Anda di halaman 1dari 60

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

Disusun oleh :

Kelompok VIIA

Qurrota Ayunin Diananda 23030115120002


Puspitasari 23030115120018
M. Agus Miqodam 23030115120022
Karina Dwi Safira 23030115120028
Jeni Laras Utami 23030115120029

PROGRAM STUDI S1-AGROEKOTEKNOLOGI


FAKULTAS PETERNAKAN DAN PERTANIAN
DEPARTEMEN PERTANIAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2017
ii

LEMBAR PENGESAHAN

Judul : LAPORAN RESMI PRAKTIKUM


BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

Kelompok : VIIA (TUJUH)A

Program Studi : S1 - Agroekoteknologi

Tanggal Pengesahan : Desember 2017

Menyetujui,

Koordinator Praktikum Budidaya Asisten Praktikum Budidaya


Tanaman Pangan Tanaman Pangan

Ir. Didik Wisnu Widjajanto, M.Sc. Ph.D Nurul Fadhilah


NIP. 19641106 198803 1 002 NIM. 23030114120038

ii
iii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
laporan praktikum Budidaya Tanaman Pangan dengan lancar. Pentingnya
melakukan praktikum ini adalah agar mahasiswa lebih memahami proses
budidaya tanaman padi yang benar dengan menggunakan berbagai macam sistem
tanam konvensional dan jajar legowo.
Penulis menyampaikan terima kasih kepada Ir. Didik Wisnu Widjajanto,
M.Sc. Ph.D selaku Koordinator Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, Nurul
Fadhilah selaku asisten pembimbing praktikum Budidaya Tanaman Pangan, yang
telah membimbing dan membantu selama praktikum berlangsung sampai
penyusunan laporan praktikum Budidaya Tanaman Pangan ini selesai. Penulis
menyadari laporan praktikum ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik
dan saran yang sifatnya konstruktif sangat diharapkan oleh penulis. Akhir kata,
kami berharap semoga laporan Praktikum Budidaya Tanaman Pangan ini dapat
bermanfaat bagi semua pihak yang berkompeten dan bagi penulis khususnya.
Demikian kata pengantar dari penulis, penulis menyampaikan terima kasih
atas perhatian dan koreksi dari berbagai pihak.

Semarang, Desember 2017

Penyusun

iii
iv

RINGKASAN

Kelompok VIIA. AgroekoteknologiA. 2017. Laporan Resmi Praktikum Budidaya


Tanaman Pangan (Asisten : Nurul Fadhilah).

Praktikum Budidaya Tanaman Pangan dilaksanakan mulai tanggal 09


September 2017 sampai dengan 08 Desember 2017, di Lahan Percobaan dan
Laboratorium Fisiologi dan Pemuliaan Tanaman, Fakultas Peternakan dan
Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

Bahan yang digunakan yaitu benih padi varietas Inpari Sidenuk, pupuk
kandang sapi, POC, PGPR, tanah dan kompos. Alat yang digunakan adalah
cangkul, garu, ember, timbangan analitik, media pembibitan, meteran, cutter,
botol plastik bekas, alat tulis dan kamera. Metode pengolahan tanah adalah
dibentuk pematang, tanah dicangkul, gulma dibersihkan, didiamkan satu minggu
dan digaru. Metode penyemaian adalah benih padi direndam dalam air garam,
dicuci bersih, disiapkan media pembibitan dan benih ditanam. Metode
pemupukan adalah pupuk kandang sapi ditaburkan pada lahan sebagai pupuk
dasar, POC dan PGPR diencerkan dan disiramkan ke tanaman. Metode
penanaman adalah dibuat jajar legowo 4 : 1, dibuat jarak tanam 25 x 25 cm dan
sela 50 cm, bibit ditanam 5 bibit perlubang. Metode pengamatan dan
pemeliharaan adalah tinggi dan jumlah anakan tanaman diamati, dilakukan
penyiangan gulma dan pengendalian penyakit setiap satu minggu sekali. Metode
uji laboratorium adalah diambil 3 sampel tanaman, dihitung berat basah dan
bahan kering.

Hasil yang diperoleh adalah pengolahan lahan dilakukan sebanyak dua


kali, dilakukan penyemaian dan bibit yang digunakan berumur 9 HST, pola
penanaman dengan sistem jajar legowo menggunakan 5 bibit perlubang tanam,
pemupukan dasar dengan pupuk kandang sapi saat pengolahan tanah II dan
pemupukan lanjutan dengan POC dan PGPR. Gulma dan hama yang menyerang
adalah genjer dan belalang. Tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah dan
berat kering tertinggi pada sistem jajar legowo 4 : 1 dan terendah pada sistem
konvensional.

Kata kunci : Budidaya, jajar legowo, organik, padi

iv
v

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PENGESAHAN ........................................................................ ii

RINGKASAN ............................................................................................. iii

KATA PENGANTAR ................................................................................ iv

DAFTAR TABEL ....................................................................................... vii

DAFTAR ILUSTRASI ............................................................................... viii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................... ix

BUDIDAYA TANAMAN PANGAN

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................... 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................. 3

2.1. Tanaman Padi (Oryza sativa L.) ................................................. 3


2.2. Budidaya Tanaman Padi ............................................................. 3
2.3. Pembibitan .................................................................................. 4
2.4. Pengolahan Tanah ....................................................................... 6
2.5. Penanaman Padi .......................................................................... 7
2.6. Pemupukan ................................................................................. 11
2.7. Pengairan .................................................................................... 14
2.8. Pemeliharaan Tanaman ............................................................... 15

BAB III MATERI DAN METODE ............................................................ 18

3.1. Materi .......................................................................................... 18


3.2. Metode ........................................................................................ 18

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................... 22

4.1. Pengolahan Tanah ....................................................................... 22

v
vi

4.2. Pembibitan .................................................................................. 24


4.3. Penanaman .................................................................................. 26
4.4. Pemupukan ................................................................................. 28
4.5. Organisme Pengganggu Tanaman .............................................. 31
4.6. Pertumbuhan Tanaman Padi ....................................................... 33
4.7. Produksi Tanaman Padi .............................................................. 37

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 39

5.1. Simpulan ..................................................................................... 39


5.2. Saran ........................................................................................... 39

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................. 40

LAMPIRAN ................................................................................................ 46

vi
vii

DAFTAR TABEL

Nomor Halaman

1. Daya Kecambah Bibit ....................................................................... 24

2. Pupuk yang diberikan ........................................................................ 28

3. Organisme Pengganggu Tanaman Padi (Oryza sativa) ..................... 31

4. Berat Basah dan Berat Kering Tanaman ........................................... 37

vii
viii

DAFTAR ILUSTRASI

Nomor Halaman

1. Pengolahan Tanah ........................................................................... 23

2. Bibit Tanaman Padi ......................................................................... 25

3. Pola Penanaman Jajar Legowo 4 : 1 ................................................ 26

4. Grafik Tinggi Tanaman pada Sistem Tanam Berbeda .................... 33

5. Grafik Jumlah Anakan pada Sistem Tanam Berbeda...................... 35

viii
ix

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Halaman

1. perhitungan Presentase Perkecambahan Benih Padi..................... 46

2. Pengamatan Tinggi Tanaman ....................................................... 47

3. Pengamatan Jumlah Anakan ......................................................... 49

ix
BAB I

PENDAHULUAN

Produktivitas tanaman bergantung pada kualitas genetik masing-masing


tanaman dan sumber daya lingkungan sebagai tempat hidup tanaman. Ancaman
produksi pangan menurut UU No. 18 Tahun 2012 tentang Pangan antara lain
adalah perubahan iklim, serangan OPT, degradasi sumber daya air dan lahan serta
alih fungsi lahan. Upaya mewujudkan produktivitas tanaman yang maksimal
adalah dengan perbaikan genetik tanaman dan menciptakan lingkungan hidup
yang sesuai bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman melalui kegiatan
budidaya tanaman. Budidaya tanaman dilakukan dengan memperhatikan aspek-
aspek ekonomi, sosial budaya dan lingkungan.
Budidaya tanaman pangan merupakan upaya dalam pemenuhan kebutuhan
pangan manusia baik dalam skala regional, nasional hingga internasional.
Menurut UU No.12 Tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman bahwa
penyelenggaraan budidaya tanaman meliputi pengolahan lahan atau penggunaan
media tumbuh tanaman, perbenihan, penanaman, pemanfaatan air, perlindungan
tanaman, pemeliharaan tanaman dan panen. Pelaksanaan budidaya tanaman
pangan secara organik menjamin kesehatan dan keamanan produk pangan dan
lingkungan, serta berorientasi terhadap efisiensi input produksi. Pengaturan jarak
tanam dalam sistem budidaya tanaman juga berperan penting yaitu mampu
mengatur tingkat kompetensi penyerapan air dan hara dengan sesama tanaman
budidaya maupun gulma.
Tanaman pangan yang menjadi prioritas utama di Indonesia adalah padi,
karena mayoritas masyarakatnya mengkonsumsi beras sebagai bahan makanan
pokok. Padi (Oryza sativa) merupakan golongan tanaman graminae yang
membutuhkan cukup banyak air dalam pertumbuhannya. Budidaya tanaman padi
idealnya dilakukan ketika musim tanam dengan curah hujan sedang hingga tinggi.
Budidaya tanaman padi secara organik dilakukan tanpa penggunaan bahan kimia
sintetis. Budidaya tanaman padi dilakukan dengan menciptakan lingkungan
tumbuh yang sesuai melalui pengolahan lahan, penanaman dengan jarak tanam
2

jajar legowo 4 : 1, pemupukan dengan pupuk kandang sapi, pemeliharaan dan


perlindungan tanaman, serta pengaturan irigasi untuk memenuhi kebutuhan air.
Tujuan praktikum Budidaya Tanaman Pangan adalah untuk mempelajari
sistem budidaya tanaman padi dengan menggunakan berbagai sistem pola tanam
dalam peningkatan produksi tanaman. Manfaat praktikum ini adalah mendapatkan
pengetahuan mengenai tahap maupun teknik budidaya tanaman pangan
menggunakan sistem pola tanam sehingga mampu melakukan budidaya tanaman
dengan hasil maksimal, serta mampu menganalisis permasalahan mengenai
budidaya tanaman pangan dan mampu memberikan solusi dari permasalahan
tersebut.
3

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tanaman Padi (Oryza sativa L.)

Tanaman padi adalah tanaman yang dibudidayakan secara umum untuk


memenuhi kebutuhan masyarakat indonesia. Pemenuhan kebutuhan yang semakin
meningkat menyebabkan tingginya permintaan berbanding terbalik dengan
kondisi lingkungan penanaman. Padi memiliki beberapa varietas dan banyak
ditanam di Asia kecuali di Korea dan Jepang (Silitonga, 2010). Proses budidaya
tanaman padi membutuhkan air 150 mm per bulan, atau dengan kata lain
membutuhkan curah hujan > 200 mm/bulan, tumbuh optimum pada suhu 15 -
30°C, kelembaban 40 - 60%, dan ketinggian 0 - 1500 mdpl (Supartha dkk., 2012).
Klasifikasi padi dalam sistematika tumbuhan yaitu :
Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Ordo : Poales
Family : Graminae
Genus : Oryza
Spesies : Oryza sativa L. (Purnomo dan Purnnamawati, 2007).
Tanaman Padi (Oryza sativa L.) memiliki perikarp, aleuron dan endosperm
yang berwarna merah, biru keunguan pekat, warna tersebut menunjukkan adanya
kandungan antosianin (Sa’adah dkk., 2013). Kecenderungan warna gabah diikuti
oleh warna beras, warna gabah yang semakin gelap akan memiliki warna beras
yang semakin gelap pula (Santika dan Aliawati, 2007).

2.2. Budidaya Tanaman Padi

Proses budidaya tanaman padi merupakan kegiatan untuk menghasilkan


produk tanaman padi menggunakan beberapa teknik atau metode. Produksi
4

tanaman padi perlu ditingkatkan untuk memenuhi permintaan yang berbanding


lurus dengan laju pertumbuhan penduduk Indonesia (Erythrina dan Zaini, 2014).
Penggunaan teknologi yang tidak tepat dapat menyebabkan rendahnya produksi
padi dan dapat merusak lingkungan lahan budidaya. Produksi padi dapat
ditingkatkan dengan cara memperbaiki teknologi yang efektif dan efisien serta
menjaga kelestarian lahan (Azwir dan Ridwan, 2009).
Penerapan teknologi yang tepat dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman
dan dapat memaksimalkan produktivitas tanaman padi. Teknologi penanaman
yang dapat dilakukan pada proses budidaya padi adalah sistem tanam benih
langsung, sistem tanam tanpa olah tanah, maupun sistem tanam Jajar Legowo
(Abdulrachman dkk., 2013). Penanaman padi dengan teknologi tanam jajar
legowo untuk dapat meningkatkan produksi. Tanaman padi yang ditanam dengan
sistem penanaman jajar legowo dapat menyerap lebih banyak unsur hara dan sinar
matahari yang berdampak pada banyaknya anakan produktif dan produksi akan
meningkat (Purnamayani dkk., 2013).
Perkembangan dan pertumbuhan tanaman padi membutuhkan pemeliharaan
yang kompleks dan tepat. Pemeliharaan tanaman padi dapat dilakukan pada lahan
budidaya dengan menjaga pengairan, pemberian pupuk, dan pengendalian
organisme pengganggu tanaman berupa gulma, patogen, dan hama secara terpadu
(Marpaung dkk., 2013). Gangguan pertumbuhan tanaman padi berasal dari
lingkungan pertumbuhan dan organisme penganggu tanaman yang dapat memberi
dampak pada turunnya produktivitas (Kartohardjono dkk., 2009).

