Anda di halaman 1dari 26

TEKNIK PEMBESARAN UDANG VANAME ( Litopenaeus vannamei)

INTENSIF DI TAMBAK AL- BARAQAH


PROPOSAL
PRAKTEK KERJA LAPANG

Untuk Memenuhi Persyaratan


Salah Satu Tugas Akhir

DINA IZZAH KAMILA


NIM : 201710260311116

JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERTANIAN-PETERNAKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2019
HALAMAN PENGESAHAN

PROPOSAL PRAKTEK KERJA LAPANG

NAMA : DINA IZZAH KAMILA


NIM : 201710260311116
JURUSAN : Perikanan
FAKULTAS : Pertanian-Peternakan
JUDUL :Teknik Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus
vannamei) Intensif di Tambak Al- Baqarah

Proposal PKL telahditerimasebagaipersyaratanuntuktugasakhir


Program StudiBudidayaPerairanFakultasPertanian-Peternakan
UniversitasMuhammadiyah Malang

Mengesahkan,

Ketua Jurusan Perikanan Pembimbing,

Ganjar Adhywirawan S., S.Pi, MP Ganjar Adhywirawan S., S.Pi, MP


NIP: 11014100538 NIP: 11014100538

A.n. Dekan
PembantuDekan I,

Dr. Ir.ArisWinaya, MM.


M.Si.
NIP: 196405141990331002
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang mana dengan rahmat, taufik,
hidayah serta inayah-Nya saya dapat menyelesaikan proposal Praktek Kerja
Lapangan (PKL) dengan judul Teknik Pembesaran Udang Vaname
(Litopenaeusvannamei) Intensif Di Tambak Al-Baroqah.

Proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini dapat saya selesaikan


berkat bantuan dan bimbingan berbagai pihak baik secara moral dan spiritual
maka penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1) Bapak Dr. Ir. Aris Winaya, MM. M.Si selaku wakil dekan 1 Fakultas
Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang
2) Bapak Ganjar Adhywirawan S., S.Pi MP sebagai Ketua Jurusan Perikanan
Universitas Muhammadiyah Malang dan sebagai dosen pembimbing PKL
yang telah memberikan arahan, petunjuk, bimbingan mulai dari awal sampai
tersusunnya laporan ini.
3) Ayah dan bunda tercinta yang tidak kenal lelah untuk melimpahkan kasih
sayangnya, memberikan dorongan serta doa restunya, yang selalu
memotivasi saya agar selalu berusaha dan melakukan yang terbaik serta
menjadi anak yang bermanfaat bagi sekitarnya.
4) Teman- teman 2017 C yang telah memberikan bantuan moril serta spiritual
sehingga saya dapat menyelesaikan proposal Praktek Kerja Lapangan (PKL).
Terutama untuk Alfi, Onie, Ega, dan Dzikri yang telah banyak membantu saya
dalam segala aspek.
Saya yakin segala apa yang saya lakukan tidak luput dari kesalahan,
maka dari itu untuk saran dan kritik yang membangun sangat kami harapkan
agar tulisan serta proposal PKL ini menjadi lebih baik dan benar.

Malang 21 Juni 2019

Penulis
DAFTAR ISI

COVER ........................................................................................................... 1
HALAMAN PENGESAHAN ........................................................................ 2
KATA PENGANTAR .................................................................................... 3
BAB I .PENDAHULUAN .............................................................................. 5
1.1 Latar Belakang ........................................................................................... 5
1.2 Rumusan masalah ...................................................................................... 6
1.3 Tujuan ........................................................................................................ 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................... 7
2.1 Klasifikasi Udang Vaname......................................................................... 7
2.2 Morfologi Udang Vaname ......................................................................... 8
2.3 Siklus Hidup ............................................................................................... 8
2.4 Persyaratan Lokasi ................................................................................... 10
2.5 Persiapan Tambak .................................................................................... 11
2.6 Persiapan Tambak .................................................................................... 12
2.7 Kualitas Air .............................................................................................. 14
2.8 Penebaran Benur ...................................................................................... 17
2.9 Penanggulangan Hama dan Penyakit ........................................................18
2.10 Panen dan Pasca Pananen ......................................................................... 20
BAB III. METODE PELAKSANAAN ....................................................... 21
3.1 Waktu dan Tempat ................................................................................... 21
3.2 Materi dan Alat ........................................................................................ 21
3.3 Metode ...................................................................................................... 21
3.4 Teknis Pelaksanaan PKL .......................................................................... 22
3.5 Jadwal Pelaksanaan .................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 26
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan udang asli perairan
Amerika Latin. Udang ini dibudidayakan mulai dari pantai barat Meksiko ke arah
selatan hingga daerah Peru. Beberapa petambak di Indonesia mulai mencoba
membudidayakan udang vaname, karena hasil yang dicapai sangat luar biasa.
Apalagi produksi udang windu yang saat ini sedang mengalami penurunan karena
serangan penyakit, terutama penyakit bercak putih (white spot syndrome virus)
(Haliman dan Adijaya, 2005).
Udang vanname sebagai varietas unggul untuk budidaya karena dinilai
memiliki beberapa kelebihan antara lain, lebih tahan terhadap serangan penyakit,
tumbuh lebih cepat, tahan terhadap fluktasi lingkungan, waktu pemeliharaan
relative pendek yakni sekitar 90-100 hari per siklus, tingkat survival rate (SR)
atau kehidupan tergolong tinggi dan hemat pakan (Amri dan Kanna, 2008).

Dipandang dari segi ekonomis, vaname merupakan jenis udang yang


memiliki prospek ekonomis yang tinggi karena digemari banyak orang. Darmono
(1991) dalam Maharani et al., (2009) menambahkan bahwa udang merupakan
salah satu bahan makanan sumber protein hewani bermutu tinggi yang sangat
digemari oleh konsumen dalam negeri maupun luar negeri karena memiliki rasa
yang sangat gurih dan kadar kolesterolnya yang lebih rendah dari pada hewan
mamalia. Oleh karena itu banyak para petani ikan dan petambak Indonesia beralih
ke vaname sehingga komoditas vaname bertumbuh pesat di Indonesia.

Budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) berkembang pesat dengan


teknologi intensif oleh karena ketersediaan benih SPF (Spesific Pathogen Free),
sehingga dapat ditebar dengan kepadatan yang lebih tinggi, dan memiliki sintasan
serta produksi yang tinggi. Di Indonesia kepadatan yang umum dilakukan di
berbagai daerah berkisar 80-100 ind./m2 udang vaname dan dapat ditingkatkan
hingga 244 ind./m2, dengan menggunakan probiotik yang mampu menghasilkan
produksi 37,5 ton/ ha/siklus (Poernomo, 2004). Namun produksi yang tinggi tidak
selamanya diikuti oleh keuntungan yang tinggi. Di samping itu, penerapan
kepadatan tinggi terbatas pada golongan masyarakat menengah ke atas. Produksi
yang tinggi akan berdampak kepada beban limbah yang dihasilkan baik oleh sisa
pakan apabila rasio konversi pakan tinggi, maupun kotoran udang.

Maka dari itu Praktek Kerja Lapang ini dilakukan dengan tujuan untuk
mempelajari tentang Teknik Pembesaran Udang Vaname (Litopenaeus vannamei)
Intensif Di Tambak Al-Baroqah.

1.2 RumusanMasalah
Berdasarkan latar belakang yang sudah diuraikan di atas dapat dirumuskan
permasalahan sebagai berikut :
1. Bagaimana cara menanggulangi atau mencegah penyakit dan bakteri
dalam sistem budidaya pembesaran intensif yang dilakukan oleh tambak
Al- Baroqah?
2. Bagaimana penanganan pembuangan limbah sisa pakan maupun feses dari
udang vaname yang ada di Tambak Al-Baroqah?
3. Kendala apa sajakah yang sering dihadapi selama kegiatan pembesaran
udang vaname (Litopenaeus vannamei.) di Tambak Al – Baraqah ?
1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan Praktek Kerja Lapang yang dilakukan adalah:
1. Untuk mengetahui cara menanggulangi atau mencegah penyakit dan
bakteri dalam sistem budidaya pembesaran intensif yang dilakukan oleh
tambak Al- Baroqah?
2. Untuk mengetahui penanganan pembuangan limbah sisa pakan maupun
feses dari udang vaname yang ada di Tambak Al-Baroqah?
3. Untuk mengetahui kendala yang sering dihadapi selama kegiatan
pembesaran udang vaname (Litopenaeus vannamei) di Tambak Al–
Baraqah ?
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Klasifikasi Udang Vaname
Menurut Suryadhi (2011) klasifikasi udang vaname adalah sebagai berikut:

Phylum : Arthropoda

Kelas : Crustacea

Sub-kelas :Malacostraca

Series : Eumalacostraca

Super order : Eucarida

Order : Decapoda

Sub order :Dendrobranchiata

Infra order : Penaeidea

Famili : Penaeidae

Genus : Penaeus

Sub genus : Litopenaeus

Spesies : Litopenaeus vannamei

Gambar 1. Udang Vaname (Suryadhi, 2011)

2.2 Morfologi Udang Vaname


Tubuh udang vannamei dibentuk oleh dua cabang (biramous), yaitu exopodite
dan endopodite. Seluruh tubuhnya tertutup oleh eksoskeleton yang terbuat dari
bahan kitin. Tubuhnya beruas-ruas dan mempunyai aktivitas berganti kulit luar
(eksoskeleton) secara periodik (molting). Bagian tubuh udang vannamei sudah
mengalami modifikasi, sehingga dapat digunakan untuk beberapa keperluan
antara lain : makan, bergerak dan membenamkan diri ke dalam lumpur, menopang
insang, karena struktur insang udang mirip bulu unggas serta organ sensor seperti
antenna dan antennulae (Haliman dan Adijaya, 2005). Tubuh udang yang dilihat
dari luar terdiri dari bagian, yaitu bagian depan yang disebut cephalothorax,
karena menyatunya bagian kepala dan dada serta bagian belakang (perut) yang
disebut abdomen dan terdapat ekor (uropod) di ujungnya.

Gambar 2.Morfologi Udang Vaname (Haliman dan Adijaya, 2005)

2.3 Siklus Hidup


Menurut Amri (2008) udang vannamei bersifat nokturnal, yaitu lebih aktif
beraktifitas di daerah yang gelap. Proses perkawinan ditandai dengan loncatan
betina secara tiba-tiba. Saat meloncat tersebut, betina mengeluarkan sel-sel telur.
Saat yang bersamaan, udang jantan mengeluarkan sperma sehingga sel telur dan
sperma bertemu. Proses perkawinan berlangsung lebih kurang satu menit.
Sepasang udang vannamei berukuran antara 30-45 gram dapat menghasilkan telur
yang berukuran 0,22 mm berkisar antara 100.000-250.000 butir. Telur dapat
menetas berkisar antara 18-24 jam pada suhu 28° C.
Stadia nauplius adalah stadia yang pertama setelah telur menetas. Stadia ini
memiliki lima sub stadia. Larva berukuran antara 0,32-0,58 mm, sistem
pencernaannya belum sempurna dan masih memiliki cadangan makanan berupa
kuning telur (Haliman dan Adijaya, 2005).
Stadia zoea terjadi berkisar antara 15 – 24 jam setelah stadia nauplius.
Larva sudah berukuran antara 1,05 – 3,30 mm (Haliman dan Adijaya, 2005).
Stadia zoea memiliki tiga sub stadia, yang ditandai dengan tiga kali molting. Tiga
tahap molting atau tiga sub stadia itu disebut dengan zoea 1, zoea 2 dan zoea 3.
Stadia ini, larva sudah dapat makan plankton yang mengapung dalam kolom air.
Tubuh akan semakin memanjang dan mempunyai karapaks. Dua mata majemuk
dan uropods juga akan muncul. Lama waktu dari stadia ini menuju stadia
berikutnya berkisar antara 4-5 hari (Haliman dan Adijaya, 2005). Stadia mysis
memiliki durasi waktu yang sama dengan stadia sebelumnya dan memiliki tiga
sub stadia, yaitu mysis 1, mysis 2 dan mysis 3. Perkembangan tubuhnya dicirikan
dengan semakin menyerupai udang dewasa serta terbentuk telson dan pleopods.
Benih pada stadia ini sudah mampu berenang dan mencari makanan, baik
fitoplankton maupun zooplankton.
Saat stadia post larva (PL), benih udang sudah tampak seperti udang dewasa.
Umumnya, perkembangan dari telur menjadi stadia post larva dibutuhkan waktu
berkisar antara 12-15 hari, namun semua itu tergantung dari ketersediaan makanan
dan suhu. Hitungan stadia yang digunakan sudah berdasarkan hari. PL I berarti
post larva berumur satu hari. Saat stadia ini, udang sudah mulai aktif bergerak
lurus ke depan dan sifatnya cenderung karnivora. Umumnya, petambak akan
melakukan tebar dengan menggunakan udang yang sudah masuk dalam stadia
antara PL10-PL15 yang sudah berukuran rata-rata sepuluh millimeter (Haliman
dan Adijaya, 2005).
Gambar 3.Siklus Hidup Udang Vaname (Amri, 2008)

