Anda di halaman 1dari 24

SATUAN ACARA PENYULUHAN

EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN


DI RUANG PALEM 2 RSUD DR. SOETOMO
SURABAYA

DISUSUN OLEH:
KELOMPOK 12

Gali Wulan Sari 131511133025


Elma Karamy 131511133026
Fifa Nasrul Ummah 131511133056
Elly Ardianti 131511133058
Niswatus Sa’ngadah 131511133060
Farhan Ardiansyah 131511133082

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN
Sub Pokok : Efusi Pleura dan Langkah-Langkah Cuci Tangan
Peserta : Pasien dan Keluarga Pasien Ruang Palem 2
Waktu : 40 menit
Pukul : 09.00 s/d 09.40 WIB
Tempat : Ruang Tunggu Palem 2 RSUD Dr.Soetomo Surabaya

I. Tujuan Instruksional Umum


Setelah dilakukan penyuluhan ini diharapkan pasien dan keluarga dapat mengetahui
efusi pleura dan langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar.
II. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan diharapkan pasien dan keluarga dapat :
1. Mengetahui pengertian dari efusi pleura.
2. Mengetahui penyebab efusi pleura.
3. Mengetahui tanda dan gejala efusi pleura.
4. Mengetahuai cara pencegahan efusi pleura.
5. Mengetahui pengobatan efusi pleura.
6. Mengetahui diet pada efusi pleura
7. Mengetahui langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar
III. Sasaran
Pasien dan keluarga pasien di ruang Palem 2 RSUD Dr. Soetomo Surabaya.
IV. Materi
1. Pengertian dari efusi pleura
2. Penyebab efusi pleura
3. Tanda dan gejala efusi pleura
4. Cara pencegahan efusi pleura
5. Pengobatan efusi pleura
6. Langkah-langkah cuci tangan yang baik dan benar.
V. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Demonstrasi

VI. Media
1. Lembar Balik
2. Leaflet
VII. Pengorganisasian
1. Pembimbing akademik : Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns., M. Kep
2. Pembimbing klinik : Widji Lestari, S.Kep., Ns
3. Penyaji : Farhan Ardiansyah
4. Moderator : Elly Ardianti
5. Observer : Niswatus Sa’ngadah
6. Notulen : Gali Wulan Sari
7. Fasilitator dan demostrator : Fifa Nasrul Ummah dan Elma Karamy
VII. Job Description
No. Nama Sie Job Description

1. Penyaji 1. Menyampaikan materi penyuluhan


2. Menggali pengetahuan peserta tentang materi yang akan
disampaikan
3. Menjawab pertanyaan yang disampaikan oleh peserta
2. Moderator 1. Memandu jalannya penyuluhan dan sesi tanya jawab
2. Membuka acara dan menyampaikan maksud serta tujuan
kegiatan penyuluhan
3. Menjelaskan kontrak waktu dan mekanisme kegiatan
4. Melakukan evaluasi hasil tentang materi yang telah
disampaikan
5. Menutup acara penyuluhan
3. Notulen 1. Mencatat pertanyaan peserta dan jawaban penyaji sebagai
dokumentasi kegiatan
2. Mencatat proses kegiatan penyuluhan disesuaikan dengan
rencana kegiatan pada SAP
3. Menyusun laporan dan menilai hasil kegiatan penyuluhan
4. Observer 1. Mengawasi dan mengevaluasi selama penyuluhan
berlangsung
2. Mencatat situasi pendukung dan penghambat proses
kegiatan penyuluhan
5. Fasilitator 1. Membantu dan mengondisikan peserta selama penyuluhan
berlangsung
2. Meminta tanda tangan peserta yang hadir (absensi)
3. Membantu moderator dalam mengajukan pertanyaan
untuk evaluasi hasil
4. Memfasilitasi peserta untuk aktif bertanya
5. Membagikan leaflet

