Anda di halaman 1dari 54

Model Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry Learning

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah pembelajaran inovatif II

Oleh :
1. Nur Hidayatul (17030174001)
2. Fransisca Retno Gusniawati (17030174027)
3. Muhammad Nanang F (17030174072)
4. Anggietyas Damaningrum (17030174077)
KELOMPOK 5
UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN MATEMATIKA
PENDIDIKAN MATEMATIKA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
karuniaNya kami diberi kesempatan untuk bisa menyelesaikan tugas makalah yang
berjudul “model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning”. Makalah ini
membahas tentang model pembelajaran discovery learning dan inquiry learning.

i
Kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pengampu, orang orang yang
berperan dalam studi pustaka kami dan teman teman yang bersedia membantu dalam
penyelesaian tugas kami.
Harapan kami, semoga makalah ini dapat menjadi sumber referensi yang baik
bagi pembaca. Karena keterbatasan referensi dan pengetahuan, kami menyadari
makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, saran dan kritik yang
membangun sangat kami harapkan agar makalah ini dapat disusun menjadi lebih baik
kedepannya.

Surabaya, 17 Maret 2019


PENULIS

DAFTAR ISI

ii
KATA PENGANTAR ........................................................................................... i
DAFTAR ISI ........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................................... 3
1.3 Tujuan ............................................................................................................ 3
BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................... 5
2.1 Tinjauan Umum ............................................................................................. 5
2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry
Learning ........................................................................................................ 5
2.1.2 Tujuan Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry Learning ........... 8
2.1.3 Karakteristik Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry Learning .. 9
2.1.4 Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry
Learning ...................................................................................................... 11
2.2 Landasan Teori dan Empirik......................................................................... 13
2.3 Pelaksanaan.................................................................................................. 16
2.5 Lingkungan Belajar ...................................................................................... 21
2.6 Penilaian dan Evaluasi .................................................................................. 25
2.7 Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning dan Inquiry Learning ......... 38
2.8 Perbedaan Discovery Learning dan Inquiry Learning ................................... 41
BAB III KESIMPULAN .................................................................................... 43
3.1 Kesimpulan............................................................................................... 43
3.2 Saran ........................................................................................................ 49
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 50

iii
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pendidikan bukanlah sesuatu yang statis melainkan sesuatu yang dinamis
sehingga menuntut adanya suatu perbaikan yang terus menerus. Dunia pendidikan
memiliki tujuan yang harus dicapai dalam proses pembelajarannya. Pendidikan
tidak hanya ditekankan pada penguasaan materi, tetapi juga ditekankan pada
penguasaan keterampilan. Peserta didik juga harus memiliki kemampuan untuk
berbuat sesuatu dengan mengguna-kan proses dan prinsip keilmuan yang telah
dikuasai, dan learning to know (pembelajaran untuk tahu) dan learning to do
(pembelajaran untuk berbuat) harus dicapai dalam kegiatan belajar mengajar.
Permasalahan pada pembelajaran konvensional dapat diatasi dengan
penerapan pembelajaran inovatif. Pembelajaran inovatif merupakan pembelajaran
yang mampu menarik perhatian peserta didik melalui pelibatan aktif peserta didik
yang bersangkutan. Berkaitan dengan hal tersebut, perlu dirancang suatu kegiatan
belajar yang menarik bagi peserta didik (Isjoni, 2008: 7). Pembelajaran inovatif
diharapkan mampu meningkatkan keterampilan peserta didik.
Peserta didik mudah memahami konsep-konsep yang rumit dan abstrak jika
disertai dengan contoh-contoh konkrit merupakan salah satu alasan yang
melandasi perlunya diterapkan keterampilan proses sains. [Dimyati dan
Moedjiono (2002: 141)], ada berbagai keterampilan proses, keterampilan-
keterampilan tersebut terdiri dari keterampilan dasar proses sains (basic skill),
dimulai dari mengobservasi, mengklasifikasi, memprediksi, mengukur, menyim-
pulkan dan mengkomunikasikan, dan keterampilan terpadu proses sains
(integrated skill), dari identifikasi variabel sampai dengan yang paling kompleks,
yaitu eksperimen. Keterampilan proses dapat mengembangkan kemampuan
mengamati, menggolongkan/ mengklasifikasikan, menaksir/ menginterpretasikan,
meramalkan, menerapkan, merencanakan penelitian, mengkomunikasikan,

1
(Sumantri dan Permana, 2001: 97-100; Hamalik, 2008: 150-151; Usman, 2008:
42-43; Usman dan Setiawati, 1993: 78-79; Nuryani, 2005: 80-81).
Hasil belajar bukan hanya berupa penguasaan pengetahuan, tetapi juga
kecakapan dan keterampilan dalam melihat, menganalisis, dan memecahkan
masalah, membuat rencana dan mengadakan pembagian kerja; dengan demikian
aktivitas dan produk yang dihasilkan dari ativitas belajar ini mendapatkan
penilaian. [Joyoatmojo (2006)], menyimpulkan pendapat beberapa ahli dan
menyatakan keterampilan-keterampilan atau kemampuan-kemampuan serta sikap
seperti itu dapat menjadikan seseorang yang memiliki fleksibilitas yang tinggi
dalam penghadapi perubahan di sekitarnya, termasuk dalam pergaulan, dalam
pekerjaan, maupun dalam suatu lembaga/organisasi. Seseorang yang sudah
terlatih dengan keterampilan proses sains akan memiliki kepribadian yang jujur,
dan teliti, sehingga mampu bersosialisasi dengan masyarakatlebih mudah. Metode
yang terbanyak menampilkan segi-segi keterampilan proses, menurut Djamarah
(2000: 191) adalah metode diskusi, eksperimen dan pemberian tugas.
Inquiry terbimbing merupakan suatu cara yang efektif untuk membuat variasi
suasana pola pembelajaran kelas. Pembelajaran inquiry terbimbing merupakan
pembelajaran kelompok dimana peserta didik diberi kesempatan untuk berfikir
mandiri dan saling membantu dengan teman yang lain. Pembelajaran inquiry
terbimbing membimbing peserta didik untuk memiliki tanggung jawab individu
dan tanggung jawab dalam kelompok atau pasangannya.
Inquiry menurut Gulo (2004: 84-85) berarti suatu rangkaian kegiatan belajar
yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk
mencari dan menyelidiki secara sistematis, kritis, logis, analitis, sehingga mereka
dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri. Hal tersebut
didukung oleh Hidayatullah, (2011) yang menyatakan salah satu tujuan mengajar
dan mendidik adalah menumbuhkan kemampuan berfikir kritis melalui
pelaksanaan tugas-tugas pembelajaran. Menurut Mulyasa (2006: 102) pangalaman
belajar perlu dikembangkan untuk membentuk manusia yang berkualitas tinggi,

2
baik mental, moral maupun fisik. Metode dan strategi belajar mengajar yang
kondusif untuk hal tersebut perlu dikembangkan, misalnya metode inquiry,
discovery, problem solving, dan sebagainya
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengertian discovery learning dan inquiry learning?
2. Bagaimana tujuan discovery learning dan inquiry learning?
3. Bagaimana karakteristik discovery learning dan inquiry learning?
4. Bagaimana langkah- langkah discovery learning dan inquiry learning?
5. Bagaimana landasan teori dan empirik discovery learning dan inquiry
learning?
6. Bagaimana pelaksanaan discovery learning dan inquiry learning?
7. Bagaimana lingkungan belajar inquiry learning?
8. Bagaimana penilaian dan evaluasi probem based learning?
9. Apa kelebihan dan kekurangan discovery learning dan inquiry learning?
10. Apa perbedaan discovery learning dan inquiry learning?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian discovery learning dan inquiry learning
2. Untuk mengetahui tujuan discovery learning dan inquiry learning
3. Untuk mengetahui karakteristik discovery learning dan inquiry learning
4. Untuk mengetahui langkah- langkah discovery learning dan inquiry
learning
5. Untuk mengetahui landasan teori dan empirik discovery learning dan
inquiry learning
6. Untuk mengetahui pelaksanaan discovery learning dan inquiry learning
7. Untuk mengetahui lingkungan belajar inquiry learning
8. Untuk mengetahui penilaian dan evaluasi discovery learning dan inquiry
learning
9. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan discovery learning dan
inquiry learning

3
10. Untuk mengetahui perbedaan discovery learning dan inquiry learning

4
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Tinjauan Umum


2.1.1 Pengertian Model Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry
Learning
1. Discovery Learning
Model pembelajaran discovery learning adalah model
pembelajaran berdasarkan penemuan, konstruktivisme dan teori
bagaimana belajar. Model belajar discovery learning dikembangkan
oleh seorang ahli psikologi asal amerika yang bernama Jerome S.
Bruner. Menurut Anitah (2009 : 55) belajar penemuan atau discovery
learning merupakan suatu model pembelajaran yang melibatkan peserta
didik dalam pemecahan masalah untuk pengembangan pengetahuan dan
keterampilan. Kegiatan pembelajaran padadiscovery learning dirancang
agar peserta didik dapat belajar secara intensif dengan mengikuti metode
investigasi ilmiah atau dengan pendekatan ilmiah. Lebih lanjut, Hosnan
(2014 : 282) mengemukakan bahwa discovery learning adalah suatu
model untuk mengembangkan cara belajar aktif dengan menemukan
sendiri dan menyelidiki sendiri sehingga hasil yang diperoleh akan kuat
dan tahan lama dalam ingatan peserta didik. Dengan belajar penemuan,
peserta didik akan belajar berpikir analisis dan mencoba memecahkan
sendiri masalah yang sedang dihadapi
Menurut Bruner (Lefancois dalam Emetembun ,1986 : 103),
discovery learning dapat didefnisikan sebagai berikut :
“Discovery learning can be defined as the learning that takes place
when the students is not presented with subject matter in the final form,
but rather is required to organize it him self” yang berarti discovery
learning adalah model pembelajaran yang terjadi ketika peserta didik