2.4 Persyaratan Lokasi

Menurut Suharyadi (2011), salah satu faktor penentu keberhasilan budidaya


udang adalah pemilihan lokasi. Lahan budidaya selanjutnya akan berpengaruh.
terhadap tata letak dan konstruksi kolam yang akan dibuat. Lokasi untuk
mendirikan lahan budidaya udang ditentukan setelah dilakukan studi dan analisis
terhadap data atau informasi tentang topografi tanah, pengairan, ekosistem
(hubungan antara flora dan fauna), dan iklim. Usaha budidaya yang ditunjang
dengan data tersebut mememungkinkan dibuat desain dan rekayasa perkolaman
yang mengarah kepola pengelolaan budidaya udang yang baik.

Lokasi tambak budidaya udang vaname yang dipilih mempunyai persyaratan


antara lain:

1. Lahan mendapat air pasang surut air laut, tinggi pasang surut yang ideal
adalah 1,5-2,5 meter. Pada lokasi yang pasang surut nya dibawah 1 meter
maka membutuhkan pompa, selain itu dalam sekitar areal tersebut harus
ada pasokan air tawar untuk menurunkan salinitas air di musim kemarau.
2. Lokasi yang cocok pada pantai dengan tanah yang memiliki tekstur liat
atau liat berpasir, idealnya terdapat jalur hijau (green belt) yang ditumbuhi
hutan mangrove/bakau dengan panjang minimal 100 meter dari garis
pantai.
3. Keadaan sosial ekonomi mendukung untuk kegiatan budidaya udang,
seperti : keamanan kondusif, asset jalan cukup baik, lokasi mudah
mendapatkan sarana produksi seperti pakan, kapur, obat obatan dan lain –
lain (Suharyadi, 2011).

2.5 Persiapan Tambak


2.5.1. Pengeringan
Pengeringan tambak dilakukan dengan bantuan sinar matahari. Adapun
pengeringan berfungsi membantu proses oksidasi yang dapat menetralkan
keasaman sifat keasaman tanah, menghilangkan gas beracun dan membantu
membunuh telur-telur hama yang tertinggal. Proses pengeringan dilakukan selama
3 – 4 hari. Pengeringan dihentikan bila tanah dasar tambak sudah kering, tetapi
tidak retak agar bakteri pengurai tetap mampu menjalankan fungsinya mengurai
bahan organik pada susasana aerob (Haliman dan Adijaya, 2005).
2.5.2. Pengapuran
Pemberian kapur ini bertujuan untuk menaikkan pH tanah dan
mempertahankannya dalam kondisi yang stabil. Selain itu, diharapkan, setelah
pemberian kapur tanah dasar menjadi subur, reaksi kimia yang terjadi di dasar
tanah menjadi baik, gas-gas beracun dapat terikat secara kimiawi. Pada umumnya,
kapur yang digunakan dalam pengapuran untuk persiapan tambak adalah kapur
kaptan dan dolomite yang mengandung unsur magnesium dengan dosis 20 ppm
(Haliman dan Adijaya, 2005).
2.5.3. Pemupukan
Pemupukan berfungsi untuk mengembalikan kesuburan tanah, sehingga
pakan alami dasar dapat tumbuh dengan baik. Jenis pupuk yang digunakan dapat
berupa pupuk alam maupun pupuk buatan. Untuk pupuk dasar sebaiknya
menggunakan pupuk alam, sedangkan untuk air dapat digunakan pupuk
buatan.Pemupukan dapat dilakukan dengan menggunakan pupuk urea dan TSP
dengan dosis masing-masing 200 dan 100 kg/ha dan sebaiknya dalam persiapan
lahan tambak digunakan juga pupuk organik (dari jenis pupuk kandang) antara
1000 – 2000 kg/ha (Soetarno, 2006).
2.5.4. Pemberantasan Hama dan Penyakit
Pemberantasan hama dan penyakit di tambak bertujuan untuk mengurangi
tingkat kerugian yang diakibatkan oleh hama dan penyakit yang dapat menyerang
udang vaname.Pemberantasan hama dan penyakit dapat pula dilakukan dengan
pemberian klorin dan saponim. Pemberian klorin berfungsi sebagai pembentuk
CaO(Cl2) Calsium hypochlorite yang berguna sebagai desinfektan. Selain itu
klorin juga berfungsi sebagai pemberantas fitoplankton sehingga air mudah
dicerahkan. Sedangkan pemberian saponim berfungsi sebagai bahan racun untuk
membunuh ikan lain atau hama yang mengganggu atau merugikan udang vaname
(Herlina, 2004).
2.5.5. Pengisian Air
Pengisian air diupayakan memanfaatkan pasang surut air laut, tetapi dapat
juga digunakan pompa. Pingisian air dilakukan secara bertahap, pada awalnya
pengisian air diupayakan cukup sedalam 0,5 m dan diarkan selama 2-3 hari
sebelum benur ditebarkan. Baru pengisian air dilakukan setelah pemupukan
selesai dengan ketinggian awal 10 cm, agar pakan alami tumbuh dengan baik.
Setelah satu minggu air dinaikkan menjadi 20 cm dan dinaikkan terus secara
bertahap hingga ketinggian yang diinginkan oleh udang, yaitu sekitar 1-1,5 m
(Amri, 2008).
2.5.6. Pemasangan Kincir
Kincir yang digunakan berfungsi sebagai penyuplai oksigen di dalam tambak,
membantu dalam mengarahkan kotoran dasar tambak ke arah sentral
pembuangan, sehingga mempermudah dalam proses pembersihan dasar tambak.
setiap kincir berkekuatan 1 HP pada tambak yang memiliki pergantian air cukup
mampu mensuplai oksigen untuk 1.000 kg udang vaname. Perlu diketahui bahwa
kebutuhan oksigen dalam air tergantung pada berat total udang (biomassa). Jadi
untuk 0,5 ha tambak dengan pergantian air cukup dan target produksi 5,5 ton
udang vannamei diperlukan minimal 6 buah kincir berkekuatan 1 HP (Soetarno,
2006).