2.3. Pembibitan

Pentingnya melakukan pembibitan adalah untuk mempersiapkan bibit


tanaman padi yang siap tanam di lahan persawahan (Djamhari, 2010). Pengairan
cukup menentukan keberhasilan pembibitan, lahan yang tidak mampu memenuhi
kebutuhan air dilakukan sistem pembibitan khusus (Hidayat dkk., 2010).
Penyebaran benih suatu wadah untuk mempercepat pertumbuhan tanaman,
kondisi air harus diperhatikan di proses pembibitan (Ningsih, 2014).
5

Pembibitan tetap harus memperhatikan komposisi media dan pemberian


pupuk organik (Syahadat dan Aziz, 2012). Perendaman benih sebelum semai
terbukti nyata dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi
sejak fase pembibitan (vegetatif) hingga fase generatif (Wartono dkk., 2015).
Lama pembibitan dilakukan sekitar tiga minggu dengan tinggi bibit kurang lebih
20 cm (Djamhari, 2010). Pemberian zat pada awal pembibitan dapat
meningkatkan jumlah daun tanaman (Basri dkk., 2016). Biji padi yang terbentuk
tidak sama ukurannya dan ada yang berwarna cokelat, sehingga pada waktu
dikecambahkan terdapat biji padi yang tidak dapat tumbuh menjadi bibit tanaman
padi (Santosa dkk., 2013).
Padi membutuhkan air yang cukup dari mulai tanam hingga pengisian bulir,
untuk menghindari kekurangan air, maka pembibitan padi dapat dilakukan lebih
awal, yakni pada saat air masih menggenangi lahan (Djamhari, 2010). Pembibitan
menentukan keberhasilan tanaman karena merupakan titik awal pertumbuhan,
bibit tanaman haruslah baik dan memiliki adaptasi tinggi (Basri dkk., 2016).
Benih harus disemai terlebih dahulu untuk mendapatkan bibit yang siap tanam
(Djamhari, 2010). Benih yang dibibitkan tidak semua dapat tumbuh, bibit yang
mati dapat disebabkan oleh suhu tinggi, lebih dari 45°C (Santosa dkk., 2013).
Perlakuan benih pra tanam atau conditioning bertujuan untuk menghilangkan
sumber infeksi benih dari pathogen tular benih, melindungi bibit ketika muncul
dipermukaan tanah, dan meningkatkan perkecambahan atau melindungi benih
dari pathogen (Wartono dkk., 2015).
Kebutuhan hara harus terpenuhi agar pertumbuhan dan perkembangan
tanaman menjadi baik. Bibit padi membutuhkan unsur hara makro N dan P yang
cukup, N untuk pertumbuhan vegetative, P untuk membantu proses fotosintesis,
pembentukan biji dan bunga (Djamhari, 2010). Bibit dihasilkan dari proses
penyemaian biji, dan tingginya telah mencapai 5 – 10 cm, segar, sehat dan tidak
terserang penyakit (Syahadat dan Aziz, 2012).
6

2.4. Pengolahan Tanah

Pengolahan tanah merupakan tahapan awal dari budidaya tanaman untuk


menyiapkan lahan yang sesuai dengan kebutuhan tanaman untuk tumbuh secara
optimal. Tanah yang memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi yang baik merupakan
syarat agar tanaman tumbuh dengan baik karena pertumbuhan dan perkembangan
tanaman sangat bergantung pada kondisi dan kemampuan tanah dalam
menyediakan air dan unsur hara (Palembang dkk., 2013). Pengolahan tanah yang
baik yaitu pengolahan yang mampu mengubah struktur tanah menjadi gembur,
dimana struktur tanah penting untuk perbaikan peredaran air, udara, kelembaban,
aktivitas mikroorganisme tanah, tersedianya unsur hara bagi tanaman dan
perombakan bahan organik (Razie dkk., 2013).
Pengolahan lahan sawah terdiri dari pembajakan, garu dan perataan.
Sebelum diolah lahan digenangai air terlebih dahulu untuk melunakkan tanah
selama 2 hari. Pada tanah ringan, pengolahan tanah cukup dengan 1 kali bajak dan
2 kali garu lalu dilakukan perataan, pada tanah berat pengolahan terdiri dari 2 kali
bajak dan 2 kali garu kemudian di ratakan (Manik dkk., 2014). Waktu pengolahan
tanah yang baik tidak kurang dari 4 minggu sebelum penanaman. Pengolahan
lahan sawah dilakukan pada lapisan top soil dengan kedalaman 15 - 20 cm yang
terdiri dari bahan-bahan organik tanah (Zahrah, 2011).
Pengolahan tanah pada budidaya padi sawah bertujuan untuk menciptakan
keadaan tanah yang sesuai dengan pertumbuhan tanaman padi yaitu dengan
penggenangan (Zaini, 2009). Pengolahan tanah sawah untuk tanaman padi
diperlukan dua kali pengolahan. Pengolahan pertama adalah ketika kondisi tanah
masih kering dengan cara membolak-balik tanah dengan cangkul agar gulma dan
sisa tanaman yang ada pada tanah tenggelam. Pengolahan kedua adalah
pengolahan lanjutan setelah tanah digenangi air dan kemudian diratakan kembali
agar siap ditanami. Pegolahan tanah yang tepat berguna untuk meningkatkan
kualitas tanah dan agregat tanah sehingga dapat meningkatkan produktivitas lahan
yang menguntungkan (Asnawi, 2014).
7

2.5. Penanaman Padi

Penanaman padi merupakan suatu proses menanam bibit padi yang telah
siap untuk dipindahkan ke lahan sawah setelah dilakukan persemaian benih padi.
Pola yang digunakan untuk penanaman padi terdiri dari dua macam, yaitu pola
penanaman konvensional atau cara petani dan pola penanaman jajar legowo. Jarak
yang digunakan untuk pola penanaman padi yaitu antara 20 cm x 20 cm sampai
30 cm x 30 cm tergantung pada lahan penanaman (Bakrie dkk., 2010).
Penggunaan jarak tanam mempengaruhi pertumbuhan dan hasil produksi tanaman
padi. Penanaman padi dengan jarak yang optimum memberikan pertumbuhan
tanaman yang baik karena mengoptimalkan pemanfaatan cahaya matahari dan
penyerapan unsur hara (Sohel dkk., 2009).
Pemberian pupuk menambah unsur organik dan anorganik pada tanah dalam
mengubah unsur ataupun proses reaksi didalam tanah yang lebih baik, dengan
tujuan untuk penggemburan tanah dalam pertumbuhan tanaman (Duaja, 2012).
Pemupukan N pada tanaman leguminosa yang efisien dalam memberikan
pertumbuhan yang baik bagi tanaman dan mampu menghasilkan N sebanyak 40%
sampai 70 % (Setyanti dkk., 2013). Penggunaan pupuk organik akan memberikan
keuntungan yaitu penghematan tenaga kerja, karena pupuk buatan yang harus
dikerjakan biasanya lebih sedikit dan menaburkan zat makanan tanaman dapat
dilakukan dalam satu kali kerja (Tirta, 2006). Pemberian pupuk organik
memberikan zat makanan pada tanaman agar zat-zat dalam tanah yang hilang atau
dihisap dapat diganti, dan dapat memperbaiki struktur tanah (Setiadi dkk., 2011).
Perbandingan tanaman rumputan (graminae) dengan kacang-kacangan
(leguminosa), yang bersumber sebagai hijauan makanan ternak terlihat pada
intensitas pemotongannya, bahwa rumputan lebih besar memproduksi bagian
batang tanaman, sedangkan leguminosa lebih besar memproduksi daun pada
tanaman (Haryanti, 2008). Penanaman tanaman dipengaruhi oleh lingkungan,
faktor lingkungan meliputi ketersediaan air, kecukupan intensitas cahaya, dan
struktur media tumbuh tanaman (unsur tanah) (Marpaung dkk., 2013).
8

2.5.1. Konvensional

Pola penanaman konvensional merupakan salah satu metode penanaman


padi yang banyak dilakukan oleh para petani. Metode ini salah satu metode yang
paling mudah dan cepat. Metode konvensional menggunakan jarak tanam 20 x 20
cm sampai 25 x 25 cm (Hatta, 2011). Jarak tanam metode konvensional tergolong
cukup sempit. Jarak tanam yang sempit menghasilkan jumlah anakan yang
sedikit. Penanaman padi metode konvensional dengan jarak 25 x 25 cm dalam
satu rumpun menghasilkan 4 – 5 tanaman (Putra, 2011). Penggunaan jarak tanam
yang terlalu lebar menyebabkan banyak lahan kosong yang tidak ditanami,
sehingga berpotensi tumbuh gulma. Budidaya padi metode konvensional
penanamannya dengan mengisi 5 bibit tiap lubang tanam (Bakrie dkk., 2010).
Jarak tanam yang sempit akan meningkatkan populasi tanaman. Peningkatan
populasi tanaman padi pada lahan sawah meningkatkan kompetisi intraspesifik
tanaman (Guntoro dkk., 2009).

2.5.2. Jajar Legowo

Penanaman padi dengan pola penanaman jajar legowo merupakan


perubahan perkembangan teknologi penanaman padi dari sistem tanam tegel. Jajar
legowo terdiri dari beberapa jenis, seperti jajar legowo 2:1, jajar legowo 3:1, jajar
legowo 4:1, jajar legowo 6:1, dan jajar legowo 8:1 (Makarim dan Ikhwani, 2012).
Metode ini dapat memberikan hasil yang lebih tinggi dari metode penanaman
lainnya. Penanaman dengan metode ini memberikan kelebihan yaitu pemanfaatan
sinar matahari yang lebih baik, pemupukan, pengamatan dan pengendalian hama
lebih mudah dilakukan didalam lorong-lorong. Lorong kosong pada sistem jajar
legowo mempermudah pemeliharaan tanaman, pengendalian gulma, dan
pemupukan (Ikhwani dkk., 2013).
Perlakuan model jarak tanam ganda atau jajar legowo rata-rata dapat
menghasilkan jumlah anakan, luas daun dan berat kering total tanaman yang lebih
tinggi dibanding model lain. Jarak tanam mempengaruhi panjang malai, jumlah
9

bulir per malai, dan hasil per hektar tanaman padi (Salahuddin dkk., 2009).
Jumlah anakan pada pola tanam padi jajar legowo memberikan peningkatan
sebanyak 30%, penyinaran matahari optimal, sirkulasi udara lebih lancar, akan
mengurangi resiko terserang penyakit, sehingga mendukung tanaman untuk lebih
mudah tumbuh dan berkembang (Barus, 2012). Pengaturan sistem penanaman
padi menentukan kuantitas dan kualitas rumpun tanaman padi. Penggunaan bibit
padi berumur kurang dari 15 hari setelah semai mempermudah bibit untuk lebih
cepat beradaptasi dan cepat pulih dari pengaruh cekaman (Anggraini dkk., 2013).
Jarak tanam pada sistem tanam legowo 2:1 adalah 25 cm (jarak antar
barisan) x 12,5 cm (jarak dalam barisan) x 50 cm (jarak lorong) (Hatta, 2012).
Jarak tanam mempengaruhi pertumbuhan dan produksi baik secara langsung
maupun tidak langsung dengan menggunakan sistim tanam legowo (diantaranya
legowo 2:1 dan 4:1) (Barus, 2012). Pada jarak tanam yang rapat sistem perakaran
gulma akan lebih awal memanfaatkan pupuk N (Maya, 2007). Jarak tanam yang
terlalu rapat mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman dengan gulma
dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya, pertumbuhan tanaman
terhambat dan hasil tanaman pada menjadi rendah (Hatta, 2011).
Sistem tanam jajar legowo 2 : 1 akan menghasilkan jumlah populasi
tanaman per ha sebanyak 213.300 rumpun, serta akan meningkatkan populasi
33,31 % dibanding pola penanaman tegel (25x25 cm) yang hanya mennghasilkan
160.000 rumpun/ha (BBPTP, 2012). Pola penanaman padi jajar legowo 4 : 1 dapat
menghasilkan populasi mencapai 256.000 rumpun/ha (BPS, 2016). Tingginya
populasi tanaman pada sistem jajar legowo 3 : 1 dapat meningkatkan produksi
padi sebesar 10 – 15 % (Abdulrachman dkk., 2013).
Jarak tanam memberikan pengaruh yang nyata terhadap tinggi tanaman,
dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman padi. Penggunaan jarak tanam legowo
(30x20x10) memberikan pertumbuhan tinggi tanaman berbeda nyata dengan
perlakuan jarak tanam tegel (25x25) dan tegel (20x20), namun tidak berbeda
nyata dibanding perlakuan dengan jarak tanam legowo (30x25x12,5), legowo
(30x25x larikan), dan legowo (30x20x larikan) (Putra, 2011). Padi tidak dapat
mengoptimalkan perolehan hara dan mengalami penurunan yang menonjol ketika
10

masa pertumbuhan padi pada jarak tanam rapat (Toha, 2007). Penanaman padi
dengan jarak tanam yang lebih rapat setiap tanaman menjadikan persaingan untuk
mendapatkan sinar matahari (Arafah, 2008).
Jarak tanam yang luas menjadi awal inisiasi pertumbuhan tinggi tanaman,
jumlah daun dan jumlah anakan dapat tumbuh normal, tinggi dan berkembang
baik (Masdar, 2007). Jarak tanam mempengaruhi pertumbuhan tanaman padi,
jarak tanam lebar menjadikan tanaman tumbuh tinggi dan kokoh (Hatta, 2012).
Kerapatan jarak tanam mengakibatkan terjadinya perebutan air, cahaya matahari,
dan unsur hara yang sangat hebat antar tanaman (Yuniastuti dkk., 2009). Jarak
tanam yang optimum memberikan pertumbuhan bagian atas tanaman yang baik
sehingga memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian
akar yang baik sehingga memanfaatkan lebih banyak unsur hara (Hatta, 2012).
Jarak tanam yang tepat menghasilkan pertumbuhan dan jumlah anakan yang
maksimum, juga memberikan hasil yang maksimum (Krismawati, 2007). Jarak
tanam yang lebar pada metode SRI menjadikan tanaman memiliki batang yang
sangat tinggi (Hatta, 2011). Penerapan cara tanam sistem legowo memiliki
beberapa kelebihan yaitu, sinar matahari dapat dimanfaatkan lebih banyak untuk
proses fotosintesis, pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman
menjadi lebih mudah dilakukan di dalam lorong-lorong (Anggraini dkk., 2013).
Pemberian jarak tanam menjadikan tanaman yang lebih efisien dalam
mendapatkan sinar matahari sehingga akan lebih baik terhadap pertumbuhannya.
Tanaman yang tumbuh tegak dan berumpun bisa di lakukan penanaman dangan
jarak 60-90cm dan 45-60 cm (Sutapradja, 2008). Tanaman dengan penyinaran
yang cukup besar memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman yang
lebih baik. Daun tanaman menjadi lebih lebar dan panjang, batang besar dan
seimbang, pertumbuhan normal, dan kadar air cukup tinggi dibandingkan bahan
keringnya (Haryanti, 2008).
11