5
tidak disajikan dengan materi pelajaran dalam bentuk final, akan tapi
peserta didik diminta untuk mengorganaisasikan dan mencarinya
sendiri.
Dari beberapa pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa
discovery learning atau belajar penemuan adalah suatu model
pembelajaran yang mengarahkan peserta didik untuk menemukan
sendiri pemahaman yang harus dicapai sehingga peserta didik dituntut
untuk terlibat aktif dalam menemukan konsep atau prinsip yang belum
diketahui sebelumnya dengan tetap dibimbing dan diawasi oleh guru.
Dengan demikian pengetahuan yang diperoleh akan bertahan lebih lama
dalam ingatan peserta didik.
Dalam proses pemecahan masalah pada discovery learning, peserta
didik menggunakan pengalaman mereka yang terdahulu dalam
memecahkan masalah. Mereka melakukan semua itu dengan cara
berinteraksi satu sama lain untuk menggali dan mencari solusi serta
melakukan percobaan dengan teknik trial dan eror. Dalam hal ini, guru
berperan sebagai pembimbing peserta didik, sehingga kegiatan belajar
yang terjadi berpusat pada aktivitas yang dilakukan peserta didik
(student oriented).
Depdikbud (2014 : 14) menyebutkan bahwa discovery learning
memiliki prinsip yang sama dengan model inkuiri (Inquiry). Tidak ada
perbedaan mendasar pada kedua istilah ini. Pada discovery learning,
belajar lebih menekankan pada penemuan konsep atau prinsip yang
sebelumya belum diketahui peserta didik. Selain itu, pada discovery
learning masalah yang disajikan merupakan masalah yang direkayasa
oleh guru, sedangkan pada inkuiri, masalah yang dihadapkan kepada
peserta didik bukan hasil dari rekayasa guru, sehingga peserta didik
harus mengarahkan seluruh pikiran dan keterampilannya untuk
mendapatkan temuan-temuan didalam masalah itu melalui proses

6
penelitian. Model pembelajaran discovery learning lebih cocok untuk
diterapkan pada pembelajaran matematika, sedangkan model inkuiri
lebih cocok diterapkanpada pembelajaran IPA (biologi, kimia, fisika,
dsb).
2. Inquiry Learning
Istilah inkuiri berasal dari bahasa inggris inquiry yang berarti
pertanyaan atau penyelidikan. Menurut Cleaf (dalam putrayasa, 2009 :
2) bahwa inkuiri adalah salah satu model pembelajaran yang digunakan
dalam kelas yang berorientasi proses. Inkuiri merupakan sebuah strategi
pengajaran yang berpusat pada peserta didik, yang mendorong peserta
didik untuk menyelidiki masalah dan menemukan informasi.
Sedangkan ibrahim (2007 : 2) berpendapat bahwa inkuiri
merupakan proses yang bervariasi dan meliputi kegiatan-kegiatan
mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang relevan, mengevaluasi
buku dan sumber informasi lain secara kritis, merencanakan
penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah diketahui,
melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan menggunakan alat
untuk memperoleh data, menganalisis dan menginterpretasi data, serta
membuat prediksi dan mengkomunikasikan hasilnya.
Gulo (2002) dalam Trianto (2014 : 78) berpendapat bahwa inkuiri
merupakan satu rangkaian kegiatan belajar yang melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analisis sehingga mereka
dapat mermuskan sendiri penemuannya dengan rasa penuh percaya diri.
Carin and Sund seperti yang dikutip dalam suryosubroto ( 1993 : 193)
dalam trianto (2007 : 135) menyatakan bahwa inkuiri merupakan
perluasan proses discovery yang digunakan secara lebih mendalam.
Dari beberapa pendapat ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa
inkuiri merupakan suatu rangkaian kegiatan belajar yang berorientasi

7
pada proses dan berpusat pada peserta didik yang melibatkan secara
maksimal seluruh kemampuan peserta didik untuk mencari dan
menyelidiki secara sistematis, kritis, logis dan analitis sehingga peserta
didik dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan rasa penuh
percaya diri.
2.1.2 Tujuan Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry Learning
1. Discovery Learning
Menurut Bell (dalam Hosnan 2014 : 284) terdapat beberapa tujuan
spesifik dari model discovery learning, yaitu :
1. Dalam proses penemuan solusi, peserta didik memiliki kesempatan
untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran.
2. Melalui discovery learning, peserta didik belajar menemukan pola
dalam situasi konkret maupun abstrak.
3. Peserta didik juga belajar merumuskan strategi tanya jawab yang
tidak rancu dan menggunakan proses tanya jawab untuk memperoleh
informasi yang bermanfaat dalam menemukan.
4. Pembelajaran dengan penemuan membantu peserta didik membentuk
cara kerja sama yang efektif, saling membagi informasi, serta
mendengar dan menggunakan ide-ide yang dikemukakan oleh orang
lain.
5. Terdapat beberapa fakta yang menunjukkan bahwa keterampilan-
keterampilan, konsep-konsep dan prinsip-prinsip yang dipelajarai
pada model discovery learning lebih bermakna.
6. Keterampilan yang dipelajari dalam situasi discovery learning dalam
bebeapa kasus lebih mudah ditransfer untuk aktifitas baru dan
diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
2. Inquiry Learning
Menurut sanjaya (2006 : 195) tujuan utama pembelajaran inkuiri
adalah menolong peserta didik untuk mengembangkan disiplin

8
intelektual dan keterampian berpikir dengan memberikan pertanyaan-
pertanyaan dan mendapatkan jawaban atas dasar rasa ingin tahu
mereka.
Lebih lanjut Ismawati (2011 : 4) mengungkapkan tujuan dari
pembelajaran inkuiri, yaitu :
1. Mengembangan sikap, keterampilan, peserta didik untuk mampu
memecahkan masalah serta mengambil keputusan secara objektif dan
mandiri.
2. Mengembangkan kemampuan berpikir para peserta didik yang terdiri
atas serentetan keterampilan-keterampilan yang memerlukan latihan
dan pembiasaan.
3. Melatih kemampuan berpikir melalui proses alam situasi yang benar-
benar dihayati.
4. Mengembangkan sikap ingin tahu, berpikir objektif, mandiri, kritis,
analitis, baik secara indvidual maupun berkelompok.
2.1.3 Karakteristik Pembelajaran Discovery Learning dan Inquiry
Learning
1. Discovery Learning
Hosnan (2014 : 284) mengemukakan bahwa ada 3 ciri utama
model discovery learning, yaitu :
1. Peserta didik mengeksplorasi dan memecahkan masalah untuk
menciptakan, menggabungkan dan menggeneralisasikan mengenai
suatu pengetahuan.
2. Pembelajaran yang dilakukan berpusat pada peserta didik (Student
Centered)
3. Adanya kegiatan untuk menggabungkan pengetahuan yang baru
dengan pengetahuan yang sudah dimiliki oleh peserta didik.
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa karakteristik model
discovery learning adalah pembelajaran yang dilakukan berpusat pada

9
peserta didik yang mana peserta didik harus memecahkan sendiri
permasalahan yang ada dengan cara menghubungkan pengetahuan
yang sudah dimiliki peserta didik sebelumnya dan pengetahuan yang
baru dimiliki oleh peserta didik. Dalam hal ini guru hanya mendorong
peserta didik untuk aktif dalam belajar dan peserta didik
mengembangkan sendiri bakat dan keterampilannya pada proses
pembelajaran.
2. Inquiry Learning
Menurut sanjaya (2006 : 195) ada 3 karakteristik dalam
pembelajaran inkuiri, yaitu :
1. Pembelajaran inkuiri menekankan kepada aktivitas peserta didik
secara maksimal untuk mencari dan menemukan, artinya
pembelajaran ini menempatkan peserta didik sebagai subjek belajar.
Dalam proses pembelajaran, peserta didik tidak hanya berperan
sebagai penerima pelajaran melalui penjelasan guru secara verbal,
tetapi mereka berperan menemukan sendiri inti dari materi
pelajaran itu sendiri.
2. Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk
mencari dan menemukan sendiri jawaban dari sesuatu yang
dipertanyakan, sehingga diharapkan dapat menumbuhkan sikap
percaya diri (self belief). Aktivitas pembelajaran biasanya
dilakukan melalui proses tanya jawab antara guru dan peserta didik.
Oleh karena itu, kemampuan guru dalam menggunakan teknik
bertanya merupakan syarat utama dalam melakukan inkuiri.
3. Tujuan dari penggunaan strategi inkuiri dalam pembelajaran adalah
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan
kritis atau mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian
dari proses mental. Dengan demikian dalam inkuiri peserta didik

10
tak hanya dituntut untuk menguasai materi pelajaran, akan tetapi
bagaimana mereka dapat menggunakan potensi yang dimilikinya.
2.1.4 Langkah-langkah Model Pembelajaran Discovery Learning dan
Inquiry Learning
1. Discovery Learning
Menurut Kemendikbud (2013), sintaks model pembelajaran
discovery learning adalah sebagai berikut :
Fase Kegiatan Guru
Fase 1 : Guru memberi peserta didik suatu masalah yang
Stimulation membingungkan agar peserta didik mampu untuk
(Stimulasi / menyelidiki sendiri. Selain itu, guru dapat memulai
Pemberian kegiatan proses pembelajaran dengan mengajukan
Rangsangan) pertanyaan, anjuran membaca buku dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah.
Fase 2 : Problem Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
Statement mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda masalah
(Pernyataan / yang relevan dengan bahan ajar, kemudian salah
Identifikasi satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
masalah) hipotesis.
Fase 3 : Data Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
Collection mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-
(Pengumplan Data) banyaknya. Pada tahap ini berfungsi untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi.
Fase 4 : Data Guru meminta peserta didik untuk mengolah data dan
Processing informasi yang diperoleh peserta didik.
(Pengolahan Data)
Fase 5 : Guru meminta peserta didik untuk melakukan

11
Verification pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar
(Pembuktian) atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan dengan
temuan alternatif, kemudian dihubungkan dengan hasil
dan processing.
Fase 6 : Guru meminta peserta didik untuk menarik kesimpulan
Generalization
(menarik
kesimpulan /
generalisasi)

2. Inquiry Learning
Hosnan (2014 : 342 – 344) mengemukakan langkah-langkah
model pembelajaran inkuiri yang dijelaskan sebagai berikut :
Fase Kegiatan
Fase 1 : Guru mengorganisasikan peserta didik agar siap
Orientasi melaksanakan pembelajaran. Guru mengajak peserta
didik untuk berpikir memecahkan masalah.
Fase 2 : Peserta didik diminta untuk berpikir memecahkan
Merumuskan masalah dan mencari jawaban yang tepat.
Masalah
Fase 3 : Peserta didik diminta untuk merumuskan hipotesis
Merumuskan dari permasalahan yang diberikan.
Hipotesis
Fase 4 : Guru mengajukan pettanyaan-pertanyaan yang dapat
Mengumpulkan mendorong peserta didik untuk berpikir mencari
data informasi yang dibutuhkan dan peserta didik diminta
untuk mengumpulkan datadari informasi yang
diperoleh.

