Anda di halaman 1dari 20

ANEKA METODOLOGI MEMAHAMI ISLAM

UST. ANGGI RIVANA

Nama :
Rhesa Rolanda
M. Rifky Kholik
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Islam merupakan agama samawi yang memiliki banyak dimensi. Untuk
memahami dimensi itu, diperlukan berbagai metodologi yang digali dari berbagai
disiplin ilmu yang dapat dipahami dari segi theologis dan normatif. Untuk memahami
ajaran Islam secara benar dan utuh, diperlukan metodologi yang sistematis,
terstruktur dan terorganisir dengan baik.
Sejak kedatangan Islam hingga saat ini pemahaman tentang metodologi studi
Islam sangat berbeda-beda. Hal itu disebabkan karena seseorang tersebut hanya
menguasai salah satu bidang saja. Seperti yang dapat dilihat ada orang yang
penguasaannya terhadap salah satu bidang keilmuan cukup mendalam, tetapi
kurang memahami disiplin ilmu keislaman lainnya, hingga saat ini pemahaman Islam
yang terjadi di masyarakat masih bercorak. Demikian pentingnya metodologi ini. Dan
penguasaan metode yang tepat dapat menyebabkan seseorang mengembangkan
ilmu yang dimilikinya.
Metode-metode yang digunakan untuk memahami Islam suatu saat mungkin
dipandang tidak cukup lagi, sehingga diperlukan pendekatan baru yang harus digali
oleh para pembaharu. Diantara metodologi-metodologi hasil galian para pembaharu
adalah metodologi ulumul tafsir, metodologi ulumul hadis, metodologi filsafat dan
teologi ( kalam ), metodologi tassawuf dan mistis Islam, metodologi kajian fiqh dan
kaidah ushuliyah, metodologi pemikiran modern, metodologi pendidikan Islam,
metodologi tekstualitas dan kontekstualitas, serta metodologi muqarrah madzhab.
Metodologi inilah yang akan diulas dan dikaji dalam makalah ini.

B. Rumusan Masalah
Dari uraian yang dikemukakan pada latar belakang, dapat dikemukakan
permasalahan sebagai berikut:
1. Bagaimana metodologi dalam ulumul tafsir ?
2. Bagaimana metodologi dalam ulumul hadis ?
3. Bagaimana metodologi dalam filsafat dan teologi ( kalam ) ?
4. Bagaimana metodologi dalam tasawwuf dan mistis Islam ?
5. Bagaimana metodologi dalam kajian fiqih dan kaidah usuhuliyah ?
6. Bagaimana metodologi dalam pemikiran modern ?
7. Bagaimana metodologi dalam pendidikan Islam ?
8. Bagaimana metodologi dalam tekstualitas dan kontekstualitas ?
9. Bagaimana metodologi dalam muqaranah madzhab ?

II. PEMBAHASAN

A. Metodologi Ulumul Tafsir

A. Pengertian Tafsir
Tafsir berasal dari bahasa Arab fassara, yufassiru, tafsiran yang berarti penjelasan,
pemahaman, dan perincian. Selain itu, tafsir dapat pula berarti al-idlah wa al-tabyin, yaitu
penjelasan dan keterangan. Selain itu, pengertian tafsir sebagaimana juga dikemukakan
pakar Al Qur’an dalam formulasi yang berbeda-beda, namun dengan maksud atau esensinya
sama. Al Jurjani, misalnya mengatakan bahwa tafsir ialah menjelaskan makna ayat-ayat al-
quran dari berbagai seginya, baik konteks historisnya maupun sebab al-nuzulnya, dengan
menggunakan ungkapan atau atau keterangan yang dapat menunjuk kepada makna yang
dikehendaki secara terang dan jelas. Sementara itu Imam Al-Zarqani mengatakan bahwa
tafsir adalah ilmu yang membahas kandungan al-qur’an baik dari segi pemahaman makna
atau arti sesuai dikehendaki Allah SWT, menurut kadar kesanggupan manusia. Selanjutnya,
Abu Hayan, mengatakan bahwa tafsir adalah ilmu yang di dalamnya terdapat pembahasan
mengenai cara mengungkapakan lafal-lafal Al-quran disertai makna serta hukum-hukum
yang terkandung di dalamnya.
Dari banyak pengertian tadi, dapat disimpulkan bahwa tafsir ialah suatu ilmu yang
membahas tentang isi atau makna atau pemahaman yang terdapat dalam lafal-lafal Al-quran
yang berisi penjelasan dan keterangan.
B. Model Penelitian Tafsir
Berikut ini akan kita kemukakan beberapa model penafsiran Al Qur’an yang
dilakukan para ulama tafsir, sebagai berikut :

1) Model Quraish Shihab


H.M Quraish Shihab pakar di bidang tafsir dan hadits se-Asia Tenggara, telah banyak
melakukan penelitian terhadap berbagai karya ulama terdahulu di bidang tafsir.
Model penelitian tafsir yang dikembangkan oleh H.M. Quraish Shihab lebih banyak
bersifat eksploratif, deskriptif, analitis dan perbandingan, yaitu model penelitian yang
berupaya menggali sejauh mungkin produk tafsir yang dilakukan ulama-ulama tafsir
terdahulu berdasarkan berbagai literatur tafsir baik yang primer, yakni yang ditulis oleh
ulama tafsir yang bersangkutan maupun ulama lainnya, data-data yang dihasilkan dari
berbagai literatur tersebut kemudian dideskripsikan secara lengkap serta dianalisis dengan
menggunakan pendekatan kategorisasi dan perbandingan.
Selanjutnya, dengan tidak memfokuskan pada tokoh tertentu, Quraish Shihab telah
meneliti hampir seluruh karya tafsir yang dilakukan para ulama terdahulu. Dari penelitian
tersebut telah dihasilkan beberapa kesimpulan yang berkenaan dengan tafsir. Antara lain
tentang:
(1) periodesasi pertumbuhan dan perkembangan tafsir
(2) corak-corak penafsiran
(3) macam-macam metode penafsiran Al Qur’an
(4) syarat-syarat dalam menafsirkan Al Qur’an,
(5) hubungan tafsir modernisasi