2.6. Pemupukan

Pemupukan merupakan kegiatan menambahkan bahan atau materi yang


bertujuan untuk menyediakan unsur hara bagi pertumbuhan tanaman. Pemupukan
umumnya berupa pemupukan dasar dan pemupukan lanjutan. Sistem pertanian
organik memanfaatkan pupuk kandang baik dari ternak ruminansia maupun
unggas sebagai pupuk dasar, karena mengandung unsur hara lengkap baik mikro
maupun makro (Ningtias and Suharjanto, 2012). Pemupukan berperan besar
dalam keberhasilan proses budidaya tanaman karena perannya menyediakan hara.
Pemupukan berimbang dengan tepat dosis, waktu dan jenis pupuk meningkatkan
efisiensi penggunaan pupuk (Rosadillah dkk., 2017).
Pemupukan selain bertujuan untuk menyediakan hara bagi tanaman juga
menggantikan hara tanah yang hilang. Pemupukan umumnya dilakukan secara
bertahap dalam sistem budidaya tanaman. Pemupukan dasar bertujuan membantu
memperbaiki sifat tanah dan mengisi kembali hara yang hilang sehingga hara
tersedia saat penanaman dilakukan (Sahardi dkk., 2014). Waktu pemupukan
berpengaruh dalam penyediaan hara sesuai dengan kebutuhan tanaman pada fase
pertumbuhannya. Pemupukan lanjutan dapat menambah cadangan hara pada
tanah dan untuk meningkatkan ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman dalam
waktu cepat (Susanto dkk., 2013).
Pemupukan yang seimbang dan tepat akan memberikan produksi yang
maksimal. Pemupukan yang dilakukan tepat dosis, tepat waktu, tepat jenis dan
sesuai kebutuhan tanaman dan status hara tanah berpengaruh dalam peningkatan
produksi padi sistem jajar legowo super (Husnain dkk., 2016). Pelaksanaan
pemupukan harus memperhatikan varietas tanaman dan kondisi lingkungan
budidaya sehingga tidak terjadi penggunaan pupuk yang berlebihan. Pemupukan
dilaksanakan pada waktu dengan resiko penguapan pupuk dan pencucian pupuk
yang minim, serta pada lahan yang telah diolah agar tidak terjadi penyerapan
pupuk oleh gulma (Kasno dkk., 2016).
12

2.6.1. Pupuk kandang sapi

Pupuk kandang sapi merupakan salah satu pupuk kandang yang umum
digunakan pada sistem pertanaman padi. Pupuk kandang sapi mengandung hara C
sekitar 24,57%, N sekitar 1,63%, P sekitar 0,26%, K sekitar 2,80% dan C/N rasio
sekitar 15,07% (Sudarsono dkk., 2013). Pupuk kandang sapi cocok untuk pupuk
dasar karena dapat menyediakan unsur hara melalui dekomposisi bahan organik,
sehingga ketersediaan maupun penguapan hara lebih lambat (Afif dkk., 2014).
Penggunaan pupuk kandang sapi dalam budidaya tanaman umumnya
sebagai pupuk dasar yang diaplikasikan setelah pengolahan tanah. Pupuk kandang
sapi sebagai pupuk dasar dapat menyumbang hara bagi awal pertumbuhan
tanaman melalui dekomposisi (Susanti dkk., 2013). Pemupukan menggunakan
dosis yang tepat mampu memberikan efek positif bagi tanah, tanaman dan air.
Pupuk kandang sapi dengan dosis 20 ton/ha dapat meningkatkan hasil tanaman
padi dan meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk anorganik (Sari dkk., 2014).
Pupuk kandang sapi dapat diaplilasikan secara langsung maupun dengan
penambahan pupuk hijau melalui proses pengomposan. Pupuk kandang sapi yang
sudah matang siap digunakan untuk pemupukan dengan ciri berwarna kehitaman,
tidak berbau dan bertekstur remah (Chuaca dkk., 2017). Penggunaan pupuk
kandang sapi dapat dikombinasi dengan pupuk organik lain maupun pupuk hijau
hingga pupuk hayati. Aplikasi pupuk kandang sapi dengan pupuk organik cair
dapat meminimalisasi input pupuk anorganik dan mampu memenuhi kebutuhan
hara tanaman (Chaniago dkk., 2017).

2.6.2. Pupuk organik cair

Pupuk organik cair telah banyak dilaporkan berpengaruh bagi pertumbuhan


tanaman padi. Pupuk organik cair menyediakan hara mikro dan makro dengan
cepat dan merata pada tanah tanpa melalui dekomposisi serta hara tidak mudah
tercuci (Istiqomah dkk., 2016). Pupuk organik cair diberikan 1 MST dengan
13

interval pemberian 2 minggu sekali terbukti meningkatkan tinggi tanaman, anakan


produktif dan panjang malai tanaman padi (Jamilah dkk., 2017).
Pupuk organik cair mengandung unsur hara lengkap yang dibutuhkan
tanaman padi. Pupuk organik cair juga berperan sebagai bioaktivator dan senyawa
pengendali hama (Mujiono dkk., 2011). Aplikasi POC pada tanaman langsung
lebih efektif dalam penyerapan hara oleh tanaman dan meningkatkan serapan hara
kalium (Jamilah, 2016). Dosis rekomendasi aplikasi POC untuk tanaman padi
adalah 10 – 50 ml/L hingga fase pembungaan dapat meningkatkan pertumbuhan
dan produksi padi (Yasin, 2016).
Penggunaan pupuk organik cair dapat melindungi lingkungan tumbuh
tanaman dari pencemaran yang dapat mempermudah hama dan penyakit
menyerang tanaman. Pupuk organik cair yang diaplikasikan pada tanaman padi
menurunkan infeksi penyakit kresek dan blas (Rusli dkk., 2016). Campuran
pupuk organik cair dengan sumber pupuk lain tidak mengurangi perannya.
Penyiraman tanaman padi menggunakan pupuk organik cair yang dicampur bahan
pupuk organik berpengaruh terhadap pertambahan tinggi tanaman dan jumlah
anakan (Lukman dkk., 2016).

2.6.3. Plant growth promoting rhizobacteria (PGPR)

Plant growth promoting rhizobacteria (PGPR) merupakan koloni bakteri


yang dimanfaatkan sebagai pupuk hayati. PGPR merupakan kelompok bakteri
saprofit hetereogenous yang berada di rizozfer dan berasosiasi dengan akar
tanaman (Agustiansyah dkk., 2013). PGPR terdiri atas berbagai jenis bakteri yang
dapat melarutkan bahan organik dan mineral-mineral tanah sehingga membantu
dalam penyediaan hara tanaman. PGPR berfungsi sebagai biofertilizer,
biostimulan, dan bioprotektif bagi tanaman (Wiyono dkk., 2014).
PGPR dapat dimanfaatkan sebagai agen pengendali alami dalam sistem
pertanian organik. PGPR meningkatkan aktivitas enzim peroksidase dalam
pembentukan lipid sehingga memperkuat dinding sel tanaman dan meningkatkan
resistensi tanaman dari serangan hama dan penyakit (Sen dkk., 2015). PGPR
14

memacu pembentukan fitohormon dalam tanaman padi dan mampu meningkatkan


kualitas tanah serta efisiensi penggunaan pupuk (Aryanto dkk., 2015). Aplikasi
PGPR tidak berbahaya bagi tanah maupun tanaman karena perannya yang mampu
mendekomposisi bahan organik tanah.
PGPR dapat diaplikasikan pula pada kondisi stres lingkungan dan
membantu tanaman untuk bertahan. PGPR dapat melarutkan senyawa racun
dalam tanah, meningkatkan pH tanah dan hara tanah (Sharma dkk., 2014).
Aplikasi PGPR akan lebih efektif bila kandungan bahan organik tanah juga
tersedia. PGPR mengurai bahan organik tanah untuk sumber energi dan
mengeluarkan asam organik sebagai hara yang dibutuhkan tanaman sehingga
meningkatkan produksi padi (Meena dkk., 2013).

2.7. Pengairan

Pengairan tanaman padi merupakan suatu langkah mendatangkan air dari


lahan sawah satu ke lahan sawah lainnya untuk mencukupi kebutuhan air tanaman
padi. Pengairan untuk tanaman padi diberikan pada waktu persemaian benih
sampai produksi padi (Huda dkk., 2012). Irigasi pada dasarnya merupakan
penambahan air untuk memenuhi kebutuhan air untuk tanaman. Cara pengairan
padi terdiri dari berbagai macam cara, salah satu cara yang dilakukan untuk irigasi
tanaman padi yaitu melakukan pengairan diatas tanah, pengairan didalam tanah,
pengairan dengan penyemprotan, dan pengairan tetes (Sapei dan Fauzan, 2012).
Sistem irigasi pada tanaman padi dapat dilakukan dengan berbagai cara.
Pengaturan sistem pemberian air irigasi dilakukan agar penggunaan air irigasi
lebih hemat sesuai dengan kebutuhan tanaman. Prinsip pengairan berkala adalah
mengatur aerasi tanah sehingga pertukaran oksigen dari udara ke dalam tanah
terjadi secara optimal untuk membantu proses asimilasi (Nurbaeti dkk., 2008).
Pengairan di lahan sawah tanah hujan mengandalkan air hujan sebagai sumber air
untuk tanaman padi. Faktor pembatas produktivitas sawah tadah hujan yaitu
adanya cekaman kekeringan dan unsur hara yang rendah (Al dkk., 2010).
15

Irigasi pada tanaman padi yang sesuai akan memberikan hasil yang optimal.
Kekurangan air pada tanaman akan mempengaruhi sifat fisik dan fisiologis serta
menurunkan hasil produksi tanaman (Lamusa dkk., 2010). Apabila terjadi
kekeringan semua sumber air yang ada akan mengalami penurunan debit, bahkan
mengering. Kelebihan pasokan air juga akan mempengaruhi hasil produksi dan
pertumbuhan tanaman padi. Lahan sawah yang tergenang akan mengalami
perubahan kimia dan elektrokimia yang dapa merugikan pertumbuhan tanaman
padi (Nursyamsi dkk., 2010).

2.8. Pemeliharaan Tanaman

Padi merupakan salah satu tanaman terpenting bagi kelangsungan hidup


masyarakat Indonesia. Pemeliharaan tanaman padi dilakukan untuk menjaga hasil
produksi padi agar dapat sesuai dengan kebutuhan. Pemeliharaan tanaman padi
dapat dilakukan dengan cara pengaturan irigasi, pemupukan, dan pengendalian
hama dan gulma secara terpadu (Marpaung dkk., 2013). Pengaturan irigasi yang
baik akan meningkatkan penyerapan secara optimal dan dapat menekan
tumbuhnya gulma pada lahan budidaya. Pengaturan air yang baik akan
mendukung proses metabolisme tumbuhan untuk mendapatkan pertumbuhan yang
optimal (Ai dkk., 2010).
Pemupukan dilakukan sebelum dan sesudah tanaman padi ditanam.
Pemberian pupuk setelah penanaman bertujuan untuk dapat meningkatkan
produksi tanaman padi secara optimal (Mahananto dkk., 2009). Pemupukan dan
pengendalian OPT secara terpadu dapat dilakukan dengan cara memberikan
pupuk organik dan pestisida alami pada awal pertumbuhan tanaman dengan
intensitas pemberian seminggu sekali. Pemberian bahan organik dalam proses
budidaya tanaman dapat meningkatkan efisiensi pupuk dan produktivitas lahan
serta dapat memberikan pertumbuhan dan hasil yang baik (Supartha dkk., 2012).
Pengendalian hama dan gulma dapat dilakukan dengan cara langsung yaitu
dengan cara mengambil, menjauhkan atau memusnahkan hama, gulma, dan
tanaman yang terserang patogen dari lahan budidaya. Penggunaan sistem mekanis
16

secara manual dalam proses pengendalian OPT tanaman padi dapat menghemat
biaya dan meningkatkan efisiensi pertumbuhan (Marpaung dkk., 2013).
Pemeliharaan dan pengamatan pertumbuhan tanaman padi dapat dipantau dengan
jarak seminggu sekali. Pertumbuhan tanaman padi dapat diukur dengan cara
melihat perkembangan dari perbedaan tinggi batang, jumlah anakan produktif,
bobot basah dan kering tajuk, bobot basah dan kering akar, panjang malai dan
jumlah gabah total malai (Bakrie dkk., 2010).