12
Fase 5 : Guru meminta peserta didik untuk menguji hipotesis
Menguji yang telah dirumuskan tadi. Menguji hipotesis ini
Hipotesis diperoleh dari pengumpulan data dan informasi yang
telah diperoleh.
Fase 6 : Guru meminta peserta didik untuk merumusakn
Merumuskan kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis.
Kesimpulan

2.2 Landasan Teori dan Empirik


1. Discovery Learning
a. Landasan Teori Discovery Learning
Ide pembelajaran penemuan (Discovery Learning) muncul dari
keinginan untuk memberi rasa senang kepada anak dalam menemukan
sesuatu oleh mereka sendiri dengan mengikuti jejak para ilmuwan (Nur,
2000). Ahli psikologi dan pengusung teori belajar kognitif Jerome Bruner
(1976) adalah orang yang pertama kali menjelaskan prinsip-prinsip belajar
penemuan. Ia menjelaskan bagaimana seorang pembelajar membangun
pengetahuan berdasarkan pengetahuan atau pengalaman awal. Hampir
serupa, para ahli teori belajar kognitif seperti John Dewey, Jean Piaget,
dan Lev Vygotsky juga sangat menyarankan penggunaan Discovery
Learning karena dapat memacu pembelajar menjadi aktif dalam
berpartisipasi pada kegiatan atau proses pembelajaran dengan
mengeksplorasi konsep-konsep dan menjawab pertanyaan-pertanyaan
melalui pengalaman belajar yang mereka lalui.
a. Teori Belajar Piaget
Tahap perkembangan kognitif anak mencakup tahap sensori
motorik, tahap pra-operasional, tahap operasional kongkrit, dan tahap
operasional formal.

13
b. Teori Bruner
Dalam memandang proses belajar, Bruner menekankan adanya
pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Dengan
teorinya yang disebut freediscovery learning, ia mengatakan bahwa
proses belajar akan berjalan dengan baik dan kreatif jika guru
memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menemukan suatu
konsep, teori, aturan, atau pemahaman melalui contoh-contoh yang ia
jumpai dalam kehidupannya (Budiningsih, 2012: 41). Sependapat
dengan Suprijono (2012: 25), perkembangan kognitif yang
digambarkan oleh Bruner merupakan proses discovery learning
(belajar penemuan), yaitu penemuan konsep.
c. Teori Konstruktivisme
Menurut pandangan teori rekonstruktivistik, belajar berarti
mengkonstruksi makna atas informasi dan masukan-masukan yang
masuk ke dalam otak. Peserta didik harus menemukan dan
mentransformasikan informasi kompleks ke dalam dirinya sendiri dan
memberikan implikasi bahwa peserta didik harus terlibat aktif dalam
kegiatan pembelajaran (Rifa’i dan Anni, 2011: 137).
b. Landasan Empirik Discovery Learning
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh
mujati (2017) dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan
metode discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar matematika
peserta didik pada materi keliling dan luas bangun datar di kelas V A SD
Negeri 009 Pulau Kijang Kecamatan Reteh. Hal tersebut diketahui dari
jumlah peserta didik yang mencapai KKM 75 meningkat dari ulangan
harian I dan II dari skor dasar/ awal. Begitu juga dengan rata-rata hasil
belajar peserta didik pada ulangan harian I dan II meningkat di atas rata-
rata hasil belajar peserta didik pada skor dasar.
2. Inquiry Learning

14
a. Landasan Teori Inquiry Learning
Model pembelajaran inkuiri termasuk dalam kelompok model
pengolahan informasi, dimana model pembelajaran ini lebih
menitikberatkan pada aktivitas-aktivitas yang terkait dengan kegiatan
proses atau informasi untuk meningkatkan kapabilitas peserta didik
melalui proses pembelajaran. Teori yang mendasari model pembelajaran
ini antara lain:
a. Secara alami manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu
mencari tahu akan segala sesuatu yang menarik perhatiannya;
b. Mereka akan menyadari keingintahuan akan segala sesuatu tersebut
dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya tersebut;
c. Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan
ditambahkan/digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki
peserta didik;
d. Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya
kemampuan berpikir dan membantu peserta didik belajar tentang suatu
ilmu yang senantiasa bersifat tentatif dan belajar menghargai
penjelasan atau solusi alternatif.
Model pembelajaran ini dikembangkan oleh seorang tokoh yang
bernama Suchman. Suchman meyakini bahwa anak-anak merupakan
individu yang penuh rasa ingin tahu akan segala sesuatu. Oleh karena itu,
prosedur ilmiah dapat diajarkan secara langsung kepada mereka. Wina
Sanjaya (2008 :196) mendefinisikan metode inkuiri adalah rangkaian
kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis
dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban dari suatu
masalah yang dipertanyakan. Proses berpikir itu sendiri biasanya
dilakukan melalui tanya jawab antara guru dan peserta didik.
Sebagai salah satu metode pembelajaran, metode ini merupakan
metode yang dianggap baru khususnya di Indonesia. Walaupun

15
merupakan metode yang masih baru namun metode ini sangat baik
digunakan dalam proses pembelajaran karena metode ini mengarahkan
peserta didik untuk bisa menemukan masalah sendiri dan kemudian
mampu memecahkan masalah yang ditemukan tersebut secara ilmiah,
sedangkan guru hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator.
b. Landasan Empirik Inquiry Learning
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh
Heru Suseno (2016) penerapan model inquiry learning dengan pendekatan
saintifik dapat meningkatkan keterampilan abstrak kelas X9 MIPA SMA
Negeri 2 Madiun tahun pelajaran 2015/2016. Hal ini ditunjukan dari hasil
pencapaian abstrak peserta didik pada siklus 1 mencapai 59,26 % dan
meningkat menjadi 86,43% dari hasil pencapaian keterampilan abstrak
peserta didik pada siklus II.
2.3 Pelaksanaan
2.3.1 Tugas-tugas Perencanaan Discovery Learning
1. Menurut Suprihatiningrum “2014:244” jenis-jenis model pembelajaran
discovery learning
a. Free Discovery Learning (Pembelajaran penemuan bebas)
Pembelajaran penemuan bebas adalah pembelajaran penemuan
tanpa adanya petunjuk atau arahan.
b. Guided Discovery Learning (Pembelajaran penemuan terbimbing)
Pembelajaran penemuan terbimbing adalah pembelajaran yang
membutuhkan guru sebagai fasilitator dalam proses
pembelajarannya.
2. Tugas-tugas perencanaan model pembelajaran discovery learning :
a. Menentukan tujuan pembelajaran
b. Melakukan identifikasi karateristik peserta didik
c. Memilih materi pelajaran

16
d. Menentukan topic-topik yang harus dipelajari peserta didik secara
induktif
e. Mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa contoh-contoh,
ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik
2.3.2 Tugas-tugas Interaktif Discovery Learning
1. Stimulation (stimulus/pemberian rangsang)
Pada tahap ini peserta didik dihadapkan pada sesuatu yang
menimbulkan kebingungan, kemudian dilanjutkan untuk tidak
memberi generalisasi, agar timbul keinginan untuk menyelidiki
sendiri. Guru dapat memulai dengan mengajukan pertanyaan, anjuran
membaca buku, dan belajar lannya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah.
2. Problem statement (pernyataan/identifikasi masalah)
Guru memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk
mengidentifikasi masalah-masalah yang relevan dengan bahan
pelajaran, kemudian salah satunya dipilih dan dirumuskan dalam
bentuk hipotesis.
3. Data collection (pengumpulan data)
Tahap ini peserta didik diberi kesempatan untuk
mengumpulkan berbagai informasi yang relevan, membaca
literature,mengamati objek, wawancara, melakukan uji coba sendiri
untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya
hipotesis.
4. Data processing (pengolahan data)
Pengolahan data merupakan kegiatan mengolah data dan
informasi yang telah diperoleh peserta didik melalui
wawancara,observasi dan sebagainya. Tahap ini berfungs sebagai
pembentukan konsep dan generalisasi, sehingga peserta didik akan

17
mendapatkan pengetahuan baru dari alternatif jawaban yang perlu
mendapat pembuktian secara logis.
5. Verification (pembuktian)
Pada tahap ini peserta didik melakukan pemeriksaan secara
cermat untuk membuktikan benar atau tidaknya hipotesis yang
ditetapkan tadi dengan temuan alternatif dan dihubungkan dengan
hasil pengolahan data.
6. Generalization (menarik kesimpulan)
Tahap generalisasi atau menarik kesimpulan adalah proses
menarik sebuah kesimpulan yang dapat dijadikan prinsip umum dan
berlaku untuk semua kejadian atau masalah yang sama, dengan
memperhatikan hasil verifikasi.
2.3.3 Tugas-tugas Perencanaan Inqury Learning
a. Model pembelajaran Inkuiri ada dua macam:
1. Inkuiri Induksi
Inkuiri induktif adalah model inkuiri yang penetapan
masalahnya ditentukan sendiri oleh peserta didik sesuai dengan
bahan/materi ajar yang akan dipelajari.
2. Inkuiri Deduksi
Inkuiri deduktif adalah model inkuiri yang permasalahannya
berasal dari guru. Peserta didik dalam inkuiri deduktif diminta
untuk menentukan teori/konsep yang digunakan dalam proses
pemecahan masalah.
b. Jenis-jenis metode pembelajaran Inkuiri:
1. Inkuiri Terbimbing
Inkuiri Terbimbing dalam proses belajar mengajar dengan
metode inkuiri terbimbing, peserta didik dituntut untuk
menemukan konsep melalui petunjuk-petunjuk seperlunya dari
seorang guru. Petunjuk- petunjuk itu pada umumnya berupa

