Anda di halaman 1dari 35

Case Report Session

NASKAH PSIKIATRI
F25.0 Gangguan Skizoafektif Tipe Manik

Nama Dokter Muda : Muhammad Syukra P 2609 B


Galuh Yudhi Widya S P 2611 B

Nama Perseptor : dr. Amel Yanis, Sp.KJ(K)

BAGIAN PSIKIATRI FAKULTAS KEDOKTERAN


UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2018
BAB I

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Pengertian

Gangguan skizoafektif adalah gangguan jiwa yang mempunyai gambaran baik

skizofrenia maupun gangguan afektif. Penyebab gangguan skizoafektif hingga sekarang

tidak diketahui meskipun beberapa data riset menunjukkan bahwa skizoafektif terkait

dengan faktor genetik. Gangguan skizoafektif memiliki gejala khas skizofrenia yang jelas

dan pada saat bersamaan juga memiliki gejala gangguan afektif yang menonjol.

Gangguan skizoafektif terbagi menjadi tipe manik, tipe depresif, dan campuran.

Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi, perubahan dalam

berpikir, perubahan dalam persepsi. Bila gejala skizofrenik dan gangguan perasaan manik

menonjol pada episode penyakit yang sama, gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe

manik. Pada gangguan skizoafektif tipe depresif, gejala skizofrenik dan gangguan

perasaan depresif timbul bersamaan.1

1.2 Epidemiologi Skizoafektif

Prevalensi seumur hidup pada gangguan skizoafektif kurang dari 1%,

berkisar antara 0,5%-0,8%. Tetapi, gambaran tersebut masih merupakan

perkiraan. Gangguan skizoafektif tipe depresif lebih sering terjadi pada orang tua

dibanding anak muda. Prevalensi gangguan tersebut dilaporkan perempuan lebih

tinggi dibandingkan laki-laki, terutama perempuan yang sudah menikah. Usia

awitan perempuan lebih sering dibandingkan laki-laki, seperti pada skizofrenia.

Laki-laki dengan gangguan skizoafektif mungkin memperlihatkan perilaku

antisosial dan mempunyai afek tumpul yang nyata atau tidak sesuai. National

Comorbidity Study menyatakan dari 66 orang dengan diagnosa skizofrenia, 81%

1
pernah didiagnosis gangguan afektif yang terdiri dari 59% depresi dan 22%

gangguan bipolar.2

1.3 Etiologi Skizoafektif

Penyebab dari skizoafektif sulit dilakukan. Dugaan saat ini bahwa gangguan

skizoafektif mungkin mirip dengan etiologi skizofrenia. Oleh karena itu etiologi

mengenai gangguan skizoafektif juga mencakup kausa genetik dan lingkungan.

Penelitian yang dilakukan untuk menggali kemungkinan-kemungkinan

tersebut telah memeriksa riwayat keluarga, petanda biologis, respon pengobtanan

jangka pendek, dan hasil akhir jangka panjang.3

1.4 Patofisiologi Skizoafektif

Mekanisme terjadinya skizoafektif belum diketahui apakah merupakan

suatu patologi yang terpisah dari skizofrenia dan gangguan mood atau merupakan

gabungan dari keduanya yang terjadi secara bersamaan. Jika merujuk pada

kemungkinan kedua, maka telah diketahui neurobiologi baik fungsional ataupun

struktural yang terlibat dalam gangguan ini.2

1.5 Manifestasi Klinis Skizoafektif

Pada gangguan skizoafektif gejala klinis berupa gangguan episodik gejala

gangguan mood maupun gejala skizofreniknya menonjol dalam episode penyakit

yang sama, baik secara simultan atau secara bergantian dalam beberapa hari. 2 Bila

gejala skizofrenik dan manik menonjol pada episode penyakit yang sama,

gangguan disebut gangguan skizoafektif tipe manik. Sedangkan pada gangguan

skizoafektif tipe depresif, gejala depresif yang menonjol.2

2
Gejala yang khas pada pasien skizofrenik berupa waham, halusinasi,

perubahan dalam berpikir, perubahan dalam persepsi disertai dengan gejala

gangguan suasana perasaan baik itu manik maupun depresif.2,3

Depresi

a. Nafsu makan yang berkurang

b. Pengurangan berat badan

c. Perubahan dari pola tidur biasanya ( sedikit atau banyak tidur )

d. Agitasi

Merasa tidak ada semangat

a. Kehilangan rasa untuk melakukan kebiasaan sehari-hari

b. Merasa tidak ada harapan

c. Selalu merasa bersalah

d. Tidak dapat berkonsentrasi

e. Mempunyai pikiran untuk melakukan percobaan bunuh diri

Mania

a. Peningkatan aktivitas

b. Bicara cepat

c. Pikiran yang meloncat-loncat

d. Sedikit tidur

e. Agitasi

f. Percaya diri meningkat

g. Mudah teralihkan

3
Skizofrenia

Gejala klinis berdasarkan pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan

jiwa (PPDGJ-III):4

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua

gejala atau lebih bila gejala gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a) “thought echo” = isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema

dalam kepalanya (tidak keras), dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya

sama, namun kualitasnya berbeda ; atau

“thought insertion or withdrawal” = isi yang asing dan luar masuk ke

dalam pikirannya (insertion) atau isi pikirannya diambil keluar oleh

sesuatu dari luar dirinya (withdrawal); dan

“thought broadcasting”= isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain

atau umum mengetahuinya;

b) “delusion of control” = waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatu

kekuatan tertentu dari luar; atau

“delusion of passivitiy” = waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah

terhadap suatu kekuatan dari luar; (tentang ”dirinya” = secara jelas

merujuk kepergerakan tubuh / anggota gerak atau ke pikiran, tindakan,

atau penginderaan khusus)

“delusional perception” = pengalaman indrawi yang tidak wajar, yang

bermakna sangat khas bagi dirinya, biasanya bersifat mistik atau mukjizat;

c) Halusinasi Auditorik:

- Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap

perilaku pasien, atau

4
- Mendiskusikan perihal pasien pasein di antara mereka sendiri (diantara

berbagai suara yang berbicara), atau

- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.

d) Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat

dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahil, misalnya perihal

keyakinan agama atau politik tertentu, atau kekuatan dan kemampuan di

atas manusia biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca, atau

berkomunikasi dengan mahluk asing dan dunia lain)

Atau paling sedikit dua gejala di bawah ini yang harus selalu ada secara jelas:

e) Halusinasi yang menetap dan panca-indera apa saja, apabila disertai baik

oleh waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa

kandungan afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan

(over-valued ideas) yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama

berminggu minggu atau berbulan-bulan terus menerus;

f) Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan

(interpolation), yang berkibat inkoherensi atau pembicaraan yang tidak

relevan, atau neologisme;

g) Perilaku katatonik, seperti keadaan gaduh-gelisah (excitement), posisi

tubuh tertentu (posturing), atau fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme,

dan stupor;

h) Gejala-gejala negatif, seperti sikap sangat apatis, bicara yang jarang, dan

respons emosional yang menumpul atau tidak wajar, biasanya yang

mengakibatkan penarikan diri dari pergaulan sosial dan menurunnya

5
kinerja sosial; tetapi harus jelas bahwa semua hal tersebut tidak

disebabkan oleh depresi atau medikasi neuroleptika;

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun

waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik

(prodromal). Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam

mutu keseluruhan (overall quality) dan beberapa aspek perilaku pribadi (personal

behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak

berbuat sesuatu sikap larut dalam diri sendiri (self-absorbed attitude) dan

penarikan diri secara sosial.5

1.6 Diagnosis

Kriteria Diagnostik untuk Gangguan Skizoafektif (DSM-V)5

A. Suatu periode penyakit yang tidak terputus selama mana, pada suatu waktu.

Terdapat baik episode depresif berat, episode manik, atau suatu episode

campuran dengan gejala yang memenuhi kriteria A untuk skizofrenia.