2.8.1.Organisme pengganggu tanaman padi

Pertumbuhan dan perkembangan tanaman budidaya tidak lepas dari


gangguan tumbuhan gulma, hewan pengganggu, dan patogen. Gulma merupakan
tanaman selain tanaman budidaya yang tumbuh dan menjadi salah satu faktor
pembatas pada pertumbuhan tanaman (Marpaung dkk., 2013). Gulma yang
tumbuh pada lahan budidaya akan menyebabkan adanya kompetisi unsur hara
yang dapat menyebabkan terganggunya penyerapan unsur hara oleh tanaman
budidaya. Populasi gulma yang tidak sesuai dan terlalu banyak menyebabkan
keterbatasan dalam ketersediaan faktor produksi secara maksimum yang
berdampak ke hasil panen (Utami dan Purdyaningrum, 2012).
Pengendalian gulma dapat dilakukan dengan cara mekanis, alami dan
kimiawi. Efisiensi pengendalian gulma dapat ditingkatkan dengan cara
mengetahui daur hidup, faktor yang mempengaruhi pertumbuhan, cara gulma
berkembang biak, serta cara penyebaran dan bereaksi terhadap perubahan
lingkungan (Kastanja, 2011). Gulma yang sudah diidentifikasi akan memudahkan
petani untuk mendapatkan arah pengendalian yang tepat. Pengendalian gulma
yang dilakukan dengan tepat memiliki efisiensi, ekonomis, dan berkelanjutan
serta memiliki basis ekologi (Effendi, 2009).
Pengendalian gulma dengan pemberian bahan kimia akan memberikan
efisiensi dan memiliki harga yang ekonomis. Bahan kimia dapat memberikan efek
negatif pada tanaman dan lingkungan penanaman karena memiliki bahan kimia
berbahaya bagi lingkungan. Pemberian bahan kimia dengan intensitas tinggi dan
17

sering dapat menyebabkan resistensi pada gulma (Pane dan Jatmiko, 2009).
Bahan alami dapat diberikan pada lahan budidaya tanaman untuk memperbaiki
lingkungan dan ekosistem. Pengendalian hama dan gulma dengan cara
penambahan bahan alami memiliki konsep sesuai dengan pengendalian hama
terpadu. Pengendalian gulma dan hama secara hayati dapat dilakukan untuk
mengelola lingkungan agar populasi hama dan gulma menjadi rendah dengan
memperhatikan lingkungan (Kartohardjono, 2011).
Gulma yang tumbuh pada lahan budidaya padi salah satunya adalah
tanaman genjer (Limnocharis flava). Tanaman genjer termasuk ke dalam
golongan gulma berdaun lebar. Pertumbuhan genjer tidak mempengaruhi secara
langsung pertumbuhan tanaman padi selama masih dalam intensitas yang rendah
(Pane dan Jatmiko, 2009). Hama yang ditemukan pada lahan budidaya adalah
belalang. Belalang masuk ke dalam famili Oxya spp. yang memiliki ciri-ciri
bagian bawah tubuh berwarna hijau kekuningan dengan tibia belakang berwarna
biru keabuan. Belalang dapat merusak tanaman padi dengan menghabiskan
sebagian besar bagian tepi daun (Sianipar dkk., 2015).
Pengendalian gulma di sekitar tanaman yang dibudidayakan agar saat
pemberian pupuk tidak terbagi dengan tanaman pengganggu (Effendi, 2009).
Pembersihan lahan yaitu untuk membersihkan semua tanaman yang bisa
mengganggu pertumbuhan tanaman yang dibudidaya, karena pada pemanfaatan
unsur hara yang selalu diperoleh gulma dengan intensitas yang cukup banyak
pada setiap pengambilannya, sehingga pertumbuhan gulma tidak kalah bersaing
dengan pertumbuhan tanaman tersebut (Marpaung dkk., 2013).
18

BAB III

MATERI DAN METODE

Praktikum Budidaya Tanaman Pangan tentang pengolahan tanah telah


dilaksanakan pada tanggal 9 dan 16 September 2017, penyemaian bibit pada
tanggal 5 Oktober 2017, penanaman pada tanggal 14 Oktober 2017, pemupukan
dasar pada tanggal 23, 21, dan 28 Oktober 2017 pukul 07.00, serta uji
laboratorium pada tanggal 8 Desember 2017 pukul 16.00, di Lahan Percobaan,
Fakultas Peternakan dan Pertanian, Universitas Diponegoro, Semarang.

3.1. Materi

Materi yang digunakan terdiri dari alat dan bahan. Bahan yang digunakan
yaitu benih padi varietas Inpari sidenuk, pupuk kandang, PGPR, POC, kompos,
tanah dan air garam.Alat yang digunakan adalah cangkul untuk mengolah tanah,
garu untuk meratakan tanah, ember sebagai wadah pupuk kandang, botol bekas
sebagai wadah POC dan PGPR, timbangan untuk menimbang pupuk, media
pembibitan untuk membibitkan benih padi, koran untuk alas media pembibitan,
meteran untuk mengukur tinggi tanaman, serta cutter untuk memotong padi.

3.2. Metode

3.2.1. Pembibitan

Benih padi diuji lebih dahulu dengan merendam dalam air garam pekat
untuk mengetahui benih yang berkualitas baik, yang ditandai dengan benih yang
tenggelam. Benih yang mengambang tidak digunakan atau disisihkan/dibuang.
Benih yang tenggelam dipilih untuk digunakan sebagai bibit, benih tersebut
kemudian dicuci bersih menggunakan air, apabila sudah bersih selanjutnya benih
ditakar menggunakan gelas plastik untuk selanjutnya dilakukan pembibitan.
Pembibitan dilakukan dengan media tanam berupa kompos dan tanah dengan
komposisi 4 : 1 yang diletakkan pada nampan ukuran 60 x 30 cm yang diberi alas
19

kertas koran. Benih disebar secara merata pada media tanam. Selanjutnya nampan
media tanam yang telah diberi air secukupnya dan ditaburi benih ditutup dengan
terpal selama 4 hari. Setelah 4 hari, terpal dibuka, dan nampan dipindah ke
ruangan agar terkena cahaya matahari tetapi tidak air hujan secara langsung.
Benih ditumbuhkan selama 7 hari dengan maksimal tumpukan sebanyak 15
tumpuk.

3.2.2. Pengolahan tanah

Metode pengolahan tanah terbagi menjadi 2 yaitu metode pengolahan tanah


pertama dan pengolahan tanah kedua. Metode pengolahan tanah pertama adalah
mengukur luas tanah sawah secara keseluruhan agar petak tiap kelompok terlihat
sejajar dan rapi, kemudian membolak-balikkan tanah dengan cangkul untuk
menggemburkan tanah, membuat saluran irigasi air pada tiap petak sehingga
tanah dapat terairi semua, kemudian menggenangi tanah selama 2 hari dan
mengeringkan selama 7 hari. Pengolahan tahah kedua bertujuan untuk
memperoleh kondisi tanah sawah yang siap tanam yaitu dengan melakukan
penghalusan tanah dengan garu untuk membuat tekstur tanah menjadi lumpur dan
rata dan mudah ditanami, setelah pengolahan tanah kedua air irigasi harus
dialirkan ke sawah secara berkelanjutan untuk menggenangi padi.

3.2.3. Penanaman padi

Metode penanaman padi yaitu benih padi yang telah dibibitkan di media
pembibitan yang berumur 7 hari dibawa ke lahan sawah. Lahan sawah diratakan
dan dibersihkan terlebih dahulu sebelum dilakukan penanaman. Bibit padi
dipilih yang pertumbuhannya paling baik. Pola penanaman padi yang digunakan
yaitu jajar legowo 4:1. Lubang dibuat dengan kedalaman 3 - 4 cm. Satu lubang
diberi 3-5 bibit padi. Bibit padi ditanam pada lubang tanam sampai empat baris
dengan jarak 25 x 25 cm antar tanaman, kemudian diberi sela-sela dengan jarak
50 cm, dilanjutkan bibit padi ditanam kembali sampai empat baris dan
seterusnya.
20

Gambar Pola Tanam Jajar Legowo 4 : 1

3.2.4. Pemupukan

Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang sapi seberat 5 kg


dilakukan pada hari Sabtu, 23 September 2017, kemudian dilanjutkan pada hari
Rabu, 27 September 2017 dengan pupuk kandang sapi seberat 7 kg. Pemupukan
susulan menggunakan larutan POC sebanyak 1 L dilakukan pada hari Sabtu, 21
Oktober 2017 dan pemupukan susulan menggunakan larutan PGPR sebanyak 1
L dilakukan pada hari Sabtu, 28 Oktober 2017. Pemupukan dasar dilakukan
dengan cara pupuk kandang sapi ditaburkan secara merata pada tanah yang telah
diolah. Pemupukan lanjutan dilakukan dengan cara larutan POC dan PGPR
disiramkan secara merata tanaman padi dan tanah menggunakan botol aqua
bekas.
21

3.2.5. Pemeliharaan tanaman

Metode yang digunakan dalam pemeliharaan tanaman adalah tanaman


padi diberikan pupuk cair dan PGPR buatan. Pupuk cair dan PGPR dicampurkan
ke dalam 1 liter air di dalam ember. Larutan campuran pupuk cair dan EM4
dimasukkan kedalam alat penyemprot, kemudian diberikan pada lahan budidaya
secara keseluruhan. Pemberian pupuk cair dan PGPR dilakukan dengan
intensitas pemberian seminggu sekali pada tiga minggu pertama setelah pindah
tanam bibit ke lahan budidaya. Pemberantasan hama dilakukan dengan cara
hama di ambil langsung dengan tangan, serta pemberantasan gulma dengan cara
gulma yang tumbuh dicabut langsung. Pengaturan saluran air dilakukan dengan
cara saluran air ditutup ketika genangan air di sawah tinggi, dan saluran air
dibuka ketika kapasitas air sawah berkurang.

3.2.6. Pengamatan

Metode yang digunakan adalah tanaman padi yang sudah ditanam pada
lahan budidaya diberikan stik kayu yang sudah diberikan nomor urut 1-10.
Tanaman yang sudah ditandai dihitung panjang malai dan jumlah anakan setiap
minggu pada hari yang sama. Pengukuran dilakukan dengan mengukur malai padi
yang terpanjang dalam satu rumpun. Pengukuran malai dimulai dari titik tumbuh
hingga ujung daun. Jumlah anakan dihitung setiap minggu. Hasil pengukuran
dicatat dan direkap. Tanaman padi dicabut pada minggu ke-8 setelah tanam dan
ditimbang serta dianalisis berat basah dan berat keringnya.
22

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Tahap-tahan praktikum Budidaya Tanaman Pangan yaitu terdiri dari


pengolahan tanah yang dilakukan sebanyak dua kali, pembibitan benih padi yang
dikecambahkan pada tray perkecambahan, penanaman dengan sistem jajar legowo
4 : 1 dengan jarak tanam 25 x 25 cm, pemupukan menggunakan pupuk organik
cair dan PGPR, pemeliharaan yang meliputi pemberantasan OPT padi dan
pengamatan jumlah daun dan tinggi tanaman, serta produksi hijauan padi yang
dihitung berat basah dan berat kering tanaman.

4.1. Pengolahan Tanah

Praktikum Budidaya Tanaman Pangan mengenai pengolahan tanah yang


telah dilaksanakan dapat diketahui bahwa kondisi awal tanah sebelum diolah yaitu
tanah bertekstur keras dan dipenuhi oleh gulma, setelah dilakukan pengolahan
tanah pertama tanah menjadi lebih gembur dan bersih dari gulma (Ilustrasi 1.).
Menurut Razie dkk. (2013) pengolahan tanah yang baik yaitu pengolahan yang
mampu mengubah struktur tanah menjadi gembur, struktur tanah penting untuk
memperbaiki pertukaran air dan udara, kelembaban, aktivitas mikroorganisme
tanah, dan tersedianya unsur hara bagi tanaman. Sebelum dilakukan penanaman
tanah harus diolah terlebih dahulu agar tidak mengganggu sistem perakaran
tanaman sehingga pertumbuhannya optimal. Menurut Palembang dkk. (2013)
syarat agar tanaman tumbuh dengan baik adalah ditanam pada tanah yang
memiliki sifat fisik, kimia, dan biologi yang baik karena menunjang pertumbuhan
dan perkembangan tanaman dengan menyediakan air dan unsur hara yang cukup.
23

A B
Sumber: Data Primer praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.
Ilustrasi 1. Pengolahan Tanah
Keterangan :
a. Pengolahan Tanah Pertama
b. Pengolahan Tanah Kedua

Pengolahan tanah sawah untuk tanaman padi dilakukan dua kali


pengolahan. Pengolahan tanah dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan
daya dukung tanah dengan melakukan pengolahan fisik tanah seperti
penggemburan dan pembajakan agar kondisinya sesuai dengan kebutuhan
tanaman untuk tumbuh secara optimal. Menurut Asnawi (2014) pengolahan tanah
yang tepat berguna untuk meningkatkan kualitas tanah dan agregat tanah sehingga
dapat meningkatkan produktivitas lahan yang menguntungkan. Sebelum diolah
lahan digenangai air terlebih dahulu untuk melunakkan tanah selama 2 hari.
Pengolahan tanah pertama dilakukan dengan cara membolak-balikkan tanah agar
gulma pada tanah tenggelam dan tekstur tanah lebih halus. Pengolahan tanah
kedua dilakukan 7 hari setelah pengolahan tanah pertama dengan cara
menggemburkan tanah kembali dan meratakan permukaan tanah agar siap
ditanami. Manik dkk. (2014) menyatakan bahwa pada tanah ringan, pengolahan
tanah cukup dengan 1 kali bajak dan 2 kali garu lalu dilakukan perataan, pada
tanah berat pengolahan terdiri dari 2 kali bajak dan 2 kali garu kemudian di
ratakan.
Pengolahan tanah kedua dilakukan dengan cara lahan digenangi air untuk
persiapan penanaman bibit padi. Pengolahan ini bertujuan untuk menyediaan
unsur hara pada tanaman padi yang barusaja dipindah tanam, sehingga padi dapat
24

tumbuh dengan baik dan tidak stres. Tujuan pengolahan lahan kedua yaitu untuk
mengoptimalkan kondisi perairan serta kesuburan tanah sehingga pada saat
pindah tanam, kebutuhan unsur hara dan air tanaman padi tercukupi. Hal ini
sesuai dengan pendapat Zaini (2009) yang menyatakan bahwa pengolahan tanah
pada budidaya padi sawah bertujuan untuk menciptakan keadaan tanah yang
sesuai dengan pertumbuhan tanaman padi yaitu dengan penggenangan. Waktu
pengolahan tanah yang baik yaitu tidak kurang dari 4 minggu sebelum
penanaman. Zahrah (2011) menyatakan bahwa pengolahan lahan sawah dilakukan
pada lapisan top soil dengan kedalaman 15-20 cm yang terdiri dari bahan-bahan
organik tanah agar mudah diserap tanaman.