2) Model Ahmad Al-Syabashi


Pada tahun 1985 Ahmad Asy-syarhasbi melakukan penelitian tentang tafsir dengan
menggunakan metode deskriptif, eksploratif, dan analisis sebagaimana yang dilakukan
Quraish Shihab. Sedangkan sumber yang digunakan adalah bahan-bahan bacaan atau
kepustakaan yang ditulis para ulama tafsir seperti Ibn Jarir Ath-Thabrari, Al-Zamakhsyari,
Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Raghib Al-Ashfahani, Al-Syatibi, Haji khalifah.
Hasil penelitiannya itu mencakup tiga bidang. Pertama, mengenai sejarah penafsiran
al-Qur’an yang dibagi kedalam tafsir pada masa sahabat nabi. Kedua, mengenai corak tafsir,
yaitu tafsir ilmiah, tafsir sufi, dan tafsir politik. Ketiga, mengenai gerakan pembaruan di
bidang tafsir.
Menurutnya, tafsir pada zaman Rasulullah SAW, pada awal masa pertumbuhan Islam
disusun pendek dan tampak ringkas karena penguasaan bahasa Arab yang murni pada saat itu
cukup untuk memahami gaya dan susunan kalimat Al-Qur’an. Pada masa-masa sesudah itu
penguasaan bahasa Arab yang murni tadi mengalami kerusakan akibat pencampuran
masyarakat Arab dengan bangsa-bangsa lain.
Lebih lanjut Al-Syarbashi mengatakan, tentu saja pertama-tama kita harus mengambil
tafsir dari Rasulullah SAW melalui riwayat-riwayat hadits yang tidak ada keraguan atas
kebenarannya. Setelah kita pegang tafsir yang berasal dari nabi, barulahh kita cari tafsir-tafsir
dari para sahabat beliau.

3) Model Syaikh Muhammad Al-Ghazali


Syaikh Muhammad Al-Ghazali dikenal sebagai tokoh pemikir Islam abad modern
yang produktif. Banyak hasil penelitian yang ia lakukan, termasuk dalam bidang tafsir Al
Qur’an. Muhammad Al-Ghazali menempuh cara penelitian tafsir yang bercorak eksploratif,
deskriptif, dan analitis dengan berdasar pada rujukan kitab-kitab tafsir yang ditulis ulama
terdahulu.
Salah satu hasil penelitian yang dilakukan oleh Al-Ghazali adalah berjudul Berdialog
dengan Al-Qur’an. Tentang macam-macam metode memahami Al-Qur’an Al-Ghazali
membaginya ke dalam metode klasik dan metode modern dalam memhami Aquran.
Menurutnya dalam berbagai kajian tafsir, kita banyak menemukan metode memahami Al-
Qur’an yang berawal dari ulama generasi terdahulu. Mereka telah berusaha memahami
kandungan Al-Qur’an, sehingga lahirlah apa yang kita kenal dengan metodologi memahami
Al-Qur’an.

B. Metodologi Ulumul Hadits

A. Pengertian Hadits
Dilihat dari pendekatan kebahasaan, hadits berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata
badatsa, yabdutsu, badtsan, baditsan, dengan pengertian yang bermacam-macam. Kata
tesebut misalnya dapat berarti Al-jadid min al-asy ya’ sesuatu yang baru, sebagai lawan kata
al-qadim yang artinya sesuatu yang sudah kuno atau klasik.
Pengertian hadits secara bahasa lebih ditekankan pada arti berita atau khabar, yang
berarti ma yutahaddats bih wa yunqal, yaitu sesuatu yang diperbincangkan, dibicarakan atau
diberitakan dan dialihkan dari seseorang kepada orang lain.
Selanjutnya, hadits dilihat dari segi pengertian istilah, dijumpai pendapat yang
berbeda-beda. Hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan cara pandang yang digunakan
oleh masing-masing dalam melihat suatu masalah. Secara istilah, Jumhur Ulama’
berpendapat bahwa Hadits, khabar, dan atsar mempunyai pengertian yang sama, yaitu segala
sesuatu yang disandarkan kepada Rasullulah SAW, sahabat atau tabi’in baik dalam bentuk
ucapan, perbuatan maupun ketetapan, baik semuanya itu dilakukan sewaktu-waktu saja,
maupun lebih sering dan banyak diikuti oleh para sahabat.
Sedangkan ulama ahli ushul fiqih mengatakan hadits adalah segala perkataan,
perbuatan dan taqrir nabi yang berkaitan dengan penetapan hukum.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa hadits adalah segala sesuatu yang
dinisbahkan (disandarkan) kepada Nabi SAW baik berupa ucapan, perbuatan maupun
ketetapan / pernyataan.