Catatan : Episode depresi berat harus termasuk kriteria A1: mood terdepresi

B. Selama periode penyakit yang sama, terdapat waham atau halusinasi selama

sekurangnya 2 minggu tanpa adanya gejala mood yang menonjol.

C. Gejala yang memenuhi kriteria untuk episode ditemukan untuk sebagian

bermakna dari lama total periode aktif dan residual dari penyakit..

D. Gangguan bukan kareka efek fisiologis langsung dari suatu zat (misalnya

obat yang disalahgunakan, suatu medikasi) atau suatu kondisi medis umum

Pada PPDGJ-III, gangguan skizoafektif diberikan kategori yang terpisah karena

cukup sering dijumpai sehingga tidak dapat diabaikan begitu saja. Kondisi-kondisi lain

dengan gejala-gejala afektif saling bertumpang tindih dengan atau membentuk sebagian

6
penyakit skizoafektif yang sudah ada, atau dimana gejala-gejala itu berada bersama-sama

atau secara bergantian dengan gangguan-gangguan waham menetap jenis lain,

diklasifikasikan dalam kategori yang sesuali dalam F20-F29. Waham atau halusinasi yang

tak serasi dengan suasana perasaan (mood) pada gangguan afektif tidak dengan

sendirinya menyokong diagnosis gangguan skizoafektif.4

Pedoman Diagnostik Gangguan Skizoafektif berdasarkan PPDGJ-III4

a. Diagnosis gangguan skizoafektif hanya dibuat apabila gejala-gejala definitive

adanya skizofrenia dan gangguan skizofrenia dan gangguan afektif sama-

sama menonjol pada saat yang bersamaan (stimultaneously), atau dalam

beberapa hari yang satu sesudah yang lain, dalam satu episode penyakit yang

sama, dan bilamana, sebagai konsekuensi dari ini, episode penyakit tidak

memenuhi kriteria baik skizofrenia maupun episode manik atau depresif.

b. Tidak dapat digunakan untuk pasien yang menampilkan gelaja skizofrenia

dan gangguan afektif tetapi dalam episode penyakit yang berbeda.

c. Bila seseorang pasien skizofrenik menunjukkan gejala depresif setelah

mengalami suatu episode psikotik, diberi kode diagnosis F.20.4 (Depresi

Pasca-skizofrenia).

d. Beberapa pasien dapat mengalami episode skizoefektif berulang, baik

berjenis manik (F25.0) maupun depresif (F.25.1) atau campuran dari

keduanya (F.25.2). pasien lain mengalami satu atau dua episode manik atau

depresi (F30-F33).

7
1.7 Diagnosis Banding

Semua kondisi yang dituliskan di dalam diagnosis banding skizofrenia dan

gangguan mood perlu dipertimbangkan di dalam diagnosis banding gangguan

skizoafektif. Pasien yang diobati dengan steroid, penyalahgunaan amfetamin dan

phencyclidine (PCP), dan beberapa pasien dengan epilepsi lobus temporalis secara

khusus kemungkinan datang dengan gejala skizofrenik dan gangguan mood yang

bersama-sama. Diagnosis banding psikiatrik juga termasuk semua kemungkinan

yang biasanya dipertimbangkan untuk skizofrenia dan gangguan mood. Di dalam

praktik klinis, psikosis pada saat datang mungkin mengganggu deteksi gejala

gangguan mood pada masa tersebut atau masa lalu. Dengan demikian, klinisi

boleh menunda diagnosis psikiatrik akhir sampai gejala psikosis yang paling akut

telah terkendali.1,4

1.8 Tatalaksana Skizoafektif6

a. Psikofarmaka

Modalitas terapi yang utama untuk gangguan skizoafektif adalah perawatan

di rumah sakit, medikasi, dan intervensi psikososial. Prinsip dasar yang mendasari

farmakoterapi untuk gangguan skizoafektif adalah bahwa protokol antidepresan

dan antimanik diikuti jika semuanya diindikasikan dan bahwa antipsikotik

digunakan hanya jika diperlukan untuk pengendalian jangka pendek. Jika protokol

thymoleptic tidak efektif di dalam mengendalikan gejala atas dasar berkelanjutan,

medikasi antipsikotik dapat diindikasikan. Pasien dengan gangguan skizoafektif,

tipe bipolar, harus mendapatkan percobaan lithium, carbamazepine (Tegretol),

valproate (Depakene), atau suatu kombinasi obat-obat tersebut jika satu obat saja

8
tidak efektif. Pasien dengan gangguan skizoafektif, tipe depresif, harus diberikan

percobaan antidepresan dan terapi elektrokonvulsif (ECT) sebelum mereka

diputuskan tidak responsif terhadap terapi antidepresan.6

Farmakoterapi untuk mengatasi gejala skizoafektif tipe manik yaitu

pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat

moodstabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Carbamazepine adalah

obat antikejang yang digunakan sebagai stabilizer mood. Cara kerja mood

stabilIzer yaitu membantu menstabilkan kimia otak tertentu yang disebut

neurotransmitters yang mengendalikan temperamen emosional dan perilaku dan

menyeimbangkan kimia otak tersebut sehingga dapat mengurangi gejala gangguan

kepribadian borderline. Efek samping carbamazepine dapat menyebabkan mulut

kering dan tenggorokan, sembelit, kegoyangan, mengantuk, kehilangan nafsu

makan, mual, dan muntah. Karbamazepin tidak boleh digunakan bersama dengan

inhibitor monoamine oxidase (MAOIs ). Hindari minum alkohol saat mengambil

carbamazepine. Hal ini dapat meningkatkan beberapa efek samping

carbamazepine yaitu dapat meningkatkan risiko untuk kejang.1

Stelazine memiliki efek antiadrenergik sentral, antidopaminergik, dan efek

antikolinergik minimal. Hal ini diyakini stelazine dapat bekerja dengan

memblokade reseptor dopamin D1 dan D2 di jalur mesokortical dan mesolimbik,

menghilangkan atau meminimalkan gejala skizofrenia seperti halusinasi, delusi,

dan berpikir dan berbicara yang tidak terarah. Stelazine menimbulkan efek

samping ekstrapiramidal seperti akatisia, distonia, dan parkinsonisme selain itu

dapat menimbulkan efek samping antikolinergik seperti merah mata dan

xerostomia (mulut kering). Stelazine dapat menurunkan ambang kejang sehingga

9
harus berhati-hati penggunaan stelazine pada orang yang mempunyai riwayat

kejang.1

Pengobatan untuk dengan gangguan skizoafektif merespon terbaik untuk

pengobatan dengan obat antipsikotik yang dikombinasikan dengan obat

moodstabilizer atau pengobatan dengan antipsikotik saja. Untuk orang gangguan

skizoafektif dengan tipe manik, menggabungkan obat antipsikotik dengan mood

stabilizer cenderung bekerja dengan baik.7

b. Psikoterapi

Selain psikofarmaka, psikoterapi dan edukasi juga sangat diperlukan.

Menurut penelitian pengobatan hanya dengan obat tidak cukup untuk kesembuhan

pasien, tetapi juga harus diiringi oleh lingkungan keluarga yang mendukung dan

sikap pasien terhadap penyakit yang diderita.