VIII. Pelaksanaan
Kegiatan Respon peserta Alokasi waktu
Persiapan: 5 menit
a. Mempersiapakan tempat
b. Mempersiapkan peserta
c. Mempersiapkan alat dan
keperluan penyuluhan
Pembukaan: - Menjawab salam 5 menit
- Menjawab pertanyaan
a. Membuka/memulai
yang diajukan pemateri
kegiatan dengan
mengucapkan salam
b. Memperkenalkan diri
c. Menyebutkan materi
penyuluhan
d. Menjelaskan tujuan dari
penyuluhan
e. Melakukan kontrak waktu
dengan peserta
f. Menggali pengetahuan
peserta
Pelaksanaan kegiatan penyuluhan - Memperhatikan 15 menit
a. Menjelaskan tentang penjelasan yang diberikan
- Mejawab pertanyaan
pengertian trauma mata
- Mendengarkan
b. Menjelaskan penyebab
- Memberi umpan balik
trauma mata
dalam memahami
c. Menjelaskan tanda dan
penjelasan yang diberikan
gejala trauma mata
d. Menjelaskan pencegahan
trauma mata
e. Menjelaskan pengobatan
trauma mata
Tanya jawab/evaluasi - Mengajukan pertanyaan 10 menit
a. Memberikan kesempatan
pada peserta untuk bertanya
mengenai materi yang
disampaikan
b. Menanyakan kembali
kepada peserta apa yang
telah disampaikan dan
membuat kesimpulan
Penutup - Menjawab salam 5 menit
a. Mengucapkan terima kasih
atas kesediaan peserta
mengikuti kegiatan
penyuluhan
b. Mengucapkan salam
penutup

IX. Evaluasi
a. Evaluasi struktural
- Kesiapan tempat penyuluhan
- Kesiapan alat dan materi penyuluhan
- Kesiapan peserta penyuluhan
- Pengorganisasian penyuluhan dilakukan sebelumnya
b. Evaluasi proses
- Antusiasme peserta penyuluhan
- Masing-masing anggota tim bekerja sesuai tugasnya
- Kejelasan materi yang disampaikan
- Peserta tidak meninggalkan tempat penyuluhan
c. Evaluasi hasil
- Pemahaman peserta tentang materi yang disampaikan
- Peserta mampu mengajukan pertanyaan tentang materi penyuluhan
LAMPIRAN

1. Materi Penyuluhan
2. Denah Penyuluhan
3. Daftar Hadir Peserta
4. Daftar Hadir Panitia
5. Daftar Hadir Pembimbing
6. Lembar Observasi Penyuluhan
Lampiran 1. Materi Penyuluhan

A. Definisi Efusi Pleura


Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terjadi penumpukan cairan melebihi
normal di dalam rongga pleura diantara pleura parietalis dan viseralis dapat berupa
transudat atau cairan eksudat. merupakan penyakit primer, secara normal ruang pleura
mengandungsejumlah kecil cairan (5-15ml) berfungsi sebagai pelumas yang
memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi (Imelda Puspita, Tri
Umiana Soleha, Gabriella Berta, 2017).

B. Etiologi Efusi Pleura

Menurut Brunner & Suddart (2015), Efusi pleura umumnya dibagi menjadi dua,
yaitu transudatif dan eksudatif. Efusi pleura transudatif disebabkan oleh meningkatnya
tekanan dalam pembuluh darah atau rendahnya kadar protein dalam darah. Hal ini
mengakibatkan cairan merembes ke lapisan pleura. Sedangkan efusi pelura eksudatif
disebabkan oleh peradangan, cedera pada paru-paru, tumor, dan penyumbatan
pembuluh darah atau pembuluh getah bening.

Menurut Wedzicha J, Johnston S (2010). Efusi pleura sering kali terjadi sebagai
komplikasi dari beberapa jenis penyakit lainnya, seperti:
a. Kanker paru-paru.
b. Tuberkulosis (TBC).

c. Pneumonia.

d. Emboli paru.

e. Sirosis atau penurunan fungsi hati.

f. Penyakit ginjal.

g. Gagal jantung

h. Penyakit lupus.

i. Rheumatoid arthritis.
Sejumlah faktor risiko dapat meningkatkan risiko seseorang untuk menderita efusi
pleura. Di antaranya adalah memiliki riwayat tekanan darah tinggi (hipertensi),
merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan terkena paparan debu asbes. Faktor
resiko terjadinya efusi pleura diakibatkan karena lingkungan yang tidak bersih,sanitasi
yang kurang, lingkungan yang padat penduduk, kondisi sosial ekonomi yang menurun,
serta sarana dan prasarana kesehatan yang kurang dan kurangnya masyarakat tentang
pengetahuan kesehatan (Depkes, 2006).