B. Model-Model Penelitian Hadits


Sebagaimana halnya Al-Qur’an, Al-Hadits pun telah banyak diteliti oleh para ahli,
bahkan dapat penelitian terhadap Al-Hadits lebih banyak kemungkinannya dibandingkan
penelitian terhadap Al-Qur’an.
Berikut ini model-model penelitian hadits yang dilakukan oleh para ahli hadits, antara lain:
1) Model H.M. Quraish Shihab
Dalam bukunya yang berjudul Membumikan Al Qur’an, Quraish Shihab hanya
meneliti dua sisi dari keberadaan hadits, yaitu mengenai hubungan hadits dengan Al Qur’an
serta fungsi dan posisi sunnah dalam tafsir. Bahan-bahan yang beliau gunakan adalah bahan
kepustakaan atau bahan bacaan, yaitu sejulah buku yang ditulis para pakar di bidang hadits
termasuk pula Al-Qur’an. Sedangkan sifat penelitiannya adalah deskriptif analitis, dan bukan
uji hipotesis.
Hasil penelitian Quraish Shihab tentang fungsi hadits terhadap Al Qur’an, menyatakan bahwa
Al Qur’an menekankan bahwa Rasul SAW, berfungsi menjelaskan maksud firman-firman
Allah.

2) Model Musthafa Al-Siba’iy


Penelitian yang dilakukan Mushthafa Al-Siba’iy dalam bukunya Al-sunnah wa
Makanatuha fi al-Tasyri’I al-islami, bercorak eksploratif dengan menggunakan pendekatan
historis dan disajikan secara deskriptif analitis. Yakni dalam sistem penyajian menggunakan
pendekatan kronologi urutan waktu dalam sejarah. Ia berupaya mendapatkan bahan penelitian
sebanyak-banyaknya dari berbagai literatur hadits sepanjang perjalanan kurun waktu yang
tidak singkat.
Hasil penelitian yang dilakukan Mushthafa Al-Siba’iy antara lain mengenai sejarah
proses terjadi dan tersebarnya hadits mulai dari Rasulullah sampai sekarang.

3) Model Muhammad Al-Ghazali


Dilihat dari segi kandungan yang terdapat dalam buku yang ditulisnya, nampak bahwa
penelitian hadits yang dilakukan Muhammad Al-Ghazali termasuk penelitian eksploratif,
yaitu membahas, mengkaji, dan menyelami sedalam-dalamnya berbagai persoalan teraktual
yang muncul di masyarakat untuk kemudian diberikan status hukumnya dengan berpijak pada
konteks hadits tersebut.
Dengan kata lain, Muhammad Al-Ghazali terlebih dahulu memahami hadits yang
ditelitinya itu dengan melihat konteksnya kemudian baru dihubungkan dengan berbagai
masalah aktual yang muncul di masyarakat.

4) Model Zain Al-Din ‘Abd Al-Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy


Zain Al-Din ‘Abd Al-Rahim bin Al-Husain Al-Iraqiy nampak berusaha membangun
ilmu hadits dengan menggunakan bahan hadits-hadits nabi serta berbagai pendapat para
ulama yang dijumpai dalam kitab tersebut. Dengan demikian, penelitiannya bersifat
penelitian awal, yaitu penelitian yang ditujukan untuk menemukan bahan-bahan untuk
digunakan membangun suatu ilmu. Buku inilah yang pertama kali mengemukakan macam-
macam hadits yang didasarkan pada kualitas sanad dan dan matannya.

C. Metodologi Filsafat dan Teologi ( Kalam )

A. Pengertian Filsafat Islam


Dari segi bahasa , filsafat Islam terdiri dari gabungan kata filsafat dan Islam. Kata
filsafat berasal dari kata philo yang berarti cinta, dan kata sophos yang berarti ilmu atau
Hikmah.
Selanjutnya kata islam berasal dari bahasa arab aslama, yuslima islaman yang berarti patuh,
tunduk, berseradh diri, serta memhon selamat dan sentosa.
Dapat disimpulkan bahwa filsafat islam yaitu pembahasan meliputi berbagai soal
alam semesta dan bermacam-macam masalah manusia atas dasar ajaran-ajaran keagamaan
yang turun bersama lahirnya agama islam.
Filsafat Islam berdasar pada ajaran Islam yang bersumberkan Al-Qur’an dan Al-
hadits, pembahasannya mencakup bidang kosmalogi, bidang metafisika, masalah kehidupan
di dunia, kehidupan di akhirat, ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya.

B. Model-Model Penelitian Filsafat Islam

1) Model M. Amin Abdullah


Penelitian yang dilakukan M. Amin Abdullah mengambil metode kepustakaan yang
bercorak deskriptif, yaitu penelitian yang mengambil bahan-bahan kajiannya pada berbagai
sumber baik yang ditulis oleh tokoh yang diteliti itu sendiri, maupun sumber yang ditulis oleh
orang lain mengenai tokoh yang ditelitinya itu.

2) Model Otto Horrassowitz, Majid Fakhry dan Harun Nasution


Dalam bukunya berjudul History of Muslim Philosophy, yang diterjemahkan dan
disunting oleh M.M Syarif ke dalam bahasa Indonesia menjadi Para Filosof Muslim, Otto
Horrassowitz telah melakukan penelitian terhadap seluruh pemikiran filsafat Islam yang
berasal dari tokoh-tokoh filosofi abad klasik. Penelitian yang dilakukan tersebut bersifat
penelitian kualitatif. Sumbernya kajian pustaka. Metodenya deskriptis analitis, sedangkan
pendekatannya historis dan tokoh. Yaitu, bahwa apa yang disajikan berdasarkan data-data
yang ditulis ulama terdahulu, sedangkan titik kajiannya adalah tokoh.