Karena pengobatan yang konsisten penting untuk hasil terbaik, psiko-

edukasi pada penderita dan keluarga, serta menggunakan obat long acting bisa

menjadi bagian penting dari pengobatan pada gangguan skizoafektif.7

1.9 Prognosis Skizoefektif1

Sebagai suatu kelompok, pasien dengan gangguan skizoafektif mempunyai

prognosis di pertengahan antara prognosis pasien dengan skizofrenia dan

prognosis pasien dengan gangguan mood. Sebagai suatu kelompok, pasien dengan

gangguan skizoafektif memiliki prognosis yang jauh lebih buruk daripada pasien

dengan gangguan depresif, memiliki prognosis yang lebih buruk daripada pasien

dengan gangguan bipolar, dan memiliki prognosis yang lebih baik daripada pasien

dengan skizofrenia. Generalisasi tersebut telah didukung oleh beberapa penelitian

yang mengikuti pasien selama dua sampai lima tahun setelah episode yang

10
ditunjuk dan yang menilai fungsi sosial dan pekerjaan, dan juga perjalanan

gangguan itu sendiri.

Data menyatakan bahwa pasien dengan gangguan skizoafketif, tipe

bipolar, mempunyai prognosis yang mirip dengan prognosis pasien dengan

gangguan bipolar dan bahwa pasien dengan premorbid yang buruk; onset yang

perlahan-lahan; tidak ada faktor pencetus; menonjolnya gejala psikotik, khususnya

gejala defisit atau gejala negatif; onset yang awal; perjalanan yang tidak

mengalami remisi; dan riwayat keluarga adanya skizofrenia. Lawan dari masing-

masing karakeristik tersebut mengarah pada hasil akhir yang baik. Adanya atau

tidak adanya gejala urutan pertama dari Schneider tampaknya tidak meramalkan

perjalanan penyakit.

11
LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS
KETERANGAN PRIBADI PASIEN
Nama : Tn. B
MR : 00.48.97.30
Jenis kelamin : Laki-laki
Tempat dan tanggal lahir/ umur :Bangkinang, 14 Agustus 1979/31 tahun
Status perkawinan : Belum Menikah
Kewarganegaraan : Indonesia
Suku bangsa : Minang
Negeri asal : Padang
Agama : Islam
Pendidikan : SMA/MA
Pekerjaan : Tidak bekerja
Alamat : Koto Panjang, Bangkinang, Riau

II. RIWAYAT PSIKIATRI

Keterangan/anamnesis di bawah ini diperoleh dari (lingkari angka di bawah


ini)
1. Autoanamnesis dengan pasien pada tanggal 17 Desember 2018 di Poli Jiwa
RSUP dr. M Djamil Pading
2. Alloanamnesis dengan Kakak pasien pada tanggal 17 Desember 2018

1. Pasien datang ke fasilitas kesehatan ini atas keinginan (lingkari pada huruf
yang sesuai)
a. Sendiri
b. Keluarga
c. Polisi
d. Jaksa/ Hakim
e. Dan lain-lain

12
2. Sebab Utama
Pasien gaduh gelisah sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan
gejala, emosi labil, marah-marah pada keluarga, suka melempar-lempar barang
apabila permintaan tidak dituruti.
3. Keluhan Utama (Chief Complaint)
Pasien mengamuk melempar-lempar barang yang ada di rumah hingga
mengenai mobil dan rumah tetangganya karena permintaan pasien untuk
dibelikan barang-barang yang diinginkannya tidak dapat dipenuhi. Pasien
selalu menolak dan marah-marah saat diajak berobat. Keluarga meminta
bantuan satpol PP untuk membantu membawanya berobat ke RSJ Hb Saanin.
Pasien awalnya menerima tapi pada saat naik mobil satpol PP dan mobil
sedang berjalan pasien tiba-tiba marah karena merasa diejek oleh orang sekitar.
Pasien lalu melompat dari mobil hingga kepalanya luka.

4. Riwayat Perjalanan Penyakit Sekarang


Pasien dibawa ke Poli Jiwa RSUP dr M djamil Padang pada tanggal 17
Desember 2018 oleh keluarga setelah mengamuk dan melempar-lempar barang
yang ada di rumah hingga mengenai mobil dan rumah tetangganya. Pasien
mengaku dirinya adalah seorang ustad dan suka memberi ceramah di masjid
dekat rumah. Pasien mengaku mendengar suara-suara yang tidak didengar oleh
orang lain, pasien juga pernah melihat bayangan orang yang menurut dia orang
lain tidak melihat. Pasien selalu menolak dan marah-marah saat diajak berobat.
Menurut pengakuan kakak pasien, gejala yang muncul pada pasien timbul
sejak 15 yang lalu disebabkan karena pasien tidak diterima saat mengikuti
seleksi masuk perguruan tinggi STAI-PIQ Padang. Semenjak itu pasien
menjadi gelisah dan mudah marah, pasien banyak berbicara tetapi tidak jelas,
pasien menjadi jarang tidur.
Diceritakan oleh kakak pasien bahwa pada bulan Agustus tahun 2018
keluarga meminta bantuan satpol PP untuk membantu membawanya berobat ke
RSJ Hb Saanin. Pasien awalnya menerima tapi pada saat naik mobil satpol PP
dan mobil sedang berjalan pasien tiba-tiba marah karena merasa diejek oleh
orang sekitar. Pasien lalu melompat dari mobil hingga kepalanya luka.
Semenjak saat itu pasien akhirnya pasien mau berobat akan tetapi dibujuk
berobat untuk sakit kepala akibat trauma kepala empat bulan yang lalu. Pasien
rutin berobat ke Poli Jiwa RSUP dr M Djamil setiap bulan. Pasien mengakui
merasakan perbedaan setelah berobat seperti perasaan lebih tenang, sakit
kepala menghilang dan mudah tidur saat malam.
13
5. Riwayat Penyakit Sebelumnya

a. Riwayat Gangguan Psikiatri


Pasien memiliki riwayat mengalami gelisah, mudah marah dan
kesulitan tidur 15 tahun yang lalu setelah pasien gagal diterima seleksi
STPAI-PIQ Padang.

b. Riwayat Gangguan Medis


Pasien mengalami sakit pada kepala akibat trauma saat melompat dari mobil
Satpol PP pada empat bulan yang lalu

c. Riwayat Penggunaan NAPZA


Pasien tidak merokok, tidak menggunakan alkohol, narkoba, Pasien
juga tidak punya kebiasaan meminum kopi.

14
6. Riwayat keluarga
a) Identitas orang tua/ penganti

IDENTITAS Orang tua/ Pengganti Keterangan


Bapak Ibu
Kewarganegaraan Indonesia Indonesia
Suku bangsa Minangkabau Minangkabau
Agama Islam Islam
Pendidikan SD SD
Pekerjaan Petani Petani
Umur 80 tahun 72 tahun
Alamat Koto Panjang, Koto Panjang,
Bangkinang, Riau Bangkinang,
Riau
Hubungan pasien* Akrab Akrab
Biasa Kurang Tak Biasa
peduli Kurang
Tak peduli
Dan lain-lain :- :-
`Ket : * coret yang tidak perlu

b) Sifat/ Perilaku Orang tuatua kandung/ pengganti............. :


Bapak (Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan)
Pemalas ( - )**, Pendiam ( - ), Pemarah ( - ), Mudah tersinggung ( - ), Tak
suka Bergaul ( - ), Banyak teman ( - ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( - ),
Penjudi ( - ), Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (
- ), Dramatisasi ( - ), Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ),
Penakut ( - ), Tak bertanggung jawab ( - ).

