank yang ditunjuk pemerintah

Sehubungan dengan perbedaan dan persamaan penghasilan tidak

kena pajak di Timor Leste dan Indonesia pada tabel 7 di atas, penulis akan

mengulas kelebihan dan kekurangan pada masing-masing Negara.

1. Kelebihan penghasilan tidak kena pajak di Indonesia antara lain : (a)

Penghasilan tidak kena pajak di jelaskan secara rinci, mulai dari diri

wajib pajak, wajib pajak yang menikah, tanggungan keluarga maksimal

3 orang sesuai dengan aturan; (b) memberi kepastian hak yang jelas;(c)

tanggungan keluarga mulai terhitung tanggal 1 Januari; (d) ada

tunjangan hari tua dan biaya jabatan.


2. Kelebihan penghasilan tidak kena pajak di Timor Leste antara lain; (a)

upah/gaji US $ 500/bulan untuk wajib pajak domestik; (b) memberikan

prioritas kepada wajib pajak domestik; (c) pajak penghasilan wajib

pajak domestik orang pribadi US $ 500/bulan;

3. Kekurangan penghasilan tidak kena pajak di Timor Leste adalah; (a)

wajib pajak minoritas yang gajinya sampai $ 500/bulan; (b) tidak ada

pembagian hak secara rinci, seperti diri wajib pajak, istrinya dan para

tanggungannya; (c) adanya diskriminasi PTKP wajib pajak domestik

dan non domestik ( $ 500/bulan dan $100/bulan).

4. Kekurangan PTKP di Indonesia adalah; (a) untuk diri wajib pajak,

penghasilan terlalu rendah Rp.1.320.000/bulan, dan Rp.110.000 / bulan

untuk tanggungan wajib pajak, juga sangat rendah karena tidak

seimbang dengan harga barang yang ada.

G. Fungsi Pajak

Pengertian “fungsi” dalam fungsi pajak adalah pengertian fungsi

sebagai kegunaan suatu hal. Maka fungsi pajak adalah kegunaan pokok

atau manfaat pokok pajak. Sebagai alat untuk menentukan politik

perekonomian, Pajak memiliki kegunaan dan manfaat pokok dalam

meningkatkan kesejahteraan umum. Secara teori fungsi pajak

dibedakan menjadi dua yaitu fungsi anggaran (budgeter) dan fungsi

mengatur (regulerend) seperti penjelasan berikut :


1. Fungsi Anggaran (budgeter)

Fungsi anggaran ini merupakan fungsi utama pajak, atau fungsi

fiscal, yaitu suatu fungsi dalam mana pajak digunakan sebagai alat

untuk memasukkan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan

undang-undang perpajakan yang berlaku. Disebut sebagai fungsi

utama, karena fungsi inilah yang secara historis pertama kali

muncul. Pajak digunakan sebagai alat untuk menghimpun dana dari

masyarakat tanpa ada kontraprestasi secara langsung dari

pemerintah.

Memasukkan dana secara optimal bukan berarti memasukkan

dana secara maksimal, atau sebesar-besarnya, melainkan usaha

memasukkan dana jangan sampai ada yang terlewatkan, baik wajib

pajak maupun obyek pajaknya. Diharapkan jumlah pajak yang

memang seharusnya diterima kas benar- benar masuk semua sesuai

dengan peraturan yang ada.

Adapun faktor-faktor dalam mempengaruhi dan menentukan

optimalisasi pemungutan pajak kepada warga negara adalah :

a. Kejelasan dan kepastian peraturan perundang- undangan

perpajakan. Undang-undang yang jelas, sederhana, mudah

dimengerti akan penafsiran yang sama bagi wajib pajak dan

fiskus. Dengan demikian kesadaran dan kepatuhan pemenuhan

kewajiban perpajakan akan terbentuk dengan peraturan yang

tidak berbelit-belit.
b. Kualitas petugas pajak; adalah ikut menentukan, yaitu dapat

memberikan pelayanan prima kepada wajib pajak yang lebi

efisien, tepat dan adil;

c. Sistem administrasi perpajakan yang tepat. Hal ini dianggap

penting, karena unit-unit/bagian- bagian dalam kantor pajak itu

sendiri sebagai kunci strategis dalam memberikan pelayanan

yang lebih efektif dan efisien.

2. Fungsi Mengatur (regulerend)

Fungsi mengatur (regulerend) adalah merupakan alat kebijakan

pemerintah untuk mencapai tujuan tertentu. Yang dimaksud dengan

tujuan tertentu disini adalah sebagai instrumen bagi Pemerintah

dalam mengatur perekonomian dalam negeri. Misalnya, untuk

memberikan perlindungan terhadap industri di dalam negeri,

mendorong minat investor untuk menanamkan modal di sektor-

sektor dan/atau di daerah tertentu, menghambat pengkonsumsian

suatu produk tertentu, dan lain- lain.

Selain itu, fungsi mengatur ini juga sebagai alat penggerak

masyarakat dalam sarana perekonomian untuk meningkatkan

kesejahteraan rakyat agar sejalan dengan rencana dan keinginan

pemerintah. Yang paling lazim digunakan pada fungsi mengatur

(regulerend) adalah menaikkan atau menurunkan, tarif pajak,

bahkan membebaskan tarif sebagai instrument untuk memberikan

proteksi terhadap produk atau industri tertentu.


Indonesia dipastikan menggunakan fungsi anggaran, ini searah

dengan tujuan perubahan peraturan perundang-undangan pajak

penghasilan, yang sudah barang tentu merupakan alat utama untuk

memasukkan uang ke dalam kas negara yang sangat diperlukan

untuk membiayai pengeluaran negara. Selanjutnya di dalam UU No.

36 Th. 2008, dibuat terutama dengan maksud untuk memasukkan

uang dalam kas. Ini maknanya adalah fungsi pajak mengatur

(regulerend) hanya merupakan tujuan sampingan saja. Kalau

kembali pada perjalanan sejarah perpajakan Indonesia, maka fungsi

mengatur ini eksis atau dominan sebelum terjadi reformasi pajak

pertama pada tahun 1983.