18
pertanyaan-pertanyaan yang bersifat membimbing (Wartono
1999). Selain pertanyaan-pertanyaan, guru juga dapat memberikan
penjelasan- penjelasan seperlunya pada saat peserta didik akan
melakukan percobaan, misalnya penjelasan tentang cara-cara
melakukan percobaan. Metode inkuiri terbimbing biasanya
digunakan bagi peserta didik-peserta didik yang belum
berpengalaman belajar dengan menggunakan metode inkuiri. Pada
tahap permulaan diberikan lebih banyak bimbingan, sedikit demi
sedikit bimbingan itu dikurangi seperti yang dikemukakan oleh
(Hudoyono 1979) bahwa dalam usaha menemukan suatu konsep
peserta didik memerlukan bimbingan bahkan memerlukan
pertolongan guru setapak demi setapak. Peserta didik memerlukan
bantuan untuk mengembangkan kemampuannya memahami
pengetahuan baru. Walaupun peserta didik harus berusaha
mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi tetapi pertolongan
guru tetap diperlukan.
2. Inkuiri Bebas
Inkuiri Bebas metode ini digunakan bagi peserta didik yang
telah berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. Karena
dalam pendekatan inkuiri bebas ini menempatkan peserta didik
seolah-olah bekerja seperti seorang ilmuwan. Peserta didik diberi
kebebasan menentukan permasalahan untuk diselidiki, menemukan
dan menyelesaikan masalah secara mandiri merancang prosedur
atau langkah-langkah yang diperlukan.
3. Inkuiri Bebas Modifikasi
Inkuiri Bebas modifikasi Metode ini merupakan kolaborasi
atau modifikasi dari dua strategi inkuiri sebelumnya, yaitu:
pendekatan inkuiri terbimbing dan pendekatan inkuiri bebas.
Meskipun begitu permasalahan yang akan dijadikan topik untuk

19
diselidiki tetap diberikan atau mempedomi anacuan kurikulum
yang telah ada. Artinya, dalam metode ini peserta didik tidak dapat
memilih atau menentukan masalah untuk diselidiki secara sendiri,
namun peserta didik yang belajar dengan metode ini menerima
masalah dari gurunya untuk dipecahkan dan tetap memperoleh
bimbingan. Namun bimbingan yang diberikan lebih sedikit dari
Inkuiri terbimbing dan tidak terstruktur.
c. Tugas-tugas perencanaan model pembelajaran inkuiri
Dua tugas utama perencanaan diperlukan dalam persiapan
pembelajaran berbsis inkuiri :
1. Menentukan tujuan
2. Mengidentifikasi masalah yang sesuai

2.3.4 Tugas-tugas Interaktif Inqury Learning


1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau iklim
pembelajaran yang responsif. Guru mengondisikan peserta didik agar
siap melaksanakan proses pembelajaran. Guru merangsang dan
mengajak peserta didik untuk berpikir memecahkan masalah.
2. Merumuskan masalah
Langkah yang membawa peserta didik pada suatu persoalan yang
mengandung teka teki. Persoalan yang disajikan adalah persoalan yang
menantang peserta didik untuk berpikir memecahkan masalah dan
mencari jawaban yang tepat.
3. Merumuskan hipotesis
Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
dikaji dan perlu diuji kebenarannya. Perkiraan sebagai hipotesis bukan
sembarang perkiraan, tetapi harus memiliki landasan berpikir yang

20
kokoh sehingga hipotesis yang dimunculkan itu bersifat rasional dan
logis.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktivitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Dalam metode
inkuiri, mengumpulkan data merupakan proses mental yang sangat
penting dalam pengembangan intelektual.oleh karena itu, tugas dan
peran guru dalam tahapan ini adalah mengajukan pertanyaan-
pertanyaan yang dapat mendorong peserta didik untuk berpikir
mencari informasi yang dibutuhkan.
5. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang dianggap
diterima dengan data atau informasi yang diperoleh berdasakan
pengumpulan data. Meguji hipotesis berarti mengembangkan
kemmapuan berfikir rasional. Artinya, kebenaran jawaban yang
diberikan bukan hanya berdasarkan argumentasi, akan tetapi harus
didukung data yang ditemukan dan dapat dipertanggungjawabkan.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan yang
diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis. Merumuskan
kesimpulan merupakan tujuan akhir dalam proses pembelajaran.
2.4 Lingkungan Belajar
2.4.1 Lingkungan Belajar Model Pembelajaran Inkuiri
Untuk menjamin bahwa sebuah desain bisa berjalan, maka diperlukan
lingkungan yang kondusif, peran-peran yang spesifik dari tiaptiap agen
pembelajaran, dan pengorganisasian kegiatan yang terukur. Karena itu,
diperlukan pengaturan terhadap aspek-aspek esensial yang terkait dengan
jalannya pembelajaran.
Aspek-aspek esensial yang dimaksud antara lain :

21
1. Pengaturan Kelas
Pengaturan kelas adalah pengaturan seting tempat duduk dalam
kelompok dan antar kelompok. Meskipun pebelajar bekerja dalam
seting kelompok, dalam menuangkan jawaban di lembar kerja
pebelajar harus menuliskan dengan bahasa mereka sendiri. Selain itu,
salah satu tahapan sentral dalam pembelajaran ini adalah pengajuan
pertanyaan yang logis dan disertai argumen oleh pebelajar. Pertanyaan
itu merupakan penentu isi dan arah pembelajaran pada fase
selanjutnya. Agar pertanyaan yang representatif dari pebelajar cepat
dapat ditemukan, maka harus ada akses langsung dari guru kepada
setiap pebelajar. Untuk keperluan itu, maka posisi duduk pebelajar
dalam kelompok diatur menyerupai huruf U.

Gambar 2. 1 Seting tempat duduk dalam kelompok


2. Pemberian Bantuan
Pengerjaan tugas-tugas dalam lembar kerja dilakukan oleh
pebelajar secara kelompok. Walaupun bekerja kelompok, masih
mungkin ada hal-hal yang belum sepenuhnya dipahami atau belum
bisa diputuskan. Jika pebelajar bertanya atau meminta bantuan kepada
guru, maka jawaban atau bantuan yang diberikan tidak bersifat final,

22
tetapi hanya berupa ”clue”. Sedangkan pertanyaan yang sifat
substansial sepenuhnya menjadi tanggung jawab pebelajar.
Dalam meminta bantuan, tidak tertutup kemungkinan masalah
yang ditanyakan pebelajar adalah masalah pokok dalam bahasan itu.
Jika pertanyaan pebelajar dipandang sebagai salah satu masalah pokok,
maka pebelajar diminta menuliskan pertanyaan itu pada tempat yang
tersedia dan menjadikanya bahan diskusi pada fase diskusi. Sedangkan
jika arah inkuiri pebelajar dinilai ‚menyimpang maka guru dapat
meminta mereka membaca kembali dengan cermat perintah atau
pertanyaan dalam lembar kerja. Secara prinsip, bantuan yang diberikan
guru tidak melemahkan interaksi antar pebelajar, tidak mereduksi rasa
ingin tahu pebelajar, dan tidak menghilangkan orisinalitas pemikiran
pebelajar.
3. Penunjukan pebelajar yang bertanya dan Manajemen Pertanyaan
Untuk menentukan pebelajar yang akan mengajukan
pertanyaan, maka selama pebelajar mengerjakan aktivitas Inkuiri, guru
berkeliling untuk melihat langsung hasil aktivitas serta pertanyaan
yang ditulis pebelajar. Dalam berkeliling ini guru mencatat pebelajar
yang akan ditunjuk mengajukan pertanyaan serta pertanyaan yang
harus diajukan. Agar waktu untuk membahas pertanyaan memadai,
maka cukup dicari tiga pebelajar dan tiap-tiap pebelajar mengajukan
satu pertanyaan. Jika masih ada pertanyaan pebelajar yang memenuhi
kategori logis, disertai argumen, dan representatif tetapi tidak terbahas
dalam pembelajaran.
Pengajuan pertanyaan oleh pebelajar dilakukan dengan cara
menulis pertanyaan itu di papan tulis. Sedangkan argumen yang
mendasari pertanyaan itu disampaikan secara lisan. Untuk memastikan
bahwa pertanyaan yang diajukan itu telah dipahami dengan baik oleh
seluruh kelas, maka guru melakukan klarifikasi kepada seluruh kelas.

23
Setelah seluruh kelas memahami isi dan maksud pertanyaan yang telah
‚disajikan di papan, maka kegiatan belajar selanjutnya adalah
pembahasan pertanyaan itu melalui diskusi kelompok.
4. Pengaturan Diskusi
Diskusi ini terdiri dari dua sesi, yaitu diskusi dalam kelompok
dan diskusi kelas. Tujuan utama dari diskusi kelompok adalah untuk
penghalusan pengetahuan pebelajar yang diperoleh pada kegiatan
inkuiri. Dalam diskusi kelompok, setiap anggota kelompok harus
berkontribusi. Selain itu, meskipun ide jawaban pertanyaan itu telah
dipikirkan secara kelompok, tetapi finalisasi jawaban itu dilakukan
secara mandiri. Dengan proses diskusi seperti ini, setiap anggota
kelompok akan mempunyail dua tanggung jawab, yaitu tanggung
jawab kelompok dan tanggung jawab individu. Selain itu, unjuk kerja
pebelajar dalam lembar kerja akan diperhitungkan dalam pengukuran
penguasaan materi. Karena itu, penyelesaian masalah yang dituliskan
dalam lembar kerja harus mencerminkan perolehan pengetahuan atau
penguasaan kompetensi yang dicapai oleh setiap individu.
Selesai diskusi kelompok, kegiatan belajar selanjutnya
diarahkan pada diskusi kelas. Diskusi kelas ini bertujuan untuk
membangun rasa percaya diri, kemampuan dalam berkomunikasi dan
berargumen, serta kemampuan meyakinkan orang lain. Kemampuan-
kemampuan itu merupakan kemampuan yang sangat penting bagi
calon guru karena mereka dituntut untuk dapat mengomunikasikan
ide-ide matematika secara fasih dan dengan pembahasaan yang
sederhana. Disamping itu diskusi kelas ini juga bertujuan untuk
meyakinkan setiap individu tentang ‚kebenaran yang diperoleh dalam
keseluruhan proses belajar. Untuk mencapai tujuan itu, maka diskusi
kelas diatur dengan mekanisme berikut;
1. Satu kelompok mempresentasikan hasil kelompok kepada kelas.