3) Model Ahmad Fuad Al-Ahwani


Metode penelitian yang ditempuh Ahmad Fuad Al-Aahwani adalah penelitian
kepustakaan, yaitu penelitian yang menggunakan bahan-bahan kepustakaan . Sifat dan
coraknya adalah penelitian deskriptif kualitatif, sedangkan pendekatannya adalah pendekatan
yang bersifat campuran, yaitu pendekatan historis, pendekatan kawasan dan tokoh. Melalui
pendekatan historis, ia mencoba menjelaskan latar belakang timbulnya pemikiran dalam
Islam, sedangkan dengan pendekatan kawasan ia mencoba membagi tokoh-tokoh filosofi
menurut tempat tinggal mereka, dan dengan pendekatan tokoh, ia mencoba mengemukakan
berbagai pemikiran filsafat sesuai dengan tokoh yang mengemukakannya.
C. Pengertian Ilmu Kalam (Teologi)
Menurut Ibn Khaldun, sebagaimana dikutip A.Hanafi, ilmu kalam ialah ilmu berisi
alasan-alasan yang mempertahankan kepercayaan-kepercayaan iman dengan menggunakan
dalil-dalil pikiran dan berisi bantahan terhadap orang-orang yang menyeleweng dari
kepercayaan-kepercayaan aliran golongan salaf dan ahli sunnah.
Selain itu ada pula yang mengatakan bahwa ilmu kalam ialah ilmu yang
membicarakan bagaimana menetapkan kepercayaan-kepercayaan keagamaan dengan bukti-
bukti yang meyakinkan.

D. Model-Model Peneltian Ilmu Kalam


Secara garis besar, penelitian ilmu kalam dapat dibagi menjadi dua bagian. Pertama,
penelitian yang bersifat dasar dan pemula, dan kedua yaitu penelitian yang bersifat lanjutan
atau pengembangan dari penelitian model pertama.

1. Penelitian Pemula
Penelitian model pertama ini sifatnya baru pada tahap membangun ilmu kalam menjadi suatu
disiplin ilmu dengan merujuk pada Al-Qur’an dan hadits serta berbagai pendapat tentang
kalam yang dikemukakan oleh berbagai aliran teologi.

Pada masa ini dapat dijumpai berbagai karya hasil penelitian pemula, yang diantaranya
merupakan karya dari :
a. Abu Manshur Muhammad bin Muhammad bin Mahmud Al-Maturidy Al-
Samarqandy;
b. Al-Iman Abi Al-Hasan bin Isma’il Al-Asy’ari;
c. ‘Abd Al-Jabbar bin Ahmad
d. Imam Al-Thahawiyah
e. Al-Imam Al-Haramain Al-Juwainy

2. Penelitian Lanjutan
Penelitian model kedua sifatnya hanya mendeskripsikan tentang adanya kajian ilmu kalam
dengan menggunakan bahan-bahan rujukan yang dihasilkan oleh penelitian model pertama.
Tokoh-tokoh yang berperan pada masa ini dapat dikemukakan sebagai berikut :
a. Abu Zahrah
b. Ali Mushthofa Al-Ghurabi
c. Abd Al-Lathif Muhammad Al-‘Asyr
d. Ahamad Mahmud Shubhi
e. Harun Nasution

D. Metodologi Tasawwuf dan Mistis Islam

A. Pengertian Tasawwuf
Dari segi kebahasaan terdapat sejumlah kata atau istilah yang menghubungkan orang
dengan Tasawwuf. Harun Nasution misalnya menyebutkan lima istilah yang terhubung
dengan Tasawwuf, yaitu al-suffah ( ahl al-suffah ), yaitu orang yang ikut pindah dengan nabi
dari Makkah ke Madinah, saf, yaitu barisan yang dijumpai dalam melaksanakan shalat
berjama’ah, sufi yaitu bersih dan suci, sophos ( bahasa Yunani : Hikmah ) dan suf ( kain wol
kasar ). Dengan demikian dari segi kebahasaan Tasawwuf menggambarkan keadaan yang
selalu berorientasi kepada kesucian jiwa, mengutamakan panggilan Allah, berpola hidup
sederhana, mengutamakan kebenaran dan rela berkorban demi tujuan-tujuan yang lebih mulia
di sisi Allah. Sedangkan mistisme adalah Islam yang diberi nama Tasawwuf dan oleh kaum
orientalis barat disebut sufisme.
Jika dilihat dari sudut pandang manusia sebagai makhluk yang terbatas Tasawwuf
dapat didenifisikan sebagai upaya menyucikan diri dengan cara menjauhkan pengaruh
kehidupan dunia dan memusatkan perhatian hanya kepada Allah.

B. Model-Model Penelitian Tasawwuf

1. Model Sayyed Husein Nasr


Hasil penelitian Sayyed Husein Nasr dalam bidang Tasawwuf disajikan dalam
bukunya yang berjudul Tasawwuf Dulu dan Sekarang. Di dalam buku tersebut disajikan hasil
penelitiannya di bidang Tasawwuf dengan menggunakan pendekatan tematik, yaitu
pendekatan yang mencoba menyajikan ajaran Tasawwuf sesuai dengan tema tertentu.
Dari uraian singkat di atas terlihat bahwa model penelitian Tasawwuf yang diajukan
Husein Nasr adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan tematik yang berdasarkan pada
studi kritis terhadap ajaran Tasawwuf yang pernah berkembang dalam sejarah.
2. Model Mustafa Zahri
Mustafa Zahri memusatkan perhatiannya terhadap taswuf dengan menulis buku
berjudul Kunci Memahami Ilmu Tasawwuf. Penelitian yang dilakukannya bersifat eksploratif,
yaitu menggali ajaran Tasawwuf dari berbagai literatur ilmu Tasawwuf. Penelitian tersebut
menekankan pada ajaran yang terdapat dalam Tasawwuf berdasarkan literatur yang ditulis
oleh para ulama terdahulu serta dengan mencari sandaran pada Al Qur’an dan Al-Hadits.