Sebelum Timor Leste memisahkan diri, telah menjalankan fungsi

anggaran yang merupakan salah satu hasil reformasi pajak pertama

di Indonesia pada tahun 1983. Dengan demikian maka setelah

merdeka, Timor Leste juga menggunakan fungsi anggaran untuk

diimplementasikan, berdasarkan UU PPh No. 18 tahun 2000. Akan

tetapi, setelah amandemen UU No. 18 Th. 2000, menjadi UU No. 8

Tahun 2008 tentang Pajak dan Pabean, maka fungsi pajak yang

digunakan bukan hanya fungsi anggaran sendiri, melainkan fungsi

ganda yaitu anggaran (budgeter) dan fungsi mengatur (regulerend).

Untuk memahami fungsi pajak tersebut dapat dilihat dari

kebijakan pemerintah dalam menerapkan tarif pajak. Jika tarif pajak

itu dapat dinaikkan, diturunkan serendah mungkin, sepadan, bahkan


membebaskan beberapa jenis pajak (tidak dikenakan pajak) maka

fungsi pajak yang dipilih adalah fungsi mengatur (regulerend). Jika

tarif pajak itu sepadan, dan bertingkat sesuai dengan besar kecilnya

penghasilan maka fungsi pajak yang dipilih adalah fungsi anggaran.

Setelah penjelasan tentang fungsi pajak anggaran dan fungsi pajak

mengatur, berikut akan diuraikan perbedaan dan persamaan masing-

masing fungsi di Timor Leste dan Indonesia dalam tabel berikut:

Tabel 8
Perbedaan dan persamaan fungsi pajak
Perbedaan
Indikator Indonesia Timor Leste
Fungsi Pajak Menggunakan fungsi Menggunakan fungsi
anggaran untuk pajak mengatur
memasukan dana (regular), untuk
yang sebanyak mengatur
mungkin ke dalam perekonomian dalam
kas Negara. negeri, guna menarik
investor dari luar.
Persamaan
Indikator Indonesia & Timor Leste
Fungsi Pajak Merupakan instrument yang pilih oleh
masing- masing negara untuk mengatur
perekonomian dalam negeri sesuai
kebutuhannya.
Dari perbedaan dan persamaan fungsi pajak di atas, untuk berikut ini

akan menguraikan kelebihan dan kekurangan pada masing-masing negera,

antara lain :

a. Di Indonesia mengutamakan fungsi anggaran dengan mempunyai

kelebihan; (a) untuk memasukan uang ke dalam kas Negara, yang

kemudian akan dialokasikan kembali untuk pembangunan; (b) untuk

mendukung fungsi anggaran itu, dari waktu ke waktu semakin

menyempurnakan UU PPh yang ada; (c) menciptakan keadilan bagi semua

wajib pajak, melalui tarif progresif.

b. Di Timor Leste mengutamakan fungsi mengatur (regulerend) dengan

mempunyai kelebihan : (a) khusus untuk wajib pajak pada area non migas

(domestik) fungsi ini bermanfaat untuk mengatur perekonomian dalam

negeri; (b) menganut asas kesederhanaan, sehingga mempermudah wajib

pajak untuk melakukan pemenuhan kewajibannya; (c) untuk wajib pajak

pada area migas di berlakukan asas keadilan dan kesederhanaan (dapat

lihat melalui tarif pajak proporsional dan progresif).

c. Kekurangan fungsi pajak di Indonesia; (a) melalui fungsi anggaran lebih

mengutamakan pembangunan kolektif; (b) mengabaikan asas

kesederhanaan, sementara dalam kenyataan wajib pajak cukup sulit

menghadapi self assessment system.

d. Kekurangan fungsi pajak di Timor Leste: (a) fungsi mengatur yang

digunakan dengan tarif proporsional murni sangat mengabaikan asas


keadilan, sehingga tidak memperhatikan besar- kecinya penghasilan wajib

pajak; (b) lebih menguntungkan para pengusaha; (c) tidak memasukkan

uang ke dalam kas negara Uraian fungsi pajak di atas, penulis dapat

simpulkan dari 3 aspek sebagai berikut :

a. Aspek historis. Dapat dijelaskan bahwa, Indonesia lebih menekankan

pada fungsi budgeter, karena sebelum tax reform, Indonesia

menggunakan fungsi pajak regulerend, dengan sistem pemungutan

pajak official assessment. Oleh karena pada saat itu Indonesia masih

mengandalkan hasil minyak bumi dan gas alam, untuk mengisi APBN.

Akan tetapi pada tahun 1980-an, harga minyak bumi dan gas alam

anjlok di pasar Internasional. Dengan keadaan demikian maka

Indonesia beralih ke sektor pajak dengan lebih menekankan pada fungsi

pajak anggaran (budgeter), agar bisa mengumpulkan dana ke dalam kas

negara untuk mengisi APBN. Sedang Timor Leste sebelum referendum

tahun 1999, ikut mengimplementasikan program reformasi pajak yang

di jalankan oleh Pemerintah Indonesia tersebut. Akan tetapi merdeka

beralih pada fungsi pajak regulerend. Hal ini dilakukan, kemungkinan

masih mengandalkan hasil minyak bumi dan gas alam di celah Timor

yang sedang bekerja sama dengan Pemerintah Australia tersebut.

b. Aspek Politik. Pada aspek ini, Pemerintah Indonesia lebih

mengekstensifikasi dan mengintensifikasi pajak agar bisa mengisi dana

APBN, yang kemudian akan di alokasikan kembali untuk menjalankan

pembangunan pada semua sektor untuk kemakmuran dan kesejahteraan


masyarakat. Sedangkan Timor Leste politik perpajakan yang dirancang

bangun, adalah menggunakan fungsi pajak regulerend sebagai alat

politik untuk mengatur perekonomian dalam negeri. Hal ini

dimaksudkan untuk menarik investor asing supaya bisa menanamkan

modal di Timor Leste, agar dapat merekrut tenaga kerja dan sekaligus

memberi memotivasi kepada pengusaha lokal untuk

bersaing.

c. Aspek Yuridis. Pada aspek ini, di Indonesia dapat dilihat dari reformasi

UU PPh yang dari waktu ke waktu menuju pada kesempurnaan agar

bisa mempermudah fiskus dalam menerapkan aturan tersebut.