24
2. Pebelajar lainya mengamati presentasi itu secara cermat.
3. Individu atau kelompok lain menyampaikan tanggapan (tambahan,
pertanyaan, contoh penyangkal, pemikiran atau cara lain, dan
sebagainya).
4. Kelompok penyaji ‚mencatat tanggapan-tanggapan yang masuk.
5. Kelompok penyaji mencermati kembali jawaban atau penjelasan
yang telah disajikan.
6. Guru memberi waktu pebelajar untuk mencatat hal-hal penting,
unik, atau baru yang muncul dalam diskusi itu.
Jika waktu yang dialokasikan tidak mencukupi untuk
membahas seluruh pertanyaan yang terpilih, maka dosen memberikan
‚clue‛ untuk finalisasi penyelesaian pertanyaan-pertayaan itu. Proses
finalisasi penyelesaiannya dijadikan sebagai tugas mandiri dan ditagih
pada pertemuan berikutnya.
2.5 Penilaian dan Evaluasi
2.5.1 Discovery Learning
Dalam model pembelajaran Discovery Learning, penilaian dapat
dilakukan dengan menggunakan tes maupun non tes, sedangkan penilaian
yang digunakan dapat berupa penilaian kognitif, proses, sikap, atau
penilaian hasil kerja peserta didik. Jika bentuk penialainnya berupa
penilaian kognitif, maka dalam model pembelajaran discovery learning
dapat menggunakan tes tertulis. Jika bentuk penilaiannya menggunakan
penilaian proses, sikap, atau penilaian hasil kerja peserta didik, maka
pelaksanaan penilaian dapat menggunakan contoh-contoh format
penilaian seperti tersebut di bawah ini.
1. Penilaian Tertulis (tes)
Penilaian tertulis merupakan tes dimana soal yang diberikan
kepada peserta didik dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal,
peserta didik tidak merespon dalam bentuk menulis jawaban tetapi

25
dapat juga dalam bentuk yang lain seperti memberi tanda, mewarnai,
menggambar, dan lain sebagainya. Ada dua bentuk soal tes tertulis,
yaitu:
a. Soal dengan memilih jawaban.
i. pilihan ganda
ii. dua pilihan (benar-salah, ya-tidak)
iii. menjodohkan
b. Soal dengan mensuplai jawaban.
i. isian atau melengkapi
ii. jawaban singkat
iii. soal uraian
Dari berbagai alat penilaian tertulis, tes memilih jawaban benar
salah, isian singkat, dan menjodohkan merupakan alat yang hanya
menilai kemampuan berpikir rendah, yaitu kemampuan mengingat
(pengetahuan). Tes pilihan ganda dapat digunakan untuk menilai
kemampuan mengingat dan memahami. Pilihan ganda mempunyai
kelemahan, yaitu peserta didik tidak mengembangkan sendiri
jawabannya tetapi cenderunghanya memilih jawaban yang benar dan
jika peserta didik tidak mengetahui jawaban yang benar, maka peserta
didik akan menerka.
Hal ini menimbulkan kecenderungan peserta didik tidak belajar
untuk memahami pelajaran tetapi menghafalkan soal dan jawabannya.
Alat penilaian ini kurang dianjurkan pemakaiannya dalam penilaian
kelas karena tidak menggambarkan kemampuan peserta didik yang
sesungguhnya. Tes tertulis bentuk uraian adalah alat penilaian yang
menuntut peserta didik untuk mengingat, memahami, dan
mengorganisasikan gagasannya atau hal-hal yang sudah dipelajari,
dengan cara mengemukakan atau mengekspresikan gagasan tersebut
dalam bentuk uraian tertulis dengan menggunakan kata-katanya

26
sendiri. Alat ini dapat menilai berbagai jenis kemampuan, misalnya
mengemukakan pendapat, berpikir logis, dan menyimpulkan.
Kelemahan alat ini antara lain cakupan materi yang ditanyakan
terbatas.
Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu
dipertimbangkan hal-hal berikut:
a) materi, misalnya kesesuian soal dengan indikator pada kurikulum
b) konstruksi, misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan
tegas
c) bahasa, misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/ kalimat
yang menimbulkan penafsiran ganda
2. Penilaian proses

No Aspek 3 2 1

1 Kemampuan mengidentifikasi
masalah

2 Pemilihan sumber
informasi(referensi) sebagai dasar
penemuan

3 Pemilihan Strategi penyelesaian


masalah

4 Pemilihan metode pencarian data

5 Cara pengolahan data

6 Cara penarikan kesimpulan


berdasarkan data

7 Kualitas simpulan yang diajukan

27
8 Kegunaan simpulan dalam
menyelesaikan masalah (terkait
KD)/efektifitas

9 Presentasi hasil penemuan

Total skor

3. Penilaian sikap
No Aspek yang dinilai 3 2 1
1 Menunjukkan rasa ingin
tahu
2 Menunjukkan ketekunan
dan bertanggung jawab
dalam belajar dan bekerja
baik secara individu
maupun berkelompok
Total skor

4. Penilaian hasil kerja


Input Proses Output/Hasil Nilai

5. Penilaian Diri
Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian,
subyek yang ingin dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri

28
berkaitan dengan, status, proses dan tingkat pencapaian kompetensi
yang dipelajarinya dalam mata pelajaran tertentu. Teknik penilaian diri
dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan
dengan kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dalam proses
pembelajaran di kelas, berkaitan dengan kompetensi kognitif,
misalnya: peserta didik dapat diminta untuk menilai penguasaan
pengetahuan dan keterampilan berpikir sebagai hasil belajar dalam
mata pelajaran tertentu, berdasarkan kriteria atau acuan yang telah
disiapkan. Berkaitan dengan kompetensi afektif, misalnya, peserta
didik dapat diminta untuk membuat tulisan yang memuat curahan
perasaannya terhadap suatu obyek sikap.
Proses penilaian dalam penerapan Model Pembelajaran
Discovery Learning atau Penemuan selain menggunakan jenis
penilaian tertulis dan penilian diri, dapat juga dilakukan melalui
penilaian kinerja, penilaian produk dan penilaian sikap.
2.5.2 Inquiry
Lewellyn (Laksana, 2017) dalam Laksana dan Dasna menjelaskan
bahwa mengembangkan sebuah budaya kelas inkuiri dan berargumentasi
memberikan kesempatan yang baik bagi guru untuk melibatkan peserta
didik dalam penalaran ilmiah, pengambilan keputusan. Tahapan inkuiri
yang penting untuk dilakukan adalah melakukan penilaian. Penilaian
merupakan alat untuk memberikan keputusan dan selanjutnya dapat
dijadikan dasar evaluasi pembelajaran.
Penilaian yang dilakukan dalam pembelajaran dengan strategi
inkuiri adalah penilaian kinerja ilmiah. Untuk melakukan penilaian, guru
dapat menggunakan lembar observasi atau lembar penilaian untuk setiap
aspek penilaian. Masinng-masing aspek yang dinilai dapat menggunakan
rentangan skor sesuai dengan yang memberikan penilaiannya. Rentangan
skor yang paling mudah digunakan adalah “ya” dan “tidak”. Skor lain

29
yang sering dipakai adalah menggunakan skala Linkert seperti : 1 =
kurang, 2 = cukup, dan 3 = baik. Cara lain juga menggunakan rentangan 1
sampai 5; 1 = sangat kurang, 2 = kurang, 3 = cukup, 4 = baik dan 5 =
sangat baik. Masing-masing yang disebutkan berikut dapat menggunakan
rentangan skor yang dipilih. Beberapa aspek pada penilaian dalam model
Inquiry Based Learning (IBL) dalam Laksana, Dasna.
1. Penilaian pada aspek mengidentifikasi masalah
Setelah guru menyajikan fakta yang akan diselidiki secara
inkuiri, peserta didik akan diminta membuat pertanyaan penelitian
(research questions) atau rumusan masalah. Pertanyaan-pertanyaan
tersebut dinilai oleh guru apakah dapat diterima sebagai pertanyaan
yang terkait masalah atau belum. Indikator-indikator yang dapat dinilai
sebagai berikut.
Tabel 1. Indikator penilaian pertanyaan penyelidikan
N Indikator Ya Tidak
o

1 Pertanyaan mengarah pada jawaban


Ya dan Tidak
2 Berhubungan dengan masalah yang
akan dapat diselidiki
3 Memuat hubugan antar variable
4 Dapat diukur/diuji dengan melalui
percobaan
5 Dibuat dalam bentuk kalimat Tanya
2. Penilaian pada aspek mengamati
Mengamati merupakan kegiatan penting pada kegiatan inkuiri.
Dalam proses pengamatan itu peserta didik menggunakan indera. Pada

30
materi yang terkait dengan Sains, pengamatan juga disertai
pengukuran. Misalnya mengukur berat suatu benda dengan timbangan,
maka peserta didik harus dapat membaca skala timbangan dengan
benar. Peserta didik mengamati kejadian demi kejadian secara teliti
untuk mengetahui “apa”, “mengapa”, “oleh siapa” dan sebagainya.
Oleh sebab itu, guru harus dapat menilai pengamatan yang dilakukan
oleh peserta didik. Indikator-indikator penilaian kegiatan pengamatan
disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2. Indikator penilaian pengamatan
Skor
No Indikator 1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)
1. Mengamati dengan menggunakan panca indera
yang relevan
2. Membaca hasil pengukuran dengan alat ukur
3. Mengamati secara cermat dan teliti
4. Mengutamakan keselamatan kerja ketika
mengamati
5. Mencatat hasil pengamatan dengan jujur

3. Penilaian pada aspek mengajukan pertanyaan


Mengajukan pertanyaan merupakan tahap yang penting dalam
pembelajaran inkuiri. Pertanyaan yang diajukan oleh guru adalah
untuk mendorong subyek didik bertanya tentang konsep, prinsip, atau
hubungan antara variabel yang terkait dengan konsep, prinsip, atau
teori. Peserta didik akan mengajukan pertanyaan tentang hubungan
antar variabel yang terkait dengan fakta atau masalah yang disajikan
oleh guru.