3. Model Kautsar Azhari Noor


Judul Penelitian Kautsar Azhari Noor adalah Ibn Arabi: Wahdat al-wujud dalam
Perdebatan. Dengan judul tersebut terlihat bahwa penelitian yang ditempuh Kautsar adalah
studi dengan tokoh pahamnya yang khas, Ibn Arabi dengan pahamnya Wahdat al-Wujud.

4. Model Harun Nasution


Harun Nasution, Guru besar dalam Teologi dan Filsafat Islam juga menaruh perhatian
terhadap penelitian di bidang Tasawwuf. Hasil penelitiannya dituangkan dalam bukunya yang
berjudul Falsafat dan Mitisisme Dalam Islam. Dan pendekatan yang digunakan adalah
pendekatan tematik, yakni penyajian ajaran Tasawwuf disajikan dalam tema jalan untuk
dekat pada Tuhan, zuhud, dan station-station lain, al-mahabbah, al-ma’rifah, al-fana’ dan al-
baqa, al-ittihad, al-bulul dan wahdat al-wujud.

5. Model A.J. Arberry


Dalam bukunya yang berjudul Pasang Surut Aliran Tasawwuf, Arberry mencoba
menggunakan pendekatan kombinasi, yaitu antara pendekatan tematik dengan pendekatan
tokoh. Dengan pendekatan demikian ia coba kemukakan tentang firman Tuhan, kehidupan
nabi, para sufi, para zahid, para ahli teori Tasawwuf, struktur teori Tasawwuf, struktur teori
dan amalan taswuf, tarikat sufi, teosofi dalam aliran Tasawwuf, serta runtuhnya aliran
Tasawwuf.
Dari isi penelitian tersebut, tampak bahwa Arberry menggunakan analisis
kesejarahan, yakni berbagai tema tersebut dipahami berdasarkan konteks sejarahnya, dan
tidak dilakuakan proses aktualisasi nilai atau mentransformasikan ajaran-ajaran tersebut ke
dalam makna kehidupan modern yang luas.
E. Metodologi Kajian Fiqh dan Kaidah Ushuliyah

A. Pengertian Fiqh dan Kaidah Ushuliyah


Hukum islam (fiqh) dapat diartikan sebagai sekelompok dengan syariat ilmu yaitu
berkaitan dengan amal perbuatan manusia yang diambil dari nash Al-Qur’an atau Alsunnnah.
Yang dimaksud dengan amal perbuatan manusia ialah segala amal perbuatan orang mukallaf
yang berhubungan dengan bidang ibadadt, muamalat, kepidanaan, dan sebagainya.

B. Model-Model Penelitian Hukum Islam (Fiqih)

1. Model Harun Nasution


Penelitian Harun Nasution dalam bidang hukum islam ia tuangkan secara ringkas
dalam bukunya Islam Ditinjau Dari Berbagai Aspeknya Jilid II. Melalui penelitiannya secara
ringkas namun mendalam terhadap berbagai literatur tentang hukum islam dengan
menggunakan pendekatan sejarah, Harun Nasution telah berhasil mendeskripsikan struktur
hukum islam secara komprehensif, yaitu mulai dari kajian terhadap ayat-ayat hukum yang
ada dalam Al-Qur’an, latar belakang dan sejarah pertumbuhan dan perkembangan hukum
islam sejak zaman nabi sampai dengan sekarang, lengkap dengan beberapa mazhab yang ada
didalamnya berikut sumber hukum yang digunakannya serta latar belakang timbulnya
perbedaan pendapat.

2. Model Noel J. Coulson


Noel J. Coulson menyajikan hasil penelitiannya di bidang hukum islam dalam
karyanya berjudul Hukum Islam dalam Perspektif Sejarah. Penelitian yang bersifat deskriptif
analitis ini menggunakan pendekatan sejarah. Seluruh informasi tentang perkembangan
hukum pada setiap periode selalu dilihat dari faktor-faktor sosio cultural yang
mempengaruhinya, sehingga tidak ada satupun produk hukum yang dibuat dari ruang yang
hampa sejarah.
Hasil penelitiannya itu dituangkan dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan
tentang terbentuknya hukm syariat. Bagian kedua, berbicara tentang pemikian dan praktek
hukum islam di abad pertengahan. Dan Bagian ketiga berbicara tentang hukum islam di masa
modern yang di dalamnya dibahas tentang penyerapan hukum eropa, hukum syariat
kontemporer, taklid dan pembaharuan hukum serta ijtihad.
3. Model Mohamad Atho Mudzhar
Tujuan penelitian yang dilakukan oleh Mohamad Atho Mudzhar ialah untuk
mengetahui materi fatwa yang dikemukakan Majelis Ulama Indonesia serta latar belakang
sosial politik yang melatarbelakangi timbulnya fatwa tersebut.
Bidang penelitian hukum islam yang dilakukan Mohamad Atho Mudzhar termasuk
penelitian uji teori atau uji asumsi (hipotesis) yang dibangun dari berbagai teori yang terdapat
dalam ilmu sosiologi hukum. Dengan menggunakan bahan-bahan tulisan, terlihat bahwa
penelitian ini tergolong penelitian kepustakaan. Sedangkan kerangka analisis yang
digunakannya adalah sosiologi hukum.