Penyempurnaan UU PPh tersebut dimaksudkan agar pemungutan pajak

tidak terlewatkan, bagi wajib pajak yang telah memnuhi syarat

menerima / memperoleh penghasilan kena pajak. Sedang di Timor

Leste dari diperhatikan pada perubahan UU PPh No. 8 tahun 2008,

dimana substansinya dapat mengurangi tarif beberapa jenis pajak,

bahkan menghapuskannya, seperti dividend dan pajak atas bunga bank.

H. Wajib Pajak

Di Timor Leste, materi tentang wajib pajak di atur dalam pasal 27

ayat (1) UU PPh No. 8 tahun 2008, yang menyebutkan bahwa : yang

dimaksud dengan wajib pajak antara lain ; 1) orang perorangan; 2)

warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan ; dan 3) badan yang
didirikan di Timor Leste. Wajib pajak tersebut di atas, belum dijabarkan

secara rinci, sehingga dalam penerapannya cukup membinggungkan para

wajib pajak dan fiskus itu sendiri.

Kaitannya dengan keadaan demikian, solusi yang digunakan adalah

hanya menguraikan secara singkat dalam bentuk brosur-brosur yang

kemudian di sosialisasikan kepada wajib pajak, melalui workshop, media

massa maupun media elektronik.

Di Indonesia Wajib pajak di atur dalam pasal 2 UU PPh No. 36 tahun

2008. Oleh Fidel wajib pajak adalah orang pribadi atau badan, meliputi

pembayar pajak, pemotong pajak, dan pemungut pajak yang mempunyai

hak dan kewajiban sesuai dengan ketentuan perundang-undangan

perpajakan. Wajib pajak adalah subyek pajak yang memenuhi syarat-

syarat obyektif, yang ditentukan oleh undang-undang, yaitu menerima atau

memperoleh Penghasilan Kena Pajak (PKP), yaitu penghasilan yang

melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) bagi wajib pajak dalam

negeri. Dengan kata lain, wajib pajak adalah orang atau badan yang

sekaligus memenuhi syarat-syarat subyektif dan syarat- syarat obyektif.

Orang atau badan yang memenuhi syarat-syarat subyektif merupakan

subyek pajak, tetapi belum tentu merupakan wajib pajak. Subyek pajak itu

harus memenuhi syarat-syarat obyektif, yaitu menerima/ memperoleh

penghasilan kena pajak.


Wajib pajak terdiri dari, wajib pajak dalam negeri dan wajib pajak

luar negeri.

1. Wajib Pajak dalam Negeri

Adalah subyek pajak yang memenuhi syarat antara lain:

a. Orang pribadi yang tinggal di Indonesia;

b. Orang pribadi yang berada di Indonesia lebih dari 183 hari dalam

jangka waktu 12 bulan;

c. Badan yang didirikan atau bertempat tinggal dalam sebuah negara;

d. Bentuk usaha tetap yang dipergunakan untuk menjalankan kegiatan

usaha secara teratur di suatu negara, oleh badan atau perusahaan yang

tidak didirikan atau tidak bertempat kedudukan di Indonesia.

Subyek pajak dalam negeri dapat berbentuk orang pribadi, warisan

yang belum terbagi sebagai satu kesatuan menggantikan yang berhak,

badan dan bentuk usaha tetap. Subyek pajak dalam negeri memiliki ciri-

ciri seperti berikut:

1) Orang pribadi atau perseorangan. Orang pribadi akan menjadi

subyek pajak dalam negeri apabila memenuhi ketentuan; a)

bertempat tinggal di indonesia; b) berada di Indonesia lebih dari 183

hari dalam kurun waktu 12 bulan; dan c) mempunyai niat untuk

bertempat tinggal di Indonesia.

2) Warisan yang belum terbagi. Warisan belum terbagi dianggap

sebagai subyek pengganti, yaitu menggantikan pihak yang berhak

atas warisan tersebut. Hal ini terjadi pada saat meninggalnya si


pewaris. Warisan belum terbagi dikenai pajak penghasilan apabila

warisan tersebut memberikan penghasilan. Misalnya rumah atau

tanah pewaris di kontrakkan, maka akan otomatis dikenakan pajak.

3) Badan. Dalam arti luas pengertian badan disini adalah sekumpulan

orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan, baik yang

melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha. Suatu

badan di katakan sebagai subyek pajak dalam negeri pada saat badan

tersebut di dirikan atau bertempat kedudukan di Indonesia.

Mengenai tempat tinggal orang pribadi atau tempat kedudukan

badan di tetapkan oleh direktur Jenderal menurut keadaan yang

sebenarnya (pasal 2 ayat (6) UU No. 36 tahun 2008 tentang pajak

penghasilan). Hal ini maksudkan untuk memberikan kepastian

hukum, mengenai badan yang benbentuk PT, CV, BUMN, dan

BUMD, dengan nama dan dalam bentuk apapun persekutuan,

perseroan atau perkumpulan lainnya.