Ibu ( Dijelaskan oleh pasien dapat dipercaya/ diragukan )


Pemalas ( - )**, Pendiam ( - ), Pemarah ( - ), Mudah tersinggung ( - ), Tak
suka Bergaul ( - ), Banyak teman ( - ), Pemalu ( - ), Perokok berat ( ),
Penjudi ( - ), Peminum ( - ), Pecemas ( - ), Penyedih ( - ), Perfeksionis (
- ), Dramatisasi ( - ), Pencuriga ( - ), Pencemburu ( - ), Egois ( - ),
Penakut ( - ), Tak bertanggung jawab ( - ).

c) Saudara
Jumlah bersaudara 5 orang dan pasien anak ke 4

d) Urutan bersaudara dan cantumkan usianya dalam tanda kurung untuk pasien
sendiri lingkari nomornya.*
1. Lk/ Pr ( 52 tahun) 2. Lk/ Pr ( 50 tahun) 3. Lk/ Pr ( 45 tahun)
4. Lk/ Pr ( 31 tahun) 5. Lk/ Pr ( 28 tahun)

15
e) Gambaran sikap/ perilaku masing-masing saudara pasien dan hubungan pasien
terhadap masing-masing saudara tersebut, hal yang dinyatakan serupa dengan
yang dinyatakan pada gambaran sikap/ perilaku pada orang tua.*

Saudara Gambaran sikap dan perilaku Kualitas hubungan


ke dengan saudara (akrab/
biasa,/kurang/tak peduli)
1 Biasa, suka bergaul Akrab
2 Biasa, suka bergaul Akrab
3 Biasa, suka bergaul Akrab
4 Biasa, suka bergaul Akrab

Ket:
*) coret yang tidak perlu
**) diisi dengan tanda ( + ) atau ( - )

f) Orang lain yang tinggal di rumah pasien dengan gambaran sikap dan tingkah
laku dan bagaimana pasien dengan mereka.*
No Hubungan dengan pasien Gambaran sikap dan Kualitas
tingkah laku hubungan (akrab/
biasa,/kurang/tak
peduli)
-

Ket:
untuk e) dan f) hanya diisi bila informan benar-benar mengetahuinya.

g) Apakah ada riwayat penyakit jiwa, kebiasaan-kebiasaan dan penyakit fisik


(yang ada kaitannya dengan gangguan jiwa) pada anggota keluarga o.s :

Anggota Penyakit Kebiasaan- Penyakit


keluarga jiwa kebiasaan fisik
Bapak - - -
Ibu - - -
Saudara 1 - - -
3 - - -
4 - - -
Nenek - - -
Kakek - - -
Dan lain- - - -
lain

16
Skema Pedegree
Keterangan:
: LAKI-LAKI : Perempuan : Pasien :Meninggal

h) Riwayat tempat tinggal yang pernah didiami pasien:


No Rumah tempat Keadaan rumah
tinggal Tenang Cocok Nyaman Tidak
nyaman
1. Rumah orang tua Tenang Cocok Nyaman
i) Dan lain-lain

7. Gambaran seluruh faktor-faktor dan mental yang bersangkut paut dengan


perkembangan kejiwaan pasien selama masa sebelum sakit (premorbid) yang
meliputi :

a) Riwayat sewaktu dalam kandungan dan dilahirkan.


- Keadaan ibu sewaktu hamil (sebutkan penyakit-penyakit fisik dan
atau kondisi- kondisi mental yang diderita si ibu )
 Kesehatan Fisik : Baik
 Kesehatan Mental : Baik
- Keadaan melahirkan :
 Aterm (+), partus spontan (+), partus tindakan (-) sebutkan
jenis tindakannya
 Pasien adalah anak yang direncanakan/ diinginkan (+)
 Jenis kelamin anak sesuai harapan ( + )

17
b) Riwayat masa bayi dan kanak-kanak
 Pertumbuhan Fisik :
 Minum ASI :
 Usia mulai bicara :
 Usia mulai jalan :
 Sukar makan ( - ), anoreksia nervosa ( - ), bulimia ( - ), pika ( - ),
gangguan hubungan ibu-anak ( - ), pola tidur baik ( - ), cemas
terhadap orang asing sesuai umum ( - ), cemas perpisahan (- ), dan
lain-lain.....

c) Simtom-simtom sehubungan dengan problem perilaku yang dijumpai pada


masa kanak-kanak, misalnya: mengisap jari ( - ), ngompol ( - ), BAB di
tempat tidur (- ), night teror ( - ), temper tantrum ( - ), gagap ( - ), tik (- ),
masturbasi (- ), mutisme selektif ( - ), dan lain-lain.

d) Toilet training
Umur :
Sikap orang tua:
Perasaan anak untuk toilet training ini:

e) Kesehatan fisik masa kanak-kanak : demam tinggi disertai menggigau ( - ),


kejang-kejang ( - ), demam berlangsung lama ( - ), trauma kapitis disertai
hilangnya kesadaran ( -), dan lain-lain.

f) Temperamen sewaktu anak-anak : pemalu ( - ), gelisah ( - ) overaktif ( - ),


menarik diri ( - ), kurang suka bergaul ( - ), suka berolahraga ( - ), dan lain-
lain.

g) Masa Sekolah
Perihal SD SMP SMA PT
Umur - - -
Prestasi* Cukup Cukup Tidak
Baik

Aktifitas Sekolah* Baik Baik Tidak


Baik

Sikap Terhadap Teman * Baik Baik Baik

Sikap Terhadap Guru Baik Baik Tidak


Baik

18
h) Masa remaja: Fobia ( - ), masturbasi ( - ), ngompol ( - ), lari dari rumah (-),
kenakalan remaja ( - ), perokok berat ( - ), penggunaan obat terlarang (- ),
peminum minuman keras (- ), problem berat badan ( - ), anoreksia nervosa
(-), bulimia (-), perasaan depresi (-), rasa rendah diri ( - ), cemas ( - ),
gangguan tidur ( - ), sering sakit kepala ( - ), dan lain-lain.

Ket: * coret yang tidak perlu


** ( ) diisi (+) atau (-)

i) Riwayat Pekerjaan
kepuasan kerja ( - ), pindah-pindah kerja ( - ), pekerjaan yang pernah
dilakukan -
Konflik dalam pekerjaan : ( - ), konflik dengan atasan ( - ), konflik dengan
bawahan ( - ), konflik dengan kelompok ( - ).
Keadaan ekonomi*: baik (menurut pasien)

j) Percintaan, Perkawinan, Kehidupan Seksual dan Rumah Tangga


 Mimpi basah (sudah/ belum), usia berapa.... tahun, persepsi......
 Awal pengetahuan tentang seks …. tahun, sikap orang tua…
 Hubungan seks sebelum menikah (-)
 Riwayat pelecehan seksual (-)
 Orientasi seksual (normal)
 Keterangan pribadi istri
Nama :-
Umur :-
Suku :-
Kebangsaan : -
Agama :-
Pendidikan :-
Pekerjaan :-
Status sosial/ ekonomi:menengah*

 Perkawinan didahului dengan pacaran (-), kawin terpaksa (-),


kawin paksa (-), perkawinan kurang disetujui orang tua (-), kawin
lari (-). Kepuasaan dalam hubungan suami istri - Kelainan
hubungan seksual (-) ai (bila ada jelaskan di halaman kiri).
 Kehidupan rumah tangga: rukun (-), masalah rumah tangga (+)
Pasien suka marah-marah ke orang tua

19
 Keuangan : Kebutuhan sehari-hari terpenuhi (+), pengeluaran
dan pendapatan seimbang (-), dapat menabung (-).
 Mendidik Anak : suami-istri bersama-sama (-), istri saja (-) suami
saja (-), selain orang tua sebutkan
k) Situasi sosial saat ini:
1. Tempat tinggal : rumah sendiri (-), rumah kontrak (-), rumah susun (-),
apartemen (-), rumah orang tua (+), serumah dengan mertua (-), di
asrama (-) dan lain-lain (-).
2. Polusi lingkungan : bising (-), kotor (-), bau (-), ramai (-) dan lain-lain.