C. Pengertian Kaidah Ushuliyah


Kaidah ushuliyah merupakan gabungan dari kata Kaidah dan Ushuliyah. Kaidah
dalam bahasa Arab ditulis dengan qaidah, artinya patokan, pedoman dan titik tolak. Ada pula
yang mengartikan dengan peraturan. Bentuk jamak qa’idah (mufrad) adalah qawa’id. Adapun
ushuliyah berasal dari kata al-ashl, artinya pokok, dasar, atau dalil sebagai landasan. Jadi,
kaidah ushuliyah adalah pedoman untuk menggali dalil syara’. Kaidah ushuliyah adalah
dasar-dasar pemaknaan terhadap kalimat atau kata yang digunakan dalam teks atau nash yang
memberikan arti hukum tertentu dengan didasarkan kepada pengamatan kebahasaan dan
kesusastraan Arab.
Dalil syara’ itu ada yang bersifat menyeluruh, universal dan global (kuli dan mujmal)
dan ada yang hanya di tujukan bagi suatu hukum tertentu dari suatu cabang hukum tertentu
pula. Dalil yang besifat menyeluruh itu di sebut pula kaidah ushuliyyah.
Dari beberapa pengertian mengenai kaidah ushuliyah di atas penyusun simpulkan
bahwa kaidah ushuliyah itu merupakan sejumlah peraturan untuk menggali dalil-dalil syara’
sehingga didapatkan hukum syara’ dari dalil-dalil tersebut.

D. Perbedaan antara Kaidah Ushuliyyah dan Kaidah Fiqih


1) Kaidah ushuliyah pada hakikatnya adalah qa’idah istidlaliyah yang menjadi wasilah para
mujtahid dalam istinbath (pengambilan) sebuah hukum syar’iyah amaliah. Kaidah ini
menjadi alat yang membantu para mujtahid dalam menentukan suatu hukum. Dengan kata
lain, kita bisa memahami, bahwa kaidah ushul bukanlah suatu hukum, ia hanyalah sebuah alat
atau wasilah kepada kesimpulan suatu hukum syar’i. Sedangkan, kaidah fiqih adalah suatu
susunan lafadz yang mengandung makna hukum syar’iyyah aghlabiyyah yang mencakup di
bawahnya banyak furu’. Sehingga kita bisa memahami bahwa kaidah fiqih adalah hukum
syar’i. Dan kaidah ini digunakan sebagai istihdhar (menghadirkan) hukum
bukan istinbath (mengambil) hukum (layaknya kaidah ushul).
2) Objek kaidah ushuliyyah adalah dalil hukum, sedangkan kaidah fiqih adalah perbuatan
mukallaf.
3) Ketentuan kaidah ushuliyyah berlaku bagi seluruh juziyyah, sedangkan kaidah fiqih
berlaku pada sebagian besar (aghlab) juziyyah.
4) Kaidah ushuliyyah, sebagian saran istinbath hukum. Sedangkan kaidah fiqih sebagian
usaha menghimpun dan ketentuan hukum yang sama untuk memudahkan pemahaman fiqih.
5) Kaidah ushuliyyah biasa bersifat prediktif. Sedangkan kaidah fiqih bersifat wujud setelah
ketentuan furu’.
6) Kaidah-kaidah ushul lebih umum dari kaidah-kaidah fiqih.

F. Metodologi Pemikiran Modern

A. Pengertian Pembaruan Dalam Islam


Di sebagian umat islam tradisional hingga saat ini tampak ada perasaan masih belum
mau menerima apa yang dimaksud dengan pembaruan Islam. Hal ini, antara lain disebabkan
karena salah persepsi dalam memahami arti pembaruan islam. Mereka memandang bahwa
pembaruan islam adalah membuang ajaran Islam yang lama diganti dengan ajaran Islam yang
baru, padahal ajaran Islam yang lama itu berdasarkan pada hasil ijtihad para ulama besar
yang dalam ilmunya, taat beribadah dan unggul kepribadiannya. Oleh karena itu, mereka
masih beranggapan bahwa pemikiran ulama di abad yang lampau sudah cukup baik dan tidak
perlu diganti dengan pemikiran ulama sekarang.
Pembaruan Islam bukan berarti mengubah, mengurangi, atau menambah teks Al-
Qur’an maupun Al-Hadits, melainkan hanya mengubah atau menyesuaikan paham atas
keduanya sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini dilakukan karena betapa pun hebatnya
paham-paham yang dihasilkan para ulam adi zaman lampau, tetap ada kekurangannya dan
selalu dipengaruhi oleh kecenderungan pengetahuan, situasi sosial, dan lain sebagainya.
B. Model Penelitian Pemikiran Modern Dalam Islam

1. Model Penelitian Delian Noer


Salah satu buku hasil penelitian Delian Noer yang memuat pemikiran modern dalam
islam berjudul Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Dari judul bykunya itu,
terlihat bahwa penelitian yang dilakukan bersifat deskriptif analitis, yaitu penelitian yang
mencoba mendeskripsikan gerakan modern Islam di Indonesia yang terjadi pada tahun 1900-
1942.
Penelitian tersebut antara lain memuat latar belakang pemikiran, permasalahan yang
ingin dipecahkan, metode dan pendekatan serta analisis yang digunakan.

2. Model Penelitian H.A.R Gibb


Hasil penelitian yang dilakukan H.A.R Gibb berjudul Modern Trends in Islam. Model
penelitian gerakan islam modern yang dilakukan Gibb bersifat penelitian kepustakaan, yaitu
penelitian yang sepenuhnya menggunakan bahan-bahanyang terdapat dalam sumber-sumber
tertulis, khususnya buku-buku yang ditulis para penulis sebelumnya.
Pendekatan yang digunakan dalam penelitiannya itu adalah pendekatan filosofis
historis, yaitu penelitian yang menekankan upaya untuk menarik nilai-nilai universal yang
didasarkan pada informasi yang terdapat dalam kitab suci dan didukung oleh kebenaran
sejarah.