4) Bentuk usaha tetap (BUT). BUT adalah bentuk usaha yang

dipergunakan untuk menjalankan kegiatan usaha secara teratur di

Indonesia, oleh orang pribadi yang tidak bertempat tinggal di

Indonesia, orang pribadi yang berada di Indonesia tidak lebih dari

183 hari dalam jangka waktu 12 bukan, untuk menjalankan usaha

atau kegiatan di Indonesia seperti : tempat kedudukan manajemen,

gedung kantor, cabang perusahaan, kantor perwakilan, pabrik,

bengkel, pertambangan atau pengalian sumber alam, wilayah kerja


pengeboran yang dipergunakan untuk eksplorasi pertambangan,

perikanan, peternakan, pertanian, perkebunan, proyek konstruksi,

instalasi, atau proyek perakitan, pemberian jasa dalam bentuk

apapun oleh pegawai atau oleh orang lain sepanjang dilakukan lebih

dari 60 hari hari dalam jangka waktu 12 bulan, atau orang atau badan

yang bertindak selaku agen bebas.

Untuk wajib pajak dalam negeri orang pribadi,yang memiliki usaha

atau pekerjaan, badan, dan Bentuk usaha tetap penghasilan bruto yang

diterima atau diperoleh dapat di kurangkan dengan biaya-biaya untuk

mendapatkan menagih dan memelihara penghasilan tersebut. Wajib pajak

perseorangan penghasilan bruto yang diterima atau diperoleh dapat

dikurangkan dengan PTKP, seperti biaya jabatan, tunjangan hari tua dan

iuran pension. Sedangkan wajib pajak badan dan BUT, tidak semua biaya-

biaya yang terjadi dalam wajib pajak dapat dipakai sebagai pengurangan

penghasilan bruto.

2. Wajib Pajak Luar Negeri

Adalah subyek pajak yang bertempat tinggal di Indonesia, tidak

didirikan atau tidak bertempat kedudukan di suatu Negara yang dapat

memperoleh penghasilan dari Indonesia. Subyek pajak luar negeri

meliputi, subyek pajak yang bertempat tinggal, bertempat kedudukan,

yang di dirikan di luar indonesia yang menerima atau memperoleh

penghasilan di Indonesia. Subyek pajak ini berbentuk orang pribadi

ataupun badan.
a. Orang Pribadi

1) Orang pribadi tergolong sebagai subyek pajak luar negeri bila

memenuhi beberapa antara lain; tidak bertempat tinggal di indonesia;

2) Berada di Indonesia tidak lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12

bulan;

3) Menerima atau memperoleh penghasilan dari Indonesia tidak dari

menjalankan usaha atau melakukan kegiatan melalui bentuk usaha

tetap di Indonesia.

b. Badan

Suatu badan di luar negeri dapat menjadi subyek pajak bila badan

tersebut mempunyai hubungan ekonomis (memperoleh penghasilan) dari

Indonesia. Dalam pengertian badan sebagai subyek pajak luar negeri

adalah badan yang memperoleh penghasilan dari Indonesia tetapi tidak

dari hasil usaha atau kegiatan yang dilakukan BUT di Indonesia. Pada

prinsipnya mengenai wajib pajak seperti diuraikan di atas, tidak ada

perbedaan dengan pelaksanaan di Timor Leste. Hanya saja di Timor Leste,

belum diuraikan secar detail seperti yang diterapkan di Indonesia.

Dari penjelasan diatas subyek pajak dapat di golongkan menjadi :

a. berdasarkan sifatnya, yang terdiri dari; a) Wajib pajak orang pribadi;

dan b) wajib pajak badan.

b. berdasarkan asalnya terdiri dari; a) Wajib pajak dalam negeri; dan b)

Wajib Pajak luar negeri. Selanjutkan dapat di klasifikasikan bahwa

subyek pajak warisan yang belum terbagi, adalah sama dengan wajib
pajak orang pribadi, sedangkan bentuk usaha tetap adalah

diklasifikasikan masuk dalam wajib pajak dalam negeri.

Untuk mempermudah pemahaman mengenai perbedaan dan persamaan

secara singkat diuraikan pada tabel berikut:

Tabel 9

Perbedaan dan persamaan wajib pajak berdasarkan UU PPh Timor


Leste dan Indonesia

Perbedaan
Indikator Indonesia Timor Leste
Syarat WP dalam Negeri Secara kuantitatif Syarat kuantitatif melebihi
(lebih dari 183 hari 180 hari, tapi tdk otomatis
dalm waktu 12 bulan) sebagai WP dlm negeri
dan syarat kualitatif
karena ada syarat lain
(niat orang yg
yaitu, keluarganya harus
bersangkutan) Untuk
tinggal, rekening,
syarat WP dalam negeri,
rumahnya di Timor Leste.
Indonesia berlaku
(Timor hanya lebih melihat
syarat ganda.
pd syarat kualitatif)
Definis Wajib Pajak Dapat dijabarkan secara Tidak dapat di jabarkan
rinci dalam UU PPh secara rinci dalam UU PPh
Persamaan
Indikator Indonesia & Timor Leste
Subyek Orang pribadi, warisan yang belum terbagi sebagai
pajak satu kesatuan menggantikan yang berhak
Kategori subyek Subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar negeri
pajak
Wajib Subyek pajak yang memenuhi syarat obyektif yakni
pajak menerima PKP
Setelah menguraikan perbedaan dan persamaan mengenai wajib

pajak seperti pada tabel di atas, penulis akan menguraikan pula

kekurangan dan kelebihan antara lain;

1. Kelebihan sistem ini, di Indonesia adalah: (a) memberikan kepastian

hukum mengenai syarat menjadi subyek pajak dalam negeri kepada wajib

pajak, agar dalam menjalankan segala aktivitas yang berkaitan dengan

perpajakan tidak ada lagi keragu-raguan; (b) definisi mengenai wajib pajak

dijelaskan secara rinci dalam memori penjelasan UU PPh sehingga

mempermudah fiskus dalam mengimplementasikannya.

2. Kelebihan mengenai sub pembahasan wajib pajak ini, untuk Timor Leste

penulis menemukan hanya sebatas, seperti diuraikan pada tabel di atas

pada bagian persamaan.