2.6 Pakan dan Cara Makan


Pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam budidaya udang
vannamei karena menyerap biaya yang berkisar antara 60-70 persen dari total
biaya operasional. Pemberian pakan yang sesuai dengan kebutuhan akan memacu
pertumbuhan dan perkembangan udang vannamei secara optimal, sehingga
produktivitasnya bisa ditingkatkan. Prinsipnya adalah semakin padat penebaran
benih udang berarti ketersediaan pakan alami semakin sedikit dan ketergantungan
pada pakan buatan semakin meningkat (Topan, 2007). Udang vannamei
membutuhkan pakan dengan kandungan protein yang lebih rendah daripada udang
windu. Kebutuhannya berkisar antara 18-35 persen dengan rasio konversi pakan
1:1,2 yaitu satu kilogram daging pada ikan dapat dihasilkan dari pemberian 1,2
kilogram pakan. Hal ini tentu saja akan membuat biaya produksi untuk pakan
udang vannamei lebih rendah daripada biaya produksi untuk pakan udang windu.

Pakan tambahan digunakan sebagai nutrisi pelengkap pakan alami dan pakan
buatan. Selain itu, pakan tambahan dapat berfungsi merangsang nafsu makan
udang, mempercepat proses molting, memperkecil konversi rasio pakan dan
sebagai pupuk organik (Haliman dan Adijaya, 2005). Contoh dari pakan tambahan
adalah vitamin, immunostimulan, mineral, HUFA, karotenoid dan astaxanthin.
Frekuensi pemberian pakan pada udang kecil cukup 2-3 kali sehari karena masih
mengandalkan pakan alami. Setelah terbiasa dengan pakan buatan bentuk pellet,
frekuensi pemberian dapat ditambah menjadi 4-6 kali sehari (Topan, 2007).

Udang vannamei termasuk golongan omnivora. Beberapa sumber pakan


udang vannamei, antara lain : udang kecil (rebon), fitoplankton, copepoda,
polychaeta, larva kerang dan lumut. Udang ini juga termasuk dalam pemangsa
sejenis (kanibalisme). Udang vannamei ini mencari dan mengenali pakan
menggunakan sinyal kimiawi berupa getaran dengan bantuan organ sensor yang
terdiri dari bulu-bulu halus (setae) yang terdapat pada ujung anterior antennulae,
bagian mulut, capit, antenna dan maxilliped. Udang akan berenang menggunakan
kaki jalan yang memiliki capit untuk mendekati sumber pakan. Pakan langsung
dijepit menggunakan capit kaki jalan, kemudian pakan dimasukkan ke dalam
mulut. Selanjutnya pakan yang berukuran kecil masuk ke dalam kerongkongan
dan esofagus. Bila pakan yang dikonsumsi berukuran lebih besar, akan dicerna
secara kimiawi terlebih dahulu oleh maxilliped di dalam mulut

(Haliman dan Adijaya, 2005).


2.7 Kualitas Air
Kualitas air didefinisikan sebagai kesesuaian air bagi kelangsungan hidup dan
pertumbuhan biota, umum nya ditentukan oleh hanya beberapa parameter kualitas
air saja yang disebut sebagai parameter penentu atau parameter kunci, sedang
lainnya disebut parameter penunjang. Ada tiga jenis parameter kualitas air yakni
parameter fisika, parameter kimia dan parameter biologi (Mahasri dkk, 2013).
Menurut Adiwidjaya (2008), parameter kunci pada budidaya udang vannamei
adalah suhu, salinitas, pH air, alkalinitas, kecerahan, ketinggian air, TOM, oksigen
terlarut, nitrit dan amoniak juga termasuk dalam parameter kunci (Kilawati dan
Maimunah, 2014)

2.7.1 Parameter Fisika

2.7.1.1 Suhu

Salah satu faktor pembatas yang cukup nyata dalam kehidupan udang
ditambakadalah suhu air media pemeliharaan. Seringkali didapatkan udang
mengalami stresdan bahkan mati disebabkan oleh perubahan suhu dengan rentang
perbedaan yangtinggi. Keadaan seperti ini sering terjadi pada tambak dengan
kedalaman kurangdari satu meter. Sebagai contoh musim kemarau dan
perbedaansuhu yang sangatmencolok antara siang dan malam hari (Suharyadi,
2011). Suhu suatu badan air dipengaruhi oleh musim, lintang, ketinggian dari
permukaan laut, waktu dalam hari, sirkulasi udara, penutupan awan, dan aliran
serta kedalaman badan air. Suhu sangat berperan mengendalikan kondisi
ekosistem perairan (Putra dkk, 2013).