G. Metodologi Pendidikan Islam

A. Pengertian Pendidikan Islam


Dari segi bahasa pendidikan dapat diartikan perbuatan ( hal, cara, dan sebagainya )
mendidik; dan berarti pula pengetahuan tentang mendidik, atau pemeliharaan (latihan-latihan
dan sebagainya) badan, batin, dan sebagainya. Dalam bahasa Arab, para pakar pendidikan
pada umumnya menggunakan kata tarbiyah untuk arti pendidikan.
Adapun pengertian pendidikan dari segi istilah kita dapat merujuk kepada berbagia
sumber yang diberikan para ahli pendidikan. Dalam UU tentang Sistem Pendidikan Nasional
(UU RI No. 2 Tahun 1989) dinyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar untuk
menyiapkan peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, da atau latihan bagi
peranannya di masa yang akan datang.
Selanjutnya kata islam berasal dari bahasa arab aslama, yuslimu islaman yang berarti
patuh, tunduk, berseraah diri, serta memohon selamat dan sentosa.
Selanjutnya, jika kata pendidikan dan islam disatukan menjadi pendidikan Islam, artinya
secara sederhana adalah pendidikan yang berdasarkan ajaran Islam. Sebagian ada yang
mengatakan bahwa pendidikan islam adalah proses pewarisan dan pengembangan budaya
manusia yang bersumber dan berpedomankan ajaran islam sebagaimana termaktub dalam Al-
Qur’an dan terjabar dalam sunnah rasul.
Dapat disimpulkan, pendidikan Islam yaitu upaya membimbing, mengarahkan, dan
membina peserta didikan yang dilakukan secara sadar dan terencana agar terbina suatu
kepribadian yang utama sesuai dengan nilai-nilai ajaran islam.

B. Aspek-Aspek Pendidikan Islam

Dilihat dari segi sejarah atau periodenya, pendidikan islam mencakup:


1) Periode pembinaan islam yang berlangsung pada zaman Nabi Muhammad SAW;
2) Periode pertumbuhan pendidikan islam yang berlangsung sejak Nabi Muhammad SAW
wafat samapi masa akhir Bani Umayyah;
3) Periode kejayaan pendidikan Islam, yang berlangsung sejak permulaan Daulah Abbasiyah
sampai dengan jatuhnya Baghdad;
4) Periode kemunduran pendidikan Islam, yatu sejak jatuhnya Baghdad samapi jatuhnya
Mesir ke tangan Napoleon;
5) Periode pembaharuan pendidikan Islam yang berlangsung sejak pendudukan Mesir oleh
Napoleon sampai masa kini.

Selanjutnya dilihat dari kelembagaannnya, pendidikan Islam mengenal adanya


pendidikan yang dilaksanakan di rumah, mesjid, pesantren dan madrasah dengan berbagai
macam corak dan pendekatannya.
Selanjutnya pendidikan Islam sebagai sebuah system adalah suatu kegiatan yang
didalamnya mengandung aspek tujuan, kurikulum, guru, metode, pendekatan, sarana prasana,
lingkungan, administrasi dan sebagainya yang saling berkaitan dan membentuk sistem yang
terpadu.
C. Model Penelitian Ilmu Pendidikan Islam

1) Model Penelitian tentang Problema Guru


Dalam usaha memecahkan problema guru, Himpunan Pendidikan Nasional ( National
Education Association ) di Amerika Serikat pernah mengadakan penelitian tentang Problema
yang dihadapi guru secara nasional pada tahun 1968. Prosedur yang dilakukan dalam
penelitian tersebut dilakukan dengan cara pengumpulan data. Dengan demikian, penelitian
tersebut dari segi metodenya termasuk penelitian survei, yaitu penelitian yang sepenuhnya
didasarkan pada data yang dijumpai di lapangan, tanpa didahului oleh kerangka teori, asumsi
atau hipotesis. Penelitian tersebut menggunakan data lapangan yang dikumpulkan melalui
instrumen pengumpulan data, yaitu kuesioner yang sampelnya mewakili tingkat nasional, dan
objek yang diteliti adalah problema yang dihadapi guru.

2) Model Penelitian tentang Lembaga Pedidikan Islam


Salah satu penelitian yang berkenaan dengan lembaga pendidikan Islam adalah
penelitian yang digunakan oleh Karel A. Steenbrink dalam bukunya yang berjudul Pesantren,
Madrasah dan Sekolah Tinggi Pendidikan Islam dalam Kurun Modern. Metode penelitian
yang digunakan adalah pengamatan (observasi ). Sedangkan objek pengamatannya adalah
sejumlah pesantern yang berada di Jawa dan Sumatera.
Kesimpulan yang didapat yaitu bahwa dibandingkan dengan Malaysia, maka jelaslah
pesantren di Indonesia melalui beberapa pembaharuan tetap berusaha memberikan
pendidikan islam yang juga mememnuhi kebutuhan pendidikan sesuai dengan zamannya.