Ket: * coret yang tidak perlu, ** ( ), diisi (+) atau (-)


ai : atas indikasi

l) Perihal anak-anak pasien meliputi:


N Sex Umur Pendidikan Sikap&peril Kesehatan Sikap pada anak
o akui
Fisik Menta l

m) Ciri Kepribadian sebelumnya/ Gangguan kepribadian (untuk axis II)


Keterangan : ( ) beri tanda (+) atau (-)

Kepribadian Gambaran Klinis


Skizoid Emosi dingin ( - ), tidak acuh pada orang lain ( - ), perasaan hangat
atau lembut pada orang lain ( + ), peduli terhadap pujian maupun
kecaman ( - ), kurang teman ( - ), pemalu ( - ), sering melamun(-),
kurang tertarik untuk mengalami pengalaman seksual (-), suka
aktivitas yang dilakukan sendiri ( - )
Paranoid Merasa akan ditipu atau dirugikan ( - ), kewaspadaan berlebihan (- ),
sikap berjaga-jaga atau menutup-nutupi ( - ), tidak mau menerima
kritik ( + ), meragukan kesetiaan orang lain ( - ), secara intensif
mencari-cari kesalahan dan bukti tentang prasangkanya ( - ),
perhatian yang berlebihan terhadap motif-motif yang tersembunyi ( -
),cemburu patologik ( - ), hipersensifitas ( -), keterbatasan kehidupan
afektif ( - ).
Skizotipal Pikiran gaib ( - ), ideas of reference (- ), isolasi sosial ( - ), ilusi
berulang (- ), pembicaraan yang ganjil ( - ), bila bertatap muka
dengan orang lain tampak dingin atau tidak acuh ( - ).
Siklotimik Ambisi berlebihan ( - ), optimis berlebihan ( - ), aktivitas seksual
yang berlebihan tanpa menghiraukan akibat yang merugikan ( - ),
melibatkan dirinya secara berlebihan dalam aktivitas yang
menyenangkan tanpa menghiraukan kemungkinan yang merugikan
dirinya ( - ), melucu berlebihan ( - ), kurangnya kebutuhan tidur ( - ),
pesimis (- ), putus asa (- ), insomnia ( - ), hipersomnia ( - ), kurang

20
bersemangat (- ), rasa rendah diri (- ), penurunan aktivitas ( - ),
mudah merasa sedih dan menangis ( - ), dan lain-lain.
Histrionik Dramatisasi (- ), selalu berusaha menarik perhatian bagi dirinya (- ),
mendambakan ransangan aktivitas yang menggairahkan ( - ), bereaksi
berlebihan terhadap hal-hal sepele (- ), egosentris ( - ), suka menuntut
( - ), dependen ( - ), dan lain-lain.
Narsisistik Merasa bangga berlebihan terhadap kehebatan dirinya ( - ),
preokupasi dengan fantasi tentang sukses, kekuasaan dan kecantikan
( - ), ekshibisionisme ( - ), membutuhkan perhatian dan pujian yang
terus menerus ( - ), hubungan interpersonal yang eksploitatif (- ),
merasa marah, malu, terhina dan rendah diri bila dikritik (- ) dan lain-
lain.
Dissosial Tidak peduli dengan perasaan orang lain( - ), sikap yang amat tidak
bertanggung jawab dan berlangsung terus menerus ( - ), tidak
mampu mengalami rasa bersalah dan menarik manfaat dari
pengalaman ( - ), tidak peduli pada norma-norma, peraturan dan
kewajiban sosial ( - ), tidak mampu memelihara suatu hubungan agar
berlangsung lama ( - ), iritabilitas ( - ), agresivitas ( - ), impulsif (-
), sering berbohong ( - ), sangat cendrung menyalahkan orang lain
atau menawarkan rasionalisasi yang masuk akal, untuk perilaku yang
membuat pasien konflik dengan masyarakat ( - )
Ambang Pola hubungan interpersonal yang mendalam dan tidak stabil ( - ),
kurangnya pengendaian terhadap kemarahan ( + ), gangguan
identitas ( - ), afek yang tidak mantap ( - ) tidak tahan untuk berada
sendirian ( - ), tindakan mencederai diri sendiri ( - ), rasa bosan
kronik ( - ),
dan lain-lain
Menghindar Perasaan tegang dan takut yang pervasif ( - ), merasa dirinya tidak
mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain ( - ),
kengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin
disukai (-), preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolkan
dalam situasi social (-), menghindari aktivitas sosial atau pkerjaan
yang banyak melibatkan kontak interpersonal karena takut dikritik,
tidak didukung atau ditolak.
Anankastik Perasaan ragu-ragu yang hati-hati yang berlebihan ( - ), preokupasi
pada hal-hal yang rinci (details), peraturan, daftar, urutan, organisasi
dan jadwal ( - ), perfeksionisme ( - ), ketelitian yang berlebihan ( - ),
kaku da keras kepala ( - ), pengabdian yang berlebihan terhadap
pekerjaan sehingga menyampingkan kesenangan dan nilai-nilai
hubungan interpersonal ( - ), pemaksaan yang berlebihan agar orang
lain mengikuti persis caranya mengerjakan sesuatu ( - ), keterpakuan
yang berlebihan pada kebiasaan sosial ( - ) dan lain-lain.
Dependen Mengalami kesuitan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa
nasehat dan masukan dari orang lain (-), membutuhkan orang lain
untuk mengambil tanggung jawab pada banyak hal dalam hidupnya
(-), perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian, karena
ketakutan yang dibesar-besarkan tentang ketidakmampuan mengurus
diri sendiri (-), takut ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya (-
)

21
7. Stresor psikososial (axis IV)
Pertunangan ( - ), perkawinan ( - ), perceraian ( - ), kawin paksa ( - ),
kawin lari ( - ), kawin terpaksa ( - ), kawin gantung ( - ), kematian
pasangan ( - ), problem punya anak ( - ), anak sakit ( - ), persoalan dengan
anak ( - ), persoalan dengan orang tua (+), persoalan dengan mertua ( - ),
masalah dengan teman dekat ( - ), masalah dengan atasan/ bawahan ( - ),
mulai pertama kali bekerja ( - ), masuk sekolah ( - ), pindah kerja ( - ),
persiapan masuk pension ( - ), pensiun ( - ), berhenti bekerja ( - ), masalah
di sekolah ( - ), masalah jabatan/ kenaikan pangkat ( - ), pindah rumah ( -
), pindah ke kota lain ( - ), transmigrasi ( - ), pencurian ( - ), perampokan
( - ), ancaman ( - ), keadaan ekonomi yang kurang (-), memiliki hutang ( -
), usaha bangkrut ( - ), masalah warisan ( - ), mengalami tuntutan hukum
( -), masuk penjara ( - ), memasuki masa pubertas( - ), memasuki usia
dewasa ( - ), menopause ( - ), mencapai usia 50 tahun ( - ), menderita
penyakit fisik yang parah ( - ), kecelakaan ( - ), pembedahan ( - ), abortus (
- ), hubungan yang buruk antar orang tua ( - ), terdapatnya gangguan fisik
atau mental dalam keluarga ( - ), cara pendidikan anak yang berbeda oleh
kedua orang tua atau kakek nenek ( - ), sikap orang tau yang acuh tak acuh
pada anak ( - ), sikap orang tua yang kasar atau keras terhadap anak ( - ),
campur tangan atau perhatian yang lebih dari orang tua terhadap anak ( -
), orang tua yang jarang berada di rumah ( - ), terdapat istri lain ( - ), sikap
atau kontrol yang tidak konsisten ( - ), kontrol yang tidak cukup ( - ),
kurang stimulasi kognitif dan sosial ( - ), bencana alam ( - ), amukan masa
( - ), diskriminasi sosial ( - ), perkosaan ( - ), tugas militer ( - ), kehamilan (
- ), melahirkan di luar perkawinan ( - ), dan lain-lain.