2.7.1.2 Kecerahan Air

Kecerahan merupakan ukuran transparansi perairan (Putra dkk, 2013). Pada


perairan alami, mengandung berbagai substansi sehingga mempengaruhi penetrasi
sinar matahari ke dalam air. Pewarnaan dari air alami merupakan hasil dari
panjang gelombang sinar yang tak terserap ketika memasuki kolam air. Penurunan
kemampuan air dalam menstransmisikan sinar karena pengaruh bahan tersuspensi
disebut turbiditas.
Partikel-partikel tersuspensi meliputi : partikel-partikel tanah, partikel bahan
organik dan biota renik (plankton yang melayang di dalam air). Dengan adanya
partikel-partikel dan jasad renik tersebut, maka penetrasi cahaya matahari ke
dalam air menjadi terhambat. Dengan kata lain, kecerahan air menjadi rendah.
Kolam pemeliharaan ikan, kekeruhannya banyak disebabkan oleh kelimpahan
plankton, sedang kolam yang banyak pohon akan keruh karena humus, kolam
dengan tanaman merambat akan keruh oleh partikel tanah (Mahasri dkk, 2013).
Warna air ditentukan oleh warna senyawa atau bahan yang terlarut dan melayang-
layang di dalam air, apabila kecerahan tinggi dan perairan dangkal, warna air di
tambak dipengaruhi oleh dasar perairan. Sebagai contoh warna air tambak yang
coklat, kekeruhan tinggi dan kecerahan rendah, maka dapat dipastikan bahwa
perairan tersebut mengandung banyak partikel-partikel tanah (Mahasri dkk, 2013)

2.7.1.3 Bau dan Warna

Bau dari air disebabkan oleh bau senyawa atau materi dan gas-gas yang
terkandung didalamnya. Tambak yang mengandung bahan organik tinggi (sisa
pakan, pupuk organik, dll) akan menimbulkan bau busuk yang disebabkan proses
dekomposisi yang menghasilkan gas sulfida dan fosfin serta amonia.

2.7.2 Parameter Kimia


2.7.2.1 Derajat Keasaman (pH)

Tingkat kesaman (pH) tanah banyak dipengaruhi oleh beberapa faktor


pembentuknya, antara lain bahan organik dan berbagai jenis organisme air yang
mengalami pembusukan, logam berat (besi, timah dan bouksit, dll). Biasanya pH
tanah dasar tambak yang rendah diikuti tingginya kandungan bahan organik tanah
yang terakumulasi dan tidak terjadi oksidasi yang sempurna (Suharyadi, 2011).

pH tanah yang rendah cenderung dipengaruhi oleh kandungan logam berat


seperti besi, timah dan logam lainnya. pH tanah yang optimal untuk kegiatan
budidaya udang dan ikan berkisar antara 6,5 – 8,0 (Suharyadi, 2011).
Meningkatnya suhu, terutama di siang hari, berpengaruh terhadap bertambahnya
nafsu makan udang vaname. Meningkatnya nafsu makan udang vaname dapat
menjadi pemicu meningkatnya pH dan amoniak yang disebabkan oleh
menumpuknya kotoran dan sisa pakan udang (Fadil, 2011).

2.7.2.1 Oksigen Terlarut (DO)


Jumlah kandungan oksigen (O2) yang terkandung dalam air disebut oksigen
terlarut. Satuan kadar oksigen terlarut adalah ppm (part per million). Kelarutan
oksigen dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya temperatur, salinitas, pH
dan bahan organik. Salinitas semakin tinggi, kelarutan oksigen semakin rendah.
Kelarutan oksigen untuk kebutuhan minimal pada air media pemeliharaan udang
adalah > 3 ppm (Suharyadi,2011)

2.7.2.3 Karbondioksida (CO2)


Karbondioksida merupakan zat yang memiliki sifat kelarutan yang tinggi.
Permasalahan pada karbondioksida terjadi apabila air budidaya berasal dari air
tanah, pada padat tebar ikan yang tinggi. Pada konsentrasi tinggi, karbondioksida
menyebabkan ikan kehilangan keseimbangan, menjadi bingung dan mungkin mati.
Kadar CO2 yang optimum untuk budidaya ikan tidak boleh melebihi 25 ppm
(Putra dkk, 2013).
2.7.2.4 Salinitas
Salinitas (kadar garam) air media pemeliharaan pada umumnya berpengaruh
tehadap pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup udang (Anonim, 1985
dalam Suharyadi, 2011). Udang vaname dapat tumbuh dan berkembang pada
kisaran salinatas 15 – 25 ppt (Suharyadi, 2011), bahkan menurut Adiwidjaya
(2008) udang vannamei mempunyai toleransi cukup luas yaitu antara 0 – 50 ppt.
Namun apabila salinitas di bawah 5 ppt dan di atas 30 ppt biasanya pertumbuhan
udang windu relatif lambat, hal ini terkait dengan proses osmoregulasi dimana
akan mengalami gangguan terutama pada saat udang sedang ganti kulit dan proses
metabolisme (Suharyadi, 2011).

2.7.2.5 Amonia (NH3)


Kandungan ammonia dalam air media pemeliharaan merupakan hasil
perombakan dari senyawa-senyawa nitrogen organik oleh bakteri atau dampak dari
penambahan pupuk yang berlebihan. Senyawa ini sangat beracun bagi organisme
perairan walaupun dalam konsentrasi yang rendah. Konsentrasi amonia yang
mampu ditolerir untuk kehidupan udang dewasa < 0,3 ppm, dan ukuran benih <
0,1 ppm (Suharyadi, 2011).

2.7.2.6 Nitrit dan Nitrat (NO2- dan NO3-)


Kandungan nitrit yang tinggi didalam perairan sangat berbahaya bagi udang
dan ikan, karena nitrit dalam darah mengoksidasi haemoglobin menjadi
metahaemoglobin yang tidak mampu mengedarkan oksigen, kandungan nitrit
sebaiknya lebih kecil dari 0,3 ppm. Kadar oksigen terlarut dalam air merupakan
faktor pembatas dan sangat berpengaruh terhadap berlangsungnya proses
nitrifikasi. Pada salinitas di atas 20 ppt, batas ambang aman nitrit adalah < .2 ppm
(Suharyadi, 2011).