C. Patogenesis Efusi Pleura


Cairan pleura memiliki konsentrasi protein yang lebih rendah dari paru-paru dan
kelenjar getah bening perifer. Cairan pleura dapat menumpuk karena hal-hal berikut:
a. Peningkatan tekanan hidrostatik di sirkulasi mikrovaskular. Studi mengatakan
bahwa peningkatan tekanan pada pembuluh kapiler adalah pemicu penting dalam
terjadinya efusi pleura pada penderita gagal jantung.
b. Penurunan tekanan onkotik dalam sirkulasi mikrovaskular karena hipoalbuminemia
yang meningkatkan penumpukan cairan dalam rongga pleura.
c. Peningkatan tekanan negatif pada rongga pleura juga membuat meningkatnya
akumulasi cairan pada rongga pleura. Hal ini dapat terjadi pada ateletaksis
d. Peningkatan permeabilitas kapiler akibat mediator inflamasi. Hal tersebut
mengakibatkan lebih banyak protein dan cairan yang masuk dalam rongga pleura,
contohnya pada pneumonia.
e. Gangguan drainase limfatik dari permukaan pleura karena penyumbatan oleh
tumor dan fibrosis.
D. Manifestasi Klinis
Pada anamnesis, pasien dengan efusi pleura biasanya memiliki
a. Sesak
b. Batuk
c. Nyeri dada yang bersifat tajam.
d. Riwayat gagal jantung, gagal ginjal, dan penyakit hati dapat mengarahkan kepada
efusi pleura yang bersifat transudat.
e. Sedangkan riwayat kanker dapat mengarah pada efusi akibat keganasan.
Pembengkakan pada ekstermitas, atau deep vein thrombosis menunjukkan efusi
yang berhubungan dengan embolisme paru.
f. Riwayat infeksi seperti pneumonia menununjukkan efusi para pneumonik

E. Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan penunjang efusi pleura biasanya ditemukan seperti berikut,
a. Pada pemeriksaan fisik dapat ditemukan fremitus taktil yang menurun terutama
pada daerah basal. Perkusi tumpul, kemudian suara nafas vesikular yang menurun
atau tidak ada sama sekali pada paru yang terdapat efusi. Suara pleural friction rub
mungkin juga terdengar selama akhir inspirasi (Hooper C, Lee G, Maskell N,
2013).
b. Pemeriksaan radiografi posteroanterior dan lateral menjadi standar pada diagnosis
radiologi paru. Pada posisi berdiri atau duduk tegak, cairan bebas pada rongga
pleura akan memenuhi lateral kubah diafragma yang menyebabkan gambaran sudut
kostofrenikus yang tumpul. (Rasad S, 2015)
c. Torakosintesis dengan analisis cairan dapat mempersempit diagnosis diferensial
dari efusi. Setelah cairan disedot, cairan tersebut akan dianalisis untuk biokimia,
mikrobiologi dan analisis sitologi. Dengan menggunakan kriteria Light, maka efusi
dapat dibedakan menjadi transudat dan eksudat. Kriteria Light memiliki
sensitivitas sebesar 90,1-100% dengan spesifisitas 83,3-97,2% (Terler K, Semra B,
Berna K, 2012)
d. Biopsi
Jika dengan torakosentesis tidak dapat ditentukan penyebabnya, maka dilakukan
biopsi, dimana contoh lapisan pleura sebelah luar diambil untuk dianalisa. Pada
sekitar 20% penderita, meskipun telah dilakukan pemeriksaan menyeluruh,
penyebab dari efusi pleura tetap tidak dapat ditentukan.

F. Penatalaksanaan Medis
1. Aspirasi cairan pleura
Punksi pleura ditujukan untuk menegakkan diagnosa efusi plura yang
dilanjutkan dengan pemeriksaan mikroskopis cairan. Disamping itu punksi
ditujukan pula untuk melakukan aspirasi atas dasar gangguan fugsi restriktif paru
atau terjadinya desakan pada alat-alat mediastinal. Jumlah cairan yang boleh
diaspirasi ditentukan atas pertimbangan keadaan umum penderita, tensi dan nadi.
Makin lemah keadaan umum penderita makin sedikit jumlah cairan pleura yang bisa
diaspirasi untuk membantu pernafasan penderita.