31
Kualitas pertanyaan peserta didik sangat penting dinilai oleh
guru. Pertanyaan yang diajukan harus dapat menunjukkan tingkat
berpikir peserta didik. Pertanyaan tentang pengetahuan, pemahaman,
penerapan, analisis, evaluasi, dan sintesis (mencipta). Makin tinggi
tingkatan pertanyaan yang diajukan peserta didik menunjukkan makin
tinggi kemampuan berpikirnya dan kemampuan berpikir kritisnya.
Ketrampilan berpikir tingkat tinggi atau kemampuan berpikir kritis
harus terus dilatih agar peserta didik dapat mengembangkan
argumentasi yang rasional berdasarkan fakta dan data yang
dimilikinya. Penilaian pertanyaan-pertanyaan yang perlu dinilai oleh
guru disajikan pada Tabel 3.
Tabel 3. Indikator penilaian pengajuan pertanyaan
No Skor
Indikator 1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)
1. Pertanyaan terkait dengan masalah yang diamati
atau kejadian yang disajikan
2. Pertanyaan mengarah pada jawaban divergen
atau jawabannya memerlukan penyidikan
3. Pertanyaan mengandung hubungan antar variable
4. Pertanyaan rasional, logis, atau nalar
5. Pertanyaan berdasarkan pengetahuan awal dan
teori yang telah dipelajari

Indikator-indikator penilaian tersebut dapat ditambahkan oleh


guru bergantung pada konteks masalah yang disajikan. Untuk dapat
mengajukan pertanyaan perlu dilatih oleh guru. Bila peserta didik

32
mengalami kesulitan dapat memberikan contoh, atau memberikan
kata-kata kunci yang harus ada dalam pertanyaan.
4. Penilaian pada aspek membuat hipotesis
Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, hipotesis merupakan
jawaban sementara atas pertanyaan penyelidikan yang telah
ditetapkan. Jawaban sementara itu dibuat tidak semata-mata
berdasarkan dugaan tetapi berdasarkan hasil kajian. Peserta didik
dapat menggunakan sumber-sumber belajar yang dimiliki atau
menelusuri dari internet. Penilaian hipotesis disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Indikator penilaian hipotesis

No Skor
N Indikator 1 2 3
o (kurang) (cukup) (baik)
1. Hipotesis didasarkan atas kajian teori
2. Hipotesis dapat diukur atau diuji dengan data
3. Mengandung jawaban yang tidak menyimpulkan
(ada alternatif jawaban)
4. Jawaban hipotesis diperoleh dari induktif

5. Penilaian pada aspek merencanakan percobaan


Setelah peserta didik bersama guru menetapkan pertanyaan
penyelidikan atau sering pula disebut rumusan masalah, kegiatan
berikutnya adalah merancang percobaan untuk menjawab pertanyaan
penyelidikan dan hipotesis yang ditetapkan. Perencanaan percobaan
harus mengacu pada variabel-variabel yang berubah dan yang
dikontrol. Misalnya untuk mengetahui kecepatan tumbuh suatu
tumbuhan yang ditanam pada medium (tanah) yang berbeda maka
umur tumbuhan harus sama. Umur tumbuhan tersebut disebut variabel

33
kontrol sedangkan mediumnya merupakan variabel bebas yang akan
dimanipulasi. Oleh sebab itu, penilaian yang dilakukan oleh guru
harus mengacu pada apakah percobaan yang dirancang dapat
mengumpulkan data terhadap variabel yang diubah dan variabel yang
disebabkan. Indikator-indikator yang dapat digunakan disajikan pada
Tabel 5.
Tabel 5. Indikator penilaian pada kegiatan merancang percobaan
No Indikator Skor
1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)
1. Mencakup variabel-variabel yang dimanipulasi
2. Mencakup variabel-variabel yang dikontrol
3. Alat-alat yang digunakan aman tetapi relevan
4. Bahan-bahan yang digunakan tidak
membahayakan
5. Data yang diperoleh terukur dan dibandingkan
6. Langkah-langkah kerja urut dan dapat dikerjakan
7. Prosedur ditulis sistematis
6. Penilaian pada aspek melakukan percobaan
Percobaan merupakan kegiatan penting yang melibatkan peserta didik
secara langsung untuk melakukan aktivitas. Pada saat melakukan percobaan,
peserta didik belajar ketrampilan proses seperti mengukur, mengamati,
mengontrol variabel, teliti, cermat, menggunakan alat dengan benar, dan
menggunakan bahan secara efesien. Ketrampilan-ketrampilan ini sangat
penting untuk menyiapkan peserta didik sebagai calon ilmuan atau tenaga
kerja yang profesional di masa depan.
Penilaian yang harus dilakukan guru ketika peserta didik melakukan
percobaan terkait dengan ketrampilan-ketrampilan (psikomotor) yang dengan

34
apa yang dikerjakannya dan bagaimana mengerjakannya. Percobaan yang
dilakukan akan terkait dengan penggunaan alat dan bahan sehingga penilaian
juga terkait dengan hal itu. Beberapa indikator yang dapat digunakan acuan
dalam penilaian percobaan disajikan pada Tabel 6.
Tabel 6. Indikator penilaian percobaan
No Skor
N Indikator 1 2 3
o (kurang) (cukup) (baik)
1. Pemilihan alat-alat yang diperlukan dengan benar
2. Penggunaan bahan sesuai dengan prosedur
3. Alat-alat digunakan atau dioperasikan dengan
benar
4. Memanipulasi variabel-variabel percobaan
(factor yang berubah dan faktor yang dikontrol)
dengan benar
5. Melakukan percobaan sesuai dengan prosedur
kerja yang ditetapkan
6. Menggunakan waktu secara efesien
7. Kebersihan alat-alat sebelum digunakan
8. Kebersihan alat-alat setelah digunakan
9. Keselamatan kerja dalam melakukan percobaan
10. Kejujuran mencatat hasil pengamatan
7. Penilaian pada aspek menganalisis data
Analisis data merupakan kegiatan penting dalam kegiatan
inkuiri. Setelah percobaan dilakukan maka data yang telah
dikumpulkan harus diolah oleh peserta didik. Pengolahan data
meliputi: pembuatan tabel, pembuatan grafik, menghitung rerata,
menentukan kecenderungan, dan menguji adanya hubungan atau

35
perbedaan. Oleh sebab itu, kegiatan analisis data harus dimonitor
dengan cermat oleh guru agar data yang dianalisis mengarah pada
pengujian hipotesis yang dibuat. Hasil analisis data akan menentukan
apakah hipotesis yang ditetapkan benar atau salah. Indikator- indikator
penilaian analisis data disajikan pada Tabel 7.
Tabel 7. Indikator penilaian analisis data
No Skor
Indikator 1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)
1. Data dikelompokkan dalam tabel (bila relevan)
2. Data dibuat dalam bentuk grafik
3. Data dianalisis untuk menunjukkan
kecenderungan
4. Data dianalisis menunjukkan perbedaan
5. Data yang dianalisis menunjukkan hubungan
6. Analisis data menguji hipotesis yang dibuat
8. Penilaian pada aspek membuat kesimpulan dan generalisasi
Data yang dikumpulkan dan dianalisis digunakan untuk
menjawab pertanyaan penelitian atau membuaktikan hipotesis yang
dibuat. Setelah hipotesis tersebut terbukti atau tidak terbukti maka
subyek didik akan membuat kesimpulan dan generalisasi. Kesimpulan
yang dibuat harus dapat menunjukkan konsep atau hubungan antar
konsep yang tercakup dalam materi yang dipelajari. Indikator
penilaian yang dapat digunakan untuk menilai kesimpulan yang dibuat
oleh peserta didik disajikan pada Tabel 8.

36
Tabel 8. Indikator penilaian kesimpulan
Skor
No Indikator 1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)
1. Menunjukkan hubungan antar konsep yang
tercakup dalam masalah yang dibahas
2. Kesimpulan yang logis dan menunjukkan
penalaran Ilmiah
3. Relevan dengan data yang dikumpulakan
4. Dituliskan dalam rumusan kesimpulan yang
mudah dipahami
9. Penilaian pada aspek berkomunikasi
Hasil penyelidikan yang dilakukan oleh peserta didik harus dikomunikasikan
dan dilaporkan kepada teman-teman sekelasnya. Oleh sebab itu, komunikasi
dalam hal ini mencakup laporan kegiatan yangdibuat dalam bentuk poster
atau makalah. Laporan dapat dikomunikasikan dalam bentuk presentasi oral
menggunakan media seperti power point. Laporan dalam bentuk poster akan
dipajang atau ditempelkan dikelas sehingga semua peserta didik dapat
mengamati dan memberikan komentarnya.
Untuk menilai laporan dalam bentuk makalah atau poster, guru harus
menggunakan lembar penilaian yang disertai dengan rubrik penialian. Guru
dapat mengembangkan lembar penilaian dari contoh-contoh indikator yang
disajikan pada Tabel 9.
Tabel 9. Indikator penilaian komunikasi hasil penyelidikan
No Indikator Skor
1 2 3
(kurang) (cukup) (baik)

37
1. Laporan hasil dibuat dengan struktur laporan
yang ditetapkan
2. Laporan ditulis dengan tata tulis ilmiah
3. Kebenaran isi
4. Laporan dipresentasikan secara singkat dan jelas
5. Presentasi menarik
6. Presentasi disampaiakn dengan lancar
7. Penguasaan materi (kemampuan menjawab
pertanyaan)
8. Ketepatan atau pengelolaan waktu
Penilaian dalam kegiatan belajar dengan inkuiri sangat penting dilakukan
guru agar peserta didik bekerja dengan sungguh-sungguh dan tujuan
pembelajaran dapat tercapai. Pembelajaran dengan inkuiri harus
direncanakan dengan baik agar pelaksanaan pembelajaran sesuai dengan
tujuan pembelajaran. Demikian juga penilaian pembelajaran harus
disampaikan kepada peserta didik sebelum pembelajaran inkuiri dimulai agar
mereka mengetahui indikator-indikator yang akan dinilai ketika mereka
melakukan aktivitas.
2.6 Kelebihan dan Kekurangan Discovery Learning dan Inquiry Learning
1. Discovery Learning
Kelebihan Discovery Learning
Menurut Mulyasa (2014 : 144) terdapat beberapa kelebihan dari model
discovery learning, diantaranya :
1. Membantu peserta didik untuk memperbaiki dan meningkatkan
ketarampilan-keterampilan dan proses kognitif.
2. Dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
masalah (problem solving).