Nitrat (NO3-) adalah ion – ion organik alami, yang merupakan bagian dari
siklus nitrogen. Nitrat dibentuk dari asam nitrit yang berasal dari ammonia melalui
proses oksidasi katalistik. Nitrat pada konsentrasi tinggi bersama – sama dengan
phosphor akan menyebabkan algae blooming sehingga menyebabkan air menjadi
berwarna hijau ( green-colored water ) dan penyebab eutrofikasi
(Manampiring, 2009).
2.7.3 Parameter Biologi
Macam macam parameter biologi antara lain macroinvertebrates, bacteria,
phytoplankton, shellfish, tanaman air atau dasar perairan (Poe, 2000). Bakteri
seperti Escherichia coli (E. coli) dan fecal coliform diukur sebagai Indikator bakteri
lebih berbahaya. Tinggi jumlah jenis ini mungkin menunjukkan adanya bakteri lain
yang menyebabkan penyakit. organisme yang berukuran besar (makro) cukup
untuk dilihat dengan mata telanjang dan kurangnya invertebrata bentik mengacu
bagian bawah jalur air (Poe, 2000).
2.8 Penebaran Benur

Kualitas benur yang ditebar sangat menentukan keberhasilan budidaya udang,


benur yang berkualitas dapat diperoleh dari hatchery yang telah memiliki
sertifikat SPF (Spesific Pathogen Free) sehingga benur yang ditebar dapat tumbuh
dengan baik (Suharyadi, 2011), selain itu perlu dilakukan aklimatisasi benih
udang. Aklimatisasi benih merupakan waktu yang diperlukan bagi benih untuk
beradaptasi dengan lingkungannya yang baru. Menurut Suharyadi (2011) waktu
yang diperlukan untuk aklimatisasi benih udang adalah 30-45 menit. Selanjutnya
dilakukan pengukuran angka kelulushidupan/SR sehabis tebar.

Benur udang vannamei yang akan ditebar dan dibudidayakan harus dipilih
yang terlihat sehat. Kriteria benur sehat dapat diketahui dengan melakukan
observasi berdasarkan pengujian visual, mikroskopik dan ketahanan benur. Hal
tersebut bisa dilihat dari warna, ukuran panjang dan bobot sesuai umur Post Larva
(PL), kulit dan tubuh bersih dari organisme parasit dan patogen, tidak cacat, tubuh
tidak pucat, gesit, merespon cahaya, bergerak aktif dan menyebar di dalam wadah
(Haliman dan Adijaya, 2005).
Persiapan yang harus dilakukan sebelum penebaran adalah penumbuhan
pakan alami dengan pemupukan. Persiapan lain yang perlu dilakukan yaitu
pengukuran kualitas air, seperti suhu, salinitas, pH, DO, ammonia dan nitrit.
Selain itu, aklimatisasi atau proses adaptasi benur terhadap suhu maupun salinitas
juga merupakan hal yang penting dalam penebaran benur (Haliman dan Adijaya,
2005). Udang vannamei dapat dibudidayakan dengan kepadatan yang relatif tinggi
sampai lebih dari 150 ekor/m2, bahkan dapat ditebarkan sampai 400 ekor/m2
dalam bak kultur dengan sistem resirkulasi. Namun, banyaknya padat tebar
tergantung dari sistem budidaya yang dipakai.

2.9 Penanggulangan Hama dan Penyakit


Hama dan penyakit merupakan kendala yang sering mengganggu dan
merugikan dalam usaha budidaya. Hama dapat dibedakan menjadi tiga golongan,
yaitu golongan pemangsa, penyaing dan pengganggu. Penyakit didefinisikan
sebagai segala sesuatu yang dapat menimbulkan gangguan suatu fungsi atau
struktur dari suatu alat-alat tubuh, baik secara langsung maupun tidak langsung
(Haliman dan Adijaya, 2005).
Organisme yang bersifat hama bagi udang vannamei adalah predator dari
jenis ikan, kepiting dan ular (Haliman dan Adijaya, 2005). Hama golongan
penyaing adalah hewan-hewan yang menyaingi udang dalam hidupnya, baik
mengenai pangan maupun papan. Golongan pengganggu biasanya akan merusak
sarana tambak, seperti pematang, tanah dasar tambak dan pintu air. Untuk
memberantas hama yang hidup dalam air, kita dapat menggunakan bahan-bahan
beracun atau pestisida. Namun disarankan agar menggunakan pestisida organik
seperti tepung biji teh (mengandung racun saponin), akar tuba (mengandung racun
rotenon) dan sisa-sisa tembakau (mengandung racun nikotin). Pestisida ini lebih
disarankan penggunaannya karena racunnya tidak terlalu keras dan lebih cepat
terurai di dalam tambak sehingga tidak membahayakan. Mencegah masuknya ikan
dan atau udang liar ke dalam tambak, perlu dipasang jaring pada bagian inlet air
laut agar ikan dan atau udang liar tersebut tidak bisa masuk ke dalam tambak
(Haliman dan Adijaya, 2005).
Penyakit pada udang bisa disebabkan oleh parasit, bakteri, jamur maupun
virus. Parasit menyerang udang vannamei bila kualitas air tambak kurang baik,
terutama pada kondisi kandungan bahan organik yang tinggi. Pencegahan
keberadaan parasit bisa dilakukan dengan penggantian air tambak, pemakaian
probiotik dan pengelolaan pemberian pakan. Beberapa jenis parasit yang
menyerang udang vannamei yaitu Zoothamnium, Vorticella dan Epistylis
(Haliman dan Adijaya, 2005).
Bakteri dan jamur tumbuh optimal di perairan yang mengandung bahan
organik tinggi (sekitar 50 ppm). Oleh karena itu, sebaiknya kandungan bahan
organik di air tambak tidak melebihi 50 ppm. Bakteri yang perlu diwaspadai
adalah bakteri vibrio yang menyebabkan penyakit vibriosis. Infeksi bakterial
dapat diobati dengan pemberian antibiotik. Namun perlu berhati-hati dalam
menggunakan antibiotik, karena antibiotika seperti chloramphenicol dan
nitrofuran telah dilarang penggunaannya karena bisa meninggalkan residu di
dalam tubuh ikan. Tindakan pencegahan juga dapat dilakukan dengan penggunaan
probiotik yang mampu berkompetisi dengan bakteri patogen. Jamur (cendawan)
juga sering dijumpai pada udang yang sakit. Jenis cendawan yang umumnya
menyerang udang antara lain Sirolpidium sp., Halipthoros sp. dan Lagenidium
spp. (Haliman dan Adijaya, 2005).
Virus merupakan ancaman serius bagi budidaya udang, karena dapat
menyebabkan kematian udang secara massal dalam waktu singkat. Faktor pemicu
munculnya virus yaitu faktor nutrisi, lingkungan dan genetika. Beberapa virus
yang sering menyerang dan perlu diwaspadai adalah White Spot Syndrome Virus
(WSSV), Taura Syndrome Virus (TSV), dan Infectious Hypodermal Hematopoetic
Necrosis Virus (IHHNV) (Haliman dan Adijaya, 2005).
Haliman dan Adijaya (2005) menyatakan bahwa upaya pencegahan yang
dapat dilakukan untuk meminimalkan infeksi virus adalah dengan pemakaian
benih kualitas unggul (SPR dan SPF), pemakaian imunostimulan, menjaga
kualitas air agar stabil, sehingga udang tidak stres serta monitoring penyakit
secara rutin. Biosekuriti juga perlu diterapkan untuk memperkecil resiko serangan
penyakit dari lingkungan luar tambak ke dalam lokasi dan sebaliknya.