Komplikasi yang dapat timbul dengan tindakan aspirasi :


a. Trauma
Karena aspirasi dilakukan dengan blind, kemungkinan dapat mengenai pembuluh
darah, saraf atau alat-alat lain disamping merobek pleura parietalis yang dapat
menyebabkan pneumothoraks.
a. Mediastinal Displacement
Pindahnya struktur mediastinum dapat disebabkan oleh penekaran cairan pleura
tersebut. Tetapi tekanan negatif saat punksi dapat menyebabkan bergesernya kembali
struktur mediastinal. Tekanan negatif yang berlangsung singkat menyebabkan
pergeseran struktur mediastinal kepada struktur semula atau struktur yang retroflux
dapat menimbulkan perburukan keadaan terutama disebabkan terjadinya gangguan
pada hemodinamik.
b. Gangguan keseimbangan cairan, Ph, elektroit, anemia dan hipoproteinemia.
Pada aspirasi pleura yang berulang kali dalam waktu yang lama dapat
menimbulkan tiga pengaruh pokok :
1) Menyebabkan berkurangnya berbagai komponen intra vasculer yang dapat
menyebabkan anemia, hipprotein, air dan berbagai gangguan elektrolit dalam
tubuh.
2) Aspirasi cairan pleura menimbulkan tekanan cavum pleura yang negatif sebagai
faktor yang menimbulkan pembentukan cairan pleura yang lebih banyak.
3) Aspirasi pleura dapat menimbulkan sekunder aspirasi.
2. Water Seal Drainage
Telah dilakukan oleh berbagai penyelidik akan tetapi bila WSD ini dihentikan maka akan
terjadi kembali pembentukan cairan.
3. Penggunaan Obat-obatan
Penggunaan berbagai obat-obatan pada pleura efusi selain hasilnya yang kontraversi juga
mempunyai efek samping. Hal ini disebabkan pembentukan cairan karena malignancy
adalah karena erosi pembuluh darah. Oleh karena itu penggunaan citostatic misalnya
tryetilenthiophosporamide, nitrogen mustard, dan penggunaan zat-zat lainnya seperi
atabrine atau penggunaan talc poudrage tidak memberikan hasil yang banyak oleh
karena tidak menyentuh pada faktor patofisiolgi dari terjadinya cairan pleura.

4. Thorakosintesis
Thorakosintesis dapat dengan melakukan apirasi yang berulang-ulang dan dapat
pula dengan WSD atau dengan suction dengan tekanan 40 mmHg. Indikasi untuk
melakukan thorasintesis adalah :
a. Menghilangkan sesak napas yang disebabkan oleh akumulasi cairan dalam rongga
pleura.
b. Bila terapi spesifik pada penyakit prmer tidak efektif atau gagal.
c. Bila terjadi reakumulasi cairan.
Pengambilan pertama cairan pleura jangan lebih dari 1000 cc karena pengambilan
cairan pleura dalam waktu singkat dan dalam jumlah yang banyak dapat menimbulkan
oedema paru yang ditandai dengan batuk dan sesak. Hal tersebut dapat menyebabkan
kerugian sebagai berikut.
a) Tindakan thoraksentesis menyebabkan kehilangan protein yang berada dalam cairan
pleura.
b) Dapat menimbulkan infeksi di rongga pleura.
c) Dapat terjadi pneumothoraks.

Menurut (Marianti. 2017), Karena efusi pleura timbul sebagai komplikasi dari
penyakit-penyakit lain, maka pengobatan yang harus dilakukan pun adalah dengan cara
menyembuhkan kondisi-kondisi yang menyebabkannya. Contoh yang bisa diambil di sini
adalah pengobatan kanker dengan radioterapi dan kemoterapi, atau pengobatan
pneumonia dengan antibiotik.