4.2. Pembibitan

4.2.1. Daya kecambah

Berdasarkan Praktikum Budidaya Tanaman Pangan yang telah


dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 1. Daya Kecambah Bibit

No. Varietas Daya Kecambah (---%---)


1. Inpari sigenuk 95 %
Sumber : Data Primer Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.

Berdasarkan data yang diketahui pada (Tabel 1.), daya kecambah bibit
tanaman padi pada varietas Inpari sigenuk sangat tinggi yakni sebesar 95%.
Jumlah bibit yang tumbuh tidak sama dengan jumlah benih yang dibibitkan,
karena terjadi persaingan, sehingga jumlah bibit yang tumbuh biasanya lebih
sedikit dari jumlah awal benih yang dibibitkan. Menurut Santosa dkk., (2013) biji
padi yang terbentuk tidak sama ukurannya dan ada yang berwarna cokelat,
sehingga pada waktu dikecambahkan ada biji padi yang tidak dapat tumbuh
menjadi bibit tanaman padi. Pada saat sebelum disemai, benih direndam terlebih
dahulu pada air garam, untuk penyeleksian sehingga dapat memperoleh benih
yang benar-benar baik. Menurut Wartono dkk., (2015) perlakuan benih pra tanam
25

atau conditioning bertujuan untuk menghilangkan sumber infeksi benih dari


pathogen tular benih, melindungi bibit ketika muncul dipermukaan tanah, dan
meningkatkan perkecambahan atau melindungi benih dari pathogen.
Pembibitan dilakukan kurang lebih 10 hari dengan tinggi yang telah cukup,
agar tanaman lebih siap untuk ditanam. Menurut Djamhari (2010) lama
pembibitan sekitar 3 minggu dengan tinggi bibit kurang lebih 20 cm. Pada proses
pembibitan, benih ditanam pada media yang berupa campuran tanah dan pupuk
kompos. Menurut Syahadat dan Aziz (2012) pada saat pembibitan tetap harus
memperhatikan komposisi media dan pemberian pupuk organik. Pada saat
sebelum disemai, benih direndam terlebih dahulu pada air garam, untuk
penyeleksian sehingga dapat memperoleh benih yang benar-benar baik. Menurut
Wartono dkk., (2015) perendaman benih sebelum semai terbukti nyata dapat
meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman padi sejak fase pembibitan
(vegetatif) hingga fase generatif.

4.2.2. Bibit tanaman

Berdasarkan Praktikum Budidaya Tanaman Pangan yang telah


dilaksanakan, diperoleh hasil sebagai berikut :

Sumber : Data Primer Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.


Ilustrasi 2. Bibit Tanaman Padi

Berdasarkan hasil pengamatan yang diperoleh dalam praktikum dapat


dianalisis bahwa pembibitan padi berhasil dengan baik (Ilustrasi 2.) Namun benih
26

yang disemai pada pembibitan tidak semuanya tumbuh, dikarenakan suhu yang
cukup tinggi pada lokasi pembibitan, sehingga hanya yang tahan saja yang masih
mampu tumbuh. Menurut Santosa dkk., (2013) tidak semua benih yang dibibitkan
tumbuh, bibit yang mati dapat disebabkan oleh suhu yang tinggi, yaitu lebih dari
45°C. Menurut Basri dkk., (2016) pemberian pupuk pada awal pembibitan dapat
meningkatkan jumlah daun tanaman.
Pembibitan merupakan kegiatan menumbuhkan benih padi pada suatu
wadah sebelum ditanam dilahan sawah. Menurut Djamhari (2010) pentingnya
melakukan pembibitan adalah untuk mempersiapkan bibit tanaman padi yang siap
tanam di lahan persawahan. Pelaksanaan pembibitan membutuhkan air, untuk
membantu proses imbibisi pada benih agar lebih mudah berkecambah. Menurut
Hidayat dkk., (2010) pada saat pembibitan, pengairan haruslah cukup, apabila
lahan tidak mampu memenuhi kebutuhan air maka harus dilakukan sistem
pembibitan khusus (transplanting). Pada proses pembibitan, benih dikecambahkan
pada nampan dan diatur kondisi lingkungannya. Menurut Ningsih (2014)
penyebaran benih dalam suatu wadah untuk mempercepet pertumbuhan tanaman,
kondisi air harus pula diperhatikan dalam proses pembibitan.
Pemberian pupuk kompos saat proses pembibitan sangat perlu dilakukan,
untuk menyuplai hara bagi bibit agar dapat tumbuh dengan baik. Menurut
Djamhari (2010) bibit padi membutuhkan unsur hara makro N dan P yang cukup,
N untuk pertumbuhan vegetative, P untuk membantu proses fotosintesis,
pembentukan biji dan bunga. Pembibitan dilakukan selama kurang lebih 2
minggu, dan menghasilkan bibit dengan tinggi kurang lebih 9 cm. Menurut
Syahadat dan Aziz (2012) bibit dihasilkan dari proses penyemaian biji, dan
tingginya telah mencapai 5 – 10 cm, segar, sehat dan tidak terserang penyakit.
27

4.3. Penanaman

Berdasarkan praktikum Budidaya Tanaman Pangan yang telah dilaksanakan


diperoleh hasil sebagai berikut :

Sumber : Data Primer Praktikum


Sumber :
Budidaya Tanaman Pangan,
bp3kkecbrangene.blogspot.com
2017.
Ilustrasi 3. Pola Penaman Jajar Legowo 4:1

Berdasarkan (Ilustrasi 3.) pola penanaman yang digunakan adalah sistem


penanaman jajar legowo 4:1. Pola tanam jajar legowo 4:1 dilakukan dengan
menanam padi empat baris kemudian diselingi lorong yang memiliki jarak dua
kali lipat dari jarak tanam. Jarak tanam yang digunakan adalah 20 cm x 20 cm.
Sesuai dengan pendapat Bakrie dkk. (2010) yang menyatakan bahwa jarak yang
digunakan untuk pola penanaman padi yaitu antara 20 cm x 20 cm sampai 30 cm
x 30 cm tergantung pada lahan penanaman. Pola penanaman ini memiliki
keunggulan yaitu penaman mudah dilakukan dan pemeliharaan juga mudah
dilakukan. Lorong pada pola penanaman jajar legowo 4:1 berguna untuk
mempermudah pemeliharaan, pemupukan, serta pengendalian hama dan penyakit.
Hal ini sesuai dengan pendapat Ikhwani dkk. (2013) yang menyatakan bahwa
lorong kosong pada sistem jajar legowo mempermudah pemeliharaan tanaman,
pengendalian gulma, dan pemupukan.
Penerapan sistem tanam jajar legowo akan memberikan keuntungan pada
tanaman yang berada di pinggir. Tanaman yang berada di bagian pinggir dapat
memanfaatkan sinar matahari secara optimal. Hal ini karena adanya lorong yang
28

memiliki jarak lebih lebar, sehingga kompetisi unsur hara pada tanaman akan
berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Sohel dkk. (2009) yang menyatakan
bahwa penanaman padi dengan jarak yang optimum memberikan pertumbuhan
tanaman yang baik karena mengoptimalkan pemanfaatan cahaya matahari dan
penyerapan unsur hara. Menurut pendapat Salahuddin dkk. (2009) yang
menyatakan bahwa jarak tanam mempengaruhi panjang malai, jumlah bulir per
malai, dan hasil per hektar tanaman padi. Bibit yang digunakan pada penanaman
yaitu bibit padi yang telah berumur 7 hari setelah semai. Penggunaan bibit padi
yang baik yaitu memiliki umur kurang dari 15 hari setelah semai, hal ini bertujuan
untuk mempercepat adaptasi tanaman dengan lingkungan yang baru dan
mengurangi perubahan fisiologi karena adanya cekaman. Menurut pendapat
Anggraini dkk. (2013) yang menyatakan bahwa penggunaan bibit padi yang
berumur kurang dari 15 hari setelah semai mempermudah bibit untuk lebih cepat
beradaptasi dan cepat pulih dari cekaman.

4.4. Pemupukan

Berdasarkan praktikum Budidaya Tanaman Pangan yang telah dilaksanakan


diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 2. Pupuk yang diberikan

No Jenis Pupuk Waktu Pemberian (HST) Dosis Pupuk


--(gr atau L)--
1 Pupuk Kandang Sapi Pengolahan Tanah II 5000
2 Pupuk Kandang Sapi 27 September 2017 7000
3 Pupuk Organik Cair 21 Oktober 2017 1
4 PGPR 28 Oktober 2017 1
Sumber : Data Primer Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan bahwa


pemupukan yang dilakukan terdiri atas pemupukan dasar dan pemupukan
lanjutan. Pemupukan dasar dilaksanakan pada waktu pengolahan tanah II (23
Oktober 2017) dengan pupuk kandang sapi sebanyak 5 kg dan dilanjutkan pada
27 Oktober 2017 menggunakan pupuk kandang sapi sebanyak 7 kg (Tabel 2.).
29

Pemupukan dasar dilakukan bertujuan untuk menambah bahan organik tanah dan
menyediakan hara bagi tanaman yang akan ditanam. Hal ini sesuai dengan
pendapat Sahardi dkk. (2014) bahwa pemupukan dasar bertujuan membantu
memperbaiki sifat tanah dan mengisi kembali hara yang hilang sehingga hara
tersedia saat penanaman dilakukan. Pemupukan dasar pada tanah yang telah
selesai diolah bertujuan agar pupuk yang diaplikasikan tidak hilang maupun
terpendam didasar tanah akibat pengolahan tanah, serta tidak dimanfaatkan oleh
gulma. Pemupukan dasar yang dilakukan saat pagi hari supaya pupuk dan hara
yang terkandung tidak tercuci ketika hujan maupun menguap akibat panas.
Menurut Kasno dkk. (2016) bahwa pemupukan dilaksanakan pada waktu dengan
resiko penguapan pupuk dan pencucian pupuk yang minim, serta pada lahan yang
telah diolah agar tidak terjadi penyerapan pupuk oleh gulma. Hal ini sesuai
dengan pendapat Rosadillah dkk. (2017) bahwa pemupukan berimbang dengan
tepat dosis, waktu dan jenis pupuk meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk.
Pemupukan dasar menggunakan pupuk kandang sapi yang diaplikasikan
sebelum penanaman padi bertujuan agar pupuk mengalami dekomposisi terlebih
dahulu, sehingga ketika bibit ditanam hara sudah tersedia dan dapat diserap oleh
tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Susanti dkk. (2013) bahwa pupuk
kandang sapi sebagai pupuk dasar dapat menyumbang hara bagi awal
pertumbuhan tanaman melalui dekomposisi. Sifat pupuk kandang sapi yang
menyediakan hara melalui dekomposisi terlebih dahulu menguntungkan bila
diaplikasikan beberapa minggu sebelum penanaman dan pupuk tidak akan
mengalami pencucian secara mudah. Hal ini sesuai pendapat Afif dkk. (2014)
bahwa pupuk kandang sapi cocok untuk pupuk dasar karena dapat menyediakan
unsur hara melalui dekomposisi bahan organik, sehingga ketersediaan maupun
penguapan hara lebih lambat.
Pemupukan dasar dengan pupuk kandang sapi juga bermanfaat untuk
pemenuhan hara makro maupun mikro bagi tanaman padi meskipun prosentase
kandungan hara kecil. Menurut Ningtias and Suharjanto (2012) sistem pertanian
organik memanfaatkan pupuk kandang baik dari ternak ruminansia maupun
unggas sebagai pupuk dasar, karena mengandung unsur hara lengkap baik mikro
30

maupun makro. Pupuk kandang sapi yang digunakan pupuk dasar merupakan
kotoran yang telah matang dengan tekstur mudah hancur sehingga bersifat tidak
panas dan beracun bagi tanah. Hal ini sesuai dengan pendapat Chuaca dkk. (2017)
bahwa pupuk kandang sapi yang sudah matang siap digunakan untuk pemupukan
dengan ciri berwarna kehitaman, tidak berbau dan bertekstur remah.
Pemupukan lanjutan dilakukan untuk menyediakan hara yang dibutuhkan
tanaman padi dalam waktu yang relatif cepat dan mensubstitusi hara dari
pemupukan dasar yang telah berkurang. Menurut Susanto dkk. (2013) bahwa
pemupukan lanjutan dapat menambah cadangan hara pada tanah dan untuk
meningkatkan ketersediaan hara yang dibutuhkan tanaman dalam waktu cepat.
Pemupukan lanjutan menggunakan pupuk organik cair dilakukan dengan
penyiraman langsung pada tanaman padi meningkatkan efisiensi penggunaan
pupuk dan dapat langsung dimanfaatkan oleh tanaman. Penggunaan pupuk
organik cair juga dapat menghindarkan pemusatan pupuk pada blok-blok tertentu
saja, karena bentuknya yang cair lebih mudah menyebar dan diserap tanaman.
Menurut (Istiqomah dkk., 2016) bahwa pupuk organik cair menyediakan hara
mikro dan makro dengan cepat dan merata pada tanah tanpa melalui dekomposisi
serta hara tidak mudah tercuci.
Penggunaan pupuk organik cair untuk penyediaan hara secara cepat bagi
tanaman padi juga bertujuan untuk meningkatkan pertahanan tanaman padi.
Menurut Mujiono dkk. (2011) pupuk organik cair juga berperan sebagai
bioaktivator dan senyawa pengendali hama. Pupuk organik cair juga tidak bersifat
toksik bagi tanah dan tanaman karena bersumber dari bahan organik, sehingga
tidak mencemari lingkungan yang dapat mengundang timbulnya virus atau bakteri
merugikan penyebab penyakit. Menurut Rusli dkk. (2016) pupuk organik cair
yang diaplikasikan pada padi menurunkan infeksi penyakit kresek dan blas.
Pemupukan lanjutan tahap kedua menggunakan PGPR yang disiramkan
pada tanah diharapkan mampu mengurai bahan-bahan organik yang berasal dari
pupuk kandang sapi. Hal ini sesuai dengan pendapat Meena dkk. (2013) bahwa
PGPR mengurai bahan organik tanah untuk sumber energi dan mengeluarkan
asam organik sebagai hara yang dibutuhkan tanaman sehingga meningkatkan
31