3. Kekurangan di Timor Leste adalah : (a) Syarat mengenai subyek pajak

dalam negeri tidak dipastikan secara jelas; (b) Definisi wajib pajak tidak

dijelaskan secara rinci, sehingga dalam penerapan cukup membingungkan

para fiskus.

4. Di Indonesia kekurangan, tidak ditemukan karena telah diuraikan secara

lebih detail.

1. Kelebihan Sub Sistem Pajak Penghasilan di Indonesia.

Kelebihan yang dimaksudkan disini adalah berawal dari sumber

daya manusia sebagai kunci sukses setiap negara, kemudian disusul

dengan peraturan perundang-undangan sebagai landasan aktivitas dan


terakhir manajemen implementasinya. Kenyataan menunjukkan bahwa

sumber daya manusia di Indonesia terutama dalam bidang perpajakan

sudah memadai untuk di andalkan. Faktanya adalah mulai sejak jatuhnya

harga minyak bumi dan gas alam pada tahun 1980-an di pasar

internasional, Indonesia mulai beralih ke sektor perpajakan, sebagai salah

satu sumber dalam pembangunan. Landasan mengandalkan sektor

perpajakan melalui peruabahan UU PPh, yang dilakukan secara berturut-

turut mulai tahun 1983, tahun 1994, tahun 2000 sampai dengan perubahan

keempat kalinya yaitu UU PPh No 36 tahun 2008. Implikasi perubahan itu

membawa hal-hal positif antara lain; (a) menerapakan self assessment

system, dengan maksud memberi wewenang penuh kepada wajib pajak

untuk lebih aktif dalam menjalankan pemenuhan kewajiban

perpajakannya; (b) menggunakan stelsel campuran untuk mengoreksi

stelsel fiktif yang diterapkan berdasarkan anggapan terhadap penghasilan

wajib pajak setiap bulan (installment tax atau minimum income tax); (c)

menerapkan tarif progresif, yang berlandaskan pada asas keadilan pajak.

Cara demikian dikatakan adil karena pengenaan pajak di dasarkan pada

besar- kecilnya penerimaan; (d) penghasilan tidak kena pajak, dapat dirinci

mulai dari diri wajib pajak, isterinya, serta tanggungannya sebanyak 3

orang. Ini menunjukkan bahwa hak-hak anggota keluarga sudah

diperhitungkan di dalam penghasilan yang diterima atau diperoleh oleh

kepala keluarga; (e) fungsi pajak yang digunakan adalah fungsi anggaran.

Ini menjadi pilihan pemerintah, karena sektor pajak merupakan salah satu
sumber keuangan negara, yang tidak ada beban utang terhadap

pemerintah, baik sekarang maupun pemerintah yang akan datang. Dengan

demikian, diupayakan semaksimal mungkin untuk memasukkan uang ke

dalam kas negara yang kemudian akan dialokasikan kembali untuk

pembangunan dan pelayanan umum pemerintah; (f) Penyusutan. Pada

penyusutan ini dapat menerapkan 2 metode sebagai dasar penyusutan,

yaitu metode garis lurus dan metode saldo menurun. Manfaat kedua

metode tersebut adalah diterapkan untuk mengkalkulasi masa manfaat

asset-asset yang digunakan oleh para pengusaha, baik dalam

pemnggunaannya secara keseluruhan maupun sebagian; (g) penerapan self

assessment system dilakukan bersama-sama dengan withholding system.

Ini di maksudkan untuk melakukan penghematan biaya pemungutan pajak

pada pihak ketiga. Atas dasar pemikiran tersebut, maka pihak ketiga diberi

wewenang oleh undang- undang pajak penghasilan untuk melakukan

pemotongan dan pemungutan pajak, selanjutkan dapat disetorkan kepada

bank yang ditunjuk oleh pemerintah; (h) mengklasifikasikan wajib pajak

secara jelas, sehingga mempermudah fiskus dalam pelaksanaan

pemungutan pajak; (i) skill sumber daya manusia sudah memadai untuk

merespon keadaan real yang ada; (j) peraturan perpajakannya sudah

memadai untuk membatasi, celah-celah yang akan digunakan oleh wajib

pajak untuk melakukan penghindaran.


2. Kelebihan Sub Sistem Pajak Penghasilan di Timor Leste.

Kelebihan self assessment system di Timor Leste, adalah: (a) wajib

pajak disamping memberikan wewenang penuh secara aktif dalam

pemenuhan kewajibannya dan sekaligus merupakan hal baru bagi Timor

Leste. Dengan demikian wajib pajak dapat dibiasakan untuk melakukan

pemenuhan kewajibannya secara mandiri, dan tidak dapat membandingan

dengan sistem lain, selain self assessment system; (b) dilakanakan

bersama-sama dengan withholding system sehingga menghemat biaya

pemerintah dalam melakukan pemungutan pajak. Oleh karena pihak ketiga

diberi wewenang oleh UU PPh untuk memotong dan memungut pajak,

dan kemudian disetorkan kepada bank yang ditunjuk oleh pemerintah;

(c) lebih mempermudah pengawasan terhadap wajib pajak, karena

negaranya kecil dan wilayahnya juga kecil; (d) menerapkan tarif

proporsional dan progresif (asas keadilan dan asas kesederhanaan); (e)

lebih memperhatikan wajib pajak dalam negeri. Hal ini dilakukan dengan

asumsi bahwa mayoritas wajib pajak dalam negeri ekonominya lemah dan

skillnya rendah, sehingga ditentukan penghasilan tidak kena pajak

perbulan sebesar US $ 500.