Apabila cairan pada efusi pleura sudah terlalu banyak atau sudah terdapat infeksi,
maka dokter akan menggunakan sejumlah prosedur guna mengeluarkan cairan yang
menumpuk, di antaranya:

a. Prosedur thoracocentesis atau punksi pleura selain untuk mengambil sampel cairan
pleura untuk dianalisis, juga dapat untuk mengeluarkan cairan pleura dengan volume
besar.
b. Pemasangan selang plastik khusus (chest tube) selama beberapa hari ke dalam rongga
pleura melalui bedah torakotomi.

c. Pemasangan kateter secara jangka panjang lewat kulit ke dalam ruang pleura (pleural
drain), untuk efusi pleura yang terus muncul.

d. Penyuntikan zat pemicu iritasi (misalnya talk, doxycycline, atau bleomycin) ke dalam
ruang pleura melalui selang khusus guna mengikat kedua lapisan pleura, sehingga
rongga pleura tertutup. Prosedur yang dinamakan pleurodesis ini biasanya diterapkan
untuk mencegah efusi pleura yang kerap kambuh.

Selain prosedur-prosedur yang bertujuan mengeluarkan dan mencegah cairan


pleura terakumulasi kembali, prosedur untuk mengangkat jaringan-jaringan yang tidak
sehat atau telah mengalami peradangan juga bisa dilakukan apabila dampak kerusakan
efusi pleura telah mencapai tahap tersebut. Pengangkatan jaringan ini bisa dilakukan
melalui bedah torakoskopi (tanpa membuka rongga dada) atau torakotomi (dengan
membuka rongga dada).
G. Komplikasi
1. Fibrotoraks
Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik
akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan
ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan
hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya.
Pembedahan pengupasan (dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan
membran-membran pleura tersebut.
2. Pneumothoraks
Pneumotoraks (karena udara masuk melalui jarum)
3. Atalektasis
Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh
penekanan akibat efusi pleura.
4. Fibrosis Paru
Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru
dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan
sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada
efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian
jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

5. Kolaps Paru
Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada
sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan
kolaps paru.

H. Pencegahan
1. Hindari merokok
2. Hindari alkohol dan obat-obatan terlarang
3. Diet yang sehat
4. Olahraga yang teratur semampunya
5. Memakai alat pelindung diri jika sedang melakukan aktivitas atau saat melakukan
pekerjaan tertentu (terhirupnya debu, serpihan, dan material berbahaya lainnya)
6. Menerapkan etika batuk
7. Diskusikan dengan dokter mengenai kemungkinan efek samping dan bagaimana
mencegah dan mengatasinya bila terjadi keluhan (Morton, 2012).

I. Diet pada Efusi Pleura


1. Energi tinggi untuk mempertahankan berat badan
2. Protein tinggi 1,5 g/kgBB agar memperbaiki respon imun dan memperbaiki jaringan
yang rusak
3. Lemak tinggi, yaitu 40% dari kebutuhan energi total
4. Karbohidrat diberikan rendah, yaitu 40% dari kebutuhan energi total
5. Bahan makanan yang harus dihindari yaitu makanan tinggi sumber karbohidrat
karena metabolisme karbohidrat akan memproduksi lebih banyak CO2
6. Bentuk makanan saring karena ada keluhan mual, muntah, gangguan menelan dan
mengunyah
7. Mudah dicerna dan tidak merangsang saluran cerna
8. Bahan makanan yang mengandung gas dihindari
9. Porsi makan diberikan dalam jumlah kecil dan sering (Budiyanto, 2010).

Perhitungan Kebutuhan Gizi


Perhitungan kebutuhan basal energi menggunakan rumus Mifflin-ST Jeor :
energi = 2375,2 kkal, protein = 90 gram, lemak = 105,6 gram dan karbohidrat = 237,5
gram (Budiyanto, 2010).
Rekomendasi Diet
Energi Protein Lemak Karbohidrat
(kkal) (gram) (gram) (gram)
Rekomendasi 2192,9 89,185 98 253
Kebutuhan 2375,2 90 105,6 237,5
% Kebutuhan 92 % 99 % 92,8 % 106,5 %

Menu diet yang direkomendasikan dengan energi 2192,9 kkal, protein 89,185 gram, lemak
98 gram dan karbohidrat 253 gram yaitu :
Pagi Selingan
Nasi tim Bubur sumsum
Daging giling semur Teh manis
Sayur sop
Pepes tahu Malam
Buah pepaya Nasi tim
Tahu bacem
Selingan Tumis sayur
jus alpukat Telur rebus
puding buah jambu biji Buah semangka