produksi padi. Hasil dekomposisi bahan organik dari sisa-sisa kotoran sapi yang
belum terurai tersebut diharapkan mampu memberikan suplai hara bagi
pertumbuhan tanaman hingga masa generatif. Hal ini sesuai dengan pendapat
Sharma dkk. (2014) bahwa PGPR dapat melarutkan senyawa racun dalam tanah,
meningkatkan pH tanah dan hara tanah.
PGPR sebagai kumpulan bakteri heterogen bersifat multifungsi bagi
pertumbuhan tanaman karena tidak hanya membantu menyediakan hara melalui
proses dekomposisi. Menurut Wiyono dkk. (2014) bahwa PGPR berfungsi
sebagai biofertilizer, biostimulan, dan bioprotektif bagi tanaman. Aplikasi PGPR
juga terbukti meningkatkan sistem pertahanan tanaman karena sifatnya yang
dapat memacu pembentukan fitohormon dan sintesis enzim dalam tanaman. Hal
ini sesuai pendapat Aryanto dkk. (2015) bahwa PGPR memacu pembentukan
fitohormon dalam tanaman padi dan mampu meningkatkan kualitas tanah serta
efisiensi penggunaan pupuk. Mekanisme pertahanan tanaman dapat meningkat
akibat aplikasi PGPR adalah dengan meningkatkan proses lignifikasi. Hal ini
sesuai pendapat Sen dkk. (2015) bahwa PGPR meningkatkan aktivitas enzim
peroksidase dalam pembentukan lipid sehingga memperkuat dinding sel tanaman
dan meningkatkan resistensi tanaman dari serangan hama dan penyakit.

4.5. Organisme Pengganggu Tanaman

Berdasarkan pengamatan pertumbuhan tanaman padi didapatkan organisme


pengganggu tanaman sebagai berikut:

Tabel 3. Organisme Pengganggu Tanaman Padi (Oryza sativa)

Jenis Organisme
Jumlah Spesies Nama Spesies
Pengganggu Tanaman
Gulma 1 Genjer
Penyakit - -
Hama 1 Belalang
Sumber : Data Primer Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.
32

Berdasarkan Tabel 3. didapatkan bahwa terdapat satu jenis gulma dan satu
jenis hama yang mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.
Keberadaan gulma dan hama yang relatif sedikit dapat dikendalikan secara
mekanik yaitu pengambilan langsung. Menurut Effendi (2009) pengendalian
organisme pengganggu tanaman yang sedikit dapat dilakukan dengan cara
pengambilan langsung karena lebih efisiensi dan ekonomis yang tepat.
Pengambilan gulma dan hama secara langsung dapat mengurangi jumlah populasi
dan dapat menjaga pertumbuhan tanaman tetap stabil. Hal ini didukung oleh
pendapat Utami dan Purdyaningrum (2012) yang menyatakan bahwa populasi
gulma dan hama yang sedikit tidak akan berdampak terlalu besar pada
pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi.
Organisme pengganggu tanaman dapat menjadi salah satu faktor pembatas
yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat
Marpaung dkk. (2013) yang menyatakan bahwa gulma dan hama dapat menjadi
faktor pembatas pertumbuhan tanaman karena dapat mempengaruhi pertumbuhan
morfologi dan fisiologi tanaman. Pemberantasan gulma dan hama dapat diberikan
agensi hayati dan bahan alami yang dapat mengganggu fisiologis organisme
pengganggu. Menurut Pane dan Jatmiko (2009) penambahan bahan kimia untuk
menanggulangi OPT dapat menyebabkan fenomena resistensi dimana hama dan
gulma tidak akan terpengaruh oleh zat pembasmi gulma dan hama.
Berdasarkan Tabel 3. didapatkan hama yang terdapat pada lahan budidaya
padi adalah belalang. Hama belalang dapat menyebabkan pertumbuhan tanaman
terganggu karena belalang merusak daun tanaman padi. Ciri fisik tanaman padi
yang terserang belalang adalah daunnya rusak dan berlubang. Hal ini didukung
oleh pendapat Sianipar dkk. (2015) yang menyatakan bahwa ciri-ciri adanya hama
belalang pada pertumbuhan tanaman padi adalah sebagian bagian tepi daun
bolong dan terdapat bekas gigitan yang tidak beraturan. Serangan hama belalang
pada intensitas serangan rendah dapat diatasi dengan pemungutan secara langsung
dan pengelolaan lingkungan agar hama tidak dapat berkembang biak lebih lanjut.
Hal ini sesuai dengan pendapat Kartohardjono (2011) yang menyatakan bahwa
pengendalian hama dapat dilakukan dengan cara pengelolaan lingkungan yang
33

memungkinkan hama tidak dapat tumbuh pada lahan budidaya secara luas.
Berdasarkan Tabel 3. didapatkan bahwa gulma tanaman padi yang
dibudidayakan terdiri dari satu jenis yaitu genjer (Limnocharis flava) yang tidak
akan mempengaruhi pertumbuhan padi secara langsung saat masih dalam
intensitas yang rendah. Menurut Pane dan Jatmiko (2009) bahwa pertumbuhan
genjer pada lahan budidaya padi tidak akan berpengaruh langsung pada
pertumbuhan padi selama masih dalam intensitas yang rendah. Pengendalian
genjer dalam intensitas rendah dapat diatasi dengan cara pencabutan secara
langsung gulma dan pemberian agensi hayati yang dapat mengurangi
pertumbuhan gulma. Menurut Kartohardjono (2011) gulma dapat diatasi dengan
cara mekanis dan pemberian agensi hayati agar pertumbuhan gulma terkendali.

4.6. Pertumbuhan Tanaman Padi

4.6.1. Respon perbedaan sistem tanam terhadap tinggi tanaman

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai


berikut:

120.0
Tinggi tanaman (cm)

100.0
80.0
60.0 Konvensional
40.0 Jajar Legowo 2:1
Jajar Legowo 3:1
20.0 Jajar Legowo 4:1
0.0
1 2 3 4 5 6
Minggu Setelah Tanam

Ilustrasi 4. Grafik Tinggi Tanaman pada Sistem Tanam Berbeda

Berdasarkan praktikum pengamatan yang telah dilakukan didapatkan hasil


bahwa pertumbuhan batang tanaman padi selalu mengalami peningkatan. Terlihat
34

pada Ilustrasi 4. Batang tertinggi diperoleh pada sistem tanam jajar legowo 4:1.
Minggu pertama hingga minggu kedua masa penanaman tanaman belum
menunjukkan pertumbuhan yang berarti. Pertumbuhan tanaman padi yang lambat
diawal penanaman mengalami peningkatan setelah minggu ke-4. Hal tersebut
dikarenakan penerapan sistem tanam legowo dengan jarak tanam 4:1 yang
digunakan dalam penanaman tanaman padi memberi ruang gerak paling bebas
untuk bertumbuh. Menurut pendapat Hatta (2012) jarak tanam mempengaruhi
pertumbuhan tanaman padi, jarak tanam yang lebar menjadikan tanaman tumbuh
tinggi dan kokoh. Menurut Barus (2012) bahwa jarak tanam mempengaruhi
pertumbuhan dan produksi baik secara langsung maupun tidak langsung dengan
menggunakan sistem tanam legowo (diantaranya legowo 2:1 dan 4:1).
Grafik tinggi tanaman menunjukkan bahwa pertumbuhan tinggi batang
tanaman padi terus meningkat. Pertambahan tinggi tanaman akan meningkat
seiring pertambahan umur tanaman, selain itu penambahan unsur hara juga
mempengaruhi pertambahan tinggi tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat
Duaja (2012) bahwa pemberian pupuk menambah unsur organik dan anorganik
pada tanah dalam mengubah unsur ataupun proses reaksi didalam tanah yang
lebih baik, dengan tujuan untuk penggemburan tanah dalam pertumbuhan
tanaman. Menurut Ginting (2017) unsur hara N dan P dibutuhkan dalam
pertumbuhan dan perkembangan tanaman untuk pertumbuhan tinggi,
pembentukan daun dan memperbanyak jumlah tunas.
Pengaturan sistem tanam dengan penerapan pemberian jarak tanam
mempermudah tanaman padi dalam mendapatkan sinar matahari untuk melakukan
proses fotosintesis yang dapat menunjang pertumbuhan tinggi tanaman. Menurut
Hatta (2012) jarak tanam yang optimum memberikan pertumbuhan bagian atas
tanaman yang baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari
dan pertumbuhan bagian akar yang juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih
banyak unsur hara. Menurut Anggraini dkk. (2013) penerapan cara tanam sistem
legowo memiliki beberapa kelebihan yaitu, sinar matahari dapat dimanfaatkan
lebih banyak untuk proses fotosintesis, pemupukan dan pengendalian organisme
pengganggu tanaman menjadi lebih mudah dilakukan di dalam lorong-lorong.
35

Pemberian jarak tanam menjadikan tanaman lebih kuat dan kokoh, serta
lebih efisien dalam memanfaatkan nutrisi, air dan hara. Hai ini sesuai dengan
Sutapradja (2008) bahwa tanaman yang tumbuh tegak dan berumpun bisa di
lakukan penanaman dangan jarak 60-90cm dan 45-60 cm. Haryanti (2008)
tanaman dengan penyinaran yang cukup besar memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman yang lebih baik. Daun tanaman menjadi lebih lebar dan
panjang, batang besar dan seimbang, pertumbuhan normal, dan kadar air cukup
tinggi dibandingkan bahan keringnya.
Penanaman tanpa disertai jarak tanam akan menciptakan persaingan dalam
perebutan hara, air maupun hara antara tanaman padi dengan gulma yang
menyebabkan terhambatnya pertumbuhan. Hal ini sesuai dengan Maya (2007)
bahwa pada jarak tanam yang rapat sistem perakaran gulma akan lebih awal
memanfaatkan pupuk N. Pendapat tersebut didukung oleh Hatta (2011) bahwa
jarak tanam yang terlalu rapat mengakibatkan terjadinya kompetisi antar tanaman
dengan gulma dalam hal cahaya matahari, air, dan unsur hara. Akibatnya,
pertumbuhan tanaman terhambat dan hasil tanaman pada menjadi rendah.

4.6.2. Respon perbedaan sistem tanam terhadap jumlah anakan

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai


berikut:

25
Jumlah analan (buah)

20
15
Konvensional
10 Jajar Legowo 2:1
Jajar Legowo 3:1
5 Jajar Legowo 4:1
0
1 2 3 4 5 6
Minggu Setelah Tanam
36

Ilustrasi 5. Grafik Jumlah Anakan pada Sistem Tanam Berbeda

Berdasarkan Ilustrasi 5. dapat diketahui bahwa jumlah anakan tertinggi


terletak pada sistem tanam jajar legowo 4:1, sedangkan jumlah anakan terendah
pada sistem tanam konvensional. Jumlah anakan padi tertinggi pada pertengahan
minggu setelah tanam terletak pada sistem tanam jajar legowo 3:1, namun pada
akhir pengamatan tertinggi pada jajar legowo 4:1. Penggunaan sistem tanam jajar
legowo memberikan pengaruh paling baik pada pertumbuhan jumlah anakan padi.
Sistem jajar legowo menggunakan jarak tanam yang lebih lebar dan adanya ruang
kosong akan menurunkan persaingan unsur hara didalam tanah. Hal ini sesuai
dengan pendapat Ikhwani dkk. (2013) yang menyatakan bahwa lorong kosong
pada sistem jajar legowo mempermudah pemeliharaan tanaman, pengendalian
gulma, dan pemupukan, sehingga memberikan hasil yang lebih tinggi dari metode
penanaman lainnya. Penggunaan metode penanaman jajar legowo akan
meningkatkan pemanfaatan sinar matahari yang lebih baik, dan mempermudah
dalam pemupukan, pengamatan, serta pengendalian opt (organisme pengganggu
tanaman). Hal ini sesuai dengan pendapat Barus (2012) yang menyatakan bahwa
jumlah anakan pada pola tanam padi jajar legowo memberikan peningkatan
sebanyak 30%, penyinaran matahari optimal, sirkulasi udara lebih lancar, akan
mengurangi resiko terserang penyakit, sehingga mendukung tanaman untuk lebih
mudah tumbuh dan berkembang.
Sistem tanam konvensional menghasilkan jumlah anakan yang lebih sedikit
dibandingkan dengan sistem tanam jajar legowo. Sempitnya jarak tanam metode
konvensional menyebabkan tanaman padi akan bersaing memperoleh cahaya
matahari, unsur hara dalam tanah, dan sirkulasi udara, sehingga pertumbuhan
kesamping terhambat, jumlah anakan yang dihasilkan sedikit. Hal ini sesuai
dengan pendapat Putra (2011) yang menyatakan bahwa jarak tanam sempit pada
metode konvensional menghasilkan jumlah anakan yang sedikit, dalam satu
rumpun hanya menghasilkan 4-5 anakan. Sempitnya jarak tanam menyebabkan
persaingan tanaman tinggi. Kompetisi unsur hara yang tinggi menyebabkan
pemasokan unsur hara yang diserap tanaman sedikit, pertumbuhan terhambat.
37

Menurut Guntoro dkk. (2009) menyatakan peningkatan populasi tanaman padi


pada lahan sawah meningkatkan kompetisi intraspesifik tanaman.
Penggunaan jarak tanam yang lebih lebar memberikan kesempatan gulma
untuk tumbuh pada jarak tanam yang lebar, hal ini menyebabkan sistem tanam
jajar legowo harus dilakukan pemeliharaan menyeluruh untuk mengurangi
populasi gulma, agar pertumbuhan tanaman padi efektif. Menurut pendapat
Bakrie dkk. (2010) yang menyatakan bahwa penggunaan jarak tanam terlalu lebar
menyebabkan lahan kosong yang tidak ditanami berpotensi tumbuh gulma. Jarak
tanam lebar memberikan keuntungan pada pemanfaatan cahaya matahari yang
lebih optimal serta penyerapan unsur hara yang baik untuk mendukung
pertumbuhan tanaman. Hal ini sesuai dengan pendapat Sohel dkk. (2009) yang
menyatakan bahwa penanaman padi dengan jarak yang optimum memberikan
pertumbuhan tanaman yang baik karena mengoptimalkan pemanfaatan cahaya
matahari dan penyerapan unsur hara. Menurut Salahuddin dkk. (2009)
menyatakan bahwa jarak tanam mempengaruhi jumlah anakan, luas daun, panjang
malai, jumlah bulir, dan hasil per hektar tanamn padi.