38
3. Strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang dengan cepat
dan sesuai dengan kecepatan yang dimilikinya.
4. Menyebabkan peserta didik megarahkan kegiatan belajarnya sendiri
dengan melibatkan akal dan motivasi yang dimilikinya.
5. Peserta didik akan mengerti konsep dasar dan ide-ide dengan lebih
baik.
6. Membantu dan mengembangkan ingatan dan transfer pada situasi
proses belajar yang baru.
7. Mendorong pesertaa didik berpikir dan bekerja atas inisiatif dirinya
sendiri.
8. Mendorong peserta didik berfikir secara intuisi dan merumuskan
hipotesis sendiri.
9. Menimbulkan rasa senang pada peserta didik, karena penyelidikan
yang dilakukannya berhasil.
10. Mendorong keterlibatan aktif peserta didik dalam pross pembelajaran.
11. Dapat mengembangkan bakat dan kecakapan individu.
12. Melatih peserta didik untuk belajar secara mandiri.
Kelemahan Discovery Learning
Menurut Kemendikbud (2013 : 5-6) terdapat beberapa kelemahan dari
model discovery learning, diantaranya :
1. Metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada kesiapan pikiran untuk
belajar. Bagi peserta didik yang kurang pandai akan mengalami
kesulitan berfikir secara absrak atau mengungkapkan hubungan-
hubungan antar konsep-konsep baik yang secara tertulis maupun secara
lisan sehingga pada saat gilirannya berpotensi menimbulkan frustasi.
2. Metode ini tidak efisien untuk mengajar dengan jumlah peserta didik
yang banyak, karena membutuhkan waktu lama untuk membantu
mereka menemukan teori atau pemecahan masalah lainnya.

39
3. Harapan-harapan yang terkandung dalam model ini akan tidak tercapai
jika guru maupun peserta didik sudah terbiasa dengan model
pembelajaran yang lama.
4. Model discovery learning lebih cocok untuk mengembangkan
pemahaman, sedangkan mengembangkan aspek konsep, keterampilan
dan emosi secara keseluruhan kurang mendapat perhatian.
2. Inquiry Learning
Kelebihan inquiry learning
Menurut sanjaya (2010 : 208) model inkuiri memiliki beberapa kelebihan,
diantaranya :
1. Model inkuiri merupakan model pembelajaran yang menekankan kepada
pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang
sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
2. Model inkuiri memberikan ruang kepada peserta didik untuk belajar
sesuai dengan gaya belajar mereka
3. Model inkuiri merupakan model yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar adalah
proses perubahan tingkah laku
4. Keuntungan lain adalah model pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan
peserta didik yang memiliki kemampuan diatas rata-rata. Artinya, peserta
didik yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak akan terlambat
oleh peserta didik yang lemah dalam belajar.
Kekurangan inquiry learning
Setiap model pembelajaran pasti memiliki kelemahan. Menurut sanjaya (
2010 : 208) terdapat kelemahan pada model pembelajaran inkuiri,
diantaranya:
1. Jika digunakan sebagai strategi pembelajaran, guru akan mengalami
kesulitan untuk mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik.

40
2. Strategi ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur
dengan kebiasaan peserta didik dalam belajar.
3. Kadang-kadang dalam mengimplementaskannya memerlukan waktu yang
panjang sehingga sering guru mengalami kesulitan untuk menyesuaikan
dengan waktu yang sudah ditentukan
4. Selama kriteria keberhasilan belajar ditentukan oleh kemampuan-
kemampuan peserta didik menguasai materi pembelajaran,maka strategi
pembelajaran inkuiriakan sulit diimplementasikan oleh guru.

2.7 Perbedaan Discovery Learning dan Inquiry Learning


Tabel Persamaan dan Perbedaan Discovery Learning dengan Inquiry Learning
No. Indikator Model Pembelajaran
Discovery Learning Inquiry Learning
1. Dominasi Sumber Belajar Mandiri Mandiri
Peserta didik
2. Jenis Tugas Kelompok atau Kelompok atau
individu individu
3. Konten Pembelajaran Masalah Baru Masalah yang
yang Diangkat dalam sudah ada
Pembelajaran
4. Tujuan Utama Berpikir kreatif dan Berpikir kritis
Pembelajaran inovatif
5. Proses Penilaian Kontinyu Satu Waktu
6. Jenis Evaluasi Penilaian Kualitatif atau Kualitatif atau
Kuantitatif Kuantitatif
7. Biaya dan Peralatan yang Lebih banyak Sedikit
Dibutuhkan

41
8. Teknis dan Sistematika Peserta didik bebas Diarahkan oleh
Pembelajaran berekperimen guru
9. Peran Guru Pembimbing Moderator
10. Pendekatan yang Dipakai Multi disipliner Multi disipliner
untuk Memecahkan
Masalah

42
BAB III
KESIMPULAN
3.1 Kesimpulan
1. Model pembelajaran discovery learning adalah suatu model pembelajaran
yang mengarahkan peserta didik untuk menemukan sendiri pemahaman yang
harus dicapai sehingga peserta didik dituntut untuk terlibat aktif dalam
menemukan konsep atau prinsip yang belum diketahui sebelumnya dengan
tetap dibimbing dan diawasi oleh guru. Sedangkan model pembelajaran
inkuiri adalah suatu rangkaian kegiatan belajar yang berorientasi pada proses
dan berpusat pada peserta didik yang melibatkan secara maksimal seluruh
kemampuan peserta didik untuk mencari dan menyelidiki secara sistematis,
kritis, logis dan analitis sehingga peserta didik dapat merumuskan sendiri
penemuannya dengan rasa penuh percaya diri.
2. Tujuan dari model pembelajaran discovery learning adalah peserta didik
memiliki kesempatan untuk terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran
dalam proses penemuan, peserta didik belajar menemukan pola dalam situasi
konkret maupun abstrak, Peserta didik juga belajar merumuskan strategi tanya
jawab untuk memperoleh informasi yang bermanfaat dalam menemukan,
membantu peserta didik membentuk cara kerja sama yang efektif, terdapat
fakta bahwa belajar menggunakan model pembelajaran discovery learning
lebih bermakna, dan keterampilan yang dipelajari dalam situasi discovery
learning lebih mudah diaplikasikan dalam situasi belajar yang baru.
Sedangkan model pembelajaran inkuiri mempunyai tujuan yaitu menolong
peserta didik untuk mengembangkan disiplin intelektual dan keterampian
berpikir dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan dan mendapatkan
jawaban atas dasar rasa ingin tahu mereka.
3. Karateristik dari model pembelajaran discovery learning adalah pembelajaran
yang dilakukan berpusat pada peserta didik yang mana peserta didik harus
memecahkan sendiri permasalahan yang ada dengan cara menghubungkan

43
pengetahuan yang sudah dimiliki peserta didik sebelumnya dan pengetahuan
yang baru dimiliki oleh peserta didik. Sedangkan karateristik model
pembelajaran inkuiri adalah pembelajaran inkuiri menekankan kepada
aktivitas peserta didik secara maksimal untuk mencari dan menemukan,
Seluruh aktivitas yang dilakukan peserta didik diarahkan untuk mencari dan
menemukan sendiri jawaban dari sesuatu yang dipertanyakan,
mengembangkan kemampuan berpikir secara sistematis, logis dan kritis atau
mengembangkan kemampuan intelektual sebagai bagian dari proses mental.
4. Berikut adalah langkah-langkah dalam model pembelajaran discovery
learning
Fase Kegiatan Guru
Fase 1 : Stimulation Guru memberi peserta didik suatu masalah yang
(Stimulasi / Pemberian membingungkan agar peserta didik mampu untuk
Rangsangan) menyelidiki sendiri. Selain itu, guru dapat memulai
kegiatan proses pembelajaran dengan mengajukan
pertanyaan, anjuran membaca buku dan aktivitas
belajar lainnya yang mengarah pada persiapan
pemecahan masalah.
Fase 2 : Problem Statement Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
(Pernyataan / Identifikasi mengidentifikasi sebanyak mungkin agenda masalah
masalah) yang relevan dengan bahan ajar, kemudian salah
satunya dipilih dan dirumuskan dalam bentuk
hipotesis.
Fase 3 : Data Collection Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
(Pengumplan Data) mengumpulkan informasi yang relevan sebanyak-
banyaknya. Pada tahap ini berfungsi untuk
mengumpulkan (collection) berbagai informasi.
Fase 4 : Data Processing Guru meminta peserta didik untuk mengolah data dan

44
(Pengolahan Data) informasi yang diperoleh peserta didik.
Fase 5 : Verification Guru meminta peserta didik untuk melakukan
(Pembuktian) pemeriksaan secara cermat untuk membuktikan benar
atau tidaknya hipotesis yang telah ditetapkan dengan
temuan alternatif, kemudian dihubungkan dengan hasil
dan processing.
Fase 6 : Generalization Guru meminta peserta didik untuk menarik kesimpulan
(menarik kesimpulan /
generalisasi)

Berikut adalah langkah-langkah dari model pembelajaan inkuiri


Fase Kegiatan
Fase 1 : Orientasi Guru mengorganisasikan peserta didik agar siap
melaksanakan pembelajaran. Guru mengajak peserta
didik untuk berpikir memecahkan masalah.
Fase 2 : Merumuskan Peserta didik diminta untuk berpikir memecahkan
Masalah masalah dan mencari jawaban yang tepat.
Fase 3 : Merumuskan Peserta didik diminta untuk merumuskan hipotesis dari
Hipotesis permasalahan yang diberikan.
Fase 4 : Mengumpulkan Guru mengajukan pettanyaan-pertanyaan yang dapat
data mendorong peserta didik untuk berpikir mencari
informasi yang dibutuhkan dan peserta didik diminta
untuk mengumpulkan datadari informasi yang
diperoleh.
Fase 5 : Menguji Hipotesis Guru meminta peserta didik untuk menguji hipotesis
yang telah dirumuskan tadi. Menguji hipotesis ini
diperoleh dari pengumpulan data dan informasi yang
telah diperoleh.