Siang
Nasi tim
Pepes ayam
Tahu semur
Sayur bening
Buah mangga

MATERI PENYULUHAN CUCI TANGAN


1. Pengertian Cuci Tangan
Suatu tindakan membersihkan kotoran dengan sabun atau antiseptic dan dibilas
dengan air mengalir. Mencuci tangan adalah proses yang secara mekanis melepaskan
kotoran dan debris dari kulit tangan dengan menggunakan sabun biasa dan air
(DEPKES, 2008).
2. Pentingnya Cuci Tangan
a. Minimalisasi kasus infeksi yang terjadi di rumah sakit
b. Terhindar dari bakteri dan kuman yang menempel di tangan
3. Manfaat Cuci Tangan
a. Sederhana dan efektif mencegah infeksi
b. Menciptakan lingkungan yang aman
c. Pelayanan kesehatan menjadi aman
d. Membunuh kuman penyakit yang ada ditangan
e. Mencegah penularan penyakit seperti diare, cacingan, dll.
f. Tangan menjadi bersih
4. Waktu Penting Melakukan Cuci Tangan
Indikasi melakukan cuci tangan (Depkes RI, 2008) :
1. Lakukan segera setelah tiba di tempat kerja
2. Lakukan sebelum:
a. Kontak langsung dengan pasien
b. Memakai sarung tangan sebelum pemeriksaan klinis dan tindakan invasif
(pemberian suntikan intra vaskuler), menyediakan atau mempersiapkan obat-
obatan
c. Mempersiapkan makanan
d. Memberi makan pasien
e. Meninggalkan rumah sakit
3. Lakukan diantara prosedur tertentu pada pasien yang sama dimana tangan
terkontaminasi, untuk menghindari kontaminasi silang
4. Lakukan setelah
a. Kontak dengan pasien
b. Melepas sarung tangan
c. Melepas alat pelindung diri
d. Kontak dengan darah, cairan tubuh, sekresi, ekskresi, eksudat luka dan
peralatan yang diketahui atau kemungkinan terkontaminasi dengan darah,
cairan tubuh, ekskresi (bedpen, urinal) apakah menggunakan atau tidak
menggunakan sarung tangan e. menggunakan toilet, menyentuh/melap hidung
dengan tangan.
5. Cara 6 Langkah Cuci Tangan
a. Gulung lengan baju sampai atas pergelangan tangan, lepaskan benda-benda
disekitar kita seperti cincin, jam tangan, dan perhiasan gelang
b. Basahi tangan dengan air
c. Tuangkan sabun secukupnya
d. Ratakan dengan kedua telapak tangan
e. Gosok kedua punggung tangan dan masukkan jari-jari kesela-sela jari tangan
secara bergantian
f. Gosok kedua telapak dan sela-sela jari tangan
g. Jari-jari sisi dalam kedua tangan saling mengunci
h. Gosok ibu jari kanan berputar dalam genggaman tangan kiri dan lakukan secara
bergantian
i. Gosokkan dengan memutar ujung jari-jari di telapak tangan dan sebaliknya
j. Bilas kedua tangan dengan air
k. Keringkan dengan lap tangan atau tissue

6. Prinsip dari 6 langkah cuci tangan antara lain :


a. Dilakukan dengan menggosokkan tangan menggunakan cairan antiseptik
(handrub) atau dengan air mengalir dan sabun antiseptik (handwash). Rumah
sakit akan menyediakan kedua ini di sekitar ruangan pelayanan pasien secara
merata.
b. Handrub dilakukan selama 20-30 detik sedangkan handwash 40-60 detik, hal ini
dikarenakan kuman akan mati dalam waktu yang telah ditentukan sesuai standar
WHO tersebut.
Lampiran 2

DENAH PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA


MENGENAI EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

PINTU MASUK

RUANG PERAWATAN KELAS 1

RUANG PERAWATAN RPI

NURSE STATION
RUANG
DOKTER

RUANG RUANG
KARU
PERAWATAN
PASIEN KELAS 2
TROLI

KM DAN 3
Tempat
OKSIGEN

GUDANG DAPUR Ruang


Diskusi

Keterangan:
= Pembimbing klinik dan akademik
= Audiens
= Moderator
= Narasumber
= Fasilitator
= Notulen
= Observer
Lampiran 3

DAFTAR HADIR PESERTA


PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
MENGENAI EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Nama Usia Alamat Tanda Tangan