4.7. Produksi Tanaman Padi

4.7.1. Respon perbedaan sistem tanam terhadap berat basah dan berat
kering

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan diperoleh hasil sebagai


berikut :

Tabel 4. Berat Basah dan Berat Kering Tanaman

Sistem Tanam Berat Basah (gram) Berat Kering (gram)


Konvensional 402,25 116,25
Jajar Legowo 2 : 1 517,25 135
Jajar Legowo 3 : 1 687,5 167,6
Jajar Legowo 4 : 1 831,25 299,75
Sumber : Data Primer Praktikum Budidaya Tanaman Pangan, 2017.
38

Berdasarkan Tabel 4. dapat diketahui bahwa produksi biomassa tanaman


padi tertinggi yaitu pada sistem tanam jajar legowo 4 : 1 dengan berat basah
sebesar 831,3 gram dan berat kering 299,8 gram. Tingginya produksi biomassa
pada sistem tanam jajar legowo dikarenakan jarak tanam pada sistem ini lebih
lebar dan teratur sehingga cahaya matahari dapat diterima semua tanaman untuk
digunakan dalam fotosintesis, memberi ruang pada anakan untuk tumbuh dan
perkembangan akar menjadi optimal. Menurut Barus (2012) sistem tanam jajar
legowo dapat meningkatkan jumlah anakan mencapai 30%, penyinaran matahari
lebih optimal, sirkulasi udara lancar, mengurangi resiko terserang penyakit,
sehingga mendukung tanaman untuk tumbuh dan berkembang. Penanaman padi
dengan sistem jajar legowo memberikan pertumbuhan tanaman yang lebih baik
dan meningkatkan produksi biomassa tanaman yang ditandai dengan banyaknya
jumlah anakan. Menurut Purnamayani dkk. (2013) tanaman padi yang ditanam
dengan sistem penanaman jajar legowo dapat menyerap lebih banyak unsur hara
dan cahaya matahari yang berdampak pada banyaknya jumlah anakan dan
produksi akan meningkat. Didukung oleh pendapat Haryanti (2008) bahwa
tanaman dengan penyinaran yang cukup besar memberikan pengaruh terhadap
pertumbuhan tanaman yang lebih baik, daun tanaman menjadi lebih lebar dan
panjang, batang besar, dan pertumbuhan normal.
Produksi biomassa pada sistem tanam konvensional memiliki hasil paling
rendah dibandingkan dengan sistem tanam lainnya yaitu karena jarak tanam yang
terlalu rapat. Jarak tanam yang berdekatan menyebabkan persaingan antar
tanaman dalam mendapatkan cahaya matahari ataupun unsur hara sehingga
pertumbuhan dan perkembanagn tanaman terhambat. Hal ini sesuai dengan
pendapat Hatta (2012) yang menyatakan bahwa jarak tanam yang optimum
memberikan pertumbuhan bagian atas tanaman yang baik sehingga dapat
memanfaatkan lebih banyak cahaya matahari dan pertumbuhan bagian akar yang
juga baik sehingga dapat memanfaatkan lebih banyak unsur hara. Sempitnya jarak
tanam menyebabkan persaingan tanaman dalam merebutkan unsur hara sehingga
menyebabkan pemasokan unsur hara yang diserap tanaman sedikit, dan
pertumbuhan terhambat. Menurut Guntoro dkk. (2009) peningkatan populasi
39

tanaman padi pada lahan sawah dapat meningkatkan kompetisi intraspesifik antar
tanaman. Jarak antar tanaman juga akan mempersulit dalam pemeliharaan
meliputi pemupukan dan penyiangan gulma ataupun pembersihan hama penyakit
tanaman sehingga dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Menurut
Anggraini dkk. (2013) penerapan sistem tanam jajar legowo dapat mempermudah
dalam proses pemupukan dan pengendalian organisme pengganggu tanaman, serta
meningkatkan populasi tanaman padi tersebut.
40

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1. Simpulan

Berdasarkan praktikum Budidaya Tanaman Padi yang telah dilaksanakan


dapat disimpulkan bahwa tahapan budidaya meliputi pengolahan tanah sebanyak
dua kali, pemupukan dasar dan pemupukan lanjutan menggunakan pupuk kandang
sapi dan POC serta PGPR, penyemaian bibit padi, penanaman dengan sistem
tanam jajar legowo 4 : 1, pengairan dan pemeliharaan dengan penyiangan gulma
berupa genjer dan pengambilan langsung belalang. Sistem jajar legowo 4 : 1
menghasilkan tinggi tanaman, jumlah anakan, berat basah dan berat kering
tertinggi dan terendah pada sistem tanam konvensional.

5.2. Saran

Saran yang dapat diberikan untuk praktikum selanjutnya adalah supaya


penyemaian benih padi dilakukan setelah pengolahan tanah I sehingga tidak
terjadi keterlambatan penanaman dan pengamatan dapat dilakukan sampai
produksi gabah.
41

DAFTAR PUSTAKA

Abdulrachman, S., M. J. Mejaya, N. Agustiani, I. Gunawan, P. Sasmita, A.


Guswara. 2013. Sistem Tanam Legowo. Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Jakarta.

Ai, N. S., S M. Tondais, dan R. Butarbutar. 2010. Evaluasi indikator toleransi


cekaman kekeringan pada fase perkecambahan padi (Oryza sativa L.). J.
Biologi. 14 (1): 50 – 54.

Asnawi, R. 2014. Peningkatan produktivitas dan pendapatan petani melalui


penerapan model pengelolaan tanaman terpadu padi sawah di Kabupaten
Pesawaran, Lampung. J. Penelitian pertanian terapan, 14 (1) : 44-52.

Azwir dan Ridwan. 2009. Peningkatan produktivitas padi sawah dengan


perbaikan teknologi budidaya. Akta Agrosia. 12 (2) : 212-218.

Anggraini, F., A. Suryanto, dan N. Aini. 2013. Sistem tanam dan umur bibit pada
tanaman padi sawah (Oryza sativa L.) pada varietas padi inpari 3. J.
Produksi Tanaman, 1 (2) : 52 - 60.

Bakrie, M. M., I. Anas, Sugiyanta, dan K. Idris. 2010. Aplikasi pupuk anorganik
dan organik hayati pada budidaya padi SRI (System of Rice Intensification).
J. Tanah Lingkungan. 12 (2): 25-32

Barus, J. 2012. Pengaruh aplikasi pupuk kandang dan sistim tanam terhadap hasil
varietas unggul padi gogo pada lahan kering masam di Lampung. J. Lahan
Suboptimal. 1 (1) : 102 - 106.

Basri, A.B., Chairunnas, dan A. Azis. 2016. Pengaruh media tumbuh biochar
sekam padi terhadap pertumbuhan bibit kelapa sawit. Buletin Plasma. 16 (2)
: 195 – 202.

BBPTP. 2012. Tanam Jajar Legowo. Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 4 hal.

BPS. 2016. Produktivitas Padi Menurut Provinsi (kuintal/ha), 1993-2015. Badan


Pusat Statistik Indonesia.

Djamhari, S. 2010. Perairan sebagai lahan bantu dalam pengembangan pertanian


di lahan rawa lebak. J. Hidrosfer Indonesia. 5 (3) : 1 – 11.

Effendi, B. S. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam


perspektif praktek pertanian yang baik (good agricultural practices).
Pengembangan Inovasi Pertanian. 2 (1): 65-78.
42

Erythrina dan Z. Zaini. 2014. Budidaya padi sawah sistem tanam jajar legowo:
penggunaan metodologi untuk mendapatkan hasil optimal. J. Litbang
Pertanian. 33 (2): 79-86.

Guntoro, D., M. A. Chozin, E. Santosa, S. Tjitrosemito, dan A. H. Burhan. 2009.


Kompetisi antara ekotipe echinochloa crus-galli pada beberapa tingkat
populasi dengan padi sawah. J. Agronomi Indonesia, 37 (3) : 202 - 208.

Hatta, M. 2011. Pengaruh tipe jarak tanam terhadap anakan komponen hasil, dan
hasil dua varietas padi pada metode SRI. J. Floratek, 6 (3) : 104 - 113.

Hidayat, F., N. K. Pandjaitan, A. H. Dharmawan, Wahyu, dan F. Sitorus. 2010.


Kontestasi sains dengan pengetahuan lokal petani dalam pengelolaan lahan
rawa pasang surut. J. Transdisiplin Sosiologi, Komunikasi dan Ekologi
Manusia. 4 (1) : 1 – 16.

Huda, M. N., D. Harisuseno, dan D. Priyantoro. 2012. Kajian sistem pemberian


air irigasi sebagai dasar penyusunan jadwal rotasi pada daerah irigasi
tumpang Kabupaten Malang. J. Teknik Pengairan, 3 (2) : 221 - 229.

Ikhwani, G. R. Pratiwi, E. Paturrohman, dan A. K. Makarim. 2013. Peningkatan


produktivitas padi melalui penerapan jarak tanam jajar legowo. J. Iptek
Tanaman Pangan, 8 (2) : 72 - 79.

Kartohardjono, A., D. Kertoseputro, dan T. Suryana. 2009. Hama padi potensial


dan pengendaliannya. J. Litbang Pertanian. 1 (6): 405-440.

Kartohardjono, A. 2011. Penggunaan musuh alami sebagai komponen


pengendalian hama padi berbasis ekologi. Pengembangan Inovasi Pertanian.
4 (1) : 29-46.

Kastanja, A. Y. 2011. Identifikasi dan jenis dominansi gulma pada pertanaman


padi gogo (Studi kasus di Kecamatan Tobelo Barat, Kabupaten Halmahera
Utara). J. Agroforestri. 6 (1) : 40-46.

Lamusa, A. 2010. Risiko usahatani padi sawah rumah tangga di daerah Impenso
Provinsi Sulawesi Tengah. J. Agroland, 17 (3) : 226 - 232.

Mahananto, S. Sutrisno, dan C. F. Ananda. 2009. Faktor-faktor yang


mempengaruhi produksi padi Studi Kasus di Kecamatan Nogosari,
Boyolali, Jawa Tengah. Wacana. 12 (1): 179-191.

Makarim, A. K. dan Ikhwani. 2012. Teknik ubinan, pendugaan produktivitas padi


menurut jarak tanam. Puslitbangtan.
43

Manik, A., A. P. Munir, dan S. B. Daulay. 2014. Pengaruh kecepatan pada


beberapa model implementasi pengolahan lahan sawah. J. Keteknikan
Pertanian, 2 (1) : 143-150.

Marpaung, I. S., Y. Parto dan E. Sodikin. 2013. Evaluasi kerapatan tanam dan
metode pengendalian gulma pada budidaya padi tanam benih langsung di
lahan sawah pasang surut. J. Lahan Suboptimal. 2 (1): 93-99.

Ningsih, E. M. N. 2014. Macam teknik budidaya terhadap pertumbuhan dan hasil


tanaman padi (Oryza sativa L.). J. Agroland. 21 (2) : 62 – 68.

Nurbaeti, B., S. L. Mulijanti, dan T. Fahmi. 2008. Penerapan model pengelolaan


tanaman dan sumberdaya terpadu padi sawah irigasi di Kabupaten
Sumedang. J. Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 11 (3) :
268 - 279.

Nursyamsi, D., L. R. Widowati, D. Setyorini, dan J. S. Adiningsih. 2010.


Pengaruh pengolahan tanah, pengairan terputus, dan pemupukan terhadap
produktivitas lahan sawah baru pada inseptisol dan ultisol muarabeliti dan
tatakarya. J. Tanah dan Iklim, 18 (1) : 33 - 43.

Pane, H. dan S. Y. Jatmiko. 2009. Pengendalian gulma pada tanaman padi. J.


Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 1 (2): 267-293.

Palembang, J. N., Jamilah, Sarifuddin. 2013. Kajian sifat kimia tanah sawah
dengan pola pertanaman padi semangka di Desa Air Hitam Kecamatan
Lima Puluh Kabupaten Batubara. J. Agroteknologi, 1 (4) : 1154-1162.

Purnamayani, R., E. Susilawati, dan A. Meilin. 2013. Sistem Tanam Padi Jajar
Legowo. Balai Pengkaji Teknologi Pertanian Jambi. Jambi.

Purnomo, dan H. Purnamawati. 2007. Budi Daya 8 Jenis Tanaman Pangan


Unggul. Penebar Swadaya. Depok.

Putra, S. 2011. Pengaruh jarak tanam terhadap peningkatan hasil padi gogo
varietas Situpatenggang. J. Agrin. 15 (1) : 54 - 63.

Razie, F., I. Anas, A. Sutandi, Sugiyanta, dan L. Gunarto. 2013. Efisiensi serapan
hara dan hasil padi pada budidaya SRI di persawahan pasang surut dengan
menggunakan kompos diperkaya. J. Agronomi Indonesia, 41 (2) : 89-97.