45
Fase 6 : Merumuskan Guru meminta peserta didik untuk merumusakn
Kesimpulan kesimpulan dari hasil pengujian hipotesis.

5. Landasan teoritik model pembelajaran discovery learning adalah menurut teori


belajar Piaget, teori Bruner, dan teori konstruktivisme dan landasan empiric
model pembelajaran discovery learning adalah berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan dapat disimpulkan bahwa penerapan pembelajaran dengan metode
discovery learning dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik.
Sedangkan landasan teoritik model pembelajaran inkuiri adalah secara alami
manusia mempunyai kecenderungan untuk selalu mencari tahu akan segala
sesuatu yang menarik perhatiannya, Mereka akan menyadari keingintahuan akan
segala sesuatu tersebut dan akan belajar untuk menganalisis strategi berpikirnya
tersebut, Strategi baru dapat diajarkan secara langsung dan
ditambahkan/digabungkan dengan strategi lama yang telah dimiliki peserta didik,
Penelitian kooperatif (cooperative inquiry) dapat memperkaya kemampuan
berpikir dan membantu peserta didik belajar tentang suatu ilmu dan landasan
empirik model pembelajaran inkuiri adalah Berdasarkan hasil penelitian dan
pembahasan bahwa penerapan model pembelajaran inkuiri dengan pendekatan
saintifik dapat meningkatkan keterampilan abstrak.
6. Dalam model pembelajaran discovery learning terdapat tugas perencanaan yaitu
tugas yang harus dilakukan sebelum pembelajaran berlangsung meliputi:
menentukan tujuan pembelajaran, melakukan identifikasi karateristik peserta
didik, memilih materi pelajaran, menentukan topic-topik yang harus dipelajari
peserta didik secara induktif, mengembangkan bahan-bahan belajar yang berupa
contoh-contoh, ilustrasi, tugas dan sebagainya untuk dipelajari peserta didik dan
tugas interaktif model pembelajaran discovery learning yaitu tugas yang
dilakukan saat pembelajaran berlangsung meliputi: stimulation
(stimulus/pemberian rangsang), problem statement (pernyataan/identifikasi

46
masalah), data collection (pengumpulan data), data processing (pengolahan data),
verification (pembuktian), generalization (menarik kesimpulan). Sedangkan tugas
perencanaan model pembelajaran inkuiri yaitu menentukan tujuan,
mengidentifikasi masalah yang sesuai dan tugas interaktif model pembelajaran
inkuiri yaitu orientasi, merumuskan masalah, merumuskan hipotesis,
mnegumpulkan data, menguji hipotesis, merumuskan kesimpulan.
7. Penilaian dalam model pembelajaran discovery learning meliputi penilaian
tertulis (tes), penilaian proses, penilaian sikap, penilaian hasil, dan penilaian diri.
Sedangkan penilaian dalam model pembelajaran inkuiri meliputi penilaian pada
aspek mengidentifikasi masalah, penilaian pada aspek mengamati, penilaian pada
aspek mengajukan pertanyaan, penilaian pada aspek membuat hipotesis, penilaian
pada aspek merencanakan percobaan, peniaian pada aspek melakukan percobaan,
penilaian pada aspek menarik kesimpulan, penilaian pada aspek berkomunikasi
8. Kelebihan model pembelajaran discovery learning : membantu peserta didik
untuk memperbaiki dan meningkatkan ketarampilan-keterampilan dan proses
kognitif, dapat meningkatkan kemampuan peserta didik untuk memecahkan
masalah (problem solving), strategi ini memungkinkan peserta didik berkembang
dengan cepat dan sesuai dengan kecepatan yang dimilikinya, peserta didik akan
mengerti konsep dasar dan ide-ide dengan lebih baik, mendorong pesertaa didik
berpikir dan bekerja atas inisiatif dirinya sendiri dana kelemahan model
pembelajaran discovery learning : metode ini menimbulkan asumsi bahwa ada
kesiapan pikiran untuk belajar, metode ini tidak efisien untuk mengajar dengan
jumlah peserta didik yang banyak. Sedangkan kelebihan model pembelajaran
inkuiri meliputi: model inkuiri merupakan model pembelajaran yang menekankan
kepada pengembangan aspek kognitif, afektif dan psikomotor secara seimbang
sehingga pembelajaran akan lebih bermakna, model inkuiri memberikan ruang
kepada peserta didik untuk belajar sesuai dengan gaya belajar mereka, model
pembelajaran ini dapat melayani kebutuhan peserta didik yang memiliki
kemampuan diatas rata-rata dan kelemahan model pembelajaran inkuiri meliputi:

47
jika digunakan sebagai strategi pembelajaran, guru akan mengalami kesulitan
untuk mengontrol kegiatan dan keberhasilan peserta didik, strategi ini sulit dalam
merencanakan pembelajaran oleh karena terbentur dengan kebiasaan peserta didik
dalam belajar, kadang-kadang dalam mengimplementaskannya memerlukan
waktu yang panjang sehingga sering guru mengalami kesulitan untuk
menyesuaikan dengan waktu yang sudah ditentukan
9. Persamaan dan perbedaan model pembelajaran discovery learning dan inquiry
learning adalah
No. Indikator Model Pembelajaran
Discovery Learning Inquiry Learning
1. Dominasi Sumber Belajar Mandiri Mandiri
Peserta didik
2. Jenis Tugas Kelompok atau Kelompok atau
Individu Individu
3. Konten Pembelajaran Masalah Baru Masalah yang
yang Diangkat dalam sudah ada
Pembelajaran
4. Tujuan Utama Berpikir kreatif dan Berpikir kritis
Pembelajaran Inovatif
5. Proses Penilaian Kontinyu Satu Waktu
6. Jenis Evaluasi Penilaian Kualitatif atau Kualitatif atau
Kuantitatif Kuantitatif
7. Biaya dan Peralatan yang Lebih banyak Sedikit
Dibutuhkan
8. Teknis dan Sistematika Peserta didik bebas Diarahkan oleh
Pembelajaran Berekperimen Guru
9. Peran Guru Pembimbing Moderator

48
10. Pendekatan yang Dipakai Multi disipliner Multi disipliner
untuk Memecahkan
Masalah

3.2 Saran
Guru dapat menggunakan model pembelajaran discovery learning dan inquiry
learning sebagai alternatif pengajaran sesuai dengan materi yang akan diajarkan.

49
DAFTAR PUSTAKA

Anitah Sri.(2009). TeknologiPembelajaran.Surakarta : Yuma Pustaka


Anonim . 2013. Model Pembelajaran Penemuan (Discovery Learning). Jakarta :
KEMENDIKBUD
Arends,R.2009.Learning to Teach.New York, America: Mc Graw-Hill
Dasna, I W., Laksana, D.N.L., & Sudhata, I G.W. (2015). Desain dan Model
Pembelajaran Inovatif dan Interaktif. Jakarta: Universitas Terbuka Press.
Dosen Pendidikan 2.2019.”Discovery Learning”.
https://www.dosenpendidikan.com/discovery-learning-pengertian-jenis-bentuk-
karakteristik-tujuan/. Diakses pada 15 Maret 2109
Elsy,Z..Macam Model Pembelajaran Inkuiri.
https://www.academia.edu/8538230/Macam_Model_Pembelajaran_Inkuiri.
diakses pada 15 Maret 2019
Emetembun.(1986). BlogspotPembelajaran Discovery.Jakarta :KencanaPrenada
Heru Suseno. 2016. Penerapan Model Inquiry Learning Dengan Pendekatan Saintifik
Untuk Meningkatkan Keterampilan Abstrak Dan Prestasi Belajar Fisika Peserta
didik Sma. Jurnal Edukasi Matematika dan Sains.
Hosnan.(2014). PendekatanSaintifikdanKontekstualdalamPembelajaran Abad
21.Bogor :Ghalia Indonesia
Hudoyono. 1990. Strategi Mengajar Belajar Matrematika. Malang: IKIP Malang
Ibrahim.(2007). InkuiriBerbasisBimbingan. Jakarta: AdipusakaMandiri.
Ismawati, Henik. (2007). MeningkatkanAktivitasdanHasilBelajarSains –
FisikaMelaluiPembelajaraInkuiriTerbimbingUntuk Sub
PokokBahasanPemantulanCahayaPadaPeserta didikKelas VIII SMP Negeri
13 Semarang TahunPelajaran 2006 / 2007.Semarang : UNNES

50
Kemendikbud.(2013). Model PembelajaranPenemuan (Discovery Learning)
BukuPanduan.Jakarta :Kemendikbud
___________. (2014). PeraturanMenteridanKebudayaanRepublik Indonesia nomor
103 tahun 2014 tentangKuriklum 2013 SekolahMenengahAtas / Madrasah
Aliyah
Mujati. 2017. Peningkatan Hasil Belajar Matematika Melalui Metode Discovery
Learning Pada Materi Konsep Keliling Dan Luas Bangun Datar Peserta didik
Kelas V A SD Negeri 009 Pulau Kijang Kecamatan Reteh. Jurnal Primary
Program Study Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Riau
Mulyasa. (2014). Guru dalamImplementasiKurikulum 2013. Bandung : PT
RemajaRosdakarya
Putrayasa.(2009). Model PembelajaranInkuiri.Bandung :RefikaAditama
Sanjaya, Wina. (2006). StrategipembelajaranBerorientasiStandar proses Pendidikan.
Jakarta :Kencana
Suprihatiningrum, Jamil. 2014. Strategi Pembelajaran. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Trianto.(2007). Model-model PembelajaranInoatifberorientasiKonstruktivistik.
Jakarta : PrestasiPustaka
Lefancois dalam Emetembun, 1986 : 103 (Emetembun.1986. Blogspot
pembelajaran Discovery.Jakarta : Kencana Prenada).
Wartono. 1999. Metode Pembelajaran. Jakarta : Depdikbud

51