3. Kekurangan Sub Sistem Pajak Penghasilan di Timor Leste.

Kekurangan yang terdapat disini antara lain:

a) Sumber daya manusia di Timor Leste pada bidang perpajakan belum

memadai;

b) UU PPh masih belum memadai untuk melakukan pemungutan secara

detail, serta memberi peluang kepada wajib pajak untuk menafsirkan

sesuai dengan kepentingannya;

c) Penghasilan tidak kena pajak $ 500/bulan hanya diterima oleh sebagian

kecil wajib pajak. Disamping itu tidak membuat pembagian secara rinci

mengenai hak-hak wajib pajak, isterinya dan tanggungannya;

d) penyusutan diklaim 100 %, pada setiap akhir tahun pajak.Hal ini

berdampak pada pengusaha besar tidak membayar pajak beberapa tahun

ke depan, tentunya akan merugikan penerimaan negara pada sektor

pajak non migas;

e) wajib pajak harus mengeluarkan uang untuk membayar konsultan pajak,

supaya bisa membantu mengisi formulir pajak yang ada;

f) fungsi pajak yang digunakan adalah fungsi mengatur, sehingga lebih

dijadikan instrument politik bagi pemerintah dalam memainkan tarif

pajak. Hal ini merugikan penerimaan negara;


g) tingkat kesadaran wajib pajak dalam pemenuhan kewajiban membayar

pajak masih rendah, karena faktor pemahaman terhadap self assessment

system.

4. Kekurangan Sub Sistem Pajak Penghasilan di Indonesia

Disadari bahwa, Indonesia memang sudah cukup sempurna di

pandang dari segala sudut di bidang perpajakan, bila dibanding dengan

Timor Leste. Namun sesempurna apapun pasti tetap ada kekurangan

seperti antara lain : (a) lebih mengedepankan keadilan (tarif progresif) dan

mengabaikan kesederhanaan (tarif proporsional). Pada hal dalam

kenyataan, negara berkembang lebih cocok menggunakan tarif

proporsional agar tidak terlalu rumit menghitung pajaknya; (b) PTKP

terlalu rendah, sehingga tidak seimbang dengan harga pasar sembako yang

tidak stabil.

Selain kelebihan dan kekurangan pada sub- subsistem di atas, dalam


tabel berikut akan diuraikan mengenai ringkasan perbedaan dan
persamaannya.
Tabel 10

Ringkasan perbedaan dan persamaan sub-subsistem sebagai


perbandingan sistem pajak penghasilan antara Timor Leste dan
Indonesia

Perbedaan
Indikator Timor Leste Indonesia
UU PPh Material & formalnya Dipisahkan untuk
tidak dipisahkan mempermudah
implementasinya
Fungsi pajak Fungsi mengatur Fungsi Anggaran
(regulerend) (budgeter)
Tarif Pajak Proporsional dan Progresif
progresif
PTKP upah $ 500 untuk non migas Dirinci mengenai diri
dan $ 100 untuk Migas wajib pajak, WP yg
baik resident maupun menikah, serta
non resident. Tidak tanggungan maksimal 3
dirinci, aturan mengenai org, sesuai dengan UU
diri WP PPh
dan tanggungan
Tunjangan Belum di atur dalam UU Sudah di atur 1% dari
Hari Tua PPh penghasilan sebagai
PTKP
Biaya jabatan Belum di atur dalam UU Sudah di atur 5% dari
penghasilan sebagai
PTKP
Syarat subyek pajak Hanya menggunakan 183 hari ( syarat
dalam negeri syarat kualitatif saja kuantitatif), dan orang
berniat tinggal (syarat
kualitatif)
Konsultan WP org Pemotongan 4 % dari di potong oleh pemberi
pribadi/peru sahaan penerimaan oleh yang kerja, dan tetap laporkan
(tidak membayar dan itu penghasilan pada akhir
berkantor) adalah final tahun pajak
PPh bunga dan Dividen Telah di hapus Sebagai obyek pajak
dan merupakan
penghasilan yg
dikenakan pajak
Restitusi Hanya bisa kompensasi Bisa kompensasi dan
saja, dan tidak bisa juga restitusi
dikembalikan uangnya
secara fisik kepada WP
Imbalan bunga dari Hal ini diatur dalam UU Sebagai obyek pajak,
restitusi No. 18/2000, tetapi yang harus di pajaki
tidak
pernah implementasi
Biaya bunga bank Bisa diakui, apabila Biaya bunga ban dapat
hanya antara bank, tapi diakui sebagai biaya,
diluar bank, bunga dalam laporan tahun
pinjaman yang pajak.
dibayarkan kepada bank
oleh peminjam tidak
diakui sebagai biaya
Penyusutan beban 100% Dibebankan melalui
penyusutan, sesuai masa
manfaat
Kebijakan pemerintah Arah perubahan UU Mengarah pada
dalam amendeman PPh masih cukup penyempurnaan dari
UU PPh membinggungkan dan waktu ke waktu sesuai
diperlukan perbaikan dengan perkembangan
kedepan perekonomian
Hapusnya hutang pajak Khusus untuk daluarsa Berlaku semuanya
belum berlaku di Timor tentang hapus hutang
Leste pajak
Persamaan
Indikator Inndonesia & Timor Leste
Sistem Self assessment system dan withholding system
pemungutan pajak
Stelsel yang Stelsel anggapan dan stelsel rill
digunakan
Asas yg Asas keadilan dan kesederhanaan
digunakan
Subyek pajak Orang pribadi, badan, warisan yang belum terbagi
dan BUT
Kategori Subyek pajak dalam negeri dan subyek pajak luar
subyek pajak negeri
Wajib pajak Subyek pajak yang memenuhi syarat obyektif
(menerima PKP)
Wewenang wajib pajak Mutlak menghitung, memperhitungkan, menyetor,
dan melaporkan sendiri oleh wajib pajak atas
penghasilannya
Wewenang fikus Membina, mengawasi, dan mengoreksi kesalahan
dan memberitahukan kepada wajib pajak untuk
memperbaiki
Akhir tahun Adalah 31 maret tahun pajak berikutnya
SPT
Pembayaran Dilakukan pada setiap tanggal 15 bulan
bulanan berikutnya.
Kompensasi Adalah sama. Salah satunya setelah membayar
utang pajak, dan bisa dilakukan secara verticaldan
horizontal
Timbulnya Berdasarkan ajaran materil dan ajaran formil
hutang pajak
Memperhatikan tabel 10 di atas, pada kolom Timor Leste item bunga

bank dan dividen di hapus, dengan maksud untuk menarik para pengusaha

luar agar bisa menanamkan modalnya di Timor Leste, supaya bisa menyerap

tenaga kerja, namun sejauh ini strategi pemerintah Timor Leste tersebut

tidak tercapai, karena tidak ada pengusaha luar yang masuk setelah

menghapusnya bunga bank dan dividen tersebut. Kebijakan ini tentunya

merugikan penerimaan negara. Sedangkan perbedaan lainnya bermuara

pada kebijakan politik pemerintah dan perkembangan perekonomian

nasional, serta UU PPh pada masing-masing negara.