2.10 Panen dan Pasca Pananen


Panen merupakan kegiatan akhir dalam suatu proses budidaya. Keberhasilan
atau keuntungan yang akan diraih oleh setiap petambak umumnya akan ditentukan
oleh kegiatan panen. Biasanya panen udang dilakukan sesuai dengan permintaan
pasar.
2.10.1.Panen
Menurut Ryan (2006), udang vaname dapat dipanen setelah berumur sekitar
120 hari dengan berat tubuh berkisar 16-20 g/ekor. Pemanenan udang vaname
dilakukan pada malam hari. Selain untuk menghindari terik matahari, pemanenan
pada malam hari juga bertujuan untuk mengurangi resiko udang untuk ganti kulit
selama panen akibat stres.
2.10.2.Pascapanen
Menurut Ryan (2006) pascapanen bertujuan untuk menjamin mutu udang
tetap tinggi dengan pertimbangan beberapa faktor seperti udang tidak
membahayakan kesehatan konsumen karena udang termasuk produk makanan
yang mudah sekali rusak. Oleh karena itu sejak dari panen hingga pascapanen
harus dalam kondisi dingin. Tindakan yang perlu dilakukan pada pascapanen
udang vaname sebagai berikut :
 Udang dicuci di tempat penampungan udang untuk menghilangkan
kotoran atau lumpur yang menempel pada udang.
 Udang disortir dan kelompokkan berdasarkan ukuran dan kualitasnya.
 Udang dilakukan penimbangan untuk mengetahui jumlah udang tersebut.

Udang yang telah ditimbang secepat mungkin dimasukkan ke dalam wadah.


Penataan udang dan es batu ditata selang-seling sehingga kualitas udang tetap
terjaga.
BAB III
METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat


Praktek Kerja Lapang (PKL) ini akan dilaksanakan pada tanggal 01 Juli 2019
sampai dengan tanggal 01 Agustus 2019 di Tambak Al- Baroqah , Hadiwarno,
Ngadirojo , Pacitan, Jawa Timur.
3.2 Materi dan Alat
.2.1 Materi
1. Benur udang vaname
2. Pakan untuk pembesaran udang vaname
3. Pengendalian penyakit udang vaname
4. Metode pemanenan danpascapanen udang vaname
3.1.2 Alat
1. Tambak pembesaran
2. Aerasi/Mesin kincir air
3. Peralatan untuk pengukuran kualitas air
4. Wadah untuk tempat pemberian pakan
5. Alat untuk pemanenan dan pascapanen
6. Rumah jaga
3.3 Metode
1. Obrservasi
Observasi merupakan salah satu teknik pengumpulan data yang tidak hanya
mengukur sikap dari responden (wawancara dan angket) namun juga dapat
digunakan untuk merekam berbagai fenomena yang terjadi (situasi, kondisi).
Teknik ini digunakan bila penelitian ditujukan untuk mempelajari perilaku
manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan dilakukan pada responden yang
tidak terlalu besar (Uma, 2006).
2. Wawancara
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui
tatap muka dan tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti
terhadap nara sumber atau sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar
biasanya hanya dilakukan sebagai studi pendahuluan karena tidak mungkin
menggunakan wawancara pada 1000 responden, sedangkan pada sampel kecil
teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik pengumpul data (umumnya
penelitian kualitatif)(Uma, 2006).
3. Partisipasiaktif
Partisipasi aktif adalah mengikuti secara aktif atau langsung suatu kegiatan
(Zed, 2008). Dalam Praktek Kerja Lapang (PKL) ini partisipasi aktif yang akan
dilakukan meliputi: seleksi benur, pemberian pakan, pengukuran kualitas air,
kegiatan pembesaran dan kegiatan lainnya yang berhubungan dengan usaha
pembesaran udang vannamei.
4. Studi Literatur

Pengumpulan data dilakukan dengan cara mempelajari dokumen yang


berkaitan dengan kondisi objek pengamatan. Studi Literatur berkaitan dengan
kajian teoritis dan refrensi yang berkaitan (Uma, 2006).

3.4 Teknis Pelaksanaan PKL


Pelaksanaan PKL akan melakukan kegiatan-kegiatan yang ada pada lokasi
sesuai dengan tujuan yang dicapai dalam budidaya. Adapun data yang diambil
selama kegiatan PKL sebagai berikut :

1. Teknik Pembesaran
Teknik pembesaran udang vaname yaitu terdiri dari penebaran benih,
manajemen pakan, manajemen kualitas air, manajemen hama dan penyakit,
pemanenan udang vaname dan pemasaran hasil.