8. Pernah suicide ( - ), kemungkinan sebab suicide

9. Riwayat pelanggaran hukum


Tidak pernah ada riwayat pelanggaran hukum
11. Riwayat agama
Pasien beragama Islam, pendidikan terakhir tamat SMK.
12. Persepsi Dan Harapan Keluarga

Keluarga berharap agar pasien dapat sehat kembali

13. Persepsi Dan Harapan Pasien

Pasien menyatakan ingin sembuh dan beraktivitas seperti biasa serta


berkumpul bersama keluarga.
Ket: ( ) diisi (+) atau (-)

22
GRAFIK PERJALANAN PENYAKIT

Tahun 2003, Pasien Bulan Agustus 2018, Bulan Desember 2018,


mengalami keluhan pasien diajak berobat pasien gelisah, marah-
gelisah, mudah marah, dengan kerjasama marah dan melempar
tidak bisa mengontrol keluarga-satpol PP. Pasien barang. Pasien tidak bisa
emosi dan susah tidur. marah-marah dan mengontrol emosinya dan
Keluhan didapat setelah melompat dari mobil masih kesulitan tidur
pasien gagal diterima di karena merasa ada yang
STAI -PIQ Padang. mengejek. Pasien
mengalami trauma kepala.

23
III. STATUS INTERNUS
 Keadaan Umum : sakit sedang
 Kesadaran : CMC
 Tekanan Darah : 120/80 mmHg
 Nadi : 72x/menit
 Nafas : 18x/menit
 Suhu : 36,7 C
 Tinggi Badan : 170 cm
 Berat Badan : 65 kg
 Status Gizi : Normoweight
 Sistem Kardiovaskuler : Dalam batas normal
 Sistem Respiratorik : Dalam batas normal
 Kelainan Khusus : Tidak ditemukan
IV. STATUS NEUROLOGIKUS
GCS : E4M5V6
Tanda ransangan Meningeal : tidak ada
Tanda-tanda efek samping piramidal :
 Tremor tangan : tidak ada
 Akatisia : tidak ada
 Bradikinesia : tidak ada
 Cara berjalan : tidak ada
 Keseimbangan : tidak ada
 Rigiditas : tidak ada
 Kekuatan motorik : tidak ada
 Sensorik : tidak ada
 Refleks : bisep (+/+), trisep (+), archiles (+), patella (+)
Sucking (-), glabella (-), grasping (-), snout (-)
Corneomandibular (-), palmomental (-), kaki
klonik (-)

V. STATUS MENTAL
A. Keadaan Umum
1. Kesadaran/ sensorium : compos mentis ( + ), somnolen ( ), stupor
( ), kesadaran berkabut ( ), konfusi ( ), koma ( ), delirium ( ),
kesadaran berubah ( ), dan lain-lain…..

24
2. Penampilan
 Sikap tubuh: biasa ( + ), diam ( ), aneh ( ), sikap tegang ( ), kaku ( ),
gelisah ( ), kelihatan seperti tua ( ), kelihatan seperti muda ( ),
berpakaian sesuai gender ( + ).
 Cara berpakaian : rapi ( + ), biasa ( ), tak menentu ( ), sesuai dengan
situasi ( + ),kotor ( ), kesan ( dapat/ tidak dapat mengurus diri)*
 Kesehatan fisik :sehat ( + ), pucat ( ), lemas ( ), apatis ( ), telapak
tangan basah ( ), dahi berkeringat ( ), mata terbelalak ( ).

3. Kontak psikis
Dapat dilakukan ( + ), tidak dapat dilakukan ( - ), wajar ( + ), kurang
wajar ( - ), sebentar ( + ), lama ( - ).

4. Sikap
Kooperatif ( + ), penuh perhatian ( - ), berterus terang ( + ), menggoda (
- ), bermusuhan ( - ), suka main-main ( - ), berusaha supaya disayangi ( -
), selalu menghindar ( - ), berhati-hati ( - ), dependen (- ), infantil ( - ),
curiga ( - ), pasif ( - ), dan lain-lain.

5. Tingkah laku dan aktifitas psikomotor


 Cara berjalan : biasa ( + ), sempoyongan ( - ), kaku ( - ), dan lain-lain
 Ekhopraksia ( - ), katalepsi ( - ), luapan katatonik ( - ), stupor katatonik (
- ), rigiditas katatonik ( - ), posturing katatonik ( - ), cerea flexibilitas ( -
), negativisme ( - ), katapleksi ( - ), stereotipik ( - ), mannerisme ( - ),
otomatisme
( - ), otomatisme perintah ( - ), mutisme ( - ), agitasi psikomotor ( - ),
hiperaktivitas/ hiperkinesis ( - ), tik ( - ), somnabulisme ( - ), akathisia ( -
), kompulsi( - ), ataksia, hipoaktivitas ( - ), mimikri ( - ), agresi ( - ),
acting out ( - ), abulia ( - ), tremor ( - ), ataksia ( - ), chorea ( - ),
distonia ( - ), bradikinesia ( - ), rigiditas otot ( - ), diskinesia ( - ),
convulsi ( - ), seizure ( - ), piromania ( - ), vagabondage ( - ).

Ket : ( ) diisi (+) atau (-)

B. Verbalisasi dan cara berbicara


 Arus pembicaraan* : biasa, cepat, lambat
 Produktivitas pembicaraan* : biasa, sedikit, banyak
 Perbendaharaan* : biasa, , sedikit, banyak
 Hidup emosi*: stabilitas (tidak stabil), pengendalian (adekuat), echt/unecht
 Nada pembicaraan* : biasa, menurun, meninggi
 Volume pembicaraan* : biasa, menurun, meninggi

25
 Isi pembicaraan* : sesuai / tidak sesuai
 Penekanan pada pembicaraan* : Ada/ tidak
 Spontanitas pembicaraan * : spontan/ tidak
 Logorrhea ( - ), poverty of speech ( - ), diprosodi ( - ), disatria ( - ),
gagap ( - ), afasia ( - ), bicara kacau ( - ).

C. Emosi
 , dalam/dangkal, skala diffrensiasi ( sempit/luas), arus emosi (cepat).

1. Afek
Afek appropriate/ serasi (-), afek inappropriate/ tidak serasi(+), afek
tumpul ( - ), afek yang terbatas ( - ), afek datar ( - ), afek yang labil ( - ).