Sedangkan persamaannya adalah Timor Leste mengadopsi sistem

PPh yang diterapkan di Indonesia berdasarkan pasal 165 UUD RDTL.

Uraian perbedaan dan persamaan serta kelebihan dan kekurangan sub-

subsistem pajak penghasilan di atas, terdapat dalam UU PPh masing-

masing negara seperti tabel berikut ;

Tabel 11

Pengaturan sub-subsistem pajak Penghasilan antara Timor


Leste dan Indonesia dalam UU PPh

INDIKATOR INDONESIA TIMOR LESTE


Dasar Hukum 1. Pasal 23A UUD 1945 1. Pasal 144 UUD RDTL
2. UUPPh No.7 Th. 1983 2. UU PPh No. 18 Th.
tentang pajak 2000 tentang sistem
penghasilan perpajakan
3. UU PPh No. 10 Th. 3. UU PPh No. 8 Th. 2008
1994 tentang PPh tentang
4. UU PPh No. 17 Th. Pajak dan Pabean
2000 tentang PPh
5. UU No. 36 Th. 2008
tentang PPh.
Stelsel Pasal 20 ayat (3) dan pasal Pasal 64 ayat (4) dan
28 UU PPh No. 36 Th. pasal 23 ayat (4) UU
2008 PPh No. 8 Th. 2008
Asas Pasal 2 dan 4 UU PPh No. Pasal 27 dan 49
pengenaan pajak 36 Th. 2008 UU PPh No. 8 Th.2008
Sistem pengenaan Pasal 21, 22, 23. 24, 25, Pasal 20, 26, 27, 28
pajak 26, UU PPh No. 36 Th. dan 49
2008
Timbul dan Pasal 2 dan 4 UU PPh No. Pasal 27 dan 28 UU
hapusnya hutang pajak 36 Th. 2008. PPh No. 8 Th. 2008
Subyek Pajak Pasal 2 UU PPh No. 36 Th. Pasal 27 UU PPh No. 8
2008 Th. 2008
Obyek Pajak Pasal 4 UU PPh No. 36 Th. Pasal 28 UU PPh No.
2008 8 Th. 2008
Tarif Pajak Pasal 17 UU PPh No. 36 Pasal 72 ayat (2) pasal 53,
Th. 2008 dan pasal
20
PTKP Pasal 7 UU PPh No. 36 Th. Pasal 20 ayat (2) UU
2008 PPh No. 8 Th. 2008
Fungsi Pajak - -
Wajib Pajak Wajib Pajak Pasal 27 UU PPh No.
8 Th.2008
Metode Pasal 11 UU PPh No. 36 Pasal 36 UU PPh No.
penuyusutan Th. 2008 8 Th. 2008

Tabel 11 di atas adalah uraian aturan-aturan yang terdapat dalam

undang-undang Pajak Penghasilan Timor Leste dan Indonesia, yang

digunakan untuk membandingkan sub-subsistem dalam sistem pajak

penghasilan yang sedang diimplementasikan pada kedua negara tersebut.

Dalam aturan-aturan tersebut terdapat banyak kekurangan, terutama pada

UU PPh Timor Leste, antara lain pada pasal-pasal tersebut tidak di uraikan
secara detail, sehingga cukup mempersulit fiskus dalam menerapkannya

dan membingungkan wajib pajak dalam pemenuhan kewajibannya,

berdasarkan self assessment system. Sementara bagi Indonesia aturan-

aturan dalam UU PPh nya, secara detail ada memori penjelasannya

sehingga mempermudah baik, fiskus dalam menerapkan maupun wajib

pajak dalam pemenuhan kewajibannya.

Untuk subsistem fungsi pajak, penulis tidak dapat menemukan

dalam Undang-Undang pajak penghasilan yang menjelaskan secara

khusus. Oleh karena itu penulis dapat menguraikannya melalui kebijakan

pemerintah masing-masing negara dalam menentukan tarif pajak. Seperti

diketahui bahwa pemerintah Timor Leste menentukan tarif pajak yang

gunakan adalah tarif proporsional, sedang Indonesia memilih tarif

progresif. Melalui tarif pajak tersebut maka dapat dipastikan bahwa Timor

Leste menggunakan fungsi pajak mengatur (regulerend), dan Indonesia

menggunakan fungsi pajak anggaran (budgeter).


BAB IV

PENUTUP

1. KESIMPULAN

Analisis uraian di atas menemukan beberapa perbedaan, persamaan,

kelebihan dan kekurangan yang terkandung dalam Undang-Undang Pajak

Penghasilan pada masing- masing negara, sebagaimana disimpulkan

sebagai berikut :

1. Perbedaan sistem pajak penghasilan.

Pada sisi perbedaan ini dapat menggambarkan bahwa, itu merupakan

strategis yang dirancang bangun oleh masing-masing pemerintah

dengan pendekatan parameternya adalah kepentingan dalam negeri,

disamping itu membangun sistem yang memberi peluang kepada

penanaman modal asing untuk masuk. Jadi intinya adalah perbedaan

tersebut didasarkan pada perkembangan perekonomian nasional,

kebijakan politik pemerintah, luas wilayah, jumlah penduduk pada

masing-masing negara. salah satu contoh seperti fungsi pajak.