2. Pemanenan dan Pemasaran


Kegiatan pemanenan dan pemasaran meliputi cara pemanenan, pengepakan,
pengangkutan serta harga pemasaran.

3. Mengetahui kendala dan mengatasinya


Mencari kendala yang sering terjadi dan cara mengatasi masalah tersebut.
3.5 Jadwal Pelaksanaan
Adapun jadwal kegiatan yang akan di lakukan di Tambak Al- Baroqah ,
Hadiwarno, Ngadirojo , Pacitan, Jawa Timur dapat dilihat pada tabel 1
berikut:

Tabel 1JadwalKegiatan

MINGGU
KEGIATAN
I II III IV

Tahap Persiapan sebelum PKL


 Survey lokasi PKL 
 Pengurusan perizinan PKL 
 Pengajuan judul proposal 
 Penyusunan proposal kegiatan PKL 
Tahap Pelaksanaan PKL
 Persiapankolam udang vanname yaitu
terdiri dari :
 Pengeringan 
 Pengapuran 

 Pemupukan 

 Pemberantas hama dan penyakit 



 Pengisian air

 Pemasangan kincir
 Penebaran Benur

 Persyaratan benur

 Perhitungan benur
 Perendaman benur terhadap kolam

(aklimitasi)
 Penebaran benur 
 Pengolahan pakan :
 Jenis pakan 
 Kebutuhan pakan dan cara pemberian 
pakan
 Frekuensi pemberian pakan 

 Pengelolaan kualitas air


 Pengecekan suhu 

 Pengecekan salinitas    

 Pengecekan kecerahan    
   
 Pengecekan ph
  
 Monitoring pertumbuhan
 Sampling

 Menghitung ABW (Average Body
Weight)

 Menghitung ADG (Average Daily
Gain)

 Menghitung SR (Survival rate)
 Pengendalian hama dan penyakit

 Pengecekan individu udang
 Pemberian vitamin terhadap udang

 Pemberian probiotik

 Pemberian obat-obatan 

DAFTAR PUSTAKA
Adiwidjaya, D., Supito, dan I. Sumantri. 2008. Penerapan Teknologi Budidaya
Udang Vanname L. vannamei Semi-Intensif pada Lokasi Tambak
Salinitas Tinggi. Media Budidaya Air Payau Perekayasaan. Jurnal
Departemen Kelautan Perikanan. Vol 7
Amri, K. dan I. Kanna. 2008. Budidaya Udang Vannamei Secara Itensif, Semi
intensif, dan Tradisional. Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Amri. 2008. Budidaya Udang Vannamei. Lampung : PT Central Pratiwi Bahari.
Fadil, M. S. 2011. Kajian Beberapa Aspek Parameter Fisika Kimia Air dan Aspek
Fisiologis Ikan yang Ditemukan Pada Aliran Buangan Pabrik Karet di
Sungai Batang Arau. Tesis. Program Pasca Sarjana. Universitas Andalas.
Padang. Hal. 7-17.
Haliman, R.W dan Adiwijaya, D.S. 2005. Udang Vannamei. Jakarta : Penebar
Swadaya.
Herlina,N. 2004 . Pengendalian Hama dan Penyakit pada Pembesaran
UdangVaname. Departemen pendidikan nasional, Direktorat penddidkan
menengah kejuruan.
Kilawati, Y., dan Y. Maimunah. 2014. Kualitas Lingkungan Tambak Intensif
Litapenaeus vannamei dalam Kaitannya dengan Prevalensi Penyakit White
Spot Syndrome Virus. Research Journal of Life Science. 01 : 02.
Maharani, Gunanti., Sunarti., Triastuti., J. Juniastuti dan Tutik. 2009. Kerusakan
dan Jumlah Hemosit Udang Windu (Penaeus monodon Fab.) yang
Mengalami Zoothamniosis. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan. 1 (1):
21- 29.
Mahasri, G., A. S. Mubarak., M. A. Alamsjah dan A. Manan. 2013. Buku Ajar
Manajemen Kualitas Air. Buku Ajar. Surabaya : Fakultas Perikanan dan
Kelautan. Universitas Airlangga.

Manampiring, dr. A. E., M.Kes. 2009. Studi Kandungan Nitrat (NO-3) pada
Sumber Air Minum Masyarakat Kelurahan Rurukan Kecamatan Tomohon
Timur Kota Tomohon. Manado : Fakultas Kedokteran Universitas Sam.
Poe, K. F. 2005.Water Quality & Monitoring. Master Watershed Steward.
Connecticut Department of Environmental Protection. Connecticut. pp. 1-
17.
Poernomo, A. 2004. Teknologi Probiotik Untuk Mengatasi Permasalahan
Tambak udang dan Lingkungan Budidaya. Makalah disampaikan pada
Simposium Nasional Pengembangan Ilmu dan Inovasi Teknologi dalam
Budidaya. Semarang , 27-29 Januari. 2004, 24 hlm.
Putra, R. R., Dr. D. Hermon, MP., dan Farida S.Si. 2013. Studi Kualitas Air Payau
Untuk Budidaya Perikanan Di Kawasan Pesisir Kecamatan Linggo Sari
Baganti Kabupaten Pesisir Selatan. Padang : STKIP PGRI Sumatera
Barat.
Ryan, E. 2006. Peluang Ekspor Udang Vaname. Jakarta : AGRINA.
Soetarno, A.K. 2006. Budidaya Udang. Semarang : Penerbit Aneka Ilmu
Suharyadi. 2011. Budidaya Udang Vanname (Litopenaeus vannamei). Kementrian
Kelautan dan Perikanan .Jakarta. hal. 3-6, 32
Topan. 2007. Sukses Beternak Puyuh. Jakarta : Agromedia Pustaka.
Uma Sekaran. 2006. Metodologi Penelitian Untuk Bisnis. Jakarta : Salemba
Empat
Zed, M. 2008.Metode Penelitian Kepustakaan. Jakarta : Yayasan Obor Indonesia