2. Mood
mood eutimik ( - ), mood disforik ( - ), mood yang meluap-luap (expansive
mood) ( - ), mood yang iritabel ( + ), mood yang labil (swing mood) ( +
), mood meninggi (elevated mood/ hipertim) ( - ), euforia ( - ), ectasy ( - ),
mood depresi (hipotim) ( - ), anhedonia ( - ), duka cita ( - ), aleksitimia (
- ), elasi ( ), hipomania ( - ), mania( + ), melankolia( - ), La belle
indifference ( - ), tidak ada harapan ( - ).

3. Emosi lainnya
Ansietas ( - ), free floating-anxiety ( - ), ketakutan ( - ), agitasi ( - ),
tension (ketegangan) ( - ), panic ( - ), apati ( - ), ambivalensi ( - ),
abreaksional ( - ), rasa malu ( - ), rasa berdosa/ bersalah( - ), kontrol
impuls ( - ).

4. Gangguan fisiologis yang berhubungan dengan mood


Anoreksia ( - ), hiperfagia ( - ), insomnia ( + ), hipersomnia ( - ), variasi
diurnal ( - ), penurunan libido ( - ), konstispasi ( - ), fatigue ( - ), pica ( -
), pseudocyesis ( - ), bulimia ( - ).

Keterangan : *)Coret yang tidak perlu,


( ) diisi (+) atau (-)

D. Pikiran/ Proses Pikir (Thinking)


 Kecepatan proses pikir (biasa/cepat /lambat)
 Mutu proses pikir (jelas/tajam)

26
1. Gangguan Umum dalam Bentuk Pikiran
Gangguan mental ( - ), psikosis ( + ), tes realitas ( terganggu/ tidak ),
gangguan pikiran formal ( - ), berpikir tidak logis ( - ), pikiran autistik ( -
), dereisme ( - ), berpikir magis ( - ), proses berpikir primer ( - ).

2. Gangguan Spesifik dalam Bentuk Pikiran


Neologisme ( - ), word salad ( - ), sirkumstansialitas ( - ), tangensialitas (
- ), inkohenrensia ( - ), perseverasi ( - ), verbigerasi ( - ), ekolalia ( - ),
kondensasi ( - ), jawaban yang tidak relevan ( - ), pengenduran asosiasi (
+), derailment ( - ), flight of ideas (+ ), clang association ( - ), blocking (
- ), glossolalia ( - ).

3. Gangguan Spesifik dalam Isi Pikiran


 Kemiskinan isi pikiran ( - ), Gagasan yang berlebihan (- )
 Delusi/ waham
waham bizarre ( - ), waham tersistematisasi ( - ), waham yang sejalan
dengan mood ( - ), waham yang tidak sejalan dengan mood (+), waham
nihilistik ( - ), waham kemiskinan ( - ), waham somatik ( - ), waham
persekutorik ( - ), waham kebesaran ( + ), waham referensi ( - ), thought
of withdrawal ( - ), thought of broadcasting ( - ), thought of insertion (-
), thought of control ( - ), Waham cemburu/ waham ketidaksetiaan ( -
),waham menyalahkan diri sendiri ( - ), erotomania ( - ), pseudologia
fantastika ( - ), waham agama ( -).
 Idea of reference
Preokupasi pikiran ( - ), egomania ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ),
kompulsi ( - ), koprolalia ( - ), hipokondria ( - ), obsesi ( - ), koprolalia (
- ), fobia ( - )Ulat noesis ( - ), unio mystica ( - ).

E. Persepsi
 Halusinasi
Non patologis: Halusinasi hipnagogik ( - ), halusinasi hipnopompik ( - ),
Halusinasi auditorik ( + ), halusinasi visual ( + ), halusinasi olfaktorik (
- ), halusinasi gustatorik ( - ), halusinasi taktil ( -), halusinasi somatik ( -
), halusinasi liliput ( - ), halusinasi sejalan dengan mood ( - ), halusinasi
yang tidak sejalan dengan mood ( + ), halusinosis ( - ), sinestesia ( - ),
halusinasi perintah (command halusination), trailing phenomenon ( - ).
 Ilusi ( - )
 Depersonalisasi ( - ), derealisasi ( - )

F. Mimpi dan Fantasi
Mimpi : -
Fantasi : -

27
Keterangan : *)Coret yang tidak perlu, ( ) diisi (+) atau (-)
G. Fungsi kognitif dan fungsi intelektual
1. Orientasi waktu (baik/ terganggu), orientasi tempat (baik/ terganggu),
orientasi personal (baik/ terganggu), orientasi situasi (baik/ terganggu).
2. Atensi (perhatian) ( + ), distractibilty ( - ), inatensi selektif ( - ),
hipervigilance ( - ), dan lain-lain
3. Konsentrasi (baik/terganggu), kalkulasi ( baik/ terganggu )
4. Memori (daya ingat) : gangguan memori jangka lama/ remote ( - ),
gangguan memori jangka menengah/ recent past ( - ), gangguan memori
jangka pendek/ baru saja/ recent ( - ), gangguan memori segera/ immediate
( - ).
Amnesia ( - ), konfabulasi ( - ), paramnesia ( - ).
5. Luas pengetahuan umum: baik/ terganggu
6. Pikiran konkrit : baik/ terganggu
7. Pikiran abstrak : baik/ terganggu
8. Kemunduran intelek : (Ada/ tidak), Retardasi mental ( - ), demensia ( -
), pseudodemensia ( - ).

H. Dicriminative Insight*
Derajat I (penyangkalan)
Derajat II (ambigu)
Derajat III (sadar, melemparkan kesalahan kepada orang/ hal lain):
Derajat IV ( sadar, tidak mengetahui penyebab)
Derajat V (tilikan intelektual)
Derajat VI (tilikan emosional sesungguhnya)

I. Discriminative Judgement :
 Judgment tes :tidak terganggu
 Judgment sosial :tidak terganggu

VI. Pemeriksaan Laboratorium dan diagnostik khusus lainnya


 Rutin
 Anjuran

VII. Pemeriksaan oleh Psikolog / petugas sosial lainnya

28
VIII. Ikhtisar Penemuan Bermakna
Telah diperiksa pasien Tn. B berusia 31 tahun, agama Islam, suku Minang
dan belum menikah. Pasien datang ke poli jiwa RSUP dr M Djamil Padang
pada tanggal 17 Agustus 2018 diantar oleh keluarga dengan keluhan gaduh
gelisah sejak 2 minggu sebelum masuk rumah sakit, dengan gejala, emosi labil,
marah-marah pada keluarga, suka melempar-lempar barang apabila permintaan
tidak dituruti.
Pasien awalnya tidak mau berobat hingga akhirnya mau saat keluarga
meminta tolong Satpol PP untuk membujuknya. Penyakit pasien sempat
kambuh saat pasien berada di mobil satpol PP dan melompat karena merasa
diejek orang lain. Pasien mengalami trauma kepala di bagian occipital dekstra.
Pasien akhirnya mau berobat tetapi tahunya untuk mengobati sakit kepalanya.
Pasien rutin berobat setiap bulan dan pasien sudah merasakan adanya proses
sembuh pada dirinya seperti lebih tenang, tidak mudah marah dan tidur lebih
nyenyak.

IX. Diagnosis Multiaksial

Aksis I : F25.0 Gangguan skizoafektif tipe manik


Aksis II : Tidak ada diagnosa
Aksis III : M00-M99 trauma kepala bagian Oksipital dekstra
Aksis IV : Masalah keluarga
AksisV : GAF 70-61

X. Diagnosis Banding Axis I


- Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
XI. Daftar Masalah
 Organobiologik
Pasien pernah mengalami trauma kepala empat bulan yang lalu
 Psikologis

29
Pasien biasa dimanja oleh kedua orangtuanya.
 Lingkungan dan psikososial
Pasien bersosialisasi dengan baik dengan lingkungannya.