Sa’adah, I. R., Supriyanta, dan Subejo. 2013. Keragaman warna gabah dan warna
beras varietas lokal Padi Beras Hitam (Oryza sativa L.) yang dibudidayakan
oleh petani Kabupaten Sleman, Bantul dan Magelang. J. Vegetalika. 2 (3) :
13 – 20.
44

Salahuddin, K. M., S. H. Chowhdury, S. Munira, M. M. Islam, dan S. Parvin.


2009. Response of nitrogen and plant spacing of transplanted aman rice.
Bangladesh J. Agril. Res. 34 (2) : 279 - 285.

Santika, A., dan G. Aliawati. 2007. Teknik pengujian tampilan beras untuk padi
sawah, padi gogo dan padi pasang surut. Buletin Teknik Pertanian. 12 (1) :
19.

Santosa, B., K. R. Trijatmiko, dan T. J. Santoso. 2013. Deteksi gen HPTII dan
keragaan agronomis pada populasi BC1F1tanaman padi transgenik. J. Agro
Biogen. 9 (3) : 117 – 124.

Sapei, A. dan M. Fauzan. 2012. Lapisan kedap buatan untuk memperkecil


perkolasi lahan sawah tadah hujan dalam mendukung irigasi hemat air. J.
Irigasi, 7 (1) : 52 - 58.

Sianipar, M. S., L. Djaya dan D. P. Simarmata. 2015. Keragaman dan kelimpahan


serangga hama tanaman padi (Oryza sativa L.) di Dataran Rendah Jatisari,
Karawang, Jawa Barat. Agrin. 19 (2): 89-96.

Silitonga, T. S. 2010. Pengelolaan dan Pemanfaatan Plasma Nutfah Padi di


Indonesia. Buletin Plasma nutfah. 10 (2) : 56 – 71.

Sohel M. A. T., M. A. B. Siddique, M. Asaduzzaman, M. N. Alam, dan M. M.


Karim. 2009. Varietal performance of transplant aman rice under different
hill. Bangladesh J. Agril. Res. 34 (1) : 33 – 39.

Supartha, I. N. Y., G. Wijana, dan G. M. Adnyana. 2012. Aplikasi jenis pupuk


organik pada tanaman padi sistem pertanian organik. E-J. Agroekoteknologi
Tropika. 1 (2) : 98 – 106.

Syahadat, R. M., dan S. A. Aziz. 2012. Pengaruh komposisi media dan fertigasi
pupuk organik terhadap kandungan bioaktif daun tanaman kemuning
(Murraya paniculata (L.) Jack) di pembibitan. Bul. Littro. 23 (2) : 142 –
157.

Utami, S. dan L. R. Purdyaningrum. 2012. Struktur komunitas padi (Oryza sativa


L.) sawah organik dan sawah anorganik di Desa Ketapang. Kec. Susukan,
Kab. Semarang. Bioma. 14 (2): 91-95

Wartono, Giyanto, dan K. H. Mutaqin. 2015. Efektivitas formulasi spora Bacillus


subtilis B12 sebagai agen pengendali hayati penyakit hawar daun bakteri
pada tanaman padi. J. Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 34 (1) : 21 –
28.
45

Zahrah, S. 2011. Aplikasi pupuk bokashi dan NPK organik pada tanah ultisol
untuk tanaman padi sawah dengan sistem SRI (Systeam of Rice
Intensification). J. Ilmu Lingkungan, 5 (2) : 114-129.

Zaini, Z. 2009. Memacu peningkatan produktivitas padi sawah melalui inovasi


teknologi budi daya spesifik lokasi dalam era revolusi hijau lestari. J.
Pengembangan Inovasi Pertanian, 2 (1) : 35-47.

Anggraini, F., A. Suryanto, dan N. Aini. 2013. Sistem tanam dan umur bibit pada
tanaman padi sawah (oryza sativa l.) varietas inpari 13. Jurnal Produksi
Tanaman. 1 (2) : 52 – 60.

Arafah. 2008. Kajian berbagai sistim tanam pada dua varietas unggul baru padi
terhadap pertumbuhan dan hasil padi sawah. Jurnal Agrivigor. 6 (1) : 18 –
25.

Barus, J. 2012. Pengaruh aplikasi pupuk kandang dan sistim tanam terhadap hasil
varietas unggul padi gogo pada lahan kering masam di lampung. Jurnal
Lahan Suboptimal. 1 (1) : 102 – 106.

Duaja, W. 2012. Pengaruh pupuk urea, pupuk organik padat dan cair kotoran
ayam terhadap sifat tanah, pertumbuhan dan hasil selada keriting di tanah
inceptisol. 1 (4) : 236 – 246.

Effendi, B. S. 2009. Strategi pengendalian hama terpadu tanaman padi dalam


perspektif praktek pertanian yang baik (good agricultural practices).
Pengembangan Inovasi Pertanian. 2 (1): 65-78.

Haryanti, S., 2008. Respon pertumbuhan jumlah dan luas daun nilam
(pogostemon cablin benth) pada tingkat naungan yang berbeda. Anatomi
Fisiologi. 16 (2) : 20-26.

Hatta, M. 2011. Pengaruh tipe jarak tanam terhadap anakan, komponen hasil,
dan hasil dua varietas padi pada metode SRI. J. Floratek. 6 (2) : 104 – 113.

Hatta, M. 2012. Uji jarak tanam sistem legowo terhadap pertumbuhan dan hasil
beberapa varietas padi pada metode SRI. Jurnal Agrista. 16 (2) : 87 – 93.

Krismawati, A. 2007. Kajian teknologi usahatani padi di lahan kering kalimantan


tengah. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian. 10 (2) :
84 – 94.

Marpaung, I. S., Y. Parto dan E. Sodikin. 2013. Evaluasi kerapatan tanam dan
metode pengendalian gulma pada budidaya padi tanam benih langsung di
lahan sawah pasang surut. J. Lahan Suboptimal. 2 (1): 93-99.
46

Masdar. 2007. Interaksi jarak tanam dan jumlah bibit per titik tanaman pada
sistem intensifikasi padi terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman. Jurnal
Akta Agrosia. (1) : 92 – 98.
Maya, D. N. N. 2007. Pengaruh jenis pupuk kandang dan jarak tanam terhadap
pertumbuhan gulma dan hasil jagung. Jurnal Agritrop 26 :153 – 159.

Putra S. 2011. Pengaruh jarak tanam terhadap peningkatan hasil padi gogo
varietas situpatenggang. Jurnal Agrin. 15 (1) : 54 – 63.

Setiadi, W., Kasno, dan N. F. Haneda. 2011. Penggunaan pupuk organik untuk
peningkatan produktivitas daun murbei (morus sp.) sebagai pakan ulat
sutera (Bombyx mori L.). Jurnal Silvikultur Tropika. 2 (3) : 165 – 170.

Setyanti, Y. H., S. Anwar, dan W. Slamet. 2013. Karakteristik fotosintetik dan


serapan fosfor hijauan alfalfa (medicago sativa) pada tinggi pemotongan
dan pemupukan nitrogen yang berbeda. Animal Agriculture Journal. 2 (1) :
86 – 96.

Sutapradja, H. 2008. Pengaruh jarak tanam dan ukuran umbi bibit terhadap
pertumbuhan dan hasil kentang varietas granola untuk bibit. J. Hort. 18 (2) :
155 – 159.

Tirta, I. G. 2006. Pengaruh beberapa jenis media tanam dan pupuk daun terhadap
pertumbuhan vegetatif anggrek jamrud (Dendrobium macrophyllum A.
Rich.). Biodiversitas. 7 (1) : 81 – 84.

Toha, H. M. 2007. Peningkatan produktivitas padi gogo melalui penerapan


pengelolaan tanaman terpadu dengan introduksi varietas unggul. Jurnal
Tanaman Pangan PP. 26 (1) :180 – 187.

Yuniastuti, S., S. M. Sitompul, dan D. Suprayogo. 2009. Pemanfaatan model


simulasi untuk kajian pengembangan padi gogo di sistem agroforestri.
Jurnal Agrivita. 31 (1) : 91 – 101.
47

LAMPIRAN

Lampiran 1. Perhitungan Persentase Perkecambahan Benih Padi

Diketahui :
Benih yang dikecambahkan = 1000
Benih yang berkecambah = 950

Benih yang berkecambah


DB (%) = x 100%
Benih yang dikecambahkan
950
= x 100 %
1000
= 95 %
48

Lampiran 2. Pengamatan Tinggi Tanaman

Sistem Tanam Konvensional


Tanaman Tinggi Tanaman (cm)
ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 20,25 32,25 48,5 71,5 80 85,5
2 20,25 31,5 45,75 67,75 75 81
3 20 30,5 44,5 64 71,75 80,5
4 19 34 43,5 67,25 76 81,5
5 21,75 31,25 43,25 68,75 81,5 90
6 17 32 48 74,75 83 93,5
7 19 33 44 61,5 70 77,25
8 18,5 32,75 45,25 59 70,5 77
9 20 32 46 68 81 88,5
10 20 33 45 67 76 83,5
Rata-rata 19,6 32,2 45,4 67,0 76,5 83,8

Sistem Tanam Jajar Legowo 2 : 1


Tanaman Tinggi Tanaman (cm)
ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 20,75 31,5 40 64,75 82 100
2 20,25 32 38,5 53 71 91,5
3 22,25 32,75 42,5 59,5 71 87
4 21,25 32,75 38,5 61,5 81 95,5
5 19,5 28,5 40 64 78,5 102,5
6 21,5 32 39,35 59,5 77 92
7 19,5 32 39 57 75 95,5
8 19 31 41,65 63,25 80,5 95
9 19 31,5 42,35 61,85 77,5 93,5
10 20,5 30,75 40 59,75 80,5 99,5
Rata-rata 20,4 31,5 40,2 60,4 77,4 95,2
49

Lampiran 2. (Lanjutan)

Sistem Tanam Jajar Legowo 3:1

Tanaman Tinggi Tanaman (cm)


ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 21,75 36 47,75 78,35 87,5 97
2 23,25 34 43,35 71,25 83,3 86,25
3 22,25 37 48,65 74,55 84 91,75
4 21 34 45,95 67 78 87,9
5 20,45 31 43,15 68,75 84,5 93,25
6 19,5 31 42,25 72,15 75,65 87
7 18,9 31,5 44,05 76,35 81,9 88,5
8 22,25 33 44,7 76,65 82,75 88,25
9 20 32,5 47,05 73,75 81,2 88,75
10 21 35,25 47,8 80,4 87,7 97,75
Rata-rata 21,0 33,5 45,5 73,9 82,7 90,6

Sistem Tanam Jajar Legowo 4:1

Tinggi Tanaman (cm)


Tanaman ke
1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 20,5 32,5 48,5 74 96,5 121,5
2 21,85 33,45 46,5 77,5 92,5 117
3 20,85 32,75 47 75,3 90,5 115
4 21 34,1 50 75,5 90 108
5 20 29,7 45,5 67,2 90,5 114
6 19,5 28,5 44,5 67,2 76,5 98,75
7 18,75 28,9 44 70,75 86 109,5
8 19,75 28,35 40,5 67,5 79,5 101
9 20,25 29,6 45 69,35 84,25 106,5
10 19,75 31 47 74 88 117
Rata-rata 20,2 30,9 45,9 71,8 87,4 110,8
50

Lampiran 3. Pengamatan Jumlah Anakan

Sistem Tanam Konvensional

Tanaman Jumlah Anakan


ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 5 8 9 9,5 10,5 10,5
2 4 6,5 6,5 8 9 9,5
3 4 6 7,5 8,5 8,5 8,5
4 2,5 6 7 8,5 9 9,5
5 3,5 6,5 7 9 9 9
6 6 9,5 11 14,5 13,5 13,5
7 4 7,5 7,5 9,5 9,5 9,5
8 2,5 5,5 6 7 8 8,5
9 2,5 6 6 8,5 8,5 8,5
10 4 8 8,5 7,5 8 8,5
Rata-rata 4 7 8 9 9 10

Sistem Tanam Jajar Legowo 2:1

Tanaman Jumlah Anakan


ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 3,5 9 12 14 17 19,5
2 5 9 12 14,5 17,5 20,5
3 4,5 8 11,5 14,5 17,5 17
4 4,5 7,5 11,5 13,5 16 18
5 5 7,5 10,5 11 14 16
6 3 8,5 10 12 15,5 16
7 3,5 9 11,5 12 14 14
8 3 7,5 11,5 12,5 13 15
9 2 7,5 9,5 12 16,5 17,5
10 3,5 8 10,5 13 17,5 20,5
Rata-rata 4 8 11 13 16 17
51

Lampiran 3. (Lanjutan)

Sistem Tanam Jajar Legowo 3 : 1

Tanaman Jumlah Anakan


ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 5 8,5 10,5 14,5 15,5 16,5
2 6 8 14 15,5 16 17
3 5,5 9 12,5 18 15,5 17
4 6,5 7,5 13 19 19 20,5
5 5 6,5 11 17 17,5 18,5
6 6,5 7 10 14,5 14,5 16,5
7 9,5 10,5 14,5 17,5 22,5 24
8 5 9,5 11,5 20 22,5 24
9 9,5 12 13,5 24,5 21,5 23
10 8,5 13 18 22,5 22 23,5
Rata-rata 7 9 13 18 19 20

Sistem Tanam Jajar Legowo 4 : 1

Tanaman Jumlah Anakan


ke 1 MST 2 MST 3 MST 4 MST 5 MST 6 MST
1 1,5 6,5 10 15,5 18 23,5
2 0,5 6,5 12 15,5 16 19
3 2,5 5,5 13 15,5 18,5 20,5
4 1,5 5 12,5 15,5 20 22,5
5 2,5 7,5 14,5 18 21,5 24
6 2,5 5,5 10,5 14 15,5 18,5
7 2,5 5 11 14,5 17 19,5
8 2 4,5 12,5 15,5 18,5 22,5
9 1,5 4,5 10 12 18,5 21,5
10 3 6,5 11,5 14,5 17,5 21,5
Rata-rata 2 6 12 15 18 21