Indonesia memilih fungsi anggaran (budgeter) dan Timor Leste

memilih fungsi mengatur (regulereng). Tentunya masing-masing

argumen yang bersifat fundamental untuk menjatuhkan pilihannya.

2. Persamaan sistem pajak penghasilan.

Persamaan yang dimaksudkan disini, bahwa Timor Leste mengadopsi

Sistem pajak penghasilan yang sedang diimplementasikan di


Indonesia. Hal ini di dasarkan pada pasal 165 UUD Republik

Demokratik Timor Leste (RDTL), yang menyebutkan bahwa :

“Undang-Undang dan Peraturan-peraturan yang berlaku di Timor

Leste sebelumnya akan tetap berlaku berkaitan dengan semua hal

kecuali bila bertentangan dengan UUD atau asas-asas yang

terkandung di dalamnya”. Atas dasar itulah maka banyak menemukan

persamaan, baik terdapat dalam UU PPh maupun dalam

implementasinya. Disamping aturan tersebut, dilihat dari segi sejarah,

dimana Timor Leste selama 24 tahun menjadi bagian dari Indonesia

sebelum merdeka, maka sudah memahami sistem pajak yang ada,

sehingga mudah untuk menyesuaikan dengan sistem termaksud.

3. Kelebihan sistem pajak penghasilan

Simak kelebihan pada masing-masing Negara antara lain; untuk

Indonesia memiliki kelebihannya adalah penempatan Sumber daya

manusia sudah mengacu pada the right men on the right place,

kelengkapan undang-undang pajak penghasilan yang dirinci

sedemikian rupa sehingga mempermudah fiskus dan wajib pajak dalam

pemenuhan kewajibannya, sistem manajemen sudah berjalan dengan

baik, serta sarana dan prasarana sudah lengkap, kesadaran pemenuhan

kewajiban wajib pajak sudah cukup baik. Disamping itu, perubahan

Undang-Undang Pajak Penghasilan Indonesia semakin menuju pada

kesempurnaan sesuai dengan kebutuhan perkembangan perekonomian


nasional. Sementara Timor leste kelebihannya adalah kedepannya

mudah untuk melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap wajib

pajak karena faktor wilayahnya kecil dan jumlah wajib pajaknya

sedikit.

4. Kekurangan sistem pajak penghasilan

Menguraikan masalah kekurangan tersebut dimulai dari Timor Leste,

antara lain; terletak pada kekurangan tenaga ahli sumber daya

manusia dalam bidang administrasi perpajakan, hukum, accounting dan

manajemen perpajakan, sehingga secara organisatoris masih tergantung

pada tenaga ahli dari luar negeri. Disamping itu perekrutan pegawai

pajak tidak mengacu pada the men on the right place. Selain keterbatasn

di atas, UU PPh Timor Leste sangat abstrak dan tidak terinci sehingga

membingungkan wajib pajak dan fiskus dalam menjalankan

kewajibannya masing-masing. Perubahan UU PPh cukup

membingungkan. Salah satu contohnya seperti penyusutan dilakukan

secara sekaligus (100%). Sedangkan kekurangan sistem pajak

penghasilan di Indonesia, untuk membandingkan dengan Timor Leste,

hanya lebih pada pengawasan terhadap penerapan aturan terhadap

fiskus agar tidak terjadi kolusi dan korupsi dengan wajib pajak, yang

pada gilirannya akan merugikan penerimaan uang negara pada sektor

perpajakan. Selain itu, oleh karena wilayah Indonesia sangat luas,

maka proses sosialisasi harus secara rutin dilakukan agar wajib pajak
lebih menguasai aturan yang cukup kompleks dan cepat berubah dari

waktu ke waktu.

5. Kata kunci perbedaan, persamaan, kelebihan maupun kekurangan

yang terkandung dalam sistem pajak penghasilan antara Timor Leste

dan Indonesia, adalah terletak pada kebijakan politik pemerintah

masing-masing negara, yang kemudian diformulasikan dalam

Undang-Undang pajak penghasilan. Untuk Timor Leste perumusan

UU PPh tersebut bisa dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja

oleh para pembuat (Pemerintah & Parlemen), untuk mengatasnamakan

kepentingan umum murni maupun kepentingan kelompok, partai dan

para konglomerat.

2. SARAN

1. Sumber daya manusia adalah kunci sukses bagi semua sumber daya

yang ada. Dengan demikian penulis menyarankan kepada Dirjen pajak

dan Bea Cukai Timor Leste, agar bisa memprioritaskan hal ini sebagai

respon positif terhadap keadaan yang sedang berjalan maupun

perkembangan yang akan datang;

2. Undang-undang pajak penghasilan, yang sedang digunakan untuk

melakukan aktivitas perpajakan perlu dilengkapi dan dirinci pasal demi

pasal agar tidak membinggungkan wajib pajak dan fiskus dalam

menerapkannya;
3. Perlu ditinjau kembali hal-hal penting yang tertuang dalam UU PPh No.

8 tahun 2008, terutama menyangkut penghapusan pajak bunga dan

dividen, penyusutan dan penurunan beberapa tarif pajak lainnya. Karena

hal ini berdampak pada penurunan drastis terhadap penerimaan negara

pada sektor perpajakan non migas;

4. Mencari mekanisme yang tepat agar fiskus yang memiliki pengalaman

dan keahlian yang cukup dapat dilibatkan dalam setiap perubahan UU

pajak penghasilan Timor Leste;

5. Proses kaderisasi harus di mulai sedini mungkin, agar tidak mendapat

kesulitan kedepannya. Contohnya pegawai pajak yang selesai studi atau

pelatihan dari luar maupun dalam negeri langsung pindah ke departemen

lain.