XII. Penatalaksanaan
A. Farmakoterapi
 Risperidon 3 mg 2 x1
 Haloperidol 5 mg 2x1
 CPZ 100 mg 1x1
 THP 2mg 2x1
 Lorazepam 1 mg 2x1

B. Non Farmakoterapi
C. Psikoterapi
Kepada pasien:
 Psikoterapi suportif
Memberikan dukungan, kehangatan, empati, dan optimistic
kepada pasien, membantu pasien mengidentifikasi dan
mengekspresikan emosinya.
 Psikoedukasi
Membantu pasien untuk mengetahui lebih banyak mengenai
gangguan yang dideritanya, diharapkan pasien mempunyai
kemampuan yang semakin efektif untuk mengenali gejala,
mencegah munculnya gejala dan segera mendapatkan
pertolongan. Menjelaskan kepada pasien untuk menyadari
bahwa obat merupakan kebutuhan bagi dirinya agar sembuh.
Kepada keluarga:
 Psikoedukasi
Memberikan penjelasan yang bersifat komunikatif, informatif,
dan edukatif tentang penyakit pasien (penyebab, gejala,
hubungan antara gejala dan perilaku, perjalanan penyakit, serta
prognosis). Pada akhirnya, diharapkan keluarga bisa
mendukung proses penyembuhan dan mencegah kekambuhan.
Serta menjelaskan bahwa gangguan jiwa merupakan penyakit
yang membutuhkan pengobatan yang lama dan berkelanjutan.
 Terapi

30
Memberi penjelasan mengenai terapi yang diberikan pada
pasien (kegunaan obat terhadap gejala pasien dan efek
samping yang mungkin timbul pada pengobatan). Selain itu,
juga ditekankan pentingnya pasien kontrol dan minum obat
secara teratur.

XIII. PROGNOSIS
Quo et vitam : bonam
Quo et fungsionam : dubia et bonam
Quo et sanctionam : dubia et bonam

XIV. DISKUSI/ ANALISIS KASUS


Diagnosis pada pasien ini ditegakkan berdasarkan anamnesis, dimana
ditemukan gejala klinis yang mengarah pada gangguan skizoafektif tipe manik
sesuai dengan pedoman diagnostic berdasarkan PPDGJ III. Pada pasien saat ini
ditemukan gejala skizofrenia berupa waham kebesaran dan halusinasi. Pada
pasien ini juga ditemukan gejala manik yaitu afek yang meningkat secara
menonjol, banyak berbicara dan mood hipertim.
Pada pasien diberikan, Risperidone 2 x 2 mg, haloperidol 5mg 2x1, CPZ
100 mg 1x1, lorazepam 1mg 2x1 dan asam valproate 2 x 250 mg.Terapi non
farmakologis memegang peranan yang juga penting pada pasien ini. Jenis terapi
non farmakologis yang bisa dilakukan terhadap pasien ini adalah psikoterapi
suportif, dan psikoedukasi. Psikoterapi suportif bertujuan untuk memperlihatkan
minat kita pada pasien, memberikan perhatian, dukungan, dan optimis. Dalam
psikoterapi suportif, terapis menunjukkan penerimaan terhadap kasus dengan cara
menunjukkan perilaku yang hangat, ramah namun tetap berwibawa. Tujuannya
adalah agar pasien merasa aman, diterima dan dilindungi.

31
Lampiran 1. Kutipan wawancara psikiatri
AUTOANAMNESA dilakukan pada tanggal 2 Mei 2018
Pertanyaan Jawaban Interpretasi
- Assalamualaikum - Waalaikumsalam
Pak B, perkenalkan - Boleh nak Kooperatif
saya dokter muda
Galuh dan Syukra.
Kami mau
memeriksa bapak
sebentar, boleh?
- Bagaimana kabar - Baik
bapak hari ini?
- Apa yang terjadi - Saya mengalami
sebelum bapak luka di kepala saya
dibawa kesini? pak waktu sedang
naik mobil satpol PP

- Kenapa bapak Ada anak-anak -Waham


melakukan itu? yang mengejek - Flight of Ideas
saya. Saya marah
dan melompat
untuk mengejar dia
untuk membalas

32
- Saat di rumah - Saya biasa saja pak, -Manik
bapak bagaimana cuman kalau dibuat
pak? kesal saya ya marah.
Apalagi kalau tidak
dituruti permintaan
saya.
- Selain itu apa yang - Oh, ada pak! saya - Halusinasi visual
pernah Bapak rasa? sering melihat - Halusinasi
Pernahkah melihat bayang-bayangan auditorik
bayangan-bayangan? dulu dan mendengar
Mendengar suara- suara yang kurang
suara atau merasa jelas. Hal tersebut
diraba-raba padahal juga mengganggu
bapak sedang tidur saya.
sendiri?

- Bapak - Dulu saya ngga bisa - Insomnia


tidurnya tidur pak, Sering
nyenyakkah? begadang. sekarang - Peningkatan
sudah bisa sedikit. aktivitas

- Pernah masuk rumah - Belum pernah kak


sakit sebelumnya?
- Indra tahu sekarang - Di RS M djamil, di - Orientasi tempat
dimana? poli jiwa pak baik
Indra tahu kalau diri - Iya sakit kak, discriminative
Indra sakit kepala saya sakit insight derajat II
karena jatuh dari
mobil satpol PP
- Sekin dulu - Sama-sama pak.
wawancara kita ya
Indra. Terima Kasih
banyak.

33
DAFTAR PUSTAKA

1. Skizofrenia. Editor : Husny Muttaqin dan Tiara Mahatmi Nisa. Kaplan & Sadock -
Buku Ajar Psikiatri Klinis. Edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC. 2014:147-68.
2. Psikiatri : Skizofrenia (F2). Editor : Chris Tanto, Frans Liwang, dkk. Kapita Selekta
Kedokteran. Edisi 4. Jilid 2. Jakarta : Media Aesculapius. 2014:910-3
3. Skizofrenia. Editor : I. Made Wiguna S. Kaplan - Sadock, Sinopsis Psikiatri - Ilmu
Pengetahuan Perilaku Psikiatri Klinis. Jilid 1. Tanggerang : Binarupa Aksara
Publisher. 2010:699-744.
4. Amir N. Skizofrenia. Dalam: Buku Ajar Psikiatri. Edisi kedua. Jakarta: Badan Penerbit
FKUI: 2014; 173: 173-203.
5. Idaiani S, Yunita I, Prihatini S, Indrawati L. Gangguan Mental Berat. Dalam: Riset
Kesehatan Dasar 2013. Indonesia: Kementrian Kesehatan RI; 2013: 125-127.
6. Maslim R. Buku Saku Diagnosis Gangguan Jiwa Rujukan Ringkas dari PPDGJ-III dan
DSM-5. Jakarta: Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atma Jaya: 2013; 46-48.
7. Benjamin J., Sadock MD. Virginia A. Kaplan & Sadock’s Pocket Handbook of
Psychiatric Drug Treatment
8. Psychosis and Schizophrenia. Editor : Stahl, Stephen M. Antipsychotics and Mood
Stabilizers : Stahl’s Essential Psychopharmacology. 3rd Edition. England : Cambridge
University Press. 2008:26-34.

34