3) Model Penelitian Kultur Pendidikan Islam


Penelitian yang mengambil objek kajian tentang kultur pendidikan Islam khususnya
yang ada di pesantren, antara lain dilakukan oleh Mastuhu dan Zamakhsyari Dhofir. Model
penelitian yang dilakukan oleh kedua peneliti ini terdiri dari model penelitian Mastuhu dan
model penelitian Zamakhsyari Dhofier.
H. Metodologi Tekstualitas dan Kontekstualitas

Tekstual dapat diartikan mengacu pada teks. Metodologi tekstual menekankan pada
signifikansi teks-teks sebagai kajian Islam dengan merujuk pada sumber-sumber suci dalam
Islam, terutama Al-Qur’an dan Hadits. Pemahaman hukum mengacu apa adanya yang tertera
dalam Al-Qur’an atau Hadits. Tidak memandang latar belakang sosial dan kultur masyarakat
dan faktor yang melatarbelakangi permasalahan yang terjadi.
Metodologi kontekstual merupakan metode untuk memahami dalam kerangka
konteksnya, baik ruang dan waktu. Pendekatan ini merupakan perangkat komplementer yang
menjelaskan motif-motif kesejahteraan dalam ritual Islam, untuk memperkuat asumsi bahwa
Islam merupakan entitas yang komprehensif yang melingkupi elemen normatif dan elemen
praksis, selain itu menepis pandangan bahwa Islam itu radikal dan keras. Metode ini juga
mengacu pada sumber-sumber ajaran Islam yaitu Al-Qur’an dan Hadist, akan tetapi dipahami
secara berbeda dengan metodologi tekstual, dilihat dari waktu, latar belakang sosial, kultur
budaya serta faktor penyebab dan akibatnya.

I. Metodologi Muqaranah Madzhab

A. Pengertian Muqaranah Madzhab


Secara etimologi muqaranah dalam kamus al-Munjid berasal dari kata kerja qarana,
yang artinya membandingkan dan arti muqaranah itu sendiri, kata yang menunjukkan
keadaan atau hal yang berarti membandingkan atau perbandingan. Membandingkan di sini
adalah membandingkan antara dua perkara atau lebih.
Menurut bahasa madzhab berarti jalan atau tempat yang dilalui. Kata madzhab berasal
dari kata dzahaba – yadzhabu – dzahaban – dzuhuban – madzhaban. Madzhab juga berarti
pendirian.
Dapat disimpulkan, bahwa pengertian madzhab adalah hasil ijtihad seorang imam (mujtahid
mutlak mustaqil) tentang hukum suatu masalah atau tentang kaedah kaedah istinbatnya. Maka
yang dimaksud dengan muqaranah madzah adalah ilmu yang mempelajari tentang
perbandingan hukum dari berbagai madzhab, baik dari segi persamaan maupun perbedaannya
kemudian mengambil mana yang tepat untuk dijadikan landasanhukum.
Dengan kata lain muqarah madzahib merupakan bidang yang mengkaji dan membahas
tentang hukum yang terdapat dalam berbagai madzhab dengan cara membandingkan satu
sama lainnya agar dapat melihat tingkat kehujjahan yang dimiliki oleh masing-masing
madzhab tersebut serta mencari segi-segi persamaan dan perbedaannya.
Dikalangan umat islam ada empat madzhab yang paling terkenal yaitu madzhab hanafi (80 –
150H), madzhab maliki (93 – 179 H), madzhab syafi’I (150 – 204H), dan madzhab hanbali
(164 – 241H)

III PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pembahasan yang dikemukakan di atas, dapat dikemukakan beberapa
kesimpulan sebagai berikut:
1. Berdasarkan pada adanya upaya penafsiran Alquran dari sejak zaman Rasulullah
saw. hingga saat ini. Ulumul Tafsir digunakan untuk mengetahui kandungan
kitabullah (Alquran) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw..
2. Metodologi Ulumul Hadis merupakan metodologi yang digunakan untuk mengetahui
fungsi terhadap Alquran dan hadis serta menekankan fungsi dan maksud firman
Allah.
3. Berbagai metode penelitian filsafat Islam dilakukan para ahli dengan tujuan untuk
dijadikan bahan perbandingan bagi perkembangan filsafat Islam selanjutnya.
4. Tasawuf merupakan salah satu bidang studi Islam yang memusatkan perhatian pada
aspek rohani manusia yang dapat menimbulkan akhlaq mulia di dalam tasawuf.
5. Pada metodologi ini dapat diketahui bahwa model penelitian yang digunakan adalah
penelitian eksploratif, deskriptif dan menggunakan pendekatan sejarah. Serta dapat
mengetahui latar belakang sosial politik yang dikembangkan MUI.
6. Pemikiran modern dapat diartikan arah pemikiran yang maju menuju kepada
pembaharuan, pemikiran ini ada dua macam yaitu metode pemikiran modern yang
sekuler dan agamis.
7. Metodologi pendidikan Islam merupakan cara atau usaha yang dilakukan untuk
kegiatan bimbingan dan pengajaran dalam memahami Islam.
8. Metodologi tekstual menekankan pada signifikansi teks-teks Alquran dan Hadis
sebagai kajian Islam dan mengacu apa adanya yang tertera dalam Alquran atau
Hadis. Metodologi kontekstual merupakan metode untuk memahami dalam kerangka
konteksnya, baik ruang dan waktu.
9. Metodologi muqaranah madzhab yaitu cara memahami Islam dengan
membandingkan hukum yang terdapat dalam berbagai madzhab.

B. Saran
Dalam penyusunan dan penyampaian pada aspek metodologi memahami
Islam merupakan materi yang sangat luas. Makalah ini tentunya jauh dari
kesempurnaan, baik dari kesempurnaan, kebenaran maupun keluasan serta
kedalaman analisis dalam kajiannya. Kritik dan saran yang kontruktif dari para
pembaca sangat penulis butuhkan demi kesempurnaan dalam pembuatan makalah
selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA

A’yun, Qurrota. Metodologi Memahami Islam. t.tp: t.p., 2008.


Ali, Mukti. Metode Memahami Agama Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1991.
Hakim, Atang Abd & Jaih Mubarok, Metodologi Studi Islam. Edisi Revisi.
Bandung: Remaja Rosdakarya, cet XI, 2009.

Anda mungkin juga menyukai