No Nama Usia Alamat Tanda Tangan
Lampiran 4

DAFTAR HADIR PANITIA


PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN
Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Nama NIM Jabatan Tanda


Tangan

1. Farhan Ardiansyah 131511133082 Pemateri

2. Elly Ardianti 131511133058 Moderator

3. Fifa nasrul Ummah 131511133056 Fasilitator dan


demostrator

4. Elma Karamy 131511133026 Fasilitator dan


demostrator

5. Gali Wulan Sari 131511133025 Notulen

6. Niswatus Sa’ngadah 131511133060 Observer


Lampiran 5

DAFTAR HADIR PEMBIMBING


PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Nama Jabatan Tanda Tangan

1. Ika Nur Pratiwi, S.Kep., Ns., M. Pembimbing Akademik


Kep

2. Widji Lestari, S.Kep., Ns Pembimbing Klinik

3. Pembimbing Klinik
Lampiran 6

LEMBAR OBSERVASI
PENYULUHAN KESEHATAN PADA PASIEN DAN KELUARGA
TENTANG EFUSI PLEURA DAN CUCI TANGAN

Hari, tanggal :
Waktu :
Tempat :

No Indikator Hasil

Ya Tidak Keterangan

1. Struktur

a. Kesiapan materi
b. Kesipaan SAP
c. Kesiapan media
d. Kehadiran peserta
e. Pengorganisasian penyelenggaraan
penyuluhan
2. Proses

a. Kesesuaian acara dengan rencana


b. Antusiasme peserta terhadap kegiatan
penyuluhan
c. Keaktifan peserta terhadap kegiatan
penyuluhan
d. Suasana penyuluhan seperti
ketertiban keamanan kelancaran
3. Hasil

a. Peserta dapat me-review materi yang


telah disampaikan
b. Peserta dapat menerapkan materi
yang telah didapatkan
4. Pembukaan

a. Membuka kegiatan dengan salam lalu


prolog
b. Memperkenalkan diri dan tim
c. Kontrak waktu
d. Menjelaskan tujuan dari penyuluhan
e. Menyebutkan materi penyuluhan
yang diberikan

5. Pelaksanaan
a. Menggali informasi tentang penyakit
Efusi Pleura
b. Menjelaskan tentang definisi penyakit
Efusi Pleura
c. Menjelaskan tentang penyebab
penyakit Efusi Pleura
d. Menjelaskan tanda-tanda dan gejala
penyakit Efusi Pleura
e. Menjelaskan tentang pencegahan dan
penatalaksanaan penyakit Efusi
Pleura
f. Mendemonstrasikan cuci tangan
6. Evaluasi dan Penutup

a. Menanyakan kembali kepada peserta


tentang materi yang telah
disampaikan
b. Kesimpulan dari kegiatan penyuluhan
c. Membuka forum diskusi (Tanya-
jawab)
d. Menutup kegiatan penyuluhan dengan
salam
DAFTAR PUSTAKA

Budiyanto. 2010. Gizi dan Kesehatan. UMM pres. Jakarta

Brunner and Suddart. 2015. Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 12. Jakarta: EGC

Depkes RI. Profil Kesehatan 2006. Jakarta: Depkes RI; 2006

Halim H. Penyakit-penyakit Pleura. Dalam: Sudoyo AW, editor. Buku ajar ilmu penyakit
dalam. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia; 2007. hlm. 12-8.

Hour CE. Diagnosis of pleural effusion ; a systematic approach. J Am. Crit. Care.
2011;20(3):199-218. 9. Hooper C, Lee G, Maskell N. Investigation of a unilateral
pleural effusiom in adults. J Internationalof Respiration Medicine. 2013;65(2): 145-
54.

Imelda Puspita, Tri Umiana Soleha, Gabriella Berta. 2017. Penyebab Efusi Pleura di Kota
Metro pada tahun 2015. J AgromedUnila. Volume 4. Nomor 1

Morton G.P. 2012. Keperawatan Kritis Edisi 2. Jakarta: EGC

Depkes RI. 2009 .Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Infeksi di Rumah Sakit dan
Fasilitas Kesehatan Lainnya. Jakarta

Wedzicha J, Johnston S. Pleural disease guideline 2010. J International of Respiration


Medicine. 2010;65(2):1-75.